Kebaktian

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

 

Minggu, tgl 21 April 2013, pk 17.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

[HP: (031) 7064-1331 / (031) 6050-1331 / 0819-455-888-55]

Email: [email protected]

 

LUKAS 3:21-22

 

Luk 3:21-22 - “(21) Ketika seluruh orang banyak itu telah dibaptis dan ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit (22) dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atasNya. Dan terdengarlah suara dari langit: ‘Engkaulah AnakKu yang Kukasihi, kepadaMulah Aku berkenan.’”.

 

I) Mengapa Yesus dibaptis?

 

1)   Bukan untuk pertobatan / pengakuan dosa.

Baptisan Yohanes memang adalah baptisan pertobatan (Kis 19:4 - ‘a baptism of repentance’ - NIV) untuk menerima pengampunan dosa (Luk 3:3), dan karena itu semua yang dibaptis mengaku dosa (Mat 3:6). Tetapi Yesus berbeda. Ia tidak mengaku dosa pada saat dibaptis, karena Ia memang tidak berdosa. Kalau Ia berdosa, Ia tidak bisa menjadi Penebus / Juruselamat kita.

 

2)   Penyamaan diri dengan manusia yang berdosa.

Ay 21: “Ketika seluruh orang banyak itu telah dibaptis dan ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit”.

Seluruh orang banyak dibaptis, Yesus juga. Ini suatu penyamaan diri dengan orang banyak. Ini menunjukkan kerendahan hati Tuhan Yesus, dan penyamaan diri ini penting untuk bisa melayani mereka.

Bdk. 1Kor 9:19-22 - “(19) Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang. (20) Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat. (21) Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat. (22) Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka.”.

 

3)   Untuk menggenapkan ‘seluruh kebenaran’ (Mat 3:15).

Mat 3:15 - “Lalu Yesus menjawab, kataNya kepadanya: ‘Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.’ Dan Yohanespun menurutiNya.”.

Mat 3:15 terjemahannya salah; kata-kata ‘kehendak Allah’ seharusnya adalah ‘kebenaran’, tetapi ‘kebenaran’ di sini memang bisa diartikan sebagai ‘kehendak / perintah Allah’.

Yang harus diperhatikan di sini adalah kata ‘seluruh’. Ini menunjukkan bahwa kita harus taat pada semua perintah Allah, tidak boleh pilih-pilih.

Renungkan: adakah perintah Tuhan yang saudara anak tirikan dalam pelaksanaannya?

 

4)   Menggenapi janji Allah kepada Yohanes Pembaptis (Yoh 1:31-34).

Yoh 1:31-34 - “(31) Dan aku sendiripun mula-mula tidak mengenal Dia, tetapi untuk itulah aku datang dan membaptis dengan air, supaya Ia dinyatakan kepada Israel.’ (32) Dan Yohanes memberi kesaksian, katanya: ‘Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atasNya. (33) Dan akupun tidak mengenalNya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atasNya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus. (34) Dan aku telah melihatNya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah.’”.

Mat 3:16 - “Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atasNya,”.

Perhatikan kata-kata Ia melihat Roh Allah’. ‘Ia’ di sini adalah Yohanes, bukan Yesus! Jadi, tidak seharusnya kata ‘Ia’ itu dimulai dengan huruf besar. Melalui janji / pernyataan ilahi tentang diri Yesus ini dan penggenapannya, Yohanes lebih dikuatkan dalam imannya kepada Yesus dan itu menyebabkan ia bisa melayani Tuhan dengan lebih baik.

 

II) Bagaimana caranya Yesus dibaptis?

 

1)   Apakah Yesus dibaptis dengan baptisan selam?

Banyak orang menganggap peristiwa baptisan terhadap Yesus ini sebagai dasar baptisan selam, karena dalam Mat 3:16 dikatakan ‘Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air. Tetapi kata-kata ‘keluar dari air’ tidak harus berarti bahwa tadinya Yesus diren­dam dalam air lalu keluar dari air. Kata-kata itu bisa berarti bahwa Yesus berdiri di sungai tanpa direndam (air hanya sebatas lutut atau betis), lalu dibaptis dengan tuang / percik, lalu Ia keluar dari air / sungai. Jadi jelas bahwa Mat 3:16 tidak bisa dijadikan dasar bahwa satu-satunya cara membaptis yang benar adalah dengan menggunakan bapti­san selam.

 

2)   Sekarang mari kita melihat baptisan-baptisan lain dalam Kitab Suci.

Dalam Kitab Suci ada banyak contoh dimana baptisan dilakukan bukan di sungai. Juga tidak diceritakan adanya kolam yang memungkinkan baptisan selam.

Kis 2:41 - “Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa.”.

Kis 9:18 - “Dan seketika itu juga seolah-olah selaput gugur dari matanya, sehingga ia dapat melihat lagi. Ia bangun lalu dibaptis.”.

Kis 10:47-48 - “(47) ‘Bolehkah orang mencegah untuk membaptis orang-orang ini dengan air, sedangkan mereka telah menerima Roh Kudus sama seperti kita?’ (48) Lalu ia menyuruh mereka dibaptis dalam nama Yesus Kristus. Kemudian mereka meminta Petrus, supaya ia tinggal beberapa hari lagi bersama-sama dengan mereka.”.

Kis 16:33 - “Pada jam itu juga kepala penjara itu membawa mereka dan membasuh bilur mereka. Seketika itu juga ia dan keluarganya memberi diri dibaptis.”.

Kis 16:33 ini adalah contoh yang paling kuat untuk menunjukkan bahwa baptisan tidak dilakukan dengan penyela­man karena hal itu terjadi di dalam penjara!

 

A. H. Strong yang mendukung baptisan selam berkata:

“Although the water supply of Jerusalem is naturally poor, the artificial provision of aqueducts, cisterns, and tanks, made water abundant. During the siege of Titus, though thousands died of famine, we read of no suffering from lack of water. The following are the dimensions of pools in modern Jerusalem: King’s pool, 15 feet x 16 x 3; Siloam, 53 x 18 x 19; Hezekiah, 240 x 140 x 10; Bethesda (so called), 360 x 130 x 75; Upper Gihon, 316 x 218 x 19; Lower Gihon, 592 x 260 x 18” [= Sekalipun suplai air di Yerusalem secara alamiah memang sukar didapatkan, penyediaan buatan terowongan air, bak air, dan tangki air, menyebabkan air berlimpah-limpah. Selama pengepungan Titus, sekalipun ribuan orang mati karena kelaparan, kami membaca bahwa tidak ada penderitaan karena kekurangan air. Yang berikut ini merupakan ukuran dari kolam-kolam di Yerusalem modern: Kolam raja, 15 kaki x 16 x 3; Siloam, 53 x 18 x 19; Hizkia, 240 x 140 x 10; Bethesda (disebut begitu ?), 360 x 130 x 75; Gihon atas, 316 x 218 x 19; Gihon bawah, 592 x 260 x 18] - ‘Systematic Theology’, hal 934.

 

Tetapi Charles Hodge, seorang ahli Theologia Reformed dan pendukung baptisan percik, berkata: “In Acts 2:41, three thousand persons are said to have been baptized at Jerusalem apparently in one day at the season of Pentecost in June; and in Acts 4:4, the same rite is necessarily implied in respect to five thousand more. ... There is in summer no running stream in the vicinity of Jerusalem, except the mere rill of Siloam of a few rods in length; and the city is and was supplied with water from its cistern and public reservoirs. From neither of these sources could a supply have been well obtained for the immersion of eight thousand persons. The same scarcity of water forbade the use of private baths as a general custom” [= Dalam Kis 2:41, dikatakan bahwa 3000 orang dibaptiskan di Yerusalem, dan itu jelas terjadi dalam satu hari pada musim Pentakosta di bulan Juni; dan dalam Kis 4:4, secara tidak langsung bisa dipastikan bahwa upacara yang sama dilakukan terhadap 5000 orang lebih. ... Pada musim panas, tidak ada sungai mengalir di Yerusalem dan sekitarnya, kecuali sungai kecil dari Siloam yang panjangnya beberapa rod (NB: 1 rod = 5 meter); dan kota itu, baik sekarang maupun dulu, disuplai dengan air dari bak / tangki air dan waduk / kolam air milik / untuk umum. Tidak ada dari sumber-sumber ini yang bisa menyuplai air untuk menyelam 8000 orang. Kelangkaan air yang sama melarang penggunaan bak mandi pribadi sebagai suatu kebiasaan umum] - ‘Systematic Theology’, vol III, hal 534.

Catatan: Kis 4:4 seharusnya ‘menjadi 5000 orang’, bukan ‘bertambah dengan 5000 orang’.

 

Charles Hodge juga menambahkan sebagai berikut:

“The baptismal fonts still found among the ruins of the most ancient Greek churches in Palestine, as at Tekoa and Gophna, and going back apparently to very early times, are not large enough to admit of baptism of adult persons by immersion, and were obviously never intended for that use” (= Bak-bak untuk membaptis yang ditemukan di antara reruntuhan dari gereja-gereja Yunani kuno di Palestina, seperti di Tekoa dan Gophna, dan jelas berasal dari waktu yang sangat awal, tidak cukup besar untuk baptisan orang dewasa dengan cara penyelaman, dan jelas tidak pernah dimaksudkan untuk penggunaan seperti itu) - ‘Systematic Theology’, vol III, hal 534.

 

Sekarang mari kita melihat baptisan sida-sida dalam Kis 8:36-39.

Kis 8:36-39 - “(36) Mereka melanjutkan perjalanan mereka, dan tiba di suatu tempat yang ada air. Lalu kata sida-sida itu: ‘Lihat, di situ ada air; apakah halangannya, jika aku dibaptis?’ (37) [Sahut Filipus: ‘Jika tuan percaya dengan segenap hati, boleh.’ Jawabnya: ‘Aku percaya, bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah.’] (38) Lalu orang Etiopia itu menyuruh menghentikan kereta itu, dan keduanya turun ke dalam air, baik Filipus maupun sida-sida itu, dan Filipus membaptis dia. (39) Dan setelah mereka keluar dari air, Roh Tuhan tiba-tiba melarikan Filipus dan sida-sida itu tidak melihatnya lagi. Ia meneruskan perjalanannya dengan sukacita.”.

 

Apakah ini adalah baptisan selam? Ada 2 hal yang perlu diperhatikan dari bagian ini:

 

a)         Kis 8:36 - ‘ada air’.

Yunani: TI HUDOR [a certain water / some water (= air tertentu / sedikit air)]. Jadi ini menunjuk pada sedikit air, sehingga tidak memungkinkan baptisan selam.

 

Charles Hodge: “He was travelling through a desert part of the country towards Gaza, when Philip joined him, ‘And as they went on their way they came unto a certain water (EPI TI HUDOR, to some water)’.There is no known stream in that region of sufficient depth to allow of the immersion of a man” [= Ia sedang bepergian melalui bagian padang pasir dari negara itu menuju Gaza, ketika Filipus bergabung dengannya, ‘Dan ketika mereka melanjutkan perjalanan mereka mereka sampai pada air tertentu (EPI TI HUDOR, kepada sedikit air)’. Di daerah itu tidak diketahui adanya sungai dengan kedalaman yang cukup untuk memungkinkan penyelaman seorang manusia]  - ‘Systematic Theology’, vol III, hal 535.

 

b)         Kis 8:38-39 berkata ‘turun ke dalam air ... keluar dari air’.

Apakah ini menunjuk pada baptisan selam? Seperti pada baptisan Yesus, istilah ini bisa diartikan 2 macam, yaitu:

1.   Sida-sida itu betul-betul terendam total, lalu keluar dari air.

2.   Sida-sida itu turun ke dalam air yang hanya sampai pada lutut atau mata kakinya, lalu keluar dari air.

Untuk mengetahui yang mana yang benar dari 2 kemungkinan ini, bacalah Kis 8:38-39 itu sekali lagi. Perhatikan bahwa di situ dikatakan: “dan keduanya turun ke dalam air, baik Filipus maupun sida-sida itu, dan Filipus membaptis dia. Dan setelah mereka keluar dari air, ...”.

Kalau istilah ‘turun ke dalam air’ dan ‘keluar dari air’ diartikan sebagai baptisan selam, itu menunjukkan bahwa Filipus, sebagai orang yang membaptis, juga ikut diselam! Ini jelas tidak mungkin. Jadi dari 2 kemungkinan di atas, yang benar adalah kemungkinan kedua. Ini juga cocok dengan point no a) di atas yang menunjukkan bahwa air di situ cuma sedikit, sehingga tidak memungkinkan baptisan selam.

 

3)   Orang yang berpendapat bahwa satu-satunya baptisan yang benar adalah baptisan selam juga sering menggunakan kata Yunani BAPTO atau BAPTIZO, yang mereka katakan artinya adalah ‘selam / celup’.

Terhadap argumentasi ini perlu dijawabkan bahwa:

 

a)   Mark 7:4 - “dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga.”.

 

Ada 2 bagian yang perlu diperhatikan di sini:

 

1.   Mark 7:4a - Di sini dikatakan bahwa orang Yahudi mempunyai tradisi kalau pulang dari pasar tidak akan makan sebelum mereka membersihkan dirinya’.

Tentang kata ‘membersihkan’ ini ada 2 golongan manuscript:

a.         Ada manuscript yang menuliskan BAPTISONTAI (= baptis).

b.         Ada manuscript yang menuliskan RANTISONTAI (= percik).

A. T. Robertson, Bruce Metzger, William Hendriksen setuju dengan BAPTISONTAI. Alasan Hendriksen: dalam Luk 11:38 juga menggunakan ‘baptis’ (EBAPTISTHE), bukan ‘percik’.

Luk 11:38 - “Orang Farisi itu melihat hal itu dan ia heran, karena Yesus tidak mencuci tanganNya sebelum makan.”.

Kalau memang di sini digunakan ‘baptis’, tidak mungkin menunjuk pada ‘selam / celup’. karena seperti kata Charles Hodge: “private baths were in Jerusalem very rare” (= bak mandi pribadi sangat jarang di Yerusalem) - Systematic Theology, vol III, hal 535.

Perlu juga diingat bahwa bagian ini tidak hanya berbicara tentang orang Farisi saja, tetapi juga untuk semua orang Yahudi (Mark 7:3a).

Mark 7:3 - “Sebab orang-orang Farisi seperti orang-orang Yahudi lainnya tidak makan kalau tidak melakukan pembasuhan tangan lebih dulu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka;”.

Ini lebih-lebih tidak memungkinkan arti ‘selam / celup’, karena kalau orang Farisi masih mungkin mempunyai bak mandi pribadi (karena mereka kaya), tetapi untuk masyarakat Yahudi secara umum, tidak mungkin mempunyai bak mandi pribadi.

Jadi jelas bahwa kata ‘baptis’ tidak harus diartikan ‘selam / celup’.

 

2.   Mark 7:4 - “dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga.”.

Ada 2 hal yang perlu diperhatikan:

a.   Kata ‘mencuci’ ini dalam bahasa Yunaninya adalah BAPTISMOUS.

b.   Dalam KJV ada tambahan: ‘and of tables’ (= dan meja). Jadi, yang dicuci bukan hanya cawan, kendi, dan perkakas tembaga, tetapi juga meja!

Footnote NIV mengatakan bahwa beberapa manuscript mula-mula menambahkan: ‘and dining couches’ (= dan bangku / sofa untuk makan’).

Kalaupun ini adalah suatu penambahan, ahli Taurat yang menambahi pasti tidak ngawur. Jadi, pencucian meja / bangku untuk makan itu pasti memang ada dalam tradisi mereka. Dan rasanya tidak mungkin mencuci barang sebesar itu dengan selam / celup! Ini lagi-lagi menunjukkan bahwa kata ‘baptis’ tidak harus diartikan ‘selam / celup’.

 

b)   Luk 11:38 - “Orang Farisi itu melihat hal itu dan ia heran, karena Yesus tidak mencuci tanganNya sebelum makan.”.

Kata-kata ‘mencuci tangannya’ dalam bahasa Yunaninya adalah EBAPTISTHE.

Orang mencuci tangan tidak harus merendam tangannya dalam air, tetapi bisa dengan mencurahkan air pada tangan. Jadi jelas bahwa ‘baptis’ di sini tidak harus berarti ‘celup / selam’.

 

Barclay (tentang Luk 11:38): The Pharisee was surprised that Jesus did not wash his hands before eating. This was not a matter of cleanliness but of the ceremonial law. The law laid it down that the hands must be washed in a certain way before eating and that this hand-washing must be repeated between the courses. As usual every littlest detail was worked out. Large stone vessels of water were specially kept for the purpose because ordinary water might be unclean; the amount of water used must be at least a quarter of a log, that is, enough to fill one and a half eggshells. First the water must be poured over the hands beginning at the tips of the fingers and running right up to the wrist. Then the palm of each hand must be cleansed by rubbing the fist of the other into it. Finally, water must again be poured over the hand, this time beginning at the wrist and running down to the fingertips. To the Pharisee, to omit the slightest detail of this was to sin..

 

Tradisi cuci tangan ini jelas menunjukkan bahwa mereka tidak mencelupkan / merendam tangan mereka, tetapi mencurahkan air ke tangan mereka. Jadi, jelas bahwa kata BAPTIZO digunakan di sini bukan dalam arti merendam / mencelup.

 

c)   1Kor 10:2 - “Untuk menjadi pengikut Musa mereka semua telah dibaptis dalam awan dan dalam laut.”.

Kata ‘dibaptis’ dalam bahasa Yunaninya adalah EBAPTISANTO.

Dua hal yang harus diperhatikan:

1.   Orang Israel berjalan di tempat kering (Kel 14:22).

Kel 14:22 - “Demikianlah orang Israel berjalan dari tengah-tengah laut di tempat kering; sedang di kiri dan di kanan mereka air itu sebagai tembok bagi mereka.”.

Yang terendam air adalah orang Mesir!

2.   Awan tidak ada di atas mereka, tetapi di belakang mereka.

Kel 14:19-20 - “(19) Kemudian bergeraklah Malaikat Allah, yang tadinya berjalan di depan tentara Israel, lalu berjalan di belakang mereka; dan tiang awan itu bergerak dari depan mereka, lalu berdiri di belakang mereka. (20) Demikianlah tiang itu berdiri di antara tentara orang Mesir dan tentara orang Israel; dan oleh karena awan itu menimbulkan kegelapan, maka malam itu lewat, sehingga yang satu tidak dapat mendekati yang lain, semalam-malaman itu.”.

Juga awan itu tujuannya untuk memimpin / melindungi Israel; itu bukan awan untuk memberi hujan. Kalau toh awan itu memberi hujan, itu lebih cocok dengan baptisan percik, bukan selam.

Jadi jelas bahwa orang Israel tidak direndam / diselam dalam awan dan dalam laut!

 

Barnes’ Notes: “This passage is a very important one to prove that the word baptism does not necessarily mean entire immersion in water. It is perfectly clear that neither the cloud nor the waters touched them” (= Text ini adalah text yang sangat penting untuk membuktikan bahwa kata baptisan tidak harus berarti penyelaman seluruhnya di dalam air. Adalah sangat jelas bahwa baik awan maupun air tidak menyentuh mereka).

 

d)   Ibr 9:10 - “karena semuanya itu, di samping makanan minuman dan pelbagai macam pembasuhan, hanyalah peraturan-peraturan untuk hidup insani, yang hanya berlaku sampai tibanya waktu pembaharuan.”.

Kata Yunaninya adalah BAPTISMOIS. Jadi terjemahan hurufiahnya adalah ‘bermacam-macam baptisan.

Kalau kita memperhatikan kontex dari Ibr 9 itu, maka pasti Ibr 9:10 ini menunjuk pada ‘pemercikan’ dalam Ibr 9:13,19,21. Karena itu jelas bahwa di sini kata ‘baptis’ tidak diartikan selam / celup, tetapi percik.

 

4)   Hal-hal lain yang mendukung baptisan percik:

 

a)   Penekanan arti baptisan adalah sebagai simbol penyucian / purification. Padahal dalam Kitab Suci purification selalu disimbolkan dengan percikan:

1.   Kel 24:8 - Kitab Suci Indonesia salah terjemahan, karena kata  ‘menyiramkannya’ seharusnya adalah ‘memercikkannya’. NIV: ‘sprinkled’ (= memercikkan).

2.   Kel 29:16,21 - Kitab Suci Indonesia salah terjemahan, karena kata  ‘kausiramkan’ seharusnya adalah ‘percikkanlah’. NIV: ‘sprinkle’ (= percikkanlah).

3.   Im 7:14 - Kitab Suci Indonesia salah terjemahan, karena kata ‘menyiramkan’ seharusnya adalah ‘memercikkan’. NIV: ‘sprinkles’ (= memercikkan).

4.   Im 14:7,51 - ‘memercik’.

5.   Im 16:14 - ‘memercikannya’.

6.   Bil 8:7 - ‘percikkanlah’.

7.   Bil 19:18 - ‘memercikkannya’.

8.   Yes 52:15 (NIV) - ‘He will sprinkle many nations’ (= Ia akan memerciki banyak bangsa).

9.   Ibr 9:13 - ‘percikan’.

10. Ibr 9:19,21 - ‘memerciki’ dan ‘dipercikinya’. 

11. Ibr 10:22 - Kitab Suci Indonesia salah terjemahan, karena kata ‘telah dibersihkan’ seharusnya adalah ‘telah diperciki’. NIV: ‘sprinkled to cleanse’ (= diperciki untuk membersihkan).

12. Ibr 12:24 - ‘darah pemercikan’.

 

b)   Luk 3:16 - “Yohanes menjawab dan berkata kepada semua orang itu: ‘Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa dari padaku akan datang dan membuka tali kasutNyapun aku tidak layak. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api.”.

Boleh dikatakan semua Alkitab bahasa Inggris juga menterjemahkan ‘with water’ (= dengan air). Kata ‘water’ / ‘air’ diterjemahkan dari kata Yunani HUDATI, yang ada dalam kasus dative, dan dative tanpa kata depan kadang-kadang menyatakan ‘cara’ atau ‘alat’. Jadi, terjemahan ‘with’ (= dengan), memang bisa dibenarkan.

Kata-kata ‘Aku membaptis kamu dengan air’ (‘I baptize you with water’) tak cocok diartikan sebagai selam, karena kita tidak berkata ‘aku menyelam kamu dengan air’ tetapi kita berkata ‘aku menyelam kamu di dalam air’. Tetapi kalau baptisan itu adalah percik / tuang, maka kata-kata dengan air’ itu cocok.

Ayat paralelnya, yaitu Mat 3:11 menggunakan kata Yunani EN, tetapi kata EN bukan hanya bisa diartikan sebagai ‘in’ (= di dalam), tetapi juga sebagai ‘with’ (= dengan).

 

III) Apa yang terjadi pada waktu Yesus dibaptis?

 

1)   Yesus berdoa (ay 21).

Ay 21: “Ketika seluruh orang banyak itu telah dibaptis dan ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit”.

Injil Lukas, yang menekankan kemanusiaan Yesus, paling banyak menunjukkan Yesus berdoa (5:16  6:12  9:18,28-29  10:21-22  11:1  22:32,41-45  23:34,46).

Kalau Yesus, yang adalah manusia yang suci itu membutuhkan banyak doa, maka jelas bahwa kita yang berdosa ini lebih membutuhkan doa.

 

2)   Manifestasi Bapa dan Roh Kudus (ay 22).

Ay 22: “dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atasNya. Dan terdengarlah suara dari langit: ‘Engkaulah AnakKu yang Kukasihi, kepadaMulah Aku berkenan.’”.

 

Dengan demikian, pada saat Baptisan, ketiga pribadi dari Allah Tritunggal ditunjukkan.

 

a)         Allah Bapa: berbicara dari surga (ay 22).

 

b)         Yesus (Allah Anak).

Yesus adalah Anak Allah dari kekekalan. Ada ajaran yang bernama Dynamic Monarchianism / Adoptionism. Ajaran ini mengatakan bahwa Yesus adalah manusia biasa, tetapi pada saat baptisan, Ia menerima Roh Kudus (yaitu kuasa / pengaruh ilahi), dan diangkat menjadi semacam Allah. Kita tidak menerima ajaran sesat semacam itu. Apa yang bukan Allah tidak bisa berkembang menjadi Allah. Dan Kitab Suci mengatakan bahwa Yesus sudah adalah Anak Allah sebelum Ia berinkarnasi (Gal 4:4).

Gal 4:4 - “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus AnakNya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat.”.

 

c)         Roh Kudus:

1.   Roh Kudus ‘turun’ (Mat 3:16). Ingat, bahwa Roh Kudus adalah Allah yang maha ada. Jadi kata-kata tersebut diatas adalah bahasa Anthro­pomorphic (menggambarkan Allah seakan-akan Ia adalah manusia).

2.   Roh Kudus turun ke atas Yesus dan tinggal atasNya / padaNya.

Yoh 1:32-33 - “(32) Dan Yohanes memberi kesaksian, katanya: ‘Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atasNya. (33) Dan akupun tidak mengenalNya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atasNya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus.”.

Ini tidak berarti bahwa sebelum itu Yesus tidak mempunyai Roh Kudus. Roh Kudus terus menjaga Yesus sejak dari pembuahan dalam kandungan supaya Ia bebas dari dosa (Yes 11:2  Maz 22:10-11). Pada saat baptisan, Roh Kudus melengkapi Yesus untuk tugas pelayananNya (Yes 42:1  Yes 61:1).

3.   Roh Kudus menampakkan diri dalam bentuk burung merpati.

a.   Karena itu Roh Kudus itu bisa dilihat oleh Yohanes (Mat 3:16 - kata ‘ia’ seharusnya tidak dimulai dengan huruf besar, karena ini menunjuk kepada Yohanes Pembaptis, bukan kepada Yesus).

b.   Mengapa Roh Kudus tidak menampakkan diri dalam bentuk api seperti pada Pentakosta (Kis 2:1-11)? Karena Perjanjian Lama menggambarkan Yesus lemah lembut (Misalnya Yes 42:2-3), sehingga merpati lebih cocok.

Yes 42:2-3 - “(2) Ia tidak akan berteriak atau menyaringkan suara atau memperdengarkan suaranya di jalan. (3) Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum.”.

 

Ketiga pribadi dari Allah Tritunggal ini bisa terlihat pada satu saat yang sama. Ini bertentangan dengan ajaran Sabellianism yang mengajarkan bahwa Allah menyatakan diri dalam penciptaan sebagai Bapa, dalam penebusan sebagai Anak, dan dalam pengudusan sebagai Roh Kudus. Jadi, Allah mempunyai 3 perwujudan / manifestasi, bukan 3 pribadi. Kalau memang Allah itu hanyalah satu pribadi yang mempunyai 3 perwujudan / menifestasi, maka tidak mungkin ketiganya terlihat pada saat yang sama.

Kita percaya bahwa Allah Tritunggal, sekalipun hanya punya 1 hakekat / es­sence, tetapi mempunyai 3 pribadi. Ke tiga pribadi tersebut berbeda (distinct) satu dengan yang lain, tapi bersatu.

 

 

 

 

 

 

-AMIN-


 

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ