Kebaktian

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

 

Minggu, tgl 20 Januari 2013, pk 17.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

[HP: (031) 7064-1331 / (031) 6050-1331 / 0819-455-888-55]

Email: [email protected]

 

LUKAS 1:1-4

 

Luk 1:1-4 - “(1) Teofilus yang mulia, Banyak orang telah berusaha menyusun suatu berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara kita, (2) seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka, yang dari semula adalah saksi mata dan pelayan Firman. (3) Karena itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu, (4) supaya engkau dapat mengetahui, bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh benar.”.

 

I) Penulis Injil Lukas.

 

1)   Tidak ada bukti hitam di atas putih bahwa Lukas adalah penulis Injil ini. Ini berbeda dengan surat-surat Paulus, yang secara jelas mengatakan bahwa Paulus adalah penulisnya. Tetapi tradisi (cerita yang diturunkan turun temurun dari mulut ke mulut) mengatakan bahwa Lukas adalah penulis Injil ini. Hal-hal yang dijadikan dasar adalah:

 

a)   Dari Luk 1:1-4 dan Kis 1:1-2 terlihat dengan jelas bahwa Injil Lukas dan Kitab Kisah Para Rasul ditulis oleh orang yang sama (dan juga ditujukan kepada orang yang sama).

Kis 1:1-2 - “(1) Hai Teofilus, dalam bukuku yang pertama aku menulis tentang segala sesuatu yang dikerjakan dan diajarkan Yesus, (2) sampai pada hari Ia terangkat. Sebelum itu Ia telah memberi perintahNya oleh Roh Kudus kepada rasul-rasul yang dipilihNya.”.

Selanjutnya dari istilah ‘kami’ yang digunakan dalam Kitab Kisah Para Rasul (Kis 16:10  20:5 dsb), terlihat bahwa penulisnya adalah teman seperjalanan Paulus.

Kis 16:10 - “Setelah Paulus melihat penglihatan itu, segeralah kami mencari kesempatan untuk berangkat ke Makedonia, karena dari penglihatan itu kami menarik kesimpulan, bahwa Allah telah memanggil kami untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di sana.”.

Kis 20:5 - “Mereka itu berangkat lebih dahulu dan menantikan kami di Troas.”.

Ini cocok dengan diri Lukas yang memang sering menyertai Paulus dalam perjalanannya.

 

b)   Adanya istilah-istilah / bahasa kedokteran yang dipakai dalam Injil Lukas maupun kitab Kisah Para Rasul, dan juga fakta menunjukkan bahwa penulis Injil ini lebih teliti dari Matius ataupun Markus pada waktu menggambarkan suatu penyakit.

Misalnya:

1.   Istilah ‘kuatlah kaki dan mata kaki orang itu’ (Kis 3:7b).

2.   Istilah ‘demam keras (Luk 4:38  bdk. Mat 8:14  Mark 1:30).

3.   Istilah penuh kusta’ (Luk 5:12  bdk. Mat 8:2  Mark 1:40).

4.   Istilah ‘seorang yang mati tangan kanannya’ (Luk 6:6 bdk. Mat 12:10  Mark 3:1).

5.   Istilah ‘putus telinga kanannya’ (Luk 22:50 bdk. Mat 26:51  Mark 14:47).

Semua ini cocok dengan diri Lukas yang adalah seorang tabib.

 

2)   Lukas adalah seorang tabib (Kol 4:14).

Kol 4:14 - “Salam kepadamu dari tabib Lukas yang kekasih dan dari Demas.”.

Paulus tidak pernah mengecam Lukas dalam hal ini, dan ini menunjukkan bahwa kekristenan tidak mengecam dokter ataupun obat!

 

3)   Lukas bukanlah orang Yahudi.

Ini terlihat dari Kol 4:10-11,14 dimana Paulus membedakan antara 3 teman Yahudinya dan Lukas.

Kol 4:10-11,14 - “(10) Salam kepada kamu dari Aristarkhus, temanku sepenjara dan dari Markus, kemenakan Barnabas - tentang dia kamu telah menerima pesan; terimalah dia, apabila dia datang kepadamu - (11) dan dari Yesus, yang dinamai Yustus. Hanya ketiga orang ini dari antara mereka yang bersunat yang menjadi temanku sekerja untuk Kerajaan Allah; mereka itu telah menjadi penghibur bagiku. ... (14) Salam kepadamu dari tabib Lukas yang kekasih dan dari Demas.”.

Dengan demikian, Lukas adalah satu-satunya penulis Perjanjian Baru yang bukan Yahudi.

 

II) Penerima Injil Lukas: Theofilus.

 

1)   Dalam Kitab Suci Indonesia istilah ‘Theofilus yang mulia’ diletakkan dalam ay 1, tetapi sebetulnya adalah seperti dalam terjemahan Inggris, dimana istilah itu diletakkan pada akhir ay 3.

 

2)   Siapakah Theofilus itu?

Ada penafsir yang berpendapat bahwa ‘Theofilus’ bukanlah nama seseorang, tetapi maksudnya adalah ‘orang-orang kristen’.

Alasannya:

a)   Tidak mungkin Lukas menuliskan Injilnya hanya untuk satu orang saja.

b)   Theofilus berasal dari 2 kata Yunani, yaitu THEOS (= God / Allah) dan PHILIA (= love / kasih), sehingga ‘Theofilus’ = God-lover / God-beloved / a friend of God (= pecinta Allah / orang yang dicintai Allah / sahabat Allah).

 

Jawaban terhadap argumentasi ini:

 

1.   Pauluspun menuliskan beberapa suratnya (seperti Timotius, Titus, Filemon) hanya untuk satu orang saja. Karena itu apa anehnya kalau Lukas menuliskan Injilnya untuk satu orang saja?

 

2.   Kata ‘mu’ / ‘engkau’ (ay 3-4) dalam bahasa Yunaninya ada dalam bentuk singular / tunggal. Kalau ‘Theofilus’ menunjuk pada ‘orang-orang kristen’ maka pasti Lukas menggunakan ‘mu’ / ‘engkau’ dalam bentuk plural / jamak.

 

3.   Adanya sebutan ‘yang mulia’ (ay 1), tidak memungkinkan bahwa istilah ‘Theofilus’ menunjuk kepada orang-orang kristen. Tidak ada alasan bagi Lukas untuk menyebut orang-orang kristen dengan sebutan ‘yang mulia’.

KJV/RSV/NIV/NASB: ‘most excellent’ (= yang termulia).

 

3)   Sebutan ‘Theofilus yang mulia’.

Dari sebutan ‘yang mulia’ ini kita bisa menyimpulkan bahwa Theofilus adalah orang yang mempunyai jabatan tinggi.

 

a)   Ini bukanlah sesuatu yang aneh pada jaman itu, dan karena itu istilah ini tidak menunjukkan Lukas sebagai orang yang menjilat. Bandingkan dengan Kis 26:25 dimana Paulus menyebut Festus dengan istilah ‘Festus yang mulia’. Ini menggunakan kata Yunani yang sama.

 

b)   Sebutan ini menunjukkan adanya sopan santun!

Dan ini menunjukkan bahwa orang kristen harus sopan (bdk. 1Kor 13:5 - ‘tidak melakukan yang tidak sopan’).

Ada gereja-gereja Liberal yang mengabaikan Injil dan doktrin, tetapi hanya menekankan ajaran moral dan etika. Ini tentu salah. Tetapi orang kristen yang injili seringkali jatuh pada extrim satunya, yaitu hanya menekankan Injil dan doktrin, tetapi mengabaikan moral dan etika, sehingga menjadi orang yang tak tahu sopan santun. Ini tentu juga salah, karena akan menjadi batu sandungan bagi orang lain.

 

Tetapi kalau kita melihat pada Kis 1:1, maka pada waktu Lukas menuliskan Kisah Rasul kepada orang yang sama, ia tidak lagi menggunakan istilah ‘yang mulia’ ini. Ada orang yang berkata bahwa ini disebabkan karena pada saat itu Theofilus telah bertobat dan menjadi orang kristen, gara-gara membaca Injil Lukas ini, dan sebagai saudara seiman, tak perlu lagi ia diberi gelar / sebutan seperti itu.

 

III) Alasan dan tujuan penulisan Injil Lukas.

 

1)   Adanya orang-orang tertentu yang menuliskan ‘Injil’.

Ay 1-2: “(1) Banyak orang telah berusaha menyusun suatu berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara kita, (2) seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka, yang dari semula adalah saksi mata dan pelayan Firman.”.

 

a)   ‘peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara kita’ (ay 1).

Kata Yunani yang oleh Kitab Suci Indonesia diterjemahkan ‘telah terjadi’, diterjemahkan bermacam-macam:

NASB/RSV: ‘accomplished’ (= telah terjadi).

NIV: ‘fulfilled’ (= digenapi).

KJV: ‘surely believed’ (= dipercaya dengan pasti).

 

Calvin menerima terjemahan KJV dan mengatakan bahwa istilah ini menunjuk pada hal-hal yang diketahui dengan pasti / tanpa keraguan.

 

Kata Yunaninya adalah PEPLEROPHOREMENON, suatu participle yang berasal dari kata dasar PLEROPHOREO, yang berasal dari 2 kata Yunani, yaitu PLERES [= ‘full’ (= penuh / lengkap)] + PHOREO / PHERO [= ‘to bring’ (= membawa)]. Jadi artinya adalah ‘to bring to fulness’ / ‘to fulfill’ (= menggenapi).

 

Memang istilah ini bisa diartikan ‘to be fully convinced’ (= diyakinkan sepenuhnya) seperti dalam Ro 14:5, tetapi itu kalau istilah ini ditujukan kepada manusia.

Ro 14:5 - “Yang seorang menganggap hari yang satu lebih penting dari pada hari yang lain, tetapi yang lain menganggap semua hari sama saja. Hendaklah setiap orang benar-benar yakin (PLEROPHOREISTHO) dalam hatinya sendiri.”.

 

Di sini istilah ini ditujukan pada peristiwa, sehingga lebih cocok diterjemahkan ‘fulfilled’ (= digenapi).

 

Hendriksen menerima terjemahan ‘fulfilled’ (= digenapi), dan lalu berkata:

“It is clear from Luke’s entire Gospel that he regards history not as the sum total of chance occurrences, or as the result of a series of fortuitous circumstances, but as the fulfilment of the divine plan; hence also of prophecy” (= Adalah jelas dari seluruh Injil Lukas bahwa ia menganggap sejarah bukan sebagai jumlah dari kejadian-kejadian yang bersifat kebetulan, atau sebagai hasil dari suatu seri keadaan-keadaan yang bersifat kebetulan, tetapi sebagai penggenapan rencana ilahi; karenanya juga penggenapan nubuat).

Bdk. Luk 1:45,54-55,69-70  2:38  3:3-6  4:21,43  7:20  9:22,44  12:50 18:31-33  19:41-44  24:25-28,44-49.

 

Hendriksen berkata lagi: “It is comforting to know that history - including that of our own lives - is the fulfilment of God’s plan. This does not cancel human responsibility” (= Adalah sesuatu yang menghibur kalau kita tahu bahwa sejarah - termasuk sejarah hidup kita sendiri - adalah penggenapan rencana Allah. Ini tidak membatalkan / membuang tanggung jawab manusia).

 

b)   Orang-orang tertentu lalu menuliskan peristiwa-peristiwa itu dan menyebarkan tulisan-tulisan mereka (ay 2).

Ay 2: “seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka, yang dari semula adalah saksi mata dan pelayan Firman.”.

 

1.   Mereka ini disebut sebagai ‘saksi mata dan pelayan Firman’.

a.   Kata ‘Firman’ di sini tidak menunjuk kepada Yesus, tetapi pada Injil.

b.   Mereka disebut ‘saksi mata’ karena mereka menerima Firman / Injil. Setelah itu mereka menjadi ‘pelayan Firman’ dimana mereka memberitakan Firman / Injil itu.

Ini orang kristen yang benar, setelah menerima Firman / Injil lalu memberitakan Firman / Injil! Bagaimana dengan saudara?

 

2.   Mereka ini bukanlah Matius atau Markus, dan lebih-lebih pasti bukan Yohanes, yang menuliskan Injil Yohanes setelah Lukas menuliskan Injilnya.

 

2)   Tulisan-tulisan ini bukannya tulisan yang sesat, dan karena itu Lukas tidak menyerang orang-orang tersebut (misalnya dengan menyebut mereka nabi palsu / pengajar sesat dsb).

Tetapi rupa-rupanya tulisan-tulisan itu kurang akurat dan / atau kurang lengkap, sehingga Lukas, yang tidak mau Injil diselewengkan sedikitpun, lalu menyelidiki dengan seksama dan lalu membukukannya dengan teratur (ay 3).

Ay 3: “Karena itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu,”.

 

a)   William Hendriksen:

“The Christian religion is not a matter of ‘cunning devised myths’ (2Pet 1:16), but rests on solid, historical fact” [= Agama kristen bukanlah persoalan ‘dongeng-dongeng yang direncanakan dengan licik / cerdik’ (2Pet 1:16), tetapi berlandaskan pada fakta historis yang kuat / kokoh].

Bandingkan ini dengan pandangan Liberal, teori Demythologizing dari Bultmann, yang mengatakan bahwa ada banyak dongeng dalam Kitab Suci, seperti Kej 1-11, cerita-cerita tentang mujijat-mujijat dalam keempat Kitab Injil, dsb. Kalau memang ini benar, untuk apa Lukas susah-susah menyelidiki fakta sejarah yang benar dan lalu membukukannya?

 

b)   ‘Lukas menyelidiki dan lalu menuliskan’ dan ‘Lukas diilhami Roh Kudus pada waktu menulis’ bukanlah 2 hal yang kontradiksi.

Banyak orang berpendapat bahwa kalau pendeta belajar buku theologia / tafsiran dan lalu menyusun khotbah, maka itu adalah ‘firman dari manusia’. Kalau mau yang dari Tuhan, maka kita hanya perlu berdoa untuk meminta pimpinan Roh Kudus.

Tetapi ternyata disini pada waktu Lukas menulis Firman Tuhan / Kitab Suci (bukan sekedar khotbah!), ia menyelidikinya lebih dulu!

 

William Barclay: “No one would deny that the gospel of Luke is an inspired document; and yet Luke begins by affirming that it is the product of the most careful historical research. God’s inspiration does not come to the man who sits with folded hands and lazy mind and only waits, but to the man who thinks and seeks and searches” (= Tidak seorangpun yang menyangkal bahwa Injil Lukas adalah suatu dokumen yang diilhamkan; dan sekalipun demikian Lukas memulainya dengan menegaskan bahwa Injil ini adalah hasil dari penyelidikan sejarah yang paling teliti. Pengilhaman Allah tidak datang kepada orang yang duduk dengan tangan dilipat dan pikiran yang malas dan hanya menunggu, tetapi kepada orang yang berpikir dan mencari dan menyelidiki).

Catatan: Kata-kata Barclay ini tidak bisa diberlakukan secara mutlak. Tentu tidak berarti bahwa semua orang yang mencari dan menyelidiki lalu mendapatkan ilham. Juga tidak semua orang yang mendapatkan ilham mendapatkannya setelah mencari dan menyelidiki.

Tetapi sekalipun demikian kita tetap bisa mendapatkan inti dari kata-kata Barclay ini, yaitu bahwa kalau kita ingin mendapatkan kebenaran dari Tuhan, tidak cukup bagi kita untuk hanya berdoa dan menunggu. Kita juga harus mau berusaha dengan belajar, berpikir, merenungkan Firman Tuhan dsb.

 

c)   ‘dengan teratur’.

Jangan mengartikan ini sebagai ‘chronologis / sesuai dengan urut-urutan waktu’. Tidak ada satu buku sejarahpun yang benar-benar chronologis, karena kalau demikian, justru akan terjadi kekacauan. Memang secara umum, Injil Lukas ini cukup chronologis, tetapi tidak mutlak.

Jadi, yang dimaksud dengan ‘dengan teratur’ di sini adalah penyusunan topik-topiknya.

 

3)   Lukas lalu mengirimkan Injil Lukas ini kepada Theofilus supaya Theofilus mendapatkan pengertian yang pasti / tepat.

Ini terlihat dari ay 4. Tetapi ay 4 dalam versi Kitab Suci Indonesia ini salah terjemahan. Dalam ay 4 versi Kitab Suci Indonesia kelihatannya bahwa semua yang diterima oleh Theofilus selama ini sudah benar, dan Lukas menuliskan Injilnya ini supaya Theofilus makin yakin akan hal itu.

Ay 4: “supaya engkau dapat mengetahui, bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh benar.”.

Tetapi bandingkan dengan terjemahan Kitab Suci bahasa Inggris di bawah ini:

NIV: ‘so that you may know the certainty of the things you have been taught’ (= supaya kamu bisa mengetahui kepastian dari hal-hal yang telah diajarkan kepadamu) - ini mirip dengan KJV.

NASB: ‘so that you may know the exact truth about the things you have been taught’ (= supaya kamu bisa mengetahui kebenaran yang persis tentang hal-hal yang telah diajarkan kepadamu) - ini mirip dengan RSV.

 

a)   ‘The things you have been taught’ (= Hal-hal yang telah diajarkan kepadamu).

Kata Yunani yang diterjemahkan ‘you have been taught’ adalah KATECHETHES, dari mana kata ‘Catechism’ (= katekisasi / pelajaran dasar) diturunkan. Kata Yunani itu juga digunakan dalam Kis 18:25  Ro 2:18  Gal 6:6a.

Katekisasi / pelajaran dasar adalah sesuatu yang penting! Lukas tidak mau membiarkan dasar dari Theofilus itu miring sekalipun hanya sedikit.

 

b)   ‘So that you may know the certainty / the exact truth’ (= Supaya kamu bisa mengetahui kepastian / kebenaran yang persis).

Ini menunjukkan bahwa ada hal-hal yang kurang akurat dalam pengajaran yang diterima oleh Theofilus selama ini, dan Lukas menuliskan Injilnya dan mengirimkannya kepada Theofilus untuk mengoreksi kesalahan-kesalahan itu.

 

1.   Tahu tentang kebenaran adalah sesuatu yang vital! Karena itu maulah belajar Firman Tuhan, datang dalam Pemahaman Alkitab, belajar makalah / cassette dsb.

 

2.   Gereja membutuhkan ajaran yang sangat ketat / akurat! Karena itu maulah belajar yang njlimet / sukar!

Jangan berkata: ‘Saya toh bukan pendeta, jadi tak perlu belajar terlalu akurat / njlimet’! Ingat bahwa Theofilus juga bukan pendeta, tetapi toh Lukas menganggap perlu bahwa ia mempunyai pengertian yang akurat.

 

 

 

 

-AMIN-


 

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ