(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)
Minggu, tgl 13 Mei 2012, pk 08.00 & pk 17.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
(HP: 7064-1331 / 6050-1331)
Maut /
kematian(3)
12) Mat
10:27-31 - “(27) Apa yang Kukatakan
kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke
telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah. (28) Dan janganlah kamu takut
kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh
jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun
tubuh di dalam neraka. (29) Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun
seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu.
(30) Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya. (31) Sebab itu janganlah
kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit”.
KJV:
‘without your Father’
(= tanpa Bapamu).
Kata
‘kehendak’ (ay 29) sebetulnya
tidak ada.
Jamieson,
Fausset & Brown (tentang Mat 10:29): “‘And one of them shall not fall on
the ground (exhausted or killed) without your Father’ - ‘Not one of them is
forgotten before God,’ as it is in Luke” [= Dan
seekorpun dari mereka tidak akan jatuh ke tanah (kelelahan atau dibunuh) tanpa
Bapamu’ - ‘Tak seekorpun dari mereka dilupakan di hadapan Allah’, seperti
dalam Lukas].
Luk 12:6-7
- “(6) Bukankah burung pipit dijual
lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekorpun dari padanya yang
dilupakan Allah, (7) bahkan rambut kepalamupun terhitung semuanya. Karena
itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit”.
Luk
21:18 - “Tetapi tidak sehelaipun dari
rambut kepalamu akan hilang”.
KJV/RSV/NIV/NASB:
‘perish’ (=
mati / binasa).
Catatan:
Luk 21:8 ini kontextnya berbeda, tetapi juga menunjukkan perlindungan Tuhan
terhadap anak-anakNya.
Burung
pipit begitu murah sehingga kalau 1 duit dapat 2 ekor, maka kalau 2 duit dapat 5
ekor (buy four get one free!), tetapi
tetap burung pipit ini dijaga / diperhatikan oleh Bapa.
Adam
Clarke (tentang Mat 10:29):
“The
doctrine intended to be inculcated is this: The providence of God extends to
the minutest things; everything is continually under the government and care of
God, and nothing occurs without his will or permission; if then he regards
sparrows, how much more man, and how much more still the soul that trusts in him!
... ‘Without your Father.’ Without the will of your Father: tees
boulees, the will or counsel, is added here by
Origen, Coptic, all the Arabic, latter Persic, Gothic, all the Itala except two;
Tertullian, Irenaeus, Cyprian, Novatian, and other Latin fathers. If the
evidence be considered as insufficient to entitle it to admission into the text,
let it stand there as a supplementary italic word, necessary to make the meaning
of the place evident. All things are ordered by the counsel of God. This
is a great consolation to those who are tried and afflicted. The belief of an
all-wise, all-directing Providence, is a powerful support under the most
grievous accidents of life. Nothing escapes his merciful regards, not even the
smallest things of which he may be said to be only the creator and preserver;
how much less those of whom he is the Father, Saviour, and endless felicity!”
(= Doktrin / ajaran yang dimaksudkan untuk ditanamkan
di sini adalah ini: Providensia Allah meluas pada hal-hal yang paling kecil;
segala sesuatu secara terus menerus ada di bawah pemerintahan dan penjagaan /
kepedulian Allah, dan tak ada apapun yang terjadi tanpa kehendak atau ijinNya;
maka jika Ia mempedulikan burung pipit, betapa lebih lagi manusia, dan betapa
lebih lagi jiwa yang percaya kepadaNya! ... ‘Tanpa Bapamu’. Tanpa kehendak
Bapamu: tees boulees,
‘kehendak’ atau ‘rencana’, ditambahkan di sini oleh Origen, Coptic,
semua bahasa Arab, Persic yang belakangan, Gothic, semua bahasa Itala kecuali
dua; Tertullian, Irenaeus, Cyprian, Novatian, dan bapa-bapa gereja Latin yang
lain. Jika bukti itu dianggap sebagai tidak cukup untuk memberinya hak untuk
masuk ke dalam text, biarlah itu berada di sana sebagai kata yang dicetak miring
dan bersifat penambahan, perlu untuk membuat jelas arti dari bagian ini. Segala
sesuatu diatur / diperintah oleh rencana Allah. Ini adalah suatu penghiburan
yang besar bagi mereka yang dicobai dan menderita. Kepercayaan tentang suatu
Providensia yang seluruhnya bijaksana dan mengarahkan, merupakan suatu dukungan
yang kuat di bawah kejadian-kejadian kehidupan yang paling menyedihkan. Tak ada
yang lolos dari kepedulianNya yang penuh belas kasihan, bahkan tidak hal-hal
yang terkecil tentang mana Ia bisa dikatakan hanya sebagai pencipta dan
pemelihara; apalagi mereka bagi siapa Ia adalah Bapa, Juruselamat, dan
kebahagiaan yang tak ada akhirnya).
Catatan:
aneh, orang ini jadi Reformed di sini!
Barnes’
Notes (tentang Mat 10:29):
“‘Without
your Father.’ That is, God, your Father, guides and directs its fall. It falls
only with HIS permission, and where HE chooses”
(= ‘Tanpa Bapamu’. Yaitu / artinya, Allah, Bapamu, membimbing dan
mengarahkan kejatuhannya. Ia jatuh hanya dengan ijinNYA, dan dimana IA memilih
tempatnya).
Carson
(tentang Mat 10:29-31): “The third reason for not being afraid is an a
fortiori argument: If God’s providence is so all embracing that not even a
sparrow drops from the sky apart from the will of God, cannot that same God be
trusted to extend his providence over Jesus’ disciples? ... God’s
sovereignty is not limited only to life-and-death issues; even the hairs of our
heads are counted. Jesus’ third argument against fear is thus the very
opposite of what is commonly advanced. People say that God cares about the big
things but not about little details. But Jesus says that God’s sovereignty
over the tiniest detail should give us confidence that he also superintends the
larger matters”
(= Alasan ketiga untuk tidak takut adalah suatu
argumentasi a fortiori: Jika
Providensia Allah begitu mencakup segala sesuatu sehingga bahkan seekor burung
pipit tidak jatuh dari langit terpisah dari kehendak Allah, tidak bisakah Allah
yang sama dipercaya untuk memperluas providensiaNya kepada murid-murid Yesus?
... Kedaulatan Allah tidak dibatasi hanya pada persoalan-persoalan hidup dan
mati; bahkan rambut kepala kita dihitung. Argumentasi ketiga dari Yesus terhadap
rasa takut adalah persis kebalikan dari apa yang biasanya diajukan. Orang-orang
berkata bahwa Allah peduli tentang hal-hal yang besar tetapi tidak tentang
detail-detail yang kecil. Tetapi Yesus berkata bahwa kedaulatan Allah atas
detail yang terkecil harus memberi kita keyakinan bahwa Ia juga mengawasi /
mengarahkan persoalan-persoalan yang lebih besar)
- Libronix.
Catatan:
argumentasi a fortiori adalah
argumentasi yang lebih kuat dari argumentasi yang telah diberikan sebelumnya.
Matthew
Henry (tentang Mat 10:29-31):
“Now
this God, who has such an eye to the sparrows, because they are his creatures,
much more will have an eye to you, who are his children. If a sparrow die not
‘without your Father,’ surely a man does not, - a Christian, - a minister, -
my friend, my child. A bird falls not into the fowler’s net, nor by the
fowler’s shot, and so comes not to be sold in the market, but according to the
direction of providence; ... ‘But the very hairs of your head are all
numbered.’ This is a proverbial expression, denoting the account which God
takes and keeps of all the concernments of his people, even of those that are
most minute, and least regarded. ... If God numbers their hairs, much more
does he number their heads, and take care of their lives, their comforts, their
souls. It intimates, that God takes more care of them, than they do of
themselves. They who are solicitous to number their money, and goods, and
cattle, yet were never careful to number their hairs, which fall and are lost,
and they never miss them: but God ‘numbers the hairs of’ his people, and
‘not a hair of their head shall perish’ (Luke 21:18); not the least hurt
shall be done them, but upon a valuable consideration: so precious to God are
his saints, and their lives and deaths!” [= Sekarang Allah ini, yang mempunyai perhatian
seperti itu pada burung-burung pipit, karena mereka adalah makhluk-makhluk
ciptaanNya, lebih-lebih lagi Ia akan memperhatikan kamu, yang adalah
anak-anakNya. Jika seekor burung pipit tidak mati ‘tanpa Bapamu’, pastilah
seorang manusia juga tidak, - seorang Kristen, - seorang pendeta / pelayan, -
sahabatku, anakku. Seekor burung tidak jatuh ke dalam jerat seorang penangkap
burung, ataupun oleh tembakan dari sang penangkap burung, dan tidak akan sampai
di pasar untuk dijual, kecuali sesuai dengan pengarahan dari providensia; ...
‘Tetapi rambut kepalamupun terhitung semuanya’. Ini merupakan suatu ungkapan
yang bersifat peribahasa, menunjukkan catatan yang Allah buat dan pegang tentang
semua perhatian tentang umatNya, bahkan tentang hal-hal yang paling kecil, dan
paling kurang dipedulikan. ... Jika Allah menghitung rambut mereka,
lebih-lebih lagi Ia menghitung kepala mereka, dan menjaga kehidupan mereka,
hiburan / pertolongan mereka, jiwa-jiwa mereka. Itu mengisyaratkan bahwa
Allah lebih peduli pada hal-hal itu dari pada mereka sendiri mempedulikan
hal-hal itu. Mereka yang cukup mempunyai perhatian untuk menghitung uang, dan
harta benda, dan ternak mereka, tidak pernah menghitung rambut mereka, yang
rontok dan hilang, dan mereka tak pernah kehilangan rambut-rambut itu: tetapi
Allah menghitung rambut dari umatNya dan tak sehelai rambutpun dari kepala
mereka akan binasa (Luk 21:18); tak akan ada rasa sakit yang terkecil akan
dilakukan terhadap mereka, kecuali karena suatu pertimbangan yang berharga:
demikian berharga bagi Allah orang-orang kudusNya, dan kehidupan dan kematian
mereka!].
Spurgeon
(tentang Mat 10:29-31): “Those birds are of little worth, and you are of far
greater consideration than many of them. God observes the death of a sparrow,
and he much more notes the lives and deaths of his people. Even the least part
of his children’s bodily frame has been registered. ‘The very hairs of their head’ are counted and catalogued; and,
to the most minute circumstance, all their lives are under the arrangement of
the Lord of love. Chance is not in our creed: the decree of the Eternal Watcher
rules our destiny, and love is seen in every line of that decree. Since we shall
not suffer harm at the hand of men by their arbitrary conduct, apart from the
will and permission of our Father,
let us be ready to bear with holy courage whatever the wrath of man may bring
upon us. God will not waste the life of one of his soldiers; no, nor a hair of
his head”
(= Burung-burung itu sedikit nilai / harganya, dan kamu
merupakan pertimbangan yang jauh lebih besar dari pada banyak dari mereka. Allah
memperhatikan kematian dari seekor burung pipit, dan betapa lebih Ia
memperhatikan kehidupan dan kematian dari umatNya. Bahkan bagian terkecil dari
kerangka tubuh anak-anakNya telah dicatat. ‘Rambut kepala mereka’ dihitung
dan didaftarkan; dan, sampai pada keadaan yang paling kecil, semua kehidupan
mereka ada di bawah pengaturan dari Tuhan dari kasih. ‘Kebetulan’ tidak ada
dalam pengakuan iman kita: ketetapan dari Penjaga Kekal mengatur / memerintah
nasib kita, dan kasih terlihat dalam setiap baris dari ketetapan itu. Karena
kita tidak akan mengalami kerugian / kerusakan pada tangan manusia oleh tingkah
laku yang sewenang-wenang, terpisah dari kehendak dan ijin dari Bapa kita,
hendaklah kita siap untuk memikul dengan keberanian kudus apapun yang bisa
dibawa oleh murka manusia kepada kita. Allah tidak akan membuang-buang /
memboroskan kehidupan dari salah satu dari tentaraNya, tidak, tidak sehelai
rambutpun dari kepalanya)
- ‘The Gospel of the Kingdom’
(Libronix).
III)
Orang Arminian menganggap bahwa umur / saat kematian bisa diubah.
1) Kematian bisa dimajukan atau
dimundurkan? Umur bisa dikurangi atau ditambah?
Ayub 14:5
- “Jikalau hari-harinya sudah pasti,
dan jumlah bulannya sudah tentu padaMu, dan batas-batasnya sudah Kautetapkan,
sehingga tidak dapat dilangkahinya”.
Di
atas kita sudah membahas ayat ini, tetapi sekarang kita akan melihat tafsiran
Adam Clarke, seorang Arminian, tentang ayat ini.
Adam
Clarke (tentang Ayub 14:5): “‘Seeing
his days are determined.’ The general term of human life is fixed by God
himself; in vain are all attempts to prolong it beyond this term. ... Nor can
death be avoided. Dust thou art, and unto dust thou shalt return, is the law,
... But, although man cannot pass his appointed bounds, yet he may so live as
never to reach them; for folly and wickedness abridge the term of human life;
and therefore the psalmist says, Bloody and deceitful men shall not live out
HALF their days, Ps 55:23, for by indolence, intemperance, and disorderly
passions, the life of man is shortened in cases innumerable. We are not to
understand the bounds as applying to individuals, but to the race in general.
Perhaps there is no case in which God has determined absolutely that man’s age
shall be so long, and shall neither be more nor less. The contrary supposition
involves innumerable absurdities” (= ‘Melihat
hari-harinya ditentukan’. Masa hidup yang umum dari kehidupan manusia
ditentukan oleh Allah sendiri; sia-sia semua usaha untuk memperpanjangnya
melampaui masa hidup ini. ... Juga kematian tidak bisa dihindari. ‘Dari debu
engkau berasal, kepada debu engkau akan kembali’, adalah hukumnya, ... Tetapi,
sekalipun manusia tidak bisa melampaui batasan-batasan yang ditentukanNya,
tetapi ia bisa hidup sedemikian rupa sehingga tak pernah mencapainya; karena
kebodohan dan kejahatan mempersingkat masa hidup manusia; dan karena itu sang
pemazmur berkata: ‘Orang
penumpah darah dan penipu tidak akan mencapai setengah
umurnya’, Maz 55:24, karena oleh kemalasan, tak adanya penguasaan diri / minum
minuman keras berlebihan, dan nafsu-nafsu yang kacau / melanggar peraturan,
hidup manusia diperpendek dalam kasus-kasus yang tak terhitung / sangat banyak. Kita tidak boleh mengerti
batasan-batasan itu sebagai diterapkan kepada individu-individu, tetapi kepada
bangsa secara umum. Mungkin tak ada kasus dalam mana Allah telah menentukan
secara mutlak bahwa umur manusia akan sepanjang ini, dan tidak akan lebih atau
kurang. Anggapan yang bertentangan melibatkan / mencakup hal-hal menggelikan
yang sangat banyak).
Maz 55:24
- “Tetapi Engkau, ya Allah, akan
menjerumuskan mereka ke lubang sumur yang dalam; orang penumpah darah dan
penipu tidak akan mencapai setengah umurnya. Tetapi aku ini percaya
kepadaMu”.
Catatan:
menurut saya ini adalah penafsiran yang sangat tolol! Tetapi Albert Barnes
memberikan penafsiran tentang Maz 55:24 ini dengan kata-kata yang kurang lebih
sama seperti komentar Clarke tentang Ayub 14:5.
Barnes’
Notes (tentang Maz 55:24):
“‘Shall
not live out half their days.’ Margin, as in Hebrew, ‘shall not halve
their days.’ So the Septuagint, and the Latin Vulgate. The statement is
general, not universal. The meaning is, that they do not live half as long as
they might do, and would do, if they were ‘not’ bloody and deceitful.
Beyond all question this is true. Such people are either cut off in strife and
conflict, in personal affrays in duels, or in battle; or they are arrested for
their crimes, and punished by an ignominious death. Thousands and tens of
thousands thus die every year, who, ‘but’ for their evil deeds, might have
doubled the actual length of their lives; who might have passed onward to old
age respected, beloved, happy, useful. There is to all, indeed, an outer limit
of life. There is a bound which we cannot pass. That natural limit, however,
is one that in numerous cases is much ‘beyond’ what people actually reach,
though one to which they ‘might’ have come by a course of temperance,
prudence, virtue, and piety. God has fixed a limit beyond which we cannot
pass; but, wherever that may be, as arranged in his providence, it is our duty
not to cut off our lives ‘before’ that natural limit is reached; or, in
other words, it is our duty to live on the earth just as long as we can.
Whatever makes us come short of this is self-murder, for there is no
difference in principle between a man’s cutting off his life by the pistol,
by poison, or by the halter, and cutting it off by vice, by crime, by
dissipation, by the neglect of health, or by those habits of indolence and
self-indulgence which undermine the constitution, and bring the body down to
the grave. Thousands die each year whose proper record on their graves would
be ‘self-murderers.’ Thousands of young people are indulging in habits
which, unless arrested, ‘must’ have such a result, and who are destined to
an early grave - who will not live out half their days - unless their mode of
life is changed, and they become temperate, chaste, and virtuous. One of the
ablest lawyers that I have ever known - an example of what often occurs - was
cut down in middle life by the use of tobacco. How many thousands perish each
year, in a similar manner, by indulgence in intoxicating drinks!”
(= ).
Matthew
Henry (tentang Maz 55:24):
“They
were bloody men, and cut others off, and therefore God will justly cut them off:
they were deceitful men, .. and now God will cut them short, though not of
that which was their due, yet of that which they counted upon” (=
Mereka adalah orang-orang penumpah darah, dan membunuh orang-orang lain, dan
karena itu Allah dengan adil akan membunuh mereka: mereka adalah orang-orang
penipu, ... dan sekarang Allah akan memotong mereka pendek, sekalipun bukan
dari apa yang merupakan hak / milik mereka, tetapi dari apa yang mereka harapkan
/ perhitungkan).
Maz
139:16 - “mataMu melihat selagi aku
bakal anak, dan dalam kitabMu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk,
sebelum ada satupun dari padanya”.
Sekarang
perhatikan bagaimana penafsir ini menafsirkan ayat di atas ini.
The
Bible Exposition Commentary: Old Testament (tentang Maz 139:16):
“But
the Lord did more than design and form our bodies; He also planned and
determined our days (v. 16). This probably includes the length of life (Job
14:5) and the tasks He wants us to perform (Eph 2:10; Phil 2:12-13). This is not
some form of fatalism or heartless predestination, for what we are and what He
plans for us come from God’s loving heart (33:11) and are the very best He has
for us (Rom 12:2). If we live foolishly, we might die before the time God has
ordained, but God’s faithful children are immortal until their work is done”
[= Tetapi Tuhan melakukan lebih dari pada merancang dan membentuk tubuh kita;
Ia juga merencanakan dan menentukan hari-hari kita (ay 16). Ini mungkin mencakup
panjangnya kehidupan (Ayub 14:5) dan tugas-tugas yang Ia inginkan untuk kita
lakukan (Ef 2:10; Fil 2:12-13). Ini bukanlah sejenis fatalisme atau predestinasi
tanpa hati / perasaan, karena apa adanya kita dan apa yang Ia rencanakan bagi
kita datang dari hati Allah yang penuh kasih (33:11) dan merupakan yang terbaik
yang Ia punyai untuk kita (Ro 12:2). Jika kita hidup secara bodoh, kita bisa
mati sebelum waktu yang Allah tentukan, tetapi anak-anak yang setia dari Allah
tidak bisa mati sampai pekerjaan mereka dilakukan / diselesaikan].
Catatan:
saya tak mengerti mengapa Fil 2:12-13 Maz
33:11 dan Ro 12:2 dipakai sebagai ayat referensi, karena semuanya tidak cocok.
Ef 2:10
- “Karena kita ini buatan Allah,
diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang
dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya”.
Lenski
(tentang Mat 6:27):
“Worry
does not lengthen life, it usually shortens life”
(= Kekuatiran tidak memperpanjang hidup, itu biasanya mempersingkat hidup).
Maz 102:24-25
- “(24) Ia telah mematahkan kekuatanku
di jalan, dan memperpendek umurku. (25) Aku berkata: ‘Ya Allahku,
janganlah mengambil aku pada pertengahan umurku! Tahun-tahunMu tetap
turun-temurun!’”.
Pkh 8:13
- “Tetapi orang yang fasik tidak akan beroleh kebahagiaan dan seperti
bayang-bayang ia tidak akan panjang umur, karena ia tidak takut terhadap
hadirat Allah”.
Ul 4:25-26
- “(25) Apabila kamu beranak cucu dan kamu telah tua di negeri itu lalu
kamu berlaku busuk dengan membuat patung yang menyerupai apapun juga, dan
melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, Allahmu, sehingga kamu menimbulkan sakit
hatiNya, (26) maka aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu
pada hari ini, bahwa pastilah kamu habis binasa dengan segera dari negeri ke
mana kamu menyeberangi sungai Yordan untuk mendudukinya; tidak akan lanjut
umurmu di sana, tetapi pastilah kamu punah”.
Lalu
bagaimana dengan ayat-ayat yang mengatakan bahwa dengan melakukan sesuatu
seseorang bisa panjang umur?
Misalnya:
Kel
20:12 - “Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya
lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu”.
Adam
Clarke: “‘That
thy days may be long.’ This, as the apostle observes, Eph 6:2, is the first
commandment to which God has annexed a promise; and therefore we may learn in
some measure how important the duty is in the sight of God. In Deut 5:16 it is
said, ‘And that it may go well with thee,’ we may therefore conclude that it
will go ill with the disobedient, and there is no doubt that the untimely deaths
of many young persons are the judicial consequence of their disobedience to
their parents. Most who come to an untimely end are obliged to confess that
this, along with the breach of the Sabbath, was the principal cause of their
ruin” (= ‘Supaya
lanjut umurmu’. Ini, seperti sang rasul amati, Ef 6:2, adalah perintah / hukum
yang pertama pada mana Allah telah menambahkan suatu janji; dan karena itu kita
bisa belajar dalam ukuran tertentu betapa penting kewajiban ini dalam pandangan
Allah. Dalam Ul 5:16 dikatakan, ‘dan baik keadaanmu’, dan karena itu kita boleh menyimpulkan
bahwa akan buruk keadaannya dengan orang-orang yang tidak taat, dan tidak ada
keraguan bahwa kematian-kematian yang terjadi sebelum waktunya dari banyak
orang-orang muda merupakan konsekwensi yang bersifat penghakiman dari
ketidak-taatan mereka kepada orang tua mereka. Kebanyakan dari mereka yang
sampai pada akhir / kematian yang sebelum waktunya harus mengakui bahwa hal ini,
bersama-sama dengan pelanggaran Sabat, merupakan penyebab utama dari kehancuran
mereka).
Catatan:
aneh dan tidak konsekwen! Dari ayat seperti Ayub 14:5 di atas, Adam Clarke
mengatakan bahwa usia manusia tidak bisa melampaui batasan yang diberikan oleh
Allah, tetapi bisa diperpendek. Lalu mengapa dari ayat seperti Kel 20:12,
ia tidak menyimpulkan bahwa usia bisa diperpanjang, tetapi tetap mengatakan bisa
diperpendek! Padahal ayat ini berkata ‘supaya
lanjut umurmu’! Dan ayat-ayat seperti ini ada banyak! Lihat-lihat
ayat-ayat di bawah ini:
·
Ul 4:40 - “Berpeganglah
pada ketetapan dan perintahNya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, supaya
baik keadaanmu dan keadaan anak-anakmu yang kemudian, dan supaya lanjut
umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu untuk
selamanya.’”.
·
Ul 5:33 - “Segenap
jalan, yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, haruslah kamu jalani,
supaya kamu hidup, dan baik keadaanmu serta lanjut umurmu di negeri yang
akan kamu duduki.’”.
·
Ul 6:1-2 - “(1)
‘Inilah perintah, yakni ketetapan dan peraturan, yang aku ajarkan kepadamu
atas perintah TUHAN, Allahmu, untuk dilakukan di negeri, ke mana kamu pergi
untuk mendudukinya, (2) supaya seumur hidupmu engkau dan anak cucumu takut akan
TUHAN, Allahmu, dan berpegang pada segala ketetapan dan perintahNya yang
kusampaikan kepadamu, dan supaya lanjut umurmu”.
·
Ul 11:8-9 - “(8)
‘Jadi kamu harus berpegang pada seluruh perintah yang kusampaikan kepadamu
pada hari ini, supaya kamu kuat untuk memasuki serta menduduki negeri, ke mana
kamu pergi mendudukinya, (9) dan supaya lanjut umurmu di tanah yang
dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu untuk memberikannya kepada
mereka dan kepada keturunan mereka, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan
madunya”.
·
Ul 11:18-21 - “(18)
Tetapi kamu harus menaruh perkataanku ini dalam hatimu dan dalam jiwamu; kamu
harus mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi
lambang di dahimu. (19) Kamu harus mengajarkannya kepada anak-anakmu dengan
membicarakannya, apabila engkau duduk di rumahmu dan apabila engkau sedang dalam
perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun; (20) engkau
harus menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu, (21) supaya
panjang umurmu dan umur anak-anakmu di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan
sumpah kepada nenek moyangmu untuk memberikannya kepada mereka, selama ada
langit di atas bumi”.
·
Ul 22:6-7 - “(6)
Apabila engkau menemui di jalan sarang burung di salah satu pohon atau di tanah
dengan anak-anak burung atau telur-telur di dalamnya, dan induknya sedang duduk
mendekap anak-anak atau telur-telur itu, maka janganlah engkau mengambil induk
itu bersama-sama dengan anak-anaknya. (7) Setidak-tidaknya induk itu haruslah
kaulepaskan, tetapi anak-anaknya boleh kauambil. Maksudnya supaya baik
keadaanmu dan lanjut umurmu”.
·
Ul 25:15 - “Haruslah
ada padamu batu timbangan yang utuh dan tepat; haruslah ada padamu efa yang utuh
dan tepat - supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan kepadamu oleh
TUHAN, Allahmu”.
·
Ul 32:46-47 - “(46)
berkatalah ia kepada mereka: ‘Perhatikanlah segala perkataan yang
kuperingatkan kepadamu pada hari ini, supaya kamu memerintahkannya kepada
anak-anakmu untuk melakukan dengan setia segala perkataan hukum Taurat ini. (47)
Sebab perkataan ini bukanlah perkataan hampa bagimu, tetapi itulah hidupmu, dan
dengan perkataan ini akan lanjut umurmu di tanah, ke mana kamu pergi,
menyeberangi sungai Yordan untuk mendudukinya.’”.
·
1Raja 3:14 - “Dan
jika engkau hidup menurut jalan yang Kutunjukkan dan tetap mengikuti segala
ketetapan dan perintahKu, sama seperti ayahmu Daud, maka Aku akan memperpanjang
umurmu.’”.
·
Maz 91:14,16 - “(14)
‘Sungguh, hatinya melekat kepadaKu, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan
membentenginya, sebab ia mengenal namaKu. ... (16) Dengan panjang umur
akan Kukenyangkan dia, dan akan Kuperlihatkan kepadanya keselamatan dari
padaKu.’”.
·
Amsal 3:1-2 - “(1)
Hai anakku, janganlah engkau melupakan ajaranku, dan biarlah hatimu memelihara
perintahku, (2) karena panjang umur dan lanjut usia serta sejahtera akan
ditambahkannya kepadamu”.
·
Amsal 9:10-11 - “(10)
Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah
pengertian. (11) Karena oleh aku umurmu diperpanjang, dan tahun-tahun hidupmu
ditambah”.
Adam
Clarke (tentang Amsal 9:11):
“Vice
shortens human life, by a necessity of consequence: and by the same,
righteousness lengthens it” (=
Perbuatan jahat memperpendek kehidupan manusia, oleh suatu keharusan dari
konsekwensi: dan oleh konsekwensi yang sama, kebenaran memperpanjangnya).
Catatan:
kata-katanya di bagian akhir bertentangan dengan tafsirannya tentang Ayub 14:5
yang saya berikan di atas.
Jadi,
sangat banyak ayat yang mengatakan bahwa dengan hidup sesuai kehendak Tuhan umur
bisa diperpanjang dan sebaliknya, dengan hidup jahat umur diperpendek.
Amsal 10:27
- “Takut akan TUHAN memperpanjang umur, tetapi tahun-tahun orang
fasik diperpendek”.
Ul 30:17-20
- “(17) Tetapi jika hatimu berpaling dan engkau tidak mau mendengar, bahkan
engkau mau disesatkan untuk sujud menyembah kepada allah lain dan beribadah
kepadanya, (18) maka aku memberitahukan kepadamu pada hari ini, bahwa pastilah
kamu akan binasa; tidak akan lanjut umurmu di tanah, ke mana engkau pergi,
menyeberangi sungai Yordan untuk mendudukinya. (19) Aku memanggil langit dan
bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan
dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik
engkau maupun keturunanmu, (20) dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan
suaraNya dan berpaut padaNya, sebab hal itu berarti hidupmu dan lanjut umurmu
untuk tinggal di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek
moyangmu, yakni kepada Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada
mereka.’”.
Kalau
semua ayat-ayat ini diartikan bahwa umur manusia betul-betul bisa diperpanjang
atau diperpendek, maka itu akan bertentangan dengan semua ayat-ayat di atas yang
menunjukkan bahwa usia manusia ditentukan oleh Tuhan. Jadi, saya berpendapat
bahwa ayat-ayat seperti ini harus ditafsirkan dari sudut pandang manusia!
Hanya dari sudut pandang manusia saja maka hidup yang jahat, dan juga segala
macam kebodohan (seperti merokok dsb), bisa memperpendek umur, dan sebaliknya,
hidup yang saleh bisa memperpanjang umur. Tetapi dari sudut Tuhan, semua itu
(baik usianya maupun hidup baik / jahatnya) sudah ditentukan.
Sama
seperti tentang hari Tuhan yang sudah ditentukan oleh Tuhan.
Bdk.
Kis 17:31 - “Karena Ia telah
menetapkan suatu hari, pada waktu mana Ia dengan adil akan menghakimi dunia
oleh seorang yang telah ditentukanNya, sesudah Ia memberikan kepada semua
orang suatu bukti tentang hal itu dengan membangkitkan Dia dari antara orang
mati.’”.
Tetapi
ada ayat yang menunjukkan bahwa itu bisa dimajukan.
2Pet
3:12 - “yaitu kamu yang menantikan
dan mempercepat kedatangan hari Allah. Pada hari itu langit akan binasa
dalam api dan unsur-unsur dunia akan hancur karena nyalanya”.
Mat 24:21-22
- “(21) Sebab pada masa itu akan terjadi siksaan yang dahsyat seperti
yang belum pernah terjadi sejak awal dunia sampai sekarang dan yang tidak akan
terjadi lagi. (22) Dan sekiranya waktunya tidak dipersingkat, maka dari
segala yang hidup tidak akan ada yang selamat; akan tetapi oleh karena
orang-orang pilihan waktu itu akan dipersingkat”.
Dua
text ini pasti berbicara dari sudut pandang manusia, sedang ayat yang di atas
(Kis 17:31) berbicara dari sudut pandang Allah.
Juga
dalam memikirkan umur panjang atau pendek, kita harus mengingat Pkh 8:12-13 - “(12)
Walaupun orang yang berdosa dan yang berbuat jahat seratus kali hidup lama,
namun aku tahu, bahwa orang yang takut akan Allah akan beroleh kebahagiaan,
sebab mereka takut terhadap hadiratNya. (13) Tetapi orang yang fasik tidak akan
beroleh kebahagiaan dan seperti bayang-bayang ia tidak akan panjang umur, karena
ia tidak takut terhadap hadirat Allah”.
2)
Doa kita bisa mengubah umur kita / menunda kematian kita?
2Raja 20:1-6a
- “(1) Pada hari-hari itu Hizkia jatuh
sakit dan hampir mati. Lalu datanglah nabi Yesaya bin Amos, dan berkata
kepadanya: ‘Beginilah firman TUHAN: Sampaikanlah pesan terakhir kepada
keluargamu, sebab engkau akan mati, tidak akan sembuh lagi.’ (2) Lalu Hizkia
memalingkan mukanya ke arah dinding dan ia berdoa kepada TUHAN: (3) ‘Ah TUHAN,
ingatlah kiranya, bahwa aku telah hidup di hadapanMu dengan setia dan dengan
tulus hati dan bahwa aku telah melakukan apa yang baik di mataMu.’ Kemudian
menangislah Hizkia dengan sangat. (4) Tetapi Yesaya belum lagi keluar dari
pelataran tengah, tiba-tiba datanglah firman TUHAN kepadanya: (5) ‘Baliklah
dan katakanlah kepada Hizkia, raja umatKu: Beginilah firman TUHAN, Allah Daud,
bapa leluhurmu: Telah Kudengar doamu dan telah Kulihat air matamu; sesungguhnya
Aku akan menyembuhkan engkau; pada hari yang ketiga engkau akan pergi ke rumah
TUHAN. (6) Aku akan memperpanjang hidupmu lima belas tahun lagi”.
Yes
38:1-5 - “(1) Pada hari-hari itu Hizkia
jatuh sakit dan hampir mati. Lalu datanglah nabi Yesaya bin Amos dan berkata
kepadanya: ‘Beginilah firman TUHAN: Sampaikanlah pesan terakhir kepada
keluargamu, sebab engkau akan mati, tidak akan sembuh lagi.’ (2) Lalu Hizkia
memalingkan mukanya ke arah dinding dan ia berdoa kepada TUHAN. (3) Ia berkata:
‘Ah TUHAN, ingatlah kiranya, bahwa aku telah hidup di hadapanMu dengan setia
dan dengan tulus hati dan bahwa aku telah melakukan apa yang baik di mataMu.’
Kemudian menangislah Hizkia dengan sangat. (4) Maka berfirmanlah TUHAN kepada
Yesaya: (5) ‘Pergilah dan katakanlah kepada Hizkia: Beginilah firman TUHAN,
Allah Daud, bapa leluhurmu: Telah Kudengar doamu dan telah Kulihat air matamu.
Sesungguhnya Aku akan memperpanjang hidupmu lima belas tahun lagi”.
Banyak
orang, khususnya yang Arminian, yang menganggap bagian ini sebagai dasar bahwa
doa bisa mengubah Rencana Allah. Tetapi benarkah di sini terjadi perubahan
rencana Allah, khususnya berkenaan dengan umur Hizkia? Saya tidak percaya hal
itu, dengan alasan sebagai berikut:
a)
Kitab Suci menyatakan bahwa doa yang dikabulkan hanyalah doa yang sesuai
dengan kehendak / rencana Allah (1Yoh 5:14), dan karena itu dalam berdoa
kita harus berserah / tunduk pada kehendak / rencana Allah itu (Mat 6:10b
Mat 26:39b,42).
1Yoh
5:14 - “Dan inilah keberanian percaya
kita kepadaNya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta
sesuatu kepadaNya menurut kehendakNya”.
Mat
6:10b - “jadilah kehendakMu”.
Mat 26:39
- “Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan
berdoa, kataNya: ‘Ya BapaKu, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu
dari padaKu, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang
Engkau kehendaki.’”.
Mat 26:42
- “Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya
dan berdoa, kataNya: ‘Ya BapaKu, jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali
apabila Aku meminumnya, jadilah kehendakMu!’”.
Kalau
kita menafsirkan bahwa di sini terjadi perubahan rencana Allah karena doa
Hizkia, maka penafsiran itu akan menentang ayat-ayat tersebut di atas.
Sebagai
perbandingan, Musa sendiri, yang dihukum Tuhan dengan tidak boleh masuk ke
Kanaan (Bil 20:12 Ul 1:37), berdoa
supaya diijinkan hidup lebih lama sehingga bisa masuk tanah Kanaan, tetapi tidak
dikabulkan (Ul 3:23-26).
Bil
20:12 - “Tetapi
TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun: ‘Karena kamu tidak percaya kepadaKu dan
tidak menghormati kekudusanKu di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu
tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka.’”.
Ul 1:37
- “Juga kepadaku TUHAN murka oleh
karena kamu, dan Ia berfirman: Juga engkau tidak akan masuk ke sana”.
Ul 3:23-26
- “(23) ‘Juga pada waktu itu aku
mohon kasih karunia dari pada TUHAN, demikian: (24) Ya, Tuhan ALLAH, Engkau
telah mulai memperlihatkan kepada hambaMu ini kebesaranMu dan tanganMu yang
kuat; sebab allah manakah di langit dan di bumi, yang dapat melakukan perbuatan
perkasa seperti Engkau? (25) Biarlah aku menyeberang dan melihat negeri yang
baik yang di seberang sungai Yordan, tanah pegunungan yang baik itu, dan gunung
Libanon. (26) Tetapi TUHAN murka terhadap aku oleh karena kamu dan tidaklah
mendengarkan permohonanku. TUHAN berfirman
kepadaku: Cukup! Jangan lagi bicarakan perkara itu dengan Aku”.
b)
Kitab Suci menyatakan berulang-ulang bahwa usia manusia ditetapkan oleh
Allah, dan ketetapan itu tidak mungkin dilampaui. Ayat-ayat sudah sangat banyak
saya berikan di atas. Kalau kita menafsirkan bahwa di sini terjadi perubahan
penetapan usia karena doa Hizkia, maka kita menentang ayat-ayat tersebut di
atas.
c)
Pada saat itu Hizkia belum mempunyai anak, karena dengan membandingkan
2Raja 20:6 dan 2Raja 21:1 kita bisa tahu bahwa Manasye baru lahir 3
tahun setelah peristiwa ini.
Tidak
mungkin Tuhan merencanakan kematian Hizkia pada saat itu karena itu akan
menyebabkan:
1.
JanjiNya kepada Daud dalam 2Sam 7:12-16 tidak akan tergenapi.
Bandingkan ini dengan ay 6 akhir: ‘oleh
karena Daud, hambaKu’. Ini menunjukkan bahwa doa Hizkia itu dikabulkan
karena janji Tuhan kepada Daud dalam 2Sam 7:12-16 ini.
2.
Janji tentang Mesias / Yesus juga tidak akan terjadi, karena Yesus lahir
dari keturunan Hizkia maupun Manasye (Mat 1:9-10).
Kalau
demikian, bagaimana penafsiran yang benar tentang cerita ini? Tuhan merencanakan
bahwa kematian Hizkia terjadi pada usia 54 tahun (39 + 15). Tetapi pada usia 39
tahun Hizkia sakit dan hampir mati. Kalau Tuhan memang menghendaki kematian
Hizkia, Ia bisa mendiamkan saja hal itu (tanpa mengirim Yesaya untuk
memberitakan kematiannya). Tetapi Tuhan tidak menghendaki kematian Hizkia, dan
karena itu ia mengirimkan Yesaya untuk memberitakan kematian Hizkia. Hizkia
tersentak dan lalu berdoa, dan Tuhan mengabulkan permohonannya, sehingga
akhirnya terlaksanalah rencana Allah, yang menunjukkan bahwa Hizkia mati pada
usia 54 tahun (2Raja 18:2).
Tetapi
kalau demikian apakah kata-kata Tuhan dalam ay 1 itu merupakan dusta? Tidak!
Hizkia betul-betul akan mati, andaikata ia tidak berdoa. Tetapi Tuhan sendiri
menggerakkan Hizkia untuk berdoa, dan Tuhan mengabulkan doa itu, sehingga
rencana Tuhan yang terlaksana.
Perhatikan
beberapa komentar tentang bagian ini:
a. E. J. Young: “Unless
there is special intervention, Hezekiah will die. ... Only a miraculous
intervention of God could deliver the king’s life; and this God would not do,
unless first the king turned to Him in supplication. Thus, Hezekiah must learn
how fully his life lay in God’s hands” (= Kecuali
ada intervensi khusus, Hizkia akan mati. ... Hanya intervensi yang bersifat
mujijat dari Allah bisa melepaskan sang raja; dan ini tidak akan dilakukan oleh
Allah, kecuali sang raja lebih dulu berpaling kepadaNya dalam permohonan.
Demikianlah Hizkia harus belajar betapa hidupnya sepenuhnya terletak di tangan
Allah) - ‘Isaiah’, hal
508-509.
b. E. J. Young: “God
has heard the king’s prayer. The prayer does not move God to change His
purposes, for He is the unchangeable one; but God now reveals to Hezekiah what
His purposes were” (= Allah telah mendengar doa
sang raja. Doa tidak menggerakkan Allah untuk mengubah rencanaNya, karena Ia
adalah seseorang yang tak berubah; tetapi sekarang Allah menyatakan rencanaNya
kepada Hizkia) - ‘Isaiah’,
hal 512.
c. Calvin:
“But
it may be thought strange that God, having uttered a sentence, should soon
afterwards be moved, as it were, by repentance to reverse it; for nothing is
more at variance with his nature than a change of purpose. I reply, while death
was threatened against Hezekiah, still God had not decreed it, but determined in
this manner to put to the test the faith of Hezekiah. We must, therefore,
suppose a condition to be implied in that threatening; for otherwise Hezekiah
would not have altered, by repentance or prayer, the irreversible decree of God.
But the Lord threatened him in the same manner as he threatened Gerar for
carrying off Sarah, (Gen. 20:3) and as he threatened the Ninevites (Jonah 1:2;
and 3:4). ... God threatened the death of Hezekiah, because he was unwilling
that Hezekiah should die; ... And thus we must suppose an implied condition to
have been understood, which Hezekiah, if he did not immediately perceive it, yet
afterwards in good time knew to have been added” [= Tetapi
kelihatannya aneh bahwa Allah, setelah mengucapkan suatu kalimat / hukuman /
vonis, lalu setelah itu digerakkan, seakan-akan oleh suatu pertobatan /
penyesalan lalu membaliknya; karena tidak ada apapun yang lebih bertentangan
dengan sifat alamiahNya dari pada suatu perubahan rencana. Saya menjawab,
sekalipun kematian diancamkan terhadap Hizkia, tetap Allah tidak menetapkannya,
tetapi menentukan dengan cara ini untuk menguji iman Hizkia. Karena itu kita
harus menganggap bahwa ada syarat yang diberikan secara tidak langsung dalam
ancaman itu; karena kalau tidak Hizkia tidak akan mengubah, oleh pertobatan atau
doa, ketetapan Allah yang tidak bisa berubah. Tetapi Tuhan mengancamnya dengan
cara yang sama seperti Ia mengancam Gerar karena mengambil Sara (Kej 20:3), dan
seperti Ia mengancam Niniwe (Yun 1:2 dan 3:4). ... Allah mengancamkan kematian
Hizkia, karena Ia tidak mau Hizkia mati; ... Dan demikianlah kita harus
menganggap bahwa ada syarat tersembunyi yang harus dimengerti, yang jika tidak
langsung dimengerti oleh Hizkia, pasti dimengertinya belakangan] - ‘Isaiah’,
hal 157-158.
Catatan:
anehnya, dalam tafsirannya tentang 2Raja 20:3, Adam Clarke memberikan tafsiran
yang kira-kira sama dengan kata-kata Calvin di atas ini.
Adam
Clarke (tentang 2Raja 20:3):
“Hezekiah
knew that, although the words of Isaiah were delivered to him in an absolute
form, yet they were to be conditionally understood; else he could not
have prayed to God to reverse a purpose which he knew to be irrevocable”
(= Hizkia tahu bahwa, sekalipun kata-kata Yesaya
disampaikan kepadanya dalam bentuk yang mutlak, tetapi kata-kata itu harus
dimengerti secara bersyarat; karena kalau tidak, ia tidak akan berdoa kepada
Allah untuk membalik suatu rencana yang ia tahu tidak bisa dibatalkan).
d. Calvin:
“This
might indeed, at first sight appear to be absurd; for we were created on the
condition of not being able to pass, by a single moment, the limit marked out
for us; as Job also says, ‘Thou hast appointed his bounds which he cannot
pass.’ (Job 14:5). But the solution is easy. What is said about an extended
period must be understood to refer to the views of Hezekiah” [= Sekilas
pandang ini kelihatannya memang menggelikan; karena kita diciptakan dengan suatu
batasan yang dipilih bagi kita, yang tidak bisa dilewati sesaatpun; seperti Ayub
juga berkata: ‘batas-batasnya sudah Kautetapkan, sehingga tidak dapat
dilangkahinya’ (Ayub 14:5). Tetapi pemecahannya mudah. Apa yang dikatakan
sebagai masa perpanjangan harus dimengerti menunjuk pada pandangan Hizkia]
- ‘Isaiah’, hal 160.
e. Calvin:
“For
why did the Lord send Jonah to the Ninevites to foretell the ruin of the city?
Why did he through Isaiah indicate death to Hezekiah? For he could have
destroyed both the Ninevites and Hezekiah without any messenger of destruction.
Therefore he had in view something other than that, forewarned of their death,
they might discern it coming from a distance. Indeed, he did not wish them to
perish, but to be changed lest they perish” (= Mengapa
Tuhan mengirimkan Yunus ke Niniwe untuk meramalkan kehancuran kota itu? Mengapa
Ia, melalui Yesaya, menyatakan kematian kepada Hizkia? Karena Ia bisa
menghancurkan baik Niniwe maupun Hizkia tanpa utusan kehancuran. Karena itu Ia
mempunyai maksud yang lain dari itu; diperingatkan lebih dulu tentang kematian
mereka, mereka melihat kematian itu datang dari jauh. Memang, Ia tidak
menginginkan supaya mereka mati, tetapi supaya mereka diubah supaya mereka
jangan mati) - ‘Institutes of
the Christian Religion’, Book I, Chapter XVII, No 14.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali