Pemahaman Alkitab

 

(online)

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

 

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

 

Selasa, tgl 17 Desember 2024, pk 18.30

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

Roma Katolik

 

vs

 

Kristen Protestan (12k)

 

 

Martin Luther(11)

 

David Schaff: “Luther’s sojourn in this romantic solitude extended through nearly eleven months, and alternated between recreation and work, health and sickness, high courage and deep despondency. Considering that he there translated the New Testament, it was the most useful year of his life. He gives a full description of it in letters to his Wittenberg friends, especially to Spalatin and Melanchthon, which were transmitted by secret messengers, and dated from ‘Patmos,’ or ‘the wilderness,’ from ‘the region of the air,’ or ‘the region of the birds.’” [= Masa tinggal Luther di kesendirian romantis ini berlangsung hampir sebelas bulan, penuh dengan pergantian antara rekreasi dan kerja, kesehatan dan sakit, keberanian tinggi dan keputusasaan mendalam. Mengingat bahwa selama di sana ia menerjemahkan Perjanjian Baru, periode ini menjadi salah satu tahun paling berguna dalam hidupnya. Luther memberikan gambaran yang lengkap tentang pengalamannya dalam surat-surat kepada teman-temannya di Wittenberg, terutama kepada Spalatin dan Melanchthon. Surat-surat itu dikirim melalui kurir rahasia dan diberi tanggal dari tempat-tempat yang ia juluki sebagai ‘Patmos,’ atau ‘padang gurun,’ serta ‘wilayah udara’ atau ‘wilayah burung.’] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 333-334.

 

David Schaff: “He was known and treated during this episode as Knight George. He exchanged the monastic gown for the dress of a gentleman, let his hair and beard grow, wore a coat of mail, a sword, and a golden chain, and had to imitate courtly manners. He was served by two pages, who brought the meals to his room twice a day. His food was much better than be had been accustomed to as a monk, and brought on dyspepsia and insomnia. He enjoyed the singing of the birds, ‘sweetly lauding God day and night with all their strength.’ He made excursions with an attendant. Sometimes he took a book along, but was reminded that a Knight and a scholar were different beings. He engaged in conversation on the way, with priests and monks, about ecclesiastical affairs, and the uncertain whereabouts of Luther, till he was requested to go on. He took part in the chase, but indulged in theological thoughts among the huntsmen and animals. ‘We caught a few hares and partridges,’ he said, ‘a worthy occupation for idle people.’ The nets and dogs reminded him of the arts of the Devil entangling and pursuing poor human souls. He sheltered a hunted hare, but the dogs tore it to pieces; this suggested to him the rage of the Devil and the Pope to destroy those whom he wished to preserve. It would be better, he thought, to hunt bears and wolves.” [= Selama episode ini, Luther dikenal dan diperlakukan sebagai Ksatria Georg. Ia mengganti jubah biarawannya dengan pakaian seorang lelaki terhormat, membiarkan rambut dan janggutnya tumbuh panjang, mengenakan baju zirah, pedang, dan suatu rantai emas, serta harus meniru tata krama istana. Ia dilayani oleh dua pelayan muda yang membawakan makanannya dua kali sehari. Makanannya jauh lebih baik daripada yang biasa ia nikmati sebagai seorang biarawan, tetapi hal ini menyebabkan gangguan pencernaan dan insomnia. Luther menikmati nyanyian burung-burung, yang menurutnya ‘memuji Allah siang dan malam dengan segenap kekuatan mereka.’ Ia sesekali pergi berjalan-jalan dengan seorang pendamping, terkadang membawa buku, tetapi ia diingatkan bahwa seorang ksatria dan seorang sarjana adalah sosok yang berbeda. Dalam perjalanan, ia berbincang dengan imam dan biarawan tentang urusan gereja dan keberadaan Luther yang tidak diketahui, hingga akhirnya diminta untuk melanjutkan perjalanannya. Luther juga ikut serta dalam perburuan, tetapi pikiran theologisnya tetap muncul di antara para pemburu dan binatang yang diburu. ‘Kami menangkap beberapa kelinci dan burung puyuh,’ katanya, ‘pekerjaan yang layak untuk orang yang malas / menganggur.’ Jaring dan anjing pemburu mengingatkannya pada tipu daya setan yang menangkap dan mengejar jiwa manusia yang malang. Dalam suatu kesempatan, ia mencoba melindungi seekor kelinci buruan, tetapi anjing-anjing mengoyak-ngoyaknya. Peristiwa ini mengilustrasikan baginya kemarahan setan dan Paus yang ingin menghancurkan mereka yang ingin ia selamatkan. Ia berpikir bahwa lebih baik berburu beruang dan serigala.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 334.

 

David Schaff: He had many a personal encounter with the Devil, whose existence was as certain to him as his own. More than once he threw the inkstand at him - not literally, but spiritually. His severest blow at the archfiend was the translation of the New Testament. His own doubts, carnal temptations, evil thoughts, as well as the dangers threatening him and his work from his enemies, projected themselves into apparitions of the prince of darkness. He heard his noises at night, in a chest, in a bag of nuts, and on the staircase ‘as if a hundred barrels were rolled from top to bottom.’ Once he saw him in the shape of a big black dog lying in his bed; he threw the creature out of the window; but it did not bark, and disappeared. Sometimes he resorted to jokes. The Devil, he said, will bear any thing better than to be despised and laughed at.” [= Luther sering mengalami perjumpaan pribadi dengan setan, yang keberadaannya ia yakini sejelas keberadaannya sendiri. Beberapa kali ia ‘melemparkan tempat tinta’ ke arah Iblis - bukan secara harafiah, tetapi secara rohani. Pukulan terberatnya terhadap musuh besar itu adalah terjemahan Perjanjian Baru. Keraguan pribadinya, godaan daging, pikiran jahat, serta bahaya yang mengancam dirinya dan pekerjaannya dari para musuhnya sering kali ia anggap sebagai perwujudan dari pangeran kegelapan. Ia mendengar suara-suara aneh pada malam hari - di dalam peti, kantong kacang, atau di tangga, ‘seperti ada seratus barel yang digulingkan dari atas ke bawah.’ Pernah, ia melihat dia / setan dalam bentuk seekor anjing hitam besar yang berbaring di ranjangnya; Ia melemparkan makhluk itu keluar dari jendela, tetapi anjing itu tidak menggonggong dan segera menghilang. Kadang-kadang, Luther melawan Iblis dengan humor. Ia berkata bahwa setan bisa menanggung segalanya kecuali dihina dan ditertawakan.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 334-335.

 

David Schaff: “Luther was brought up in all the mediaeval superstitious concerning demons, ghosts, witches, and sorcerers. His imagination clothed ideas in concrete, massive forms. The Devil was to him the personal embodiment of all evil and mischief in the world. Hence he figures very largely in his theology and religious experience. He is the direct antipode of God, and the archfiend of Christ and of men. As God is pure love, so the Devil is pure selfishness, hatred, and envy. He is endowed with high intellectual gifts, as bad men often surpass good men in prudence and understanding. He was originally an archangel, but moved by pride and envy against the Son of God, whose incarnation and saving work he foresaw, he rose in rebellion against it. He commands an organized army of fallen angels and bad men in constant conflict with God and the good angels. He is the god of this world, and knows how to rule it. He has power over nature, and can make thunder and lightning, hail and earthquake, fleas and bed-bugs. He is the ape of God. He can imitate Christ, and is most dangerous in the garb of an angel of light. He is most busy where the Word of God is preached. He is proud and haughty, although he can appear most humble. He is a liar and a murderer from the beginning. He understands a thousand arts. He hates men because they are creatures of God. He is everywhere around them, and tries to hurt and seduce them. He kindles strife and enmity. He is the author of all heresies and persecutions. He invented popery, as a counterpart of the true kingdom of God. He inflicts trials, sickness, and death upon individuals. He tempts them to break the Ten Commandments, to doubt God’s word, and to blaspheme. He leads into infidelity and despair. He hates matrimony, mirth, and music. He can not bear singing, least of all ‘spiritual songs.’ He holds the human will captive, and rides it as his donkey. He can quote Scripture, but only as much of it as suits his purpose. A Christian should know that the Devil is nearer him than his coat or shirt, yea, than his own skin. Luther reports that he often disputed with the Devil in the night, about the state of his soul, so earnestly that he himself perspired profusely, and trembled. Once the Devil told him that he was a great sinner. ‘I knew that long ago,’ replied Luther, ‘tell me something new. Christ has taken my sins upon himself, and forgiven them long ago. Now grind your teeth.’ At other times he returned the charge and tauntingly asked him, ‘Holy Satan, pray for me,’ or ‘Physician, cure thyself.’ The Devil assumes visible forms, and appears as a dog or a hog or a goat, or as a flame or star, or as a man with horns. He is noisy and boisterous. He is at the bottom of all witchcraft and ghost-trickery. He steals little children and substitutes others in their place, who are mere lumps of flesh and torment the parents, but die young. Luther was disposed to trace many mediaeval miracles of the Roman Catholic Church to the agency of Satan. He believed in daemones incubos et succubos.” [= Luther dibesarkan dalam keyakinan akan takhyul abad pertengahan tentang setan / roh jahat, hantu, penyihir, dan tukang sihir. Imajinasi Luther sering kali menggambarkan gagasan-gagasannya dalam bentuk-bentuk konkret dan besar. Baginya, setan adalah perwujudan pribadi dari segala kejahatan dan kerusakan di dunia. Oleh karena itu, setan memainkan peran besar dalam theologia dan pengalaman religiusnya. Luther memandang Setan sebagai lawan langsung Allah dan musuh utama Kristus serta manusia. Sebagaimana Allah adalah cinta yang murni, setan adalah keegoisan, kebencian, dan iri hati yang murni. Setan diberi kecerdasan tinggi, karena sering kali orang jahat lebih unggul daripada orang baik dalam kebijaksanaan dan pemahaman. Ia awalnya adalah seorang penghulu malaikat, tetapi karena kesombongan dan iri hati terhadap Anak Allah - yang inkarnasi dan karya keselamatannya telah ia ramalkan - ia memberontak melawan Allah. Setan memimpin pasukan terorganisir yang terdiri dari malaikat-malaikat yang jatuh dan orang-orang jahat, yang terus-menerus berkonflik dengan Allah dan malaikat-malaikat yang baik. Ia adalah ‘dewa / allah dunia ini’ dan mengetahui cara mengendalikannya. Ia memiliki kuasa atas alam, dapat menciptakan badai, petir, hujan es, gempa bumi, hingga hal-hal kecil seperti kutu dan serangga pengganggu. Setan adalah ‘peniru Allah,’. Ia bisa meniru Kristus dan paling berbahaya ketika menyamar sebagai ‘malaikat terang.’ Ia paling aktif dimana Firman Allah diberitakan. Ia sombong sekalipun ia bisa tampil sangat rendah hati. Setan adalah pembohong dan pembunuh sejak awal. Ia menguasai seribu / banyak seni tipu daya. Ia membenci manusia karena mereka adalah ciptaan Allah. Ia selalu berada di sekitar manusia, mencoba melukai dan menggoda mereka. Ia menimbulkan perselisihan dan permusuhan. Ia menjadi pencipta dari semua ajaran sesat dan penganiayaan. Ia menciptakan kepausan, sebuah tandingan palsu dari kerajaan Allah yang sejati. Ia menyebabkan penderitaan, penyakit, dan kematian terhadap individu-individu. Ia menggoda mereka untuk melanggar Sepuluh Perintah Allah, meragukan Firman Allah, dan menghujat. Ia membawa manusia ke dalam ketidakpercayaan / ketidaksetiaan dan keputusasaan. Ia membenci pernikahan, kegembiraan, dan musik, terutama ‘lagu-lagu rohani.’ Ia menguasai kehendak manusia dan mengendarainya sebagai keledainya. Bahkan, ia dapat mengutip Kitab Suci, tetapi hanya untuk memenuhi tujuannya sendiri. Seorang Kristen harus tahu bahwa setan lebih dekat kepadanya dari pada mantel atau bajunya, bahkan dari pada kulitnya sendiri. Luther melaporkan bahwa ia sering berdebat dengan Setan di malam hari tentang keadaan jiwanya, dengan begitu bersungguh-sungguh sehingga ia berkeringat deras dan gemetar. Suatu kali, setan menuduhnya sebagai pendosa besar. ‘Aku sudah tahu itu sejak lama’, jawab Luther, ‘katakan kepadaku sesuatu yang baru. Kristus telah menanggung dosaku dan mengampuninya sejak dulu. Sekarang, gigitlah gigimu.’ Pada kesempatan lain, ia mengejek setan dengan berkata, ‘Iblis yang suci, doakan aku,’ atau ‘Dokter, sembuhkanlah dirimu sendiri.’ Setan, menurut Luther, sering muncul dalam bentuk nyata, seperti anjing, babi, kambing, api, bintang, atau bahkan manusia dengan tanduk. Ia berisik dan gaduh, menjadi penyebab utama sihir dan tipu muslihat hantu. Ia mencuri anak-anak kecil dan menggantinya dengan sosok yang hanya berupa gumpalan daging yang menyiksa orang tua mereka dan mati muda. Luther cenderung untuk melacak banyak mujizat abad pertengahan dari Gereja Katolik Roma sebagai pekerjaan Iblis. Ia percaya pada keberadaan daemones incubos et succubos, roh jahat laki-laki dan perempuan yang dianggap bisa melakukan hubungan sex dengan manusia.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 335-337.

 

Catatan: tentang daemones incubos et succubos lihat link di bawah ini:

https://nationalgeographic.grid.id/read/133875819/incubus-iblis-yang-gemar-merudapaksa-di-mitologi-abad-pertengahan?page=all

 

David Schaff: “But, after all, the Devil has no real power over believers. He hates prayer, and flees from the cross and from the Word of God as from a flaming fire. If you cannot expel him by texts of Holy Scripture, the best way is to jeer and flout him. A pious nun once scared him away by simply saying: ‘Christiana sum.’ Christ has slain him, and will cast him out at last into the fire of hell. Hence Luther sings in his battle hymn, -

‘And let the Prince of ill

Look grim as e’er he will,

He harms us not a whit:

For why? His doom is writ,

One little word shall slay him.’” [= Namun bagaimanapun, setan tidak memiliki kuasa sungguh-sungguh atas orang-orang percaya. Ia membenci doa dan lari dari salib serta Firman Allah seperti dari api yang menyala-nyala. Jika tidak dapat mengusirnya dengan ayat-ayat Kitab Suci, cara terbaik adalah mengejek dan mencemoohnya. Seorang biarawati saleh pernah berhasil menakutinya hanya dengan mengatakan, ‘Christiana sum’ (Aku seorang Kristen). Kristus telah mengalahkannya dan pada akhirnya akan melemparkannya ke dalam api neraka. Maka Luther menyanyikan dalam himne pertempurannya:

‘Dan biarlah Pangeran kejahatan

Menggertakkan wajahnya semengerikan apa pun,

Ia tidak dapat menyakiti kita sedikit pun:

Mengapa? Karena hukumnya telah ditulis,

Satu kata kecil saja akan membunuhnya.’] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 337.

 

David Schaff: “Luther was at times deeply dejected in spirit. He wrote to Melanchthon, July 13, under the influence of dyspepsia which paints every thing in the darkest colors: ‘You elevate me too high, and fall into the serious error of giving me too much credit, as if I were absorbed in God’s cause. This high opinion of yours confounds and racks me, when I see myself insensible, hardened, sunk in idleness, alas! seldom in prayer, and not venting one groan over God’s Church. My unsubdued flesh burns me with devouring fire. In short, I who ought to be eaten up with the spirit, am devoured by the flesh, by luxury, indolence, idleness, somnolence. Is it that God has turned away from me, because you no longer pray for me? You must take my place; you, richer in God’s gifts, and more acceptable in his sight. Here, a week has passed away since I put pen to paper, since I have prayed or studied, either vexed by fleshly cares, or by other temptations. If things do not improve, I will go to Erfurt without concealment; there you will see me, or I you, for I must consult physicians or surgeons. Perhaps the Lord troubles me so much in order to draw me from this wilderness before the public.’” [= Luther terkadang mengalami kejatuhan semangat yang mendalam. Pada 13 Juli, di bawah pengaruh gangguan pencernaan yang membuat segalanya tampak suram, ia menulis kepada Melanchthon: ‘Kamu menilai saya terlalu tinggi, dan membuat kesalahan serius dengan memberikan saya terlalu banyak pujian, seolah-olah saya benar-benar tenggelam dalam perkara Allah. Pandanganmu yang tinggi ini membingungkan dan menyiksa saya, terutama ketika saya melihat diri saya tidak peka, mengeras, tenggelam dalam kemalasan; sayangnya, jarang berdoa, dan tidak menumpahkan satu keluhan pun untuk Gereja Allah. Daging saya yang belum ditaklukkan membakar saya dengan api yang menghanguskan. Singkatnya, saya yang seharusnya dipenuhi oleh Roh, justru dilahap oleh daging, oleh kemewahan, kemalasan, kelambanan, dan kantuk. Apakah Allah telah berpaling dari saya, karena kamu tidak lagi mendoakan saya? Kamu harus menggantikan tempat saya; kamu yang lebih kaya dalam karunia Allah dan lebih diterima di hadapanNya. Di sini, sudah seminggu berlalu sejak saya menulis, berdoa, atau belajar, karena terganggu oleh urusan duniawi atau godaan lainnya. Jika keadaan tidak membaik, saya akan pergi ke Erfurt tanpa menyembunyikannya; di sana kamu akan melihat saya, atau saya melihat kamu, karena saya harus berkonsultasi dengan dokter atau ahli bedah. Mungkin Tuhan membuat saya menderita begitu banyak untuk menarik saya keluar dari tempat terpencil ini sebelum kembali ke publik.’] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 337-338.

 

David Schaff: “Notwithstanding his complaints of illness and depression, and assaults from the evil spirit, he took the liveliest interest in the events of the day, and was anxious to descend to the arena of conflict. He kept writing letters, books, and pamphlets, and sent them into the world. His literary activity during those few months is truly astounding, and contrasts strangely with his repeated lament that he had to sit idle at Patmos, and would rather be burned in the service of God than stagnate there.” [= Meskipun Luther sering mengeluhkan penyakit, depresi, dan serangan dari roh jahat, ia tetap menunjukkan minat yang besar terhadap peristiwa-peristiwa di zamannya dan sangat ingin turun ke arena konflik. Ia terus menulis surat, buku, dan pamflet yang kemudian disebarkan ke seluruh dunia. Aktivitas literaturnya selama beberapa bulan itu sungguh luar biasa dan menjadi kontras yang mencolok dengan keluhannya yang berulang kali bahwa ia merasa harus duduk diam di ‘Patmos’ dan lebih memilih dibakar dalam pelayanan kepada Allah daripada terjebak dalam stagnasi di sana.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 338.

 

David Schaff: “He had few books in the Wartburg. He studied the Greek and Hebrew Scriptures very diligently; he depended for news on the letters of his friends at Wittenberg; and for his writings, on the resources of his genius.” [= Di Wartburg, Luther hanya memiliki sedikit buku. Namun, ia mempelajari Kitab Suci dalam bahasa Yunani dan Ibrani dengan sangat tekun; untuk mendapatkan berita, ia mengandalkan surat-surat dari teman-temannya di Wittenberg; dan untuk karya-karyanya, ia sepenuhnya bergantung pada sumber daya jeniusnya sendiri.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 338.

 

David Schaff: “He continued his great Latin commentary on the Psalms, dwelling most carefully on Psalm 22 with reference to the crucifixion, and wrote special expositions of Psalms 68 and 37. He completed his book on the Magnificat of the Holy Virgin, in which he still expresses his full belief in her sinlessness, even her immaculate conception. He attacked auricular confession, which was now used as a potent power against the reading of Protestant books, and dedicated the tract to Sickingen (June 1). He resumed his sermons on the Gospels and Epistles of the church year (Kirchenpostille), which were afterwards finished by friends, and became one of the most popular books of devotion in Germany. He declared it once the best book he ever wrote, one which even the Papists liked. He replied in Latin to Latomus, a Louvain theologian. He attacked in Latin and German the doctrine of the mass, which is the very heart of Roman Catholic worship, and monastic vows, the foundation of the monastic system. He dedicated the book against vows to his father who had objected to his becoming a monk.” [= Ia melanjutkan karya besarnya, komentar dalam bahasa Latin atas Kitab Mazmur, memberikan perhatian khusus pada Maz 22, yang berhubungan dengan penyaliban, serta menulis exposisi khusus untuk Maz 68 dan 37. Ia juga menyelesaikan bukunya tentang Magnificat Perawan Maria, di mana ia masih menyatakan keyakinannya sepenuhnya pada kesucian Maria, bahkan konsepsinya tanpa noda (immaculate conception). Luther mulai menyerang praktik pengakuan dosa secara lisan (auricular confession), yang pada saat itu digunakan sebagai alat kuat untuk melawan pembacaan buku-buku Protestan. Ia mendedikasikan risalah tersebut kepada Franz von Sickingen (1 Juni). Ia juga melanjutkan khotbahnya tentang Injil dan Surat-Surat dari tahun gereja (Kirchenpostille), yang kemudian diselesaikan oleh teman-temannya dan menjadi salah satu buku devosi paling populer di Jerman. Luther bahkan menyebut buku ini sebagai karya terbaik yang pernah ia tulis, sebuah buku yang bahkan disukai oleh kaum Katolik. Selain itu, ia menulis balasan dalam bahasa Latin kepada Latomus, seorang ahli theologia dari Louvain. Ia menyerang doktrin dalam bahasa Latin dan Jerman doktrin / ajaran tentang misa - yang merupakan inti dari ibadah Katolik Roma - serta sumpah / nazar monastik, yang merupakan dasar sistem monastik. Ia mendedikasikan buku yang menyerang sumpah / nazar monastik tersebut kepada ayahnya, yang sejak awal menentang keputusannya untuk menjadi seorang biarawan.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 338-339.

Catatan: ‘monastik’ = kehidupan pertapaan / biarawan.

 

================================================

 

Pertanyaan: apa yang diserang Luther tentang monastik?

 

Jawaban ChatGPT:

 

Martin Luther, reformator besar dari abad ke-16, memiliki kritik tajam terhadap praktik monastik di Gereja Katolik pada zamannya. Kritik ini terkait dengan teologi dan kehidupan monastik itu sendiri. Beberapa poin utama kritiknya adalah:

1.       Keselamatan Melalui Karya (Works-Based Salvation)

a.  Luther menentang pandangan bahwa kehidupan monastik memiliki keutamaan khusus dalam hal memperoleh keselamatan.

b.  Ia berpendapat bahwa keselamatan adalah hasil dari iman saja (sola fide), bukan dari perbuatan baik, praktik asketis, atau sumpah religius seperti yang sering diasosiasikan dengan kehidupan biara.

2.       Pemisahan dari Dunia

a.  Luther mengkritik ide bahwa kehidupan monastik dianggap lebih suci daripada kehidupan orang awam yang bekerja di dunia sekuler.

b.  Ia percaya bahwa semua panggilan (vocation), termasuk pekerjaan sekuler, bisa menjadi pelayanan kepada Tuhan jika dilakukan dengan iman dan integritas.

3.       Kaul Monastik

a.  Ia menolak sumpah yang diambil oleh para biarawan dan biarawati, seperti kaul kemiskinan, ketaatan, dan kesucian. Menurut Luther, sumpah ini sering dilakukan dengan pemahaman yang salah dan berujung pada perasaan bersalah yang mendalam jika gagal memenuhinya.

b.  Luther sendiri adalah mantan biarawan Augustinian dan merasa bahwa kaul seperti ini bisa membelenggu kebebasan hati nurani.

4.       Penyalahgunaan Institusi Biara

a.  Luther juga mengkritik penyalahgunaan yang terjadi di biara, seperti korupsi, pemaksaan masuk ke biara, dan kehidupan yang tidak mencerminkan pengabdian sejati kepada Allah.

b.  Ia melihat biara sebagai institusi yang sering kali mengisolasi orang dari tanggung jawab sosial mereka dan mempromosikan kesalehan palsu.

5.       Pengabaian Injil

Luther merasa bahwa kehidupan monastik, dengan fokus pada aturan-aturan manusia dan tradisi gereja, sering kali mengabaikan inti dari Injil, yaitu anugerah Allah yang diberikan melalui Kristus.

 

Pengaruh Pandangan Luther

Setelah Reformasi Protestan, banyak biara Katolik di wilayah yang mengikuti ajaran Luther ditutup. Luther sendiri meninggalkan kehidupan monastiknya, menikah dengan Katharina von Bora (seorang mantan biarawati), dan menunjukkan melalui hidupnya bahwa kehidupan keluarga dapat menjadi panggilan suci.

Bagi Luther, kehidupan monastik tidak diperlukan untuk mendekatkan diri kepada Allah karena setiap orang dapat memiliki hubungan langsung dengan Allah melalui iman.

 

================================================

 

Pertanyaan: apakah Luther mempercayai doktrin Immaculate Conception?

 

Jawaban ChatGPT:

 

Martin Luther memang menghormati Maria secara mendalam, dan dalam tulisan-tulisan awalnya, ia menyatakan keyakinan akan ketidakberdosaan Maria, termasuk pandangan bahwa Maria adalah ‘Theotokos’ (Bunda Allah) dan tetap perawan. Pandangan ini juga dikenal sebagai perpetual virginity Maria, sebuah keyakinan yang ia terus pertahankan sampai akhir hayatnya.

Namun, mengenai ketidakberdosaan Maria dalam pengertian immaculate conception (konsepsi tanpa noda dosa asal) seperti yang diterima oleh Gereja Katolik, pandangan Luther agak berbeda. Meskipun ia sangat menghormati dan memuliakan Maria, ia tidak secara eksplisit mendukung dogma ketidakberdosaan Maria dalam arti seperti yang dipahami Gereja Katolik. Luther tetap menghormati Maria sebagai figur suci dan memiliki kedudukan yang sangat istimewa dalam sejarah keselamatan, tetapi ia lebih mengarahkan fokus pada karya keselamatan Kristus dan keyakinan bahwa semua manusia (termasuk Maria) membutuhkan anugerah Tuhan untuk diselamatkan.

Dalam perkembangan teologinya, Luther semakin menekankan pembenaran melalui iman dan anugerah Kristus, sehingga pandangannya tentang ketidakberdosaan Maria dalam arti immaculate conception tidak menjadi fokus utama atau diterima penuh dalam pandangan teologis Protestannya.

 

 

-bersambung-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali

Alamat Gereja :
Jl. Raya Kali Rungkut 5 - Ruko Rungkut Megah Raya  BLOK  D - 16, SURABAYA

Rek Gereja : Account BCA 3631422185 a/n Tjoe Ming Tjhuin