Pemahaman Alkitab

 

(online)

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

 

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

 

Selasa, tgl 26 Maret 2024, pk 18.30

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

Roma Katolik

 

vs

 

Kristen Protestan (7b)

 

PAUS(2)

 

2)   Bagian-bagian lain dari Kitab Suci yang bertentangan dengan ajaran Roma Katolik dalam hal ini:

 

a)   Ajaran Tuhan Yesus sendiri.

Yesus tidak pernah mengajar bahwa Petrus lebih besar dari rasul-rasul yang lain. Dalam Mark 9:33-35 dan Mark 10:35-44, pada waktu para murid meributkan siapa yang terbesar di antara mereka atau menginginkan menjadi yang terbesar (Mark 9:33-34  Mark 10:35-37), maka Yesus tidak mengatakan bahwa Petruslah yang terbesar, tetapi Ia berkata bahwa orang yang mau merendahkan dirinya dan menjadi pelayan / hamba bagi semua, dialah yang terbesar (Mark 9:35  Mark 10:43-45).

 

Mark 9:33-35 - (33) Kemudian tibalah Yesus dan murid-muridNya di Kapernaum. Ketika Yesus sudah di rumah, Ia bertanya kepada murid-muridNya: Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan? (34) Tetapi mereka diam, sebab di tengah jalan tadi mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka. (35) Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. KataNya kepada mereka: ‘Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.’.

 

Mark 10:35-45 - (35) Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepadaNya: Guru, kami harap supaya Engkau kiranya mengabulkan suatu permintaan kami! (36) JawabNya kepada mereka: ‘Apa yang kamu kehendaki Aku perbuat bagimu?’ (37) Lalu kata mereka: ‘Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaanMu kelak, yang seorang lagi di sebelah kananMu dan yang seorang di sebelah kiriMu.’ (38) Tetapi kata Yesus kepada mereka: ‘Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum dan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima?’ (39) Jawab mereka: ‘Kami dapat.’ Yesus berkata kepada mereka: ‘Memang, kamu akan meminum cawan yang harus Kuminum dan akan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima. (40) Tetapi hal duduk di sebelah kananKu atau di sebelah kiriKu, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa itu telah disediakan.’ (41) Mendengar itu kesepuluh murid yang lain menjadi marah kepada Yakobus dan Yohanes. (42) Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: ‘Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. (43) Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, (44) dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. (45) Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang.’.

 

b)   Ajaran Petrus sendiri.

Sekalipun Petrus menyebut dirinya sendiri sebagai rasul (1Pet 1:1), tetapi:

 

1.   Dalam 1Pet 5:1 Petrus menyebut dirinya sebagai ‘fellow elder’ [= teman / sesama penatua] - RSV/NIV/NASB/ASV/NKJV/YLT. Ini jelas merupakan sebutan yang menyejajarkan dirinya dengan para penatua yang lain.

 

1Pet 5:1 - Aku menasihatkan para penatua di antara kamu, aku sebagai teman penatua dan saksi penderitaan Kristus, yang juga akan mendapat bagian dalam kemuliaan yang akan dinyatakan kelak..

 

2.   Dalam 1Pet 5:2-3 Petrus melarang untuk memaksa / memerintah jemaat / gereja.

 

1Pet 5:2-3 - (2) Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri. (3) Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu..

 

Ini tentu sangat berbeda dengan apa yang dilakukan oleh para Paus dalam gereja Roma Katolik! Mungkin sekarang sudah tidak, tetapi dulu para Paus bahkan berkuasa atas seorang raja!

 

3.   Dalam Kis 10:25-26, Petrus menolak penyembahan.

 

Kis 10:25-26 - (25) Ketika Petrus masuk, datanglah Kornelius menyambutnya, dan sambil tersungkur di depan kakinya, ia menyembah Petrus. (26) Tetapi Petrus menegakkan dia, katanya: ‘Bangunlah, aku hanya manusia saja.’.

 

Ini lagi-lagi berbeda dengan sikap para Paus yang menerima saja pada waktu jemaat Katolik mencium kakinya (tradisi penciuman kaki Paus dimulai oleh Paus Constantine pada tahun 709 Masehi).

 

c)   Sikap Paulus terhadap Petrus:

 

1.   Pada waktu ia dipanggil untuk menjadi rasul / pemberita Injil, Paulus tidak bertanya atau meminta persetujuan Petrus (Gal 1:15-17).

 

Gal 1:15-17 - (15) Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karuniaNya, (16) berkenan menyatakan AnakNya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi, maka sesaatpun aku tidak minta pertimbangan kepada manusia; (17) juga aku tidak pergi ke Yerusalem mendapatkan mereka yang telah menjadi rasul sebelum aku, tetapi aku berangkat ke tanah Arab dan dari situ kembali lagi ke Damsyik..

 

2.   Paulus menyejajarkan dirinya dengan Petrus, hanya saja tugas mereka berbeda, karena Petrus adalah rasul untuk orang bersunat / Yahudi sedangkan Paulus adalah rasul untuk orang tak bersunat / non Yahudi (Gal 2:7-10).

 

Gal 2:7-10 - (7) Tetapi sebaliknya, setelah mereka melihat bahwa kepadaku telah dipercayakan pemberitaan Injil untuk orang-orang tak bersunat, sama seperti kepada Petrus untuk orang-orang bersunat (8) - karena Ia yang telah memberikan kekuatan kepada Petrus untuk menjadi rasul bagi orang-orang bersunat, Ia juga yang telah memberikan kekuatan kepadaku untuk orang-orang yang tidak bersunat. (9) Dan setelah melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, maka Yakobus, Kefas dan Yohanes, yang dipandang sebagai sokoguru jemaat, berjabat tangan dengan aku dan dengan Barnabas sebagai tanda persekutuan, supaya kami pergi kepada orang-orang yang tidak bersunat dan mereka kepada orang-orang yang bersunat; (10) hanya kami harus tetap mengingat orang-orang miskin dan memang itulah yang sungguh-sungguh kuusahakan melakukannya..

 

3.   Paulus menyebut Yakobus lebih dulu dari Petrus (Gal 2:9).

 

Gal 2:9 - Dan setelah melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, maka Yakobus, Kefas dan Yohanes, yang dipandang sebagai sokoguru jemaat, berjabat tangan dengan aku dan dengan Barnabas sebagai tanda persekutuan, supaya kami pergi kepada orang-orang yang tidak bersunat dan mereka kepada orang-orang yang bersunat;.

 

Dalam semua daftar rasul-rasul, Petrus selalu disebut sebagai yang pertama (Mat 10:2-5  Mark 3:16-19  Luk 6:14-16  Kis 1:13-14).

 

Ini digunakan oleh Gereja Roma Katolik untuk mengatakan bahwa Petrus adalah rasul yang tertinggi. Terhadap penafsiran ini ada 3 hal yang bisa diberikan sebagai jawaban, yaitu:

 

a.   Dalam Gal 2:9 ini Paulus menyebut Yakobus lebih dulu dari pada Petrus.

 

Calvin berkata: Kalau karena disebut pertama Petrus adalah rasul tertinggi, maka kesimpulan yang juga harus diambil dari Kis 1:14 adalah bahwa Maria adalah yang paling rendah dari semua rasul maupun semua wanita yang mengikut Yesus karena dalam Kis 1:14 itu Maria disebut terakhir.

 

Kis 1:13-14 - “(13) Setelah mereka tiba di kota, naiklah mereka ke ruang atas, tempat mereka menumpang. Mereka itu ialah Petrus dan Yohanes, Yakobus dan Andreas, Filipus dan Tomas, Bartolomeus dan Matius, Yakobus bin Alfeus, dan Simon orang Zelot dan Yudas bin Yakobus. (14) Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus..

 

Kesimpulan / konsekwensi seperti ini pasti tidak akan diterima oleh orang-orang Katolik.

 

b.   Petrus disebut pertama bukan karena ia yang paling tinggi kedudukannya dari semua rasul, tetapi karena ia memang paling vokal / berani menyatakan pendapat, sehingga ia menjadi wakil / juru bicara dari murid-murid yang lain.

 

4.   Dalam Gal 2:11-14, Paulus menegur Petrus di depan umum.

 

Semua ini jelas tidak menunjukkan bahwa Paulus menganggap Petrus sebagai Paus I yang lebih tinggi derajatnya dibanding­kan dengan rasul-rasul yang lain.

 

d)   Sikap rasul-rasul lain terhadap Petrus:

 

1.   Rasul-rasul mengutus Petrus (Kis 8:14).

 

Kis 8:14 - Ketika rasul-rasul di Yerusalem mendengar, bahwa tanah Samaria telah menerima firman Allah, mereka mengutus Petrus dan Yohanes ke situ..

 

Ini sesuatu yang tidak mungkin terjadi kalau Petrus memang adalah Paus I yang mempunyai derajat tertinggi dari semua rasul yang lain! Bagaimana mungkin orang yang memegang otoritas tert­inggi bisa diutus oleh bawahannya? Pernahkah terjadi peristiwa dalam Gereja Roma Katolik dimana Paus diutus oleh pastor / uskup dan sebagainya?

 

Yoh 13:16 - Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya..

 

Catatan: ‘tidak lebih tinggi’ bukan berarti ‘lebih rendah’. Bisa ‘sama tinggi’. Tetapi tidak bisa berarti ‘lebih tinggi’.

 

2.   Dalam sidang di Yerusalem, Petrus berbicara setelah ada diskusi, dan yang menyampaikan hasil keputusan bukannya Petrus tetapi Yakobus (Kis 15).

 

Semua ini tidak menunjukkan Petrus sebagai Paus I, yang lebih  tinggi kedudukannya dari pada rasul-rasul yang lain.

 

3)   Sejarah Kitab Suci menunjukkan bahwa Petrus tidak pernah  pergi ke Roma.

 

Tradisi Katolik berkata bahwa Petrus menjabat sebagai bishop I Roma mulai 42-67 M dan mati syahid di Roma pada tahun 67 M.

 

Anehnya Kitab Suci tidak pernah menyinggung hal itu sedikitpun. Dalam Kitab Suci kata ‘Roma’ digunakan 9 x (15??) tetapi tidak pernah dihubungkan dengan Petrus:

 

a)   Dalam surat Petrus juga tidak disebut apa-apa tentang hal itu.

 

b)   Dalam Gal 2:7-8, dikatakan bahwa Petrus adalah rasul untuk orang Yahudi, ini tidak memungkinkan dia untuk menjadi bishop di Roma!

 

c)   Surat Roma ditulis oleh Paulus kira-kira pada tahun 58 M (berarti termasuk diantara ‘masa jabatan’ Petrus, yang menurut gereja Roma Katolik berlangsung tahun 42-67 M), tetapi dalam Ro 1:7, Paulus hanya menujukan suratnya kepada ‘kamu sekalian’ dan tidak menyebut nama  Petrus, juga dalam Ro 1:11-13, ia tidak minta ijin dari ‘bishop Roma’ itu untuk mengunjungi jemaatnya. Juga, apa gunanya Paulus pergi ke Roma kalau Petrus sudah di sana?

 

d)   Paulus dipenjarakan di Roma selama 2 tahun (mulai 61 M; bdk. Kis 28:30) dan selama itu ia menulis beberapa suratnya, seper­ti: Efesus, Filipi, Kolose, Filemon. Dalam surat-surat itu ia menyebut nama banyak orang-orang yang bekerja dengan dia, tetapi tidak menyebut nama Petrus. Ini adalah sesuatu yang aneh, kalau Petrus menjadi bishop di Roma pada saat itu.

 

e)   Surat 2Timotius ditulis oleh Paulus pada saat pemenjaraannya yang ke dua sesaat sebelum ia mati pada tahun 67 M (bdk. 2Tim 4:6-8).

Dalam 2Tim 4:10-11, Paulus berkata bahwa semua meninggalkan dia kecuali Lukas.

 

2Tim 4:6-11 - (6) Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat. (7) Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. (8) Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hariNya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatanganNya. (9) Berusahalah supaya segera datang kepadaku, (10) karena Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku. Ia telah berangkat ke Tesalonika. Kreskes telah pergi ke Galatia dan Titus ke Dalmatia. (11) Hanya Lukas yang tinggal dengan aku. Jemputlah Markus dan bawalah ia ke mari, karena pelayanannya penting bagiku..

 

Dimana Petrus pada saat itu? Kalau ia sudah mati, mengapa Paulus tidak menyebut-nyebut kematian ‘bishop I Roma’ itu? Kalau pada saat itu Petrus masih hidup, bagaimana mungkin ia tidak mengunjungi / menyertai Paulus, sehingga Paulus berkata bahwa semua telah meninggalkannya, kecuali Lukas?

 

Kesimpulan: Petrus tidak pernah pergi ke Roma, apalagi menjadi bishop I di Roma! Itu hanya isapan jempol dari orang-orang Roma Katolik!

 

C) Infallibility of the Pope.

 

Pada tahun 1870, sidang Vatican di Roma menyatakan bahwa Paus itu infallible [= tidak bisa salah] kalau ia berbicara:

1)   EX CATHEDRA [= from the chair / dari kursinya], sebagai kepala gereja.

2)   Ditujukan kepada seluruh gereja.

3)   Tentang iman dan moral.

Karena kata-katanya itu infallible [= tidak bisa salah], maka kata-katanya itu irreformable [= tidak bisa diperbaiki / dibetulkan].

 

Jadi memang Roma Katolik sebetulnya tidak beranggapan bahwa semua kata-kata Paus itu infallible / tidak bisa salah. Jadi misalnya Paus berbicara kepada pembantunya tentang hal makanan, maka itu tidak dianggap infallible / tidak bisa salah.

 

Tetapi persoalannya adalah:

a)   Pada waktu Paus berbicara, pada umumnya ia tidak mengatakan apakah kata-katanya termasuk EX CATHEDRA atau tidak.

b)   Iman dan moral itu sangat luas, sehingga akhirnya / dalam faktanya hampir setiap pernyataan Paus dianggap pasti benar.

 

Bantahan / serangan dari pihak kristen:

 

1)   Kitab Suci tidak pernah mengatakan adanya orang yang infallible / tidak bisa salah. Hanya Tuhan Yesus / Allah / Kitab Suci / Firman Tuhan sajalah yang infallible [= tidak bisa salah].

 

Petrus sendiri, yang dianggap orang Roma Katolik sebagai Paus I, sering berbicara secara salah, misalnya:

 

a)   Pada waktu ia menghalangi Yesus pergi ke Yerusalem (Mat 16:21-23).

 

b)   Pada waktu ia menyombongkan dirinya dan menganggap dirinya pasti tidak akan menyangkal Yesus (Mat 26:31-35).

 

Mat 26:31-35 - (31) Maka berkatalah Yesus kepada mereka: Malam ini kamu semua akan tergoncang imanmu karena Aku. Sebab ada tertulis: Aku akan membunuh gembala dan kawanan domba itu akan tercerai-berai. (32) Akan tetapi sesudah Aku bangkit, Aku akan mendahului kamu ke Galilea.’ (33) Petrus menjawabNya: ‘Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak.’ (34) Yesus berkata kepadanya: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya malam ini, sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.’ (35) Kata Petrus kepadaNya: ‘Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau.’ Semua murid yang lainpun berkata demikian juga..

 

c)   Pada waktu ia menyangkal Yesus sampai 3 x sambil mengutuk dan bersumpah (Mat 26:69-75  Mark 14:66-72).

 

Mat 26:69-75 - (69) Sementara itu Petrus duduk di luar di halaman. Maka datanglah seorang hamba perempuan kepadanya, katanya: Engkau juga selalu bersama-sama dengan Yesus, orang Galilea itu. (70) Tetapi ia menyangkalnya di depan semua orang, katanya: ‘Aku tidak tahu, apa yang engkau maksud.’ (71) Ketika ia pergi ke pintu gerbang, seorang hamba lain melihat dia dan berkata kepada orang-orang yang ada di situ: ‘Orang ini bersama-sama dengan Yesus, orang Nazaret itu.’ (72) Dan ia menyangkalnya pula dengan bersumpah: ‘Aku tidak kenal orang itu.’ (73) Tidak lama kemudian orang-orang yang ada di situ datang kepada Petrus dan berkata: ‘Pasti engkau juga salah seorang dari mereka, itu nyata dari bahasamu.’ (74) Maka mulailah Petrus mengutuk dan bersumpah: ‘Aku tidak kenal orang itu.’ Dan pada saat itu berkokoklah ayam. (75) Maka teringatlah Petrus akan apa yang dikatakan Yesus kepadanya: ‘Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.’ Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya..

 

2)   Doktrin ini baru muncul hampir 18 abad setelah Kitab Suci selesai ditulis, dan ini menunjukkan bahwa memang doktrin ini tidak ada dasar Kitab Sucinya. Kalau memang ada dalam Kitab Suci, mengapa membutuhkan hampir 18 abad untuk menemukan doktrin ini?

 

3)   Pada tahun 1415 Council [= sidang gereja] of Constance memecat Paus John XXIII, dan pada tahun 1432 Council of Basle menyatakan bahwa ‘Paus sekalipun harus tunduk kepada councils’ (Loraine Boettner, ‘Roman Catholicism’, hal 241).

 

Hal-hal ini jelas bertentangan dengan doktrin yang menyatakan bahwa Paus itu infallible / tidak bisa salah. Yang mana yang benar? Padahal pada tahun 1545 Council of Trent menyatakan bahwa tradisi (yang mencakup keputusan council / sidang gereja) mempunyai otoritas yang setingkat dengan Kitab Suci / Firman Tuhan.

 

4)   Mulai tahun 1378 ada 2 Paus, yaitu:

 

a)   Paus Urban VI (1378-1389).

 

b)   Paus Clement VII (1378-1394).

 

Perpecahan yang ditandai oleh adanya 2 Paus itu terus berlangsung (masing-masing Paus punya penggantinya sendiri-sendiri) sampai pada tahun 1409 dimana Council of Pisa / sidang gereja di Pisa memecat kedua Paus yang ada saat itu dan mengangkat Paus yang baru yaitu Paus Alexander V (1409-1410).

Tetapi ternyata kedua Paus lama yang sudah dipecat itu tidak mau turun takhta sehingga lalu ada 3 Paus. Keadaan ini terus berlangsung sampai tahun 1417 dimana Council of Constance memecat ketiga Paus yang ada dan mengangkat Paus baru, yaitu Paus Martin V (Loraine Boettner, ‘Roman Catholicism’, hal 241-242).

 

Bagaimana mungkin peristiwa ini bisa cocok dengan doktrin infallibility of the Pope / ketidak-bersalahan Paus?

 

Bandingkan juga sikap para Paus yang begitu gila jabatan itu dengan Mark 10:43-45 - “(43) Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, (44) dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. (45) Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang.’”.

 

Catatan:  kalau mau lebih jelas, baca sendiri Mark 10 itu mulai ay 35.

 

 

-bersambung-


 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali