Kebaktian

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

 

Minggu, tgl 6 April 2014, pk 17.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

[HP: (031) 7064-1331 / (031) 6050-1331 / 0819-455-888-55]

Email: [email protected]

 

Lukas 8:4-21(3)

 

Luk 8:4-21 - “(4) Ketika orang banyak berbondong-bondong datang, yaitu orang-orang yang dari kota ke kota menggabungkan diri pada Yesus, berkatalah Ia dalam suatu perumpamaan: (5) ‘Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis. (6) Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan setelah tumbuh ia menjadi kering karena tidak mendapat air. (7) Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati. (8) Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat.’ Setelah berkata demikian Yesus berseru: ‘Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!’ (9) Murid-muridNya bertanya kepadaNya, apa maksud perumpamaan itu. (10) Lalu Ia menjawab: ‘Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti. (11) Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah firman Allah. (12) Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan. (13) Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad. (14) Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang. (15) Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.’ (16) ‘Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya. (17) Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan. (18) Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya.’ (19) Ibu dan saudara-saudara Yesus datang kepadaNya, tetapi mereka tidak dapat mencapai Dia karena orang banyak. (20) Orang memberitahukan kepadaNya: ‘IbuMu dan saudara-saudaraMu ada di luar dan ingin bertemu dengan Engkau.’ (21) Tetapi Ia menjawab mereka: ‘IbuKu dan saudara-saudaraKu ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.’.

 

III) Perumpamaan tentang pelita dan artinya (ay 16-18).

 

1)   Ay 16-17: “(16) ‘Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya. (17) Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan.”.

 

Apa yang dimaksudkan dengan perumpamaan ini?

 

a)   Ada yang menganggap bahwa ‘pelita’ di sini menunjuk pada kehidupan.

 

1.   Sekalipun saya tidak setuju dengan pandangan pertama ini, tetapi saya tetap memberikan pendangan pertama ini, dan komentar-komentar dari orang-orang yang menerima pandangan ini. Kata-kata mereka benar / tidak salah. Kesalahan mereka adalah karena mereka mendapatkan pandangan itu dari ayat ini, yang sebetulnya artinya bukan demikian.

 

2.   Mungkin orang-orang yang mengambil pandangan ini melihat bahwa ay 16-17 ini sama dengan Mat 5:15 - “Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.”, dan mereka beranggapan bahwa Mat 5:15 itu mempersoalkan kehidupan, karena kontextnya membicarakan orang kristen sebagai terang dunia.

 

3.   Kalau pelita menunjuk pada kehidupan, maka ay 16-17 artinya adalah: hidup orang kristen tidak boleh disembunyikan.

 

William Barclay: “Verse 16 stresses the essential conspicuousness of the Christian life. Christianity is in its very nature something which must be seen. It is easy to find prudential reasons why we should not flaunt our Christianity in the world’s face. In almost every person there is an instinctive fear of being different; and the world is always likely to persecute those who do not conform to pattern” (= Ayat 16 menekankan sifat menyolok yang penting dari kehidupan Kristen. Kekristenan dalam hakekatnya adalah sesuatu yang harus terlihat. Adalah mudah untuk mendapatkan alasan-alasan yang bijaksana mengapa kita tidak memamerkan kekristenan kita di hadapan dunia. Dalam hampir setiap orang ada rasa takut yang bersifat naluri tentang menjadi berbeda; dan dunia selalu mungkin menganiaya mereka yang tidak menyesuaikan diri dengan pola) - hal 101.

 

William Barclay: “Hard as it may be, the duty is laid upon us of never being ashamed to show whose we are and whom we serve; and if we regard the matter in the right way it will be, not a duty, but a privilege” (= Bagaimanapun sukarnya hal itu, kita diwajibkan untuk tidak pernah malu untuk menunjukkan siapa yang memiliki kita dan siapa yang kita layani; dan jika kita memandang persoalan ini dengan cara yang benar, maka hal itu tidak akan merupakan suatu kewajiban tetapi suatu hak) - hal 101.

 

4.   Orang yang berbuat dosa / hidup jahat jelas justru tidak mau melaksanakan ay 16-17 ini, karena mereka pasti tidak mau menunjukkan kehidupan mereka, tetapi sebaliknya, menyembunyikannya. Mengapa? Karena mereka tidak akan senang jika dosa-dosanya terlihat / diketahui orang lain.

Bdk. Yoh 3:19-20 - “(19) Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. (20) Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak;”.

Tetapi dalam hal seperti ini, ay 17 ini berlaku. Semua dosa akan disingkapkan. Penyingkapan dosa bisa terjadi dalam hidup ini, tetapi yang pasti akan terjadi di masa yang akan datang / penghakiman akhir jaman. Bandingkan dengan:

a.   Ro 2:16 - “Hal itu akan nampak pada hari, bilamana Allah, sesuai dengan Injil yang kuberitakan, akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia, oleh Kristus Yesus.”.

b.   1Kor 4:5 - “Karena itu, janganlah menghakimi sebelum waktunya, yaitu sebelum Tuhan datang. Ia akan menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati. Maka tiap-tiap orang akan menerima pujian dari Allah.”.

 

Pikirkan bagaimana malunya orang-orang pada saat itu, karena penyingkapan dosa-dosanya di depan semua orang. Tetapi penyingkapan dosa pada akhir jaman itu hanya berlaku untuk orang-orang yang tidak percaya. Bagi kita yang percaya kepada Kristus, dosa-dosa kita dihapus dan dikubur selama-lamanya. Ini terlihat dari:

(1)  Maz 103:10-12 - “(10) Tidak dilakukanNya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalasNya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita, (11) tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setiaNya atas orang-orang yang takut akan Dia; (12) sejauh timur dari barat, demikian dijauhkanNya dari pada kita pelanggaran kita.”.

(2)  Mikha 7:18-19 - “(18) Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa, dan yang memaafkan pelanggaran dari sisa-sisa milikNya sendiri; yang tidak bertahan dalam murkaNya untuk seterusnya, melainkan berkenan kepada kasih setia? (19) Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut.”.

(3)  Yes 43:25 - “Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu.”.

 

Pada saat Kristus menderita dan mati di atas kayu salib, Ia nyaris telanjang, dan dengan demikian Ia mengalami rasa malu yang luar biasa. Tetapi dengan demikian Ia telah memikul rasa malu yang seharusnya merupakan bagian kita sebagai orang-orang berdosa. Karena itu siapapun yang percaya kepadaNya, tidak akan mengalami penyingkapan dosa pada akhir jaman, dan dengan demikian juga tidak mungkin akan dipermalukan pada saat itu.

 

5.   Keberatan terhadap pandangan pertama ini (yang menganggap bahwa ‘pelita’ menunjuk pada ‘kehidupan’) adalah:

a.   Sekalipun ay 16-17 sama / mirip dengan Mat 5:15, tetapi penekanan kontextnya berbeda. Dalam Mat 5 itu kontextnya mempersoalkan orang kristen sebagai terang dunia, tetapi dalam Luk 8 ini kontextnya mempersoalkan sikap terhadap Firman Tuhan / mendengar Firman Tuhan (bdk. ay 18, juga ay 19-21, dan bahkan ay 4-15, yang semuanya mempersoalkan tentang ‘mendengar Firman Tuhan’).

b.   Juga, dalam Mat 5 itu sendiri belum tentu ‘pelita’ harus diartikan hanya sebagai kehidupan. Tetap memungkinkan untuk mengartikannya sebagai Firman Tuhan, mengingat terang itu memberi petunjuk dalam kegelapan.

 

b)         Ada yang menganggap bahwa ‘pelita’ menunjuk pada Firman Tuhan.

Jadi, arti dari ay 16-17 adalah: Firman Tuhan tidak boleh disembunyikan, tetapi sebaliknya harus dinyatakan kepada dunia. Ini pandangan yang saya terima.

 

1.   Kristus sendiri tidak ingin menyembunyikan pengetahuan / Firman Tuhan.

Cara mereka yang salah dalam mendengarlah yang menyebabkan Kristus lalu menyembunyikan arti dari ajaranNya, dengan jalan mengajar menggunakan perumpamaan. Bdk. ay 18 - “Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya.’”.

 

Bdk. Mark 4:21-25 - “(21) Lalu Yesus berkata kepada mereka: ‘Orang membawa pelita bukan supaya ditempatkan di bawah gantang atau di bawah tempat tidur, melainkan supaya ditaruh di atas kaki dian. (22) Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan tersingkap. (23) Barangsiapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!’ (24) Lalu Ia berkata lagi: ‘Camkanlah apa yang kamu dengar! Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu, dan di samping itu akan ditambah lagi kepadamu. (25) Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.’”.

Kata ‘camkanlah’ diterjemahkan secara berbeda-beda.

KJV/RSV: ‘Take heed’ (= Perhatikanlah).

NIV: ‘Consider carefully’ (= Pertimbangkanlah dengan seksama).

NASB: ‘Take care’ (= Peliharalah).

Yang manapun yang kita ambil, ayat ini tetap menunjukkan bahwa kita harus mempunyai sikap yang baik terhadap Firman Tuhan / dalam persoalan mendengar Firman Tuhan.

 

2.   Setelah para murid mendengar dan mengerti Firman Tuhan, mereka harus memberitakannya.

Pulpit Commentary: “What was then hidden in the minds of the disciples they were to reveal to the world in due time; the truth which the Master was making known to them ‘in the darkness’ they were to ‘speak in the light.’” (= Apa yang tersembunyi dalam pikiran dari murid-murid harus mereka nyatakan kepada dunia pada waktunya; kebenaran yang dinyatakan oleh sang Guru kepada mereka dalam kegelapan, harus mereka nyatakan dalam terang) - hal 221.

Bdk. Mat 10:26-27 - “(26) Jadi janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatupun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. (27) Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah.”.

 

Pulpit Commentary: “The disciples had received Jesus’ explanation of the first parable. And now he further applies it to their case. They are intended, he tells them, to be lights in the world; and he has no intention of putting them under a bushel or bed, where the light would be lost and useless, but on a candlestick to illuminate all who enter the house” (= Murid-murid telah menerima penjelasan Yesus tentang perumpamaan yang pertama. Dan sekarang Ia menerapkannya lebih lanjut kepada kasus mereka. Ia berkata kepada mereka, bahwa mereka dimaksudkan untuk menjadi terang dalam dunia; dan Ia tidak mempunyai maksud untuk meletakkan mereka di bawah gantang atau ranjang / tempat tidur, dimana terang itu akan hilang dan tak berguna, tetapi pada kaki dian untuk menerangi semua yang memasuki rumah) - hal 229.

 

Penerapan: saudara mungkin banyak belajar / mendengar Firman Tuhan, tetapi apakah saudara memberitakan Firman Tuhan itu kepada orang-orang di sekitar saudara? Ingat bahwa makin banyak kita diberi, makin besar tanggung jawab yang dituntut dari kita.

Luk 12:47-48 - “(47) Adapun hamba yang tahu akan kehendak tuannya, tetapi yang tidak mengadakan persiapan atau tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya, ia akan menerima banyak pukulan. (48) Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.’”.

 

2)   Ay 18: “Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya.’”.

 

a)         Ayat ini berhubungan dengan ‘mendengar Firman Tuhan’.

Leon Morris (NICNT): “This is not, of course, a message of encouragement for the moneyed classes: it is connected with hearing the word of God. If we use what God gives it will increase. And the next words underline the opposite truth: if we do not, we will lose even what we think we have. This is total loss” (= Tentu saja ini bukan suatu berita yang membesarkan hati untuk golongan yang berada / beruang: ini dihubungkan dengan mendengar firman Allah. Jika kita menggunakan apa yang Allah berikan, itu akan bertambah. Dan kata-kata selanjutnya menekankan kebenaran yang sebaliknya: jika kita tidak menggunakan apa yang Allah berikan, kita akan kehilangan bahkan apa yang kita kira kita punyai. Ini merupakan kehilangan total) - hal 153.

 

Jelas bahwa ay 18 ini:

1.   Tidak dimaksudkan dalam persoalan uang / materi. Tetapi seringkali hal ini berlaku dalam persoalan uang / materi. Orang yang sudah mempunyai banyak uang, juga lebih gampang dalam mencari uang lebih banyak lagi. Sebaliknya orang yang miskin, sukar sekali mencari uang. Tetapi ini tidak mutlak, karena seperti dikatakan Firman Tuhan: ‘di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar dan mencurinya’ (Mat 6:24b).

2.   Dimaksudkan dalam persoalan ‘mendengar Firman Tuhan’.

 

Pulpit Commentary: “The real student, patient, humble, and restlessly industrious, he shall be endowed with ever-increasing powers; while the make-believe, lazy, and self-sufficient one shall be punished by the gradual waning of the little light which once shone in his soul” (= Murid yang sungguh-sungguh, sabar, rendah hati, dan rajin tanpa henti-hentinya, akan diberi kuasa-kuasa yang selalu bertambah; sementara seorang murid khayalan, malas, dan merasa diri cukup akan dihukum dengan penyusutan perlahan-lahan dari sedikit terang yang pernah bersinar dalam jiwanya) - hal 205.

 

William Hendriksen: “In matters spiritual, standing still is impossible. A person either gains or loses; he either advances or declines” (= Dalam persoalan rohani, berdiri diam merupakan sesuatu yang mustahil. Seseorang mendapatkan atau kehilangan; ia maju atau mundur / turun) - hal 431.

 

Barclay: “Verse 18 lays down the universal law that the man who has will get more; and that the man who has not will lose what he has. If a man is physically fit and keeps himself so, his body will be ready for ever greater efforts; if he lets himself go flabby, he will lose even the abilities he has. The more a student learns, the more he can learn; but if he refuses to go on learning, he will lose the knowledge he has. This is just another way of saying that there is no standing still in life. All the time we are either going forward or going back. The seeker will always find; but the man who stops seeking will lose even what he has” (= Ayat 18 memberikan hukum universal bahwa orang yang mempunyai akan mendapatkan lebih banyak; dan bahwa orang yang tidak mempunyai akan kehilangan apa yang ia miliki. Jika seseorang sehat secara fisik dan menjaga dirinya sendiri supaya sehat, tubuhnya akan siap untuk usaha-usaha yang lebih besar; jika ia membiarkan dirinya sendiri lembek, ia akan kehilangan kemampuan-kemampuan yang ia miliki. Makin banyak seorang murid belajar, makin ia bisa belajar; tetapi jika ia menolak untuk terus belajar, ia akan kehilangan pengetahuan yang ia miliki. Ini merupakan suatu cara lain untuk mengatakan bahwa tidak ada ‘berdiri diam’ dalam kehidupan. Dalam sepanjang waktu, atau kita maju atau kita mundur. Orang yang mencari akan selalu mendapat; tetapi orang yang berhenti mencari akan kehilangan apa yang ia miliki) - hal 102.

Catatan: saya tidak setuju dengan bagian awal dari kata-kata Barclay ini. Ay 18 ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk menjadi hukum universal dalam segala hal, sekalipun harus diakui bahwa kata-kata dalam ayat ini bisa benar dalam banyak hal.

Misalnya gereja yang mempunyai banyak jemaat, gampang untuk menambah jemaat. Tetapi gereja yang mempunyai sedikit jemaat, sukar untuk menambah jemaat, tetapi gampang kehilangan jemaat. Tetapi secara strict / ketat, ayat ini tidak dimaksudkan untuk diarahkan ke sana.

 

b)         Beberapa cara mendengar Firman Tuhan.

William Hendriksen: “Some people listen hardly at all (Isa. 40:21). Some listen merely to be entertained (Ezek. 33:31,32). Some listen in order to find fault (Mark 12:13; Luke 11:54). Some listen in order to obtain true wisdom and to put it to good use (Acts 17:10,11)” [= Sebagian orang hampir tidak mendengar sama sekali (Yes 40:21). Sebagian lain mendengar hanya untuk mendapatkan penghiburan (Yeh 33:31-32). Sebagian lagi mendengar untuk mencari kesalahan (Mark 12:13; Luk 11:54). Sebagian lagi mendengar untuk mendapatkan hikmat yang benar dan menggunakannya dengan baik (Kis 17:10-11)] - hal 432.

Yes 40:21 - “Tidakkah kamu tahu? Tidakkah kamu dengar? Tidakkah diberitahukan kepadamu dari mulanya? Tidakkah kamu mengerti dari sejak dasar bumi diletakkan?”.

Yeh 33:31-32 - “(31) Dan mereka datang kepadamu seperti rakyat berkerumun dan duduk di hadapanmu sebagai umatKu, mereka mendengar apa yang kauucapkan, tetapi mereka tidak melakukannya; mulutnya penuh dengan kata-kata cinta kasih, tetapi hati mereka mengejar keuntungan yang haram. (32) Sungguh, engkau bagi mereka seperti seorang yang melagukan syair cinta kasih dengan suara yang merdu, dan yang pandai main kecapi; mereka mendengar apa yang kauucapkan, tetapi mereka sama sekali tidak melakukannya.”.

Mark 12:13 - “Kemudian disuruh beberapa orang Farisi dan Herodian kepada Yesus untuk menjerat Dia dengan suatu pertanyaan.”.

Luk 11:54 - “Untuk itu mereka berusaha memancingNya, supaya mereka dapat menangkapNya berdasarkan sesuatu yang diucapkanNya.”.

Kis 17:10-11 - “(10) Tetapi pada malam itu juga segera saudara-saudara di situ menyuruh Paulus dan Silas berangkat ke Berea. Setibanya di situ pergilah mereka ke rumah ibadat orang Yahudi. (11) Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian.”.

Catatan: menurut saya 2 ayat yang pertama sama sekali tak cocok.

 

c)   Ketidak-berhasilan dalam suatu pemberitaan Firman Tuhan tidak harus merupakan kesalahan dari pemberita firman.

 

Pulpit Commentary: “It is the manner of hearing that is the main thing - the motive, the desire, the extent to which the heart and the soul are engaged whilst hearing. Persons are apt to blame the speaker, to lay the want of effect at his door. It may be so; no doubt it often is so. But what of these persons themselves? Let each of us examine himself. Eloquence, it has been said, is in the audience; ... Christ reminds us that, where there is failure, the hearer at least divides the blame” (= Adalah ‘cara mendengar’ yang merupakan hal yang utama - motivasi, keinginan, tingkat ketertarikan dari hati dan jiwa pada waktu mendengar. Orang-orang suka / condong untuk menyalahkan si pembicara, menyalahkannya karena kurangnya hasil. Itu memang memungkinkan, dan tidak diragukan bahwa seringkali memang demikian. Tetapi bagaimana tentang orang-orang itu sendiri? Hendaklah setiap orang memeriksa dirinya sendiri. Dikatakan bahwa kefasihan ada pada pendengar; ... Kristus mengingatkan kita bahwa dimana ada kegagalan, pendengarnya sedikitnya ikut bersalah) - hal 212.

 

Bandingkan dengan perumpamaan penabur (ay 4-15) yang menunjukkan bahwa gagal atau tidaknya tergantung jenis tanahnya! Kalau seseorang menabur di tepi jalan, biarpun ia menabur dengan hati-hati, tetap saja benih itu tidak tumbuh. Tetapi sebaliknya, kalau ia menabur di tanah yang subur / baik, sekalipun benih itu dilemparkan dengan keras ke tanah tersebut, tetap saja benih itu akan tumbuh dan akhirnya berbuah. Ini tentu saja tidak berarti bahwa seorang pemberita firman boleh sembarangan saja dalam mempersiapkan dan dalam memberitakan firman. Ia tetap harus melakukan semua itu dengan sebaik-baiknya. Tetapi kalaupun ia melakukan dengan sebaik-baiknya, hasil juga sangat dipengaruhi oleh para pendengarnya.

 

IV) Ibu dan saudara Yesus (ay 19-21).

 

Ay 19-21: “(19) Ibu dan saudara-saudara Yesus datang kepadaNya, tetapi mereka tidak dapat mencapai Dia karena orang banyak. (20) Orang memberitahukan kepadaNya: ‘IbuMu dan saudara-saudaraMu ada di luar dan ingin bertemu dengan Engkau.’ (21) Tetapi Ia menjawab mereka: ‘IbuKu dan saudara-saudaraKu ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.’”.

 

1)   Bandingkan ay 19-21 dengan Mark 3:31-35 / Mat 12:46-50.

Baik dalam Matius maupun Markus, bagian ini terjadi sebelum perumpamaan tentang seorang penabur. Lukas memang sering tidak chronologis.

 

2)   Saudara-saudara Yesus adalah anak-anak Maria.

Norval Geldenhuys (NICNT): “Since in the New Testament Jesus’ brothers and even sisters are frequently mentioned in a most natural manner as if they were His own brothers and sisters, born of Mary (Matt. 12:46; 13:55; Mark 3:32; 6:3; John 2:12), and since in Like 2:7 He is called the ‘first-born’, apart from various other considerations, there can be no doubt that the Lord really had blood-brothers and sisters. The Roman Catholic opinion that the ‘brethren and sisters’ were step-brothers and step-sisters (children of Joseph by a former wife), or His ‘cousins’, is unfounded and would never have existed had it not been for Epiphanius, Jerome and later Roman leaders who embraced a false asceticism and regarded Mary as a woman who had remained a virgin throughout her life. Even Tertullian insisted on taking the ‘brethren and sisters’ of Jesus as real children of Mary” [= Karena dalam Perjanjian Baru saudara-saudara dan bahkan saudari-saudari Yesus sering disebutkan dengan cara yang paling alamiah / wajar / biasa seakan-akan mereka adalah saudara-saudara dan saudari-saudariNya sendiri, dilahirkan oleh Maria (Mat 12:46; 13:55; Mark 3:32; 6:3; Yoh 2:12), dan karena dalam Luk 2:7 Ia disebut ‘sulung’, terpisah dari bermacam-macam pertimbangan yang lain, tidak ada keraguan bahwa Tuhan betul-betul mempunyai saudara-saudara dan saudari-saudari sedarah. Pandangan Roma Katolik bahwa ‘saudara-saudara dan saudari-saudari’ itu adalah saudara-saudara tiri dan saudari-saudari tiri (anak-anak dari Yusuf oleh istri yang terdahulu), atau ‘saudara-saudara sepupu’Nya, tidak mempunyai dasar, dan tidak akan pernah ada, kalau bukan karena Epiphanius, Jerome dan pemimpin-pemimpin Roma (Katolik) belakangan yang memeluk / mempercayai pertapaan yang palsu dan menganggap Maria sebagai seorang perempuan yang tetap perawan sepanjang hidupnya. Bahkan Tertullian berkeras untuk mengartikan ‘saudara-saudara dan saudari-saudari’ Yesus sebagai betul-betul anak-anak Maria] - hal 250 (footnote).

 

3)   Kedatangan Maria dan saudara-saudara Yesus pasti dengan maksud / cara yang tidak bisa dibenarkan, karena kalau tidak, tidak akan muncul kata-kata ‘yang tidak enak’ seperti itu dari mulut Yesus.

Kata-kata ‘yang tidak enak’ itu tidak terlalu terlihat dalam Injil Lukas, tetapi lebih terlihat dalam Injil Matius.

Ay 21: “Tetapi Ia menjawab mereka: ‘IbuKu dan saudara-saudaraKu ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.’”.

Bdk. Mat 12:48-50 - “Tetapi jawab Yesus kepada orang yang menyampaikan berita itu kepadaNya: ‘Siapa ibuKu? Dan siapa saudara-saudaraKu?’ Lalu kataNya, sambil menunjuk ke arah murid-muridNya: ‘Ini ibuKu dan saudara-saudaraKu! Sebab siapapun yang melakukan kehendak BapaKu di sorga, dialah saudaraKu laki-laki, dialah saudaraKu perempuan, dialah ibuKu.’”.

 

Barclay mengatakan bahwa tidak sukar untuk melihat bahwa dalam hidup Yesus, keluargaNya tidak bersimpati dengan Dia.

Bdk. Mark 3:21 - “Waktu kaum keluargaNya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi”.

 

Calvin: “‘Who is my mother?’ These words were unquestionably intended to reprove Mary’s eagerness, and she certainly acted improperly in attempting to interrupt the progress of his discourse” (= ‘Siapa ibuKu?’. Kata-kata ini tidak diragukan dimaksudkan untuk memarahi keinginan Maria, dan ia jelas bertindak secara tidak pantas dalam berusaha untuk menginterupsi percakapan Yesus yang sedang berjalan) - hal 90.

 

Penerapan: karena itu jangan mengganggu jalannya pemberitaan Firman Tuhan. Juga jangan membiarkan anak-anak saudara ribut dalam kebaktian sehingga mengganggu jalannya pemberitaan Firman Tuhan. Dan kalau saudara menyalahkan pengkhotbah yang memarahi jemaat yang ribut pada saat khotbah, maka pikirkan: beranikah saudara menyalahkan Yesus di sini?

 

4)   Kata-kata Yesus ini menunjukkan bahwa:

 

a)         Maria bukan orang suci.

Norval Geldenhuys (NICNT): “This story proves to us clearly that Mary was not the perfect saint as she is represented to have been by the Roman church. She was and is indeed the blessed one amongst women, because to her was given the privilege of being the mother of the Redeemer, but she was also a fallible mortal, beset with sin and weakness” [= Cerita ini membuktikan dengan jelas kepada kita bahwa Maria bukanlah orang suci yang sempurna sebagaimana ia digambarkan oleh gereja Roma (Katolik). Dulu maupun sekarang ia memang adalah seseorang yang diberkati di antara perempuan, karena kepada dia diberikan hak untuk menjadi ibu dari sang Penebus, tetapi ia juga adalah seseorang yang fana yang bisa salah, yang dikepung oleh dosa dan kelemahan] - hal 250 (footnote).

 

b)   Yesus lebih menekankan hubungan rohani dari pada hubungan jasmani / darah.

Bandingkan dengan kata-kata ‘Persekutuan orang kudus’ dalam 12 Pengakuan Iman Rasuli.

Penerapan: kalau ada jemaat kawin, jarang ada jemaat yang menghadiri acara pemberkatan nikah.

 

c)   Yesus sangat menekankan pentingnya mendengar dan mentaati Firman Tuhan, karena hal ini menunjukkan bahwa mereka adalah keluarga rohani Tuhan Yesus.

 

Kesimpulan / Penutup.

 

Bagi saudara yang memiliki sikap yang tidak baik atau kurang baik terhadap Firman Tuhan, perbaikilah sikap itu. Dan bagi yang sudah memiliki sikap yang baik terhadap Firman Tuhan, jagalah dan bahkan tingkatkanlah sikap yang baik itu. Tuhan memberkati saudara.

 

 

-AMIN-


 

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ