Kebaktian

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

 

Minggu, tgl 26 Mei 2013, pk 17.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

[HP: (031) 7064-1331 / (031) 6050-1331 / 0819-455-888-55]

Email: [email protected]

 

Lukas 4:14-30

 

Luk 4:14-30 - “(14) Dalam kuasa Roh kembalilah Yesus ke Galilea. Dan tersiarlah kabar tentang Dia di seluruh daerah itu. (15) Sementara itu Ia mengajar di rumah-rumah ibadat di situ dan semua orang memuji Dia. (16) Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaanNya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab. (17) KepadaNya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibukaNya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis: (18) ‘Roh Tuhan ada padaKu, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku (19) untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.’ (20) Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepadaNya. (21) Lalu Ia memulai mengajar mereka, kataNya: ‘Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.’ (22) Dan semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkanNya, lalu kata mereka: ‘Bukankah Ia ini anak Yusuf?’ (23) Maka berkatalah Ia kepada mereka: ‘Tentu kamu akan mengatakan pepatah ini kepadaKu: Hai tabib, sembuhkanlah diriMu sendiri. Perbuatlah di sini juga, di tempat asalMu ini, segala yang kami dengar yang telah terjadi di Kapernaum!’ (24) Dan kataNya lagi: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya. (25) Dan Aku berkata kepadamu, dan kataKu ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri. (26) Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon. (27) Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorangpun dari mereka yang ditahirkan, selain dari pada Naaman, orang Siria itu.’ (28) Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu. (29) Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu. (30) Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi.”.

 

I) Pelayanan Yesus.

 

1)   Di sini Yesus mulai pelayanan.

Yesus berkata bahwa Ia datang untuk melayani, bukan untuk dilayani.

Mat 20:28 - “sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang.’”.

Bagaimana dengan saudara?

 

2)   Peristiwa penolakan terhadap Yesus di Nazaret.

a)   Oleh Lukas diceritakan pada awal pelayanan Yesus.

b)   Oleh Matius dan Markus diceritakan bukan pada awal pelayanan Yesus, tetapi agak belakangan (Mat 13:53-58  Mark 6:1-6).

 

Yang benar adalah Matius dan Markus, karena Luk 4:23 jelas menunjukkan bahwa sebelum peristiwa ini, Yesus sudah melayani di Kapernaum.

Luk 4:23 - “Maka berkatalah Ia kepada mereka: ‘Tentu kamu akan mengatakan pepatah ini kepadaKu: Hai tabib, sembuhkanlah diriMu sendiri. Perbuatlah di sini juga, di tempat asalMu ini, segala yang kami dengar yang telah terjadi di Kapernaum!’”.

 

Dalam Matius Yesus sudah melayani di Kapernaum dalam Mat 4:13  8:5  11:23 dan dalam Markus dalam Mark 1:21  2:1, sedangkan dalam Lukas baru dalam Luk 7:1  10:15.

Lukas bukan salah, tetapi lagi-lagi tidak menceritakan secara khronologis. Tidak diketahui dengan pasti mengapa Lukas menceritakan peristiwa ini di awal pelayanan Yesus, tetapi mungkin untuk menunjukkan sikap umum terhadap pelayanan Yesus.

 

3)   Yesus melayani dalam rumah-rumah ibadat / synagogue (ay 15-16).

Ay 15-16: “(15) Sementara itu Ia mengajar di rumah-rumah ibadat di situ dan semua orang memuji Dia. (16) Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaanNya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab.”.

 

a)   Yesus mempunyai kebiasaan untuk pergi ke synagogue pada hari Sabat, dan melayani di sana (ay 16).

Ini kebiasaan yang baik yang harus ditiru; jangan biasakan sebaliknya.

Bdk. Ibr 10:24-25 - “(24) Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. (25) Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.”.

 

b)   Calvin: “When God commanded his people to abstain from working on that day, it was not that they might give themselves up to indolent repose, but, on the contrary, that they might exercise themselves in meditating on his works” [= Pada waktu Allah memerintahkan umatNya untuk tidak bekerja pada hari itu (hari Sabat), maka tujuannya bukannya supaya mereka bisa bermalas-malasan, tetapi sebaliknya, supaya mereka bisa melatih diri mereka dalam merenungkan pekerjaanNya].

 

c)   Kalau saudara membaca pelayanan Yesus dan rasul-rasul maka saudara akan melihat bahwa mereka banyak melayani di Bait Allah dan synagogue. Karena itu pada jaman sekarang, kita juga mesti mempunyai pelayanan yang bersifat ‘church-centered’ (= berpusatkan gereja).

Contoh pelayanan yang tidak bersifat church-centered (= berpusatkan gereja) adalah persekutuan-persekutuan yang terpisah sama sekali dari gereja.

 

d)   Yesus bisa diijinkan berkhotbah di synagogue, karena dalam synagogue memang ada kebebasan berkhotbah. Jadi, kalau pemimpin synagogue melihat seseorang yang ia anggap bisa berkhotbah, maka ia mengijinkan orang itu berkhotbah.

Bdk. Kis 13:15 - “Setelah selesai pembacaan dari hukum Taurat dan kitab nabi-nabi, pejabat-pejabat rumah ibadat menyuruh bertanya kepada mereka: ‘Saudara-saudara, jikalau saudara-saudara ada pesan untuk membangun dan menghibur umat ini, silakanlah!’”.

 

4)   Penekanan utama dalam pelayanan Yesus adalah pemberitaan Firman Tuhan (ay 15-21).

Ay 15-21: “(15) Sementara itu Ia mengajar di rumah-rumah ibadat di situ dan semua orang memuji Dia. (16) Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaanNya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab. (17) KepadaNya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibukaNya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis: (18) ‘Roh Tuhan ada padaKu, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku (19) untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.’ (20) Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepadaNya. (21) Lalu Ia memulai mengajar mereka, kataNya: ‘Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.’”.

 

Karena itu, dalam kita melayani Tuhan, kitapun harus sangat menekankan pemberitaan Firman Tuhan. Kalaupun kita sendiri tidak bisa memberitakan Firman Tuhan, kita harus melakukan segala sesuatu yang bisa kita lakukan untuk mendukung pelayanan pemberitaan Firman Tuhan, seperti mendoakan dan mendukung dalam keuangan.

 

II) Pemberitaan Firman Tuhan oleh Yesus.

 

1)   Yesus berdiri pada waktu membacakan Kitab Suci (ay 16), tetapi duduk pada waktu berkhotbah (ay 20).

Ay 16,20: “(16) Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaanNya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab. ... (20) Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepadaNya.”.

Ini memang kebiasaan saat itu. Berdiri menunjukkan sikap hormat pada Firman Tuhan. Berkhotbah biasanya dilakukan dengan duduk (bdk. Kis 16:13), tetapi kadang-kadang juga dilakukan dengan berdiri (Kis 13:16).

Kis 16:13 - “Pada hari Sabat kami ke luar pintu gerbang kota. Kami menyusur tepi sungai dan menemukan tempat sembahyang Yahudi, yang sudah kami duga ada di situ; setelah duduk, kami berbicara kepada perempuan-perempuan yang ada berkumpul di situ.”.

Kis 13:16 - “Maka bangkitlah Paulus. Ia memberi isyarat dengan tangannya, lalu berkata: ‘Hai orang-orang Israel dan kamu yang takut akan Allah, dengarkanlah!”.

 

Jadi, sikap duduk atau berdiri ini sebetulnya tidak mutlak, yang penting adalah: dalam hati kita menghormati Firman Tuhan! Ini berlaku untuk orang yang menyampaikan firman, maupun yang menerima firman.

 

Penerapan: Kalau saudara mengantuk atau berbicara satu sama lain, atau membiarkan anak saudara ribut / berlari-lari pada waktu Firman Tuhan diberitakan, jelas bahwa saudara tidak menghormati Firman Tuhan! Lebih-lebih kalau setelah mendengar Firman Tuhan saudara lalu berkata: ‘Ah itu kan kata-katanya pendeta’, dan saudara tidak mau mentaatinya!

 

2)   Ay 18-19 diambil dari Yes 61:1-2.

Ay 18-19: “(18) ‘Roh Tuhan ada padaKu, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku (19) untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.’”.

Yes 61:1-2 - “(1) Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena TUHAN telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara, (2) untuk memberitakan tahun rahmat TUHAN dan hari pembalasan Allah kita, untuk menghibur semua orang berkabung,”.

 

a)   Di sini digunakan istilah ‘orang miskin’, ‘tawanan’, ‘orang buta’, ‘orang yang tertindas’, dan juga ‘pembebasan’, ‘penglihatan’, ‘membebaskan’.

 

1.   Ini jelas dalam arti rohani, bukan jasmani! Ini terlihat dari:

a.   Kis 26:17b-18 - “(17b) Dan Aku akan mengutus engkau kepada mereka, (18) untuk membuka mata mereka, supaya mereka berbalik dari kegelapan kepada terang dan dari kuasa Iblis kepada Allah, supaya mereka oleh iman mereka kepadaKu memperoleh pengampunan dosa dan mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang yang dikuduskan.”.

b.   Peristiwa dimana Yohanes Pembaptis masuk penjara, dan Kristus tidak membebaskannya (Mat 11:2-6). Ini menunjukkan bahwa bagian ini tidak bisa diartikan secara jasmani.

 

2.   Istilah ‘orang miskin’, ‘tawanan’, ‘orang buta’, dan ‘orang yang tertindas’, menunjukkan keadaan manusia tanpa Kristus.

 

Calvin: “The prophet shows what would be the state of the Church before the manifestation of the Gospel, and what is the condition of all of us without Christ” (= Sang nabi menunjukkan bagaimana keadaan Gereja sebelum manifestasi Injil, dan bagaimana keadaan semua kita tanpa Kristus).

Kita harus sadar bahwa tanpa Kristus keadaan kita secara rohani betul-betul buruk! Kalau kita tidak sadar hal ini, kita tidak akan datang kepada Kristus.

Bdk. Wah 3:17-18 - “(17) Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang, (18) maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari padaKu emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat.”.

 

b)         ‘Untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang’ (ay 19b).

Arti: Kristus datang sesuai dengan waktu yang Tuhan tetapkan.

Bdk. Gal 4:4 - “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus AnakNya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat.”.

 

3)   Ay 21 memberikan inti khotbah Yesus.

Ay 21: “Lalu Ia memulai mengajar mereka, kataNya: ‘Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.’”.

Dengan kata-kata ini Ia memaksudkan bahwa Mesias yang digambarkan oleh Yes 61:1-2 itu adalah diriNya sendiri.

 

III) Reaksi terhadap khotbah Yesus.

 

1)   Pada waktu Ia berkhotbah di daerah Galilea, semua orang memuji Dia (ay 15).

Ay 15: “Sementara itu Ia mengajar di rumah-rumah ibadat di situ dan semua orang memuji Dia.”.

 

2)   Pada waktu Ia berkhotbah di Nazaret, sikap pendengarNya adalah seperti dalam ay 22.

Ay 22: “Dan semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkanNya, lalu kata mereka: ‘Bukankah Ia ini anak Yusuf?’”.

 

a)         Mereka ‘membenarkan Dia’ (ay 22). Ini salah terjemahan.

NIV: ‘speaking well of Him’ (= berbicara baik tentang Dia).

NASB: ‘spoke well of Him’ (= berbicara baik tentang Dia).

Lit: ‘bore witness to Him’ (= memberi kesaksian kepadaNya).

Tidak terlalu jelas apa yang dimaksud oleh bagian ini.

 

b)         ‘Mereka heran akan kata-kata indah yang diucapkanNya’ (ay 22).

1.   ‘kata-kata yang indah’.

Lit: ‘words of grace’ (= kata-kata kasih karunia).

Artinya: penuh kasih, tidak seperti ahli Taurat yang tidak berperasaan, atau, Ia mengucapkannya dengan cara yang menarik.

2.   Ingat bahwa mereka bukannya kagum, tetapi heran.

 

c)   Mereka berkata: ‘Bukankah Ia ini anak Yusuf?’ (ay 22  bdk. Mat 13:55-57  Mark 6:3).

Mereka tidak bisa menerima bahwa Yesus, ‘anak Yusuf’ yang dari kecil bersama dengan mereka, adalah Mesias yang ditunggu-tunggu selama ribuan tahun.

Calvin: “The inhabitants of Nazareth are thus compelled to acknowledge and admire God speaking in Christ; and yet they voluntarily refuse to render to the heavenly doctrine of Christ the honour which it deserves” (= Karena itu penduduk Nazaret terpaksa mengakui dan mengagumi Allah berbicara dalam Kristus; tetapi mereka secara sukarela menolak untuk memberikan kepada ajaran surgawi dari Kristus hormat yang layak didapatkannya) - hal 230-231.

 

IV) Penolakan terhadap Yesus.

 

1)   Kata-kata Yesus (ay 23-27).

 

a)   Ay 23: “Maka berkatalah Ia kepada mereka: ‘Tentu kamu akan mengatakan pepatah ini kepadaKu: Hai tabib, sembuhkanlah diriMu sendiri. Perbuatlah di sini juga, di tempat asalMu ini, segala yang kami dengar yang telah terjadi di Kapernaum!’”.

Seorang tabib sering disuruh untuk membuktikan kehebatannya dengan menyembuhkan dirinya sendiri (dekat), baru menyembuhkan orang lain (jauh). Tetapi Yesus melakukan mujijatNya di Kapernaum (jauh), dan karena itu mereka ingin Yesus membuktikan kehebatanNya dengan melakukan mujijat di Nazaret (dekat).

Tetapi Yesus menanggapi semua ini bukan dengan menuruti keinginan mereka akan mujijat, tetapi sebaliknya ‘menyikat’ mereka dengan keras (ay 24-27).

 

b)   Ay 24: “Dan kataNya lagi: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.”.

1.   Sekalipun Yesus tahu hal ini, tetapi Ia tetap pergi ke Nazaret dan memberitakan Firman Tuhan di sana. Karena itu kitapun wajib memberitakan Injil di tempat asal kita (rumah kita / keluarga kita).

2.   Tyndale: “People are always more ready to see greatness in strangers than in those they know well” (= Manusia selalu lebih siap untuk melihat kebesaran dalam diri orang asing dari pada dalam diri orang yang mereka kenal dengan baik).

Barclay mengatakan bahwa dalam bahasa Inggris ada pepatah yang serupa, yaitu: ‘Familiarity breeds contempt’ (= Keakraban membiakkan sikap menghina / memandang rendah).

3.   Secara implicit kata-kata Yesus ini menunjukkan bahwa seorang nabi harus dihormati (bdk. Mat 10:40-41  1Tim 5:17), bahkan di tempat asalnya.

Mat 10:40-41 - “(40) Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku. (41) Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar.”.

1Tim 5:17 - “Penatua-penatua yang baik pimpinannya patut dihormati dua kali lipat, terutama mereka yang dengan jerih payah berkhotbah dan mengajar.”.

William Hendriksen: “That is the way it is, but not the way it should be” (= Keadaannya memang seperti itu, tetapi tidak seharusnya seperti itu).

4.   Perkataan Yesus ini adalah suatu ‘amsal’, yang digunakan untuk menyatakan sesuatu yang sekalipun sering benar, tetapi tidak selalu benar. Jadi, kalau ada nabi yang ternyata dihormati di tempat asalnya, itu tidak berarti kata-kata Yesus ini salah.

 

c)         Yesus memberikan 2 contoh:

1.   Contoh Elia dan janda di Sarfat (ay 25-26).

Ay 25-26: “(25) Dan Aku berkata kepadamu, dan kataKu ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri. (26) Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon.”.

‘Tiga tahun dan enam bulan’ dalam ay 25 tidak bertentangan dengan ‘pada tahun yang ketiga’ dalam 1Raja 18:1, karena 1Raja 18:1 menunjukkan lamanya Elia ada di rumah janda di Sarfat, dan tidak mencakup lamanya waktu selama Elia ada di tepi Sungai Kerit (1Raja 17:1-6).

2.   Contoh Elisa dan Naaman (ay 27).

Ay 27: “Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorangpun dari mereka yang ditahirkan, selain dari pada Naaman, orang Siria itu.’”.

Kedua contoh ini sama-sama menunjukkan bahwa nabi Tuhan diutus ke tempat yang jauh. Tuhan berhak mengutus nabiNya kemanapun Ia mau, baik jauh ataupun dekat. Tetapi kedua contoh ini juga terjadi karena ‘yang dekat’ itu brengsek.

 

2)   Reaksi orang Nazaret:

Kata-kata Yesus itu secara implicit menunjukkan bahwa mereka itu brengsek, bahkan lebih brengsek dari orang kafir / non Yahudi, dan ini menyebabkan mereka menjadi marah, dan bahkan mau membunuh Yesus (ay 28-29).

Ay 28-29: “(28) Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu. (29) Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu.”.

Hati-hati supaya saudara tidak menanggapi Firman dengan sikap marah seperti ini. Ini bertentangan dengan Yak 1:19-20!

 

Yak 1:19-20 - “(19) Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; (20) sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.”.

 

3)   Yesus berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi (ay 30).

Ay 30: “Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi.”.

 

a)         Tak jelas apa yang terjadi di sini. Ada yang mengatakan ini mujijat.

Calvin: “This example teaches us that, though our adversaries may prevail so far, that our life may seem to be placed at their disposal, yet that the power of God will always be victorious to preserve us, so long as he shall be pleased to keep us in the world, either by tying their hands, or by blinding their eyes, or by stupifying their minds and hearts” [= Contoh ini mengajar kita bahwa sekalipun musuh-musuh kita menang, dan hidup kita kelihatannya ada dalam tangan mereka, tetapi kuasa Allah akan selalu menang dalam menjaga kita, selama Ia masih menginginkan kita dalam dunia ini, atau dengan mengikat tangan mereka, atau dengan membutakan mata mereka, atau dengan membuat pikiran dan hati mereka jadi bodoh / tertegun (Jawa: ketenggengen)].

 

b)         Sedikitpun tak terlihat bahwa Yesus takut.

Waktu dicobai oleh setan untuk meloncat dari bubungan Bait Allah berdasarkan Maz 91:11-12 (Luk 4:9-11), Yesus menolak. Tetapi sekarang memang merupakan waktu yang tepat untuk bersandar pada Maz 91:11-12 itu, dan Yesus melakukannya.

 

c)   Tyndale: “As far as is known Jesus never returned to Nazareth. Rejection can be final” (= Sepanjang yang diketahui Yesus tidak pernah kembali ke Nazaret. Penolakan bisa merupakan yang terakhir).

 

V) Apa yang bisa kita pelajari dari sini?

 

1)   Sikap mereka terhadap Yesus / pemberita Firman berkembang makin lama makin jelek.

Ay 15,22,28-29: “(15) Sementara itu Ia mengajar di rumah-rumah ibadat di situ dan semua orang memuji Dia. ... (22) Dan semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkanNya, lalu kata mereka: ‘Bukankah Ia ini anak Yusuf?’ ... (28) Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu. (29) Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu.”.

 

Perhatikan dan jaga sikap saudara terhadap pemberita Firman!

Ingat bahwa setan selalu berusaha untuk membuat saudara tidak senang kepada pemberita Firman, dan dengan demikian saudara tidak akan bisa mendengar Firman.

 

2)   Orang yang kelihatannya rindu Firman, sebetulnya belum tentu rindu Firman.

Ay 20 menunjukkan bahwa mereka kelihatannya rindu Firman, tetapi pada waktu Firman diberitakan, dan tidak sesuai dengan keinginan mereka, maka mereka menjadi marah (ay 28-29).

Ay 20,28-29: “(20) Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepadaNya. ... (28) Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu. (29) Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu.”.

Jadi sebetulnya mereka hanya ingin mendengar Firman yang sesuai dengan pandangan mereka!

 

3)   Persoalan / serangan sering muncul kalau:

 

a)         Ada pemberitaan tentang Yesus (ay 16-22).

Ajaran yang hanya menyangkut etika dan moral, tidak akan terlalu menimbulkan persoalan, karena setan tidak terlalu pusing dengan hal itu. Tetapi pemberitaan tentang Yesus sebagai Mesias, Juruselamat, Tuhan, satu-satunya jalan ke surga, pasti diserang oleh setan.

 

b)   Ada teguran dosa yang menyatakan pendengar sebagai brengsek (ay 24-29).

Kalau saudara sering marah pada waktu mendengar teguran dari Firman, maka ingat bahwa Kitab Suci mengatakan bahwa orang yang membenci teguran adalah dungu.

Amsal 12:1 - “Siapa mencintai didikan, mencintai pengetahuan; tetapi siapa membenci teguran, adalah dungu.”.

Amsal 15:12,32 - “(12) Si pencemooh tidak suka ditegur orang; ia tidak mau pergi kepada orang bijak. ... (32) Siapa mengabaikan didikan membuang dirinya sendiri, tetapi siapa mendengarkan teguran, memperoleh akal budi.”.

Amsal 17:10 - “Suatu hardikan lebih masuk pada orang berpengertian dari pada seratus pukulan pada orang bebal.”.

 

4)   Pada waktu ada serangan, belum tentu yang salah adalah pemberita Firman. Dan kalau pemberita Firman tidak salah, maka ia tidak boleh mundur karena ada serangan!

 

 

 

 

 

-AMIN-


 

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ