(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)
Minggu, tgl 13 Agustus 2023, pk 9.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
persembahan persepuluhan
dan
theologia kemakmuran
MALEAKHI 3:6-12(2)
Mal 3:6-12 - “(6) Bahwasanya Aku, TUHAN, tidak berubah, dan kamu, bani Yakub, tidak akan lenyap. (7) Sejak zaman nenek moyangmu kamu telah menyimpang dari ketetapanKu dan tidak memeliharanya. Kembalilah kepadaKu, maka Aku akan kembali kepadamu, firman TUHAN semesta alam. Tetapi kamu berkata: ‘Dengan cara bagaimanakah kami harus kembali?’ (8) Bolehkah manusia menipu Allah? Namun kamu menipu Aku. Tetapi kamu berkata: ‘Dengan cara bagaimanakah kami menipu Engkau?’ Mengenai persembahan persepuluhan dan persembahan khusus! (9) Kamu telah kena kutuk, tetapi kamu masih menipu Aku, ya kamu seluruh bangsa! (10) Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumahKu dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan. (11) Aku akan menghardik bagimu belalang pelahap, supaya jangan dihabisinya hasil tanahmu dan supaya jangan pohon anggur di padang tidak berbuah bagimu, firman TUHAN semesta alam. (12) Maka segala bangsa akan menyebut kamu berbahagia, sebab kamu ini akan menjadi negeri kesukaan, firman TUHAN semesta alam.”.
2) Tujuan persembahan persepuluhan.
a) Untuk makan bersama (Ul 12:5-7 14:22-29).
Ul 12:5-7 - “(5) Tetapi tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, dari segala sukumu sebagai kediamanNya untuk menegakkan namaNya di sana, tempat itulah harus kamu cari dan ke sanalah harus kamu pergi. (6) Ke sanalah harus kamu bawa korban bakaran dan korban sembelihanmu, persembahan persepuluhanmu dan persembahan khususmu, korban nazarmu dan korban sukarelamu, anak-anak sulung lembu sapimu dan kambing dombamu. (7) Di sanalah kamu makan di hadapan TUHAN, Allahmu, dan bersukaria, kamu dan seisi rumahmu, karena dalam segala usahamu engkau diberkati oleh TUHAN, Allahmu.”.
Ul 14:22-29 - “(22) ‘Haruslah engkau benar-benar mempersembahkan sepersepuluh dari seluruh hasil benih yang tumbuh di ladangmu, tahun demi tahun. (23) Di hadapan TUHAN, Allahmu, di tempat yang akan dipilihNya untuk membuat namaNya diam di sana, haruslah engkau memakan persembahan persepuluhan dari gandummu, dari anggurmu dan minyakmu, ataupun dari anak-anak sulung lembu sapimu dan kambing dombamu, supaya engkau belajar untuk selalu takut akan TUHAN, Allahmu. (24) Apabila, dalam hal engkau diberkati TUHAN, Allahmu, jalan itu terlalu jauh bagimu, sehingga engkau tidak dapat mengangkutnya, karena tempat yang akan dipilih TUHAN untuk menegakkan namaNya di sana terlalu jauh dari tempatmu, (25) maka haruslah engkau menguangkannya dan membawa uang itu dalam bungkusan dan pergi ke tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, (26) dan haruslah engkau membelanjakan uang itu untuk segala yang disukai hatimu, untuk lembu sapi atau kambing domba, untuk anggur atau minuman yang memabukkan, atau apapun yang diingini hatimu, dan haruslah engkau makan di sana di hadapan TUHAN, Allahmu dan bersukaria, engkau dan seisi rumahmu. (27) Juga orang Lewi yang diam di dalam tempatmu janganlah kauabaikan, sebab ia tidak mendapat bagian milik pusaka bersama-sama engkau. (28) Pada akhir tiga tahun engkau harus mengeluarkan segala persembahan persepuluhan dari hasil tanahmu dalam tahun itu dan menaruhnya di dalam kotamu; (29) maka orang Lewi, karena ia tidak mendapat bagian milik pusaka bersama-sama engkau, dan orang asing, anak yatim dan janda yang di dalam tempatmu, akan datang makan dan menjadi kenyang, supaya TUHAN, Allahmu, memberkati engkau di dalam segala usaha yang dikerjakan tanganmu.’”.
Ul 14:22-27 menunjukkan bahwa persembahan persepuluhan itu digunakan untuk makan bersama-sama dengan orang Lewi.
Ul 14:28-29 menunjukkan bahwa 3 tahun sekali persembahan persepuluhan itu digunakan untuk makan bersama dengan orang Lewi, orang asing, janda, yatim piatu, orang miskin, dsb.
Catatan: perhatikan bahwa persembahan persepuluhan tidak pernah diberikan kepada orang-orang miskin untuk dibawa pulang, tetapi hanya untuk makan bersama dengan mereka.
Menurut saya, ini menunjukkan bahwa persembahan persepuluhan tidak boleh diberikan kepada orang miskin. Acara makan bersama itu, menurut saya, lebih tepat kalau dikontextualisasikan sebagai ‘acara gereja’.
b) Untuk menghidupi orang Lewi (Bil 18:21,24 bdk. Mal 3:10a).
Bil 18:21,24 - “(21) Mengenai bani Lewi, sesungguhnya Aku berikan kepada mereka segala persembahan persepuluhan di antara orang Israel sebagai milik pusakanya, untuk membalas pekerjaan yang dilakukan mereka, pekerjaan pada Kemah Pertemuan. ... (24) sebab persembahan persepuluhan yang dipersembahkan orang Israel kepada TUHAN sebagai persembahan khusus Kuberikan kepada orang Lewi sebagai milik pusakanya; itulah sebabnya Aku telah berfirman tentang mereka: Mereka tidak akan mendapat milik pusaka di tengah-tengah orang Israel.’”.
Mal 3:10 - “Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumahKu dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.”.
Suku Lewi tidak terlibat dalam penyembahan anak lembu emas (Kel 32), dan karena itu mereka dijadikan suku yang melayani Tuhan. Pada waktu Israel masuk Kanaan, suku Lewi tidak mendapatkan tanah (Yos 14:3,4 Yos 18:7).
Untuk biaya hidup mereka, maka suku-suku yang lain harus memberikan persembahan persepuluhan [dalam Perjanjian Barupun dikatakan bahwa hamba Tuhan harus hidup dari pelayanan (1Kor 9:4-14)].
Pada jaman Nehemia, karena persembahan persepuluhan tidak diberikan, maka orang Lewi terpaksa meninggalkan pelayanan dan bekerja di ladang.
Neh 13:10 - “Juga kudapati bahwa sumbangan-sumbangan bagi orang-orang Lewi tidak pernah diberikan, sehingga orang-orang Lewi dan para penyanyi yang bertugas masing-masing lari ke ladangnya.”.
Karena tujuan persembahan persepuluhan ini adalah untuk membiayai kehidupan pelayan / hamba Tuhan, maka jelaslah bahwa persembahan ini harus diberikan kepada gereja / rumah Tuhan!
Untuk ini perhatikan:
1. Mal 3:10 - ‘bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan,’.
2. Ul 12:5-7 - ‘kesanalah harus kamu bawa ... persembahan persepuluhanmu’.
Jadi, janganlah memberikan persembahan persepuluhan kepada orang miskin, panti asuhan, korban bencana alam, dsb! Kalau saudara mau memberikan kepada orang miskin, panti asuhan, korban bencana alam, dsb, saudara harus memberikan dari 90 % yang tersisa setelah dipotong 10 % untuk Tuhan / gereja.
Bahkan memberikan persembahan persepuluhan kepada hamba Tuhan secara pribadi, menurut saya adalah salah. Dalam Perjanjian Lamapun persembahan persepuluhan bukan diberikan kepada imam / orang Lewi secara pribadi, tetapi kepada Kemah Suci / Bait Allah, dan lalu digunakan untuk mencukupi kebutuhan imam dan orang Lewi. Jadi, pada jaman sekarangpun harus diberikan kepada gereja, dan gereja yang mengaturnya untuk mencukupi kebutuhan hamba-hamba Tuhan.
Catatan: menurut saya, ada satu kasus, dimana persembahan persepuluhan boleh diberikan kepada hamba Tuhan secara pribadi, yaitu dalam kasus ada hamba Tuhan (tentu saja yang benar) yang tidak dicukupi kebutuhan hidupnya oleh gerejanya (bisa karena majelisnya pelit dsb). Dalam hal seperti ini, kita bisa mem-by pass majelis gereja itu dengan memberikannya langsung kepada hamba Tuhan itu, supaya pelayanannya untuk gereja itu tidak terhalang masalah keuangan.
3) Pelanggaran terhadap hukum persembahan persepuluhan ini:
a) Pada jaman Hizkia (2Taw 31:4,5,10-12).
2Taw 31:4,5,10-12 - “(4) Ia memerintahkan rakyat, yakni penduduk Yerusalem, untuk memberikan sumbangan yang menjadi bagian para imam dan orang-orang Lewi, supaya mereka dapat mencurahkan tenaganya untuk melaksanakan Taurat TUHAN. (5) Segera setelah perintah ini tersiar, orang Israel membawa dalam jumlah yang besar hasil pertama dari pada gandum, anggur, minyak, madu dan segala macam hasil bumi. Mereka membawa juga persembahan persepuluhan dari segala sesuatu dalam jumlah yang besar. ... (10) dan dijawab oleh Azarya, imam kepala keturunan Zadok demikian: ‘Sejak persembahan khusus mulai dibawa ke rumah TUHAN, kami telah makan sekenyang-kenyangnya, namun sisanya masih banyak. Sebab TUHAN telah memberkati umatNya, sehingga tinggal sisa yang banyak ini.’ (11) Kemudian Hizkia menyuruh menyediakan bilik-bilik di rumah TUHAN dan mereka menyediakannya. (12) Dan dengan setia mereka membawa segala persembahan khusus, persembahan persepuluhan dan persembahan-persembahan kudus itu ke sana. Konanya, seorang Lewi, mengawasi semuanya, dan Simei, saudaranya, adalah orang kedua.”.
b) Pada jaman Nehemia (Neh 13:10-12).
Neh 13:10-12 - “(10) Juga kudapati bahwa sumbangan-sumbangan bagi orang-orang Lewi tidak pernah diberikan, sehingga orang-orang Lewi dan para penyanyi yang bertugas masing-masing lari ke ladangnya. (11) Aku menyesali para penguasa, kataku: ‘Mengapa rumah Allah dibiarkan begitu saja?’ Lalu kukumpulkan orang-orang Lewi itu dan kukembalikan pada tempatnya. (12) Maka seluruh orang Yehuda membawa lagi persembahan persepuluhan dari pada gandum, anggur dan minyak ke perbendaharaan.”.
c) Pada jaman Maleakhi.
1. Ay 9: ‘Kamu seluruh bangsa’.
Jadi, pelanggaran ini dilakukan bukan hanya oleh satu atau dua orang, tetapi seluruh bangsa!
2. Ay 10: ‘Bawalah seluruh persembahan persepuluhan ...’.
Jadi mungkin ada yang memberikan di bawah 10 %. Tetapi Tuhan tidak senang dengan ketaatan yang sebagian.
d) Pada jaman ini, pasti banyak orang yang tidak memberikan persembahan persepuluhan. Ada yang hanya memberi sebagian (kurang dari 10 %); ada yang hanya kadang-kadang memberi; ada yang bahkan tidak memberi sama sekali. Itu sebabnya banyak gereja kekurangan uang.
IV) Perintah bertobat dan janji Allah (ay 10-12).
1) Bisa kita lihat bahwa pada waktu mereka tidak memberikan persembahan itu, mereka dihukum (ay 9-11).
a) Mereka kena kutuk (ay 9).
Ay 9 terjemahan seharusnya adalah ‘Kamu kena kutuk karena kamu merampok Aku, ya kamu seluruh bangsa’.
b) Allah tidak memberi hujan / berkat (ay 10b).
‘Membuka tingkap di langit dan mencurahkan berkat’ bisa diartikan sebagai hujan biasa. Perlu diingat bahwa kebanyakan dari orang Israel adalah petani dan gembala yang pekerjaannya sangat tergantung pada hujan. Dengan demikian, kalau Tuhan menahan hujan, maka itu sama dengan menahan berkat Tuhan atas pekerjaan mereka.
c) Allah memberi belalang yang merusak panen dan Allah tidak memberikan buah pada pohon anggur mereka.
Ay 11: “Aku akan menghardik bagimu belalang pelahap, supaya jangan dihabisinya hasil tanahmu dan supaya jangan pohon anggur di padang tidak berbuah bagimu, firman TUHAN semesta alam.”.
Jadi, Allah bukan hanya menghentikan berkatnya, tetapi bahkan juga memberikan bencana yang menghancurkan penghasilan mereka.
Terhadap ajaran ini, saudara mungkin bertanya: Mengapa banyak orang yang tidak memberikan persembahan persepuluhan, tetapi toh bisa kaya? Jawabnya adalah:
1. Mereka bukan anak-anak Allah; dan Allah tidak menghajar orang-orang yang bukan anak-anakNya.
Ibr 12:5-8 - “(5) Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: ‘Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkanNya; (6) karena Tuhan menghajar orang yang dikasihiNya, dan Ia menyesah orang yang diakuiNya sebagai anak.’ (7) Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? (8) Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang.”.
2. Mereka akan mendapat hukuman di neraka.
2) Allah menyuruh Israel bertobat, dan kalau Israel mau bertobat, maka Allah berjanji untuk memberkati:
a) Ia akan memberi hujan / berkat (ay 10b).
b) Ia akan menyingkirkan belalang dan memberikan buah pada pohon anggur mereka (ay 11).
Dari bagian ini ada beberapa hal yang bisa kita bahas:
1. Segala sesuatu tergantung kepada Tuhan.
Hujan, belalang, buah, semua tergantung Tuhan (ay 10-11). Jadi, sukses tidaknya pekerjaan kita, lancar tidaknya usaha kita, semua tergantung kepada Tuhan.
Bdk. Maz 127:1 - “[Nyanyian ziarah Salomo.] Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga.”.
Jadi, segala sesuatu yang kita hasilkan dari pekerjaan, bahkan segala milik kita, sebetulnya adalah pemberian Tuhan.
1Kor 4:7b - “Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?”.
Kalau kita menyadari hal ini, sebetulnya tidak akan sukar bagi kita untuk memberikan 10 % dari penghasilan kita kepada Tuhan. Kita sebetulnya hanya ‘mengembalikan’ 10 % dari yang Tuhan berikan kepada kita.
Bandingkan dengan kata-kata Yakub dalam Kej 28:22 yang berbunyi: ‘Dari segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku akan selalu kupersembahkan sepersepuluh kepadaMu’.
Persembahan persepuluhan sebetulnya menunjukkan iman / kepercayaan kita bahwa semua milik kita adalah pemberian Tuhan.
2. Banyak orang ‘menjadi miskin karena tidak memberikan persepuluhan’ dan bukannya ‘tidak memberikan persepuluhan karena miskin’.
Banyak orang mau Tuhan mencukupi kebutuhannya dulu (bahkan berlimpah-limpah dulu), baru mau memberikan persembahan persepuluhan. Tetapi ini terbalik! Tuhan menghendaki kita memberikan persembahan persepuluhan dulu, baru Ia akan memberkati kita! (ay 10-11).
Bandingkan juga dengan Mat 6:33 dan 1Raja 17:7-16.
Mat 6:33 - “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”.
1Raja 17:7-16 - “(7) Tetapi sesudah beberapa waktu, sungai itu menjadi kering, sebab hujan tiada turun di negeri itu. (8) Maka datanglah firman TUHAN kepada Elia: (9) ‘Bersiaplah, pergi ke Sarfat yang termasuk wilayah Sidon, dan diamlah di sana. Ketahuilah, Aku telah memerintahkan seorang janda untuk memberi engkau makan.’ (10) Sesudah itu ia bersiap, lalu pergi ke Sarfat. Setelah ia sampai ke pintu gerbang kota itu, tampaklah di sana seorang janda sedang mengumpulkan kayu api. Ia berseru kepada perempuan itu, katanya: ‘Cobalah ambil bagiku sedikit air dalam kendi, supaya aku minum.’ (11) Ketika perempuan itu pergi mengambilnya, ia berseru lagi: ‘Cobalah ambil juga bagiku sepotong roti.’ (12) Perempuan itu menjawab: ‘Demi TUHAN, Allahmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikitpun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Dan sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, kemudian aku mau pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati.’ (13) Tetapi Elia berkata kepadanya: ‘Janganlah takut, pulanglah, buatlah seperti yang kaukatakan, tetapi buatlah lebih dahulu bagiku sepotong roti bundar kecil dari padanya, dan bawalah kepadaku, kemudian barulah kaubuat bagimu dan bagi anakmu. (14) Sebab beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Tepung dalam tempayan itu tidak akan habis dan minyak dalam buli-buli itupun tidak akan berkurang sampai pada waktu TUHAN memberi hujan ke atas muka bumi.’ (15) Lalu pergilah perempuan itu dan berbuat seperti yang dikatakan Elia; maka perempuan itu dan dia serta anak perempuan itu mendapat makan beberapa waktu lamanya. (16) Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang seperti firman TUHAN yang diucapkanNya dengan perantaraan Elia.”.
Kedua bagian ini mengajarkan kita untuk mengutamakan Tuhan lebih dulu, dan kalau kita mau melakukan hal itu, maka pastilah Tuhan akan mencukupi kebutuhan hidup kita!
Mungkin saudara berkata: ‘Dengan 100 % penghasilan saya saat ini, saya tidak bisa mencukupi kebutuhan hidup keluarga saya. Lalu bagaimana bisa cukup kalau penghasilan saya itu masih harus dipotong 10 % untuk diberikan kepada Tuhan?’.
Untuk menjawab pertanyaan ini perlu saya jelaskan bahwa kalau saudara memberikan persepuluhan, maka Tuhan akan memberikan berkat. Ini bisa Ia lakukan dengan menambah penghasilan saudara atau menyuruh seseorang memberi uang kepada saudara. Atau bisa saja Tuhan menyingkirkan ‘belalang’ dari kehidupan saudara. Mungkin selama ini saudara tidak cukup, karena adanya ‘belalang’ itu yang bisa berbentuk macam-macam hal, seperti anak sakit, kendaraan rusak, dan semua pengeluaran extra lainnya. Kalau ‘belalang’ itu disingkirkan oleh Tuhan, maka bisa saja dengan 90 % penghasilan saudara, saudara justru bisa mencukupi kebutuhan hidup keluarga saudara!
3. Apakah semua ini berarti bahwa ajaran Theologia Kemakmuran itu betul? Tidak! Hal yang penting sekali untuk diketahui adalah bahwa ada perbedaan besar antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
Dalam Perjanjian Lama, Tuhan menjanjikan berkat Tuhan, kalau Israel taat kepadaNya. Tetapi penekanan dari berkat itu adalah pada hal-hal jasmani (Bdk. Ul 11:8-15 Ul 28:1-14 Mal 3:8-11).
Dalam Perjanjian Baru, kalau kita taat, kita juga akan diberkati. Tetapi penekanan dari berkat di sini adalah pada berkat rohani!
Bdk. 2Kor 9:6-11 - “(6) Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. (7) Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. (8) Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan. (9) Seperti ada tertulis: ‘Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaranNya tetap untuk selamanya.’ (10) Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu; (11) kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami.”.
Kalau kita hanya membaca 2Kor 9:6 saja, seperti yang biasanya dilakukan, maka kita mungkin akan menarik kesimpulan bahwa orang yang memberi banyak persembahan, juga akan menuai banyak uang. Tetapi cobalah baca terusannya! 2Kor 9:8 menyebutkan bahwa ‘mereka berkelimpahan dalam berbagai kebajikan’! 2Kor 9:10 mengatakan bahwa ‘Allah akan melipatgandakan dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu’! 2Kor 9:11 mengatakan bahwa ‘kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati’. Ini semua jelas menunjuk pada berkat rohani.
Bagaimana dengan berkat jasmani dalam Perjanjian Baru? Apakah Tuhan menjanjikan kekayaan? Sama sekali tidak! 2Kor 8:1-9 menceritakan tentang jemaat Makedonia yang memberi lebih banyak dari kemampuan mereka. Tetapi mereka tidak menjadi kaya secara jasmani (bahkan dikatakan kalau mereka sangat miskin - ay 2), tetapi mereka kaya secara rohani!
2Kor 8:1-9 - “(1) Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia. (2) Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan. (3) Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka. (4) Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus. (5) Mereka memberikan lebih banyak dari pada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami. (6) Sebab itu kami mendesak kepada Titus, supaya ia mengunjungi kamu dan menyelesaikan pelayanan kasih itu sebagaimana ia telah memulainya. (7) Maka sekarang, sama seperti kamu kaya dalam segala sesuatu, - dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam kasihmu terhadap kami - demikianlah juga hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih ini. (8) Aku mengatakan hal itu bukan sebagai perintah, melainkan, dengan menunjukkan usaha orang-orang lain untuk membantu, aku mau menguji keikhlasan kasih kamu. (9) Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinanNya.”.
Demikian pula dengan orang-orang yang menjual rumah dan tanahnya, lalu mempersembahkan kepada Tuhan dalam Kis 4:34-37. Tidak pernah dikatakan bahwa mereka lalu menjadi kaya / menerima banyak rumah! Rasul-rasul yang mengikut Tuhan (termasuk Paulus) adalah orang-orang saleh. Tetapi mereka tidak menjadi kaya dalam hal jasmani!
Jadi, dalam Perjanjian Baru, dalam hal jasmani Tuhan tidak menjanjikan kelimpahan. Tetapi, Ia menjanjikan kecukupan (dalam arti: orang kristen tidak perlu mengemis, berhutang, mati kelaparan, dsb). Janji ini bisa saudara dapatkan dalam Mat 6:25-34.
Juga kalau saudara memperhatikan doa Bapa Kami (Mat 6:9-13), Yesus tidak mengajar supaya kita meminta jadi kaya / berlimpah-limpah, tetapi supaya cukup (Mat 6:11).
Pertanyaan yang mungkin timbul: Mengapa Perjanjian Lama berbeda dengan Perjanjian Baru? Apakah Tuhan berubah? Tidak!! Tuhan tidak berubah, tetapi caraNya untuk menunjukkan cintaNya berubah.
Illustrasi:
Waktu anak saudara berumur 2 tahun, saudara menunjukkan cinta saudara dengan menggendong dia, menciumi dia dsb. Tetapi cara saudara menunjukkan cinta saudara kepadanya tentu berbeda pada waktu anak itu sudah berumur 17 tahun! Saudara tetap mencintai dia, tetapi cara menunjukkan cinta (perwujudan cinta) berubah.
Allah memperlakukan orang-orang Perjanjian Lama seperti anak kecil, sedangkan orang-orang Perjanjian Baru seperti orang dewasa. Mengapa demikian? Karena adanya salib / pengorbanan Yesus yang memisahkan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru! Pada jaman Perjanjian Lama, belum ada pengorbanan Yesus. Jadi, orang sukar untuk bisa melihat kasih Allah, kalau Allah tidak memberikan berkat jasmani yang berkelimpahan. Tetapi pada jaman Perjanjian Baru, pengorbanan Yesus sudah terjadi. Jadi, sekalipun kita tidak diberi terlalu banyak berkat jasmani, bahkan sekalipun kita ada dalam penderitaan, kita bisa ‘melihat ke belakang’ (yaitu pada salib yang merupakan puncak pernyataan kasih Allah), dan kita bisa yakin bahwa Allah mengasihi kita. Jadi, dalam Perjanjian Baru tidak lagi diperlukan berkat jasmani yang berkelimpahan untuk bisa melihat kasih Allah! Allah kadang-kadang memberikan kekayaan kepada orang kristen tertentu, tetapi Ia tidak pernah berjanji bahwa semua orang kristen akan menjadi kaya! Lihat Calvin, ‘Institutes of the Christian Religion’, Book II, chapter XI, no 1-3.
John Calvin: “THE DIFFERENCE BETWEEN THE TWO TESTAMENTS. (1. The Old Testament differs from the New in five respects: representation of spiritual blessings by temporal, 1-3). 1. STRESS ON EARTHLY BENEFITS WHICH, HOWEVER, WERE TO LEAD TO HEAVENLY CONCERNS. What then? You will ask: will no difference remain between the Old and New Testaments? What is to become of the many passages of Scripture wherein they are contrasted as utterly different? ... Now this is the first difference: the Lord of old willed that his people direct and elevate their minds to the heavenly heritage; yet, to nourish them better in this hope, he displayed it for them to see and, so to speak, taste, under earthly benefits. But now that the gospel has more plainly and clearly revealed the grace of the future life, the Lord leads our minds to meditate upon it directly, laying aside the lower mode of training that he used with the Israelites.” [= Perbedaan antara dua perjanjian. (1. Perjanjian Lama berbeda dari Perjanjian Baru dalam lima hal: penggambaran berkat-berkat rohani oleh berkat-berkat sementara, 1-3). 1. Penekanan pada keuntungan-keuntungan duniawi yang, harus membimbing pada urusan-urusan / persoalan-persoalan surgawi. Lalu apa / bagaimana? Kamu akan bertanya: tidak adakah perbedaan yang tertinggal antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru? Akan jadi apa / bagaimana banyak text Kitab Suci dalam mana mereka dikontraskan sebagai sama sekali berbeda? ... Sekarang inilah perbedaan yang pertama: Tuhan dari Perjanjian Lama menghendaki bahwa bangsa / umatNya mengarahkan dan mengangkat pikiran mereka pada warisan surgawi; tetapi untuk memelihara mereka dengan lebih baik dalam pengharapan ini, Ia menunjukkannya kepada mereka untuk melihat, dan boleh dikatakan, untuk mencicipi, di bawah keuntungan-keuntungan duniawi. Tetapi sekarang bahwa injil telah menyatakan dengan lebih jelas kasih karunia dari kehidupan yang akan datang, Tuhan membimbing pikiran kita untuk merenungkan hal itu secara langsung, dengan mengesampingkan cara melatih yang lebih rendah yang Ia gunakan dengan bangsa Israel.] - ‘Institutes of The Christian Religion’, II, XI, 1.
John Calvin: “2. THE EARTHLY PROMISES CORRESPONDED TO THE CHILDHOOD OF THE CHURCH IN THE OLD COVENANT; BUT WERE NOT TO CHAIN HOPE TO EARTHLY THINGS. This will be more apparent from the comparison that Paul made in the letter to the Galatians. He compares the Jewish nation to a child heir, not yet fit to take care of himself, under the charge of a guardian or tutor to whose care he has been entrusted (Galatians 4:1-2). Although Paul applies this comparison chiefly to the ceremonies, nothing prevents us from applying it most appropriately here as well. Therefore the same inheritance was appointed for them and for us, but they were not yet old enough to be able to enter upon it and manage it. The same church existed among them, but as yet in its childhood. Therefore, keeping them under this tutelage, the Lord gave, not spiritual promises unadorned and open, but ones foreshadowed, in a measure, by earthly promises. When, therefore, he adopted Abraham, Isaac, Jacob, and their descendants into the hope of immortality, he promised them the Land of Canaan as an inheritance. It was not to be the final goal of their hopes, but was to exercise and confirm them, as they contemplated it, in hope of their true inheritance, an inheritance not yet manifested to them.” [= 2. Janji-janji duniawi sesuai dengan masa kanak-kanak dari gereja dalam Perjanjian Lama; tetapi tidak mengikat pengharapan pada hal-hal duniawi. Ini akan lebih jelas dari perbandingan yang Paulus buat dalam surat Galatia. Ia membandingkan bangsa Yahudi dengan seorang pewaris yang masih kanak-kanak, yang karena belum cocok untuk mengurus dirinya sendiri, di bawah pengawasan seorang penjaga atau guru pada penjagaan siapa ia telah dipercayakan (Gal 4:1-2). Sekalipun Paulus menerapkan perbandingan ini terutama pada upacara-upacara, tak ada apapun yang menghalangi kami untuk juga menerapkannya dengan paling cocok di sini. Karena itu warisan yang sama ditetapkan bagi mereka dan bagi kita, tetapi mereka belum cukup umur untuk bisa memasukinya dan mengurusnya. Gereja yang sama ada di antara mereka, tetapi masih dalam masa kanak-kanak. Karena itu, dengan menjaga mereka di bawah penjagaan ini, Tuhan memberi, bukan janji-janji rohani tanpa hiasan dan terbuka, tetapi janji-janji yang membayangkan lebih dulu (foreshadowed), sampai tingkat tertentu, dengan / oleh janji-janji duniawi. Karena itu, pada waktu Ia mengadopsi Abraham, Ishak, Yakub dan keturunan mereka ke dalam pengharapan kekekalan, Ia menjanjikan mereka Tanah Kanaan sebagai suatu warisan. Itu bukanlah tujuan akhir dari pengharapan mereka, tetapi harus melatih dan meneguhkan mereka, pada waktu mereka merenungkannya, dalam pengharapan tentang warisan mereka yang sebenarnya, suatu warisan yang belum dinyatakan kepada mereka.] - ‘Institutes of The Christian Religion’, II, XI, 2.
Gal 4:1-2 - “(1) Yang dimaksud ialah: selama seorang ahli waris belum akil balig, sedikitpun ia tidak berbeda dengan seorang hamba, sungguhpun ia adalah tuan dari segala sesuatu; (2) tetapi ia berada di bawah perwalian dan pengawasan sampai pada saat yang telah ditentukan oleh bapanya.”.
John Calvin: “3. PHYSICAL BENEFITS AND PHYSICAL PUNISHMENTS AS TYPES. ... But as the Lord, in testifying his benevolence toward believers by present good things, then foreshadowed spiritual happiness by such types and symbols, so on the other hand he gave, in physical punishments, proofs of his coming judgment against the wicked. Thus, as God’s benefits were more conspicuous in earthly things, so also were his punishments. The ignorant, not considering this analogy and congruity, to call it that, between punishments and rewards, wonder at such great change-ableness in God. ... But we shall readily dispose of these misgivings if we turn our attention to this dispensation of God which I have noted. He willed that, for the time during which he gave his covenant to the people of Israel in a veiled form, the grace of future and eternal happiness be signified and figured under earthly benefits, the gravity of spiritual death under physical punishments.” [= 3. pemberian-pemberian jasmani dan hukuman-hukuman jasmani sebagai Type-type. ... Tetapi karena Tuhan, dalam memberikan kesaksian tentang kebaikanNya terhadap orang-orang percaya oleh hal-hal baik sekarang ini, pada waktu itu membayangkan lebih dulu (foreshadowed) kebahagiaan rohani dengan type-type dan simbol-simbol seperti itu, demikian juga di sisi lain Ia memberikan, dalam hukuman-hukuman jasmani, bukti-bukti dari penghakimanNya terhadap orang jahat. Demikianlah, sebagaimana pemberian-pemberian Allah lebih menyolok dalam hal-hal duniawi, demikian juga hukuman-hukumanNya. Orang-orang yang tak mempunyai pengetahuan, tanpa mempertimbangkan analogi dan kesesuaian ini, saya menyebutnya seperti itu, antara hukuman-hukuman dan pahala-pahala / upah-upah, heran pada kebisa-berubahan yang begitu besar dalam diri Allah. ... Tetapi kita akan dengan mudah membereskan keraguan ini jika kita mengarahkan perhatian kita pada dispensasi dari Allah ini yang telah saya perhatikan. Ia mau bahwa, selama waktu dimana Ia memberi perjanjianNya kepada bangsa Israel dalam suatu bentuk yang ditutupi / disembunyikan, kasih karunia dari kebahagiaan yang akan datang dan kekal ditunjukkan dan digambarkan di bawah kebaikan-kebaikan duniawi, keseriusan / beratnya kematian rohani di bawah hukuman-hukuman jasmani.] - ‘Institutes of The Christian Religion’, II, XI, 3.
Kesimpulan: Mal 3:10-12 tidak mendukung Theologia Kemakmuran!
4. Ini tidak berarti bahwa bagi Tuhan hanya persembahan persepuluhan yang penting. Persembahan persepuluhan tanpa ketaatan dalam hal-hal lain, tidak akan dipedulikan oleh Tuhan (Yes 1:10-20 1Sam 15:22).
a. Kalau ada dosa dalam kehidupan saudara, jangan memberikan persepuluhan untuk menyogok Tuhan! Persepuluhan tidak bisa menggantikan ketaatan yang dituntut Tuhan dari diri saudara!
b. Persembahan persepuluhan juga tidak bisa menggantikan pelayanan yang dituntut Tuhan dari saudara! Jangan memberi persembahan persepuluhan, lalu tidak melayani Tuhan, dengan pikiran bahwa saudara sudah ‘mengupah’ hamba Tuhan untuk melayani Tuhan!
c. Sekalipun saudara sudah memberikan 10 % kepada Tuhan, saudara tetap harus menggunakan yang 90 % sesuai kehendak Tuhan dan untuk kemuliaan Tuhan (1Kor 10:31).
5. Adanya janji berkat bagi orang-orang yang memberikan persembahan persepuluhan, menyebabkan banyak orang Kristen memberikan persembahan persepuluhan dengan motivasi yang salah.
Motivasi yang benar pada waktu memberikan persembahan persepuluhan:
a. Jangan memberi dengan terpaksa; takut kalau tidak memberi maka akan dikutuk / dihukum oleh Allah.
Memang yang tidak memberi persembahan persepuluhan akan dihukum. Tetapi jangan hanya karena takut dihukum, lalu saudara memberikan persembahan persepuluhan!
b. Jangan memberi dengan pamrih (supaya dibalas / diberkati oleh Tuhan berlipat ganda).
Memang orang yang memberi persembahan persepuluhan akan diberkati Tuhan, tetapi jangan memberi dengan tujuan supaya saudara diberkati! Kalau saudara memberikan persembahan persepuluhan dengan ‘jiwa dagang’ seperti ini, jangan berharap bahwa Tuhan akan memberkati saudara! Kalau toh ada berkat, itu mungkin datang dari setan!
Berikan persembahan persepuluhan karena saudara mencintai Tuhan. Berikan dengan hati yang rela / sukacita. Berikan dengan tujuan supaya Tuhan dipermuliakan!
Maukah saudara melakukan hal itu?
-AMIN-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali