Tanggal 29 Juli 2001

 

LUKAS 12:13-21

I) Orang yang datang kepada Yesus (ay 13).

 

1)   Pada jaman itu seorang Rabi / guru sering membereskan persoalan. Yesus dianggap sebagai Rabi sehingga Ia diminta untuk membereskan persoalan.

 

2)   Orang ini datang kepada Yesus bukan karena percaya kepada Yesus atau karena menyenangi ajaranNya, tetapi supaya mendapat warisan / menjadi kaya.

Penerapan: jaman sekarang, dengan populernya Theologia Kemakmuran, maka ada banyak orang ‘datang kepada Yesus’ atau ‘datang ke gereja’ dengan tujuan yang sama, yaitu supaya menjadi kaya / supaya mendapat berkat Tuhan yang berlimpah-limpah. Kalau saudara adalah orang yang seperti itu, maka pelajarilah dari pelajaran ini bagaimana sikap Yesus kepada orang yang datang kepadaNya dengan motivasi seperti itu, dan bertobatlah!

 

3)   Yesus baru mengajarkan firman Tuhan (ay 1-12), tetapi orang itu tak mempedulikan apa yang Yesus baru ajarkan, dan ia, tanpa sungkan sedikitpun, tahu-tahu berbicara soal warisan, yang sama sekali tak ada hubungannya dengan apa yang Yesus ajarkan dalam ay 1-12 itu.

Di sini kita melihat bahwa orang itu, karena ketamakan / kecintaannya akan uang, menjadi tak punya kesopanan, tak peduli pada firman Tuhan, asal ia bisa mendapat uang. Tak heran Paulus mengatakan bahwa cinta uang adalah akar segala kejahatan (1Tim 6:9-10).

Renungkan: seberapa pentingnya uang bagi saudara?

 

4)   Dalam Perjanjian Lama ada hukum tentang pembagian warisan (Ul 21:15-17  Bil 27:8-11  Bil 36). Boleh jadi orang yang datang kepada Yesus itu memang adalah pihak yang benar dalam sengketa tentang warisan itu. Dengan kata lain, bisa saja saudaranya tidak mematuhi hukum-hukum tentang pembagian warisan yang ada dalam Perjanjian Lama itu. Tetapi bagaimanapun juga orang ini tetap salah, karena ia adalah orang yang tamak, yang pikirannya hanya tertuju pada uang. Mungkin ia berpikir bahwa kalau ada uang maka segala sesuatu pasti enak.

 

5)   Sengketa yang dia bicarakan adalah dalam persoalan pembagian warisan dengan saudaranya sendiri!

Seseorang mengatakan: “When there is an inheritance 99 % of the people become wolves” (= kalau disana ada warisan, maka 99 % manusia menjadi serigala).

Apakah saudara termasuk yang 99 % atau yang 1 %?

II) Sikap / jawaban Yesus (ay 14-21).

Ay 14:

 

1)   ‘Saudara’ (ay 14). Ini sebetulnya salah terjemahan.

NIV/NASB/Lit: ‘man’.

Ini sebutan yang tak terlalu ramah dibanding dengan sebutan ‘saudara’ atau ‘anakku’ dsb. Jadi dari sini sudah terlihat sikap Yesus terhadap orang itu.

 

2)   Ay 14 ini jelas menunjukkan bahwa Yesus tidak mau menuruti permintaan orang itu. Mengapa?

a)   Mungkin karena orang itu menggunakan Yesus hanya sebagai ‘tambal butuh’ / ‘ban serep’ saja.

Penerapan: kalau saudara hanya berdoa pada saat saudara membutuhkan sesuatu dari Tuhan, jangan berharap Tuhan mau mempedulikan saudara!

b)   Mungkin karena Yesus tak mau orang banyak menganggap Dia sebagai Raja duniawi yang menangani persoalan-persoalan duniawi. Ingat bahwa orang Yahudi punya pemikiran yang salah tentang Mesias dimana mereka menganggapnya sebagai Raja duniawi. Dan Yesus tak mau memperparah pemikiran yang salah ini.

c)   Mungkin karena Yesus tak mau ‘melangkahi’ orang-orang yang berwenang menangani persoalan seperti itu.

d)   Mungkin karena Ia mempunyai tugas lain yang lebih penting, yaitu tugas rohani!

Penerapan:

·         hamba Tuhan tak seharusnya disibukkan dengan tugas-tugas duniawi.

Catatan: tetapi hamba Tuhan boleh membereskan sengketa di antara 2 orang kristen (1Kor 6:1-6).

·         sebagai orang awampun, jangan melakukan tugas duniawi, yang bagaimanapun pentingnya, sehingga melalaikan tugas rohani saudara! Misalnya: terus sibuk dengan urusan pekerjaan, kampung (RT / RW), arisan, negara dsb, sehingga tak ada waktu untuk melayani Tuhan.

Ay 15:

 

1)   ‘Waspadalah terhadap segala ketamakan’.

 

a)   Kata Yunani yang diterjemahkan ‘ketamakan’ adalah PLEONEXIAS yang merupakan gabungan dari 2 kata Yunani yaitu PLEION (= more / lebih) + EKHEIN (= to have / mempunyai). Jadi kata itu menunjuk pada keinginan untuk mempunyai lebih banyak. Kalau saudara adalah orang yang selalu ingin mempunyai lebih banyak (hal materi), maka saudara adalah orang yang tamak.

 

b)   segala ketamakan’.

NASB: ‘every forms of greed’ (= setiap bentuk ketamakan).

NIV: ‘all kinds of greed’ (= semua jenis ketamakan).

Memang ada bermacam-macam ketamakan, seperti ketamakan terhadap uang, terhadap pakaian, perhiasan, rumah, mobil, barang-barang lux, kesenangan-kesenangan yang lain.

Ketamakan yang bagaimana yang ada dalam diri saudara?

 

2)   ‘Hidupnya tidaklah tergantung pada kekayaannya’.

Ini menunjukkan bahwa sekalipun seseorang itu kaya, tetapi:

·         ia tetap harus mati, bahkan mungkin saja umurnya pendek!

·         ia tidak mesti mempunyai real life (= kehidupan yang sejati / sesungguhnya).

Sadarilah hal ini, dan janganlah menujukan hidup saudara pada kekayaan!

Ay 16-20: perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh.

 

1)   Ay 15,21 menunjukkan arah / penekanan dari perumpamaan ini!

 

2)   Ay 16-18 menunjukkan bahwa orang ini kerja dengan jujur, tetapi ia toh dikecam. Apalagi orang tamak yang bekerja dengan tidak jujur atau mau mendapatkan uang dengan cara yang tidak jujur! Sebagai contoh: kalau saudara menemukan sebuah dompet, dan dalam dompet itu ada uang, KTP, dsb, apakah saudara mengembalikan dompet tersebut?

Bdk. Ul 22:1-3 - “‘Apabila engkau melihat, bahwa lembu atau domba saudaramu tersesat, janganlah engkau pura-pura tidak tahu; haruslah engkau benar-benar mengembalikannya kepada saudaramu itu. Dan apabila saudaramu itu tidak tinggal dekat denganmu dan engkau tidak mengenalnya, maka haruslah engkau membawa hewan itu ke dalam rumahmu dan haruslah itu tinggal padamu, sampai saudaramu itu datang mencarinya; engkau harus mengembalikannya kepadanya. Demikianlah harus kauperbuat dengan keledainya, demikianlah kauperbuat dengan pakaiannya, demikianlah kauperbuat dengan setiap barang yang hilang dari saudaramu dan yang kautemui; tidak boleh engkau pura-pura tidak tahu.

 

Reader's Digest pernah mengadakan semacam percobaan untuk mengetahui kejujuran manusia di banyak kota dan negara di dunia ini. Mereka menyebarkan di kota-kota besar di beberapa negara sebanyak 1.100 dompet, berisikan uang senilai $ 50 dalam mata uang lokal, disertai dengan nama, alamat dan nomor telpon dari si pemilik.

Dompet-dompet itu disebarkan di tempat-tempat yang bervariasi, seperti tempat telpon umum, di depan bangunan kantor, toko-toko, tempat parkir, restoran, dan bahkan tempat ibadah. Juga pada saat suatu dompet ditinggalkan di suatu tempat, dompet itu diawasi dari jauh, untuk melihat reaksi dari si penemu dompet.

Hasil total, 44 % dari dompet-dompet itu tidak kembali. Hasil terperinci:

1.       Denmark & Norwegia         kembali 100 %. Sampai diberi komentar: apakah perlu di sana orang mengunci pintu rumah?

2.       Singapura                                        kembali 90 %.

3.       Australia & Jepang  kembali 70 %.

4.       Amerika Serikat                  kembali 67 %.

5.       Inggris                                                        kembali 65 %.

6.       Belanda                                          kembali 50 %.

7.       Jerman                                           kembali 45 %.

8.       Rusia                                                          kembali 43 %.

9.       Filipina                                                        kembali 40 %.

10.   Itali                                                             kembali 35 %.

11.   Cina                                                           kembali 30 %.

12.   Mexico                                                       kembali 21 %.

 

Hal yang menarik adalah bahwa kadang-kadang orang kaya tidak mengembalikan dompet itu, sebaliknya orang miskin, yang betul-betul membutuhkan, justru mengembalikannya.

Di Lausanne, Swiss, seorang wanita berpakaian bagus, memakai mantel dan sepatu hak tinggi, sedang berjalan dengan anaknya perempuan. Perempuan itu membungkuk untuk mengambil dompet itu, lalu mereka berdua berpandang-pandangan, dan perempuan itu lalu memasukkan dompet itu ke kantongnya, dan tidak mengembalikannya.

Sebaliknya seorang bangsa Albania, yang lari dari Kosovo dan bekerja sebagai pelayan restoran di Swiss, mengembalikan dompet itu sambil berkata: ‘Saya tahu betapa keras / berat seseorang harus bekerja untuk mendapatkan uang sebanyak itu’.

Juga seorang Kanada menemukan uang itu, dan ia lalu berpikir: ‘Mungkin pemiliknya adalah seorang cacat, yang membutuhkan uang ini lebih dari saya’. Ia lalu mengembalikan uang itu, padahal ia sendiri adalah orang miskin yang bekerja sebagai seorang pemulung kaleng-kaleng minuman untuk didaur-ulang.

 

Ada seorang wanita di North Carolina, Amerika Serikat, yang pada waktu menemukan dompet itu, mula-mula berpikir: ‘Aku bisa menggunakan uang ini’. Tetapi ia lalu melihat ada foto seorang bayi dalam dompet itu, dan lalu berpikir bahwa pemilik dompet ini lebih membutuhkan uang ini dari aku. Dan ia lalu mengembalikan dompet itu.

 

Ada beberapa orang yang mengembalikan dompet itu karena mereka sendiri pernah kehilangan dompet dan tidak kembali. Seorang di Belanda mengembalikan dompet itu sambil berkata: ‘Pada saat saya adalah seorang anak, saya kehilangan dompet saya di taman hiburan, dan tidak pernah kembali. Saya tidak mau pemilik dompet ini merasakan hal yang sama’.

 

Bagaimana pengembalian dompet di kalangan orang-orang yang religius?

Seorang wanita muslim Malaysia, yang sekalipun sama sekali tidak kaya, tanpa ragu-ragu sesaatpun, mengembalikan uang itu. Ia berkata: ‘Sebagai orang Islam, saya sadar akan pencobaan dan bagaimana mengalahkannya’.

Di Taipei, seorang pemeluk agama Buddha yang sungguh-sungguh, menemukan dompet itu dan langsung mengembalikannya, dan ia berkata: ‘Adalah kewajibanku untuk melakukan perbuatan baik’.

Di Rusia, seorang wanita yang dibayar untuk mengajar anak-anak di rumah, mengembalikan dompet itu untuk mentaati salah satu dari 10 hukum Tuhan. Ia berkata: ‘Beberapa tahun yang lalu, mungkin aku sudah mengambilnya, tetapi sekarang aku sudah berubah secara total. Seperti dikatakan: Janganlah mengingini milik sesamamu’.

Tetapi di Mexico, sedikitnya 2 orang kristen (katolik) mengambil dompet itu, melihat isinya, lalu membuat tanda salib, dan tidak mengembalikannya.

Reader's Digest memberi komentar: “The cash, they must have decided, was heaven-sent” (= Mereka pasti memutuskan / menganggap bahwa uang tunai itu dikirim dari surga) - hal 40.

 

Artikel itu ditutup dengan kata-kata sebagai berikut: “For the rest of you, those who kept the cash, you’ve got our number - and we know where you live” (= Untuk kalian yang lain, yang menahan uang tunai itu, kalian punya nomer telpon kami - dan kami tahu dimana kalian tinggal) - hal 41.

 

3)   Ay 16-18 juga menunjukkan bahwa makin seseorang itu kaya, makin banyak problem yang ia hadapi. Akhirnya ia menjadi semakin sibuk, dan makin tidak punya waktu untuk Tuhan! Kalau ini menggambarkan kehidupan saudara, bertobatlah, sebelum Tuhan juga tidak punya waktu untuk saudara!

 

4)   Ay 16-18 juga menunjukkan bahwa kekayaan tak akan pernah memberi kepuasan kepada orang yang tamak, karena ia akan selalu ingin lebih kaya lagi.

Bdk. Pkh 5:9 - “Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia”.

Seseorang mengatakan: “The increase serves not as water to quench but as fuel to feed the fire” (= Pertambahan kekayaan itu tidak berfungsi sebagai air untuk memadamkan, tetapi sebagai bahan bakar / bensin untuk mengobarkan api).

William Barclay: “The Romans had a proverb which said that money was like sea-water; the more a man drank the thirstier he became” (= Orang Romawi punya pepatah yang berkata bahwa uang itu seperti air laut; makin seseorang meminumnya, makin ia jadi haus).

Karena itu, kalau saudara ingin kaya dengan pikiran bahwa kalau kaya bisa enak / tenteram / damai, saudara justru salah besar. Makin saudara kaya, makin saudara tidak puas!

 

5)   Ay 19: yang diinginkan oleh orang kaya itu hanyalah bersenang-senang.

Bdk. Pkh 11:9 - “Bersukarialah, hai pemuda, dalam kemudaanmu, biarlah hatimu bersuka pada masa mudamu, dan turutilah keinginan hatimu dan pandangan matamu, tetapi ketahuilah bahwa karena segala hal ini Allah akan membawa engkau ke pengadilan!”.

 

6)   Ay 20:

 

a)   Orang ini disebut ‘bodoh’ oleh Allah!

Orang ini jelas adalah orang yang sukses dalam bisnis / pekerjaannya sehingga menjadi kaya. Kalau pada jaman ini mungkin ia adalah semacam konglomerat. Dan orang-orang seperti ini pada jaman ini selalu dianggap sebagai orang yang pandai oleh dunia. Tetapi Allah menganggap orang kaya ini bodoh!

Renungkan: bagaimana dunia memandang saudara? Dan bagaimana Allah memandang saudara? Yang mana yang lebih penting bagi saudara, pandangan dunia tentang diri saudara atau pandangan Allah tentang diri saudara?

 

b)   Mengapa ia disebut sebagai orang bodoh?

1.       Karena ia mengira / menganggap bahwa hatinya bisa disenangkan oleh uang, makanan, minuman dsb. Kalau saudara beranggapan bahwa saudara bisa berbahagia kalau mempunyai hal-hal duniawi, maka saudara juga adalah orang bodoh!

2.       Orang ini hidup hanya untuk sekarang. Ia tak peduli tentang kekekalan / hidup yang akan datang. Apakah saudara adalah orang seperti itu?

3.       Orang ini hanya hidup untuk hal-hal jasmani / duniawi. Ia sedikitpun tak memikirkan hal rohani.

4.       Orang ini tak pernah bersyukur kepada Tuhan / memuji Tuhan.

5.       Orang ini adalah orang yang egois. Perhatikan bahwa dalam kata-katanya ada 8 x kata ‘aku’ dan 5 x kata ‘ku’. Perhatikan juga kata-kata ‘bagi dirinya sendiri’ dalam ay 21.

 

c)   Ingat bahwa sekalipun orang yang disebut bodoh dalam bacaan ini adalah orang kaya, tetapi bukan hanya orang kaya yang bisa menjadi bodoh. Saudara yang adalah orang miskin juga bisa bodoh, dan sebaliknya, orang yang kaya bisa juga menjadi bijaksana / pandai!

Henry Ward Beecher: “Riches are not an end of life, but an instrument of life” (= Kekayaan bukanlah tujuan hidup tetapi alat dari hidup).

Kalau saudara bisa mempunyai filsafat hidup seperti ini maka, tak jadi soal apakah saudara kaya atau miskin, saudara adalah orang bijak!

 

William Barclay menceritakan tentang John Wesley yang tinggal di Oxford dengan gaji £ 30 / tahun. Ia hidup hanya dengan 28 £ dan sisanya ia berikan kepada orang lain. Pada saat gajinya naik menjadi 60, lalu 90, lalu 120 £, ia tetap hidup dengan 28 £ dan sisanya ia berikan kepada orang lain. Kalau saudara hidup seperti John Wesley, maka tidak jadi soal saudara kaya atau miskin, saudara adalah orang bijak! Tetapi persoalannya, apakah saudara hidup seperti John Wesley? Atau seperti orang kaya yang bodoh dalam bacaan ini?

 

d)   Ini adalah kematian yang tiba-tiba, dan ini bisa terjadi pada siapapun juga!

Perhatikan kontras antara ‘bertahun-tahun lamanya’ / ‘many years’ dalam ay 19 dengan ‘malam ini’ dalam ay 20! Banyak orang mengira hidupnya masih panjang, padahal kematian sudah begitu dekat!

Bdk. Amsal 27:1 Yak 4:13-16 Maz 39:5-7.

 

William Barclay memberikan suatu percakapan sebagai berikut:

A: I will learn my trade (= aku akan belajar berdagang).

B: And then? (= Lalu?).

A: I will set up in business (= aku akan memulai bisnis).

B: And then? (= Lalu?).

A: I will make my fortune (= aku akan menjadi kaya).

B: And then? (= Lalu?).

A: I suppose that I shall grow old and retire and live on my money (= aku kira aku akan menjadi tua dan pensiun dan hidup dari uangku).

B: And then? (= Lalu?).

A: Well, I suppose that some day I will die (= aku kira suatu hari aku akan mati).

B: And then? (= Lalu?).

 

e)   Pada saat kita mati, harta / uang kita sama sekali tak berguna!

1Tim 6:17-19 - “Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaanNya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati. Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya”.

Amsal 11:4 - “Pada hari kemurkaan harta tidak berguna, tetapi kebenaran melepaskan orang dari maut”.

Maz 49:17-21 - “Janganlah takut, apabila seseorang menjadi kaya, apabila kemuliaan keluarganya bertambah, sebab pada waktu matinya semuanya itu tidak akan dibawanya serta, kemuliaannya tidak akan turun mengikuti dia. Sekalipun ia menganggap dirinya berbahagia pada masa hidupnya, sekalipun orang menyanjungnya, karena ia berbuat baik terhadap dirinya sendiri, namun ia akan sampai kepada angkatan nenek moyangnya, yang tidak akan melihat terang untuk seterusnya. Manusia, yang dengan segala kegemilangannya tidak mempunyai pengertian, boleh disamakan dengan hewan yang dibinasakan”.

Ay 21:

 

Ayat ini menunjukkan bahwa sekalipun orang ini kaya secara duniawi tetapi ia miskin secara rohani. Bdk. Wah 3:17 - “Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang, ...”.

 

Supaya saudara tak menjadi seperti orang ini, turutilah kata-kata Yesus dalam Mat 6:19-21 - “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada”.

Kesimpulan / penutup.

 

Yesus menolak untuk mengurus warisan (ay 14), dan lalu mengajarkan ay 15-21. Ini menunjukkan bahwa Yesus tidak peduli orang itu kehilangan warisan asal ia tidak kehilangan nyawanya / masuk neraka! Bdk. Mat 16:26 - “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?”.

 

-o0o-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali