Kebaktian

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)

 

Minggu, tgl 19 Mei 2019, pk 8.00 & 17.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

link ke video di youtube:

https://www.youtube.com/watch?v=FIRI5FxHNxA

 

 

kesiapan untuk menjadi murid

 

Lukas 9:57-62(7)

 

Luk 9:57-62 - (57) Ketika Yesus dan murid-muridNya melanjutkan perjalanan mereka, berkatalah seorang di tengah jalan kepada Yesus: ‘Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.’ (58) Yesus berkata kepadanya: ‘Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya.’ (59) Lalu Ia berkata kepada seorang lain: ‘Ikutlah Aku!’ Tetapi orang itu berkata: ‘Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku.’ (60) Tetapi Yesus berkata kepadanya: ‘Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana.’ (61) Dan seorang lain lagi berkata: ‘Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku.’ (62) Tetapi Yesus berkata: ‘Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.’.

 

4.         Ini menunjukkan adanya keengganan untuk berpisah dengan hal-hal duniawi.

 

Jamieson, Fausset & Brown (tentang Mat 8:21-22): From the warning given against ‘looking back,’ it is evident that this man’s discipleship was not yet thorough, his separation from the world not entire. It is not a case of going back, but of looking back; and as there is here a manifest reference to the case of ‘Lot’s wife’ (Gen 19:26; and see the note at Luke 17:32), we see that it is not actual return to the world that we have here to deal with, but a reluctance to break with it.[= Dari peringatan yang diberikan terhadap ‘melihat ke belakang’, adalah jelas bahwa kemuridan orang ini belum mutlak / lengkap / sepenuhnya, pemisahannya dengan dunia tidak sepenuhnya. Itu bukanlah suatu kasus mundur / kembali, tetapi melihat ke belakang; dan karena di sini ada suatu hubungan yang jelas dengan kasus dari ‘istri Lot’ (Kej 19:26; dan lihat catatan pada Luk 17:32), kita melihat bahwa bukanlah sungguh-sungguh suatu tindakan kembali kepada dunia yang kita tangani di sini, tetapi suatu keengganan untuk berpisah dengannya.].

 

Kej 19:26 - Tetapi isteri Lot, yang berjalan mengikutnya, menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam..

 

Luk 17:32 - Ingatlah akan isteri Lot!.

 

Calvin (tentang Luk 9:61): “‘And another said.’ Matthew does not mention this third person. It appears that he was too strongly attached to the world, to be ready and prepared to follow Christ. True, he offers to join the family of Christ, but with this reservation, ‘after he has bid farewell to those who are in his house;’ that is, after he has arranged his business at home, as men are wont to do when preparing for a journey. This is the true reason why Christ reproves him so severely: for, while he was professing in words that he would be a follower of Christ, he turned his back upon him, till he had despatched his worldly business.[= ‘Dan seorang lain berkata’. Matius tidak menyebutkan orang ketiga ini. Kelihatan bahwa ia secara terlalu kuat terikat / melekat pada dunia, untuk bisa siap dan disiapkan untuk mengikuti Kristus. Memang, ia menawarkan untuk bergabung dengan keluarga Kristus, tetapi dengan syarat yang membatasi ini, ‘setelah ia mengucapkan selamat tinggal kepada mereka yang ada di rumahnya’; artinya, setelah ia mengatur bisnis / urusan / kesibukannya di rumah, seperti orang-orang biasa lakukan pada waktu mempersiapkan untuk suatu perjalanan. Ini adalah alasan yang benar mengapa Kristus menegur dia dengan begitu keras: karena, sementara ia sedang mengakui dalam kata-kata bahwa ia mau / akan menjadi seorang pengikut Kristus, ia membelakangi Dia, sampai ia telah mengatur bisnis / urusan / kesibukan duniawinya.].

 

Tidak selalu keluarga termasuk dalam ‘dunia’, tetapi pada waktu keluarga diutamakan lebih dari Tuhan, itu menjadi ‘hal duniawi’ / ‘keduniawian’!

 

c)   Hal yang seharusnya ia lakukan.

 

1.   Membandingkan secara benar antara hal-hal yang ada di belakang (bernilai / bersifat sementara) dengan hal-hal yang ada di depan (bernilai / bersifat kekal).

Tentu saja membandingkan secara benar antara kedua hal ini harus dengan pikiran yang Alkitabiah!

 

The Biblical Illustrator: With respect to the disproportion that is between the things that tempt us to look back, and those things that are set before us. (a) The things that tempt us to look back are the pleasures of sin and the profits of the world. Both are but a temporary enjoyment (Heb 11:25). (b) The things that are before you are God and heaven; reconciliation with God, and the everlasting fruition of Him in glory.[= Berkenaan dengan ketidak-proporsionalan yang ada di antara hal-hal yang mencobai kita untuk melihat ke belakang, dan hal-hal yang diletakkan di depan kita. (a) Hal-hal yang mencobai kita untuk melihat ke belakang adalah kesenangan-kesenangan dari dosa dan keuntungan-keuntungan dari dunia. Keduanya hanyalah merupakan penikmatan sementara (Ibr 11:25). (b) Hal-hal yang ada di depanmu adalah Allah dan surga; pendamaian dengan Allah, dan penyempurnaan kekal dari Dia dalam kemuliaan.].

 

Ibr 11:24-25 - “(24) Karena iman maka Musa, setelah dewasa, menolak disebut anak puteri Firaun, (25) karena ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah dari pada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa..

 

2.         Maju dalam kekudusan.

 

The Biblical Illustrator: “When men are discouraged in His service by troubles and difficulties, and so, after a forward profession, all cometh to nothing - ‘If any man draw back, My soul shall have no pleasure in him’ (Heb 10:38). The former is looking back, and this is drawing back. The one arises out of the other; all their former zeal and courage is lost, they are affrighted and driven out of their profession, and relapse into the errors they have escaped. ... Farther progress in holiness is the one thing that we should mind, and that above all other things. [= Pada waktu orang-orang menjadi kecil hati dalam pelayananNya karena problem-problem dan kesukaran-kesukaran, dan karenanya, setelah suatu pengakuan yang sungguh-sungguh / bersemangat, semua menjadi nihil - ‘Jika siapapun mengundurkan diri, jiwaKu tidak berkenan kepadanya’ (Ibr 10:38). Pertama-tama adalah melihat ke belakang, dan ini adalah / sama dengan mengundurkan diri. Yang satu muncul dari yang lain; semua semangat dan keberanian mereka yang dahulu hilang, mereka ditakut-takuti dan dibalikkan dari pengakuan mereka, dan kembali ke dalam kesalahan-kesalahan dari mana mereka tadinya telah lolos. ... Kemajuan lebih jauh dalam kekudusan adalah satu-satunya hal yang harus ada dalam pikiran kita, dan itu harus ada dalam pikiran kita di atas semua hal yang lain.].

 

Ibr 10:38 - Tetapi orangKu yang benar akan hidup oleh iman, dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya.’.

 

Bdk. Fil 3:13 - Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku,.

 

2)   Ay 62: “Tetapi Yesus berkata: ‘Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.’”.

 

a)   Jawaban Yesus ini menunjukkan bahwa pelayanan merupakan suatu keharusan dalam kita mengikut Kristus!

 

The Biblical Illustrator: The figure of the plough points out the fact to us that labour for Christ is the law of the kingdom. [= Gambaran / kiasan tentang bajak menunjukkan fakta kepada kita bahwa jerih payah bagi Kristus adalah hukum dari kerajaan.].

 

1Kor 9:16 - Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil..

 

Hakim 5:23 - ‘Kutukilah kota Meros!’ firman Malaikat TUHAN, ‘kutukilah habis-habisan penduduknya, karena mereka tidak datang membantu TUHAN, membantu TUHAN sebagai pahlawan.’.

 

Yer 48:10 - Terkutuklah orang yang melaksanakan pekerjaan TUHAN dengan lalai, dan terkutuklah orang yang menghambat pedangNya dari penumpahan darah!.

 

b)   Panggilan Tuhan (baik untuk ikut dan / atau untuk melayani) tidak bisa menunggu!

 

Bible Knowledge Commentary: “Jesus’ words underscore the fact that His message of the kingdom of God was more important than anything else - even family members. The message and the Messiah cannot wait.” [= Kata-kata Yesus menggaris-bawahi fakta bahwa berita dari kerajaan AllahNya lebih penting dari apapun juga - bahkan anggota-anggota keluarga. Berita (Injil) dan sang Mesias tidak bisa menunggu.].

 

c)   Dari kata-kata Yesus ini kita bisa melihat bahwa ongkos dari ‘menjadi murid’ itu sangat tinggi! Kalau untuk selamat / masuk surga, kita hanya perlu percaya Yesus dengan benar. Tetapi untuk ikut Yesus / menjadi murid, kita harus mau membayar ongkos, dan ongkosnya tinggi!

 

J. Vernon McGee: “Friend, the cost of discipleship is high. It demands all we have to give. The apostle Paul wrote, ‘Brethren, I count not myself to have apprehended: but this one thing I do, forgetting those things which are behind, and reaching forth unto those things which are before, I press toward the mark for the prize of the high calling of God in Christ Jesus’ (Phil. 3:13–14).” [= Sahabat, harga / ongkos dari kemuridan adalah tinggi / mahal. Itu menuntut semua yang kita miliki untuk diberikan. Sang rasul Paulus menulis, ‘Saudara-saudara, aku tidak menganggap diriku sendiri telah menangkap: tetapi inilah satu hal yang aku lakukan, melupakan hal-hal itu yang ada di belakangku, dan mencapai / menjangkau pada hal-hal itu yang ada di depan, aku mengerahkan tenaga menuju sasaran untuk hadiah dari panggilan yang tinggi dari Allah dalam Kristus Yesus’ (Fil 3:13-14 KJV).] - Libronix.

 

Fil 3:13-14 - “(13) Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, (14) dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.”.

 

Bdk. Luk 14:26-27,33 - “(26) ‘Jikalau seorang datang kepadaKu dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi muridKu. (27) Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi muridKu. ... (33) Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi muridKu.”.

Catatan: kata ‘membenci’ di sini harus diartikan ‘kurang mengasihi mereka dibandingkan dengan mengasihi Yesus’ (bdk. Mat 10:37-38).

 

d)   Tak ada orang bisa membajak dengan melihat ke belakang!

Orang mengikut dan / atau melayani Tuhan membutuhkan konsentrasi!

Pikiran yang terbagi, baik dalam hal sekuler maupun rohani, adalah buruk.

 

Bible Knowledge Commentary: “Jesus’ servants should not have divided interests, like a farmer who begins plowing and looks back.” [= Pelayan-pelayan Yesus tidak boleh mempunyai perhatian / kepentingan / kesenangan yang terbagi, seperti seorang petani yang mulai membajak dan melihat ke belakang.].

 

William Hendriksen (tentang Luk 9:62): “This man’s heart was divided. He should stop following the example of the Israelites (I Kings 18:21), and instead should follow in Paul’s footsteps (Phil. 3:13, 14). Then, by God’s grace and power, he will be ‘fit’ for the kingdom of God, ‘very useful to the Master’ (II Tim. 2:21).” [= Hati orang ini terbagi. Ia harus berhenti mengikuti teladan / contoh dari bangsa Israel (1Raja 18:21), dan alih-alih harus mengikuti langkah-langkah kaki Paulus (Fil 3:13-14). Maka, oleh kasih karunia dan kuasa Allah, ia akan ‘cocok / layak’ untuk kerajaan Allah, ‘sangat berguna bagi sang Tuan’ (2Tim 2:21).].

 

1Raja 18:21 - “Lalu Elia mendekati seluruh rakyat itu dan berkata: ‘Berapa lama lagi kamu berlaku timpang dan bercabang hati? Kalau TUHAN itu Allah, ikutilah Dia, dan kalau Baal, ikutilah dia.’ Tetapi rakyat itu tidak menjawabnya sepatah katapun.”.

 

2Tim 2:21 - “Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia.”.

 

Lenski: “The answer of Jesus is axiomatic and at the same time figurative: ‘No one who has just put his hand to a plow,’ etc. This is a general truth and cannot be denied. This man is usually pictured as looking back while plowing and thus drawing crooked furrows; and we are told that the old, primitive, wooden plows required special care in handling. Looking back is also pictured as looking to past joys, etc. But this man is not at all fit for the kingdom. The aorist ἐπιβαλών refers to a beginner who is for the first time setting his hand to a plow. And the present participle βλέπων indicates, not an occasional glance backward, but constant looking ‘to the rear.’ This man is not an expert who can plow, as it were, with his eyes shut; not a plowman who merely draws a crooked or shallow furrow. This is a man who is starting to learn to plow and makes a joke of himself by attempting to make the plow go in one direction while he keeps his eyes in the opposite direction. Jesus intends the humor in the figure. It does not matter at what that is behind him this man looks; the fact itself is enough. This man is unfit for the kingdom because he can never learn to plow in this way.” [= Jawaban Yesus bersifat pepatah dan pada saat yang sama bersifat simbolis: ‘Tak seorangpun yang baru saja meletakkan tangannya pada suatu bajak’, dst. Ini merupakan suatu kebenaran umum dan tidak bisa disangkal. Orang ini biasanya digambarkan sebagai melihat ke belakang pada saat sedang membajak dan dengan demikian mendapatkan jalur-jalur yang berkelok-kelok / tidak lurus; dan kami diberitahu bahwa bajak-bajak kayu yang tua / kuno, primitif, membutuhkan perhatian khusus dalam penanganan. Melihat ke belakang juga digambarkan sebagai melihat pada sukacita-sukacita yang lalu, dsb. Tetapi orang ini sama sekali tidak cocok / layak untuk kerajaan itu. Bentuk aorist / lampau ἐπιβαλών (EPIBALON) menunjuk pada seorang pemula yang untuk pertama kalinya meletakkan tangannya pada suatu bajak. Dan bentuk present participle βλέπων (BLEPON) menunjukkan, bukan suatu pandangan ke belakang yang kadang-kadang, tetapi terus menerus memandang ke belakang. Orang ini bukanlah seorang ahli yang bisa membajak, seakan-akan dengan mata tertutup; bukan seorang pembajak yang semata-mata mendapatkan suatu jalur yang bengkok atau dangkal. Ini adalah seseorang yang sedang mulai belajar untuk membajak dan membuat dirinya sendiri menjadi suatu lelucon dengan mencoba untuk membuat bajak itu bergerak ke satu arah sementara ia tetap mengarahkan matanya pada arah yang berlawanan. Yesus memaksudkan suatu humor dalam simbol itu. Tak jadi soal pada hal yang ada di belakang apa orang ini memandang; fakta itu sendiri sudah cukup. Orang ini tidak cocok untuk kerajaan karena ia tidak pernah bisa belajar membajak dengan cara ini.].

Ilustrasi: nyetir mobil dengan main HP.

 

The Biblical Illustrator: to look back, implies that divided state of mind, and that irresoluteness of purpose which are a virtual abandonment of the end proposed, and are, therefore, fatal to success. We are thus taught that a wavering and undetermined state of mind in religion is as fatal as it is in any other pursuit, that it can never form that character which qualifies for the kingdom of God.[= Melihat ke belakang, secara implicit menunjukkan suatu keadaan yang terbagi, dan tidak adanya keputusan tentang tujuan, yang sebetulnya adalah suatu tindakan meninggalkan dari tujuan yang dianjurkan / dinyatakan, dan karenanya merupakan sesuatu yang fatal bagi kesuksesan. Karena itu kita diajar bahwa suatu keadaan pikiran yang terombang-ambing dan tidak tertentu dalam agama sama fatalnya dengan dalam pengejaran lain apapun, sehingga itu tidak pernah bisa membentuk karakter itu yang memenuhi syarat bagi kerajaan Allah.].

 

The Biblical Illustrator: One whose interest is half in front and half behind him will be only a half-way man in anything to which he may set his hand. All good work requires concentration.[= Seseorang yang perhatiannya berada setengah di depan dan setengah di belakangnya akan menjadi hanya seorang setengah jalan dalam apapun pada mana ia meletakkan tangannya / mengerjakannya. Semua pekerjaan yang baik membutuhkan konsentrasi.].

 

J. C. Ryle: We learn from this saying that it is impossible to serve Christ with a divided heart. If we are looking back to anything in this world we are not fit to be disciples. Those who look back, like Lot’s wife, want to go back. Jesus will not share His throne with any one, - no, not with our dearest relatives. He must have all our heart, or none. No doubt we are to honor father and mother, and love all around us. But when love to Christ and love to relatives come in collision, Christ must have the preference. We must be ready, like Abraham, if needs be, to come out from kindred and father’s house for Christ’s sake. We must be prepared in case of necessity, like Moses, to turn our backs even on those who have brought us up, if God calls us, and the path is plain. Such decided conduct may entail sore trials on our affections. It may wring our hearts to go contrary to the opinions of those we love. - But such conduct may sometimes be positively necessary to our salvation, and without it, when it becomes necessary, we are unfit for the kingdom of God. The good soldier will not allow his heart to be entangled too much with his home. If he daily gives way to unmanly repinings about those he has left behind him, he will never be fit for a campaign. His present duties - the watching, the marching, the fighting, - must have the principal place in his thoughts. So must it be with all who would serve Christ. They must beware of softness spoiling their characters as Christians. They must endure hardness, as good soldiers of Jesus Christ. (2 Tim. 2:3.)[= Kita belajar dari kata-kata ini bahwa adalah mustahil untuk melayani Kristus dengan hati yang terbagi. Jika kita melihat ke belakang untuk apapun dalam dunia ini, kita tidak cocok untuk menjadi murid-murid. Mereka yang melihat ke belakang, seperti istri Lot, ingin kembali. Yesus tidak akan membagi takhtaNya dengan siapapun, - tidak, tidak dengan keluarga kita yang paling kita sayangi. Ia harus mendapatkan seluruh hati kita, atau tidak sama sekali. Tak diragukan bahwa kita harus menghormati ayah dan ibu, dan mengasihi semua orang di sekeliling kita. Tetapi pada waktu kasih kepada Kristus dan kasih kepada keluarga bertabrakan, Kristus harus lebih dipilih / mendapatkan prioritas. Kita harus siap, seperti Abraham, jika diperlukan, untuk keluar dari rumah keluarga dan bapa demi Kristus. Kita harus siap dalam kasus kebutuhan darurat, seperti Musa, untuk memungkuri bahkan mereka yang telah membesarkan kita, jika Allah memanggil kita, dan jalannya jelas. Tingkah laku yang diputuskan dengan teguh seperti itu bisa memberikan pencobaan-pencobaan yang menyakitkan pada perasaan kita. Itu bisa memuntir hati kita untuk berjalan bertentangan dengan pandangan-pandangan dari mereka yang kita kasihi. - Tetapi tingkah laku seperti itu kadang-kadang bisa dibutuhkan secara positif untuk keselamatan kita, dan tanpa itu, pada waktu itu dibutuhkan, kita tidak layak untuk kerajaan Allah. Prajurit yang baik tidak akan mengijinkan hatinya terlibat / terbelit terlalu banyak dengan rumahnya. Jika setiap hari ia menyerah / menuruti keinginan-keinginan yang tidak pantas tentang mereka yang telah ia tinggalkan di belakangnya, ia tidak akan pernah cocok untuk suatu operasi militer. Kewajiban-kewajibannya sekarang ini - berjaga-jaga, berbaris, bertempur, - harus mendapatkan tempat utama dalam pikiran-pikirannya. Demikianlah seharusnya dengan semua orang yang mau melayani Kristus. Mereka harus berhati-hati dengan kelembutan / sikap menyerah yang merusak karakter mereka sebagai orang-orang Kristen. Mereka harus menahan kekerasan / hal yang berat, sebagai prajurit-prajurit yang baik dari Yesus Kristus. (2Tim 2:3).] - Libronix.

 

2Tim 2:3 - Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus..

 

Jamieson, Fausset & Brown (tentang Mat 8:21-22): As plowing requires an eye intent on the furrow to be made, and is marred the instant one turns about, so will they come short of salvation who prosecute the work of God with a distracted attention, a divided heart. The reference may be chiefly to ministers; but the application at least is general.[= Seperti membajak membutuhkan / menuntut suatu mata yang diarahkan pada jalur yang akan dibuat, dan langsung dirusak pada saat seseorang berpaling ke belakang, demikian juga mereka akan gagal mencapai keselamatan yang memulai pekerjaan Allah dengan suatu perhatian yang terpecah / tak berkonsentrasi, suatu hati yang terpecah / terbagi. Hubungannya mungkin terutama dengan pendeta-pendeta; tetapi penerapannya sedikitnya bersifat umum.].

 

Pulpit Commentary (tentang ay 61-62): We must have that spirit of self-surrender which will make us willing to give up to our Lord all that he asks us to part with; we must be whole-hearted, single-eyed. We must be work men that have the hand on the plough and the eye on the field. We must be thorough in all that we do for him, contributing all our strength and energy in his cause. And there is every reason why we should be. 1. Our Master is worthy of the very best we can bring to him. 2. The sinful, suffering world around us is crying for our pity and our help. 3. It is well worth our while to do our utmost. In full-hearted service is the present recompense of sacred joy as we warm to our work and spend ourselves in it, while in the future there await us those ‘many cities,’ that enlarged sphere of influence which will reward the faithful followers of their Lord. - C.” [= Kita harus mempunyai roh penyerahan diri itu yang akan membuat kita mau untuk menyerahkan kepada Tuhan kita semua yang Ia minta kita tinggalkan; kita harus sepenuh hati, dengan memusatkan perhatian. Kita harus menjadi pekerja-pekerja yang meletakkan tangan pada bajak dan mengarahkan mata pada ladang. Kita harus sepenuhnya dalam semua yang kita lakukan untuk Dia, menyerahkan semua kekuatan dan energi kita dalam perkaraNya. Dan di sana ada setiap alasan mengapa kita harus seperti itu. 1. Tuan kita layak mendapatkan yang terbaik yang bisa kita bawa kepadaNya. 2. Dunia yang berdosa dan menderita di sekitar kita sedang menangis / meminta untuk belas kasihan kita dan pertolongan kita. 3. Adalah layak / pantas / sepadan mencurahkan waktu kita untuk melakukan hal-hal terbaik yang bisa kita lakukan. Dalam pelayanan yang dilakukan dengan sepenuh hati, pada saat ini ada kompensasi / upah dari sukacita yang kudus pada saat kita menjadi bersemangat pada pekerjaan kita dan menghabiskan diri kita sendiri di dalamnya, sedangkan di masa yang akan datang di sana menanti kita ‘banyak kota-kota’ itu, yang memperbesar ruang lingkup dari pengaruh yang akan memberi upah / pahala kepada pengikut-pengikut yang setia dari Tuhan mereka. - C.] - hal 265.

 

Bdk. Kol 3:23 - Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia..

 

Saya tak pasti bagian yang saya beri garis bawah ganda itu menunjuk pada apa, tetapi mungkin menunjuk pada text ini:

 

Luk 19:16-19 - “(16) Orang yang pertama datang dan berkata: Tuan, mina tuan yang satu itu telah menghasilkan sepuluh mina. (17) Katanya kepada orang itu: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba yang baik; engkau telah setia dalam perkara kecil, karena itu terimalah kekuasaan atas sepuluh kota. (18) Datanglah yang kedua dan berkata: Tuan, mina tuan telah menghasilkan lima mina. (19) Katanya kepada orang itu: Dan engkau, kuasailah lima kota..

 

e)   ‘tidak layak’ atau ‘tidak cocok’.

 

Lenski: Εὔθετος, ‘well-placed,’ ‘suitable,’ ‘fit,’ does not refer to moral, meritorious fitness or self-adaptation on the sinner’s part for entering the kingdom but to the unfitness of inward opposition, the attachment to the world which often persists in spite of the gracious drawing of Jesus and the gospel and will not be overcome.” [=  Εὔθετος (EUTHETOS), ‘penempatan yang baik’, ‘cocok’, tidak menunjuk pada kecocokan atau penyesuaian diri sendiri secara moral dan layak mendapatkan upah / pahala di pihak orang berdosa untuk masuk kerajaan itu, tetapi menunjuk pada ketidak-cocokan dari oposisi di dalam / batin, ikatan / kasih kepada dunia yang sering begitu bertahan sekalipun ada tarikan yang penuh kasih karunia dari Yesus dan injil dan tidak akan / tidak mau dikalahkan.].

 

Lenski: “It makes little difference to what part of the worldly life the heart looks back with longing and is unable to tear itself away, the effect is always the same: not fit for the kingdom. The man who could not give up his worldly friends completely when he stood in the presence of Jesus and those friends were absent could far less give up those friends when he was again standing in their presence and Jesus was absent. That thing has been tried often enough. ‘This one thing I do, forgetting those things which are behind, and reaching forth unto the things which are before, I press toward the mark of the prize of the high calling of God in Christ Jesus,’ Phil. 3:13, 14; Hos. 10:2. Did this man follow Jesus after hearing his word? What would you have done in his place?” [= Tak ada perbedaan ke bagian mana dari kehidupan duniawi hati melihat ke belakang dengan kerinduan / keinginan dan tidak mampu untuk memisahkannya, efek / hasilnya tetap sama: tidak layak untuk kerajaan itu. Orang yang tidak bisa menyerahkan sahabat-sahabat duniawinya sepenuhnya pada waktu ia berdiri dalam kehadiran Yesus dan absennya sahabat-sahabat itu, lebih-lebih tidak bisa menyerahkan sahabat-sahabat itu pada waktu ia berdiri dalam kehadiran mereka dan Yesusnya absen. Hal itu telah diuji cukup sering. ‘Inilah satu hal yang aku lakukan, melupakan hal-hal itu yang ada di belakang, dan mencapai / menjangkau pada hal-hal yang ada di depan, aku mengerahkan tenaga menuju sasaran dari hadiah dari panggilan yang tinggi dari Allah dalam Kristus Yesus’, Fil 3:13,14; Hos 10:2. Apakah orang ini mengikut Yesus setelah mendengar firmanNya? Apa yang kamu lakukan seandainya kamu ada di tempatnya?].

Catatan: Yesus itu Allah, sehingga Ia maha ada. Karena itu dalam arti sebenarnya Ia tidak mungkin absen. Tetapi mungkin yang Lenski maksudkan dengan ‘dalam kehadiran Yesus’ adalah pada waktu kita ada di gereja. Sedangkan pada waktu ‘Yesusnya absen’ kita ada di dunia / di luar gereja.

 

Hos 10:2 - Hati mereka licik, sekarang mereka harus menanggung akibat kesalahannya: Dia akan menghancurkan mezbah-mezbah mereka, akan meruntuhkan tugu-tugu berhala mereka..

KJV: ‘Their heart is divided’ [= Hati mereka terbagi].

 

Calvin (tentang Luk 9:62): “‘He who, after having put his hand to the plough, shall look back, is unfit for the kingdom of God.’ We must carefully inquire what this declaration of Christ means. They are said to ‘look back,’ who become involved in the cares of the world, so as to allow themselves to be withdrawn from the right path; particularly, when they plunge themselves into those employments which disqualify them to follow Christ.[= ‘Ia yang setelah meletakkan tangannya pada bajak, dan melihat ke belakang, tidak layak untuk kerajaan Allah’. Kita harus dengan hati-hati / teliti menyelidiki apa arti dari pernyataan Kristus ini. Mereka dikatakan ‘melihat ke belakang’, yang menjadi terlibat dengan perhatian / kepentingan dari dunia, sehingga mengijinkan diri mereka sendiri untuk ditarik dari jalan yang benar; secara khusus, pada waktu mereka menceburkan diri mereka sendiri ke dalam pekerjaan-pekerjaan yang menyebabkan mereka tidak memenuhi syarat / membuat mereka tidak layak untuk mengikut Kristus.].

 

Bdk. Mat 16:24 - Lalu Yesus berkata kepada murid-muridNya: ‘Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku..

 

f)    Melihat ke belakang membuat kita murtad!

 

The Biblical Illustrator: The metaphor or similitude. Taken from ploughmen, who cannot make straight furrows if they look back. So, to look back, after we have undertaken Christ’s yoke and service, rendereth us unfit for the kingdom of God. Putting our hands to the plough is to undertake Christ’s work, or to resolve to be His disciples. Looking back denotes a hankering of mind after the world, and also a return to the worldly life. For, first we look back, and then we go back.[= Kiasan atau perumpamaannya. Diambil dari orang yang membajak, yang tidak bisa membuat jalur bajak yang lurus jika ia melihat ke belakang. Maka, melihat ke belakang, setelah kita memikul kuk dan pelayanan Kristus, membuat kita tidak cocok / layak untuk kerajaan Allah. Meletakkan tangan kita pada bajak berarti memulai pekerjaan Kristus, atau memutuskan untuk menjadi murid-muridNya. Melihat ke belakang menunjukkan suatu pikiran yang sangat rindu pada dunia, dan juga suatu tindakan kembali pada kehidupan duniawi. Karena pertama-tama / mula-mula kita melihat ke belakang, dan lalu kita berbalik / kembali.].

 

The Biblical Illustrator: As the first look to Christ and the first step towards the Cross are encouraging and hopeful, so the first look away from the Saviour and the first step aside from the path of duty are discouraging, dangerous, appalling. Apostasy is thus reached by an accelerating motion.[= Sebagaimana pandangan pertama kepada Kristus dan langkah pertama menuju Salib bersifat menyemangati dan berpengharapan, demikian juga pandangan pertama menjauh dari sang Juruselamat dan langkah pertama dari jalan kewajiban bersifat mengecilkan hati, berbahaya, menakutkan. Jadi kemurtadan dicapai oleh suatu gerakan yang makin lama makin cepat.].

 

Kej 19:26 - “Tetapi isteri Lot, yang berjalan mengikutnya, menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam.”.

 

Penutup.

 

Maukah dan sudahkah saudara ikut Yesus dengan sungguh-sungguh / segenap hati? Tuhan memberkati saudara sekalian.

 

 

 

 

-AMIN-

 

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ