Kebaktian

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

 

Minggu, tgl 18 Agustus 2013, pk 17.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

[HP: (031) 7064-1331 / (031) 6050-1331 / 0819-455-888-55]

Email: [email protected]

 

LUKAS 5:33-39

 

Luk 5:33-39 - “(33) Orang-orang Farisi itu berkata pula kepada Yesus: ‘Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang, demikian juga murid-murid orang Farisi, tetapi murid-muridMu makan dan minum.’ (34) Jawab Yesus kepada mereka: ‘Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa, sedang mempelai itu bersama mereka? (35) Tetapi akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa.’ (36) Ia mengatakan juga suatu perumpamaan kepada mereka: ‘Tidak seorangpun mengoyakkan secarik kain dari baju yang baru untuk menambalkannya pada baju yang tua. Jika demikian, yang baru itu juga akan koyak dan pada yang tua itu tidak akan cocok kain penambal yang dikoyakkan dari yang baru itu. (37) Demikian juga tidak seorangpun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian, anggur yang baru itu akan mengoyakkan kantong itu dan anggur itu akan terbuang dan kantong itupun hancur. (38) Tetapi anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula. (39) Dan tidak seorangpun yang telah minum anggur tua ingin minum anggur yang baru, sebab ia akan berkata: Anggur yang tua itu baik.’”.

 

I) Pengkritik dan kritikannya.

 

1)   Siapa para pengkritik ini?

a)   Dalam Matius, yang datang kepada Yesus adalah ‘murid-murid Yohanes (Pembaptis) (Mat 9:14).

b)   Dalam Markus, yang datang kepada Yesus adalah ‘orang-orang’ (Mark 2:18).

c)   Dalam Lukas, yang datang kepada Yesus adalah ‘orang-orang Farisi’ (ay 33).

Tetapi ini sebetulnya salah terjemahan. NIV/NASB: ‘they’ (= mereka). Kalau kata ‘they’ / ‘mereka’ ini dihubungkan dengan kontex sebelumnya, yaitu Luk 5:30-32, maka kata ‘they’ / ‘mereka’ ini menunjuk kepada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat.

 

Cara mengharmoniskan bagian-bagian ini adalah dengan menafsirkan bahwa ‘orang-orang’ dalam Mark 2:18 adalah gabungan dari ‘murid-murid Yohanes’ dan ‘orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat’. Sekarang ada 2 kemungkinan:

a)   Kedua grup itu datang kepada Yesus, tetapi Matius dan Lukas hanya menceritakan salah satu.

b)   Orang-orang Farisi menghasut murid-murid Yohanes untuk melancarkan kritik kepada Yesus tentang murid-muridNya. Matius hanya menyoroti grup orang yang betul-betul datang kepada Yesus yaitu murid-murid Yohanes. Lukas menyoroti grup yang menjadi sumber terjadinya persoalan itu, yaitu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Sedangkan Markus menyoroti keduanya.

 

2)   Murid-murid Yohanes Pembaptis mengkritik Yesus.

Yohanes Pembaptis adalah orang yang diutus Allah untuk mempersiapkan jalan bagi Yesus (Luk 1:16-17,76). Jadi sebetulnya pada waktu Yesus mulai pelayanan, maka murid-murid Yohanes ini seharusnya lalu mengikuti Yesus, dan beberapa dari mereka memang melakukan hal ini atas pengarahan Yohanes.

Yoh 1:35-37 - “(35) Pada keesokan harinya Yohanes berdiri di situ pula dengan dua orang muridnya. (36) Dan ketika ia melihat Yesus lewat, ia berkata: ‘Lihatlah Anak domba Allah!’ (37) Kedua murid itu mendengar apa yang dikatakannya itu, lalu mereka pergi mengikut Yesus.”.

Tetapi sebagian lain dari murid-murid Yohanes ini menganggap Yesus justru sebagai saingan (Yoh 3:26).

Yoh 3:26 - “Lalu mereka datang kepada Yohanes dan berkata kepadanya: ‘Rabi, orang yang bersama dengan engkau di seberang sungai Yordan dan yang tentang Dia engkau telah memberi kesaksian, Dia membaptis juga dan semua orang pergi kepadaNya.’”.

Mereka ini tidak mengikut Yesus dan terus membentuk kelompok sendiri.

 

Penerapan: Kesalahan seperti ini perlu diwaspadai. Jangan sampai saudara hanya mengikut pendeta atau gereja atau aliran tertentu. Saudara harus mengikut Yesus! Dan perlu diperhatikan bahwa kesalahan seperti ini bisa terjadi pada murid dari Yohanes Pembaptis, yang adalah seorang hamba Tuhan / nabi yang betul-betul ingin membawa murid-muridnya kepada Tuhan. Ini tentu akan lebih mudah lagi terjadi pada murid-murid dari ‘hamba Tuhan’ yang memang ingin mengarahkan orang kepada dirinya sendiri dan bukan kepada Tuhan.

 

3)   Kritikan mereka (ay 33).

Ay 33: “Orang-orang Farisi itu berkata pula kepada Yesus: ‘Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang, demikian juga murid-murid orang Farisi, tetapi murid-muridMu makan dan minum.’”.

 

a)   Mereka berkata: ‘Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang, demikian juga murid-murid orang Farisi, tetapi murid-muridMu makan dan minum’ (ay 33).

1.   Jadi, dalam persoalan doa / sembahyang, tidak ada perbedaan antara murid-murid Yohanes, murid-murid orang Farisi dan murid-murid Yesus. Semua sering berdoa. Bagaimana dengan saudara?

2.   Dalam persoalan puasa, murid-murid Yesus berbeda dengan murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi. Inilah hal yang mereka kritik.

 

b)   Bandingkan kritikan di sini dengan Mat 11:18-19 - “(18) Karena Yohanes datang, ia tidak makan, dan tidak minum, dan mereka berkata: Ia kerasukan setan. (19) Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya.’”.

Berpuasa disalahkan, tidak berpuasa juga disalahkan! Jelas bahwa mereka bukan mengkritik demi tegaknya kebanaran, tetapi untuk menghancurkan orang yang diktirik.

 

c)   Ini kritikan yang mempersoalkan perbedaan yang remeh / tidak penting.

Yohanes Pembaptis adalah orang yang mempersiapkan jalan bagi Yesus. Jadi, ajarannya pasti sejalan dan banyak persamaannya dengan ajaran Yesus. Tetapi ada beda antara Yohanes Pembaptis dan Yesus, yaitu yang bisa saudara lihat dalam Mat 11:18-19 di atas.

Dalam hal yang penting / essential (yaitu dalam hal ajaran), Yohanes Pembaptis sama dengan Yesus. Mereka berbeda dalam hal-hal yang remeh. Tetapi orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat / murid-murid Yohanes justru menyoroti perbedaannya dan melupakan persamaannya.

Penerapan: Dalam hidup orang kristen / gereja ada:

1.   Hal-hal yang remeh, seperti:

a.   Cara memuji Tuhan dengan / tanpa band, dengan / tanpa tepuk tangan.

b.   Bolehkah makan dideh / darah?

c.   Bolehkah orang mati diperabukan?

2.   Hal-hal yang cukup penting, seperti:

a.   Predestinasi atau Providence of God.

b.   Bisakah keselamatan hilang?

c.   Haruskah orang kristen berbahasa roh / lidah?

3.   Hal-hal yang sangat penting / essential, seperti:

a.   Kitab Suci adalah Firman Allah.

b.   Yesus dan Roh Kudus adalah Allah sendiri.

c.   Yesus adalah satu-satunya jalan ke surga.

d.   Adanya surga dan neraka.

e.   Kita diselamatkan karena iman kepada Yesus dan bukan karena perbuatan baik / ketaatan.

Membicarakan, mengetahui / mengerti tentang perbedaan yang remeh dan perbedaan yang cukup penting adalah hal yang harus dilakukan. Tetapi jangan terus menerus menyoroti hal-hal itu sehingga melupakan persamaan dalam hal-hal yang essential / sangat penting.

Sebagai contoh, kalau kita sebagai orang Reformed bertemu dengan orang Arminian dan lalu berdebat tentang predestinasi dan melupakan bahwa kita dan mereka sama-sama percaya kepada Yesus sebagai satu-satunya Juruselamat, maka kita tidak bisa bersatu / saling mengasihi dengan mereka. Kita lupa bahwa dia adalah saudara seiman kita dan kita akan menganggapnya sebagai musuh kita! Boleh saja kita membicarakan / memperdebatkan tentang predestinasi dengan mereka, tetapi kalau tidak mendapat titik temu, maka ingatlah persamaan yang mendasar yang ada antara kita dengan mereka.

Catatan: ini berbeda dengan kalau kita berhadapan dengan orang-orang Arminian seperti Suhento Liauw, Steven Liauw dan sebagainya. Mereka adalah orang-orang brengsek yang menurut saya bukan Kristen. Demikian juga dengan orang seperti Pdt. Sutjipto Subeno!

 

d)   Tentang puasa, dalam Kitab Suci / Perjanjian Lama sebetulnya keharusan puasa bagi seluruh bangsa Israel hanyalah 1 tahun 1 x, yaitu pada hari raya Pendamaian (Im 16:29-34  Im 23:26-32  Bil 29:7-11). Tetapi orang-orang Farisi berpuasa 2 x seminggu (Luk 18:12), yaitu pada hari Senin dan Jum’at (menurut tradisi ini adalah hari dimana Musa naik ke Gunung Sinai). Sedang murid-murid Yohanes berpuasa, mungkin karena:

1.   Sedih karena penangkapan terhadap Yohanes.

2.   Ikut-ikutan orang Farisi.

3.   Ajaran / teladan Yohanes Pembaptis (bdk. Mat 11:18).

Jadi, mereka berpuasa bukan karena diharuskan oleh Firman Tuhan (kalau memang itu adalah puasa yang diharuskan oleh Firman Tuhan, pasti Yesus juga menyuruh murid-muridNya berpuasa), tetapi karena keinginan mereka sendiri atau sekedar sebagai tradisi. Tetapi mereka lalu memaksa orang lain (murid-murid Yesus) untuk juga berpuasa mengikuti mereka. Ini jelas salah. Mereka tidak berhak melakukan hal itu. Hanya Kitab Suci yang boleh dijadikan standard hidup.

Penerapan: Dalam gereja ada:

a.   Hal-hal yang dilakukan karena diperintahkan oleh Tuhan dalam Kitab Suci. Misalnya: Perjamuan Kudus, Baptisan, pemberitaan Firman Tuhan, Pemberitaan Injil, doa, adanya tua-tua / diaken, dsb.

b.   Hal-hal yang dilakukan karena tradisi / kebijaksanaan manusia. Misalnya: adanya katekisasi sebelum baptisan, pendeta memakai toga dalam kebaktian, adanya doa Bapa Kami dan 12 Pengakuan Iman Rasuli dalam kebaktian, penggunaan organ / band dalam kebaktian, tepuk tangan dalam kebaktian, dsb. Hal-hal seperti ini tidak mutlak, dan kita tidak boleh memaksa siapapun untuk melakukan hal-hal tersebut.

 

II) Jawaban Yesus terhadap kritikan itu (ay 34-39).

 

Jawaban Yesus ini terdiri dari 3 bagian:

 

1)   Ay 34-35: “(34) Jawab Yesus kepada mereka: ‘Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa, sedang mempelai itu bersama mereka? (35) Tetapi akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa.’”.

 

a)   Untuk bisa mengerti jawaban Yesus ini, kita perlu mengerti tradisi orang Yahudi pada jaman itu dalam pernikahan. Mereka berbulan madu di rumah. 1 minggu setelah pernikahan, rumah terus dibuka. Teman-teman dekat mempelai bersama-sama dengan mempelai berdua dan mempelai berdua diperlakukan sebagai raja dan ratu. Dalam keadaan seperti ini tentu tidak mungkin ada seorang sahabat yang lalu berpuasa.

Tradisi inilah yang menjadi latar belakang jawaban Yesus. Saat dimana Yesus (mempelai pria) bersama-sama dengan murid-muridNya (sahabat-sahabat mempelai pria) adalah saat bersukacita, bukan saat susah, sehingga tidak cocok untuk berpuasa.

Penerapan: saat bersama / dekat dengan Yesus adalah saat sukacita. Apakah saudara bersukacita kalau saudara dekat dengan Yesus? Atau ada hal-hal lain yang membuat saudara lebih bersukacita, seperti dapat uang / gangthao, bersama teman-teman, piknik, dsb.

 

b)   Yesus berkata bahwa pada saat mempelai pria ‘diambil dari mereka’, maka mereka akan berpuasa. Sukar untuk menafsirkan dengan pasti apa maksud ayat ini.

 

  

 


 

Yesus                  Yesus                          Yesus                                     Yesus                               Yesus

ada                      tidak ada                            ada                                                tidak ada                          ada?

 

­­_­­­­­_______________________________________________________­_____­­­______

                              M                                                         B                                                         N                                                     P

 

 

Keterangan:

M = saat Yesus mati.

B = saat Yesus bangkit.

N = saat Yesus naik ke surga.

P = hari Pentakosta / turunnya Roh Kudus.

 

Saat dimana Yesus ‘diambil dari mereka / murid-muridNya’ bisa menunjuk kepada:

 

1.   Saat Yesus mati disalib.

Ini adalah pandangan dari hampir semua penafsir. Ini berarti bahwa setelah kematian Yesus barulah murid-murid berpuasa.

Tetapi problem dengan pandangan ini adalah: Kitab Suci tidak pernah menceritakan bahwa murid-murid Yesus berpuasa antara kematian dan kebangkitan Yesus!

 

2.   Saat Yesus naik ke surga.

Problem dengan pandangan ini adalah: saat Yesus naik ke surga, bukan merupakan saat dukacita bagi murid-murid Yesus. Padahal Mat 9:15 jelas menunjukkan bahwa itu adalah saat dukacita.

 

Hal-hal lain yang menyebabkan bagian ini makin sukar ditafsirkan dengan pasti adalah:

a.   Pada hari Pentakosta, Roh Kudus turun sehingga boleh dikatakan bahwa Yesus hadir / ada lagi bersama murid-muridNya melalui Roh KudusNya. Tetapi bagaimanapun, ini bukanlah kehadiran jasmani, tetapi kehadiran secara rohani. Apakah kita harus menganggap Yesus ‘ada’ atau ‘tidak ada’ bersama murid-muridNya?

b.   Puasa-puasa yang dilakukan dalam Kisah Rasul semua terjadi setelah Pentakosta. Tetapi dilakukan bukan karena dukacita tetapi biasanya berhubungan dengan pelayanan (Kis 13:2-3  Kis 14:23).

 

Semua ini menyebabkan saya tidak bisa mengambil kesimpulan yang pasti tentang arti ayat ini.

 

c)   Puasa dilakukan pada saat sedih (Bdk. ay 34 dengan Mark 2:19 dan Mat 9:15).

Ay 34: ‘Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa sedang mempelai itu bersama mereka?’.

Mark 2:19 - ‘Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa sedang mempelai itu bersama mereka?’.

Mat 9:15 - ‘Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka?’. Kata ‘berdukacita’ ini dalam bahasa Yunaninya adalah PENTHEIN, yang artinya ’to mourn’ (= berkabung).

 

Dari sini jelas bahwa Yesus mengatakan bahwa saat yang tepat untuk berpuasa adalah pada waktu kita sedih / berkabung. Jadi tidak sepatutnya kita berpuasa sekedar sebagai tradisi, tanpa tujuan / sebab apa-apa, atau sekedar melaksanakan kewajiban.

Banyak gereja / orang kristen berpuasa pada Jum’at Agung dan sekitarnya. Apa alasannya?

1.   Sedih karena penderitaan dan kematian Kristus? Ini lucu, karena seharusnya kita bersukacita bukan sedih. Mengapa? Karena tanpa penderitaan dan kematian Kristus, kita tidak mempunyai harapan untuk diselamatkan.

2.   Untuk ikut merasakan penderitaan Kristus? Ini juga lucu, karena Kristus rela menderita sebagai pengganti kita, justru supaya kita bebas dari penderitaan / hukuman.

 

Kita bisa berpuasa pada saat kita merasa sedih karena ada dosa yang menyebabkan kita lalu tidak merasakan kehadiran Kristus dalam hidup kita. Tentu saja puasa pada saat seperti ini harus disertai dengan pertobatan dari dosa tersebut.

 

d)   Satu hal perlu ditekankan adalah: ay 34-35 tidak berarti bahwa setelah kematian Kristus, gereja harus berpuasa terus menerus.

Ini perlu ditekankan karena ada gereja / orang kristen yang melakukan puasa terus menerus.

J. A. Alexander: “But this would be equivalent to saying that the Saviour’s exaltation would consign his people to perpetual sorrow. For he evidently speaks of grief and fasting as inseparable, and in Matthew’s narrative of his reply, the former term is substituted for the latter (Matt 9:15)” [= Tetapi ini sama dengan berkata bahwa pemuliaan Juruselamat itu akan menandai umatNya dengan kesedihan kekal / terus menerus. Karena Ia dengan jelas berbicara tentang kesedihan dan puasa sebagai 2 hal yang tak terpisahkan, dan dalam cerita Matius tentang jawabanNya, istilah yang pertama menggantikan istilah yang terakhir (Mat 9:15)].

 

J. A. Alexander: “The general principle involved or presupposed is that fasting is not a periodical or stated, but a special and occasional observance, growing out of a particular emergency” (= Prinsip umum yang terlibat atau disyaratkan adalah bahwa puasa bukanlah merupakan sesuatu yang bersifat periodik atau ditetapkan, tetapi suatu ibadah yang khusus dan kadang-kadang, yang timbul dari suatu keadaan darurat yang khusus).

 

Hendriksen juga mengatakan bahwa ay 35 jelas tidak berarti bahwa setelah kematian Yesus gereja harus berpuasa / bersedih terus menerus, dan ia menambahkan bahwa hal ini terlihat dari kata-kata Yesus dalam Yoh 16:16-22 - “(16) ‘Tinggal sesaat saja dan kamu tidak melihat Aku lagi dan tinggal sesaat saja pula dan kamu akan melihat Aku.’ (17) Mendengar itu beberapa dari muridNya berkata seorang kepada yang lain: ‘Apakah artinya Ia berkata kepada kita: Tinggal sesaat saja dan kamu tidak melihat Aku dan tinggal sesaat saja pula dan kamu akan melihat Aku? Dan: Aku pergi kepada Bapa?’ (18) Maka kata mereka: ‘Apakah artinya Ia berkata: Tinggal sesaat saja? Kita tidak tahu apa maksudNya.’ (19) Yesus tahu, bahwa mereka hendak menanyakan sesuatu kepadaNya, lalu Ia berkata kepada mereka: ‘Adakah kamu membicarakan seorang dengan yang lain apa yang Kukatakan tadi, yaitu: Tinggal sesaat saja dan kamu tidak melihat Aku dan tinggal sesaat saja pula dan kamu akan melihat Aku? (20) Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita. (21) Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia. (22) Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorangpun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu.”.

 

2)   Ay 36-38: “(36) Ia mengatakan juga suatu perumpamaan kepada mereka: ‘Tidak seorangpun mengoyakkan secarik kain dari baju yang baru untuk menambalkannya pada baju yang tua. Jika demikian, yang baru itu juga akan koyak dan pada yang tua itu tidak akan cocok kain penambal yang dikoyakkan dari yang baru itu. (37) Demikian juga tidak seorangpun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian, anggur yang baru itu akan mengoyakkan kantong itu dan anggur itu akan terbuang dan kantong itupun hancur. (38) Tetapi anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula.”.

 

Ini adalah 2 perumpamaan:

a)   Kain yang belum susut akan menyusut kalau kena air, sehingga akan menyebabkan baju tua itu sobek lebih besar lagi.

b)   Anggur yang baru mengeluarkan gas. Kantong kulit yang baru masih mempunyai sifat lentur / elastis sehingga bisa menahan tekanan gas itu. Tetapi kantong kulit yang sudah tua, sudah kehilangan sifat lentur / elastisnya sehingga akan pecah bila diisi dengan anggur baru.

Bagian ini adalah bagian yang sukar, sehingga muncul bermacam-macam penafsiran tentang bagian ini:

 

1.         Calvin.

Baju / kantong tua mudah pecah / sobek. Ini menggambarkan kelemahan murid-murid Yesus. Kain yang belum susut / anggur baru menggambarkan disiplin yang terlalu keras. Jadi, artinya: belum waktunya menyuruh murid-murid yang lemah itu melakukan disiplin yang begitu keras seperti puasa.

 

2.         William Barclay.

Arti ay 36: kadang-kadang ‘menambal’ adalah suatu ketololan. Kita harus memulai dengan sesuatu yang baru. Arti ay 37-38: pikiran kita harus lentur / elastis, dalam arti kita harus mau menerima ide-ide baru.

Keberatan saya: kelihatannya ay 36-38 merupakan 2 perumpamaan yang menunjuk pada satu arti yang sama. Yesus sering memberikan beberapa perumpamaan berturut-turut untuk menekankan suatu kebenaran tertentu. Contoh: Luk 15 memberikan 3 cerita berturut-turut yang mempunyai penekanan / arti / fokus yang sama.

 

3.         William Hendriksen.

Kain yang belum susut / anggur baru menunjuk pada keselamatan / kekayaan rohani dalam Kristus. Baju baru / kantong baru menunjuk pada rasa syukur dan sukacita. Inilah sikap yang tepat untuk menerima berkat-berkat rohani di dalam Kristus.

 

4.   Anggur baru / kain yang belum susut menunjuk pada keselamatan karena iman.

Baju / kantong tua menunjuk pada keselamatan karena perbuatan baik.

2 ajaran ini tidak cocok untuk digabungkan.

 

5.         Kain yang belum susut / anggur baru menunjuk pada kekristenan.

Baju / kantong tua menunjuk pada Yudaisme / agama Yahudi.

Dua ajaran ini tidak bisa digabungkan. Yesus anti pada syncretisme (= penggabungan 2 agama atau lebih).

 

6.   Kekristenan bukanlah Yudaisme yang ditambal-tambal. Kita harus membuang sama sekali dan memulai dengan sesuatu yang baru.

 

Saya paling condong pada arti ke 5.

 

3)   Ay 39: “Dan tidak seorangpun yang telah minum anggur tua ingin minum anggur yang baru, sebab ia akan berkata: Anggur yang tua itu baik.’”.

Ayat ini tidak ada dalam Matius maupun Markus.

 

a)         Ini juga adalah ayat sukar yang mempunyai 2 macam penafsiran:

 

1.   Anggur tua menunjuk pada ajaran Yesus, karena anggur tua tidak mempunyai kemegahan seperti anggur baru. Tetapi toh anggur tua lebih enak / lebih baik dari anggur baru (ajaran orang Farisi).

Jadi, maksud Yesus dengan ay 39 ini ialah: murid-muridKu sudah mengecap ajaranKu yang lebih enak sehingga mereka pasti tidak akan mau kembali pada ajaran orang Farisi / Yudaisme (anggur baru).

Keberatan:

a.   Ajaran orang Farisi ada lebih dulu dari ajaran Yesus, sehingga aneh kalau digambarkan dengan anggur baru.

Jawab: perumpamaan ini hanya menunjukkan bahwa ajaran Yesus lebih baik dari ajaran orang Farisi, dan tidak mempersoalkan yang mana yang lebih baru atau lebih lama.

b.   Dalam ay 37-38, anggur baru menunjuk pada kekristenan / ajaran Yesus.

Jawab: ay 37-38 dan ay 39 adalah 2 perumpamaan yang berbeda / terpisah.

 

2.   Anggur tua menunjuk pada ajaran orang Farisi; anggur baru menunjuk pada ajaran Yesus. Ayat ini menyerang kekolotan orang Farisi yang tidak mau berubah / tidak mau menerima ajaran baru.

Keberatan terhadap penafsiran ini: mengapa anggur tua yang lebih enak ditujukan pada ajaran orang Farisi? Bukankah ajaran Yesus yang lebih enak?

Jawabnya: ini adalah suatu perumpamaan. Tujuannya hanya menyerang kekolotan orang Farisi tanpa mempersoalkan ajaran siapa yang lebih enak. Bandingkan dengan Luk 18:1-8 dimana Allah digambarkan sebagai hakim yang lalim.

Saya condong pada penafsiran ini.

 

Penerapan: Jangan bersikap kolot. Jangan terus berpegang pada apa yang dari dulu sudah ada dalam otak saudara. Saudara harus mau:

a.         Mengubah pikiran saudara dengan yang baru.

b.         Menambah pikiran saudara dengan yang baru.

Tetapi tentu saja ada syaratnya, yaitu ajaran yang baru itu harus sesuai dengan Kitab Suci / berdasarkan Kitab Suci! Jadi kalau saudara menerima ajaran seperti Toronto Blessing, yang tidak ada dasar Kitab Sucinya (kecuali yang dipaksakan), maka itu bukan berpikiran terbuka, tetapi justru tolol!

 

b)         Hal lain yang bisa didapatkan dari ay 39 ini.

Ay 39 akhir: ‘baik’.

NIV/KJV: ‘better’ (= lebih baik).

NASB: ‘good enough’ (= cukup baik).

RSV: ‘good’ (= baik).

KJV/NIV bisa menterjemahkan ‘better’ (= lebih baik) karena menterjemahkan dari manuscript lain yang menggunakan kata Yunani CHRESTOTEROS. Tetapi ini bukanlah manuscript yang dianggap terbaik. Manuscript yang terbaik menggunakan kata Yunani: CHRESTOS, yang berarti ‘good’ (= baik), dan sama sekali tidak menunjukkan suatu perbandingan (A. T. Robertson).

Ini menunjukkan bahwa orangnya sama sekali tidak membandingkan yang lama dan yang baru. Ia puas dengan yang lama dan menolak yang baru.

Leon Morris (Tyndale): “He is not even comparing them. He is so content with the old that he does not consider the new for a moment” (= Ia bahkan tidak membandingkan mereka. Ia begitu puas dengan yang lama sehingga ia tidak mempertimbangkan yang baru sedikitpun).

 

Penerapan:

1.   Banyak orang pada waktu diinjili berkata bahwa mereka sudah mempunyai agama. Mereka tidak mau membandingkan.

2.   Banyak orang Kristen dari aliran tertentu, pada waktu mendengar aliran yang lain, juga bersikap seperti itu (tak mau membandingkan, tetap memegang yang lama).

3.   Banyak orang kristen pada waktu diajak ke gereja lain / gereja baru, juga bersikap seperti itu. Mereka menganggap gerejanya yang lama baik, dan mereka sama sekali tidak mau mencoba yang baru / membandingkan dengan yang baru.

4.   Banyak orang kristen pada waktu mendengar di gerejanya sendiri / dari pendetanya sendiri, suatu ajaran yang berbeda / bertentangan dengan konsep / pengertian mereka selama ini, juga bersikap kolot seperti ini.

 

Ini adalah kekolotan yang menolak reformasi. Sekali percaya ini, ya percaya ini terus. Sekali agama ini, ya agama ini terus. Sekali gereja ini, ya gereja ini terus. Sekali aliran ini, ya aliran ini terus. Sekali punya konsep ini, ya konsep ini terus. Sikap ini menguntungkan, kalau dari semula saudara mendapatkan agama / ajaran / gereja / aliran yang benar. Tetapi, kalau dari semula saudara mendapatkan agama / ajaran / gereja / aliran yang sesat atau salah, maka sikap kolot semacam ini akan menyebabkan sekali sesat / salah saudara akan terus sesat / salah!

Karena itu buanglah sifat kolot semacam ini, dan maulah direformasi oleh ajaran yang Alkitabiah.

 

 

 

 

 

-AMIN-


 

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ