Kebaktian

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

 

Minggu, tgl 14 Desember 2014, pk 17.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

Lukas 8:40-56(1)

 

Luk 8:40-56 - “(40) Ketika Yesus kembali, orang banyak menyambut Dia sebab mereka semua menanti-nantikan Dia. (41) Maka datanglah seorang yang bernama Yairus. Ia adalah kepala rumah ibadat. Sambil tersungkur di depan kaki Yesus ia memohon kepadaNya, supaya Yesus datang ke rumahnya, (42) karena anaknya perempuan yang satu-satunya, yang berumur kira-kira dua belas tahun, hampir mati. Dalam perjalanan ke situ Yesus didesak-desak orang banyak. (43) Adalah seorang perempuan yang sudah dua belas tahun menderita pendarahan dan yang tidak berhasil disembuhkan oleh siapapun. (44) Ia maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubahNya, dan seketika itu juga berhentilah pendarahannya. (45) Lalu kata Yesus: ‘Siapa yang menjamah Aku?’ Dan karena tidak ada yang mengakuinya, berkatalah Petrus: ‘Guru, orang banyak mengerumuni dan mendesak Engkau.’ (46) Tetapi Yesus berkata: ‘Ada seorang yang menjamah Aku, sebab Aku merasa ada kuasa keluar dari diriKu.’ (47) Ketika perempuan itu melihat, bahwa perbuatannya itu ketahuan, ia datang dengan gemetar, tersungkur di depanNya dan menceriterakan kepada orang banyak apa sebabnya ia menjamah Dia dan bahwa ia seketika itu juga menjadi sembuh. (48) Maka kataNya kepada perempuan itu: ‘Hai anakKu, imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!’ (49) Ketika Yesus masih berbicara, datanglah seorang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata: ‘Anakmu sudah mati, jangan lagi engkau menyusah-nyusahkan Guru!’ (50) Tetapi Yesus mendengarnya dan berkata kepada Yairus: ‘Jangan takut, percaya saja, dan anakmu akan selamat.’ (51) Setibanya di rumah Yairus, Yesus tidak memperbolehkan seorangpun ikut masuk dengan Dia, kecuali Petrus, Yohanes dan Yakobus dan ayah anak itu serta ibunya. (52) Semua orang menangis dan meratapi anak itu. Akan tetapi Yesus berkata: ‘Jangan menangis; ia tidak mati, tetapi tidur.’ (53) Mereka menertawakan Dia, karena mereka tahu bahwa anak itu telah mati. (54) Lalu Yesus memegang tangan anak itu dan berseru, kataNya: ‘Hai anak bangunlah!’ (55) Maka kembalilah roh anak itu dan seketika itu juga ia bangkit berdiri. Lalu Yesus menyuruh mereka memberi anak itu makan. (56) Dan takjublah orang tua anak itu, tetapi Yesus melarang mereka memberitahukan kepada siapapun juga apa yang terjadi itu.”.

 

I) Yesus dan Yairus.

 

1)   Kontras dengan text sebelumnya.

William Hendriksen mengatakan bahwa perpindahan dari text sebelumnya ke text ini mengandung suatu kontras yang harus diperhatikan. Kalau dalam text sebelumnya penduduk Gadara / Gerasa itu meminta Yesus untuk meninggalkan mereka, maka di sini terjadi yang sebaliknya, dimana:

 

a)         Banyak orang menantikan dan menyambut Dia.

Ay 40: “Ketika Yesus kembali, orang banyak menyambut Dia sebab mereka semua menanti-nantikan Dia.”.

Tentang kata ‘menyambut’ (‘welcomed’) A. T. Robertson mengatakan bahwa artinya adalah ‘to receive with pleasure’ [= menerima dengan senang].

 

Tetapi Pulpit Commentary mengatakan: “This .... was only a temporary religious revival, but still while it lasted it gathered great crowds in every place where he visited” [= Ini ... hanya merupakan kebangunan rohani agamawi yang bersifat sementara, tetapi sementara hal itu bertahan hal itu tetap mengumpulkan kumpulan orang banyak di setiap tempat yang Ia kunjungi] - hal 209.

 

Penafsir yang lain dari Pulpit Commentary mengatakan (hal 226) bahwa tidak semua orang mempunyai perasaan dan motivasi yang sama dan benar tentang kedatangan Yesus ini. Mungkin ada yang hanya sekedar ingin tahu, ada yang ingin disembuhkan, ada yang ingin keluarganya disembuhkan, ada yang ingin belajar dari Dia, dan sebagainya.

Kalau saudara datang kepada Yesus / menerima Yesus, motivasi saudara perlu diperhatikan.

 

b)         Yairus meminta Yesus untuk datang.

Ay 41: “Maka datanglah seorang yang bernama Yairus. Ia adalah kepala rumah ibadat. Sambil tersungkur di depan kaki Yesus ia memohon kepadaNya, supaya Yesus datang ke rumahnya,”.

 

1.   Lukas (dan Markus) mengatakan ‘tersungkur’ (PIPTO), tetapi Mat 9:18 mengatakan ‘menyembah’ (PROSKUNEO).

Calvin berpendapat bahwa yang dimaksud adalah sekedar berlutut di depan Yesus. Yairus tidak melakukan penyembahan ilahi terhadap Yesus, tetapi menghormatiNya sebagai seorang nabi.

Tetapi tetap perlu diperhatikan bahwa Yesus tidak menolak diperlakukan seperti itu. Bdk. dengan Petrus yang menolaknya (Kis 10:25-26), dan juga malaikat dalam kitab Wahyu (Wah 19:10  Wah 22:8-9).

 

2.   Ay 41 ini menunjukkan bahwa Yairus adalah seorang kepala rumah ibadat / synagogue, tetapi ia tersungkur / menyembah Yesus. Ia mau merendahkan diri di hadapan Yesus. Ini merupakan sesuatu yang perlu diperhatikan. Bagaimanapun tingginya kedudukan saudara, di hadapan Yesus / Allah, saudara harus merendahkan diri.

 

2)   Permintaan Yairus.

Yairus ingin Yesus menolong anaknya. Yang dipersoalkan adalah: anak Yairus itu sakit berat dan hampir mati, atau sudah mati?

Ay 41b-42a: “(41b) Sambil tersungkur di depan kaki Yesus ia memohon kepadaNya, supaya Yesus datang ke rumahnya, (42a) karena anaknya perempuan yang satu-satunya, yang berumur kira-kira dua belas tahun, hampir mati.”.

Sekarang kita bandingkan dengan ayat-ayat paralelnya:

Mark 5:22-23 - “(22) datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia di depan kakiNya (23) dan memohon dengan sangat kepadaNya: ‘Anakku perempuan sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tanganMu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup.’”.

Mat 9:18 - “Sementara Yesus berbicara demikian kepada mereka, datanglah seorang kepala rumah ibadat, lalu menyembah Dia dan berkata: ‘Anakku perempuan baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tanganMu atasnya, maka ia akan hidup.’”.

 

Markus sama dengan Lukas, tetapi Matius kelihatannya memberikan cerita yang kontradiksi dengan Markus dan Lukas, karena Matius mengatakan bahwa anak itu ‘baru saja meninggal’.

 

Cara mengharmoniskan:

a)   Calvin mengatakan (hal 410) bahwa Matius hanya menyingkat cerita tanpa mempedulikan detail-detailnya, sedangkan Markus dan Lukas menceritakan detail-detailnya. Leon Morris (Tyndale) juga mempunyai pandangan seperti ini (hal 158).

b)   Kata-kata Yairus yang sebenarnya adalah: ‘Anakku sakit begitu berat sehingga pasti saat ini ia sudah mati’. Matius lalu mengambil sebagian dari kata-kata ini dan Markus / Lukas mengambil bagian yang lain.

Ini adalah satu penafsiran yang mungkin sekali. Memang dalam Mark 5:23 di katakan: ‘Supaya ia selamat dan tetap hidup’. Ayat ini seolah-olah menentang penafsiran ini. Tetapi kata ‘tetap’ dalam ayat itu sebetulnya tidak ada sehingga penafsiran ini tetap mempunyai kemungkinan benar.

c)   Anak itu masih hidup waktu Yairus meninggalkan rumah, tetapi sudah mati waktu Yairus berbicara dengan Yesus. Matius memasukkan fakta itu ke dalam perkataan Yairus, sedangkan Markus / Lukas menceritakan kata-kata Yairus sesuai dengan anggapan Yairus (Yairus tidak tahu anaknya sudah mati). Ini juga merupakan penafsiran yang mungkin sekali benar.

 

3)   Yesus pergi ke rumah Yairus (ay 42).

Adam Clarke (tentang Mat 9:19): “Our blessed Lord could have acted as well at a distance as present; but he goes to the place, to teach his ministers not to spare either their steps or their pains when the salvation of a soul is in question. Let them not think it sufficient to pray for the sick in their closets; but let them go to their bed-sides, that they may instruct and comfort them” [= Tuhan kita yang terpuji bisa bertindak dari jarak jauh seakan-akan Ia hadir; tetapi Ia pergi ke tempat itu, untuk mengajar pelayan-pelayanNya untuk tidak menghemat langkah mereka atau usaha mereka pada waktu keselamatan dari suatu jiwa dipersoalkan. Hendaklah mereka tidak berpikir bahwa adalah cukup untuk berdoa bagi orang sakit di dalam kamar; tetapi hendaklah mereka pergi ke sisi ranjang orang sakit itu, supaya bisa mengajar dan menghibur orang sakit itu].

 

II) Interupsi: Perempuan yang sakit pendarahan.

 

Ay 42b-44: “(42b) Dalam perjalanan ke situ Yesus didesak-desak orang banyak. (43) Adalah seorang perempuan yang sudah dua belas tahun menderita pendarahan dan yang tidak berhasil disembuhkan oleh siapapun. (44) Ia maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubahNya, dan seketika itu juga berhentilah pendarahannya.”.

 

Mark 5:26-29 - “(26) Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk. (27) Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubahNya. (28) Sebab katanya: ‘Asal kujamah saja jubahNya, aku akan sembuh.’ (29) Seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa, bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya.”.

 

1)   Penderitaan perempuan ini:

a)   Pendarahan. Ini sudah merupakan penderitaan.

b)   Im 15:19-27 - “(19) Apabila seorang perempuan mengeluarkan lelehan, dan lelehannya itu adalah darah dari auratnya, ia harus tujuh hari lamanya dalam cemar kainnya, dan setiap orang yang kena kepadanya, menjadi najis sampai matahari terbenam. (20) Segala sesuatu yang ditidurinya selama ia cemar kain menjadi najis. Dan segala sesuatu yang didudukinya menjadi najis juga. (21) Setiap orang yang kena kepada tempat tidur perempuan itu haruslah mencuci pakaiannya, membasuh tubuhnya dengan air dan ia menjadi najis sampai matahari terbenam. (22) Setiap orang yang kena kepada sesuatu barang yang diduduki perempuan itu haruslah mencuci pakaiannya, membasuh diri dengan air dan ia menjadi najis sampai matahari terbenam. (23) Juga pada waktu ia kena kepada sesuatu yang ada di tempat tidur atau di atas barang yang diduduki perempuan itu, ia menjadi najis sampai matahari terbenam. (24) Jikalau seorang laki-laki tidur dengan perempuan itu, dan ia kena cemar kain perempuan itu, maka ia menjadi najis selama tujuh hari, dan setiap tempat tidur yang ditidurinya menjadi najis juga. (25) Apabila seorang perempuan berhari-hari lamanya mengeluarkan lelehan, yakni lelehan darah yang bukan pada waktu cemar kainnya, atau apabila ia mengeluarkan lelehan lebih lama dari waktu cemar kainnya, maka selama lelehannya yang najis itu perempuan itu adalah seperti pada hari-hari cemar kainnya, yakni ia najis. (26) Setiap tempat tidur yang ditidurinya, selama ia mengeluarkan lelehan, haruslah baginya seperti tempat tidur pada waktu cemar kainnya dan setiap barang yang didudukinya menjadi najis sama seperti kenajisan cemar kainnya. (27) Setiap orang yang kena kepada barang-barang itu menjadi najis, dan ia harus mencuci pakaiannya, membasuh tubuhnya dengan air, dan ia menjadi najis sampai matahari terbenam.”.

Peraturan ini kelihatannya berlaku untuk perempuan yang datang bulan, tetapi boleh dikatakan semua penafsir menganggap bahwa ini juga berlaku untuk penyakit pendarahan seperti yang dialami oleh perempuan ini. Dalam jaman Perjanjian Baru Im 15 yang merupakan ‘ceremonial law’ [= hukum yang berhubungan dengan upacara keagamaan] ini tak berlaku lagi (bdk. Ef 2:15). Tetapi Perjanjian Baru baru dimulai pada saat Yesus mati dan bangkit. Jadi pada saat itu peraturan ini masih berlaku. Peraturan ini membuat penderitaan perempuan ini semakin hebat. Ia tidak bisa berbakti ataupun bersekutu dengan orang lain!

William Hendriksen mengatakan bahwa berdasarkan Im 15:19-dst di atas, maka perempuan itu harus dianggap sebagai najis, dan siapapun yang menyentuh dia juga menjadi najis. Mungkin ini alasannya sehingga ia tidak menyentuh Yesus, tetapi hanya ujung jubahNya.

c)   Jangka panjang yaitu 12 tahun!

d)   Mark 5:26 mengatakan bahwa ia sudah mencari semua tabib sehingga semua uang habis untuk itu, tetapi penyakitnya bukan hanya tidak sembuh tetapi bahkan semakin memburuk.

Mark 5:26 - “Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk.”.

 

2)   Perempuan itu sudah mendengar tentang Yesus.

Mark 5:27 - Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubahNya.”.

Ia sudah mendengar berita tentang Yesus. Iman timbul dari pendengaran (Ro 10:17).

 

3)   Iman dan pemikiran perempuan ini.

Mark 5:27b-28: “(27b) maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubahNya. (28) Sebab katanya: ‘Asal kujamah saja jubahNya, aku akan sembuh.’”.

Memang perempuan ini mempunyai iman, tetapi imannya:

a)   Lemah. Ini terlihat dari kata-kata Yesus kepadanya: ‘teguhkanlah hatimu’ (Mat 9:22).

b)   Bercampur dengan kesalahan dan bahkan takhyul. Ini terlihat dari kepercayaannya berkenaan dengan penyentuhan ujung jubah Yesus (Mark 5:28).

c)   Jelek. Ia mengira Yesus tak akan tahu kalau ujung jubahNya disentuh.

Tetapi Kristus toh menerimanya dan bahkan memuji imannya (ay 48).

 

Calvin: “there was a mixture of sin and error in the woman’s faith, which Christ graciously bears and forgives. ... Christ bestows high commendation on her faith. ... God deals kindly and gently with his people, - accepts their faith, though imperfect and weak” [= ada suatu campuran dosa dan kesalahan dalam iman perempuan ini, yang dengan murah hati ditahan dan diampuni oleh Kristus. ... Kristus memberikan pujian / penghargaan yang tinggi tentang imannya. ... Allah menangani umatNya dengan baik dan lembut, - menerima iman mereka, sekalipun tidak sempurna dan lemah] - hal 411,412.

 

Dalam kasus Yairus sendiri Calvin beranggapan bahwa iman Yairus lemah, dan tidak sekuat iman perwira dalam Luk 7:1-10. Dan inilah komentar Calvin tentang hal itu.

Calvin: “his faith was feeble and nearly exhausted. Yet Christ yields to his prayers, ... Though we have not such abundance of faith as might be desired, there is no reason why our weakness should drive away or discourage us from prayer” [= imannya lemah dan nyaris habis. Tetapi Kristus mengabulkan doanya, ... Sekalipun kita tidak mempunyai iman yang berlimpah-limpah seperti yang diinginkan, tidak ada alasan mengapa kelemahan kita harus mengusir kita dari doa atau mengecilkan hati kita untuk berdoa] - hal 411.

 

Pulpit Commentary: “This is not the only instance of this kind of strange faith mingled with superstition being signally rewarded. The case of the miraculous efficacy of the handkerchiefs and aprons which had had contact with Paul’s body (Acts 19:12) is an interesting example. A still more startling one exists in the healing influence of the shadow of Peter falling on the sick as he passed along the street (Acts 5:15). ... this incident in the Divine and perfect life which we have just dwelt on, teaches us with striking clearness that he can and will bless the dimmest, most imperfect faith, the faith of the little child, and of the poorest untaught one” [= Ini bukanlah satu-satunya kejadian tentang jenis iman yang aneh yang dicampur dengan takhyul yang diberi pahala secara menyolok. Kasus dari kemujaraban yang bersifat mujijat dari sapu tangan dan kain yang pernah bersentuhan dengan tubuh Paulus (Kis 19:12) merupakan contoh yang menarik. Contoh yang lebih mengejutkan terdapat dalam pengaruh yang menyembuhkan dari bayangan Petrus yang jatuh pada orang sakit pada saat ia melewati jalanan (Kis 5:15). ... peristiwa dalam kehidupan Ilahi dan sempurna yang baru kita pikirkan ini, mengajar kita dengan kejelasan yang menyolok bahwa Ia bisa dan akan memberkati iman yang paling suram dan tidak sempurna, iman dari seorang anak, dan seorang miskin yang bodoh] - hal 209,210.

 

Hati-hati dalam mengartikan kata-kata ini. Kata-kata ini berbahaya, karena iman dalam persoalan keselamatan berbeda dengan iman dalam doa. Dalam persoalan keselamatan, iman harus benar. Iman yang tidak sempurna, dalam arti sangat cacat, misalnya kalau seseorang percaya bahwa ia diselamatkan oleh perbuatan baik, atau tidak mempercayai keilahian Kristus, tidak akan diberkati.

Tetapi dalam persoalan doa, iman yang tidak sempurna itu tetap bisa diterima dan diberkati oleh Tuhan, karena iman yang tidak sempurna itu disempurnakan oleh iman kita kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

 

4)   Yesus bertanya siapa yang menyentuh Dia.

Ay 45-48: “(45) Lalu kata Yesus: ‘Siapa yang menjamah Aku?’ Dan karena tidak ada yang mengakuinya, berkatalah Petrus: ‘Guru, orang banyak mengerumuni dan mendesak Engkau.’ (46) Tetapi Yesus berkata: ‘Ada seorang yang menjamah Aku, sebab Aku merasa ada kuasa keluar dari diriKu.’ (47) Ketika perempuan itu melihat, bahwa perbuatannya itu ketahuan, ia datang dengan gemetar, tersungkur di depanNya dan menceriterakan kepada orang banyak apa sebabnya ia menjamah Dia dan bahwa ia seketika itu juga menjadi sembuh. (48) Maka kataNya kepada perempuan itu: ‘Hai anakKu, imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!’”.

 

a)   Mengapa Yesus menanyakan: ‘Siapa yang menjamah Aku?’. Tentu bukan karena Ia tidak tahu, tetapi karena:

 

1.   Seseorang yang mengalami berkat / pertolongan Tuhan, harus memuliakan Tuhan.

Maz 50:15 - “Berserulah kepadaKu pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau, dan engkau akan memuliakan Aku.’ Sela”.

Pulpit Commentary: “That sensitive heart, trying to screen herself from the observation of the crowd, and wishing to come and go unnoticed, was not rejected. Nevertheless, the Lord, by his repeated questioning, constrained her to come forward and acknowledge the blessing she had received. Christ does not wish for an ostentatious piety; he hates all pretence; but he approves and desires a suitable and grateful avowal of our indebtedness to him. Though we come with a trembling heart, yet we are to come and tell our friends what great things the Lord has done for us” [= Hati yang peka itu, yang berusaha untuk menutupi dirinya sendiri dari pengamatan orang banyak, dan ingin datang dan pergi tanpa diperhatikan, tidak ditolak. Namun, Tuhan, dengan pertanyaanNya yang berulang-ulang, mendesaknya untuk maju dan mengakui berkat yang telah ia terima. Kristus tidak menginginkan suatu kesalehan yang bersifat pameran; Ia membenci semua kepura-puraan; tetapi Ia merestui dan menginginkan suatu pengakuan yang sesuai dan penuh syukur dari keberhutangan kita kepadaNya. Sekalipun kita datang dengan hati yang gemetar, tetapi kita harus datang dan memberi tahu teman-teman kita hal-hal besar apa yang Tuhan telah lakukan untuk kita] - hal 227.

 

Penerapan: bagian ini merupakan teguran bagi orang kristen yang tidak pernah mau mensharingkan berkat yang telah mereka terima.

 

2.   Pertanyaan ini akan menyebabkan perempuan itu memberikan pengakuan / kesaksian, dan pengakuan / kesaksian ini baik / bermanfaat untuk perempuan itu sendiri maupun untuk orang-orang yang mendengarnya. Dengan demikian perempuan itu tidak lagi dianggap najis.

 

b)   Kata-kata Petrus maksudnya adalah ‘banyak orang mengerumuni dan mendesak Engkau, dan karena itu tentu banyak yang menjamah / menyentuh Engkau.’.

Jawaban Yesus dalam ay 46 menunjukkan adanya perbedaan antara sekedar kontak fisik, dan kontak rohani. Manusia tidak bisa membedakan kedua hal ini, tetapi Yesus bisa!

Penerapan: kalau saudara berbakti di gereja, berdoa, bersaat teduh, datang dalam Pemahaman Alkitab, dsb, jangan asal ada ‘kontak fisik’, tetapi harus ada ‘kontak rohani’ dengan Tuhan.

 

Pulpit Commentary: “it conveys to us the important truth that we are not lost in the crowd. ... The fact that he controls the universe is no reason why he should not watch the workings of each humblest human soul. The vastness of the range of his observation does not diminish the fulness of his knowledge of every member of his family” [= itu menyampaikan kepada kita kebenaran yang penting bahwa kita tidak terhilang dalam kumpulan orang banyak. ... Fakta bahwa ia mengontrol alam semesta bukanlah alasan mengapa Ia tidak mengawasi pekerjaan dari setiap jiwa yang paling rendah. Keluasan dari pengamatanNya tidak mengurangi kepenuhan dari pengetahuanNya tentang setiap anggota dari keluargaNya] - hal 227.

 

William Barclay: “Almost everybody would have regarded the woman in the crowd as totally unimportant. For Jesus she was someone in need, and therefore he, as it were, withdrew from the crowd and gave himself to her. ‘God loves each one of us as if there was only one of us to love.’” [= Hampir setiap orang akan menganggap perempuan dalam kumpulan orang banyak itu sebagai sama sekali tidak penting. Untuk Yesus ia adalah seseorang dalam kebutuhan, dan karena itu Ia seakan-akan menarik diri dari kumpulan orang banyak itu dan memberikan diriNya kepadanya. ‘Allah mengasihi setiap orang dari kita seakan-akan di sana hanya ada satu orang dari kita untuk dikasihi’] - hal 114.

 

c)         Mengapa perempuan itu menjadi takut?

William Hendriksen mengatakan (hal 459) bahwa pada saat itu di tempat itu perempuan dianggap tidak layak untuk bicara di tempat umum. Juga karena ia dianggap najis, tetapi menyentuh Yesus, yang dianggap sebagai nabi / guru.

 

d)   Yesus lalu berkata kepada perempuan itu dalam ay 48: “Maka kataNya kepada perempuan itu: ‘Hai anakKu, imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!’”.

 

1.   Kata ‘anakKu’ dalam bahasa Inggris adalah ‘daughter’ [= anak perempuan].

Pulpit Commentary: “This is the only place in the Gospels where our Lord is reported to have used this loving word to any woman” [= Ini adalah satu-satunya tempat dalam Injil-injil dimana Tuhan kita dilaporkan telah menggunakan kata yang penuh kasih ini kepada seorang perempuan] - hal 210.

 

Pulpit Commentary juga mengatakan (hal 210) bahwa dalam kitab Apocrypha yang disebut ‘Injil Nikodemus’, perempuan bernama ‘Veronica’, dan pada waktu Yesus jatuh pada saat memikul kayu salib, perempuan ini memberikan sapu tangan untuk menyeka wajah Yesus. Tetapi tentang kebenaran dari cerita ini, tentu saja sama sekali tidak bisa dipastikan.

 

2.   ‘Imanmu telah menyelamatkan engkau’.

NIV: your faith has healed you.’ [= imanmu telah menyembuhkan engkau.].

Kata Yunaninya bisa diterjemahkan ‘menyelamatkan’ ataupun ‘menyembuhkan’.

Tetapi karena ini berurusan dengan penyakit, terjemahan NIV lebih benar.

 

William Hendriksen: “Her faith, though not the basic cause of her cure, had been the channel through which the cure had been accomplished” [= Imannya, sekalipun bukan penyebab dasar dari penyembuhannya, merupakan saluran melalui mana penyembuhan itu tercapai] - hal 459.

 

Barnes’ Notes (tentang Mat 9:22): “Her faith, her strong confidence in Jesus, had been the means of her restoration. It was the ‘power’ of Jesus that cured her; but that power would not have been exerted but in connection with faith. So in the salvation of a sinner. No one is saved who does not believe; but faith is the instrument, and not the power, that saves” [= Imannya, keyakinannya yang kuat kepada Yesus, telah menjadi jalan dari pemulihannya. Adalah kuasa dari Yesus yang menyembuhkannya; tetapi kuasa itu tidak akan digunakan kecuali berhubungan dengan iman. Demikian juga dalam keselamatan dari seorang berdosa. Tidak seorangpun yang diselamatkan yang tidak percaya; tetapi iman adalah alat, dan bukan kuasa, yang menyelamatkan].

Saya tidak setuju dengan pemutlakan iman dalam persoalan kesembuhan seperti ini, dan juga dengan penyamaan kemutlakan iman dalam persoalan kesembuhan dan dalam persoalan keselamatan. Dalam hal keselamatan iman memang mutlak harus ada, tetapi dalam hal kesembuhan tidak. Misalnya pada waktu Lazarus mati, ia sendiri tentu tidak beriman, dan kedua saudaranya juga tidak beriman, tetapi toh Lazarus dibangkitkan.

 

III) Pembangkitan anak Yairus.

 

1)   Interupsi dari perempuan itu merupakan pencobaan bagi Yairus.

Interupsi dari perempuan tadi jelas merupakan suatu pencobaan hebat bagi Yairus! Anaknya sakit berat / sekarat, dan pertolongan harus cepat datang atau anak itu akan mati, tetapi sekarang perempuan ini menyebabkan Yesus tertunda untuk menolong anaknya.

Tetapi sebetulnya, pada saat yang sama, interupsi ini juga membantu iman Yairus, karena dalam peristiwa ini ia melihat bahwa Yesus menyembuhkan perempuan yang sakit pendarahan itu.

 

2)   Anak Yairus mati.

Ay 49: “Ketika Yesus masih berbicara, datanglah seorang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata: ‘Anakmu sudah mati, jangan lagi engkau menyusah-nyusahkan Guru!’”.

 

a)   Orang yang membawa kabar ini memberi nasehat yang maksudnya baik, yaitu untuk tidak lagi menyusahkan Yesus, tetapi ia tetap salah.

Pulpit Commentary: “Christ may be much troubled by our distance and neglect; he is not likely to be burdened by our earnest approaches and appeals” [= Kristus bisa disusahkan oleh kejauhan dan pengabaian kita; Ia tidak mungkin disusahkan oleh pendekatan dan permohonan kita yang sungguh-sungguh] - hal 228.

 

Jadi, kalau saudara jauh dari Dia atau mengabaikan Dia, itu menyusahkan Dia. Tetapi kalau saudara mendekat kepadaNya dan memohon kepadaNya, betapapun banyaknya dan besarnya permintaan saudara, itu tidak menyusahkan Dia.

 

Pulpit Commentary: “the cause may be very low, the heart may be very cold, the character may be very corrupt, the life may be very base, the case may seem very hopeless; but do not shrink from ‘troubling the Master;’ his touch ‘has still its ancient power;’” [= perkaranya boleh rendah, hati boleh sangat dingin, karakter boleh sangat jahat, kehidupan boleh sangat jelek / hina, kasusnya boleh kelihatan tak ada harapan; tetapi jangan segan untuk ‘menyusahkan Guru’; sentuhanNya ‘tetap mempunyai kuasanya yang kuno’] - hal 228.

 

b)         Anak Yairus mati.

Pencobaan seperti ini sering terjadi. Kita mendapat  problem yang berat, dan kita lalu datang kepada Tuhan dalam doa. Tetapi apa yang terjadi? Bukannya keadaan lalu membaik tetapi sebaliknya memburuk sedemikian rupa, sehingga dalam pandangan kita menjadi mustahil untuk dibereskan. Pada saat seperti itu, kita juga harus memperhatikan apa yang Yesus katakan.

Ay 50: “Tetapi Yesus mendengarnya dan berkata kepada Yairus: ‘Jangan takut, percaya saja, dan anakmu akan selamat.’”.

Mark 5:36 - “Tetapi Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan berkata kepada kepala rumah ibadat: ‘Jangan takut, percaya saja!’”.

Markus menggunakan kata Yunani PISTEUE, suatu present imperative, yaitu perintah yang harus dilakukan terus menerus, atau ‘teruslah percaya’.

Lukas menggunakan kata Yunani PISTEUSON, suatu aorist imperative, yaitu perintah yang hanya perlu dilakukan 1 x saja.

Keduanya harus digabungkan.

 

Leon Morris (Tyndale): “Jesus certainly made it clear to the ruler of the synagogue that in the face of the disaster that had hit him he must have faith. Nothing else mattered” [= Yesus pasti membuatnya jelas kepada kepala rumah ibadat itu bahwa di hadapan bahaya yang telah menghantamnya ia harus mempunyai iman. Tidak ada hal lain yang berarti] - hal 161.

Bdk. Amsal 24:10 - “Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu.”.

KJV: ‘If thou faint in the day of adversity, thy strength is small’ [= Jika engkau lemah / takut / suam pada hari kesengsaraan, kekuatanmu kecil].

NASB: If you are slack in the day of distress, Your strength is limited [= Jika engkau mengendur pada hari kesukaran, Kekuatanmu terbatas].

NIV: If you falter in times of trouble, how small is your strength! [= Jika engkau bimbang / goyang pada masa kesukaran, alangkah kecilnya kekuatanmu].

 

 

 

-bersambung-

 

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ