(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)
Rabu, tgl 26 Juni 2019, pk 19.00
Pdt.
Budi Asali, M. Div.
2)
Keberatan terhadap kemanusiaan Yesus dan jawabannya:
a)
Ada orang yang mengatakan bahwa kalau Yesus adalah manusia yang suci,
maka sebetulnya Ia bukan manusia, karena semua manusia berdosa.
Untuk
menjawab keberatan ini perlu diketahui bahwa dosa
tidak termasuk dalam hakekat manusia. Sebelum jatuh ke dalam dosa,
Adam dan Hawa sudah adalah manusia! Jadi jelaslah bahwa tidak harus berdosa baru
bisa disebut sebagai ‘manusia’!
b)
Ada juga yang mengatakan bahwa Yesus bukanlah manusia yang sama seperti
kita karena dalam pembuahannya tidak digunakan air mani laki-laki.
Untuk
menjawab serangan ini, kita bisa menunjuk pada Adam dan Hawa, yang dalam
pembentukannya juga tidak menggunakan air mani laki-laki. Bahkan boleh dikatakan
bahwa dalam pembentukan mereka tidak ada pembuahan apapun. Tetapi mereka tetap
adalah manusia sungguh-sungguh, sama seperti kita.
Seseorang
pernah berkata bahwa Allah bisa dan pernah mencipta manusia dengan 4 cara:
1.
Tanpa menggunakan laki-laki ataupun perempuan, yaitu pada waktu Ia
menciptakan Adam.
2.
Tanpa menggunakan perempuan tetapi dengan menggunakan laki-laki, yaitu
pada waktu Ia menciptakan Hawa.
3.
Tanpa menggunakan laki-laki tetapi dengan menggunakan perempuan, yaitu
pada waktu Ia menciptakan manusia Yesus.
4.
Dengan menggunakan laki-laki dan perempuan, yaitu pada waktu Ia
menciptakan semua manusia lain selain Adam, Hawa, dan manusia Yesus.
Jadi
kesimpulannya, bahwa manusia Yesus diciptakan oleh Allah hanya dengan
menggunakan seorang perempuan, tidak menyebabkan Ia bukanlah manusia yang
sejati.
3)
Hal yang harus diwaspadai.
Sesuatu yang
penting sekali untuk diwaspadai / diperhatikan adalah: Ada banyak ayat yang
menunjukkan keilahian Kristus, dan ada banyak ayat yang menunjukkan
kemanusiaan Kristus. Kita tidak boleh menggunakan ayat-ayat yang menunjukkan
keilahian Kristus untuk membuktikan bahwa Ia bukanlah manusia, dan kita juga
tidak boleh menggunakan ayat-ayat yang menunjukkan kemanusiaan Kristus untuk
membuktikan bahwa Ia bukanlah Allah!
Para
Saksi Yehuwa / orang Islam sering melakukan kesalahan ini dimana mereka
menggunakan ayat-ayat yang menunjukkan kemanusiaan Kristus untuk membuktikan
bahwa Kristus bukanlah Allah.
Misalnya:
a)
Mat 24:36 yang menunjukkan pikiran manusia yang terbatas dalam diri
Yesus, dipakai sebagai bukti bahwa Yesus bukanlah Allah.
Mat 24:36
- “Tetapi
tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga
tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa
sendiri.’”.
b)
Yoh 14:28 yang jelas juga menekankan Yesus sebagai manusia (pikiran
manusialah yang saat itu timbul) dipakai untuk membuktikan bahwa Yesus bukanlah
Allah, atau bahwa Yesus lebih rendah dari pada Allah.
Yoh 14:28
- “Kamu telah
mendengar, bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi Aku datang
kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita
karena Aku pergi kepada BapaKu, sebab Bapa lebih
besar dari pada Aku.”.
c)
Ibr 5:8 yang mengatakan bahwa Yesus ‘telah
belajar menjadi taat dari apa yang telah dideritaNya’, yang jelas juga menunjukkan Yesus sebagai manusia, dipakai untuk
menunjukkan bahwa Yesus bukanlah Allah, karena Allah tak perlu belajar.
Ibr
5:8 - “Dan
sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi
taat dari apa yang telah dideritaNya,”.
d)
Mat 4:1-11 yang menunjukkan bahwa Yesus dicobai, dipakai sebagai
dasar untuk mengatakan bahwa Yesus bukanlah Allah, karena Allah tidak bisa
dicobai (bdk. Yak 1:13).
e)
Ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Yesus berdoa, juga mereka pakai untuk
membuktikan bahwa Ia bukanlah Allah, karena Allah tidak perlu berdoa.
Illustrasi:
Saya
adalah seorang pendeta, tetapi pada saat yang
sama saya juga adalah seorang olahragawan. Kadang-kadang
saya memakai toga dan memimpin Perjamuan Kudus, sehingga saya terlihat sebagai
pendeta. Tetapi kadang-kadang saya memakai
celana pendek, kaos, dan sepatu olah raga, sehingga saya terlihat sebagai
olahragawan. Tidak ada orang, kecuali orang
gila, yang pada waktu melihat saya memakai toga, menganggap itu sebagai bukti
bahwa saya bukan olahragawan, dan sebaliknya, pada waktu melihat saya memakai
pakaian olah raga, menganggap itu sebagai bukti bahwa saya bukan pendeta!
Analoginya,
karena Yesus adalah Allah dan manusia, maka kita
tidak boleh menggunakan ayat-ayat yang menunjukkan keilahian Yesus untuk
membuktikan bahwa Ia bukan manusia, atau menggunakan
ayat-ayat yang menunjukkan kemanusiaan Yesus untuk membuktikan bahwa Ia bukan
Allah!
Herschel
H. Hobbs:
“It
is just as great a heresy to deny His humanity as to deny His deity.” [=
Menyangkal kemanusiaanNya adalah sama sesatnya dengan menyangkal keAllahanNya.]
- ‘The Epistles of John’, hal 21.
1)
Supaya Ia bisa taat sempurna kepada BapaNya.
Ini
penting karena kalau Ia jatuh ke dalam dosa 1 x saja, maka Ia tidak mungkin
menebus dosa kita.
2)
Supaya pengorbanan / kematianNya mempunyai nilai penebusan yang tak
terbatas.
Logikanya,
kalau Ia hanya seorang manusia biasa, maka paling-paling kematianNya hanya bisa
menebus seorang manusia. Bahkan sebetulnya tidak ada manusia bisa menebus
manusia yang lain. Hal ini dinyatakan dalam Maz 49:8-9.
Maz
49:8-9 - “(8) Tidak
seorangpun dapat membebaskan dirinya, atau
memberikan tebusan kepada Allah ganti nyawanya,
(9) karena terlalu mahal harga pembebasan nyawanya,
dan tidak memadai untuk selama-lamanya -”.
Kitab
Suci bahasa Indonesia maupun RSV salah terjemahan. Bandingkan dengan terjemahan
NIV.
Ps 49:6-7
(NIV): “No man can redeem the life of
another, or give to God a ransom for him;
the ransom for a life is costly, no payment is ever enough” [= Tidak
seorang manusiapun bisa menebus nyawa orang lain,
atau memberikan kepada Allah tebusan untuk dia;
tebusan untuk suatu nyawa sangat mahal, tidak ada pembayaran yang bisa
mencukupi].
Terjemahan
KJV/NASB yang menggunakan kata ‘brother’
[= saudara] sebetulnya adalah yang paling hurufiah.
KJV:
‘None of them can by any means redeem his
brother, nor give to God a ransom for him:’ [= Tak ada dari mereka
bisa dengan cara apapun menebus saudaranya, atau
memberi kepada Allah suatu tebusan baginya:].
NASB:
‘No man can by any means redeem his
brother Or give to God a ransom for him -’ [= Tak seorangpun bisa
dengan cara apapun menebus saudaranya Atau
memberi kepada Allah suatu tebusan baginya -].
Baik
KJV/NIV/NASB jelas memaksudkan orang lain, bukan dirinya sendiri. Jadi manusia
tidak bisa menebus orang lain. Tetapi Kristus berbeda karena:
a)
Sebagai manusia, Ia suci / tidak berdosa (Ibr 4:15
2Kor 5:21).
b)
Ia adalah Allah dan manusia.
Charles Hodge:
“This perfection of the satisfaction of Christ,
… is not due to his having suffered either in kind or in degree what the
sinner would have been required to endure; but principally
to the infinite dignity of his person. He was not
a mere man, but God and man in one person.” [= Kesempurnaan dari pemuasan /
pelunasan Kristus ini, … bukanlah karena Ia telah menderita apa yang
seharusnya ditanggung orang berdosa, baik dalam jenisnya atau dalam
tingkatannya; tetapi terutama karena martabat yang tak
terbatas dari pribadiNya. Ia bukan semata-mata
seorang manusia, tetapi Allah dan manusia dalam satu pribadi.]
- ‘Systematic Theology’, vol II,
hal 483.
3)
Supaya pada waktu Allah menimpakan hukuman umat manusia kepada Yesus, Ia
tidak bertindak tidak adil.
Kalau
Yesus hanya seorang manusia biasa saja, dan Allah menimpakan hukuman umat
manusia kepada Yesus, maka Allah jelas telah bertindak tidak adil, karena Ia
menghukum seseorang karena dosa orang lain.
Tetapi karena Yesus adalah Allah sendiri, maka Allah tetap adil, karena
pada waktu Ia menimpakan hukuman umat manusia kepada Yesus, pada hakekatnya Ia
menimpakan hukuman itu kepada diriNya sendiri.
IV) Pentingnya kemanusiaan
Yesus.
1)
Yang berbuat dosa adalah manusia, dan karena itu hukumannya harus
ditanggung oleh seorang manusia. Karena itulah Kristus harus menjadi seorang manusia
yang sama dengan kita.
Ibr 2:14-17
- “(14)
Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia
juga menjadi sama dengan mereka
dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematianNya Ia
memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut; (15) dan supaya dengan
jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam
perhambaan oleh karena takutnya kepada maut. (16) Sebab sesungguhnya, bukan
malaikat-malaikat yang Ia kasihani, tetapi keturunan Abraham yang Ia kasihani.
(17) Itulah sebabnya, maka dalam
segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudaraNya,
supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada
Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa.”.
Calvin
(tentang Ibr 2:14): “the Son of God to put on our
flesh, even that he might partake of the same nature with us, and that by
undergoing death he might redeem us from it.”
[= Anak Allah mengenakan daging kita, supaya Ia bisa mengambil bagian dari
hakekat yang sama dengan kita, dan supaya dengan mengalami kematian Ia bisa
menebus kita darinya.].
Ro
8:3 - “Sebab apa
yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah
dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus AnakNya sendiri dalam daging,
yang serupa
dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia telah menjatuhkan
hukuman atas dosa di dalam daging,”.
Calvin
(tentang Ro 8:3): “he says, that he came in the
likeness of the flesh of sin; for though the flesh of Christ was polluted by no
stains, yet it seemed apparently to be sinful, inasmuch as it sustained the
punishment due to our sins, and doubtless death exercised all its power over it
as though it was subject to itself. ... Christ underwent our infirmities, that
he might be more inclined to sympathy, and in this respect also there appeared
some resemblance of a sinful nature.”
[= ia berkata, bahwa Ia datang dalam keserupaan dari
daging dari dosa; karena sekalipun daging Kristus tidak dikotori oleh
noda / kotoran, tetapi itu kelihatannya berdosa,
karena daging itu menahan / menderita hukuman karena dosa-dosa kita, dan tak
diragukan kematian melaksanakan semua kuasanya atasnya seakan-akan daging itu
tunduk kepada dirinya sendiri. ... Kristus
mengalami kelemahan-kelemahan kita, sehingga Ia bisa lebih condong
pada simpati, dan dalam hal ini juga disana
kelihatan suatu kemiripan dengan suatu hakekat yang berdosa.].
William
Hendriksen (tentang Ro 8:3): “In
his incarnation the divine Son assumed the human nature, ... But he took on that
human nature not as it came originally from the hand of the Creator (‘and
behold it was very good,’ Gen. 1:31), but weakened by sin, though remaining itself without any sin.”
[= Dalam inkarnasiNya Anak yang ilahi mengambil hakekat manusia, ... Tetapi
Ia mengambil hakekat manusia bukan sebagaimana itu datang seperti asalnya dari
tangan sang Pencipta (‘dan lihatlah itu adalah sangat baik’, Kej 1:31),
tetapi dilemahkan oleh dosa, sekalipun dalam dirinya tetap tanpa dosa apapun.].
Gregory
Nazianzus: “For
that which is not taken up is not healed.” [= Karena apa yang tidak
diambil, tidak disembuhkan.].
Cyril
of Alexandria: “That
which is not assumed is not saved.” [= Apa yang tidak
diambil, tidak diselamatkan.].
Catatan:
jangan berkata bahwa kata-kata kedua orang di atas ini tidak mempunyai dasar
Alkitab, karena Ibr 2:14-17 yang sudah saya berikan di atas jelas merupakan
dasar Alkitabnya.
Tetapi
Kristus haruslah menjadi seorang manusia yang suci, karena kalau Ia sendiri
berdosa, Ia tidak bisa menebus dosa kita.
Ibr 7:26-27
- “(26)
Sebab Imam Besar yang demikianlah yang kita perlukan: yaitu
yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa
dan lebih tinggi dari pada tingkat-tingkat sorga, (27) yang tidak
seperti imam-imam besar lain, yang setiap hari harus mempersembahkan korban
untuk dosanya sendiri dan sesudah itu barulah untuk dosa umatnya, sebab
hal itu telah dilakukanNya satu kali untuk selama-lamanya, ketika Ia
mempersembahkan diriNya sendiri sebagai korban.”.
2)
Supaya bisa menjadi pengantara antara Allah dan manusia.
1Tim
2:5
- “Karena
Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia,
yaitu manusia Kristus Yesus,”.
3)
Supaya Ia bisa merasakan pencobaan dan penderitaan yang dialami oleh
manusia. Dengan demikian Ia bisa bersimpati terhadap manusia yang menderita dan
dicobai dan bisa menolong mereka.
Ibr 2:17-18
- “(17)
Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan
saudara-saudaraNya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan
yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa. (18) Sebab
oleh karena Ia sendiri telah menderita karena
pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai.”.
Ibr 4:15
- “Sebab Imam
Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan
kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan
kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.”.
William
G. T. Shedd: “Previous to the assumption of a
human nature, the Logos could not experience a human feeling because he had no
human heart, but after the assumption he could; previous to the incarnation, he
could not have a finite perception because he had no finite intellect, but after
this event he could; ... The unincarnate Logos could think and feel only like
God; he had only one form of consciousness. The incarnate Logos can think and
feel either like God, or like man; he has two modes or forms of
consciousness.” [= Sebelum
mengambil hakekat manusia, Logos tidak bisa mengalami perasaan manusia karena
Ia tidak mempunyai hati manusia, tetapi setelah
mengambil hakekat manusia Ia bisa; sebelum
inkarnasi, Ia tidak bisa mempunyai pengertian yang terbatas karena Ia tidak
mempunyai pikiran yang terbatas, tetapi setelah
peristiwa itu Ia bisa; ... Logos yang tidak /
belum berinkarnasi bisa berpikir dan merasa hanya sebagai Allah; Ia hanya
mempunyai satu bentuk kesadaran. Logos yang
berinkarnasi bisa berpikir dan merasa, atau seperti Allah, atau seperti manusia;
Ia mempunyai dua bentuk kesadaran.]
- ‘Shedd’s Dogmatic Theology’,
vol II, hal 267.
Matthew
Poole (tentang Ibr 2:18): “He had the
mercies of God before, and as if that were not enough, the tempted nature of
man, to soften his heart to pity his brethren in their suffering and temptations.” [= Sebelumnya
Ia sudah mempunyai belas kasihan Allah, dan seakan-akan itu belum cukup, sekarang
Ia mempunyai hakekat manusia yang telah dicobai, untuk melunakkan / melembutkan
hatiNya supaya Ia mengasihani saudara-saudaraNya dalam penderitaan dan pencobaan
mereka.].
4)
Supaya Ia bisa menjadi teladan bagi manusia.
Mat 11:29
- “Pikullah
kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu,
karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.”.
Yoh
13:14-15 - “(14) Jadi
jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun
wajib saling membasuh kakimu; (15) sebab Aku telah
memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang
telah Kuperbuat kepadamu.”.
Fil 2:5-8
- “(5) Hendaklah
kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga
dalam Kristus Yesus, (6) yang walaupun dalam rupa Allah, tidak
menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
(7) melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang
hamba, dan menjadi sama dengan manusia. (8) Dan dalam keadaan sebagai manusia,
Ia telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu
salib.”.
Ibr 12:2-4
- “(2)
Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju
kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman
kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul
salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah
kanan takhta Allah. (3) Ingatlah selalu akan Dia,
yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diriNya dari pihak
orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi
lemah dan putus asa. (4) Dalam pergumulan kamu melawan dosa kamu
belum sampai mencucurkan darah.”.
1Pet 2:21
- “Sebab
untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah
meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu
mengikuti jejakNya.”.
Kalau
Ia tetap sebagai Allah, maka bagaimanapun sucinya Ia hidup, Ia tidak bisa
menjadi teladan bagi manusia, karena manusia tidak bisa melihat Dia. Tetapi
dengan Ia sudah menjadi manusia, maka manusia bisa melihat kehidupanNya yang
suci dan meneladaniNya.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube: