(online)
(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)
Selasa, tgl 28 Mei 2024, pk 18.30
Pdt. Budi Asali, M. Div.
vs
purgatory / API PENYUCIAN(2)
3) Apa yang dilakukan oleh Kristus sudah lengkap, dan ini ditunjukkan oleh:
a) Seruan Yesus di atas kayu salib yang berbunyi: ‘Sudah selesai!’ (Yoh 19:30).
Karena kata-kata Yesus ini penting untuk menentang api penyucian, maka saya bahas secara panjang lebar.
Dalam bahasa Yunani kata-kata ‘Sudah selesai’ itu merupakan bentuk perfect tense. Karena itu terjemahan yang paling tepat adalah yang diberikan oleh YLT: “It hath been finished” [= itu telah selesai].
Wuest’s Word Studies from the Greek New Testament: “THE PERFECT tense in Greek is very expressive. It speaks of an action that took place in the past, which was completed in past time, and the existence of its finished results.” [= Bentuk perfect tense dalam bahasa Yunani sangat berarti. Tensa itu membicarakan tentang suatu tindakan yang terjadi pada masa lampau, yang telah diselesaikan pada masa lampau, dan hasil dari tindakan itu tetap ada.].
Wuest lalu memberi contoh: kalau saya berkata dalam bahasa Yunani menggunakan perfect tense ‘saya telah menutup pintu itu’, maka itu berarti bahwa pada masa lalu saya telah menutup pintu itu, dan sampai sekarang pintu itu tetap tertutup.
Dalam Mat 4:4 Yesus menjawab Iblis dengan kata-kata ‘Ada tertulis ...’. Ini juga menggunakan perfect tense. Yesus mengutip dari kitab Ulangan, yang ditulis oleh Musa sekitar 1500 tahun sebelumnya, tetapi tulisan itu tetap ada sampai saat itu.
Juga dalam Ef 2:8 dikatakan ‘sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan’. Kata-kata ‘kamu diselamatkan’ lagi-lagi menggunakan perfect tense, dan karena itu artinya adalah ‘dahulu kamu diselamatkan (pada saat kamu percaya), dan sampai sekarang kamu tetap diselamatkan’.
Jadi, dalam Yoh 19:30 pada saat Yesus berkata ‘Sudah selesai’ menggunakan perfect tense, artinya adalah: Itu sudah selesai pada masa lalu, dan sampai saat ini tetap selesai.
The Bible Exposition Commentary: “‘It is finished!’ In the Greek text, it is TETELESTAI, and it means, ‘It is finished, it stands finished, and it always will be finished!’” [= ‘Sudah selesai!’ Dalam text Yunani itu adalah TETELESTAI, dan itu berarti, ‘Itu sudah selesai, itu tetap selesai, dan itu akan selalu sudah selesai!’].
Bible Knowledge Commentary: “The sixth word or saying that Jesus spoke from the cross was the single Greek work TETELESTAI which means ‘It is finished.’ Papyri receipts for taxes have been recovered with the word TETELESTAI written across them, meaning ‘paid in full.’ This word on Jesus’ lips was significant. When He said, ‘It is finished’ (not ‘I am finished’), He meant His redemptive work was completed.” [= Kata atau kalimat keenam yang Yesus ucapkan dari salib adalah satu kata Yunani TETELESTAI, yang berarti ‘Sudah selesai’. Kwitansi papirus untuk pajak telah ditemukan dengan kata TETELESTAI dituliskan melewatinya, berarti ‘dibayar lunas’. Kata pada bibir Yesus ini sangat berarti / penting. Pada waktu Ia berkata, ‘Sudah selesai’ (bukan ‘Aku selesai / tamat’), Ia memaksudkan pekerjaan penebusanNya sudah selesai.].
Dalam Kitab Suci, dosa memang sering digambarkan sebagai suatu hutang (Mat 6:12 Mat 18:23-35 Luk 7:36-50), dan kata Yesus dalam Yoh 19:30 ini menunjukkan bahwa Ia sudah membayar lunas hutang dosa kita.
Kita harus bersandar pada pekerjaan Kristus yang sudah selesai ini, bukan pada pekerjaan kita sendiri yang belum selesai dan yang tidak akan pernah selesai!
Jadi dosa mana lagi yang menyebabkan orang harus masuk api penyucian ataupun neraka?
Semua orang percaya sejati pasti langsung masuk surga pada saat ia mati (hanya roh / jiwanya), tubuhnya menunggu kedatangan Kristus yang keduakalinya.
J. C. Ryle: “One comfortable thought, at all events, stands out most clearly on the face of this famous expression. We rest our souls on a ‘finished work,’ if we rest them on the work of Jesus Christ the Lord. We need not fear that either sin, or Satan, or law shall condemn us at the last day. We may lean back on the thought, that we have a Saviour who has done all, paid all, accomplished all, performed all that is necessary for our salvation. We may take up the challenge of the Apostle, ‘Who is he that condemneth? It is Christ that died; yea, rather that is risen again; who is even at the right hand of God; who also maketh intercession for us.’ (Rom. 8:34). When we look at our own works, we may well be ashamed of their imperfections. But when we look at the finished work of Christ, we may feel peace. We ‘are complete in Him,’ if we believe. (Col. 2:10.)” [= Suatu pemikiran yang bisa memberikan penghiburan, pada semua peristiwa, berdiri paling jelas di hadapan pernyataan yang terkenal ini. Kita menyandarkan jiwa-jiwa kita pada suatu ‘pekerjaan yang sudah selesai’, jika kita menyandarkan mereka pada pekerjaan Yesus Kristus, sang Tuhan. Kita tidak perlu takut bahwa dosa, atau Iblis, atau hukum Taurat, akan mengecam / menghukum kita pada hari terakhir. Kita boleh bersandar pada pemikiran, bahwa kita mempunyai seorang Juruselamat yang telah melakukan semuanya, membayar semua, menyelesaikan semua, menggenapi semua yang diperlukan untuk keselamatan kita. Kita boleh / bisa menerima tantangan dari sang Rasul, ‘Siapakah dia yang menghukum? Adalah Kristus yang telah mati; ya, bahkan telah bangkit kembali; yang bahkan berada di sebelah kanan Allah; yang juga melakukan syafaat bagi kita’. (Ro 8:34). Pada waktu kita melihat pada pekerjaan-pekerjaan kita sendiri, kita bisa malu karena ketidak-sempurnaan mereka. Tetapi pada waktu kita melihat pada pekerjaan yang sudah selesai dari Kristus, kita bisa merasakan damai. Kita ‘lengkap / sempurna dalam Dia’, jika kita percaya (Kol 2:10).] - ‘Expository Thoughts on the Gospels’, (John volume III), hal 355.
Kol 2:10 - “dan kamu telah dipenuhi di dalam Dia. Dialah kepala semua pemerintah dan penguasa.”. NIV seperti Kitab Suci Indonesia.
KJV: ‘And ye are complete in him’ [= Dan kamu lengkap / sempurna dalam Dia].
NASB: ‘and in Him you have been made complete’ [= dan dalam Dia kamu telah dibuat menjadi lengkap / sempurna].
Kita harus mengharapkan keselamatan dari Yesus dan kematianNya saja.
Calvin: “Now this word, which Christ employs, well deserves our attention; for it shows that the whole accomplishment of our salvation, and all the parts of it, are contained in his death. We have already stated that his resurrection is not separated from his death, but Christ only intends to keep our faith fixed on himself alone, and not to allow it to turn aside in any direction whatever. The meaning, therefore, is, that every thing which contributes to the salvation of men is to be found in Christ, and ought not to be sought anywhere else; or - which amounts to the same thing - that the perfection of salvation is contained in him.” [= Kata yang digunakan Kristus ini layak mendapat perhatian kita; karena itu menunjukkan bahwa seluruh penyelesaian keselamatan kita, dan semua bagian-bagiannya, terdapat / tercakup dalam kematianNya. Kita telah menyatakan bahwa kebangkitanNya tidak terpisah dari kematianNya, tetapi Kristus hanya bermaksud untuk menjaga agar iman kita tertuju tetap kepadaNya saja, dan tidak mengijinkannya untuk membelokkannya ke arah lain manapun. Karena itu, artinya jelas bahwa segala sesuatu yang memberikan sumbangsih pada keselamatan manusia harus ditemukan / didapatkan dalam Kristus, dan tidak boleh dicari di tempat lain manapun juga; atau - yang mempunyai arti yang sama dengan - bahwa kesempurnaan keselamatan terdapat di dalam Dia.].
Calvin: “If we give our assent to this word which Christ pronounced, we ought to be satisfied with his death alone for salvation, and we are not at liberty to apply for assistance in any other quarter; for he who was sent by the Heavenly Father to obtain for us a full acquittal, and to accomplish our redemption, knew well what belonged to his office, and did not fail in what he knew to be demanded of him. It was chiefly for the purpose of giving peace and tranquillity to our consciences that he pronounced this word, It is finished. Let us stop here, therefore, if we do not choose to be deprived of the salvation which he has procured for us.” [= Jika kita menyetujui kata yang diucapkan / diumumkan Kristus ini, kita harus puas dengan kematianNya saja untuk keselamatan, dan kita tidak mempunyai kebebasan untuk menggunakan bantuan dari sudut lain manapun; karena Ia yang diutus oleh Bapa Surgawi untuk mendapatkan bagi kita pembebasan penuh, dan untuk menyelesaikan penebusan kita, tahu dengan baik apa yang termasuk dalam tugasNya, dan tidak gagal dalam apa yang Ia tahu dituntut dariNya. Dengan tujuan utama untuk memberikan damai dan ketenangan pada hati nurani kitalah Ia mengumumkan kata ‘Sudah selesai’ ini. Karena itu, hendaklah kita berhenti di sini, jika kita tidak memilih untuk dicabut / dihilangkan dari keselamatan yang telah Ia peroleh bagi kita.].
Bdk. Gal 5:1-5 - “(1) Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan. (2) Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu. (3) Sekali lagi aku katakan kepada setiap orang yang menyunatkan dirinya, bahwa ia wajib melakukan seluruh hukum Taurat. (4) Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia. (5) Sebab oleh Roh, dan karena iman, kita menantikan kebenaran yang kita harapkan.”.
Karena itu, jangan menggabungkan Kristus dengan kepercayaan / agama lain, dengan kepercayaan kepada Maria atau orang suci, dengan kepercayaan pada perbuatan baik saudara sendiri, dsb. Keselamatan kita terjadi hanya karena jasa penebusan Kristus, yang kita terima dengan iman!
The Bible Exposition Commentary: “Perhaps the most meaningful meaning of tetelestai was that used by the merchants: ‘The debt is paid in full!’ When He gave Himself on the cross, Jesus fully met the righteous demands of a holy law; He paid our debt in full. ... There was once a rather eccentric evangelist named Alexander Wooten, who was approached by a flippant young man who asked, ‘What must I do to be saved?’ ‘It’s too late!’ Wooten replied, and went about his work. The young man became alarmed. ‘Do you mean that it’s too late for me to be saved?’ he asked. ‘Is there nothing I can do?’ ‘Too late!’ said Wooten. ‘It’s already been done! The only thing you can do is believe.’” [= Mungkin arti yang paling berarti / penting dari TETELESTAI adalah penggunaannya oleh pedagang-pedagang: ‘Hutang sudah dibayar lunas!’ Pada waktu Ia menyerahkan diriNya sendiri di kayu salib, Yesus memenuhi tuntutan yang benar dari hukum Taurat yang kudus; Ia membayar lunas hutang kita. ... Suatu waktu ada seorang penginjil yang eksentrik bernama Alexander Wooten, yang didatangi oleh seorang muda yang usil / sembrono, yang bertanya: ‘Apa yang harus aku lakukan supaya selamat?’ Wooten menjawab, ‘Sudah terlambat’, dan lalu meneruskan pekerjaannya. Orang muda itu menjadi takut. ‘Apakah kamu memaksudkan bahwa sudah terlambat bagiku untuk diselamatkan?’, ia bertanya. ‘Tidak adakah sesuatu yang bisa aku lakukan?’ ‘Terlambat’, kata Wooten. ‘Itu sudah dilakukan. Satu-satunya hal yang bisa kamu lakukan adalah percaya’.].
C. H. Spurgeon: “Let us publish it. Children of God, ye who by faith received Christ as your all in all, tell it every day of your lives that ‘it is finished.’ Go and tell it to those who are torturing themselves, thinking through obedience and mortification to offer satisfaction. ... In all parts of the earth there are those who think that the misery of the body and the soul may be an atonement for sin. Rush to them, stay them in their madness and say to them, ‘Wherefore do ye this? It is finished.’ All the pains that God asks, Christ has suffered; all the satisfaction by way of agony in the flesh that the law demandeth, Christ hath already endured. ... God neither asks nor accepts any other sacrifice than that which Christ offered once for all upon the cross. ... Why improve on what is finished? Why add to that which is complete? The Bible is finished, he that adds to it shall have his name taken out of the Book of Life, and out of the holy city: Christ’s atonement is finished, and he that adds to that must expect the selfsame doom.” [= Hendaklah kita mempublikasikannya. Anak-anak Allah, engkau yang oleh iman menerima Kristus sebagai semua dalam semua bagimu, ceritakanlah dalam setiap hari dalam hidupmu bahwa itu ‘Sudah selesai’. Pergilah dan ceritakanlah itu kepada mereka yang menyiksa diri mereka sendiri, dan mengira melalui ketaatan dan penghukuman / penyangkalan diri untuk menawarkan pemuasan. ... Di semua bagian-bagian bumi ada mereka yang berpikir bahwa penderitaan dari tubuh dan jiwa bisa menjadi penebusan untuk dosa. Cepatlah pergi kepada mereka, tahanlah / hentikanlah mereka dalam kegilaan mereka dan katakan kepada mereka: ‘Untuk apa kamu lakukan ini? Itu sudah selesai’. Semua rasa sakit yang dituntut oleh Allah, telah diderita oleh Kristus; semua pemuasan melalui penderitaan dalam daging yang dituntut oleh hukum Taurat, telah ditahan oleh Kristus. ... Allah tidak meminta ataupun menerima korban lain apapun dari pada korban yang diberikan oleh Kristus sekali untuk selama-lamanya di atas kayu salib. ... Mengapa memperbaiki apa yang sudah selesai? Mengapa menambahkan pada apa yang sudah selesai / lengkap? Alkitab sudah selesai, ia yang menambahinya akan dihapuskan namanya dari Kitab Kehidupan, dan dari kota kudus: penebusan Kristus sudah selesai, dan ia yang menambahkan pada penebusan itu harus mengharapkan nasib yang sama.] - ‘A Treasury of Spurgeon on the Life and Work of our Lord’, vol VI, hal 584,585.
Arthur W. Pink: “‘It is finished.’ Do you really believe it? Or, are you endeavoring to add something of your own to it and thus merit the favor of God? Some years ago a Christian farmer was deeply concerned over an unsaved carpenter. The farmer sought to set before his neighbor the Gospel of God’s grace, and to explain how that the Finished Work of Christ was sufficient for his soul to rest upon. But the carpenter persisted in the belief that he must do something himself. One day the farmer asked the carpenter to make for him a gate, and when the gate was ready he carried it away to his wagon. He arranged for the carpenter to call on him the next morning and see the gate as it hung in the field. At the appointed hour the carpenter arrived and was surprised to find the farmer standing by with a sharp axe in his hand. ‘What are you going to do?’ he asked. ‘I am going to add a few cuts and strokes to your work’ was the response. ‘But there is no need for it,’ replied the carpenter, ‘the gate is alright as it is. I did all that was necessary to it.’ The farmer took no notice, but lifting his axe he slashed and hacked at the gate until it was completely spoiled. ‘Look what you have done!’ cried the carpenter, ‘you have ruined my work’ ‘Yes,’ said the farmer, ‘and that is exactly what you are trying to do. You are seeking to nullify the Finished Work of Christ by your own miserable addition to it!’ God used this forceful object lesson to show the carpenter his mistake, and he was led to cast himself by faith upon what Christ had done for sinners. Reader, will you do the same?” [= ‘Sudah selesai’. Apakah kamu sungguh-sungguh mempercayainya? Atau, apakah kamu sedang berusaha untuk menambahi sesuatu dari dirimu sendiri padanya dan dengan demikian layak mendapat kebaikan Allah? Beberapa tahun yang lalu seorang petani Kristen sangat prihatin atas seorang tukang kayu yang belum selamat. Petani itu berusaha untuk menyatakan di depan tetangganya Injil dari kasih karunia Allah, dan menjelaskan bagaimana pekerjaan Kristus yang sudah selesai itu cukup bagi jiwanya untuk disandari. Tetapi si tukang kayu berkeras dalam kepercayaan bahwa ia sendiri harus melakukan sesuatu. Suatu hari si petani meminta si tukang kayu untuk membuat baginya sebuah pintu gerbang, dan pada waktu pintu gerbang itu sudah siap ia membawanya ke dalam mobilnya. Ia mengatur supaya si tukang kayu singgah padanya pagi berikutnya dan melihat pintu gerbang itu pada waktu pintu gerbang itu tergantung di ladang. Pada saat yang telah ditetapkan si tukang kayu datang dan kaget mendapati si petani berdiri dengan kapak yang tajam di tangannya. ‘Apa yang akan kamu lakukan?’, ia bertanya. ‘Saya akan menambahkan beberapa potongan dan pukulan / coretan pada pekerjaanmu’, jawabnya. ‘Tetapi itu tidak dibutuhkan’, jawab si tukang kayu, ‘pintu gerbang itu sudah benar seperti itu. Aku sudah melakukan semua yang diperlukan padanya’. Si petani tidak memperhatikan, tetapi mengangkat kapaknya dan menyayat dan membacok pintu gerbang itu sampai itu rusak seluruhnya. ‘Lihat apa yang telah kamu lakukan!’ teriak si tukang kayu, ‘kamu telah merusakkan pekerjaanku’. ‘Ya’ kata si petani, ‘dan itu persis merupakan apa yang kamu sedang berusaha lakukan. Kamu mengusahakan / mencoba untuk menghapuskan Pekerjaan yang sudah selesai dari Kristus oleh penambahanmu yang menyedihkan padanya’. Allah memakai pelajaran yang kuat ini untuk menunjukkan kepada si tukang kayu kesalahannya, dan ia dibimbing untuk menyerahkan dirinya sendiri dengan iman pada apa yang telah dilakukan oleh Kristus bagi orang-orang berdosa. Pembaca, maukah engkau melakukan hal yang sama?] - ‘The Seven Sayings of the Saviour on the Cross’, hal 119.
Masih ada satu hal lagi yang harus saya bahas:
Kata-kata ‘Sudah selesai’ ini dianggap bertentangan dengan Kol 1:24 - “Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuhNya, yaitu jemaat.”.
Roma Katolik menafsirkan bahwa Kol 1:24 ini menunjukkan bahwa penebusan Kristus tidak sempurna, perlu ditambahi dengan penderitaan dari para martir. Dan memang dalam ajaran Roma Katolik ada hal-hal yang sejalan dengan ketidak-sempurnaan penebusan Kristus, seperti:
1. Api penyucian.
2. Perbuatan baik manusia punya andil dalam keselamatan.
Tetapi Kol 1:24 ini tidak mungkin diartikan bahwa penebusan Kristus tidak sempurna, karena:
a. Itu bertentangan dengan kata-kata ‘telah / sudah selesai’ dalam Yoh 19:28,30 dan juga dengan Ibr 10:11-14 - “(11) Selanjutnya setiap imam melakukan tiap-tiap hari pelayanannya dan berulang-ulang mempersembahkan korban yang sama, yang sama sekali tidak dapat menghapuskan dosa. (12) Tetapi Ia, setelah mempersembahkan hanya satu korban saja karena dosa, Ia duduk untuk selama-lamanya di sebelah kanan Allah, (13) dan sekarang Ia hanya menantikan saatnya, di mana musuh-musuhNya akan dijadikan tumpuan kakiNya. (14) Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan.”.
b. Itu bertentangan dengan doktrin tentang ‘kecukupan’ penebusan Kristus, yang justru ditekankan oleh Paulus dalam surat Kolose ini, untuk menangani ajaran sesat yang menyangkal kecukupan penebusan Kristus sehingga harus ditambah dengan pertapaan, dan sebagainya.
Herbert M. Carson (Tyndale): “Furthermore, he is dealing here at Colossae with a false teaching which denies the sufficiency of the work of Christ, and insists that it must be supplemented by asceticism and other human endeavours. Paul has replied in his opening chapter with an uncompromising stress on the preeminence of Christ, and the completeness of the redemption which He has accomplished. Is it then likely that he would cast this position to the winds and introduce a view which envisaged the perfecting of an incomplete atonement?” [= Selanjutnya, di sini di Kolose ia sedang menangani ajaran sesat yang menyangkal kecukupan pekerjaan Kristus, dan mendesak bahwa itu harus ditambahi dengan pertapaan dan usaha-usaha manusia yang lain. Paulus telah menjawab dalam pasal pembukaannya dengan penekanan yang tidak berkompromi pada penonjolan Kristus, dan kelengkapan dari penebusan yang telah Ia selesaikan. Lalu mungkinkah sekarang ia membuang pandangannya dan mengajukan suatu pandangan yang menggambarkan penyempurnaan dari suatu penebusan yang tidak lengkap?] - ‘The Epistles of Paul to the Colossians and Philemon’, hal 50.
Catatan: bahwa surat Kolose memang menangani hal-hal tersebut di atas, terlihat dari Kol 2:8-23 - “(8) Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus. (9) Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan keAllahan, (10) dan kamu telah dipenuhi di dalam Dia. Dialah kepala semua pemerintah dan penguasa. (11) Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa, (12) karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati. (13) Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita, (14) dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakanNya dengan memakukannya pada kayu salib: (15) Ia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenanganNya atas mereka. (16) Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; (17) semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus. (18) Janganlah kamu biarkan kemenanganmu digagalkan oleh orang yang pura-pura merendahkan diri dan beribadah kepada malaikat, serta berkanjang pada penglihatan-penglihatan dan tanpa alasan membesar-besarkan diri oleh pikirannya yang duniawi, (19) sedang ia tidak berpegang teguh kepada Kepala, dari mana seluruh tubuh, yang ditunjang dan diikat menjadi satu oleh urat-urat dan sendi-sendi, menerima pertumbuhan ilahinya. (20) Apabila kamu telah mati bersama-sama dengan Kristus dan bebas dari roh-roh dunia, mengapakah kamu menaklukkan dirimu pada rupa-rupa peraturan, seolah-olah kamu masih hidup di dunia: (21) jangan jamah ini, jangan kecap itu, jangan sentuh ini; (22) semuanya itu hanya mengenai barang yang binasa oleh pemakaian dan hanya menurut perintah-perintah dan ajaran-ajaran manusia. (23) Peraturan-peraturan ini, walaupun nampaknya penuh hikmat dengan ibadah buatan sendiri, seperti merendahkan diri, menyiksa diri, tidak ada gunanya selain untuk memuaskan hidup duniawi.”.
c. Kata yang diterjemahkan ‘penderitaan’ dalam bahasa Yunani adalah THLIPSIS, dan kata ini tidak pernah digunakan untuk menunjuk pada penderitaan Kristus untuk menebus dosa.
Herbert M. Carson (Tyndale): “The very word used here for suffering, thlipsis, is nowhere used in the New Testament to describe the atoning death of Christ, and, as Lightfoot points out, it ‘certainly would not suggest a sacrificial act’.” [= Kata yang digunakan di sini untuk penderitaan, THLIPSIS, tidak pernah digunakan dalam Perjanjian Baru untuk menggambarkan kematian yang bersifat menebus dosa dari Kristus, dan, seperti ditunjukkan oleh Lightfoot, itu ‘pasti tidak menunjukkan suatu tindakan pengorbanan’.] - ‘The Epistles of Paul to the Colossians and Philemon’, hal 50-51.
d. Dalam Kol 1:25 Paulus menyebut dirinya ‘pelayan jemaat’.
Jika dalam Kol 1:24 ia memang mengajarkan bahwa penderitaan yang ia alami itu adalah untuk penebusan dosa, seharusnya ia mengaku diri sebagai ‘pengantara’ atau ‘penebus’, atau ‘rekan penebus’. Tetapi ternyata ia tidak melakukan hal itu.
Lalu, apa arti yang benar dari Kol 1:24 ini?
(1) Ini adalah penderitaan dalam pembangunan tubuh Kristus, dan dalam hal ini Kristus memberikan tempat untuk penderitaan lebih lanjut bagi para pengikutNya.
William Barclay: “He thinks of the sufferings through which he is passing as completing the sufferings of Jesus Christ himself. Jesus died to save his Church; but the Church must be upbuilt and extended; it must be kept strong and pure and true; therefore, anyone who serves the Church by widening her borders, establishing her faith, saving her from errors, is doing the work of Christ. And if such service involves suffering and sacrifice, that affliction is filling up and sharing the very suffering of Christ.” [= Ia berpikir tentang penderitaan yang ia lalui sebagai melengkapi penderitaan Yesus Kristus sendiri. Yesus mati untuk menyelamatkan GerejaNya; tetapi Gereja harus dibangun dan diperluas; itu harus dijaga agar tetap kuat dan murni dan benar; karena itu, setiap orang yang melayani Gereja dengan memperluas batasan-batasannya, meneguhkan imannya, menyelamatkannya dari kesalahan, sedang melakukan pekerjaan Kristus. Dan jika pelayanan seperti itu mencakup penderitaan dan pengorbanan, penderitaan itu memenuhkan dan mengambil bagian dalam penderitaan Kristus.].
James Fergusson (Geneva): “As the personal sufferings of Christ were for the church’s redemption, and to satisfy the Father’s justice for the sins of the elect, Acts 20:28, which he did completely, John 19:30; so the suffering of the saints are also for the church’s good, though not for her redemption or expiation of sin, neither in its guilt nor punishment, 1John 1:7; yet to edify the church by their example, James 5:10, to comfort her under sufferings, 2Cor. 1:6, and to confirm that truth for which they do suffer, Phil. 2:17.” [= Seperti penderitaan pribadi Kristus adalah untuk penebusan gereja, dan untuk memuaskan keadilan Bapa terhadap dosa-dosa orang pilihan, Kis 20:28, yang Ia lakukan secara lengkap, Yoh 19:30; begitulah penderitaan dari orang-orang kudus juga untuk kebaikan gereja, sekalipun bukan untuk penebusannya atau penebusan / pembayaran dosa, tidak dalam kesalahannya ataupun hukumannya, 1Yoh 1:7; tetapi untuk mendidik gereja oleh teladan mereka, Yak 5:10, untuk menghibur gereja dalam penderitaan, 2Kor 1:6, dan untuk meneguhkan kebenaran untuk mana mereka menderita, Fil 2:17.].
1Yoh 1:7 - “Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, AnakNya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa.”.
Yak 5:10 - “Saudara-saudara, turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan.”.
2Kor 1:6 - “Jika kami menderita, hal itu menjadi penghiburan dan keselamatan kamu; jika kami dihibur, maka hal itu adalah untuk penghiburan kamu, sehingga kamu beroleh kekuatan untuk dengan sabar menderita kesengsaraan yang sama seperti yang kami derita juga.”.
Fil 2:17 - “Tetapi sekalipun darahku dicurahkan pada korban dan ibadah imanmu, aku bersukacita dan aku bersukacita dengan kamu sekalian.”.
(2) Karena adanya kesatuan antara Kristus dan para pengikutNya, maka pada waktu pengikutNya menderita, Kristus juga menderita dalam dia.
James Fergusson (Geneva): “The sufferings of Paul, and of any other saints, are the sufferings of Christ, and the filling up of his sufferings; not as if Christ’s personal sufferings for the redemption of sinners were imperfect, and so to be supplied by the sufferings of others, (see Heb. 10:14) but such is that sympathy betwixt Christ and believers, Acts 9:4, and so strict is that union among them, whereby he and they do but make up one mystical Christ, 1Cor. 12:12, that in those respects the sufferings of the saints are his sufferings, to wit, the sufferings of mystical Christ, which are not perfect nor filled up, until every member of his body endure their own allotted portion and share;” [= Penderitaan dari Paulus, dan dari orang kudus yang lain, adalah penderitaan Kristus, dan memenuhkan / melengkapi penderitaanNya; bukan seakan-akan penderitaan pribadi Kristus untuk penebusan orang berdosa adalah tidak sempurna, dan karena itu harus disuplai oleh penderitaan orang-orang lain, (lihat Ibr 10:14) tetapi begitulah simpati antara Kristus dan orang-orang percaya, Kis 9:4, dan begitu ketat persatuan antara mereka, dengan mana Ia dan mereka membentuk satu Kristus yang mistik, 1Kor 12:12, bahwa dalam hal itu penderitaan orang-orang kudus adalah penderitaanNya, yaitu, penderitaan dari Kristus mistik, yang tidak sempurna atau penuh, sampai setiap anggota tubuhNya menanggung bagian mereka;].
Pulpit Commentary keberatan dengan pandangan ini dengan alasan sebagai berikut: “this view identifies Pauls’ sufferings with his Master’s while he expressly distinguishes them;” [= pandangan ini mengidentikkan penderitaan Paulus dengan penderitaan TuanNya sementara ia secara jelas membedakan mereka;] - hal 16.
(3) Ini ditinjau dari sudut musuh-musuh Kristus.
William Hendriksen: “... although Christ by means of the affliction which he endured rendered complete satisfaction to God, so that Paul is able to glory in nothing but the cross (Gal. 6:14), the enemies of Christ were not satisfied! They hated Jesus with insatiable hatred, and wanted to add to his afflictions. But since he is no longer physically present on earth, their arrows, which are meant especially for him, strike his followers. It is in that sense that all true believers are in his stead supplying what, as the enemies see it, is lacking in the afflictions which Jesus endured. Christ’s afflictions overflow toward us.” [= ... sekalipun Kristus melalui penderitaan yang Ia tanggung memberikan pemuasan lengkap / penuh kepada Allah, sehingga Paulus bisa bermegah hanya dalam salib (Gal 6:14), musuh-musuh Kristus tidak dipuaskan! Mereka membenci Yesus dengan kebencian yang tidak terpuaskan, dan ingin menambah penderitaanNya. Tetapi karena Ia tidak lagi hadir secara jasmani di bumi ini, panah-panah mereka, yang sebetulnya dimaksudkan secara khusus untuk Dia, menyerang pengikut-pengikutNya. Adalah dalam arti ini dimana semua orang yang sungguh-sungguh percaya ada di tempatNya menyuplai apa, sebagaimana musuh-musuh itu melihatnya, yang kurang dalam penderitaan yang telah Yesus tanggung. Penderitaan Kristus meluap / melimpah kepada kita.] - hal 87.
Bdk. Kis 9:4-5 2Kor 1:5 Gal 6:17 Fil 3:10 Wah 12:13 (‘perempuan’ = gereja).
Kis 9:4-5 - “(4) Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: ‘Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?’ (5) Jawab Saulus: ‘Siapakah Engkau, Tuhan?’ KataNya: ‘Akulah Yesus yang kauaniaya itu.”.
2Kor 1:5 - “Sebab sama seperti kami mendapat bagian berlimpah-limpah dalam kesengsaraan Kristus, demikian pula oleh Kristus kami menerima penghiburan berlimpah-limpah.”.
Gal 6:17 - “Selanjutnya janganlah ada orang yang menyusahkan aku, karena pada tubuhku ada tanda-tanda milik Yesus.”.
Fil 3:10 - “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitanNya dan persekutuan dalam penderitaanNya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematianNya,”.
Wah 12:13 - “Dan ketika naga itu sadar, bahwa ia telah dilemparkan di atas bumi, ia memburu perempuan yang melahirkan Anak laki-laki itu.”.
b) Kristus bisa bangkit dan ini membuktikan bahwa dosa yang Dia pikul itu memang sudah beres. Kalau tidak, karena dosa itu upahnya maut (Ro 6:23), maka Kristus tidak bisa bangkit / harus terus mati.
Arti / makna kebangkitan Kristus.
1) Musuh (Iblis dan maut) sudah dikalahkan (Kej 3:15 1Kor 15:57).
Kej 3:15 - “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.’”.
1Kor 15:57 - “Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.”.
Catatan: baca kontext dari ayat ini.
a) Baik Iblis maupun maut sebetulnya sudah dikalahkan pada waktu Yesus bangkit dari antara orang mati. Tetapi sekarang Iblis dan maut masih diberi kesempatan untuk menakut-nakuti / menggoda manusia. Pada kedatangan Kristus yang kedua, barulah maut dihancurkan selama-lamanya (1Kor 15:53-55 Wah 21:4) dan Iblis dibuang ke dalam neraka (2Tes 2:8 Wah 20:10), sehingga tidak lagi bisa menggoda kita. Ini adalah sesuatu yang sudah pasti akan terjadi, dan hal ini bahkan diketahui dan diakui oleh setan sendiri (Mat 8:29).
1Kor 15:53-55 - “(53) Karena yang dapat binasa ini harus mengenakan yang tidak dapat binasa, dan yang dapat mati ini harus mengenakan yang tidak dapat mati. (54) Dan sesudah yang dapat binasa ini mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati ini mengenakan yang tidak dapat mati, maka akan genaplah firman Tuhan yang tertulis: ‘Maut telah ditelan dalam kemenangan. (55) Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?’”.
Wah 21:4 - “Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.’”.
2Tes 2:8 - “pada waktu itulah si pendurhaka baru akan menyatakan dirinya, tetapi Tuhan Yesus akan membunuhnya dengan nafas mulutNya dan akan memusnahkannya, kalau Ia datang kembali.”.
Wah 20:10 - “dan Iblis, yang menyesatkan mereka, dilemparkan ke dalam lautan api dan belerang, yaitu tempat binatang dan nabi palsu itu, dan mereka disiksa siang malam sampai selama-lamanya.”.
Mat 8:29 - “Dan mereka itupun berteriak, katanya: ‘Apa urusanMu dengan kami, hai Anak Allah? Adakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?’”.
b) Karena itu orang kristen tidak boleh takut kepada setan maupun kepada kematian. Bagi orang kristen kematian bukan lagi hukuman dosa, tetapi merupakan pintu gerbang menuju surga.
2) Hutang dosa telah dibayar lunas dan pembayarannya telah diterima oleh Allah.
Kalau pembayaran itu tidak diterima oleh Allah, atau kalau hutang dosa itu belum lunas, maka Yesus harus tetap ada di dalam kematian yang merupakan upah dosa (Ro 6:23). Bahwa Ia bisa bangkit, menunjukkan bahwa pembayaran hutang itu telah diterima oleh Allah, dan hutang dosa manusia (elect / orang pilihan) sudah betul-betul lunas. Karena itu, fakta bahwa Yesus sudah bangkit dari antara orang mati menjamin keselamatan kita!
Kalau kebangkitan Kristus punya arti / makna seperti itu, lalu mengapa orang percaya bisa masuk api penyucian?
c) Kristus bisa naik ke surga dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa. Ini menunjukkan bahwa misinya membereskan dosa manusia memang sudah selesai.
Yoh 17:4-5 - “(4) Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepadaKu untuk melakukannya. (5) Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku padaMu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadiratMu sebelum dunia ada.”.
Karena itu, orang yang betul-betul percaya kepada Yesus tidak bisa dihukum. Ini sesuai dengan Ro 8:1 yang berbunyi: “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus.”.
Semua dosa, cacat cela dan ketidaksempurnaan kita sudah dibayar lunas oleh Kristus, sehingga tidak mungkin dihukumkan lagi kepada kita, baik di dalam dunia ini atau di api penyucian ataupun di neraka!
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali