(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)
Rabu, tgl 14 Agustus 2019, pk 19.00
Pdt.
Budi Asali, M. Div.
III) Ketidak-bisa-berdosaan Kristus.
Semua
orang yang Injili dan Alkitabiah setuju bahwa dalam
faktanya Kristus tidak pernah berbuat dosa.
Tetapi
yang dibicarakan sekarang, adalah: secara
teoritis, adakah kemungkinan bagi Yesus untuk jatuh ke dalam
dosa pada waktu Ia hidup sebagai manusia dalam dunia ini?
Dalam
hal ini tidak ada kesatuan pendapat, bahkan dalam kalangan Reformedpun tidak ada
keseragaman pendapat.
Sekarang
mari kita menyoroti macam-macam pandangan yang ada:
A) Kristus
tidak bisa berdosa (non posse peccare / not possible to sin).
Ini
merupakan pandangan Calvin dan orang-orang Reformed pada umumnya.
Catatan:
sepanjang yang saya tahu, dari para ahli theologia Reformed, hanya Charles Hodge
yang tidak setuju dengan pandangan ini.
Hal-hal
yang dijadikan dasar untuk mengatakan bahwa Kristus tidak bisa berbuat dosa:
1)
Ibr 13:8 berkata bahwa Kristus tidak berubah.
Ibr 13:8
- “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin
maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.”.
William
G. T. Shedd: “The
immutability of Christ taught in Heb. 13:8 pertains to all the characteristics
of his person. His holiness is one of the most important of these. If the
God-man, like Adam, had had a holiness that was mutable and might be lost, it
would be improper to speak of him in terms that are applicable only to the
unchangeable holiness of God.” [=
Ketidak-bisa-berubahan tentang Kristus yang diajarkan dalam Ibr 13:8 berkenaan
dengan semua sifat yang khas dari PribadiNya. Kekudusan
/ kesucianNya adalah salah satu yang terpenting dari hal-hal ini.
Seandainya Sang Manusia-Allah, seperti Adam, mempunyai suatu kekudusan /
kesucian yang bisa berubah dan bisa hilang, adalah tidak tepat untuk berbicara
tentang Dia dengan istilah-istilah yang hanya sesuai
dengan kekudusan / kesucian yang tidak bisa berubah dari dari Allah.]
- ‘Dogmatic Theology’, vol II, hal
331.
Kalau
Ia bisa berdosa, maka itu berarti Ia bisa berubah (dari suci menjadi berdosa).
2)
Ibr 10:7,9 mengatakan bahwa Kristus datang ke dunia untuk melakukan
kehendak Allah. Tujuan ini tidak mungkin tidak tercapai!
Ibr
10:7,9 - “(7) Lalu
Aku berkata: Sungguh, Aku datang; dalam
gulungan kitab ada tertulis tentang Aku untuk
melakukan kehendakMu, ya AllahKu.’ ... (9) Dan kemudian kataNya:
‘Sungguh, Aku datang untuk melakukan kehendakMu.’ Yang pertama Ia
hapuskan, supaya menegakkan yang kedua.”.
3)
Kata-kata Kristus dalam Yoh 14:30 dimana Ia berkata bahwa Penguasa
dunia ini (yaitu setan) tidak berkuasa sedikitpun atas diriNya, menunjukkan
ketidak-mungkinanNya untuk berbuat dosa.
Yoh
14:30 - “Tidak
banyak lagi Aku berkata-kata dengan kamu, sebab penguasa
dunia ini datang dan ia tidak berkuasa sedikitpun atas diriKu.”.
4)
Penebusan oleh Kristus sudah ada sejak semula dalam Rencana Allah, dan
Rencana Allah tidak mungkin berubah atau gagal.
a)
Bahwa Rencana Allah sudah ada sejak semula terlihat dari ayat-ayat
seperti:
2Raja 19:25
- “Bukankah telah kaudengar, bahwa Aku
telah menentukannya dari jauh hari, dan
telah merancangnya pada zaman purbakala?
Sekarang Aku mewujudkannya, bahwa engkau membuat sunyi senyap kota-kota yang
berkubu menjadi timbunan batu.”.
Maz 139:16
- “mataMu melihat selagi
aku bakal anak, dan dalam kitabMu semuanya tertulis hari-hari
yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya.”.
Yes
37:26 - “Bukankah
telah kaudengar, bahwa Aku telah menentukannya dari
jauh hari dan telah merancangnya dari
zaman purbakala? Sekarang Aku mewujudkannya, bahwa engkau membuat
sunyi senyap kota-kota yang berkubu menjadi timbunan batu,”.
Yes
46:10 - “yang memberitahukan dari
mulanya hal yang kemudian dan dari zaman
purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: KeputusanKu akan
sampai, dan segala kehendakKu akan Kulaksanakan,”.
Kalau
manusia membuat rencana, maka manusia membuatnya secara bertahap. Misalnya pada
waktu kita ada di SMP kita merencanakan untuk masuk SMA tertentu, dan pada waktu
di SMA baru kita merencanakan untuk masuk perguruan tinggi tertentu. Setelah
lulus dari perguruan tinggi, baru kita merencanakan untuk bekerja di tempat
tertentu, dsb. Tidak ada manusia yang dari lahir lalu bisa merencanakan segala
sesuatu dalam seluruh hidupnya! Mengapa? Karena manusia tidak maha tahu sehingga
ia tidak mampu melakukan hal itu. Manusia membutuhkan penambahan pengetahuan
untuk bisa membuat rencana lanjutan.
Tetapi
Allah yang maha tahu dan maha bijaksana, merencanakan seluruh RencanaNya sejak
semula!
b)
Penebusan dosa umat manusia oleh Kristus sudah termasuk dalam Rencana
Allah (Kis 2:23 Kis 4:27-28
1Pet 1:20).
Kis 2:23
- “Dia yang diserahkan Allah menurut
maksud dan rencanaNya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan
bangsa-bangsa durhaka.”.
Kis 4:27-28
- “(27) Sebab
sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus
beserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel melawan Yesus, HambaMu yang
kudus, yang Engkau urapi, (28) untuk melaksanakan segala
sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendakMu.”.
1Pet
1:20 - “Ia telah dipilih sebelum
dunia dijadikan, tetapi karena kamu baru menyatakan diriNya pada
zaman akhir.”.
c)
Rencana Allah tidak mungkin berubah atau gagal.
Ayub 42:2
- “‘Aku tahu, bahwa Engkau sanggup
melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencanaMu
yang gagal.”.
Maz
33:10-11 - “(10) TUHAN
menggagalkan rencana bangsa-bangsa; Ia meniadakan rancangan suku-suku bangsa;
(11) tetapi rencana TUHAN tetap selama-lamanya,
rancangan hatiNya turun-temurun.”.
Yes 14:24,26,27
- “(24) TUHAN
semesta alam telah bersumpah, firmanNya: ‘Sesungguhnya seperti
yang Kumaksud, demikianlah akan terjadi, dan seperti yang Kurancang, demikianlah
akan terlaksana: ... (26) Itulah rancangan yang telah dibuat mengenai
seluruh bumi, dan itulah tangan yang teracung terhadap segala bangsa. (27) TUHAN
semesta alam telah merancang, siapakah yang dapat menggagalkannya? TanganNya
telah teracung, siapakah yang dapat membuatnya ditarik kembali?”.
Yes 46:10-11
- “(10) yang
memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang
belum terlaksana, yang berkata: KeputusanKu akan
sampai, dan segala kehendakKu akan Kulaksanakan, (11) yang memanggil
burung buas dari timur, dan orang yang melaksanakan putusanKu dari negeri yang
jauh. Aku telah mengatakannya, maka Aku hendak
melangsungkannya, Aku telah merencanakannya, maka Aku hendak melaksanakannya.”.
Orang
Arminian / non Reformed percaya bahwa Allah bisa mengubah RencanaNya, dan
percaya bahwa Rencana Allah bisa gagal. Sebetulnya
ini suatu penghinaan bagi Allah karena ini menyamakan Allah dengan manusia, yang
sering harus mengubah rencananya dan gagal dalam mencapai rencananya!
Ada
banyak hal yang tidak memungkinkan Allah mengubah rencanaNya / gagal dalam
mencapai rencanaNya:
1.
Ayat-ayat dalam point c di atas secara jelas menunjukkan bahwa Rencana
Allah tidak mungkin berubah atau gagal!
2.
Kemahatahuan Allah.
Pada
waktu Allah merencanakan, bukankah Ia sudah tahu apakah rencanaNya akan berhasil
atau gagal? Kalau Ia sudah tahu bahwa RencanaNya akan gagal, lalu mengapa Ia
tetap merencanakannya?
3.
Kemahabijaksanaan Allah.
Kebijaksanaan
Allah menyebabkan Ia pasti membuat rencana yang terbaik. Kalau rencana ini
diubah, maka akan menjadi bukan yang terbaik. Ini tidak mungkin!
4.
Kemahakuasaan Allah.
Manusia
sering gagal mencapai rencananya atau terpaksa mengubah rencananya karena ia
tidak maha kuasa. Tetapi Allah yang maha kuasa tidak mungkin gagal mencapai
rencanaNya atau terpaksa harus mengubah rencanaNya!
5.
Kedaulatan Allah tidak memungkinkan Ia untuk mengubah rencanaNya, karena
perubahan rencana berarti Ia menjadi tergantung pada situasi dan kondisi (tidak
lagi berdaulat).
Kalau
Kristus berdosa, maka Ia harus mati untuk dosaNya sendiri, sehingga Ia tidak
bisa menebus dosa umat manusia. Jadi kalau ada
kemungkinan bagi Kristus untuk berdosa, maka itu berarti ada kemungkinan bagi
Rencana Allah (tentang Penebusan) untuk gagal.
5)
Dilihat dari hakekat-hakekat yang ada dalam diri Kristus:
a)
Hakekat manusia mempunyai sifat ‘bisa berdosa’ (posse
peccare / possible to sin).
b)
Hakekat ilahi mempunyai sifat ‘tidak bisa berdosa’ (non
posse peccare / not possible to sin).
Berdasarkan
Communicatio
Idiomatum, maka semua sifat dari hakekat manusia maupun hakekat ilahi
diberikan kepada pribadi Kristus / sama-sama dimiliki oleh pribadi Kristus.
Jadi
seharusnya pribadi Kristus mempunyai sifat ‘bisa berdosa’ dan ‘tidak bisa
berdosa’.
Tetapi
kesimpulan ini ditolak oleh orang-orang Reformed pada umumnya.
1.
Pandangan Louis Berkhof.
Adanya
Communicatio
Charismatum dimana hakekat manusia dari Kristus ditinggikan melebihi
makhluk-makhluk ciptaan yang lain melalui pemberian karunia-karunia Roh dalam
hal intelek, kehendak dan kuasa, terutama dalam hal
ketidak-mungkinannya untuk berbuat dosa.
Jadi,
Louis Berkhof beranggapan bahwa hakekat manusia Kristus itu sendiri sudah tidak
bisa berbuat dosa. Dan ini menyebabkan pribadi Kristus tidak bisa berdosa.
2.
Pandangan W. G. T. Shedd.
Shedd
beranggapan bahwa hakekat manusia dari Kristus bisa berdosa (posse peccare), tetapi dalam persatuan antara hakekat manusia dan
hakekat ilahi dalam satu pribadi, hakekat ilahilah yang menguasai dan mengontrol
hakekat manusia, dan bukan sebaliknya. Jadi kekuatan pribadi Kristus untuk
melawan godaan / serangan setan setara dengan kekuatan dari hakekat ilahi untuk
melawan godaan / serangan setan.
Dengan
demikian, apa yang bisa dilakukan oleh hakekat manusia Kristus kalau hakekat
manusia itu terpisah dari hakekat ilahi (yaitu bisa berbuat dosa), tidak bisa
dilakukan oleh persatuan dari hakekat manusia dan hakekat ilahi dalam pribadi
Kristus.
Jadi
doktrin Shedd tentang Communicatio
Idiomatum adalah bahwa semua sifat dari hakekat ilahi diberikan kepada
pribadi Kristus, tetapi untuk hakekat manusia, ada 1 sifat yang tidak bisa
diberikan kepada pribadi Kristus, yaitu sifat ‘bisa berdosa’.
Alasan
Shedd adalah: dalam persoalan dosa, hakekat ilahi tidak bisa membiarkan hakekat
manusia pada keterbatasannya. Kalau hakekat ilahi melakukan hal itu, hakekat
ilahi sendiri sudah berdosa.
“In
this latter instance, the divine nature cannot innocently and righteously leave
the human nature to its own finiteness without any support from the divine, as
it can in other instances.”
[= Dalam hal yang terakhir ini, hakekat ilahi tidak bisa secara tak berdosa dan
secara benar, meninggalkan hakekat manusia pada keterbatasannya tanpa
pertolongan dari hakekat ilahi, seperti yang bisa dilakukan oleh hakekat ilahi
dalam hal-hal lain.] - ‘Shedd’s
Dogmatic Theology’, vol II, hal 333-334.
3.
Pandangan R. L. Dabney.
a.
Persatuan 2 hakekat itu adalah suatu perisai bagi hakekat manusia
terhadap kesalahan.
R.
L. Dabney:
“It
is impossible that the person constituted in union with the eternal and
immutable Word, can sin; for this union is an absolute shield to the lower
nature, against error.”
[= Adalah tidak mungkin bahwa pribadi yang terbentuk / terdapat dalam persatuan
dengan Firman yang kekal dan yang tak berubah, bisa berdosa; karena persatuan
ini adalah suatu perisai yang mutlak bagi hakekat yang lebih rendah, terhadap
kesalahan.]
- ‘Lectures in Systematic Theology’,
hal 471.
Pandangan
ini sama dengan pandangan dari William G. T. Shedd. Tetapi Dabney menambahkan
lagi hal berikut ini.
b.
Dalam persatuan hakekat manusia dengan LOGOS, hakekat manusia itu
dikuasai sepenuhnya oleh Roh Kudus.
R.
L. Dabney:
“This
lower nature, upon its union with the Word, was imbued with the full influence
of the Holy Ghost.”
[= Hakekat yang lebih rendah ini, dalam persatuannya dengan Firman, dikaruniai
dengan pengaruh penuh dari Roh Kudus.]
- ‘Lectures in Systematic Theology’,
hal 471.
Dabney
juga memberikan dasar-dasar Kitab Suci yang menunjukkan peranan Roh Kudus dalam
diri Kristus, yaitu:
Maz 45:8
- “Engkau mencintai keadilan dan membenci
kefasikan; sebab itu Allah, Allahmu, telah mengurapi
engkau dengan minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutumu.”.
Yes
11:2,3 - “(2)
Roh TUHAN akan ada padanya, roh hikmat dan
pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan TUHAN;
(3) ya, kesenangannya ialah takut
akan TUHAN. Ia tidak akan menghakimi dengan sekilas pandang saja atau
menjatuhkan keputusan menurut kata orang.”.
Yes
42:1 - “Lihat, itu hambaKu yang Kupegang, orang
pilihanKu, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah
menaruh RohKu ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada
bangsa-bangsa.”.
Yes 61:1
- “Roh
Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena TUHAN telah mengurapi aku; Ia telah
mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan
merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada
orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari
penjara,”.
Bdk.
Luk 4:17-21 - “(17)
KepadaNya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibukaNya, Ia menemukan nas,
di mana ada tertulis: (18) ‘Roh Tuhan ada padaKu,
oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik
kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku (19) untuk memberitakan
pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta,
untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat
Tuhan telah datang.’ (20) Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali
kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju
kepadaNya. (21) Lalu Ia memulai mengajar mereka, kataNya: ‘Pada
hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.’”.
Luk 4:1
- “Yesus, yang penuh dengan Roh
Kudus, kembali dari sungai Yordan, lalu
dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun.”.
Yoh
1:32 - “Dan Yohanes memberi kesaksian, katanya:
‘Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti
merpati, dan Ia tinggal di atasNya.”.
Yoh
3:34 - “Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah
yang menyampaikan firman Allah, karena Allah
mengaruniakan RohNya dengan tidak terbatas.”.
Ini
kelihatannya sesuai dengan pandangan Calvin, karena dalam komentarnya tentang
Mat 4:1 (dimana Kristus dipenuhi oleh Roh Kudus sebelum Ia dicobai oleh
setan) ia berkata sebagai berikut:
“Christ
was fortified by the Spirit with such power that the darts of Satan could not
pierce him.”
[= Kristus dibentengi oleh Roh dengan kuasa sedemikian rupa sehingga panah-panah
Setan tidak bisa menusukNya.].
4.
G. C. Berkouwer mengutip seseorang yang berkata:
“The
inner incapacity for sin results from the fact that the ‘I’ of the human
nature is the Logos.”
[= Ketidak-mampuan untuk berbuat dosa merupakan akibat dari fakta bahwa
‘Aku’ dari hakekat manusia itu adalah Logos.]
- ‘Studies in Dogmatics: The Person of Christ’, hal 258.
Perlu
ditambahkan kata-kata Herman Hoeksema sebagai berikut: “My
person is that which I know to be the subject of all my actions, ... It is not
my nature, my body or my soul, my brain, my eye, my ear, my mouth, my feet, that
acts, thinks, sees, hears, speaks, runs; but it is my person. I act, I think, I
see, and I hear and speak and run, in and through my nature. ... Now in Christ
this person is the Son of God, the Second Person of the Holy Trinity.” [= Pribadiku
adalah apa yang aku ketahui merupakan subyek dari semua tindakanku, ... Bukanlah
hakekatku, tubuhku atau jiwaku, otakku, mataku, telingaku, mulutku, kakiku, yang
bertindak, berpikir, melihat, mendengar, berbicara, lari; tetapi pribadikulah
yang melakukannya. Aku bertindak, aku berpikir, aku melihat, dan aku mendengar
dan berbicara dan berlari, di dalam dan melalui hakekatku. ... Dalam hal
Kristus, pribadiNya adalah Anak Allah, pribadi yang kedua dari Tritunggal yang
Kudus.] - ‘Reformed
Dogmatics’, hal 359-360.
Karena
pribadi merupakan subyek dari semua tindakan, maka jelaslah bahwa Kristus tidak
bisa berbuat dosa, karena pribadiNya adalah Allah Anak / LOGOS sendiri!
5.
G. C. Berkouwer juga memberikan pandangan Abraham Kuyper (yang
kelihatannya merupakan gabungan dari pandangan 3. dan 4.). Berkouwer berkata
sebagai berikut:
“Kuyper
says that owing to the human nature of Christ there was in him the possibility
of sin (as it existed in Adam before the Fall). But since Jesus did not assume a
human person, a ‘homo’, but human nature, and since there was in him no
human ego (to realize this possibilitas) but, on the contrary, the human nature
remained eternally united to the second person of the Trinity, therefore the
control of this divine person makes it absolutely impossible for the
possibilitas to become reality.” [= Kuyper mengatakan bahwa hakekat
manusia Kristus menyebabkan dalam Dia ada kemungkinan untuk berbuat dosa
(seperti yang ada dalam Adam sebelum Kejatuhan dalam dosa). Tetapi karena Yesus
tidak mengambil seorang pribadi manusia, ‘seorang manusia’, tetapi hakekat
manusia, dan karena dalam Dia tidak ada ego manusia (untuk mewujudkan
kemungkinan ini) tetapi, sebaliknya, hakekat manusia itu tetap bersatu secara
kekal dengan pribadi kedua dari Trinitas, karena itu kontrol dari pribadi ilahi
ini menyebabkan ketidak-mungkinan mutlak untuk terwujudnya kemungkinan
tersebut.]
- ‘Studies in Dogmatics: the Person of
Christ’, hal 259.
Sekalipun
pandangan-pandangan tersebut di atas (1-5) berbeda satu sama lain, tetapi
kesimpulannya adalah sama, yaitu: pribadi Kristus tidak bisa berdosa (non posse
peccare / not possible to sin).
B) Kristus
bisa berdosa (posse peccare / possible to sin).
1)
Charles Hodge berkata:
“The
sinlessness of our Lord, however, does not amount to absolute impeccability. ...
If He was a true man He must have been capable of sinning. ... Temptation
implies the possibility of sin. If from the constitution of his person it was
impossible for Christ to sin, then his temptation was unreal and without effect,
and He cannot sympathize with his people.” [= Tetapi,
ketidak-berdosaan Tuhan kita, tidak berarti
ketidak-bisa-berdosaan yang mutlak. ... Jika Ia adalah seorang
manusia yang sungguh-sungguh Ia pasti bisa berdosa.
... Pencobaan secara tidak langsung menunjukkan
kemungkinan untuk berbuat dosa. Jika pembentukan pribadiNya menyebabkan
Kristus tidak mungkin berbuat dosa, maka pencobaanNya
tidak nyata dan tidak berguna, dan Ia tidak bisa bersimpati dengan
umatNya.]
- ‘Systematic Theology’, vol II,
hal 457.
Jadi,
alasan yang diberikan oleh Charles Hodge untuk mendukung pandangan ini adalah:
a)
Kalau Kristus menjadi manusia yang sama seperti kita (Ibr 2:14-17),
maka Ia juga harus bisa berbuat dosa, sama seperti kita.
Jawab:
Ini
bisa dijawab dengan point A no 5 di atas.
b)
Kalau Kristus tidak bisa berbuat dosa, Ia tidak bisa dicobai. Dengan kata
lain, fakta bahwa Kristus dicobai, menunjukkan bahwa Ia bisa berbuat dosa.
Jawab:
Pandangan
ini tidak benar, karena bahwa suatu pasukan tidak bisa dikalahkan, tidak berarti
bahwa pasukan itu tidak bisa diserang. Jadi analoginya adalah: bahwa Kristus
tidak bisa berdosa, tidak berarti Ia tidak bisa dicobai.
c)
Kalau Kristus tidak bisa berbuat dosa, maka pencobaan yang Ia alami tidak
nyata dan tidak berguna, dan Ia tidak bisa bersimpati dengan umatNya.
Jawab:
1.
Sekalipun Kristus tidak bisa berbuat dosa, ini tidak berarti bahwa
pencobaan yang dialami oleh Kristus adalah
sepele / ringan
(bdk. Mat 26:36-46 Ibr 2:18 Ibr
4:15 Ibr 5:7-8).
Tentang
hal ini Berkouwer berkata:
“Christ’s
sinlessness does not nullify the temptation but rather demonstrates its
superiority in the teeth of temptation.” [= Ketidak-berdosaan Kristus tidak
meniadakan pencobaan tetapi sebaliknya menunjukkan kesuperiorannya dalam
gigitan pencobaan.]
- ‘Studies in Dogmatics: the Person of
Christ’, hal 263.
2.
Pada waktu membahas tentang pencobaan di padang gurun dalam Injil Lukas,
Norval Geldenhuis (NICNT) mengutip Westcott yang mengomentari Ibr 2:18
dengan kata-kata sebagai berikut:
“Sympathy
with the sinner in his trial does not depend on the experience of sin, but on
the experience of the strength of the temptation to sin, which only the sinless
can know in its full intensity. He who falls yields before the last strain.” [= Simpati
dengan orang berdosa dalam pencobaannya tidak tergantung pada pengalaman tentang
dosa, tetapi pada pengalaman tentang kekuatan pencobaan kepada dosa, yang hanya
orang yang tak berdosa bisa mengetahuinya dalam intensitasnya sepenuhnya. Ia
yang jatuh, menyerah sebelum tekanan terakhir.] - hal 157.
Geldenhuis
juga mengutip Plummer yang berkata: “... a
righteous man, whose will never falters for a moment, may feel the
attractiveness of the advantage more keenly than the weak man who succumbs; for
the latter probably gave way before he recognised the whole of the
attractiveness;” [= ... orang
yang benar, yang tidak pernah goyah sesaatpun, bisa merasakan daya tarik dari
keuntungan dengan lebih hebat / keras dari pada orang lemah yang menyerah /
mengalah; karena yang terakhir ini mungkin menyerah sebelum ia mengenal seluruh
daya tarik itu;] - hal 157.
Dari
2 kutipan di atas ini Geldenhuis menyimpulkan: “If we bear
these considerations in mind we shall realise that the Saviour experienced the
violence of the attacks of temptation as no other human being ever did, because
all others are sinful and therefore not able to remain standing until the
temptations have exhausted all their terrible violence in assailing them.” [= Jika kita
mengingat pertimbangan-pertimbangan ini, kita akan menyadari bahwa sang
Juruselamat mengalami hebatnya serangan pencobaan yang tidak pernah dialami oleh
orang lain, karena semua yang lain adalah orang berdosa dan karena itu tidak
bisa tetap berdiri sampai pencobaan-pencobaan itu menghabiskan seluruh
kekuatannya dalam menyerang mereka.] - hal 157.
Illustrasi
dan contoh:
a.
Kalau seorang petinju yang tidak terlalu tahan pukul menghadapi Mike
Tyson, maka mungkin sekali bahwa baru satu kali terkena pukulan Mike Tyson ia
sudah KO, sehingga ia tidak merasakan seluruh kekuatan Mike Tyson. Tetapi
petinju lain yang betul-betul tahan pukulan, tidak jatuh sekalipun terkena
banyak pukulan Tyson, sehingga ia betul-betul merasakan seluruh kekuatan Tyson.
b.
Orang yang mengalami godaan sex. Kalau begitu ada godaan ia langsung
menyerah, maka jelas bahwa ia tidak merasakan seluruh kekuatan godaan itu.
Tetapi kalau ia bertahan, maka orang yang menggodanya itu akan menggunakan
bermacam-macam cara dan taktik untuk menjatuhkannya, sehingga ia akan merasakan
seluruh kekuatan godaan itu.
2)
Ada juga yang membuktikan bahwa Kristus bisa berbuat dosa dengan
menggunakan Mat 26:53 dimana Yesus berkata: “Atau
kausangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada BapaKu, supaya Ia segera
mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku?”.
Ayat
ini dijadikan dasar untuk mengatakan bahwa saat itu Yesus ada di persimpangan
jalan. Ia bisa memilih untuk tunduk pada kehendak Allah, dengan membiarkan
diriNya ditangkap dan dibunuh. Tetapi Ia bisa juga memilih untuk tidak tunduk
pada kehendak Allah, dengan berdoa kepada BapaNya supaya BapaNya mengirim lebih
dari 12 pasukan malaikat membantu Dia. Sekalipun akhirnya / dalam faktanya Ia
memilih untuk taat pada kehendak Allah, tetapi ayat ini dianggap sebagai dasar
untuk menunjukkan bahwa sebetulnya Ia bisa saja tidak tunduk pada kehendak
Allah.
Jawab:
Ada
beberapa hal yang perlu diperhatikan:
a)
Yesus mengucapkan Mat 26:53 ini hanya untuk meluruskan pemikiran /
tindakan dari Petrus yang berusaha ‘menolong Yesus’ dengan membacok
telinga hamba Imam Besar.
b)
Calvin beranggapan bahwa dalam Mat 26:53 ini Yesus hanya
mengandaikan.
Jadi
maksudNya adalah sebagai berikut: Andaikata
saja hal itu tidak bertentangan dengan kehendak Allah, maka dari pada
dibantu oleh Petrus menggunakan pedangnya, Yesus mempunyai cara yang lebih baik,
yaitu berdoa kepada Bapa untuk mengirim lebih dari 12 pasukan malaikat.
c)
Mat 26:53 tidak boleh dipisahkan dari Mat 26:54 yang berbunyi: “Jika
begitu, bagaimanakah mungkin akan digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci, yang
mengatakan bahwa harus terjadi demikian?”.
Kata
‘harus’ menunjukkan bahwa penangkapan
terhadap Kristus dan kematianNya, tidak bisa tidak terjadi!
d)
Kita juga harus mengingat doa Yesus dalam taman Getsemani dimana Ia
berdoa: “Ya
BapaKu, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan itu lalu dari padaKu,”
(Mat 26:39a). Tetapi karena kesucianNya, yang tidak memungkinkan Dia untuk
menentang kehendak Allah, Ia lalu menambahkan: “Tetapi janganlah seperti yang
Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”
(Mat 26:39b).
Karena
itu, andaikatapun Yesus di sini berdoa meminta Bapa mengirim pasukan malaikat,
tidakkah Ia juga akan menambahkan kata-kata dalam Mat 26:39 itu?
C) Kristus
bisa tidak berdosa (posse non peccare / possible not to sin).
Catatan:
dalam hal ini saya menggunakan istilah-istilah bahasa Latin karena
istilah-istilah itu begitu sering digunakan, dan sering digunakan tanpa
terjemahan, karena orang dianggap harus mengerti.
POSSE
PECCARE = possible to sin = bisa berdosa.
POSSE
NON PECCARE = possible not to sin = bisa tidak berdosa.
NON
POSSE NON PECCARE = not possible not to sin = tidak bisa tidak berdosa.
NON
POSSE PECCARE = not possible to sin = tidak bisa berbuat dosa.
Pandangan
ini berkata bahwa Kristus bukannya ‘tidak bisa
berdosa’ (non posse peccare / not
possible to sin), juga bukannya ‘bisa
berdosa’ (posse peccare / possible to sin), tetapi ‘bisa
tidak berdosa’ (posse non peccare /
possible not to sin).
Jawab:
Pandangan ini juga tidak logis, karena memiliki sifat ‘bisa tidak berdosa’
tanpa memiliki sifat ‘bisa berdosa’ adalah sama dengan memiliki sifat
‘tidak bisa berdosa’.
Ini
akan saya jelaskan dengan menggunakan gambar di bawah ini.
BTB
BTB
TBB





A
B
C
D
BB
TBTB
BB
Keterangan
gambar:
BB
= Bisa Berdosa.
BTB
= Bisa Tidak Berdosa.
TBTB
= Tidak Bisa Tidak Berdosa.
TBB
= Tidak Bisa Berdosa.
A
= Adam dan Hawa sebelum jatuh ke dalam dosa. Mereka ‘bisa berdosa’ dan
‘bisa tidak berdosa’.
B
= orang dalam dosa yang masih di luar Kristus. Mereka ‘tidak bisa tidak
berdosa’.
C
= orang yang ada dalam Kristus. Mereka dikembalikan kepada kondisi Adam dan Hawa
sebelum jatuh ke dalam dosa, yaitu ‘bisa berdosa’ dan ‘bisa tidak
berdosa’.
D
= orang kristen di surga. Mereka ‘tidak bisa berdosa’.
Sekarang
perhatikan hanya bagian C dan D saja. Pada waktu ada di C, manusia ‘bisa
berdosa’ dan ‘bisa tidak berdosa’. Pada waktu masuk ke D, ‘bisa
berdosa’ hilang, tetapi yang tertinggal bukanlah ‘bisa tidak berdosa’,
melainkan berubah menjadi ‘tidak bisa berdosa’.
Dari sini jelas bahwa ‘bisa tidak
berdosa’ tanpa disertai ‘bisa berdosa’, menjadi ‘tidak bisa
berdosa’.
-o0o-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube: