Pemahaman Alkitab

 

(online)

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

 

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

 

Selasa, tgl 22 Juli 2025, pk 18.30

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

FONDASI KRISTEN ii(22)

 

Sakramen(3)

 

5)  Orang yang dibaptis.

 

a)      Orang dewasa.

Syarat: orangnya percaya kepada Kristus (Kis 2:41  Kis 8:37  Kis 16:14-15  Kis 16:31-34).

 

Kis 2:41 - Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa..

 

Kis 8:37 - [Sahut Filipus: ‘Jika tuan percaya dengan segenap hati, boleh.’ Jawabnya: ‘Aku percaya, bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah.’].

 

Kis 16:14-15 - “(14) Seorang dari perempuan-perempuan itu yang bernama Lidia turut mendengarkan. Ia seorang penjual kain ungu dari kota Tiatira, yang beribadah kepada Allah. Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus. (15) Sesudah ia dibaptis bersama-sama dengan seisi rumahnya, ia mengajak kami, katanya: ‘Jika kamu berpendapat, bahwa aku sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, marilah menumpang di rumahku.’ Ia mendesak sampai kami menerimanya..

 

Kis 16:31-34 - “(31) Jawab mereka: ‘Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.’ (32) Lalu mereka memberitakan firman Tuhan kepadanya dan kepada semua orang yang ada di rumahnya. (33) Pada jam itu juga kepala penjara itu membawa mereka dan membasuh bilur mereka. Seketika itu juga ia dan keluarganya memberi diri dibaptis. (34) Lalu ia membawa mereka ke rumahnya dan menghidangkan makanan kepada mereka. Dan ia sangat bergembira, bahwa ia dan seisi rumahnya telah menjadi percaya kepada Allah..

 

Pendeta tidak bisa mengetahui apakah seseorang betul-betul percaya kepada Kristus atau tidak, dan karena itu pendeta membaptis berdasarkan pengakuan orang itu, bahwa ia percaya kepada Yesus. Perkecualian hanya pada kasus dimana terlihat dengan jelas bahwa orangnya belum sungguh-sungguh percaya, misalnya kalau ia masih menggunakan kuasa gelap. Dalam hal ini pendeta bisa menolak untuk membaptis, sekalipun orang itu mengaku percaya kepada Yesus dan mau dibaptis.

 

b)      Bayi / anak kecil.

 

Tidak semua gereja melakukan baptisan bayi / anak. Gereja Baptis, dan banyak Gereja Kharismatik / Pentakosta (yang biasanya mempraktekkan baptisan selam), tidak melakukan baptisan bayi / anak, tetapi ‘penyerahan anak’.

 

Apakah praktek ini ada dasar Kitab Sucinya?

 

==============================================

 

Pertanyaan: Gereja yang menolak baptisan bayi mempraktekkan penyerahan anak. Apa dasar Kitab Sucinya?

 

Jawaban ChatGPT:

 

Penyerahan anak yang dipraktikkan oleh gereja-gereja yang menolak baptisan bayi (seperti gereja-gereja Baptis dan sebagian gereja Pentakosta atau Injili) tidak memiliki dasar Kitab Suci yang eksplisit sebagaimana baptisan memiliki dasar yang jelas. Namun, mereka berusaha mencari prinsip-prinsip Alkitabiah yang bersifat implisit untuk mendukung praktik ini.

 

Berikut ini adalah ayat-ayat yang sering dijadikan dasar (walau tidak secara langsung memerintahkan ‘penyerahan anak’):

 

1)  1Samuel 1:27–28 – Hana menyerahkan Samuel kepada Tuhan

“Untuk mendapat anak inilah aku berdoa, dan Tuhan telah memberikan kepadaku apa yang ku minta kepada-Nya. Maka aku pun menyerahkannya kepada Tuhan; seumur hidup terserahlah ia kepada Tuhan.”

a)  Ini adalah teks utama yang dijadikan teladan: Hana menyerahkan Samuel kepada Tuhan di rumah Tuhan.

b)  Namun konteksnya adalah nazar pribadi dan pelayanan khusus di bait Allah, bukan sekadar penyerahan simbolis.

 

2)  Lukas 2:22–24 – Yesus dipersembahkan di Bait Allah

“Dan ketika tiba waktu pentahiran menurut hukum Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan...”

a)  Ini sering digunakan sebagai contoh penyerahan anak oleh orangtua.

b)  Namun sebenarnya ini adalah kewajiban Hukum Taurat (lih. Imamat 12:6–8; Keluaran 13:2,12).

c)  Bukan upacara gerejawi, tetapi ritual Yahudi yang digenapi oleh keluarga Yesus.

 

3)  Markus 10:13–16 – Anak-anak dibawa kepada Yesus

“Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus supaya Ia menjamah mereka...”

a)  Ini sering dikutip untuk menunjukkan bahwa Yesus menerima anak-anak.

b)  Tetapi tidak ada unsur “penyerahan” kepada Allah dalam konteks liturgi.

c)  Tidak disebutkan juga adanya doa orangtua atau imam.

 

Penilaian Teologis:

1.  Praktik penyerahan anak bukanlah sakramen dan bukan perintah eksplisit dalam Perjanjian Baru.

2.  Ini hanyalah upacara simbolis yang menunjukkan:

a.  Syukur atas kelahiran anak.

b.  Komitmen orangtua untuk membesarkan anak dalam takut akan Tuhan.

c.  Doa jemaat dan pendeta untuk masa depan rohani anak tersebut.

 

Bandingan dengan Baptisan Bayi:

Gereja Reformed dan Lutheran menolak penyerahan anak karena menurut mereka:

(1) Baptisan bayi adalah tanda perjanjian, seperti sunat di PL (lih. Kolose 2:11–12).

(2) Maka, anak-anak percaya layak dibaptis, bukan sekadar diserahkan.

(3) Penyerahan anak dianggap tidak memiliki dasar teologis yang kuat, dan bahkan bisa menjadi pengganti yang keliru terhadap baptisan yang diperintahkan oleh Kristus.

 

Kesimpulan:

Penyerahan anak adalah tradisi yang berasal dari kebiasaan, bukan dari perintah Tuhan yang jelas. Ayat-ayat yang sering digunakan hanyalah contoh historis atau simbolik, bukan preskriptif (perintah). Oleh sebab itu, gereja yang menolak baptisan bayi menggunakan penyerahan anak sebagai pengganti simbolik, tapi dasarnya lebih bersifat praktis dan dedikatif, bukan sakramental.

 

==============================================

 

1.  Dasar dari baptisan bayi / anak kecil:

 

a.  Dalam Perjanjian Lama, sunat dilakukan terhadap bayi berusia 8 hari (Kej 17:9-14).

 

Kej 17:9-14 - “(9) Lagi firman Allah kepada Abraham: ‘Dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjianKu, engkau dan keturunanmu turun-temurun. (10) Inilah perjanjianKu, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat; (11) haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan kamu. (12) Anak yang berumur delapan hari haruslah disunat, yakni setiap laki-laki di antara kamu, turun-temurun: baik yang lahir di rumahmu, maupun yang dibeli dengan uang dari salah seorang asing, tetapi tidak termasuk keturunanmu. (13) Orang yang lahir di rumahmu dan orang yang engkau beli dengan uang harus disunat; maka dalam dagingmulah perjanjianKu itu menjadi perjanjian yang kekal. (14) Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjianKu.’.

 

Lalu dalam Perjanjian Baru, sunat dihapus (Kis 15:1-2  Kis 21:21  Gal 2:3-5  Gal 5:2-6  Gal 6:12-15) dan diganti dengan baptisan (Kol 2:11-12).

 

Kis 15:1-2 - “(1) Beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan kepada saudara-saudara di situ: ‘Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan.’ (2) Tetapi Paulus dan Barnabas dengan keras melawan dan membantah pendapat mereka itu. Akhirnya ditetapkan, supaya Paulus dan Barnabas serta beberapa orang lain dari jemaat itu pergi kepada rasul-rasul dan penatua-penatua di Yerusalem untuk membicarakan soal itu..

 

Kis 21:21 - Tetapi mereka mendengar tentang engkau, bahwa engkau mengajar semua orang Yahudi yang tinggal di antara bangsa-bangsa lain untuk melepaskan hukum Musa, sebab engkau mengatakan, supaya mereka jangan menyunatkan anak-anaknya dan jangan hidup menurut adat istiadat kita..

 

Gal 2:3-5 - “(3) Tetapi kendatipun Titus, yang bersama-sama dengan aku, adalah seorang Yunani, namun ia tidak dipaksa untuk menyunatkan dirinya. (4) Memang ada desakan dari saudara-saudara palsu yang menyusup masuk, yaitu mereka yang menyelundup ke dalam untuk menghadang kebebasan kita yang kita miliki di dalam Kristus Yesus, supaya dengan jalan itu mereka dapat memperhambakan kita. (5) Tetapi sesaatpun kami tidak mau mundur dan tunduk kepada mereka, agar kebenaran Injil dapat tinggal tetap pada kamu..

 

Gal 5:2-6 - “(2) Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu. (3) Sekali lagi aku katakan kepada setiap orang yang menyunatkan dirinya, bahwa ia wajib melakukan seluruh hukum Taurat. (4) Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia. (5) Sebab oleh Roh, dan karena iman, kita menantikan kebenaran yang kita harapkan. (6) Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih..

 

Gal 6:12-15 - “(12) Mereka yang secara lahiriah suka menonjolkan diri, merekalah yang berusaha memaksa kamu untuk bersunat, hanya dengan maksud, supaya mereka tidak dianiaya karena salib Kristus. (13) Sebab mereka yang menyunatkan dirinyapun, tidak memelihara hukum Taurat. Tetapi mereka menghendaki, supaya kamu menyunatkan diri, agar mereka dapat bermegah atas keadaanmu yang lahiriah. (14) Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia. (15) Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya..

 

Kol 2:11-12 - “(11) Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa, (12) karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati..

 

Karena itu, kalau sunat dilakukan terhadap bayi, mengapa baptisan tidak?

 

b.  Ada 3 peristiwa dalam Kitab Suci dimana dilakukan baptisan sekeluarga / seisi rumah, yaitu Kis 16:15  Kis 16:33  1Kor 1:16.

 

Kis 16:15 - Sesudah ia dibaptis bersama-sama dengan seisi rumahnya, ia mengajak kami, katanya: ‘Jika kamu berpendapat, bahwa aku sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, marilah menumpang di rumahku.’ Ia mendesak sampai kami menerimanya..

 

Kis 16:33 - Pada jam itu juga kepala penjara itu membawa mereka dan membasuh bilur mereka. Seketika itu juga ia dan keluarganya memberi diri dibaptis..

 

1Kor 1:16 - Juga keluarga Stefanus aku yang membaptisnya. Kecuali mereka aku tidak tahu, entahkah ada lagi orang yang aku baptis..

 

Ada 2 hal yang perlu diperhatikan dari peristiwa-peristiwa ini:

a.  Mungkin sekali dalam peristiwa-peristiwa ini ada bayi / anak yang juga dibaptis.

b.  3 peristiwa itu menunjukkan bahwa baptisan sekeluarga / seisi rumah adalah sesuatu yang umum. Dan kalau dalam keluarga ada bayi, maka pasti ikut dibaptis.

 

=========================================

 

Pertanyaan: apakah pada abad pertama merupakan suatu kebiasaan membaptis seluruh keluarga? Bagaimana kalau tidak seluruh keluarga percaya?

 

Jawaban ChatGPT:

 

Pertanyaan ini sangat penting karena menyentuh praktik dan teologi baptisan dalam konteks Perjanjian Baru dan gereja abad pertama. Jawaban ini akan saya bagi dalam dua bagian:

 

1)  Apakah pada abad pertama merupakan kebiasaan membaptis seluruh keluarga (household baptism)?

Ya, pembaptisan seluruh keluarga (οἶκος / household) memang terjadi dan dicatat beberapa kali dalam Perjanjian Baru. Contohnya:

a)  Keluarga Kornelius – Kisah 10:24,44-48 → Kornelius mengumpulkan seluruh keluarganya dan teman-temannya, dan mereka menerima Roh Kudus lalu dibaptis.

b) Keluarga Lydia – Kisah 16:15 → “Setelah ia dibaptis bersama dengan seisi rumahnya…”

c)  Keluarga kepala penjara Filipi - Kisah 16:33 → “Seketika itu juga ia dan keluarganya dibaptis.”

d) Keluarga Stefanus - 1Kor 1:16 → “Keluarga Stefanus aku juga membaptis…”

 

Dari contoh-contoh ini kita bisa melihat bahwa praktik household baptism memang terjadi, dan kemungkinan cukup umum dalam konteks pertobatan satu orang yang menjadi kepala atau pemimpin rumah tangga.

 

2)  Bagaimana kalau tidak seluruh keluarga percaya?

Inilah pertanyaan yang sering diperdebatkan, khususnya antara mereka yang percaya pada baptisan anak (paedobaptism) dan yang hanya membaptis orang percaya (credobaptism).

 

a)  Bagi yang menolak baptisan anak (misalnya Baptis / Reformed Baptis):

Mereka menekankan bahwa:

1.  Setiap orang yang dibaptis dalam kisah-kisah household baptism pasti sudah percaya.
→ Misalnya dalam Kis 16:34: “...ia dan seisi rumahnya percaya kepada Allah.”

2.  Tidak ada bukti eksplisit bahwa bayi atau anak-anak kecil yang belum bisa percaya ikut dibaptis.

3.  Maka household baptism dianggap hanya mencakup orang-orang dalam rumah yang sudah mendengar dan percaya.

 

b) Bagi yang menerima baptisan anak (Paedobaptist / Reformed klasik):

Mereka memberikan argumen sebagai berikut:

1.  Dalam budaya abad pertama, konsep “οἶκος” mencakup semua anggota rumah: orang tua, anak-anak, hamba, dll. Bila kepala rumah bertobat, itu sering membawa seluruh rumah ke dalam orbit pengaruh Injil.

2.  Tidak semua ayat mengatakan bahwa setiap anggota rumah “percaya” secara eksplisit (misalnya Kis 16:15 – Lydia), tetapi semua dibaptis.

3.  Dalam 1Kor 7:14, Paulus menyatakan bahwa anak-anak orang percaya adalah “kudus”, dan ini menjadi dasar untuk memasukkan mereka ke dalam komunitas perjanjian, sama seperti anak-anak disunat dalam Perjanjian Lama.

4.  Maka mereka menyimpulkan bahwa baptisan dapat diberikan kepada seluruh keluarga, termasuk anak-anak, karena berada di bawah otoritas dan iman kepala rumah, bukan karena mereka sendiri sudah percaya secara pribadi.

 

Kesimpulan:

1.  Pembaptisan seluruh keluarga memang terjadi di abad pertama dan dicatat dalam beberapa bagian Kitab Kisah dan surat-surat Paulus.

2.  Apakah semua anggota keluarga itu benar-benar percaya? Tidak selalu dijelaskan. Dalam beberapa kasus ya (Kis 16:34), dalam kasus lain tidak disebutkan.

3.  Gereja mula-mula tampaknya tidak memisahkan antara baptisan orang dewasa yang percaya dan household baptism - artinya, praktik household baptism tidak aneh atau menyimpang pada zaman itu.

4.  Namun, apakah itu termasuk anak-anak kecil atau bayi, itu adalah soal teologis dan bukan soal sejarah saja. Pandangan Reformed klasik mengatakan “ya”, sedangkan pandangan Baptis mengatakan “tidak”.

 

=========================================

 

c.  Syarat baptisan dimana orangnya harus percaya adalah syarat bagi orang dewasa, bukan bagi bayi.

 

6)  Pengulangan baptisan.

 

Setiap baptisan yang dilakukan gereja yang secara teoritis mengakui Allah Tritunggal (termasuk Gereja Roma Katolik), adalah sah dan tidak perlu diulang. Bahkan sekalipun pada waktu dibaptis orangnya belum sungguh-sungguh percaya, dan lalu suatu hari ia bertobat dengan sungguh-sungguh, ia tidak perlu dibaptis ulang.

 

Baptisan ulang hanya perlu / harus dilakukan kalau:

 

a) Baptisan itu dilakukan oleh gereja sesat yang secara teoritis tidak mengakui Allah Tritunggal, seperti Saksi Yehuwa.

 

Karena itu hati-hatilah dalam memilih gereja, karena sekarang juga ada gereja-gereja Liberal, yang secara teoritis tidak lagi mengakui Allah Tritunggal.

 

b) Baptisan itu dilakukan bukan dengan menggunakan air, seperti baptisan menggunakan bendera dari gereja Bala Keselamatan (Salvation Army). Pembaptisan dengan bendera sama sekali tidak Alkitabiah, karena tidak ada dasar Kitab Sucinya sama sekali. Ini bukan baptisan, dan karena itu jelas harus diulang (sebetulnya bukan ‘diulang’ karena baptisan yang pertama itu sebetulnya bukan baptisan).

 

c)  Baptisan yang dilakukan dengan formula baptisan yang salah. Misalnya:

 

1.  “Dalam nama Yesus Kristus / Tuhan Yesus”.

 

2.  “Dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus, yaitu Tuhan Yesus Kristus”.

 

W. G. T. Shedd (tentang Ro 6:3): Baptism in the name of Christ alone (involving an alteration of the baptismal formula given in Mat. 28:19) is not valid, according to the decision of the Church, in the controversy between Cyprian and Stephen: the latter of whom contended that baptism might be administered in the name of Jesus Christ simply. It would have been equally irregular to baptize in the name of the Father alone, or of the Holy Spirit alone. [= Baptisan dalam nama Kristus saja (menyangkut suatu perubahan dari formula baptisan yang diberikan dalam Mat 28:19) tidak sah, sesuai dengan keputusan Gereja, dalam kontroversi antara Cyprian dan Stephen: yang belakangan dari dua orang itu berjuang / berdebat bahwa baptisan bisa / boleh dilakukan hanya dalam nama Yesus Kristus. Juga merupakan hal yang secara sama bertentangan dengan hukum untuk membaptis dalam nama dari Bapa saja, atau dari Roh Kudus saja.] - ‘Commentary on Romans’ (Libronix).

 

II) Perjamuan Kudus.

 

A) Ini juga diperintahkan oleh Tuhan (Mat 26:26-28  1Kor 11:23-26).

 

Mat 26:26-28 - “(26) Dan ketika mereka sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-muridNya dan berkata: ‘Ambillah, makanlah, inilah tubuhKu.’ (27) Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: ‘Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. (28) Sebab inilah darahKu, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa..

 

1Kor 11:23-26 - “(23) Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti (24) dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: ‘Inilah tubuhKu, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!’ (25) Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: ‘Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darahKu; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!’ (26) Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang..

 

Sama seperti baptisan, sekalipun Perjamuan Kudus tidak bisa mengampuni dosa ataupun menyelamatkan kita, tetapi karena ini diperintahkan oleh Tuhan, harus kita taati.

 

Berbeda dengan baptisan yang dilakukan hanya 1 x, maka Perjamuan Kudus harus dilakukan berulang-ulang (1Kor 11:25b - setiap kali kamu meminumnya’).

 

Dalam memerintahkan Perjamuan Kudus, Tuhan tidak menentukan berapa sering kita harus melakukan Perjamuan Kudus. Jadi, itu tergantung kebijaksanaan gereja.

 

B) Simbol yang kelihatan dalam Perjamuan Kudus.

 

Simbol-simbol yang kelihatan dalam Perjamuan Kudus ialah:

 

1) Roti dan anggur yang menggambarkan tubuh dan darah Kristus (Mat 26:26-28  1Kor 11:23-26).

 

2) Pemecahan roti dan penuangan anggur, yang menggambarkan penghancuran tubuh Kristus dan pencurahan darah Kristus (Mat 26:26-28  1Kor 11:23-26).

 

Charles Hodge: The whole service, therefore, is often called ‘the breaking of bread’ (Acts 2:42; compare Acts 20:7). Therefore, the custom of using a wafer placed unbroken in the mouth of the communicant leaves out a significant element in this sacrament. [= Seluruh ibadah ini, oleh karena itu, sering disebut sebagai ‘pemecahan roti’ (Kisah Para Rasul 2:42; bandingkan Kisah Para Rasul 20:7). Karena itu, kebiasaan menggunakan hosti yang ditempatkan utuh di mulut penerima komuni menghilangkan unsur penting dalam sakramen ini.] - hal 189-190.

 

Kisah 2:42 - Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa..

 

Kis 20:7 - Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti, Paulus berbicara dengan saudara-saudara di situ, karena ia bermaksud untuk berangkat pada keesokan harinya. Pembicaraan itu berlangsung sampai tengah malam..

 

3) Penggunaan satu roti (1Kor 10:17).

1Kor 10:17 - Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu..

 

Charles Hodge: The apostle’s intention is to show that everyone who comes to the Lord’s Supper enters into communion with all other communicants. They form one body in virtue of their joint participation in Christ. ... Many distinguished commentators, however, prefer the following interpretation: ‘For we, though many, are one bread and one body. Sharing the same loaf makes us one bread, and jointly partaking of Christ’s body makes us one body.’ [= Tujuan rasul adalah untuk menunjukkan bahwa setiap orang yang datang ke Perjamuan Tuhan masuk ke dalam persekutuan dengan semua penerima lainnya. Mereka membentuk satu tubuh karena partisipasi bersama mereka di dalam Kristus. ... Namun, banyak penafsir terkemuka lebih menyukai penafsiran berikut: ‘Sebab kita, sekalipun banyak, adalah satu roti dan satu tubuh. Berbagi roti yang sama menjadikan kita satu roti, dan ambil bagian bersama dalam tubuh Kristus menjadikan kita satu tubuh.’] - hal 190.

 

C) Arti Perjamuan Kudus.

 

Ada 4 pandangan tentang arti Perjamuan Kudus:

 

1)      Pandangan Gereja Roma Katolik (transubstantiation).

Gereja Roma Katolik percaya bahwa pada saat imam / pastor mengucapkan kata-kata bahasa Latin: “HOC EST CORPUS MEUM” [= This is my body / Inilah TubuhKu], roti dan anggur betul-betul berubah menjadi tubuh dan darah Kristus. Doktrin ini disebut TRANSUBSTANTIATION, yang berarti ‘a change of substance’ [= perubahan zat].

 

Pada abad-abad awal sudah ada pandangan yang mirip dengan ini, yang mengatakan bahwa “at the words of institution the bread and wine IN SOME SENSE changed into the body and blood of Christ.” [= pada kata-kata dari penetapan sakramen Perjamuan Kudus roti dan anggur DALAM ARTI TERTENTU berubah menjadi tubuh dan darah Kristus.] - Dr. Albert H. Freundt, Jr., ‘History of Modern Christianity’, hal 5.

 

Tetapi pada abad ke 9 seorang bernama Radbertus mulai mengajarkan bahwa pada saat Eucharist, terjadi suatu mujizat dimana roti dan anggur betul-betul berubah menjadi tubuh dan darah Kristus.

 

Dr. Albert H. Freundt, Jr.: “In the ninth century the theory of transubstantiation was first advanced, the view that the bread and wine were changed into the actual body and blood of Christ, but it was challenged by some theologians.” [= Pada abad ke 9 teori Transubstantiation pertama-tama diajukan / diusulkan, pandangan bahwa roti dan anggur diubah menjadi betul-betul tubuh dan darah Kristus, tetapi itu ditentang oleh beberapa ahli theologia.] - ‘History of Modern Christianity’, hal 5.

 

Transubstantiation menjadi dogma resmi pada tahun 1059 dan diproklamirkan oleh Paus Innocent III pada tahun 1215.

 

Louis Berkhof: While some of the early Church Fathers (Origen, Basil, Gregory of Nazianze) retained the symbolical or spiritual conception of the sacrament, others (Cyril, Gregory of Nyssa, Chrysostom) held that the flesh and blood of Christ were in some way combined with the bread and wine in the sacrament. [= Sementara beberapa Bapa Gereja awal (Origenes, Basilius, Gregorius dari Nazianze) mempertahankan pandangan simbolis atau rohani tentang sakramen, yang lain (Siril, Gregorius dari Nyssa, Krisostomus) berpendapat bahwa daging dan darah Kristus dalam suatu cara tertentu dipersatukan dengan roti dan anggur dalam sakramen.] - ‘Systematic Theology’, hal 645.

 

Louis Berkhof: Augustine retarded the realistic development of the doctrine of the Lord’s Supper for a long time. While he did speak of the bread and wine as the body and blood of Christ, he distinguished between the sign and the thing signified, and did not believe in a change of substance. He denied that the wicked, though receiving the elements, also received the body, and stressed the commemorative aspect of the Lord’s Supper. [= Agustinus menunda perkembangan doktrin realistis tentang Perjamuan Tuhan untuk waktu yang lama. Meskipun ia memang menyebut roti dan anggur sebagai tubuh dan darah Kristus, ia membedakan antara tanda dan hal yang ditandakan, dan tidak percaya pada perubahan substansi. Ia menolak bahwa orang fasik, meskipun menerima unsur-unsur tersebut, juga menerima tubuh Kristus, dan ia menekankan aspek peringatan dari Perjamuan Tuhan / Perjamuan Kudus.] - ‘Systematic Theology’, hal 645.

 

Louis Berkhof: During the Middle Ages the Augustinian view was gradually transplanted by the doctrine of transubstantiation. As early as 818 A.D. Paschasius Radbertus already formally proposed this doctrine, but met with strong opposition on the part of Rabanus Maurus and Ratramnus. In the eleventh century a furious controversy again broke out on the subject between Berenger of Tours and Lanfranc. The latter made the crass statement that ‘the very body of Christ was truly held in the priest’s hand, broken and chewed by the teeth of the faithful.’ This view was finally defined by Hildebert of Tours (1134), and designated as the doctrine of transubstantiation. It was formally adopted by the fourth Lateran Council in 1215. Many questions connected with this doctrine were debated by the Scholastics, such as those respecting the duration of the change of bread and wine into the body and blood of Jesus Christ, the manner of Christ’s presence in both elements, the relation of substance and accidents, the adoration of the host, and so on. The final formulation of the doctrine was given by the Council of Trent, and is recorded in Sessio XIII of its Decrees and Canons. Eight Chapters and eleven Canons are devoted to it. We can only mention the most essential points here. Jesus Christ is truly, really, and substantially present in the holy sacrament. The fact that He is seated at the right hand of God does not exclude the possibility of His substantial and sacramental presence in several places simultaneously. By the words of consecration the substance of bread and wine is changed into the body and blood of Christ. The entire Christ is present under each species and under each particle of either species. Each one who receives a particle of the host receives the whole Christ. He is present in the elements even before the communicant receives them. In view of this presence, the adoration of the host is but natural. The sacrament effects an ‘increase of sanctifying grace, special actual graces, remission of venial sins, preservation from grievous (mortal) sin, and the confident hope of eternal salvation.’ [= Selama Abad Pertengahan, pandangan Agustinus secara bertahap digantikan oleh doktrin transubstansiasi. Sejak tahun 818 M, Paschasius Radbertus telah secara formal mengusulkan doktrin ini, tetapi mendapat perlawanan keras dari Rabanus Maurus dan Ratramnus. Pada abad kesebelas, perdebatan sengit kembali pecah mengenai topik ini antara Berengarius dari Tours dan Lanfranc. Lanfranc membuat pernyataan kasar / bodoh bahwa ‘tubuh Kristus yang sesungguhnya benar-benar dipegang oleh tangan imam, dipatahkan dan dikunyah oleh gigi orang percaya.’ Pandangan ini akhirnya didefinisikan oleh Hildebert dari Tours (1134), dan ditetapkan sebagai doktrin transubstansiasi. Doktrin ini secara resmi diadopsi oleh Konsili Lateran Keempat pada tahun 1215. Banyak pertanyaan yang terkait dengan doktrin ini diperdebatkan oleh para Skolastik, seperti mengenai durasi perubahan roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Yesus Kristus, cara kehadiran Kristus dalam kedua unsur, hubungan antara substansi dan aksiden, penyembahan terhadap hosti, dan sebagainya. Rumusan akhir dari doktrin ini diberikan oleh Konsili Trente, dan dicatat dalam Sessio XIII dari Dekret dan Kanon-nya. Delapan Bab dan sebelas Kanon dikhususkan untuk topik ini. Di sini hanya dapat disebutkan pokok-pokok yang paling penting. Yesus Kristus hadir secara benar, nyata, dan substansial dalam sakramen kudus. Fakta bahwa Ia duduk di sebelah kanan Allah tidak meniadakan kemungkinan kehadiranNya secara substansial dan sakramental di banyak tempat secara bersamaan. Dengan kata-kata konsekrasi, substansi roti dan anggur diubah menjadi tubuh dan darah Kristus. Seluruh Kristus hadir di bawah setiap rupa dan dalam setiap partikel dari masing-masing rupa. Setiap orang yang menerima satu partikel hosti menerima seluruh Kristus. Ia hadir dalam unsur-unsur tersebut bahkan sebelum komunikant menerimanya. Mengingat kehadiran ini, penyembahan terhadap hosti dianggap wajar. Sakramen ini menghasilkan ‘peningkatan kasih karunia pengudusan, kasih karunia aktual khusus, pengampunan dosa ringan, penjagaan dari dosa berat (mematikan), dan pengharapan yang penuh keyakinan akan keselamatan kekal.’] - ‘Systematic Theology’, hal 645-646.

 

David Schaff: “The eucharist was twice the subject of controversy in the Middle Ages, - first in the ninth, and then in the eleventh, century. The question in both cases turned on a grossly realistic and a spiritual conception of the sacramental presence and fruition of Christ’s body and blood; and the result was the triumph of the Roman dogma of transubstantiation, as advocated by Paschasius Radbertus against Ratramnus, and by Lanfranc against Berengar, and as finally sanctioned by the fourth Lateran Council in 1215, and the Council of Trent in 1551.” [= Ekaristi menjadi bahan perdebatan sebanyak dua kali pada Abad Pertengahan - pertama pada abad kesembilan, dan kemudian pada abad kesebelas. Dalam kedua kasus tersebut, permasalahannya berkisar pada pertentangan antara pandangan yang sangat realistis dan pandangan rohani tentang kehadiran sakramental serta kenikmatan tubuh dan darah Kristus. Hasil akhirnya adalah kemenangan dogma transubstansiasi versi Gereja Roma, sebagaimana didukung oleh Paschasius Radbertus melawan Ratramnus, dan oleh Lanfranc melawan Berengar, serta akhirnya disahkan oleh Konsili Lateran Keempat pada tahun 1215 dan oleh Konsili Trente pada tahun 1551.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 614.

 

Catatan: Kata-kata “HOC EST CORPUS MEUM” belakangan dipakai oleh tukang sihir / sulap dan diubah menjadi “HOCUS POCUS” (Dr. Albert H. Freundt, Jr., ‘History of Modern Christianity’, hal 5).

 

Teori Thomas Aquinas (1225-1274):

“The substance of bread and wine are changed into the body and blood of Christ during communion while the accidents (appear­ence, taste, smell) remain the same.” [= Zat dari roti dan anggur berubah menjadi tubuh dan darah Kristus pada saat komuni, sementara accidentsnya (penampilannya / kelihatannya, rasanya, baunya) tetap sama.].

 

Doktrin ini didasarkan atas penghurufiahan kata-kata Yesus ‘Inilah tubuhKu’ (Mat 26:26), dan ‘inilah darahKu’ (Mat 26:28).

 

Mat 26:26-28 - (26) Dan ketika mereka sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-muridNya dan berkata: ‘Ambillah, makanlah, inilah tubuhKu.’ (27) Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: ‘Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. (28) Sebab inilah darahKu, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa..

 

Loraine Boettner: “In the New York Catechism we read: ‘Jesus Christ gave us the sacrifice of the Mass to leave to His Church a visible sacrifice which continues His sacrifice on the cross until the end of time. The Mass is the same sacrifice as the sacrifice of the cross. Holy Communion is the receiving of the body and blood of Jesus Christ under the appearance of bread and wine.’ The Creed of pope Pius IV, which is one of the official creeds of the Roman Church, says: ‘I profess that in the Mass is offered to God a true, proper, and propitiatory sacrifice (that is, a sacrifice which satisfies the justice of God and so offsets the penalty for sin) for the living and the dead; and that in the most holy sacrament of the Eucharist there is truly, really, and substantially, the body and blood, together with the soul and divinity, of our Lord Jesus Christ; and that there is a conversion of the whole substance of the bread into the body, and of the whole substance of the wine into the blood, which the Catholic Church calls Transubstantiation.’ The Council of Trent declared: ‘The sacrifice (in the Mass) is identical with the sacrifice of the Cross, inasmuch as Jesus Christ is a priest and victim both. The only difference lies in the manner of offering, which is bloody upon the cross and bloodless on our altars.’ [= Dalam New York Catechism kami membaca: ‘Yesus Kristus memberi kita korban Missa untuk meninggalkan bagi GerejaNya korban yang kelihatan yang melanjutkan korbanNya pada salib sampai akhir zaman. Missa adalah korban yang sama seperti korban pada salib. Perjamuan Kudus adalah penerimaan tubuh dan darah Kristus di bawah penampilan roti dan anggur’. Credo / pengakuan iman dari Paus Pius IV, yang adalah salah satu dari credo-credo Gereja Roma, berkata: ‘Saya mengakui bahwa dalam Missa dipersembahkan kepada Allah suatu korban yang benar, tepat, dan bersifat menebus (artinya, suatu korban yang memuaskan keadilan Allah dan menetralisir / menebus hukuman untuk dosa) bagi orang yang hidup dan yang mati; dan bahwa dalam sakramen yang paling kudus / suci dari Ekaristi di sana ada tubuh dan darah secara benar, sungguh-sungguh dan hakiki, bersama-sama dengan jiwa dan keilahian, dari Tuhan kita Yesus Kristus; dan bahwa di sana ada suatu perubahan dari seluruh zat / bahan dari roti menjadi tubuh, dan dari seluruh zat / bahan dari anggur menjadi darah, yang Gereja Katolik sebut Transubstantiation’. Sidang Gereja Trent menyatakan: ‘Korban (dalam Missa) adalah identik dengan korban dari salib, karena Yesus Kristus adalah baik imam maupun korban. Satu-satunya perbedaan terletak dalam cara dari persembahan, yang berdarah pada salib dan tak berdarah pada altar kami’.] - ‘Roman Catholicism’, hal 168-169 (Libronix).

 

Loraine Boettner: According to Roman teaching, in the sacrifice of the mass the bread and wine are changed by the power of the priest at the time of consecration into the actual body and blood of Christ. [= Menurut ajaran Roma, dalam korban dari Missa roti dan anggur diubah oleh kuasa dari imam / pastor pada saat pengudusan menjadi tubuh dan darah yang sungguh-sungguh dari Kristus.] - ‘Roman Catholicism’, hal 169-170 (Libronix).

 

Loraine Boettner: The bread, in the form of thin, round wafers, hundreds of which may be consecrated simultaneously, is contained in a golden dish. The wine is in a golden cup. The supposed body and blood of Christ are then raised before the altar by the hands of the priest and offered up to God for the sins both of the living and the dead. During this part of the ceremony the people are little more than spectators to a religious drama. Practically everything is done by the priest, or by the priest and his helpers. The audience does not sing, nor are there any spontaneous prayers either on the part of the priest or the people. The liturgy is so rigid that it can be carried out mechanically, almost without thought. [= Roti, dalam bentuk hosti yang tipis dan bundar, ratusan darinya bisa dikuduskan secara bersamaan, diletakkan dalam suatu piring emas. Anggur ada dalam sebuah cawan emas. Yang dianggap sebagai tubuh dan darah Kristus lalu diangkat / ditinggikan di depan altar oleh tangan dari imam / pastor dan dipersembahkan kepada Allah untuk dosa-dosa baik dari orang-orang hidup dan mati. Selama bagian upacara ini orang-orang hanya sedikit lebih dari pada penonton-penonton pada suatu drama agamawi. Secara praktis segala sesuatu dilakukan oleh imam / pastor, atau oleh imam / pastor dan penolong-penolongnya. Penonton / jemaat tidak menyanyi, juga di sana tidak ada doa-doa spontan apapun atau dari imam / pastor atau dari orang-orang / jemaat. Liturginya begitu kaku sehingga itu bisa dipraktekkan secara mekanis, hampir tanpa pikiran.] - ‘Roman Catholicism’, hal 170 (Libronix).

 

Tentang kata-kata ‘untuk dosa-dosa baik dari orang-orang hidup dan mati’, bandingkan dengan kata-kata di bawah ini:

 

David Schaff: “The power of the mass extends not only to the living, but even to departed spirits in purgatory, abridging their sufferings, and hastening their release and transfer to heaven.” [= Kuasa dari missa meluas bukan hanya kepada orang-orang hidup, tetapi bahkan kepada roh-roh orang mati di api penyucian, memperpendek penderitaan mereka, dan mempercepat pembebasan mereka dan pemindahan mereka ke surga.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 603.

 

Loraine Boettner: In the observance of holy communion the priest partakes of a large wafer, then he drinks the wine in behalf of the congregation. The lay members go to the front of the church and kneel before a railing, with closed eyes, and open mouths into which the priest places a small wafer. Roman Catholic theology holds that the complete body and blood of Christ are in both the bread and the wine. At this point one is tempted to ask, If the priest can partake of the wine for the congregation, why may he not also partake of the bread for the congregation? Formerly it was required that anyone partaking of the mass must have abstained from any form of food or drink, even water, since midnight - hence the need for early mass. That, however, caused many to become indifferent. Now one has to abstain from solid food for only one hour before receiving communion, and he does not have to abstain from water at all. Yet the New Testament tells us that Christ instituted the Lord’s supper immediately after He and the disciples had eaten the passover feast. If Christ had no objection to the bread being mixed with other food, why should the Roman Church object? [= Dalam pelaksanaan / praktek dari Perjamuan Kudus imam / pastor mengambil bagian sebuah hosti besar, lalu ia meminum anggur sebagai wakil dari jemaat. Anggota-anggota awam maju ke depan gereja dan berlutut di depan suatu pagar, dengan mata tertutup, dan mulut terbuka ke dalam mana imam / pastor meletakkan suatu hosti kecil. Theologia Roma Katolik mempercayai bahwa tubuh dan darah lengkap dari Kristus ada dalam baik roti dan anggur. Pada titik ini seseorang tergoda untuk bertanya, Jika imam / pastor bisa mengambil bagian dari anggur untuk jemaat, mengapa ia tidak boleh juga mengambil bagian dari roti untuk jemaat? Dulu diharuskan bahwa siapapun yang mengambil bagian dari missa harus telah menahan diri dari bentuk makanan atau minuman apapun, bahkan air, sejak tengah malam - karena itu dibutuhkan missa yang sangat pagi. Tetapi itu menyebabkan banyak orang menjadi acuh tak acuh. Sekarang seseorang harus menahan diri dari makanan padat hanya untuk satu jam sebelum menerima Perjamuan Kudus, dan ia tidak harus menahan diri dari air sama sekali. Tetapi Perjanjian Baru memberitahu kita bahwa Kristus menetapkan Perjamuan Kudus segera setelah Ia dan murid-murid telah makan Perjamuan Paskah. Jika Kristus tidak mempunyai keberatan bagi roti untuk dicampur dengan makanan yang lain, mengapa Gereja Roma harus keberatan?] - ‘Roman Catholicism’, hal 170 (Libronix).

Catatan: jadi rupanya karena mereka mempercayai roti dan anggur betul-betul berubah menjadi tubuh dan darah Kristus, maka mereka menganggap keduanya tak boleh dicampur dengan makanan lain / biasa. Dari sini kita melihat bahwa kepercayaan / pengertian salah yang satu hal akan membawa pada kepercayaan / pengertian salah tentang hal yang lain! Bagian di bawah ini juga muncul sebagai akibat dari kepercayaan / pengertian yang salah dari Gereja Roma Katolik tentang Perjamuan Kudus.

 

David Schaff: “The denial of the cup to the laity, the present custom of the Roman Catholic Church, became common in the thirteenth century. It was at first due to the fear of profanation by spilling the consecrated blood of Christ. At the same time the restriction to the bread was regarded as a wholesome way of teaching the people that the whole Christ is present in each of the elements.” [= Pelarangan cawan bagi orang-orang awam, kebiasaan / tradisi sekarang ini dari Gereja Roma Katolik, menjadi umum pada abad ke 13. Mula-mula itu disebabkan karena rasa takut terhadap tindakan pencemaran / penghujatan dengan menumpahkan darah yang dikuduskan dari Kristus. Pada saat yang sama pembatasan pada roti dianggap sebagai suatu cara yang sehat untuk mengajar orang-orang bahwa seluruh Kristus hadir dalam masing-masing / tiap-tiap elemen.] - ‘History of the Christian Church’, vol V, hal 724.

 

David Schaff: “The celebration of the eucharist is the central part of the service of the Latin Church. Thomas Aquinas said it is to be celebrated with greater solemnity than the other sacraments because it contains the whole mystery of our salvation. ... If a fly, he says, or a spider, be found in the wine after consecration, the insect must be taken out, carefully washed and burnt, and then the water, mingled with ashes, must be thrown into the sacrary. If poison be found in the consecrated wine, the contents of the cup are to be poured out and kept in a vessel among the relics.” [= Perayaan Ekariti / Perjamuan Kudus adalah bagian pusat dari ibadah dari Gereja Latin. Thomas Aquinas berkata itu harus dirayakan dengan kekhidmatan yang lebih besar dari pada sakramen-sakramen yang lain karena itu mencakup seluruh misteri keselamatan kita. ... Jika seekor lalat, katanya, atau laba-laba ditemukan di dalam anggur setelah konsekrasi, serangga itu harus diambil, dicuci dengan hati-hati, lalu dibakar, dan kemudian air pencucian yang telah bercampur abu itu harus dibuang ke dalam sakrarium. Jika racun ditemukan dalam anggur yang telah dikuduskan, isi dari cawan harus dicurahkan dan disimpan dalam sebuah bejana di antara relics.] - ‘History of the Christian Church’, vol V, hal 721.

Catatan: Sakrarium adalah wastafel khusus di gereja Katolik yang airnya mengalir langsung ke tanah, bukan ke saluran pembuangan umum, dan digunakan untuk membuang benda-benda suci atau air yang telah dipakai dalam liturgi.

 

Loraine Boettner: The elaborate ritual of the mass is really an extended pageant, designed to re-enact the experiences of Christ from the supper in the upper room, through the agony in the garden, the betrayal, trial, crucifixion, death, burial, resurrection, and ascension. It is a drama crowding the detailed events of many days into the space of one hour or less. For its proper performance the priest in seminary goes through long periods of training and needs a marvelous memory. Witness the following: he makes the sign of the cross sixteen times; turns toward the congregation six times; lifts his eyes to heaven eleven times; kisses the altar eight times; folds his hands four times; strikes his breast ten times, bows his head twenty-one times; genuflects eight times; bows his shoulders seven times; blesses the altar with the sign of the cross thirty times; lays his hands flat on the altar twenty-nine times; prays secretly eleven times; prays aloud thirteen times; takes the bread and wine and turns it into the body and blood of Christ; covers and uncovers the chalice ten times; goes to and fro twenty times; and in addition performs numerous other acts. His bowings and genuflections are imitations of Christ in His agony and suffering. The various articles of clothing worn by the priest at different stages of the drama represent those worn by Christ; the seamless robe, the purple coat, the veil with which His face was covered in the house of Caiaphas, a girdle representing the cords with which He was bound in the garden, the cords which bound Him to the cross, etc. If the priest forgets even one element of the drama he commits a great sin and technically may invalidate the mass. Add to the above the highly colored robes of the clergy, the candles, bells, incense, music, special church architecture of the chancel often in gleaming white, and the fact that the mass is said or sung in an unknown tongue, Latin, which is not understood by the people, and you see something of the complexity of the program. Surely there was much truth in Voltaire’s remark concerning the mass as practiced in the cathedrals of France in his day, that it was ‘the grand opera of the poor.’ - ‘Roman Catholicism’, hal 170-171 (Libronix).

 

Kutipan di atas ini menceritakan liturgi yang mendetail dari Perjamuan Kudus versi Gereja Roma Katolik, mencakup pakaian pastor, apa saja yang harus ia lakukan, dan sebagainya. Dan semua itu harus dilakukan secara persis, sehingga kalau ia lupa satu hal saja, ia melakukan dosa besar dan secara tehnis menyebabkan missa itu tidak sah. Tetapi semua ini tidak saya terjemahkan, karena saya menganggap tidak terlalu penting bagi kita.

 

Pada hal 171 ada catatan kaki: The liturgy of the mass was considerably simplified in 1965, and can now be said in the colloquial language. [= Liturgi dari Missa telah sangat disederhanakan pada tahun 1965, dan sekarang bisa diucapkan dalam bahasa yang tidak resmi (bukan bahasa Latin).] - ‘Roman Catholicism’, hal 171 (Libronix).

 

Dengan demikian dalam Perjamuan Kudus Gereja Roma Katolik bukan saja terjadi perubahan zat dari roti dan anggur menjadi betul-betul tubuh dan darah Kristus, tetapi juga dianggap terjadi pengulangan pengorbanan Kristus.

 

Loraine Boettner: The mass, therefore, is not a memorial, but a ritual in which the bread and wine are transformed into the literal flesh and blood of Christ, which is then offered as a true sacrifice. [= Karena itu, missa, bukanlah suatu peringatan, tetapi suatu upacara dalam mana roti dan anggur diubah menjadi daging dan darah Kristus secara hurufiah, yang lalu dipersembahkan sebagai suatu korban yang benar.] - ‘Roman Catholicism’, hal 174 (Libronix).

 

David Schaff: “A literal priesthood requires a literal sacrifice, and this is the repetition of Christ’s one sacrifice on the cross offered by the priest in the mass from day to day.” [= Suatu imamat yang hurufiah menuntut suatu korban yang hurufiah, dan ini adalah pengulangan dari satu korban Kristus pada salib yang dipersembahkan oleh imam / pastor dalam missa dari hari ke hari.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 603.

 

Louis Berkhof: 1. The view of Rome. The Church of Rome conceives of the sacramental union in a physical sense. It is hardly justified, however, in speaking of any sacramental union at all, for according to its representation there is no union in the proper sense of the word. The sign is not joined to the thing signified, but makes way for it, since the former passes into the latter. When the priest utters the formula, ‘hoc est corpus meum’, bread and wine change into the body and blood of Christ. It is admitted that even after the change the elements look and taste like bread and wine. While the substance of both is changed, their properties remain the same. In the form of bread and wine the physical body and blood of Christ are present. The supposed Scriptural ground for this is found in the words of the institution, ‘this is my body’, and in John 6:50 ff. But the former passage is clearly tropical, like those in John 14:6; 15:1; 10:9, and others; and the latter, literally understood, would teach more than the Roman Catholic himself would be ready to grant, namely, that every one who eats the Lord’s Supper goes to heaven, while no one who fails to eat it will obtain eternal life (cf. verses 53, 54). Moreover, verse 63 clearly points to a spiritual interpretation. Furthermore, it is quite impossible to conceive of the bread which Jesus broke as being the body which was handling it; and it should be noted that Scripture calls it bread even after it is supposed to have been trans-substantiated, 1 Cor. 10:17; 11:26, 27, 28. This view of Rome also violates the human senses, where it asks us to believe that what tastes and looks like bread and wine, is really flesh and blood; and human reason, where it requires belief in the separation of a substance and its properties and in the presence of a material body in several places at the same time, both of which are contrary to reason. Consequently, the elevation and adoration of the host is also without any proper foundation. [= 1. PANDANGAN GEREJA ROMA. Gereja Roma memahami kesatuan sakramental secara fisik. Namun, sebenarnya tidak tepat jika dikatakan bahwa ada kesatuan sakramental sama sekali, sebab menurut ajaran mereka, tidak ada kesatuan dalam arti yang sebenarnya dari kata itu. Tanda tidak dipersatukan dengan hal yang ditandakan, melainkan memberi jalan bagi hal itu, karena yang pertama (tanda) berubah menjadi yang kedua (realitas yang ditandakan). Ketika imam mengucapkan rumusan “HOC EST CORPUS MEUM” (Inilah tubuhKu), roti dan anggur berubah menjadi tubuh dan darah Kristus. Diakui bahwa bahkan setelah perubahan itu, unsur-unsur tersebut tetap tampak dan terasa seperti roti dan anggur. Meskipun substansi keduanya diubah, sifat-sifat lahiriahnya tetap sama. Dalam rupa roti dan anggur itu, tubuh dan darah fisik Kristus diyakini hadir. Dasar Alkitab yang dianggap mendukung pandangan ini ditemukan dalam kata-kata penetapan sakramen: ‘Inilah tubuhKu’, dan dalam Yohanes 6:50 dan seterusnya. Namun, bagian yang pertama jelas bersifat kiasan, sebagaimana ayat-ayat lainnya dalam Yohanes 14:6; 15:1; 10:9, dan sebagainya. Sedangkan bagian yang terakhir, jika dipahami secara harfiah, justru akan mengajarkan lebih daripada yang bersedia diakui oleh umat Katolik Roma sendiri - yaitu bahwa setiap orang yang makan Perjamuan Tuhan pasti masuk surga, dan bahwa siapa pun yang tidak memakannya pasti tidak akan memperoleh hidup yang kekal (bdk. ayat 53, 54). Selain itu, ayat 63 secara jelas menunjukkan suatu penafsiran yang bersifat rohani. Lebih lanjut, tidaklah mungkin secara logis untuk membayangkan bahwa roti yang dipecah oleh Yesus adalah tubuh yang sedang memegangnya; dan perlu diperhatikan bahwa Kitab Suci tetap menyebutnya ‘roti’ bahkan setelah diyakini telah mengalami transubstansiasi, sebagaimana terlihat dalam 1Kor 10:17; 11:26,27,28. Pandangan Roma ini juga bertentangan dengan pancaindra manusia, karena meminta kita untuk percaya bahwa apa yang terlihat dan terasa seperti roti dan anggur, sesungguhnya adalah daging dan darah. Pandangan ini juga bertentangan dengan akal budi manusia, karena menuntut kita untuk percaya pada pemisahan antara substansi dan sifat-sifatnya, serta pada keberadaan tubuh materiil di berbagai tempat secara bersamaan - dua hal yang sama-sama bertentangan dengan nalar. Oleh karena itu, pengangkatan dan penyembahan terhadap hosti juga tidak memiliki dasar yang sah.] - ‘Systematic Theology’, hal 652.

 

Tanggapan saya:

 

a) Berkenaan dengan perubahan zat.

 

1.  Tubuh jasmani Kristus bukanlah Allah dan tidak bersifat ilahi, sehingga tidak bersifat mahaada. Kitab Suci tidak pernah menggambarkan bahwa tubuh Kristus bisa ada di dua tempat yang berbeda pada saat yang sama. Sekarang, setelah kenaikan Yesus ke sorga, tubuh Kristus ada di surga dan Ia hadir di dunia melalui Roh Kudus. Karena itu dalam Perjamuan Kudus Kristus tidak hadir secara jasmani!

 

Bdk. Kis 3:21 - Kristus itu harus tinggal di sorga sampai waktu pemulihan segala sesuatu, seperti yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi-nabiNya yang kudus di zaman dahulu..

 

2.  Kata ‘this’ [= ini] dalam 1Kor 11:24 tidak mungkin menunjuk pada roti dalam 1Kor 11:23, karena jenis kelamin keduanya berbeda.

 

Kata ‘roti’ (ARTOS) jenis kelaminnya masculine, sedangkan kata ‘This’ (TAUTO) jenis kelaminnya neuter. Cek dengan Bible Works 8.

 

1Kor 11:23-24 - “(23) Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti (24) dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: ‘Inilah tubuhKu, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!’.

KJV: ‘This is My body’.

 

Leon Morris (Tyndale) tentang 1Kor 11:24: Jesus broke the bread and said, ‘This is my body’ (Moffatt, ‘This means my body’). These words have been made the proof text for doctrines such as transubstantiation and consubstantiation with their realistic identification of the bread with the body of Christ. But This is neuter (touto), not masculine as it should be if it referred to the masculine word for bread (artos). It may refer to the whole action, as the second this does. [= Yesus memecah-mecahkan roti dan berkata, ‘Ini adalah tubuhKu’ (Moffatt, ‘Ini berarti tubuhKu’). Kata-kata ini telah dijadikan text bukti untuk doktrin-doktrin seperti transubstantiation dan consubstantiation dengan penyamaan realistik mereka tentang / dari roti dengan tubuh Kristus. Tetapi ‘this’ / ‘ini’ adalah kata dengan jenis kelamin neuter / netral (TOUTO), bukan laki-laki seperti seharusnya jika itu menunjuk pada kata berjenis kelamin laki-laki untuk roti (ARTOS). Itu bisa menunjuk pada seluruh tindakan, seperti kata ‘this’ yang kedua.] - Libronix.

Catatan: kata HAIMA [= blood / darah], juga berjenis kelamin neuter.

 

3.  Pada waktu Yesus mengambil roti, memecah-mecahkannya dan berkata “Inilah tubuhKu” (Mat 26:26  1Kor 11:24), maksudnya hanyalah bahwa roti merupakan simbol dari tubuhNya. Demikian juga pada waktu Ia mengambil cawan anggur dan berkata “Inilah darahKu” (Mat 26:28), maka maksudNya hanyalah bahwa anggur merupakan simbol dari darahNya. Jadi tidak boleh diartikan bahwa pada saat itu roti betul-betul berubah menjadi tubuh Kristus dan anggur betul-betul berubah menjadi darah Kristus!

 

Dasar penafsiran ini:

 

a.  Pada saat Kristus mengatakan kata-kata “Inilah tubuhKu” itu, baik tubuh maupun darahNya ada dalam diriNya, lalu bagaimana itu bisa lari ke roti dan anggur?

 

Charles Hodge (tentang 1Kor 11:24): This is my body.’ These words are found in all the accounts. ... The ordinary and natural interpretation of them is that the pronoun ‘this’ refers to the bread. ‘This bread that I hold in my hand and that I give to you is my body.’ That is, it is the symbol of his body, ... It would seem clear that they must have this meaning because of the following considerations. 1. It is impossible for the bread in Christ’s hand to have been his literal body then seated at the table, or for the wine to have been the blood that was then flowing in his veins. [= ‘Inilah tubuhKu’. Kata-kata ini ditemukan dalam semua cerita. ... Penafsiran yang biasa dan alamiah tentang kata-kata ini adalah bahwa kata ganti ‘ini’ menunjuk pada roti. ‘Roti yang Aku pegang dalam tanganKu ini dan yang Aku berikan kepadamu adalah tubuhKu’. Artinya, itu adalah simbol dari tubuhNya, ... Kelihatannya jelas bahwa kata-kata itu harus mempunyai arti ini karena pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut: 1. Adalah mustahil bagi roti dalam tangan Kristus untuk menjadi tubuhNya secara hurufiah yang pada saat itu duduk di meja, atau bagi anggur untuk menjadi darah yang pada saat itu sedang mengalir dalam pembuluh darahNya.].

 

b.  Kalau kata-kata Yesus itu mau dihurufiahkan, bagaimana menafsirkan Luk 22:20, yang berbunyi: “Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darahKu”? Haruskah kita menafsirkan bahwa pada saat itu ‘cawan / anggur’ berubah menjadi ‘perjanjian’?

 

Charles Hodge (tentang 1Kor 11:24): 2. It is even more obviously impossible to take the words, ‘This cup is the new covenant’ literally. But Roman Catholics do not hold to a transubstantiation of the cup, but only of the wine. But if the words are to be taken literally, they necessitate believing both. [= 2. Adalah bahkan dengan lebih jelas mustahil untuk mengartikan kata-kata, ‘Cawan ini adalah perjanjian baru’ secara hurufiah. Tetapi orang-orang Roma Katolik tidak mempercayai pada suatu transubstantiation / perubahan zat dari cawan, tetapi hanya dari anggur. Tetapi jika kata-kata itu harus diartikan secara hurufiah, mereka harus mempercayai keduanya.].

 

c.  Adam Clarke mengatakan bahwa dalam bahasa Ibrani tidak ada kata yang berarti ‘menggambarkan / menunjukkan / berarti’, dan karena itu kalau mereka mau berkata bahwa ‘A menggambarkan B’ maka mereka berkata ‘A adalah B’.

Contoh:

(1)     Kej 40:12 - Kata Yusuf kepadanya: ‘Beginilah arti mimpi itu: ketiga carang itu artinya (adalah) tiga hari;.

NASB/Lit: ‘the three branches are three days’ [= tiga cabang itu adalah tiga hari].

(2)     Kej 40:18 - Yusuf menjawab: ‘Beginilah arti mimpi itu: ketiga bakul itu artinya (adalah) tiga hari;.

NASB/Lit: ‘the three baskets are three days’ [= tiga keranjang itu adalah tiga hari].

(3)     Kej 41:26: ‘Ke 7 ekor lembu yang baik itu ialah 7 tahun, dan ke 7 bulir gandum yang baik itu ialah 7 tahun juga’.

(4)     Kej 41:27 (NIV): ‘The 7 lean, ugly cows that came up after they did are 7 years, and so are the 7 worthless heads of grain scorched by the east wind: They are 7 years of famine’ [= ke 7 lembu yang kurus dan buruk yang keluar setelahnya adalah 7 tahun, dan demikian pula ke 7 bulir gandum yang hampa dan layu oleh angin timur itu: mereka adalah 7 tahun kelaparan].

(5)     Daniel 7:23b,24a - “(23b) ‘... Binatang yang ke 4 itu ialah kerajaan yang ke 4 yang akan ada di bumi, ... (24a) Ke 10 tanduk itu ialah ke 10 raja ...’”.

(6)     Daniel 8:21: ‘Dan kambing jantan yang berbulu kesat itu ialah raja negeri Yunani, dan tanduk besar yang di antara kedua matanya itu ialah raja yang pertama.’.

Catatan: kalau semua ayat-ayat ini mau ditafsirkan secara hurufiah sebagaimana Gereja Roma Katolik menafsirkan Mat 26:26,28, maka akan terjadi kekonyolan yang luar biasa!

 

Dalam Perjanjian Baru digunakan bahasa Yunani, dan dalam bahasa Yunani memang ada kata yang berarti ‘menunjukkan / menggambar­kan / berarti’. Tetapi anehnya, Perjanjian Baru masih sering mengikuti jejak bahasa Ibrani seperti di atas.

Contoh:

(1)     Mat 5:13a,14a - “(13a) ‘Kamu adalah garam dunia. ... (14a) Kamu adalah terang dunia..

(2)     Mat 13:37-39: “(37) Ia menjawab, kataNya: ‘Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manu­sia; (38) ladang ialah dunia. Benih yang baik itu (ialah) anak-anak Kerajaan dan lalang (ialah) anak-anak si jahat. (39) Musuh yang mena­burkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman dan para penuai itu (ialah) malaikat.”.

Catatan: kata ‘ialah’ yang ada dalam tanda kurung tidak ada dalam Kitab Suci Indonesia, tetapi seharusnya ada.

KJV: ‘(38) The field is the world; the good seed are the children of the kingdom; but the tares are the children of the wicked one; (39) The enemy that sowed them is the devil; the harvest is the end of the world; and the reapers are the angels.’ [= Ladang adalah dunia; benih yang baik adalah anak-anak kerajaan; tetapi lalang adalah anak-anak si jahat; Musuh yang menaburkan mereka adalah Iblis; panen / waktu menuai adalah akhir dunia ini; dan para penuai adalah malaikat-malaikat.].

(3)     1Kor 10:4 - dan mereka semua minum minuman rohani yang sama, sebab mereka minum dari batu karang rohani yang mengikuti mereka, dan batu karang itu ialah Kristus..

(4)     Gal 4:24-31 - “(24) Ini adalah suatu kiasan. Sebab kedua perempuan itu adalah dua ketentuan Allah: yang satu berasal dari gunung Sinai dan melahirkan anak-anak perhambaan, itulah Hagar - (25) Hagar ialah gunung Sinai di tanah Arab - dan ia sama dengan Yerusalem yang sekarang, karena ia hidup dalam perhambaan dengan anak-anaknya. (26) Tetapi Yerusalem sorgawi adalah perempuan yang merdeka, dan ialah ibu kita. (27) Karena ada tertulis: ‘Bersukacitalah, hai si mandul yang tidak pernah melahirkan! Bergembira dan bersorak-sorailah, hai engkau yang tidak pernah menderita sakit bersalin! Sebab yang ditinggalkan suaminya akan mempunyai lebih banyak anak dari pada yang bersuami.’ (28) Dan kamu, saudara-saudara, kamu sama seperti Ishak adalah anak-anak janji. (29) Tetapi seperti dahulu, dia, yang diperanakkan menurut daging, menganiaya yang diperanakkan menurut Roh, demikian juga sekarang ini. (30) Tetapi apa kata nas Kitab Suci? ‘Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba perempuan itu tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anak perempuan merdeka itu.’ (31) Karena itu, saudara-saudara, kita bukanlah anak-anak hamba perempuan, melainkan anak-anak perempuan merdeka..

(5)     Wah 1:20 - Dan rahasia ketujuh bintang yang telah kaulihat pada tangan kananKu dan ketujuh kaki dian emas itu: ketujuh bintang itu ialah malaikat ketujuh jemaat dan ketujuh kaki dian itu ialah ketujuh jemaat.’.

 

Kesimpulan:

Dari semua ini terlihat dengan jelas bahwa pada saat Yesus berkata ‘This is my body / blood’ [= Ini adalah tubuh / darah­Ku], maksudnya ialah: roti / anggur itu menggambarkan / merupakan simbol dari tubuh / darahNya.

Jadi, ini sebetulnya sama dengan pada waktu Ia berkata:

(a)          Akulah pokok anggur yang benar (Yoh 15:1).

(b)          Akulah pintu (Yoh 10:9).

(c) Akulah jalan (Yoh 14:6).

(d)          Akulah terang dunia (Yoh 8:12  9:5).

(e)          Akulah roti hidup (Yoh 6:35).

 

2) Berkenaan dengan pengorbanan ulang dari Kristus.

Kitab Suci menyatakan bahwa Yesus dikorbankan hanya satu kali saja.

Bandingkan dengan ayat-ayat ini:

a) Ibr 7:27 - “yang tidak seperti imam-imam besar lain, yang setiap hari harus mempersembahkan korban untuk dosanya sendiri dan sesudah itu barulah untuk dosa umatnya, sebab hal itu telah dilakukanNya satu kali untuk selama-lamanya, ketika Ia mempersembahkan diriNya sendiri sebagai korban.”.

b) Ibr 9:12 - “dan Ia telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat yang kudus bukan dengan membawa darah domba jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darahNya sendiri. Dan dengan itu Ia telah mendapat kelepasan yang kekal.”.

c)  Ibr 9:28 - “demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diriNya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diriNya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia.”.

d) Ibr 10:10-14 - “(10) Dan karena kehendakNya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus. (11) Selanjutnya setiap imam melakukan tiap-tiap hari pelayanannya dan berulang-ulang mempersembahkan korban yang sama, yang sama sekali tidak dapat menghapuskan dosa. (12) Tetapi Ia, setelah mempersembahkan hanya satu korban saja karena dosa, Ia duduk untuk selama-lamanya di sebelah kanan Allah, (13) dan sekarang Ia hanya menantikan saatnya, di mana musuh-musuhNya akan dijadikan tumpuan kakiNya. (14) Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan..

 

 

-bersambung-

 

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali

Alamat Gereja :
Jl. Raya Kali Rungkut 5 - Ruko Rungkut Megah Raya  BLOK  D - 16, SURABAYA

Rek Gereja : Account BCA 3631422185 a/n Tjoe Ming Tjhuin