Eksposisi Kisah Para Rasul

oleh: Pdt. Budi Asali MDiv.


 

KISAH PARA RASUL 1:1-11

 

Pendahuluan:

1) Pentingnya belajar Kisah Para Rasul.

Kisah Para Rasul adalah kitab yang penting untuk dipelajari karena kitab ini menghubungkan ke 4 kitab Injil dengan surat-surat Paulus. Banyak hal dari surat-surat Paulus yang tidak bisa dimengerti dengan baik kalau kita tidak mengerti latar belakangnya dalam Kisah Para Rasul.

2) Kitab Kisah Para Rasul ditujukan kepada Teofilus (ay 1).

Dengan menghubungkan ay 1 ini dengan Luk 1:1-4, kita bisa melihat dengan jelas bahwa baik Injil Lukas maupun Kitab Kisah Para Rasul ditulis oleh Lukas dan ditujukan kepada Teofilus.

3) Thema Kisah Para Rasul.

Thema Kisah Para Rasul terdapat dalam Kis 1:8 yang berbunyi:
“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksiKu di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi”.
Dalam Kis 28 Paulus memberitakan Injil di Roma, dan itu dianggap sebagai ‘ujung bumi’.
 

I) Keharusan memberitakan Injil.

1) Kis 1:8 yang merupakan thema Kisah Para Rasul ini jelas merupakan perintah Tuhan untuk memberitakan Injil.

2) Perintah untuk memberitakan Injil ini berlaku untuk setiap orang kristen (bdk. Mat 28:19-20).

Ingat bahwa sekalipun Amanat Agung dalam Mat 28:19-20 itu sebetulnya diberikan hanya kepada 11 rasul, tetapi rasul-rasul itu lalu diperintahkan untuk mengajarkan segala perintah Yesus kepada orang-orang yang dijadikan murid. Dengan demikian mereka juga harus mengajarkan perintah Yesus untuk memberitakan Injil. Bandingkan juga dengan Kis 8:1b,4 yang menunjukkan bahwa jemaat biasa juga memberitakan Injil. Karena Pemberitaan Injil adalah perintah Tuhan bagi kita, maka kalau kita tidak memberitakan Injil, kita berdosa (dosa pasif).

Bandingkan juga dengan ayat-ayat di bawah ini:
 

Perhatikan bahwa kota Meros dikutuk oleh Tuhan bukan karena mereka menyembah berhala, atau berzinah, dsb, tetapi karena pada waktu perang, mereka hanya berdiam diri, padahal seharusnya mereka ikut berperang.

Demikian juga kalau dalam perang rohani melawan setan, saudara tidak mau ikut berjuang melalui Pemberitaan Injil, maka saudara menghadapi resiko yang sama dengan penduduk kota Meros.
 

Saya tidak mengerti mengapa Kitab Suci Indonesia menterjemahkan bagian yang saya garisbawahi itu dengan menggunakan ‘Nya’ (dimulai dengan huruf besar), dan bukannya ‘nya’. Kata ‘nya’ itu jelas bukan menunjuk kepada Tuhan tetapi kepada orang yang dikutuk itu.
 


 

Dari ayat ini terlihat bahwa tidak ada daerah netral. Atau saudara adalah orang yang mengumpulkan bersama Tuhan (melalui Pemberitaan Injil), atau saudara adalah pencerai-berai gereja!
 

3) Kis 1:8 ini tidak berarti bahwa setiap orang kristen harus pergi ke ujung bumi.

Injil memang harus tersebar kemana-mana, tetapi setiap orang kristen mempunyai ‘ladang’ sendiri-sendiri yang ditentukan oleh Tuhan. Karena itu saudara harus menggumulkan untuk bisa mengetahui kehendak Tuhan bagi saudara dalam persoalan ini.
 

II) Perlengkapan dalam memberitakan Injil.

Tuhan Yesus menyuruh murid-murid untuk memberitakan Injil, dan Ia memperlengkapi mereka supaya mereka bisa memberitakan Injil. Dalam hal apa Ia memperlengkapi murid-muridNya?

1) Dalam hal iman.

a) Ay 1 berbicara tentang ‘segala sesuatu yang dikerjakan dan diajarkan oleh Yesus, sampai pada hari Ia terangkat’. Ini mencakup ajaranNya, mujijat-mujijatNya, tindakan kasihNya, dan bahkan kematian dan kebangkitanNya, dan semua ini bertujuan untuk memperlengkapi murid-murid dalam hal iman.
 
b) Ay 3 mengatakan bahwa Yesus membuktikan kebangkitanNya dengan banyak tanda dan penampakan diri. Pembuktian kebangkitan ini lagi-lagi berfungsi untuk memperlengkapi murid-murid dalam hal iman. Kepercayaan terhadap kebangkitan Yesus dari antara orang mati, atau kepercayaan bahwa Yesus hidup selama-lamanya adalah sesuatu yang sangat penting bagi orang yang memberitakan Injil.
 
c) Ay 9-10a menunjukkan bahwa murid-murid menyaksikan naiknya Yesus ke surga. Waktu Yesus bangkit, murid-murid tidak melihatNya (mereka hanya melihat Yesus setelah Yesusnya bangkit), tetapi waktu Yesus naik ke surga mereka melihatNya. Rupanya hal itu dianggap masih belum cukup, sehingga dalam ay 10b-11 dikatakan bahwa malaikat memberitahukan kepada murid-murid bahwa Yesus naik ke surga. Dengan demikian mereka bisa betul-betul yakin bahwa Yesus ada di surga.
 
d) Keyakinan bahwa Yesus ada di surga ini, digabungkan dengan keyakinan bahwa dengan beriman kepada Yesus kita dipersatukan dengan Dia, akan memberikan keyakinan bahwa kalau kita mati, kita juga akan pergi ke surga. Keyakinan masuk surga ini mutlak perlu bagi orang yang memberitakan Injil, karena tanpa hal itu ia tidak akan memberitakan Injil, atau ia akan memberitakan Injil dengan ragu-ragu.
 

Penerapan:

Kalau saudara mau menjadi saksi Kristus / memberitakan Injil, maka cobalah periksa iman saudara kepada Yesus. Ada banyak orang mau memberitakan Injil, padahal dirinya sendiri sebetulnya belum percaya kepada Yesus. Ini tentu tidak pada tempatnya! Kalau saudara adalah orang yang seperti ini, bacalah buku saya yang berjudul ‘Fondasi Kekristenan’, supaya saudara bisa mempunyai iman yang sejati kepada Kristus. Baru setelah itu saudara bisa memberitakan Injil.

2) Dalam hal ketaatan.

Untuk ini mari kita membahas ay 4.
 

a) Ay 4 ini terjemahannya berbeda-beda.

Ada yang menterjemahkan ‘makan bersama-sama’, dan ada yang menterjemahkan sekedar ‘berkumpul’.

NASB: ‘And gathering them together, He ...’ (= Dan setelah mengumpulkan mereka bersama-sama, Ia ...).

KJV: ‘And being assembled together with them ...’ (= Dan setelah dikumpulkan bersama-sama dengan mereka ...).

TL: ‘Tatkala Yesus berhimpun dengan rasul-rasul ...’.

A. T. Robertson mengatakan bahwa kata SUNALIZOMENOS dalam bahasa Yunani berarti ‘being assembled together with them’ (seperti terjemahan KJV di atas). Jadi sebetulnya kata ‘makan’ itu tidak ada. Yang ada adalah kata ‘berkumpul’, tetapi kata ini ada dalam arti aktif. Jadi Yesus yang mengumpulkan murid-murid setelah mereka berpencar waktu Yesus ditangkap / mati.

b) Selanjutnya dalam ay 4 Yesus memerintahkan murid-muridNya untuk menunggu.

Yesus mempunyai alasan mengapa Ia menyuruh mereka menunggu. Ia menyuruh mereka menunggu supaya bisa menerima Roh Kudus bersama-sama, dan baru setelah itu mereka berpencar. Ini dimaksudkan supaya kesatuan mereka bisa terlihat. Kalau mereka langsung berpencar dan lalu menerima Roh Kudus sendiri-sendiri, maka kesatuan mereka tidak terlihat. Tetapi kalau mereka menunggu, lalu menerima Roh Kudus bersama-sama, dan baru setelah itu berpencar, maka kesatuan mereka terlihat dengan jelas. Inilah tujuan Yesus dalam menyuruh mereka menunggu.

c) Bagaimanapun juga, menunggu adalah sesuatu yang sukar.

Ingatlah bagaimana Abraham menunggu anak yang Tuhan janjikan, atau kegagalan Saul dalam menunggu Samuel (1Sam 13:1-14). Jadi, dengan disuruh menunggu, murid-murid diajar untuk taat.
 

Penerapan:

Ketaatan adalah sesuatu yang penting bagi orang yang memberitakan Injil. Dalam memberitakan Injil, kita berusaha supaya orang percaya dan menerima Yesus sebagai Juruselamat dan Tuhan. Bagaimana kita bisa menyuruh orang menerima Dia sebagai Tuhan kalau kita sendiri tidak taat kepadaNya? Jadi jelas bahwa seorang pemberita Injil harus belajar mentaati Tuhan. Ini memang tidak berarti bahwa kita harus suci dahulu, tetapi ini berarti bahwa kita harus mempunyai kerinduan dalam hati kita untuk mentaati Tuhan dan secara tulus / sungguh-sungguh berjuang untuk mentaatiNya!

3) Dalam hal pengertian.

Pertanyaan murid-murid dalam ay 6 menunjukkan adanya banyak pengertian yang salah dalam diri mereka, yang lalu dibetulkan oleh Yesus. Inilah kesalahan-kesalahan dalam pengertian mereka dan pembetulannya:
 

a) Mereka ingin tahu apa yang tidak boleh mereka ketahui.

Kata-kata ‘pada masa ini’ dalam ay 6 secara implicit menanyakan waktu pemulihan kerajaan. Ini dijawab oleh Yesus dalam ay 7: ‘Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasaNya’.

b) Mereka ingin mendapatkan kerajaan tanpa perang.

Ini terlihat dari pertanyaan mereka dalam ay 6: ‘Tuhan maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?’. Dari pertanyaan ini terlihat bahwa mereka mengira bahwa Yesus sendirilah yang akan memulihkan kerajaan bagi Israel, dan dengan demikian murid-murid tidak perlu berjuang / berperang untuk itu. Yesus menjawab pertanyaan ini dalam ay 8 dimana Ia berkata bahwa mereka harus menjadi saksi / harus memberitakan Injil. Ini berarti mereka harus berperang (secara rohani)!

Dan tempat pertama yang harus mereka injili adalah Yerusalem, yang adalah tempat dimana Yesus baru saja disalibkan! Ini jelas menunjukkan kepada murid-murid bahwa dalam pemberitaan Injil / perang itu akan ada banyak kesukaran / penderitaan! William Barclay mengatakan bahwa kata bahasa Yunani untuk ‘saksi’ dan ‘martir’ adalah sama yaitu adalah MARTUS. Ini menunjukkan bahwa orang yang mau menjadi saksi bagi Yesus harus rela menjadi martir / mati syahid!

c) Mereka membayangkan suatu kerajaan duniawi (Ini memang merupakan konsep Yahudi).

Yesus menjawab ini dengan ay 8 dimana Ia mengatakan bahwa mereka harus menjadi saksi / memberitakan Injil. Kalau kerajaan itu dibangun dengan cara memberitakan Injil, maka jelas bahwa kerajaan itu bukan kerajaan duniawi tetapi kerajaan rohani.

Calvin menggunakan ay 8 ini untuk menyerang ajaran Premillenialism (yang percaya bahwa nanti akan ada pemerintahan Kristus di bumi ini selama 1000 tahun) dengan berkata:
“Wherefore, we see that those which held opinion that Christ should reign as a king in this world a thousand years fell into the like folly” (= Karena itu, kita melihat bahwa mereka yang berpendapat bahwa Kristus akan memerintah sebagai raja di dunia ini selama 1000 tahun, jatuh ke dalam ketololan yang sama)
.

d) Mereka menganggap bahwa kerajaan itu terbatas untuk bangsa Israel / Yahudi saja.

Ini terlihat dari kata-kata ‘kerajaan bagi Israel’ dalam ay 6. Kesalahan ini dibetulkan oleh Yesus dengan mengatakan bahwa mereka harus menjadi saksi / memberitakan Injil, bukan hanya di Yerusalem dan Yudea saja, tetapi juga di Samaria, dan bahkan sampai ke ujung bumi (ay 8)! Ini jelas menunjukkan bahwa kerajaan itu bukan hanya bagi Israel, tetapi untuk semua bangsa yang mau percaya kepada Yesus.
 

Penerapan:

Sebelum murid-murid pergi untuk memberitakan Injil, mereka diperlengkapi oleh Yesus dalam hal pengertian. Karena itu, kalau saudara mau menjadi orang yang memberitakan Injil / Firman Tuhan, saudarapun juga harus mau rajin dan tekun dalam belajar, supaya saudara mempunyai pengertian yang memadai untuk pelayanan saudara! Jangan menjadi orang yang mau melayani tetapi tidak mau belajar Firman Tuhan. Ketidakmengertian saudara akan Firman Tuhan akan menyebabkan pelayanan saudara menjadi salah. Amsal 19:2 berkata: “tanpa pengetahuan, kerajinanpun tidak baik”. NIV menterjemahkan: “It is not good to have zeal without knowledge” (= adalah tidak baik mempunyai semangat tanpa pengetahuan).

4) Dalam hal kuasa waktu memberitakan Injil.

Ay 4,5,8 mengajar mereka untuk tidak bersandar kepada diri sendiri pada waktu memberitakan Injil, karena ayat-ayat tersebut menjanjikan Roh Kudus yang akan memberikan kuasa kepada mereka pada waktu memberitakan Injil.

Tetapi satu hal yang sangat berbeda antara murid-murid Yesus pada saat itu dengan kita, adalah bahwa mereka saat itu ada sebelum hari Pentakosta, dan kita hidup sesudah Pentakosta. Karena itu mereka harus menunggu, sampai Roh Kudus diberikan kepada mereka pada hari Pentakosta (Kis 2:1-dst). Tetapi kita yang hidup sesudah hari Pentakosta, langsung menerima Roh Kudus pada saat kita percaya. Ini terlihat dari Ef 1:13b yang berbunyi: “... di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikanNya itu”.

Tapi, sekalipun kita yang percaya Yesus sudah menerima Roh Kudus sehingga tidak perlu menunggu Roh Kudus lagi, kita tetap harus bersandar kepadaNya dalam memberitakan Injil. Kita harus menyadari bahwa pertobatan / keberhasilan dalam Pemberitaan Injil sepenuhnya tergantung kepadaNya, bukan tergantung pada kepandaian / kemampuan kita.

Penerapan:
Apakah saudara banyak berdoa untuk penginjilan yang saudara lakukan?
 

Kesimpulan:

Rasul-rasul itu juga adalah manusia biasa yang penuh dengan kelemahan dan kekurangan. Tetapi Tuhan memperlengkapi mereka sehingga mereka bisa menjadi alat Tuhan yang hebat dalam Pemberitaan Injil. Karena itu, kalau saudara mau menyerahkan diri saudara kepada Tuhan, saudarapun pasti akan diperlengkapi sehingga bisa menjadi alatNya yang hebat. Tetapi persoalannya, maukah saudara menyerahkan diri untuk dipakai oleh Tuhan dalam Pemberitaan Injil?

 

-AMIN-

 

Bagi sdr yg telah mendapat berkat dari artikel ini..mohon kiranya dapat membantu menyebarkan Pada sdr2 kita yg lain, sehingga semakin banyak sdr kita yg juga bisa membaca artikel ini dan mendapat berkat. Tuhan memberkati sdr. Amin.

 

Joh 21:17  Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: "Apakah engkau mengasihi Aku?" Dan ia berkata kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku.


Author : Pdt Budi Asali,M.Div

e-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]
Base URL  http://www.golgothaministry.org