Kebaktian online

 

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

 

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

 

Minggu, tgl 20 Agustus 2023, pk 9.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

menuduh

Allah yang adil

sebagai tidak adil

 

MALEAKHI 3:13-18

 

Mal 3:13-18 - “(13) Bicaramu kurang ajar tentang Aku, firman TUHAN. Tetapi kamu berkata: ‘Apakah kami bicarakan di antara kami tentang Engkau?’ (14) Kamu berkata: ‘Adalah sia-sia beribadah kepada Allah. Apakah untungnya kita memelihara apa yang harus dilakukan terhadapNya dan berjalan dengan pakaian berkabung di hadapan TUHAN semesta alam? (15) Oleh sebab itu kita ini menyebut berbahagia orang-orang yang gegabah: bukan saja mujur orang-orang yang berbuat fasik itu, tetapi dengan mencobai Allahpun, mereka luput juga.’ (16) Beginilah berbicara satu sama lain orang-orang yang takut akan TUHAN: ‘TUHAN memperhatikan dan mendengarnya; sebuah kitab peringatan ditulis di hadapanNya bagi orang-orang yang takut akan TUHAN dan bagi orang-orang yang menghormati namaNya.’ (17) Mereka akan menjadi milik kesayanganKu sendiri, firman TUHAN semesta alam, pada hari yang Kusiapkan. Aku akan mengasihani mereka sama seperti seseorang menyayangi anaknya yang melayani dia. (18) Maka kamu akan melihat kembali perbedaan antara orang benar dan orang fasik, antara orang yang beribadah kepada Allah dan orang yang tidak beribadah kepadaNya.”.

 

I) Dosa Israel.

 

1)   Kata-kata.

Dosa di sini mereka lakukan dengan kata-kata. Ini terlihat dari kata ‘bicaramu’ dalam ay 13, yang menunjukkan bahwa Maleakhi menyerang kata-kata mereka. Dosa dengan kata-kata sudah ada pada Mal 2:17, tetapi yang di sini lebih gawat lagi.

 

Mal 2:17 - Kamu menyusahi TUHAN dengan perkataanmu. Tetapi kamu berkata: ‘Dengan cara bagaimanakah kami menyusahi Dia?’ Dengan cara kamu menyangka: ‘Setiap orang yang berbuat jahat adalah baik di mata TUHAN; kepada orang-orang yang demikianlah Ia berkenan - atau jika tidak, di manakah Allah yang menghukum?’”.

 

Ay 13: Bicaramu kurang ajar tentang Aku, firman TUHAN. Tetapi kamu berkata: ‘Apakah kami bicarakan di antara kami tentang Engkau?’”.

 

a)   Kita juga sering berdosa melalui kata-kata kita. Karena itu lebih baik tidak berbicara kalau memang tidak berguna. Ingat akan Amsal 10:19 yang berbunyi: “Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi.”.

 

b)   Tuhan mendengar kata-kata kita (Bil 12:2  Yer 8:6  Maz 139:4).

 

Bil 12:2 - “Kata mereka: ‘Sungguhkah TUHAN berfirman dengan perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman?’ Dan kedengaranlah hal itu kepada TUHAN.”.

 

Yer 8:6 - Aku telah memperhatikan dan mendengarkan: mereka tidak berkata dengan jujur! Tidak ada yang menyesal karena kejahatannya dengan mengatakan: Apakah yang telah kulakukan ini! Sambil berlari semua mereka berpaling, seperti kuda yang menceburkan diri ke dalam pertempuran.”.

 

Maz 139:4 - “Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN.”.

 

Seringkali orang beranggapan bahwa Tuhan hanya memperhati­kan tingkah laku kita, tetapi ayat-ayat di atas itu menun­jukkan bahwa Tuhan juga memperhatikan / mendengarkan segala pembicaraan kita.

 

c)   Yesus berkata bahwa kita akan dihakimi juga berdasarkan kata-kata kita.

Mat 12:36-37 - “(36) Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. (37) Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum.’”.

 

Karena itu jangan hanya menguduskan diri dalam hal tindakan saudara, tetapi juga dalam kata-kata saudara!

 

Penerapan: Dosa melalui kata-kata bisa terjadi kalau kita mencaci maki, mengeluarkan kata-kata kotor, menyebut nama Allah dengan sia-sia, berdusta, memfitnah, membicarakan kejelekan orang / ngrasani, bersungut-sungut, dsb.

 

2)   Kata-kata mereka menentang Tuhan (ay 13).

Ay 13: “Bicaramu kurang ajar tentang Aku, firman TUHAN. Tetapi kamu berkata: ‘Apakah kami bicarakan di antara kami tentang Engkau?’”.

 

Kata-kata ‘tentang Aku’ dan ‘tentang Engkau’ seharusnya adalah ‘menentang Aku’ dan ‘menentang Engkau’.

KJV/RSV/NIV/NASB: ‘against Me ... against Thee / You’.

 

Penerapan: Seringkah saudara mengeluarkan kata-kata menentang Tuhan? Hal ini bisa terjadi pada waktu saudara menyatakan kepada orang lain betapa tidak adilnya Tuhan itu, atau betapa tidak pedulinya Tuhan kepada saudara, atau betapa tulinya Dia terhadap doa saudara, dsb.

 

3)   Kata-kata kurang ajar yang menentang Tuhan (ay 13).

Ay 13: “Bicaramu kurang ajar tentang (menentang) Aku, firman TUHAN. Tetapi kamu berkata: ‘Apakah kami bicarakan di antara kami tentang (menentang) Engkau?’”.

 

Apa yang dimaksud dengan ‘kata-kata kurang ajar yang menen­tang Tuhan’ itu?

 

a)   Mereka menganggap bahwa mereka sudah mentaati Firman Tuhan (ay 13b-14).

 

Ay 13b-14: “(13b) Tetapi kamu berkata: ‘Apakah kami bicarakan di antara kami tentang Engkau?’ (14) Kamu berkata: ‘Adalah sia-sia beribadah kepada Allah. Apakah untungnya kita memelihara apa yang harus dilakukan terhadapNya dan berjalan dengan pakaian berkabung di hadapan TUHAN semesta alam?”.

 

Bahwa mereka menganggap bahwa diri mereka sudah mentaati Firman Tuhan, terlihat dari kata-kata ‘memelihara’ dan ‘berjalan’ dalam ay 14, yang dalam bahasa Ibraninya ada dalam past tense [= bentuk lampau].

 

KJV/RSV/NIV/NASB menterjemahkan dalam bentuk perfect tense; ini tidak salah karena memang dalam bahasa Ibrani tidak dibedakan antara past tense dan perfect tense.

 

Mungkin ini adalah ketaatan lahiriah saja (bdk. Mat 15:8-9) atau ketaatan sebagian seperti dalam Yes 58:3-4. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi pada jaman Yesus banyak yang punya sikap self-righteous (merasa diri sendiri benar).

 

Mat 15:8-9 - “(8) Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari padaKu. (9) Percuma mereka beribadah kepadaKu, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.’”.

 

Yes 58:3-4 - “(3) ‘Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya juga? Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak mengindahkannya juga?’ Sesungguhnya, pada hari puasamu engkau masih tetap mengurus urusanmu, dan kamu mendesak-desak semua buruhmu. (4) Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi.”.

 

Fil 3:4-6 - “(4) Sekalipun aku juga ada alasan untuk menaruh percaya pada hal-hal lahiriah. Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi: (5) disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi, (6) tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat.”.

 

Luk 18:11-12 - “(11) Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepadaMu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; (12) aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.”.

 

Mat 19:17-20 - “(17) Jawab Yesus: ‘Apakah sebabnya engkau bertanya kepadaKu tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah.’ (18) Kata orang itu kepadaNya: ‘Perintah yang mana?’ Kata Yesus: ‘Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, (19) hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.’ (20) Kata orang muda itu kepadaNya: ‘Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?’”.

 

Dari ayat-ayat di atas terlihat dengan jelas bahwa mereka menganggap diri mereka benar!

 

Penerapan: Kalau saudara menganggap diri saudara benar, maka dengan itu saudara mengucapkan kata-kata kurang ajar yang menentang Tuhan, karena Tuhan menyatakan diri saudara sebagai orang berdosa.

 

b)   Mereka berkata bahwa ikut / taat Tuhan itu sia-sia / tidak ada untungnya (ay 14).

Ay 14: “Kamu berkata: ‘Adalah sia-sia beribadah kepada Allah. Apakah untungnya kita memelihara apa yang harus dilakukan terhadapNya dan berjalan dengan pakaian berkabung di hadapan TUHAN semesta alam?”.

 

1.   ‘beribadah’.

KJV/RSV/NIV/NASB menterjemahkan ‘serve’.

Ini bisa diterjemahkan ‘beribadah’, maupun ‘melayani’.

Mereka menganggap hal ini sia-sia (ay 14a).

 

Penerapan: Apakah saudara sering beranggapan bahwa ibadah / pela­yanan yang saudara lakukan untuk Tuhan itu adalah sia-sia? Kalau ya, bacalah 1Kor 15:58, yang menyuruh kita untuk giat melayani Tuhan karena jerih payah / pekerjaan yang kita lakukan dalam Tuhan, tidak akan sia-sia!

 

1Kor 15:58 - “Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.”.

 

2.   ‘Apakah untungnya ....’.

Ini menunjukkan sikap egois dalam mentaati Tuhan! Mereka ikut / taat untuk mendapatkan keuntungan. Sekarang setelah merasa tidak ada untungnya mereka bersungut-sungut.

 

Penerapan:

 

a.   Ada orang-orang yang malas datang dalam Pemahaman Alkitab karena themanya adalah Toronto Blessing, dan sebagainya. Mungkin mereka menganggap pokoknya mereka tahu ajaran-ajaran / praktek-praktek itu salah, dan mereka beranggapan bahwa dengan belajar tentang Toronto Blessing, mereka tidak mendapatkan apa-apa untuk diri mereka sendiri. Ini adalah sesuatu yang bersifat egois! Seharusnya saudara belajar Firman Tuhan dengan tujuan supaya saudara bisa lebih berguna untuk Tuhan / Kerajaan Allah maupun untuk sesama manusia! Karena itu maulah belajar topik seperti itu supaya saudara bisa menolong orang yang disesatkan oleh Toronto Blessing itu! Demikian juga dengan topik-topik lain seperti Saksi Yehuwa, Yahweh-isme, Pria Sejati / Maximal, dan sebagainya.

 

b.   Apakah saudara sering merasa bahwa mentaati dan melayani Tuhan itu tidak ada untungnya, dan karena itu saudara tidak melakukannya? Ingat bahwa sebetulnya kita mentaati dan melayani Tuhan sebagai balasan atas keselamatan yang sudah Ia anugerahkan kepada kita.

 

c)         Mereka berkata bahwa orang jahat itu lebih enak.

Ay 15: “Oleh sebab itu kita ini menyebut berbahagia orang-orang yang gegabah: bukan saja mujur orang-orang yang berbuat fasik itu, tetapi dengan mencobai Allahpun, mereka luput juga.’”.

 

1.   Kata ‘gegabah’ seharusnya adalah ‘sombong’ (NIV: ‘arro­gant’).

Ini menunjuk kepada orang yang tidak beriman. Orang yang tidak beriman disebut sombong karena mereka tidak mau datang kepada Allah, dan itu menunjukkan kesombongan mereka. Mereka merasa bisa hidup tanpa Allah! Orang seperti ini justru dianggap ‘berbahagia’ (NIV: ‘blessed’ / diberkati) oleh Israel.

 

Penerapan:

Mungkin saudara tidak pernah berkata ‘berbaha­gialah orang yang tidak percaya’, tetapi kalau saudara berkata:

a.   Bahwa jadi orang tidak kristen itu enak, karena hari Minggu tidak perlu ke gereja, sehingga bisa piknik.

b.   Bahwa jadi orang tidak kristen itu enak karena bisa melakukan dosa-dosa yang menyenangkan.

maka bukankah sebetulnya sama saja dengan saudara berkata ‘berbahagialah orang yang tidak percaya’?

 

2.   Kata-kata ‘berbuat fasik’ oleh NIV diterjemahkan ‘evildo­ers’ [= pembuat-pembuat kejahatan].

Orang seperti ini dikatakan ‘mujur’ [NIV: ‘prosper’ {= berhasil baik / menjadi makmur}] oleh Israel.

 

Penerapan:

Apakah saudara sering iri hati kepada orang-orang yang berhasil menjadi kaya / makmur dengan menggu­nakan cara kerja yang jahat / tak alkitabiah?

 

3.   Kata-kata ‘mencobai Allah’.

Apakah ini bertentangan dengan Yak 1:13 - “Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: ‘Pencobaan ini datang dari Allah!’ Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun.”?

 

Tidak, karena kata ‘mencobai’ itu bisa diterjemahkan bermacam-macam. Kata Ibrani yang sama digunakan dalam Mal 3:10 dan diterjemahkan ‘menguji / ujilah’.

 

Dalam Yak 1:13 kata ‘mencobai’ itu maksudnya ‘memberikan keinginan yang berdosa’.

 

Baca Yak 1:12-15 - “(12) Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia. (13) Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: ‘Pencobaan ini datang dari Allah!’ Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun. (14) Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. (15) Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.”.

 

Jelas dalam arti seperti ini, Allah tidak bisa dicobai oleh siapapun.

Tetapi dalam Mal 3:15 ini  kelihatannya arti dari kata ‘mencobai’ itu adalah seperti yang diberikan oleh NIV yaitu ‘challenge’ [= menantang]. Dalam arti seperti ini Allah bisa dicobai.

 

Israel menganggap bahwa orang-orang yang mencobai / menantang Allah itu ‘luput’ [NIV: ‘escape’ {= lolos}]. Maksudnya lolos dari hukuman Allah.

 

Kesimpulan:

Dosa Israel adalah menuduh bahwa Allah itu tidak adil. Mereka merasa bahwa mereka hidup taat, tetapi menderita, sedangkan orang lain yang hidupnya jahat justru enak.

 

Maz 73 isinya mirip sekali dengan tuduhan Israel dalam Mal 3:13-15 ini.

 

Maz 73:1-27 - “(1) [Mazmur Asaf.] Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya. (2) Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku terpeleset, nyaris aku tergelincir. (3) Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik. (4) Sebab kesakitan tidak ada pada mereka, sehat dan gemuk tubuh mereka; (5) mereka tidak mengalami kesusahan manusia, dan mereka tidak kena tulah seperti orang lain. (6) Sebab itu mereka berkalungkan kecongkakan dan berpakaian kekerasan. (7) Karena kegemukan, kesalahan mereka menyolok, hati mereka meluap-luap dengan sangkaan. (8) Mereka menyindir dan mengata-ngatai dengan jahatnya, hal pemerasan dibicarakan mereka dengan tinggi hati. (9) Mereka membuka mulut melawan langit, dan lidah mereka membual di bumi. (10) Sebab itu orang-orang berbalik kepada mereka, mendapatkan mereka seperti air yang berlimpah-limpah. (11) Dan mereka berkata: ‘Bagaimana Allah tahu hal itu, adakah pengetahuan pada Yang Mahatinggi?’ (12) Sesungguhnya, itulah orang-orang fasik: mereka menambah harta benda dan senang selamanya! (13) Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah. (14) Namun sepanjang hari aku kena tulah, dan kena hukum setiap pagi. (15) Seandainya aku berkata: ‘Aku mau berkata-kata seperti itu,’ maka sesungguhnya aku telah berkhianat kepada angkatan anak-anakmu. (16) Tetapi ketika aku bermaksud untuk mengetahuinya, hal itu menjadi kesulitan di mataku, (17) sampai aku masuk ke dalam tempat kudus Allah, dan memperhatikan kesudahan mereka. (18) Sesungguhnya di tempat-tempat licin Kautaruh mereka, Kaujatuhkan mereka sehingga hancur. (19) Betapa binasa mereka dalam sekejap mata, lenyap, habis oleh karena kedahsyatan! (20) Seperti mimpi pada waktu terbangun, ya Tuhan, pada waktu terjaga, rupa mereka Kaupandang hina. (21) Ketika hatiku merasa pahit dan buah pinggangku menusuk-nusuk rasanya, (22) aku dungu dan tidak mengerti, seperti hewan aku di dekatMu. (23) Tetapi aku tetap di dekatMu; Engkau memegang tangan kananku. (24) Dengan nasihatMu Engkau menuntun aku, dan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan. (25) Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. (26) Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya. (27) Sebab sesungguhnya, siapa yang jauh dari padaMu akan binasa; Kaubinasakan semua orang, yang berzinah dengan meninggalkan Engkau.”.

 

Tetapi toh ada perbedaannya! Beda­nya adalah:

 

1.   Sikap hati dalam Maz 73 adalah bertanya-tanya, sedangkan dalam Mal 3:13-15 sikap hatinya adalah memberontak / marah kepada Tuhan.

 

2.   Dalam Maz 73 pemazmur mengutarakan hal itu kepada Allah.

Ini terlihat dari Maz 73:18-27 dimana pemazmur itu menggunakan kata-kata ‘Engkau’, ‘Kau’, dan ‘Mu’ untuk menyebut Allah, dan juga dari kata-kata ‘ya Tuhan’ (ay 20). Sedangkan dalam Mal 3:13-15 mereka berbicara satu kepada yang lain / ngrasani Tuhan (ay 13b).

 

3.   Dalam Maz 73, orang itu betul-betul beriman dan berusaha untuk hidup saleh. Sedangkan dalam Mal 3:13-15 mereka adalah orang-orang yang ‘self righteous’ (merasa diri sendiri benar).

 

II) Benarkah tuduhan mereka bahwa Allah itu tak adil?

 

Marilah kita memperhatikan beberapa hal:

 

1)   Allah mendengar dan memperhatikan orang yang bertobat (ay 16).

Ay 16: “Beginilah berbicara satu sama lain orang-orang yang takut akan TUHAN: ‘TUHAN memperhatikan dan mendengarnya; sebuah kitab peringatan ditulis di hadapanNya bagi orang-orang yang takut akan TUHAN dan bagi orang-orang yang menghormati namaNya.’”.

 

a)         Ay 16: Kitab Suci Indonesia kurang tepat terjemahannya!

NIV: Then those who feared the LORD talked with each other, and the LORD listened and heard. A scroll of remem­brance was written in his presence concerning those who feared the LORD and honored his name’ [= Maka mereka yang takut kepada TUHAN berbicara satu kepada yang lain, dan TUHAN mendengarkan. Sebuah gulungan peringatan ditulis di hadapanNya tentang mereka yang takut akan TUHAN dan meng­hormati namaNya].

 

Kata ‘then’ [= maka / kemudian / lalu] pada awal ay 16 ini juga ada pada NASB/KJV/RSV. Kata ini menunjukkan bahwa ay 16 merupakan hasil teguran dari Maleakhi. Ada orang-orang yang bertobat.

 

b)   ‘Orang-orang yang takut akan Tuhan’ (ay 16).

Mereka inilah yang mendengarkan teguran Maleakhi dan bertobat. Orang yang takut akan Tuhan, pasti akan tunduk kepada Firman Tuhan! Apakah saudara takut akan Tuhan?

 

c)         Orang-orang ini berbicara satu dengan yang lainnya (ay 16).

Ini berbeda dengan orang-orang yang tadi ngrasani Tuhan, karena pembicaraan di sini menunjukkan adanya persekutuan di antara orang-orang itu, dimana mereka saling sharing sehingga mereka saling menguatkan dalam pertobatan mereka!

 

Lalu, apa yang Allah lakukan? Apakah Allah bersikap acuh tak acuh? Tidak! Allah memperhatikan dan mendengarkan (ay 16)! Jelaslah bahwa tuduhan mereka, yaitu bahwa mentaati Tuhan itu sia-sia, adalah salah!

 

2)   Tuhan punya kitab peringatan (ay 16b).

Ay 16: “Beginilah berbicara satu sama lain orang-orang yang takut akan TUHAN: ‘TUHAN memperhatikan dan mendengarnya; sebuah kitab peringatan ditulis di hadapanNya bagi orang-orang yang takut akan TUHAN dan bagi orang-orang yang menghormati namaNya.’”.

 

Raja-raja Persia pada jaman itu mempunyai kitab catatan / peringatan.

 

Bandingkan dengan:

 

Ezra 4:15,18,19 - “(15) supaya diadakan penyelidikan dalam kitab riwayat nenek moyang tuanku. Di dalam kitab riwayat itu tuanku akan mendapati dan mengetahui, bahwa kota itu kota durhaka, yang selalu mendatangkan kerugian kepada raja-raja dan daerah-daerah, dan bahwa orang selalu mengadakan pemberontakan di dalamnya sejak zaman dahulu. Itulah sebabnya maka kota itu dibinasakan. ... (18) surat yang kamu kirim kepada kami, telah dibacakan kepadaku dengan jelas. (19) Lalu atas perintahku telah diadakan penyelidikan, dan didapati, bahwa kota itu sejak zaman dahulu selalu bangkit melawan raja-raja dan bahwa penduduknya selalu mendurhaka dan memberontak.”.

 

Ezra 6:1-3 - “(1) Sesudah itu atas perintah raja Darius diadakanlah penyelidikan di perbendaharaan di Babel, di tempat naskah-naskah disimpan. (2) Kemudian di Ahmeta, benteng yang di propinsi Media, didapati sebuah gulungan, yang isinya sebagai berikut: ‘Piagam: (3) Pada tahun pertama zaman raja Koresh dikeluarkanlah perintah oleh raja Koresh: Mengenai rumah Allah di Yerusalem. Rumah itu haruslah dibangun kembali sebagai tempat orang mempersembahkan korban sembelihan dan korban api-apian; haruslah tingginya enam puluh hasta dan lebarnya enam puluh hasta.”.

 

Allah juga dikatakan punya kitab seperti ini! Ini adalah sesuatu yang bersifat simbolis, karena Allah tidak membutuhkan catatan untuk apapun. Yang jelas ‘kitab’ ini menjamin keadilan Allah. Allah memang bisa menunda hukuman / berkat dari orang yang berbuat dosa / baik, tetapi Ia ‘mencatatnya’ dan tidak mungkin melupakannya! Ia akan memberi hukuman / berkat pada waktuNya.

 

Bdk. Wah 20:12-13 - “(12) Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu. (13) Maka laut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan maut dan kerajaan maut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan mereka dihakimi masing-masing menurut perbuatannya.”.

 

Penerapan:

a)   Kalau selama ini saudara terus berbuat dosa karena saudara menganggap Allah toh tidak menghukum saudara, ingatlah bahwa Allah mencatat / mengingat semua itu! Bertobatlah sebelum hukuman itu tiba!

b)   Kalau selama ini saudara setia ikut Tuhan dan saudara tidak merasakan berkat apa-apa, jangan putus asa dalam mengikut Tuhan. Tuhan mencatat / mengingat kesetiaan saudara dan akan memberikan berkatNya pada waktuNya!

 

3)   Tuhan punya waktu / saatNya sendiri (ay 17).

Ay 17: “Mereka akan menjadi milik kesayanganKu sendiri, firman TUHAN semesta alam, pada hari yang Kusiapkan. Aku akan mengasihani mereka sama seperti seseorang menyayangi anaknya yang melayani dia.”.

 

Sebelum hari / saat itu tiba, kelihatannya tidak ada bedanya antara orang jahat dan orang baik / beriman. Tetapi pada saat itu akan kelihatan bedanya. Orang yang ikut Tuhan akan menjadi milik kesayangan Tuhan. Tidak berarti bahwa sebelum saat / waktu Tuhan itu tiba mereka bukan milik kesayangan Tuhan. Mereka sudah merupakan milik kesayangan Tuhan, tetapi belum kelihatan. Tetapi bila waktu Tuhan itu tiba, maka akan kelihatan bahwa mereka adalah milik kesayangan Tuhan.

 

Bdk. ay 18: “Maka kamu akan melihat kembali perbedaan antara orang benar dan orang fasik, antara orang yang beribadah kepada Allah dan orang yang tidak beribadah kepadaNya.”.

 

Ketiga hal ini menunjukkan bahwa tuduhan orang Israel di atas itu tidak benar! Ikut Tuhan tidak sia-sia. Orang jahat tidak akan enak terus! Karena apa? Karena Tuhan itu adil! Karena itu, apapun yang terjadi dalam kehidupan saudara, percayalah bahwa Allah itu adil!

 

Juga, tinggalkan semua dosa saudara, dan rajin / tekunlah dalam berbuat baik / mentaati Tuhan, sekalipun saat ini sauda­ra menderita. Allah tidak akan melupakan kesetiaan saudara dan akan memberkati saudara pada waktuNya!

 

 

 

-AMIN-

 

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali