(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)
Minggu, tgl 28 Februari 2016, pk 8.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
EFESUS 6:10-20 (1)
Ef 6:10-20 - “(10) Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasaNya. (11) Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; (12) karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. (13) Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. (14) Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, (15) kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; (16) dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, (17) dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, (18) dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus, (19) juga untuk aku, supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil, (20) yang kulayani sebagai utusan yang dipenjarakan. Berdoalah supaya dengan keberanian aku menyatakannya, sebagaimana seharusnya aku berbicara.”.
I) Perang rohani melawan setan.
1) Bagian ini jelas menunjukkan bahwa bagi orang Kristen hidup ini adalah suatu peperangan!
Ada beberapa ayat Alkitab yang menggambarkan orang Kristen sebagai tentara, dan Kristus sebagai komandannya!
a) 2Tim 2:3-4 - “(3) Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus. (4) Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya.”.
Kata-kata ‘yang sedang berjuang’ dalam KJV diterjemahkan ‘that warreth’ [= yang berperang].
b) Filemon 2 - “dan kepada Apfia saudara perempuan kita dan kepada Arkhipus, teman seperjuangan kita dan kepada jemaat di rumahmu:”.
c) Fil 2:25 - “Sementara itu kuanggap perlu mengirimkan Epafroditus kepadamu, yaitu saudaraku dan teman sekerja serta teman seperjuanganku, yang kamu utus untuk melayani aku dalam keperluanku.”.
Catatan: dalam kedua ayat terakhir, untuk kata-kata ‘teman seperjuangan’ KJV/RSV/NIV/NASB menterjemahkan ‘fellow soldier’ [= sesama / rekan tentara].
Konsep kita tentang hidup kita, akan sangat berperan dalam membentuk dan mengarahkan kehidupan kita. Kalau konsep kita adalah ‘hidup hanya satu kali’, maka kita akan santai dan berusaha mati-matian untuk menikmati hidup yang hanya sekali ini. Kalau konsep kita ‘hidup adalah uang’, ‘hidup adalah makan’ atau ‘hidup adalah sex’ dsb, maka ini juga akan mengarahkan hidup kita ke arah yang tidak karuan.
Tetapi kalau kita mempunyai konsep yang Alkitabiah tentang kehidupan kita, yaitu bahwa hidup ini adalah peperangan, maka kita pasti akan serius, mati-matian dan bukannya hidup santai dan bermalas-malasan. Jadi, renungkan apa konsep saudara tentang hidup ini, sesuaikanlah dengan konsep yang ada dalam Alkitab, dan jangan menjadi Kristen yang santai!
Contoh hidup Kristen yang santai: sedikit-sedikit bolos Kebaktian / Pemahaman Alkitab, Seminar tidak mau ikut, korbankan hal-hal yang rohani untuk hal-hal duniawi yang menyenangkan, pelayanan enak-enakan atau bahkan sama sekali tidak melakukan apa-apa dalam gereja, membiarkan dosa-dosa tertentu dalam hidupnya, tidak sungguh-sungguh dalam mencari Firman Tuhan, dll.
2Tim 2:3-4 - “(3) Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus. (4) Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya.”.
Kata-kata ‘memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya’ dalam KJV diterjemahkan ‘entangleth himself with the affairs of this life’ [= melibatkan dirinya sendiri dengan urusan-urusan dari kehidupan ini].
Pulpit Commentary (tentang 2Tim 2): “If the heart is divided between the ministry of God’s Word and the enjoyment of an easy life, there will be a constant temptation to avoid those various forms of ‘hardship’ which properly belong to the campaign of the soldiers of Christ. Troubles will be shirked rather than endured; and ministerial duties will be made to stand on one side when they interfere with the inclinations of the moment. Labour will be evaded when the soul calls for ease. The determined struggle, and the sturdy stand against evil, whether in his own heart or in the world around him, will be postponed to a more convenient season, while weak compromises and sinful compliances take their place in the immediate present.” [= Jika hati terbagi antara pelayanan Firman Allah dan penikmatan dari suatu kehidupan yang enak, maka akan ada pencobaan yang terus menerus untuk menghindari berbagai-bagai bentuk kekerasan / kesukaran itu, yang secara tepat termasuk dalam pertempuran / expedisi militer dari tentara-tentara Kristus. Kesukaran-kesukaran akan dielakkan dan bukannya ditahan; dan kewajiban-kewajiban pelayanan akan disingkirkan pada waktu hal-hal itu mengganggu kecondongan hati dari saat itu. Jerih payah akan dihindari pada waktu jiwa menuntut kenyamanan. Pergumulan yang tekun, dan pendirian yang teguh menentang kejahatan, apakah dalam hatinya sendiri atau dalam dunia di sekelilingnya, akan ditunda sampai pada suatu saat yang lebih baik / tidak menyusahkan, sedangkan kompromi-kompromi yang lemah dan sikap menyerah / mengalah yang berdosa mengambil tempat mereka pada saat itu.].
Untuk orang Kristen yang menjadi tentara yang tak mau ikut dalam perang, baca ayat-ayat ini:
Hakim 5:23 - “‘Kutukilah kota Meros!’ firman Malaikat TUHAN, ‘kutukilah habis-habisan penduduknya, karena mereka tidak datang membantu TUHAN, membantu TUHAN sebagai pahlawan.’”.
Yer 48:10 - “Terkutuklah orang yang melaksanakan pekerjaan TUHAN dengan lalai, dan terkutuklah orang yang menghambat pedangNya dari penumpahan darah!”.
2) Kapan perangnya? Sekarang juga!
Ay 10: “Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasaNya.”.
Ay 10: ‘Akhirnya’ / ‘finally’.
Sekalipun KJV/RSV/NIV/NASB/NKJV/ASV menterjemahkan ‘finally’ [= akhirnya], tetapi Bible Works 9 dan juga banyak penafsir mengatakan terjemahan seharusnya adalah ‘for the rest’ [= untuk sisanya].
John Stott menterjemahkan: ‘henceforward’ yang diartikan ‘for the remaining time’. Jadi artinya ‘mulai sekarang dan seterusnya’.
John Stott: “the apostle is indicating that the whole of the interim period between the Lord’s two comings is to be characterized by conflict. The peace which God has made through Christ’s cross is to be experienced only in the midst of a relentless struggle against evil.” [= sang rasul sedang menunjukkan bahwa seluruh masa antara di antara dua kedatangan Tuhan harus ditandai oleh konflik. Damai yang Allah telah buat melalui salib Kristus harus dialami hanya di tengah-tengah dari suatu pergumulan yang terus-menerus terhadap kejahatan.].
Ay 13: “Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu.”.
Kata-kata ‘hari yang jahat itu’ tak menunjuk pada ‘masa kesukaran besar’ pada akhir jaman, tetapi menunjuk pada saat setan menyerang setiap kita, dan itu bisa terjadi setiap saat.
Calvin: “he adds, in the evil day. By this expression he rouses them from security, bids them prepare themselves for hard, painful, and dangerous conflicts,” [= ia menambahkan ‘pada hari yang jahat’. Dengan ungkapan ini ia membangunkan mereka dari rasa aman, meminta mereka mempersiapkan diri mereka sendiri untuk konflik-konflik yang keras, menyakitkan, dan membahayakan,].
Barnes’ Notes: “‘In the evil day.’ The day of temptation; the day when you are violently assaulted.” [= ‘Pada hari yang jahat’. Hari pencobaan; hari pada waktu kamu diserang dengan hebat / ganas / brutal.].
Sebagian dari kita pada saat ini sedang mengalami ‘hari yang jahat itu’, tetapi sebagian lagi tidak / belum. Kalau saat ini hidup saudara sedang dalam keadaan tenang, tidak terlalu ada masalah, dan semua baik-baik saja. Jangan bersantai ria! Ingat, kita sedang berada dalam keadaan perang, dan serangan yang hebat dari setan bisa datang kapan saja / dengan mendadak.
Mungkin ini bisa disamakan dengan badai yang bisa datang secara mendadak di danau Galilea.
Mat 8:23-24 - “(23) Lalu Yesus naik ke dalam perahu dan murid-muridNyapun mengikutiNya. (24) Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur.”.
Ini juga terlihat dengan lebih jelas lagi dalam kehidupan Ayub (Ayub 1:13-19)!!
Ayub 1:13-19 - “(13) Pada suatu hari, ketika anak-anaknya yang lelaki dan yang perempuan makan-makan dan minum anggur di rumah saudara mereka yang sulung, (14) datanglah seorang pesuruh kepada Ayub dan berkata: ‘Sedang lembu sapi membajak dan keledai-keledai betina makan rumput di sebelahnya, (15) datanglah orang-orang Syeba menyerang dan merampasnya serta memukul penjaganya dengan mata pedang. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan.’ (16) Sementara orang itu berbicara, datanglah orang lain dan berkata: ‘Api telah menyambar dari langit dan membakar serta memakan habis kambing domba dan penjaga-penjaga. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan.’ (17) Sementara orang itu berbicara, datanglah orang lain dan berkata: ‘Orang-orang Kasdim membentuk tiga pasukan, lalu menyerbu unta-unta dan merampasnya serta memukul penjaganya dengan mata pedang. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan.’ (18) Sementara orang itu berbicara, datanglah orang lain dan berkata: ‘Anak-anak tuan yang lelaki dan yang perempuan sedang makan-makan dan minum anggur di rumah saudara mereka yang sulung, (19) maka tiba-tiba angin ribut bertiup dari seberang padang gurun; rumah itu dilandanya pada empat penjurunya dan roboh menimpa orang-orang muda itu, sehingga mereka mati. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan.’”.
Dan serangan setan bisa terjadi dalam bentuk-bentuk lain. Seperti dalam kasus Daud.
2Sam 11:1-4 - “(1) Pada pergantian tahun, pada waktu raja-raja biasanya maju berperang, maka Daud menyuruh Yoab maju beserta orang-orangnya dan seluruh orang Israel. Mereka memusnahkan bani Amon dan mengepung kota Raba, sedang Daud sendiri tinggal di Yerusalem. (2) Sekali peristiwa pada waktu petang, ketika Daud bangun dari tempat pembaringannya, lalu berjalan-jalan di atas sotoh istana, tampak kepadanya dari atas sotoh itu seorang perempuan sedang mandi; perempuan itu sangat elok rupanya. (3) Lalu Daud menyuruh orang bertanya tentang perempuan itu dan orang berkata: ‘Itu adalah Batsyeba binti Eliam, isteri Uria orang Het itu.’ (4) Sesudah itu Daud menyuruh orang mengambil dia. Perempuan itu datang kepadanya, lalu Daud tidur dengan dia. Perempuan itu baru selesai membersihkan diri dari kenajisannya. Kemudian pulanglah perempuan itu ke rumahnya.”.
Daud santai pada masa perang, dan itu awal dari kejatuhannya!
3) Dalam perang ini musuh kita bukan manusia, tetapi setan (ay 12).
Ay 12: “karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.”.
The Bible Exposition Commentary: “The important point is that our battle is not against human beings. It is against spiritual powers. We are wasting our time fighting people when we ought to be fighting the devil who seeks to control people and make them oppose the work of God.” [= Hal yang penting adalah bahwa pertempuran kita bukanlah terhadap manusia. Itu adalah terhadap kuasa-kuasa rohani. Kita menghabiskan / memboroskan waktu kita memerangi orang-orang pada waktu kita seharusnya memerangi setan yang mencoba untuk mengendalikan orang-orang dan membuat mereka menentang pekerjaan Allah.].
Catatan: menurut saya, bagian yang saya garis-bawahi itu salah. Kita tak bisa hanya perang melawan setan-setan dan tidak juga melawan antek-anteknya / alat-alatnya, sekalipun kita memang harus mempunyai sikap yang berbeda terhadap kedua golongan ini.
Calvin: “Let us remember this when the injurious treatment of others provokes us to revenge. Our natural disposition would lead us to direct all our exertions against the men themselves; but this foolish desire will be restrained by the consideration that the men who annoy us are nothing more than darts thrown by the hand of Satan. While we are employed in destroying those darts, we lay ourselves open to be wounded on all sides. To ‘wrestle with flesh and blood’ will not only be useless, but highly pernicious. We must go straight to the enemy, who attacks and wounds us from his concealment, - who slays before he appears.” [= Hendaklah kita mengingat ini pada waktu perlakuan yang menyakitkan dari orang-orang lain memprovokasi kita pada pembalasan dendam. Kecenderungan alamiah kita akan membimbing kita untuk mengarahkan semua penggunaan tenaga terhadap manusia sendiri; tetapi keinginan bodoh ini akan dikekang oleh pertimbangan bahwa orang-orang yang mengganggu kita tidak lebih dari anak-anak panah yang dilemparkan oleh tangan Iblis. Sementara kita sibuk dalam menghancurkan anak-anak panah itu, kita meletakkan diri kita sendiri terbuka untuk dilukai di segala sisi. Bergumul / bergulat dengan daging dan darah / manusia bukan hanya akan tidak berguna, tetapi sangat jahat / merusak. Kita harus pergi / maju langsung kepada sang musuh, yang menyerang dan melukai kita dari persembunyiannya, - yang membunuh sebelum ia muncul / kelihatan.].
Saya setuju dengan kata-kata Calvin pada bagian awal. Kebencian dan keinginan balas dendam yang ditujukan kepada manusia, yang sebetulnya hanya diperalat oleh setan, merupakan hal yang salah. Tetapi saya tidak mengerti bagaimana Calvin bisa mengatakan bagian akhir dari kata-katanya ini. Memang orang-orang sesat / anti Kristen / jahat digunakan oleh setan dalam menyerang kita. Tetapi bagaimana kita bisa langsung pergi kepada sang musuh, yaitu setan sendiri? Bagaimana kita bisa tidak berperang juga melawan orang-orang sesat / jahat yang digunakan oleh setan? Dalam seluruh Alkitab, orang-orang jahat, nabi-nabi palsu dsb bukan dibiarkan, tetapi tetap dihadapi / diperangi (bukan secara fisik). Bahkan dalam Perjanjian Lama Tuhan memberikan hukuman mati kepada para penyesat. Jadi, saya lebih setuju dengan kata-kata Albert Barnes di bawah ini.
Barnes’ Notes: “‘Not against flesh and blood.’ Not with people; ... The apostle does not mean to say that Christians had no enemies among men that opposed them, for they were exposed often to fiery persecution; nor that they had nothing to contend with in the carnal and corrupt propensities of their nature, which was true of them then as it is now; but that their main controversy was with the invisible spirits of wickedness that sought to destroy them. They were the source and origin of all their spiritual conflicts, and with them the warfare was to be maintained.” [= ‘Bukan terhadap daging dan darah / manusia’. Bukan dengan orang-orang; ... Sang rasul tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa orang-orang Kristen tidak mempunyai musuh-musuh di antara orang-orang yang menentang mereka, karena mereka sering terbuka terhadap penganiayaan yang berapi-api; atau bahwa mereka tak punya apapun untuk diperjuangkan / dihadapi dalam kecondongan daging dan rusak / jahat dari hakekat mereka, yang adalah benar tentang mereka baik dulu maupun sekarang; tetapi bahwa kontroversi utama mereka adalah dengan roh-roh kejahatan yang tak terlihat, yang mencoba untuk menghancurkan mereka. Mereka adalah sumber dan asal usul dari semua konflik-konflik rohani mereka, dan dengan merekalah perang itu harus dipertahankan.].
Jadi menurut saya, orang-orang sesat / jahat tetap harus dihadapi, bukan dibiar-biarkan, karena kalau demikian, mereka akan berhasil menyesatkan banyak orang. Tetapi memang dalam menghadapi kejahatan / penyesatan mereka, kita selalu harus sadar bahwa mereka hanya alat dari setan, bahkan korban dari setan, dan setanlah yang merupakan musuh yang utama dan yang sesungguhnya dalam perang ini. Jadi pada waktu menghadapi kejahatan / penyesatan dari orang-orang ini, di satu sisi kita menganggap mereka adalah musuh yang harus dihancurkan penyesatannya, tetapi di lain sisi kita juga harus sadar mereka adalah alat dan sekaligus korban dari tipu daya setan, dan karena itu harus juga kita usahakan pertobatannya!
Terhadap orang-orang sesat / jahat itu di satu sisi harus ada kemarahan dalam diri kita, tetapi itu harus disertai kasih dan belas kasihan, mengingat mereka merupakan korban dari setan. Kita harus selalu menentang kejahatan / penyesatan mereka, tetapi tetap juga mengharapkan pertobatan mereka!
Tetapi terhadap setannya sendiri, kita hanya bisa mempunyai kemarahan dan kebencian, dan harapan / keinginan satu-satunya adalah supaya mereka dihancurkan / dibinasakan selama-lamanya di dalam neraka.
Tetapi satu hal yang sangat berbeda adalah kalau kita jengkel terhadap sesama saudara seiman kita. Kalaupun mereka memang berbuat salah kepada kita, lagi-lagi ingat, MEREKA BUKAN MUSUH KITA, TETAPI SAUDARA SEIMAN KITA. SETANLAH MUSUH KITA YANG TERUTAMA DAN SEBENARNYA! Kalau ini tidak bisa kita camkan / ingat, maka dalam gereja kita tidak akan ada henti-hentinya ada konflik / perpecahan dan sebagainya.
Repotnya, adalah bahwa dalam gerejapun ada banyak orang-orang kristen KTP! Dan ini bisa adalah orang-orang jahat / penyesat dan sebagainya.
4) Hal-hal tentang musuh kita yang terutama / sebenarnya, yaitu setan (ay 12).
The Bible Exposition Commentary: “Unless we know who the enemy is, where he is, and what he can do, we have a difficult time defeating him. Not only in Eph 6, but throughout the entire Bible, God instructs us about the enemy, so there is no reason for us to be caught off guard.” [= Kecuali kita tahu siapa adanya musuh itu, dimana ia berada, dan apa yang bisa ia lakukan, kita mempunyai suatu waktu yang sukar mengalahkan dia. Bukan hanya dalam Ef 6, tetapi dalam seluruh Alkitab, Allah memberi kita instruksi tentang sang musuh, sehingga tidak ada alasan bagi kita untuk diserang / dijebak dalam keadaan tidak siap.].
Hal-hal yang perlu diketahui tentang setan:
a) Setan itu ada banyak; ini bisa kita lihat dalam ay 12, dimana kata-kata yang digunakan untuk menunjuk kepada setan semua ada dalam bentuk jamak.
Ay 12: “karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.”.
Bdk. Mark 5:9 - “Kemudian Ia bertanya kepada orang itu: ‘Siapa namamu?’ Jawabnya: ‘Namaku Legion, karena kami banyak.’”.
Barclay: “A legion was a Roman regiment of 6,000 troops.” [= Satu legion adalah suatu resimen Romawi dari 6000 tentara.].
b) Setan itu kuat.
Sebutan ‘pemerintah’, ‘penguasa’, ‘penghulu’ dalam ay 12 menunjukkan kuasanya yang besar. Setan itu ex malaikat. Mari lihat ayat ini bagaimana kekuatan / kuasa dari malaikat.
Kej 19:9-11 - “(9) Tetapi mereka berkata: ‘Enyahlah!’ Lagi kata mereka: ‘Orang ini datang ke sini sebagai orang asing dan dia mau menjadi hakim atas kita! Sekarang kami akan menganiaya engkau lebih dari pada kedua orang itu!’ Lalu mereka mendesak orang itu, yaitu Lot, dengan keras, dan mereka mendekat untuk mendobrak pintu. (10) Tetapi kedua orang itu mengulurkan tangannya, menarik Lot masuk ke dalam rumah, lalu menutup pintu. (11) Dan mereka membutakan mata orang-orang yang di depan pintu rumah itu, dari yang kecil sampai yang besar, sehingga percumalah orang-orang itu mencari-cari pintu.”.
c) Setan itu jahat.
Kata-kata ‘gelap’ dan ‘roh-roh jahat’ (ay 12) dan kata-kata ‘si jahat’ (ay 16) jelas menunjukkan hal itu.
Penerapan: Tetapi setan yang jahat itu bisa berpura-pura sedemikian rupa sehingga manusia menganggapnya sebagai baik. Misalnya dalam bekerja di dalam seorang dukun. Apakah saudara menganggap dukun yang menyembuhkan dengan kekuatan ‘white magic’ adalah sesuatu yang baik? Ingat semua setan jahat!!
d) Setan itu cerdik / lihai.
Kata-kata ‘tipu muslihat Iblis’ (ay 11) menunjukkan hal itu.
John Stott: “Thirdly, they are cunning. Paul writes here of ‘the wiles of the devil’ (verse 11), ... It is because the devil seldom attacks openly, preferring darkness to light, that when he transforms himself into ‘an angel of light’ we are caught unsuspecting. He is a dangerous wolf, but enters Christ’s flock in the disguise of a sheep. Sometimes he roars like a lion, but more often is as subtle as a serpent. We must not imagine, therefore, that open persecution and open temptation to sin are his only or even his commonest weapons; he prefers to seduce us into compromise and deceive us into error. Significantly this same word ‘wiles’ is used in 4:14 of false teachers and their crafty tricks.” [= Ketiga, mereka cerdik / licik. Paulus menulis di sini tentang ‘tipu muslihat Iblis’ (ay 11), ... Itu adalah karena Iblis jarang menyerang secara terbuka, lebih memilih kegelapan dari terang, sehingga pada waktu ia mengubah dirinya sendiri menjadi ‘malaikat terang’ kita diserang / dijebak secara tak terduga. Ia adalah seekor serigala yang berbahaya, tetapi memasuki kawanan domba Kristus dalam penyamaran dari seekor domba. Kadang-kadang ia mengaum seperti seekor singa, tetapi lebih sering ia secerdik seekor ular. Karena itu, kita tidak boleh membayangkan bahwa penganiayaan terbuka dan pencobaan terbuka kepada dosa adalah satu-satunya senjatanya atau bahkan senjatanya yang paling umum; ia lebih memilih untuk membujuk kita ke dalam kompromi dan menipu kita ke dalam kesalahan. Secara menyolok kata ‘tipu muslihat’ yang sama ini digunakan dalam 4:14 tentang guru-guru palsu dan trik-trik licik mereka.].
2Kor 11:14 - “Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblispun menyamar sebagai malaikat Terang.”.
Mat 7:15 - “‘Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.”.
1Pet 5:8 - “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.”.
Ef 4:14 - “sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan,”.
Ilustrasi: “Dodolan Bedes”.
Once upon a time in a village, a man
appeared and announced to the
villagers that he would buy monkeys for $10 each.
The villagers seeing that there were many monkeys around, went out to
the forest, and started catching them. The man bought thousands at $10
and as supply started to diminish, the villagers stopped their effort.
He further announced that he would now buy at $20. This renewed the
efforts of the villagers and they started catching monkeys again.
Soon the supply diminished even further and people started going back
to their farms. The offer increased to $25 each and the supply of
monkeys became so little that it was an effort to even see a monkey,
let alone catch it!
The man now announced that he would buy monkeys at $50 ! However,
since he had to go to the city on some business, his assistant would
now buy on behalf of him.
In the absence of the man, the assistant told the villagers. 'Look at
all these monkeys in the big cage that the man has collected. I will
sell them to you at $35 and when the man returns from the city, you
can sell them to him for $50 each.'
The villagers rounded up with all their savings and bought all the
monkeys. Then they never saw the man nor his assistant, only monkeys
everywhere!
Saya tak menterjemahkan tetapi menceritakan secara bebas saja.
Di suatu desa yang banyak monyetnya, muncul seseorang, yang berkata kepada penduduk desa bahwa ia mau membeli satu monyet seharga $ 10. Orang-orang desa itu, yang melihat banyak monyet, lalu menangkapi dan menjual kepada orang itu, dan orang itu membeli ribuan monyet seharga $ 10 per ekor.
Tetapi lalu monyet-monyet tinggal sedikit sehingga makin sukar ditangkap dan penduduk desa tak mau mengangkap lagi. Orang itu lalu menaikkan harga, dan ia mau membeli seharga $ 20 per ekor, sehingga orang-orang desa berusaha menangkap monyet lagi dan menjualnya kepada orang itu. Tapi akhirnya monyet yang tersisa begitu sedikit sehingga sekalipun orang itu menaikkan harga monyet menjadi $ 25 orang-orang desa itu tetap tak bisa menangkap monyet.
Lalu orang itu mengumumkan bahwa ia menaikkan lagi harga monyet menjadi $ 50 per ekor. Tetapi karena ia ada urusan bisnis di kota, maka asistennya akan mengurus pembelian monyet yang berhasil ditangkap.
Pada saat orang itu tak ada si asisten berkata kepada orang-orang desa: ‘Lihat kandang besar penuh monyet itu. Aku akan menjual monyet-monyet itu kepada kamu dengan harga $ 35, dan nanti kamu bisa menjual kepada majikanku seharga $ 50!’. Lalu orang-orang desa itu mengumpulkan semua uang simpanan mereka dan membeli semua monyet-monyet itu, dan menunggu orang itu kembali.
Tetapi baik orang itu maupun asistennya tak pernah terlihat lagi. Yang terlihat hanya monyet, monyet dimana-mana!
Cerita yang sangat bagus untuk menunjukkan kelicikan setan dalam bekerja untuk menipu!
John Stott: “In Paul’s characterization of them, then, the powers of darkness are powerful, wicked and cunning. How can we expect to stand against the assaults of such enemies? It is impossible. We are far too weak and too ingenuous. Yet many - if not most - of our failures and defeats are due to our foolish self-confidence when we either disbelieve or forget how formidable our spiritual enemies are.” [= Jadi, dalam penggambaran Paulus tentang mereka, kuasa-kuasa dari kegelapan adalah kuat, jahat, dan cerdik / licik. Bagaimana kita bisa berharap untuk bertahan terhadap serangan-serangan dari musuh-musuh seperti itu? Itu mustahil. Kita jauh terlalu lemah dan terlalu jujur / sederhana. Tetapi banyak - jika bukan kebanyakan - dari kegagalan-kegagalan dan kekalahan-kekalahan kita disebabkan karena keyakinan yang bodoh kepada diri sendiri pada waktu kita, atau tidak percaya, atau lupa, bagaimana hebatnya musuh-musuh rohani kita.].
5) Menghadapi musuh seperti itu, bisakah kita menang?
Ay 11,13: “(11) Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; ... (13) Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu.”.
Kata-kata ‘dapat bertahan’ (ay 11) dan ‘dapat mengadakan perlawanan ... dan tetap berdiri’ (ay 13), secara implicit menunjukkan bahwa kita bisa menang!! Bagaimana caranya? Singkatnya, bersandar pada Tuhan dan kekuatanNya, dan menggunakan perlengkapan senjata yang Ia sediakan. Detailnya akan kita bahas dalam pembahasan yang akan datang.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali