Pemahaman Alkitab

 

(online)

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

 

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

 

Selasa, tgl 23 April 2024, pk 18.30

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

Roma Katolik

 

vs

 

Kristen Protestan (8b)

 

MARIA(2)

 

4)         Maria dianggap mempunyai kuasa di bumi dan di surga.

Ajaran ini terlihat dari kutipan di bawah ini (Loraine Boettner hal 139):

“All power is given to thee in heaven and on earth so that at the command of Mary all obey - even God ... and thus ... God has placed the whole Church ... under the domination of Mary” [= Segala kuasa diberikan kepadamu di surga dan di bumi sehingga terhadap perintah Maria semua taat - bahkan Allah ... dan demikianlah ... Allah telah meletakkan seluruh Gereja di bawah kekuasaan Maria] - ‘The Glories of Mary’, hal 180-181.

 

Pandangan Kristen:

 

a)   Kuasa  semacam itu hanya diberikan kepada Yesus (Mat 28:18).

 

Mat 28:18 - Yesus mendekati mereka dan berkata: ‘KepadaKu telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi..

 

Perhatikan bahwa bagian pertama dari kutipan di atas diambil dari Mat 28:18 itu, tetapi lalu dialihkan dari Yesus kepada Maria.

 

b)   Pemberian kuasa semacam itu kepada Maria, menjadikan Maria sebagai Allah!

 

5)         Maria dijadikan obyek penyembahan.

Secara resmi, Gereja Roma Katolik menyangkal bahwa mereka menyembah Maria. Untuk menyangkal penyembahan terhadap Maria, mereka membedakan adanya 3 macam penyembahan / worship:

a)   LATRIA: Ini adalah penyembahan yang tertinggi, dan ini hanya dituju­kan kepada Allah.

b)   DULIA: Ini adalah pemujaan terhadap malaikat / orang-orang suci.

c)   HYPER-DULIA: Ini adalah pemujaan yang lebih tinggi dari DULIA, dan ini ditujukan kepada Maria.

 

Tetapi dalam prakteknya, orang-orang awam Roma Katolik tidak tahu apa-apa tentang hal ini.

 

Pandangan Kristen:

 

a)   Kitab Suci tidak pernah mengajarkan adanya 3 macam penyembahan / pemujaan seperti yang diajarkan oleh Gereja Katolik itu. Jadi di sini lagi-lagi terlihat adanya ajaran Roma Katolik yang sama sekali tidak mempunyai dasar Kitab Suci!

 

b)   Sekalipun mereka tidak menamakan ‘penyembahan’, tetapi mereka berdoa kepada Maria, berlutut di bawah patung Maria, mencium kaki patung tersebut, menyanyi memuji Maria.

 

Semua itu jelas tidak bisa disebut sebagai penghormatan, tetapi harus dianggap sebagai penyembahan. Merupakan sesuatu yang tidak masuk akal untuk memberikan istilah ‘penghormatan’ kalau dalam faktanya yang dilakukan adalah ‘penyembahan’!

 

c)   Kitab Suci jelas melarang kita untuk melakukan penyembahan terhadap manusia maupun malaikat (Mat 4:10  Kis 10:25,26  Kis 12:20-23  Kis 14:14,15  Wah 19:10  Wah 22:8,9).

 

Mat 4:10 - Maka berkatalah Yesus kepadanya: ‘Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!’”.

 

Kis 10:25,26 - (25) Ketika Petrus masuk, datanglah Kornelius menyambutnya, dan sambil tersungkur di depan kakinya, ia menyembah Petrus. (26) Tetapi Petrus menegakkan dia, katanya: ‘Bangunlah, aku hanya manusia saja.’.

 

Kis 12:20-23 - (20) Herodes sangat marah terhadap orang Tirus dan Sidon. Atas persetujuan bersama mereka pergi menghadap dia. Mereka berhasil membujuk Blastus, pegawai istana raja, ke pihak mereka, lalu mereka memohonkan perdamaian, karena negeri mereka beroleh bahan makanan dari wilayah raja. (21) Dan pada suatu hari yang ditentukan, Herodes mengenakan pakaian kerajaan, lalu duduk di atas takhta dan berpidato kepada mereka. (22) Dan rakyatnya bersorak membalasnya: ‘Ini suara allah dan bukan suara manusia!’ (23) Dan seketika itu juga ia ditampar malaikat Tuhan karena ia tidak memberi hormat kepada Allah; ia mati dimakan cacing-cacing..

 

Kis 14:14,15 - (14) Mendengar itu Barnabas dan Paulus mengoyakkan pakaian mereka, lalu terjun ke tengah-tengah orang banyak itu sambil berseru: (15) ‘Hai kamu sekalian, mengapa kamu berbuat demikian? Kami ini adalah manusia biasa sama seperti kamu. Kami ada di sini untuk memberitakan Injil kepada kamu, supaya kamu meninggalkan perbuatan sia-sia ini dan berbalik kepada Allah yang hidup, yang telah menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya..

 

Wah 19:10 - Maka tersungkurlah aku di depan kakinya untuk menyembah dia, tetapi ia berkata kepadaku: ‘Janganlah berbuat demikian! Aku adalah hamba, sama dengan engkau dan saudara-saudaramu, yang memiliki kesaksian Yesus. Sembahlah Allah! Karena kesaksian Yesus adalah roh nubuat.’.

 

Wah 22:8,9 - (8) Dan aku, Yohanes, akulah yang telah mendengar dan melihat semuanya itu. Dan setelah aku mendengar dan melihatnya, aku tersungkur di depan kaki malaikat, yang telah menunjukkan semuanya itu kepadaku, untuk menyembahnya. (9) Tetapi ia berkata kepadaku: ‘Jangan berbuat demikian! Aku adalah hamba, sama seperti engkau dan saudara-saudaramu, para nabi dan semua mereka yang menuruti segala perkataan kitab ini. Sembahlah Allah!’.

 

Perhatikan juga bahwa dalam Kis 10:25-26, Kornelius jelas bukan menyembah Petrus karena menganggapnya sebagai Allah! Ia menyembah Petrus sebagai penghormatan kepada Petrus sebagai rasul / hamba Tuhan. Tetapi sekalipun demikian, Petrus tetap menolak sembah itu, karena sebagai manusia biasa ia tidak layak menerima sembah, dan sembah hanya boleh diberikan kepada Allah!

Demikian juga dalam Wah 19:10 dan Wah 22:8-9, pada waktu rasul Yohanes menyembah malaikat, rasanya tidak mungkin ia menyembah malaikat itu karena menganggapnya sebagai Allah. Mungkin ia menyembahnya hanya sebagai penghormatan, atau sekedar karena takutnya melihat malaikat, tetapi toh malaikat itu menolak sembah itu dan mengalihkannya kepada Allah!

 

d)   Dalam Mat 2:11, orang-orang Majus menyembah Yesus saja, bukan ‘Maria’ ataupun ‘Yesus dan Maria’.

 

Mat 2:11 - Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibuNya, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepadaNya, yaitu emas, kemenyan dan mur..

 

Perhatikan komentar dari Charles Haddon Spurgeon tentang bagian ini:

The old Reformers used to say, “Here is a bone that sticks in the throat of the Romanists, and they can neither get it up nor down, for it does not say, ‘They saw Mary and the young child’, the young child is put first, they came to see him; and it does not say that ‘they fell down and worshipped them’” If ever there was an opportunity  for Mariolatry, surely this was the one, when the child  was as yet newly-born, and depended so much upon his mother. Why did not the magi say “Ave Maria!” and commence at once their Mariolatry? Ay, but these were wise men; they were not priests from Rome, else might they have done it. [= Tokoh-tokoh Reformasi kuno sering berkata: “Ini adalah tulang yang menyangkut di tenggorokan orang Roma (Katolik), dan mereka tidak dapat mengeluarkannya ataupun menelannya, karena ayat itu tidak berkata: ‘Mereka melihat Maria dan bayi itu’, bayi itu disebut lebih dulu, mereka datang untuk melihat Dia; dan ayat itu tidak berkata bahwa ‘mereka tersungkur dan menyembah mereka’”. Kalau ada kesempatan untuk melakukan penyembahan terhadap Maria, maka sebetulnya inilah kesempatannya, dimana bayi itu baru dilahirkan, dan sangat bergantung kepada ibuNya. Mengapa orang-orang Majus itu tidak berkata “Salam Maria!” dan lang­sung memulai penyembahan terhadap Maria? Ah, tetapi mereka ini adalah orang-orang yang bijaksana; mereka bukan pastor-pastor dari Roma, karena kalau demikian mereka mungkin sudah melakukannya.] - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’ , vol 3, hal 34.

Catatan: Perlu saudara ketahui bahwa dalam terjemahan KJV kata-kata ‘orang-orang majus’ dalam Mat 2:1 diterjemahkan ‘wise men’ [= orang-orang yang bijaksana].

 

e)   Mat 12:46-50  Kis 1:14  Yoh 2:1-4 sama sekali tidak menunjuk­kan bahwa Maria mempunyai posisi yang tinggi, sehingga layak untuk disembah.

Yoh 2:3-4 sering dianggap sebagai bagian yang menunjukkan bahwa Yesuspun tunduk pada perintah Maria.

 

Yoh 2:1-11 - (1) Pada hari ketiga ada perkawinan di Kana yang di Galilea, dan ibu Yesus ada di situ; (2) Yesus dan murid-muridNya diundang juga ke perkawinan itu. (3) Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepadaNya: ‘Mereka kehabisan anggur.’ (4) Kata Yesus kepadanya: ‘Mau apakah engkau dari padaKu, ibu? SaatKu belum tiba.’ (5) Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: ‘Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!’ (6) Di situ ada enam tempayan yang disediakan untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi, masing-masing isinya dua tiga buyung. (7) Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu: ‘Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air.’ Dan merekapun mengisinya sampai penuh. (8) Lalu kata Yesus kepada mereka: ‘Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta.’ Lalu merekapun membawanya. (9) Setelah pemimpin pesta itu mengecap air, yang telah menjadi anggur itu - dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya - ia memanggil mempelai laki-laki, (10) dan berkata kepadanya: ‘Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang.’ (11) Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tandaNya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaanNya, dan murid-muridNya percaya kepadaNya..

 

Tetapi benarkah demikian? Mari kita perhatikan penjelasan tentang Yoh 2:3-4 di bawah ini:

 

1.   Dalam Yoh 2:3 dikatakan bahwa Maria datang kepada Yesus dan berkata: ‘Mereka kehabisan anggur’. Apa maksud Maria dengan kata-kata ini?

Ada bermacam-macam kemungkinan dan penafsiran:

a.   Maksud Maria ialah: Mari kita pulang karena anggur habis.

Ini jelas merupakan penafsiran yang tidak cocok dengan kontexnya.

b.   Maria mengharapkan Yesus melakukan mujijat untuk menolong mereka.

Keberatan terhadap penafsiran ini:

(1) Calvin meragukan penafsiran ini, karena Yoh 2:11 menya­takan ini mujijat pertama! Kalau selama ini Yesus tidak pernah melakukan mujijat, dari mana Maria bisa mengha­rapkan mujijat?

(2) Tetapi keberatan yang lebih serius adalah: penafsiran ini tidak cocok dengan kontexnya. Kalau memang Maria mempersoalkan mujijat, dan dalam Yoh 2:4 Yesus mengata­kan belum waktunya, lalu mengapa dalam Yoh 2:6-dst Yesus lalu tetap melakukan mujijat itu? Bagaimana mungkin Yesus lebih menuruti Maria dari pada ketetapan / Rencana Allah?

c.   Maria, yang tahu siapa Yesus itu, menghendaki supaya Yesus membuat mujijat dan menyatakan diriNya sebagai Mesias. [bdk. Yoh 7:3-6 yang menunjukkan bahwa saudara- saudara Yesus mendesak Dia untuk menyatakan diri (sebagai Mesias), tetapi ditolak oleh Yesus karena belum waktunya]. Saya berpendapat inilah penafsiran yang benar!

 

2.   Yoh 2:4 - Kata Yesus kepadanya: ‘Mau apakah engkau dari padaKu, ibu? SaatKu belum tiba.’.

 

Ada beberapa hal yang bisa dipelajari dari jawaban Yesus ini:

 

a.   ‘Mau apakah engkau dari padaKu ibu?’

NASB/KJV: Woman, what have I to do with you / thee? [= perempuan, apa urusanKu denganmu?].

NIV: Dear woman, why do you involve me? [= perempuan, mengapa engkau melibatkan Aku?].

RSV: O woman, what have you to do with Me? [= O perempuan, apa urusanmu dengan Aku?].

NKJV: Woman, what does your concern have to do with Me? [= perempuan, apa urusannya perhatianmu itu dengan Aku?].

Lit: What to me and to thee, woman? [= apa bagiKu dan bagimu, perempuan?].

 

Ungkapan yang sama juga muncul dalam:

 

Hakim 11:12 - Kemudian Yefta mengirim utusan kepada raja bani Amon dengan pesan: ‘Apakah urusanmu dengan aku, sehingga engkau mendatangi aku untuk memerangi negeriku?’.

 

2Sam 16:10 - Tetapi kata raja: ‘Apakah urusanku dengan kamu, hai anak-anak Zeruya? Biarlah ia mengutuk! Sebab apabila TUHAN berfirman kepadanya: Kutukilah Daud, siapakah yang akan bertanya: mengapa engkau berbuat demikian?’.

 

1Raja 17:18 - Kata perempuan itu kepada Elia: ‘Apakah maksudmu datang ke mari, ya abdi Allah? Singgahkah engkau kepadaku untuk mengingatkan kesalahanku dan untuk menyebabkan anakku mati?’.

 

2Raja 3:13 - Tetapi berkatalah Elisa kepada raja Israel: ‘Apakah urusanku dengan engkau? Pergilah kepada para nabi ayahmu dan kepada para nabi ibumu.’ Jawab raja Israel kepadanya: ‘Jangan begitu, sebab TUHAN memanggil ketiga raja ini untuk menyerahkan mereka ke dalam tangan orang Moab!’.

 

2Taw 35:21 - Ia mengirim utusan kepada Yosia, dengan pesan: ‘Apakah urusanmu dengan aku, raja Yehuda? Saat ini aku tidak datang melawan engkau, tetapi melawan keluarga raja yang sedang kuperangi. Allah memerintahkan aku supaya segera bertindak. Hentikanlah niatmu menentang Allah yang menyertai aku, supaya engkau jangan dimusnahkanNya!’.

 

Ezra 4:3 - Tetapi Zerubabel, Yesua dan para kepala kaum keluarga orang Israel yang lain berkata kepada mereka: ‘Bukanlah urusan kita bersama, sehingga kamu dan kami membangun rumah bagi Allah kami, karena kami sendirilah yang hendak membangun bagi TUHAN, Allah Israel, seperti yang diperintahkan kepada kami oleh Koresh, raja negeri Persia.’.

 

Mat 8:29 - Dan mereka itupun berteriak, katanya: ‘Apa urusanMu dengan kami, hai Anak Allah? Adakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?’.

 

Mark 1:24 - Apa urusanMu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.’.

 

Luk 8:28 - Ketika ia melihat Yesus, ia berteriak lalu tersungkur di hadapanNya dan berkata dengan suara keras: ‘Apa urusanMu dengan aku, hai Yesus Anak Allah Yang Mahatinggi? Aku memohon kepadaMu, supaya Engkau jangan menyiksa aku.’.

 

Kalau kita membaca ayat-ayat ini maka kita bisa melihat bahwa ungkapan seperti itu selalu diucapkan untuk menunjukkan ketidaksenangan!

 

b.   Kata ‘ibu’ dalam Yoh 2:4 [Yunani: GUNAI; Inggris: woman {= perempuan}] berbeda dengan kata ‘ibu’ dalam Yoh 2:3,5,12 [Yunani: METER; Inggris: mother {= ibu / mama}].

 

Dalam Kitab Suci, Yesus tidak pernah menyebut Maria dengan sebutan ‘ibu’ dalam arti ‘mama’!

 

Sebutan GUNAI memang bukan sebutan yang kasar / tidak hormat (bdk. Mat 15:28 dimana Yesus menggunakan sebutan ini terhadap perempuan Kanaan yang beriman), tetapi bagaimanapun juga dengan tidak menyebut ‘mama’ Yesus menunjukkan bahwa mulai saat itu Maria tidak mempunyai otoritas untuk memerintah Yesus.

 

Jangan lupa bahwa Yesus bukan sekedar manusia, tetapi juga adalah Allah! Karena itu Marialah yang seharusnya mentaati Yesus, dan bukan sebaliknya!

 

c.   Yesus tidak mau menyatakan diri sebagai Mesias, karena waktunya belum tiba. Bandingkan dengan ayat-ayat di bawah ini:

 

Yoh 7:6,8,30 - (6) Maka jawab Yesus kepada mereka: WaktuKu belum tiba, tetapi bagi kamu selalu ada waktu. ... (8) Pergilah kamu ke pesta itu. Aku belum pergi ke situ, karena waktuKu belum genap.’ ... (30) Mereka berusaha menangkap Dia, tetapi tidak ada seorangpun yang menyentuh Dia, sebab saatNya belum tiba..

 

Yoh 8:20 - Kata-kata itu dikatakan Yesus dekat perbendaharaan, waktu Ia mengajar di dalam Bait Allah. Dan tidak seorangpun yang menangkap Dia, karena saatNya belum tiba..

 

Yoh 12:23 - Tetapi Yesus menjawab mereka, kataNya: ‘Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan..

 

Yoh 13:1 - Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu, bahwa saatNya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-muridNya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya..

 

Yoh 17:1 - Demikianlah kata Yesus. Lalu Ia menengadah ke langit dan berkata: ‘Bapa, telah tiba saatnya; permuliakanlah AnakMu, supaya AnakMu mempermuliakan Engkau..

 

d.   Kata-kata Yesus dalam Yoh 2:4 ini jelas menunjukkan penolakan Yesus atas permintaan Maria. Karena itu kalau orang Roma Katolik menyuruh berdoa kepada Maria supaya dikabul­kan; ini jelas adalah omong kosong! Marianya sendiripun ditolak pada waktu meminta sesuatu kepada Yesus!

 

Lebih dari itu, Yesus menolak dengan kata-kata keras. Mengapa? Ada beberapa kemungkinan:

(1) Karena Maria melampaui batasan / haknya.

(2) Supaya orang tidak menganggap bahwa mujijat itu dilaku­kan sebagai ketaatan kepada Maria.

(3) Supaya orang kristen tidak meninggikan Maria lebih dari seharusnya.

 

f)    Kitab Suci melarang kita yang masih hidup untuk mengadakan kontak dengan orang yang sudah mati.

 

Ul 18:9-12 - “(9) ‘Apabila engkau sudah masuk ke negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, maka janganlah engkau belajar berlaku sesuai dengan kekejian yang dilakukan bangsa-bangsa itu. (10) Di antaramu janganlah didapati seorangpun yang mempersembahkan anaknya laki-laki atau anaknya perempuan sebagai korban dalam api, ataupun seorang yang menjadi petenung, seorang peramal, seorang penelaah, seorang penyihir, (11) seorang pemantera, ataupun seorang yang bertanya kepada arwah atau kepada roh peramal atau yang meminta petunjuk kepada orang-orang mati. (12) Sebab setiap orang yang melakukan hal-hal ini adalah kekejian bagi TUHAN, dan oleh karena kekejian-kekejian inilah TUHAN, Allahmu, menghalau mereka dari hadapanmu.”.

 

Im 20:6 - “Orang yang berpaling kepada arwah atau kepada roh-roh peramal, yakni yang berzinah dengan bertanya kepada mereka, Aku sendiri akan menentang orang itu dan melenyapkan dia dari tengah-tengah bangsanya.”.

 

Yes 8:19-20 - “(19) Dan apabila orang berkata kepada kamu: ‘Mintalah petunjuk kepada arwah dan roh-roh peramal yang berbisik-bisik dan komat-kamit,’ maka jawablah: ‘Bukankah suatu bangsa patut meminta petunjuk kepada allahnya? Atau haruskah mereka meminta petunjuk kepada orang-orang mati bagi orang-orang hidup?’ (20) ‘Carilah pengajaran dan kesaksian!’ Siapa yang tidak berbicara sesuai dengan perkataan itu, maka baginya tidak terbit fajar.”.

 

Sekalipun Maria adalah ibu Yesus, tetapi ia tetap sudah mati, sehingga kita tidak boleh berdoa ataupun mengadakan kontak dengan dia. Ini tidak berbeda dengan orang-orang yang mengadakan kontak dengan orang yang sudah mati dengan menggunakan jailangkung, permainan cucing, Ouija Board dsb.

 

6)         Maria dianggap lebih kasih daripada Allah / Yesus.

Bahwa orang Roma Katolik memang mengajarkan hal ini, bisa terlihat dari kutipan yang diberikan oleh Loraine Boettner (hal 147) di bawah ini:

a)   “If God is angry with a sinner, and Mary takes him under her protection, she withholds the avenging arms of her Son, and saves him” [= Kalau Allah murka kepada seorang manusia berdo­sa, dan Maria meletakkan orang itu di bawah perlindungannya, ia (Maria) menahan lengan yang mau membalas dendam dari Anaknya, dan menyelamatkan orang itu] - ‘The Glories of Mary’, hal 124.

b)   “O Immaculate Virgin, prevent thy beloved Son, who is irri­tated by our sins, from abandoning us to the power of the devil” [= Ya Perawan yang tak berdosa, cegahlah Anakmu yang kekasih, yang jengkel karena dosa-dosa kami, untuk tidak meninggalkan kami dalam kuasa setan] - The Glories of Mary, hal 248.

c)   In another instance Liguori teaches that Mary is the saviour of sinners, and that outside her there is no salvation. He describes an imaginary scene in which a man burdened with sin sees two ladders hanging from heaven, with Christ at the head of one and Mary at the other. He attempts to climb the ladder at which Christ is the head, but when he sees the angry face he falls back defeated. As he turns away despondent, a voice says to him, “Try the other ladder.” He does so, and to his amazement he ascends easily and is met at the top by the blessed virgin Mary, who then brings him into heaven and presents him to Christ! The teaching is, ‘What son would refuse the request of his mother?’” [= Dalam kesempatan / contoh yang lain, Liguori mengajarkan bahwa Maria adalah juruselamat dari orang-orang berdosa, dan bahwa di luar dirinya tidak ada keselamatan. Dia menggambarkan adegan khayalan di mana seorang pria yang dibebani oleh dosa melihat dua tangga tergantung dari surga, dengan Kristus di puncak yang satu dan Maria di puncak yang lain. Dia mencoba menaiki tangga di mana Kristus menjadi puncak, tetapi ketika dia melihat wajah yang marah, dia mundur dengan kekalahan. Pada waktu dia berbalik dengan putus asa, suatu suara berkata kepadanya, ‘Cobalah tangga yang lain.’ Dia melakukannya, dan dengan kagum / herannya dia naik dengan mudah dan ditemui di puncaknya oleh Perawan Maria yang diberkati, yang kemudian membawanya ke surga dan mempersembahkan dia kepada Kristus! Ajarannya adalah, ‘Anak apa / yang bagaimana yang akan menolak permintaan ibunya?’]. - ‘Roman Catholicism’, hal 147.

 

Pandangan Kristen:

 

a)   Tiga kutipan di atas ini jelas menunjukkan Yesus sebagai Hakim yang keras, kejam, dan tidak bijaksana, sedangkan Maria sebagai pengantara yang penuh kasih, kelembutan dan kebijaksanaan!

 

b)   Tiga kutipan di atas ini menunjukkan bahwa Allah / Yesus itu tidak maha kasih. Karena kalau Allah / Yesus itu maha kasih, bagaima­na Maria bisa lebih kasih dari Allah / Yesus?

 

c)   Ini bukan sekedar merupakan suatu ajaran yang tidak alkitabiah, tetapi bahkan bisa dikatakan merupakan suatu penghujatan dan penghinaan terhadap Allah / Yesus!

 

7)         Maria dianggap sebagai Co-Redeemer [= rekan Penebus].

 

a)   Ajaran Justin Martyr (yang membandingkan Maria dengan Hawa) dan Ireneaus (yang mengatakan bahwa ketidaktaatan perawan Hawa ditebus oleh ketaatan perawan Maria) dikembangkan lagi, sehingga mereka berkata bahwa sebagaimana dosa pertama masuk ke dalam dunia melalui seorang perempuan (yaitu Hawa), demikian juga keselamatan itu datang melalui seorang perempuan (yaitu Maria).

 

KGK no 511, 494

 

(https://www.stignatiuspj.org/wp-content/uploads/2021/09/katekismus-gereja-katolik.pdf)

 

b)   Selanjutnya, Paus Benedict XV (1914-1922) dan Paus Pius XI (1923) mengatakan bahwa pada waktu Tuhan Yesus menderita dan mati di kayu salib, Maria juga ikut menderita (karena melihat Anaknya menderita begitu hebat), dan dengan penderitaan itu Maria, bersama-sama dengan Kristus, menebus dosa manusia.

 

Encyclopedia Britannica: “The association of Mary in the work of Jesus developed into the view of Mary as everyone’s spiritual mother and as co-redemptrix - i.e., the partner with Jesus in the redemption of human beings. Her role in redemption was extended to her intercession in heaven and to the application of Christ’s merits to individual persons.” [= Hubungan Maria dalam pekerjaan Yesus berkembang menjadi pandangan tentang Maria sebagai ibu rohani setiap orang dan sebagai rekan penebus - artinya, partner dengan Yesus dalam penebusan umat manusia. Perannya dalam penebusan diperluas pada perantaraannya di surga dan pada penerapan jasa-jasa Kristus kepada individu-individu.].

https://www.britannica.com/topic/Mariology

 

Pandangan Kristen:

 

a)   Kitab Suci memang membandingkan Adam dan Kristus (Adam merupakan TYPE dari Kristus). Bandingkan dengan:

 

1.   Ro 5:12-19 - “(12) Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa. (13) Sebab sebelum hukum Taurat ada, telah ada dosa di dunia. Tetapi dosa itu tidak diperhitungkan kalau tidak ada hukum Taurat. (14) Sungguhpun demikian maut telah berkuasa dari zaman Adam sampai kepada zaman Musa juga atas mereka, yang tidak berbuat dosa dengan cara yang sama seperti yang telah dibuat oleh Adam, yang adalah gambaran Dia yang akan datang. (15) Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi kasih karunia Allah dan karuniaNya, yang dilimpahkanNya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus. (16) Dan kasih karunia tidak berimbangan dengan dosa satu orang. Sebab penghakiman atas satu pelanggaran itu telah mengakibatkan penghukuman, tetapi penganugerahan karunia atas banyak pelanggaran itu mengakibatkan pembenaran. (17) Sebab, jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus. (18) Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup. (19) Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua (banyak) orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua (banyak) orang menjadi orang benar.”.

 

2.   1Kor 15:21-22 - “(21) Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia. (22) Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus.”.

 

Dosa masuk ke dalam dunia melalui Adam (karena Adam adalah wakil seluruh umat manusia), dan keselamatan datang melalui Kristus.

Tetapi Kitab Suci tidak pernah membandingkan Hawa dan Maria! Jadi di sini lagi-lagi terlihat adanya ajaran yang sama sekali tidak mempunyai dasar Kitab Suci.

 

b)   Kitab Suci berkata bahwa keselamatan hanya ada di dalam Kristus (Mat 1:21 Kis 4:12). Dialah satu-satunya Juruselamat / Penebus dosa!

 

Mat 1:21 - Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umatNya dari dosa mereka.’.

 

Kis 4:12 - Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.’.

 

 

-bersambung-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali