Kebaktian Jum’at Agung

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

 

Jum’at, tgl 6 April 2012, pk 17.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

(HP: 7064-1331 / 6050-1331)

[email protected]

 

ROMA 8:32

 

Ro 8:32 - “Ia, yang tidak menyayangkan AnakNya sendiri, tetapi yang menyerahkanNya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?”.

 

I) Allah menyerahkan AnakNya bagi kita.

 

1)   Sikap / tindakan Allah bagi kita.

 

Ay 32a: “Ia, yang tidak menyayangkan AnakNya sendiri, tetapi yang menyerahkanNya bagi kita semua.

 

a)         “tidak menyayangkan AnakNya sendiri”.

 

1.   ‘AnakNya sendiri.

Charles Hodge (tentang Ro 8:32): that exhibition of divine love which surpasses and secures all others, is the gift of his own son. Paul having spoken of Christians as being God’s sons by adoption, was led to designate Christ as his own peculiar Son, in a sense in which neither angels (Heb. 1:5) nor men can be so called [= pertunjukan kasih ilahi yang melampaui dan memastikan semua yang lain itu, adalah pemberian AnakNya sendiri. Paulus setelah mengatakan tentang orang-orang Kristen sebagai anak-anak Allah oleh adopsi, dibimbing untuk menunjuk Kristus sebagai AnakNya sendiri yang khusus, dalam suatu arti dalam mana tak ada malaikat-malaikat (Ibr 1:5) ataupun manusia bisa disebut demikian].

Ibr 1:5 - “Karena kepada siapakah di antara malaikat-malaikat itu pernah Ia katakan: ‘AnakKu Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini?’ dan ‘Aku akan menjadi BapaNya, dan Ia akan menjadi AnakKu?’”.

 

2.   ‘tidak menyayangkan’.

Semua Alkitab bahasa Inggris menggunakan kata ‘spare’.

 

Bible Knowledge Commentary: The word ‘spare’ (‎epheisato‎, from ‎pheidomai‎) is the same word used in the Septuagint in Gen 22:12 where the NIV translates it ‘withheld.’ God said to Abraham, ‘You have not withheld your son.’” [= Kata ‘spare’ (epheisato‎, dari ‎pheidomai) adalah kata yang sama yang digunakan dalam Septuaginta dalam Kej 22:12 dimana NIV menterjemahkannya ‘menahan’. Allah berkata kepada Abraham, ‘Engkau tidak menahan anakmu’].

Kej 22:12 - “Lalu Ia berfirman: ‘Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepadaKu.’”.

KJV: thou hast not withheld thy son, thine only son from me (= engkau tidak menahan anakmu, anakmu satu-satunya dari Aku).

NIV: you have not withheld from me your son, your only son.’ (= engkau tidak menahan dari Aku anakmu, satu-satunya anakmu).

 

‘Tidak menyayangkan’ tidak berarti Allah tidak sayang kepada AnakNya. Jelas Ia mengasihi AnakNya.

Mat 3:17 - “lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: ‘Inilah AnakKu yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan.’”.

 

Tetapi bagaimanapun, Ia tidak menyayangkan AnakNya demi kita yang berdosa.

Yoh 3:16 - “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”.

 

Bahkan bandingkan dengan Yes 53:10 - Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak TUHAN akan terlaksana olehnya”.

KJV: ‘Yet it pleased the LORD’ (= Tetapi itu memperkenan TUHAN).

 

b)         ‘menyerahkanNya bagi kita semua’.

 

1.   ‘Menyerahkan’ berarti memberikan untuk disalib.

 

Calvin: “Paul brings forward the price of our redemption in order to prove that God favors us: and doubtless it is a remarkable and clear evidence of inappreciable love, that the Father refused not to bestow his Son for our salvation” (= Paulus mengemukakan harga dari penebusan kita untuk membuktikan bahwa Allah menyayangi kita: dan tak diragukan itu merupakan suatu bukti yang luar biasa dan jelas tentang kasih yang tak ternilai, bahwa Bapa tidak menolak untuk memberikan AnakNya untuk keselamatan kita).

Bdk. Ro 5:8 - “Akan tetapi Allah menunjukkan kasihNya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa”.

 

Barnes’ Notes: ‘But delivered him up.’ Gave him into the hands of men, and to a cruel death; Note, Acts 2:23 (= ‘Tetapi menyerahkanNya’. MenyerahkanNya ke dalam tangan manusia, dan pada kematian yang kejam; Perhatikan, Kis 2:23).

Kis 2:23 - “Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencanaNya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka”.

 

Memang Bapa menyerahkan Yesus pada kematian karena penyaliban melalui tangan manusia.

Bdk. Kis 4:27-28 - “(27) Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel melawan Yesus, HambaMu yang kudus, yang Engkau urapi, (28) untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendakMu”.

Tetapi semua orang-orang ini hanyalah ‘alat’ dari Bapa. Mereka adalah ‘second causes’ (= penyebab-penyebab kedua) dalam hal ini, sedangkan ‘the first cause’ (= penyebab pertama dari segala sesuatu selalu adalah Allah / Bapa.

 

Yesus sendiri juga menyerahkan diriNya sendiri bagi kita sesuai dengan kehendak Bapa.

Gal 1:4 - “yang telah menyerahkan diriNya karena dosa-dosa kita, untuk melepaskan kita dari dunia jahat yang sekarang ini, menurut kehendak Allah dan Bapa kita”.

Gal 2:20 - “namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diriNya untuk aku.

Ef 5:2,25 - “(2) dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diriNya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah. ... (25) Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diriNya baginya.

1Tim 2:6 - “yang telah menyerahkan diriNya sebagai tebusan bagi semua manusia: itu kesaksian pada waktu yang ditentukan”.

Tit 2:14 - yang telah menyerahkan diriNya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diriNya suatu umat, kepunyaanNya sendiri, yang rajin berbuat baik”.

1Yoh 3:16 - “Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawaNya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita”.

 

Memang di Taman Getsemani, kemanusiaanNya menyebabkan Ia takut, sehingga berdoa untuk meminta supaya cawan itu berlalu dari padaNya. Tetapi karena kemanusiaanNya suci, Ia berserah pada kehendak Bapa.

 

Mat 26:39 - “Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kataNya: ‘Ya BapaKu, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari padaKu, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.’”.

 

Dan Bapa tetap menyerahkan AnakNya untuk menderita dan mati disalib, karena Ia tahu bahwa tanpa itu semua orang, tanpa kecuali, akan masuk ke dalam neraka.

 

2.   ‘kita semua’ harus diartikan sesuai dengan kontext, yang mempersoalkan orang percaya / pilihan (bdk. ay 33).

Ay 33: “Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka?”.

 

Matthew Henry: Thus did he deliver him up for us all, that is, for all the elect; for us all, not only for our good, but in our stead, as a sacrifice of atonement to be a propitiation for sin (= Jadi Ia menyerahkanNya bagi kita semua, yaitu, bagi semua orang-orang pilihan; bagi kita semua, bukan hanya untuk kebaikan kita, tetapi di tempat kita, sebagai suatu korban penebusan untuk menjadi suatu penebusan dosa).

 

Jamieson, Fausset & Brown: “‘For us all’. - i.e., for all believers alike; as nearly every good interpreter admits must be the meaning here” (= ‘Bagi kita semua’. - yaitu, untuk semua orang-orang percaya secara sama; seperti hampir setiap penafsir yang baik mengakui harus menjadi artinya di sini).

 

Barnes’ Notes: “‘For us all.’ For all Christians. The connection requires that this expression should be understood here with this limitation. The argument for the security of all Christians is here derived from the fact, that God had shown them equal love in giving his Son for them. It was not merely for the apostles; not only for the rich, and the great; but for the most humble and obscure of the flock of Christ. For them he endured as severe pangs, and expressed as much love, as for the rich and the great that shall be redeemed. The most humble and obscure believer may derive consolation from the fact that Christ died for him, and that God has expressed the highest love for him which we can conceive to be possible (= ‘Bagi kita semua’. Bagi semua orang Kristen. Hubungan menuntut / mengharuskan bahwa ungkapan ini harus dimengerti di sini dengan pembatasan ini. Argumentasi untuk keamanan dari semua orang Kristen didapatkan di sini dari fakta, bahwa Allah telah menunjukkan mereka kasih yang sama dalam memberikan AnakNya bagi mereka. Bukan hanya bagi rasul-rasul; bukan hanya bagi orang-orang kaya, dan orang-orang besar / berkedudukan tinggi; tetapi bagi kawanan domba Kristus yang paling rendah dan tidak dikenal. Bagi mereka Ia menahan rasa sakit yang sama, dan menyatakan kasih yang sama banyaknya, seperti bagi orang-orang kaya dan orang-orang besar yang akan ditebus. Orang percaya yang paling rendah dan tidak terkenal bisa mendapatkan penghiburan dari fakta bahwa Kristus mati bagi mereka, dan bahwa Allah telah menyatakan baginya kasih yang tertinggi yang memungkinkan untuk bisa kita mengerti).

Catatan: aneh bahwa dengan pandangan / penafsiran seperti ini Barnes bisa menentang doktrin ‘Limited Atonement’ (= Penebusan Terbatas)!

 

2)   Tanggung jawab kita.

Yesus diserahkan oleh Bapa, dan Yesus menyerahkan diriNya sendiri, untuk menebus dosa-dosa kita. Karena itu, kita harus percaya kepada Dia sebagai Penebus / Juruselamat kita.

 

II) Allah pasti juga mau mengaruniakan segala sesuatu kepada kita.

 

1)   Konsekwensi dari sikap / tindakan Allah di atas: Allah pasti juga mau mengaruniakan segala sesuatu kepada kita.

 

a)   Kata ‘mengaruniakan’ diterjemahkan dari kata Yunani KHARISETAI, yang mempunyai akar kata KHARIS (= grace / kasih karunia).

Karena itu, perhatikan terjemahan dari beberapa Kitab Suci bahasa Inggris di bawah ini tentang istilah itu.

KJV/NASB/ASV/NKJV: freely give’ (= memberi dengan cuma-cuma).

NIV: ‘graciously give’ (= memberi dengan murah hati).

 

b)         Arti dari ‘segala sesuatu’.

William G. T. Shedd menafsirkan bahwa kata ‘segala sesuatu’ ini menunjuk kepada “everything requisite to eternal life” (= segala sesuatu yang dibutuhkan untuk hidup yang kekal).

Kalau orang kristen bisa murtad sehingga gagal masuk surga, seperti yang dipercaya oleh orang Arminian, maka jelas ay 32 ini harus dihapus dari Kitab Suci! John Murray kelihatannya berpandangan sama dengan Shedd.

 

John Murray (tentang Yoh 8:32): Christ is represented as given ‘to us’ - the giving up ‘for us’ is to be construed as a gift ‘to us’. Since he is the supreme expression and embodiment of free gift and since his being given over by the Father is the supreme demonstration of the Father’s love, every other grace must follow upon and with the possession of Christ. It is not likely that ‘all things’, in this instance made definite by the presence of the article, refers to all things as working together for good (vs. 28). The things contemplated are the gifts and blessings of grace bestowed upon believers and are, therefore, all of the things which the context, as one dealing with salvation in its whole expanse, would be expected to indicate. In any case ‘all things’ is an obvious example of an expression in universal terms used in a restrictive sense [= Kristus digambarkan sebagai diberikan ‘kepada kita’ - pemberian ‘bagi kita’ harus ditafsirkan sebagai suatu pemberian ‘bagi kita’. Karena Ia adalah pernyataan dan perwujudan dari pemberian cuma-cuma dan karena pemberianNya oleh Bapa adalah demonstrasi dari kasih Bapa, setiap kasih karunia yang lain harus mengikuti dengan dan bersama dengan kepemilikan Kristus. Kelihatannya ‘segala sesuatu’, dalam hal ini dibuat tertentu oleh kehadiran dari kata sandang tertentu, tidak menunjuk pada ‘segala sesuatu’ yang bekerja bersama-sama untuk kebaikan (ay 28). Hal-hal yang dipikirkan / dipertimbangkan adalah pemberian-pemberian dan berkat-berkat dari kasih karunia yang diberikan kepada orang-orang percaya, dan karena itu adalah semua dari hal-hal yang diharapkan untuk ditunjukkan oleh kontextnya, yang menangani keselamatan dalam seluruh permukaan yang luas. Bagaimanapun juga ‘segala sesuatu’ merupakan suatu contoh yang jelas tentang suatu ungkapan dalam istilah-istilah universal yang digunakan dalam arti terbatas].

 

Charles Hodge: “‘How shall he not also (καί) with him freely give us all things.’ If God has done the greater, he will not leave the less undone. The gift of Christ includes all other gifts. If God so loved us as to give his Son for us, he will certainly give the Holy Spirit to render that gift effectual. This is presented as a ground of confidence. The believer is assured of salvation, not because he is assured of his own constancy, but simply because he is assured of the immutability of the divine love, and he is assured of its immutability because he is assured of its greatness. Infinite love cannot change. A love which spared not the eternal Son of God, but freely gave him up, cannot fail of its object [= ‘Bagaimana Ia tidak juga (kai) bersama dengan Dia memberi kita dengan cuma-cuma segala sesuatu’. Jika Allah telah melakukan yang lebih besar, Ia tidak akan membiarkan yang lebih kecil untuk tidak dilakukan. Pemberian Kristus mencakup semua pemberian / karunia-karunia yang lain. Jika Allah begitu mengasihi kita sehingga memberikan AnakNya bagi kita, Ia pasti akan memberikan Roh Kudus untuk membuat pemberian itu efektif. Ini disampaikan sebagai suatu dasar dari keyakinan. Orang percaya diyakinkan tentang keselamatan, bukan karena ia diyakinkan tentang kekonstanannya sendiri, tetapi semata-mata karena ia diyakinkan tentang ketidak-berubahan / kekekalan dari kasih ilahi, dan ia diyakinkan tentang ketidak-berubahan / kekekalan dari kasih itu, karena ia diyakinkan tentang kebesaran kasih itu. Kasih yang tak terbatas / tak terhingga tidak bisa berubah. Suatu kasih yang tidak menyayangkan Anak yang kekal dari Allah, tetapi memberikanNya dengan cuma-cuma, tidak bisa gagal dari tujuannya].

 

Sekarang ada satu hal yang perlu dipersoalkan: apakah kata-kata ‘segala sesuatu’ ini hanya berkenaan dengan hal-hal rohani, atau juga dengan hal-hal jasmani / sekuler?

 

Calvin: “And so Paul draws an argument from the greater to the less, that as he had nothing dearer, or more precious, or more excellent than his Son, he will neglect nothing of what he foresees will be profitable to us. This passage ought to remind us of what Christ brings to us, and to awaken us to contemplate his riches; for as he is a pledge of God’s infinite love towards us, so he has not been sent to us void of blessings or empty, but filled with all celestial treasures, so that they who possess him may not want anything necessary for their perfect felicity (= Dan demikianlah Paulus menarik suatu argumentasi dari yang lebih besar pada yang lebih kecil, bahwa seperti Ia tidak mempunyai apapun yang lebih dikasihi, atau lebih berharga, atau lebih bagus, dari pada AnakNya, ia tidak akan mengabaikan apapun tentang apa yang ia lihat lebih dulu akan berguna bagi kita. Text ini harus mengingatkan kita tentang apa yang Kristus bawa bagi kita, dan untuk membangunkan kita untuk memikirkan kekayaanNya; karena Ia adalah tanda / jaminan tentang kasih yang tak terbatas / tak terhingga dari Allah kepada kita, maka Ia tidak diutus kepada kita tanpa berkat-berkat atau kosong, tetapi dipenuhi dengan semua harta surgawi, sehingga mereka yang memiliki Dia tidak akan kekurangan apapun yang perlu untuk kebahagiaan sempurna mereka).

 

Dari kata ‘anything’ (= apapun) yang saya cetak dengan huruf besar, kelihatannya Calvin juga memaksudkan hal-hal sekuler. Tetapi ini kurang jelas.

 

William Hendriksen berkata: I can see no good reason to limit the expression ‘all things’ to spiritual blessings, as some do. Paul was a very practical man. He knew that the people he was addressing were men of flesh and blood, who were vexed at times with worries over matters mundane. The expression ‘all things’ should therefore be interpreted in an unqualified sense: material as well as spiritual things; cf. 8:28, where it has the same broad meaning” (= Saya tidak bisa melihat alasan yang baik untuk membatasi ungkapan ‘segala sesuatu’ pada berkat rohani, seperti yang dilakukan oleh sebagian orang. Paulus adalah seseorang yang sangat praktis. Ia tahu bahwa orang-orang kepada siapa ia menulis adalah orang-orang dari darah dan daging, yang kadang-kadang diganggu oleh kekuatiran dalam hal-hal biasa / duniawi. Karena itu, ungkapan ‘segala sesuatu’ harus ditafsirkan dalam suatu arti yang mutlak / tak terbatas: hal-hal yang bersifat materi maupun rohani; bdk. 8:28, dimana ungkapan itu mempunyai arti luas yang sama).

Ro 8:28 - “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah”.

Catatan: jadi berbeda dengan John Murray di atas, yang menganggap bahwa kata-kata ‘segala sesuatu’ dalam ay 32 ini berbeda dengan kata-kata ‘segala sesuatu’ dalam ay 28, maka William Hendriksen justru menganggap sama.

 

Perlu dicamkan bahwa kalau William Hendriksen benar, kata-katanya tetap tidak bisa diartikan secara extrim, seakan-akan Allah memanjakan kita sebagai anak-anakNya dengan memberikan apapun yang kita minta / inginkan. Ia adalah Bapa yang bijaksana, yang hanya memberikan apa yang baik (dalam pandanganNya) kepada kita (Mat 7:11).

Mat 7:11 - “Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepadaNya.’”.

 

Matthew Henry: He will with him freely give us all things, all things that he sees to be needful and necessary for us, all good things, and more we should not desire, Ps 34:10. And Infinite Wisdom shall be the judge whether it be good for us and needful for us or no (= Ia akan memberi kepada kita dengan cuma-cuma bersama-sama dengan Dia segala sesuatu, segala sesuatu yang Ia lihat sebagai kebutuhan dan perlu bagi kita, segala sesuatu yang baik, dan lebih dari itu kita tidak boleh menginginkannya, Maz 34:10. Dan Hikmat yang Tak Terbatas akan menjadi hakim apakah itu adalah baik untuk kita dan perlu untuk kita atau tidak).

Maz 34:10-11 - “(10) Takutlah akan TUHAN, hai orang-orangNya yang kudus, sebab tidak berkekurangan orang yang takut akan Dia! (11) Singa-singa muda merana kelaparan, tetapi orang-orang yang mencari TUHAN, tidak kekurangan sesuatupun yang baik.

 

Barnes’ Notes: His giving his Son is a proof that he will give to us all things that we need. The argument is from the greater to the less. He that has given the greater gift will not withhold the less. ‘All things.’ All things that may be needful for our welfare (= Pemberian AnakNya adalah suatu bukti bahwa Ia akan memberi kepada kita segala sesuatu yang kita butuhkan. Argumentasinya adalah dari yang lebih besar pada yang lebih kecil. Ia yang telah memberi pemberian yang lebih besar tidak akan menahan yang lebih kecil. ‘Segala sesuatu’. Segala sesuatu yang bisa berguna untuk kesejahteraan kita).

Catatan: kata ‘welfare’ (= kesejahteraan) yang ia gunakan kelihatannya lebih mengarah pada hal-hal sekuler / jasmani dari pada rohani.

 

William Barclay (tentang Ro 8:32): Paul says in effect: ‘God for us did not spare his own Son; surely that is the final guarantee that he loves us enough to supply all our needs.’ (= Sebetulnya Paulus berkata: ‘Allah tidak menahan AnakNya bagi kita; tentulah itu merupakan garansi terakhir bahwa Ia mengasihi kita secara cukup untuk menyuplai semua kebutuhan-kebutuhan kita).

 

Penerapan: pada hari Jumat Agung ini renungkan hal ini khususnya kalau saudara adalah orang Kristen yang sedang ada dalam suatu kebutuhan jasmani / sekuler yang berat. Allah yang telah membuktikan kasihNya dengan memberikan AnakNya untuk mati bagi saudara, tidak mungkin tidak mau memberikan kepada saudara hal-hal yang lebih kecil, tetapi yang baik dalam pandanganNya, termasuk kebutuhan sekuler saudara!

 

2)   Tanggung jawab kita.

 

a)         Berdoa / meminta kepada Dia (Mat 7:7-11).

Mat 7:7-11 - “(7) ‘Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. (8) Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. (9) Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, (10) atau memberi ular, jika ia meminta ikan? (11) Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepadaNya.’”.

Mat 6:11 - “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya”.

 

b)         Mencari kerajaan Allah dan kebenaranNya (Mat 6:33).

Mat 6:33 - “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu”.

Intinya, Ia menghendaki saudara mengutamakan Dia di atas segala-galanya! Ini jelas mencakup gereja (yang benar), pengetahuan Firman Tuhan, pelayanan, persembahan, doa, pemberitaan Injil dan sebagainya.

 

c)         Tidak kuatir (Mat 6:25-34).

Mat 6:25-34 - “(25) ‘Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? (26) Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? (27) Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? (28) Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, (29) namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. (30) Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? (31) Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? (32) Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. (33) Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. (34) Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.’”.

 

Matthew Henry (tentang Ro 8:32): Can it be imagined that he should do the greater and not do the less? that he should give so great a gift for us when we were enemies, and should deny us any good thing, now that through him we are friends and children? Thus may we by faith argue against our fears of want (= Bisakah dibayangkan bahwa Ia melakukan yang lebih besar dan tidak melakukan yang lebih kecil? bahwa Ia memberikan suatu pemberian yang begitu besar untuk kita pada waktu kita adalah musuh / seteru, dan sekarang menolak bagi kita hal baik apapun, setelah melalui Dia kita menjadi sahabat-sahabat dan anak-anakNya? Demikianlah dengan iman kita bisa berargumentasi terhadap rasa takut kita akan kebutuhan kita).

 

Penerapan: sekalipun tanggal 1 April 2012 yang lalu harga BBM belum naik tetapi rasanya akan naik, entah kapan. Apakah itu menakutkan bagi saudara? Renungkan Mat 6:25-34 ini dan juga kata-kata Matthew Henry di atas ini, dan berhentilah untuk kuatir!

Tetapi ‘tidak kuatir’ tidak berarti kita boleh ‘santai’ dan tidak melakukan apapun. Perhatikanlah 2 point di bawah ini.

 

d)         Bekerja (2Tes 3:6-12).

2Tes 3:6-12 - “(6) Tetapi kami berpesan kepadamu, saudara-saudara, dalam nama Tuhan Yesus Kristus, supaya kamu menjauhkan diri dari setiap saudara yang tidak melakukan pekerjaannya dan yang tidak menurut ajaran yang telah kamu terima dari kami. (7) Sebab kamu sendiri tahu, bagaimana kamu harus mengikuti teladan kami, karena kami tidak lalai bekerja di antara kamu, (8) dan tidak makan roti orang dengan percuma, tetapi kami berusaha dan berjerih payah siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapapun di antara kamu. (9) Bukan karena kami tidak berhak untuk itu, melainkan karena kami mau menjadikan diri kami teladan bagi kamu, supaya kamu ikuti. (10) Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. (11) Kami katakan ini karena kami dengar, bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna. (12) Orang-orang yang demikian kami peringati dan nasihati dalam Tuhan Yesus Kristus, supaya mereka tetap tenang melakukan pekerjaannya dan dengan demikian makan makanannya sendiri”.

 

e)   Menggunakan uang dengan bijaksana.

Amsal 29:3 - “Orang yang mencintai hikmat menggembirakan ayahnya, tetapi siapa yang bergaul dengan pelacur memboroskan harta.

Amsal 21:20 - “Harta yang indah dan minyak ada di kediaman orang bijak, tetapi orang yang bebal memboroskannya”.

 

1.   Memberi yang seharusnya untuk Tuhan.

 

2.   Menolong orang miskin.

Amsal 19:17 - “Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu”.

 

3.   Menabung.

Amsal 6:6-8 - “(6) Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: (7) biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, (8) ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen.

 

4.   Membedakan antara keinginan dan kebutuhan, hanya membeli kebutuhan, bukan keinginan.

 

Lakukan hal-hal ini, dan biarlah Tuhan melakukan sisanya! Tuhan memberkati saudara sekalian!

 

 

-AMIN-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali

Alamat Gereja :
Jl. Raya Kali Rungkut 5 - Ruko Rungkut Megah Raya  BLOK  D - 16, SURABAYA

Rek Gereja : Account BCA 3631422185 a/n Tjoe Ming Tjhuin