(Jl. Dinoyo 19b, lantai 3)
Minggu, tanggal 28 Februari 2010, pk 17.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
(Telpon: 7064-1331 / 6050-1331)
Kesetiaan
Allah vs kesetiaan manusia
II Timotius
2:11-13
2Tim 2:11-13 - “(11) Benarlah perkataan ini: ‘Jika kita mati
dengan Dia, kitapun akan hidup dengan Dia; (12) jika kita bertekun, kitapun
akan ikut memerintah dengan Dia; jika kita menyangkal Dia, Diapun akan
menyangkal kita; (13) jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak
dapat menyangkal diriNya.’”.
I) Kesetiaan Allah / Yesus.
Allah
/ Yesus digambarkan Alkitab sebagai setia. Dalam hal apa saja?
Ibr
2:17 - “Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan
saudara-saudaraNya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang
setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa”.
1Kor 10:13
- “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan
biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu
Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu.
Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu
dapat menanggungnya”.
Maz 119:75
- “Aku tahu, ya TUHAN, bahwa
hukum-hukumMu adil, dan bahwa Engkau telah menindas aku dalam kesetiaan”.
Fil 1:6
- “Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan
yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari
Kristus Yesus”.
1Kor
1:8-9 - “(8) Ia juga akan meneguhkan kamu sampai kepada kesudahannya,
sehingga kamu tak bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus. (9) Allah, yang
memanggil kamu kepada persekutuan dengan AnakNya Yesus Kristus, Tuhan kita,
adalah setia”.
Kalau
Allah itu setia, bagaimana dengan kita / orang-orang percaya? Mari kita lihat
text kita sekali lagi.
2Tim
2:11-13 - “(11) Benarlah perkataan ini: ‘Jika kita mati dengan Dia,
kitapun akan hidup dengan Dia; (12) jika kita bertekun, kitapun akan ikut
memerintah dengan Dia; jika kita menyangkal Dia, Diapun akan menyangkal kita;
(13) jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal
diriNya.’”.
Ay 11-12a
membicarakan kesetiaan kita, sedangkan ay 12b-13 membicarakan
ketidak-setiaan kita; masing-masing dengan respons / tanggapan Allah / Yesus
tentang sikap kita itu.
II) Ketidak-setiaan kita dan akibatnya
(ay 12b-13).
1)
‘Jika kita menyangkal Dia,
Diapun akan menyangkal kita’ (ay 12b).
a)
Ini penyangkalan yang bersifat permanen.
Lenski
mengatakan bahwa kata ‘menyangkal Dia’ menunjuk pada penyangkalan yang bersifat
permanen, bukan penyangkalan sementara, terhadap mana orangnya lalu bertobat,
seperti dalam kasus penyangkalan Petrus.
Lenski:
“Permanent denial is referred to; Peter repented of his denial” (=
Penyangkalan yang permanen yang ditunjuk; Petrus
bertobat dari penyangkalannya) - hal 795.
b)
Macam-macam cara melalui mana kita bisa menyangkal Kristus.
The
Biblical Illustrator (New Testament): “In
what way can we deny Christ? Some deny Him openly as scoffers do, ... Others do
this wilfully and wickedly in a doctrinal way, as the Arians and Socinians do,
who deny His deity: those who deny His atonement, who rail against the
inspiration of His Word, these come under the condemnation of those who deny
Christ. There is a way of denying Christ without even speaking a word, and this
is the more common. In the day of blasphemy and rebuke, many hide their heads”
(= Dalam hal apa kita bisa menyangkal Kristus? Sebagian
orang menyangkal Dia secara terbuka seperti dilakukan pengejek-pengejek, ...
Orang-orang lain melakukan ini dengan sengaja dan dengan jahat dalam suatu cara
doktrinal, seperti yang dilakukan oleh orang-orang Arian dan Socinian, yang
menyangkal keallahanNya: mereka yang menyangkal penebusanNya, yang mengejek /
mencemooh terhadap pengilhaman dari FirmanNya, orang-orang ini datang di bawah
penghukuman dari mereka yang menyangkal Kristus. Ada suatu cara untuk menyangkal
Kristus bahkan tanpa mengatakan sepatah katapun, dan ini adalah yang lebih umum.
Pada saat penghujatan dan kemarahan, banyak orang menyembunyikan kepala mereka).
c)
Bahaya / resiko dari penyangakalan kita terhadap Dia.
Matthew
Henry: “It
is at our peril if we prove unfaithful to him: If we deny him, he also will deny
us. If we deny him before man, he will deny us before his Father, Matt 10:33.
And that man must needs be for ever miserable whom Christ disowns at last”
(= Merupakan resiko kita jika kita terbukti tidak setia
kepadaNya: Jika kita menyangkalNya, Ia juga akan menyangkal kita. Jika kita
menyangkalNya di depan manusia, Ia akan menyangkal kita di depan BapaNya, Mat
10:33. Dan orang yang tidak diakui oleh Kristus pada akhirnya itu pasti akan
menyedihkan / sengsara selama-lamanya).
The
Biblical Illustrator (New Testament): “In
musing over the very dreadful sentence which closes my text, ‘He also will
deny us,’ I was led to think of various ways in which Jesus will deny us. He
does this sometimes on earth. You have read, I Suppose, the death of Francis
Spira. If you have ever read it, you never can forget it to your dying day.
Francis Spira knew the truth; he was a reformer of no mean standing; but when
brought to death, out of fear, he recanted. In a short time he fell into
despair, and suffered hell upon earth. His shrieks and
exclamations were so horrible that their record is almost too terrible for
print. His doom was a warning to the age in which he lived. Another instance is
narrated by my predecessor, Benjamin Keach, of
one who, during Puritanic times, was very earnest for Puritanism; but
afterwards, when times of persecution arose, forsook his profession. The scenes
at his deathbed were thrilling and terrible. He declared that though he sought
God, heaven was shut against him; gates of brass seemed to be in his way, he was
given up to overwhelming despair. At intervals he cursed, at other
intervals he prayed, and so perished without hope. If we deny Christ, we may be
delivered to such a fate” (= Dalam merenungkan
tentang kalimat yang sangat menakutkan yang mengakhiri text saya, ‘Ia juga
akan menyangkal kita’, saya dibimbing untuk berpikir tentang bermacam-macam
jalan dalam mana Yesus akan menyangkal kita. Kadang-kadang Ia melakukannya dalam
dunia ini. Mungkin engkau telah membaca tentang kematian dari Francis Spira.
Jika engkau pernah membacanya, engkau tidak pernah bisa melupakannya sampai saat
kematianmu. Francis Spira tahu / mengenal kebenaran; ia adalah seorang
reformator yang tidak rendah kedudukannya; tetapi pada waktu ia dibawa pada
kematian, karena takut, ia menarik kembali kata-katanya / mengaku salah. Dalam
waktu yang singkat ia jatuh ke dalam keputus-asaan, dan mengalami neraka di
bumi. Jeritan / pekikan dan seruannya begitu mengerikan sehingga catatan mereka
hampir terlalu mengerikan untuk dicetak. Ajalnya merupakan suatu peringatan pada
jaman dalam mana ia hidup. Contoh yang lain diceritakan oleh pendahulu saya,
Benjamin Keach, tentang seseorang, yang pada jaman Puritan, sangat
bersungguh-sungguh untuk Puritanisme; tetapi belakangan, pada waktu penganiayaan
muncul, meninggalkan pengakuannya. Pemandangan pada ranjang kematiannya
menggetarkan hati dan mengerikan. Ia menyatakan bahwa sekalipun ia mencari
Allah, surga tertutup terhadap dia; pintu-pintu gerbang dari kuningan
kelihatannya ada di jalannya, ia diserahkan pada keputus-asaan yang sangat
besar. Pada waktu-waktu tertentu ia mengutuk, pada waktu-waktu yang lain ia
berdoa, dan demikianlah ia mati tanpa pengharapan. Jika kita menyangkal Kristus,
kita bisa diserahkan pada nasih yang seperti itu).
Catatan:
Kedua kutipan di atas dari The Biblical Illustrator ini diberikan oleh Charles Haddon Spurgeon.
2)
‘Jika kita tidak setia, Dia
tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diriNya’ (ay 13).
KJV:
‘If we believe not, yet
he abideth faithful: he cannot deny himself’
(= Jika kita tidak percaya, Ia tetap setia: Ia
tidak bisa menyangkal diriNya sendiri).
RSV:
‘if we are faithless, he remains
faithful - for he cannot deny himself’ (= Jika
kita tidak beriman / tidak setia, Ia tetap setia - karena Ia tidak bisa
menyangkal diriNya sendiri). NIV/NASB ≈
RSV.
Kata
Yunani yang digunakan adalah APISTOUMEN, yang berasal dari kata dasar APISTEO,
yang menurut Bible Works 7 bisa diartikan ‘tidak percaya’ atau ‘tidak
setia’. Mungkin itu sebabnya RSV/NIV/NASB sengaja menterjemahkan ‘faithless’, yang bisa diartikan sebagai ‘tidak beriman /
tidak mempunyai iman’ ataupun ‘tidak setia’ (kontras dengan ‘faithful’ / setia).
Problem
dari ayat ini adalah, pada waktu dikatakan ‘Dia tetap setia’, maksudnya
‘Dia tetap setia pada apa / kepada siapa?’ Ada 2 penafsiran tentang
bagian ini:
a)
Ia tetap setia kepada diriNya, pada janji-janjiNya maupun
ancaman-ancamanNya.
Matthew
Henry: “If
we believe not, yet he abideth faithful; he cannot deny himself. He is faithful
to his threatenings, faithful to his promises; neither one nor the other shall
fall to the ground, no, not the least, jot nor tittle of them. If we be faithful
to Christ, he will certainly be faithful to us. If we be false to him, he will
be faithful to his threatenings: he cannot deny himself, cannot recede from any
word that he hath spoken, for he is yea, and amen, the faithful witness. ... If
we deny him, out of fear, or shame, or for the sake of some temporal advantage,
he will deny and disown us, and will not deny himself, but will continue
faithful to his word when he threatens as well as when he promises” (= Jika
kita tidak percaya, Ia tetap setia; Ia tidak bisa menyangkal diriNya sendiri. Ia
setia pada ancaman-ancamanNya, setia pada janji-janjiNya; tidak ada yang satu
maupun yang lain yang jatuh ke tanah, tidak, tidak yang terkecil, iota atau
titik / coretan dari mereka. Jika kita setia kepada Kristus, Ia pasti akan setia
kepada kita. Jika kita tidak setia kepada Dia, Ia akan setia pada
ancaman-ancamanNya: Ia tidak bisa menyangkal diriNya sendiri, tidak bisa mundur
dari firman manapun yang telah Ia katakan, karena Ia adalah ya dan amin, saksi
yang setia. ... Jika kita menyangkalNya, karena takut, atau malu, atau demi
suatu keuntungan sementara, Ia akan menyangkal kita dan tidak mengakui kita, dan
tidak akan menyangkal diriNya sendiri, tetapi akan terus setia pada firmanNya
pada waktu Ia mengancam maupun pada waktu Ia berjanji).
2Kor
1:20 - “Sebab Kristus adalah
‘ya’ bagi semua janji Allah. Itulah sebabnya oleh Dia kita
mengatakan ‘Amin’ untuk memuliakan Allah”.
Wah
1:5 - “dan dari Yesus Kristus,
Saksi yang setia, yang pertama bangkit dari antara orang mati dan yang
berkuasa atas raja-raja bumi ini. Bagi Dia, yang mengasihi kita dan yang telah
melepaskan kita dari dosa kita oleh darahNya-”.
Wah
3:14 - “‘Dan tuliskanlah kepada
malaikat jemaat di Laodikia: Inilah firman dari Amin, Saksi yang setia dan
benar, permulaan dari ciptaan Allah:”.
Adam
Clarke: “‘If
we believe not.’ Should we deny the faith and apostatize, he is the same, as
true to his threatenings as to his promises; he cannot deny - act contrary to,
himself” (= ‘Jika kita tidak percaya’. Kalau
kita menyangkal iman dan murtad, Ia tetap sama, benar berkenaan dengan
ancamanNya seperti pada janjiNya; Ia tidak bisa menyangkal - bertindak
bertentangan dengan, diriNya sendiri).
Barnes’
Notes: “‘If
we believe not, yet he abideth faithful.’ This cannot mean that, if we live in
sin, he will certainly save us, as if he had made any promise to the elect, or
formed any purpose that he would save them, whatever might be their conduct;
because: (1) he had just said that if we deny him he will deny us; and (2) there
is no such promise in the Bible, and no such purpose has been formed. The
promise is, that he that is a believer shall be saved, and there is no purpose
to save any but such as lead holy lives. The meaning must be, that if we are
unbelieving and unfaithful, Christ will remain true to his word, and we cannot
hope to be saved. The object of the apostle evidently is, to excite Timothy to
fidelity in the performance of duty, and to encourage him to bear trials, by the
assurance that we cannot hope to escape if we are not faithful to the cause of
the Saviour. This interpretation accords with the design which he had in view”
[= ‘Jika kita tidak percaya, Ia tetap setia’. Ini
tidak bisa berarti bahwa jika kita hidup dalam dosa, Ia akan tetap menyelamatkan
kita, seakan-akan Ia telah membuat janji apapun kepada orang-orang pilihan, atau
membentuk tujuan / rencana apapun bahwa Ia akan menyelamatkan mereka,
bagaimanapun tingkah laku mereka; karena: (1) Ia baru saja mengatakan bahwa jika
kita menyangkalNya Ia akan menyangkal kita; dan (2) Tidak ada janji seperti itu
dalam Alkitab, dan tidak ada tujuan / rencana seperti itu telah dibentuk.
Janjinya adalah, bahwa ia yang adalah seorang percaya akan diselamatkan, dan
tidak ada rencana / tujuan untuk menyelamatkan siapapun kecuali orang-orang
seperti itu yang menjalani kehidupan yang kudus. Artinya haruslah, bahwa jika
kita tidak percaya dan tidak setia, Kristus akan tetap benar pada firmanNya, dan
kita tidak dapat berharap untuk diselamatkan. Tujuan dari sang rasul jelas
adalah, untuk menggairahkan Timotius pada kesetiaan dalam pelaksanaan kewajiban,
dan untuk mendorongnya untuk memikul / menahan pencobaan-pencobaan, dengan suatu
keyakinan bahwa kita tidak bisa berharap untuk lolos jika kita tidak setia pada
perkara dari sang Juruselamat. Penafsiran ini sesuai dengan rencangan yang ada
dalam pandangannya].
Calvin: “‘If we are unbelieving, he remaineth faithful.’ The
meaning is, that our base desertion takes nothing from the Son of God or from
his glory; because, having everything in himself, he stands in no need of our
confession. As if he had said, ‘Let them desert Christ who will, yet they take
nothing from him; for when they perish, he remaineth unchanged.’” (= ‘Jika kita tidak percaya,
Ia tetap setia’. Artinya adalah, bahwa pembelotan kita yang hina tidak
mengambil apapun dari Anak Allah atau dari kemuliaanNya; karena, mempunyai
segala sesuatu dalam diriNya sendiri, Ia berdiri tanpa kebutuhan apapun tentang
pengakuan kita. Seakan-akan ia berkata, ‘Biarlah mereka yang mau, meninggalkan
Kristus, tetapi mereka tidak mengambil apapun dari Dia; karena pada waktu mereka
binasa, Ia tetap tidak berubah’.).
IVP
Bible Background Commentary: “Although
God’s character is immutable, his dealings with people depend on their
response to him (2 Chron 15:2; Ps 18:25-27). The faithfulness of God to his
covenant is not suspended by the breach of that covenant by the unfaithful;
but those individuals who break his covenant are not saved (see comment on Rom
3:3)” [= Sekalipun karakter Allah tidak berubah, tetapi penangananNya terhadap
umatNya tergantung pada tanggapan mereka kepada Dia (2Taw 15:2; Maz 18:26-28).
Kesetiaan Allah pada perjanjianNya tidak ditangguhkan / dihentikan oleh
pelanggaran terhadap perjanjian itu oleh orang-orang yang tidak setia; tetapi
pribadi-pribadi yang melanggar perjanjianNya itu tidak diselamatkan
(lihat komentar tentang Ro 3:3)].
2Taw
15:2 - “Ia pergi menemui Asa dan berkata kepadanya: ‘Dengarlah
kepadaku, Asa dan seluruh Yehuda dan Benyamin! TUHAN beserta dengan kamu
bilamana kamu beserta dengan Dia. Bilamana kamu mencariNya, Ia berkenan
ditemui olehmu, tetapi bilamana kamu meninggalkanNya, kamu akan
ditinggalkanNya”.
Maz
18:26-28 - “(26) Terhadap orang yang setia Engkau berlaku setia, terhadap
orang yang tidak bercela Engkau berlaku tidak bercela, (27) terhadap orang
yang suci Engkau berlaku suci, tetapi terhadap orang yang bengkok Engkau
berlaku belat-belit. (28) Karena Engkaulah yang menyelamatkan bangsa yang
tertindas, tetapi orang yang memandang dengan congkak Kaurendahkan”.
Ro 3:3-4
- “(3) Jadi bagaimana, jika di antara mereka ada yang tidak setia,
dapatkah ketidaksetiaan itu membatalkan kesetiaan Allah? (4) Sekali-kali
tidak! Sebaliknya: Allah adalah benar, dan semua manusia pembohong, seperti
ada tertulis: ‘Supaya Engkau ternyata benar dalam segala firmanMu, dan
menang, jika Engkau dihakimi.’”.
IVP
Bible Background Commentary (tentang Ro 3:3):
“God’s
faithfulness to his covenant was good long-term news for Israel as a whole; as
in the Old Testament (e.g., in Moses’ generation, contrary to some Jewish
tradition), however, it did not save individual Israelites who broke covenant
with him” [= Kesetiaan Allah pada perjanjianNya
merupakan kabar baik jangka panjang bagi Israel sebagai suatu keseluruhan;
seperti dalam Perjanjian Lama (misalnya, dalam generasi Musa, bertentangan
dengan beberapa tradisi Yahudi), tetapi itu tidak menyelamatkan
individu-individu Israel yang melanggar perjanjian dengan Dia].
William
Hendriksen: “faithfulness on his part means carrying out his threats
(Matt. 10:33) as well as his promises (Matt. 10:32)” [= kesetiaan
pada pihakNya berarti melaksanakan ancaman-ancamanNya (Mat 10:33) maupun
janji-janjiNya (Mat 10:32)] - hal 260.
Mat
10:32-33 - “(32) Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku
juga akan mengakuinya di depan BapaKu yang di sorga. (33) Tetapi barangsiapa
menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan BapaKu
yang di sorga.’”.
b)
Ia tetap setia kepada kita.
Bible
Knowledge Commentary: “If
we are faithless, He will remain faithful speaks not of the apostate, but of a
true child of God who nevertheless proves unfaithful (cf. 2 Tim 1:15). Christ
cannot disown Himself; therefore He will not deny even unprofitable members of
His own body. True children of God cannot become something other than children,
even when disobedient and weak. Christ’s faithfulness to Christians is not
contingent on their faithfulness to Him” [= Kata-kata
‘Jika kita tidak beriman / tidak setia, Ia akan tetap setia’, tidak
berbicara tentang seorang yang murtad, tetapi tentang seorang anak Allah yang
sejati, yang bagaimanapun terbukti tidak setia (bdk. 2Tim 1:15). Kristus tidak
bisa tidak mengakui diriNya sendiri; karena itu Ia tidak akan menyangkal bahkan
anggota-anggota tubuhNya sendiri yang tidak menguntungkan. Anak-anak Allah yang
sejati tidak bisa menjadi sesuatu yang lain dari anak-anak, bahkan pada saat
tidak taat dan lemah. Kesetiaan Kristus kepada orang-orang Kristen tidaklah
tergantung pada kesetiaan mereka kepada Dia].
2Tim
1:15 - “Engkau tahu bahwa semua mereka yang di daerah Asia Kecil
berpaling dari padaku; termasuk Figelus dan Hermogenes”.
The
Bible Exposition Commentary: New Testament:
“But
Paul makes it clear (2 Tim 2:13) that even our own doubt and unbelief cannot
change Him: ‘He abideth faithful; He cannot deny Himself.’ We do not put
faith in our faith or in our feelings because they will change and fail. We put
our faith in Christ. The great missionary, J. Hudson Taylor, often said, ‘It
is not by trying to be faithful, but in looking to the Faithful One, that we win
the victory.’” [= Tetapi Paulus membuat jelas
(2Tim 2:13) bahwa bahkan keraguan dan ketidak-percayaan kita sendiri tidak bisa
mengubahNya: ‘Ia tetap setia; Ia tidak bisa menyangkal diriNya sendiri’.
Kita tidak beriman pada iman kita atau pada perasaan kita karena hal-hal itu
akan berubah dan gagal. Kita beriman kepada Kristus. Misionaris yang besar /
agung, J. Hudson Taylor, sering berkata, ‘Bukan dengan berusaha menjadi setia,
tetapi dengan memandang kepada Yang Setia, maka kita memenangkan kemenangan’.].
Wilmington’s
Bible Handbook (Bible Survey): “2:12-13
can seem contradictory; this is one possible interpretation: (1) If we
‘deny’ Christ, that is, if we deny him first place in our lives, he will
also ‘deny’ us, that is, we will suffer the loss of our rewards at his
judgment seat (see exposition on 1 Cor 3:10-17). (2) But no matter how
‘unfaithful’ we are, that is, no matter how much we fail him, he will remain
‘faithful’ and will never ‘deny himself,’ that is, he will never go back
on his promise to save us (see 2:19; 2 Cor 1:19-22; Eph 1:13-14; 1 Peter
1:3-5)” [= 2:12-13 bisa kelihatan bertentangan;
ini merupakan salah satu penafsiran yang memungkinkan: (1) Jika kita
‘menyangkal’ Kristus, artinya, jika kita menyangkal / menolak untuk
memberikan Dia tempat pertama dalam hidup kita, Ia juga akan ‘menyangkal’
kita, artinya, kita akan mengalami kehilangan pahala kita pada kursi
penghakimanNya (lihat exposisi tentang 1Kor 3:10-17). (2) Tetapi tak peduli
bagaimana ‘tidak setianya’ kita, artinya, tak peduli bagaimana banyaknya
kita melupakan / melalaikan Dia, Ia akan tetap ‘setia’ dan tidak akan pernah
‘menyangkal diriNya sendiri’, artinya, Ia tidak akan pernah mundur dari
janjiNya untuk menyelamatkan kita (lihat 2:19; 2Kor 1:19-22; Ef 1:13-14;
1Pet 1:3-5].
2Tim 2:19 - “Tetapi dasar yang diletakkan
Allah itu teguh dan meterainya ialah: ‘Tuhan mengenal siapa kepunyaanNya’
dan ‘Setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan
kejahatan.’”.
2Kor 1:19-22 - “(19) Karena Yesus
Kristus, Anak Allah, yang telah kami beritakan di tengah-tengah kamu, yaitu
olehku dan oleh Silwanus dan Timotius, bukanlah ‘ya’ dan ‘tidak’,
tetapi sebaliknya di dalam Dia hanya ada ‘ya’. (20) Sebab Kristus adalah
‘ya’ bagi semua janji Allah. Itulah sebabnya oleh Dia kita mengatakan
‘Amin’ untuk memuliakan Allah. (21) Sebab Dia yang telah meneguhkan
kami bersama-sama dengan kamu di dalam Kristus, adalah Allah yang telah
mengurapi, (22) memeteraikan tanda milikNya atas kita dan yang memberikan
Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan
untuk kita”.
Ef 1:13-14 - “(13) Di dalam Dia kamu
juga - karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu
- di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus,
yang dijanjikanNya itu. (14) Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita
sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita
milik Allah, untuk memuji kemuliaanNya”.
1Pet 1:3-5 - “(3) Terpujilah Allah dan
Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmatNya yang besar telah
melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati,
kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, (4) untuk menerima suatu bagian
yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu,
yang tersimpan di sorga bagi kamu. (5) Yaitu kamu, yang dipelihara dalam
kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang
telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir”.
UBS
New Testament Handbook Series: “‘Faithless’
is better translated in English as ‘unfaithful’ (compare TEV and CEV), with
Christ as the implicit object of the unfaithfulness. This would make clear that
‘unfaithful’ is parallel to ‘deny’ in the previous verse,
since to disown Christ is equivalent to being unfaithful to him. So one may
translate ‘If we are unfaithful to him’ or ‘If we turn our backs on
him.’ The second part of this verse is not what we expect it to be,
considering the previous verse. So here we would have expected ‘he will also
be unfaithful.’ In fact some scholars have suggested that the meaning of ‘he
remains faithful’ is that Christ remains faithful to his sense of justice and
will therefore pronounce judgment on those who are unfaithful to him. ...
Attractive as this explanation may be, it is more likely that the object of
faithfulness here is not Christ but the believers, that is, ‘he remains
faithful to us.’ ‘He cannot be false to himself’ then means that
Christ cannot turn his back on his true nature as the Savior who remains
faithful to those who trust in him” [= Kata ‘faithless’
lebih baik diterjemahkan dalam bahasa Inggris sebagai ‘tidak setia’
(bandingkan dengan TEV dan CEV), dengan Kristus sebagai obyek implicit / tidak
langsung dari ketidak-setiaan. Ini akan membuat jelas bahwa ‘tidak setia’
paralel dengan ‘menyangkal’ dalam ayat sebelumnya, karena menyangkal / tidak
mengakui Kristus adalah sama dengan tidak setia kepadaNya. Jadi seseorang bisa
menterjemahkan ‘Jika kita tidak setia kepadaNya’ atau ‘Jika kita
membelakangi Dia’. Bagian kedua dari ayat ini tidaklah seperti yang kita
harapkan, kalau kita mempertimbangkan ayat sebelumnya. Jadi, di sini kita akan
mengharapkan ‘Ia juga akan tidak setia’. Dalam faktanya beberapa sarjana
telah mengusulkan bahwa arti dari ‘Ia tetap setia’ adalah bahwa Kristus
tetap setia pada perasaan / pendirian tentang keadilan dan karena itu Ia akan
mengumumkan penghakiman kepada mereka yang tidak setia kepadaNya. ... Sekalipun
penjelasan ini menarik, adalah lebih memungkinkan bahwa obyek dari kesetiaan di
sini bukanlah Kristus tetapi orang-orang percaya, yaitu, ‘Ia tetap setia kepada
kita’. Jadi, ‘Ia tidak bisa tidak setia kepada diriNya sendiri’
artinya adalah bahwa Kristus tidak bisa membelakangi sifat dasarNya yang sejati
sebagai Juruselamat yang tetap setia kepada mereka yang percaya kepadaNya].
Wuest’s
Word Studies From the Greek New Testament:
“The
words, ‘believe not,’ are apisteuo,
and refer here, not to the act of believing, but to unfaithfulness. ‘If
we are untrue to the Lord Jesus in our Christian lives,’ is the idea. He
abides faithful” (= Kata-kata ‘tidak percaya’
adalah APISTEUO, dan di sini menunjuk, bukan pada tindakan percaya,
tetapi pada ketidak-setiaan. ‘Jika kita tidak setia kepada Tuhan Yesus dalam
kehidupan Kristen kita’, adalah gagasannya. Ia tetap setia).
Catatan:
bagian yang saya garis-bawahi pasti ada kekurangannya. Maksudnya pasti adalah ‘bukan
pada tindakan tidak percaya’.
Yang
mana arti yang benar, tergantung dari apa arti dari kata-kata ‘Jika
kita tidak setia’. Pada waktu saya melihat dalam konkordansi, maka
kata-kata ‘tidak setia’ pada waktu ditujukan kepada manusia dalam
hubungannya dengan Allah, pada umumnya / hampir semua menunjukkan
ketidak-percayaan. Jadi, biasanya kata-kata ini ditujukan kepada orang yang
tidak percaya / orang kristen KTP.
Misalnya:
·
1Taw 10:13 - “Demikianlah
Saul mati karena perbuatannya yang tidak setia terhadap TUHAN, oleh
karena ia tidak berpegang pada firman TUHAN, dan juga karena ia telah meminta
petunjuk dari arwah”.
·
Maz 78:8 - “dan jangan
seperti nenek moyang mereka, angkatan pendurhaka dan pemberontak, angkatan yang
tidak tetap hatinya dan tidak setia jiwanya kepada Allah”.
Dalam
kasus dimana yang ‘tidak setia’ adalah orang yang tidak percaya / orang kristen
KTP, maka jelas tidak mungkin kita menafsirkan bahwa dalam keadaan seperti ini
Yesus akan tetap setia kepada mereka. Maka kita harus mengambil penafsiran
pertama, yaitu bahwa Ia tetap setia pada ancaman-ancaman dan janji-janjiNya.
Tetapi
kadang-kadang kata-kata ‘tidak setia’ ditujukan kepada orang percaya / orang kristen
yang sejati, yang sekalipun berusaha untuk taat / menyenangkan Tuhan, tetap
mengalami saat-saat dimana ia tidak / kurang setia, sehingga tidak mentaati
Tuhan.
Misalnya:
Ezr
9:2 - “Karena mereka telah mengambil isteri dari antara anak perempuan
orang-orang itu untuk diri sendiri dan untuk anak-anak mereka, sehingga
bercampurlah benih yang kudus dengan penduduk negeri, bahkan para pemuka dan
penguasalah yang lebih dahulu melakukan perbuatan tidak setia
itu.’”.
Ezr
9:4 - “Lalu berkumpullah kepadaku semua orang yang gemetar karena firman
Allah Israel, oleh sebab perbuatan tidak setia orang-orang buangan itu,
tetapi aku tetap duduk tertegun sampai korban petang”.
Ezr
10:2 - “Maka berbicaralah Sekhanya bin Yehiel, dari bani Elam, katanya kepada
Ezra: ‘Kami telah melakukan perbuatan tidak setia terhadap Allah
kita, oleh karena kami telah memperisteri perempuan asing dari antara penduduk
negeri. Namun demikian sekarang juga masih ada harapan bagi Israel”.
Ezr
10:6 - “Sesudah itu Ezra pergi dari depan rumah Allah menuju bilik Yohanan
bin Elyasib, dan di sana ia bermalam dengan tidak makan roti dan minum air,
sebab ia berkabung karena orang-orang buangan itu telah melakukan perbuatan tidak
setia”.
Ezr
10:10 - “Maka bangkitlah imam Ezra, lalu berkata kepada mereka: ‘Kamu telah
melakukan perbuatan tidak setia, karena kamu memperisteri perempuan
asing dan dengan demikian menambah kesalahan orang Israel”.
Sederetan
ayat dalam kitab Ezra ini menunjukkan bahwa orang-orang Israel itu tidak setia
dalam arti mereka jatuh ke dalam dosa (mengambil istri asing), tetapi
kelihatannya mereka adalah orang-orang percaya karena akhirnya mereka bertobat
dari dosa itu.
Tetapi
ayat yang paling jelas adalah ayat di bawah ini, karena ayat ini berbicara
tentang Musa dan Harun, yang pasti adalah orang percaya.
Ul
32:51 - “oleh sebab kamu telah berubah
setia terhadap Aku di tengah-tengah orang Israel, dekat mata air Meriba di
Kadesh di padang gurun Zin, dan oleh sebab kamu
tidak menghormati kekudusanKu di tengah-tengah orang Israel”.
Catatan:
Kata ‘kamu’ yang saya beri garis
bawah ganda ada dalam bentuk jamak, dan karena itu menunjuk bukan kepada Musa
saja, tetapi kepada Musa dan Harun.
Dalam
kasus seperti ini rasanya jauh lebih memungkinkan kalau kata-kata ‘Dia
tetap setia’ diberi obyek ‘orang percaya / orang Kristen’ (penafsiran
kedua). Jadi seluruh kalimat artinya menjadi, ‘Jika
kita (orang Kristen) tidak setia, Dia akan tetap setia (kepada kita)’. Ia
tidak akan membuang kita / memasukkan kita ke dalam neraka.
William
Barclay kelihatannya menggabungkan kedua arti di atas.
Barclay:
“Jesus Christ cannot vouch in eternity for a man who has refused to
have anything to do with him in time; but he is for ever true to the man who,
however much he has failed, has tried to be true to him” (= Yesus
Kristus tidak bisa menjamin dalam kekekalan bagi seseorang yang telah menolak
untuk mempunyai urusan apapun dengan Dia dalam waktu; tetapi Ia selama-lamanya
setia kepada orang yang bagaimanapun hebatnya ia telah gagal, telah berusaha
untuk setia kepada Dia) - hal 170.
III) Kesetiaan kita dan akibatnya /
pahalanya (ay 11,12a).
Ay
11-12a: “(11) Benarlah
perkataan ini: ‘Jika kita mati dengan Dia, kitapun akan hidup dengan Dia;
(12a) jika kita bertekun, kitapun akan ikut memerintah dengan Dia”.
KJV:
‘If we suffer’ (= Jika
kita menderita).
RSV/NIV/NASB:
‘if we endure’ (= Jika
kita bertahan / bertekun).
Kata
Yunani yang digunakan berarti bertahan / bertekun dalam penderitaan.
1)
Komentar tentang ay 11 - “Jika
kita mati dengan Dia, kitapun akan hidup dengan Dia”.
Matthew
Henry: “Those
who faithfully adhere to Christ and to his truths and ways, whatever it cost
them, will certainly have the advantage of it in another world: If we be dead
with him, we shall live with him, v. 11. If, in conformity to Christ, we be
dead to this world, its pleasures, profits, and honours, we shall go to live
with him in a better world, to be for ever with him. Nay, though we be called
out to suffer for him, we shall not lose by that. Those who suffer for Christ on
earth shall reign with Christ in heaven, v. 12” (= Mereka
yang dengan setia melekat pada Kristus dan pada kebenaran dan jalanNya, apapun
ongkosnya bagi mereka, pasti akan mendapatkan keuntungan darinya dalam dunia
yang lain: Jika kita mati dengan Dia, kita akan hidup dengan Dia, ay 11. Jika
dalam penyesuaian diri dengan Kristus, kita mati terhadap dunia ini,
kesenangan-kesenangannya, keuntungan-keuntungannya, kehormatan-kehormatannya,
kita akan pergi untuk hidup dengan Dia di dunia yang lebih baik, untuk berada
selama-lamanya dengan Dia. Tidak, sekalipun kita dipanggil untuk menderita bagi
Dia, kita tidak akan kehilangan / rugi oleh hal itu. Mereka yang menderita untuk
Kristus di bumi akan memerintah dengan Kristus di surga, ay 12).
Penerapan:
apakah kita memang mati terhadap diri kita sendiri, kesenangan-kesenangan kita,
keuntungan-keuntungan kita, kehormatan-kehormatan kita? Atau, sebaliknya, kita
lebih mengutamakan hal-hal itu dari Allah / Yesus sendiri?
2)
Komentar tentang ay 12a - “jika kita bertekun, kitapun akan ikut
memerintah dengan Dia”.
Lenski:
“‘Shall reign’ exceeds ‘shall live.’ This second paradox is just
as tremendous as the first. Here we ‘endure,’ literally, ‘remain under,’
others trample all over us; there we shall reign as royalties with no one above
us save Christ, and we are actually associated with him: sitting with him in his
throne as he sits in his Father’s (Rev. 3:21; 20:4,6)” [= ‘Akan
memerintah’ melebihi / melampaui ‘akan hidup’. Paradox yang kedua ini sama
hebat / dahsyatnya seperti yang pertama. Di sini kita ‘bertahan / bertekun’,
secara hurufiah, ‘tetap ada di bawah’, orang-orang lain menginjak-injak
kita; di sana kita akan memerintah sebagai keluarga raja tanpa ada siapapun di
atas kita kecuali Kristus, dan kita sungguh-sungguh bersatu dengan Dia: duduk
dengan Dia di takhtaNya seperti Ia duduk di takhta Bapa (Wah 3:21;
20:4,6)] - hal 794-795.
3)
Komentar tentang gabungan ay 11-12a - “Jika kita mati dengan Dia,
kitapun akan hidup dengan Dia; (12a) jika kita bertekun, kitapun akan ikut
memerintah dengan Dia”.
John Stott: “The
death with Christ which is here mentioned must refer, according to the context,
not to our death to sin through union with Christ in his death, but rather to
our death to self and to safety, as we take up the cross and follow Christ.
... That this is the meaning in the hymn fragments seems plain from the fact
that to ‘have died with Christ’ and to ‘endure’ are parallel
expressions. So the Christian life is depicted as a life of dying, a life of
enduring. Only if we share Christ’s death on earth, shall we share his life in
heaven. Only if we share his sufferings and endure, shall we share his reign in
the hereafter. For the road to life is death, and the road to glory suffering”
(= Kematian dengan Kristus yang disebutkan di sini
harus menunjuk, sesuai dengan kontextnya, bukan pada kematian kita terhadap dosa
melalui persatuan dengan Kristus dalam kematianNya, tetapi lebih pada
kematian kita terhadap diri dan keamanan kita sendiri, pada waktu kita memikul
salib dan mengikuti Kristus. ... Bahwa ini merupakan arti dalam potongan
nyanyian pujian ini kelihatan jelas dari fakta bahwa ‘telah mati dengan
Kristus’ dan ‘bertahan / bertekun’ merupakan ungkapan-ungkapan yang
paralel. Demikianlah kehidupan Kristen digambarkan sebagai suatu kehidupan dari
kematian, suatu kehidupan dari ketahanan / ketekunan. Hanya jika kita ikut ambil
bagian dalam kematian Kristus di dunia, maka kita akan ikut ambil bagian dalam
kehidupanNya di surga. Hanya jika kita ikut ambil bagian dalam
penderitaan-penderitaanNya dan bertahan / bertekun, maka kita akan ikut ambil
bagian dalam pemerintahanNya di alam baka. Karena jalan menuju kehidupan adalah
kematian, dan jalan menuju kemuliaan adalah penderitaan) - hal 63-64.
Tentang
hal ini saya ingin mengutip kata-kata William Barclay, yang dalam tafsirannya
tentang Yoh 3:14-15, memberikan komentar sebagai berikut: “There was a double lifting up in Jesus’s life - the lifting on the
Cross and the lifting into glory. And the two are inextricably connected. The
one could not have happened without the other. For Jesus the Cross was the way
to glory; had he refused it, had he evaded it, had he taken steps to escape it,
as he might so easily have done, there would have been no glory for him. It is
the same for us. We can, if we like, choose the easy way; we can, if we like,
refuse the cross that every Christian is called to bear; but if we do, we lose
the glory. It is an unalterable law of life that if there is no cross, there is
no crown” (= Ada peninggian dobel dalam kehidupan
Yesus - peninggian pada salib dan peninggian ke dalam kemuliaan. Dan keduanya
berhubungan secara tak bisa dilepaskan. Yang satu tidak akan bisa terjadi
tanpa yang lain. Untuk Yesus, salib adalah jalan menuju kemuliaan; andaikata Ia
menolaknya, andaikata ia mengambil langkah untuk menghindarinya, yang dengan
mudah bisa Ia lakukan, maka tidak akan ada kemuliaan bagi Dia. Sama halnya
dengan kita. Kita bisa, kalau kita mau, memilih jalan yang mudah; kita bisa,
kalau kita mau, menolak salib yang harus dipikul oleh setiap orang kristen;
tetapi kalau kita melakukan hal itu, kita kehilangan kemuliaan. Merupakan
suatu hukum kehidupan yang tidak bisa berubah bahwa kalau tidak ada salib, tidak
ada mahkota).
4)
Contoh orang yang rela ‘mati’ / menderita bagi Kristus, dan bertekun
dalam penderitaan itu.
The
Biblical Illustrator (New Testament): “Suffering
with Christ: - In the olden time when the gospel was preached in Persia, one
Hamedatha, a courtier of the king, having embraced the faith, was stripped of
all his offices, driven from the palace, and compelled to feed camels. This he
did with great content. The king passing by one day, saw his former favourite at
his ignoble work, cleaning out the camel’s stables. Taking pity upon him he
took him into his palace, clothed him with sumptuous apparel, restored him to
all his former honours, and made him sit at the royal table. In the midst of the
dainty feast, he asked Hamedatha to renounce his faith. The courtier, rising
from the table, tore off his garments with haste, left all the dainties behind
him, and said, ‘Didst thou think that for such silly things as these I would
deny my Lord and Master?’ and away he went to the stable to his ignoble work.
How honourable is all this!” [= Menderita dengan
Kristus: - Di jaman dulu pada waktu injil diberitakan di Persia, seorang bernama
Hamedatha, seorang anggota istana dari raja, setelah memeluk iman (Kristen),
ditelanjangi dari semua jabatannya, diusir dari istana, dan dipaksa untuk
memberi makan unta-unta. Ini ia lakukan dengan kepuasan / kesenangan yang besar.
Suatu hari sang raja lewat dan melihat orang yang tadinya ia senangi melakukan
pekerjaan yang hina / rendah itu, membersihkan kandang unta. Karena kasihan
kepadanya, ia membawanya ke dalam istananya, memakaianinya dengan pakaian yang
mewah, memulihkannya pada semua kehormatannya yang dulu, dan mendudukannya di
meja kerajaan. Di tengah-tengah pesta yang bergengsi, ia meminta Hamedatha untuk
meninggalkan imannya. Orang itu bangkit dari meja, merobek pakaiannya dengan
cepat, meninggalkan semua gengsi / martabat di belakangnya, dan berkata:
‘Apakah engkau pikir bahwa untuk hal-hal tolol seperti ini aku mau menyangkal
Tuhan dan Guruku?’ dan ia pergi ke kandang pada pekerjaannya yang hina /
rendah. Alangkah terhormatnya semua ini!].
Catatan:
kutipan dari The Biblical Illustrator ini diberikan oleh C. H. Spurgeon.
Kesimpulan / penutup.
Gereja
kita yang kecil ini baru berusia 3 tahun. Kalau kita bisa melewati 3 tahun ini,
itu pasti karena kesetiaan Allah / Yesus. Sekarang mari kita introspeksi tentang
kesetiaan kita selama 3 tahun ini. Misalnya:
·
Dalam kasih kepada Allah, mengutamakan Dia di atas segala sesuatu
(pekerjaan / uang / kesibukan apapun).
·
Dalam belajar Firman Tuhan (apa yang sering membuat saudara membolos dari
Pemahaman Alkitab?).
·
Dalam berbakti (apa yang sering membuat saudara membolos dari kebaktian?).
·
Dalam melayani Dia dan memberitakan Injil (apa yang membuat saudara
melayani / memberitakan Injil dengan cara yang tidak bertanggung jawab?).
·
Dalam berdoa (Persekutuan Doa yang baru diadakan 2-3 x terhenti;
mengapa?).
Maukah
mengambil suatu komitmen untuk setia / lebih setia kepadaNya dalam tahun-tahun
yang mendatang? Tuhan memberkati saudara sekalian.
-AMIN-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali