(online)
(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)
Selasa, tgl 7 Mei 2024, pk 18.30
Pdt. Budi Asali, M. Div.
vs
D) Immaculate Conception / Lahir dan hidup tanpa dosa.
Doktrin ini dikeluarkan oleh Paus Pius IX tanggal 8 Desember 1854, dan artinya adalah:
1. Maria dikandung dan lahir tanpa dosa asal.
2. Maria juga tidak berbuat dosa dalam sepanjang hidupnya.
3. Maria bahkan dianggap sebagai ‘tidak bisa berbuat dosa’ (NON POSSE PECCARE [= not possible to sin / tidak mungkin berbuat dosa].
Bdk. KGK no 490,491,492,493.
(https://www.stignatiuspj.org/wp-content/uploads/2021/09/katekismus-gereja-katolik.pdf)
Loraine Boettner: “The doctrine of the ‘Immaculate Conception’ teaches that Mary herself was born without sin, that from the very first moment of her existence she was free from the taint of original sin. It holds that while all the rest of mankind are born into an inheritance of original sin, Mary alone, by a special miracle of God, was excepted.” [= Doktrin tentang ‘Konsepsi Tanpa dosa’ mengajarkan bahwa Maria sendiri lahir tanpa dosa, bahwa sejak saat yang paling awal dari keberadaannya dia bebas dari noda dari dosa asal. Doktrin itu menegaskan bahwa sementara seluruh umat manusia lahir ke dalam suatu warisan tentang dosa asal, Maria sendirian, melalui suatu mujizat khusus dari Allah, dikecualikan.] - ‘Roman Catholicism’, hal 158.
Loraine Boettner: “The original decree setting forth this doctrine was issued by pope Pius IX, on December 8, 1854, and reads as follows: ‘We declare, pronounce and define that the Most Blessed Virgin Mary, at the first instant of her conception was preserved immaculate from all stain of original sin, by the singular grace and privilege of the Omnipotent God, in virtue of the merits of Jesus Christ, the Saviour of mankind, and that this doctrine was revealed by God, and therefore must be believed firmly and constantly by all the faithful’ (From the papal bull, Ineffabilus Deus, quoted in The Tablet, December 12, 1953).” [= Dekrit asli yang menyatakan ajaran ini dikeluarkan oleh Paus Pius IX pada tanggal 8 Desember 1854, dan berbunyi sebagai berikut: ‘Kami menyatakan, mengumumkan, dan mendefinisikan bahwa Sang Perawan Maria yang Paling Diberkati, pada saat pertama konsepsinya, dipertahankan suci dari semua noda dari dosa asal, oleh kasih karunia dan hak yang unik / luar biasa dari Allah Yang Mahakuasa, berdasarkan jasa-jasa Yesus Kristus, sang Juruselamat umat manusia, dan bahwa doktrin ini dinyatakan / diwahyukan oleh Allah, dan oleh karena itu harus dipercayai dengan teguh dan tetap oleh seluruh umat yang percaya’ (Dari bulla kepausan, Ineffabilus Deus, dikutip dalam The Tablet, 12 Desember 1953).] - ‘Roman Catholicism’, hal 158.
Loraine Boettner: “Many Protestants misunderstand this doctrine and assume that it relates to the virgin birth of Christ. It relates, however, to Mary’s own birth, and has nothing to do with the virgin birth of Christ. Side by side with the doctrine that Mary was born without sin, there developed the doctrine that she did not commit sin at any time during her life. Then, as one link reached out for another, they gave her the attribute of impeccability, which means that she could not sin, that her nature was such that it was impossible for her to sin! All of this was a natural outgrowth of their worship of Mary, a further step in her deification. Their Mariolatry demanded it! They sensed that if they were to give her the worship that is due our Lord, she must be sinless.” [= Banyak orang Protestan salah paham tentang doktrin ini dan menganggap bahwa itu berhubungan dengan kelahiran Kristus dari seorang perawan. Namun, itu sebenarnya berkaitan dengan kelahiran Maria sendiri, dan tidak ada hubungannya dengan kelahiran Kristus dari seorang perawan. Seiring dengan doktrin bahwa Maria lahir tanpa dosa, berkembanglah doktrin bahwa dia tidak pernah melakukan dosa pada saat manapun dalam sepanjang hidupnya. Kemudian, saat satu mata rantai mencapai mata rantai yang lain, mereka memberikan kepadanya atribut ‘impeccability’, yang berarti bahwa dia tidak bisa berdosa, bahwa sifatnya sedemikian rupa sehingga adalah mustahil baginya untuk berbuat dosa! Semua ini adalah hasil / konsekwensi alamiah dari ibadah mereka kepada Maria, suatu langkah lebih lanjut dalam pendewaan / pemujaannya. Mariolatri mereka menuntutnya! Mereka merasakan bahwa jika mereka memberikannya penyembahan yang seharusnya diberikan kepada Tuhan kita, dia haruslah tanpa dosa.] - ‘Roman Catholicism’, hal 159.
Catatan: terlihat dengan jelas bahwa suatu kesesatan selalu membimbing ke dalam kesesatan yang lain!
Loraine Boettner: “But this doctrine, like the other distinctive doctrines of the Roman system, completely lacks any Scriptural support, and in fact is directly opposed to the Scripture doctrine of original sin. The Bible teaches that all men, with the single exception of Christ who was deity incarnate and pre-existent, are sinners. Mary herself acknowledged her need of a Saviour, for she said: ‘My soul doth magnify the Lord, And my spirit hath rejoiced in God my Saviour’ (Luke 1:46, 47). Note particularly Mary’s words, ‘my Saviour.’ No one other than a sinner needs a Saviour, for no punishment or evil in any form can be inflicted upon a sinless person. Roman Catholics will have to take Mary’s word or accuse ‘Our Lady’ of lying. For in those words she confessed that she was a sinner in need of a Saviour. That should settle once and for all whether or not a Christian should pray to her. Mary was an admirable character, to be sure. But she was not sinless, and she was only human. It was, therefore, necessary for her to be born again of the Spirit and to participate in the redemption provided by her Son.” [= Tetapi doktrin ini, seperti doktrin-doktrin yang penting dari sistim Roma yang lain, sama sekali tidak memiliki dukungan Alkitab, dan bahkan secara langsung bertentangan dengan doktrin Alkitab tentang dosa asal. Alkitab mengajarkan bahwa semua manusia, dengan satu pengecualian yaitu Kristus yang adalah Allah yang berinkarnasi dan mempunyai eksistensi sebelumnya, adalah orang-orang berdosa. Maria sendiri mengakui kebutuhannya akan seorang Juruselamat, karena dia berkata: ‘Jiwaku memuliakan Tuhan, dan rohku bergembira karena Allah, Juruselamatku’ (Luk 1:46,47). Perhatikan secara khusus kata-kata Maria, ‘Juruselamatku.’ Tidak ada orang selain seorang yang berdosa yang membutuhkan seorang Juruselamat, karena tidak ada hukuman atau bencana dalam bentuk apapun yang bisa diberikan kepada seseorang yang tidak berdosa. Orang Katolik Roma harus menerima perkataan Maria atau menuduh ‘Bunda Kami’ (our Lady) berbohong. Karena dalam kata-kata itu dia mengaku bahwa dia adalah seorang berdosa yang membutuhkan seorang Juruselamat. Itu seharusnya membereskan sekali dan selamanya apakah seorang Kristen harus berdoa kepadanya atau tidak. Tentu saja Maria adalah karakter yang patut dikagumi. Tetapi dia bukannya tanpa dosa, dan dia hanya manusia (biasa). Oleh karena itu, penting baginya untuk dilahirkan kembali oleh Roh dan untuk berpartisipasi dalam penebusan yang disediakan oleh Anaknya.] - ‘Roman Catholicism’, hal 159.
Luk 1:46-47 - “(46) Lalu kata Maria: ‘Jiwaku memuliakan Tuhan, (47) dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku,”.
Loraine Boettner: “The doctrine of the immaculate conception has had a long and varied history. It was unknown to the apostolic church, and it was not even a matter of discussion until several centuries after the death of Mary. It did not become an official doctrine until the year 1854, more than 18 centuries after Christ was born of the virgin Mary, and so is one of the later doctrines of the Roman Church. The Council of Ephesus, 431, used the expression, ‘Mother of God,’ but its purpose was to emphasize the deity of Christ, not to set forth a doctrine concerning Mary. But popular opinion reasoned that since the birth of Christ occurred without any taint of sin, Mary herself must have been without sin, even without original sin, which is the lot of all other human beings.” [= Doktrin tentang konsepsi tanpa dosa memiliki suatu sejarah yang panjang dan bervariasi. Ini tidak dikenal oleh gereja apostolik, dan bahkan tidak menjadi masalah pembahasan sampai beberapa abad setelah kematian Maria. Ini tidak menjadi doktrin resmi sampai tahun 1854, lebih dari 18 abad setelah Kristus dilahirkan dari perawan Maria, sehingga merupakan salah satu dari doktrin-doktrin belakangan dari Gereja Roma. Sidang Gereja Efesus, tahun 431 M., menggunakan istilah ‘Bunda Allah,’ tetapi tujuannya adalah untuk menekankan keAllahan Kristus, bukan untuk menetapkan suatu doktrin tentang Maria. Tetapi opini populer berargumentasi bahwa karena kelahiran Kristus terjadi tanpa cacat dosa apapun, Maria sendiri harus tanpa dosa, bahkan tanpa dosa asal, yang menjadi nasib dari semua manusia lainnya.] - ‘Roman Catholicism’, hal 160.
Catatan: bagian terakhir dari kutipan di atas ini mempunyai konsekwensi sebagai berikut: Kalau karena Kristus lahir tanpa dosa, maka Maria sendiri juga harus tanpa dosa, maka kalau Maria lahir tanpa dosa, orang tua Maria juga harus lahir tanpa dosa. Dan kalau orang tua Maria lahir tanpa dosa, maka kakek nenek Maria juga harus lahir tanpa dosa. Kalau ini diteruskan sampai kepada Adam dan Hawa, ini akan menjadi suatu kekonyolan yang luar biasa, yang orang Katolik manapun tidak akan mau menerimanya.
Loraine Boettner: “Augustine, who died in 430, A. D., and who was admittedly the greatest theologian of the ancient church, contradicts the idea of immaculate conception, for he expressly declares that Mary’s flesh was ‘flesh of sin’ (De Peccatorum Meritis, ii, c. 24); and again that ‘Mary, springing from Adam, died because of sin; and the flesh of our Lord, derived from Mary, died to take away sin.’ He expressly attributed original sin to Mary in his Sermon on Psalm 2. The doctrine was opposed by Chrysostom, Eusebius, Ambrose, Anselm, most of the great medieval schoolmen, including Thomas Aquinas, Bonaventure, Cardinal Cajetan (Luther’s opponent at Augsburg), and also by two of the greatest of the popes, Gregory the Great, and Innocent III.” [= Agustinus, yang meninggal pada tahun 430 M, dan yang diakui sebagai teolog terbesar dari gereja kuno, menentang gagasan tentang konsepsi tanpa dosa, karena dia secara explicit menyatakan bahwa daging Maria adalah ‘daging berdosa’ (De Peccatorum Meritis, ii, c. 24); dan lagi bahwa ‘Maria, berasal dari Adam, mati karena dosa; dan daging Tuhan kita, yang berasal dari Maria, mati untuk menghapus dosa.’ Dia secara explisit mengatributkan dosa asal kepada Maria dalam khotbahnya tentang Maz 2. Doktrin ini ditentang oleh Chrysostom, Eusebius, Ambrose, Anselm, mayoritas dari sarjana-sarjana besar Abad Pertengahan, termasuk Thomas Aquinas, Bonaventure, Kardinal Cajetan (lawan Luther di Augsburg), dan juga oleh dua dari para paus terbesar, Gregorius Agung, dan Innocent III.] - ‘Roman Catholicism’, hal 160.
Catatan: kita sudah mempelajari bahwa Gereja Roma Katolik mendasarkan ajaran / kepercayaan mereka bukan hanya pada Alkitab, tetapi juga pada tradisi, yang terdiri dari kata-kata Paus, Keputusan-keputusan Sidang-sidang Gereja, dan tulisan-tulisan bapa-bapa gereja. Dan dalam kasus ini mereka saling bertentangan satu sama lain! Lalu yang mana yang benar??
Loraine Boettner: “Thomas Aquinas says that while Christ did not contract original sin in any way whatsoever, nevertheless ‘the blessed Virgin did contract original sin, but was cleansed therefrom before her birth’ (Summa Theol. III, ad 2; Quest. 27, Art. 1–5); and again that, ‘It is to be held, therefore, that she was conceived in original sin, but was cleansed from it in a special manner’ (Compendium Theol., p. 224).” [= Thomas Aquinas menyatakan bahwa sementara Kristus sama sekali tidak mendapatkan dosa asal dalam bentuk apapun, namun ‘Perawan yang diberkati memang mendapatkan dosa asal, tetapi dibersihkan darinya sebelum kelahirannya’ (Summa Theol. III, ad 2; Quest. 27, Art. 1–5); dan juga bahwa, ‘Oleh karena itu, harus dipercayai bahwa dia dikonsepsi dalam dosa asal, tetapi dibersihkan darinya dengan cara yang istimewa / khusus’ (Compendium Theol., hal 224).] - ‘Roman Catholicism’, hal 160.
Loraine Boettner: “Geddes MacGregor, in his book, The Vatican Revolution, says: ‘So strong was St. Thomas (Aquinas’) opposition to the doctrine that it became almost a point of honor throughout the Dominican Order to oppose the notion as theologically untenable. The Franciscans, however, following Duns Scotus, were more inclined to foster the notion, and the Jesuits, later on, made it one of their special concerns to do so. If pope Pius IX was right, let alone infallible, it seems regrettable that the learned theologians of Christendom should have been left for eighteen hundred years with such a marked lack of guidance on the subject that they not only erred on it but erred almost in proportion to their stature as the leaders of the Church’s intellectual life, the luminaries in the firmament of her mind’ (p. 9; Beacon Press, Boston; Macmillan & Co., Ltd., London and Toronto).” [= Geddes MacGregor, dalam bukunya, The Vatican Revolution, mengatakan: ‘Begitu kuatnya perlawanan Santo Thomas (Aquinas’) terhadap doktrin tersebut sehingga hampir menjadi suatu kehormatan di seluruh Ordo Dominikan untuk menolak gagasan itu sebagai tidak bisa dipertahankan secara teologis. Tetapi Ordo Fransiskan, mengikuti Duns Scotus, lebih cenderung untuk mendukung gagasan itu, dan para Yesuit, belakangan, menjadikannya sebagai salah satu perhatian khusus mereka untuk melakukannya. Jika Paus Pius IX benar, apalagi tidak bisa salah, kelihatannya disayangkan / disesali bahwa para ahli teologia terpelajar dari dunia Kristen harus dibiarkan selama delapan belas abad dengan kurangnya panduan yang begitu jelas tentang pokok tersebut sehingga mereka tidak hanya salah tentang itu tetapi salah hampir sebanding dengan tingginya mereka sebagai pemimpin-pemimpin kehidupan intelektual Gereja, penerang-penerang di cakrawala pemikirannya’ (hal 9; Beacon Press, Boston; Macmillan & Co., Ltd., London dan Toronto).] - ‘Roman Catholicism’, hal 160-161.
Loraine Boettner: “The dispute between the Dominicans and the Franciscans became so bitter that pope Sixtus IV eventually took a hand and prohibited further discussion, without deciding the question in favor of either side. The Council of Trent, though called primarily to deal with the problems arising because of the Protestant Reformation, was asked by pope Pius IV to make a pronouncement, but left the matter untouched. Nevertheless, the idea that Mary was sinless continued to gain ground. Members of the Jesuit order soon began to propagate the doctrine anew, and it was largely through their work that it was decreed by pope Pius IX, ‘the infallible successor of Peter,’ in 1854, and was officially ratified by the docile Vatican Council of 1870 (which council also ratified the decree concerning the infallibility of the pope in matters of faith and morals).” [= Perselisihan antara ordo Dominikan dan Fransiskan menjadi begitu pahit sehingga Paus Sixtus IV akhirnya ikut campur dan melarang diskusi lebih lanjut, tanpa memutuskan pertanyaan tersebut untuk mendukung salah satu pihak. Sidang Gereja Trent, meskipun dipanggil terutama untuk menangani masalah yang timbul karena Reformasi Protestan, diminta oleh Paus Pius IV untuk membuat pernyataan resmi, tetapi meninggalkan masalah tersebut tidak tersentuh. Namun demikian, gagasan bahwa Maria tidak berdosa terus mendapatkan dukungan. Anggota-anggota dari ordo Yesuit segera mulai menyebarkan doktrin itu lagi, dan itu sebagian besar melalui kerja mereka bahwa itu diumumkan oleh Paus Pius IX, ‘penerus Petrus yang tak bisa salah’, pada tahun 1854, dan secara resmi diteguhkan oleh Sidang Gereja Vatikan yang patuh / tunduk pada tahun 1870 (yang juga meneguhkan dekrit tentang ketidak-bisa-bersalahan Paus dalam persoalan-persoalan iman dan moral).] - ‘Roman Catholicism’, hal 161.
Loraine Boettner: “Most of the theologians of the Middle Ages opposed the doctrine because they were unable to harmonize it with the universality of original sin. Most of them held that if Mary were not a partaker of the sin and apostasy of the race, she could not be the point of contact between Deity and humanity as was required for the human nature of Christ. Hence in this case, even tradition, the usual refuge of the Roman Church in matters of doctrine, contradicts this papal dogma.” [= Sebagian besar ahli-ahli teologia Abad Pertengahan menentang doktrin tersebut karena mereka tidak dapat mengharmoniskannya dengan ke-universal-an dosa asal. Sebagian besar dari mereka berpendapat bahwa jika Maria bukanlah seorang pengambil bagian dari dosa dan kemurtadan umat manusia, dia tidak dapat menjadi titik kontak antara ke-Allah-an dan kemanusiaan sebagaimana yang dibutuhkan untuk hakekat manusia Kristus. Oleh karena itu, dalam hal ini, bahkan tradisi, yang biasanya merupakan tempat perlindungan Gereja Roma dalam persoalan-persoalan doktrin, bertentangan dengan dogma kepausan ini.] - ‘Roman Catholicism’, hal 161.
Loraine Boettner: “So, Mary is now placed on a plane of absolute equality with her adorable Son, Jesus Christ, so far as sinlessness is concerned. Like the other doctrines of Romanism, this one is said to be based on ‘the unanimous consent of the fathers.’ Though the dispute in reality continued for centuries and was at times bitter, it is accepted by all Roman Catholics today, for the official pronouncement by the pope leaves them no other choice. For along with the decree there was issued this condemnation of any who dare to disbelieve it: ‘Therefore, if some shall presume to think in their hearts otherwise than we have defined (which God forbid), they shall know and thoroughly understand that they are by their own judgment condemned, ‘have made shipwreck concerning the faith,’ and fallen away from the unity of the Church; and, moreover, that they, by this very act, subject themselves to the penalties ordained by law, if, by word, or writing, or by other external means, they dare to signify what they think in their heart.’” [= Jadi, Maria sekarang ditempatkan pada tingkat kesetaraan mutlak dengan Anaknya yang layak dipuja, Yesus Kristus, sejauh itu berkenaan dengan ketiadaan dosa. Seperti doktrin-doktrin Katolik Roma yang lain, doktrin ini dikatakan didasarkan pada ‘persetujuan bulat / mutlak para bapa gereja.’ Meskipun dalam faktanya perselisihan berlanjut selama berabad-abad dan kadang-kadang sangat pahit, itu diterima oleh semua orang Katolik Roma hari ini, karena pengumuman resmi oleh Paus tidak memberikan mereka pilihan yang lain. Bersama dengan dekrit itu, dikeluarkan pengecaman / pengutukan terhadap siapapun yang berani untuk tidak mempercayainya: ‘Oleh karena itu, jika ada yang berani menganggap sebaliknya dalam hati mereka dari pada yang telah kita tetapkan (yang moga-moga tidak terjadi), mereka akan tahu dan memahami sepenuhnya bahwa mereka dengan penilaian mereka sendiri telah dikecam / dikutuk, ‘telah karam berkenaan dengan iman’, dan murtad dari kesatuan Gereja; dan, lebih lagi, bahwa mereka, dengan tindakan ini, menyebabkan / membuat diri mereka sendiri mengalami hukuman yang ditetapkan oleh hukum, jika, dengan kata-kata, atau tulisan, atau dengan cara lain yang external, mereka berani menyatakan apa yang mereka pikirkan dalam hati mereka.’] - ‘Roman Catholicism’, hal 161.
Loraine Boettner: “What a flagrant example of false doctrine and ecclesiastical tyranny! That is the very thing that Peter condemned when he forbade ‘lording it over your charges’ (Confraternity Version, 1 Peter 5:3). The Council of Trent pronounced its anathemas primarily against Protestants who dared to differ with its decrees. But the anathemas pronounced by the later councils have been directed primarily against their own people, in order to force them into line. But why should any Roman Catholic embrace that doctrine when the greatest teachers in his own church rejected it? Indeed, why should anyone believe it if the Bible does not teach it?” [= Betul-betul suatu contoh yang menyolok dari doktrin palsu dan tirani gereja! Itu sama persis dengan apa yang dikecam oleh Petrus ketika dia melarang ‘memerintah atas orang-orang yang dipercayakan kepadamu’ (Versi Konfraternitas, 1Pet 5:3). Sidang Gereja Trent mengucapkan anatema / kutukannya terutama terhadap orang-orang Protestan yang berani berbeda dengan dekrit-dekritnya. Tetapi anatema / kutukan yang diumumkan oleh konsili-konsili belakangan lebih ditujukan kepada umat mereka sendiri, untuk memaksa mereka tunduk. Tetapi mengapa seorang Katolik Roma harus menerima doktrin itu pada saat para guru terbesar dalam gerejanya sendiri menolaknya? Bahkan, mengapa siapapun harus percaya jika Alkitab tidak mengajarkannya?] - ‘Roman Catholicism’, hal 161-162.
1Pet 5:3 - “Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu.”.
Pandangan Kristen:
1) Alkitab berkata bahwa sejak kejatuhan Adam ke dalam dosa semua manusia dikandung dan lahir dalam dosa dan bahkan berbuat dosa (Ayub 25:4 Maz 51:7 Maz 58:4 Pengkhotbah 7:20 Ro 3:10-12,23 Ro 5:12,19).
Ayub 25:4 - “Bagaimana manusia benar di hadapan Allah, dan bagaimana orang yang dilahirkan perempuan itu bersih?”.
Maz 51:7 - “Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.”.
Maz 58:4 - “Sejak lahir orang-orang fasik telah menyimpang, sejak dari kandungan pendusta-pendusta telah sesat.”.
Pkh 7:20 - “Sesungguhnya, di bumi tidak ada orang yang saleh: yang berbuat baik dan tak pernah berbuat dosa!”.
Ro 3:10-12,23 - “(10) seperti ada tertulis: ‘Tidak ada yang benar, seorangpun tidak. (11) Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah. (12) Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak. ... (23) Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah,”.
Ro 5:12 - “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.”.
Yang dikecualikan hanyalah Yesus sendiri (2Kor 5:21 Ibr 4:15).
2Kor 5:21 - “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuatNya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.”.
Ibr 4:15 - “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.”.
Tidak pernah ada ayat Alkitab yang mengecualikan Maria! Karena itu haruslah disimpulkan bahwa Maria adalah manusia berdosa seperti kita.
2) Dalam Luk 1:46-47, Maria menyebut Allah sebagai Juruselamatnya. Mengapa Maria membutuhkan Juruselamat kalau ia memang sama sekali tidak berdosa?
Loraine Boettner: “But this doctrine, like the other distinctive doctrines of the Roman system, completely lacks any Scriptural support, and in fact is directly opposed to the Scripture doctrine of original sin. The Bible teaches that all men, with the single exception of Christ who was deity incarnate and pre-existent, are sinners. Mary herself acknowledged her need of a Saviour, for she said: ‘My soul doth magnify the Lord, And my spirit hath rejoiced in God my Saviour’ (Luke 1:46, 47). Note particularly Mary’s words, ‘my Saviour.’ No one other than a sinner needs a Saviour, for no punishment or evil in any form can be inflicted upon a sinless person. Roman Catholics will have to take Mary’s word or accuse ‘Our Lady’ of lying. For in those words she confessed that she was a sinner in need of a Saviour. That should settle once and for all whether or not a Christian should pray to her. Mary was an admirable character, to be sure. But she was not sinless, and she was only human. It was, therefore, necessary for her to be born again of the Spirit and to participate in the redemption provided by her Son.” [= Tetapi doktrin ini, seperti doktrin-doktrin yang penting dari sistim Roma yang lain, sama sekali tidak memiliki dukungan Alkitab, dan bahkan secara langsung bertentangan dengan doktrin Alkitab tentang dosa asal. Alkitab mengajarkan bahwa semua manusia, dengan satu pengecualian yaitu Kristus yang adalah Allah yang berinkarnasi dan mempunyai eksistensi sebelumnya, adalah orang-orang berdosa. Maria sendiri mengakui kebutuhannya akan seorang Juruselamat, karena dia berkata: ‘Jiwaku memuliakan Tuhan, dan rohku bergembira karena Allah, Juruselamatku’ (Luk 1:46,47). Perhatikan secara khusus kata-kata Maria, ‘Juruselamatku.’ Tidak ada orang selain seorang yang berdosa yang membutuhkan seorang Juruselamat, karena tidak ada hukuman atau bencana dalam bentuk apapun yang bisa diberikan kepada seseorang yang tidak berdosa. Orang Katolik Roma harus menerima perkataan Maria atau menuduh ‘Bunda Kami’ berbohong. Karena dalam kata-kata itu dia mengaku bahwa dia adalah seorang berdosa yang membutuhkan seorang Juruselamat. Itu seharusnya membereskan sekali dan selamanya apakah seorang Kristen harus berdoa kepadanya atau tidak. Tentu saja Maria adalah karakter yang patut dikagumi. Tetapi dia bukannya tanpa dosa, dan dia hanya manusia (biasa). Oleh karena itu, penting baginya untuk dilahirkan kembali oleh Roh dan untuk berpartisipasi dalam penebusan yang disediakan oleh Anaknya.] - ‘Roman Catholicism’, hal 159.
Luk 1:46-47 - “(46) Lalu kata Maria: ‘Jiwaku memuliakan Tuhan, (47) dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku,”.
3) Dalam Luk 2:22-24, Maria mempersembahkan korban penghapus dosa (bdk. Im 12:1-8).
Luk 2:22-24 - “(22) Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkanNya kepada Tuhan, (23) seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: ‘Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah’, (24) dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.”.
Im 12:1-8 - “(1) TUHAN berfirman kepada Musa, demikian: (2) ‘Katakanlah kepada orang Israel: Apabila seorang perempuan bersalin dan melahirkan anak laki-laki, maka najislah ia selama tujuh hari. Sama seperti pada hari-hari ia bercemar kain ia najis. (3) Dan pada hari yang kedelapan haruslah dikerat daging kulit khatan anak itu. (4) Selanjutnya tiga puluh tiga hari lamanya perempuan itu harus tinggal menantikan pentahiran dari darah nifas, tidak boleh ia kena kepada sesuatu apapun yang kudus dan tidak boleh ia masuk ke tempat kudus, sampai sudah genap hari-hari pentahirannya. (5) Tetapi jikalau ia melahirkan anak perempuan, maka najislah ia selama dua minggu, sama seperti pada waktu ia bercemar kain; selanjutnya enam puluh enam hari lamanya ia harus tinggal menantikan pentahiran dari darah nifas. (6) Bila sudah genap hari-hari pentahirannya, maka untuk anak laki-laki atau anak perempuan haruslah dibawanya seekor domba berumur setahun sebagai korban bakaran dan seekor anak burung merpati atau burung tekukur sebagai korban penghapus dosa ke pintu Kemah Pertemuan, dengan menyerahkannya kepada imam. (7) Imam itu harus mempersembahkannya ke hadapan TUHAN dan mengadakan pendamaian bagi perempuan itu. Demikianlah perempuan itu ditahirkan dari leleran darahnya. Itulah hukum tentang perempuan yang melahirkan anak laki-laki atau anak perempuan. (8) Tetapi jikalau ia tidak mampu untuk menyediakan seekor kambing atau domba, maka haruslah ia mengambil dua ekor burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati, yang seekor sebagai korban bakaran dan yang seekor lagi sebagai korban penghapus dosa, dan imam itu harus mengadakan pendamaian bagi perempuan itu, maka tahirlah ia.’”.
Sekalipun kenajisan / ketidak-tahiran karena melahirkan anak itu bukanlah suatu dosa moral, tetapi bagaimanapun tidak tahir / najis sangat kontras dengan suci / tidak berdosa!
4) Mengapa Maria harus mati kalau ia tidak berdosa? Kematian adalah upah dosa (Kej 2:16-17 Kej 3:19 Ro 5:12 Ro 6:23). Kristus memang juga mati meskipun Ia tidak berdosa, tetapi Ia mati untuk menebus dosa umat manusia. Bagaimana dengan Maria?
Kej 2:16-17 - “(16) Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: ‘Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, (17) tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.’”.
Kej 3:19 - “dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.’”.
Ro 5:12 - “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.”.
Ro 6:23 - “Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.”.
Catatan: orang Roma Katolikpun percaya bahwa Maria mengalami kematian.
5) Yesus suci karena Maria mengandung dari Roh Kudus, tetapi Maria dikandung oleh seorang perempuan yang mengandung dari laki-laki biasa. Bagaimana mungkin ia dikandung tanpa dosa dan dilahirkan tanpa dosa pula? Bandingkan dengan ayat-ayat di bawah ini:
Ayub 25:4 - “Bagaimana manusia benar di hadapan Allah, dan bagaimana orang yang dilahirkan perempuan itu bersih?”.
Ro 3:23 - “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah,”.
Ro 5:12 - “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah ber(buat) dosa.”.
1Kor 15:22
- “Karena
sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian
pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus.”.
1Yoh 1:8,10 - “(8) Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. ... (10) Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firmanNya tidak ada di dalam kita.”.
Kalau Maria dikandung dan lahir tanpa dosa, bahkan dalam sepanjang hidupnya tidak pernah berbuat dosa, maka semua ayat-ayat di atas ini adalah salah!
6) Orang Roma Katolik menekankan kesucian Maria karena mereka berpendapat bahwa kalau Yesus itu suci, maka Maria, yang melahirkanNya, juga harus suci. Tetapi doktrin ini mempunyai konsekwensi logis sebagai berikut: kalau karena Yesus itu suci maka Maria harus suci, maka karena Maria suci kedua orang tua Maria harus suci. Dan kalau kedua orang tua Maria suci, maka keempat kakek nenek Maria harus suci. Kalau ini diteruskan maka akan menunjukkan bahwa Adam dan Hawapun harus suci! Ini adalah konsekwensi logis yang orang Roma Katolikpun tidak akan mau menerimanya!
7) Doktrin Immaculate Conception ini baru muncul pada tanggal 8 Desember 1854. Mengapa dibutuhkan 18 abad untuk menemukan doktrin ini? Jelas karena memang tidak pernah ada dalam Kitab Suci!
8) Doktrin ini ditentang oleh banyak orang, seperti:
a) Bapa-bapa gereja dan ahli-ahli theologia seperti Agustinus, Chrysostom, Eusebius, Ambrose, Anselm, Thomas Aquinas, Bonaventure, Cardinal Cajetan, dll.
b) Juga ditentang oleh beberapa Paus seperti Gregory the Great dan Paus Innocent III.
Padahal Roma Katolik menganggap tulisan dari bapa-bapa gereja sebagai tradisi yang setingkat dengan Firman Allah. Juga Roma Katolik percaya bahwa kata-kata Paus itu infallible [= tidak bisa salah]. Lalu mengapa dalam hal ini mereka tidak mau menggubris pandangan / kata-kata dari bapa-bapa gereja maupun Paus?
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali