(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)
Jum’at, tgl 22 April 2011, pk 17.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
(HP: 7064-1331 / 6050-1331)
II Korintus 5:14-21
2Kor 5:14-21 - “(14) Sebab kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami telah mengerti, bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati. (15) Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka. (16) Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang jugapun menurut ukuran manusia. Dan jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilaiNya demikian. (17) Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. (18) Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diriNya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami. (19) Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diriNya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami. (20) Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah. (21) Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuatNya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah”.
I) Kristus adalah substitute (= pengganti) kita.
Ay 14: “satu orang sudah mati untuk semua orang”.
Ay 15: “Kristus telah mati untuk semua orang”.
Ay 21: “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuatNya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah”.
Yes 53:4-6 - “(4) Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. (5) Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. (6) Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian”.
1) Arti dari substitute / pengganti.
Ay 21: “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuatNya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah”.
Charles Hodge (tentang ay 21): “The apostle says Christ was made sin ‘for us,’ uJpe<r hJmw~n, i.e. ‘in our stead,’ because the idea of substitution is involved in the very nature of the transaction. The victim was the substitute for the offender. It was put in his place. So Christ was our substitute, or, was put in our place. This is the more apparent from the following clause, which teaches the design of this substitution. He was made sin, that we might be made righteous. He was condemned, that we might be justified” [= Sang rasul berkata Kristus dibuat dosa ‘untuk kita’, uJpe<r hJmw~n (HUPER HUMON), yaitu, ‘di tempat kita / sebagai pengganti kita’, karena gagasan penggantian terlibat dari sifat dasar dari transaksi ini. Korban adalah pengganti untuk si pelanggar. Korban itu diletakkan di tempatnya. Demikianlah Kristus adalah substitute / pengganti kita, atau diletakkan di tempat kita. Ini lebih terlihat lagi dari anak kalimat selanjutnya, yang mengajarkan rancangan dari penggantian ini. Ia dibuat menjadi dosa, supaya kita bisa dibuat menjadi benar. Ia dihukum, supaya kita bisa dibenarkan].
2) Syarat dari seseorang untuk bisa menjadi substitute / pengganti.
Ay 21: “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuatNya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah”.
Charles Hodge (tentang ay 21): “the thing here asserted is that Christ was without sin. This was one of the indispensable conditions of his being made sin for us. Had he not been free from sin, he could not have taken the place of sinners” (= hal yang ditegaskan di sini adalah bahwa Kristus adalah tanpa dosa. Ini adalah salah satu syarat yang tak bisa dibuang dari dibuatnya Ia menjadi dosa untuk kita. Seandainya Ia tidak bebas dari dosa, Ia tidak bisa mengambil tempat dari orang-orang berdosa).
3) Substitute / pengganti vs tindakan solidaritas.
Louis Berkhof: “The sufferings of Christ were not just the sympathetic sufferings of a friend, but the substitutionary sufferings of the Lamb of God for the sin of the world” (= Penderitaan Kristus bukan hanya penderitaan yang bersifat simpati / ikut merasakan dari seorang sahabat, tetapi penderitaan yang bersifat pengganti dari Anak Domba Allah untuk dosa dunia) - ‘Systematic Theology’, hal 376.
E. J. Young (tentang Yes 53:4): “when it is said that he bore our sickness, what is meant is not that he became a fellow sufferer with us, but that he bore the sin that is the cause of the evil consequences, and thus became our substitute” (= ketika dikatakan bahwa Ia menanggung penyakit kita, yang dimaksudkan bukanlah bahwa Ia menjadi sesama penderita dengan kita, tetapi bahwa Ia menanggung dosa yang menjadi penyebab dari konsekwensi jahat / jelek, dan dengan demikian menjadi pengganti kita) - ‘The Book of Isaiah’, vol 3, hal 346.
Ini perlu ditekankan, karena adanya pandangan dari golongan Liberal untuk mengatakan bahwa Yesus datang ke dunia untuk menyatakan solidaritasnya terhadap kita. Contoh: Pdt. Yohanes Bambang Mulyono dari GKI, dalam buku sesatnya yang berjudul ‘Tuhan ajarlah aku’, berulang kali menyatakan hal itu, yang akan saya kutip di bawah ini:
a) Hal 111: “Bila Yesus Kristus mau menderita sengsara, itu adalah karena Dia mau solider dengan manusia yang berada di bawah kuasa dosa. Sikap solider (senasib) inilah yang menyebabkan Anak Allah mau ikut menanggung hukuman dan kematian”.
b) Hal 274: “Di dalam Yesus Kristus, Allah menyatakan solidaritasNya dengan kehidupan dan penderitaan manusia. ... Sampai saat ini Allah ikut solider dalam penderitaan orang-orang yang sedang ditimpa oleh malapetaka, ketidakadilan, kesewenang-wenangan, korban peperangan, korban bencana alam, dan sebagainya. Dalam sejarah kehidupan umat manusia, Allah kita adalah Allah yang menderita sebab ikut menanggung tragedi dan kegagalan manusia”.
c) Hal 280: “Anugerah Allah secara utuh dan sempurna dinyatakan di dalam Yesus Kristus, sebab Dialah Allah yang menjadi manusia untuk solider dengan menebus dosa manusia”.
Setahu saya, solider berarti sikap setia kawan. Jadi kalau Yesus solider dengan kita, maka itu berarti bahwa pada waktu Yesus melihat manusia menderita, maka Ia bersikap setia kawan dan menderita bersama-sama dengan kita. Ini jelas adalah salah / sesat, karena doktrin / konsep penebusan sebetulnya berarti: Kristus mati menggantikan kita, supaya kita bebas dari hukuman!
4) Kristus menjadi substitute / pengganti dari siapa?
a) Pandangan Arminian.
Ay 14: “satu orang sudah mati untuk semua orang”.
Ay 15: “Kristus telah mati untuk semua orang”.
Adam Clarke (tentang ay 14): “‘If one died for all, then were all dead.’ The first position the apostle takes for granted; namely, that Jesus Christ died for all mankind. This no apostolic man nor primitive Christian ever did doubt or could doubt” (= Jika satu orang sudah mati untuk semua, maka semua orang sudah mati. Posisi pertama yang dianggap pasti oleh sang rasul, yaitu bahwa Yesus Kristus telah mati untuk semua umat manusia. Ini tak seorang rasul atau orang Kristen primitif / awal pernah meragukan atau bisa meragukan).
b) Pandangan Calvinisme / Reformed.
Charles Hodge (tentang ay 21): “The very idea of substitution is that what is done by one in the place of another, avails as though that other had done it himself. The victim was the substitute of the offerer, because its death took the place of his death. If both died there was no substitution. So if Christ’s being made sin does not secure our being made righteousness, he was not our substitute.” (= Gagasan dari penggantian adalah bahwa apa yang dilakukan oleh satu orang di tempat dari orang lain, berguna seakan-akan orang lain itu telah melakukannya sendiri. Korban adalah pengganti dari si pelanggar, karena kematian korban mengambil tempat dari kematian si pelanggar. Jika keduanya mati, di sana tidak ada penggantian. Jadi, jika dibuatnya Kristus menjadi dosa tidak memastikan dibuatnya kita menjadi benar, Ia bukan pengganti kita).
Saya jelas menerima pandangan ini, dan kata ‘semua orang’ dalam ay 14,15 harus diartikan ‘semua orang pilihan’. Kalau Kristus juga menjadi pengganti orang-orang non pilihan lalu, bagaimana mungkin mereka tetap mati / binasa / masuk neraka padahal penghukuman dosa-dosa mereka sudah terjadi dalam diri Kristus?
II) Tujuan penggantian itu.
Ay 15: “Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka”.
Charles Hodge (tentang ay 15): “Hence the death of Christ is sometimes presented in reference to its proximate, sometimes in reference to its ultimate design; i.e. sometimes he is said to have died to make a propitiation for sin, and sometimes, to bring us near to God” (= Maka kematian Kristus kadang-kadang ditunjukkan berkenaan dengan rancangan terdekat, kadang-kadang berkenaan dengan rancangan yang terakhir / terjauh; yaitu, kadang-kadang Ia dikatakan telah mati untuk membuat suatu penebusan dosa, dan kadang-kadang, untuk membawa kita mendekat kepada Allah).
1) Tujuan dekat.
Tujuan dekat adalah supaya kita percaya kepada Kristus dan dibenarkan oleh Allah.
a) Tanpa seorang substitute / pengganti, kita hanya bisa mengharapkan Allah yang murka kepada kita.
Ay 19: “Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diriNya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami”.
Tentu tak ada perlunya Allah mendamaikan dunia dengan diriNya, seandainya tak ada permusuhan antara dunia dengan Allah. Tetapi faktanya adalah bahwa permusuhan itu ada, dan Allah selalu murka kepada dunia.
Calvin (tentang ay 19): “when we contemplate God without a Mediator, we cannot conceive of Him otherwise than as angry with us: a Mediator interposed between us, makes us feel, that He is pacified towards us” (= pada waktu kita memikirkan Allah tanpa seorang Pengantara, kita tidak bisa mengerti tentang Dia selain bahwa Ia marah kepada kita: seorang Pengantara ditempatkan di antara kita, membuat kita merasa, bahwa Ia ditenangkan terhadap kita).
Bdk. Maz 7:12 - “Allah adalah Hakim yang adil dan Allah yang murka setiap saat”.
KJV: ‘God is angry with the wicked every day’ (= Allah marah kepada orang jahat setiap hari).
RSV/NASB: ‘a God who has indignation every day’ (= seorang Allah yang mempunyai kemarahan setiap hari).
NIV: ‘a God who expresses his wrath every day’ (= seorang Allah yang menyatakan murkaNya setiap hari).
Catatan: kata-kata ‘with the wicked’ dalam KJV ditulis dengan huruf miring, untuk menunjukkan bahwa kata-kata itu tidak ada dalam bahasa aslinya.
b) Allah ingin berdamai dengan kita.
Ay 20: “Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah”.
Matthew Henry (tentang ay 20): “Wonderful condescension! Though God can be no loser by the quarrel, nor gainer by the peace, yet by his ministers he beseeches sinners to lay aside their enmity, and accept of the terms he offers, that they would be reconciled to him” (= Perendahan diri yang luar biasa! Sekalipun Allah tidak rugi apa-apa dari pertengkaran itu, ataupun untung apa-apa dari perdamaian itu, tetapi oleh pelayan-pelayanNya Ia meminta orang-orang berdosa untuk mengesampingkan permusuhan mereka, dan menerima syarat-syarat yang Ia tawarkan, supaya mereka mau diperdamaikan dengan Dia).
Adam Clarke mengutip kata-kata Wesley (tentang ay 20): “What unparalleled condescension and divinely tender mercies are displayed in this verse! Did the judge ever beseech a condemned criminal to accept of pardon? Does the creditor ever beseech a ruined debtor to receive an acquittance in full? Yet our almighty Lord, and our eternal Judge, not only vouchsafes to offer these blessings, but invites us, entreats us, and with the most tender importunity solicits us not to reject them” (= Betul-betul suatu perendahan diri dan belas kasihan yang lembut dari Allah yang tidak ada bandingannya ditunjukkan dalam ayat ini! Apakah sang hakim pernah meminta seorang kriminal yang sudah terhukum untuk menerima pengampunan? Apakah seorang pemberi hutang pernah meminta seorang berhutang yang bangkrut untuk menerima suatu pembebasan sepenuhnya? Tetapi Tuhan kita yang maha kuasa, dan Hakim kita yang kekal, bukan hanya bersedia menawarkan berkat-berkat ini, tetapi mengundang kita, meminta kita dengan sangat, dan dengan desakan yang lembut meminta kita untuk tidak menolakNya).
c) Dengan adanya seorang substitute / pengganti, maka kita yang berdosa dibenarkan oleh Allah.
Ay 21: “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuatNya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah”.
KJV: ‘that we might be made the righteousness of God in him’ (= supaya kita bisa dibuat menjadi kebenaran Allah dalam Dia).
RSV/NIV: ‘so that in him we might become the righteousness of God’ (= supaya dalam Dia kita bisa menjadi kebenaran Allah).
NASB: ‘so that we might become the righteousness of God in Him’ (= supaya kita bisa menjadi kebenaran Allah dalam Dia).
Charles Hodge (tentang ay 21): “There is probably no passage in the Scriptures in which the doctrine of justification is more concisely or clearly stated than in this. Our sins were imputed to Christ, and his righteousness is imputed to us. He bore our sins; we are clothed in his righteousness. Imputation conveys neither pollution nor holiness. Christ’s bearing our sins did not make him morally a sinner, any more than the victim was morally defiled which bore the sins of the people; nor does Christ’s righteousness become subjectively ours, it is not the moral quality of our souls. This is what is not meant. What is meant is equally plain. Our sins were the judicial ground of the sufferings of Christ, so that they were a satisfaction of justice; and his righteousness is the judicial ground of our acceptance with God, so that our pardon is an act of justice” (= Mungkin tidak ada text dalam Kitab Suci dalam mana doktrin tentang pembenaran dinyatakan dengan lebih ringkas atau dengan lebih jelas dari pada di sini. Dosa-dosa kita diperhitungkan kepada Kristus / dianggap sebagai milik Kristus, dan kebenaranNya diperhitungkan kepada kita / dianggap sebagai milik kita. Pemerhitungan / tindakan menganggap sebagai milik tidak menyampaikan polusi ataupun kekudusan. Pemikulan dosa-dosa kita oleh Kristus tidak membuatNya seorang berdosa secara moral, sama seperti korban yang memikul dosa-dosa orang-orang tidak dinajiskan secara moral; juga kebenaran Kristus tidak menjadi milik kita secara subyektif, itu bukan kwalitet moral dari jiwa kita. Ini adalah apa yang tidak dimaksudkan. Apa yang dimaksudkan sama jelasnya. Dosa-dosa kita merupakan dasar pengadilan dari penderitaan Kristus, sehingga penderitaan itu merupakan suatu pemuasan dari keadilan; dan kebenaranNya adalah dasar pengadilan dari penerimaan kita oleh Allah, sehingga pengampunan kita merupakan tindakan keadilan).
Perhatikan ayat-ayat di bawah ini.
· Maz 30:6 - “Sebab sesaat saja Ia murka, tetapi seumur hidup Ia murah hati; sepanjang malam ada tangisan, menjelang pagi terdengar sorak-sorai”.
· Maz 78:38 - “Tetapi Ia bersifat penyayang, Ia mengampuni kesalahan mereka dan tidak memusnahkan mereka; banyak kali Ia menahan murkaNya dan tidak membangkitkan segenap amarahNya”.
· Maz 103:8-14 - “(8) TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. (9) Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam. (10) Tidak dilakukanNya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalasNya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita, (11) tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setiaNya atas orang-orang yang takut akan Dia; (12) sejauh timur dari barat, demikian dijauhkanNya dari pada kita pelanggaran kita. (13) Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia. (14) Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu”.
Ayat-ayat ini menunjukkan Allah ‘yang berbeda’ dengan Allah yang digambarkan dalam Maz 7:12 di atas. Mengapa? Karena dalam Maz 7:12 Allah ditinjau tanpa seorang Pengganti, sedangkan dalam ayat-ayat ini Allah ditinjau dengan adanya seorang pengganti! Ia bisa bersikap seperti itu, dan tetap adil, karena adanya seorang Pengganti!
Charles Hodge (tentang ay 21): “There is nothing in the perfection of his character, nothing in the immutability of his law, nothing in the interests of his moral government, that stands in the way of our pardon. A full, complete, infinitely meritorious satisfaction has been made for our sins, and therefore we may come to God with the assurance of being accepted” (= Tidak ada apapun dalam kesempurnaan karakterNya, tidak ada apapun dalam ketidakberubahan dari hukumNya, tidak ada apapun dalam kepentingan dari pemerintahan moralNya, yang menghalangi pengampunan kita. Suatu pemuasan yang penuh, sempurna / lengkap, bermanfaat secara tak terbatas, telah dibuat untuk dosa-dosa kita, dan karena itu kita bisa datang kepada Allah dengan keyakinan tentang penerimaan).
Matthew Henry (tentang ay 21): “As Christ, who knew no sin of his own, was made sin for us, so we, who have no righteousness of our own, are made the righteousness of God in him” (= Sebagaimana Kristus, yang tidak mengenal dosa dari diriNya sendiri, dibuat menjadi dosa untuk kita, demikianlah kita, yang tidak mempunyai kebenaran dari diri kita sendiri, dibuat menjadi kebenaran Allah dalam Dia).
Jamieson, Fausset & Brown (tentang ay 21): “The innocent was punished voluntarily as if guilty, that the guilty might be gratuitously rewarded as if innocent” (= Yang tidak berdosa / bersalah dihukum dengan sukarela seakan-akan bersalah, supaya yang bersalah bisa diberi pahala dengan murah hati seakan-akan tak berdosa / bersalah).
Charles Hodge (tentang ay 21): “Christ was treated as a sinner, i.e. condemned, that we might be justified, i.e. regarded as just before God. The apostle uses the present tense, ginw>meqa, ‘we become’ righteous, because this justification is continuous. We are introduced into a justified state. ‘In him,’ that is, in Christ. It is by virtue of our union with Christ, and only as we are in him by faith, that we are righteous before God” (= Kristus diperlakukan sebagai seorang yang berdosa, yaitu dihukum, supaya kita bisa dibenarkan, yaitu dianggap sebagai benar di hadapan Allah. Sang rasul menggunakan present tense, GINOMETHA, ‘kita menjadi’ benar, karena pembenaran ini bersifat terus menerus. Kita diperkenalkan ke dalam suatu keadaan dibenarkan. ‘Dalam Dia’, yaitu dalam Kristus. Berdasarkan persatuan kita dengan Kristus, dan hanya pada waktu kita ada di dalam Dia oleh iman, maka kita adalah benar di hadapan Allah).
d) Kita harus memberitakan berita ini.
Ay 20: “Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah”.
KJV/RSV/NASB: ‘ambassadors for Christ’ (= duta-duta besar untuk Kristus).
NIV: ‘Christ’s ambassadors’ (= duta-duta besar Kristus).
Calvin (tentang ay 20): “the ministers of the Church are ‘ambassadors,’ for testifying and proclaiming the benefit of reconciliation, only on this condition - that they speak from the Gospel, as from an authentic register” (= pelayan-pelayan dari Gereja adalah ‘duta-duta besar’, untuk menyaksikan dan memproklamirkan / memberitakan manfaat dari pendamaian, hanya dengan syarat ini - bahwa mereka berbicara dari Injil, seperti dari catatan yang otentik / berotoritas / asli).
Charles Hodge (tentang ay 20): “An ambassador is at once a messenger and a representative. He does not speak in his own name. He does not act on his own authority. What he communicates is not his own opinions or demands but simply what he has been told or commissioned to say. His message derives no part of its importance or trustworthiness from him. At the same time he is more than a mere messenger. He represents his sovereign. He speaks with authority, as accredited to act in the name of his master. Any neglect, contempt or injury done to him in his official character, is not a personal offense, but an offense to the sovereign or state by whom he is commissioned. All this is true of ministers. They are messengers. They communicate what they have received, not their own speculations or doctrines. What they announce derives its importance not from them, but from him who sends them. Nevertheless, as they speak in Christ’s name and by his authority, ... the rejection of their message is the rejection of Christ, and any injury done unto them as ministers is done unto him” (= Seorang duta besar adalah sekaligus seorang utusan dan seorang wakil. Ia tidak berbicara dalam namanya sendiri. Ia tidak bertindak dengan otoritasnya sendiri. Apa yang ia sampaikan bukanlah pandangan-pandangan atau tuntutan-tuntutannya sendiri tetapi hanya apa yang diberitahukan atau dipesankan kepadanya untuk dikatakan. Pesan / beritanya tidak mengambil / mendapat bagian dari kepentingannya atau ke-bisa-dipercaya-annya dari dia. Pada saat yang sama ia adalah lebih dari sekedar seorang utusan. Ia mewakili pemerintahnya. Ia berbicara dengan otoritas, diberi kuasa resmi untuk bertindak atas nama tuannya. Pengabaian, penghinaan / perendahan atau tindakan melukai apapun yang dilakukan terhadapnya dalam karakter jabatan / tugasnya, bukanlah suatu pelanggaran pribadi, tetapi suatu pelanggaran terhadap pemerintah atau negara oleh siapa ia ditugaskan. Semua ini benar tentang pelayan-pelayan / pendeta-pendeta. Mereka adalah utusan-utusan. Mereka menyampaikan apa yang telah mereka terima, bukan spekulasi-spekulasi atau doktrin-doktrin / ajaran-ajaran mereka sendiri. Apa yang mereka umumkan mendapatkan kepentingannya bukan dari mereka, tetapi dari Dia yang mengutus mereka. Tetapi bagaimanapun, pada waktu mereka berbicara atas nama Kristus dan oleh otoritasNya, ... penolakan terhadap pesan / berita mereka merupakan penolakan terhadap Kristus, dan tindakan melukai apapun yang dilakukan terhadap mereka sebagai pelayan-pelayan, dilakukan terhadap Dia).
Bdk. Luk 10:16 - “Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.’”.
2) Tujuan jauh.
a) Kita menjadi manusia yang baru.
Ay 17: “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang”.
Adam Clarke (tentang ay 17): “It is vain for a man to profess affinity to Christ according to the flesh, while he is unchanged in his heart and life, and dead in trespasses and sins” (= Adalah sia-sia bagi seseorang untuk mengaku hubungan dengan Kristus menurut daging, sementara ia tidak diubahkan dalam hati dan kehidupan, dan mati dalam pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa).
Calvin (ay 17): “By this expression he condemns every kind of excellence that is wont to be in much esteem among men, if renovation of heart is wanting” (= Dengan ungkapan / kata-kata ini ia mengecam setiap jenis keunggulan yang biasanya dihargai / dinilai tinggi di antara manusia, jika pembaharuan hati tidak ada).
Calvin (tentang ay 17): “Learning, it is true, and eloquence, and other endowments, are valuable, and worthy to be honored; but, where the fear of the Lord and an upright conscience are wanting, all the honor of them goes for nothing” (= Adalah benar bahwa pengetahuan dan kefasihan, dan pemberian-pemberian / anugerah-anugerah yang lain, adalah berharga, dan layak untuk dihormati; tetapi, dimana rasa takut terhadap Tuhan dan hati nurani yang lurus tidak ada, semua kehormatan mereka menjadi tidak ada artinya).
Charles Hodge (tentang ay 17): “If any man is in Christ he is thereby made a new creature. ... What would avail any conceivable change in things external, if the heart remained a cage of unclean birds? ... ‘Old things are passed away; behold, all things have become new.’ Old opinions, views, plans, desires, principles and affections are passed away; new views of truth, new principles, new apprehensions of the destiny of man, and new feelings and purposes fill and govern the soul” (= Jika seseorang ada di dalam Kristus, dengan itu ia dibuat menjadi makhluk / ciptaan yang baru. ... Apa gunanya perubahan apapun yang memungkinkan / bisa dipikirkan dalam hal-hal lahiriah, jika hati tetap merupakan suatu sangkar dari burung-burung yang najis? ... ‘Yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang’. Pandangan-pandangan, rencana-rencana, keinginan-keinginan, dan perasaan-perasaan yang lama berlalu; pandangan-pandangan yang baru tentang kebenaran, prinsip-prinsip yang baru, pengertian-pengertian yang baru tentang tujuan manusia, dan perasaan-perasaan dan tujuan-tujuan yang baru memenuhi dan memerintah jiwa).
Calvin (tentang ay 17): “by ‘old things’ he means, the things that are not formed anew by the Spirit of God. Hence this term is placed in contrast with renewing grace. The expression ‘passed away,’ he uses in the sense of ‘fading away,’ ...” (= dengan ‘yang lama’ ia memaksudkan, hal-hal yang tidak diperbaharui oleh Roh Allah. Jadi, istilah ini ditempatkan dalam kontras dengan kasih karunia yang memperbaharui. Ungkapan ‘sudah berlalu’, ia gunakan dalam arti ‘menjadi kabur / berangsur hilang’, ...).
Jadi jelas bahwa perubahan itu tidak mungkin mendadak, tetapi merupakan suatu proses seumur hidup.
b) Hidup kita diarahkan / dikuasai oleh kasih Kristus.
Ay 14: “Sebab kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami telah mengerti, bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati”.
1. Yang dimaksudkan dengan ‘kasih Kristus’ bukanlah ‘kasih kita kepada Kristus’, tetapi ‘kasih Kristus kepada kita’.
2. ‘menguasai kami’.
KJV: ‘constraineth us’ (= memaksa / mendesak kami).
RSV/NASB: ‘controls us’ (= menguasai / mengontrol kami).
NIV: ‘compels us’ (= memaksa kami).
Calvin (tentang ay 14): “‘The knowledge,’ I say, ‘of this love, ought to constrain our affections, that they may go in no other direction than that of loving him in return.’” (= ‘Pengetahuan’, saya katakan, ‘tentang kasih ini, seharusnya memaksa / mendesak perasaan-perasaan kami, sehingga perasaan-perasaan itu tidak pergi ke arah yang lain dari pada membalas kasihNya’).
Calvin (tentang ay 14): “if we be not harder than iron, we cannot refrain from devoting ourselves entirely to Christ, when we consider what great love he exercised towards us, when he endured death in our stead” (= jika kita tidak lebih keras dari besi, kita tidak bisa menahan diri dari membaktikan diri kita seluruhnya kepada Kristus, pada waktu kita mempertimbangkan / mengingat betapa besar kasih yang Ia jalankan / lakukan terhadap kita, pada waktu Ia memikul kematian di tempat kita / sebagai pengganti kita).
c) Kita mati bagi diri sendiri, dan hidup bagi Kristus.
Ay 15: “Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka”.
Charles Hodge (tentang ay 15): “the design with which he died for them was that they might live for him. ... The proximate design and effect of the death of Christ is the expiation of sin and reconciliation with God, and the design and effect of reconciliation with God are devotion to his service” (= rancangan untuk mana Ia mati untuk mereka adalah supaya mereka bisa hidup untuk Dia. ... Rancangan dan hasil / akibat yang dekat dari kematian Kristus adalah penebusan dosa dan perdamaian dengan Allah, dan rancangan dan hasil / akibat dari perdamaian dengan Allah adalah pembaktian pada pelayanan bagiNya).
Charles Hodge (tentang ay 15): “‘do not live unto themselves,’ i.e. self is not the object for which they live. This is the negative description of the Christian. He is a man who does not live unto himself. This is what he is not. The positive description is given in the next clause. He lives ‘for him who died for him and rose again.’ This presents both the object and the ground of the Christian’s devotion. He lives for him who died for him, and because he died for him. He is not a Christian who is simply unselfish, i.e. who lives for some object out of himself. He only is a Christian who lives for Christ. Many persons think they can be Christians on easier terms than these. They think it is enough to trust in Christ while they do not live for him” (= ‘tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri’, yaitu diri sendiri bukanlah tujuan untuk mana mereka hidup. Ini merupakan penggambaran negatif tentang orang Kristen. Ia adalah orang yang tidak hidup bagi dirinya sendiri. Ini adalah apa yang bukan dia. Penggambaran yang positif diberikan dalam anak kalimat selanjutnya. Ia hidup ‘untuk Dia, yang telah mati untuk dia dan bangkit kembali’. Ini memberikan baik tujuan maupun dasar dari pembaktian Kristen. Ia hidup untuk Dia yang telah mati untuknya, dan karena Ia telah mati untuknya. Ia bukanlah orang Kristen kalau ia sekedar tidak egois, yaitu yang hidup untuk suatu tujuan di luar dirinya sendiri. Ia adalah orang Kristen hanya kalau ia hidup untuk Kristus. Banyak orang mengira mereka bisa menjadi orang-orang Kristen dengan syarat-syarat yang lebih mudah dari pada ini. Mereka mengira adalah cukup untuk percaya kepada Kristus sementara mereka tidak hidup untuk Dia).
Charles Hodge (tentang ay 14): “Constraineth us, i.e. controls and governs us. ... A Christian is one who recognizes Jesus as the Christ, the Son of the living God, as God manifested in the flesh, loving us and dying for our redemption; and who is so affected by a sense of the love of this incarnate God as to be constrained to make the will of Christ the rule of his obedience, and the glory of Christ the great end for which he lives. The man who does this perfectly, is a perfect Christian. The man who does it imperfectly, yet with the sincere desire to be entirely devoted to Christ, is a sincere Christian. On the other hand, the man who lives supremely for himself, or his family, for science, for the world, for mankind, whatever else he may be, is not a Christian” (= Memaksa / mendesak kita, yaitu mengontrol dan memerintah kita. ... Seorang Kristen adalah seseorang yang mengenali Yesus sebagai Kristus, Anak dari Allah yang hidup, sebagai Allah yang dinyatakan dalam daging, mengasihi kita dan mati untuk penebusan kita; dan yang begitu dipengaruhi oleh suatu perasaan tentang kasih dari Allah yang berinkarnasi ini sehingga dipaksa / didesak untuk menjadikan kehendak Kristus sebagai peraturan dari ketaatannya, dan kemuliaan Kristus sebagai tujuan agung untuk mana ia hidup. Orang yang melakukan ini dengan sempurna, adalah orang Kristen yang sempurna. Orang yang melakukannya dengan tidak sempurna, tetapi dengan keinginan yang tulus / sungguh-sungguh untuk dibaktikan sepenuhnya kepada Kristus, adalah seorang Kristen yang tulus / sungguh-sungguh. Di sisi lain, orang yang hidup terutama untuk dirinya sendiri, atau keluarganya, untuk ilmu pengetahuan, untuk dunia, untuk umat manusia, apapun yang lain ia adanya, bukanlah seorang Kristen).
Charles Hodge (tentang ay 15): “the Bible teaches us that if we are partakers of Christ’s death, we are also partakers of his life; if we have any such appreciation of his love in dying for us as to lead us to confide in the merit of his death, we shall be constrained to consecrate our lives to his service. And this is the only evidence of the genuineness of our faith” (= Alkitab mengajar kita bahwa jika kita adalah pengambil-pengambil bagian dari kematian Kristus, kita juga adalah pengambil-pengambil bagian dari hidupNya; jika kita mempunyai penghargaan sedemikian rupa tentang kasihNya dalam mati untuk kita sehingga membimbing kita untuk yakin pada jasa dari kematianNya, kita akan dipaksa / didesak untuk mengabdikan hidup kita pada pelayanan bagiNya. Dan ini adalah satu-satunya bukti tentang keaslian dari iman kita).
Penutup / kesimpulan.
Pada lebih dari 2000 tahun yang lalu Kristus telah mati sebagai pengganti kita. Tujuan dekatnya adalah menebus dosa kita, dan menyelamatkan kita yang percaya kepada Dia. Sudahkah saudara percaya kepada Dia? Maukah saudara percaya kepada Dia? Tujuan jauhnya adalah memperbaharui kita dan pikiran dan hati kita, mengarahkan kehidupan kita dengan kasihNya, dan supaya kita mati bagi diri sendiri dan hidup untuk Dia. Maukah saudara melakukan hal itu? Tuhan memberkati saudara sekalian.
-AMIN-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali
Alamat Gereja :
Jl. Raya Kali Rungkut 5 - Ruko Rungkut Megah Raya BLOK D - 16, SURABAYA
Rek Gereja : Account BCA 3631422185 a/n Tjoe Ming Tjhuin