Pemahaman Alkitab

(online)

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

Selasa, tgl 9 Juli 2024, pk 18.30

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

Roma Katolik

vs

Kristen Protestan (10b)

SAKRAMEN(2)

 

c)   Sekalipun baptisan adalah perintah Tuhan, tetapi baptisan tidak mutlak perlu untuk keselamatan.

Memang kalau kita percaya dengan sungguh-sungguh kepada Yesus, maka kita harus mau dibaptis. Kalau seseorang berkata bahwa ia percaya kepada Yesus tetapi ia tidak mau dibaptis, saya yakin bahwa iman orang itu tidak sungguh-sungguh (bdk. Yak 2:17,26), dan ia tentu tidak selamat. Tetapi dalam hal ini ia tidak selamat bukan karena belum / tidak dibaptis, tetapi karena imannya tidak sungguh-sungguh.

 

Jadi, yang merupakan syarat mutlak untuk keselamatan adalah iman, bukan baptisan! Itu sebabnya kalau ada orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Yesus, tetapi tidak sempat dibaptis, maka ia tetap selamat!

 

Contoh yang jelas dalam Kitab Suci adalah penjahat yang bertobat (Luk 23:43).

 

Luk 23:42-43 - (42) Lalu ia berkata: Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja. (43) Kata Yesus kepadanya: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.’.

 

Ia tidak pernah / tidak sempat dibaptis, tetapi ia percaya kepada Yesus dan Yesus berkata bahwa ia akan masuk Firdaus / surga. Ini jelas menunjukkan bahwa baptisan bukanlah syarat mutlak untuk masuk surga.

 

d)   Tentang:

1.   Limbus Infantum.

2.   Baptisan untuk orang koma.

3.   Baptisan untuk orang mati.

4.   Baptisan sebelum lahir.

Semua ini tidak ada dasar Kitab Sucinya.

 

Tentang baptisan orang koma:

Baptisan untuk orang dewasa hanya bisa dilakukan kalau orangnya sudah mendengar Injil dan percaya kepada Yesus. Karena itu bahwa dalam baptisan orang koma ada wakil yang menjawab pertanyaan pastor, itu betul-betul merupakan sesuatu yang menggelikan dan tidak Alkitabiah.

 

Saya pernah mendengar ada orang koma dibaptis, tetapi ia lalu tidak jadi mati. Dan pada waktu ia menjadi orang kristen protestan, ia lalu dituntut untuk pergi ke gereja Katolik, berdasarkan janji wakilnya pada waktu dibaptis. Tetapi ia berkata: itu janjinya si wakil, bukan janjiku!

 

Tentang baptisan orang mati:

Kalau memang orang mati bisa diselamatkan melalui baptisan, untuk apa repot-repot memberitakan Injil / Firman Tuhan? Biarkan saja semua orang tidak percaya Yesus, tetapi nanti kalau mereka sudah mati kita baptiskan. Mungkin juga sebaiknya pastor-pastor Katolik pergi ke kuburan dan membaptis semua mayat di sana.

 

2) Confirmation (= Penguatan):

 

KGK no 1285-1321.

 

Tetapi ini terlalu banyak untuk dibacakan semua. Juga ada hal-hal yang tidak penting. Jadi saya hanya akan membacakan, dan sekaligus membahas yang di bawah ini.

 

KGK no:

1285,1288,1289,1291,1293,1294,1295,1298,1299,1302,1303,1306,1307.

 

(https://www.stignatiuspj.org/wp-content/uploads/2021/09/katekismus-gereja-katolik.pdf)

 

Sakramen penguatan ini:

 

a)         Dilakukan terhadap orang yang sudah  dibaptis.

 

b)   Dilakukan dengan penumpangan tangan dan dengan minyak dan kata-kata:

“I sign you with the sign of the cross, and confirm you in the annointing of salvation in the name of the Father, and of the Son, and of the Holy Spirit.” [= Aku menandai engkau dengan tanda salib dan menguatkan engkau dalam pengurapan keselamatan dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus.] - Dr. Albert Freundt, ‘History of Modern Christianity’, hal 4.

 

c)   Orang yang menerima sakramen ini menerima Roh Kudus / kasih karunia Roh Kudus dengan mana ia bisa menghindari dosa-dosa pada saat ia sudah mulai bertanggung jawab untuk tindakan-tindakannya sendiri dan pada saat percobaan-percobaan dalam hidupnya menjadi lebih berat. Karena itu umumnya dilakukan pada masa remaja.

 

d)   Dasar Kitab Suci yang sering digunakan adalah Kis 14:22.

 

Kis 14:22 - Di tempat itu mereka menguatkan hati murid-murid itu dan menasihati mereka supaya mereka bertekun di dalam iman, dan mengatakan, bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara..

 

Pandangan Kristen:

 

a)   Confirmation ini bukan sakramen karena tidak memenuhi 3 persyaratan dalam no II di atas (Syarat-syarat sakramen). Mungkin orang Katolik akan berkata bahwa tanda yang kelihatan adalah ‘minyak’ dan ini melambangkan kasih karunia yang tidak kelihatan yaitu ‘Roh Kudus’. Tetapi, dimana dalam Kitab Suci ada perintah dari Yesus / Allah untuk melakukan hal seperti itu?

 

b)   Orang menerima Roh Kudus pada saat ia percaya kepada Yesus (Yoh 7:38-39  Ef 1:13). Jadi tidak ada hamba Tuhan yang diperlukan untuk menumpangkan tangan sehingga Roh Kudus lalu diberikan.

 

Yoh 7:38-39 - (38) Barangsiapa percaya kepadaKu, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.’ (39) Yang dimaksudkanNya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepadaNya; sebab Roh itu belum datang, karena Yesus belum dimuliakan..

 

Ef 1:13 - Di dalam Dia kamu juga - karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu - di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikanNya itu..

 

Beberapa ayat Kitab Suci yang kelihatannya menunjukkan adanya penumpangan tangan yang menyebabkan penerimaan Roh Kudus:

 

1.   Kis 8:14-19 kelihatannya menunjukkan gap (= selang waktu) antara saat seseorang percaya dan saat ia menerima Roh Kudus.

 

Kis 8:14-17 - (14) Ketika rasul-rasul di Yerusalem mendengar, bahwa tanah Samaria telah menerima firman Allah, mereka mengutus Petrus dan Yohanes ke situ. (15) Setibanya di situ kedua rasul itu berdoa, supaya orang-orang Samaria itu beroleh Roh Kudus. (16) Sebab Roh Kudus belum turun di atas seorangpun di antara mereka, karena mereka hanya dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. (17) Kemudian keduanya menumpangkan tangan di atas mereka, lalu mereka menerima Roh Kudus..

 

a.   Ay 16 - hanya dibaptis dalam nama Tuhan Yesus (bdk. Kis 2:38  10:48  19:5).

 

Kis 2:38 - Jawab Petrus kepada mereka: ‘Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus..

 

Kis 10:48 - Lalu ia menyuruh mereka dibaptis dalam nama Yesus Kristus. Kemudian mereka meminta Petrus, supaya ia tinggal beberapa hari lagi bersama-sama dengan mereka..

 

Kis 19:5 - Ketika mereka mendengar hal itu, mereka memberi diri mereka dibaptis dalam nama Tuhan Yesus..

 

Ada beberapa hal yang akan saya bahas dari bagian ini:

 

(1) Ini bukan formula baptisan! Formula baptisan hanya ada dalam Mat 28:19! Ada gereja-gereja yang menganggap ini sebagai formula baptisan, sehingga mereka lalu membaptis dengan kata-kata ‘dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus, yaitu Tuhan Yesus Kristus’. Ini salah! Juga ada yang membaptis hanya ‘dalam nama Yesus Kristus’. Ini juga salah!

 

(2) Arti kata-kata ini:

(a) Dibaptis dengan otoritas Yesus.

(b) Dibaptis sehingga masuk ke dalam tubuh Kristus (gereja).

 

(3) Kata ‘hanya’ dalam ay 16 tidak bermaksud untuk merendahkan / menghina baptisan! Kata ‘hanya’ secara tidak langsung menunjukkan bahwa seharusnya pertobatan / baptisan dan penerimaan Roh Kudus sama-sama sudah terjadi (bdk. Kis 2:38). Tetapi dalam kasus ini ternyata penerimaan Roh Kudus belum terjadi. Hanya baptisannya yang terjadi.

 

b.         Penerimaan Roh Kudus (ay 17).

Ada 2 penafsiran:

 

(1) Ini adalah karunia-karunia Roh Kudus (bahasa roh, nubuat, dsb). Dasarnya:

(a) Adanya ‘gap’ (= selang waktu) antara saat percaya dan saat penerimaan Roh Kudus adalah sesuatu yang bertentangan dengan Yoh 7:38,39  Ef 1:13  Ro 8:9.

 

Ro 8:9 - Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus..

 

(b) Simon bisa melihat penerimaan ‘Roh Kudus’ itu (ay 18).

 

Ay 18: Ketika Simon melihat, bahwa pemberian Roh Kudus terjadi oleh karena rasul-rasul itu menumpangkan tangannya, ia menawarkan uang kepada mereka,.

 

Jadi pasti yang diterima saat itu bukanlah Roh Kudusnya, tetapi karunia-karunia Roh Kudus, seperti bahasa Roh, nubuat dsb.

 

(c)  Ay 20 menyebut hal itu sebagai ‘karunia Allah’.

 

Ay 20: Tetapi Petrus berkata kepadanya: ‘Binasalah kiranya uangmu itu bersama dengan engkau, karena engkau menyangka, bahwa engkau dapat membeli karunia Allah dengan uang..

 

(2) Ini adalah Roh Kudus.

Lalu mengapa ada ‘gap’ (= selang waktu) antara saat percaya dan saat penerimaan Roh Kudus? Ini disebabkan karena adanya permusuhan di antara orang Yahudi dan orang Samaria. Kalau orang Samaria percaya kepada Yesus dan langsung menerima Roh Kudus, maka mungkin gereja akan pecah menjadi dua. Tetapi dengan adanya penundaan penerimaan Roh Kudus, lalu dengan adanya rasul-rasul Yahudi dari Yerusalem yang menumpangkan tangan sehingga Roh Kudus diberikan, maka orang Samaria akan sadar bahwa mereka yang sudah percaya kepada Yesus harus bersatu dengan orang Yahudi yang juga percaya Yesus. Dan orang-orang Yahudi yang mengetahui bahwa orang Samaria menerima Roh Kudus karena penumpangan tangan oleh rasul-rasul Yahudi, akan menerima orang Samaria itu. Dengan demikian gereja akan tetap bersatu.

 

Catatan: ‘gap’ seperti ini tidak akan pernah terjadi lagi (Ef 1:13  Yoh 7:38,39). Jadi, pada zaman sekarang, kalau seseorang percaya kepada Yesus, ia akan langsung menerima Roh Kudus! Karena itu orang kristen sejati tidak perlu mencari baptisan Roh Kudus!

 

Yang jelas text ini tidak ada hubungannya dengan Confirmation, karena di sini tidak digunakan minyak.

 

2.   Kis 9:17 menunjukkan bahwa Paulus ditumpangi tangan oleh Ananias, sehingga menerima Roh Kudus.

 

Kis 9:17-18 - “(17) Lalu pergilah Ananias ke situ dan masuk ke rumah itu. Ia menumpangkan tangannya ke atas Saulus, katanya: ‘Saulus, saudaraku, Tuhan Yesus, yang telah menampakkan diri kepadamu di jalan yang engkau lalui, telah menyuruh aku kepadamu, supaya engkau dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus.’ (18) Dan seketika itu juga seolah-olah selaput gugur dari matanya, sehingga ia dapat melihat lagi. Ia bangun lalu dibaptis..

 

Tetapi ini juga tidak bisa dijadikan dasar confirmation karena:

a.   Di situ tidak digunakan minyak.

b.   Hal ini terjadi sebelum baptisan (baptisannya baru terjadi pada ay 18).

 

3.   Kis 19:5-6 juga tidak bisa dijadikan dasar confirmation karena di situ juga tidak digunakan minyak.

 

Jelas bahwa ‘sakramen’ Confirmation / Penguatan ini sama sekali tidak mempunyai dasar Kitab Suci.

 

c)   Kesucian dan pertumbuhan kekuatan iman / rohani tidak datang karena confirmation atau sakramen penguatan tetapi karena Firman Tuhan dan doa (Maz 119:9  Yoh 15:3  Mat 26:41  Luk 21:34-36).

 

Maz 119:9 - Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firmanMu..

 

Yoh 15:3 - Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu..

 

Mat 26:41 - Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.’.

 

Luk 21:34-36 - (34) ‘Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat. (35) Sebab ia akan menimpa semua penduduk bumi ini. (36) Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.’”.

 

d)   Dalam Kis 14:22 dikatakan bahwa Paulus dan Barnabas menguatkan hati murid-murid / orang-orang kristen di Antiokhia. Tetapi bagaimana Paulus dan Barnabas menguatkan mereka? Apakah dengan sakramen confirmation, pengurapan mengunakan minyak? Sama sekali tidak!

 

Bacalah sendiri Kis 14:22 - “Di tempat itu mereka menguatkan hati murid-murid itu dan menasihati mereka supaya mereka bertekun di dalam iman, dan mengatakan bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara.”.

 

Jelas terlihat bahwa penguatan itu diberikan dengan menggunakan nasehat Firman Tuhan! Bagaimana mungkin ayat seperti ini bisa dijadikan dasar dari sakramen confirmation?

 

3)  Eucharist (= Komuni):

 

Sekalipun sudah dibaptis dan dikuatkan (sakramen 1 & 2), seseorang masih bisa jatuh dalam dosa. Eucharist memberikan kasih karunia pelengkap untuk kebutuhan rohani sehari-hari.

 

KGK no 1333, 1335, 1336, 1350, 1353, 1365, 1366, 1367, 1373, 1374, 1375, 1376, 1378, 1381, 1393, 1402, 1405, 1408, 1410, 1411, 1413, 1414, 1416, 1419.

 

a)         Makna Eucharist:

Sekalipun Eucharist mirip dengan Perjamuan Kudus dalam gereja kristen protestan, tetapi arti / maknanya sangat berbeda.

 

1.   Gereja Roma Katolik percaya bahwa pada saat pastor mengucapkan kata-kata bahasa Latin: “HOC EST CORPUS MEUM” (= This is my body / Inilah TubuhKu), roti dan anggur betul-betul berubah menjadi tubuh dan darah Kristus. Doktrin ini disebut TRANSUBSTANTIATION (= a change of substance / perubahan zat). Doktrin ini mulai diajarkan pada abad ke 9 oleh seorang yang bernama Radbertus yang mengatakan bahwa pada saat Eucharist, terjadi suatu mujijat dimana roti dan anggur berubah menjadi tubuh dan darah Kristus. Transubstantiation menjadi dogma resmi pada tahun 1059 dan diproklamirkan oleh Paus Innocent III pada tahun 1215.

 

Catatan: Kata-kata “HOC EST CORPUS MEUM” belakangan dipakai oleh tukang sihir / sulap dan diubah menjadi “HOCUS POCUS”.

 

Teori Thomas Aquinas (1225-1274):

“The substance of bread and wine are changed into the body and blood of Christ during communion while the accidents (appear­ence, taste, smell) remain the same.” [= Zat dari roti dan anggur berubah menjadi tubuh dan darah Kristus pada saat komuni, sementara accidentsnya (penampilannya / kelihatannya, rasanya, baunya) tetap sama.].

 

2.   Eucharist adalah pengulangan pengorbanan Kristus!

Bahwa Roma Katolik mempunyai pandangan bahwa Eucharist adalah suatu pengulangan pengorbanan Kristus, terlihat dengan jelas dari:

 

a.         New York Cathechism:

“Jesus Christ gave us the sacrifice of the Mass to leave His Church a visible sacri­fice which continues His sacrifice on the cross until the end of time. The Mass is the same sacrifice as the sacrifice of the cross. Holy communion is the receiving of the body and the blood of Jesus Christ under the appearence of bread and wine.” [= Yesus Kristus memberi kepada kita pengorbanan misa untuk meninggalkan bagi GerejaNya suatu pengorbanan yang kelihatan yang meneruskan pengorbananNya pada kayu salib sampai akhir zaman. Misa itu adalah pengorbanan yang sama seperti pengorbanan di kayu salib. Komuni kudus adalah penerimaan tubuh dan darah Kristus di bawah penampilan roti dan anggur.] - Loraine Boettner, ‘Roman Catholicism’, hal 168.

 

b.         Pernyataan Council of Trent yang berbunyi:

“The sacrifice (in the Mass) is identical with the sacrifice of the Cross, inasmuch as Jesus Christ is a priest and victim both. The only difference lies in the manner of offering, which is a bloody upon the cross and bloodless on our altars.” [= Pengorbanan (dalam Misa) adalah identik dengan pengorbanan di kayu salib, karena Yesus Kristus adalah imam maupun korban. Satu-satunya perbedaan terletak dalam cara pengorbanannya, yang merupakan  pengorbanan berdarah di kayu salib dan tanpa darah pada altar kami.] - Loraine Boettner, ‘Roman Catholicism’, hal 169.

 

c.   Roman Catholic Catechism of Christian Doctrine yang memuat tanya jawab sebagai berikut:

 

“Is the Holy Mass one and the same sacrifice with that of the Cross?” - Question 278 [= Apakah Misa Kudus / Suci adalah korban yang satu dan sama dengan korban pada Salib? - Pertanyaan 278].

 

“The Holy Mass is one and the same sacrifice with that of the Cross, inasmuch as Christ, who offered Himself, a bleeding victim, on the Cross to His Heavenly Father, continues to offer Himself in an unbloody manner on the altar, through the ministry of His priests.” [= Misa Kudus / Suci adalah korban yang satu dan sama dengan korban pada Salib, karena Kristus, yang mempersembahkan diriNya sendiri sebagai korban berdarah pada Salib kepada Bapa SurgawiNya, terus mempersembahkan diriNya sendiri dengan cara tidak berdarah pada altar, melalui pelayanan imam-imam / pastor-pastorNya.] - Loraine Boettner, ‘Roman Catholicism’, hal 173-174.

 

Kedua point di atas (point 1. dan 2.) menyebabkan dalam gereja Roma Katolik ada pandangan yang sangat tinggi terhadap pastor. Ini terlihat dari 2 kutipan yang diberikan oleh Loraine Boettner di bawah ini:

 

(1) Dari ketetapan Council of Trent, yang berbunyi sebagai berikut:

“The priest is the man of God, the minister of God. ... He that despiseth the priest despiseth God; he that hears him hears God. The priest remits sins as God, ... It is clear that their function is such that none greater can be conceived. Wherefore they are justly called not only angels, but also God, holding as they do among us the power and authority of the immortal God.” [= Imam / pastor adalah seorang dari Allah (?), pelayan Allah. ... Ia yang menghina imam / pastor menghina Allah, ia yang mendengarkannya mendengarkan Allah. Imam / pastor mengampuni dosa seperti Allah, ... Jelaslah bahwa fungsi mereka adalah sedemikian rupa sehingga tidak ada yang lebih besar yang bisa dipikirkan / dibayangkan. Karena itu secara tepat mereka disebut bukan hanya malaikat, tetapi juga Allah, dan di antara kita mereka memegang kuasa dan otoritas dari Allah yang tidak bisa binasa.] - Loraine Boettner, ‘Roman Catholicism’, hal 51.

 

(2) Dari suatu buku Roma Katolik yang berbunyi sebagai berikut:

“Without the priest the death and passion of our Lord would be of no avail to us. See the power of the priest! By one word from his lips he changes a piece of bread into a God! A greater fact than the creation of a world. If I were to meet a priest and an angel, I would salute the priest before saluting the angel. The priest holds the place of God.” [= Tanpa imam / pastor kematian dan penderitaan Tuhan kita akan tidak ada gunanya bagi kita. Lihatlah kuasa dari imam / pastor! Dengan satu kata dari bibirnya ia mengubah sepotong roti menjadi Allah! Suatu fakta yang lebih besar dari pada penciptaan suatu dunia. Jika aku bertemu dengan seorang imam / pastor dan seorang malaikat, maka aku akan memberi hormat kepada imam / pastor sebelum aku memberi hormat kepada malaikat. Imam / pastor memegang tempat / menggantikan Allah.] - Loraine Boettner, ‘Roman Catholicism’, hal 51.

 

b)         Dalam pelaksanaan Eucharist, anggur tidak dibagikan kepada jemaat.

Mulai tahun 1414-1415 Council of Constance memutuskan bahwa anggur tidak lagi dibagikan kepada jemaat, tetapi hanya untuk pastornya saja. Jadi yang dibagikan kepada jemaat hanyalah rotinya saja.

Keputusan ini diteguhkan oleh Council of Trent (1545-1563).

 

Dasar pemikiran mereka:

1.   Supaya ‘darah’ Kristus tidak tumpah.

2.   Dalam ‘tubuh’ sudah ada ‘darahnya’. Jadi waktu jemaat menerima ‘tubuh’, mereka sebetulnya juga menerima ‘darah’.

 

Ini saya ambil dari buku Loraine Boettner, ‘Roman Catholicism’, hal 180,181.

 

c)   Eucharist adalah hal yang terpenting dalam misa; lebih penting dari-pada Firman Tuhan.

 

d)   Dahulu, orang yang mau mengikuti Eucharist / misa, harus puasa total sejak tengah malam. Sekarang, mereka hanya puasa terhadap makanan padat 1 jam sebelum misa dan tidak perlu puasa air - Loraine Boettner, ‘Roman Catholicism’, hal 170.

 

Pandangan Kristen:

 

a)   Tubuh jasmani Kristus bukanlah Allah dan tidak bersifat ilahi, sehingga tidak mahaada. Kitab Suci tidak pernah menggambarkan bahwa tubuh Kristus bisa ada di dua tempat yang berbeda pada saat yang sama. Sekarang, setelah kenaikan Yesus ke surga, tubuh Kristus ada di surga (Kis 3:21), dan Ia hadir di dunia melalui Roh Kudus. Karena itu dalam Perjamuan Kudus Kristus tidak hadir secara jasmani!

 

Kis 3:21 - Kristus itu harus tinggal di sorga sampai waktu pemulihan segala sesuatu, seperti yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi-nabiNya yang kudus di zaman dahulu..

 

b)   Pada waktu Yesus mengambil roti, memecah-mecahkannya dan berkata “Inilah tubuhKu” (Mat 26:26), maksudnya hanyalah bahwa roti merupakan simbol dari tubuhNya. Demikian juga pada waktu Ia mengambil cawan anggur dan berkata “Inilah darahKu” (Mat 26:27-28), maka maksudNya hanyalah bahwa anggur merupakan simbol dari darahNya. Jadi tidak boleh diartikan bahwa saat itu roti betul-betul berubah menjadi tubuh Kristus dan anggur betul-betul berubah menjadi darah Kristus!

 

Dasar penafsiran ini:

 

1.   Kalau kata-kata Yesus itu mau dihurufiahkan, bagaimana menafsirkan Luk 22:20, yang berbunyi: “Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darahKu”? Haruskah kita menafsirkan bahwa pada saat itu ‘cawan / anggur’ berubah menjadi ‘perjanjian’?

 

2.   Adam Clarke mengatakan bahwa dalam bahasa Ibrani tidak ada kata yang berarti ‘menggambarkan / menunjukkan / berarti’, dan karena itu kalau mereka mau berkata bahwa ‘A menggambarkan B’ maka mereka berkata ‘A adalah B’.

Contoh:

a.   Kej 40:12 (NASB/Lit): ‘the three branches are three days’ [= tiga cabang itu adalah tiga hari].

b.   Kej 40:18 (NASB/Lit): ‘the three baskets are three days’ [= tiga keranjang itu adalah tiga hari].

c.   Kej 41:26: “Ke 7 ekor lembu yang baik itu ialah 7 tahun, dan ke 7 bulir gandum yang baik itu ialah 7 tahun juga”.

d.   Kej 41:27 (NIV): ‘The 7 lean, ugly cows that came up after they did are 7 years, and so are the 7 worthless heads of grain scorched by the east wind: They are 7 years of famine’ [= ke 7 lembu yang kurus dan buruk yang keluar setelahnya adalah 7 tahun, dan demikian pula ke 7 bulir gandum yang hampa dan layu oleh angin timur itu: mereka adalah 7 tahun kelaparan].

e.   Daniel 7:23-24: “.. Binatang yang ke 4 itu ialah kerajaan yang ke 4 yang akan ada di bumi, ... Ke 10 tanduk itu ialah ke 10 raja ...”.

f.    Daniel 8:21: “Dan kambing jantan yang berbulu kesat itu ialah raja negeri Yunani, dan tanduk besar yang di antara kedua matanya itu ialah raja yang pertama.”.

 

Dalam Perjanjian Baru digunakan bahasa Yunani, dan dalam bahasa Yunani memang ada kata yang berarti ‘menunjukkan / menggambar­kan / berarti’. Tetapi anehnya, Perjanjian Baru masih sering mengikuti jejak bahasa Ibrani seperti di atas.

 

Contoh:

a.   Mat 13:37b-39: “(37b) Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manu­sia; (38) ladang ialah dunia. Benih yang baik itu (ialah) anak-anak Kerajaan dan lalang (ialah) anak-anak si jahat. (39) Musuh yang mena­burkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir jaman dan para penuai itu (ialah) malaikat.”.

Catatan: kata ‘ialah’ yang ada dalam tanda kurung tidak ada dalam Kitab Suci Indonesia, tetapi seharusnya ada.

b.   1Kor 10:4: “... batu karang itu ialah Kristus”.

c.   Gal 4:24-31 (lihat sendiri).

d.   Wah 1:20: “... ke 7 bintang itu ialah malaikat ke 7 jemaat dan ke 7 kaki dian itu ialah ke 7 jemaat”.

e.   Luk 8:9  Luk 15:26  Yoh 7:36  Yoh 10:6  Kis 10:17 (lihat ayat- ayat ini dalam terjemahan NASB).

 

Kesimpulan:

Dari semua ini terlihat dengan jelas bahwa pada saat Yesus berkata This is my body / blood [= Ini adalah tubuh / darah­Ku], maksudnya ialah: roti / anggur itu menggambarkan tubuh / darahNya.

 

Jadi, ini sebetulnya sama dengan pada waktu Ia berkata:

(1) Akulah pokok anggur yang benar (Yoh 15:1).

(2) Akulah pintu (Yoh 10:9).

(3) Akulah jalan (Yoh 14:6).

(4) Akulah terang dunia (Yoh 8:12  9:5).

(5) Akulah roti hidup (Yoh 6:35).

 

 

-bersambung-


 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali