Kebaktian

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

 

Minggu, tgl 21 Desember 2014, pk 17.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

Lukas 8:40-56(2)

 

Luk 8:40-56 - “(40) Ketika Yesus kembali, orang banyak menyambut Dia sebab mereka semua menanti-nantikan Dia. (41) Maka datanglah seorang yang bernama Yairus. Ia adalah kepala rumah ibadat. Sambil tersungkur di depan kaki Yesus ia memohon kepadaNya, supaya Yesus datang ke rumahnya, (42) karena anaknya perempuan yang satu-satunya, yang berumur kira-kira dua belas tahun, hampir mati. Dalam perjalanan ke situ Yesus didesak-desak orang banyak. (43) Adalah seorang perempuan yang sudah dua belas tahun menderita pendarahan dan yang tidak berhasil disembuhkan oleh siapapun. (44) Ia maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubahNya, dan seketika itu juga berhentilah pendarahannya. (45) Lalu kata Yesus: ‘Siapa yang menjamah Aku?’ Dan karena tidak ada yang mengakuinya, berkatalah Petrus: ‘Guru, orang banyak mengerumuni dan mendesak Engkau.’ (46) Tetapi Yesus berkata: ‘Ada seorang yang menjamah Aku, sebab Aku merasa ada kuasa keluar dari diriKu.’ (47) Ketika perempuan itu melihat, bahwa perbuatannya itu ketahuan, ia datang dengan gemetar, tersungkur di depanNya dan menceriterakan kepada orang banyak apa sebabnya ia menjamah Dia dan bahwa ia seketika itu juga menjadi sembuh. (48) Maka kataNya kepada perempuan itu: ‘Hai anakKu, imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!’ (49) Ketika Yesus masih berbicara, datanglah seorang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata: ‘Anakmu sudah mati, jangan lagi engkau menyusah-nyusahkan Guru!’ (50) Tetapi Yesus mendengarnya dan berkata kepada Yairus: ‘Jangan takut, percaya saja, dan anakmu akan selamat.’ (51) Setibanya di rumah Yairus, Yesus tidak memperbolehkan seorangpun ikut masuk dengan Dia, kecuali Petrus, Yohanes dan Yakobus dan ayah anak itu serta ibunya. (52) Semua orang menangis dan meratapi anak itu. Akan tetapi Yesus berkata: ‘Jangan menangis; ia tidak mati, tetapi tidur.’ (53) Mereka menertawakan Dia, karena mereka tahu bahwa anak itu telah mati. (54) Lalu Yesus memegang tangan anak itu dan berseru, kataNya: ‘Hai anak bangunlah!’ (55) Maka kembalilah roh anak itu dan seketika itu juga ia bangkit berdiri. Lalu Yesus menyuruh mereka memberi anak itu makan. (56) Dan takjublah orang tua anak itu, tetapi Yesus melarang mereka memberitahukan kepada siapapun juga apa yang terjadi itu.”.

 

3)   Pembangkitan anak Yairus.

Ay 51-56: “(51) Setibanya di rumah Yairus, Yesus tidak memperbolehkan seorangpun ikut masuk dengan Dia, kecuali Petrus, Yohanes dan Yakobus dan ayah anak itu serta ibunya. (52) Semua orang menangis dan meratapi anak itu. Akan tetapi Yesus berkata: ‘Jangan menangis; ia tidak mati, tetapi tidur.’ (53) Mereka menertawakan Dia, karena mereka tahu bahwa anak itu telah mati. (54) Lalu Yesus memegang tangan anak itu dan berseru, kataNya: ‘Hai anak bangunlah!’ (55) Maka kembalilah roh anak itu dan seketika itu juga ia bangkit berdiri. Lalu Yesus menyuruh mereka memberi anak itu makan. (56) Dan takjublah orang tua anak itu, tetapi Yesus melarang mereka memberitahukan kepada siapapun juga apa yang terjadi itu.”.

 

a)         Yang diceritakan dalam ay 52 ini adalah peratap profesional.

Bdk. Yer 9:17-18 - “(17) Perhatikanlah! Panggillah perempuan-perempuan peratap, supaya mereka datang, dan suruhlah orang kepada perempuan-perempuan yang bijaksana, supaya mereka datang! (18) Biarlah mereka bersegera dan meratap karena kita, supaya mata kita mencucurkan air mata, dan kelopak mata kita melelehkan air!”.

 

Adam Clarke: “Pompous funeral ceremonies are ridiculous in themselves, and entirely opposed to the spirit and simplicity of the religion of Christ. Everywhere they meet with his disapprobation” [= Upacara-upacara penguburan yang megah merupakan sesuatu yang menggelikan dalam dirinya sendiri, dan sepenuhnya bertentangan dengan semangat dan kesederhanaan dari agama Kristus. Dimana-mana hal-hal seperti itu ditemui dengan penolakanNya].

Kalau saudara menghabiskan banyak uang untuk penguburan, maka renungkan kata-kata Clarke ini.

 

Matthew Henry (tentang Mat 9): “Observe, The parents, who were immediately touched with the affliction, were silent, while the people and minstrels, whose lamentations were forced, made such a noise. Note, The loudest grief is not always the greatest; rivers are most noisy where they run shallow. ... That grief is most sincere, which shuns observation” [= Perhatikan, orang tua anak itu, yang secara langsung disentuh oleh penderitaan / kesusahan itu, diam, sementara orang-orang dan penyanyi / pemusik, yang ratapannya dipaksakan, membuat keributan besar. Perhatikan, kesedihan yang paling keras bunyinya tidak selalu adalah kesedihan yang terbesar; sungai sangat keras bunyinya kalau mereka dangkal. ... Kesedihan itu paling sungguh-sungguh, yang menghindari pengamatan / pengawasan].

 

Pulpit Commentary: “The hired mourners, with their shouts and cries, their ostentation and display, are abhorrent to the Lord. Simplicity and genuineness of emotion befit the house of the dead, and all connected with death and burial” [= Orang-orang berkabung sewaan, dengan teriakan dan tangisan mereka, pameran dan pertunjukan mereka, merupakan sesuatu yang menjijikkan bagi Tuhan. Kesederhanaan dan keaslian dari perasaan cocok dengan rumah dari orang mati, dan semua yang berhubungan dengan kematian dan penguburan] - hal 217.

 

Bandingkan dengan orang-orang kristen yang nangis-nangis di gereja-gereja Pentakosta / Kharismatik. Sekalipun ini tak berhubungan dengan kematian tetapi pada umumnya ini juga bukan tangisan yang tulus, dan pasti tidak disenangi oleh Tuhan.

 

b)         Yesus berkata bahwa anak itu tidak mati tetapi tidur (ay 52).

Komentar William Barclay tentang text ini diberi judul ‘An only child is healed [= Anak tunggal disembuhkan]!

 

William Barclay: “They were sure she was dead, but Jesus said she was asleep. It is perfectly possible that Jesus meant this literally. It may well be that here we have a real miracle of diagnosis; that Jesus saw the girl was in a deep trance and that she was on the point of being buried alive” [= Mereka yakin bahwa ia mati, tetapi Yesus berkata bahwa ia tidur. Adalah sangat mungkin bahwa Yesus memaksudkan ini secara hurufiah. Mungkin di sini kita mempunyai suatu mujijat diagnose yang sejati; bahwa Yesus melihat gadis itu ada dalam suatu trance yang dalam, dan bahwa ia ada pada titik dimana ia akan dikubur hidup-hidup] - hal 110-111.

 

Ini merupakan omong kosong yang bodoh. Ada banyak hal yang jelas menunjukkan bahwa anak itu betul-betul telah mati, yaitu:

 

1.   Kalau itu hanya suatu diagnose yang benar, maka itu bukan suatu mujijat yang hebat, sehingga tak akan dicatat oleh 3 penulis Injil.

 

2.   Istilah ‘tidur’ sering dipakai untuk menyatakan ‘mati’.

 

Calvin: “‘Sleep’ is everywhere in Scripture employed to denote ‘death;’ and there is no doubt but this comparison, taken from temporal rest, points out a future resurrection. But here Christ expressly makes a distinction between ‘sleep’ and ‘death,’ so as to excite an expectation of life” [= ‘Tidur’ dimana-mana dalam Kitab Suci digunakan untuk menunjukkan ‘kematian’; dan tidak ada keraguan bahwa perbandingan ini, diambil dari istirahat sementara, menunjuk pada suatu kebangkitan pada masa yang akan datang] - hal 415-416.

 

Leon Morris (Tyndale): “In the New Testament believers are never said to die, but to sleep” [= Dalam Perjanjian Baru orang-orang percaya tidak pernah dikatakan mati, tetapi tidur] - hal 162.

 

Bdk. Yoh 11:11-14 - “(11) Demikianlah perkataanNya, dan sesudah itu Ia berkata kepada mereka: ‘Lazarus, saudara kita, telah tertidur, tetapi Aku pergi ke sana untuk membangunkan dia dari tidurnya.’ (12) Maka kata murid-murid itu kepadaNya: ‘Tuhan, jikalau ia tertidur, ia akan sembuh.’ (13) Tetapi maksud Yesus ialah tertidur dalam arti mati, sedangkan sangka mereka Yesus berkata tentang tertidur dalam arti biasa. (14) Karena itu Yesus berkata dengan terus terang: ‘Lazarus sudah mati;”.

 

Di sini Yesus secara jelas menjelaskan bahwa yang Ia maksud dengan ‘tidur’ adalah ‘mati’. Dan Kitab Suci seringkali juga meniru penggunaan istilah ‘tidur’ dalam arti ‘mati’.

Kis 7:60 (NIV): Then he fell on his knees and cried out, ‘Lord, do not hold this sin against them.’ When he had said this, he fell asleep [= Lalu ia berlutut dan menjerit: ‘Tuhan, jangan tanggungkan dosa ini terhadap mereka’. Pada waktu ia telah mengatakan ini, ia jatuh tertidur].

 

1Tes 4:13-16 (NIV): ‘(13) Brothers, we do not want you to be ignorant about those who fall asleep, or to grieve like the rest of men, who have no hope. (14)  We believe that Jesus died and rose again and so we believe that God will bring with Jesus those who have fallen asleep in him. (15) According to the Lord’s own word, we tell you that we who are still alive, who are left till the coming of the Lord, will certainly not precede those who have fallen asleep. (16) For the Lord himself will come down from heaven, with a loud command, with the voice of the archangel and with the trumpet call of God, and the dead in Christ will rise first’ [= (13) Saudara-saudara, kami tidak mau bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang jatuh tertidur, atau berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan. (14) Kita percaya bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, dan kita percaya juga bahwa Allah akan membawa dengan Yesus mereka yang telah jatuh tertidur dalam Dia. (15) Sesuai dengan kata-kata Tuhan sendiri, kami memberitahu kamu bahwa kita yang masih hidup, yang masih tinggal sampai kedatangan Tuhan, sekali-kali tidak akan mendahului mereka yang telah jatuh tertidur. (16) Sebab Tuhan sendiri akan turun dari surga, dengan perintah yang keras, dengan suara dari penghulu malaikat dan dengan panggilan sangkakala dari Allah, dan orang-orang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit].

 

3.   Ay 55 mengatakan bahwa roh anak itu kembali, dan ini menunjukkan bahwa tadinya telah terjadi perpisahan antara tubuh dan jiwa / roh anak itu.

 

c)         Ay 53: “Mereka menertawakan Dia, karena mereka tahu bahwa anak itu telah mati.”.

Bahwa mereka bisa mendadak berubah dari menangis menjadi tertawa, menunjukkan kemunafikan mereka. Tetapi ini juga menunjukkan keyakinan mereka tentang kematian anak itu.

Adam Clarke tentang Mat 9: “People of the world generally ridicule those truths which they neither comprehend nor love, and deride those who publish them; but a faithful minister of God (copying the example of Christ), keeps on his way, and does the work of his Lord and Master” [= Orang-orang dunia pada umumnya mengejek kebenaran yang tidak mereka mengerti ataupun kasihi, dan mengejek mereka yang mengumumkannya; tetapi seorang pelayan yang setia dari Allah (meniru teladan Kristus), meneruskan jalannya, dan melakukan pekerjaan dari Tuhan dan Gurunya].

 

d)   Ay 54: “Lalu Yesus memegang tangan anak itu dan berseru, kataNya: ‘Hai anak bangunlah!’”.

Matthew Henry tentang Mat 9: “Christ went in and took her by the hand, as it were to awake her, and to help her up, prosecuting his own metaphor of her being asleep. The high priest, that typified Christ, was not to come near the dead (Lev. 21:10-11), but Christ touched the dead. The Levitical priesthood leaves the dead in their uncleanness, and therefore keeps at a distance from them, because it cannot remedy them; but Christ, having power to raise the dead, is above the infection, and therefore is not shy of touching them. He took her by the hand, and the maid arose. So easily, so effectually was the miracle wrought; not by prayer, as Elijah did (1 Kin. 17:21), and Elisha (2 Kin. 4:33), but by a touch. They did it as servants, he as a Son, as a God, to whom belong the issues from death. Note, Jesus Christ is the Lord of souls, he commands them forth, and commands them back, when and as he pleases” [= Kristus masuk dan memegang tangannya, seakan-akan membangunkannya, dan menolongnya untuk bangun, melaksanakan kiasannya sendiri bahwa ia tidur. Imam besar, yang merupakan type dari Kristus, tidak boleh mendekati orang mati (Im 21:10-11), tetapi Kristus menyentuh orang mati. Keimaman Lewi meninggalkan orang mati dalam kenajisan mereka, dan karena itu menjaga jarak terhadap mereka, karena tidak bisa menyembuhkan mereka; tetapi Kristus, yang mempunyai kuasa untuk membangkitkan orang mati, ada di atas penularan itu, dan karena itu tidak takut untuk menyentuh mereka. Ia memegangnya pada tangannya, dan gadis itu bangkit. Begitu mudah, begitu efektif mujijat itu dilakukan; tidak dengan doa, seperti yang dilakukan Elia (1Raja 17:21), dan Elisa (2Raja 4:33), tetapi dengan sentuhan. Perhatikan, Yesus Kristus adalah Tuhan dari jiwa-jiwa, Ia memerintahkan mereka pergi dan memerintahkan mereka kembali, kapan dan seperti yang Ia inginkan].

Im 21:10-11 - “(10) Imam yang terbesar di antara saudara-saudaranya, yang sudah diurapi dengan menuangkan minyak urapan di atas kepalanya dan yang ditahbiskan dengan mengenakan kepadanya segala pakaian kudus, janganlah membiarkan rambutnya terurai dan janganlah ia mencabik pakaiannya. (11) Janganlah ia dekat kepada semua mayat, bahkan janganlah ia menajiskan diri dengan mayat ayahnya atau ibunya.”.

1Raja 17:21 - “Lalu ia mengunjurkan badannya di atas anak itu tiga kali, dan berseru kepada TUHAN, katanya: ‘Ya TUHAN, Allahku! Pulangkanlah kiranya nyawa anak ini ke dalam tubuhnya.’”.

2Raja 4:33 - “Sesudah ia masuk, ditutupnyalah pintu, sehingga ia sendiri dengan anak itu di dalam kamar, kemudian berdoalah ia kepada TUHAN.”.

 

e)         Roh anak itu kembali dan anak itu hidup kembali.

Ay 55a: “Maka kembalilah roh anak itu dan seketika itu juga ia bangkit berdiri.”.

 

1.   Ini menunjukkan jiwa / roh tetap ada pada saat terpisah dari tubuh / mati.

Matthew Henry: “This plainly proves that the soul exists and acts in a state of separation from the body, and therefore is immortal; that death does not extinguish this candle of the Lord, but takes it out of a dark lantern. ... it is ... something that subsists by itself, which, after death, is somewhere else than where the body is. Where the soul of this child was in this interval we are not told; it was in the hand of the Father of spirits, to whom all souls at death return” [= Ini secara jelas membuktikan bahwa jiwa ada dan bertindak dalam keadaan terpisah dari tubuh, dan karena itu tidak bisa mati; bahwa kematian tidak memadamkan lilin Tuhan ini, tetapi mengambilnya keluar dari lentera yang gelap. ... itu adalah sesuatu yang tetap ada / hidup dalam dirinya sendiri, yang, setelah kematian, ada di suatu tempat yang lain dari tempat dimana tubuhnya berada. Dimana jiwa dari anak ini ada dalam interval itu kita tidak diberi tahu; itu ada dalam tangan dari Bapa dari roh-roh, kepada siapa semua jiwa kembali pada saat kematian].

 

2.   Ini menunjukkan bahwa kematian merupakan perpisahan antara tubuh dengan jiwa / roh.

William Hendriksen: “Luke 8:55 states that at the command of Jesus ‘her spirit returned.’ It is clear, therefore, that there had been a separation between spirit and body” [= Luk 8:55 menyatakan bahwa atas perintah Yesus ‘rohnya kembali’. Karena itu jelas bahwa di sana telah ada perpisahan antara roh dan tubuh] - hal 462.

 

Bandingkan dengan tulisan Ir. Herlianto, M. Th. yang melarang kremasi, dengan alasan: kita tidak tahu kerugian apa yang akan terjadi pada roh orang itu, karena pada saat mati roh seseorang tidak langsung meninggalkan tubuhnya.

 

Ir. Herlianto:

“dalam pembakaran demikian kita membuka kemungkinan ikut terbakarnya roh / jiwa disamping tubuh, sebab kita tidak tahu berapa lama roh / jiwa manusia masih mempunyai keterkaitan dengan tubuh jasmani setelah seseorang dinyatakan meninggal secara klinis, dan apa yang dirasakan roh / jiwa saat terbakar!” - hal 2, kolom 1.

“proses pembakaran jenazah akan berdampak kemungkinan ikut terbakarnya roh / jiwa yang mungkin masih punya keterikatan dengan tubuh jasmani itu. Kita jangan berspekulasi mengenai kemungkinan apa yang bisa terjadi dengan roh / jiwa pada saat kita membakar tubuh jasmaninya dengan sengaja” - hal 3, kolom 1.

“Ada kemungkinan bahwa roh / jiwa tidak langsung melepaskan keterkaitannya dengan tubuh setelah seseorang dinyatakan mati tetapi membutuhkan waktu beberapa hari, bila demikian pembakaran jenazah dapat berdampak serius terhadap roh / jiwa yang masih punya keterikatan dengan tubuh” - hal 4, kolom 2.

 

Kepercayaan bahwa roh seseorang masih belum meninggalkan tubuhnya pada saat ia mati, adalah kepercayaan kafir, dan jelas bertentangan dengan Alkitab. Dari dulu definisi dari kematian adalah terpisahnya tubuh dengan jiwa / roh, dan itu juga secara jelas dinyatakan dalam Kitab Suci.

a.   1Raja 17:21-22 - “(21) Lalu ia mengunjurkan badannya di atas anak itu tiga kali, dan berseru kepada TUHAN, katanya: ‘Ya TUHAN, Allahku! Pulangkanlah kiranya nyawa (Ibrani: NEPHESH = jiwa) anak ini ke dalam tubuhnya.’ (22) TUHAN mendengarkan permintaan Elia itu, dan nyawa (NEPHESH = jiwa) anak itu pulang ke dalam tubuhnya, sehingga ia hidup kembali.”.

b.   Luk 23:43,46 - “(43) Kata Yesus kepadanya: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.’ ... (46) Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: ‘Ya Bapa, ke dalam tanganMu Kuserahkan nyawaKu (seharusnya ‘rohKu’).’ Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawaNya (seharusnya ‘rohNya’).”.

c.   Kis 7:59 - “Sedang mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya: ‘Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku.’”.

d.   Penceritaan tentang kematian Ananias dan Safira dalam Kis 5:5,10, dan tentang kematian Herodes dalam Kis 12:23.

Kis 5:5,10 - ‘putuslah nyawanya’.

KJV: ‘gave up / yielded up the ghost’ [= menyerahkan roh].

RSV/NIV: ‘died’ [= mati].

NASB: ‘breathed his / her last’ [= menghembuskan nafas terakhir].

Kata Yunani yang dipakai adalah EXEPSUXEN (dalam Perjanjian Baru kata ini hanya digunakan 3 x, yaitu dalam Kis 5:5,10  Kis 12:23), yang berasal dari kata dasar EKPSUCHO. Kata EKPSUCHO ini pasti berasal dari 2 kata Yunani yaitu EK [= from (=dari), out from (=keluar dari), away from (=jauh dari)] + PSUCHE [= soul (=jiwa)]. Kata Yunani ini menunjukkan bahwa ‘mati’ merupakan ‘perpisahan tubuh dengan jiwa’.

e.   Cara Paulus menggambarkan kematian dalam 2Kor 5:8 - “tetapi hati kami tabah, dan terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan.”.

KJV: to be absent from the body, and to be present with the Lord [= absen dari tubuh, dan hadir dengan Tuhan].

RSV: be away from the body and at home with the Lord [= jauh dari tubuh dan di rumah dengan Tuhan].

NIV: to be away from the body and at home with the Lord. [= jauh dari tubuh dan di rumah dengan Tuhan].

NASB: to be absent from the body and to be at home with the Lord [= absen dari tubuh dan ada di rumah dengan Tuhan].

Yunani: EKDEMESAI EK TOU SOMATOS KAI ENDEMESAI PROS TON KURION.

Perhatikan kontras antara EKDEMESAI [= to go away from home / pergi dari rumah] dan ENDEMESAI [= to come home / pulang ke rumah]. Jadi kematian digambarkan sebagai ‘pergi dari rumah menjauhi tubuh’, dan ‘pulang ke rumah kepada Tuhan’.

f.    2Kor 5:10 - “Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.”.

Perhatikan kata-kata yang saya cetak dengan huruf besar itu, yang diterjemahkan secara berbeda oleh Kitab Suci bahasa Inggris.

KJV: ‘in his body’ [= dalam tubuhnya.

RSV/NIV/NASB: ‘in the body’ [= dalam tubuh].

Dalam bahasa Yunani memang digunakan kata SOMA, yang artinya adalah ‘tubuh’.

Yang dimaksudkan oleh Paulus jelas adalah bahwa apa yang dihakimi nanti hanyalah apa yang dilakukan oleh seseorang pada saat ia masih hidup. Paulus menggambarkan ‘keadaan masih hidup’ itu dengan kata-kata ‘dalam tubuh’. Ini jelas menunjukkan bahwa pada saat mati, roh / jiwa seseorang meninggalkan / terpisah dari tubuhnya.

 

Disamping itu saya berpendapat bahwa Ir. Herlianto ini kacau pengertiannya tentang penebusan Kristus. Karena kalau tidak, seharusnya ia tahu bahwa pada saat orang kristen mati, penebusan Kristus menyebabkan orang percaya tidak mungkin menderita lagi. Pada saat masih hidup memang ada penderitaan, sebagai serangan setan, ujian Tuhan, hajaran / didikan Tuhan, dsb. Tetapi setelah mati, semua itu tidak ada lagi, sehingga tidak mungkin lagi ada penderitaan bagi orang percaya.

 

f)          Yesus menyuruh memberi anak itu makan.

Ay 55b: “Lalu Yesus menyuruh mereka memberi anak itu makan.”.

Adam Clarke mengatakan bahwa Yesus membangkitkan anak itu secara mujijat, tetapi dalam pemeliharaan anak itu selanjutnya Ia menghendaki digunakan cara-cara biasa. Anak itu harus makan.

 

Penerapan: kalau sakit yang tidak mungkin bisa sembuh boleh saja harapkan mujijat sekalipun Tuhan tidak berjanji akan melakukannya. Tetapi kalau sakit yang ada obatnya, dan tidak mau menggunakan, itu dosa.

 

g)         Ay 56b: Yesus melarang memberitahukan hal itu.

Aneh, dalam peristiwa orang yang kerasukan setan di Gerasa / Gadara itu Yesus justru menyuruh orang itu untuk memberitakan hal itu. Tetapi di sini dilarang, tetapi ini jelas hanya untuk sementara waktu.

Tetapi Mat 9:26 mengatakan bahwa kabar tentang hal itu tersiar. Jadi mungkin orang-orang itu tidak mentaati larangan Yesus tersebut. Dan sekalipun bukan orang tua anak itu yang memberitakan hal itu, bisa saja orang-orang yang di luar yang memberitakan. Sekalipun mereka tidak melihat Yesus membangkitkan anak itu, tetapi mereka tahu bahwa anak itu tadinya sudah mati, dan lalu mereka melihat anak itu hidup kembali.

 

Kesimpulan / penutup.

 

Tidak ada problem yang Tuhan tidak bisa bereskan. Bawalah problem saudara kepadaNya dalam doa!

 

-AMIN-

 

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ