(online)
(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)
Selasa, tgl 14 Mei 2024, pk 18.30
Pdt. Budi Asali, M. Div.
vs
purgatory / API PENYUCIAN(1)
I) Sejarah singkat api penyucian:
Loraine Boettner, dalam bukunya ‘Roman Catholicism’, hal 228-229, mengatakan bahwa kepercayaan tentang adanya api penyucian ini berasal-mula dari gagasan tentang penyucian setelah kematian, dan ini sudah ada di kalangan orang India dan Persia, jauh sebelum Kristus dilahirkan. Ini juga merupakan sesuatu yang umum dalam pemikiran orang Mesir, Yunani dan Roma. Ini juga diterima oleh Plato, dan lalu pengaruh Yunani menyebarkannya ke Asia Barat, termasuk Palestina.
Dalam sejarah kekristen, ini sudah ada pada abad ke 2, yaitu dalam tulisan Marcion dan the Shepherd of Hermes. Lalu juga diajarkan oleh Origen pada abad ke 3. Bahkan muncul juga dalam tulisan Agustinus, tetapi ia juga menyatakan keraguannya tentang hal itu.
Doktrin tentang api penyucian ini untuk pertama kalinya disusun dalam bentuk formal oleh Gregory I, yang juga disebut Gregory the Great, pada tahun 593. Selanjutnya pada tahun 1439, doktrin ini diproklamirkan sebagai dogma oleh Council of Florence, dan lalu pada tahun 1548, diteguhkan lagi oleh Council of Trent.
II) Doktrin Roma Katolik tentang Api Penyucian:
Setelah kematian, manusia terpisah dalam 3 golongan:
1) Ada orang-orang yang langsung masuk ke neraka, yaitu:
a) Orang yang tidak dibaptis / tidak berhubungan dengan gereja.
b) Orang yang sudah dibaptis tetapi yang lalu melakukan mortal sin [= dosa besar / mematikan].
KGK No 1030,1033,1034,1035,1036,1037.
(https://www.stignatiuspj.org/wp-content/uploads/2021/09/katekismus-gereja-katolik.pdf)
2) Ada orang-orang yang langsung masuk surga, yaitu orang percaya yang sempurna (orang suci, martyr) akan pergi ke surga.
KGK No 1023.
Contoh: Rasul Paulus (Fil 1:21,23).
Fil 1:21-24 - “(21) Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. (22) Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu. (23) Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus - itu memang jauh lebih baik; (24) tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu.”.
3) Ada orang-orang yang akan pergi ke purgatory [= api penyucian] yaitu orang percaya yang tidak sempurna.
KGK no 1030,1031,1032,1054,1472,1475.
a) Lamanya di api penyucian dan tingkat sakit yang harus dialami oleh orang itu tergantung pada dosanya.
Loraine Boettner: “2. the terrifying aspect of purgatory. Since none but actual saints escape the pains of purgatory, this doctrine gives to the death and funeral of the Roman Catholic a dreadful and repellent aspect. Under the shadow of such a doctrine death is not, as in evangelical Protestantism, the coming of Christ for His loved one, but the ushering of the shrinking soul into a place of unspeakable torture. It is no wonder that millions of people born in the Roman Catholic Church, knowing practically nothing about the Bible but believing implicitly in the doctrines of their church, should live and die in fear of death, in fear of spending an unknown number of years in the pain and anguish of that place called purgatory.” [= 2. ASPEK MENGERIKAN DARI Api penyucian. Karena hanya orang-orang suci yang sebenarnya (santa / santo) yang bisa lolos dari rasa sakit dari api penyucian, doktrin ini memberikan pada kematian dan pemakaman umat Katolik Roma suatu aspek yang sangat menakutkan dan tidak menyenangkan. Di bawah bayang-bayang doktrin seperti itu, kematian bukanlah, seperti dalam Protestan yang Injili, merupakan kedatangan Kristus untuk orang yang dicintaiNya, melainkan membawa jiwa yang ketakutan ke tempat siksaan yang tak terkatakan. Tidak mengherankan bahwa jutaan orang yang lahir dalam Gereja Katolik Roma, yang hampir tidak mengetahui apa pun tentang Alkitab tetapi mempercayai tanpa menanyakan / meragukan doktrin-doktrin gereja mereka, hidup dan mati dalam ketakutan akan kematian, dalam ketakutan akan menghabiskan waktu yang tidak diketahui jumlah tahunnya dalam rasa sakit dan penderitaan di tempat yang disebut api penyucian itu.] - ‘Roman Catholicism’, hal 219-220.
Catatan: Ini bertentangan dengan Ibr 2:14-15.
Ibr 2:14-15 - “(14) Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematianNya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut; (15) dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut.”.
Loraine Boettner: “It seems that the Church of Rome has rather wisely refrained from making any official pronouncement concerning the nature and intensity of purgatorial suffering. Books and discourses intended for Protestant readers or hearers speak of it only in the mildest terms.” [= Tampaknya Gereja Roma dengan bijaksana telah menahan diri dari membuat pernyataan resmi mengenai sifat dan intensitas penderitaan di api penyucian. Buku-buku dan pernyataan-pernyataan dengan kata-kata atau tulisan yang ditujukan untuk pembaca atau pendengar Protestan berbicara tentangnya dalam istilah yang paling moderat / ringan.] - ‘Roman Catholicism’, hal 221.
Tetapi banyak orang yang mengatakan bahwa penderitaan dalam api penyucian ini sangat hebat, tidak berbeda dengan dalam neraka.
https://www.stcatherinercc.org/single-post/2018/06/06/is-purgatory-painful
Pandangan Agustinus bahwa api penyucian itu menyakitkan!!
Loraine Boettner dalam bukunya ‘Roman Catholicism’, hal 220, mengutip Bellarmine, seorang ahli theologia Roma Katolik yang terkemuka (https://en.wikipedia.org/wiki/Robert_Bellarmine).
Ia berkata sebagai berikut:
1. “The pains of purgatory are very severe, surpassing anything endured in this life.” [= Rasa sakit dari api penyucian itu sangat hebat, melebihi rasa sakit apapun yang dialami / dirasakan dalam hidup ini.].
2. “According to the Holy Fathers of the Church, the fire of purgatory does not differ from the fire of hell, except in point of duration. ‘It is the same fire,’ says St. Thomas Aquinas, ‘that torments the reprobate in hell, and the just in purgatory. The least pain in purgatory,’ he says, ‘surpasses the greatest suffering in this life.’ Nothing but the eternal duration makes the fire of hell more terrible than that of purgatory.” [= Menurut Bapa-bapa kudus dari Gereja, api dari api penyucian tidak berbeda dengan api dari neraka, kecuali dalam hal lamanya / waktunya. ‘Itu adalah api yang sama’, kata Santo Thomas Aquinas, ‘yang menyiksa orang jahat / orang yang ditetapkan untuk binasa dalam neraka, dan orang benar dalam api penyucian. Rasa sakit yang paling kecil di api penyucian’, katanya, ‘melebihi penderitaan yang paling besar dalam hidup ini’. Tidak ada sesuatu apapun kecuali lamanya yang kekal yang membuat api neraka lebih mengerikan / dahsyat dari pada api dari api penyucian.].
3. Dan dalam buku yang lain, Bellarmine berkata:
“There is absolutely no doubt that the pains in some cases endure for entire centuries” [= Sama sekali tidak ada keraguan bahwa dalam kasus-kasus tertentu rasa sakit itu berlangsung untuk berabad-abad].
b) Paus mempunyai hak untuk mengurangi ‘masa penyucian’ ini, dan bahkan mengakhirinya, sedangkan pastor, sebagai wakil Paus, mempunyai hak yang terbatas.
Bagaimana Paus bisa mengurangi atau mengakhiri masa penyucian dalam api penyucian ini? Roma Katolik percaya akan adanya saints / orang-orang suci (santa / santo). Mereka ini adalah orang-orang yang dianggap telah melakukan perbuatan baik lebih dari yang diperlukan untuk masuk surga. Kelebihan perbuatan baik itu lalu ‘ditabung’, dan Paus berhak memberikan ‘tabungan’ itu kepada orang dalam api penyucian, sehingga mereka lalu dibebaskan dari api penyucian dan masuk ke surga. Ini disebut dengan istilah indulgence (= pengampunan dosa).
KGK no 1471-1479.
c) Hal-hal yang mengurangi ‘masa penyucian’:
KGK no 1032 - Ayub 1:5 ?????
Ayub 1:5 - “Setiap kali, apabila hari-hari pesta telah berlalu, Ayub memanggil mereka, dan menguduskan mereka; keesokan harinya, pagi-pagi, bangunlah Ayub, lalu mempersembahkan korban bakaran sebanyak jumlah mereka sekalian, sebab pikirnya: ‘Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan telah mengutuki Allah di dalam hati.’ Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa.”.
KGK no 1055.
1. Pemberian uang (baik oleh orang yang mati itu pada waktu ia masih hidup, maupun oleh keluarganya setelah ia mati).
Loraine Boettner:“The doctrine of purgatory has sometimes been referred to as ‘the gold mine of the priesthood’ since it is the source of such lucrative income.” [= Doktrin api penyucian kadang-kadang disebut sebagai ‘tambang emas keimaman’ karena itu merupakan sumber penghasilan yang menguntungkan.] - ‘Roman Catholicism’, hal 222.
2. Misa.
Untuk melaksanakan misa ini ada ‘ongkos’ yang harus dibayar! Besar kecilnya misa dipengaruhi oleh besar kecilnya ongkos, padahal besar kecilnya misa ini mempengaruhi ‘masa penyucian’.
Loraine Boettner: “The Irish have a saying: ‘High money, high mass; low money, low mass; no money, no mass.’” [= Orang Irlandia mempunyai pepatah: ‘Uang besar, misa besar; uang kecil, misa kecil; tidak ada uang, tidak ada misa’.] - ‘Roman Catholicism’, hal 185.
3. Doa pastor.
4. Surat pengampunan dosa (letter of indulgence).
Beberapa hal yang perlu diketahui tentang surat pengampunan dosa:
a. Surat pengampunan dosa ini mulai ada pada tahun 1190.
b. Menjelang Reformasi (1517) surat pengampunan dosa ini dijual. Seorang yang bernama Tetzel, pada waktu menjual surat pengampunan dosa ini berkata:
“The moment the coin in the collection box rings, that moment the soul from purgatory springs.” [= Pada saat koin berdenting di kotak kolekte, saat itu jiwa meloncat dari api penyucian.] - Dr. Albert Freundt, ‘History of Modern Christianity’, hal 28.
Tetzel ini dengan begitu tidak tahu malu berkata bahwa ia menyelamatkan lebih banyak jiwa dari api penyucian dari pada apa yang dilakukan oleh Petrus melalui khotbahnya!
c. Ini direstui oleh Council of Trent pada tahun 1593.
III) Dasar dari doktrin tentang Purgatory / Api Penyucian:
1) Dari Deuterokanonika: 2Makabe 12:38-45 yang berbunyi sebagai berikut:
“(38) Kemudian Yudas mengumpulkan bala tentaranya dan pergilah ia ke kota Adulam. Mereka tiba pada hari yang ke tujuh. Maka mereka menyucikan diri menurut adat dan merayakan hari Sabat di situ. (39) Pada hari berikutnya waktu hal itu menjadi perlu pergilah anak buah Yudas untuk membawa pulang jenazah orang-orang yang gugur dengan maksud untuk bersama dengan kaum kerabat mereka mengebumikan jenazah-jenazah itu di pekuburan nenek moyang. (40) Astaga, pada tiap-tiap orang yang mati itu mereka temukan di bawah jubahnya sebuah jimat dari berhala-berhala kota Yamnia. Dan ini dilarang bagi orang-orang Yahudi oleh hukum Taurat. Maka menjadi jelaslah bagi semua orang mengapa orang-orang itu gugur. (41) Lalu semua memuliakan tindakan TUHAN, Hakim yang adil, yang menyatakan apa yang tersembunyi. (42) Merekapun lalu mohon dan minta, semoga dosa yang telah dilakukan itu dihapus semuanya. Tetapi Yudas yang berbudi luhur memperingatkan khalayak ramai, supaya memelihara diri tanpa dosa, justru oleh karena telah mereka saksikan dengan mata kepala sendiri apa yang sudah terjadi oleh sebab dosa orang-orang yang gugur itu. (43) Kemudian dikumpulkannya uang ditengah-tengah pasukan. Lebih kurang dua ribu dirham perak dikirimkannya ke Yerusalem untuk mempersembahkan korban penghapus dosa. Ini sungguh suatu perbuatan yang sangat baik dan tepat, oleh karena Yudas memikirkan kebangkitan. (44) Sebab jika tidak menaruh harapan bahwa orang-orang yang gugur itu akan bangkit, niscaya percuma dan hampalah mendoakan orang-orang mati. (45) Lagipula Yudas ingat bahwa tersedialah pahala yang amat indah bagi sekalian orang yang meninggal dengan saleh. Ini sungguh suatu pikiran yang mursid dan saleh. Dari sebab itu maka disuruhnyalah mengadakan korban penebus salah untuk semua orang yang sudah mati itu, supaya mereka dilepaskan dari dosa mereka.”.
Bagaimana text seperti ini, yang sama sekali tidak berbicara tentang api penyucian, bisa dijadikan dasar dari doktrin tentang api penyucian? Orang Roma Katolik berkata begini: Kalau orang-orang yang mati itu ada di surga ataupun neraka, maka tentu sia-sia mendoakan mereka. Bahwa mereka didoakan, itu menunjukkan bahwa mereka tidak berada di surga maupun di neraka, tetapi di api penyucian!
2) Dari Kitab Suci:
Yes 4:4 - “apabila TUHAN telah membersihkan kekotoran puteri Sion dan menghapuskan segala noda darah Yerusalem dari tengah-tengahnya dengan roh yang mengadili dan yang membakar.”.
Mikha 7:8-9 - “(8) Janganlah bersukacita atas aku, hai musuhku! Sekalipun aku jatuh, aku akan bangun pula, sekalipun aku duduk dalam gelap, TUHAN akan menjadi terangku. (9) Aku akan memikul kemarahan TUHAN, sebab aku telah berdosa kepadaNya, sampai Ia memperjuangkan perkaraku dan memberi keadilan kepadaku, membawa aku ke dalam terang, sehingga aku mengalami keadilanNya.”.
Zakh 9:11 - “Ia akan melenyapkan kereta-kereta dari Efraim dan kuda-kuda dari Yerusalem; busur perang akan dilenyapkan, dan ia akan memberitakan damai kepada bangsa-bangsa. Wilayah kekuasaannya akan terbentang dari laut sampai ke laut dan dari sungai Efrat sampai ke ujung-ujung bumi.”.
Mal 3:2-3 - “(2) Siapakah yang dapat tahan akan hari kedatanganNya? Dan siapakah yang dapat tetap berdiri, apabila Ia menampakkan diri? Sebab Ia seperti api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu. (3) Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak; dan Ia mentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada TUHAN.”.
Mat 12:32 - “Apabila seorang mengucapkan sesuatu menentang Anak Manusia, ia akan diampuni, tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datangpun tidak.”.
1Kor 3:13-15 - “(13) sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak. Karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu. (14) Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji, ia akan mendapat upah. (15) Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian, tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api.”.
1Pet 1:7 - “Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu - yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api - sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diriNya.”.
Yudas 22,23a - “(22) Tunjukkanlah belas kasihan kepada mereka yang ragu-ragu, (23a) selamatkanlah mereka dengan jalan merampas mereka dari api.”.
IV) Pandangan Kristen:
1) Tentang 2Makabe 12:38-45.
a) Ini termasuk dalam Deuterokanonika, dan Deuterokanonika bukan Kitab Suci.
Dalam 2Makabe ini terlihat dengan jelas pertentangan antara ajaran Kitab Suci dan Deuterokanonika.
Bagian Deuterokanonika ini memuji tindakan mendoakan orang mati, bahkan yang mati dalam dosa!
Kitab Suci tidak pernah menyuruh mendoakan orang yang sudah mati! Bahkan dalam 1Yoh 5:16 dikatakan sebagai berikut:
“Kalau ada seorang melihat saudaranya berbuat dosa, yaitu dosa yang tidak mendatangkan maut, hendaklah ia berdoa kepada Allah dan Dia akan memberi hidup kepadanya, yaitu mereka, yang berbuat dosa yang tidak mendatangkan maut. Ada dosa yang mendatangkan maut: tentang itu tidak kukatakan bahwa ia harus berdoa.”.
Memang ayat ini menimbulkan banyak penafsiran tentang apa yang dimaksud dengan ‘dosa yang membawa maut’. Ada yang menganggap bahwa ini menunjuk pada dosa yang harus dijatuhi hukuman mati, ada pula yang menunjuk pada dosa menghujat Roh Kudus dalam Mat 12:31-32. Tetapi ada satu hal yang pasti yaitu: kalau mendoakan orang yang melakukan dosa yang membawa maut saja sudah dilarang (padahal orang itu masih hidup), apalagi mendoakan orang yang sudah ada di dalam maut / sudah mati! Karena itu jelas bahwa Kitab Suci melarang doa untuk orang yang sudah mati!
b) Disamping itu, 2Makabe 12:38-45 tidak berkata apa-apa tentang api penyucian. Andaikatapun doa untuk orang-orang yang telah mati itu menunjukkan bahwa mereka tidak ada di surga ataupun neraka, lalu apa dasarnya mengatakan bahwa mereka ada di ‘api penyucian’?
c) Menurut ajaran Roma Katolik sendiri orang-orang yang mempunyai jimat seperti dalam 2Makabe itu, akan langsung masuk neraka, karena ini termasuk mortal sin.
2) Tentang dasar Kitab Suci.
Dasar-dasar Kitab Suci mereka adalah ayat-ayat yang penafsirannya dipaksakan. Bacalah sendiri semua ayat-ayat dalam point III, no 2 itu, dan saudara bisa melihat bahwa tidak ada satupun ayat-ayat itu yang berbicara tentang api penyucian. Jelas sekali bahwa ajaran ini keluar bukan dari Kitab Suci tetapi dari manusia. Setelah ajarannya keluar, baru dicari-carikan dasar Kitab Sucinya (Eisegesis).
Mari kita membahasnya satu per satu:
a) Yes 4:4 - “apabila TUHAN telah membersihkan kekotoran puteri Sion dan menghapuskan segala noda darah Yerusalem dari tengah-tengahnya dengan roh yang mengadili dan yang membakar.”.
Baca seluruh kontext, yaitu Yes 4:1-6.
b) Mikha 7:8-9 - “(8) Janganlah bersukacita atas aku, hai musuhku! Sekalipun aku jatuh, aku akan bangun pula, sekalipun aku duduk dalam gelap, TUHAN akan menjadi terangku. (9) Aku akan memikul kemarahan TUHAN, sebab aku telah berdosa kepadaNya, sampai Ia memperjuangkan perkaraku dan memberi keadilan kepadaku, membawa aku ke dalam terang, sehingga aku mengalami keadilanNya.”.
Baca Mikha 7:5-10.
c) Zakh 9:11 - “Mengenai engkau, oleh karena darah perjanjianKu dengan engkau, Aku akan melepaskan orang-orang tahananmu dari lobang yang tidak berair.”.
Baca mulai ay 9-12, maka akan terlihat dengan jelas bahwa ayat ini berbicara tentang orang-orang yang masih hidup, bukan orang-orang mati yang ada di api penyucian!
d) Mal 3:2-3 - “(2) Siapakah yang dapat tahan akan hari kedatanganNya? Dan siapakah yang dapat tetap berdiri, apabila Ia menampakkan diri? Sebab Ia seperti api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu. (3) Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak; dan Ia mentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada TUHAN.”.
Ini jelas menunjuk pada penyucian yang Kristus lakukan terhadap orang-orang yang masih hidup di dunia, bukan terhadap orang-orang mati di api penyucian!
e) Mat 12:32 - “Apabila seorang mengucapkan sesuatu menentang Anak Manusia, ia akan diampuni, tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datangpun tidak.”.
Mereka menarik pengajaran secara implicit dari ayat ini, tetapi dengan cara yang salah! Disamping, yang dibicarakan di sini adalah pengampunan, bukan penyucian!
f) 1Kor 3:13-15 - “(13) sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak. Karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu. (14) Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji, ia akan mendapat upah. (15) Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian, tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api.”.
Baca mulai dari 1Kor 3:10-15. Maka akan terlihat bahwa text ini membicarakan orang kristen yang sejati (ay 10-11). Tetapi ada dua golongan orang kristen yang sejati itu. Yang satu membangun di atas dasar yang telah diletakkan oleh Paulus dengan emas, perak, batu permata. Ini orang kristen yang sejati yang membangun dengan sungguh-sungguh. Kelompok kedua adalah orang kristen yang sejati tetapi yang membangun dengan kayu, rumput kering dan jerami. Dengan kata lain, mereka membangun dengan asal-asalan.
Ujian terhadap pekerjaan mereka terjadi pada hari Tuhan atau hari kedatangan Kristus yang keduakalinya! Ini jelas sudah tidak cocok sama sekali untuk diterapkan pada api penyucian!
Orang yang pekerjaannya tahan uji akan mendapat upah (ay 14), tetapi orang yang pekerjaannya terbakar akan menderita kerugian (ay 15a). Ia sendiri tetap selamat, sekalipun nyaris tidak selamat (ay 15b).
Menggunakan ayat seperti ini sebagai dasar dari doktrin tentang api penyucian jelas merupakan suatu EISEGESIS!
g) 1Pet 1:7 - “Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu - yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api - sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diriNya.”.
Baca mulai ay 6.
1Pet 1:6 - “Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan.”.
Saudara dengan jelas bisa melihat bahwa semua ini terjadi pada saat orang itu masih hidup di dunia, dan bukannya sudah mati di api penyucian!
h) Yudas 22,23a - “(22) Tunjukkanlah belas kasihan kepada mereka yang ragu-ragu, (23a) selamatkanlah mereka dengan jalan merampas mereka dari api.”.
Ayat ini menyuruh kita berbelas-kasihan kepada orang-orang berdosa yang ragu-ragu. Bagaimana kita bisa menyelamatkan mereka? Tentu dengan memberitakan Injil kepada mereka. Dengan demikian kalau mereka percaya mereka akan diselamatkan dari api neraka. Ini sama sekali tak ada hubungannya dengan api penyucian!
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali