(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)
Rabu, tgl 28 Agustus 2019, pk 19.00
Pdt.
Budi Asali, M. Div.
PELAJARAN IV
THE HUMILIATION OF CHRIST
(PERENDAHAN KRISTUS)
Ada
5 tahap perendahan yang dialami oleh Kristus:
I) Inkarnasi.
A) Arti
kata ‘inkarnasi’.
Kata
ini berasal dari kata bahasa Latin IN [= in
{= dalam}] + CARO / CARNIS [= flesh {=
daging}]. Jadi, inkarnasi bisa diartikan ‘masuk ke dalam daging’. Tentu saja
yang dimaksud dengan ‘daging’ bukan hanya ‘tubuh’, tetapi ‘seluruh
manusia’.
Catatan:
Jangan
menyamakan ‘inkarnasi’ dengan ‘reinkarnasi’. Kekristenan mempercayai
inkarnasi, yaitu waktu Yesus, yang adalah Allah, menjadi manusia. Tetapi
kekristenan menolak reinkarnasi, yang merupakan ajaran agama Hindu / Buddha,
karena bertentangan dengan Kitab Suci, khususnya Ibr 9:27, yang mengatakan
bahwa manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja dan sesudah itu
dihakimi.
Ibr
9:27 - “Dan sama
seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali
saja, dan sesudah itu dihakimi,”.
B) Subyek
dari inkarnasi.
Bukan
Allah Tritunggal, tetapi Allah
Anaklah yang berinkarnasi dan mengambil hakekat manusia. Tetapi
juga harus diingat bahwa setiap pribadi dalam Allah Tritunggal ikut aktif dalam
inkarnasi.
Mat 1:20
- “Tetapi
ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam
mimpi dan berkata: ‘Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria
sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari
Roh Kudus.”.
Luk 1:35
- “Jawab
malaikat itu kepadanya: ‘Roh Kudus akan turun
atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi
akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan
disebut kudus, Anak Allah.”.
Yoh 1:14
- “Firman
itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah
melihat kemuliaanNya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepadaNya sebagai Anak
Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.”.
Ro
8:3 - “Sebab apa
yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah
dilakukan oleh Allah. Dengan jalan
mengutus AnakNya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang
dikuasai dosa karena dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam
daging,”.
Gal 4:4
- “Tetapi
setelah genap waktunya, maka Allah mengutus AnakNya,
yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat.”.
Fil 2:5-7
- “(5)
Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat
juga dalam Kristus Yesus, (6) yang walaupun
dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik
yang harus dipertahankan, (7) melainkan telah
mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan
menjadi sama dengan manusia.”.
Bahwa
yang berinkarnasi adalah Allah Anak,
merupakan sesuatu yang perlu diingat / dicamkan, untuk menghadapi ajaran sesat
yang disebut Modalistic Monarchianism /
Patripassianism / Sabellianism, yang mengatakan bahwa Allah
Bapa sendirilah yang berinkarnasi sebagai Anak.
Penerapan:
1)
Banyak orang kristen berdoa secara salah dengan berkata:
a)
‘Yesus,
Bapa yang di surga, ...’.
b)
‘Kami
bersyukur kepadaMu Bapa, karena Engkau telah rela menjadi manusia dan mati bagi
dosa kami.’.
Ini
merupakan doa yang sesat secara theologis karena mengacau-balaukan Yesus dengan
Bapa / menganggap bahwa Bapa berinkarnasi menjadi Yesus / Anak.
2)
Juga ada lagu-lagu Kristen yang menyebut Yesus dengan sebutan Bapa, dan
ini juga merupakan lagu dengan kata-kata yang menyesatkan, dan tidak boleh kita
pakai.
C) Inkarnasi
dan kelahiran.
Inkarnasi
berbeda dengan kelahiran karena:
1)
Inkarnasi menunjukkan tindakan aktif,
sedangkan kelahiran menunjukkan pada tindakan pasif.
Karena
itu Yesus selalu berkata ‘Aku datang’
(misalnya: Luk 19:10 Yoh 9:39
Yoh 10:10 dsb) - yang menunjukkan tindakan aktif, bukannya ‘Aku
dilahirkan’ - yang menunjukkan tindakan pasif.
Catatan:
memang dalam Yoh 18:37b Yesus berkata: ‘Untuk
itulah Aku lahir’,
tetapi Ia langsung menyambung dengan kata-kata ‘dan untuk
itulah Aku datang ke dalam dunia ini’.
Ini
menunjukkan bahwa Yesus bukan sekedar manusia biasa, tetapi juga adalah Allah
sendiri, karena tidak ada orang biasa yang kelahirannya merupakan tindakan
aktif.
2)
Inkarnasi menunjukkan bahwa Yesus mempunyai Pre-existence
/ keberadaan sebelumnya (Yoh 1:1 6:38
8:58 2Kor 8:9
Fil 2:6-7).
Kalau
sekedar dikatakan bahwa Yesus dilahirkan, maka itu menunjukkan bahwa sebelum Ia
dilahirkan, Ia tidak ada. Tetapi kalau dikatakan bahwa Yesus berinkarnasi,
karena inkarnasi merupakan tindakan aktif, maka itu menunjukkan bahwa Ia sudah
ada sebelum saat itu.
Ini
lagi-lagi menunjukkan bahwa Yesus bukan hanya sekedar manusia biasa, tetapi juga
adalah Allah sendiri.
D) Perlunya
inkarnasi.
Upah
dosa adalah maut / kematian (Ro 6:23 Kej 2:16-17
Kej 3:19). Untuk menebus dosa manusia, Allah harus mengalami
kematian itu. Karena Allah tidak bisa mati, maka Ia harus menjadi manusia lebih
dulu, baru Ia bisa mati untuk menebus dosa manusia.
Tetapi
ada ajaran yang mengatakan bahwa Yesus tetap harus menjadi manusia sekalipun
manusia tidak jatuh ke dalam dosa.
Alasannya:
1)
Inkarnasi pasti ada dalam Rencana Allah.
Rencana
Allah tidak mungkin gagal, dan pasti akan dilaksanakan. Karena itu, tidak jadi
soal apakah manusia jatuh ke dalam dosa atau tidak, Yesus tetap harus menjadi
manusia.
2)
Pekerjaan Kristus bukan hanya penebusan dan penyelamatan. Ia adalah
Pengantara, tetapi juga adalah Kepala. Karena itu, andaikatapun manusia tidak
jatuh ke dalam dosa, Yesus tetap harus menjadi manusia supaya Ia bisa menjadi
Kepala bagi Gereja.
Bantahan
terhadap ajaran ini:
1)
Kitab Suci menunjukkan bahwa inkarnasi ada karena
adanya dosa.
Luk 19:10
- “Sebab Anak
Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang
hilang.’”.
Yoh 3:16
- “Karena
begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia
telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya
kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”.
Yoh 10:10
- “Pencuri
datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku
datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.”.
Gal 4:4-5
- “(4) Tetapi
setelah genap waktunya, maka Allah mengutus AnakNya, yang lahir dari seorang
perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. (5) Ia
diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita
diterima menjadi anak.”.
1Tim 1:15
- “Perkataan
ini benar dan patut diterima sepenuhnya: ‘Kristus
Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa,’ dan di
antara mereka akulah yang paling berdosa.”.
1Yoh
3:8 - “barangsiapa
yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari
mulanya. Untuk inilah Anak Allah menyatakan diriNya,
yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu.”.
2)
Rencana Allah hanya satu dan dalam Rencana ini sudah termasuk dosa
maupun inkarnasi, bahkan dalam Rencana Allah,
inkarnasi itu ada karena adanya dosa.
Banyak
orang kristen tidak mau menerima bahwa dalam Rencana Allah, dosa juga sudah
ditetapkan. Anehnya, biasanya mereka tetap percaya bahwa penebusan dosa oleh
Kristus sudah direncanakan oleh Allah sebelum dunia dijadikan.
Bdk.
1Pet 1:18-20 - “(18)
Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang
kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula
dengan perak atau emas, (19) melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah
Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.
(20) Ia telah dipilih sebelum dunia dijadikan,
tetapi karena kamu baru menyatakan diriNya pada zaman akhir.”.
Padahal
penebusan dosa oleh Kristus hanya bisa terjadi kalau ada dosa yang ditebus.
Bagaimana mungkin penebusannya ditetapkan tetapi dosanya tidak?
Disamping
itu, pembunuhan terhadap Kristus, yang memungkinkan penebusan itu terjadi, juga
adalah dosa. Dan itupun terjadi karena telah ditetapkan oleh Allah.
Kis 2:23
- “Dia yang diserahkan Allah
menurut maksud dan rencanaNya,
telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka.”.
Kis
4:27-28 - “(27)
Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus
beserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel melawan Yesus, HambaMu yang
kudus, yang Engkau urapi, (28) untuk
melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula oleh kuasa
dan kehendakMu.”.
Catatan:
kalau saudara mau tahu lebih banyak tentang dosa dalam Rencana Allah, bacalah
buku saya yang berjudul ‘The Providence
of God’.
Jadi
kesimpulannya: inkarnasi ada karena adanya dosa. Tetapi sekalipun ada dosa, Allah
melakukan inkarnasi dan penebusan dosa bukan sebagai kewajiban / keharusan,
tetapi karena kasihNya dan karena itulah yang Ia
kehendaki.
E) Apa
yang terjadi pada saat inkarnasi.
1)
‘Firman / LOGOS menjadi manusia’ (Yoh 1:14).
Yoh
1:14 - “Firman
itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah
melihat kemuliaanNya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepadaNya sebagai Anak
Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.”.
Ini
tidak berarti bahwa:
a)
LOGOS kehilangan seluruh atau sebagian keilahianNya.
b)
LOGOS setelah inkarnasi berbeda dengan LOGOS sebelum inkarnasi.
Seseorang
berkata: “Incarnation does not mean that the
LOGOS ceased to be what He was before.”
[= Inkarnasi tidak berarti bahwa LOGOS itu berhenti menjadi apa adanya Dia
sebelum saat itu.].
Kalau
kita menyoroti kata ‘menjadi’
dalam Yoh 1:14, maka kita perlu ingat bahwa kata ini bisa digunakan dalam 2
arti:
1.
Kalau kita berkata ‘nasi sudah menjadi
bubur’, maka itu berarti bahwa mula-mula hanya ada nasi, dan setelah itu hanya
ada bubur, sedangkan nasinya hilang / tidak ada lagi.
2.
Kalau saya berkata ‘tahun 1993 saya menjadi
pendeta’, maka itu berarti mula-mula ada saya, dan pada tahun 1993 itu saya
tetap ada / tidak hilang, tetapi lalu ditambahi dengan jabatan pendeta.
Kalau
kita berbicara tentang ‘Firman /
Allah yang menjadi manusia’,
maka kita harus mengambil arti ke 2 dari kata ‘menjadi’
tersebut! Jadi, pada waktu Allah menjadi manusia, keilahian
Yesus tidak hilang / tidak berkurang sedikitpun, tetapi Ia justru ketambahan hakekat manusia
pada diriNya.
2)
‘Firman / LOGOS menjadi manusia’ berarti bahwa LOGOS mengambil
hakekat manusia (tubuh & jiwa manusia):
a) Tanpa mengalami perubahan
dalam hakekatNya.
b) Tanpa kehilangan sifat-sifatNya.
c) Tanpa menghentikan /
mengurangi kegiatanNya.
Beberapa
kutipan penting tentang ketidak-berubahan LOGOS pada saat inkarnasi:
1. “Christ was lowered not by losing but rather by taking.” [= Kristus
direndahkan bukan dengan kehilangan tetapi dengan mengambil.].
Ini
bisa diilustrasikan sebagai berikut: kita bisa merendahkan seorang yang kaya
bukan dengan mengambil kekayaannya, tetapi dengan memakaikan / menambahkan
kepadanya pakaian yang buruk. Jadi orang itu direndahkan bukan dengan kehilangan
apapun, tetapi sebaliknya dengan ketambahan sesuatu.
2.
Leon Morris (tentang Yoh 1:14):
“When
the Word became flesh His cosmic activities did not remain in abeyance until the
time of the earthly life was ended.” [= Ketika Firman menjadi daging,
kegiatan-kegiatan alam semestaNya tidaklah dibiarkan terkatung-katung sampai
saat kehidupan duniawi itu berakhir.] - hal 114.
3.
Leon Morris (tentang Yoh 1:14):
“we
must surely hold that the incarnation meant the adding of something to what the
Word was doing, rather than the cessation of most of His activities.” [= kita
harus berpegang / percaya bahwa inkarnasi berarti penambahan
terhadap sesuatu yang sedang dilakukan oleh Firman, dan bukannya
penghentian dari sebagian besar kegiatan-kegiatanNya.]
- hal 114.
4.
Calvin: “For
even if the Word in his immeasurable essence united with the nature of man into
one person, we do not imagine that he was confined therein. Here is something
marvelous: the Son of God descended from heaven in such a way, that without
leaving heaven, he willed to be borne in the virgin’s womb, to go
about the earth, and to hang upon the cross, yet he continuously filled the
world even as he had done from the beginning.” [= Karena
bahkan ketika Firman dalam hakekatNya yang tak terbatas, bersatu dengan hakekat
manusia dalam satu pribadi, kami tidak membayangkan
bahwa Ia dibatasi di dalamnya. Ini adalah sesuatu yang menakjubkan:
Anak Allah turun dari surga dengan cara sedemikian rupa, sehingga tanpa
meninggalkan surga, Ia mau dikandung dalam kandungan perawan,
berjalan-jalan di bumi, dan tergantung di kayu salib, tetapi Ia secara
terus-menerus memenuhi alam semesta seperti yang Ia sudah lakukan dari semula.] - ‘Institutes of the Christian
Religion’, Book II, Chapter XIII, no 4.
Kata-kata
Calvin ini didasarkan atas Yoh 1:18. Kalau kita melihat kontex Yoh 1
itu maka akan terlihat bahwa mula-mula digambarkan
bahwa LOGOS itu bersama-sama dengan Allah (ay 1: ‘pada mulanya’).
Setelah itu digambarkan bahwa LOGOS itu berinkarnasi dan diam di antara
manusia (ay 14). Tetapi dalam ay 18
tetap digambarkan bahwa LOGOS itu ada di pangkuan (Lit: ‘dada’) Bapa di surga!
Yoh
1:1,14,18 - “(1) Pada
mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan
Allah dan Firman itu adalah Allah. ... (14) Firman
itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah
melihat kemuliaanNya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepadaNya sebagai Anak
Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. ... (18) Tidak seorangpun yang
pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah,
yang ada
di pangkuan (dada) Bapa,
Dialah yang menyatakanNya.”.
Perhatikan
kata ‘ada’
dalam Yoh 1:18. Dalam bahasa Inggris digunakan present tense!!
NASB:
who is
in the bosom of the Father [= yang ada (present
tense!) di dada Bapa].
NIV:
who is
at the Father’s side [= yang ada (present
tense!) di sisi Bapa].
Kata
bahasa Yunani yang digunakan adalah HO ON yang arti hurufiahnya adalah ‘the
being’. Kata HO adalah definite
article / kata sandang tertentu (‘the’),
sedangkan ON adalah suatu participle
yang ada dalam bentuk present.
Jadi,
sekalipun ay 14 menunjukkan bahwa Firman / Yesus itu sudah menjadi daging /
manusia, tetapi ay 18 menunjukkan bahwa Firman / Yesus itu tetap ada di
dada Bapa! Ini menunjukkan kemaha-adaan Yesus! Sekalipun manusia
Yesusnya terbatas, tetapi
Anak Allah itu tidak terbatas di dalam manusia Yesus itu. Ia tetap
maha ada!
Tetapi
ada orang yang membantah ajaran ini dengan mengatakan bahwa bentuk present itu menunjuk pada saat rasul Yohanes sedang menuliskan
Injil Yohanes ini, yaitu pada sekitar akhir abad I. Karena itu, ini hanya
menunjukkan bahwa Yesus yang sudah bangkit dan naik ke surga itu, saat itu ada
dalam pelukan Bapa.
Tetapi
ini tidak mungkin, karena dalam ay 18 itu kata-kata ‘ada di dada Bapa’
jelas menjadi dasar yang menyebabkan Yesus itu bisa ‘menyatakan’
Bapa!
Yoh
1:18 - “Tidak
seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak
Tunggal Allah, yang ada di pangkuan
(dada) Bapa, Dialah
yang menyatakanNya.”.
Jadi
jelas tidak menunjuk pada peristiwa yang terjadi pada akhir abad I, tetapi pada
saat Yesus sedang menjadi manusia, atau bahkan bisa diartikan bahwa Yesus terus
menerus ada di dada Bapa.
Perhatikan
juga kutipan-kutipan di bawah ini:
a.
Pulpit Commentary (tentang Yoh 1:18):
“In
view of the contention of Meyer that the language here refers to no agelong,
eternal indwelling of the Logos with, or of the Son (God only begotten) on the
bosom of, the Father, but to the exaltation of the Christ after his ascension,
we can only refer to the present tense (HO ON), which from the standpoint of the
prologue does not transfer itself to the historical standpoint of the writer at
the end of the first century.” [= Tentang pandangan Meyer bahwa
kata-kata di sini tidak menunjukkan bahwa Logos itu diam / tinggal secara kekal
bersama-sama, atau di dada, Bapa, tetapi menunjuk pada pemuliaan Kristus setelah
kenaikanNya, kami bisa hanya menunjuk pada present tense (HO ON), yang dari
sudut pandang pendahuluan (pendahuluan Injil Yohanes), tidak
mentranfer dirinya sendiri ke sudut pandang historis dari penulis pada akhir
abad pertama.]
-hal 24.
Keterangan:
jadi, present tense itu ditinjau dari
sudut pandang pendahuluan Injil Yohanes (Yoh 1:1-18), bukan dari
sudut pandang saat penulisan Injil Yohanes.
b.
Pulpit Commentary (tentang Yoh 1:18):
“...
in this verse he is speaking of the timeless condition, the eternal fellowship,
of the Only Begotten with the Father, as justifying the fulness of the
revelation made in his incarnation.” [= ... dalam ayat ini ia berbicara
tentang kondisi yang kekal, persekutuan kekal,
dari Anak Tunggal dengan Bapa, sebagai dasar / pembenaran kepenuhan wahyu yang
dibuat dalam inkarnasiNya.] -hal 24.
c.
Leon Morris (tentang Yoh 1:18):
“The
copula ‘is’ expresses a continuing union. The only begotten is continually
in the bosom of the Father.”
[= Kata kerja penghubung ‘is’ {=
ada} menunjukkan kesatuan yang terus
menerus. Anak Tunggal itu terus menerus
ada di dada Bapa.] - hal 114.
d.
William Hendriksen (tentang Yoh 1:18):
“Besides,
the added clause ‘who lies upon the Father’s breast’ indicates a relation
of abiding closeness between the Father-God and the Son-God.” [= Disamping
itu, anak kalimat tambahan ‘yang bersandar di dada Bapa’ menunjukkan suatu
hubungan dekat yang kekal antara Allah
Bapa dan Allah Anak.]. hal 90.
e.
William Barclay (tentang Yoh 1:18):
“When
John uses this phrase about Jesus, he means that between Jesus and God there is
complete and uninterrupted intimacy. It is because Jesus is so intimate with
God, that he is one with God and can reveal him to men.” [= Ketika
Yohanes menggunakan istilah ini tentang Yesus, ia memaksudkan bahwa antara Yesus
dan Allah ada keintiman yang lengkap dan tak
putus-putusnya. Justru karena Yesus begitu intim dengan Allah, dan
satu dengan Allah, maka Ia bisa menyatakan Dia kepada manusia.] - hal 74.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube: