Kebaktian

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)

 

Minggu, tgl 9 September 2018, pk 8.00 & 17.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

link ke video di youtube:

https://www.youtube.com/watch?v=1IuA8Avk9T8

 

 

kesiapan untuk menjadi murid

 

Lukas 9:57-62(5)

 

Luk 9:57-62 - “(57) Ketika Yesus dan murid-muridNya melanjutkan perjalanan mereka, berkatalah seorang di tengah jalan kepada Yesus: ‘Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.’ (58) Yesus berkata kepadanya: ‘Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya.’ (59) Lalu Ia berkata kepada seorang lain: ‘Ikutlah Aku!’ Tetapi orang itu berkata: ‘Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku.’ (60) Tetapi Yesus berkata kepadanya: ‘Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana.’ (61) Dan seorang lain lagi berkata: ‘Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku.’ (62) Tetapi Yesus berkata: ‘Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.’”.

 

2.   Bapanya masih sehat, dan dia mau menunggu sampai bapanya mati dulu, baru dia mau ikut Yesus.

 

Jewish New Testament Commentary (tentang Mat 8:21-22): “‘First let me go and bury my father.’ Don’t suppose this would-be talmid is traveling around with Yeshua while his father’s corpse is waiting at home, stinking in the sun. The father is not dead yet! If he had been, the son would have been at home, sitting shiv‘ah (see Yn 11:19-20&N). The son wishes to go home, live in comfort with his father till his death perhaps years hence, collect his inheritance and then, at his leisure, become a disciple.[= ‘Ijinkanlah aku pergi dahulu dan menguburkan bapaku’. Jangan menganggap calon murid ini sedang berjalan-jalan / bepergian keliling bersama Yesus pada waktu mayat bapanya sedang menunggu di rumah, berbau busuk dalam sinar matahari. Bapanya belum mati! Seandainya ia telah mati, anak itu sudah akan berada di rumah, duduk berkabung selama 1 minggu (lihat Yoh 11:19-20). Anak itu ingin pulang, hidup dalam kenyamanan bersama bapanya sampai kematiannya mungkin bertahun-tahun dari sekarang, mengumpulkan warisannya dan lalu, pada waktu luangnya, menjadi seorang murid.].

Catatan:

Kata Ibrani TALMID = murid.

Kata Ibrani SHIV’AH = perkabungan selama 1 minggu. Kalau mau lebih terperinci lihat ini: https://en.wikipedia.org/wiki/Shiva_(Judaism)

Yoh 11:17,19-20 - “(17) Maka ketika Yesus tiba, didapatiNya Lazarus telah empat hari berbaring di dalam kubur. ... (19) Di situ banyak orang Yahudi telah datang kepada Marta dan Maria untuk menghibur mereka berhubung dengan kematian saudaranya. (20) Ketika Marta mendengar, bahwa Yesus datang, ia pergi mendapatkanNya. Tetapi Maria tinggal di rumah..

 

Jewish New Testament Commentary (tentang Mat 8:21-22): Let the spiritually dead, those concerned with the benefits of this world, including inheritances, remain with each other in life and eventually bury their own physically dead. The true talmid must get his priorities straight.[= Biarlah orang mati secara rohani, mereka yang senang dengan keuntungan-keuntungan dari dunia ini, termasuk warisan-warisan, tinggal bersama satu dengan yang lain dalam kehidupan dan akhirnya menguburkan orang mati secara jasmani mereka sendiri. Murid yang benar / sejati harus mengerti dengan benar / membuat jelas prioritas-prioritasnya.].

Catatan: talmid = murid.

 

J. Vernon McGee (tentang Luk 9:59-60): “This verse has been greatly misunderstood. Jesus was not forbidding this boy to attend the funeral of his father. Rather, the boy is saying that he would have to take care of his father until he died. After his father was gone, he would be free to follow Jesus.” [= Ayat ini telah sangat disalah-mengerti. Yesus bukan melarang anak ini menghadiri penguburan bapanya. Tetapi anak itu berkata bahwa ia harus mengurus / memelihara bapanya sampai ia mati. Setelah bapanya pergi / mati, ia bebas untuk mengikut Yesus.] - Libronix.

 

J. Vernon McGee (tentang Mat 8:21-22): “Dr. Adam Smith, who was quite an authority on the Middle East, has written several helpful books. He tells of one incident where he wanted to hire an Arab guide. He explained where he wished to go and was told of a young man in a certain village who would be an excellent guide. Dr. Smith went to the village and asked the young man to be his guide and was told, ‘I first have to bury my father.’ And there, in front of his hut, sat the old gentleman as hale and hardy as you please. What the young Arab really meant was that he could not leave because he would have to care for his father until he died. The father was the son’s responsibility.” [= Dr. Adam Smith, yang adalah seorang sumber yang cukup diterima tentang informasi ahli tentang Timur Tengah, telah menulis beberapa buku yang menolong / berguna. Ia menceritakan tentang satu kejadian dimana ia ingin menyewa seorang pembimbing (guide) Arab. Ia menjelaskan kemana ia ingin pergi dan diberitahu tentang seorang muda di suatu desa tertentu yang adalah seorang guide yang bagus sekali. Dr. Smith pergi ke desa itu dan meminta orang muda itu untuk menjadi guide-nya dan diberitahu, ‘Aku harus lebih dulu menguburkan bapaku’. Dan di sana, di depan rumah kecilnya, duduk seorang laki-laki sesehat dan sekuat yang kamu inginkan. Apa yang orang Arab muda itu sebetulnya maksudkan adalah bahwa ia tidak bisa pergi karena ia harus mengurus / memelihara bapanya sampai ia mati. Bapa adalah tanggung jawab anak.] - Libronix.

 

J. Vernon McGee (tentang Luk 9:60): “When it comes to discipleship, human affection takes second place to His will. When a conflict arises between human affections and Christ, He claims the first place.” [= Pada waktu itu berkenaan dengan kemuridan, perasaan / kasih manusia mengambil tempat kedua setelah kehendakNya. Pada waktu muncul konflik antara perasaan / kasih manusia dan Kristus, Ia menuntut tempat pertama.] - Libronix.

 

William Barclay (tentang Luk 9:57-62): Jesus’ words to the second man sound harsh, but they need not be so. In all probability the man’s father was not dead, and not even nearly dead. His saying most likely meant, ‘I will follow you after my father has died.’ The story is told of a very brilliant young Arab who was offered a scholarship to Oxford or Cambridge. His answer was, ‘I will take it after I have buried my father.’ At the time his father was not much more than forty years of age. The point Jesus was making is that in everything there is a crucial moment; if that moment is missed the thing most likely will never be done at all. The man in the story had stirrings in his heart to get out of his spiritually dead surroundings; if he missed that moment he would never get out. Psychologists tell us that every time we have a fine feeling, and do not act on it, the less likely we are to act on it at all. The emotion becomes a substitute for the action. Take one example - sometimes we feel that we would like to write a letter, perhaps of sympathy, perhaps of thanks, perhaps of congratulations. If we put it off until tomorrow, it will in all likelihood never be written. Jesus urges us to act at once when our hearts are stirred. [= Kata-kata Yesus kepada orang kedua ini terdengar keras, tetapi kata-kata itu tak perlu diartikan seperti itu. Sangat mungkin bapa orang itu belum mati, dan bahkan tidak dekat dengan kematian. Kata-katanya sangat mungkin berarti, ‘Aku akan mengikut Engkau setelah bapaku telah mati’. Suatu cerita diceritakan tentang seorang Arab muda yang sangat pandai yang ditawari bea siswa ke Oxford atau Chambridge. Jawabannya adalah, ‘Aku akan mengambilnya setelah aku telah menguburkan bapaku’. Pada saat itu bapanya baru berumur 40 tahun lebih sedikit. Hal yang ditekankan oleh Yesus adalah bahwa dalam segala sesuatu di sana ada saat yang penting / menentukan; jika saat itu luput, hal itu sangat mungkin tidak akan pernah dilakukan sama sekali. Orang dalam cerita ini mempunyai perasaan berkobar-kobar yang kuat dalam hatinya untuk keluar dari lingkungannya yang mati secara rohani; jika ia meluputkan saat itu ia tidak akan pernah keluar. Ahli-ahli Psikologi memberitahu kita bahwa setiap kali kita mempunyai suatu perasaan yang bagus, dan tidak melakukan berdasarkannya, sangat kecil kemungkinannya kita akan pernah melakukan berdasarkannya. Emosi menjadi suatu pengganti untuk tindakan. Ambillah suatu contoh - kadang-kadang kita merasa bahwa kita ingin menulis sebuah surat, mungkin tentang simpati, mungkin tentang terima kasih, mungkin tentang pengucapan selamat. Jika kita menundanya sampai besok, sangat mungkin itu tidak akan pernah dituliskan. Yesus mendesak kita bertindak dengan segera pada waktu hati kita digerakkan.].

 

William Barclay (tentang Mat 8:18-22): But there was another man who wished to follow Jesus. He said he would follow Jesus, if he was first allowed to go and bury his father. Jesus’ answer was: ‘Follow me and leave the dead to bury their own dead.’ At first sight, that seems a hard saying. To the Jews, it was a sacred duty to ensure decent burial for a dead parent. When Jacob died, Joseph asked permission from Pharaoh to go and bury his father: "My father made me swear an oath; he said, ‘I am about to die. In the tomb that I hewed out for myself in the land of Canaan, there you shall bury me.’ Now therefore let me go up, so that I may bury my father; then I will return" (Genesis 50:5). Because of the apparently stern and unsympathetic character of this saying, different explanations have been given of it. It has been suggested that in the translation into Greek of the Aramaic which Jesus used, there has been a mistake; and that Jesus is saying that the man can well leave the burying of his father to the official buriers. There is a strange verse in Ezekiel 39:15: ‘As the searchers pass through the land, anyone who sees a human bone shall set up a sign by it, until the buriers have buried it in the Valley of Hamon-gog.’ That seems to imply a kind of official called a burier; and it has been suggested that Jesus is saying that the man can leave the burial to these officials. That does not seem a very likely explanation. It has been suggested that this is indeed a hard saying, and that Jesus is saying bluntly that the society in which this man is living is dead in sin, and he must get out of it as quickly as possible, even if it means leaving his father still unburied; that nothing, not even the most sacred duty, must delay his embarkation on the Christian way. But the true explanation undoubtedly lies in the way in which the Jews used this phrase - ‘I must bury my father’ - and in the way in which it is still used in this part of the world. The German theologian Hans Wendt quotes an incident related by a Syrian missionary, M. Waldmeier. This missionary was friendly with an intelligent and rich young Turk. He advised him to make a tour of Europe at the close of his education, so that his education would be completed and his mind broadened. The Turk answered: ‘I must first of all bury my father.’ The missionary expressed his sympathy and sorrow that the young man’s father had died. But the young Turk explained that his father was still very much alive, and that what he meant was that he must fulfil all his duties to his parents and to his relatives before he could leave them to go on the suggested tour; that, in fact, he could not leave home until after his father’s death, which might not happen for many years. That is undoubtedly what the man in this gospel incident meant. He meant: ‘I will follow you some day, when my father is dead, and when I am free to go.’ He was in fact putting off his following of Jesus for many years to come.[= Tetapi di sana ada seorang lain yang ingin mengikut Yesus. Ia berkata ia mau / akan mengikut Yesus, jika ia diijinkan untuk lebih dulu pergi dan menguburkan bapanya. Jawaban Yesus adalah: ‘Ikutlah Aku dan biarkanlah orang mati menguburkan orang mati mereka’. Pada pandangan pertama, itu kelihatan sebagai suatu kata-kata yang keras. Bagi orang-orang Yahudi, merupakan suatu kewajiban keramat untuk memastikan penguburan yang layak bagi orang tua yang mati. Pada saat Yakub mati, Yusuf meminta ijin dari Firaun untuk pergi dan menguburkan bapanya: "Bapaku menyuruhku bersumpah; ia berkata, ‘Aku akan mati. Dalam kubur yang aku gali untuk diriku sendiri di tanah Kanaan, di sanalah kamu akan menguburkan aku’. Karena itu biarlah aku pergi, sehingga aku bisa menguburkan bapaku; lalu aku akan kembali" (Kej 50:5). Karena karakter yang kelihatannya keras dan tak bersimpati dari kata-kata ini, penjelasan-penjelasan yang berbeda telah diberikan tentangnya. Telah diusulkan bahwa dalam penterjemahan ke bahasa Yunani dari bahasa Aramaik yang digunakan oleh Yesus, di sana ada suatu kesalahan; dan bahwa Yesus sedang berkata bahwa orang itu bisa dengan baik menyerahkan penguburan bapanya kepada tukang-tukang kubur resmi. Di sana ada suatu ayat yang aneh dalam Yeh 39:15 (LAI): ‘Kalau mereka menjelajahinya dan seorang menjumpai sepotong tulang manusia, maka ia harus meletakkan batu di sampingnya sebagai tanda sampai tukang-tukang kubur menguburkannya di Lembah khalayak Ramai Gog.’ Itu kelihatannya menunjukkan secara implicit sejenis petugas yang disebut tukang kubur; dan telah diusulkan bahwa Yesus sedang berkata bahwa orang itu bisa menyerahkan penguburan kepada petugas-petugas ini. Itu tidak kelihatan sebagai suatu penjelasan yang memungkinkan. Telah diusulkan bahwa ini memang merupakan suatu kata-kata yang keras, dan bahwa Yesus sedang berkata dengan blak-blakan bahwa masyarakat dalam mana orang itu sedang hidup adalah mati dalam dosa, dan ia harus keluar darinya secepat mungkin, bahkan jika itu berarti meninggalkan bapanya tetap tidak terkubur; bahwa tak ada apapun, bahkan tidak kewajiban yang paling keramat, boleh menunda pemberangkatannya pada jalan Kristen. Tetapi penjelasan yang benar tak diragukan terletak dalam cara dengan mana orang-orang Yahudi menggunakan ungkapan ini - ‘Aku harus menguburkan bapaku’ - dan dengan cara dalam mana itu tetap digunakan dalam bagian dunia ini. Ahli Theologia Jerman Hans Wendt mengutip suatu kejadian yang diceritakan oleh seorang misionaris di Syria, M. Waldmeier. Misionaris ini berteman dengan seorang Turki yang pandai, muda, dan kaya. Ia menasehatinya untuk membuat suatu tour keliling Eropah pada akhir dari pendidikannya, sehingga pendidikannya akan dilengkapi dan pikirannya diperluas. Orang Turki itu menjawab: ‘Aku harus lebih dulu dari semua, menguburkan bapaku’. Si misionaris menyatakan simpati dan kesedihannya bahwa bapa orang muda itu telah mati. Tetapi orang Turki muda itu menjelaskan bahwa bapanya masih tetap hidup, dan bahwa apa yang ia maksudkan adalah bahwa ia harus memenuhi semua kewajiban-kewajibannya kepada orang tuanya dan kepada keluarganya sebelum ia bisa meninggalkan mereka untuk pergi pada tour yang diusulkan; bahwa sebenarnya, ia tidak bisa meninggalkan rumah sampai setelah kematian bapanya, yang mungkin / bisa tidak terjadi untuk banyak tahun / waktu yang lama. Itu tak diragukan merupakan apa yang orang dalam kejadian injil ini maksudkan. Ia memaksudkan: ‘Aku akan mengikut Engkau suatu hari, pada waktu bapaku sudah mati, dan pada waktu aku bebas untuk pergi’. Sebenarnya ia sedang menunda untuk ikut Yesus selama banyak tahun yang akan datang.].

 

The Biblical Illustrator: It was an Eastern proverb, ‘When I have buried my father I will do so-and-so.’[= Merupakan suatu pepatah Timur, ‘Pada waktu aku telah menguburkan bapaku aku akan melakukan ini dan itu’.].

 

Saya paling condong pada pandangan ini, yaitu bahwa bukan saja bapa orang itu belum mati, tetapi bahkan dekat dengan kematianpun tidak. Penafsiran ini membuat kata-kata Yesus sama sekali tidak kelihatan extrim.

 

c)   Tak peduli bapanya sudah mati atau belum.

Sebetulnya ini bukan merupakan pandangan dari para penafsir ini. Ini hanya menunjukkan bahwa dalam memberikan penafsiran mereka tidak memberi komentar apapun apakah bapa orang ini sudah mati atau belum.

 

Barnes’ Notes (tentang Mat 8:21): ‘Suffer me first to go and bury my father.’ This seemed to be a reasonable request, as respect for parents, living or dead, is one of the first duties of religion. But the Saviour saw that in his circumstances there might be danger, if he was thus permitted to go, that he would not return to him: and he commanded him, therefore, to perform the more important duty - the duty of attending to the salvation of his soul even at the risk of the apparent neglect of another duty. The first duty of man is religion, and everything else should be made subordinate to that. [= ‘Ijinkanlah aku pergi dahulu dan menguburkan bapaku’. Ini kelihatannya merupakan suatu permintaan yang masuk akal, karena hormat untuk orang tua, hidup atau mati, adalah satu dari kewajiban-kewajiban pertama dari agama. Tetapi sang Juruselamat melihat bahwa dalam keadaannya di sana bisa ada bahaya, jika ia diijinkan untuk pergi seperti itu, bahwa ia tidak akan kembali kepadaNya: dan karena itu Ia memerintahkannya untuk melaksanakan kewajiban yang lebih penting - kewajiban untuk mengurus keselamatan jiwanya bahkan dengan resiko kelihatannya mengabaikan kewajiban yang lain. Kewajiban pertama dari manusia adalah agama, dan segala sesuatu yang lain harus disekunderkan terhadap itu.].

Catatan: saya tidak tahu dari mana Barnes mendapatkan bahwa hormat kepada orang tua yang mati merupakan kewajiban agama.

 

Barnes’ Notes (tentang Mat 8:22): ‘Let the dead bury their dead.’ The word ‘dead’ is used in this passage in two different senses. It is apparently a paradox, but is suited to convey the idea very distinctly to the mind. The Jews used the word ‘dead’ often to express indifference toward a thing; or, rather, to show that that thing has no ‘influence’ over us. Thus, to be dead to the world; to be dead to the law (Rom. 7:4); to be dead to sin (Rom. 6:11), means that the world, law, and sin have not influence or control over us; that we are free from them, and act ‘as though they were not.’ A body in the grave is unaffected by the pomp and vanity, by the gaiety and revelry, by the ambition and splendor that may be near the tomb. So people of the world are dead to religion. They see not its beauty, hear not its voice, are not won by its loveliness. This is the class of people to which the Saviour refers here. Let people, says he, who are uninterested in my work, and who are ‘dead in sin’ (Eph 2:1), take care of the dead. Your duty is now to follow me. [= ‘Biarlah orang mati menguburkan orang mati mereka’. Kata ‘mati’ digunakan dalam text ini dalam dua arti yang berbeda. Itu jelas merupakan suatu paradox, tetapi cocok untuk menyampaikan gagasan dengan sangat jelas pada pikiran. Orang-orang Yahudi sering menggunakan kata ‘mati’ untuk menyatakan sikap acuh tak acuh terhadap sesuatu; atau, lebih tepat, untuk menunjukkan bahwa hal itu tidak mempunyai ‘pengaruh’ atas kita. Jadi, mati bagi / terhadap dunia; mati bagi / terhadap hukum Taurat (Ro 7:4); mati bagi / terhadap dosa (Ro 6:11), berarti bahwa dunia, hukum Taurat, dan dosa tidak mempunyai pengaruh atau kendali atas kita; bahwa kita bebas dari mereka, dan bertindak ‘seakan-akan mereka tidak ada’. Suatu mayat dalam kuburan tidak terpengaruh oleh kemegahan dan kesia-siaan, oleh kesenangan dan pesta yang ribut, oleh ambisi dan kemegahan yang mungkin dekat dengan kuburan itu. Demikianlah orang-orang dunia mati terhadap agama. Mereka tidak melihat keindahannya, tidak mendengar suaranya, tidak dimenangkan oleh keindahan / kasihnya. Ini adalah golongan orang-orang pada mana sang Juruselamat menunjuk di sini. Biarlah orang-orang, kataNya, yang tidak tertarik dalam pekerjaanKu, dan yang ‘mati dalam dosa’ (Ef 2:1), mengurus orang mati. Kewajibanmu sekarang adalah mengikut Aku.].

 

The Bible Exposition Commentary: Jesus is not suggesting here that we dishonor our parents, but only that we not permit our love for family to weaken our love for the Lord. We should love Christ so much that our love for family would look like hatred in comparison (Luke 14:26).[= Yesus tidak sedang mengusulkan di sini supaya kita tidak menghormati orang tua kita, tetapi hanya supaya kita tidak mengijinkan kasih kita untuk keluarga melemahkan kasih kita untuk Tuhan. Kita harus mengasihi Kristus begitu besar sehingga kasih kita untuk keluarga akan terlihat sebagai kebencian dalam perbandingan (Luk 14:26).].

Luk 14:26 - ‘Jikalau seorang datang kepadaKu dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi muridKu..

 

4)         Orang ini terlalu tidak siap.

 

William Hendriksen (tentang Luk 9:57-58): “As has been shown, the would-be follower mentioned in verses 57, 58 was ‘too ready’ to become one of Christ’s constant disciples. The next aspirant is ‘too unready:’” [= Seperti telah ditunjukkan, calon pengikut yang disebutkan dalam ay 57,58 adalah ‘terlalu siap’ untuk menjadi salah seorang dari pengikut konstan Kristus. Pemohon yang selanjutnya adalah ‘terlalu tidak siap’:].

 

Lenski: “The scribe offered to follow Jesus, this man is bidden to follow him. This is hardly his first following. Jesus is leaving, and this man, who is already a disciple, is asked to go along and to continue in Jesus’ company as a disciple. This seems to be the proper view because Jesus wants him to proclaim the kingdom, which he asks of no one who has not been sufficiently instructed in advance. While the scribe was overready and had to be cautioned, this man wants to delay and to join Jesus later.” [= Ahli Taurat itu menawarkan untuk mengikut Yesus, orang ini diminta untuk mengikut Dia. Ini tidak mungkin merupakan tindakan mengikutnya yang pertama. Yesus sedang meninggalkan, dan orang ini, yang sudah adalah seorang murid, diminta untuk pergi bersama-sama dan terus ada dalam kelompok Yesus sebagai seorang murid. Ini kelihatannya merupakan pandangan yang benar karena Yesus menghendaki dia untuk memberitakan kerajaanNya, yang tak akan Ia minta dari orang yang belum diajar secara cukup sebelumnya. Sementara ahli Taurat itu terlalu siap dan harus diperingatkan, orang ini ingin menunda, dan bergabung dengan Yesus belakangan.].

 

Catatan: memang Mat 8:21 mengatakan orang ini sudah adalah seorang murid.

Mat 8:21 - Seorang lain, yaitu salah seorang muridNya, berkata kepadaNya: ‘Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku.’.

 

 

 

 

 

-bersambung-

 

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ