(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)
Rabu, tgl 7 Agustus 2019, pk 19.00
Pdt.
Budi Asali, M. Div.
3)
Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, padahal baptisan Yohanes adalah
baptisan untuk pengampunan dosa (Mark 1:4).
Mark 1:4
- “demikianlah
Yohanes Pembaptis tampil di padang gurun dan menyerukan: ‘Bertobatlah dan berilah
dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu.’”.
Hal-hal
yang perlu diperhatikan dalam persoalan ini:
a)
Berbeda dengan semua orang lain, yang mengaku dosa pada saat dibaptis
oleh Yohanes Pembaptis, Yesus tidak mengaku dosa (Mat 3:6,13-17).
Mat 3:6,13-17
- “(6)
Lalu sambil mengaku dosanya mereka dibaptis oleh
Yohanes di sungai Yordan. ... (13) Maka datanglah Yesus dari Galilea
ke Yordan kepada Yohanes untuk dibaptis olehnya. (14) Tetapi Yohanes mencegah
Dia, katanya: ‘Akulah yang perlu dibaptis olehMu, dan Engkau yang datang
kepadaku?’ (15) Lalu Yesus menjawab, kataNya kepadanya: ‘Biarlah hal itu
terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak
Allah.’ Dan Yohanespun menurutiNya. (16) Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar
dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti
burung merpati turun ke atasNya, (17) lalu terdengarlah suara dari sorga yang
mengatakan: ‘Inilah AnakKu yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan.’”.
b)
Yohanes Pembaptis sendiri, yang mengenali Yesus sebagai Anak Allah /
Mesias, mula-mula menolak untuk membaptis Yesus, dan bahkan beranggapan bahwa
ialah yang seharusnya dibaptis oleh Yesus (Mat 3:14).
Mat
3:14 - “Tetapi
Yohanes mencegah Dia, katanya: ‘Akulah yang perlu dibaptis olehMu, dan Engkau
yang datang kepadaku?’”.
c)
Yesus menjawab keberatan Yohanes Pembaptis itu dengan berkata bahwa Ia
harus dibaptis oleh Yohanes, ‘untuk
menggenapkan seluruh kehendak Allah’ (Mat 3:15).
Mat 3:15
- “Lalu Yesus
menjawab, kataNya kepadanya: ‘Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah
sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.’
Dan Yohanespun menurutiNya.”.
NIV:
‘to fulfil all
righteousness’ [= untuk menggenapkan
seluruh kebenaran].
Kata-kata
ini ditafsirkan secara bermacam-macam. Saya tidak merasa perlu memberikannya di
sini, karena bukan tujuan saya memberikan exposisi dari text ini pada saat ini.
Tetapi tafsiran yang manapun yang kita terima, tidak ada yang menunjukkan bahwa
Yesus dibaptis untuk pengampunan dosa, dan ini pasti benar, karena tidak ada
pengakuan dosa dari Yesus pada saat Ia dibaptis.
Karena
Yesus tidak dibaptis untuk mendapatkan pengampunan dosa, maka jelas bahwa
baptisanNya tidak menunjukkan bahwa Ia berdosa!
4)
Yesus dianggap bersikap tidak hormat kepada Maria / ibuNya, misalnya:
a)
Kitab Suci tidak pernah menyebutkan bahwa Yesus memanggil / menyebut
Maria dengan sebutan ‘ibu / mama’.
Dalam
Alkitab LAI ada banyak ayat yang menyebut Maria sebagai ibu / mama dari Yesus,
menggunakan kata Yunani METER [= ibu / mama].
Contoh:
Yoh 2:3
- “Ketika mereka
kekurangan anggur, ibu (Yunani: METER)
Yesus berkata kepadaNya: ‘Mereka kehabisan anggur.’”.
Tetapi
kalau Yesus sendiri menyebut Maria, Ia tidak pernah menggunakan kata itu, tetapi
selalu menggunakan kata Yunani GUNAI [= perempuan].
Kalau
dalam Kitab Suci Indonesia ada ayat-ayat dimana Yesus menyebut / memanggil Maria
dengan sebutan ‘ibu’
(seperti dalam Yoh 2:4 dan Yoh 19:26), maka perlu diketahui bahwa itu
diterjemahkan bukan dari kata Yunani METER, yang berarti ‘ibu / mama’,
tetapi dari kata Yunani GUNAI yang sebetulnya berarti ‘perempuan’.
Yoh
2:4 - “Kata Yesus
kepadanya: ‘Mau apakah engkau dari padaKu, ibu
(Yunani:
GUNAI)?
SaatKu belum tiba.’”.
KJV/RSV/NIV/NASB/ASV/NKJV/ESV/YLT:
‘woman’
[= perempuan].
Yoh 19:26
- “Ketika
Yesus melihat ibuNya dan murid yang
dikasihiNya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibuNya:
‘Ibu,
inilah, anakmu!’”.
Catatan:
ada 3 x kata ‘ibu’
dalam ayat di atas. dan hanya yang pertama dan kedua berasal dari kata Yunani METER
[= ibu / mama], tetapi ini merupakan
penceritaan yang dilakukan oleh rasul Yohanes. Hanya kata ‘ibu’
yang ketiga yang berasal dari kata Yunani GUNAI [=
perempuan], dan ini kata yang diucapkan
oleh Yesus sendiri.
Catatan:
penggunaan kata GUNAI [= perempuan] sebetulnya bukan merupakan sesuatu yang
tidak hormat, dalam tradisi mereka pada jaman itu.
Kata ini juga Yesus gunakan terhadap Maria Magdalena dalam Yoh 20:13,15.
Yoh 20:13,15
- “(13) Kata
malaikat-malaikat itu kepadanya: ‘Ibu (Yunani: GUNAI),
mengapa engkau menangis?’ Jawab Maria kepada mereka: ‘Tuhanku telah diambil
orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan.’ ... (15) Kata Yesus
kepadanya: ‘Ibu (Yunani: GUNAI),
mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?’ Maria menyangka orang itu
adalah penunggu taman, lalu berkata kepadaNya: ‘Tuan, jikalau tuan yang
mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku
dapat mengambilNya.’”.
KJV/RSV/NIV/NASB/ASV/NKJV/ESV/YLT:
‘woman’
[= perempuan].
Orang
yang menganggap penggunaan kata ini merupakan suatu sikap yang tidak hormat,
menafsirkan menurut tradisi mereka sendiri pada jaman ini, bukan menurut tradisi
orang-orang Yahudi pada jaman itu di sana. Dan ini jelas merupakan cara menafsir
yang salah dan bodoh!
b)
Sikap / kata-kata Yesus terhadap / tentang Maria dalam:
Mat 12:46-50
- “(46)
Ketika Yesus masih berbicara dengan orang banyak itu, ibuNya dan
saudara-saudaraNya berdiri di luar dan berusaha menemui Dia. (47) Maka seorang
berkata kepadaNya: ‘Lihatlah, ibuMu dan saudara-saudaraMu ada di luar dan
berusaha menemui Engkau.’ (48) Tetapi jawab Yesus
kepada orang yang menyampaikan berita itu kepadaNya: ‘Siapa ibuKu? Dan
siapa saudara-saudaraKu?’ (49) Lalu kataNya, sambil menunjuk ke arah
murid-muridNya: ‘Ini ibuKu dan saudara-saudaraKu! (50) Sebab siapapun
yang melakukan kehendak BapaKu di sorga, dialah saudaraKu laki-laki, dialah
saudaraKu perempuan, dialah ibuKu.’”.
Catatan:
semua kata ‘ibu’
dalam text di atas ini berasal dari kata Yunani METER [= ibu / mama], tetapi
perhatikan bahwa pada waktu Yesus menggunakan kata METER ini di sini, Ia tidak
memaksudkan Maria!
Luk 2:48-49
- “(48)
Dan ketika orang tuaNya melihat Dia, tercenganglah mereka, lalu kata ibuNya
kepadaNya: ‘Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? BapaMu dan
aku dengan cemas mencari Engkau.’ (49) JawabNya
kepada mereka: ‘Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus
berada di dalam rumah BapaKu?’”.
Yoh 2:4
- “Kata Yesus
kepadanya: ‘Mau apakah engkau dari padaKu,
ibu? SaatKu belum tiba.’”.
KJV:
‘what have I to do with thee?’
[= apa urusanKu denganmu?].
Catatan:
ungkapan ini, pada waktu muncul dalam Alkitab, biasanya menyatakan
ketidak-senangan.
Contoh: Hakim 11:12 2Sam
16:10 1Raja 17:18
Mat 8:29.
Untuk
ini perlu diperhatikan bahwa sejak inkarnasi dan seterusnya, Yesus adalah Allah
dan manusia dalam satu pribadi. Sebagai manusia, Ia
harus hormat dan tunduk kepada orangtuaNya, tetapi sebagai Allah, Ia justru berkuasa atas
orang tuaNya, dan bahkan seharusnya orang tuaNyalah yang mentaati Dia,
menghormati Dia, dan menyembah Dia!
Illustrasi:
Kalau
ada seorang majikan dan pegawainya yang sama-sama menjadi majelis dari suatu
gereja, maka:
1.
Dalam pekerjaan, pegawai itu harus tunduk pada majikannya.
2.
Dalam urusan gereja, pegawai itu tidak harus tunduk kepada majikannya
itu, karena ia mempunyai pangkat / jabatan yang sama dengan majikannya. Dan
kalau hal ini terjadi, kita pasti tidak akan mengatakan bahwa pegawai itu kurang
ajar kepada majikannya!
Hal
yang sama terjadi kalau ada seorang pendeta yang mempunyai orang tua atau mertua
sebagai jemaatnya.
5)
Yesus takut dan gentar (Mat 26:37-38
Mark 14:33 Luk 22:44).
Mat 26:37:
‘sedih dan
gentar’.
Ini salah terjemahan!
NIV:
‘to be sorrowful and troubled’ [=
sedih dan susah / terganggu].
NASB:
‘to be grieved and distressed’ [=
sedih dan susah].
Jadi,
dari ayat ini hanya terlihat bahwa Yesus sedih, tetapi tidak terlihat bahwa Ia
takut.
Sekarang
mari kita perhatikan ayat-ayat paralel dari Mat 26:37 itu:
a)
Luk 22:44: ‘Ia sangat ketakutan’.
Ini juga salah terjemahan!
NIV:
‘being in anguish’ [= ada dalam
kesedihan].
NASB:
‘being in agony’ [= ada dalam penderitaan].
Jadi
dari ayat inipun tak terlihat bahwa Yesus takut.
b)
Mark 14:33: ‘sangat takut dan gentar’.
NIV/NASB:
‘deeply / very distressed and
troubled’ [= sangat sedih dan susah / terganggu].
Tetapi
di sini terjemahan NIV/NASB juga salah, karena kata yang diterjemahkan ‘distressed’
[= sedih] itu di dalam bahasa Yunaninya adalah EKTHAMBEISTHAI
yang berasal dari kata EKTHAMBEOMAI, yang
sebetulnya berarti ‘be
greatly alarmed’ [= sangat takut].
Jadi,
dari ayat ini kita bisa melihat bahwa Yesus bukan hanya sedih
tetapi juga takut.
Hal-hal
lain yang menunjukkan bahwa pada saat itu Yesus memang takut:
1.
Doa Yesus dalam Mat 26:39 secara implicit
menunjukkan bahwa Ia takut terhadap ‘cawan’
(simbol dari murka / hukuman Allah) itu.
2.
Luk 22:44b mengatakan bahwa Ia mencucurkan peluh seperti darah. Ada
yang menganggap bahwa ini betul-betul adalah darah, dan orang-orang ini
mengatakan bahwa hal seperti ini memang bisa terjadi (dan pernah terjadi) pada
orang yang mengalami ketakutan yang luar biasa.
3.
Ibr 5:7 (KJV): ‘... he had offered up prayers and supplications with strong crying
and tears unto him that was able to save him from death, and was heard in
that he feared’ [= Ia menaikkan doa dan permohonan dengan
tangisan keras dan air mata kepada Dia yang bisa melepaskanNya dari maut, dan
didengarkan dalam hal yang Ia takuti].
Catatan:
Kata-kata
yang oleh KJV diterjemahkan ‘in
that He feared’ [= dalam hal yang Ia
takuti], diterjemahkan secara berbeda oleh Kitab Suci bahasa Inggris yang
lain.
NIV:
‘because of His
reverent submission’ [= karena
ketundukanNya yang penuh hormat / takut].
NASB:
‘because of His
piety’ [= karena kesalehanNya].
NKJV:
‘because of His
godly fear’ [= karena rasa takutNya yang
saleh].
RSV:
‘for his godly
fear’ [= karena rasa takutNya yang saleh].
Sekalipun
demikian ada banyak penafsir tetap mempertahankan arti yang diberikan oleh KJV.
Bahwa
Yesus sedih, itu bukan
sesuatu yang aneh, karena saat itu Ia sedang dikhianati oleh Yudas, akan
ditinggal oleh murid-muridNya, akan disangkal oleh Petrus, akan ditolak oleh
orang-orang Yahudi, dan akan terpisah dari Allah. Dan kesedihan itu juga bukan
dosa karena ayat seperti Fil 4:4 memang tidak boleh dimutlakkan (bdk. Mat 5:4
Luk 6:21b)!
Fil 4:4
- “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan!
Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!”.
Mat
5:4 - “Berbahagialah
orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.”.
Luk
6:21b - “Berbahagialah, hai kamu yang sekarang
ini menangis, karena kamu akan tertawa.”.
Tetapi
bagaimana dengan rasa takut
yang dialami oleh Yesus? Apakah ini bukan dosa?
a)
Pertama-tama perlu diketahui bahwa Ia bukan takut pada kematian atau
penderitaan, tetapi takut pada murka Allah
(Catatan: takut pada murka Allah jelas bukan merupakan sesuatu yang salah!) yang
akan menimpaNya pada saat Ia menanggung hukuman umat manusia.
William
Hendriksen (tentang Mark 14:33): “Did he,
perhaps, here in Gethsemane see this tidal wave of God’s wrath because of our
sin coming?” [=
Mungkinkah Ia, di sini di Getsemani, melihat datangnya gelombang pasang /
tsunami murka Allah karena dosa kita?] - ‘The
Gospel of Mark’, hal 586.
Renungkan:
bahwa Yesus, yang biasanya tidak pernah takut itu, bisa takut melihat murka
Allah itu, menunjukkan secara jelas betapa hebatnya dan mengerikannya murka
Allah atas dosa-dosa kita itu!
Bandingkan
dengan:
1.
Hos 10:7-8 - “(7)
Samaria
akan dihancurkan; rajanya seperti sepotong ranting yang terapung di air. (8)
Bukit-bukit pengorbanan Awen, yakni dosa Israel, akan dimusnahkan. Semak
duri dan rumput duri akan tumbuh di atas mezbah-mezbahnya. Dan
mereka akan berkata kepada gunung-gunung: ‘Timbunilah kami!’ dan kepada
bukit-bukit: ‘Runtuhlah menimpa kami!’”.
2.
Luk 23:30 - “Maka orang akan mulai berkata kepada
gunung-gunung: Runtuhlah menimpa kami! dan kepada
bukit-bukit: Timbunilah kami!”.
3.
Wah 6:15-17 - “(15)
Dan raja-raja di bumi dan pembesar-pembesar serta perwira-perwira, dan
orang-orang kaya serta orang-orang berkuasa, dan semua budak serta orang merdeka
bersembunyi ke dalam gua-gua dan celah-celah batu karang di gunung. (16) Dan
mereka berkata kepada gunung-gunung dan kepada batu-batu karang itu: ‘Runtuhlah
menimpa kami dan sembunyikanlah kami terhadap Dia, yang duduk di atas takhta dan
terhadap murka Anak Domba
itu.’ (17) Sebab sudah tiba hari besar
murka mereka dan siapakah yang dapat bertahan?”.
William
Hendriksen, dalam komentarnya tentang Luk 23:30, mengatakan bahwa Hos 10:8
berkenaan dengan kejatuhan Samaria, Luk 23:30 lebih hebat dan berkenaan
dengan kehancuran Yerusalem, tetapi Wah 6:15-17 adalah yang terhebat dari semua,
dan ini berkenaan dengan kedatangan Yesus yang kedua-kalinya pada akhir jaman.
Karena
itu, kalau saudara belum betul-betul percaya kepada Yesus sebagai Juruselamat
dan Tuhan, cepatlah percaya, sebelum saudara harus menghadapi / mengalami
murka Allah yang menakutkan itu!
b)
Apakah rasa takut Yesus di sini adalah dosa?
1.
Kitab Suci jelas menunjukkan bahwa Yesus tidak pernah berbuat dosa dalam
bentuk apapun (Ibr 4:15 2Kor 5:21).
Ibr 4:15
- “Sebab Imam
Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan
kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita,
Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.”.
2Kor 5:21
- “Dia
yang tidak mengenal dosa telah dibuatNya menjadi dosa karena kita,
supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.”.
Karena
itu jelas bahwa rasa takut di sini tidak bisa disebut sebagai dosa. Kita tidak
boleh menafsirkan ayat Kitab Suci yang satu sehingga bertentangan dengan ayat
yang lain.
2.
1Yoh 4:18 kelihatannya menunjukkan bahwa rasa takut adalah dosa,
tetapi kalau kita membaca mulai 1Yoh 4:17 maka akan terlihat bahwa rasa
takut yang dimaksudkan di sini adalah rasa takut terhadap hukuman Allah pada
akhir jaman.
1Yoh
4:17-18 - “(17) Dalam
hal inilah kasih Allah sempurna di dalam kita, yaitu kalau
kita mempunyai keberanian percaya pada
hari penghakiman, karena sama seperti Dia, kita juga ada di
dalam dunia ini. (18) Di dalam kasih tidak ada
ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung
hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.”.
Ayat
ini hanya menunjukkan bahwa orang kristen sejati, yang cinta kepada Allah, pasti
tidak akan mempunyai rasa takut terhadap hukuman Allah pada akhir jaman / hari
penghakiman. Mengapa? Karena ia percaya bahwa semua hukumannya sudah ditanggung
oleh Kristus sehingga ia tidak mungkin dihukum.
Ro 8:1
- “Demikianlah
sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.”.
Jadi
jelas bahwa 1Yoh 4:18 ini tidak bisa diterapkan terhadap rasa takut Kristus pada
saat ini.
3.
Dalam tafsirannya tentang Mat 26:37 dan Mat 26:39, Calvin mengatakan:
Calvin:
“the
weakness which Christ took upon himself must be distinguished from ours, for
there is a great difference. In us there is no affection unaccompanied by sin,
because they all exceed due bonds and proper restraint; but when Christ was
distressed by grief and fear, he did not rise against God, but continued to be
regulated by the true rule of moderation. We need not wonder that, since he was
innocent, and pure from every stain, the affections which flowed from him were
pure and stainless; but that nothing proceeds from the corrupt nature of men
which is not impure and filthy. Let us, therefore, attend to this distinction,
that Christ, amidst fear and sadness, was weak without any taint of sin; but
that all our affections are sinful, because they rise to an extravagant
height.”
[= kelemahan yang Yesus
ambil kepada diriNya sendiri harus dibedakan dari kelemahan kita, karena disana
ada suatu perbedaan yang besar.
Dalam diri kita disana tidak ada perasaan yang tidak
disertai dengan / oleh dosa, karena semua perasaan itu melampaui ikatan yang
seharusnya dan kekangan yang benar; tetapi pada waktu Kristus menderita oleh
kesedihan dan rasa takut, Ia tidak memberontak terhadap Allah, tetapi terus
diatur oleh peraturan yang benar dari ketenangan. Kita tidak
perlu heran bahwa, karena Ia tidak berdosa, dan murni dari setiap noda,
perasaan-perasaan yang mengalir dari Dia adalah murni dan tak bernoda; tetapi
bahwa tak ada apapun yang keluar dari hakekat yang berdosa dari manusia yang
tidak najis dan kotor. Karena itu, hendaklah kita memperhatikan perbedaan ini,
bahwa Kristus, di tengah-tengah rasa takut dan
kesedihan, adalah lemah tanpa noda dosa apapun; tetapi bahwa semua
perasaan-perasaan kita adalah berdosa, karena perasaan-perasaan itu naik ke
suatu ketinggian yang melebihi batas.].
“In
the present corruption of our nature it is impossible to find ardour of
affections accompanied by moderation, such as existed in Christ; but we ought
to give such honour to the Son of God, as not to judge him by what we find in
ourselves.”
[= Dalam keadaan kita yang berdosa sekarang ini, tidak mungkin untuk mendapatkan
perasaan yang tidak berlebihan, seperti yang ada dalam Kristus; tetapi kita
harus menghormati Anak Allah dengan tidak menghakimiNya dengan apa yang kita
dapatkan dalam diri kita sendiri.].
“If it be objected, that the fear
which I am describing arises from unbelief, the answer is easy. When
Christ was struck
with horror at the divine curse, the feeling of the flesh affected him in such a
manner, that faith still remained firm and unshaken. For such was the purity of
his nature, that he felt, without being wounded by them, those temptations which
pierce us with their stings.” [=
Jika ada keberatan, bahwa rasa takut yang sedang saya gambarkan muncul dari
ketidak-percayaan, jawabannya mudah. Ketika Kristus takut pada kutuk ilahi,
perasaan dari daging mempengaruhiNya dengan cara sedemikian rupa, sehingga iman
tetap teguh dan tak tergoyahkan. Karena begitu murninya hakekatNya, sehingga
Ia merasa tanpa terluka oleh pencobaan-pencobaan yang akan menusuk kita dengan
sengatnya.].
Jadi
dengan kata-kata ini Calvin memaksudkan bahwa:
a.
Kita sebagai manusia yang berdosa, sangat berbeda dengan Kristus yang
suci murni itu.
b.
Karena itu kita tidak boleh menghakimi Kristus dengan apa yang ada dalam
diri kita, karena Ia memang berbeda dengan kita.
c.
Pada saat Kristus takut, Ia bisa tetap beriman (kita tidak bisa seperti
ini), dan karena itu Ia tetap tidak berdosa.
6)
Kegelisahan Yesus.
Dalam
Yoh 14:1 Yesus melarang murid-muridNya untuk gelisah.
Yoh
14:1 - “‘Janganlah
gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepadaKu.”.
KJV:
‘Let not your heart be troubled’.
Tetapi
Yesus sendiri pernah gelisah, bahkan beberapa kali.
Yoh 11:33
- “Ketika
Yesus melihat Maria menangis dan juga orang-orang Yahudi yang datang
bersama-sama dia, maka masygullah hatiNya. Ia sangat
terharu dan berkata:”.
KJV:
‘and was troubled’.
Yoh
12:27 - “Sekarang
jiwaKu terharu
dan apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak,
sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini.”.
KJV:
‘Now is my soul troubled’.
Yoh
13:21 - “Setelah Yesus
berkata demikian Ia sangat terharu, lalu
bersaksi: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan
menyerahkan Aku.’”.
KJV:
‘he was troubled
in spirit’.
Dalam
ketiga ayat ini, kata Yunani yang digunakan adalah TARASSO, sama dengan kata
Yunani yang digunakan dalam Yoh 14:1.
Berbeda
dengan Alkitab bahasa Indonesia yang menterjemahkan Yoh 14:1 dengan kata ‘gelisah’
tetapi ketiga ayat yang lain dengan kata ‘terharu’, KJV secara konsisten menterjemahkan semuanya dengan
kata ‘troubled’,
yang memang bisa berarti ‘gelisah’.
Jadi,
kalau Yesus melarang para murid untuk gelisah, sedangkan Ia sendiri gelisah,
apakah Ia berdosa pada saat itu? Perhatikan penjelasan yang menarik dari Matthew
Poole di bawah ini.
Matthew
Poole:
“Our
Saviour himself was troubled, but not sinfully; his trouble neither arose from
unbelief, nor yet was in undue measure; it was (as one well expresseth it) like
the mere agitation of clear water, where was no mud at the bottom: but our
trouble is like the stirring of water that hath a great deal of mud at the
bottom, which upon the rolling, riseth up, and maketh the whole body of the
water in the vessel impure, roiled and muddy.” [= Juruselamat kita sendiri gelisah,
tetapi tidak dengan cara yang berdosa; kegelisahanNya tidak muncul dari
ketidak-percayaan, dan juga tidak dilakukan dalam takaran yang tidak semestinya;
itu adalah (seperti seseorang menyatakannya dengan benar / baik) seperti
pengadukan terhadap air bersih, dimana tidak ada lumpur di dasarnya: tetapi
kegelisahan kita adalah seperti pengadukan terhadap air yang mempunyai banyak
lumpur di dasarnya, yang karena pengadukan itu naik ke atas dan membuat seluruh
air dalam tempat itu kotor, keruh dan berlumpur.]
- hal 353.
7)
Ibr 5:8 mengatakan bahwa Yesus ‘belajar
menjadi taat dari apa yang telah dideritaNya’.
Ibr
5:8 - “Dan
sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi
taat dari apa yang telah dideritaNya,”.
Ini
dijadikan dasar untuk mengatakan bahwa ada saat dimana Yesus tidak taat.
Penjelasan:
a)
Calvin mengatakan bahwa ayat ini jelas tidak berarti bahwa dulunya Yesus
tidak taat, dan lalu Ia mengalami penderitaan yang membuat Dia taat,
seakan-akan Yesus adalah kuda / bagal yang baru mau menurut setelah dikendalikan
dengan kekang, pecut dan sebagainya.
Bdk.
Maz 32:9 - “Janganlah
seperti kuda atau bagal yang tidak berakal, yang kegarangannya harus
dikendalikan dengan tali les dan kekang, kalau tidak, ia tidak akan mendekati
engkau.”.
Setiap
orang kristen akan mengalami ketaatan seperti ini, tetapi Yesus tidak!
b)
John Owen mengatakan bahwa ‘belajar ketaatan’ bisa diartikan 3
macam:
1.
Dari tidak tahu lalu menjadi tahu tentang apa yang harus ditaati. Tentu
bukan ini yang dimaksud di sini.
2.
Belajar untuk melakukan ketaatan.
Kita
semua perlu belajar ketaatan dalam arti ini, dimana kita jatuh bangun
berkali-kali, sampai akhirnya kita bisa mengatasi dosa tertentu. Tentu bukan ini
yang dimaksud di sini.
3.
Mendapat pengalaman ketaatan.
Inilah
arti yang dimaksudkan di sini.
John
Owen juga mengatakan bahwa ketaatan yang dimaksud di sini adalah ketaatan dalam
mengalami penderitaan, bahkan kematian untuk menebus dosa manusia.
Bandingkan
dengan:
Yes 50:5-6
- “(5)
Tuhan ALLAH telah membuka telingaku, dan aku tidak memberontak, tidak berpaling
ke belakang. (6) Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan
pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan
mukaku ketika aku dinodai dan diludahi.”.
Yes
53:7 - “Dia
dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti
anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan
orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.”.
Yoh
10:17-18 - “(17) Bapa
mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawaKu untuk menerimanya kembali.
(18) Tidak seorangpun mengambilnya dari padaKu, melainkan Aku memberikannya
menurut kehendakKu sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya
kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari BapaKu.’”.
Fil 2:8
- “Dan dalam
keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diriNya dan taat
sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.”.
Dengan
mengalami semua itu Ia mengalami dalam diriNya sendiri betapa sukarnya ketaatan
dalam penderitaan itu, dan betapa besar kasih karunia yang dibutuhkan untuk
taat. Dengan demikian Ia bisa mempunyai belas kasihan dan simpati terhadap kita
yang menderita.
Kalau yang dimaksud dengan ‘belajar
ketaatan’ itu adalah ‘mengalami ketaatan dalam penderitaan’, maka
jelaslah itu tidak menunjukkan bahwa tadinya Kristus tidak taat!
c)
Thomas Hewitt (Tyndale Commentary) mengutip Griffith Thomas yang berkata:
“This
is the difference between innocency and virtue. Innocency is life untested,
while virtue is innocency tested and triumphant.” [= Inilah
perbedaan antara ketidak-bersalahan dan kebaikan / kebajikan. Ketidak-bersalahan
adalah hidup yang tidak / belum diuji, sedangkan kebaikan / kebajikan adalah
ketidak-bersalahan yang telah diuji dan menang.]
- hal 98.
Lalu
Thomas Hewitt sendiri melanjutkan:
“The
Son had always possessed the disposition of obedience, but for Him to possess
the virtue of obedience, testing was necessary.” [= Anak
selalu mempunyai kecondongan pada ketaatan, tetapi supaya Ia mempunyai kebaikan
/ kebajikan dalam ketaatan, ujian adalah perlu.]
- hal 98.
Kalau
kita melihat kata-kata ini, maka terlihat bahwa ia beranggapan bahwa sebelum
Yesus ‘belajar ketaatan’ Ia mempunyai innocency
[= ketidak-bersalahan], tetapi setelah Yesus ‘belajar ketaatan’, Ia
mempunyai virtue [= kebaikan /
kebajikan]. Ini lagi-lagi menunjukkan bahwa sebelum Yesus ‘belajar
ketaatan’, Ia bukannya tidak taat.
8)
Ibr 5:9 mengatakan “sesudah Ia
mencapai kesempurnaanNya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi ...”.
Ibr
5:9 - “dan sesudah
Ia mencapai kesempurnaanNya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi
bagi semua orang yang taat kepadaNya,”.
NASB:
“And having been made perfect, He became
...” [= Dan setelah disempurnakan, Ia menjadi ...].
Ayat
ini dijadikan dasar untuk mengatakan bahwa ada satu saat dimana Yesus itu tidak
/ belum sempurna.
Penjelasan:
Kontext
(Ibr 4:14-5:10) berbicara tentang Yesus sebagai Imam Besar, dan karena itu
istilah ‘sempurna’
di sini harus dihubungkan dengan hal itu. Jadi artinya adalah: Ia jadi cocok
sempurna untuk menjadi Imam Besar. Jadi, ini tak ada urusannya dengan berdosa
atau tidak.
9)
Mark 10:17-18 menceritakan dialog antara Yesus dengan pemuda kaya,
dimana ketika pemuda kaya menyebut Yesus dengan istilah / sebutan ‘Guru
yang baik’, Yesus menjawab dengan berkata: ‘Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak
seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja.’.
Mark 10:17-18
- “(17)
Pada waktu Yesus berangkat untuk meneruskan perjalananNya, datanglah seorang
berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapanNya ia bertanya: ‘Guru
yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang
kekal?’ (18) Jawab
Yesus: ‘Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada
Allah saja.”.
Ini
sering dianggap sebagai pengakuan Yesus sendiri yang menyatakan bahwa Ia bukan
Allah, dan Ia tidak baik.
Penjelasan:
a)
Kita tidak boleh menafsirkan satu ayat sehingga bertentangan dengan ayat
yang lain. Penafsiran bahwa Mark 10:17-18 berarti bahwa Yesus bukan Allah
dan Yesus tidak baik, bertentangan dengan banyak ayat Kitab Suci yang
menunjukkan keilahian dan kesucian Yesus.
b)
Pemuda kaya itu menyebut Yesus dengan istilah ‘guru yang
baik’.
Dari istilah ‘guru’ jelaslah bahwa ia menganggap
Yesus hanyalah manusia biasa. Dengan menambahkan
istilah ‘baik’, sebetulnya ia menggunakan sebutan yang kontradiksi, karena
tidak ada manusia biasa yang baik (Maz 14:1-3 Maz 53:2-4 Ro 3:10-12).
Kata-kata
Yesus dalam Mark 10:18 itu dimaksudkan untuk membetulkan ketidak-benaran /
kontradiksi dalam sebutan pemuda kaya itu. Yesus mau
bahwa pemuda itu tidak hanya mengakui Dia sebagai baik, tetapi juga sebagai
Allah.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ