Kebaktian

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

 

Minggu, tgl 22 September 2013, pk 17.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

[HP: (031) 7064-1331 / (031) 6050-1331 / 0819-455-888-55]

Email: [email protected]

 

Lukas 6:17-26

 

Luk 6:17-26 - “(17) Lalu Ia turun dengan mereka dan berhenti pada suatu tempat yang datar: di situ berkumpul sejumlah besar dari murid-muridNya dan banyak orang lain yang datang dari seluruh Yudea dan dari Yerusalem dan dari daerah pantai Tirus dan Sidon. (18) Mereka datang untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka; juga mereka yang dirasuk oleh roh-roh jahat beroleh kesembuhan. (19) Dan semua orang banyak itu berusaha menjamah Dia, karena ada kuasa yang keluar dari padaNya dan semua orang itu disembuhkanNya. (20) Lalu Yesus memandang murid-muridNya dan berkata: ‘Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah. (21) Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa. (22) Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat. (23) Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di sorga; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi. (24) Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu. (25) Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar. Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis. (26) Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu.’”.

 

I) Versi Matius vs versi Lukas.

 

Sesuatu yang sangat membingungkan adalah: apakah ucapan bahagia dalam Matius (Mat 5:3-12) paralel / sama dengan ucapan bahagia / celaka dalam Luk 6:20-26 ini? Saya condong untuk berkata bahwa tidak semuanya sama / paralel, karena:

 

1)   Mat 5:3 berbicara tentang orang yang ‘miskin dalam roh’ (poor in spirit), dan ini tidak mungkin menunjuk pada orang yang miskin dalam hal uang, tetapi orang yang miskin rohani. Jadi maksudnya orangnya sadar bahwa dirinya miskin secara rohani.

Tetapi Luk 6:20, yang jelas dikontraskan dengan Luk 6:24, rasanya berbicara tentang miskin dan kaya dalam hal uang.

Ay 20,24: “(20) Lalu Yesus memandang murid-muridNya dan berkata: ‘Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah. ... (24) Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu.”.

 

2)   Mat 5:6 berbicara tentang orang yang ‘lapar dan haus akan kebenaran’, sehingga jelas bukan berbicara tentang lapar secara jasmani tetapi secara rohani.

Tetapi Luk 6:21a, yang jelas kontras dengan Luk 6:25a, rasanya berbicara tentang lapar dan kenyang secara jasmani.

Ay 21,25: “(21) Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa. ... (25) Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar. Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis.”.

 

II) ‘Bahagia’ dan ‘celaka’.

 

1)   Arti ‘bahagia’ dan ‘celaka’.

a)   Kata ‘bahagia’ di sini bukanlah bahagia menurut ukuran dunia. Juga bukan suatu ‘perasaan bahagia’ yang terasa dalam hati kita. ‘Bahagia’ (Lit: diberkatilah’) di sini adalah dalam pandangan Tuhan. Jadi Tuhan menganggap orang seperti itu berbahagia / diberkati.

b)   Sedangkan ‘celaka’ merupakan kecaman / penghakiman dari Allah bagi orang-orang itu.

 

2)   Kita harus memperhatikan dan menekankan keduanya.

William Hendriksen: “Verses 20-23, ‘Blessed’; Verses 24-26, ‘Woe.’ Some preachers are forever saying ‘Blessed.’ Others specialize in thundering ‘Woe.’ Jesus avoids both extremes. So should we” (= Ayat 20-23 - ‘Berbahagialah / Diberkatilah’; Ayat 24-26 - ‘Celakalah’. Beberapa pengkhotbah selalu berkata ‘Berbahagialah / Diberkatilah’. Yang lain mempunyai kekhususan dalam mengguntur ‘Celakalah’. Yesus menghindari kedua extrim. Kita juga harus demikian).

 

III) 4 Keadaan yang dikontraskan.

 

1)   Miskin vs kaya (ay 20,24).

Ay 20,24: “(20) Lalu Yesus memandang murid-muridNya dan berkata: ‘Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah. ... (24) Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu.”.

 

a)         Orang miskin disebut berbahagia, karena:

 

1.   Karena Injil dikatakan diberitakan kepada orang miskin.

Luk 4:18 - “‘Roh Tuhan ada padaKu, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku”.

Mat 11:5 - “orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik.”.

Yes 61:1 - “Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena TUHAN telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara,”.

Memang jelas bahwa Injil juga diberitakan kepada orang kaya, tetapi orang kaya seringkali begitu terobsesi dengan uang sehingga tidak mempedulikan kerohanian, dan karenanya tidak mau mendengar Injil.

 

2.   Orang miskin lebih mudah untuk diselamatkan.

Mat 19:23 - “Yesus berkata kepada murid-muridNya: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga.”.

Luk 18:24 - “Lalu Yesus memandang dia dan berkata: ‘Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah.”.

 

3.   Orang miskin lebih mudah untuk bersandar kepada Allah karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk disandari. Sebaliknya kekayaan menyebabkan orang kaya menganggap dirinya tidak membutuhkan apapun, dan ini menyebabkan ia bersandar pada kekayaan, bukan kepada Allah. Bdk. Luk 12:16-21 (perumpamaan orang kaya yang bodoh).

 

b)   Bukan keadaan miskin itu sendiri yang dianggap sebagai berkat / kebahagiaan, tetapi apa yang diakibatkan olehnya.

Leon Morris (Tyndale): “He is not blessing poverty in itself: that can as easily be a curse as a blessing” (= Ia tidak memberkati kemiskinan itu sendiri: itu bisa sama mudahnya untuk menjadi suatu kutuk maupun suatu berkat).

 

c)   Bukan semua orang miskin dianggap berbahagia.

Kalau mereka menanggapi kemiskinan itu dengan cara yang salah, tentu saja mereka tidak termasuk orang yang berbahagia.

 

d)   Jelas bahwa Tuhan bukannya benci kepada semua orang kaya, dan jelas bahwa tidak semua orang kaya celaka.

Calvin mengutip Agustinus: “Poor Lazarus was received into the bosom of rich Abraham” (= Lazarus yang miskin diterima di dada Abraham yang kaya).

Yang dimaksud dengan orang kaya di sini adalah orang kaya yang sesuai dengan ay 24b - ‘dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu’. Jadi ia percaya (trust) pada kekayaannya dan ia mencari kepuasan / penghiburan melalui kekayaan. Tidak bisa tidak ini menyebabkan:

1.   Ia tidak mencari penghiburan dari Tuhan / Firman Tuhan.

2.   Ia cinta uang dan dikuasai oleh milik duniawinya sehingga melupakan hidup yang akan datang.

Penerapan: apa yang menjadi sandaran / penghiburan saudara? Uang saudara? Rekening bank saudara? Atau Tuhan dan FirmanNya?

 

e)   Orang kaya seperti itu disebut celaka, karena mereka ‘telah memperoleh penghiburan’.

William Barclay berkata bahwa Kata-kata ‘kamu telah memperoleh’ (ay 24) dalam bahasa Yunaninya adalah APECHETE, yang berarti ‘kamu telah menerima pembayaran penuh’.

William Barclay: “What Jesus is saying is this, ‘If you set your heart and bend your whole energies to obtain the things which the world values, you will get them - but that is all you will ever get’” (= Apa yang Yesus katakan adalah ini: Jika kamu mengarahkan hatimu dan semua kekuatanmu untuk mendapatkan hal-hal yang dihargai oleh dunia, kamu akan mendapatkannya, tetapi itu adalah semua yang akan kamu dapatkan).

Bdk. ini dengan Luk 16:25 - “Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita.”.

 

2)   Lapar vs kenyang (ay 21a,25a).

Ay 21,25: “(21) Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa. ... (25) Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar. Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis.”.

 

a)   Kenyang berarti puas dengan kekayaan, tak membutuhkan apapun selain hal-hal duniawi. Bdk. Wah 3:17 - “Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang,”.

 

b)   Ay 25a mengatakan bahwa mereka yang sekarang ini kenyang akan lapar.

Ay 25a: “Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar.”.

William Hendriksen: “Yet, having never shown any appreciation for the higher values of life, these gluttons, unless they are converted, face the never-ending future with a maddening ache that can never be assuaged, a burning thirst that can never be quenched, a ravening hunger that can never be alleviated” (= Tetapi para pelahap / orang rakus ini, karena tidak pernah menunjukkan penghargaan apapun untuk nilai-nilai yang lebih tinggi dari kehidupan, kecuali mereka bertobat, akan menghadapi masa depan yang tanpa akhir dengan rasa sakit yang membuat gila yang tidak akan pernah bisa dikurangi, rasa haus yang membakar yang tidak akan pernah bisa dipadamkan, rasa lapar yang luar biasa yang tidak akan pernah bisa diredakan).

 

c)   Orang lapar di sini tentu lawannya orang kenyang di atas.

Orang-orang ini tidak puas dengan kekayaan dan kenikmatan duniawi. Mereka mencari kepuasan sejati dalam diri Tuhan sendiri. Mereka ini akan dipuaskan. Bdk. Luk 1:53 - “Ia (Tuhan) melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa”.

 

3)   Menangis vs tertawa (ay 21b,25b).

Ay 21,25: “(21) Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa. ... (25) Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar. Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis.”.

 

Menangis di sini disebabkan kesedihan karena dosa. Sebaliknya orang tertawa menunjuk kepada orang yang puas / senang karena berkat jasmani / kesenangan daging dalam hidup sekarang ini. Dan mereka ini tidak pernah menangisi kondisi rohani mereka / dosa mereka.

 

William Hendriksen: “The same holds too for those who now revel in silly merriment, while they reject God and his word and never weep about their sinful condition. In eternity their mourning will never cease. Their tears will never be wiped away” (= Hal yang sama berlaku juga untuk mereka yang sekarang bersukaria dalam kesukariaan yang tolol, sementara mereka menolak Allah dan FirmanNya dan tidak pernah menangisi keadaan mereka yang berdosa. Dalam kekekalan, perkabungan mereka tidak akan berakhir. Air mata mereka tidak akan pernah dihapus).

 

4)   Dibenci / dikucilkan / dicela / ditolak vs dipuji (ay 22-23,26).

Ay 22-23,26: “(22) Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat. (23) Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di sorga; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi. ... (26) Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu.’”.

 

a)         Alasan Yesus memberikan bagian ini.

Calvin: “It is evident from other passages, that they foolishly imagined the kingdom of Christ to be filled with wealth and luxuries” (= Adalah jelas dari bagian-bagian yang lain, bahwa mereka secara tolol membayangkan bahwa Kerajaan Kristus dipenuhi dengan kekayaan dan kemewahan).

Karena itu Kristus memberikan ayat-ayat ini sebagai peringatan: ikut Yesus tidak berarti jalannya mulus, tetapi sebaliknya penuh dengan penderitaan!

 

b)   Ay 22-23 berlaku dalam dunia rohani / kristen.

Ay 22-23,26: “(22) Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat. (23) Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di sorga; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi.”.

 

Ini terlihat dari:

 

1.   Kata-kata ‘karena Anak Manusia’ (ay 22).

 

2.   Ay 23 yang membandingkan mereka dengan nabi, dan ini secara implicit menunjukkan bahwa mereka menderita karena Pemberitaan Injil / Firman Tuhan.

 

Jadi kata ‘berbahagialah’ ini tidak berlaku misalnya untuk seorang pengacara kafir yang membela orang benar dan lalu menderita karenanya, atau untuk seorang tentara kafir yang berperang membela negaranya dan lalu menderita karenanya. Ini berlaku hanya untuk orang kristen yang menderita karena Kristus / karena pemberitaan Injil / Firman Tuhan.

 

Calvin: “We cannot be Christ’s soldiers on any other condition, than to have the greater part of the world rising in hostility against us, and pursuing us even to death. The state of the matter is this. Satan, the prince of the world, will never cease to fill his followers with rage, to carry on hostilities against the members of Christ” (= Kita tidak bisa menjadi tentara Kristus dengan kondisi / keadaan yang lain selain mendapatkan sebagian besar dunia ini memusuhi kita, dan mengejar kita sampai mati. Keadaannya adalah seperti ini. Setan, penguasa dunia ini, tidak akan pernah berhenti untuk mengisi pengikut-pengikutnya dengan kemarahan, meneruskan permusuhan terhadap anggota-anggota Kristus).

 

Luther: “The Church is the community of those who are persecuted and martyred for the gospel’s sake” (= Gereja adalah kumpulan orang yang dianiaya dan dibunuh karena Injil).

 

c)   Orang kristen yang menderita karena Kristus, disebut ‘berbahagia’ (ay 22), dan diperintahkan untuk bersukacita dan bergembira (ay 23).

Ay 22-23: “(22) Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat. (23) Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di sorga; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi.”.

NIV bahkan menterjemahkan ay 23: ‘Rejoice in that day and leap for joy’ (= Bersukacitalah pada hari itu dan meloncat-loncatlah dengan sukacita).

Bdk. 1Pet 4:12-14,16 - “(12) Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu. (13) Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaanNya. (14) Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu. ... (16) Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu.”.

Bdk. juga dengan Kis 5:41 dan Kis 16:25 dimana rasul-rasul mentaati perintah ini.

Kis 5:41 - “Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus.”.

Kis 16:25 - “Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka.”.

Landasan dari sukacita ini adalah harapannya pada pahala di dunia yang akan datang (ay 23: ‘upahmu besar di sorga’).

 

d)   Celakalah orang yang dipuji oleh semua orang (ay 26).

Ay 26: “Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu.’”.

Mengapa? Karena dunia tidak akan memuji orang kristen / pemberita Firman Tuhan. Sebaliknya mereka menentangnya (Yoh 15:18-20).

Yoh 15:18-20 - “(18) ‘Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu. (19) Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu. (20) Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu; jikalau mereka telah menuruti firmanKu, mereka juga akan menuruti perkataanmu.”.

Kalau dunia memuji saudara, itu tandanya saudara tidak memberitakan Firman Tuhan dengan benar.

 

Leon Morris (Tyndale):

“It is a danger when all men speak well of you, for this can scarcely happen apart from sacrifice of principle” (= Merupakan sesuatu yang berbahaya kalau semua orang memuji / berbicara baik tentang kamu, karena ini hampir tidak mungkin terjadi terpisah dari pengorbanan prinsip).

“It is the false prophets who win wide acclaim (cf. Je. 5:31). A true prophet is too uncomfortable to be popular” [= Adalah nabi-nabi palsu yang memenangkan banyak tempik sorak (bdk. Yer 5:31). Seorang nabi yang benar terlalu tidak menyenangkan untuk menjadi populer].

Yer 5:31 - “Para nabi bernubuat palsu dan para imam mengajar dengan sewenang-wenang, dan umatKu menyukai yang demikian! Tetapi apakah yang akan kamu perbuat, apabila datang kesudahannya?”.

 

William Hendriksen: “When everybody speaks well of you it must be that you are a deceitful, servile flatterer” (= Kalau setiap orang berbicara baik tentang kamu / memuji kamu, itu pasti karena kamu adalah seorang penjilat yang mau merendahkan diri dan bersifat penipu).

Bandingkan dengan Absalom.

 

Tetapi William Hendriksen memberikan tambahan yang penting untuk menjaga keseimbangan. Ia berkata: “If a person is unpopular, he should ask himself, ‘Is this because I am loyal to my Lord ... or is it because I have failed to reveal a Christlike character?’” (= Jika seseorang tidak populer, ia harus bertanya kepada dirinya sendiri: ‘Apakah ini disebabkan karena aku setia kepada Tuhanku ... atau apakah ini disebabkan karena aku telah gagal untuk menyatakan karakter yang menyerupai Kristus?’).

 

Kesimpulan:

 

Calvin memberikan kata-kata yang menurut saya bisa menyimpulkan semua ini. Ia berkata:

1.   “This contrast not only tends to strike terror into the ungodly, but to arouse believers, that they may not be lulled to sleep by the vain and deceitful allurements of the world. We know how prone men are to be intoxicated by prosperity, or ensnared by flattery; and on this account the children of God often envy the reprobate, when they see everything go on prosperously and smoothly with them” (= Kontras ini bukan hanya cenderung untuk memberikan rasa takut kepada orang jahat / tidak beriman, tetapi membangunkan / menggerakkan orang percaya supaya mereka tidak ditidurkan oleh daya tarik dunia yang sia-sia dan bersifat menipu. Kita tahu betapa condongnya manusia untuk mabuk karena kemakmuran, atau untuk terpikat / terjerat oleh umpakan / kata-kata yang menjilat; dan dalam hal ini anak-anak Allah sering iri hati kepada orang yang ditetapkan untuk binasa, ketika mereka melihat segala sesuatu berjalan dengan makmur dan lancar dengan mereka).

2.   “This doctrine, I do acknowledge, is widely removed from the common opinion: but the disciples of Christ must learn the philosophy of placing their happiness beyond the world, and above the affections of the flesh” (= Doktrin / ajaran ini, saya akui, berbeda sekali dengan pandangan umum: tetapi murid-murid Kristus harus belajar filsafat tentang meletakkan kebahagiaan mereka di atas / melampaui dunia, dan di atas perasaan daging).

 

 

 

-AMIN-


 

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ