(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)
Rabu, tgl 10 Juli 2019, pk 19.00
Pdt.
Budi Asali, M. Div.
5)
Akibat adanya 2 hakekat dalam pribadi Yesus Kristus ini maka:
a)
Kristus mempunyai 2 macam kesadaran, yaitu ilahi dan manusia.
Kadang-kadang
Ia berpikir dan merasa sebagai Allah, dan kadang-kadang sebagai manusia.
Saya
mengutip ulang kata-kata William G. T. Shedd yang sudah saya kutip di atas.
William
G. T. Shedd: “Previous to the assumption of a
human nature, the Logos could not experience a human feeling because he had no
human heart, but after the assumption he could; previous to the incarnation, he
could not have a finite perception because he had no finite intellect, but after
this event he could; ... The unincarnate Logos could think and feel only like
God; he had only one form of consciousness. The incarnate Logos can think and
feel either like God, or like man; he has two modes or forms of
consciousness.” [= Sebelum
mengambil hakekat manusia, Logos tidak bisa mengalami perasaan manusia karena Ia tidak
mempunyai hati manusia, tetapi setelah mengambil
hakekat manusia Ia bisa; sebelum inkarnasi, Ia
tidak bisa mempunyai pengertian yang terbatas karena Ia tidak mempunyai pikiran
yang terbatas, tetapi setelah peristiwa itu Ia
bisa; ... Logos yang tidak / belum berinkarnasi
bisa berpikir dan merasa hanya sebagai Allah; Ia hanya mempunyai satu bentuk
kesadaran. Logos
yang berinkarnasi bisa berpikir dan merasa, atau seperti Allah, atau seperti
manusia; Ia mempunyai dua bentuk kesadaran.]
- ‘Shedd’s Dogmatic Theology’,
vol II, hal 267.
Contoh:
1.
Kesadaran ilahi: Mat 8:26 Yoh
8:58 Yoh 11:43.
Mat
8:26 - “Ia berkata
kepada mereka: ‘Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?’ Lalu
bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu
menjadi teduh sekali.”.
Yoh 8:58
- “Kata Yesus
kepada mereka: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum
Abraham jadi, Aku (telah) ada.’”.
Kata ‘telah’ yang saya coret dan letakkan dalam tanda kurung itu sebetulnya tidak ada,
karena dalam Yunani digunakan present tense!
KJV: ‘Before Abraham was, I
am.’.
Yoh 11:43
- “Dan sesudah berkata demikian, berserulah
Ia dengan suara keras: ‘Lazarus, marilah ke luar!’”.
2.
Kesadaran manusia: Mat 24:36 Mat 26:37-38 Yoh 11:35 Yoh
19:28.
Mat 24:36
- “Tetapi tentang hari dan saat itu tidak
seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan
Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri.’”.
Mat 26:37-38
- “(37) Dan
Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus sertaNya. Maka mulailah
Ia merasa sedih dan gentar, (38) lalu kataNya kepada mereka: ‘HatiKu
sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan
berjaga-jagalah dengan Aku.’”.
Yoh 11:35
- “Maka menangislah
Yesus.”.
Yoh 19:28
- “Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa
segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia
- supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci -: ‘Aku
haus!’”.
Tetapi
harus diingat bahwa dalam setiap contoh-contoh itu, adalah Pribadi yang
sama yang berpikir / mempunyai kesadaran.
b)
Kristus mempunyai 2 kehendak, ilahi dan manusia.
Tetapi
karena kehendak manusia yang ada dalam diri Yesus adalah suci, maka tidak ada
pertentangan / konfrontasi antara kehendak ilahi dan kehendak manusia dalam diri
Yesus. Karena itu, sekalipun ada 2 kehendak, selalu hanya menghasilkan satu
tindakan (bdk. Mat 26:39,42,44).
Mat 26:39,42,44
- “(39) Maka
Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kataNya: ‘Ya
BapaKu, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari padaKu,
tetapi janganlah
seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.’
... (42) Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa, kataNya: ‘Ya
BapaKu jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya,
jadilah kehendakMu!’
... (44) Ia membiarkan mereka di situ lalu pergi dan berdoa untuk ketiga kalinya
dan mengucapkan doa yang itu juga.”.
Illustrasi
/ analogi:
Illustrasi
/ analogi yang paling cocok untuk menjelaskan Personal
Union ini adalah persatuan antara tubuh dan jiwa pada manusia (Catatan: ini
hanya berlaku untuk orang yang percaya pada Dichotomy, bukan pada Trichotomy!).
1.
Pada manusia, tubuh dan jiwa membentuk 1
pribadi.
Pada
Yesus Kristus, hakekat manusia dan Allah Anak membentuk 1 pribadi.
2.
Pada manusia, kepribadian terletak pada jiwa,
bukan pada tubuh.
Pada
Yesus Kristus, kepribadian terletak pada Allah Anak, bukan pada hakekat manusia.
3.
Pada manusia, tubuh berbeda dengan jiwa; mereka
tidak bercampur, dan masing-masing mempertahankan sifat-sifatnya
sendiri-sendiri.
Pada
Yesus Kristus, hakekat manusia berbeda dengan hakekat ilahi; mereka tidak
bercampur dan masing-masing mempertahankan sifat-sifatNya sendiri-sendiri.
C) Akibat
dari Personal Union.
1)
Communicatio
Idiomatum [communication of properties {= pemberian sifat-sifat / sama-sama
memiliki sifat-sifat}].
Catatan:
Istilah
‘Communicatio Idiomatum’ ini adalah istilah bahasa Latin, yang begitu
populer dalam Kristologi, sehingga dalam buku-buku Theologia sering digunakan
begitu saja tanpa diberikan terjemahannya (misalnya dalam komentar Calvin
tentang Kis 20:28 bagian akhir).
a)
Arti istilah ini:
1.
Kata Idiomatum / properties
berarti ‘sifat-sifat dasar’.
Dalam
diri manusia, sifat-sifat seperti pemarah, sombong, pelit, tidak
termasuk sifat dasar, karena tidak semua orang mempunyai sifat
seperti itu.
Contoh
sifat dasar dalam diri manusia adalah: terbatas, dicipta / tidak ada dengan
sendirinya, tidak maha tahu, bisa berdosa, bisa sakit, bisa menderita, bisa
mati, dsb. Sifat-sifat ini dimiliki oleh semua manusia.
Catatan:
Perhatikan bahwa dalam sepanjang pembahasan tentang Communicatio Idiomatum
ini, yang dimaksud dengan ‘sifat’ adalah ‘sifat dasar’.
2.
Dalam bahasa Yunani istilah bahasa Latin Communicatio
diterjemahkan dengan istilah KOINONIA.
Kata
Yunani KOINONIA bisa berarti:
1.
fellowship [= persekutuan].
2.
a close mutual relationship [=
hubungan timbal balik yang dekat].
3.
participation [= partisipasi].
4. sharing in [= sama-sama menikmati / memiliki].
5.
partnership [= persekutuan].
6.
contribution [= sumbangan].
7.
gift [= pemberian].
Jadi,
kalau dikatakan bahwa terjadi Communicatio
Idiomatum dari A kepada B, maka itu berarti bahwa sifat-sifat
A diberikan kepada B, atau bahwa
B sama-sama memiliki sifat-sifat yang dimiliki oleh A (dari ke 7 arti
di atas, mungkin yang paling ditekankan adalah arti ke 4 dan ke 7).
Dalam
Collins Latin Dictionary, kata ‘COMMUNICATIO’ ini diterjemahkan ‘imparting’ [= memberikan].
Tetapi
jangan diartikan seperti ini: saya punya kue, lalu saya berikan kepada si A
sehingga sekarang hanya si A yang punya kue, dan saya tidak punya kue lagi.
Dalam
Merriam Webster’s Dictionary (arti dari kata ‘communicate’),
dicontohkan ‘memberikan pengetahuan’.
Tadinya
saya punya pengetahuan, setelah saya berikan
pengetahuan itu kepada si A, maka baik saya maupun si A
sama-sama mempunyai pengetahuan itu.
Catatan:
dalam pelajaran selanjutnya, kalau kita membicarakan ‘pemberian
sifat-sifat’, maka itu bisa diartikan ‘sama-sama
memiliki sifat-sifat’.
b)
Dalam hal Communicatio Idiomatum
ini, ajaran Reformed bertentangan dengan Lutheran.
1. Ajaran
Reformed.
Sifat-sifat
dari hakekat manusia tidak diberikan kepada hakekat ilahi / tidak menjadi
sifat-sifat dari hakekat ilahi, dan sebaliknya, sifat-sifat dari hakekat ilahi
tidak diberikan kepada hakekat manusia / tidak menjadi sifat-sifat dari hakekat
manusia. Tetapi, baik sifat-sifat dari hakekat manusia maupun sifat-sifat dari
hakekat ilahi diberikan kepada pribadi Kristus / menjadi sifat-sifat dari
pribadi Kristus.
Charles
Hodge:
“Hence,
inconsistent, or apparently contradictory affirmations may be made of the same
person.”
[= Karena itu, ketidak-konsistenan, atau pernyataan-pernyataan yang kelihatannya
kontradiksi / bertentangan bisa dibuat tentang pribadi yang sama.]
- ‘Systematic Theology’, vol II,
hal 379.

P
![]()
![]()


![]()
![]()
HM
HI
Keterangan
gambar:
P
= Pribadi Kristus; HM = Hakekat Manusia; HI = Hakekat Ilahi.
Catatan:
Jangan membayangkan bahwa diri Kristus
betul-betul seperti gambar di atas! Gambar ini hanya untuk membantu
saudara untuk melihat dimana terjadi pemberian sifat-sifat dan dimana tidak
terjadi pemberian sifat-sifat.
Penjelasan:
Hakekat
manusia mempunyai sifat terbatas, sedangkan hakekat ilahi mempunyai sifat tidak
terbatas. Sifat terbatas dari hakekat manusia tidak diberikan kepada hakekat
ilahi / tidak menjadi sifat dari hakekat ilahi, dan sifat tidak terbatas dari
hakekat ilahi tidak diberikan kepada hakekat manusia / tidak menjadi sifat dari
hakekat manusia.
Tetapi
baik sifat terbatas dari hakekat manusia, maupun sifat tidak terbatas dari
hakekat ilahi, sama-sama diberikan kepada pribadi Kristus / menjadi sifat dari
pribadi Kristus. Jadi, pribadi Kristus mempunyai sifat terbatas dan tidak
terbatas sekaligus.
Dengan
cara yang sama bisa kita dapatkan bahwa pribadi Yesus bisa dikatakan terbatas
pengetahuanNya maupun maha-tahu, lemah / terbatas kekuatanNya maupun mahakuasa.
Karena
itu jangan heran kalau melihat bahwa Kitab Suci kadang-kadang menggambarkan
Yesus itu terbatas pengetahuanNya (Mat 24:36), tetapi juga sering
menggambarkan Yesus itu mahatahu (Mat 9:4
Mat 12:25 Yoh 2:24-25
Yoh 6:64).
Juga
jangan heran kalau Kitab Suci kadang-kadang menggambarkan Yesus lemah / terbatas
kekuatanNya, sehingga bisa lelah, membutuhkan istirahat / tidur (Yoh 4:6
Mat 8:24), tetapi juga sering menggambarkan Yesus itu mahakuasa,
dimana Ia bisa membangkitkan orang mati, menghentikan badai, memberi makan 5000
orang dengan menggunakan 5 roti dan 2 ikan, mengusir setan, dsb.
Jadi
ingat, bahwa Alkitab sendiri memang memberikan
gambaran-gambaran yang kelihatannya bertentangan tentang diri Yesus.
Dalam
bahasa saya sendiri, saya katakan bahwa dalam diri / Pribadi Kristus ada
semacam dualisme.
2. Ajaran
Lutheran.
Mereka
mengatakan:
a.
Ada pemberian sifat-sifat dari kedua hakekat kepada pribadi. Dengan kata
lain, pribadi memiliki sifat-sifat dari kedua hakekat. Ini
sesuai dengan ajaran Reformed.
b.
Juga ada pemberian sifat-sifat antar kedua hakekat tersebut.
Dengan
kata lain, hakekat yang satu juga memiliki sifat-sifat dari hakekat yang lain. Ini
tidak sesuai dengan ajaran Reformed.

P




![]()
HM
HI
Perkembangan
ajaran tentang Communicatio Idiomatum
dalam kalangan Lutheran:
(1)Luther
dan orang-orang Lutheran yang mula-mula mengajarkan adanya
pemberian sifat-sifat, baik dari hakekat manusia kepada hakekat ilahi, maupun
dari hakekat ilahi kepada hakekat manusia.
(2)Orang-orang
Lutheran selanjutnya hanyalah menekankan pemberian
sifat-sifat dari hakekat ilahi kepada hakekat manusia.
Ini
mereka lakukan untuk menghindarkan hakekat ilahi menjadi terbatas karena
pemberian sifat dari hakekat manusia.
(3)Dalam
perkembangan selanjutnya, orang-orang Lutheran membedakan antara operative
attributes / sifat-sifat operative (seperti maha kuasa, maha ada, maha tahu)
dengan quiescent attributes / sifat-sifat diam (seperti tak terbatas,
kekal) dari Allah, dan mereka mengatakan bahwa
hanya operative atrributes sajalah
yang diberikan dari hakekat ilahi kepada hakekat manusia. Ini
mereka lakukan untuk menghindarkan hakekat manusia menjadi tak terbatas dan
kekal karena pemberian sifat dari hakekat ilahi.
Catatan:
Doktrin
Lutheran yang salah tentang diri Kristus ini, dimana mereka menganggap bahwa
hakekat manusia Yesus itu maha ada, menyebabkan mereka bisa percaya bahwa dalam
Perjamuan Kudus, Yesus hadir secara jasmani.
Reformed mempercayai bahwa dalam Perjamuan Kudus Kristus tidak
hadir secara jasmani, tetapi secara rohani.
Keberatan
/ sanggahan terhadap ajaran Lutheran ini:
(a)Ajaran
ini menunjukkan adanya pembauran / percampuran antara hakekat ilahi dan hakekat
manusia dalam diri Kristus.
Hakekat
manusia yang mempunyai sifat-sifat ilahi seperti maha ada, maha tahu dsb, tidak
lagi bisa disebut sebagai hakekat manusia (perhatikan kutipan dari Charles Hodge
di bawah).
Jadi
jelas bahwa ajaran ini berbau ajaran Eutychianism dan jelas bahwa ajaran ini
bertentangan dengan Chalcedonian Creed
yang mengatakan ‘without confusion,
without change’ [= ‘tanpa percampuran, tanpa perubahan’].
Charles
Hodge:
“...
the properties or attributes of a substance constitute its essence, so that if
they be removed or if others of a different nature be added to them, the
substance itself is changed. ... If divine attributes be conferred on man, he
ceases to be man; and if human attributes be transferred to God, he ceases to be
God.”
[= ... sifat-sifat dari suatu zat / bahan membentuk hakekatnya, sehingga kalau
mereka disingkirkan atau kalau sifat-sifat yang lain ditambahkan kepada mereka,
maka zat / bahan itu sendiri berubah. ... Kalau sifat-sifat ilahi diberikan
kepada manusia, ia berhenti menjadi manusia; dan kalau sifat-sifat manusia
diberikan kepada Allah, ia berhenti menjadi Allah.]
- ‘Systematic Theology’, vol II, hal 390.
(b)Ajaran
ini tidak konsekwen, karena kalau sifat-sifat ilahi diberikan kepada hakekat
manusia, maka sifat-sifat manusia juga harus diberikan kepada hakekat ilahi.
Yoh
3:13 - “Tidak ada seorangpun yang telah naik ke
sorga, selain dari pada Dia yang telah
turun dari sorga, yaitu Anak Manusia.”.
Yoh 3:13
menggunakan sebutan / gelar manusia (‘Anak Manusia’), tetapi memberikan
predikat ilahi (‘turun dari sorga’). Ayat ini dipakai sebagai dasar (secara
salah) oleh orang Lutheran untuk mengatakan bahwa sifat-sifat dari hakekat ilahi
diberikan kepada hakekat manusia.
Tetapi
anehnya, kalau mereka melihat ayat seperti 1Kor 2:8, yang menggunakan
sebutan / gelar ilahi (‘Tuhan yang mulia / The
Lord of glory’ ), tetapi memberikan predikat manusia
(‘menyalibkan’), mereka tidak mau memakainya sebagai dasar untuk mengatakan
bahwa sifat-sifat dari hakekat manusia diberikan kepada hakekat ilahi.
1Kor
2:8 - “Tidak ada dari penguasa dunia ini yang
mengenalnya, sebab kalau sekiranya mereka mengenalnya, mereka tidak menyalibkan
Tuhan yang mulia.”.
Ketidak-konsekwenan
yang lain ialah bahwa mereka hanya memberikan sebagian
sifat-sifat ilahi kepada hakekat manusia. Kalau beberapa
sifat hakekat ilahi diberikan kepada hakekat manusia, maka
konsekwensinya adalah bahwa semua
sifat-sifat ilahi harus diberikan kepada hakekat manusia.
(c)Ajaran
ini tidak sesuai dengan gambaran tentang diri Kristus dalam Kitab Suci, karena dalam
Kitab Suci Kristus tidak pernah digambarkan sebagai manusia yang maha
tahu / maha ada / maha kuasa.
Sebaliknya,
Kitab Suci menggambarkan Yesus sebagai manusia yang terbatas
pengetahuanNya (Mat 24:36), terbatas keberadaanNya (tidak bisa ada di
lebih dari satu tempat pada saat yang sama), dan lemah (bisa lelah, butuh istirahat,
tidur, dsb. bdk. Yoh 4:6 Mat
8:24).
(d)Ajaran
ini tidak bisa menjelaskan Luk 2:40,52 yang mengatakan bahwa Kristus
bertumbuh dalam hikmat dan kekuatan.
Luk 2:40,52
- “(40) Anak itu bertambah
besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada
padaNya. ... (52) Dan Yesus makin bertambah besar
dan bertambah hikmatNya dan besarNya, dan makin dikasihi oleh Allah
dan manusia.”.
Ingat
bahwa orang Lutheran beranggapan bahwa Communicatio
Idiomatum ini terjadi pada saat yang sama dengan
inkarnasi.
Dengan
demikian, seharusnya manusia Yesus itu sudah maha tahu dan maha kuasa sejak
lahir, dan kalau demikian, Ia tidak mungkin bertumbuh dalam hikmat maupun
kekuatan.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ