Tanggal 24 Maret 2002

 

LUkas 22:39-46

 

Lukas hanya menyebutkan tentang ‘Bukit Zaitun’ tetapi Matius dan Markus menambahkan penggambaran yang lebih terperinci dari tempat tersebut, dan menyebut ‘Getsemani’.

I) Yesus pergi ke tempat Ia biasa pergi.

 

Lukas mengatakan ‘sebagaimana biasa’ (ay 39). Karena itu, Yudas Iskariot, sang pengkhianat itu, juga tahu akan tempat itu. Bdk. Yoh 18:2 - “Yudas, yang mengkhianati Yesus, tahu juga tempat itu, karena Yesus sering berkumpul di situ dengan murid-muridNya”.

Calvin mengatakan (hal 225) bahwa dari sini terlihat dengan jelas bahwa Yesus pergi ke sana bukan untuk bersembunyi, tetapi sebaliknya, Ia seakan-akan mengadakan perjanjian dengan para musuhNya untuk bertemu di sana, karena Ia memang mau menyerahkan diriNya untuk dibunuh

 

William Hendriksen: “The very fact that Jesus did the usual thing (cf. 21:37) makes this action of Jesus most unusual, most unlike what other people generally do when they are confronted with danger” (= Fakta bahwa Yesus melakukan hal yang biasa Ia lakukan (bdk. 21:37) membuat tindakan Yesus ini paling tidak biasa, paling tidak seperti apa yang orang lain biasanya lakukan pada saat mereka diperhadapkan dengan bahaya) - hal 981.

 

Tindakan Yesus ini menunjukkan bahwa Ia memang rela menderita dan mati untuk menebus dosa kita. Bandingkan kerelaanNya ini dengan kerelaan saudara dalam:

II) Kesedihan / rasa takut dari Kristus.

 

1)   Beberapa ayat yang menunjukkan kesedihan dan rasa takut Yesus.

 

Luk 22:44: ‘Ia sangat ketakutan’. Ini salah terjemahan!

NIV: ‘being in anguish’ (= ada dalam kesedihan).

NASB: ‘being in agony’ (= ada dalam penderitaan).

Jadi dari ayat ini sebetulmnya tak terlihat bahwa Yesus takut.

 

Mat 26:37: ‘sedih dan gentar’. Ini salah terjemahan!

NIV: ‘to be sorrowful and troubled’ (= sedih dan susah).

NASB: ‘to be grieved and distressed’ (= sedih dan susah).

Jadi, dari ayat ini terlihat bahwa Yesus sedih, tetapi tidak terlihat bahwa Ia takut.

 

Mark 14:33: ‘sangat takut dan gentar’.

NIV/NASB: ‘deeply / very distressed and troubled’ (= sangat sedih dan susah).

Di sini terjemahan NIV/NASB juga salah, karena kata yang diterjemahkan ‘distressed’ (= sedih) itu dalam bahasa Yunaninya adalah EKTHAMBEISTHAI yang berasal dari kata EKTHAMBEOMAI, yang sebetulnya berarti ‘be greatly alarmed’ (= sangat takut).

Jadi, dari ketiga ayat di atas ini kita bisa melihat bahwa Yesus bukan hanya sedih tetapi juga takut.

 

Ada hal-hal lain yang menunjukkan bahwa saat itu Yesus takut:

·        doa Yesus dalam Luk 22:42 secara implicit menunjukkan bahwa Ia takut terhadap ‘cawan’ itu.

·        Luk 22:44b mengatakan bahwa Ia mencucurkan peluh seperti darah. Ada yang menganggap bahwa ini betul-betul adalah darah, dan orang-orang ini mengatakan bahwa hal seperti ini memang bisa terjadi (dan pernah terjadi) pada orang yang mengalami ketakutan yang luar biasa.

·        Ibr 5:7 (KJV): ‘... he had offered up prayers and supplications with strong crying and tears unto him that was able to save him from death, and was heard in that he feared (= Ia menaikkan doa dan permohonan dengan tangisan keras dan air mata kepada Dia yang bisa melepaskanNya dari maut, dan didengarkan dalam hal yang Ia takuti).

 

2)   Bagaimana Kristus yang suci bisa sedih dan takut?

 

a)   Calvin mengatakan (hal 226-227) bahwa banyak orang menganggap bahwa rasa sedih dan takut dari Yesus ini tidak sesuai dengan keilahianNya, sehingga mereka berusaha untuk mencari jalan untuk menghindari kesukaran ini. Tetapi Calvin menyalahkan orang-orang itu, dan ia justru berkata bahwa orang-orang yang mengkhayalkan bahwa Kristus tidak mempunyai perasaan-perasaan manusia juga tidak betul-betul mengakui bahwa Ia adalah seorang manusia.

 

b)   Calvin berkata bahwa sekalipun Kristus sedih dan takut, tetapi kemanusiaanNya berbeda dengan kita karena kemanusianNya suci. Karena itu jangan menyamakan Dia dengan kita. Kalau kita sedih / takut, kita selalu berdosa. Tetapi Kristus tidak demikian. Ia bisa sedih / takut tetapi tidak berdosa.

Calvin: “the weakness which Christ took upon himself must be distinguished from ours, for there is a great difference. In us there is no affection unaccompanied by sin, because they all exceed due bonds and proper restraint; but when Christ was distressed by grief and fear, he did not rise against God, but continued to be regulated by the true rule of moderation. We need not wonder that, since he was innocent, and pure from every stain, the affections which flowed from him were pure and stainless; but that nothing proceeds from the corrupt nature of men which is not impure and filthy. Let us, therefore, attend to this distinction, that Christ, amidst fear and sadness, was weak without any taint of sin; but that all our affections are sinful, because they rise to an extravagant height” (= ) - hal 227.

 

Calvin: “In the present corruption of our nature it is impossible to find ardour of affections accompanied by moderation, such as existed in Christ; but we ought to give such honour to the Son of God, as not to judge him by what we find in ourselves” (= Dalam keadaan kita yang berdosa sekarang ini, tidak mungkin untuk mendapatkan perasaan yang tidak berlebihan, seperti yang ada dalam Kristus; tetapi kita harus menghormati Anak Allah dengan tidak menghakimiNya dengan apa yang kita dapatkan dalam diri kita sendiri) - hal 232.

 

Calvin: “When Christ was struck with horror at the divine curse, the feeling of the flesh affected him in such a manner, that faith still remained firm and unshaken. For such was the purity of his nature, that he felt, without being wounded by them, those temptations which pierce us with their stings”  (= Ketika Kristus takut pada kutuk ilahi, perasaan dari daging mempengaruhiNya dengan cara sedemikian rupa sehingga iman tetap teguh dan tidak tergoyahkan. Karena begitu murninya hakekatNya, sehingga Ia merasa, tanpa terluka, oleh pencobaan-pencobaan yang akan menusuk kita dengan sengatnya) - hal 234.

 

3)   Apa yang ditakuti oleh Kristus?

Jelas bahwa Kristus bukan takut terhadap kematian, tetapi terhadap beban / hukuman dosa kita yang diletakkan kepadaNya, dan penghakiman Allah kepadaNya, keterpisahanNya dengan Allah, dan sebagainya.

Leon Morris (Tyndale): “It cannot be death as such that caused this tremendous depth of feeling. Rather it was the kind of death that Jesus would die, that death in which He was forsaken by God (Mk. 15:34), in which God made Him to be sin for us (2Cor. 5:21)” [= ] - hal 312.

Calvin: “whence came his sorrow, and anguish, and fear, but because he felt that death had something in it more sad and more dreadful than the separation of the soul and body? ... He had no horror at death, therefore, simply as a passage out of the world, but because he had before his eyes the dreadful tribunal of God, and the Judge himself armed with inconceivable vengeance; and because our sins, the load of which was laid upon him, pressed him down with their enormous weight. ... death in itself would not have so grievously tormented the mind of the Son of God, if he had not felt that he had to deal with the judgment of God” (= ) - hal 228.

 

4)   Kesedihan / rasa takut Yesus di taman Getsemani dianggap sebagai dasar untuk mengatakan bahwa penebusan dosa sudah mulai terjadi pada saat itu.

 

Pulpit Commentary: “Whatever was intended by ‘bearing our sins in his own body,’ by ‘making his soul an offering for sin,’ and by expressions similar to these, we believe that Jesus Christ was then in the very act of fulfilling these predictions when he thus strove and suffered in the garden. As we look upon him there we see ‘the Lamb of God taking away the sin of the world.’” (= ) - hal 224.

Catatan:

·        Kutipan pertama dari 1Pet 2:24 - Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuhNya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilurNya kamu telah sembuh”.

·        Kutipan kedua dari Yes 53:10 - “Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak TUHAN akan terlaksana olehnya”.

KJV: ‘Yet it pleased the LORD to bruise him; he hath put him to grief: when thou shalt make his soul an offering for sin, he shall see his seed, he shall prolong his days, and the pleasure of the LORD shall prosper in his hand’ (= ).

NIV: Yet it was the LORD's will to crush him and cause him to suffer, and though the LORD makes his life a guilt offering, he will see his offspring and prolong his days, and the will of the LORD will prosper in his hand (= ).

Dalam bahasa Ibraninya memang ada kata NEPHES, yang artinya ‘jiwa’.

 

Dalam tafsirannya tentang Mat 26:38 yang berbunyi: “lalu kataNya kepada mereka: ‘HatiKu sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku.’”, Adam Clarke berkata: “Now, the grand expiatory sacrifice begins to be offered: in this garden Jesus enters fully into the sacerdotal office; and now, on the altar of his immaculate divinity, begins to offer his own body - his own life - a lamb without spot, for the sin of the world. ... In my opinion, the principal part of the redemption price was paid in this unprecedented and indescribable agony” (= Sekarang, korban penebusan yang agung mulai dipersembahkan: dalam taman ini Yesus masuk sepenuhnya ke dalam jabatan / tugas / fungsi keimamanNya; dan sekarang, pada altar dari keilahianNya yang tidak bercela, mulai mempersembahkan tubuhNya sendiri - nyawaNya sendiri - domba tanpa cacat, untuk dosa dari dunia. ... Menurut saya, bagian terutama / terpenting dari harga penebusan dibayar dalam penderitaan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tak bisa digambarkan ini) - hal 257.

Anehnya, dalam tafsirannya tentang Luk 22:43-44, Adam Clarke mengatakan (hal 492) bahwa pelayanan malaikat yang diberikan kepada Yesus, pasti dikirim dari Allah, dan itu dikirim dalam kasih, dan merupakan bukti bahwa murka Allah tidak dicurahkan kepada Penebus kita pada saat itu.

Clarke lalu melanjutkan dengan berkata: “the agony of his mind, in these vicarious sufferings, caused the effusion from his body, of the bloody sweat, may be easily credited without supposing him to be at all under the displeasure of his heavenly Father; for, as God can see nothing but as it is, he could not see him as a sinner who was purity itself. In every act, Jesus was that beloved Son in whom the Father was ever well pleased” (= penderitaan dari pikiranNya, dalam penderitaan yang dialami bagi orang lain ini, menyebabkan keluarnya keringat darah dari tubuhnya, bisa dengan mudah dipercaya tanpa menganggapNya berada di bawah ketidak-senangan dari Bapa surgawiNya; karena, sebagaimana Allah tidak bisa melihat apapun kecuali sebagaimana adanya, maka Ia tidak bisa melihatNya sebagai seorang berdosa padahal Ia adalah kemurnian itu sendiri. Dalam setiap tindakan, Yesus adalah Anak yang terkasih, dalam siapa Bapa itu selalu berkenan) - hal 493.

Dari semua ini, kelihatannya Clarke menganggap bahwa di Taman Getsemani Yesus memang memikul bagian terutama dari hukuman dosa manusia, tetapi Allah tetap berkenan kepadaNya, mengasihi Dia dan bahkan tidak murka kepadaNya! Alasannya: Allah tidak bisa melihat apapun kecuali sebagaimana adanya.

 

Ada 3 keberatan yang sangat serius terhadap kata-kata / pandangan Clarke ini:

a)   Saya tidak tahu apakah penebusan yang Yesus lakukan terjadi dalam sepanjang hidupNya, atau hanya pada kayu salib. Kalau dikatakan ‘hanya pada kayu salib’, maka mungkin bisa dipertanyakan: kalau demikian, mengapa Ia menderita dalam sepanjang hidupNya, padahal Ia tidak mempunyai dosa apapun? Kalau dikatakan ‘dalam sepanjang hidupNya’, maka bagaimanapun, penebusan utama terjadi menjelang (seperti pencambukan, pemukulan dsb) dan pada saat salib, bukan di taman Getsemani! Bdk. 1Pet 2:24.

b)   Jika Allah tetap berkenan kepada Yesus dan tidak murka kepada Yesus pada saat Yesus memikul hukuman dosa kita, maka itu berarti bahwa Yesus tidak betul-betul menebus dosa kita / memikul hukuman dosa kita. Dan bagaimana harus dijelaskan fakta bahwa nanti Allah meninggalkan Yesus (Mat 27:46)? Tentang Mat 27:46 ini Clarke berpendapat bahwa Bapa hanya menahan dukungan penghiburan kepada Yesus.

Adam Clarke: “he well knew why he be forsaken of God, in whom dwelt all the fulness of the Godhead bodily. The Deity, however, might restrain so much of its consolatory support as to leave the human nature fully sensible of all its sufferings, so that the consolations might not take off any part of the keen edge of his passion; and this was necessary to make his sufferings meritorious” (= ) - hal 277.

Hukuman dosa manusia tidak seperti itu. Untuk manusia berdosa, Allah tidak sekedar menahan dukungan penghiburan, dan karena itu kalau pada kayu salib inilah yang ditanggung oleh Yesus, itu berarti Ia tidak memikul hukuman dosa kita yang sesungguhnya!

c)   Kalau pada saat Kristus memikul hukuman dosa kita, Allah tidak bisa melihat Dia kecuali apa adanya Dia, maka pada waktu kita sudah ditebus oleh Kristuspun Allah juga tidak bisa melihat kita sebagai ‘orang benar’ (karena Ia selalu melihat apa adanya)!

III) Doa Yesus.

 

1)   Ay 41-42: “Kemudian Ia menjauhkan diri dari mereka kira-kira sepelempar batu jaraknya, lalu Ia berlutut dan berdoa, kataNya: ‘Ya BapaKu, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari padaKu; tetapi bukanlah kehendakKu, melainkan kehendakMulah yang terjadi.’”.

 

a)   ‘Jikalau Engkau mau’ (Lukas) / ‘jikalau sekiranya mungkin’ (Matius) / ‘tidak ada yang mustahil bagiMu’ (Markus).

1.   Ay 42: ‘jikalau Engkau mau’.

Pulpit Commentary mengatakan (hal 212) bahwa kita tidak perlu berdoa menggunakan kata ‘jikalau’ dimana ada janji Allah yang bersifat mutlak. Misalnya kita tidak perlu berdoa: ‘Jikalau Engkau mau, buatlah supaya kasih karuniaMu cukup bagiku’. Mengapa? Karena dalam persoalan ini ada janji Tuhan dalam 2Kor 12:9 - “Tetapi jawab Tuhan kepadaku: ‘Cukuplah kasih karuniaKu bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasaKu menjadi sempurna.’ Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku”.

Tetapi kalau kita meminta sesuatu tentang mana kita tidak mempunyai keyakinan terhadap pikiran Allah, maka kita harus menundukkan permintaan / doa kita kepada kehendakNya.

2.   Kalau ay 42 itu menggunakan kata-kata ‘jikalau Engkau mau’, maka Mat 26:39 menggunakan kata-kata ‘jikalau sekiranya mungkin’, yang artinya tidak terlalu berbeda.

Barnes menafsirkan (hal 129) kata-kata ini sebagai berikut: Jikalau sekiranya mungkin bahwa dunia bisa ditebus, jikalau hal itu konsistent dengan keadilan, bahwa manusia diselamatkan tanpa kesedihan yang luar biasa ini, biarlah hal itu terjadi. Tidak diragukan bahwa seandainya hal itu memungkinkan, itulah yang akan terjadi; dan fakta bahwa penderitaan-penderitaan itu tidak disingkirkan, dan sang Juruselamat harus tetap memikulnya tanpa pengurangan sedikitpun, menunjukkan bahwa penyelamatan manusia tanpa penderitaan-penderitaan yang mengerikan dari penebusan itu, tidak konsistent dengan keadilan Allah.

3.   Kalau ay 42 itu menggunakan kata-kata ‘jikalau Engkau mau’, dan Mat 26:39 menggunakan kata-kata ‘jikalau sekiranya mungkin’, maka Mark 14:36 menggunakan kata-kata ‘tidak ada yang mustahil bagiMu’.

Pulpit Commentary (hal 202) mengatakan bahwa kata-kata ini menunjukkan luasnya / banyaknya kemungkinan-kemungkinan dari doa. Hal apa yang tidak bisa dicapai oleh doa yang sungguh-sungguh?

 

b)         Mengapa Yesus berdoa menentang rencana / ketetapan kekal dari Allah?

Calvin mengatakan (hal 230-231) bahwa orang percaya sering berdoa dengan sekedar menyerahkan permohonan mereka kepada Allah, tanpa memikirkan apakah itu bertentangan dengan dengan rencana Allah atau tidak, dan tanpa memikirkan apakah hal itu memungkinkan untuk terjadi atau tidak. Misalnya Musa yang berdoa supaya namanya dihapuskan dari kitab kehidupan (Kel 32:33), dan Paulus yang rela menjadi terkutuk demi saudara-saudara sebangsanya (Ro 9:3).

Demikian juga di Taman Getsemani ini, Kristus bukannya menaikkan doa yang sudah dipersiapkan lebih dulu. Kesedihan dan rasa takutNya yang hebat itu mendorongNya untuk menaikkan doa tersebut, yang belakangan Ia koreksi (dengan memberikan tambahan kata-kata ‘bukan kehendakKu yang jadi, kehendakMulah yang jadi’).

Calvin: “it may be asked, How did he pray that the eternal decree of the Father, of which he was not ignorant, should be revoked? For though he states a condition, if it be possible, yet it wears an aspect of absurdity to make the purpose of God changeable. We must hold it to be utterly impossible for God to revoke his decree. According to Mark, too, Christ would seem to contrast the power of God with his decree. All things, says he, are possible to thee. But it would be improper to extend the power of God so far as to lessen his truth, by making him liable to variety and change. I answer, There would be no absurdity in supposing that Christ, agreeably to the custom of the godly, leaving out of view the divine purpose, committed to the bosom of the Father his desire which troubled him. For believers, in pouring out their prayers, do not always ascend to the contempaltion of the secrets of God, or deliberately inquire what is possible to be done, but are sometimes carried away hastily by the earnestness of their wishes. Thus Moses prays that he may be blotted out of the book of life, (Exod. 32:33;) thus Paul wished to be made an anathema, (Rom. 9:3.) This, therefore, was not a premeditated prayer of Christ; but the strength and violence of grief suddenly drew this word from his mouth, to which he immediately added a correction” [= ] - hal 230-231.

 

c)         Ay 42b: ‘tetapi bukanlah kehendakKu, melainkan kehendakMulah yang terjadi’.

 

·        Yang dimaksud dengan ‘kehendakKu’ di sini adalah kehendak dari manusia Yesus (Barnes, hal 129).

 

·        Pulpit Commentary mengatakan (hal 224-225) bahwa akar dari dosa adalah dalam pemilihan kehendak kita di atas kehendak Allah. Pada waktu manusia tidak mau untuk menjadi seperti yang Allah kehendaki dengan menciptakan mereka, atau tidak mau melakukan apa yang Ia ingin mereka lakukan, atau pada waktu mereka mengejar hal-hal yang dilarang olehNya, atau pada waktu mereka menemukan kesenangan mereka dalam hal-hal yang tidak Ia ijinkan, maka mereka menyimpang dari jalan yang benar dan memulai perjalanan yang berakhir dalam penghukuman dan dalam kematian. Kita sering melupakan bahwa kita adalah milikNya. Kita menganggap diri kita adalah milik kita sendiri, dan kita berkata: ‘Jadilah kehendakku, bukan kehendakMu’. Dari sumber kesalahan ini, mengalir kesalahan dan kejahatan.

 

·        Pulpit Commentary menambahkan lagi (hal 225) dengan berkata: kapan kita mencapai titik yang tertinggi? Bukan pada saat kita telah melakukan pertempuran yang terhebat, atau telah melakukan pelayanan kita yang paling berbuah, atau pada saat kita telah mendapat pengertian yang terjelas tentang kebenaran ilahi, tetapi pada saat kita telah mencapai suatu titik dimana kita bisa berkata dengan sukacita, seperti yang dikatakan oleh Tuhan kita: ‘Bukan kehendakku, tetapi kehendakMulah yang jadi’.

 

·        seringkali kehendak Allah itu tidak bisa kita mengerti, karena kelihatannya kehendak kita lebih baik. Apakah dalam keadaan seperti ini, saudara tetap mau tunduk pada kehendak Allah?

William Barclay: “Life’s hardest task is to accept what we cannot understand; but we can do even that if we are sure enough of the love of God” (= Tugas tersukar dalam kehidupan adalah menerima apa yang tidak bisa kita mengerti; tetapi kita bisa melakukan hal itu jika kita cukup yakin akan kasih Allah) - hal 272.

 

·        Apa yang Yesus berikan di sini merupakan suatu model / contoh doa.

Barnes mengatakan (hal 129) bahwa merupakan sesuatu yang benar kalau pada saat ada bencana / kesedihan / problem, kita berdoa meminta pembebasan. Tetapi bahkan pada saat seperti itu, kita tidak boleh memaksakan kehendak kita, tetapi tunduk dengan sukacita pada kehendak Allah, dengan yakin bahwa Allah itu bijaksana, penuh belas kasihan, dan baik kepada kita.

 

2)   Berapa kali Yesus berdoa?

 

a)         Lukas bertentangan dengan Matius dan Markus?

Lukas menceritakan seolah-olah Yesus berdoa hanya satu kali (ay 42-44), tetapi Matius dan Markus menceritakan Yesus berdoa 3 x (Mat 26:39,42,44  Mark 14:35-36,39,41).

Calvin mengatakan (hal 237) bahwa para penulis kitab-kitab Injil (dalam hal ini Lukas) seringkali menulis secara ringkas tentang apa yang terjadi pada saat itu.

 

b)   Apakah dengan berdoa berulang-ulang, Yesus melangar larangannya sendiri untuk tidak berdoa dengan bertele-tele (Mat 6:7)?

Mat 26:44 - “Ia membiarkan mereka di situ lalu pergi dan berdoa untuk ketiga kalinya dan mengucapkan doa yang itu juga.

Mark 14:39 - “Lalu Ia pergi lagi dan mengucapkan doa yang itu juga.

 

Calvin mengatakan (hal 238) bahwa pengulangan kata-kata yang sama bukanlah pengulangan yang sia-sia yang Ia bicarakan dalam Mat 6:7. Orang yang Ia maksudkan dalam Mat 6:7 adalah orang yang berharap bahwa mereka akan mendapatkan oleh kata-kata yang sia-sia apa yang tidak mereka minta dengan jujur dan sungguh-sungguh. Mungkin contoh yang paling menyolok adalah penggunaan doa Bapa Kami atau Salam Maria yang diulang-ulang dalam kalangan Roma Katolik (doa Rosaria). Tetapi melalui doaNya yang berulang-ulang di sini, Kristus bermaksud memberi teladan, untuk tidak menjadi kecil hati atau jemu dalam berdoa, jika kita tidak segera mendapatkan apa yang kita minta. Jadi, kalau kita kelihatannya mendapatkan penolakan dari Allah, dan itu bukannya memadamkan semangat kita dalam berdoa, tetapi sebaliknya menyebabkan kita berdoa lagi, maka itu bukanlah sesuatu yang salah (bdk. Mat 15:21-28).

IV) Problem ay 43-44.

 

Ay 43-44: “(43) Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepadaNya untuk memberi kekuatan kepadaNya. (44) Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. PeluhNya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah”.

 

1)   Sebagian manuscripts tidak mempunyai bagian ini.

Clarke (hal 493) mengatakan bahwa 2 manuscripts yang tertua di dunia tidak mempunyai kedua ayat ini, dan dalam beberapa manuscripts tua lainnya bagian ini ada tetapi diberi tanda asterisk sebelumnya yang menunjukkan bahwa text tersebut diragukan. RSV membuang bagian ini dari textnya dan meletakkannya pada foonote, sedangkan TB2-LAI meletakkan bagian ini dalam tanda kurung tegak. Tetapi Leon Morris (Tyndale) menganggap bagian ini asli, dan ia berkata bahwa mungkin ada penyalin yang yakin akan keilahian Kristus, sehingga merasa aneh kalau Yesus dikuatkan oleh malaikat. William Hendriksen juga yakin bahwa bagian ini asli. Pulpit Commentary menambahkan bahwa kedua ayat ini muncul dalam tulisan dari 2 bapa gereja dari abad kedua, yaitu Justin (Martyr?) dan Ireneaus.

 

2)   Bagaimana Yesus yang adalah Allah bisa dikuatkan oleh malaikat?

Barnes mengatakan (hal 129) bahwa perlu diingat bahwa Yesus datang sebagai manusia bukan hanya untuk melakukan penebusan, tetapi juga untuk menjadi teladan, dan dalam hal itu adalah perlu bagiNya untuk tunduk pada kondisi yang umum dari manusia. Karena itu Ia harus hidup seperti manusia yang lain, ditopang seperti manusia yang lain, menderita seperti manusia yang lain, dan dikuatkan seperti manusia yang lain. Karena itu bisa dikatakan bahwa Ia tidak boleh mengambil keuntungan demi kesalehanNya dari keilahianNya, tetapi tunduk dalam segala sesuatu pada nasib yang sama dari orang-orang saleh. Ia menyuplai kebutuhanNya, bukan oleh keilahianNya, tetapi dengan cara yang biasa bagi manusia. Juga Ia menjaga diriNya sendiri dari bahaya, bukan sebagai Allah, tetapi dengan mencari cara yang biasa yaitu kebijaksanaan dan tindakan pencegahan yang biasa dilakukan manusia. Karena itu, pada waktu Ia mengalami pencobaan, Ia menghadapinya sebagai seorang manusia, dan Ia menerima penghiburan seperti manusia yang lain, dan tidak ada keanehan dalam anggapan bahwa sesuai dengan kondisi dari umatNya, hakekat manusiaNya harus dikuatkan oleh mereka yang adalah roh-roh yang melayani mereka yang adalah ahli waris dari keselamatan (bdk. Ibr 1:14).

 

Calvin: “though it is the Spirit of God alone that imparts fortitude, that does not hinder God from employing angels as his ministers. And hence we may conclude what excruciating distresses the Son of God must have endured, since it was necessary that the assistance of God should be granted to him in a visible manner” (= sekalipun hanya Roh Allah saja yang memberikan ketahanan / ketekunan yang sabar, itu tidak menghalangi Allah dari penggunaan malaikat sebagai pelayanNya. Dan karena itu kita boleh menyimpulkan betapa hebatnya kesedihan / penderitaan yang harus ditanggung Anak Allah, karena merupakan sesuatu yang perlu bahwa pertolongan Allah harus diberikan kepadaNya dengan cara yang bisa dilihat) - hal 237.

 

Clarke mengatakan (hal 490) bahwa merupakan sesuatu yang perlu untuk memberikan bukti baik tentang keilahian Kristus maupun tentang kemanusiaanNya. Mujijat-mujijatNya memberikan bukti tentang keilahianNya, sedangkan hal-hal lain yang Ia alami seperti rasa lapar, rasa lelah, kesedihan / penderitaan di Getsemani, kematian maupun kebangkitanNya, dan juga fakta bahwa Ia dikuatkan oleh malaikat, menunjukkan kemanusiaanNya.

 

3)   Banyak orang beranggapan bahwa keluarnya darah dalam ay 44 merupakan sesuatu yang mustahil, tetapi banyak juga para penafsir yang mengatakan bahwa hal itu memang bisa terjadi dan bahkan pernah terjadi dalam kasus-kasus lain.

V) Tertidurnya para murid dan teguran Yesus terhadap mereka (ay 45-46).

 

1)   Ketiga murid tertidur (ay 45).

Mungkin Barnes adalah satu-satunya penafsir yang memberikan komentar positif tentang para murid yang tidur padahal seharusnya berjaga-jaga dan berdoa. Ia berkata (hal 129) memberikan hal positif tentang tidurnya para murid. Ia mengatakan bahwa tidurnya para murid bukannya menunjukkan ketidak-pedulian mereka, tetapi sebaliknya menunjukkan simpati mereka yang dalam, karena Lukas mengatakan bahwa mereka tidur karena dukacita (ay 45b). Ia lalu menunjukkan bahwa hal seperti itu memang bisa / sering terjadi. Ada ibu-ibu yang tidur segera setelah kehilangan anaknya. Juga para orang hukuman sering tidur nyenyak pada malam sebelum mereka dihukum mati. Anak dari Jendral Custine tidur 9 jam pada malam sebelum ia dihukum mati dengan guilotine di Paris.

 

Petrus, Yakobus dan Yohanes, adalah ex penangkap ikan, dan seharusnya mereka terbiasa untuk menjala ikan sepanjang malam (bdk. Luk 5:5 - “Simon menjawab: ‘Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.’”), tetapi anehnya di sini mereka tidak bisa berdoa tetapi sebaliknya tertidur.

 

Calvin mengatakan (hal 235) bahwa seandainya ketiga murid itu menemaniNya dalam berjaga dan berdoa, itu pasti akan mengurangi bebanNya, tetapi dengan mereka tidur, maka itu secara pahit menambah beban / kesedihanNya.

 

Pulpit Commentary mengatakan (hal 232) bahwa karena ketiga murid itu tertidur pada saat mereka seharusnya berdoa, maka pada waktu pencobaan datang mereka hanya bisa melakukan sesuatu yang bersifat fisik, yaitu menggunakan pedang. Tidak dibutuhkan banyak doa supaya seseorang bisa berkelahi (secara daging). Tetapi dibutuhkan senjata-senjata rohani yang lain dan yang lebih baik dari pada pedang Petrus pada pertempuran rohani ini, dan senjata-senjata itu hanya bisa didapatkan melalui doa! David Gooding memberikan komentar yang serupa tentang pembacokan telinga oleh Petrus, yang ia katakan disebabkan karena tidak berdoa.

David Gooding: “This reaction was natural, the all too natural reaction of mere human nature, unprepared by prayer, ungoverned by the will and wisdom of God, and utterly inappropriate and inadequate to the nature of the conflict that was now upon them. What they were up against was not mere flesh and blood but principalities and powers, the world-rulers of this darkness (see 22:53) ... That is not a power from which a man can be delivered by physical weapons” [= Reaksi ini wajar / alamiah, reaksi yang sangat wajar / alamiah dari manusia, yang tidak dipersiapkan oleh doa, tidak diperintah oleh kehendak dan hikmat Allah, dan sama sekali tidak cocok dan tidak mencukupi bagi konflik yang sekarang ada pada mereka. Mereka sedang berhadapan bukan dengan darah dan daging, tetapi dengan pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa, penghulu-penghulu dunia dari kegelapan ini (lihat 22:53) ... Itu bukan suatu kuasa dari mana seseorang bisa dilepaskan oleh senjata fisik] - hal 336.

 

David Gooding: “Under the weight of evil circumstances and sorrow they had given in to nature’s weakness and the comfort of sleep. That of course did not make the evil go away, it made them only oblivious of it and unprepared for its onslaught” (= Di bawah beban dari sikon yang jahat dan kesedihan mereka menyerah pada kelemahan alamiah dan kenikmatan dari tidur. Itu tentu saja tidak membuat kejahatan hilang, itu hanya membuat mereka lupa padanya dan tidak siap untuk serangannya yang gencar) - hal 336.

 

2)   Teguran Yesus terhadap mereka (a 46).

Calvin berkata (hal 235) bahwa karena para murid itu tidak tergerak oleh bahaya yang sedang menimpa Guru mereka, maka Yesus sekarang mengarahkan perhatian mereka kepada diri mereka sendiri. Karena itu Kristus ‘mengancam’ mereka dengan berkata bahwa jika mereka tidak berjaga-jaga dan berdoa, maka mereka akan dikalahkan oleh pencobaan.

 

Bdk. Mat 26:41 - “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.’”.

Calvin berkata (hal 236) bahwa kalau kita sudah dilahirbarukan, maka kita akan mempunyai kehendak ke arah yang baik, tetapi kita tetap harus berjuang melawan kelemahan daging. Karena itu doa seperti ini tidak pernah tidak perlu dilakukan.

VI) Kemenangan Yesus dan kekalahan para murid.

 

Cerita selanjutnya menunjukkan bahwa para murid kalah, karena mereka lari meninggalkan Yesus, menyangkal Yesus dan sebagainya. Tetapi Yesusnya menang, karena Ia berani menghadapi para penangkapNya, dan menyerahkan diriNya sebagai korban untuk dosa umat manusia.

 

Dalam Matius, kemenangan Yesus diceritakan secara lebih jelas.

Mat 26:45-46 - “Sesudah itu Ia datang kepada murid-muridNya dan berkata kepada mereka: ‘Tidurlah sekarang dan istirahatlah. Lihat, saatnya sudah tiba, bahwa Anak Manusia diserahkan ke tangan orang-orang berdosa. Bangunlah, marilah kita pergi. Dia yang menyerahkan Aku sudah dekat.’”.

William Barclay: “He went into Gethsemane in the dark; he came out in the light - because he had talked with God. He went into Gethsemane in an agony; he came out with the victory won and with peace in his soul - because he had talked with God” (= Ia pergi ke Getsemani dalam kegelapan; Ia keluar dalam terang - karena Ia telah berbicara dengan Allah. Ia pergi ke Getsemani dalam penderitaan yang hebat; Ia keluar dengan kemenangan yang dimenangkan dan dengan damai dalam jiwaNya - karena Ia telah berbicara dengan Allah) - hal 272.

 

Dan semua perbedaan ini disebabkan hanya karena Yesus berdoa sedangkan para murid tidak! Yang mana yang mau saudara tiru?

 

 

-AMIN-

 
 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali

 

 

 

Pulpit Commentary: “A summons to strenuous and unfaltering perseverance. Christian pilgrim, Christian workman, do you weary of your way or of your work? Does the one seem long and thorny, or the other tedious and unsuccessful? Do you think you must sleep as the disciples did, or that you must put down the cup as their Master did not? Do you talk about giving up the journey, about retiring from the field? Consider him who went quite through the work the Father gave him to do, who strove and suffered to the very last; consider him, the agonizing but undaunted, the suffering but resolving Saviour; consider him, lest ye be wearied and faint in your minds” (= ) - hal 224.

 

 

40 On reaching the place, he said to them, "Pray that you will not fall into temptation." 41 He withdrew about a stone's throw beyond them, knelt down and prayed, 42 "Father, if you are willing, take this cup from me; yet not my will, but yours be done." 43 An angel from heaven appeared to him and strengthened him. 44 And being in anguish, he prayed more earnestly, and his sweat was like drops of blood falling to the ground.

 

    LK 22:45 When he rose from prayer and went back to the disciples, he found them asleep, exhausted from sorrow. 46 "Why are you sleeping?" he asked them. "Get up and pray so that you will not fall into temptation."

 

Barnes, Calvin, Gooding, NICNT, Leon Morris (Tyndale), William Hendriksen, Adam Clarke, Barclay, Pulpit Commentary selesai.