KEBAKTIAN online

 

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)

 

Minggu, tgl 4 Februari 2023, pk 09.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

menjawab

Lukas 24:44-46(2)

 

Luk 24:44-46 - (44) Ia berkata kepada mereka: Inilah perkataanKu, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur. (45) Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci. (46) KataNya kepada mereka: ‘Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga,”.

 

III) Nubuat dalam Perjanjian Lama yang Yesus maksudkan.

 

Saya sudah menjelaskan beberapa hal yang penting di atas, dan sekarang saya siap untuk menjelaskan dari ayat-ayat Perjanjian Lama mana Luk 24:46 itu diambil. Saya akan menuliskan ayatnya sekali lagi.

 

Luk 24:46 - “KataNya kepada mereka: ‘Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga.

 

Ada 4 hal yang dibicarakan ayat ini:

 

1)   Penderitaan Yesus / Mesias.

 

2)   Kematian Yesus / Mesias.

Catatan: ini ada secara implicit, karena Ia tidak mungkin bisa bangkit kalau Ia tidak mati lebih dulu.

 

3)   Kebangkitan Yesus / Mesias.

 

4)   KebangkitanNya terjadi pada hari ke 3.

 

Dimana dalam Perjanjian Lama ada ayat yang membicarakan hal-hal itu?

 

Jelas kalau dicari satu ayat yang membicarakan semua itu, maka ayat seperti itu memang tidak ada.

 

Tetapi tidak ada yang mengatakan bahwa harus satu ayat; bisa beberapa ayat yang digabungkan.

 

Perhatikan bahwa Luk 24:46 itu sendiri tidak mengatakan ‘Ada tertulis hanya dalam satu ayat.

 

Catatan: Juga perlu diketahui bahwa dalam Alkitab asli (autograph) ataupun manuscript-manuscript, tidak ada penomoran pasal maupun ayat!

 

A) Tentang penderitaan Yesus / Mesias.

 

Ayat-ayat Perjanjian Lama yang menunjukkan penderitaan Yesus:

 

1)   Yes 52:14 - “Seperti banyak orang akan tertegun melihat dia - begitu buruk rupanya, bukan seperti manusia lagi, dan tampaknya bukan seperti anak manusia lagi.

 

Pulpit Commentary mengatakan bahwa hal ini terjadi karena penyiksaan / penderitaan yang dialami oleh Kristus, seperti pencambukan, pemberian mahkota berduri, pemukulan, peludahan, pemikulan salib, dan penyaliban itu sendiri.

 

Pada waktu menceritakan tentang penyaliban, yang dilakukan setelah pencambukan, William Barclay mengutip seorang bernama Klausner yang berkata sebagai berikut:

“The criminal was fastened to his cross, already a bleeding mass from the scourging. There he hung to die of hunger and thirst and exposure, unable even to defend himself from the torture of the gnats and flies which settled on his naked body and on his bleeding wounds.” [= Kriminil itu dilekatkan / dipakukan pada salib; pada saat itu ia sudah penuh dengan darah karena pencambukan. Disana ia tergantung untuk mati karena lapar, haus dan kepanasan, bahkan tidak bisa membela dirinya sendiri dari siksaan dari nyamuk dan lalat yang hinggap pada tubuhnya yang telanjang dan pada luka-lukanya yang berdarah.].

 

Dan Barclay lalu mengatakan: “It is not a pretty picture but that is what Jesus Christ suffered - willingly - for us” [= Itu bukanlah suatu gambaran yang bagus, tetapi itulah yang diderita oleh Yesus Kristus - dengan sukarela - bagi kita].

 

2)   Yes 53:4-7 - “(4) Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. (5) Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. (6) Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian. (7) Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.”.

 

a)   Text ini menekankan Yesus sebagai pengganti kita dengan memikul hukuman yang seharusnya untuk kita. Ini menyebabkan setiap kita yang percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat tidak mungkin dihukum.

 

Ro 8:1 - “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.”.

 

b)   Kata ‘tertikam’ diterjemahkan ‘was wounded’ [= dilukai] oleh KJV/RSV tetapi diterjemahkan ‘was pierced’ [= ditikam] oleh NIV/NASB. Kata bahasa Ibraninya bisa diterjemahkan keduanya.

 

Kata ‘tertikam’ cocok dengan nubuat dalam Zakh 12:10 - “‘Aku akan mencurahkan roh pengasihan dan roh permohonan atas keluarga Daud dan atas penduduk Yerusalem, dan mereka akan memandang kepada dia yang telah mereka tikam, dan akan meratapi dia seperti orang meratapi anak tunggal, dan akan menangisi dia dengan pedih seperti orang menangisi anak sulung.”.

 

c)   Kata ‘bilur’ menunjuk pada pencambukan.

NASB: ‘His scourging’ [= pencambukanNya].

 

William Hendriksen: “The Roman scourge consisted of a short wooden handle to which several thongs were attached, the ends equipped with pieces of lead or brass and with sharply pointed bits of bone. The stripes were laid especially on the victim’s back, bared and bent. Gener­ally two men were employed to administer this punishment, one lashing the victim from one side, one from the other side, with the result that the flesh was at times lacerated to such an extent that deep-seated veins and arteries, sometimes even entrails and inner organs, were exposed. Such flogging, from which Roman citi­zens were exempt (cf. Acts 16:37), often resulted in death.” [= Cambuk Romawi terdiri dari gagang kayu yang pendek yang diberi beberapa tali kulit, yang ujungnya dilengkapi dengan potongan-potongan timah atau kuningan dan potongan-potongan tulang yang diruncingkan. Pencambukan diberikan terutama pada punggung korban, yang ditelanjangi dan dibungkukkan. Biasanya 2 orang dipekerjakan untuk melaksanakan hukuman ini, yang seorang mencambuki dari satu sisi, yang lain mencambuki dari sisi yang lain, dengan akibat bahwa daging yang dicambuki itu kadang-kadang koyak / sobek sede­mikian rupa sehingga pembuluh darah dan arteri yang terletak di dalam, kadang-kadang bahkan isi perut dan organ bagian dalam, menjadi terbuka / terlihat. Pencambukan seperti itu, yang tidak boleh dilakukan terhadap warga negara Romawi (bdk. Kis 16:37), sering berakhir dengan kematian.].

 

Kita yang berdosa yang seharusnya mengalami hukuman mengerikan ini, tetapi Kristus telah menggantikan kita untuk memikul hukuman kita, supaya kalau kita percaya kepadaNya sebagai Tuhan dan Juruselamat kita, kita bebas dari hukuman!

 

Yesaya hidup pada sekitar 700 tahun sebelum Kristus! Dari mana ia bisa tahu dan menggambarkan penderitaan Kristus secara mendetail? Nubuat-nubuat seperti ini membuktikan Alkitab sebagai Firman Tuhan!

 

3)   Maz 22:2a,16b,17b,19 - “(2a) Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? ... (16b) ... lidahku melekat pada langit-langit mulutku; ... (17b) ... mereka menusuk tangan dan kakiku. ... (19) Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka, dan mereka membuang undi atas jubahku.”.

 

a)   Maz 22:2a - “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?”.

 

Bdk. Mat 27:46 - “Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: ‘Eli, Eli, lama sabakhtani?’ Artinya: AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”.

 

Mengapa Yesus harus terpisah dari Bapa? Karena dosa memang memisahkan manusia dari Allah (Kej 3  Yes 59:1-2  2Tes 1:9).

 

1.   Kej 3 jelas menunjukkan bahwa setelah jatuh ke dalam dosa, maka Adam dan Hawa diusir dari Taman Eden.

 

2.   Yes 59:1-2 - “(1) Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaranNya tidak kurang tajam untuk mendengar; (2) tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.”.

 

3.   2Tes 1:9 - “Mereka ini akan menjalani hukuman kebinasaan selama-lamanya, dijauhkan dari hadirat Tuhan dan dari kemuliaan kekuatanNya,”.

 

Yesus menggantikan kita untuk mengalami keterpisahan itu supaya kita yang percaya kepada Yesus diperdamaikan dengan Allah.

 

Ro 5:1 - “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.”.

KJV/RSV/NIV/NASB: ‘we have peace with God’ [= kita mempunyai damai dengan Allah].

 

Ro 5:10 - “Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian AnakNya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidupNya!”.

 

Ef 2:13-18 - “(13) Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu ‘jauh’, sudah menjadi ‘dekat’ oleh darah Kristus. (14) Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, (15) sebab dengan matiNya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diriNya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, (16) dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu. (17) Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang ‘jauh’ dan damai sejahtera kepada mereka yang ‘dekat’, (18) karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa.”.

 

C. H. Spurgeon: the only solution of the mystery is this, Jesus Christ was forsaken of God because we deserved to be forsaken of God. He was there, on the cross, in our room, and place, and stead; and as the sinner, by reason of his sin, deserves not to enjoy the favour of God, so Jesus Christ, standing in the place of the sinner, and enduring that which would vindicate the justice of God, had to come under the cloud, as the sinner must have come, if Christ had not taken his place. But, then, since he has come under it, let us recollect that he was thus left of God that you and I, who believe in him, might never be left of God. Since he, for a little while, was separated from his Father, we may boldly cry, ‘Who shall separate us from the love of Christ?’ (Rom 8:35) and, with the apostle Paul, we may confidently affirm that nothing in the whole universe ‘shall be able to separate us from the love of God, which is in Christ, Jesus our Lord’ (Rom 8:39). [= satu-satunya solusi dari misteri ini adalah ini, Yesus Kristus ditinggalkan oleh Allah karena kita layak ditinggalkan oleh Allah. Ia ada di sana, di kayu salib, di tempat / kedudukan kita; dan karena orang berdosa, karena dosanya, layak untuk tidak menikmati kebaikan Allah, maka Yesus Kristus, berdiri di tempat dari orang berdosa, dan menanggung apa yang mempertahankan keadilan Allah, harus datang di bawah awan, sebagaimana orang berdosa harus datang seandainya Kristus tidak mengambil tempatnya. Tetapi, karena Ia telah datang di bawahnya, hendaklah kita mengingat kembali bahwa Ia ditinggalkan seperti itu oleh Allah supaya engkau dan aku, yang percaya kepadaNya, tidak pernah ditinggalkan oleh Allah. Karena Ia, untuk waktu yang singkat, terpisah dari BapaNya, kita bisa dengan berani berteriak, ‘Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus?’ (Ro 8:35) dan, bersama dengan rasul Paulus, kita bisa dengan yakin menegaskan bahwa tidak ada apapun di seluruh alam semesta ‘akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita’ (Ro 8:39).] - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 4, hal 321.

 

b)   Maz 69:22b - “pada waktu aku haus, mereka memberi aku minum anggur asam.”.

 

Bdk. Maz 22:16b - lidahku melekat pada langit-langit mulutku:”.

 

Bdk. Yoh 19:28-30a - “(28) Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia - supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci - : ‘Aku haus!’ (29) Di situ ada suatu bekas penuh anggur asam. Maka mereka mencucukkan bunga karang, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus. (30a) Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, ...”.

 

Mengapa Ia harus kehausan? Karena itu yang akan kita alami kalau kita masuk neraka.

 

Bdk. Luk 16:24 - “Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini.”.

 

Ia mengalami kehausan itu untuk kita sehingga kalau kita percaya kepadaNya kita tak usah mengalami kehausan di neraka, tetapi kita akan masuk surga.

 

Spurgeon: “thirst will also be the eternal result of sin, for he says concerning the rich glutton, ‘In hell he lift up his eyes, being in torment,’ and his prayer, which was denied him, was, ‘Father Abraham, send Lazarus, that he may dip the tip of his finger in water and cool my tongue, for I am tormented in this flame.’ Now recollect, if Jesus had not thirsted, every one of us would have thirsted for ever afar off from God, with an impassable gulf between us and heaven. Our sinful tongues, blistered by the fever of passion, must have burned for ever had not his tongue been tormented with thirst in our stead.” [= kehausan juga akan menjadi akibat kekal dari dosa, karena Ia berkata tentang orang kaya yang rakus, ‘Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut / neraka ia memandang ke atas’, dan doanya, yang tidak dikabulkan, adalah: ‘Bapa Abraham, suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini’. Sekarang ingatlah bahwa seandainya Yesus tidak mengalami kehausan, setiap kita akan mengalami kehausan selama-lamanya terpisah / jauh dari Allah, dengan jurang yang tak terseberangi antara kita dengan surga. Lidah-lidah kita yang berdosa, melepuh / kepanasan oleh demam dari nafsu / penderitaan, harus terbakar selama-lamanya, seandainya lidahNya tidak disiksa oleh kehausan di tempat kita / menggantikan kita.] - ‘A Treasury of Spurgeon on the Life and Work of our Lord’, vol VI, hal 562-563.

 

Matthew Henry: “The torments of hell are represented by a violent thirst in the complaint of the rich man that begged for a drop of water to cool his tongue. To that everlasting thirst we had been condemned, had not Christ suffered for us.” [= Siksaan-siksaan neraka digambarkan oleh kehausan yang hebat dalam keluhan dari orang kaya yang mengemis untuk setetes air untuk mendinginkan / menyejukkan lidahnya. Pada kehausan kekal itu kita telah dihukum, seandainya Kristus tidak menderita bagi kita.].

 

c)   Maz 22:19 - “Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka, dan mereka membuang undi atas jubahku.”.

 

Bdk. Mat 27:35 - “Sesudah menyalibkan Dia mereka membagi-bagi pakaianNya dengan membuang undi.”.

 

Ia nyaris telanjang di kayu salib. Mengapa Ia harus dipermalukan seperti itu? Ia yang maha mulia dipermalukan seperti itu, supaya kita yang seharusnya dipermalukan, bisa dimuliakan (asal kita percaya kepada Yesus).

 

Calvin: “the Evangelists exhibits to us the Son of God stripped of his garments, in order to inform us, that by this nakedness we have obtained those riches which makes us honourable in the presence of God. God determined that his own Son should be stripped of his raiment, that we, clothed with his righteousness and with abundance of all good things, may appear with boldness in company with the angels, whereas formerly our loathsome and disgraceful aspect, in tattered garments, kept us back from approaching to heaven.” [= sang penginjil menunjukkan kepada kita Anak Allah dilepaskan pakaianNya untuk memberi tahu kita bahwa oleh ketelanjangan ini kita telah mendapatkan kekayaan yang membuat kita terhormat di hadapan Allah. Allah menetapkan bahwa AnakNya sendiri harus ditelanjangi, supaya kita, dipakaiani dengan kebenaranNya dan dengan hal-hal baik yang berlimpah-limpah, bisa tampil dengan keberanian dalam kumpulan malaikat, padahal sebelumnya, aspek menjijikkan dan memalukan kita, dalam pakaian yang compang camping, menahan kita untuk mendekati surga.] - hal 298.

 

Matthew Henry: “When they nailed him to the cross, they stripped him of his garments, at least his upper garments; for by sin we were made naked, to our shame, and thus he purchased for us white raiment to cover us.” [= Pada waktu mereka memakukan Dia pada salib, mereka membuka pakaianNya, sedikitnya pakaian luarNya; karena oleh dosa kita dibuat jadi telanjang, yang memalukan kita, dan demikianlah Ia membeli bagi kita pakaian putih untuk menutupi kita.].

 

Matthew Henry: “The shame of nakedness came in with sin. He therefore who was made sin for us bore that shame, to roll away our reproach. He was stripped, that we might be clothed with white raiment (Rev. 3:18).” [= Rasa malu dari ketelanjangan masuk bersama dengan dosa. Karena itu, Ia yang dibuat menjadi dosa karena kita memikul rasa malu itu, untuk menyingkirkan cela kita. Ia ditelanjangi, supaya kita bisa dipakaiani dengan pakaian putih (Wah 3:18).].

 

Wah 3:18 - “maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari padaKu emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat.”.

 

Yes 61:10 - “Aku bersukaria di dalam TUHAN, jiwaku bersorak-sorai di dalam Allahku, sebab Ia mengenakan pakaian keselamatan kepadaku dan menyelubungi aku dengan jubah kebenaran, seperti pengantin laki-laki yang mengenakan perhiasan kepala dan seperti pengantin perempuan yang memakai perhiasannya.”.

 

Zakh 3:1-5 - “(1) Kemudian ia memperlihatkan kepadaku imam besar Yosua berdiri di hadapan Malaikat TUHAN sedang Iblis berdiri di sebelah kanannya untuk mendakwa dia. (2) Lalu berkatalah Malaikat TUHAN kepada Iblis itu: ‘TUHAN kiranya menghardik engkau, hai Iblis! TUHAN, yang memilih Yerusalem, kiranya menghardik engkau! Bukankah dia ini puntung yang telah ditarik dari api?’ (3) Adapun Yosua mengenakan pakaian yang kotor, waktu dia berdiri di hadapan Malaikat itu, (4) yang memberikan perintah kepada orang-orang yang melayaninya: ‘Tanggalkanlah pakaian yang kotor itu dari padanya.’ Dan kepada Yosua ia berkata: ‘Lihat, dengan ini aku telah menjauhkan kesalahanmu dari padamu! Aku akan mengenakan kepadamu pakaian pesta. (5) Kemudian ia berkata: ‘Taruhlah serban tahir pada kepalanya!’ Maka mereka menaruh serban tahir pada kepalanya dan mengenakan pakaian kepadanya, sedang Malaikat TUHAN berdiri di situ.”.

 

Wilson menghubungkan ‘pakaian putih’ ini dengan dengan kata-kata dari lagu Rock of Ages, cleft for me’, yang pada bait ke 3nya mempunyai kalimat yang berbunyi: ‘Naked, come to Thee for dress’ [= Telanjang, datang kepadaMu untuk pakaian]. Saya memberikan kata-kata dari seluruh lagu tersebut di bawah ini.

 

Rock of Ages, cleft for me’.

 

Rock of Ages, cleft for me, [= Batu karang jaman, celah bagiku,]

Let me hide myself in Thee; [= Biarlah aku menyembunyikan diriku di dalamMu,]

Let the water and the blood, [= Biarlah air dan darah,]

From Thy riven side which flowed, [= yang mengalir dari rusuk / sisiMu yang terluka,]

Be of sin the double cure, [= menjadi penyembuhan / pengobatan ganda bagi dosa,]

Cleanse me from its guilt and power [= mencuci aku dari kesalahan dan kuasanya].

 

Not the labors of my hands, [= bukan pekerjaan tanganku,]

Can fulfill Thy law’s demands; [= Dapat memenuhi tuntutan hukumMu;]

Could my zeal no respite know, [= Andaikata semangatku tidak mengenal istirahat,]

Could my tears forever flow, [= Andaikata airmataku mengalir selama-lamanya,]

All for sin could not atone; [= Semua itu tidak bisa menebus dosa;]

Thou must save, and Thou alone. [= Engkau harus menyelamatkan, dan Engkau saja].

 

Nothing in my hand I bring, [= Tidak ada yang kubawa dalam tanganku,]

Simply to Thy cross I cling; [= Hanya kepada salib aku berpegang;]

Naked, come to Thee for dress, [= Telanjang, datang kepadaMu untuk pakaian,]

Helpless, look to Thee for grace; [= Tak berdaya, memandangMu untuk kasih karunia;]

Foul, I to the fountain fly, [= Kotor, Aku terbang kepada air mancur,]

Wash me, Saviour, or I die! [= Cucilah aku, Juruselamat, atau aku mati].

 

While I draw this fleeting breath, [= Sementara waktu aku menarik nafas penghabisan,]

When mine eyes shall close in death, [= Ketika mataku tertutup dalam kematian,]

When I soar to worlds unknown, [= Ketika aku terbang ke dunia tak dikenal,]

See Thee on Thy judgment throne, [= melihatMu pada tahta penghakimanMu,]

Rock of Ages, cleft for me, [= Batu karang jaman, celah bagiku,]

Let me hide myself in Thee; [= Biarlah aku menyembunyikan diriku di dalamMu,]

 

d)   Maz 22:17c - “mereka menusuk tangan dan kakiku”.

 

Ini jelas menunjuk pada penyaliban yang Yesus alami. Bayangkan / renungkan bagaimana rasanya pada waktu paku-paku menembus tangan dan kaki Yesus. Bayangkan / renungkan juga pada waktu salib yang mula-mula ditidurkan itu diberdirikan, betapa sakitnya lubang di tangan Yesus yang harus menahan berat badan Yesus! Kitalah yang seharusnya merasakan semua ini sebagai hukuman atas dosa-dosa kita, tetapi Yesus rela memikul semua ini bagi kita!

 

Pulpit Commentary menyebut penyaliban sebagai: “the most painful, barbarous, and ignominious punishment which the cruelty of man ever invented.” [= hukuman yang paling menyakitkan, paling biadab / kejam, dan paling jahat yang pernah ditemukan oleh kekejaman manusia.].

 

Pulpit Commentary: “Nails were driven through the hands and feet, and the body was supported partly by these and partly by a projecting pin of wood called the seat. The rest for the feet, often seen in picture, was never used.” [= Paku-paku dipakukan menembus tangan dan kaki, dan tubuh disangga / ditopang sebagian oleh paku-paku ini dan sebagian lagi oleh sepotong kayu yang menonjol yang disebut ‘tempat duduk’. Tempat pijakan kaki, yang sering terlihat dalam gambar, tidak pernah digunakan.].

Catatan: dalam persoalan pijakan kaki, ada penafsir yang mengatakan bahwa itu memang digunakan, misalnya William Hendriksen yang saya kutip di bawah.

 

F. F. Bruce: “a piece of wood attached to the upright might serve as a sort of seat (sedecula) - not so much for the victim’s relief as to prolong his life and his agony.” [= sepotong kayu dilekatkan pada tiang tegak dan bisa berfungsi sebagai semacam tempat duduk (sedecula) - bukan untuk meringankan penderitaan korban tetapi lebih untuk memperpanjang hidupnya dan penderitaannya.] - hal 167.

 

Pulpit Commentary: “A sedile was arranged to bear a portion of the weight of the body, which would never have been sustained by the gaping wounds.” [= Sebuah tempat duduk diatur untuk memikul sebagian berat tubuh, yang tidak akan pernah bisa ditahan oleh luka-luka yang menganga.] -  hal 426.

 

William Barclay: “There was no more terrible death than death by crucifixion. Even the Roman themselves regarded it with a shudder of horror. Cicero declared that it was ‘the most cruel and horrifying death.’ Tacitus said that it was a ‘despicable death.’ It was originally a Persian method of execution. It may have been used because, to the Persians, the earth was sacred, and they wished to avoid defiling it with the body of an evil-doer. So they nailed him to a cross and left him to die there, looking to the vultures and the carrion crows to complete the work. The Carthaginians took over crucifixion from the Persians; and the Romans learned it from the Carthaginians. Crucifixion was never used as a method of execution in the homeland, but only in the province, and there only in the case of slaves. It was unthinkable that a Roman citizen should die such a death. ... It was that death, the most dreaded in the ancient world, the death of slaves and criminals, that Jesus died.” [= Tidak ada kematian yang lebih mengerikan dari pada kematian melalui penyaliban. Bahkan orang Romawi sendiri memandangnya dengan ngeri. Cicero menyatakan bahwa itu adalah ‘kematian yang paling kejam dan menakutkan’. Tacitus berkata bahwa itu adalah ‘kematian yang tercela / hina / keji’. Pada mulanya itu adalah cara penghukuman mati orang Persia. Itu digunakan karena bagi orang Persia bumi / tanah itu kudus / keramat, dan mereka ingin menghindarkannya dari kenajisan dari tubuh dari pelaku kejahatan. Jadi mereka memakukannya pada salib dan membiarkannya mati di sana, mengharapkan burung nazar dan burung gagak pemakan bangkai menyelesaikan pekerjaan itu. Orang Carthage mengambil-alih penyaliban dari orang Persia, dan orang Romawi mempelajarinya dari orang Carthage. Penyaliban tidak pernah digunakan sebagai cara penghukuman mati di tanah air mereka, tetapi hanya di propinsi-propinsi jajahan mereka, dan hanya dalam kasus budak. Adalah sangat tidak terpikirkan bahwa seorang warga negara Romawi harus mati dengan cara itu. ... Kematian seperti itulah, kematian yang paling ditakuti dalam dunia purba, kematian dari budak dan orang kriminil, yang dialami oleh Yesus.] - ‘The Gospel of John’, vol 2, hal 250.

 

William Barclay (tentang Luk 23:32-38): “The terror of crucifixion was this - the pain of that process was terrible but it was not enough to kill, and the victim was left to die of hunger and thirst beneath the blazing noontide sun and the frost of the night.” [= Hal yang mengerikan / menyeramkan dari penyaliban adalah ini - rasa sakit dari proses penyaliban itu luar biasa, tetapi tidak cukup untuk membunuh, dan korban dibiarkan mati oleh kelaparan dan kehausan di bawah sinar matahari yang membakar dan cuaca beku pada malam hari.].

 

William Hendriksen: “It has been well said that the person who was crucified ‘died a thousand deaths.’ Large nails were driven through hands and feet (20:25; cf. Luke 24:40). Among the horrors which one suffered while thus suspended (with the feet resting upon a little tablets, not very far away from the ground) were the following: severe inflammation, the swelling of the wounds in the region of the nails, unbearable pain from torn tendons, fearful discomfort from the strained position of the body, throbbing headache, and burning thirst (19:28).” [= Dikatakan dengan benar bahwa orang yang disalib ‘mati 1000 kali’. Paku-paku besar dipakukan menembus tangan dan kaki (20:25; bdk. Luk 24:40). Di antara hal-hal yang mengerikan yang diderita seseorang pada saat tergantung seperti itu (dengan kaki berpijak pada potongan kayu kecil, tidak terlalu jauh dari tanah) adalah hal-hal berikut ini: peradangan yang sangat hebat, pembengkakan dari luka-luka di daerah sekitar paku-paku itu, rasa sakit yang tidak tertahankan dari tendon-tendon yang sobek, rasa tidak enak yang sangat hebat karena posisi tubuh yang terentang, sakit kepala yang berdenyut-denyut, dan rasa haus yang membakar (19:28).] - hal 427.

 

Barnes’ Notes: “The manner of the crucifixion was as follows: - After the criminal had carried the cross, attended with every possible jibe and insult, to the place of execution, a hole was dug in the earth to receive the foot of it. The cross was laid on the ground; the persons condemned to suffer was stripped, and was extended on it, and the soldiers fastened the hands and feet either by nails or thongs. After they had fixed the nails deeply in the wood, they elevated the cross with the agonizing sufferer on it; and, in order to fix it more firmly in the earth, they let it fall violently into the hole which they had dug to receive it. This sudden fall must have given to the person that was nailed to it a most violent and convulsive shock, and greatly increased his sufferings. The crucified person was then suffered to hang, commonly, till pain, exhaustion, thirst, and hunger ended his life.” [= Cara penyaliban adalah sebagai berikut: - Setelah kriminil itu membawa salib, disertai dengan setiap ejekan dan hinaan yang dimungkinkan, ke tempat penyaliban, sebuah lubang digali di tanah untuk menerima kaki salib itu. Salib diletakkan di tanah; orang yang diputuskan untuk menderita itu dilepasi pakaiannya, dan direntangkan pada salib itu, dan tentara-tentara melekatkan tangan dan kaki dengan paku atau dengan tali. Setelah mereka memakukan paku-paku itu dalam-dalam ke dalam kayu, mereka menaikkan / menegakkan salib itu dengan penderita yang sangat menderita padanya; dan, untuk menancapkannya dengan lebih teguh di dalam tanah, mereka menjatuhkan salib itu dengan keras ke dalam lubang yang telah digali untuk menerima salib itu. Jatuhnya salib dengan mendadak itu pasti memberikan kepada orang yang disalib suatu kejutan yang keras, dan meningkatkan penderitaannya dengan hebat. Orang yang disalib itu lalu menderita tergantung, biasanya, sampai rasa sakit, kehabisan tenaga, kehausan, dan kelaparan mengakhiri hidupnya.].

 

Barnes’ Notes: “As it was the most ignominious punishment known, so it was the most painful. The following circumstances make it a death of peculiar pain: (1.) The position of the arms and the body was unnatural, the arms being extended back and almost immovable. The least motion gave violent pain in the hands and feet, and in the back, which was lacerated with stripes. (2.) The nails, being driven through the parts of the hands and feet which abound with nerves and tendons, created the most exquisite anguish. (3.) The exposure of so many wounds to the air brought on a violent inflammation, which greatly increased the poignancy of the suffering. (4.) The free circulation of the blood was prevented. More blood was carried out in the arteries than could be returned by the veins. The consequence was, that there was a great increase in the veins of the head, producing an intense pressure and violent pain. The same was true of other parts of the body. This intense pressure in the blood vessels was the source of inexpressible misery. (5.) The pain gradually increased. There was no relaxation, and no rest.” [= Itu adalah hukuman yang paling hina / memalukan yang dikenal manusia, dan itu juga adalah hukuman yang paling menyakitkan. Hal-hal berikut ini menyebabkan penyaliban suatu kematian dengan rasa sakit yang khusus: (1.) Posisi lengan dan tubuh tidak alamiah, lengan direntangkan ke belakang dan hampir tidak bisa bergerak. Gerakan yang paling kecil memberikan rasa sakit yang hebat pada tangan dan kaki, dan pada punggung, yang sudah dicabik-cabik dengan cambuk. (2.) Paku-paku, yang dimasukkan melalui bagian-bagian tangan dan kaki yang penuh dengan syaraf dan otot, memberikan penderitaan yang sangat hebat. (3.) Terbukanya begitu banyak luka terhadap udara menyebabkan peradangan yang hebat, yang sangat meningkatkan kepedihan / ketajaman penderitaan. (4.) Peredaran bebas dari darah dihalangi. Lebih banyak darah dibawa keluar oleh arteri-arteri dari pada yang bisa dikembalikan oleh pembuluh-pembuluh darah balik. Akibatnya ialah, terjadi peningkatan yang besar dalam pembuluh darah balik di kepala, yang menghasilkan tekanan dan rasa sakit yang hebat. Hal yang sama terjadi dengan bagian-bagian tubuh yang lain. Tekanan yang hebat dalam pembuluh darah adalah sumber penderitaan yang tidak terlukiskan. (5.) Rasa sakit itu naik secara bertahap. Tidak ada pengendoran, dan tidak ada istirahat.].

 

Saudara adalah orang berdosa, dan sebetulnya saudaralah yang mengalami penyaliban yang mengerikan ini. Tetapi Kristus sudah mengalami penyaliban ini supaya saudara bebas dari hukuman Allah, asal saudara percaya dan menerima Dia sebagai Juruselamat dan Tuhan saudara. Sudahkah saudara percaya dan menerimaNya?

 

Maz 22 ditulis oleh Daud sekitar 1000 tahun sebelum Kristus. Dari mana ia bisa tahu penderitaan yang akan menimpa Kristus dengan begitu detail / terperinci? Lagi-lagi saya tekankan: adanya nubuat-nubuat seperti ini membuktikan bahwa Alkitab adalah Firman Tuhan! Kitab Suci agama lain mana yang mempunyai nubuat-nubuat seperti itu?

 

B) Tentang kematian Yesus.

 

Ayat-ayat Perjanjian Lama yang menubuatkan kematian Yesus:

 

Yes 53:8-9a - “(8) Sesudah penahanan dan penghukuman ia terambil, dan tentang nasibnya siapakah yang memikirkannya? Sungguh, ia terputus dari negeri orang-orang hidup, dan karena pemberontakan umatKu ia kena tulah. (9a) Orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik, dan dalam matinya ia ada di antara penjahat-penjahat, ...”.

 

1)         “Sesudah penahanan dan penghukuman ia terambil” (Yes 53:8a).

 

Kata ‘terambil’ maksudnya ‘ia terambil oleh kematian’.

 

Harus diartikan seperti ini sehingga sesuai dengan kata-kata selanjutnya dalam Yes 53:8c: ‘Sungguh, ia terputus dari negeri orang-orang hidup.

 

Juga kalau kita membandingkan dengan Kis 8:33 yang mengutip Yes 53:8 ini, maka jelas bahwa pandangan ini memang benar.

 

Kis 8:33 - “Dalam kehinaanNya berlangsunglah hukumanNya; siapakah yang akan menceriterakan asal-usulNya? Sebab nyawaNya diambil dari bumi.”.

 

Catatan: Albert Barnes (hal 272) mengatakan bahwa Kis 8:33 mengambil dari Yes 53:8 versi LXX / Septuaginta (Perjanjian Lama berbahasa Yunani), yang sekalipun tidak menterjemahkannya secara hurufiah, tetapi cukup tepat dalam memberikan arti umum dari bagian tersebut.

 

2)         Sungguh, ia terputus dari negeri orang-orang hidup (Yes 53:8b).

Ini jelas menunjuk pada kematian Kristus.

 

3)         kuburnya ... dalam matinya (Yes 53:9a).

Ini sudah pasti menunjuk pada kematian dan penguburan Yesus.

 

Calvin mengatakan bahwa bagian ini menunjukkan bahwa kematian Kristus menjadi sumber dari kehidupan kita. Memang, karena upah dosa adalah maut (Ro 6:23), maka kalau Yesus mau menebus dosa kita, Ia harus menggantikan kita untuk mengalami kematian / maut tersebut. Tetapi, kalau Ia memang sudah mengalami maut / kematian itu untuk kita, mengapa kita (orang Kristen) tetap harus mati? Karena kalau kita tidak mati, kita tidak bisa masuk ke surga.

 

1Kor 15:50 - “Saudara-saudara, inilah yang hendak kukatakan kepadamu, yaitu bahwa daging dan darah tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah dan bahwa yang binasa tidak mendapat bagian dalam apa yang tidak binasa.”.

 

Kita memang tetap harus mati, tetapi kematian itu bukan lagi merupakan hukuman, tetapi jalan masuk ke surga.

 

Catatan: kalau mau ditambahkan nubuat dalam Perjanjian Lama yang menunjuk pada kematian Yesus, maka kita bisa juga menggunakan domba korban dosa ataupun domba Paskah (yang keduanya disembelih dan mencurahkan darah sampai mati). Ini merupakan nubuat-nubuat dalam bentuk TYPE, dan Yesus adalah anti-typenya / penggenapannya.

 

C) Tentang kebangkitan Yesus.

 

Ayat-ayat Perjanjian Lama yang menunjukkan kebangkitan Yesus:

 

1)         Yes 53:10.

Kita sudah melihat bahwa kematian Yesus dinubuatkan dalam Yes 53:8-9. Dan kebangkitanNya dinubuatkan dalam Yes 53:10b (jadi, Yes 53 memang berbicara baik tentang penderitaan, kematian, maupun kebangkitan Yesus).

 

Yes 53:10 - “Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak TUHAN akan terlaksana olehnya.”.

 

Yes 53:8-9 sudah bicara tentang kematianNya, tetapi Yes 53:10b mengatakan ‘ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut’. Ini tidak mungkin terjadi kecuali Ia bangkit dari antara orang mati.

 

a)   “melihat keturunannya”.

 

1.         ‘keturunannya’.

KJV: his seed’ [= benihnya / keturunannya].

RSV/NIV/NASB: his offspring’ [= keturunannya].

Yang dimaksud dengan ‘keturunan Kristus’ di sini adalah ‘orang kristen’.

 

Pulpit Commentary: “The ‘seed’ of a teacher of religion are his disciples.” [= ‘Benih’ / ‘keturunan’ dari seorang guru agama adalah murid-muridnya.] - hal 297.

 

Bandingkan dengan Filemon 10  Gal 4:19  1Yoh 2:1,18,28  3:7,18  4:4  5:21 dimana  kata ‘anak’ digunakan dalam arti ‘murid’ dan dengan 1Kor 4:15 dimana kata ‘bapa’ digunakan dalam arti ‘guru’ / ‘pengajar’. Juga dengan Mark 10:24  Yoh 21:4 dimana Yesus memanggil murid-muridNya dengan sebutan ‘children’ / ‘anak-anak’.

 

Pulpit Commentary (hal 297) membandingkan juga dengan Maz 22:31 - “Anak-anak cucu akan beribadah kepadaNya,”.

 

2.         melihat keturunannya’.

Ini menunjukkan bahwa Ia harus bangkit dari antara orang mati, karena kalau tidak, ia tidak mungkin bisa melihat ‘keturunan’Nya.

 

b)   “umurnya akan lanjut”.

Calvin: “Christ shall not be hindered by his death from prolonging his days, that is, from living eternally.” [= Kristus tidak akan dihalangi oleh kematianNya untuk memperpanjang hari-hariNya / usiaNya, yaitu, untuk hidup secara kekal.] - hal 125.

 

Jadi, lagi-lagi anak kalimat ini menunjuk pada kebangkitan Yesus dari antara orang mati.

 

2)         Maz 16:10.

Maz 16:10 - “sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang KudusMu melihat kebinasaan.”.

 

Kitab Suci Indonesia salah terjemahan.

 

NIV: because you will not abandon me to the grave, nor will you let your Holy One see decay [= karena Engkau tidak akan meninggalkan aku di kubur, ataupun akan membiarkan orang KudusMu mengalami pembusukan].

 

Bdk. Kis 2:24-32 - “(24) Tetapi Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu. (25) Sebab Daud berkata tentang Dia: Aku senantiasa memandang kepada Tuhan, karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. (26) Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram, (27) sebab Engkau tidak menyerahkan (meninggalkan) aku kepada dunia orang mati (= kubur), dan tidak membiarkan Orang KudusMu melihat kebinasaan (mengalami pembusukan). (28) Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; Engkau akan melimpahi aku dengan sukacita di hadapanMu. (29) Saudara-saudara, aku boleh berkata-kata dengan terus terang kepadamu tentang Daud, bapa bangsa kita. Ia telah mati dan dikubur, dan kuburannya masih ada pada kita sampai hari ini. (30) Tetapi ia adalah seorang nabi dan ia tahu, bahwa Allah telah berjanji kepadanya dengan mengangkat sumpah, bahwa Ia akan mendudukkan seorang dari keturunan Daud sendiri di atas takhtanya. (31) Karena itu ia telah melihat ke depan dan telah berbicara tentang kebangkitan Mesias, ketika ia mengatakan, bahwa Dia tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati, dan bahwa dagingNya tidak mengalami kebinasaan (pembusukan). (32) Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi.”.

Catatan: kata-kata yang saya coret itu salah terjemahan, dan saya berikan terjemahan yang benar dalam kurung.

 

Tujuan text ini adalah untuk membuktikan bahwa Maz 16:10 tidak tergenapi dalam diri Daud (karena fakta menunjukkan bahwa Daud mati dan tetap ada dalam kuburan), tetapi tergenapi dalam diri Kristus, dan ini membuktikan bahwa nubuat dalam Maz 16:10 memang menubuatkan kebangkitan Kristus. Hal yang sama terjadi lagi dalam Kis 13:30-37 di bawah ini.

 

Bdk. Kis 13:30-37 - “(30) Tetapi Allah membangkitkan Dia dari antara orang mati. (31) Dan selama beberapa waktu Ia menampakkan diri kepada mereka yang mengikuti Dia dari Galilea ke Yerusalem. Mereka itulah yang sekarang menjadi saksiNya bagi umat ini. (32) Dan kami sekarang memberitakan kabar kesukaan kepada kamu, yaitu bahwa janji yang diberikan kepada nenek moyang kita, (33) telah digenapi Allah kepada kita, keturunan mereka, dengan membangkitkan Yesus, seperti yang ada tertulis dalam mazmur kedua: AnakKu Engkau! Aku telah memperanakkan Engkau pada hari ini. (34) Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati dan Ia tidak akan diserahkan kembali kepada kebinasaan. Hal itu dinyatakan oleh Tuhan dalam firman ini: Aku akan menggenapi kepadamu janji-janji yang kudus yang dapat dipercayai, yang telah Kuberikan kepada Daud. (35) Sebab itu Ia mengatakan dalam mazmur yang lain: Engkau tidak akan membiarkan Orang KudusMu melihat kebinasaan (mengalami pembusukan). (36) Sebab Daud melakukan kehendak Allah pada zamannya, lalu ia mangkat dan dibaringkan di samping nenek moyangnya, dan ia memang diserahkan kepada kebinasaan (pembusukan). (37) Tetapi Yesus, yang dibangkitkan Allah, tidak demikian”.”.

 

Kebangkitan Yesus ini mutlak penting, karena itu menunjukkan bahwa maut / upah dosa sudah Ia bereskan. Kalau ada satu dosa saja dari orang-orang percaya yang belum beres, Yesus tidak mungkin bisa bangkit! Fakta bahwa Yesus bangkit menunjukkan bahwa semua dosa sudah dibereskan, dan karena itu, siapapun yang percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pasti akan masuk surga!

 

3)   Kalau masih mau ditambahkan lagi ayat Perjanjian Lama yang menubuatkan kematian dan sekaligus kebangkitan Yesus, maka kita bisa melihat pada Kej 3:15.

 

Kej 3:15 - “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.’”.

 

Setan meremukkan tumit Yesus pada saat Yesus mati di kayu salib, dan Yesus meremukkan kepala setan pada saat Ia bangkit dari antara orang mati.

Kalau ada A berkelahi dengan B, dan A meremukkan tumit B, sedangkan B meremukkan kepala A, maka yang menang adalah B. Jadi, Kej 3:15 sekaligus menubuatkan kemenangan Yesus atas setan! Dan ini terjadi melalui kematian dan kebangkitanNya!

 

 

 

 

-bersambung-


 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali