Pemahaman Alkitab

 

(online)

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

 

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

 

Selasa, tgl 4 Juni 2024, pk 18.30

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

Roma Katolik

 

vs

 

Kristen Protestan (9c)

 

 

purgatory / API PENYUCIAN(3)

 

4)   Ajaran tentang api penyucian (no II di atas) adalah ajaran yang didasarkan pada keselamatan melalui perbuatan baik (salvation by works) dan ini bertentangan dengan Gal 2:16,21  Ef 2:8-9, dan banyak ayat lain.

 

Gal 2:16,21 - “(16) Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: ‘tidak ada seorangpun yang dibenarkan’ oleh karena melakukan hukum Taurat. ... (21) Aku tidak menolak kasih karunia Allah. Sebab sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus.”.

 

Ef 2:8-9 - (8) Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, (9) itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri..

 

5)   Ajaran ini menyebabkan orang Roma Katolik takut pada kematian. Lebih-lebih kalau mereka tahu bahwa mortal sins mencakup hal-hal seperti:

 

a)   Pelanggaran terhadap 10 hukum Tuhan.

 

KGK no 1456.

 

(https://www.stignatiuspj.org/wp-content/uploads/2021/09/katekismus-gereja-katolik.pdf)

 

b)   Apa yang sering disebut dengan istilah ‘7 dosa maut’ (the seven deadly sins), yaitu:

1.   Kesombongan / kecongkakan.

2.   Ketamakan / keserakahan.

3.   Nafsu berahi.

4.   Kemarahan.

5.   Kerakusan.

6.   Iri hati.

7.   Kemalasan.

 

https://www.britannica.com/topic/lust-deadly-sin

 

c)   Semua pelanggaran sexual, baik melalui perbuatan, kata-kata maupun pikiran.

 

d)   Makan daging pada hari Jum’at. Ini dilakukan untuk menghormati hari kematian Yesus yang terjadi pada hari Jumat (Jumat Agung).

 

https://www.google.com/search?client=firefox-b-d&q=may+a+Catholic+eat+meat+on+Friday

 

https://www.archspm.org/faith-and-discipleship/catholic-faith/why-dont-catholics-eat-meat-on-fridays/

 

e)   Membolos dari misa hari Minggu tanpa alasan yang benar.

 

f)    Mengikuti kebaktian Kristen Protestan.

 

https://companionscross.org/ask-fr-francis-can-i-go-to-a-protestant-church-if-i-cant-find-a-catholic-church/

 

https://www.quora.com/Is-it-a-sin-for-a-Roman-Catholic-to-visit-a-service-of-a-Protestant-church

 

g)   Membaca Alkitab Protestan.

 

https://www.quora.com/Can-Catholics-read-Protestant-Bibles

 

Catatan: Daftar ini saya ambil dari buku Loraine Boettner ‘Roman Catholicism’, hal 200.

 

Jelas tidak ada orang yang bisa bebas dari mortal sins ini, dan ini menyebabkan orang Roma Katolik takut, karena tidak adanya keyakinan keselamatan. Paling banter mereka bisa masuk api penyucian, dan ini menyakitkan dan menakutkan!

 

Perlu diketahui bahwa rasa takut seperti ini bertentangan dengan Ibr 2:14-15 dan 1Yoh 4:17-18.

 

Ibr 2:14-15 - “(14) Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematianNya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut; (15) dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut.”.

 

1Yoh 4:17-18 - “(17) Dalam hal inilah kasih Allah sempurna di dalam kita, yaitu kalau kita mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman, karena sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini. (18) Di dalam kasih yang sempurna tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut ia tidak sempurna di dalam kasih.”.

 

Catatan: perlu diperhatikan bahwa rasa takut yang dimaksudkan oleh 1Yoh 4:17-18 ini bukanlah seadanya rasa takut, tetapi rasa takut pada hari penghakiman / hukuman Allah.

 

6)   Ajaran ini menunjukkan bahwa Allah tidak adil.

Yang kaya bisa bebas dengan cepat karena bisa memberikan banyak persembahan, melakukan misa yang besar dsb. Sedangkan yang miskin tidak bisa melakukan hal-hal itu, sehingga tidak bisa bebas dari api penyucian. Sampai-sampai seorang bernama Finley Peter Dunne berkata sebagai berikut:

 

“It is as hard for a rich man to enter the kingdom of heaven as it is for a poor man to get out of purgatory.” [= Sama sukarnya bagi orang kaya untuk masuk kerajaan surga dan bagi orang miskin untuk keluar dari api penyucian.] - ‘The Encyclopedia of Religious Quotations’, hal 497

 

Bdk. Im 5:5-13 - (5) Jadi apabila ia bersalah dalam salah satu perkara itu, haruslah ia mengakui dosa yang telah diperbuatnya itu, (6) dan haruslah ia mempersembahkan kepada TUHAN sebagai tebusan salah karena dosa itu seekor betina dari domba atau kambing, menjadi korban penghapus dosa. Dengan demikian imam mengadakan pendamaian bagi orang itu karena dosanya. (7) Tetapi jikalau ia tidak mampu untuk menyediakan kambing atau domba, maka sebagai tebusan salah karena dosa yang telah diperbuatnya itu, haruslah ia mempersembahkan kepada TUHAN dua ekor burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati, yang seekor menjadi korban penghapus dosa dan yang seekor lagi menjadi korban bakaran. (8) Haruslah ia membawanya kepada imam, dan imam itu haruslah lebih dahulu mempersembahkan burung untuk korban penghapus dosa itu. Dan haruslah ia memulas kepalanya pada pangkal tengkuknya, tetapi tidak sampai terpisah. (9) Sedikit dari darah korban penghapus dosa itu haruslah dipercikkannya ke dinding mezbah, tetapi darah selebihnya haruslah ditekan ke luar pada bagian bawah mezbah; itulah korban penghapus dosa. (10) Yang kedua haruslah diolahnya menjadi korban bakaran, sesuai dengan peraturan. Dengan demikian imam mengadakan pendamaian bagi orang itu karena dosa yang telah diperbuatnya, sehingga ia menerima pengampunan. (11) Tetapi jikalau ia tidak mampu menyediakan dua ekor burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati, maka haruslah ia membawa sebagai persembahannya karena dosanya itu sepersepuluh efa tepung yang terbaik menjadi korban penghapus dosa. Tidak boleh ditaruhnya minyak dan dibubuhnya kemenyan di atasnya, karena itulah korban penghapus dosa. (12) Lalu haruslah itu dibawanya kepada imam dan imam itu haruslah mengambil dari padanya segenggam sebagai bagian ingat-ingatannya, lalu membakarnya di atas mezbah di atas segala korban. (13) Dengan demikian imam mengadakan pendamaian bagi orang itu karena dosanya dalam salah satu perkara itu, sehingga ia menerima pengampunan. Selebihnya adalah bagian imam, sama seperti korban sajian.’.

 

Text ini menunjukkan bahwa Allah menunjukkan keadilan dalam memberikan cara untuk mendapatkan pengampunan dosa. Yang mampu harus mempersembahkan seekor domba / kambing. Tetapi kalau orang itu tidak mampu, ia boleh mengganti kambing / domba itu dengan dua ekor burung merpati / tekukur. Dan kalau ia masih tidak mampu menyediakan dua burung itu, ia boleh menggantinya dengan sepersepuluh efa tepung.

 

7)   Penjahat yang bertobat di kayu salib masuk Firdaus / surga (Luk 23:43), bukan neraka ataupun api penyucian. Padahal ia jelas bukan termasuk orang percaya yang sempurna! Bahkan hampir bisa dikatakan bahwa orang ini tidak pernah berbuat baik. Mungkin satu-satunya perbuatan baik yang ia lakukan adalah menegur penjahat satunya yang mengolok-olok Yesus.

 

Luk 23:39-41 - (39) Seorang dari penjahat yang di gantung itu menghujat Dia, katanya: Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diriMu dan kami! (40) Tetapi yang seorang menegor dia, katanya: ‘Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? (41) Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.’.

 

Mat 27:44 - “Bahkan penyamun-penyamun yang disalibkan bersama-sama dengan Dia mencelaNya demikian juga.”.

 

Mark 15:32b - Bahkan kedua orang yang disalibkan bersama-sama dengan Dia mencela Dia juga..

 

Ia bahkan belum sempat dibaptis ataupun pergi ke gereja. Menurut ajaran Roma Katolik sendiri, orang seperti ini bukan masuk api penyucian, tetapi langsung masuk neraka. Tetapi Yesus berkata kepada penjahat ini bahwa hari itu juga ia akan bersama Yesus di Firdaus / surga (Luk 23:43).

 

Luk 23:43 - Kata Yesus kepadanya: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.’.

 

Cerita ini secara jelas menunjukkan betapa hebatnya kuasa dari penebusan dosa yang Yesus lakukan bagi kita! Bagaimanapun hebatnya dan banyaknya dosa saudara, hanya dengan percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, saudara akan diampuni, dan dijamin pasti masuk surga!

 

Dan jelas bahwa cerita ini juga menunjukkan secara meyakinkan bahwa doktrin Katolik tentang keselamatan, api penyucian dsb, adalah ajaran yang bertentangan dengan Kitab Suci / ajaran Yesus sendiri!

 

Catatan: Bahwa Firdaus adalah sama dengan surga terlihat dari 2Kor 12:2,4.

 

2Kor 12:1-4 - (1) Aku harus bermegah, sekalipun memang hal itu tidak ada faedahnya, namun demikian aku hendak memberitakan penglihatan-penglihatan dan penyataan-penyataan yang kuterima dari Tuhan. (2) Aku tahu tentang seorang Kristen; empat belas tahun yang lampau - entah di dalam tubuh, aku tidak tahu, entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya - orang itu tiba-tiba diangkat ke tingkat yang ketiga dari sorga. (3) Aku juga tahu tentang orang itu, - entah di dalam tubuh entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya - (4) ia tiba-tiba diangkat ke Firdaus dan ia mendengar kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia..

 

a)         ‘ke tingkat yang ketiga dari sorga’.

 

The Bible Exposition Commentary: “Paul affirmed here the reality of heaven and the ability of God to take people there. The third heaven is the same as ‘Paradise,’ the heaven of heavens where God dwells in glory. Thanks to modern science, men today have visited the heaven of the clouds (we fly above the clouds) and the heaven of the planets (men have walked on the moon), but man cannot get to God’s heaven without God’s help.” [= Paulus menegaskan di sini kenyataan dari surga dan kemampuan Allah untuk membawa orang-orang ke sana. Surga yang ketiga adalah sama dengan ‘Firdaus’, surga dari surga dimana Allah tinggal dalam kemuliaan. Berkat ilmu pengetahuan modern, orang-orang jaman sekarang telah mengunjungi surga dari awan-awan (kita terbang di atas awan-awan) dan surga dari planet-planet (orang-orang telah berjalan di bulan), tetapi manusia tidak bisa sampai ke surga Allah tanpa pertolongan Allah.].

 

Barnes’ Notes: “The Jews sometimes speak of seven heavens, ... But the Bible speaks of but three heavens; and among the Jews in the apostolic ages, also, the heavens were divided into three: (1) The aerial, including the clouds and the atmosphere, the heavens above us, until we come to the stars. (2) The starry heavens - the heavens in which the sun, moon, and stars appear to be situated. (3) The heavens beyond the stars. That heaven was supposed to be the residence of God, of angels, and of holy spirits. It was this upper heaven, the dwelling-place of God, to which Paul was taken, and whose wonders he was permitted to behold - this region where God dwelt, where Christ was seated at the right hand of the Father, and where the spirits of the just were assembled” [= Orang-orang Yahudi kadang-kadang berbicara tentang tujuh langit / surga. ... Tetapi Alkitab berbicara hanya tentang 3 langit / surga; dan di antara orang-orang Yahudi dalam jaman rasul-rasul, langit / surga juga dibagi menjadi 3: (1) Udara, termasuk awan-awan dan atmosfir, langit di atas kita, sampai kita sampai pada bintang-bintang. (2) Langit / surga dengan bintang-bintang - langit di mana matahari, bulan, dan bintang-bintang diletakkan. (3) Langit / surga di atas bintang-bintang. Langit / surga itu dianggap sebagai tempat tinggal Allah, malaikat-malaikat, dan roh-roh yang kudus. Surga bagian atas inilah, tempat tinggal dari Allah, kemana Paulus diangkat, dan diijinkan untuk melihat keajaiban-keajaibannya - daerah ini dimana Allah tinggal, dimana Kristus duduk di sebelah kanan Bapa, dan dimana roh-roh dari orang-orang benar dikumpulkan] - hal 902.

 

Jewish New Testament Commentary: “The third heaven is not the air (the first heaven) or the sky where the stars are (the second heaven), but the ‘place’ where God is, a spiritual realm.” [= Surga ketiga itu bukanlah udara (surga pertama) atau langit dimana bintang-bintang berada (surga kedua), tetapi ‘tempat’ dimana Allah ada, suatu alam rohani.].

 

Lenski: “The first heaven is that of the clouds, the second that of the far firmament of the sky and the stars, the third is the actual abode of God, of the angels, and of departed saints in glory.” [= Surga pertama adalah surga dari awan-awan, surga yang kedua adalah surga dari cakrawala yang jauh di langit dan bintang-bintang, surga ketiga adalah tempat tinggal sungguh-sungguh dari Allah, dari malaikat-malaikat, dan dari orang-orang kudus yang sudah mati dalam kemuliaan.].

 

Contoh ayat untuk 3 langit / surga.

 

1.   Langit pertama à Daniel 4:11 - pohon itu bertambah besar dan kuat, tingginya sampai ke langit, dan dapat dilihat sampai ke ujung seluruh bumi.”.

 

Juga Kej 11:4 - “Juga kata mereka: ‘Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi.”.

 

2.   Langit kedua à Kej 22:17 - “maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya.”.

 

3.   Langit ketiga à Mat 6:9 - “Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah namaMu,”.

 

Ini yang sungguh-sungguh adalah surga.

 

Jadi pada waktu Paulus mengatakan bahwa ia diangkat ke tingkat yang ketiga dari surga, maksudnya adalah bahwa ia diangkat ke surga.

 

b)         “ia tiba-tiba diangkat ke Firdaus”.

Pembahasan tentang arti dari kata ‘Firdaus’ ini penting, karena:

1.   Ada orang-orang yang berpendapat bahwa ‘tempat penantian’ itu terdiri dari 2 bagian, yaitu SHEOL / HADES untuk orang-orang yang tidak percaya, dan Firdaus untuk orang-orang yang percaya.

2.   Para Saksi Yehuwa mempercayai bahwa Firdaus merupakan dunia / bumi ini, yang NANTINYA AKAN DISEMPURNAKAN.

Dalam pembahasan ini saya ingin menunjukkan bahwa kedua pandangan ini merupakan pandangan-pandangan yang salah.

 

Kata ‘Firdaus’ berasal dari kata bahasa Yunani PARADEISOS, yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan ‘paradise’ (= surga). Kata Yunani itu muncul hanya 3 x dalam Perjanjian Baru, yaitu dalam 2Kor 12:4, Wah 2:7, dan Luk 23:43. Mari kita melihat ketiga ayat ini.

 

a.   2Kor 12:2,4 - “(2) Aku tahu tentang seorang Kristen; empat belas tahun yang lampau - entah di dalam tubuh, aku tidak tahu, entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya - orang itu tiba-tiba diangkat ke tingkat yang ketiga dari sorga. ... (4) Aku juga tahu tentang orang itu, - entah di dalam tubuh entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya - ia tiba-tiba diangkat ke Firdaus dan ia mendengar kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia.”.

 

Kalau kita membandingkan 2Kor 12:4 dengan 2Kor 12:2, maka jelas bisa kita dapatkan bahwa Firdaus adalah surga, karena dalam 2Kor 12:2 Paulus mengatakan diangkat ke sorga, sedangkan dalam 2Kor 12:4 Paulus mengatakan diangkat ke Firdaus.

 

Barnes’ Notes: “Some have supposed that Paul here by the word ‘paradise’ means to describe a different place from that denoted by the phrase ‘the third heaven;’ but there is no good reason for this supposition. The only difference is that this word implies the idea of a place of blessedness; but the same place is undoubtedly referred to” (= Beberapa orang menganggap bahwa dengan kata ‘Firdaus’ Paulus di sini bermaksud untuk menggambarkan suatu tempat yang berbeda dari yang ditunjukkan oleh ungkapan ‘surga ketiga’; tetapi di sana tidak ada alasan yang baik untuk anggapan ini. Satu-satunya perbedaan adalah bahwa kata ini secara implicit menunjuk pada gagasan tentang suatu tempat yang diberkati; tetapi tak diragukan tempat yang sama yang ditunjuk) - hal 902.

 

Charles Hodge: it is plain that the ‘third heaven’ and ‘paradise’ are synonymous terms; and paradise, as is admitted, at least by those who suppose that Paul here speaks as a Jew, means heaven (= adalah jelas bahwa ‘surga ketiga’ dan ‘firdaus’ adalah istilah-istilah yang sinonim; dan firdaus, seperti yang diakui, setidaknya oleh mereka yang menganggap bahwa di sini Paulus berbicara sebagai seorang Yahudi, berarti surga).

 

Charles Hodge: This is a repetition of v. 2, with the exception of the substitution of the word ‘paradise’ for the phrase ‘the third heaven.’ Paradise is a word of Sanscrit origin, and signifies a park, or garden. It is used in the Septuagint, Genesis 2:8, in the description of Eden, which was a paradise or garden. The word was early used among the Jews as a designation of heaven, or the abode of the blessed after death, as appears from Luke 23:43, (compare Ecclesiasticus 40:17, 28.) In Revelation 2:7, it occurs in the same sense [= Ini merupakan suatu pengulangan dari ay 2, kecuali ada penggantian kata ‘firdaus’ untuk ungkapan ‘surga ketiga’. Firdaus adalah suatu kata yang berasal dari bahasa Sansekerta, dan berarti suatu kebun atau taman. Itu digunakan dalam Septuaginta, Kej 2:8, dalam penggambaran dari Eden, yang merupakan suatu kebun atau taman. Kata itu mula-mula digunakan di antara orang-orang Yahudi sebagai suatu penunjukkan dari surga, atau tempat tinggal dari orang-orang yang diberkati setelah kematian, seperti terlihat dari Luk 23:43, (bdk. Ecclesiasticus 40:17,28). Dalam Wah 2:7, kata itu muncul dalam arti yang sama].

 

Catatan:

(1) Ecclesiasticus adalah salah satu dari kitab-kitab Apocrypha, yang tak ada dalam Alkitab kita tetapi ada dalam Deuterokanonika Katolik.

(2) Dalam bahasa Indonesia disebut Sirakh.

(3) Rupanya ay 28nya seharusnya adalah ay 27.

(4) Jangan kacaukan kitab ini dengan kitab Ecclesiastes (= Pengkhotbah), yang ada dalam Perjanjian Lama dari Alkitab kita.

 

8)   Seorang ahli theologia yang bernama A. H. Strong berkata sebagai berikut:

“But suffering has in itself no reforming power. Unless accompanied by special renewing influences of the Holy Spirit, it only hardens and embitters the soul. We have no Scriptural evidence that such influences of the Spirit are exerted, after death, upon the still impenitent; but abundant evidence, on the contrary, that the moral condition in which death finds men is their condition forever. ... To the impenitent and rebellious sinner the motive must come, not from within, but from without. Such motives God presents by His Spirit in this life; and when this life ends and God’s Spirit is withdrawn, no motive to repentance will be presented. The soul’s dislike for God will issue only in complaint and resistance.” [= Tetapi penderitaan, dalam dirinya sendiri tidak mempunyai kuasa untuk mengubah / memperbaiki. Kecuali dibarengi oleh pengaruh memperbaharui yang khusus dari Roh Kudus, penderitaan hanya mengeraskan dan memahitkan jiwa. Kami tidak mempunyai bukti Kitab Suci bahwa pengaruh Roh seperti itu digunakan setelah kematian terhadap orang-orang yang tidak / belum bertobat, tetapi sebaliknya ada banyak bukti bahwa kondisi moral pada saat seseorang itu mati merupakan kondisinya untuk selama-lamanya. ... Bagi orang berdosa yang tidak / belum bertobat dan bersifat pemberontak, motivasi / dorongan harus datang, bukan dari dalam, tetapi dari luar. Motivasi / dorongan seperti itu diberikan Allah oleh RohNya dalam hidup ini; dan pada waktu hidup ini berakhir dan Roh Allah ditarik kembali, tidak ada motivasi / dorongan untuk bertobat yang akan diberikan. Ketidaksenangan jiwa kepada Allah akan menghasilkan keluhan dan perlawanan.] - A. H. Strong - ‘Systematic Theology’, hal 1041-1042.

 

Dengan demikian adalah suatu omong kosong bahwa api penyucian bisa menyucikan seseorang dengan menggunakan penderitaan yang begitu hebat setelah orang itu mati.

 

9)   Ada 2 pertanyaan serangan:

 

a)   Mengapa misa, yang bisa melepaskan orang dari api penyucian dan membawanya ke surga, tidak digratiskan kalau Paus / pastor-pastor itu memang adalah orang-orang yang baik? Sebaliknya, pada waktu ada seseorang menderita karena kematian orang yang dicintainya, pastor hanya mau memberikan misa dengan biaya tertentu. Jadi, boleh dikatakan orang yang sudah menderita karena kematian orang yang ia cintai itu, masih diperas lagi uangnya! Bukankah ini merupakan suatu tindakan yang tidak kasih, dan bahkan kejam? Dan mengapa tuntutan ‘harus membayar’ itu bertentangan sekali dengan tawaran keselamatan / pengampunan secara cuma-cuma dari Allah seperti yang terlihat dalam 2 ayat di bawah ini?

 

Yes 55:1 - “Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah, juga anggur dan susu tanpa bayaran!”.

 

Ro 3:23-24 - “(23) Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, (24) dan oleh kasih karunia Allah telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.”.

 

b)   Bagaimana kita bisa tahu roh seseorang itu sudah pindah dari api penyucian ke surga atau belum? Dengan kata lain, sampai kapan keluarga dari orang yang mati itu harus memberi persembahan, mengadakan misa dsb?

 

Loraine Boettner mengutip Dr. Robert Ketcham, dalam suatu buku tipis yang berjudul ‘Let Rome Speak for Herself’, hal 20, yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan kepada pastor sebagai berikut:

 

“How do you know, Mr Priest, when to stop praying and taking money from your parishioners for a given case? How do you know when John Murphy is out of purgatory? His getting out is dependent upon the saying of masses paid for by his bereaved ones. If you stop one or two masses too soon, what then? If you keep on saying masses for the fellow after he is out, that is bad. It is bad either way you come at it. I ask seriously, Sir, Mr Roman Catholic Priest, How do you know when to stop saying masses for a given individual? Do you have some kind of a connection with the unseen world?” [= Bagaimana kamu tahu, Tuan Pastor / Imam, kapan berhenti berdoa dan menerima uang dari jemaatmu dalam suatu kasus? Bagaimana kamu tahu kapan John Murphy keluar dari api penyucian? Keluarnya dia tergantung dari pengadaan misa yang dibayar oleh orang-orang yang kehilangan orang yang dikasihinya. Jika kamu berhenti satu atau dua misa terlalu cepat, lalu bagaimana? Jika kamu terus mengadakan misa untuk seseorang setelah ia keluar (dari api penyucian) maka itu jelek. Jadi, yang pertama maupun yang kedua sama-sama jelek. Saya bertanya secara serius, Tuan, Tuan Pastor / Imam Roma Katolik, Bagaimana kamu tahu kapan harus menghentikan misa untuk seorang individu tertentu? Apakah kamu mempunyai suatu hubungan tertentu dengan dunia yang tidak kelihatan?] - ‘Roman Catholicism’, hal 224.

 

Loraine Boettner lalu menambahkan:

“The fact is that Roman Catholic priest admit that they have no way of knowing when a soul is released from purgatory.” [= Faktanya adalah bahwa pastor Roma Katolik mengakui bahwa mereka tidak mempunyai jalan untuk mengetahui kapan jiwa seseorang itu dibebaskan dari api penyucian.] - ‘Roman Catholicism’, hal 224.

 

10)Loraine Boettner menceritakan percakapan antara seorang yang bernama Norman Porter, dengan seorang pastor.

Ternyata pastor itu yakin bahwa ia tidak cukup sempurna untuk masuk surga, dan karenanya ia harus masuk ke api penyucian bila ia mati. Ini sesuatu yang aneh, karena orang yang betul-betul percaya kepada Yesus harus yakin akan keselamatannya sesuai dengan 1Yoh 5:13 berbunyi: “Semuanya ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal.”.

 

Lebih dari itu, pastor itu juga tidak tahu kapan ia akan keluar dari api penyucian. Sesuatu yang aneh tetapi nyata adalah bahwa ia bahkan juga yakin bahwa kalau Paus mati, iapun akan pergi ke api penyucian.

 

Loraine Boettner menutup cerita ini dengan kata-kata sinis:

“What a message for a perishing world!” [= Betul-betul suatu berita yang hebat untuk dunia yang sedang binasa!] - ‘Roman Catholicism’, hal 232-233.

 

 

-o0o-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali