(Jl. Dinoyo 19b, lantai 3)
Minggu, tgl 10 Februari 2008, pk 17.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
(8: 7064-1331 / 6050-1331)
Luk 9:1-6 - “(1) Maka Yesus memanggil kedua belas muridNya, lalu memberikan tenaga dan kuasa kepada mereka untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit. (2) Dan Ia mengutus mereka untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang, (3) kataNya kepada mereka: ‘Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, jangan membawa tongkat atau bekal, roti atau uang, atau dua helai baju. (4) Dan apabila kamu sudah diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari situ. (5) Dan kalau ada orang yang tidak mau menerima kamu, keluarlah dari kota mereka dan kebaskanlah debunya dari kakimu sebagai peringatan terhadap mereka.’ (6) Lalu pergilah mereka dan mereka mengelilingi segala desa sambil memberitakan Injil dan menyembuhkan orang sakit di segala tempat”.
1) Ay 3: “kataNya kepada mereka: ‘Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, jangan membawa tongkat atau bekal, roti atau uang, atau dua helai baju”.
Larangan membawa bekal, roti, uang, baju serep dan sebagainya ini hanya berlaku untuk para rasul pada missi itu saja (Calvin hal 438,443 dan William Hendriksen hal 472). Ini terlihat dengan jelas kalau kita membaca Luk 22:35-36 yang terjadi belakangan, yang mengijinkan mereka membawa apa-apa yang dilarang untuk dibawa dalam pengutusan di sini.
Luk 22:35-36 - “(35) Lalu Ia berkata kepada mereka: ‘Ketika Aku mengutus kamu dengan tiada membawa pundi-pundi, bekal dan kasut, adakah kamu kekurangan apa-apa?’ Jawab mereka: ‘Suatupun tidak.’ (36) KataNya kepada mereka: ‘Tetapi sekarang ini, siapa yang mempunyai pundi-pundi, hendaklah ia membawanya, demikian juga yang mempunyai bekal; dan siapa yang tidak mempunyainya hendaklah ia menjual jubahnya dan membeli pedang”.
a) Dilarang atau diperbolehkan membawa tongkat?
Ay 3 mengatakan ‘jangan membawa tongkat’ dan ini sama dengan Mat 10:10 - “Janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya”.
Tetapi anehnya, Mark 6:8a berbunyi: “dan berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan mereka, kecuali tongkat”.
Ada macam-macam cara untuk mengharmoniskan 2 bagian yang kelihatannya bertentangan ini:
1. Sama seperti baju dan sandal, yang dilarang adalah membawa tongkat extra.
Ada manuscripts yang menggunakan bentuk jamak RABDOUS (= tongkat-tongkat), bukanlah bentuk tunggal RABDON (= tongkat).
KJV: ‘staves’ (= tongkat-tongkat) - bentuk jamak.
RSV/NIV/NASB: ‘a staff’ (= suatu tongkat) - bentuk tunggal.
Penafsir-penafsir tertentu menyetujui bentuk jamak itu untuk menghilangkan pertentangan ini.
Keberatan:
· yang betul adalah RABDON (bentuk tunggal) karena manuscripts yang paling kuno menulis demikian (Tasker, Tyndale, hal 107), dan itu adalah pembacaan yang lebih sukar (more difficult reading). Kalau ada perbedaan antar manuscripts, maka biasanya pembacaan yang lebih sukar / tak masuk akal yang diterima.
· penggunaan RABDOUS (bentuk jamak) ini aneh. Siapa yang membawa tongkat extra dalam perjalanan?
2. Calvin: RABDON bisa berarti:
· ‘rod’ (= tongkat yang berat). Ini yang dimaksud oleh Matius / Lukas (tak boleh dibawa).
· ‘walking stick’ (= tongkat yang ringan). Ini yang dimaksud oleh Markus (boleh dibawa).
3. Mungkin dari antara 12 rasul itu ada yang sudah mempunyai tongkat dan ada yang belum. Untuk yang sudah mempunyai tongkat, berlaku Mark 6:8 (boleh dibawa); sedangkan bagi yang belum mempunyai tongkat berlaku Mat 10:10 / Luk 9:3 (tidak boleh membawa tongkat, artinya mereka tidak perlu mencari tongkat). Ini penafsiran yang saya setujui.
Barnes’ Notes (tentang Mat 10:10): “Some of them, probably, when he addressed them, ‘had staves,’ and some had not. To those who ‘had,’ he did not say that they should throw them away, as the instructions he was giving them might seem to require, but he suffered them to take them (Mark). To those who had not, he said they should not spend time in procuring them (Matthew), but ‘they were all to go just as they were.’” [= Mungkin pada waktu Ia berbicara kepada mereka, beberapa dari mereka sudah mempunyai tongkat, dan beberapa belum mempunyainya. Kepada mereka yang mempunyainya, Ia tidak mengatakan bahwa mereka harus membuangnya, seperti yang kelihatannya dituntut oleh instruksi yang Ia berikan kepada mereka, tetapi Ia membiarkan mereka membawanya (Markus). Kepada mereka yang tidak mempunyainya, Ia berkata bahwa mereka tidak boleh membuang waktu untuk mendapatkannya (Matius), tetapi mereka semua harus pergi sebagaimana adanya mereka].
b) Larangan membawa bekal / kantong perbekalan.
Kata ‘bekal’ salah terjemahan. Bandingkan dengan terjemahannya dalam Kitab Suci bahasa Inggris.
KJV: ‘scrip’ (= dompet / kantong kecil).
RSV/NIV/NASB: ‘bag’ (= kantong / koper).
William Hendriksen: “‘traveler’s bag.’ This was a kind of knapsack, a bag ‘for the road’ or ‘for traveling.’ It is a bag that, before leaving, a person would fill with supplies which he thinks he might need while traveling” (= ‘kantong orang yang bepergian’. Ini adalah sejenis ransel, sebuah kantong untuk di jalan atau untuk bepergian. Ini adalah suatu kantong yang, sebelum pergi diisi oleh seseorang dengan perbekalan / persediaan yang ia anggap bisa ia butuhkan pada saat bepergian) - hal 472.
Tetapi kalau kantong untuk perbekalan ini tak boleh dibawa, maka tentu itu juga berarti bahwa mereka tak boleh membawa bekal, seperti uang, makanan, dan sebagainya.
Matthew Henry (tentang Luk 9:3-4): “they must depend upon Providence, and the kindness of their friends, to furnish them with what was convenient for them. They must not take with them either bread or money, and yet believe they should not want. Christ would not have his disciples shy of receiving the kindnesses of their friends, but rather to expect them” (= mereka harus bersandar pada Providensia, dan kebaikan dari teman-teman mereka, untuk menyediakan mereka dengan apa yang cocok / baik untuk mereka. Mereka tidak boleh membawa roti atau uang, tetapi tetap percaya bahwa mereka tidak akan kekurangan. Kristus tidak mau murid-muridNya malu menerima kebaikan dari teman-teman mereka, tetapi sebaliknya, mengharapkannya).
Ada ‘hamba-hamba Tuhan’ yang selalu mendesak jemaat untuk memberi sesuatu kepada mereka. Ini tentu tidak pada tempatnya. Tetapi ada juga hamba-hamba Tuhan yang terlalu tinggi gengsinya, dan selalu menolak pemberian jemaat. Menurut saya, ini juga salah!
Ada yang memberikan penafsiran yang berbeda tentang larangan membawa kantong perbekalan ini.
Wycliffe Bible Commentary: “Deissmann suggests that the scrip (Gr. pera) was the wallet which a beggar carried (LAE, pp. 108-110). Jesus forbade the disciples to beg as representatives of other religions did” [= Deissmann mengusulkan bahwa dompet (Yn. PERA) adalah dompet yang dibawa oleh seorang pengemis (LAE, hal 108-110). Yesus melarang murid-murid untuk mengemis seperti yang dilakukan oleh orang-orang dari agama-agama lain].
Tetapi Lenski (hal 498) menentang pandangan Deissmann ini. Alasan yang ia berikan adalah sebagai berikut:
1. Adanya kata-kata ‘dalam perjalanan’ atau ‘untuk di jalan / perjalanan’, tak memungkinkan pandangan itu.
Ay 3: “kataNya kepada mereka: ‘Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, jangan membawa tongkat atau bekal, roti atau uang, atau dua helai baju”.
2. Posisi dari kata ini diletakkan sebelum ‘roti atau uang’ di sini (Injil Lukas), tetapi di antara keduanya dalam Injil Markus.
Mark 6:8 - “dan berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan mereka, kecuali tongkat, rotipun jangan, bekalpun jangan, uang dalam ikat pinggangpun jangan”.
Kalau kata Yunani PERA itu diartikan ‘dompet untuk mengemis’, maka rasanya aneh kalau kata itu ditempatkan dalam posisi seperti dalam Mark 6:8 ini.
3. Yesus dan murid-murid tak pernah mengemis dalam perjalanan mereka untuk memberitakan Injil / Firman Tuhan. Jadi, tidak mungkin Yesus berpikir bahwa murid-murid akan melakukan hal itu. Karena itu, tak mungkin juga Yesus memberikan larangan seperti itu.
Kalaupun pandangan Wycliffe dan Deissmann di atas itu (bahwa PERA adalah dompet untuk mengemis) salah, saya tetap setuju dengan mereka dalam hal bahwa hamba Tuhan tak boleh ‘mengemis’!
c) Larangan membawa 2 helai baju.
Sebetulnya yang dmaksud dengan ‘baju’ di sini, bukan ‘baju’ dalam pengertian kita di sini.
William Hendriksen: “‘two tunics.’ The tunic was an undershirt worn next to the skin. It reached almost to the feet and was equipped with arm holes” (= ‘dua tunic’. Tunic adalah baju dalam yang dipakai setelah kulit. Itu hampir mencapai kaki dan diperlengkapi dengan lubang lengan) - hal 472.
Catatan: dalam kamus kata ‘tunic’ diterjemahkan ‘jubah’. Tetapi lagi-lagi ini berbeda dengan ‘jubah’ dalam pengertian kita. Kata ini bisa diartikan ‘pakaian dalam’, tetapi lagi-lagi ini berbeda dengan ‘pakaian dalam’ bagi kita. Untuk bisa mengerti dengan lebih baik tentang arti sebenarnya dari kata ini perhatikan kutipan di bawah ini.
Fred H. Wight: “The tunic ... was a shirt which was worn next to the skin. It was made of leather, haircloth, wool, linen, or in modern times, usually of cotton. The simplest form of it was without sleeves and reached to the knees or sometimes to the ankles. The well-to-do wore it with sleeves and extending to the ankles. Women as well as men wore it (see Cant. 5:8, ARV), although there was no doubt a difference in style and pattern in what was worn by the two. Among the lower classes, the tunic was often the only dress worn in warm weather. Persons of higher rank might wear the tunic alone inside the house, but would not wear it without the outer garment outside, or when they were to receive a caller. In the Bible the term ‘naked’ is used of men clad only with their tunic (cf. Isa. 20:2-4; Micah 1:8; John 21:7). To be dressed in such a scanty manner was thought of as ‘nakedness’” [= Tunic ... adalah baju yang dipakai langsung setelah kulit. Itu dibuat dari kulit, kain bulu, wol, lenan, atau dalam jaman modern, biasanya dari katun. Bentuk yang paling sederhana darinya adalah tanpa lengan baju dan mencapai lutut atau kadang-kadang sampai pada pergelangan kaki. Orang-orang yang kaya memakai tunic yang mempunyai lengan baju dan mencapai pergelangan kaki. Perempuan maupun laki-laki memakainya (lihat Kidung 5:8, ARV), sekalipun tak diragukan ada perbedaan dalam gaya dan pola dalam apa yang dipakai oleh keduanya. Di kalangan yang lebih rendah, tunic sering merupakan satu-satunya pakaian yang dipakai dalam cuaca panas. Orang-orang dari tingkatan yang lebih tinggi memakai tunic saja di dalam rumah, tetapi tidak akan memakainya tanpa jubah luar di luar rumah, atau pada waktu mereka menerima tamu. Dalam Alkitab istilah ‘telanjang’ digunakan bagi orang yang hanya memakai tunic (bdk. Yes 20:2-4; Mikha 1:8; Yoh 21:7). Berpakaian dengan cara yang begitu sedikit dianggap sebagai ‘ketelanjangan’] - ‘Manners and Customs of Bible Lands’, hal 91-92.
Yes 20:2-4 - “(2) pada waktu itu berfirmanlah TUHAN melalui Yesaya bin Amos. FirmanNya: ‘Pergilah dan bukalah kain kabung dari pinggangmu dan tanggalkanlah kasut dari kakimu,’ lalu iapun berbuat demikian, maka berjalanlah ia telanjang dan tidak berkasut. (3) Berfirmanlah TUHAN: ‘Seperti hambaKu Yesaya berjalan telanjang dan tidak berkasut tiga tahun lamanya sebagai tanda dan alamat terhadap Mesir dan terhadap Etiopia, (4) demikianlah raja Asyur akan menggiring orang Mesir sebagai tawanan dan orang Etiopia sebagai buangan, tua dan muda, telanjang dan tidak berkasut dengan pantatnya kelihatan, suatu penghinaan bagi Mesir”.
Mikha 1:8 - “Karena inilah aku hendak berkeluh kesah dan meratap, hendak berjalan dengan tidak berkasut dan telanjang, hendak melolong seperti serigala dan meraung seperti burung unta”.
Yoh 21:7 - “Maka murid yang dikasihi Yesus itu berkata kepada Petrus: ‘Itu Tuhan.’ Ketika Petrus mendengar, bahwa itu adalah Tuhan, maka ia mengenakan pakaiannya, sebab ia tidak berpakaian [KJV: ‘naked’ (= telanjang)], lalu terjun ke dalam danau”.
Lenski: “Travelers often had two or more tunics, not only in order to have a change but also to wear as a protection against the cold. These orders are not intended to inflict hardship on the disciples but to relieve them of all worry regarding their bodily needs” (= Orang yang bepergian sering mempunyai dua atau lebih tunic, bukan hanya supaya mempunyai ganti tetapi juga untuk digunakan sebagai perlindungan terhadap cuaca dingin. Perintah-perintah ini tidak dimaksudkan untuk memberikan penderitaan kepada murid-murid, tetapi untuk membebaskan mereka dari semua kekuatiran berkenaan dengan kebutuhan tubuh / jasmani mereka) - hal 498.
d) Dalam Mat 10:10 ada tambahan larangan yaitu membawa kasut.
Ini seharusnya adalah ‘sandal’, dan ini tidak berarti bahwa mereka harus telanjang kaki. Ini harus diartikan seperti baju. Yang dilarang adalah membawa sandal extra (bdk. Mark 6:9 - “boleh memakai alas kaki”.).
Kesimpulan dari larangan-larangan ini:
Lenski: “The orders which Jesus issues to the apostles are to teach them absolute dependence upon their Lord who sends them out. They are to take nothing along for the road because Jesus will see that they are provided for. After this lesson had once been thoroughly learned, they would be ready for their world-wide mission so that, whether they had something with them or not, their dependence on their Lord would always be the same” (= Perintah-perintah yang diberikan oleh Yesus kepada rasul-rasul adalah untuk mengajar mereka ketergantungan mutlak kepada Tuhan mereka yang mengutus mereka. Mereka tidak boleh membawa apa-apa untuk perjalanan karena Yesus akan menjaga / mengatur sehingga mereka dipelihara / dicukupi. Setelah pelajaran ini dipelajari sekali dengan sepenuhnya, maka mereka akan siap untuk missi mereka di seluruh dunia, sehingga apakah mereka mempunyai sesuatu atau tidak, ketergantungan mereka kepada Tuhan mereka akan selalu sama) - hal 497.
2) Ay 4: “Dan apabila kamu sudah diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari situ”.
Matthew Henry mengatakan bahwa alasan mengapa mereka tak boleh berpindah-pindah tempat tinggal adalah sebagai berikut:
a) Supaya orang-orang bisa menemukan mereka dengan mudah.
b) Supaya teman-teman mereka tak menganggap mereka mundur dari pelayanan terhadap mereka.
c) Supaya mereka tak dianggap takut / malu menghadapi musuh-musuh mereka.
Saya tak terlalu setuju dengan pandangan Matthew Henry. Saya lebih setuju dengan pandangan Wycllife yang mengatakan bahwa mereka dilarang berpindah-pindah itu untuk mencari tempat menginap yang paling enak (tak boleh cerewet), tetapi mereka harus menerima apapun yang ditawarkan / diberikan kepada mereka.
William Hendriksen: “It is the duty of the hearers to extend hospitality. All the more so when the travelers enrich the people with the pearl of great price. And the visitors themselves must show a co-operative spirit. They must not be so fastidious that whenever some small detail is not to their liking in one home, they immediately leave and enter another where the facilities seem to be more desirable and the food more palatable. The spread of the gospel has the priority over personal likes and dislikes” [= Merupakan kewajiban dari pendengar-pendengar untuk menerima mereka di rumah mereka. Lebih-lebih kalau orang-orang yang bepergian itu memperkaya orang-orang dengan mutiara yang mahal. Tetapi tamu-tamu itu sendiri juga harus mau bekerja sama. Mereka tidak boleh begitu cerewet sehingga kapanpun ada hal kecil yang tidak cocok dengan kesenangan mereka di satu rumah, mereka langsung meninggalkannya dan memasuki rumah lain dimana fasilitasnya kelihatannya lebih menyenangkan dan makanannya lebih enak. Penyebaran injil harus lebih diutamakan dari kesenangan atau ketidak-senangan pribadi] - hal 473.
Berbeda dengan larangan-larangan di atas yang hanya berlaku untuk pengutusan ini saja, maka menurut saya point ini berlaku terus, dan berlaku bagi semua hamba Tuhan. Apa alasannya? Karena hal ini didukung oleh bagian-bagian lain dari Kitab Suci, seperti sikap Yesus dan rasul-rasul sendiri, yang memang tidak pernah cerewet ataupun menuntut kemewahan.
Bandingkan dengan ‘hamba-hamba Tuhan’ tertentu yang menuntut untuk dijemput dari airport dengan mobil mewah, dan menginap di hotel bintang 5 dan sebagainya.
3) Ay 5: “Dan kalau ada orang yang tidak mau menerima kamu, keluarlah dari kota mereka dan kebaskanlah debunya dari kakimu sebagai peringatan terhadap mereka.’”.
a) Apa artinya pengebasan debu dari kaki?
Ayat di atas jelas mengatakan bahwa tindakan ini dilakukan sebagai peringatan terhadap orang-orang yang menolak Injil itu. Tetapi mengapa peringatan itu dilakukan dengan cara itu?
Albert Barnes mengatakan bahwa orang-orang Yahudi menganggap bahwa debu dari orang-orang non Yahudi adalah najis, dan karena itu harus dikebaskan. Jadi, mengebaskan debu dari kaki merupakan tindakan simbolis yang menunjukkan bahwa mereka menganggap orang-orang itu sebagai najis dan kafir, dan juga menandakan tak adanya hubungan lagi dengan orang-orang najis dan kafir itu.
Calvin: “To shake of the dust from the feet was probably a custom then prevalent in Judea, as a sign of execration; and was intended to declare that the inhabitants of the place were so polluted, that the very ground on which they trod was infected” (= Mengebaskan debu dari kaki mungkin merupakan suatu kebiasaan yang pada saat itu umum di Yehuda, sebagai suatu tanda dari kutukan / kejijikan; dan dimaksudkan untuk menyatakan bahwa penduduk dari tempat itu begitu kotor, sehingga tempat yang mereka injak tertular).
William Hendriksen: “After traveling through heathen territory Jews had the custom of shaking the dust off their sandals and clothes before re-entering the Holy Land. They were afraid that otherwise in their own country levitically clean objects might be rendered unclean. What Jesus is saying, therefore, is that even an Israelitish place, be it a house or a city, that refuses to accept the gospel must be considered unclean, as if it were pagan soil. Therefore such a center of unbelief must be treated similarly” (= Setelah bepergian melalui daerah orang kafir, orang-orang Yahudi mempunyai suatu kebiasaan untuk mengebaskan debu dari sandal dan pakaian mereka sebelum memasuki kembali Tanah yang Kudus. Mereka takut bahwa kalau mereka tidak melakukan hal itu, maka hal-hal yang secara hukum lewi adalah tahir bisa berubah menjadi najis. Karena itu, apa yang Yesus sedang katakan, adalah bahwa bahkan dalam suatu tempat Israel, apakah itu rumah atau kota, yang menolak untuk menerima Injil, harus dianggap sebagai najis, seakan-akan itu adalah tanah orang kafir. Karena itu, pusat ketidak-percayaan seperti itu harus diperlakukan dengan cara yang serupa) - hal 460.
Adam Clarke: “The Jews considered themselves defiled by the dust of a pagan country, which was represented by the prophets as a polluted land, Amos 7:7, when compared with the land of Israel, which was considered as a holy land, Ezek. 45:1; therefore, to shake the dust of any city of Israel from off one’s clothes or feet was an emblematical action, signifying a renunciation of all further connection with them, and placing them on a level with the cities of the Heathen” (= Orang-orang Yahudi menganggap diri mereka sendiri dikotori oleh debu dari negeri kafir, yang digambarkan oleh nabi-nabi sebagai negeri yang najis, Amos 7:7, pada waktu dibandingkan dengan tanah Israel, yang dianggap sebagai tanah yang kudus, Yeh 45:1; karena itu, mengebaskan debu dari kota manapun dari Israel dari pakaian atau kaki seseorang merupakan suatu tindakan simbolis, menunjukkan suatu penolakan dari semua hubungan lebih jauh dengan mereka, dan menempatkan mereka pada satu tingkat dengan kota-kota orang kafir).
Catatan: Amos 7:7 itu seharusnya Amos 7:17 - “Sebab itu beginilah firman TUHAN: Isterimu akan bersundal di kota, dan anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan tewas oleh pedang; tanahmu akan dibagi-bagikan dengan memakai tali pengukur, engkau sendiri akan mati di tanah yang najis, dan Israel pasti pergi dari tanahnya sebagai orang buangan.’”.
b) Kalau semua perintah / larangan di atas hanya bersifat sementara / berlaku untuk saat itu saja, mengapa pengebasan debu ini tetap dilakukan oleh Paulus?
Kis 13:51 - “Akan tetapi Paulus dan Barnabas mengebaskan debu kaki mereka sebagai peringatan bagi orang-orang itu, lalu pergi ke Ikonium”.
Kis 18:6 - “Tetapi ketika orang-orang itu memusuhi dia dan menghujat, ia mengebaskan debu dari pakaiannya dan berkata kepada mereka: ‘Biarlah darahmu tertumpah ke atas kepalamu sendiri; aku bersih, tidak bersalah. Mulai dari sekarang aku akan pergi kepada bangsa-bangsa lain.’”.
Alasannya:
1. Karena dalam pengutusan 70 murid perintah ini diulang.
Luk 10:1,10-11 - “(1) Kemudian dari pada itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahuluiNya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungiNya. ... (10) Tetapi jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu tidak diterima di situ, pergilah ke jalan-jalan raya kota itu dan serukanlah: (11) Juga debu kotamu yang melekat pada kaki kami, kami kebaskan di depanmu; tetapi ketahuilah ini: Kerajaan Allah sudah dekat”.
2. Karena tindakan itu memang merupakan tradisi / kebiasaan dari orang-orang Yahudi pada jaman itu.
Tetapi bagi kita yang bukan orang Yahudi, dan tidak mempunyai tradisi seperti itu, maka tentu tindakan pengebasan debu dari kaki seperti itu tidak perlu ditiru secara hurufiah. Text seperti ini perlu dikontextualisasikan, artinya disesuaikan dengan kebiasaan pada jaman dan tempat kita sekarang. Kita bisa menggantinya dengan tindakan / sikap yang menyatakan ketidak-senangan kita terhadap penolakan Injil / Yesus tersebut.
c) Yang dipersoalkan dalam ay 5 ini bukan penolakan terhadap mujijat tetapi terhadap firman. Memang jarang ada orang yang menolak mujijat kesembuhan, pengusiran setan, dsb, tetapi banyak orang menolak Injil / firman! Karena itu, jangan heran melihat bahwa gereja-gereja yang menekankan mujijat kesembuhan selalu laris, tak peduli di sana firmannya buruk atau bahkan sesat! Mereka memang tidak peduli pada kebenaran, mereka hanya mencari kesembuhan / berkat jasmani.
d) Ini menunjukkan keunggulan dari firman atas mujijat; Tuhan paling murka kalau firmanNya ditolak!
Calvin: “This form of execration confirms still more what I lately mentioned, that no crime is more offensive to God than contempt of his word: for he does not enjoin them to make use of so solemn a mode in expressing their detestation of adulterers, or murderers, or any description of malefactors” (= Bentuk kutukan / kejijikan ini meneguhkan lebih lagi apa yang tadi saya sebutkan, bahwa tidak ada kejahatan yang lebih menyakitkan hati Allah dari pada kejijikan terhadap firmanNya: karena Ia tidak memerintahkan mereka untuk menggunakan cara menyatakan kejijikan mereka dengan cara yang begitu khidmat terhadap pezinah, atau pembunuh, atau penjahat-penjahat lain manapun).
Calvin: “this passage shows in what estimation the Lord holds his gospel, and, indeed, as it is an inestimable treasure, they are chargeable with base ingratitude who refuse it when offered to them. ... ‘Shake off the dust.’ As the Lord here recommends the doctrine of the gospel, that all may receive it with reverence, and terrifies rebels by threatening severe punishment, so he enjoins the apostles to proclaim the vengeance which he threatens. But this they cannot do, unless they burn with very ardent zeal to make known the doctrines which they preach. We must therefore hold that no man is qualified to become a teacher of heavenly doctrine, unless his feelings respecting it be such, that he is distressed and agonized when it is treated with contempt” (= text ini menunjukkan bagaimana Tuhan menilai InjilNya, dan memang karena injil itu merupakan harta yang tidak ternilai, mereka yang menolaknya pada waktu injil itu ditawarkan kepada mereka, dituduh dengan rasa tak tahu terima kasih yang jelek / hina. ... ‘Kebaskanlah debunya dari kakimu’. Sebagaimana Tuhan di sini memuji kebaikan dari ajaran injil, supaya semua bisa menerimanya dengan hormat dan takut, dan menakuti pemberontak-pemberontak dengan ancaman hukuman yang berat, demikian juga ia memerintahkan rasul-rasul untuk menyatakan pembalasan yang ia ancamkan. Tetapi mereka tidak bisa melakukan hal ini kecuali mereka menyala dengan semangat yang sangat bergairah untuk menyatakan ajaran yang mereka khotbahkan. Karena itu kita harus mempercayai bahwa tidak ada orang yang memenuhi syarat untuk menjadi seorang pengajar / guru dari ajaran surgawi, kecuali perasaannya menghormati ajaran itu sedemikian rupa, sehingga ia merasa sedih dan sangat menderita pada waktu injil itu dihina).
Matthew Henry: “The best and most powerful preachers of the gospel must expect to meet with some, that will not so much as give them the hearing, nor show them any token of respect” (= pemberita-pemberita Injil yang terbaik dan paling berkuasa harus berharap untuk bertemu dengan sebagian orang yang tidak akan mendengarkan mereka, ataupun menghormati mereka).
e) Biasanya, kalau firman yang diberitakan ditolak, maka pemberita firman itu juga ditolak.
Bdk. Mat 10:14a - “Dan apabila seorang tidak menerima kamu dan tidak mendengar perkataanmu”.
Matthew Henry: “Contempt of the gospel, and contempt of gospel ministers, commonly go together” (= Kejijikan terhadap Injil, dan kejijikan terhadap pelayan-pelayan Injil, biasanya berjalan bersama-sama).
Kalau firman ditolak tetapi pemberitanya diterima, biasanya ada sesuatu yang tidak beres berupa kompromi-kompromi tertentu yang menyebabkan terjadinya hal itu. Ini bisa berupa kompromi dalam hal ajaran (seperti yang dilakukan oleh Bambang Noorsena), ataupun kompromi dalam sikap / tindakan.
Contoh:
· mereka tidak memberitakan Yesus sebagai Allah, satu-satunya jalan ke surga dan sebagainya.
· mereka menyetujui bahwa semua agama sama, dan sama-sama bisa masuk surga.
· mereka tidak memberitakan Injil.
· mereka mau ikut dalam acara-acara agama lain, bahkan membantu acara-acara agama lain, ataupun membantu pendirian rumah ibadah mereka.
Penerapan: banyak gereja / hamba Tuhan yang bangga kalau mereka bisa hidup rukun pada saat mereka tetap diterima oleh masyarakat sekitar mereka sekalipun ajaran mereka ditolak. Saya beranggapan bahwa ini adalah kebanggaan yang tidak pada tempatnya. Mereka seharusnya malu, bukan bangga.
Bdk. Luk 6:22-23,26 - “(22) Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat. (23) Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di sorga; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi. ... (26) Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu.’”.
f) Adanya pengebasan debu sebagai peringatan bagi mereka yang menolak Injil, menunjukkan bahwa dalam melakukan penginjilan, orang Kristen tidak boleh melakukannya seakan-akan mereka ‘mengemis’ supaya orang mau percaya kepada Yesus. Kita harus memberitakan Injil dengan otoritas, yang di sini dilakukan dengan memberikan peringatan / kecaman terhadap orang-orang yang tidak mau bertobat / menerima Injil tersebut!
Dalam Pemberitaan Injil, kita tidak boleh selalu ramah / lemah lembut. Kalau Injil ditolak / dihina kita harus menunjukkan sikap keras. Awas, bukan harus marah, tetapi menunjukkan sikap keras! Bandingkan dengan:
· sikap Yohanes Pembaptis dalam Mat 3:7-12.
· sikap Stefanus dalam Kis 6-7.
· sikap Paulus dalam Kis 13:6-12,45-47,50-51 17:32-33 18:6.
· sikap Yesus dalam Mat 23:1-39.
Jangan memberitakan Injil dengan cara seolah-olah Injil itu adalah barang murahan / jelek yang tidak laku!
Spurgeon: “Disclaim all fellowship with those who will not have fellowship with your Lord. Be not angry; do not denounce with bitterness; just ‘shake off the dust of your feet,’ and go elsewhere. Don’t depart to rail at the people in private; but let them know that you quit them because they refuse your message. Do this openly, and in the most solemn and instructive manner, hoping that your departing act may be remembered. It is to be feared that we treat rejectors of Christ in a sadly biding manner, and do not hold up their rejection of our King to the detestation it deserves. We ought to let impenitent sinners know that we consider them out of our fellowship. If they will not hear, we must make them see that we disown them, and count them to be unclean, because they refuse Christ Jesus. How little of this is done by the smooth-tongued preachers of today! Men may refuse their gospel, and still be the bosom friends of those who preach to them. Yea, they try even from the pulpit to cheer them in their impenitence by the dream of a ‘larger hope.’” (= Lepaskanlah semua persekutuan dengan mereka yang tidak mau mempunyai persekutuan dengan Tuhanmu. Janganlah marah; janganlah mencela dengan kepahitan; hanya ‘kebaskanlah debu dari kakimu’ dan pergilah ke tempat lain. Janganlah meninggalkan sambil mencemooh kepada orang-orang secara pribadi; tetapi biarlah mereka tahu bahwa engkau meninggalkan mereka karena mereka menolak beritamu. Lakukan ini secara terbuka, dan dengan cara yang paling khidmat dan bersifat mengajar, sambil berharap bahwa tindakan kepergianmu bisa diingat. Ditakutkan bahwa kita memperlakukan penolak-penolak Kristus dengan cara menunggu / bertahan yang menyedihkan, dan tidak menunjukkan pada penolakan mereka kejijikan yang layak didapatkannya. Jika mereka tidak mau mendengar, kita harus membuat mereka melihat bahwa kita menolak mereka, dan menganggap mereka sebagai najis, karena mereka menolak Kristus Yesus. Alangkah sedikit dari hal ini yang dilakukan oleh pengkhotbah-pengkhotbah yang berlidah halus / manis pada jaman ini! Orang-orang boleh menolak Injil mereka, dan tetap adalah sahabat-sahabat baik dari mereka yang memberitakannya kepada mereka. Ya, mereka bahkan berusaha dari mimbar untuk menghibur mereka dalam keadaan tidak bertobat mereka dengan mimpi dari suatu ‘pengharapan yang lebih besar’).
Catatan: saya kira kata-kata / ajaran di atas ini harus dijaga supaya tak dilakukan dengan terlalu extrim, dengan bersikap keras terhadap setiap orang yang menolak untuk percaya kepada Injil. Mungkin harus dibedakan antara 2 kelompok penolak Injil:
1. Orang-orang yang menolak Injil dengan sikap keras, mengejek, menghina, menyerang / menganiaya dsb.
2. Orang-orang yang menolak Injil dengan cara diam saja, atau menolak karena mempunyai argumentasi yang serius.
Mungkin hanya kelompok pertama yang patut mendapat ‘pengebasan debu dari kaki kita’ / sikap keras dari kita!
-bersambung-
-AMIN-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali