(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)
Rabu, tgl 12 Juni 2019, pk 19.00
Pdt.
Budi Asali, M. Div.
CHRIST: THE GOD-MAN
1)
Yesus menyebut diriNya sendiri ‘Anak Allah’.
Saksi-Saksi Yehuwa maupun para Unitarian berpendapat bahwa karena Yesus
adalah Anak Allah, maka Ia bukan Allah. Mereka juga berulangkali
mengatakan bahwa Yesus tidak pernah mengclaim diriNya sebagai Allah,
tetapi selalu sebagai Anak Allah.
Jawaban:
a) Yesus
memang tidak pernah menyatakan diri sebagai ‘Allah’; Ia selalu menyatakan diri sebagai ‘Anak
Allah’. Tetapi perlu
dipertanyakan pertanyaan ini: apakah kita harus membentuk pemikiran /
kepercayaan / ajaran tentang Yesus hanya berdasarkan kata-kata Yesus sendiri
saja, atau juga dari bagian-bagian Kitab Suci yang lain? Yang
dianggap sebagai Firman Tuhan itu hanya kata-kata Yesus sendiri saja, atau juga
bagian-bagian lain dari Kitab Suci? Sekalipun
Yesus sendiri tidak pernah menyatakan diri sebagai ‘Allah’, tetapi banyak
ayat-ayat Kitab Suci yang menyatakan demikian, tetapi ini akan saya bahas
belakangan.
b) Ingat
bahwa suatu istilah dalam Kitab Suci harus diartikan sesuai dengan pengertian
penulisnya / orang jaman itu tentang istilah tersebut, bukan dengan pengertian
orang jaman sekarang tentang istilah tersebut.
Tentang istilah ‘Anak
Allah’ yang digunakan oleh Yesus terhadap diriNya sendiri ini, banyak orang
menyalah-artikan istilah ini, dengan mengatakan bahwa istilah ‘Anak
Allah’ menunjukkan bahwa dulu hanya ada Allah saja,
yang lalu beranak, dsb. Karena itu jelas bahwa Yesus tidak setua / sekekal
BapaNya. Tetapi ini adalah penafsiran yang menggunakan pengertian orang jaman
sekarang tentang istilah ‘Anak
Allah’ itu. Padahal istilah itu digunakan sekitar 2000 tahun yang lalu di
Israel sana, dan karena itu harus diartikan menurut pengertian orang-orang di
sana pada jaman itu.
Kalau begitu apa artinya? Tentang istilah / gelar ‘Anak
Allah’ bagi Yesus, W. E. Vine memberikan komentar
sebagai berikut: “absolute
Godhead, not Godhead in a secondary or derived sense, is intended in the
title.”
[= Allah / keAllahan yang mutlak, bukan Allah / keAllahan dalam arti sekunder
atau yang didapatkan, yang dimaksudkan dalam gelar tersebut.] - ‘An Expository Dictionary of New Testament Words’, hal
1061.
Tetapi, apa dasarnya pandangan seperti ini?
1. Kita bisa
mendapat jawabannya dengan membandingkan istilah ‘Anak Allah’ dengan
istilah ‘Anak
Manusia’, yang sama-sama merupakan gelar / sebutan yang sangat sering
digunakan oleh Yesus untuk diriNya sendiri.
Kalau istilah ‘Anak Manusia’ diartikan bahwa Yesus ‘betul-betul manusia’, maka istilah ‘Anak
Allah’ harus diartikan bahwa Yesus ‘betul-betul Allah’.
Maz 8:5 - “apakah manusia, sehingga
Engkau mengingatnya? Apakah anak
manusia, sehingga Engkau
mengindahkannya?”.
Dalam
ayat ini jelas ada dua kalimat paralel, yang artinya sama, tetapi menggunakan
kata-kata yang berbeda. Jadi, ‘anak manusia’ sama dengan ‘manusia’!
2. Bandingkan
dengan Mat 14:33
- “Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah
Dia, katanya: ‘Sesungguhnya Engkau Anak
Allah.’”.
Pikirkan
ayat ini! Mereka menganggap Yesus betul-betul adalah Anak Allah, dan karena itu
mereka lalu menyembah Dia. Kalau mereka menganggap bahwa ‘Anak
Allah’ itu ‘bukan Allah’,
atau ‘lebih
rendah dari Allah’, maka mungkinkah mereka, yang adalah orang-orang
Yahudi (bangsa monotheist, yang hanya menyembah Allah saja), lalu menyembah Dia?
Dari ayat ini jelas bahwa mereka menganggap istilah ‘Anak
Allah’ berarti ‘Allah sendiri’.
3. Bandingkan
dengan Yoh 5:17-18 - “(17)
Tetapi Ia berkata kepada mereka: ‘BapaKu bekerja sampai sekarang, maka Akupun
bekerja juga.’ (18) Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk
membunuhNya, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia
mengatakan bahwa Allah adalah BapaNya sendiri dan dengan
demikian menyamakan diriNya dengan Allah.”.
NIV/NASB: ‘making himself equal with God’ [= membuat diriNya
sendiri setara dengan Allah].
Di sini terlihat dengan jelas bahwa pada waktu Yesus menyebut diriNya
sebagai ‘Anak Allah’,
orang-orang Yahudi pada saat itu mengerti bahwa kata-kata itu berarti bahwa
Yesus menganggap diri sehakekat dengan Allah, atau menyamakan diri dengan Allah,
atau menganggap diri setara dengan Allah. Ini mereka anggap sebagai penghujatan
terhadap Allah, dan karena itu mereka mau merajam Yesus.
Saksi-Saksi Yehuwa maupun para Unitarian menganggap bahwa penyetaraan
Yesus dengan Allah itu hanya merupakan anggapan /
penafsiran yang salah dari orang-orang
Yahudi tentang pengakuan Yesus sebagai Anak Allah.
Jawaban:
Kalau itu memang merupakan pemikiran yang salah dari orang-orang Yahudi
tentang kata-kata Yesus itu, mengapa Yesus tidak (pernah) mengoreksi pemikiran
yang salah itu?
4.
Yoh 19:7 - “Jawab
orang-orang Yahudi itu kepadanya: ‘Kami mempunyai hukum dan menurut hukum itu
Ia harus mati, sebab Ia menganggap diriNya sebagai
Anak Allah.’”.
Catatan: terjemahan
sebenarnya dari kata-kata ‘Ia
menganggap diriNya sebagai Anak Allah’ adalah ‘Ia
membuat diriNya sendiri Anak Allah’.
KJV: ‘he made himself the Son of
God’ [= Ia membuat diriNya sendiri Anak Allah].
Bdk. Mark 14:61-64 - “(61)
Tetapi Ia tetap diam dan tidak menjawab apa-apa. Imam Besar itu bertanya
kepadaNya sekali lagi, katanya: ‘Apakah Engkau
Mesias, Anak dari Yang Terpuji?’ (62) Jawab Yesus: ‘Akulah
Dia, dan kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang
Mahakuasa dan datang di tengah-tengah awan-awan di langit.’ (63) Maka Imam
Besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata: ‘Untuk apa kita perlu saksi
lagi? (64) Kamu sudah mendengar hujatNya terhadap
Allah. Bagaimana pendapat kamu?’ Lalu dengan
suara bulat mereka memutuskan, bahwa Dia harus dihukum mati.”.
Pengakuan
Yesus bahwa diriNya adalah Anak Allah membuat orang-orang Yahudi itu
menganggapNya menghujat Allah, sehingga mereka menganggap bahwa Ia harus dihukum
mati. Kalau Anak Allah itu bukan Allah, atau lebih
rendah dari Allah, apa sebabnya pengakuan Yesus itu dituduh sebagai penghujatan?
Dan lagi-lagi, tidak ada bantahan / pengkoreksian
dari Yesus terhadap tuduhan tersebut.
2) Ada banyak ayat Kitab Suci
yang secara explicit mengatakan bahwa
Yesus adalah Allah.
a)
Maz 45:7-8 - “(7) Takhtamu
kepunyaan
(ya) Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat
kerajaanmu adalah tongkat kebenaran. (8) Engkau mencintai keadilan dan membenci
kefasikan; sebab itu Allah, Allahmu, telah mengurapi engkau dengan minyak
sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutumu.”.
Alkitab Indonesia salah terjemahan; entah dari mana
muncul kata ‘kepunyaan’ itu.
KJV: ‘Thy throne, O God’ [= TakhtaMu, ya Allah].
Juga ayat ini dikutip dalam Ibr 1:8-9.
Ibr 1:8-9 - “(8)
Tetapi tentang (kepada) Anak Ia berkata:
‘TakhtaMu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan
tongkat kerajaanMu adalah tongkat kebenaran. (9) Engkau mencintai keadilan dan
membenci kefasikan; sebab itu Allah, AllahMu telah mengurapi Engkau dengan
minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutuMu.’”.
KJV:
‘But unto the Son he
saith,’ [= Tetapi kepada
Anak Ia berkata,].
Catatan: anehnya di
sini Alkitab Indonesia bisa menterjemahkan dengan benar ‘TakhtaMu, ya Allah’.
Satu
hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa kata ‘Allah’
yang ditujukan kepada Yesus di sini menggunakan kata Yunani HO THEOS!
b)
Yes 9:5 - “Sebab seorang anak telah lahir untuk
kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di
atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah
yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.”.
Saksi-Saksi
Yehuwa / Para Unitarian menganggap bahwa istilah ‘Allah yang perkasa’ ini
bukan Allah, atau lebih rendah dari Allah, karena untuk Allah digunakan istilah
‘Allah yang maha kuasa’ (EL SHADDAY), misalnya dalam Kej 17:1.
Tetapi
istilah ‘Allah yang perkasa’ ini muncul lagi dalam Yes 10:21.
Yes
10:20-21 - “(20)
Tetapi pada waktu itu sisa orang Israel dan orang yang terluput di antara kaum
keturunan Yakub, tidak akan bersandar lagi kepada yang mengalahkannya, tetapi
akan bersandar kepada TUHAN,
Yang Mahakudus, Allah
Israel, dan tetap setia. (21) Suatu sisa akan kembali, sisa Yakub
akan bertobat di hadapan Allah yang perkasa.”.
Catatan:
kata-kata ‘Allah
yang perkasa’ baik dalam Yes 9:5 maupun dalam Yes 10:21, dalam bahasa Ibraninya
adalah kata-kata yang persis sama, yaitu EL GIBOR.
Di
sini istilah ini diterapkan kepada Yahweh / Allah Israel (ay 20)!
Jadi,
hanya ada 2 pilihan:
1.
Istilah ‘Allah yang perkasa’ itu ‘bukan Allah’, dan dengan
demikian maka baik Yesus maupun Yahweh keduanya bukan Allah!
2.
Istilah ‘Allah yang perkasa’ itu adalah Allah, dan dengan demikian
baik Yesus maupun Yahweh adalah Allah!
c)
Yoh 1:1 - “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah
dan Firman itu adalah
Allah.”.
Bdk.
Yoh 1:14 - “Firman itu telah menjadi
manusia, dan diam di antara kita, dan kita
telah melihat kemuliaanNya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepadaNya sebagai Anak
Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.”.
Kata
‘Firman’
(bahasa Yunani: LOGOS) di sini jelas menunjuk kepada Yesus. Ini terlihat dari
Yoh 1:14a yang mengatakan bahwa ‘Firman
itu telah menjadi manusia’ dan dari Yoh 1:14b yang menyebutNya sebagai ‘Anak
Tunggal Bapa’.
Dan
Yoh 1:1 ini secara explicit
mengatakan bahwa Firman / Yesus itu adalah Allah.
Kata
‘Allah’
yang ditujukan kepada Firman / Yesus di sini menggunkan kata Yunani THEOS.
d)
Yoh 1:18 - “Tidak
seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak
Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang
menyatakanNya.”.
Perhatikan
istilah ‘Anak Tunggal Allah’
yang saya garis bawahi itu.
NWT:
‘the only begotten god’ [= satu-satunya allah yang diperanakkan].
TDB:
“satu-satunya
allah yang diperanakkan”.
Catatan: NWT (New
World Translation) dan TDB (Terjemahan Dunia Baru) adalah Kitab Suci Saksi
Yehuwa.
NASB: ‘the only begotten God’ [= satu-satunya
Allah yang diperanakkan].
Dalam
istilah / bagian ini terdapat textual
problem [= problem text, dimana ada perbedaan antara manuscript yang satu
dengan manuscript yang lain]. Ada 4 golongan manuscript:
1. ‘the only begotten’
[= satu-satunya yang diperanakkan].
2. ‘the only begotten Son’
[= satu-satunya Anak yang diperanakkan].
3. ‘the only begotten Son of God’
[= satu-satunya Anak Allah yang diperanakkan].
4. ‘(the) only begotten God’
[= satu-satunya Allah yang diperanakkan].
Catatan:
untuk yang ke 4 ini ada yang mengatakan bahwa ada definite article / kata
sandang tertentu (‘the only begotten God’), tetapi kebanyakan
mengatakan bahwa di sini tidak digunakan definite article / kata sandang
tertentu (‘only begotten God’).
Kebanyakan
penafsir menganggap bahwa manuscript yang keempatlah yang benar, dengan alasan:
1.
Ini didukung oleh manuscript yang paling kuno.
Makin
kuno suatu manuscript, makin dekat manuscript itu dengan autograph /
naskah aslinya, sehingga makin dipercaya. Makin baru suatu manuscript, makin
jauh manuscript itu dari naskah aslinya sehingga makin tidak dipercaya.
Catatan:
autograph adalah naskah asli, yang ditulis langsung oleh para penulis
Kitab Suci, dan hanya ini saja yang dianggap sebagai
infallible dan inerrant (sama sekali tidak ada salahnya).
Tetapi autograph ini sudah tidak ada lagi / musnah. Yang ada hanyalah
salinan-salinan atau manuscript-manuscript, yang sudah mengandung kesalahan.
2.
Ini merupakan ‘bacaan
yang lebih sukar’ (‘more difficult reading’).
Memang
kalau ada perbedaan manuscript, biasanya bacaan yang lebih sukar / ‘lebih
tidak masuk akal’ yang diterima, berdasarkan suatu anggapan bahwa penyalin
manuscript itu lebih mungkin untuk mengubah dari ‘yang
tidak masuk akal’ menjadi ‘yang masuk akal’,
dari pada mengubah dari ‘yang masuk akal’
menjadi ‘yang
tidak masuk akal’. Dengan kata lain, penyalin manuscript itu mungkin
sekali mempermudah bacaan, tetapi tidak mungkin mempersukar bacaan.
Dalam
peristiwa ini, kalau yang benar adalah yang no 1, maka tidak mungkin ada
penyalin yang mengubahnya menjadi no 2 atau no 3, dan lebih-lebih tidak mungkin
ada penyalin yang mengubah menjadi yang no 4, yang ‘begitu tidak masuk
akal’.
Demikian
juga kalau yang benar adalah no 2 atau no 3.
Sebaliknya,
kalau no 4 yang benar, mungkin sekali penyalin menganggap bacaan itu tidak masuk
akal, dan ia menganggapnya sebagai pasti salah, sehingga ia mengubahnya menjadi
no 1 atau no 2 atau no 3.
Pada
waktu Yesus disebut dengan istilah ‘only
begotten God’ [= satu-satunya Allah yang diperanakkan], maka:
a.
Secara implicit ini menunjukkan
bahwa ada semacam kejamakan dalam diri Allah (karena
ada Allah yang diperanakkan, dan ada yang tidak) sehingga juga bisa
digunakan sebagai dasar dari Allah Tritunggal.
b.
Ini menunjukkan bahwa Yesus betul-betul diperanakkan oleh Bapa. Karena
itu ayat ini juga menjadi dasar dari doktrin ‘the
eternal generation of the Son’, yang mengajarkan bahwa Anak
diperanakkan secara kekal oleh Bapa.
c.
Ini menunjukkan bahwa Yesus adalah Allah. Bapa dan Roh Kudus adalah
Allah, tetapi Mereka tidak pernah diperanakkan; Yesus adalah Allah, dan Ia
diperanakkan. Jadi, Ia adalah satu-satunya
Allah yang diperanakkan.
e) Yoh 20:28 -
“Tomas menjawab Dia: ‘Ya Tuhanku
dan Allahku!’”.
Saksi-Saksi
Yehuwa mengatakan bahwa Tomas mengatakan demikian hanya sebagai seruan keheranan
/ karena kaget. Tetapi ini sama sekali tidak mungkin, karena:
1. Tomas
mengucapkan kata-kata itu kepada Yesus.
NASB (Literal / hurufiah): “Thomas
answered and said to Him, ‘My Lord and
my God!’” [= Tomas menjawab dan berkata kepadaNya: ‘Tuhanku dan Allahku!’].
Perhatikan bahwa dalam terjemahan NASB, yang memang
menterjemahkan secara hurufiah ini, dikatakan bahwa ‘Tomas menjawab dan berkata kepadaNya’. Kalau seseorang mengucapkan kata-kata seperti ‘Ya Allah’, karena kaget, ia sebetulnya tidak
menujukan kata-kata itu kepada siapapun. Jadi, ini bukan sekedar ucapan orang, yang karena kaget, lalu berkata: ‘Tuhanku dan Allahku’. Tidak, ia betul-betul mengucapkan kalimat itu kepada Yesus. Jelas bahwa Tomas mengakui Yesus sebagai Tuhan dan sebagai Allah.
2. A. H.
Strong mengatakan bahwa kebiasaan menyebut nama Allah pada saat kaget seperti
itu tidak ada dalam kalangan Yahudi, karena adanya larangan untuk menggunakan
nama Allah dengan sembarangan / sia-sia (‘Systematic Theology’, hal
306).
Satu hal lain yang perlu diperhatikan
berkenaan dengan ayat ini adalah bahwa Yesus bukan saja tidak menegur / memarahi /
menyalahkan Tomas atas kata-katanya itu, tetapi Yesus bahkan lalu mengucapkan kata-kata
dalam Yoh 20:29 - “Karena
engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat,
namun percaya.”.
Ini jelas menunjukkan bahwa Yesus
menerima, dan membenarkan, penyebutan ‘Tuhan’ dan ‘Allah’ oleh Tomas terhadap diriNya itu.
Dan lagi-lagi kata ‘Allah’ yang
ditujukan oleh Tomas kepada Yesus itu dalam bahasa Yunaninya adalah HO THEOS!
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube: