Kebaktian

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

 

Minggu, tgl 11 Agustus 2013, pk 17.00

 

Pdt. Budi Asali.

[HP: (031) 7064-1331 / (031) 6050-1331 / 0819-455-888-55]

Email: [email protected]

 

LUKAS 5:27-32

 

Luk 5:27-32 - “(27) Kemudian, ketika Yesus pergi ke luar, Ia melihat seorang pemungut cukai, yang bernama Lewi, sedang duduk di rumah cukai. Yesus berkata kepadanya: ‘Ikutlah Aku!’ (28) Maka berdirilah Lewi dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Dia. (29) Dan Lewi mengadakan suatu perjamuan besar untuk Dia di rumahnya dan sejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain turut makan bersama-sama dengan Dia. (30) Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus, katanya: ‘Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?’ (31) Lalu jawab Yesus kepada mereka, kataNya: ‘Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; (32) Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.’”.

 

I) Yesus memanggil Lewi.

 

1)   Orang yang bernama ‘Lewi’ dalam ay 27 ini sama dengan ‘Matius’ dalam Mat 9:9. Ia nanti menjadi rasul dan ialah yang menulis Injil Matius.

Ia adalah orang Yahudi yang bekerja sebagai pemungut cukai (ay 27). Pada jaman itu pemungut cukai dibenci dan dianggap hina oleh masyarakat. Hal ini terlihat dari fakta dalam Kitab Suci bahwa pemungut cukai sering dikelompokkan / dianggap sama dengan ‘orang berdosa’ (ay 30b  7:34  15:1-2  18:11  19:7). Mengapa mereka dibenci / dianggap hina? Karena mereka bekerja sebagai penagih pajak untuk pemerintah Romawi (yang adalah penjajah dan orang kafir), dan pada waktu menagih pajak, pemungut cukai ini memeras rakyat dengan cara menaikkan pajak dan mengkorupsi kelebihannya.

 

2)   Yesus memanggil Lewi / Matius:

 

a)   Yesus memanggil seorang pemungut cukai yang adalah orang yang hina.

Bdk. 1Kor 1:26-29 - “(26) Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang. (27) Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, (28) dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, (29) supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah.”.

Penerapan:

1.   Kalau saudara adalah orang yang dianggap hina oleh masyarakat, janganlah takut untuk datang kepada Yesus!

2.   Jangan takut / enggan memberitakan Injil kepada orang yang hina / brengsek! Kalau di sini Kristus memanggil orang yang hina, maka kita juga harus mau dipakai sebagai alatNya untuk memberitakan Injil kepada orang yang hina!

3.   Ini tak berarti yang bodoh boleh tetap bodoh, yang hina boleh tetap hina. Kalau kita bisa meningkatkan diri, tentu itu harus dilakukan.

 

b)   Lewi / Matius dipanggil oleh Yesus pada waktu ia ada di rumah cukai.

Ia masih ada di dalam dosa (sebetulnya pekerjaan sebagai penagih pajak bukanlah dosa, tetapi tindakan korupsinya jelas adalah dosa). Tetapi ia toh dipanggil oleh Yesus. Ini menunjukkan kasih Allah kepada orang berdosa!

 

c)   Yesus memanggil: ‘Ikutlah Aku (ay 27b).

1.   Yang harus kita ikuti adalah Yesus, bukan hamba Tuhan manapun juga.

Karena itu, mengikuti hamba Tuhan tertentu hanya boleh kita lakukan selama hamba Tuhan itu mengikut Yesus.

Bdk. 1Kor 11:1 - “Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus.”.

2.   Calvin berpendapat bahwa Yesus pasti berkhotbah panjang lebar pada waktu memanggil Lewi / Matius. Kata-kata ‘Ikutlah Aku’ hanyalah ringkasan / inti dari kata-kata Yesus.

 

3)   Lewi / Matius meninggalkan segala sesuatu (ay 28).

Ay 28: “Maka berdirilah Lewi dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Dia.”.

 

a)   Ini kontras sekali dengan sikap pemuda kaya dalam Mat 19:22.

Mat 19:22 - “Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya.”.

 

b)   Waktu Lewi / Matius mengikut Yesus ia mendapat sesuatu (damai, sukacita, dsb), tetapi ia juga kehilangan sesuatu (pekerjaan, harta, teman-teman, dsb). Kalau kita mau ikut Yesus kita akan mengalami hal yang sama. Harus ada kemauan untuk mengorbankan sesuatu!

 

c)   Panggilan Tuhan harus lebih diutamakan dari apapun juga!

Pekerjaan pemungut cukai sebetulnya bukanlah dosa kalau dilakukan dengan benar. Ini terlihat dari fakta bahwa:

1.   Yesus tidak menyuruh Zakheus meninggalkan pekerjaannya sebagai pemungut cukai (Luk 19:1-10).

2.   Yohanes Pembaptis tidak menyuruh pemungut cukai meninggalkan pekerjaannya (Luk 3:12-13).

Tetapi untuk Lewi / Matius, pekerjaan itu tidak memungkinkan ia memenuhi panggilan Tuhan, sehingga pekerjaan itu harus ditinggalkan. Di sini kita bisa mempelajari sesuatu yang penting: panggilan Tuhan harus diutamakan lebih dari segala sesuatu, baik itu:

a.   Pekerjaan / bisnis.

b.   Study.

c.   Keluarga, dsb!

 

II) Lewi mengadakan pesta.

 

1)   Lewi / Matius mengadakan pesta.

Ay 29: “Dan Lewi mengadakan suatu perjamuan besar untuk Dia di rumahnya dan sejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain turut makan bersama-sama dengan Dia.”.

Ini mungkin merupakan pesta perpisahan dengan teman-temannya, tetapi jelas juga merupakan tanda syukur Matius dan sekaligus usaha Matius untuk memperkenalkan teman-temannya kepada Yesus.

 

a)   Orang yang sudah diampuni pasti mempunyai keinginan untuk membawa orang lain kepada Yesus. Adakah keinginan itu ada pada saudara?

 

b)   Lewi / Matius berusaha memperkenalkan teman-temannya dengan Yesus melalui pesta di rumahnya.

Penerapan: mengadakan persekutuan di rumah jemaat merupakan sesuatu yang penting untuk bisa mendapatkan jiwa. Tetapi ada hal-hal yang harus diperhatikan supaya pemberitaan dan penerimaan Firman bisa terjadi dengan baik:

1.   Ketenangan.

Gangguan / keributan dari telpon, anak kecil, orang yang terlambat dan orang yang mengatur makanan harus bisa diatasi, khususnya pada saat Firman Tuhan diberitakan!

2.   Kebutuhan pengkhotbah dalam memberitakan Firman juga harus diperhatikan, seperti meja yang cukup tinggi untuk meletakkan Kitab Suci / catatan khotbah, mike dan stand untuk mike, lampu / penerangan secukupnya, dsb.

 

2)   Yesus ikut dalam pesta itu.

Ay 30: “Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus, katanya: ‘Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?’”.

 

a)   Ini menunjukkan bahwa pesta bukanlah dosa. Orang kristen tidak pernah diperintah oleh Tuhan untuk menjauhi dunia sedemikian rupa sehingga menjadi seorang pertapa!

 

b)   Ini menunjukkan bahwa Yesus berkumpul / bergaul dengan orang-orang berdosa.

Ini kontras dengan sikap orang-orang Farisi yang menjauhi orang berdosa. Kita memang harus mau bergaul dengan orang berdosa / bejat, tetapi tetap ada batas-batasnya. Kalau pergaulan saudara dengan orang berdosa itu menyebabkan saudara jatuh ke dalam dosa, maka saudara harus menghindari pergaulan itu. Misalnya: ex perokok sebaiknya tidak bergaul dengan perokok!

 

III) Pertentangan Yesus dan orang Farisi / ahli Taurat.

 

1)   Orang Farisi dan ahli Taurat pasti tidak ikut dalam pesta ini.

Mereka menganggap diri mereka lebih baik dari orang lain (Luk 18:9) dan menganggap bahwa kalau mereka berkumpul atau bergaul dengan orang berdosa, maka mereka akan menjadi najis. Jadi mungkin sekali ay 30-32 terjadi setelah pesta selesai.

 

2)   Mereka mengkritik Yesus yang berkumpul dan bergaul dengan orang berdosa (ay 30).

Ay 30: “Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus, katanya: ‘Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?’”.

Mereka memang pintar mengecam dosa, tetapi mereka tidak berusaha mempertobatkan orang berdosa itu. Mereka seperti seorang dokter yang hanya mau mendiagnose pasiennya dari jauh, tetapi tidak mau mendekati pasiennya dan tidak punya keinginan untuk mengobati / menyembuhkan pasiennya.

 

3)   Jawaban Yesus.

Ay 31-32: “(31) Lalu jawab Yesus kepada mereka, kataNya: ‘Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; (32) Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.’”.

 

a)   Yesus tidak mendiamkan kritik itu ataupun menurutinya, karena kritik itu salah!

Ini mengajar orang kristen untuk tidak selalu diam pada waktu mendapatkan kritikan yang salah, dan juga untuk tidak menuruti kritik yang salah!

Illustrasi: Ada bapak dan anak yang pergi ke pasar untuk menjual keledainya. Mula-mula mereka berdua berjalan sambil menuntun keledainya. Lalu ada orang lewat mengkritik: ‘Bodoh sekali, punya keledai tetapi tidak ditunggangi’. Mereka menuruti kritik itu dan lalu mereka berdua naik ke atas keledai itu. Orang lain lalu mengkritik: ‘Tidak punya peri kebinatangan, keledai satu dinaiki 2 orang’. Lalu bapaknya menyuruh anaknya turun dari keledai sedang ia sendiri tetap duduk di atas keledai. Orang lain mengkritik: ‘Bapak tidak tahu diri. Anak kecil disuruh jalan, dia sendiri enak-enak naik keledai’. Lalu bapaknya turun dari keledai, dan anaknya yang naik keledai. Orang lain mengkritik lagi: ‘Anak kurang ajar. Bapaknya yang tua disuruh jalan, ia sendiri enak-enak naik keledai’. Akhirnya bapak dan anak itu memikul keledai itu!

Kalau saudara adalah orang yang selalu menuruti kritik, maka saudara akan menjadi seperti bapak dan anak itu.

 

b)   Arti yang salah.

1.   Bagian ini tidak berarti bahwa manusia cuma sakit secara rohani. Kitab Suci mengatakan bahwa manusia berdosa itu mati secara rohani.

Ef 2:1 - “Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu.”.

Perumpamaan Yesus di sini tidak boleh diartikan sehingga keluar dari tujuannya / fokusnya!

2.   Bagian ini juga tidak berarti bahwa manusia di dunia ini ada orang benar / tak berdosa (bdk. Ro 3:10-12,23). Yang dimaksud oleh Yesus dengan ‘orang benar’ adalah ‘orang berdosa yang merasa dirinya benar’.

 

c)   Bagian ini memberi kita pelajaran dalam persoalan pergaulan.

Bagian ini menunjukkan bahwa Yesus mau bergaul dengan orang berdosa dengan tujuan mempertobatkan mereka.

 

1.   Ini sekaligus merupakan teguran / serangan terhadap sikap orang Farisi dan Ahli Taurat yang tidak mau bergaul dengan orang berdosa.

 

2.   Tetapi ini juga menunjukkan bahwa kita tidak boleh sembarangan bergaul dengan orang berdosa.

1Kor 15:33 - “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.”.

Kita bergaul dengan mereka untuk mempertobatkan mereka! Pada saat Yesus bergaul dengan orang berdosa, Ia tidak menjadi kawan mereka dalam dosa, tetapi Ia menjadi ‘tabib’ bagi mereka!

Pulpit Commentary:

a.   “Association with bad men on the ground of friendship is an unchristian thing. The Pharisees would have been right enough if Jesus Christ had mingled with the mercenary and the vicious only to enjoy their company” (= Pergaulan dengan orang jahat berdasarkan persahabatan adalah sesuatu yang tidak kristiani. Orang Farisi itu cukup benar andaikata Yesus Kristus bercampur dengan orang yang hanya menginginkan uang dan orang jahat hanya untuk menikmati kebersamaan dengan mereka).

b.   “Association with the bad for their elevation is a distinctly Christian thing” (= Pergaulan dengan orang jahat untuk peninggian mereka jelas merupakan suatu hal yang kristiani).

 

d)   Bagian ini mengajar kita dalam persoalan penginjilan:

 

1.   Kalau saudara berhadapan dengan orang yang putus asa melihat banyaknya dan besarnya dosa-dosanya. Dengan menggunakan ay 31-32 beritahu orang itu bahwa Yesus justru mencari orang seperti Dia. Tambahkan juga Yoh 6:37 untuk menunjukkan bahwa kalau Ia mau datang kepada Yesus, ia pasti tidak akan ditolak.

Yoh 6:37 - “Semua yang diberikan Bapa kepadaKu akan datang kepadaKu, dan barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak akan Kubuang.”.

 

Calvin: “We have no reason to fear that Christ will reject sinners, to call whom he descended from his heavenly glory” (= Kita tidak punya alasan untuk takut bahwa Kristus akan menolak orang berdosa, untuk memanggil siapa Ia sudah turun dari kemuliaan surgawinya).

 

2.   Kalau saudara berhadapan dengan orang yang membanggakan kebaikannya. Beritahu dia, bahwa kalau ia merasa diri baik, Yesus justru tidak mencari dia, sehingga ia pasti akan binasa dalam neraka!

Calvin: “We are reminded that the grace of Christ is of no advantage to us, unless when, conscious of our sins, and groaning under their load, we approach to him with humility” (= Kita diingatkan bahwa kasih karunia Kristus tidak berguna bagi kita, kecuali kalau karena sadar akan dosa-dosa kita, dan mengerang / merintih di bawah beban dosa-dosa itu, kita mendekati / mendatangi Dia dengan kerendahan hati).

 

Dari sini bisalah kita simpulkan bahwa peneguran dosa adalah sesuatu yang sangat penting! Karena itu maulah mendengar khotbah yang menegur dosa saudara!

 

e)         Dalam akhir dari ay 32 ada kata-kata: ‘supaya mereka bertobat’.

Ini adalah sesuatu yang penting. Yesus memang mengasihi orang berdosa dan mau menerima mereka. Tetapi mereka harus bertobat dari segala dosa mereka dan berbalik kepada Tuhan!

Ini merupakan sesuatu yang harus ditekankan dalam memberitakan Injil. Jangan hanya memberitakan bahwa orang yang percaya kepada Yesus akan diampuni dan masuk surga. Beritakan juga bahwa orang yang mau ikut Yesus harus mau bertobat!

 

Calvin: “But we must also attend to the expression, ‘to repentance’: which is intended to inform us that pardon is granted to us, not to cherish our sins, but to recall us to the earnestness of a devout and holy life” (= Tetapi kita juga harus memperhatikan pernyataan ‘kepada pertobatan / supaya mereka bertobat’: yang dimaksudkan untuk memberitahu kita bahwa pengampunan diberikan kepada kita, bukan untuk memelihara dosa-dosa kita, tetapi untuk mengembalikan kita pada kesungguhan dari hidup yang saleh dan kudus).

 

Penutup.

 

Kita selalu perlu mengingat akan kasih karunia Tuhan kepada orang berdosa. Kalau tidak, kita semua tak layak untuk datang kepada Tuhan. Tetapi pada saat yang sama kita juga harus mengingat bahwa Tuhan memberi kasih karunia, dengan tujuan supaya kita bertobat dari dosa, dan karena itu kita harus berjuang untuk membuang semua dosa!

 

 

-AMIN-


 

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ