Kebaktian

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

 

Minggu, tgl 23 Desember 2012, pk 17.00

 

Pdt. Budi Asali

(HP: 7064-1331 / 6050-1331 / 0819-455-888-55)

[email protected]

 

Manusia Yesus tidak kekal! (3)

 

Yoh 1:1,14 - “(1) Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. ... (14) Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaanNya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepadaNya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.”.

 

8)   Yoh 1:14 mengatakan bahwa ‘Firman itu telah menjadi manusia’.

Yoh 1:14 - Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaanNya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepadaNya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.”.

KJV: ‘And the Word was made flesh’ (= Dan Firman itu telah dibuat daging).

RSV/NASB: ‘And the Word became flesh’ (= Dan Firman itu menjadi daging).

NIV: ‘The Word became flesh’ (= Firman itu menjadi daging).

 

a)         ‘Menjadi’.

 

A. T. Robertson: John does not here say that the LOGOS entered into a man or dwelt in a man or filled a man. ... What ordinary mother or father ever speaks of a child ‘becoming flesh’? ... Thus John asserts the deity and the real humanity of Christ” (= Di sini Yohanes tidak mengatakan bahwa sang LOGOS masuk ke dalam seorang manusia atau tinggal dalam seorang manusia atau mengisi / memenuhi seorang manusia. ... Ibu dan ayah biasa mana yang pernah berbicara tentang seorang anak ‘menjadi daging’? ... Dengan cara ini Yohanes menegaskan keilahian dan kemanusiaan yang sungguh-sungguh dari Kristus) - ‘Word Pictures in the New Testament’, vol 5, hal 12,13.

 

Robert M. Bowman Jr.: “In his ‘Prologue’ John contrasts the Word, which ‘was’ (EN, third person imperfect form of EIMI) in the beginning, with his bringing into existence (EGENETO, the third person singular indicative form of GENESTHAI) of all things (John 1:1-3). ... to say that the Word was continuing to exist at the beginning of created time is simply another way of saying that the Word was eternal. By going on to say that this uncreated Logos ‘became’ (egeneto) flesh (1:14), John draws another contrast between the two natures of Christ. To put it in the classic terminology of orthodox incarnational theology, Christ was uncreated (EN) with respect to his deity, but created (EGENETO) with respect to his humanity [= Dalam ‘Pendahuluan’nya Yohanes mengkontraskan Firman, yang ‘was’ / telah ada (EN, orang ketiga, bentuk imperfect dari EIMI) pada mulanya, dengan pembuatan / penciptaan (EGENETO, orang ketiga tunggal, bentuk indikatif dari GENESTHAI) dari segala sesuatu (Yoh 1:1-3). ... mengatakan bahwa Firman terus ada pada permulaan dari waktu yang diciptakan hanyalah merupakan cara lain untuk mengatakan bahwa Firman itu kekal. Dengan mengatakan selanjutnya bahwa Logos yang tidak diciptakan ini ‘became’ / ‘menjadi’ (EGENETO) daging (1:14), Yohanes membuat kontras yang lain antara kedua hakekat Kristus. Untuk mengatakannya dalam ungkapan klasik dari theologia inkarnasi yang ortodox, Kristus tidak diciptakan (EN) berkenaan dengan keallahanNya, tetapi diciptakan (EGENETO) berkenaan dengan kemanusiaanNya] - ‘Jehovah’s Witnesses, Jesus Christ, and the Gospel of John’, hal 114.

 

Kata ‘menjadi’ bisa digunakan dalam 2 arti:

1.   Kalau kita berkata ‘nasi sudah menjadi bubur’, maka itu berarti bahwa mula-mula hanya ada nasi, dan setelah itu hanya ada bubur, sedangkan nasinya hilang / tidak ada lagi.

2.   Kalau saya berkata ‘tahun lalu saya menjadi pendeta’, maka itu berarti mula-mula ada saya, dan setelah itu saya tetap ada / tidak hilang, tetapi lalu ditambahi dengan jabatan pendeta .

 

Kalau kita berbicara tentang ‘Firman / Allah yang menjadi manu­sia’, maka kita harus mengambil arti ke 2 dari kata ‘menjadi’ tersebut! Pada waktu Allah menjadi manusia, keilahian Yesus tidak hilang (bahkan tidak berkurang sedikitpun), tetapi Ia ketambahan hakekat manusia pada diriNya.

 

Calvin: “Christ, when he became man, did not cease to be what he formerly was, and that no change took place in that eternal essence of God which was clothed with ‘flesh.’ In short, the Son of God began to be man in such a manner that he still continues to be that eternal Speech who had no beginning” (= Kristus, pada waktu Ia menjadi manusia, tidak berhenti menjadi apa adanya Ia dahulu / sebelumnya, dan bahwa tidak ada perubahan terjadi dalam hakekat Allah itu, yang dipakaiani dengan ‘daging’. Singkatnya, Anak Allah mulai menjadi manusia dengan cara sedemikian rupa sehingga Ia tetap adalah Ucapan / Firman yang kekal, yang tidak mempunyai permulaan) - hal 46.

 

Kalau manusia Yesus itu kekal, Calvin tidak mungkin mengatakan ‘began to be man’ / ‘mulai menjadi manusia’, dan juga kata ‘menjadi’ dalam Yoh 1:14 tidak bisa ada. Dan perlu diperhatikan bahwa kata ‘menjadi’ itu dalam bahasa Yunani ada dalam aorist tense (= past tense), yang menunjuk pada tindakan sesaat di masa lampau. Penggunaan ini mustahil kalau manusia Yesus itu kekal. Bandingkan dengan penyataan bahwa Yesus itu adalah Allah dalam Yoh 1:1 dimana digunakan imperfect tense.

 

Gresham Machen: “the imperfect refers to continuous action in past time, while the aorist is the simple past tense. ... in present time this distinction between the simple assertion of the act and the assertion of continued (or repeated) action is not made in Greek (luw / LUO, therefore, means either ‘I loose’ or ‘I am loosing’. But in past time the distinction is very carefully made; the Greek language shows no tendency whatever to confuse the aorist with the imperfect” [= imperfect tense menunjuk pada tindakan terus menerus di masa lampau, sedangkan aorist tense adalah simple past tense / past tense biasa. ... dalam waktu present pembedaan antara pernyataan biasa dari tindakan ini dan pernyataan dari tindakan yang terus menerus (atau diulangi) tidak dibuat dalam bahasa Yunani (karena itu, luw / LUO, berarti atau ‘saya kehilangan’ atau ‘saya sedang kehilangan’. Tetapi pada masa lampau / past pembedaan itu dibuat dengan hati-hati / seksama; bahasa Yunani tidak menunjukkan kecenderungan apapun untuk mencampur-adukkan aorist tense dengan imperfect tense] - ‘New Testament Greek For Beginners’, hal 81-82.

 

Bandingkan dengan ayat-ayat lain, yang berhubungan dengan inkarnasi, yang juga menggunakan aorist tense.

 

a.   Ibr 2:14 - “Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematianNya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut”.

KJV: ‘Forasmuch then as the children are partakers of flesh and blood, he also himself likewise took part of the same; that through death he might destroy him that had the power of death, that is, the devil;.

Kata-kata ‘took part’ berasal dari kata Yunani METESKHEN, yang ada dalam bentuk aorist tense.

 

b.   Ibr 2:17 - “Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudaraNya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa.”.

KJV: Wherefore in all things it behoved him to be made like unto his brethren, that he might be a merciful and faithful high priest in things pertaining to God, to make reconciliation for the sins of the people..

Kata-kata ‘to be made like’ berasal dari kata Yunani HOMOIOTHENAI, yang lagi-lagi ada dalam bentuk aorist tense.

 

c.   1Tim 3:16 - “Dan sesungguhnya agunglah rahasia ibadah kita: ‘Dia, yang telah menyatakan diriNya dalam rupa manusia, dibenarkan dalam Roh; yang menampakkan diriNya kepada malaikat-malaikat, diberitakan di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah; yang dipercayai di dalam dunia, diangkat dalam kemuliaan.’”.

KJV: And without controversy great is the mystery of godliness: God was manifest in the flesh, justified in the Spirit, seen of angels, preached unto the Gentiles, believed on in the world, received up into glory..

Kata-kata yang diterjemahkan ‘was manifest’ dalam bahasa Yunani adalah EPHANEROTHE, yang lagi-lagi ada dalam bentuk aorist tense.

 

d.   Ro 8:3 - Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus AnakNya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging,”.

Kata ‘mengutus’ berasal dari kata Yunani PEMPSAS yang juga ada dalam aorist tense.

 

e.   Fil 2:7 - “melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.”.

Kata-kata ‘telah mengosongkan’ (Yunani: EKENOSEN), ‘mengambil’ (Yunani: LABON), ‘menjadi’ (Yunani: GENOMENOS), semua ada dalam bentuk aorist tense.

 

f.    Yoh 1:11 - “Ia datang kepada milik kepunyaanNya, tetapi orang-orang kepunyaanNya itu tidak menerimaNya.”.

Kata ‘datang’ (Yunani: ELTHEN) juga ada dalam bentuk aorist tense.

 

Bdk. 1Yoh 4:2 - “Demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah,”.

Kata-kata ‘telah datang’ berasal dari kata Yunani ELULUTHOTA, yang merupakan suatu ‘verb participle perfect’.

Memang ini bukan aorist tense, tetapi tak peduli apapun tense yang digunakan, bagaimana mungkin dikatakan ‘Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, kalau manusia Yesus itu kekal?

Dan berbicara tentang perfect tense, Gresham Machen berkata: “The Greek perfect denotes the present state resultant upon a past action” (= Tensa perfect dalam bahasa Yunani menunjukkan keadaan present / sekarang yang dihasilkan / diakibatkan oleh suatu tindakan di masa lampau) - ‘New Testament Greek For Beginners’, hal 187.

 

b)         ‘Manusia’.

NIV/NASB: ‘flesh’ (= daging).

Kata Yunaninya adalah SARX, yang artinya memang adalah ‘flesh’ / daging.

Dalam tulisan Paulus, kata ‘daging’ sering menunjuk pada keberdosaan kita (misalnya: Gal 5:16,17,19). Tetapi dalam Yoh 1:14 ini kata ‘daging’ merupakan synecdoche (= suatu gaya bahasa dimana yang sebagian mewakili seluruhnya), dan menunjuk pada seluruh manusia (the whole man), yaitu baik tubuh maupun jiwa / roh (bandingkan dengan Maz 145:21 dimana kata ‘makhluk’ dalam bahasa Ibraninya adalah BASHAR, yang arti sebenarnya adalah ‘daging’).

Maz 145:21 - “Mulutku mengucapkan puji-pujian kepada TUHAN dan biarlah segala makhluk memuji namaNya yang kudus untuk seterusnya dan selamanya.”.

 

Calvin: “this is a figure of speech in which a part is taken for the whole; for the lower part includes the whole man” (= ini merupakan gaya bahasa dimana yang sebagian mewakili seluruhnya; karena bagian yang lebih rendah mencakup seluruh manusia) - hal 45.

Keterangan: Kristus adalah sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia. Kata-kata ‘the lower part’ (= bagian yang lebih rendah) menunjuk kepada kemanusiaan dari Kristus, karena itu memang lebih rendah dari keilahianNya.

 

Jadi, kalimat ‘Firman telah menjadi daging’ itu tidak boleh diar­tikan seakan-akan Yesus hanya mempunyai tubuh manusia, tetapi tidak mempunyai jiwa / roh manusia (seperti yang diajarkan oleh ajaran Apollinarianisme).

 

c)         Beberapa komentar tentang Yoh 1:14.

Adam Clarke: The only begotten of the Father.’ That is, the only person born of a woman, whose human nature never came by the ordinary way of generation; it being a mere creation in the womb of the virgin, by the energy of the Holy Spirit. (= ‘Satu-satunya yang dipernakkan dari Bapa’. Artinya, satu-satunya pribadi yang dilahirkan dari seorang perempuan, yang hakekat manusiaNya tidak pernah datang dari cara kelahiran biasa; itu adalah suatu ciptaan belaka / hanya suatu ciptaan, dalam kandungan dari sang perawan, oleh kekuatan dari Roh Kudus.).

Catatan: jadi, bukan hanya orang-orang Reformed yang menganggap manusia Yesus sebagai ciptaan / tidak kekal. Adam Clarke adalah seorang Arminian, tetapi ia juga mempunyai pandangan itu. Saya menganggap bahwa doktrin bahwa ‘manusia Yesus tidak kekal’, bukanlah sekedar merupakan pandangan Reformed, tetapi merupakan pandangan Kristen!

 

Barnes’ Notes (tentang Yoh 1:1): In the beginning.’ This expression is used also in Gen 1:1. John evidently has allusion here to that place, and he means to apply to ‘the Word’ an expression which is there applied ‘to God.’ In both places it clearly means BEFORE creation, before the world was made, when as yet there was nothing. The meaning is: that the ‘Word’ had an existence before the world was created. This is not spoken of the MAN Jesus, but of that which ‘became’ a man, or was incarnate, John 1:14. The Hebrews, by expressions like this, commonly denoted eternity. Thus the eternity of God is described (Ps 90:2): ‘Before the mountains were brought forth, etc.;’ and eternity is commonly expressed by the phrase, ‘before the foundation of the world.’ Whatever is meant by the term ‘Word,’ it is clear that it had an existence before ‘creation.’ It is not, then, a ‘creature’ or created being, and must be, therefore, uncreated and eternal. There is only ONE Being that is uncreated, and Jesus must be therefore divine. [= ‘Pada mulanya’. Ungkapan ini digunakan juga dalam Kej 1:1. Di sini Yohanes jelas menunjuk secara tak langsung pada tempat itu, dan ia memaksudkan untuk menerapkan pada ‘Firman’ suatu ungkapan yang di sana diterapkan ‘kepada Allah’. Dalam kedua tempat itu jelas berarti SEBELUM penciptaan, sebelum dunia / alam semesta diciptakan, pada waktu di sana belum ada apa-apa. Artinya adalah: bahwa ‘Firman’ mempunyai suatu keberadaan sebelum dunia / alam semesta diciptakan. Ini tidak dibicarakan tentang manusia Yesus, tetapi tentang itu yang ‘menjadi’ seorang manusia, atau berinkarnasi, Yoh 1:14. Orang-orang Ibrani, dengan ungkapan seperti ini, biasanya memaksudkan kekekalan. Maka kekekalan dari Allah digambarkan (Maz 90:2): ‘Sebelum gunung-gunung dilahirkan, dst.’; dan kekekalan biasanya dinyatakan oleh ungkapan, ‘sebelum dunia dijadikan’. Apapun yang dimaksudkan dengan istilah ‘Firman’, adalah jelas bahwa itu mempunyai keberadaan sebelum ‘penciptaan’. Maka, itu bukanlah suatu ‘ciptaan’ atau makhluk ciptaan, dan karena itu haruslah tidak dicipta dan kekal. Hanya ada satu makhluk yang tidak dicipta, dan karena itu Yesus haruslah ilahi / Allah].

 

Kekekalan dari Kristus memang ditekankan dalam Yoh 1:1, tetapi itu menunjuk pada keilahianNya. Sedangkan Yoh 1:14 mengatakan bahwa Dia ‘telah menjadi’ manusia. Ini tidak bisa tidak, terjadi bukan dalam kekekalan, tetapi dalam waktu!

 

9)   Kemanusiaan Yesus dibutuhkan untuk menangani / membereskan dosa manusia.

Karena itu merupakan suatu kemustahilan untuk mengatakan bahwa manusia Yesus itu kekal, dan sudah ada sebelum dosa ada.

Memang ada orang yang menganggap bahwa Kristus harus tetap menjadi manusia sekalipun Adam / manusia tidak jatuh ke dalam dosa. Tetapi Calvin membantah ini (‘Institutes of the Christian Religion’, Book II, Chapter 12, no 1-5), karena Alkitab secara jelas menunjukkan bahwa tujuan Kristus menjadi manusia adalah untuk membereskan dosa manusia.

Mari kita membaca beberapa ayat berkenaan dengan hal ini.

Yoh 3:16 - “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”.

Luk 19:10 - “Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.’”.

Ro 8:3-4 - “(3) Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus AnakNya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging, (4) supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita, yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh.”.

Luk 24:46-47 - “(46) KataNya kepada mereka: ‘Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, (47) dan lagi: dalam namaNya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem.”.

1Tim 2:5 - “Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus,”.

Ro 5:8 - “Akan tetapi Allah menunjukkan kasihNya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.”.

Ibr 9:22 - “Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan.”.

Ibr 9:26-28 - “(26) Sebab jika demikian Ia harus berulang-ulang menderita sejak dunia ini dijadikan. Tetapi sekarang Ia hanya satu kali saja menyatakan diriNya, pada zaman akhir untuk menghapuskan dosa oleh korbanNya. (27) Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi, (28) demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diriNya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diriNya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia.”.

Yoh 10:10 - “Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.”.

Gal 4:4-5 - “(4) Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus AnakNya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. (5) Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak.”.

1Tim 1:15 - “Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: ‘Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa,’ dan di antara mereka akulah yang paling berdosa.”.

1Yoh 3:8 - “barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya. Untuk inilah Anak Allah menyatakan diriNya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu.”.

 

III) Tambahan-tambahan penting.

 

Perlu diingat bahwa kata-kata ‘begotten, not made’ (= ‘diperanakkan, bukan dicipta’) dalam Pengakuan Iman Nicea - Konstantinople, tidak menunjuk kepada kemanusiaan / hakekat manusia Yesus, tetapi menunjuk kepada keilahianNya.

 

Perhatikan juga beberapa kutipan pendukung di bawah ini, baik dari penulis Reformed maupun bukan Reformed, yang menyatakan bahwa manusia Yesus tidak kekal dan merupakan ciptaan!

 

John Owen: “The framing, forming, and miraculous conception of the body of Christ in the womb of the blessed Virgin was the peculiar and especial work of the Holy Ghost. ... The act of the Holy Ghost in this matter was a creating act; not, indeed, like the first creating act, which produced the matter and substance of all things out of nothing, causing that to be which was not before, neither in matter, nor form, nor passive disposition; but like those subsequent acts of creation, whereby, out of matter before made and prepared, things were made that which before they were not, and which of themselves they had no active disposition unto nor concurrence in. So man was created or formed of the dust of the earth, and woman of a rib taken from man. There was a previous matter unto their creation, but such as gave no assistance nor had any active disposition to the production of that particular kind of creature whereinto they were formed by the creating power of God. Such was this act of the Holy Ghost in forming the body of our Lord Jesus Christ; for although it was effected by an act of infinite creating power, yet it was formed or made of the substance of the blessed Virgin” [= Penyusunan, pembentukan, dan pembuahan yang bersifat mujijat dari tubuh Kristus di dalam kandungan Perawan yang diberkati merupakan pekerjaan yang khas dan khusus dari Roh Kudus. ... Tindakan Roh Kudus dalam persoalan ini merupakan tindakan penciptaan; memang tidak seperti tindakan penciptaan pertama, yang menghasilkan bahan dan zat dari segala sesuatu dari tidak ada, menyebabkannya ada padahal tadinya tidak ada, baik dalam bahannya, bentuknya, maupun penyusunan / kecondongan pasif (?); tetapi seperti tindakan-tindakan penciptaan yang berikutnya, dengan mana, dari bahan yang sudah dibuat dan dipersiapkan sebelumnya, benda-benda / hal-hal yang sebelumnya tidak ada dibuat / dicipta, dan yang dari dirinya sendiri mereka tidak mempunyai kecondongan aktif kepada hal itu maupun persetujuan. Demikianlah manusia / orang laki-laki diciptakan atau dibentuk dari debu tanah, dan perempuan dari tulang rusuk laki-laki. Disana sudah ada bahan untuk penciptaan mereka, tetapi sedemikian rupa sehingga tidak memberikan bantuan atau mempunyai kecondongan aktif pada produksi dari jenis ciptaan tertentu ke dalam mana mereka dibentuk oleh kuasa penciptaan Allah. Demikian jugalah tindakan Roh Kudus dalam membentuk tubuh dari Tuhan Yesus Kristus; karena sekalipun itu dihasilkan oleh tindakan dari kuasa penciptaan yang tak terbatas, tetapi itu dibentuk atau dibuat dari zat dari sang Perawan yang diberkati] - ‘The Works of John Owen’, vol 3, ‘The Holy Spirit’, hal 162,163-164.

 

John Owen: the creating act of the Holy Ghost, in forming the body of our Lord Jesus Christ in the womb, ... the conception of Christ in the womb, being the effect of a creating act, was not accomplished successively and in process of time, but was perfected in an instant;” (= tindakan penciptaan dari Roh Kudus, dalam membentuk tubuh dari Tuhan kita Yesus Kristus dalam kandungan, ... pembuahan Kristus dalam kandungan, yang merupakan hasil dari tindakan penciptaan, tidak dicapai secara berturutan dan dalam proses waktu, tetapi disempurnakan dalam sesaat;) - ‘The Works of John Owen’, vol 3, ‘The Holy Spirit’, hal 165.

 

Herman Bavinck:

·         “Even though Christ has assumed a human nature which is finite and limited and which began in time, as person, as Self, Christ does not in Scripture stand on the side of the creature but on the side of God” (= Sekalipun Kristus telah mengambil suatu hakekat manusia yang terbatas dan yang dimulai dalam waktu, tetapi sebagai Pribadi, sebagai Diri / Ego, dalam Kitab Suci Kristus tidak berdiri di pihak makhluk ciptaan tetapi di pihak Allah) - ‘Our Reasonable Faith’, hal 317.

·         “The relationship is that of Creator and creature, and the creature from the nature of his being can never become Creator, nor have the significance and worth for us human beings of the Creator” (= Hubungan itu adalah hubungan Pencipta dan makhluk ciptaan, dan makhluk ciptaan sesuai dengan hakekat / keadaan alamiah keberadaanNya tidak pernah bisa menjadi Pencipta, atau mempunyai arti dan nilai dari sang Pencipta bagi kita manusia) - ‘Our Reasonable Faith’, hal 323.

·         That human nature did not exist beforehand. ... But in the incarnation, also, Scripture holds to the goodness of creation and to the Divine origin of matter” (= Hakekat manusia itu tidak ada sebelumnya. ... Tetapi juga dalam inkarnasi, Kitab Suci berpegang pada kebaikan penciptaan dan pada asal usul Ilahi dari zat / bahan) - ‘Our Reasonable Faith’, hal 325.

·         “Just as the human nature of Christ did not exist before the conception in Mary, so it did not exist for sometime before, nor some time after, in a state of separation from Christ” (= Sebagaimana hakekat manusia Kristus itu tidak ada sebelum pembuahan di dalam Maria, begitu juga hakekat manusia itu tidak ada sebelumnya, ataupun setelahnya, dalam keadaan terpisah dari Kristus) - ‘Our Reasonable Faith’, hal 326.

·         “In short, to one and the same subject, one and the same person, Divine and human attributes and works, eternity and time, omnipresence and limitation, creative omnipotence and creaturely weakness are ascribed” (= Singkatnya, subyek yang satu dan yang sama, pribadi yang satu dan yang sama, dianggap mempunyai sifat-sifat dasar dan pekerjaan-pekerjaan Ilahi dan manusia, kekekalan dan waktu / terbatas waktu, kemaha-adaan dan keterbatasan, kemaha-kuasaan yang bersifat mencipta dan kelemahan makhluk ciptaan) - ‘Our Reasonable Faith’, hal 326.

 

Dan dalam tafsirannya tentang Mikha 5:1, Calvin berkata sebagai berikut:

the Prophet could not properly nor wisely mention the human nature of Christ with the divine, with reference to eternity. The Word of God, we know, was eternal; and we know, that when the fulness of time came, as Paul says, Christ put on our nature, (Gal. 4:4.) Hence the beginning of Christ as to the flesh was not so old, if his existence be spoken of: to set them together then would have been absurd [= sang Nabi tidak bisa secara tepat / benar ataupun secara bijaksana menyebutkan hakekat manusia dari Kristus dengan hakekat ilahiNya, berkenaan dengan kekekalan. Firman Allah, kita tahu, adalah kekal; dan kita tahu, bahwa pada saat kegenapan waktunya datang, seperti Paulus katakan, Kristus memakai / mengenakan hakekat kita, (Gal 4:4). Karena itu permulaan dari Kristus berkenaan dengan daging tidaklah begitu tua, jika keberadaanNya dibicarakan: maka, membuat mereka bersama-sama akan merupakan sesuatu yang menggelikan].

Gal 4:4 - “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus AnakNya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat.”.

 

Philip Schaff: “The Son, as man, is produced; as God, he is unproduced or uncreated; he is begotten from eternity of the unbegotten Father. To this Athanasius refers the passage concerning the Only-begotten who is in the bosom of the Father” [= Anak, sebagai manusia, dihasilkan / diciptakan; sebagai Allah, Ia tidak dihasilkan atau tidak diciptakan; Ia diperanakkan dari kekekalan dari Bapa yang tidak diperanakkan. Untuk ini Athanasius menunjuk pada text tentang Satu-satunya yang diperanakkan, yang ada di dada Bapa (Yoh 1:18)] - ‘History of the Christian Church’, vol III, hal 658.

Catatan: Schaff adalah seorang ahli sejarah, dan dia jelas bukan Reformed.

 

Pengakuan Iman Chalcedon: “We, then, following the holy Fathers, all with one consent, teach men to confess, one and the same Son, our Lord Jesus Christ; the same perfect in Godhead and also perfect in Manhood; truly God, and truly Man, of a reasonable soul and body; consubstantial with the Father according to the Godhead, and consubstantial with us according to the Manhood; in all things like unto us without sin; begotten before all ages of the Father according to the Godhead, and in these latter days, for us and for our salvation, born of Mary the Virgin Mother of God according to the Manhood. He is one and the same Christ, Son, Lord, Only begotten, existing in two natures without mixture, without change, without division, without separation; the diversity of the two natures not being at all destroyed by their union, but the peculiar properties of each nature being preserved, and concurring to one person and one subsistence, not parted or divided into two persons, but one and the same Son, and Only-begotten, God The Word, the Lord Jesus Christ; as the prophets from the beginning have declared concerning Him, and as the Lord Jesus Christ Himself hath taught us, and as the Creed of the holy fathers has delivered to us” (= Maka, kami semua, mengikuti Bapa-bapa kudus, dengan suara bulat, mengajar manusia untuk mengaku, Anak yang satu dan yang sama, Tuhan kita Yesus Kristus, sempurna dalam keilahian dan juga sempurna dalam kemanusiaan, sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia, dengan jiwa yang bisa berpikir dan tubuh; menurut keilahianNya mempunyai zat / hakekat yang sama dengan Sang Bapa, dan menurut kemanusiaanNya mempunyai zat / hakekat yang sama dengan kita, dalam segala hal sama seperti kita tetapi tanpa dosa; menurut keilahianNya diperanakkan sebelum segala jaman dari Bapa, dan menurut kemanusiaanNya dilahirkan dari Maria, sang Perawan, Bunda Allah dalam hari-hari akhir ini. Ia adalah Kristus, Anak, Tuhan yang satu dan yang sama, satu-satunya yang diperanakkan, mempunyai keberadaan dalam 2 hakekat, tanpa percampuran, tanpa perubahan, tanpa perpecahan, tanpa perpisahan; perbedaan dari dua hakekat itu sama sekali tidak dihancurkan oleh persatuan mereka, tetapi sifat-sifat dasar yang khas dari setiap hakekat dipertahankan dan bersatu menjadi satu pribadi dan satu keberadaan / makhluk, tidak berpisah atau terbagi menjadi dua pribadi, tetapi Anak yang satu dan yang sama, dan satu-satunya yang diperanakkan, Allah Firman, Tuhan Yesus Kristus; seperti nabi-nabi dari semula telah menyatakan tentang Dia, dan seperti Tuhan Yesus Kristus sendiri telah mengajar kita, dan seperti pengakuan iman bapa-bapa kudus telah menyampaikan kepada kita).

 

Pengakuan Iman Athanasius: “1. Whosoever wishes to be saved, it is above all necessary for him to hold the Catholic faith.  2. Which, unless each one shall preserve perfect and inviolate, he shall certainly perish forever.  3. But the Catholic faith is this, that we worship one God in trinity, and trinity in unity.  4. Neither confounding the persons, nor separating the substance.  5. For the person of the Father is one, of the Son another, and of the Holy Ghost another.  6. But of the Father, of the Son, and of the Holy Ghost there is one divinity, equal glory and co-eternal majesty.  7. What the Father is, the same is the Son, and the Holy Ghost.  8. The Father is uncreated, the Son uncreated, the Holy Ghost uncreated.  9. The Father is immense, the Son immense, the Holy Ghost immense.  10. The Father is eternal, the Son eternal, the Holy Ghost eternal.  11. And yet there are not three eternals, but one eternal.  12. So there are not three (beings) uncreated, nor three immense, but one uncreated, and one immense.  13. In like manner the Father is omnipotent, the Son is omnipotent, the Holy Ghost is omnipotent.  14. And yet there are not three omnipotents, but one omnipotent.  15. Thus the Father is God, The Son is God, the Holy Ghost is God.  16. And yet there are not three Gods, but one God.  17. Thus The Father is Lord, the Son is Lord, the Holy Ghost is Lord.  18. And yet there are not three Lords, but one Lord.  19. Because as we are thus compelled by Christian verity to confess each person severally to be God and Lord; so we are prohibited by the Catholic religion from saying that there are three Gods or Lords.  20. The Father was made from none, nor created, nor begotten.  21. The Son is from the Father alone, neither made, nor created, but begotten.  22. The Holy Ghost is from the Father and the Son, neither made, nor created, nor begotten, but proceeding.  23. Therefore there is one Father, not three fathers, one Son, not three sons, one Holy Ghost, not three Holy Ghosts.  24. And in this trinity no one is first or last, no one is greater or less.  25. But all the three co-eternal persons are co-equal among themselves; so that through all, as is above said, both unity in trinity, and trinity in unity is to be worship.  26. Therefore, he who wishes to be saved must think thus concerning the trinity.  27. But it is necessary to eternal salvation that he should also faithfully believe the incarnation of our Lord Jesus Christ.  28. It is, therefore, true faith that we believe and confess that our Lord Jesus Christ is both God and man.  29. He is God, generated from eternity from the substance of the Father; man, born in time from the substance of his mother.  30. Perfect God, perfect man, subsisting of a rational soul and human flesh.  31. Equal to the Father in respect to his divinity, less than the Father in respect to his humanity.  32. Who, although he is God and man, is not two but one Christ.  33. But one, not from the conversion of his divinity into flesh, but from the assumption of his humanity into God.  34. One not at all from confusion of substance, but from unity of person.  35. For as a rational soul and flesh is one man, so God and man is one Christ.  36. Who suffered for our salvation, descended into hell, the third day rose from the dead.  37. Ascended to heaven, sitteth at the right hand of God the Father omnipotent, whence he shall come to judge the living and the dead.  38. At whose coming all men shall rise again with their bodies, and shall render an account for their own works.  39. And they who have done well shall go into life eternal; they who have done evil into eternal fire.  40. This is the Catholic faith, which, unless a man shall faithfully and firmly believe, he can not be saved.” (= 1. Barangiapa yang ingin diselamatkan, adalah perlu baginya di atas segala-galanya untuk memegang / mempercayai iman Katolik / universal / am.  2. Yang, kecuali setiap orang memelihara / mempertahankannya secara sempurna dan tidak diganggu gugat, ia pasti akan binasa selama-lamanya.  3. Tetapi iman Katolik / universal / am adalah ini, bahwa kami menyembah satu Allah dalam tritunggal, dan tritunggal dalam kesatuan.  4. Tidak ada kekacauan / percampuran pribadi-pribadi ataupun pemisahan zat.  5. Karena pribadi dari Bapa adalah satu, dari Anak adalah pribadi yang lain, dan dari Roh Kudus adalah pribadi yang lain.  6. Tetapi dari Bapa, dari Anak, dan dari Roh Kudus ada satu keilahian, kemuliaan yang sama / setara dan keagungan yang sama kekalnya.  7. Apa adanya Bapa itu, demikian juga dengan Anak, dan juga Roh Kudus.  8. Bapa tidak diciptakan, Anak tidak diciptakan, Roh Kudus tidak diciptakan.  9. Bapa itu maha besar, Anak itu maha besar, Roh Kudus itu maha besar.  10. Bapa itu kekal, Anak itu kekal, Roh Kudus itu kekal.  11. Tetapi tidak ada tiga yang kekal, tetapi satu yang kekal.  12. Demikian juga tidak ada tiga (makhluk) yang tidak dicipta, juga tidak tiga yang maha besar, tetapi satu yang tidak dicipta, dan satu yang maha besar.  13. Dengan cara yang sama Bapa adalah maha kuasa, Anak adalah maha kuasa, Roh Kudus adalah maha kuasa.  14. Tetapi tidak ada tiga yang maha kuasa, tetapi satu yang maha kuasa.  15. Demikian juga Bapa adalah Allah, Anak adalah Allah, Roh Kudus adalah Allah.  16. Tetapi tidak ada tiga Allah, tetapi satu Allah.  17. Demikian pula Bapa adalah Tuhan, Anak adalah Tuhan, dan Roh Kudus adalah Tuhan.  18. Tetapi tidak ada tiga Tuhan, tetapi satu Tuhan.  19. Karena sebagaimana kami didorong seperti itu oleh kebenaran Kristen untuk mengakui setiap pribadi secara terpisah / individuil sebagai Allah dan Tuhan; demikian pula kami dilarang oleh agama Katolik / universal / am untuk mengatakan bahwa ada tiga Allah atau Tuhan.  20. Bapa tidak dibuat dari apapun, tidak diciptakan, tidak diperanakkan.  21. Anak itu dari Bapa saja, tidak dibuat, tidak dicipta, tetapi diperanakkan.  22. Roh Kudus itu dari Bapa dan Anak, tidak dibuat, tidak dicipta, tidak diperanakkan, tetapi keluar.  23. Karena itu ada satu Bapa, bukan tiga bapa, satu Anak, bukan tiga anak, satu Roh Kudus, bukan tiga Roh Kudus.  24. Dan dalam tritunggal ini tidak ada yang pertama atau terakhir, tidak ada yang lebih besar atau lebih kecil.  25. Tetapi ketiga pribadi yang sama-sama kekal dan setara di antara mereka sendiri; sehingga mereka semua secara keseluruhan, seperti dikatakan di atas, baik kesatuan dalam tritunggal, maupun tritunggal dalam kesatuan, harus disembah.  26. Karena itu, ia yang ingin diselamatkan harus berpikir demikian tentang tritunggal.  27. Tetapi adalah perlu untuk keselamatan kekal bahwa ia juga percaya dengan setia / benar inkarnasi dari Tuhan kita Yesus Kristus.  28. Karena itu adalah iman yang benar bahwa kita percaya dan mengaku bahwa Tuhan kita Yesus Kristus adalah Allah dan manusia.  29. Ia adalah Allah, diperanakkan dari kekekalan dari zat Sang Bapa; manusia, dilahirkan dalam waktu dari zat ibuNya.  30. Allah yang sempurna, manusia yang sempurna, terdiri dari jiwa yang rasionil dan daging manusia.  31. Setara dengan Sang Bapa dalam hal keilahianNya, lebih rendah dari Sang Bapa dalam hal kemanusiaanNya.  32. Yang, sekalipun adalah Allah dan manusia, bukanlah dua tetapi satu Kristus.  33. Tetapi satu, bukan dari perubahan dari keilahianNya menjadi daging, tetapi dari penerimaan / pengambilan dari kemanusiaanNya kepada / ke dalam Allah.  34. Satu, sama sekali bukan karena percampuran zat, tetapi dari kesatuan pribadi.  35. Karena sebagaimana jiwa yang rasionil dan daging adalah satu manusia, demikian juga Allah dan manusia adalah satu Kristus.  36. Yang menderita untuk keselamatan kita, turun ke neraka, hari yang ketiga bangkit dari antara orang mati.  37. Naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa yang mahakuasa, darimana Ia akan datang untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati.  38. Pada kedatangan siapa semua manusia akan bangkit kembali dengan tubuhnya, dan akan mempertanggungjawabkan pekerjaan / perbuatan mereka sendiri.  39. Dan mereka yang telah berbuat baik akan pergi ke dalam kehidupan kekal; mereka yang telah berbuat jahat ke dalam api yang kekal.  40. Inilah iman Katolik / universal / am, yang, kecuali seseorang percaya dengan setia dan teguh, ia tidak bisa diselamatkan) - A. A. Hodge, ‘Outlines of Theology’, hal 117-118.

 

Penutup / kesimpulan.

 

Yesus sebagai Allah memang jelas kekal, tetapi manusia Yesus tidak kekal, mulai ada dalam waktu, dan Ia memang diciptakan! Siapapun yang mempunyai kepercayaan yang berbeda dengan ini, harus memperhatikan kata-kata Herschel H. Hobbs di bawah ini:

 

Herschel H. Hobbs mengutip George W. Truett: “He was God as though he were not man. And he was man as though he were not God. He was the God-man. And never did a hyphen mean so much” (= Ia adalah Allah seakan-akan Ia bukanlah manusia. Dan Ia adalah manusia seakan-akan Ia bukanlah Allah. Ia adalah manusia-Allah. Dan sebuah tanda ‘-’ tidak pernah berarti begitu banyak seperti di sini) - hal 21.

Catatan: a hyphen adalah tanda ‘-’ yang muncul dalam istilah ‘the God-man’.

 

Herschel H. Hobbs mengutip Robert G. Lee: “As in eternity he leaned upon the bosom of his Father without a mother, so in time he leaned upon the bosom of his mother without a father” (= Sebagaimana dalam kekekalan Ia bersandar pada dada BapaNya tanpa seorang ibu, demikian juga dalam waktu Ia bersandar pada dada ibuNya tanpa seorang bapa) - hal 21.

 

Herschel H. Hobbs: “It is just as great a heresy to deny His humanity as to deny His deity” (= Menyangkal kemanusiaanNya adalah sama sesatnya dengan menyangkal keilahianNya) - hal 21.

 

John Calvin: The second requirement of our reconciliation with God was this: that man, who by his disobedience had become lost, should by way of remedy counter it with obedience, satisfy God’s judgment, and pay the penalties for sin. Accordingly, our Lord came forth as true man and took the person and the name of Adam in order to take Adam’s place in obeying the Father, to present our flesh as the price of satisfaction to God’s righteous judgment, and, in the same flesh, to pay the penalty that we had deserved. In short, since neither as God alone could he feel death, nor as man alone could he overcome it, he coupled human nature with divine that to atone for sin he might submit the weakness of the one to death; and that, wrestling with death by the power of the other nature, he might win victory for us. Those who despoil Christ of either his divinity or his humanity diminish his majesty and glory, or obscure his goodness. On the other hand, they do just as much wrong to men whose faith they thus weaken and overthrow, because it cannot stand unless it rests upon this foundation. (= Persyaratan kedua dari perdamaian kita dengan Allah adalah ini: bahwa manusia, yang oleh ketidak-taatannya telah menjadi terhilang, harus dengan cara pengobatan membalasnya dengan ketaatan, memuaskan penghakiman Allah, dan membayar hukuman dosa. Karena itu, Tuhan kita tampil ke depan sebagai manusia sejati / sungguh-sungguh dan mengambil pribadi dan nama dari Adam untuk mengambil tempat Adam dalam mentaati Bapa, untuk memberikan daging kita sebagai harga dari pemuasan bagi penghakiman yang benar dari Allah, dan, dalam daging yang sama, membayar hukuman yang layak kita dapatkan. Singkatnya, karena sebagai Allah saja Ia tidak bisa merasakan kematian, dan sebagai manusia saja Ia tidak bisa menanggulanginya, Ia menggandengkan hakekat manusia dengan hakekat ilahi sehingga untuk menebus dosa Ia bisa menundukkan kelemahan yang satu kepada kematian; dan supaya, bergumul dengan kematian oleh kuasa dari hakekat yang lain, Ia bisa memenangkan kemenangan bagi kita. Mereka yang merampok Kristus, atau dari keilahianNya atau dari kemanusiaanNya, mengurangi keagungan dan kemuliaanNya, atau mengaburkan kebaikanNya. Di sisi lain, mereka melakukan sama banyaknya kesalahan kepada orang-orang, yang imannya mereka lemahkan dan robohkan, karena itu tidak bisa berdiri / bertahan kecuali itu berdiri di atas dasar ini.) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book II, Chapter 12, no 3.

 

 

 

 

-AMIN-

 

 

e-mail address  : : [email protected]                               

Base URL: http://www.golgothaministry.org