(online)
(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)
Selasa, tgl 16 Juli 2024, pk 18.30
Pdt. Budi Asali, M. Div.
vs
SAKRAMEN(3)
c) Fungsi Perjamuan Kudus adalah:
1. Peringatan pengorbanan Kristus, dan bukan merupakan pengulangan pengorbanan Kristus. Perhatikan 1Kor 11:24-25 yang berbunyi:
“(24) dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: ‘Inilah tubuhKu, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!’ (25) Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: ‘Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darahKu; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!’”.
Pengulangan pengorbanan Kristus menunjukkan bahwa pengorbanan Kristus di kayu salib belum / tidak cukup. Ini bertentangan dengan kata-kata “sudah selesai” di kayu salib (Yoh 19:30).
Disamping itu, Kitab Suci berulang-ulang menyatakan bahwa Kristus hanya satu kali saja mempersembahkan tubuhNya / mencurahkan darahNya sebagai korban bagi kita. Lihat ayat-ayat di bawah ini:
a. Ibr 7:27 - “yang tidak seperti imam-imam besar lain, yang setiap hari harus mempersembahkan korban untuk dosanya sendiri dan sesudah itu barulah untuk dosa umatnya, sebab hal itu telah dilakukanNya satu kali untuk selama-lamanya, ketika Ia mempersembahkan diriNya sendiri sebagai korban.”.
b. Ibr 9:12 - “dan Ia telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat yang kudus bukan dengan membawa darah domba jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darahNya sendiri. Dan dengan itu Ia telah mendapat kelepasan yang kekal.”.
c. Ibr 9:22-28 - “(22) Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan. (23) Jadi segala sesuatu yang melambangkan apa yang ada di sorga haruslah ditahirkan secara demikian, tetapi benda-benda sorgawi sendiri oleh persembahan-persembahan yang lebih baik dari pada itu. (24) Sebab Kristus bukan masuk ke dalam tempat kudus buatan tangan manusia yang hanya merupakan gambaran saja dari yang sebenarnya, tetapi ke dalam sorga sendiri untuk menghadap hadirat Allah guna kepentingan kita. (25) Dan Ia bukan masuk untuk berulang-ulang mempersembahkan diriNya sendiri, sebagaimana Imam Besar setiap tahun masuk ke dalam tempat kudus dengan darah yang bukan darahnya sendiri. (26) Sebab jika demikian Ia harus berulang-ulang menderita sejak dunia ini dijadikan. Tetapi sekarang Ia hanya satu kali saja menyatakan diriNya, pada zaman akhir untuk menghapuskan dosa oleh korbanNya. (27) Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi, (28) demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diriNya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diriNya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia.”.
d. Ibr 10:10-14 - “(10) Dan karena kehendakNya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus. (11) Selanjutnya setiap imam melakukan tiap-tiap hari pelayanannya dan berulang-ulang mempersembahkan korban yang sama, yang sama sekali tidak dapat menghapuskan dosa. (12) Tetapi Ia, setelah mempersembahkan hanya satu korban saja karena dosa, Ia duduk untuk selama-lamanya di sebelah kanan Allah, (13) dan sekarang Ia hanya menantikan saatnya, di mana musuh-musuhNya akan dijadikan tumpuan kakiNya. (14) Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan.”.
2. Pemberitaan kematian Tuhan.
1Kor 11:26 - “Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang.”.
Perjamuan Kudus tidak pernah dimaksudkan untuk mengampuni dosa, dan antisipasi / jaminan kemuliaan surgawi, mendapatkan karunia rohani dan jasmani dari Tuhan, dsb, seperti yang dikatakan dalam KGK yang sudah kita baca di atas / dalam pelajaran yang lalu.
d) Adalah sesuatu yang lucu kalau ‘korban yang tidak berdarah’ pada altar mereka disamakan dengan ‘korban yang berdarah’ pada salib. Perlu diketahui bahwa Kitab Suci mengatakan bahwa “tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan.” (Ibr 9:22b).
Ibr 9:22 - “Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan.”.
Ini jelas menunjukkan bahwa ‘korban yang tidak berdarah’ tidak ada gunanya!
e) Baik roti maupun anggur harus dibagikan kepada jemaat karena itulah yang diajarkan oleh Kitab Suci! (Mat 26:27 Mark 14:23 Luk 22:17).
Mat 26:27 - “Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: Minumlah, kamu semua, dari cawan ini.”.
Mark 14:23 - “Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka, dan mereka semuanya minum dari cawan itu.”.
Luk 22:17 - “Kemudian Ia mengambil sebuah cawan, mengucap syukur, lalu berkata: ‘Ambillah ini dan bagikanlah di antara kamu.”.
Catatan: kata ‘kamu’ ada dalam bentuk jamak.
1Kor 11:25-26 - “(25) Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: ‘Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darahKu; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!’ (26) Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang.”.
Catatan: kata-kata ‘kamu’ (3x) ada dalam bentuk jamak. Juga kata ‘perbuatlah’ adalah kata perintah bentuk jamak.
Ini menunjukkan bahwa pada waktu Yesus memimpin Perjamuan Kudus, anggur dibagikan kepada semua, bukan hanya untuk Yesus sendiri!
Dan dalam 1Kor 11:26,27,28,29, empat kali berturut-turut Paulus menggabungkan ‘makan roti’ dan ‘minum dari cawan’, atau ‘makan’ dan ‘minum’. Ini jelas menunjukkan bahwa kita tidak boleh memisahkan kedua hal itu!
1Kor 11:26-29 - “(26) Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang. (27) Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan. (28) Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu. (29) Karena barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya.”.
Catatan: kata ‘mengakui’ diterjemahkan berbeda-beda.
KJV/RSV: “discerning” [= membedakan / mengakui].
NIV: “recognizing” [= mengakui].
NASB: “judge” [= menghakimi / menilai].
Beberapa penafsir, termasuk Calvin, menafsirkan bahwa ‘tanpa membedakan tubuh Tuhan’ berarti mereka mengikuti Perjamuan Kudus tanpa membedakan elemen-elemen Perjamuan Kudus dengan makanan dan minuman biasa.
Dua pertanyaan yang perlu dipertanyakan kepada orang Roma Katolik adalah:
1. Mereka tidak membagikan anggur karena takut menumpahkan ‘darah Kristus’, tetapi mengapa mereka tetap membagikan roti dan tidak takut menjatuhkan ‘tubuh Kristus’? Dan kalau ‘tubuh Kristus’ jatuh, bukankah ‘darah Kristus’ yang ada di dalamnya ikut jatuh?
2. Kalau jemaat cukup menerima ‘tubuh’ karena dalam ‘tubuh’ itu ada ‘darah’, mengapa imam / pastornya tetap menerima ‘tubuh’ dan ‘darah’?
f) Yang terpenting dalam kebaktian adalah Firman Tuhan. Sakramen tak bisa berdiri sendiri tanpa Firman Tuhan, tetapi Firman Tuhan bisa berdiri sendiri tanpa sakramen.
Kalau saudara adalah orang yang akrab dengan Alkitab, maka saudara pasti melihat bahwa firman Tuhan ditekankan dimana-mana, sedangkan Perjamuan Kudus hanya dibicarakan dalam beberapa ayat. Dari fakta ini sudah bisa terlihat yang mana lebih penting: firman Tuhan atau Perjamuan Kudus.
g) Orang-orang yang mau ikut Perjamuan Kudus sama sekali tidak perlu puasa. Perjamuan Kudus yang Yesus adakan dalam Mat 26:26-28 diadakan segera setelah makan (Mat 26:20,26), sehingga itu jelas menunjukkan bahwa mereka tidak berpuasa lebih dahulu.
Mat 26:20,26 - “(20) Setelah hari malam, Yesus duduk makan bersama-sama dengan kedua belas murid itu. ... (26) Dan ketika mereka sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-muridNya dan berkata: ‘Ambillah, makanlah, inilah tubuhKu.’”.
1Kor 11:27-29 memang mengajarkan bahwa kita harus mempersiapkan diri menghadapi Perjamuan Kudus, tetapi bukan dengan puasa, tetapi dengan menguji diri kita dalam hal iman dan ketaatan kita.
1Kor 11:27-29 - “(27) Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan. (28) Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu. (29) Karena barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya.”.
h) Hal lain yang ingin saya tambahkan adalah asal usul kata Eucharist.
Kata Eucharist berasal dari kata bahasa Yunani EUCHARISTESAS yang muncul dalam Mat 26:27 Mark 14:23 Luk 22:17,19 1Kor 11:24, dan artinya sebenarnya adalah ‘having given thanks’ [= setelah mengucap syukur].
Mat 26:27 - “Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: Minumlah, kamu semua, dari cawan ini.”.
Mark 14:23 - “Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka, dan mereka semuanya minum dari cawan itu.”.
Luk 22:17,19 - “(17) Kemudian Ia mengambil sebuah cawan, mengucap syukur, lalu berkata: ‘Ambillah ini dan bagikanlah di antara kamu. ... (19) Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kataNya: ‘Inilah tubuhKu yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.’”.
1Kor 11:24 - “dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: ‘Inilah tubuhKu, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!’”.
Karena itu, penggunaan istilah ‘Eucharist’ untuk menunjuk pada Perjamuan Kudus sebetulnya tidak cocok.
i) Penggunaan hosti.
Dari Mat 26:26 Mark 14:22 Luk 22:19 1Kor 10:16b 1Kor 11:24 sebetulnya bisa terlihat dengan jelas bahwa dalam suatu Perjamuan Kudus harus ada ‘pemecahan roti’, dan pemecahan roti ini harus dilakukan di depan peserta Perjamuan Kudus.
Mat 26:26 - “Dan ketika mereka sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-muridNya dan berkata: ‘Ambillah, makanlah, inilah tubuhKu.’”.
Mark 14:22 - “Dan ketika Yesus dan murid-muridNya sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: ‘Ambillah, inilah tubuhKu.’”.
Luk 22:19 - “Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kataNya: ‘Inilah tubuhKu yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.’”.
1Kor 10:16 - “Bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan syukur, adalah persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah persekutuan dengan tubuh Kristus?”.
1Kor 11:24 - “dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: ‘Inilah tubuhKu, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!’”.
Ini merupakan sesuatu yang penting dan mempunyai arti, karena ini merupakan simbol dari dihancurkannya tubuh Kristus untuk kita.
Hal-hal yang mempunyai arti dalam Perjamuan Kudus harus dilakukan / tidak boleh dibuang. Hal-hal yang tidak mempunyai arti dalam Perjamuan Kudus boleh dibuang / tidak perlu dilakukan. Contoh: Yesus melakukan Perjamuan Kudus itu di ruangan atas (Mark 14:12-16 Luk 22:9-12).
Mark 14:12-16 - “(12) Pada hari pertama dari hari raya Roti Tidak Beragi, pada waktu orang menyembelih domba Paskah, murid-murid Yesus berkata kepadaNya: ‘Ke tempat mana Engkau kehendaki kami pergi untuk mempersiapkan perjamuan Paskah bagiMu?’ (13) Lalu Ia menyuruh dua orang muridNya dengan pesan: ‘Pergilah ke kota; di sana kamu akan bertemu dengan seorang yang membawa kendi berisi air. Ikutilah dia (14) dan katakanlah kepada pemilik rumah yang dimasukinya: Pesan Guru: di manakah ruangan yang disediakan bagiKu untuk makan Paskah bersama-sama dengan murid-muridKu? (15) Lalu orang itu akan menunjukkan kamu sebuah ruangan atas yang besar, yang sudah lengkap dan tersedia. Di situlah kamu harus mempersiapkan perjamuan Paskah untuk kita!’ (16) Maka berangkatlah kedua murid itu dan setibanya di kota, didapati mereka semua seperti yang dikatakan Yesus kepada mereka. Lalu mereka mempersiapkan Paskah.”.
Luk 22:9-12 - “(9) Kata mereka kepadaNya: ‘Di manakah Engkau kehendaki kami mempersiapkannya?’ (10) JawabNya: ‘Apabila kamu masuk ke dalam kota, kamu akan bertemu dengan seorang yang membawa kendi berisi air. Ikutilah dia ke dalam rumah yang dimasukinya, (11) dan katakanlah kepada tuan rumah itu: Guru bertanya kepadamu: di manakah ruangan tempat Aku bersama-sama dengan murid-muridKu akan makan Paskah? (12) Lalu orang itu akan menunjukkan kepadamu sebuah ruangan atas yang besar yang sudah lengkap, di situlah kamu harus mempersiapkannya.’”.
Tetapi pemecah-mecahan roti jelas mempunyai arti, yaitu penghancuran tubuh Kristus untuk menebus dosa kita, dan karena itu ini tidak boleh dibuang dan harus dilakukan.
Kalau ada yang beranggapan bahwa simbol seperti ini tidak penting dan boleh dibuang, maka saya bertanya: mengapa tidak seluruh Perjamuan Kudusnya saja dibuang?
Perhatikan juga bunyi dari 1Kor 11:24 - “dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: ‘Inilah tubuhKu, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!’”.
Dari bagian-bagian yang saya garisbawahi dari 1Kor 11:24 ini, jelas terlihat bahwa Yesus memerintahkan pemecahan roti tersebut dalam Perjamuan Kudus! Karena itu, penggunaan hosti dalam gereja Roma Katolik maupun dalam banyak gereja Protestan, Pentakosta dan Kharismatik yang menirunya, sekalipun merupakan sesuatu yang praktis, jelas merupakan sesuatu yang salah, karena dalam penggunaan hosti ini, simbol penghancuran tubuh Kristus dihilangkan!
1Kor 10:16 - “Bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan syukur, adalah persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah persekutuan dengan tubuh Kristus?”.
Dalam tafsirannya tentang 1Kor 10:16 ini, Charles Hodge berkata:
“The custom, therefore, of using a wafer placed unbroken in the mouth of the communicant, leaves out an important significant element in this sacrament.” [= Karena itu, tradisi menggunakan hosti (biskuit kecil dan tipis), yang diletakkan secara utuh di dalam mulut dari peserta komuni, menghapuskan suatu elemen berarti yang penting dalam sakramen ini.]. - hal 189-190.
1Kor 11:24 - “dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: ‘Inilah tubuhKu, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!’”.
Dan Pulpit Commentary mengomentari 1Kor 11:24 ini dengan kata-kata sebagai berikut:
“The ‘broken’ is nevertheless involved in the ‘he brake it,’ which was a part of the ceremony as originally illustrated. The breaking of the bread ought not, therefore, to be abandoned, as in the case when ‘wafers’ are used.” [= bagaimanapun kata ‘dipecahkan’ sudah termasuk dalam ‘Ia memecah-mecahkannya’, yang merupakan sebagian dari upacara aslinya. Karena itu, pemecahan roti tidak seharusnya dibuang, seperti dalam kasus dimana digunakan hosti.].
Ada hal-hal yang perlu dijelaskan sehubungan dengan komentar ini:
1. Komentar ini diberikan berdasarkan 1Kor 11:24 dalam KJV yang berbunyi: “And when he had given thanks, he brake it, and said, Take, eat: this is my body, which is broken for you: this do in remembrance of me” [= dan setelah Ia mengucap syukur, Ia memecah-mecahkannya, dan berkata: Ambillah, makanlah: ini adalah tubuhKu, yang dipecahkan bagi kamu: lakukanlah ini untuk mengingat Aku].
2. Kata-kata ‘Take, eat’ [= Ambillah, makanlah] dan ‘broken’ [= dipecahkan] bisa ada dalam KJV, karena KJV menterjemahkan dari manuscript yang menambahkan bagian ini. Jadi kata-kata itu sebetulnya tidak ada.
3. Tetapi kata ‘he brake it’ [= Ia memecah-mecahkannya] tidak merupakan penambahan! Karena itu, penafsir ini berkata, kalaupun kata ‘broken’ itu tidak ada, tetapi kata-kata ‘he brake it’ sebetulnya sudah mencakup kata ‘broken’.
Karena itu, gereja-gereja Protestan, Pentakosta dan Kharismatik tidak seharusnya meniru begitu saja praktek Perjamuan Kudus yang sekalipun praktis, tetapi salah ini!
Tetapi bagaimana kalau di antara banyak hosti yang kecil-kecil itu ada satu yang besar yang dipecah-pecahkan pada saat Perjamuan Kudus? Ini tetap salah, karena seharusnya digunakan dalam Perjamuan Kudus harus satu roti yang lalu dipecah-pecah menjadi banyak bagian sehingga cukup untuk semua peserta Perjamuan Kudus.
1Kor 10:16-17 - “(16) Bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan syukur, adalah persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah persekutuan dengan tubuh Kristus? (17) Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu.”.
‘Satu roti’ lagi-lagi mempunyai arti dalam Perjamuan Kudus, yaitu menunjuk kepada ‘satu tubuh’, dan karena itu ini harus dilakukan dan tidak boleh diabaikan.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali