(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)
Minggu, tgl 29 April 2012, pk 08.00 & pk 17.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
(HP: 7064-1331 / 6050-1331)
Maut /
kematian(1)
Khotbah
/ pelajaran ini disusun untuk membahas, menanggapi dan membantah khotbah Paskah
2012 dari Pdt. Stephen Tong, yang mengatakan bahwa hanya kematian Kristus yang
ditetapkan oleh Allah, sedangkan kematian orang-orang lain tidak. Ia menambahkan
bahwa Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa Allah menentukan kematian seseorang.
Untuk
lebih jelasnya saya memberikan kutipan dari makalah khotbah Paskah itu, yang
dikeluarkan oleh GRII. Suatu cuplikannya berbunyi sebagai berikut:
“Sekarang kita akan membahas topik
utama: apa bedanya kematian Kristus dengan kematian semua orang? 1. Semua
orang bukan mati di dalam kehendak Allah, hanya Yesus Kristus seorang, yang
mati di dalam kehendakNya. Alkitab tidak pernah mencatat si anu mati di dalam
kehendak Allah. Lagi pula, mana mungkin Allah menghendaki seorang mati?
Lalu, mengapa kita mati? Kita berdosa dan upah dosa adalah maut. Hanya Yesus
Kristus, yang mati menurut kehendak Allah (Gal 1:4). Sementara kita, bukan
mati karena rencana Allah, tapi karena kita menentang Allah; melanggar
Taurat, maka dosa dan maut jadi raja di hati kita, menawan kita (Ro 6:23). 2.
semua orang berbuat dosa, karenanya mereka harus mati. Hanya Yesus Kristus; sang
kudus, Dia tak berdosa, Dia mengalahkan semua pencobaan, Dia tak seharusnya
mati. Lalu mengapa Dia mati? Karena Allah mengutus Dia untuk menggantikan
kita” (hal 2-3).
Catatan:
Gal
1:4 - “yang telah menyerahkan diriNya
karena dosa-dosa kita, untuk melepaskan kita dari dunia jahat yang sekarang ini,
menurut kehendak Allah dan Bapa kita”.
Ro
6:23 - “Sebab upah dosa ialah maut;
tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita”.
Saya
berpendapat ayat terakhir ini sangat tak cocok!
Yang
ingin saya persoalkan dan bahas, bukanlah ajaran Pdt. Stephen Tong tentang
kematian Kristus. Saya setuju bahwa kematian Kristus ditentukan oleh Allah.
Tetapi bahwa kematian orang-orang lain tidak ditentukan oleh Allah, dan bahwa
Alkitab tak pernah mencatat si anu mati di dalam kehendak Allah, itulah yang
saya persoalkan. Marilah kita melihat apakah ajaran Pdt. Stephen Tong sesuai
dengan ajaran Alkitab.
I)
Secara theologis adalah mustahil untuk mengatakan bahwa kematian Kristus saja
yang ditentukan sedangkan kematian semua manusia tidak ditentukan.
Mengapa
saya katakan demikian? Karena mengapa Kristus harus mati? Karena manusia
berdosa, dan upah dosa itu maut, dan Kristus mau menggantikan kita memikul maut
/ kematian itu. Jadi, kalau kematian Kristus ditentukan, adalah mustahil bahwa
dosa dan kematian manusia tidak ditentukan! Dan perlu diingat bahwa Allah tidak
membuat rencananya setahap demi setahap, tetapi langsung seluruhnya dari
kekekalan (minus tak terhingga). Jadi, jelas bahwa seluruh rentetan ini, yaitu:
1)
Jatuhnya manusia ke dalam dosa,
2)
Pemberian hukuman mati kepada manusia karena dosanya,
3)
Kematian Kristus untuk menebus dosa kita dan mengalahkan kematian yang
merupakan upah dosa,
semuanya
sudah ditentukan secara sekaligus dalam rencana Allah yang dibuat dalam
kekekalan / minus tak terhingga.
Bahwa
kematian Kristus direncanakan / dimaksudkan untuk menggantikan kematian kita,
jelas ditunjukkan oleh banyak ayat di bawah ini.
Yoh
11:49-52 - “(49) Tetapi seorang di
antara mereka, yaitu Kayafas, Imam Besar pada tahun itu, berkata kepada mereka:
‘Kamu tidak tahu apa-apa, (50) dan kamu tidak insaf, bahwa lebih berguna
bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa kita ini
binasa.’ (51) Hal itu dikatakannya bukan dari dirinya sendiri, tetapi
sebagai Imam Besar pada tahun itu ia bernubuat, bahwa Yesus akan mati untuk
bangsa itu, (52) dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan
dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai”.
Yoh
12:24 - “Aku berkata kepadamu:
Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap
satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah”.
Yoh
12:32-33 - “(32) dan Aku, apabila
Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepadaKu.’
(33) Ini dikatakanNya untuk menyatakan
bagaimana caranya Ia akan mati”.
2Tim
1:9-10 - “(9) Dialah yang menyelamatkan
kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan
kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karuniaNya sendiri, yang telah
dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman (10) dan
yang sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang
oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak
dapat binasa”.
Ibr
2:9,14-15 - “(9) Tetapi Dia, yang untuk
waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat,
yaitu Yesus, kita lihat, yang oleh karena penderitaan maut, dimahkotai dengan
kemuliaan dan hormat, supaya oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi
semua manusia. ... (14) Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan
daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam
keadaan mereka, supaya oleh kematianNya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang
berkuasa atas maut; (15) dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan
mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada
maut”.
Sekarang,
kalau kematian Kristus memang dirancang untuk menebus dosa kita dan untuk
menghancurkan kematian kita, maka tidak mungkin Allah merencanakan kematian
Kristus tanpa merencanakan kematian kita dan juga dosa-dosa kita!
Kalau
di atas saya membahasnya secara theologis, maka sekarang saya akan membahasnya
dengan menunjukkan ayat-ayat Alkitabnya.
II) Alkitab
menunjukkan bahwa kematian manusia sudah ditentukan waktunya oleh Allah, dan ini
tidak bisa diubah, diundur atau dimajukan.
Dasar
Alkitab:
1) Maz
90:10 - “Masa hidup kami
tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya
adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang
lenyap”.
Barnes’
Notes (tentang Maz 90:10):
“All
animals, as the horse, the mule, the elephant, the eagle, the raven, the bee,
the butterfly, have each a fixed limit of life, wisely adapted
undoubtedly to the design for which they were made, and to the highest happiness
of the whole. So of man. There can be no doubt that there are good
reasons - some of which could be easily suggested - why his term of life is no
longer. But, at any rate, it is no longer; and in that brief period he must
accomplish all that he is to do in reference to this world, and all that is to
be done to prepare him for the world to come. It is obvious to remark that man
has enough to do to fill up the time of his life; that life to man is too
precious to be wasted” (= Semua binatang,
seperti kuda, bagal, gajah, burung elang / rajawali, burung gagak, lebah,
kupu-kupu, masing-masing mempunyai suatu batas hidup yang tertentu,
secara bijaksana disesuaikan dengan rancangan untuk mana mereka dibuat, dan bagi
kebahagiaan tertinggi dari seluruhnya. Demikian juga dengan manusia.
Tidak bisa ada keraguan di sana bahwa ada alasan-alasan yang baik - beberapa /
sebagian darinya bisa dengan mudah dipikirkan - mengapa hidupnya tidak lebih
panjang. Tetapi bagaimanapun, itu tidak lebih panjang; dan dalam periode yang
pendek itu ia harus mencapai semua yang harus ia lakukan berkenaan dengan dunia
ini, dan semua itu harus dilakukan untuk mempersiapkan dia untuk dunia yang akan
datang. Adalah jelas untuk mengatakan bahwa manusia mempunyai cukup untuk
dilakukan untuk mengisi waktu dari hidupnya; bahwa hidup bagi manusia adalah
terlalu berharga untuk diboroskan / dihamburkan / disia-siakan).
2)
2Sam 7:12 - “Apabila umurmu sudah genap dan engkau telah
mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangmu, maka Aku akan
membangkitkan keturunanmu yang kemudian, anak kandungmu, dan Aku akan
mengokohkan kerajaannya”.
Saya
berpendapat bahwa kata-kata ‘umurmu
sudah genap’ menunjukkan bahwa umur Daud
(dan semua orang lain) dibatasi oleh Allah, dan kalau batasan itu sudah
sampai, maka dikatakan ‘sudah genap’,
dan orang itu harus mati.
Bandingkan
dengan:
a)
1Taw 17:11 - “Apabila umurmu
sudah genap untuk pergi mengikuti nenek moyangmu, maka Aku akan
membangkitkan keturunanmu yang kemudian, salah seorang anakmu sendiri, dan Aku
akan mengokohkan kerajaannya”.
b)
Rat 4:18 - “Mereka
mengintai langkah-langkah kami, sehingga kami tak dapat berjalan di
lapangan-lapangan kami; akhir hidup kami mendekat, hari-hari kami sudah
genap, ya, akhir hidup kami sudah tiba”.
3)
Mat 6:27 - “Siapakah di antara
kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan
hidupnya?”.
KJV:
‘can add one cubit unto his stature?’
(= dapat menambahkan sehasta pada tinggi badannya?).
RSV:
‘can add one cubit to his span of
life?’ (= bisa menambahkan satu hasta pada masa
/ jangka hidupnya?).
NIV/NASB:
‘can add a single hour to his life?’
(= dapat menambahkan satu jam pada hidupnya?).
Kata
Yunani yang dipakai bisa diterjemahkan seperti KJV ataupun seperti RSV/NIV/NASB,
tetapi menurut saya adalah jelas bahwa terjemahan KJV sama sekali tidak sesuai
dengan kontext dari ayat ini.
Matthew
Henry menganggap bahwa terjemahan KJV lebih cocok, karena menurut dia ukuran ‘hasta’
lebih cocok untuk menunjuk pada tinggi badan, dan usia yang paling lama hanyalah
‘satu telempap’ (Maz 39:6).
Matthew
Henry: “the
age at longest is but a span, Ps 39:5” (= usia / umur paling panjang adalah satu
jengkal, Maz 39:6).
Catatan:
saya tak mengerti mengapa Matthew Henry menggunakan kata ‘span’,
karena ‘span’ (= jengkal) berbeda
dengan ‘handbreadth’ (= telempap).
Maz 39:6
- “Sungguh, hanya beberapa telempap
saja Kautentukan umurku; bagiMu hidupku seperti sesuatu yang hampa. Ya, setiap
manusia hanyalah kesia-siaan! Sela”.
Kata
‘telempap’ dalam bahasa Inggris
diterjemahkan ‘handbreadth’ (=
lebar tangan).
Tetapi
Adam Clarke memilih terjemahan dari RSV/NIV/NASB, dan dalam Yoh 9:21 kata Yunani
yang sama diterjemahkan ‘age’ oleh
KJV/RSV/NIV/NASB.
Yoh
9:21b (KJV): ‘he is of age; ask him: he shall speak for
himself’ (= ia sudah cukup umur; tanyakan kepadanya: ia akan berbicara
untuk dirinya sendiri).
Ukuran
‘hasta’, sekalipun sebenarnya
merupakan ukuran panjang, tetapi bisa digunakan untuk panjangnya umur,
sebagaimana ukuran ‘telempap’,
yang juga merupakan ukuran panjang, digunakan untuk panjangnya umur dalam Maz
39:6.
Saya
juga berpendapat Matthew Henry sangat salah dalam penafsiran, pada waktu ia
menghubungkan Mat 6:27 dengan Maz 39:6, karena 2 alasan:
a)
Dua ayat bisa mengumpamakan usia manusia dengan ukuran yang berbeda,
tetapi maksudnya sama. Baik ‘hasta’
dalam Mat 6:27, maupun ‘telempap’
dalam Maz 39:6, sama-sama menunjuk pada ‘sedikit’.
b)
Kata ‘telempap’ dalam Maz
39:6 dalam bahasa Ibraninya ada dalam bentuk jamak. Kitab Suci Indonesia tepat
dalam menterjemahkan ‘beberapa
telempap’.
Matthew
Henry (tentang Mat 6:27):
“‘Which
of you,’ the wisest, the strongest of you, ‘by taking thought, can add one
cubit to his stature?’ (v. 27) to ‘his age,’ so some; but the measure of
a cubit denotes it to be meant of the stature, and the age at longest is but a
span, Ps 39:5” (= ).
Adam
Clarke (tentang Mat 6:27):
“‘Cubit
unto his stature?’ I think heelikian
should be rendered ‘age’ here, and so our translators have rendered
the word in John 9:21, autos
heelikian echei, he is of age. A
very learned writer observes, that no difficulty can arise from applying
peechun, a cubit,
a measure of extension, to time, and the age of man: as place and time are
both quantities, and capable of increase and diminution: and, as no fixed
material standard can be employed in the mensuration of the fleeting particles
of time, it was natural and necessary, in the construction of language, to
apply parallel terms to the discrimination of time and place. Accordingly, we
find the same words indifferently used to denote time and place in every known
tongue. Lord, let me know the ‘MEASURE’ of my days! Thou hast made my days
‘HAND-BREADTHS,’ Ps 39:5. Many examples might be adduced from the Greek
and Roman writers. Besides, it is evident that the phrase of ‘adding one
cubit’ is proverbial, denoting something minute; and is therefore applicable
to the smallest possible portion of time; but, in a literal acceptation, the
addition of a cubit to the stature, would be a great and extraordinary
accession of height” (= ).
Catatan:
kedua kutipan ini tidak saya terjemahkan karena intinya sudah saya berikan di
atas.
Barnes’
Notes (tentang Mat 6:27):
‘Stature.’
This word means ‘height.’ The original word, however, means oftener
‘age,’ John 9:21: ‘He is of age;’ so also John 9:23. If this be its
meaning here, as is probable (compare Robinson, Lexicon),
it denotes that a man cannot increase the length of his life at all. The
utmost anxiety will not prolong it one hour beyond the time appointed for death”
[= ‘Stature’ / ‘tinggi badan’. Kata ini berarti
‘ketinggian’. Tetapi kata bahasa aslinya lebih sering berarti ‘usia /
umur’, Yoh 9:21: ‘Ia sudah cukup umur’; lihat juga Yoh 9:23. Jika ini
adalah artinya di sini, dan itu memungkinkan (bandingkan Robinson, Lexicon), ini
menunjukkan bahwa seorang manusia tidak bisa menambah panjang hidupnya sama
sekali. Kekuatiran yang terbesar tidak akan memperpanjangnya satu jampun
melebihi waktu yang ditetapkan untuk kematian].
4)
Ibr 9:27 - “Dan sama seperti manusia
ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi”.
Baik
Calvin maupun John Owen mengatakan bahwa memang ada orang-orang yang mati 2 x
seperti Lazarus (dan juga orang-orang yang pernah mati lalu dibangkitkan; mereka
pasti akan mati lagi). Juga ada orang-orang yang tidak pernah mati (Henokh dan
Elia), maupun orang-orang yang masih hidup pada saat Yesus datang kembali,
karena mereka ini akan langsung diubahkan menjadi tubuh kebangkitan (1Kor
15:51).
Semua
ini tidak berarti bahwa Ibr 9:27 ini salah, karena ayat ini hanya bicara tentang
nasib manusia secara umum.
Calvin (tentang Ibr 9:27): “Were
any one to object and say, that some had died twice, such as Lazarus, and not once; the answer would be this, - that
the Apostle speaks here of the ordinary lot of men; but they are to be
excepted from this condition, who shall by an instantaneous change put
corruption, (1 Corinthians 15:51;) for he includes none but those who wait for
a long time in the dust for the redemption of their bodies” (= ).
John Owen: “the
death of all the individuals of mankind by the decretory sentence of God. ...
The instances of those who died not after the manner of other men, as Enoch
and Elijah, or those who, having died once, were raised from the dead and died
again, as Lazarus, give no difficulty herein. They are instances of exemption
from the common rule by mere acts of divine sovereignty; but the apostle
argues from the general rule and constitution, and thereon alone the force of
his comparisons doth depend, and they are not weakened by such exemptions”
(= ).
Catatan:
kedua kutipan ini tidak saya terjemahkan karena intinya sudah saya berikan di
atas.
John Owen:
“It
is appointed, decreed, determined of God, that men, sinful men, shall once die,
and after that come to judgment for their sins” (= Merupakan
sesuatu yang ditetapkan, didekritkan, ditentukan oleh Allah, bahwa manusia,
manusia berdosa, akan mati satu kali, dan setelah itu datang pada penghakiman
untuk dosa-dosa mereka).
John Owen:
“‘It
is ‘appointed,’ ‘determined,’ ‘enacted,’ ‘statutum est.’ It is
so by him who hath a sovereign power and authority in and over these things; and
hath the force of an unalterable law, which none can transgress. God himself
hath thus appointed it; none else can determine and dispose of these things”
(= Itu ‘ditetapkan’, ‘ditentukan’, ‘dijadikan
undang-undang’, ‘statutum est’. Itu adalah demikian oleh Dia yang mempunyai
kuasa dan otoritas yang berdaulat dalam dan atas hal-hal ini; dan mempunyai
kekuatan dari suatu hukum yang tidak bisa diubah, yang tak seorangpun bisa
melanggarnya. Allah sendiri telah menetapkannya demikian; tak ada orang lain
bisa menentukan dan mengatur hal-hal ini).
Bdk.
Kis 17:31 - “Karena Ia telah
menetapkan suatu hari, pada waktu mana Ia dengan adil akan menghakimi dunia oleh
seorang yang telah ditentukanNya, sesudah Ia memberikan kepada semua orang
suatu bukti tentang hal itu dengan membangkitkan Dia dari antara orang
mati.’”.
John Owen:
“The
death of all is equally determined and certain in God’s constitution. It hath
various ways of approach unto all individuals, - hence is it generally looked on
as an accident befalling this or that man, - but the law concerning it is
general and equal” (= Kematian dari semua secara
sama ditentukan dan pasti dalam undang-undang Allah. Kematian mempunyai
bermacam-macam jalan / cara pendekatan kepada semua individu, - karena itu hal
itu pada umumnya dipandang / dianggap sebagai suatu kecelakaan / kebetulan yang
menimpa orang ini atau orang itu, - tetapi hukum berkenaan dengannya adalah umum
dan sama).
John Owen:
“It
is appointed unto them ‘to die;’
- that is, penally for sin, as death was threatened in that penal statute
mentioned in the curse of the law; and death under that consideration alone is
taken away by the death of Christ. The sentence of dying naturally is continued
towards all; but the moral nature of dying, with the consequents of it, is
removed from some by Christ. The law is not absolutely
reversed; but what was formally
penal in it is taken away” (= Ditetapkan
bagi mereka ‘untuk mati’; - yaitu secara hukum untuk dosa, karena kematian
diancamkan dalam undang-undang yang bersifat hukum disebutkan dalam kutuk dari
hukum; dan hanya di bawah pertimbangan itu saja kematian diambil / disingkirkan
oleh kematian Kristus. Pernyataan tentang kematian itu secara alamiah diteruskan
kepada semua orang, tetapi sifat moral dari kematian, dengan
konsekwensi-konsekwensinya, disingkirkan dari sebagian orang oleh Kristus. Hukum
itu tidak secara mutlak dibalikkan; tetapi apa adalah yang hukum secara formal
di dalamnya diambil / disingkirkan).
Jadi, sekalipun
kematian mula-mula datang sebagai hukuman, dan bagi orang Kristen hukuman sudah
dipikul oleh Kristus, tetapi orang Kristen tetap mengalami kematian. Tetapi
kematian itu berubah status, bukan lagi sebagai hukuman dosa, karena hukuman ini
sudah ditanggung oleh Kristus.
5)
Maz 39:5-6 - “(5) ‘Ya TUHAN,
beritahukanlah kepadaku ajalku, dan apa batas umurku, supaya aku mengetahui
betapa fananya aku! (6) Sungguh, hanya beberapa telempap saja Kautentukan umurku; bagiMu hidupku seperti sesuatu yang hampa. Ya,
setiap manusia hanyalah kesia-siaan! Sela”.
KJV:
‘an handbreadth’ (= suatu lebar tangan).
NIV:
‘a mere handbreadth’
(= semata-mata
suatu lebar tangan).
RSV:
‘a few handbreaths’ (= beberapa lebar tangan).
NASB:
‘handbreaths’ (= lebar
tangan).
Catatan:
dalam bahasa Ibrani kata ini ada dalam bentuk jamak, jadi RSV/NASB yang paling
tepat dalam terjemahannya.
Calvin
(tentang Maz 39:6): “A
hand-breadth is the measure of four fingers, and is here taken for a very small
measure; as if it had been said, the life of man flies swiftly away, and the end
of it, as it were, touches the beginning”
(= Suatu telempap adalah ukuran dari empat jari, dan di
sini diartikan untuk suatu ukuran yang sangat kecil; seakan-akan telah
dikatakan, hidup manusia terbang dengan cepat, dan akhir darinya, seakan-akan
menyentuh awalnya).
Spurgeon (tentang Maz 39:6):
“A
handbreadth is one of the shortest natural measures, being the breadth of four
fingers; such is the brevity of life, by divine appointment; God hath made it
so, fixing the period in wisdom” (= Suatu lebar tangan adalah salah satu ukuran alamiah yang
terpendek, yang adalah lebar dari empat jari; demikianlah singkatnya hidup, oleh
penetapan ilahi; Allah telah membuatnya demikian, menetapkan masa / periode itu
dalam hikmat).
6) Ayub 14:5 - “Jikalau hari-harinya
sudah pasti, dan jumlah bulannya sudah tentu padaMu, dan batas-batasnya sudah
Kautetapkan, sehingga tidak dapat dilangkahinya,”.
KJV:
‘Seeing his days are determined, the
number of his months are with thee, thou hast appointed his bounds that he
cannot pass’ (= Melihat hari-harinya ditentukan,
jumlah dari bulan-bulannya ada bersama Engkau, Engkau telah menetapkan
batasan-batasannya yang tidak bisa ia lampaui).
RSV:
‘Since his days are determined, and the
number of his months is with thee, and thou hast appointed his bounds that he
cannot pass’ (= Karena hari-harinya ditentukan,
dan jumlah bulan-bulannya ada bersama Engkau, dan Engkau sudah menentukan
batasan-batasannya yang tidak bisa ia lampaui).
NIV:
‘Man’s days are determined; you have
decreed the number of his months and have set limits he cannot exceed’ (= Hari-hari
manusia ditentukan; Engkau telah mendekritkan jumlah bulan-bulannya dan telah
menetapkan batasan-batasan yang tidak bisa ia lampaui / lebihi).
Bible
Knowledge Commentary (tentang Ayub 14:5): “Not
only is man’s life short; his days and months are determined by God, with time
limits beyond which he cannot go” (= Bukan hanya hidup
manusia itu pendek; hari-harinya dan bulan-bulannya ditentukan oleh Allah,
dengan batasan waktu yang tidak bisa dilampauinya).
Matthew
Henry (tentang Ayub 14:5): “Of the settled period of human life, v. 5. ... Three things we are
here assured of: - (1.) That our life will come to an end; our days upon earth
are not numberless, are not endless, no, they are numbered, and will soon be
finished, Dan 5:26. (2.) That it is determined, in the counsel and decree of
God, how long we shall live and when we shall die. The number of our months is
with God, at the disposal of his power, which cannot be controlled, and under
the view of his omniscience, which cannot be deceived. It is certain that
God’s providence has the ordering of the period of our lives; our times are in
his hand. The powers of nature depend upon
him, and act under him. In him we live and move. Diseases are his servants; he
kills and makes alive. Nothing comes to pass by chance, no, not the execution
done by a bow drawn at a venture. It is therefore certain that God’s
prescience has determined it before; for ‘known unto God are all his
works.’ Whatever he does he determined, yet with a regard partly to the
settled course of nature (the end and the means are determined together) and to
the settled rules of moral government, punishing evil and rewarding good in this
life. We are no more governed by the Stoic’s blind fate than by the
Epicurean’s blind fortune. (3.) That the bounds God has fixed we cannot
pass; for his counsels are unalterable, his foresight being infallible” [= Tentang
periode / masa yang tetap dari hidup manusia, ay 5. ... Di sini kita bisa pasti
tentang tiga hal: - (1.) Bahwa hidup kita akan berakhir; hari-hari kita di bumi
bukanlah tak terhitung, bukanlah tanpa akhir, tidak, hari-hari itu dihitung, dan
akan segera habis, Dan 5:26. (2.) Bahwa itu ditentukan, dalam rencana dan
dekrit dari Allah, berapa lama kita akan hidup dan kapan kita akan mati. Jumlah
dari bulan-bulan kita ada bersama Allah, diatur oleh kuasaNya, yang tidak bisa
dikontrol, dan ada di bawah pandangan dari kemahatahuanNya, yang tidak bisa
ditipu. Adalah pasti bahwa Providensia Allah mempunyai pengaturan dari masa
hidup kita; waktu kita ada dalam tanganNya. Kuasa-kuasa dari alam tergantung kepada Dia, dan bertindak di bawah Dia.
Dalam Dia kita hidup dan bergerak (Kis
17:28). Penyakit-penyakit adalah
pelayan-pelayanNya; ‘Ia mematikan dan menghidupkan’ (Ul 32:39
1Sam 2:6). Tak ada apapun terjadi secara kebetulan, tidak, bahkan tidak eksekusi
yang dilakukan oleh suatu busur yang ditarik secara sembarangan (1Raja
22:34). Karena itu adalah pasti bahwa
pra pengetahuan Allah telah menentukannya sebelumnya; karena ‘diketahui
oleh Allah semua pekerjaanNya’ (Kis 15:18). Apapun yang Ia lakukan Ia tentukan lebih dulu, tetapi sambil memberi
sebagian perhatian pada jalan alam yang ditentukan (tujuan / akhir dan cara /
jalannya ditentukan bersama-sama) dan pada peraturan-peraturan yang ditetapkan
dari pemerintahan moral, penghukuman kejahatan dan pemberian pahala bagi
kebaikan dalam hidup ini. Kita tidak diperintah oleh takdir buta dari golongan
Stoa maupun oleh keberuntungan buta dari golongan Epikuros. (3.) Bahwa
batasan-batasan yang telah Allah tetapkan / tentukan tidak bisa kita lampaui;
karena rencanaNya tidak bisa berubah, pra penglihatanNya tidak bisa salah].
Ul
32:39 - “Lihatlah sekarang, bahwa Aku,
Akulah Dia. Tidak ada Allah kecuali Aku. Akulah yang mematikan dan yang
menghidupkan, Aku telah meremukkan, tetapi Akulah yang menyembuhkan, dan
seorangpun tidak ada yang dapat melepaskan dari tanganKu”.
1Sam 2:6
- “TUHAN mematikan dan menghidupkan,
Ia menurunkan ke dalam dunia orang mati dan mengangkat dari sana”.
Kis
17:28a - “Sebab di dalam Dia kita
hidup, kita bergerak, kita ada”.
Kis
15:18 (KJV): ‘Known unto God are all his works from the beginning of the
world’ (= Diketahui
oleh Allah semua pekerjaanNya sejak permulaan dunia).
Catatan:
kalau Golongan Stoa percaya adanya takdir yang bahkan ada di atas Allah, maka
golongan Epikuros percaya bahwa segala sesuatu terjadi secara kebetulan. Kedua
golongan ini muncul dalam Kis 17:18.
Barnes’
Notes (tentang Ayub 14:5):
“The
word ‘determined’ here means ‘fixed, settled.’ God has fixed the number
of his days, so that they cannot be exceeded;
compare the notes at Isa 10:23, and Ps 90:10. ‘The
number of his months are with thee.’ Thou hast the ordering of them, or
they are determined by thee. ‘Thou hast appointed his bounds.’ Thou hast
fixed a limit, or hast determined the time which he is to live, and he cannot go
beyond it. There is no elixir of life that can prolong our days beyond that
period. Soon we shall come to that outer limit of life, and then we MUST DIE.
When that is we know not, and it is not desirable to know. It is better that it
should be concealed. If we knew that it was near, it would fill us with gloom,
and deter us from the efforts and the plans of life altogether. If it were
remote, we should be careless and secure, and should think there was time enough
yet to prepare to die. As it is, we know that the period is not very far
distant; we know not but that it may be very near at hand, and we would be
always ready”
(= Kata ‘ditentukan’ di sini berarti
‘tertentu, tetap’. Allah telah menetapkan jumlah hari-harinya, sehingga
hari-hari itu tidak bisa dilampaui;
bandingkan dengan catatan pada Yes 10:23, dan Maz 90:10. ‘Jumlah
bulan-bulannya ada bersama Engkau’. Engkau mempunyai pengaturan / pemerintahan
dari bulan-bulan itu, atau bulan-bulan itu ditentukan olehMu. ‘Engkau telah
menetapkan batasan-batasannya’. Engkau telah menetapkan suatu batasan, atau
telah menentukan waktu untuk mana ia harus hidup, dan ia tidak dapat
melampauinya. Tidak ada obat yang mujarab yang bisa memperpanjang hari-hari kita
melampaui masa / periode itu. Segera kita akan sampai pada batasan luar dari
kehidupan itu, dan lalu kita HARUS MATI. Kapan itu kita tidak tahu, dan
bukan sesuatu yang bagus / menyenangkan untuk tahu. Adalah lebih baik bahwa hal
itu disembunyikan. Jika kita tahu bahwa itu sudah dekat, itu akan memenuhi kita
dengan kemurungan, dan menghalangi kita sama sekali dari usaha-usaha dan
rencana-rencana kehidupan. Jika itu masih jauh, kita akan menjadi ceroboh dan
merasa aman, dan berpikir bahwa masih ada waktu yang cukup untuk mempersiapkan
diri untuk mati. Sebagaimana adanya, kita tahu bahwa masa itu tidak terlalu
jauh; kita tidak tahu kecuali bahwa itu bisa sangat dekat, dan kita akan selalu
siap).
Yes
20:23 - “Sungguh, kebinasaan yang sudah
pasti akan dilaksanakan di atas seluruh bumi oleh Tuhan, TUHAN semesta alam”.
Maz
90:10 - “Masa hidup kami tujuh puluh
tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah
kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang
lenyap”.
7)
Yak 4:13-15 - “(13) Jadi
sekarang, hai kamu yang berkata: ‘Hari ini atau besok kami berangkat ke kota
anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat
untung’, (14) sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti
hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.
(15) Sebenarnya kamu harus berkata: ‘Jika Tuhan menghendakinya, kami akan
hidup dan berbuat ini dan itu.’”.
Adam
Clarke (tentang Yak 4:13):
“‘To-day,
or tomorrow, we will go.’ This presumption on a precarious life is here well
reproved; and the ancient Jewish rabbis have some things on the subject which
probably James had in view. In Debarim Rabba, sec. 9, fol. 261, 1, we have the
following little story: ‘Our rabbis tell us a story which happened in the days
of Rabbi Simeon, the son of Chelpatha. He was present at the circumcision of a
child, and stayed with its father to the entertainment. The father brought out
wine for his guests that was seven years old, saying, With this wine will I
continue for a long time to celebrate the birth of my new-born son. They
continued supper until midnight. At that time Rabbi Simeon arose and went out,
that he might return to the city in which he dwelt. On the way he saw the angel
of death walking up and down. He said to him, Who art thou? He answered, I am
the messenger of God. The rabbi said, Why wanderest thou about thus? He
answered, I kill those persons who say, We will do this, or that, and think not
how soon death may overpower them: that man with whom thou hast cupped, and who
said to his guests, With this wine will I continue for a long time to celebrate
the birth of my new-born son, behold the end of his life is at hand, for he
shall die within thirty days.’ By this parable they teach the necessity of
considering the shortness and uncertainty of human life; and that God is
particularly displeased with those people: ‘Who, counting on long years of
pleasure here, Are quite unfurnished for a world to come.’”
(= ‘Hari ini, atau besok, kami akan pergi’.
Anggapan / kesombongan tentang hidup yang tergantung pada kehendak ‘Orang
lain’ ini di sini dengan benar ditegur; dan rabi-rabi Yahudi kuno mempunyai
beberapa hal tentang pokok yang mungkin ada dalam pandangan Yakobus. Dalam
Debarim Rabba, sec. 9, fol. 261, 1, kami mempunyai cerita pendek sebagai
berikut: ‘Rabi-rabi kita menceritakan kepada kita suatu cerita yang terjadi
pada jaman Rabi Simeon, anak dari Chelpatha. Ia hadir pada penyunatan seorang
anak laki-laki, dan tinggal dengan ayah anak itu sampai pada acara hiburan. Ayah
itu membawa keluar anggur berusia 7 tahun untuk tamu-tamunya, sambil berkata,
Dengan anggur ini aku akan terus merayakan, untuk waktu yang lama, kelahiran
dari anak laki-lakiku yang baru lahir. Mereka melanjutkan makan malam sampai
tengah malam. Pada saat itu Rabi Simeon bangkit dan keluar, supaya ia bisa
kembali ke kota dalam mana ia tinggal. Dalam perjalanan ia melihat malaikat maut
berjalan naik dan turun. Ia berkata kepadanya, Siapakah engkau? Ia menjawab, Aku
adalah utusan Allah. Sang rabi berkata, Mengapa engkau berkeliling-keliling
seperti ini? Ia menjawab, Aku membunuh orang-orang itu yang berkata, Kami akan
berbuat ini, atau itu, dan tidak berpikir betapa cepat kematian bisa mengalahkan
mereka: orang itu dengan siapa engkau telah minum anggur, dan yang berkata
kepada tamu-tamunya, Dengan anggur ini aku akan terus merayakan, untuk waktu
yang lama, kelahiran dari anak laki-lakiku yang baru lahir, lihatlah akhir dari
hidupnya sudah dekat, dan ia akan mati dalam 30 hari’. Dengan perumpamaan ini
mereka mengajar perlunya mempertimbangkan pendeknya dan tidak tentunya hidup
manusia dan bahwa Allah secara khusus tidak senang dengan orang-orang itu:
‘Yang, memperhitungkan tahun-tahun yang panjang dari kesenangan di sini, dan
tidak bersiap sedia untuk dunia yang akan datang’.).
Calvin (tentang Yak
4:13): “He
condemns here another kind of presumption, that many, who ought to have depended
on God’s providence, confidently settled what they were to do, and arranged
their plans for a long time, as though they had many years at their own
disposal, while they were not sure, no not even of one moment. Solomon also
sharply ridicules this kind of foolish boasting, when he says that ‘men settle
their ways in their heart, and that the Lord in the mean time rules the
tongue.’ (Proverbs 16:1.) And it is a very insane thing to undertake to
execute what we cannot pronounce with our tongue. James does not reprove the
form of speaking, but rather the arrogance of mind, that men should forget their
own weakness, and speak thus presumptuously; ... James roused the stupidity
of those who disregarded God’s providence, and claimed for themselves a whole
year, though they had not a single moment in their own power; the gain which
was afar off they promised to themselves, though they had no possession of that
which was before their feet” [= Di sini ia mengecam suatu jenis lain
dari kesombongan, dimana banyak orang, yang seharusnya menggantungkan diri pada
Providensia Allah, dengan yakin menentukan apa yang akan mereka lakukan, dan
mengatur rencana-rencana mereka untuk waktu yang lama, seakan-akan mereka
mempunyai banyak tahun yang tersedia bagi mereka, padahal mereka tidak pasti,
tidak, bahkan tidak untuk sesaaatpun. Salomo juga dengan tajam mentertawakan /
mengejek jenis dari pembanggaan tolol ini, pada waktu ia berkata bahwa
‘manusia menentukan jalan-jalan mereka dalam hati mereka, dan bahwa pada waktu
yang sama Tuhan memerintah / menguasai lidah’. (Amsal 16:1). Dan merupakan hal
yang sangat gila untuk berusaha melakukan apa yang tidak bisa kita ucapkan
dengan lidah kita. Yakobus tidak mencela bentuk dari pembicaraan ini, tetapi
lebih mencela kesombongan dari pikiran, bahwa manusia melupakan kelemahan
mereka, dan berbicara dengan begitu sombong; ... Yakobus
membangunkan kebodohan dari mereka yang tidak mempedulikan Providensia Allah,
dan mengclaim bagi diri mereka sendiri seluruh tahun, sekalipun mereka tidak
mempunyai satu saatpun dalam kuasa mereka sendiri;
keuntungan yang masih jauh mereka janjikan kepada diri mereka sendiri, sekalipun
mereka tidak memiliki apa yang ada di depan kaki mereka].
Amsal
16:1 - “Manusia dapat menimbang-nimbang
dalam hati, tetapi jawaban lidah berasal dari pada TUHAN”.
NASB:
‘The plans of the heart belong to man, But the answer
of the tongue is from
the LORD’
(= Rencana-rencana
dari hati adalah milik manusia, Tetapi jawaban lidah adalah dari TUHAN).
Calvin (tentang Yak
4:15): “‘If
the Lord will.’
A twofold condition is laid down, ‘If we shall live so long,’ and,
‘If the Lord will;’ because many things may intervene to upset what we may
have determined; for we are blind as to all future events. By ‘will’ he
means not that which is expressed in the law, but God’s counsel by which he
governs all things”
(= ‘Jika Tuhan menghendaki’. Suatu syarat rangkap
dua diberikan, ‘Jika kita akan hidup selama itu’, dan ‘Jika Tuhan
menghendaki’; karena banyak hal bisa menghalangi untuk mengacaukan apa yang
telah kita tentukan; karena kita buta berkenaan dengan semua peristiwa-peristiwa
yang akan datang. Dengan ‘kehendak’ ia tidak memaksudkan apa yang
dinyatakan dalam hukum Taurat, tetapi rencana Allah dengan mana Ia memerintah
segala sesuatu).
Editor dari Calvin’s Commentary (John
Owen): “The
words may be rendered thus, ‘If the Lord will, we shall both live and do this
or that.’ So that living and doing are both dependent on God’s will” (= Kata-kata itu bisa diterjemahkan demikian,
‘Jika Tuhan menghendaki, kita akan hidup dan melakukan ini atau itu’. Jadi
/ sehingga ‘hidup’ dan ‘berbuat’ keduanya tergantung kehendak Allah) - hal 341 (footnote).
Matthew
Henry (tentang Yak 4:15):
“We
must remember that our times are not in our own hands, but at the disposal of
God; we live as long as God appoints, and in the circumstances God
appoints, and therefore must be submissive to him, even as to life itself”
(= Kita harus ingat bahwa waktu kita tidak berada dalam tangan kita sendiri,
tetapi ada dalam kontrol Allah; kita hidup selama Allah menetapkan, dan
dalam keadaan-keadaan yang Allah tetapkan, dan karena itu harus tunduk kepada
Dia, bahkan berkenaan dengan hidup itu sendiri).
Barnes’
Notes (tentang Yak 4:15):
“‘If
the Lord will ...’ This is proper, because we are wholly dependent on him
for life, and as dependent on him for success” (= ‘Jika Tuhan
menghendaki ...’. Ini tepat / benar, karena kita sepenuhnya tergantung
kepadaNya untuk kehidupan, dan sama tergantungnya kepadaNya untuk
kesuksesan).
Jamieson,
Fausset & Brown (Yak 4:15): “‘We shall live.’ ‘We shall both
live and do,’ etc. The boaster spoke as if life and the particular action
were in their power; whereas both depend entirely on the will of the Lord”
(= ‘Kita akan hidup’. ‘Kita akan hidup dan
berbuat / melakukan’ dst. Sang pembangga berbicara seakan-akan hidup dan
tindakan khusus itu ada dalam kuasa mereka, padahal keduanya tergantung
sepenuhnya pada kehendak Tuhan).
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali