(Jl. Dinoyo 19b, lantai 3)
Jum’at, tgl 10 Oktober 2008, pk 19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
(HP: 7064-1331 / 6050-1331)
Apa tujuan tuhan melarang makan
binatang haram (babi)
Imamat 11:1-47
Im 11:1-47 - “(1) Lalu TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun, kataNya kepada
mereka: (2) ‘Katakanlah kepada orang Israel, begini: Inilah
binatang-binatang yang boleh kamu makan dari segala binatang berkaki empat
yang ada di atas bumi: (3) setiap binatang yang berkuku belah, yaitu yang
kukunya bersela panjang, dan yang memamah biak boleh kamu makan. (4) Tetapi
inilah yang tidak boleh kamu makan dari yang memamah biak atau dari yang
berkuku belah: unta, karena memang memamah biak, tetapi tidak berkuku belah;
haram itu bagimu. (5) Juga pelanduk, karena memang memamah biak, tetapi tidak
berkuku belah; haram itu bagimu. (6) Juga kelinci, karena memang memamah biak,
tetapi tidak berkuku belah, haram itu bagimu. (7) Demikian
juga babi hutan, karena memang berkuku belah, yaitu kukunya bersela
panjang, tetapi tidak memamah biak; haram itu bagimu. (8) Daging
binatang-binatang itu janganlah kamu makan dan bangkainya janganlah kamu
sentuh; haram semuanya itu bagimu. (9) Inilah yang boleh kamu makan
dari segala yang hidup di dalam air: segala yang bersirip dan bersisik di
dalam air, di dalam lautan, dan di dalam sungai, itulah semuanya yang boleh
kamu makan. (10) Tetapi segala yang tidak bersirip atau bersisik di dalam
lautan dan di dalam sungai, dari segala yang berkeriapan di dalam air dan dari
segala makhluk hidup yang ada di dalam air, semuanya itu kejijikan bagimu.
(11) Sesungguhnya haruslah semuanya itu kejijikan bagimu; dagingnya janganlah
kamu makan, dan bangkainya haruslah kamu jijikkan. (12) Segala yang tidak
bersirip dan tidak bersisik di dalam air, adalah kejijikan bagimu. (13) Inilah
yang harus kamu jijikkan dari burung-burung, janganlah dimakan, karena
semuanya itu adalah kejijikan: burung rajawali, ering janggut dan elang laut;
(14) elang merah dan elang hitam menurut jenisnya; (15) setiap burung gagak
menurut jenisnya; (16) burung unta, burung hantu, camar dan elang sikap
menurut jenisnya; (17) burung pungguk, burung dendang air dan burung hantu
besar; (18) burung hantu putih, burung undan, burung ering; (19) burung
ranggung, bangau menurut jenisnya, meragai dan kelelawar. (20) Segala binatang
yang merayap dan bersayap dan berjalan dengan keempat kakinya adalah kejijikan
bagimu. (21) Tetapi inilah yang boleh kamu makan dari segala binatang yang
merayap dan bersayap dan yang berjalan dengan keempat kakinya, yaitu yang
mempunyai paha di sebelah atas kakinya untuk melompat di atas tanah. (22)
Inilah yang boleh kamu makan dari antaranya: belalang-belalang menurut
jenisnya, yaitu belalang-belalang gambar menurut jenisnya, belalang-belalang
kunyit menurut jenisnya, dan belalang-belalang padi menurut jenisnya. (23)
Selainnya segala binatang yang merayap dan bersayap dan yang berkaki empat
adalah kejijikan bagimu. (24) Semua yang berikut akan menajiskan kamu - setiap
orang yang kena kepada bangkainya, menjadi najis sampai matahari terbenam,
(25) dan setiap orang yang ada membawa dari bangkainya haruslah mencuci
pakaiannya, dan ia menjadi najis sampai matahari terbenam-, (26) yakni segala
binatang yang berkuku belah, tetapi tidak bersela panjang, dan yang tidak
memamah biak; haram semuanya itu bagimu dan setiap orang yang kena kepadanya,
menjadi najis. (27) Demikian juga segala yang berjalan dengan telapak kakinya
di antara segala binatang yang berjalan dengan keempat kakinya, semuanya itu
haram bagimu; setiap orang yang kena kepada bangkainya, menjadi najis sampai
matahari terbenam. (28) Dan siapa yang membawa bangkainya, haruslah mencuci
pakaiannya dan ia menjadi najis sampai matahari terbenam. Haram semuanya itu
bagimu. (29) Inilah yang haram bagimu di antara segala binatang yang merayap
dan berkeriapan di atas bumi: tikus buta, tikus, dan katak menurut jenisnya
(30) dan landak, biawak, dan bengkarung, siput dan bunglon. (31) Itulah
semuanya yang haram bagimu di antara segala binatang yang mengeriap. Setiap
orang yang kena kepada binatang-binatang itu sesudah binatang-binatang itu
mati, menjadi najis sampai matahari terbenam. (32) Dan segala sesuatu menjadi
najis, kalau seekor yang mati dari binatang-binatang itu jatuh ke atasnya:
perkakas kayu apa saja atau pakaian atau kulit atau karung, setiap barang yang
dipergunakan untuk sesuatu apapun, haruslah dimasukkan ke dalam air dan
menjadi najis sampai matahari terbenam, kemudian menjadi tahir pula. (33)
Kalau seekor dari binatang-binatang itu jatuh ke dalam sesuatu belanga tanah,
maka segala yang ada di dalamnya menjadi najis dan belanga itu harus kamu
pecahkan. (34) Dalam hal itu segala makanan yang boleh dimakan, kalau kena air
dari belanga itu, menjadi najis, dan segala minuman yang boleh diminum dalam
belanga seperti itu, menjadi najis. (35) Kalau bangkai seekor dari
binatang-binatang itu jatuh ke atas sesuatu benda, itu menjadi najis;
pembakaran roti dan anglo haruslah diremukkan, karena semuanya itu najis dan
haruslah najis juga bagimu; (36) tetapi mata air atau sumur yang memuat air,
tetap tahir, sedangkan siapa yang kena kepada bangkai binatang-binatang itu
menjadi najis. (37) Apabila bangkai seekor dari binatang-binatang itu jatuh ke
atas benih apapun yang akan ditaburkan, maka benih itu tetap tahir. (38)
Tetapi apabila benih itu telah dibubuhi air, lalu ke atasnya jatuh bangkai
seekor dari binatang-binatang itu, maka najislah benih itu bagimu. (39)
Apabila mati salah seekor binatang yang menjadi makanan bagimu, maka siapa
yang kena kepada bangkainya menjadi najis sampai matahari terbenam. (40) Dan
siapa yang makan dari bangkainya itu, haruslah mencuci pakaiannya, dan ia
menjadi najis sampai matahari terbenam; demikian juga siapa yang membawa
bangkainya haruslah mencuci pakaiannya, dan ia menjadi najis sampai matahari
terbenam. (41) Segala binatang yang merayap dan berkeriapan di atas bumi,
adalah kejijikan, janganlah dimakan. (42) Segala yang merayap dengan perutnya
dan segala yang berjalan dengan keempat kakinya, atau segala yang berkaki
banyak, semua yang termasuk binatang yang merayap dan berkeriapan di atas
bumi, janganlah kamu makan, karena semuanya itu adalah kejijikan. (43)
Janganlah kamu membuat dirimu jijik oleh setiap binatang yang merayap dan
berkeriapan dan janganlah kamu menajiskan dirimu dengan semuanya itu, sehingga
kamu menjadi najis karenanya. (44) Sebab Akulah TUHAN, Allahmu, maka haruslah
kamu menguduskan dirimu dan haruslah kamu kudus, sebab Aku ini kudus, dan
janganlah kamu menajiskan dirimu dengan setiap binatang yang mengeriap dan
merayap di atas bumi. (45) Sebab Akulah TUHAN yang telah menuntun kamu keluar
dari tanah Mesir, supaya menjadi Allahmu; jadilah kudus, sebab Aku ini kudus.
(46) Itulah hukum tentang binatang berkaki empat, burung-burung dan segala
makhluk hidup yang bergerak di dalam air dan segala makhluk yang mengeriap di
atas bumi, (47) yakni untuk membedakan antara yang najis dengan yang tahir,
antara binatang yang boleh dimakan dengan binatang yang tidak boleh
dimakan.’”.
1)
Pada jaman Nuh sudah ada binatang-binatang yang haram dan halal.
Kej 7:2,8 - “(2) Dari segala binatang yang tidak
haram haruslah kauambil tujuh pasang, jantan dan betinanya, tetapi dari binatang
yang haram satu pasang, jantan dan betinanya; ... (8) Dari binatang yang tidak
haram dan yang haram, dari burung-burung dan dari segala yang merayap di muka
bumi”.
Calvin mengatakan bahwa Nuh bisa tahu hal ini, atau
dari pengilhaman secara rahasia, atau dari tradisi yang diturunkan dari nenek
moyangnya. Dan apa yang dulunya sudah diketahui ini pada jaman Musa lalu
dituliskan dalam hukum Taurat Musa. Sama seperti hari Sabat yang sudah ada sejak
penciptaan, pada jaman Musa baru dituliskan menjadi suatu hukum tertulis.
Calvin juga membahas pertanyaan: kalau pada jaman Nuh
sudah ada binatang-binatang yang haram, mengapa semua binatang boleh dimakan?
Kej 9:3 - “Segala yang bergerak, yang hidup,
akan menjadi makananmu. Aku telah memberikan semuanya itu kepadamu seperti juga
tumbuh-tumbuhan hijau”.
Terlihat bahwa memang mulai jaman Nuh (setelah air
bah) binatang boleh dimakan dan tidak ada yang dikecualikan. Mengapa? Calvin
menjawab dengan mengatakan bahwa binatang-binatang itu hanya haram kalau
digunakan sebagai korban persembahan untuk Tuhan, bukan untuk dimakan. Jadi,
pada jaman itu, juga pada jaman Abraham, memakan semua daging,
termasuk babi, diijinkan.
Calvin juga membahas pertanyaan: mengapa
binatang-binatang yang diciptakan oleh Tuhan sendiri, dan bahkan setelah
penciptaannya dikatakan ‘semuanya itu
baik’ (Kej 1:21,25), tahu-tahu bisa menjadi haram? Calvin menjawab:
sebetulnya tidak ada binatang, yang dalam / dari dirinya sendiri, merupakan
binatang yang haram. Binatang itu menjadi haram untuk dimakan / dijadikan
persembahan karena Tuhan yang menyatakannya demikian. Sama seperti mengapa Adam
dan Hawa dilarang memakan pohon pengetahuan tentang baik dan jahat? Bukan karena
buah pohon itu sendiri haram, tetapi karena adanya larangan dari Tuhan. Jadi,
pelanggaran terhadap peraturan / larangan Tuhan itu yang menajiskan, bukan
binatang itu sendiri.
2)
Mengapa ada larangan-larangan seperti ini?
Ada banyak alasan yang diberikan oleh para penafsir,
khususnya Matthew Henry yang banyak mengalegorikan binatang-binatang ini. Tetapi
tidak semua alasan-alasan itu bisa diterima.
a)
Ada binatang-binatang dilarang dimakan karena binatang-binatang itu tidak
sehat untuk dimakan. Mungkin yang paling ditekankan
adalah babi.
Sekalipun alasan ini diberikan oleh sangat banyak
penafsir, saya berpendapat bahwa alasan ini sama sekali tidak mungkin benar,
karena kalau memang binatang-binatang ini dilarang dimakan karena bukan
merupakan makanan sehat, mengapa dalam jaman Perjanjian Baru lalu diijinkan?
Calvin juga menolak alasan ini.
Calvin:
“Those
who imagine that God here had regard to their health, as if discharging the
office of a Physician, pervert by their vain speculation the whole force and
utility of this law. I allow, indeed, that the meats which God permits to be
eaten are wholesome, and best adapted for food; but, both from the preface, - in
which God admonished them that holiness was to be cultivated by the people whom
He had chosen, - as also from the (subsequent) abolition of this law, it is
sufficiently plain that this distinction of meats was a part of that elementary
instruction under which God kept His ancient people”
(= ).
Calvin lalu mengutip Kol 2:16-17 - “(16) Karena
itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman
atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; (17) semuanya ini
hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus”.
Calvin
(tentang ay 9):
“Here, also, some who know little of religion, plausibly contend that God
is acting the physician’s part, and distinguishing wholesome from unwholesome
food. But although their opinion is sufficiently refuted by medical men
themselves, yet, even if I should admit what they desire, they reason badly. For
the purpose of God was other than to provide for the people’s health”
(= ).
b)
Ada yang dilarang karena digunakan oleh bangsa-bangsa kafir sebagai
persembahan untuk dewa mereka.
Matthew Henry: “The
learned observe further, That most of the creatures which by this law were to
be abominated as unclean were such as were had in high veneration among the
heathen, not so much for food as for divination and sacrifice to their gods;
and therefore those are here mentioned as unclean, and an abomination, which yet
they would not be in any temptation to eat, that they might keep up a religious
loathing of that for which the Gentiles had a superstitious value. The swine,
with the later Gentiles, was sacred to Venus, the owl to Minerva, the eagle to
Jupiter, the dog to Hecate, etc., and all these are here made unclean” (=
).
Matthew Henry:
“others
of them were used by the Egyptians and other Gentiles in their divinations. Some
birds were reckoned fortunate, others ominous; and their soothsayers had great
regard to the flights of these birds, all which therefore must be an abomination
to God’s people, who must not learn the way of the heathen” (= ).
Bagi saya alasan ini juga
tidak meyakinkan, dengan alasan yang sama seperti di atas (point a). Mengapa
dalam jaman Perjanjian Baru lalu diijinkan?
c)
Khususnya untuk burung-burung, ada yang dilarang karena merupakan burung
pemangsa.
Dengan demikian Tuhan mendidik bangsa Israel supaya
membenci apapun yang barbar dan kejam.
Matthew Henry:
“Some
are birds of prey, as the eagle, vulture, etc., and God would have his people to
abhor every thing that is barbarous and cruel, and not to live by blood and
rapine. Doves that are preyed upon were fit to be food for man and offerings to
God; but kites and hawks that prey upon them must be looked upon as an
abomination to God and man; for the condition of those that are persecuted for
righteousness’ sake appears to an eye of faith every way better than that of
their persecutors” (= ).
Saya juga tak setuju
dengan alasan ini, dengan alasan yang sama seperti di atas (point a dan b).
d)
Ada binatang-binatang / burung-burung yang dilarang untuk dimakan karena
binatang-binatang / burung-burung itu termasuk binatang-binatang / burung-burung
yang suka menyendiri.
Dengan ini Tuhan mendidik supaya bangsa Israel tidak
menjadi bangsa yang melankolis dan senang menyendiri.
Matthew Henry:
“others
of them are solitary birds, that abide in dark and desolate places, as the owl
and the pelican (Ps. 102:6), and the cormorant and raven (Isa. 34:11); for
God’s Israel should not be a melancholy people, nor affect sadness and
constant solitude” (= ).
Saya menganggap ini
merupakan alasan yang menggelikan dan sangat tak masuk akal, dan saya juga
menolaknya dengan alasan yang sama seperti pada point a,b,c di atas.
e)
Ada binatang-binatang yang dilarang untuk dimakan karena
binatang-binatang itu makan makanan yang menjijikkan.
Dengan demikian terlihat
bahwa bangsa Israel bukan hanya harus menjauhi apa yang tidak kudus, tetapi juga
harus menjauhi mereka yang tidak menjauhi apa yang tidak kudus.
Matthew Henry:
“others
of them feed upon that which is impure, as the stork on serpents, others of them
on worms; and we must not only abstain from all impurity ourselves, but from
communion with those that allow themselves in it” (= ).
Saya berpendapat ini juga
merupakan alasan yang dibuat-buat dan saya menolak alasan ini dengan alasan yang sama seperti
point-point di atas.
f) Ada
yang dilarang karena termasuk binatang merayap / melata.
Binatang yang merayap mirip dengan ular yang dikutuk
dalam Kej 3, dan karena itu dilarang untuk dimakan.
Matthew Henry:
“Concerning
the creeping things on the earth; these were all forbidden (v. 29,30, and
again, v. 41,42); for it was the curse of the serpent that upon his belly
he should go, and therefore between him and man there was an enmity put (Gen
3:15), which was preserved by this law. Dust is the meat of the creeping
things, and therefore they are not fit to be man’s meat” (= ).
Ini lagi-lagi merupakan
alasan yang tak bisa diterima dengan alasan yang sama seperti di atas.
g)
Supaya mereka belajar bahwa Allah berhak melarang atau memerintah apapun,
dan supaya mereka belajar taat, tak peduli apapun alasan Allah untuk melarang
atau memerintah sesuatu.
Matthew Henry mengatakan bahwa binatang-binatang yang
pada jaman Nuh diijinkan untuk dimakan, sekarang dilarang pada jaman Musa.
Mengapa? Alasannya adalah karena Tuhan menghendaki demikian. Ia melihatnya
sebagai sesuatu yang baik untuk menguji ketaatan bangsa Israel dalam hal ini,
supaya mereka sadar bahwa mereka ada di bawah otoritas Allah.
Matthew Henry: “After
the flood, when God entered into covenant with Noah and his sons, he allowed
them to eat flesh (Gen. 9:13), whereas before they were confined to the
productions of the earth. But the liberty allowed to the sons of Noah is here
limited to the sons of Israel. They might eat flesh, but not all kinds of flesh;
some they must look upon as unclean and forbidden to them, others as clean and
allowed them. The law in this matter is both very particular and very strict. But
what reason can be given for this law? Why may not God’s people have as free a
use of all the creatures as other people? 1. It is reason enough that God
would have it so: his will, as it is law sufficient, so it is reason sufficient;
for his will is his wisdom. He saw good thus to try and exercise the
obedience of his people, not only in the solemnities of his altar, but in
matters of daily occurrence at their own table, that they might remember they
were under authority. Thus God had tried the obedience of man in innocency,
by forbidding him to eat of one particular tree” (= ).
Saya bisa menerima alasan ini, dan kalau ditanya:
lalu mengapa pada jaman Perjanjian Baru diijinkan untuk memakan
binatang-binatang itu? Maka jawabnya adalah: Allah punya hak untuk melarang pada
saat itu dan mengijinkan pada saat ini.
Tetapi bagaimanapun, ini bukan alasan utama
mengapa bangsa Israel dilarang memakan binatang-binatang itu.
h) Untuk
membedakan dan memisahkan mereka dari bangsa-bangsa lain.
Ini merupakan alasan utama mengapa bangsa Israel
dilarang untuk memakan binatang-binatang tersebut.
Sebetulnya alasan ini ada dalam Im 11 ini, yaitu
dalam ay 44-45: “(44) Sebab
Akulah TUHAN, Allahmu, maka haruslah kamu menguduskan dirimu dan haruslah kamu
kudus, sebab Aku ini kudus, dan janganlah kamu menajiskan dirimu dengan setiap
binatang yang mengeriap dan merayap di atas bumi. (45) Sebab Akulah TUHAN yang
telah menuntun kamu keluar dari tanah Mesir, supaya menjadi Allahmu; jadilah
kudus, sebab Aku ini kudus”.
Catatan: Ingat bahwa kata ‘kudus’ arti sebenarnya dan yang terutama bukanlah ‘suci’
tetapi ‘berbeda dengan’ atau ‘terpisah dari’.
Dengan adanya larangan makan binatang-binatang ini,
maka sukar bagi bangsa Israel untuk bisa berbaur dengan bangsa-bangsa lain, yang
jelas tidak dilarang makan binatang-binatang tersebut. Ini bukan hanya
menyukarkan bangsa Israel untuk berbaur dengan bangsa-bangsa lain, tetapi juga
menyukarkan mereka untuk menyebar ke negara-negara lain, karena di sana semua
orang memakan binatang-binatang yang bagi mereka dilarang untuk dimakan.
Supaya janji & Rencana tentang
kedatangan Mesias / Yesus melalui bangsa Yahudi dalam Kitab Suci bisa digenapi
:
Mesias / Yesus sudah dijanjikan oleh Allah sejak dari kejatuhan Adam ke dalam dosa. Kej,3:14-15
Setelah itu janji tentang Yesus itu diberikan lagi pada jaman Abraham Kej. 12:1-3
Yes 35:4 - “Katakanlah
kepada orang-orang yang tawar hati: ‘Kuatkanlah hati, janganlah takut! Lihatlah,
Allahmu (Yesus) akan datang dengan pembalasan
dan dengan ganjaran Allah. Ia sendiri datang menyelamatkan kamu
Yer 23:5-6 - “(5)
Sesungguhnya, waktunya akan datang,
demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan menumbuhkan Tunas adil bagi Daud. Ia
(Yesus) akan
memerintah sebagai raja yang bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran
di negeri. (6) Dalam zamannya Yehuda akan dibebaskan, dan Israel akan
hidup dengan tenteram; dan inilah namanya yang diberikan orang kepadanya:
TUHAN-keadilan kita”.
Yes 61:1-2 - “(1)
Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena
TUHAN telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar
baik kepada orang-orang sengsara, dan
merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada
orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari
penjara, (2) untuk memberitakan tahun rahmat
TUHAN dan hari pembalasan Allah kita, untuk menghibur semua orang berkabung”.
Yes 53:4-6
- “(4) Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan
kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul
dan ditindas Allah. (5) Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita,
dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran
yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya (Yesus)
, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.
(6) Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya
sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian”.
Nabi Yesaya
bernubuat bahwa Allah akan memberi umat-Nya suatu tanda. Seorang
perawan akan melahirkan seorang Anak laki-laki (Yesus)
yang akan disebut "Allah beserta kita."
(Yes 7:14; Mat 1:23) Bahwa
Anak (Yesus) ini juga akan disebut "Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal,
Raja Damai."
(Yes 9:5) Dan
bahwa Dia (Yesus) akan
mati untuk dosa-dosa umat-Nya dan kemudian Dia akan melihat hidup-Nya
dihormati dan dipermuliakan
Yesus disebut ‘tunas Daud’, ‘tunas yang keluar dari tunggul Isai’, ‘ta-ruk dari pangkal Isai’ (Yes 11:1,10 Yes 4:2 Yes 53:2 Yer 23:5 Wah 5:5 Wah 22:16). Perlu diingat bahwa ‘tunas’ menunjukkan bahwa Ia (Yesus) betul-betul adalah keturunan Daud, dan mempunyai hubungan orga-nic dengan Daud
Mal 3:1 Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku (Yohanes ), supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku (Yesus) ! Dengan mendadak Tuhan (Yesus) yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya! Malaikat Perjanjian yang kamu kehendaki itu, sesungguhnya, Ia datang, firman TUHAN semesta alam.
Mat
2:6 Dan engkau Betlehem, tanah
Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang
memerintah Yehuda, karena
dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin
(Yesus)
, yang
akan menggembalakan umat-Ku Israel."
Joh 6:51 Akulah (YESUS) roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup
selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan
untuk hidup dunia."
Joh 5:39 Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa
oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu
memberi kesaksian tentang Aku (YESUS), Joh 5:40
namun
kamu tidak mau datang kepada-Ku
(YESUS) untuk memperoleh hidup itu.
Dan setelah itu masih banyak janji-janji dalam Perjanjian Lama tentang Mesias / Yesus, dan orang-orang Yahudi menanti-nantikan penggenapan janji tersebut
Matthew Henry: “3.
God would thus teach his people to distinguish themselves from other people,
not only in their religious worship, but in the common actions of life. Thus
he would show them that they must not be numbered among the nations. It should
seem there had been, before this, some difference between the Hebrews and other
nations in their food, kept up by tradition; for the Egyptians and they would
not eat together, (Gen. 43:32). And even before the flood there was a
distinction of beasts into clean and not clean (Gen. 7:2), which distinction was
quite lost, with many other instances of religion, among the Gentiles. But by
this law it is reduced to a certainty, and ordered to be kept up among the Jews,
that thus, by having a diet peculiar to themselves, they might be kept from
familiar conversation with their idolatrous neighbours, and might typify God’s
spiritual Israel, who not in these little things, but in the temper of their
spirits, and the course of their lives, should be governed by a sober
singularity, and not be conformed to this world” (= ).
Jamieson, Fausset &
Brown: “Undoubtedly the first and strongest reason for instituting a
distinction among meats was to discourage the Israelites from spreading into
other countries, and from general contact with the world - to prevent them
acquiring familiarity with the inhabitants of the countries bordering on Caanan,
so as to fall into their idolatries, or be contaminated with their vices; in
short, to keep them a distinct and special people, by raising a broad and
impassable wall of opposite customs. To this purpose no difference of creed, no
system of polity, no diversity of language or manners was so subservient as a
distinction of meats, founded on religion; and hence, the Jews, who were taught
by education to abhor many articles of food freely partaken of by other people,
never, even at periods of great degeneracy, could amalgamate with the nations
among which they were dispersed” (= ).
Barnes’ Notes (tentang
ay 44-47): “The basis of the obligation to maintain the
distinction was the call of the Hebrews to be the special people of Yahweh. It
was to he something in their daily life to remind them of the covenant which
distinguished them from the nations of the world”
(= ).
Calvin:
“But
the object of this ordinance was different, viz., lest they who were God’s
sacred and peculiar people, should freely and promiscuously communicate with the
Gentiles”
(= ).
Dalam pembahasan tentang binatang-binatang atau
burung-burung dsb ini memang para penafsir tidak pasti tentang banyak jenis dari
binatang-binatang / burung-burung ini. Ini membuktikan bahwa larangan ini memang
sudah tak berlaku lagi pada jaman Perjanjian Baru, dan ini merupakan
‘senjata’ bagi kita menghadapi ajaran Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh
maupun ajaran agama Yahudi / Yudaisme, yang masih memberlakukan larangan ini,
yang sebetulnya sudah dihapuskan. Kalau memang larantgan ini masih berlaku,
bagaimana tentang binatang-binatang / burung-burung yang tak diketahui lagi
secara pasti?
Adam Clarke (tentang ay
44): “From the great difficulty of ascertaining what animals are meant in
this part of the law, we may at once see that the law itself must be considered
as abrogated; for there is not a Jew in the universe who knows what the animals
are, a very few excepted, which are intended by these Hebrew words; and
therefore, he may be repeatedly breaking this law by touching and being touched
either by the animals themselves or their produce, such as hair, wool, fur,
skin, intestines, differently manufactured, etc., etc” (= Dari kesukaran yang besar untuk mengetahui dengan pasti
binatang-binatang apa yang dimaksudkan dalam bagian hukum Taurat ini, kita bisa
segera melihat bahwa hukum ini harus dianggap sebagai dibatalkan; karena tak ada
satu orang Yahudipun dalam alam semesta yang tahu apa binatang-binatang itu,
kecuali sangat sedikit binatang sebagai perkecualian, yang dimaksudkan oleh
kata-kata Ibrani ini; dan karena itu, ia bisa berulang-ulang melanggar hukum ini
dengan menyentuh dan disentuh oleh binatang-binatang itu sendiri atau produk
dari binatang-binatang itu, seperti rambut / bulunya, kulitnya, ususnya, yang
diproduksi / dibuat secara berbeda-beda, dsb, dsb.).
Calvin: “The
proper names, which are recited, are of little service to us now-a-days; because
many species which are common in the East, are unknown elsewhere; and it was
therefore easy for Jews who were born and had lived in distant countries, to
fall into error about them; whilst, on the other hand, the more bold they are in
their conjectures, the less are they to be trusted”
(= Nama-nama yang sebenarnya, yang diberikan secara mendetail, sangat sedikit manfaatnya bagi kita sekarang; karena banyak
jenis yang umum di Timur, tidak dikenal di tempat lain; dan adalah mudah bagi
orang-orang Yahudi yang lahir dan hidup / tinggal di negeri-negeri yang jauh,
untuk jatuh dalam kesalahan tentang hal-hal ini; sementara, di sisi lain, makin
berani mereka dalam menduga-duga, makin sedikit mereka bisa dipercaya).
4)
Mengapa bangkai dianggap najis dan menajiskan (ay 24-dst)?
Matthew Henry mengatakan bahwa tak ada alasan mengapa
ini dijadikan hukum, kecuali bahwa ini merupakan kehendak dari sang Pencipta.
Matthew Henry:
“Concerning
the dead carcasses of all these unclean animals. (1.) Every one that touched
them was to be unclean until the evening, v. 24-28. This law is often
repeated, to possess them with a dread of every thing that was prohibited,
though no particular reason for the prohibition did appear, but only the will
of the Law-maker” (= ).
Matthew Henry berkata bahwa bangsa Israel bukan hanya
dilarang memakan binatang-binatang itu tetapi bahkan dilarang menyentuh
bangkainya (ay 8). Memang bagaimana mungkin bisa memakannya, kalau tak boleh
menyentuh binatang itu dalam keadaan mati? Matthew Henry lalu memberi komentar
sebagai berikut:
Matthew Henry: “The
law forbade, not only the eating of them, but the very touching of them; for
those that would be kept from any sin must be careful to avoid all temptations
to it, and every thing that looks towards it or leads to it” (= Hukum
Taurat melarang, bukan hanya memakan mereka, tetapi bahkan menyentuhnya; karena
mereka yang mau dicegah dari dosa apapun, harus dengan hati-hati menghindari
semua pencobaan yang mengarah ke sana, dan setiap hal yang memandang ke arahnya
atau membimbing kepadanya).
5) Bahkan
peralatan, pakaian dsb, yang kena bangkai binatang-binatang itu juga menjadi
najis dan ada yang bisa menjadi tahir kembali tetapi ada yang harus dihancurkan.
Ay 32-37: “(32) Dan segala sesuatu menjadi najis, kalau seekor yang mati dari
binatang-binatang itu jatuh ke atasnya: perkakas kayu apa saja atau pakaian atau
kulit atau karung, setiap barang yang dipergunakan untuk sesuatu apapun,
haruslah dimasukkan ke dalam air dan menjadi najis sampai matahari terbenam,
kemudian menjadi tahir pula. (33) Kalau seekor dari binatang-binatang itu jatuh
ke dalam sesuatu belanga tanah, maka segala yang ada di dalamnya menjadi najis
dan belanga itu harus kamu pecahkan. (34) Dalam hal itu segala makanan yang
boleh dimakan, kalau kena air dari belanga itu, menjadi najis, dan segala
minuman yang boleh diminum dalam belanga seperti itu, menjadi najis. (35) Kalau
bangkai seekor dari binatang-binatang itu jatuh ke atas sesuatu benda, itu
menjadi najis; pembakaran roti dan anglo haruslah diremukkan, karena semuanya
itu najis dan haruslah najis juga bagimu; (36) tetapi mata air atau sumur yang
memuat air, tetap tahir, sedangkan siapa yang kena kepada bangkai
binatang-binatang itu menjadi najis. (37) Apabila bangkai seekor dari
binatang-binatang itu jatuh ke atas benih apapun yang akan ditaburkan, maka
benih itu tetap tahir. (38) Tetapi apabila benih itu telah dibubuhi air, lalu ke
atasnya jatuh bangkai seekor dari binatang-binatang itu, maka najislah benih itu
bagimu”.
Matthew Henry mengatakan bahwa ini mengajar mereka
untuk sangat hati-hati untuk menghindari apapun yang najis / haram.
Matthew Henry:
“Even
the vessels, or other things they fell upon, were thereby made unclean until the
evening (v. 32), and if they were earthen vessels they must be broken, v.
33. This taught them carefully to avoid every thing that was polluting,
even in their common actions. Not only the vessels of the sanctuary, but every
pot in Jerusalem and Judah, must be holiness to the Lord, Zech 14:20,21.
The laws in these cases are very critical, and the observance of them would be
difficult, we should think, if every thing that a dead mouse or rat, for
instance, falls upon must be unclean; and if it were an oven, or ranges for
pots, they must all be broken down, v. 35. The exceptions also are very
nice, v. 36, &c.” (= ).
6) Semua
larangan ini sudah tidak berlaku lagi dalam jaman Perjanjian Baru.
Jelas bahwa dalam jaman Perjanjian Baru semua
larangan untuk memakan binatang-binatang ini sudah tidak berlaku lagi, dan
demikian juga dengan kenajisan karena bersentuhan dengan bangkai sudah tidak
berlaku lagi. Semua ini hanya merupakan ceremonial
law (= hukum yang berhubungan dengan upacara keagamaan), dan semua ini tidak
berlaku lagi sejak kematian Kristus.
Ef 2:15 - “sebab dengan matiNya sebagai
manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan
ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam
diriNya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera”.
Kita tidak boleh mengartikan bahwa hukum moral dalam
hukum Taurat juga dibatalkan, karena adanya Mat 5:17-19 - “(17)
‘Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau
kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk
menggenapinya. (18) Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum
lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan
dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. (19) Karena itu siapa yang
meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan
mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling
rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan
segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di
dalam Kerajaan Sorga”.
Bahwa larangan makan binatang-binatang ini sudah
ditiadakan dalam Perjanjian Baru juga terlihat dari ayat-ayat sebagai berikut:
a)
Mark 7:18-19 - “(18) Maka jawabNya: ‘Apakah kamu juga tidak dapat
memahaminya? Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu dari luar yang masuk ke
dalam seseorang tidak dapat menajiskannya, (19) karena bukan masuk ke dalam
hati tetapi ke dalam perutnya, lalu dibuang di jamban?’ Dengan demikian Ia
menyatakan semua makanan halal”.
b)
Kis 10:9-16 - “(9) Keesokan harinya ketika ketiga orang itu berada
dalam perjalanan dan sudah dekat kota Yope, kira-kira pukul dua belas tengah
hari, naiklah Petrus ke atas rumah untuk berdoa. (10) Ia merasa lapar dan ingin
makan, tetapi sementara makanan disediakan, tiba-tiba rohnya diliputi kuasa
ilahi. (11) Tampak olehnya langit terbuka dan turunlah suatu benda berbentuk
kain lebar yang bergantung pada keempat sudutnya, yang diturunkan ke tanah. (12)
Di dalamnya terdapat pelbagai jenis binatang berkaki empat, binatang menjalar
dan burung. (13) Kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata: ‘Bangunlah,
hai Petrus, sembelihlah dan makanlah!’ (14) Tetapi Petrus menjawab: ‘Tidak,
Tuhan, tidak, sebab aku belum pernah makan sesuatu yang haram dan yang tidak
tahir.’ (15) Kedengaran pula untuk kedua kalinya suara yang berkata kepadanya:
‘Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram.’
(16) Hal ini terjadi sampai tiga kali dan segera sesudah itu terangkatlah benda
itu ke langit”.
c)
Ro 14:2,14,17,23 - “(2) Yang seorang yakin, bahwa ia boleh makan
segala jenis makanan, tetapi orang yang lemah imannya hanya makan sayur-sayuran
saja. ... (14) Aku tahu dan yakin dalam Tuhan Yesus, bahwa tidak ada sesuatu
yang najis dari dirinya sendiri. Hanya bagi orang yang beranggapan, bahwa
sesuatu adalah najis, bagi orang itulah sesuatu itu najis. ... (17) Sebab
Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai
sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus. ... (23) Tetapi barangsiapa yang bimbang,
kalau ia makan, ia telah dihukum, karena ia tidak melakukannya berdasarkan iman.
Dan segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa”.
d)
Kol 2:20-23 - “(20) Apabila kamu telah mati bersama-sama dengan
Kristus dan bebas dari roh-roh dunia, mengapakah kamu menaklukkan dirimu pada
rupa-rupa peraturan, seolah-olah kamu masih hidup di dunia: (21) jangan
jamah ini, jangan kecap itu, jangan sentuh ini; (22) semuanya itu hanya
mengenai barang yang binasa oleh pemakaian dan hanya menurut
perintah-perintah dan ajaran-ajaran manusia. (23) Peraturan-peraturan
ini, walaupun nampaknya penuh hikmat dengan ibadah buatan sendiri, seperti
merendahkan diri, menyiksa diri, tidak ada gunanya selain untuk memuaskan hidup
duniawi”.
e)
1Tim 4:1-5 - “(1) Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa di
waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat
dan ajaran setan-setan (2) oleh tipu daya pendusta-pendusta yang hati nuraninya
memakai cap mereka. (3) Mereka itu melarang orang kawin, melarang orang makan
makanan yang diciptakan Allah supaya dengan pengucapan syukur dimakan oleh orang
yang percaya dan yang telah mengenal kebenaran. (4) Karena semua yang
diciptakan Allah itu baik dan suatupun tidak ada yang haram, jika diterima
dengan ucapan syukur, (5) sebab semuanya itu dikuduskan oleh firman Allah dan
oleh doa”.
Barnes’ Notes (tentang
ay 44-47): “By Jesus Christ it was revealed (Matt 15:11)
to the elect people that they were no longer to he tied by the letter of the Law
in regard to their food, but were to be left to the exercise of a regenerated
judgment. They were to learn that the kingdom of God is not eating, or
abstaining from, meats and drinks; but righteousness, and truth, and peace, and
joy in the Holy Spirit (Rom 14:17. Compare Acts 10:15; 1 Tim 4:4)”
(= ).
Calvin
(tentang ay 3):
“At length, by the decree of the Apostles, permission was given to the
Gentiles to eat all kinds of meat, except only blood and things strangled,
and that only for a time, for the sake of avoiding offense, since the Jews would
not otherwise have been propitiated. Now, after what God Himself had
ordained respecting the distinction of meats had been abrogated, it was an act
of diabolical audacity to oblige men’s consciences by human laws, and to
prevent them from enjoying the liberty obtained by Christ”
(= Akhirnya, oleh ketetapan dari rasul-rasul, ijin diberikan kepada orang-orang
non Yahudi untuk memakan semua jenis daging, kecuali darah dan hal-hal yang
dicekik, dan itu hanya untuk sementara waktu, dengan tujuan untuk tidak menjadi
batu sandungan, karena orang-orang Yahudi tidak akan diperdamaikan kecuali oleh
hal itu. Sekarang, setelah apa yang Allah sendiri tentukan berkenaan dengan
pembedaan daging telah dibatalkan, maka merupakan suatu keberanian yang kejam /
seperti setan untuk mengharuskan hati nurani orang-orang oleh hukum-hukum
manusia, dan menghalangi mereka untuk menikmati kebebasan yang didapatkan oleh
Kristus).
Catatan: yang Calvin maksudkan dengan bagian yang saya
garis-bawahi adalah Kis 15:19-21 - “(19) Sebab itu aku berpendapat,
bahwa kita tidak boleh menimbulkan kesulitan bagi mereka dari bangsa-bangsa lain
yang berbalik kepada Allah, (20) tetapi kita harus menulis surat kepada mereka,
supaya mereka menjauhkan diri dari makanan yang telah dicemarkan
berhala-berhala, dari percabulan, dari daging binatang yang mati dicekik dan
dari darah. (21) Sebab sejak zaman dahulu hukum Musa diberitakan di tiap-tiap
kota, dan sampai sekarang hukum itu dibacakan tiap-tiap hari Sabat di
rumah-rumah ibadat.’”.
7)
Mengapa larangan ini dihapuskan dalam jaman Perjanjian Baru?
Kalau kita melihat alasan utama dalam pelarangan
makan binatang-binatang itu, yaitu untuk memisahkan bangsa Israel dari
bangsa-bangsa lain, maka jelas bahwa dalam jaman Perjanjian Baru hal itu sudah
tidak dibutuhkan, karena batasan / tembok pemisah antara bangsa Israel dan
bangsa-bangsa lain sudah dihancurkan dalam Kristus, seperti yang ditunjukkan
oleh ayat-ayat di bawah ini:
Ef 2:11-22 - “(11) Karena itu ingatlah, bahwa
dahulu kamu - sebagai orang-orang bukan Yahudi menurut daging, yang disebut
orang-orang tak bersunat oleh mereka yang menamakan dirinya ‘sunat’, yaitu
sunat lahiriah yang dikerjakan oleh tangan manusia, - (12) bahwa waktu itu kamu
tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam
ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam
dunia. (13) Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu ‘jauh’,
sudah menjadi ‘dekat’ oleh darah Kristus. (14) Karena Dialah damai sejahtera
kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok
pemisah, yaitu perseteruan, (15) sebab dengan matiNya sebagai manusia Ia telah
membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk
menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diriNya, dan dengan itu
mengadakan damai sejahtera, (16) dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam
satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib
itu. (17) Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang ‘jauh’
dan damai sejahtera kepada mereka yang ‘dekat’, (18) karena oleh Dia kita
kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa. (19) Demikianlah
kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari
orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, (20) yang dibangun di atas
dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. (21)
Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang
kudus, di dalam Tuhan. (22) Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi
tempat kediaman Allah, di dalam Roh”.
1Kor 12:13 - “Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang
Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan
kita semua diberi minum dari satu Roh”.
Gal 3:28 - “Dalam
hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang
merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di
dalam Kristus Yesus”.
Kol 3:11 - “dalam
hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak
bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus
adalah semua dan di dalam segala sesuatu”.
Karena batasan / tembok pemisah antara bangsa Israel
dan bangsa-bangsa lain sudah dihapuskan dalam Kristus, maka jelas bahwa larangan
makan binatang-binatang, yang tujuan / alasan utamanya adalah untuk memisahkan
bangsa Israel dari bangsa-bangsa lain, juga harus dihapuskan!
Melalui semua ini kita juga bisa melihat bahwa oleh
Kristus kita dibebaskan dari semua ketaatan yang sangat memberatkan ini.
-o0o-
Bagi sdr yg telah
mendapat berkat dari artikel ini..mohon kiranya dapat membantu menyebarkan Pada
sdr2 kita yg lain, sehingga semakin banyak sdr kita yg juga bisa membaca artikel
ini dan mendapat berkat. Tuhan memberkati sdr.
Amin.
Joh 21:17
Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya:
"Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Maka
sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: "Apakah
engkau mengasihi Aku?" Dan ia berkata kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tahu
segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata
Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku.
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali