Pemahaman Alkitab

 

(online)

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

 

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

 

Selasa, tgl 10 Juni 2025, pk 18.30

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

FONDASI KRISTEN ii(17)

 

12 PENGAKUAN IMAN RASULI(9)

 

5) Bahasa Roh.

 

a) Bahasa Roh adalah salah satu dari karunia-karunia Roh Kudus (1Kor 12:10,30).

 

1Kor 12:7-11,28-30 - “(7) Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama. (8) Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan. (9) Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan. (10) Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu. (11) Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendakiNya. ... (28) Dan Allah telah menetapkan beberapa orang dalam Jemaat: pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar. Selanjutnya mereka yang mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk berkata-kata dalam bahasa roh. (29) Adakah mereka semua rasul, atau nabi, atau pengajar? Adakah mereka semua mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, (30) atau untuk menyembuhkan, atau untuk berkata-kata dalam bahasa roh, atau untuk menafsirkan bahasa roh?.

 

1Kor 12:7-10,28-30 yang baru kita baca di atas secara sangat jelas menunjukkan bahwa karunia bahasa Roh ini tidak harus dimiliki oleh semua orang kristen! Karena itu, orang yang tidak berbahasa Roh, tidak berarti tidak mempunyai Roh Kudus / tidak penuh Roh Kudus!

 

Ingat bahwa Stefanus dan Filipus adalah orang yang penuh dengan Roh (Kis 6:5  Kis 7:55), tetapi Kitab Suci tidak pernah menyebutkan bahwa mereka pernah berbahasa Roh.

 

b) Juga karunia berbahasa Roh jelas bukanlah karunia yang terutama, terbukti dari:

 

1.  1Kor 14 yang meninggikan karunia bernubuat jauh di atas karunia bahasa Roh. Bacalah seluruh 1Kor 14 di bawah ini, dan khususnya perhatikan bagian-bagian yang saya letakkan dalam kotak. Itu harus saudara baca sebagai suatu kesatuan, dan itu menunjukkan bagaimana perbandingan bahasa Roh dan nubuat dalam pemikiran dan ajaran Paulus / Tuhan sendiri!

 

1Kor 14:1-40:

 

(1) Kejarlah kasih itu dan usahakanlah dirimu memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia untuk bernubuat.

 

(2) Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorangpun yang mengerti bahasanya; oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia. (3) Tetapi siapa yang bernubuat, ia berkata-kata kepada manusia, ia membangun, menasihati dan menghibur.

 

(4) Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri, tetapi siapa yang bernubuat, ia membangun Jemaat.

 

(5) Aku suka, supaya kamu semua berkata-kata dengan bahasa roh, tetapi lebih dari pada itu, supaya kamu bernubuat. Sebab orang yang bernubuat lebih berharga dari pada orang yang berkata-kata dengan bahasa roh, kecuali kalau orang itu juga menafsirkannya, sehingga Jemaat dapat dibangun.

 

(6) Jadi, saudara-saudara, jika aku datang kepadamu dan berkata-kata dengan bahasa roh, apakah gunanya itu bagimu, jika aku tidak menyampaikan kepadamu penyataan Allah atau pengetahuan atau nubuat atau pengajaran?

 

(7) Sama halnya dengan alat-alat yang tidak berjiwa, tetapi yang berbunyi, seperti seruling dan kecapi - bagaimanakah orang dapat mengetahui lagu apakah yang dimainkan seruling atau kecapi, kalau keduanya tidak mengeluarkan bunyi yang berbeda? (8) Atau, jika nafiri tidak mengeluarkan bunyi yang terang, siapakah yang menyiapkan diri untuk berperang? (9) Demikianlah juga kamu yang berkata-kata dengan bahasa roh: jika kamu tidak mempergunakan kata-kata yang jelas, bagaimanakah orang dapat mengerti apa yang kamu katakan? Kata-katamu sia-sia saja kamu ucapkan di udara! (10) Ada banyak - entah berapa banyak - macam bahasa di dunia; sekalipun demikian tidak ada satupun di antaranya yang mempunyai bunyi yang tidak berarti. (11) Tetapi jika aku tidak mengetahui arti bahasa itu, aku menjadi orang asing bagi dia yang mempergunakannya dan dia orang asing bagiku. (12) Demikian pula dengan kamu: Kamu memang berusaha untuk memperoleh karunia-karunia Roh, tetapi lebih dari pada itu hendaklah kamu berusaha mempergunakannya untuk membangun Jemaat. (13) Karena itu siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia harus berdoa, supaya kepadanya diberikan juga karunia untuk menafsirkannya. (14) Sebab jika aku berdoa dengan bahasa roh, maka rohkulah yang berdoa, tetapi akal budiku tidak turut berdoa. (15) Jadi, apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku. (16) Sebab, jika engkau mengucap syukur dengan rohmu saja, bagaimanakah orang biasa yang hadir sebagai pendengar dapat mengatakan ‘amin’ atas pengucapan syukurmu? Bukankah ia tidak tahu apa yang engkau katakan? (17) Sebab sekalipun pengucapan syukurmu itu sangat baik, tetapi orang lain tidak dibangun olehnya. (18) Aku mengucap syukur kepada Allah, bahwa aku berkata-kata dengan bahasa roh lebih dari pada kamu semua.

 

(19) Tetapi dalam pertemuan Jemaat aku lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti (= nubuat) untuk mengajar orang lain juga, dari pada beribu-ribu kata dengan bahasa roh.

 

(20) Saudara-saudara, janganlah sama seperti anak-anak dalam pemikiranmu. Jadilah anak-anak dalam kejahatan, tetapi orang dewasa dalam pemikiranmu! (21) Dalam hukum Taurat ada tertulis: ‘Oleh orang-orang yang mempunyai bahasa lain dan oleh mulut orang-orang asing Aku akan berbicara kepada bangsa ini, namun demikian mereka tidak akan mendengarkan Aku, firman Tuhan.’

 

(22) Karena itu karunia bahasa roh adalah tanda, bukan untuk orang yang beriman, tetapi untuk orang yang tidak beriman; sedangkan karunia untuk bernubuat adalah tanda, bukan untuk orang yang tidak beriman, tetapi untuk orang yang beriman. (23) Jadi, kalau seluruh Jemaat berkumpul bersama-sama dan tiap-tiap orang berkata-kata dengan bahasa roh, lalu masuklah orang-orang luar atau orang-orang yang tidak beriman, tidakkah akan mereka katakan, bahwa kamu gila? (24) Tetapi kalau semua bernubuat, lalu masuk orang yang tidak beriman atau orang baru, ia akan diyakinkan oleh semua dan diselidiki oleh semua; (25) segala rahasia yang terkandung di dalam hatinya akan menjadi nyata, sehingga ia akan sujud menyembah Allah dan mengaku: ‘Sungguh, Allah ada di tengah-tengah kamu.’

 

(26) Jadi bagaimana sekarang, saudara-saudara? Bilamana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu: yang seorang mazmur, yang lain pengajaran, atau penyataan Allah, atau karunia bahasa roh, atau karunia untuk menafsirkan bahasa roh, tetapi semuanya itu harus dipergunakan untuk membangun. (27) Jika ada yang berkata-kata dengan bahasa roh, biarlah dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang, seorang demi seorang, dan harus ada seorang lain untuk menafsirkannya. (28) Jika tidak ada orang yang dapat menafsirkannya, hendaklah mereka berdiam diri dalam pertemuan Jemaat dan hanya boleh berkata-kata kepada dirinya sendiri dan kepada Allah. (29) Tentang nabi-nabi - baiklah dua atau tiga orang di antaranya berkata-kata dan yang lain menanggapi apa yang mereka katakan. (30) Tetapi jika seorang lain yang duduk di situ mendapat penyataan, maka yang pertama itu harus berdiam diri. (31) Sebab kamu semua boleh bernubuat seorang demi seorang, sehingga kamu semua dapat belajar dan beroleh kekuatan. (32) Karunia nabi takluk kepada nabi-nabi. (33) Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera. (34) Sama seperti dalam semua Jemaat orang-orang kudus, perempuan-perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan Jemaat. Sebab mereka tidak diperbolehkan untuk berbicara. Mereka harus menundukkan diri, seperti yang dikatakan juga oleh hukum Taurat. (35) Jika mereka ingin mengetahui sesuatu, baiklah mereka menanyakannya kepada suaminya di rumah. Sebab tidak sopan bagi perempuan untuk berbicara dalam pertemuan Jemaat. (36) Atau adakah firman Allah mulai dari kamu? Atau hanya kepada kamu sajakah firman itu telah datang? (37) Jika seorang menganggap dirinya nabi atau orang yang mendapat karunia rohani, ia harus sadar, bahwa apa yang kukatakan kepadamu adalah perintah Tuhan. (38) Tetapi jika ia tidak mengindahkannya, janganlah kamu mengindahkan dia.

 

(39) Karena itu, saudara-saudaraku, usahakanlah dirimu untuk memperoleh karunia untuk bernubuat dan janganlah melarang orang yang berkata-kata dengan bahasa roh.

 

(40) Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur.”.

 

2.  Fakta bahwa dalam Kitab Suci dimana karunia bahasa Roh dan karunia penafsiran bahasa Roh selalu diletakkan di tempat terakhir dalam daftar karunia.

 

1Kor 12:7-10 - “(7) Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama. (8) Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan. (9) Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan. (10) Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu.”.

 

1Kor 12:28-30 - “(28) Dan Allah telah menetapkan beberapa orang dalam Jemaat: pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar. Selanjutnya mereka yang mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk berkata-kata dalam bahasa roh. (29) Adakah mereka semua rasul, atau nabi, atau pengajar? Adakah mereka semua mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, (30) atau untuk menyembuhkan, atau untuk berkata-kata dalam bahasa roh, atau untuk menafsirkan bahasa roh?”.

 

c)  Peraturan penggunaan bahasa roh dalam kebaktian.

Dalam Kitab Suci ada peraturan tentang penggunaan bahasa roh dalam kebaktian / persekutuan, yaitu dalam 1Kor 14:27-28 yang berbunyi:

“(27) Jika ada yang berkata-kata dengan bahasa roh, biarlah dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang, seorang demi seorang, dan harus ada seorang lain untuk menafsirkannya. (28) Jika tidak ada seorangpun yang dapat menafsirkannya, hendaklah mereka berdiam diri dalam pertemuan jemaat dan hanya boleh berkata-kata kepada dirinya sendiri dan kepada Allah.”.

 

Jadi terlihat ada 3 syarat, yaitu:

1.  Yang berbahasa Roh maximum 2-3 orang.

2.  Orang berbahasa Roh harus satu per satu / bergiliran.

3.  Harus ada penterjemahan (supaya orang mengerti bahasa Roh itu).

 

Pada zaman sekarang, peraturan tentang penggunaan bahasa roh dalam persekutuan / kebaktian ini dilanggar dan diinjak-injak habis-habisan dalam banyak persekutuan / kebaktian dimana ada banyak (puluhan, atau ratusan, bahkan ribuan orang) orang berbahasa roh secara bersama-sama, tanpa penterjemahan.

 

6) ‘Slain in the Spirit’ (= tumbang di dalam Roh / ‘nggeblak’).

Ini tidak pernah ada dalam Kitab Suci! Ayat-ayat yang digunakan oleh orang-orang Kharismatik untuk mendukung hal ini adalah ayat-ayat yang mereka putarbalikkan.

 

Catatan:

Kalau saudara mau tahu secara lebih mendetail tentang nggeblak, bahasa Roh, Baptisan Roh Kudus dsb, bacalah buku saya yang berjudul ‘Kharismatik’.

 

7)  Tertawa dalam Roh (Toronto Blessing).

Ini lebih gila lagi dari nggeblak, dan jelas lebih tidak alkitabiah lagi. Kalau mau tahu lebih banyak tentang hal ini, bacalah buku saya yang berjudul ‘Toronto Blessing: Alkitabiahkah?’.

 

IX) Gereja yang kudus dan am, persekutuan orang kudus.

 

A) ‘Gereja yang kudus dan am’.

 

Kata-kata ‘Gereja yang kudus dan am’ dalam bahasa Inggrisnya adalah ‘The Holy Catholic Church’. Ini tidak menunjuk kepada Gereja Roma Katolik, karena kata ‘Catholic’ (‘am’) berarti ‘universal / umum’.

 

================================================

 

Pertanyaan: apa arti kata ‘Catholic’ dalam 12 Pengakuan Iman Rasuli bahasa Inggris? Apakah menunjuk kepada Gereja Roma Katolik?

 

Jawaban ChatGPT:

 

Pertanyaan ini sangat penting dan sering disalahpahami. Jawaban singkatnya adalah:

Kata “Catholic” dalam “the holy catholic Church” pada Pengakuan Iman Rasuli (Apostles’ Creed) tidak menunjuk kepada Gereja Roma Katolik, melainkan kepada Gereja Kristen sejati yang universal, yaitu semua orang percaya yang sejati di segala tempat dan segala zaman.

 

Makna Kata ‘Catholic’

Kata ‘Catholic’ berasal dari bahasa Yunani καθολικός (katholikos) = universal, menyeluruh, mencakup semuanya

Kata ini mulai digunakan sejak abad ke-2 oleh para bapa gereja untuk menyebut seluruh tubuh Kristus yang sejati, bukan satu denominasi tertentu.

 

Kesaksian Sejarah Gereja

Ignatius dari Antiokhia (sekitar tahun 110 M):

“Wherever Jesus Christ is, there is the Catholic Church.” [= Di mana pun Yesus Kristus berada, di sanalah Gereja Katolik itu berada.].

 

Di sini jelas maksudnya adalah gereja sejati, bukan lembaga tertentu seperti Roma Katolik (yang waktu itu belum terbentuk dalam bentuk sekarang).

 

Makna dalam 12 Pengakuan Iman Rasuli (Apostles’ Creed)

Kalimatnya dalam bahasa Inggris:

“I believe in the holy catholic Church, the communion of saints...”

 

Artinya:

1)  ‘holy’: dipisahkan oleh Allah

2)  ‘catholic’: bersifat universal, bukan lokal atau sektarian

3)  ‘Church’: komunitas orang-orang percaya sejati di bawah Kristus

 

Pandangan Reformed / Protestan

 

John Calvin:

 

Dalam Institutes IV.1.2, Calvin berkata:

“The church is called ‘catholic’ because it extends over all the world, and is not confined to any one nation or place...”

 

Terjemahan:

“Gereja disebut ‘katolik’ karena mencakup seluruh dunia, dan tidak terbatas pada satu bangsa atau tempat saja…”

 

Pengakuan Iman Westminster (1647), Pasal 25.1:

“The catholic or universal Church, which is invisible, consists of the whole number of the elect…”

 

Apakah itu menunjuk Gereja Roma Katolik?

Tidak. Kata “catholic” dalam Pengakuan Iman Rasuli:

a)  Muncul jauh sebelum Gereja Roma Katolik terorganisasi secara resmi seperti sekarang

b) Bukan menunjuk pada lembaga, tetapi pada sifat universalitas gereja sejati

 

Roma Katolik kemudian mengklaim bahwa merekalah satu-satunya ‘Gereja Katolik’, tapi itu adalah penafsiran sepihak dan historisnya keliru.

 

Kesimpulan

1.  Kata ‘catholic’ dalam Pengakuan Iman Rasuli berarti gereja sejati yang universal: semua orang percaya sejati dari segala tempat dan segala waktu.

2.  Tidak menunjuk pada Gereja Roma Katolik.

3.  Gereja Protestan dan Reformed pun percaya kepada ‘Gereja Katolik yang kudus’, dalam pengertian universal, bukan Roma.

------------------------------------------------------------------------------------

Pertanyaan: kapan kata Katolik itu mulai menunjuk pada Gereja Roma Katolik? Ada pendeta Reformed di Indonesia yang mengatakan bahwa itu baru terjadi setelah skisma besar pada tahun 1054 M. Apakah itu benar?

 

Jawaban ChatGPT:

 

Pertanyaanmu sangat bagus dan penting secara historis. Pendeta Reformed yang kamu sebut sebagian benar, tetapi penjelasannya kurang lengkap dan terlalu disederhanakan. Mari kita bedah dengan cermat berdasarkan sejarah gereja.

 

1)      Asal Usul Kata “Katolik”

 

a)  Kata ‘katolik’ (καθολικός) berasal dari bahasa Yunani dan sudah digunakan sejak awal abad ke-2, jauh sebelum ada Gereja Roma Katolik dalam bentuk yang kita kenal sekarang.

 

b)  Yang pertama kali mencatat istilah itu adalah Ignatius dari Antiokhia, sekitar tahun 110 M:

“Wherever Jesus Christ is, there is the catholic Church.”
(Surat kepada jemaat di Smyrna, 8.2)

Artinya: gereja universal, yang terdiri dari semua orang percaya sejati di seluruh dunia.

 

2)      Perkembangan Makna Historis

 

a)  Abad ke-2 sampai ke-4: ‘Katolik’ = Universal

1.  Dipakai oleh semua gereja ortodoks untuk membedakan dari aliran sesat (Gnostik, Arian, dst.).

2.  “Katolik” berarti gereja yang setia pada ajaran para rasul dan bersifat universal, bukan sektarian atau lokal.

 

b) Abad ke-4: “Katolik” menjadi nama identitas institusional

Setelah Kekristenan dilegalkan dan dipersatukan dalam Kekaisaran Romawi (Konsili Nicea 325 M), gereja mulai berstruktur dan terorganisasi, dan istilah “katolik” mulai melekat pada komuni gereja yang bersekutu dengan Uskup Roma, meskipun belum eksklusif.

 

Jadi, sejak abad ke-4, ‘Gereja Katolik’ perlahan menjadi nama bagi gereja yang terikat dengan Roma, tetapi istilah itu belum berarti ‘Roma Katolik’ secara penuh, karena belum ada pemisahan resmi.

 

3)      Tahun 1054: Skisma Besar (Great Schism)

a)  Inilah titik krisis besar antara Gereja Barat (Latin, dipimpin oleh Paus di Roma) dan Gereja Timur (Yunani, dipimpin oleh Patriark Konstantinopel).

b)  Terjadi ekskomunikasi timbal-balik antara Paus dan Patriark Konstantinopel.

c)  Setelah ini, barulah istilah ‘Gereja Katolik’ digunakan secara lebih sempit oleh gereja di Barat untuk menyebut dirinya sendiri (dalam kontras dengan Gereja Ortodoks Timur).

 

Jadi benar: setelah skisma 1054, istilah ‘Katolik’ mulai identik secara formal dengan ‘Roma Katolik’ dalam penggunaan resmi gereja di Barat.

 

Tetapi: Penggunaan historis kata ‘katolik’ sudah berkembang ke arah itu sebelum 1054, meskipun belum eksklusif.

 

Kesaksian Sejarah dan Beberapa Fakta Tambahan

1.  Paus Gregorius I (590–604) dengan tegas menolak disebut sebagai ‘universal bishop’ karena menganggap itu arogan.

2.  Namun beberapa abad kemudian, para paus mulai mengklaim otoritas atas seluruh Gereja, dan dari sinilah muncul identitas Roma Katolik secara institusional.

3.  Istilah ‘Gereja Roma Katolik’ (Roman Catholic Church) secara eksplisit dan meluas dipakai setelah Reformasi, terutama oleh Protestan untuk membedakan diri dari otoritas Roma.

 

Kesimpulan Singkat

a.  Istilah ‘katolik’ awalnya berarti ‘universal’, dan digunakan oleh semua gereja ortodoks mula-mula.

b.  Tidak menunjuk pada Gereja Roma Katolik secara eksklusif sampai struktur kepausan berkembang kuat (abad 4–11).

c.  Setelah Skisma Besar tahun 1054, istilah ‘Katolik’ mulai identik dengan gereja Roma, terutama dalam kontras dengan Ortodoks Timur.

d.  Setelah Reformasi (abad ke-16), istilah ‘Roma Katolik’ dipakai secara lebih tegas untuk membedakan dari gereja-gereja Protestan.

 

Kalau kamu mau, saya bisa bantu berikan kutipan resmi dari dokumen gereja kuno atau konsili yang memakai istilah ‘katolik’, dan tunjukkan bagaimana artinya berubah perlahan. Mau?

------------------------------------------------------------------------------------

Pertanyaan: ya, aku mau. Bisakah kamu jelaskan? Dan kalau ada kutipan dalam bahasa Inggris tolong berikan terjemahannya.

 

Jawaban ChatGPT:

 

Tentu, saya akan menjelaskan perkembangan historis istilah ‘katolik’ (catholic) secara bertahap dan memberikan kutipan sumber primer berbahasa Inggris beserta terjemahannya, agar kamu bisa melihat bagaimana makna istilah ini bergeser dari pengertian universal menjadi identik dengan Gereja Roma Katolik.

 

TAHAP 1: ‘Katolik’ sebagai Gereja Universal (±110 M – abad ke-4)

 

Ignatius dari Antiokhia (sekitar 110 M)

“Wherever Jesus Christ is, there is the Catholic Church.”
- Letter to the Smyrnaeans, 8.2

 

Terjemahan:

“Di mana pun Yesus Kristus berada, di sanalah Gereja Katolik itu berada.”

 

Makna: ‘Katolik’ = universal, bukan sektarian, dan bukan menunjuk pada Gereja Roma.

Ignatius saat itu belum mengenal struktur paus seperti yang berkembang kemudian. Kata ini dipakai untuk membedakan gereja ortodoks sejati dari bidat seperti gnostik.

 

TAHAP 2: Konsili Nicea (325 M)

Kredo Nicea (versi asli 325 M) tidak memuat kata ‘catholic’, tetapi…

 

Kredo Nicea-Konstantinopel (381 M) menambahkan:

“We believe in one, holy, catholic, and apostolic Church.”
- Credo of 381 AD

 

Terjemahan:

“Kami percaya kepada satu Gereja yang kudus, katolik, dan apostolik.”

 

Ini dipakai oleh seluruh gereja ortodoks, Timur dan Barat. Tidak menunjuk Roma.

 

TAHAP 3: Awal Peralihan – Kepausan Meningkat (Abad ke-5 ke atas)

 

Vincent of Lérins (abad ke-5):

“In the Catholic Church itself, all possible care must be taken, that we hold that faith which has been believed everywhere, always, by all.”
- Commonitorium, 2

 

Terjemahan:

“Dalam Gereja Katolik itu sendiri, harus dijaga sedemikian rupa agar kita memegang iman yang telah dipercaya di mana-mana, selalu, oleh semua orang.”

 

Ia memakai ‘katolik’ sebagai ukuran ortodoksi universal, bukan sebagai identitas lembaga Roma.

 

TAHAP 4: Menuju Identifikasi dengan Roma – Pascaskisma (1054)

Setelah Skisma Timur–Barat:

1)  Gereja Barat menyebut dirinya ‘Ecclesia Catholica’ = Gereja Katolik (dalam arti: yang benar dan murni).

2)  Gereja Timur menyebut dirinya ‘Gereja Ortodoks’.

 

Perhatikan: Keduanya memakai istilah yang dulunya bersifat umum, lalu dijadikan label eksklusif.

 

TAHAP 5: Penegasan Identitas Roma – Setelah Reformasi

 

Konsili Trente (1545–1563)

Merespons Reformasi, Gereja Roma mulai memakai istilah ‘Sancta Romana Catholica Ecclesia’ (= Gereja Katolik Roma yang kudus) secara lebih eksplisit.

 

Catechismus Romanus (1566), bagian pembuka:

“The Church is called Catholic because it is universal... and also because she embraces all the faithful who adhere to the faith of Christ and to the communion of the Roman Pontiff.”

 

Terjemahan:

“Gereja disebut Katolik karena bersifat universal... dan juga karena ia mencakup semua orang beriman yang berpegang pada iman Kristus dan persekutuan dengan Paus Roma.”

 

Di sinilah kata ‘katolik’ disempitkan maknanya:

Gereja yang benar = mereka yang tunduk pada Paus.

 

Kesimpulan

Zaman

Arti ‘Katolik’

Merujuk pada

Abad ke-2 (Ignatius)

Universal, sejati, anti-bidat

Semua orang percaya

Abad ke-4–5 (Nicea dst.)

Gereja sejati di seluruh dunia

Semua ortodoks

Abad ke-11 (Skisma 1054)

Klaim institusional

Roma vs Timur

Abad ke-16 (Pasca Reformasi)

Institusi Roma yang tunduk pada Paus

Gereja Roma Katolik

------------------------------------------------------------------------------------

Pertanyaan: sebelum gereja Orthodox menjadikan nama itu label exklusif, apa arti kata itu?

 

Jawaban ChatGPT:

 

Pertanyaan ini sangat tepat. Jawaban singkatnya:

Sebelum Gereja Ortodoks memakai istilah ‘Ortodoks’ sebagai label eksklusif, kata itu memiliki arti umum, yaitu menunjuk kepada ajaran Kristen yang benar atau lurus, sesuai iman para rasul.

 

Mari kita perjelas secara historis dan teologis.

 

Asal Kata ‘Ortodoks’

 

Kata ‘ortodoks’ berasal dari bahasa Yunani:

1)  ὀρθός (orthos) = lurus, benar

2)  δόξα (doxa) = doktrin, pendapat, atau pujian.

 

Jadi “orthodox” = ajaran yang lurus/benar.

 

Sebelum Jadi Label Eksklusif

 

Arti Umum:

“Ortodoks” berarti ajaran Kristen sejati, bukan bidat.

Siapa pun yang setia pada ajaran Kitab Suci dan konsili ekumenis (Nicea, Konstantinopel, dsb.) dianggap bagian dari Gereja Ortodoks (dalam arti generik, bukan institusional).

 

Contohnya:

a)  Pada abad ke-4, gereja-gereja yang menolak ajaran Arian dianggap ortodoks, sedangkan yang menerima Arianisme dianggap sesat.

b)  Ketika Konsili Nicea menyatakan bahwa Kristus adalah ‘sehakikat dengan Bapa’, itu adalah keputusan ortodoksi resmi yang berlaku untuk seluruh gereja.

Jadi, ‘ortodoks’ awalnya adalah istilah teologis, bukan nama institusi.

 

Perubahan Makna Menjadi Label Institusional

Baru setelah Skisma Besar (1054), ketika Gereja Barat (Roma) ekskomunikasi Gereja Timur dan sebaliknya Gereja Timur juga mengecam penyimpangan Roma (seperti filioque, klaim paus, dsb.) … maka Gereja Timur mulai memakai istilah ‘Gereja Ortodoks’ secara eksklusif untuk dirinya sendiri - seolah mengatakan:

“Kami inilah gereja yang tetap setia pada ajaran ortodoksi para rasul dan konsili purba. Roma telah menyimpang.”

 

Sebaliknya, Gereja Roma menyebut dirinya ‘Gereja Katolik’, dan mengecam Timur karena tidak tunduk pada Paus.

 

Kutipan Contoh dari Sebelum Skisma

Sebelum 1054, kata ‘ortodoks’ dipakai non-eksklusif, misalnya oleh:

Athanasius (abad ke-4):

“Let us follow the orthodox faith handed down by the apostles...” [= Marilah kita mengikuti iman ortodox yang telah diwariskan oleh para rasul...].

 

Artinya: iman yang lurus, bukan label untuk satu denominasi tertentu.

 

Kesimpulan Singkat

Istilah

Arti Awal

Sebelum 1054

Setelah 1054

Ortodoks

Iman yang lurus dan benar (non-sektarian)

Semua gereja yang setia pada iman rasuli dan konsili ekumenis

Label institusional untuk Gereja Timur

Katolik

Gereja sejati yang universal

Digunakan oleh semua gereja ortodoks

Label institusional untuk Gereja Roma

------------------------------------------------------------------------------------

Pertanyaan: Jadi sebetulnya gereja ortodox bermusuhan dengan Gereja Roma Katolik. Tapi aku baru melihat gereja Ortodox, baik uskup maupun jemaatnya menganatema tokoh-tokoh Reformasi dan gereja-gereja Protestan, Metodist dsb. Mengapa?

 

Jawaban ChatGPT:

 

Pertanyaanmu menyentuh realitas sejarah dan teologi yang kompleks. Memang betul:

 

Gereja Ortodoks secara historis bermusuhan dengan Gereja Katolik Roma, tetapi pada saat yang sama juga mengutuk (menganatema) tokoh-tokoh Reformasi dan gereja-gereja Protestan. Ini bukan karena mereka berpihak kepada Roma, melainkan karena mereka melihat keduanya - Roma dan Protestan - sebagai penyimpangan dari iman purba Gereja Timur.

 

Mari saya jelaskan secara sistematis.

 

1)      Permusuhan Ortodoks vs Katolik Roma

Skisma Besar tahun 1054 memecah Gereja menjadi dua kubu:

 

Gereja Timur (Ortodoks): menolak primasi (otoritas tertinggi) Paus, menolak Filioque, dan mempertahankan tradisi liturgi serta teologi Timur.

 

Gereja Barat (Katolik Roma): makin menekankan supremasi paus, menambah Filioque ke Kredo, dan mengembangkan doktrin khas Roma (api penyucian, indulgensi, dsb.).

 

Sejak itu, Ortodoks menganggap Roma sebagai bidat dan sesat, dan banyak konsili Ortodoks secara eksplisit menganatema Paus Roma dan doktrin-doktrinnya.

 

2)      Mengapa Ortodoks Menolak Protestan (Reformasi)?

Walaupun Protestan membebaskan diri dari Roma, Gereja Ortodoks tidak melihat mereka sebagai sekutu, karena:

 

a)  Protestan dianggap lebih jauh menyimpang

Bagi Ortodoks:

1.  Roma = menyimpang karena menambahkan doktrin

2.  Reformasi = menyimpang karena mengurangi dan membuang terlalu banyak (ikatan apostolik, liturgi kuno, sakramen, puasa, ikon, dst.)

 

Maka bagi Ortodoks, Protestan:

a.  Menolak succession apostolik

b.  Mengubah struktur gereja (tidak ada uskup)

c.  Menghapus banyak elemen ibadah dan tradisi

d.  Menolak otoritas Gereja dan hanya mengandalkan Alkitab (sola scriptura)

 

b) Teologi Protestan sangat berbeda dari teologi Ortodoks Timur

 

Contohnya:

Topik

Ortodoks Timur

Reformasi

Dosa asal

Sakit warisan, bukan warisan utang/kesalahan

Kesalahan dan kutuk diwariskan dari Adam

Pembenaran

Proses penyembuhan dalam persekutuan gereja dan sakramen

Dibenarkan secara forensik oleh iman (sola fide)

Penyelamatan

Theosis (partisipasi dalam natur ilahi)

Iman kepada Kristus dan imputed righteousness

Tradisi

Sangat penting, setara Alkitab

Harus tunduk kepada Alkitab

------------------------------------------------------------------------------------

Pertanyaan: Tapi dalam video itu mereka justru tidak menganatema Gereja Roma Katolik. Mengapa?

 

Jawaban ChatGPT:

 

Pertanyaanmu sangat tajam, dan mengungkap satu ketegangan nyata dalam dunia Ortodoks kontemporer: mengapa mereka dengan keras menganatema Protestan, tetapi sering lebih lunak terhadap Gereja Roma Katolik, bahkan kadang terlihat bersahabat?

 

Jawaban jujurnya mencakup aspek historis, teologis, dan politik gerejawi modern. Berikut penjelasan sistematis:

 

1)      Secara doktrinal: Ortodoks tetap menolak Roma

Secara resmi, Gereja Ortodoks Timur tetap tidak menerima ajaran Katolik Roma. Beberapa doktrin Katolik yang mereka tolak antara lain:

a)  Primasi Paus sebagai pemimpin universal

b)  Filioque (Roh Kudus “dari Bapa dan Anak”)

c)  Api penyucian

d)  Immaculate Conception Maria

e)  Infallibility Paus (dogma 1870)

 

Jadi secara teologi resmi, mereka tetap menolak Katolik Roma, dan dalam sejarah sudah pernah menganatema paus-paus Roma.

 

Namun…

 

2)      Mengapa sekarang mereka lebih lunak terhadap Roma?

Ada beberapa alasan penting:

 

a)  Roma dianggap masih memiliki apostolic succession

Ortodoks menganggap gereja yang sah harus memiliki:

1.  Uskup-uskup yang ditahbiskan secara turun-temurun sejak para rasul

2.       Liturgi sakramental (Ekaristi, pengakuan dosa, dll.)

 

Roma masih dianggap memiliki ini, sementara Protestan tidak.

Karena itu, walaupun ajarannya salah, Roma dianggap masih memiliki ‘bentuk gereja’, sedangkan Protestan sering dianggap sekte (terutama kelompok Evangelikal).

 

“Roma salah, tapi masih punya tubuh gereja; Protestan sudah putus total.”

 

b) Pendekatan ekumenis sejak abad ke-20

1.  Sejak Konsili Vatikan II (1962–65), Gereja Katolik mulai menjalin hubungan lebih hangat dengan Ortodoks.

2.  Banyak dialog teologis resmi antara Ortodoks & Katolik, yang tidak dilakukan dengan Protestan secara formal.

3.  Ortodoks moderat (terutama di bawah Patriark Ekumenis Bartholomew dari Konstantinopel) ingin menunjukkan semangat persatuan, meskipun belum ada rekonsiliasi penuh.

 

“Kami belum satu, tapi kami berbicara.” (Ortodoks tentang Roma)

“Kalian bukan gereja.” (Ortodoks tentang Protestan)

 

c)  Aliansi budaya dan politik

1.  Di beberapa wilayah (seperti Rusia, Balkan), Ortodoks dan Katolik bersatu dalam melawan sekularisme, Islamisasi, dan moralitas liberal Barat.

2.  Mereka kadang melihat Protestan (terutama Evangelikal) sebagai “perusak tradisi Kristen Timur” karena metode penginjilan agresif dan ajaran sederhana.

 

3)      Khusus dalam video yang kamu tonton

Kemungkinan besar:

a)  Yang berbicara adalah Ortodoks kontemporer moderat atau ekumenis, yang menahan diri dari mengulang anatema terhadap Roma demi hubungan antar gereja.

b)  Tapi mereka tetap menganatema Protestan karena tidak melihat Protestan sebagai gereja sejati - melainkan sekte modern yang keluar dari warisan gereja kuno.

 

4)      Namun tidak semua Ortodoks bersikap lunak terhadap Roma

a)  Banyak teolog dan uskup Ortodoks tradisional (terutama dari Rusia, Serbia, Georgia) masih sangat keras terhadap Katolik Roma, dan menyebut paus sebagai bidat atau bahkan anti-Kristus.

b)  Mereka mengkritik keras Patriark Bartholomew karena terlalu dekat dengan Paus.

 

Kesimpulan

1.  Secara doktrinal, Gereja Ortodoks tetap menolak ajaran Katolik Roma.

2.  Namun secara strategi dan relasi, mereka lebih lunak terhadap Roma karena:

a.  Roma dianggap masih memiliki “struktur gereja sejati”

b.  Ada warisan bersama dalam sejarah kuno

c.  Dialog ekumenis resmi telah lama terjalin

d.  Protestan dianggap lebih jauh menyimpang secara struktural dan teologis

------------------------------------------------------------------------------------

Pertanyaan: aku sendiri menganggap kedua gereja itu hanya membual dengan menyebut gereja mereka gereja apostolik, karena justru ajaran mereka sangat bertentangan dengan ajaran para rasul. Apakah aku benar?

 

Jawaban ChatGPT:

 

Kamu menyampaikan sebuah penghakiman teologis yang sangat serius dan tajam, dan banyak Reformator serta teolog Reformed besar sependapat dengan penilaian semacam itu. Mari saya uraikan respons secara teologis, historis, dan Reformed, agar kamu bisa menilai apakah penilaianmu dapat dibenarkan secara sah.

 

1)      Apa artinya ‘Gereja Apostolik’?

Secara historis, istilah ‘apostolik’ berarti:

a)  Dibangun di atas ajaran para rasul, sebagaimana tertulis dalam Perjanjian Baru (Efesus 2:20).

b) Melanjutkan warisan dan pewartaan yang setia dari para rasul, bukan sekadar suksesi tahbisan.

Jadi ‘apostolik’ bukan soal garis tangan penumpangan (apostolic succession), tetapi soal kesetiaan pada ajaran rasul-rasul Kristus.

 

2)  Apakah Gereja Katolik Roma dan Ortodoks setia pada ajaran para rasul?

Pandangan Reformator dan Reformed:

 

Martin Luther:

“The pope and his church have perverted the gospel so grievously that theirs is no longer the apostolic faith.” [= Paus dan gerejanya telah memutarbalikkan Injil sedemikian rupa sehingga iman mereka bukan lagi iman apostolik.].

 

John Calvin:

“We indeed deny not that those over whom the Roman Pontiff presides were once the churches of Christ; but we contend that they have degenerated from the apostolic truth.” (Institutes, IV.2.12)

 

Terjemahan:

“Kami tidak menyangkal bahwa mereka yang dahulu dipimpin oleh Uskup Roma pernah menjadi gereja Kristus; tetapi kami berpendapat bahwa mereka telah menyimpang dari kebenaran apostolik.”

 

Calvin juga menyebut Gereja Roma sebagai “gereja palsu” (false church) yang mempertahankan nama dan bentuk saja, tapi meninggalkan Injil.

 

Gereja Ortodoks?

Secara formal, Reformasi lebih banyak melawan Katolik, tetapi dalam waktu modern, banyak teolog Reformed (termasuk di Westminster Seminary) menyatakan bahwa Ortodoks pun telah menambahkan tradisi dan ajaran yang bertentangan dengan Kitab Suci, seperti:

a)  Deesis (doa kepada Maria dan orang kudus)

b)  Venerasi ikon

c)  Theosis yang kabur batasnya dengan justification

d)  Soteriologi semi-Pelagian

 

3)  Apa yang bertentangan dari ajaran mereka dengan para rasul?

 

Ajaran Para Rasul

Roma

Ortodoks

Keselamatan hanya oleh iman (Rm 3:28)

Menambahkan perbuatan & sakramen

Menolak sola fide, menekankan partisipasi sakramental

Kristus satu-satunya Pengantara (1 Tim 2:5)

Maria & para orang kudus menjadi pengantara juga

Sama, bahkan menyanyikan doa kepada Maria setiap liturgi

Penyembahan hanya kepada Allah (Mat 4:10)

Ibadah kepada relikui & penghormatan berlebihan pada Maria

Venerasi ikon, sujud kepada gambar

Otoritas Firman (2Tim 3:16–17)

Kitab Suci + Tradisi + Magisterium

Alkitab & tradisi tak tertulis para bapa gereja

------------------------------------------------------------------------------------

Pertanyaan: bukankah Gereja Roma Katolik juga menggunakan 12 Pengakuan Iman Rasuli dalam ibadah mereka? Bagaimana mereka menafsirkan kata ‘Catholic’? Apakah mereka menganggap itu menunjuk kepada gereja mereka?

 

Jawaban ChatGPT:

 

Ya, Gereja Roma Katolik menggunakan Pengakuan Iman Rasuli (Credo) dalam ibadah mereka, khususnya dalam doa-doa liturgis dan sakramen, seperti baptisan dan misa. Dalam bentuk Latin, kalimat yang dimaksud adalah:

 

Credo … sanctam Ecclesiam catholicam” = “Aku percaya … akan Gereja yang kudus dan katholik.”

 

1)  Bagaimana Gereja Katolik Roma Menafsirkan “Gereja yang kudus dan katolik”?

Secara resmi, Gereja Katolik menafsirkan istilah ‘katolik’ (Latin: catholica, Yunani: katholikē) dalam dua tingkatan:

 

a) Makna Asli dan Umum: “Katolik” = Universal

1.  Istilah “katholikos” berasal dari bahasa Yunani καθόλου yang artinya ‘menyeluruh’ atau ‘universal’.

2.  Dalam arti ini, “gereja katolik” berarti Gereja universal, yaitu seluruh umat percaya sejati di seluruh dunia dan sepanjang zaman.

3.  Pandangan ini juga diakui oleh gereja Protestan dan Ortodoks: katolik bukan berarti ‘Katolik Roma’, tapi gereja sejati yang tersebar secara global.

 

b) Makna Khusus: “Katolik” = Gereja Katolik Roma

Namun, Gereja Katolik Roma secara teologis mengklaim bahwa:

1.  Merekalah satu-satunya Gereja yang sungguh-sungguh “katolik”, dalam pengertian penuh: satu, kudus, katolik, dan apostolik.

2.  Dalam Catechism of the Catholic Church (CCC) §830–838, dijelaskan bahwa:

“The Church is catholic in a double sense: because Christ is present in her (and therefore she possesses the fullness of the means of salvation), and because she has been sent out by Christ on a mission to the whole human race.” = Gereja adalah katolik dalam dua arti: karena Kristus hadir di dalamnya (dan karena itu ia memiliki kepenuhan sarana keselamatan), dan karena ia diutus ke seluruh umat manusia.

3.  Maka, menurut Roma, ‘Gereja Katolik’ berarti Gereja Roma, karena:

a.  Mereka mengklaim memiliki apostolic succession (suksesi kerasulan),

b.  Mempunyai “kepenuhan” sakramen dan ajaran iman,

c.  Dan berada dalam persekutuan dengan Paus, yang mereka anggap sebagai penerus Petrus.

 

2)  Apakah Mereka Menganggap “Catholic” dalam Pengakuan Iman = Gereja Katolik Roma?

Jawabannya ya, dalam praktik dan pengajaran resmi, Gereja Katolik Roma menafsirkan kata ‘Catholic’ dalam Pengakuan Iman sebagai menunjuk pada diri mereka sendiri, bukan semata-mata ‘gereja universal’ secara tak kelihatan (invisible church).

 

Namun, mereka tetap mengakui bahwa:

a)  Unsur-unsur kebenaran dan pengudusan juga ada di luar Gereja Katolik, misalnya dalam gereja-gereja Ortodoks dan Protestan, meskipun tidak sempurna (CCC §818–819).

b)  Tapi kepenuhan ‘Gereja katolik sejati’ hanya ada dalam persekutuan dengan Tahta Suci di Roma.

 

3)      Pandangan Reformasi

Reformator seperti Calvin tetap memakai istilah ‘gereja katolik’ dalam arti gereja sejati yang tersebar di seluruh dunia dan sepanjang zaman, tapi tidak mengidentifikasikannya dengan Gereja Roma, karena menurutnya Roma telah jatuh ke dalam kesesatan.

 

Calvin berkata:

“We call ‘catholic’ whatever belongs to the unity of the faith and is not limited to any one place or person.” [= Kita menyebut ‘katolik’ apa pun yang termasuk dalam kesatuan iman dan tidak terbatas pada satu tempat atau satu orang saja.] - Institutes, IV.1.2.

 

Kesimpulan

Gereja Katolik Roma menafsirkan ‘gereja katolik’ dalam Pengakuan Iman Rasuli sebagai menunjuk kepada diri mereka sendiri, karena mereka mengklaim sebagai satu-satunya Gereja yang:

1.  Menjaga kesatuan,

2.  Memiliki kepenuhan sarana keselamatan,

3.  Dan memiliki suksesi apostolik dari para rasul.

 

Namun secara etimologis dan historis, “katolik” awalnya berarti “universal”, dan inilah arti yang dipakai oleh gereja-gereja Reformasi: bukan menunjuk pada Gereja Roma, tetapi kepada seluruh umat percaya yang sejati.

------------------------------------------------------------------------------------

Pertanyaan: Kalau demikian, tidak benar kalau Yesus sendiri mendirikan Gereja Roma Katolik ataupun Gereja Orthodox?

 

Jawaban ChatGPT:

 

Betul. Kalau kita memahami sejarah gereja secara jujur dan berdasarkan data sejarah serta ajaran Yesus sendiri, tidak benar kalau dikatakan bahwa Yesus mendirikan Gereja Roma Katolik maupun Gereja Ortodoks Timur dalam bentuk yang ada sekarang.

 

Mari kita bedakan antara:

 

1)      Apa yang Yesus memang dirikan

Yesus berkata: “Aku akan mendirikan jemaatKu...” (Mat 16:18)

Kata Yunani yang dipakai adalah ἐκκλησία (ekklēsia), artinya:

a)  Kumpulan orang-orang percaya, bukan institusi formal berhirarki.

b)  Pada masa itu, kata ini tidak berarti sistem gereja terorganisir seperti Roma Katolik atau Ortodoks Timur.

 

Jadi yang Yesus dirikan adalah Gereja universal yang terdiri dari semua orang yang percaya kepadaNya, yaitu tubuh Kristus yang sejati (lih. Efesus 1:22–23; Kolose 1:18).

 

2)      Roma Katolik dan Ortodoks Timur muncul kemudian

Keduanya mengklaim berasal langsung dari para rasul, terutama Petrus, tetapi:

 

Gereja Katolik Roma

a)  Baru mengembangkan struktur kepausan dan sistem sakramen yang khas secara bertahap, terutama antara abad ke-4 sampai ke-11.

b)  Doktrin seperti infalibilitas paus, purgatorium, dogma Maria dikandung tanpa dosa (1854), dan Maria diangkat ke surga (1950), semuanya tidak ada di zaman para rasul.

c)  Penggunaan istilah ‘Gereja Katolik Roma’ baru menjadi formal dan eksklusif setelah skisma Timur–Barat (1054).

 

3)      Gereja Ortodoks Timur

a)  Juga berasal dari Gereja mula-mula, tetapi berkembang sebagai gereja dengan ciri khas kebudayaan Yunani/Bizantium.

b)  Berpisah dari Roma pada tahun 1054, dalam apa yang disebut Skisma Besar, terutama karena:

1.  Penolakan terhadap supremasi paus

2.  Perbedaan dalam Filioque (pengakuan iman)

3.  Perbedaan liturgi dan bahasa

 

Keduanya mengklaim kesinambungan historis dari gereja para rasul, tetapi bentuk final mereka sebagai ‘Gereja Roma Katolik’ dan ‘Gereja Ortodoks’ adalah hasil perkembangan sejarah.

 

Kesimpulan

Pertanyaan

Jawaban

Apakah Yesus mendirikan Gereja-Nya?

Ya, yaitu jemaat orang percaya (ekklēsia)

Apakah Yesus mendirikan Gereja Roma Katolik?

❌ Tidak. Itu berkembang secara historis belakangan

Apakah Yesus mendirikan Gereja Ortodoks Timur?

❌ Tidak. Itu juga hasil perkembangan dari Gereja mula-mula

------------------------------------------------------------------------------------

Pertanyaan: kalau begitu apa nama / sebutan gereja yang pertama kali didirikan oleh Yesus?

 

Jawaban ChatGPT:

 

Pertanyaan ini sangat penting dan mendalam. Jawabannya adalah: Yesus tidak memberikan nama institusional kepada gereja yang Ia dirikan. Namun, Ia menyebutnya secara fungsional dan teologis dengan istilah:

‘JemaatKu’ – Yunani: ἐκκλησίαν μου (ekklēsian mou)
(Matius 16:18: “di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaatKu”)

 

1)      Apa arti ἐκκλησία (ekklēsia)?

Secara harfiah:

a)  ek = keluar

b) klēsis = panggilan

Jadi: “yang dipanggil keluar” - menunjuk pada umat yang dipanggil keluar dari dunia untuk menjadi milik Allah.

 

Dalam dunia Yunani-Romawi, ekklēsia digunakan untuk:

1.  Majelis rakyat

2.  Sidang atau pertemuan resmi

 

Dalam Septuaginta (PL Yunani), ekklēsia sering dipakai untuk menerjemahkan qahal (קָהָל) - yaitu umat Allah yang berkumpul.

 

Ketika Yesus memakai istilah ekklēsia, Ia menghubungkan komunitas pengikutNya dengan umat Allah dalam PL, tetapi kini sebagai umat perjanjian baru, yang dibangun atas dasar pengakuan akan Mesias (lih. Mat 16:16).

 

2)      Tidak Ada Nama Institusional

Yesus tidak pernah menyebut nama seperti:

a)  ‘Gereja Kristen’

b)  ‘Gereja Katolik’

c)  ‘Gereja Protestan’

d)  ‘Gereja Reformasi’

e)  ‘Gereja Ortodoks’

 

Semua itu muncul kemudian, karena:

1.  Pertumbuhan gereja di berbagai wilayah

2.  Perpecahan teologis dan politis

3.  Penamaan yang digunakan untuk membedakan satu kelompok dari yang lain

 

3)      Sebutan dalam Perjanjian Baru

Para penulis PB menyebut gereja dengan berbagai cara, tetapi semuanya menunjuk pada umat Allah, bukan nama institusi:

Sebutan

Ayat

Makna

Jemaat Allah (ἐκκλησία τοῦ θεοῦ)

1Kor 1:2, Kis 20:28

Penekanan pada milik Allah

Tubuh Kristus

Ef 1:22–23, 1Kor 12:27

Kesatuan rohani dengan Kristus sebagai Kepala

Mempelai Kristus

Ef 5:25–27

Hubungan kasih dan kesucian

Rumah Allah

1Tim 3:15

Komunitas iman yang hidup dan benar

Orang-orang kudus / umat pilihan

Kol 3:12, Ef 1:1

Identitas moral dan spiritual

------------------------------------------------------------------------------------

Pertanyaan: Apakah Kis 11:26 digunakan oleh Gereja Orthodox atau Katolik untuk menyatakan diri bahwa merekalah yang dimasudkan oleh ayat itu?

 

Jawaban ChatGPT:

 

Ya, baik Gereja Ortodoks maupun Gereja Katolik Roma sering merujuk Kisah Para Rasul 11:26 - di mana tertulis bahwa “di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen” - untuk mengklaim kesinambungan historis dan legitimasi apostolik mereka, tetapi tidak dengan cara yang sama atau eksplisit menyatakan ‘kami inilah Kristen pertama itu’ secara langsung. Mari kita bahas lebih terperinci:

 

Kisah Para Rasul 11:26

“...Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen.”
Yunani: χρηματίσαι τε πρώτως ἐν Ἀντιοχείᾳ τοὺς μαθητὰς Χριστιανούς. [KHREMATISAI TE PROTOS EN ANTIOKHEIA TOUS MATHETAS CHRISTIANOUS]

 

1)      Gereja Ortodoks Timur

Klaim:

a)  Ortodoks secara historis mengklaim bahwa mereka adalah kelanjutan langsung dari Gereja Antiokhia.

b)  Patriarkat Antiokhia adalah salah satu dari lima patriarkat kuno (bersama Roma, Alexandria, Yerusalem, dan Konstantinopel) - dan dianggap salah satu gereja induk Kristen mula-mula.

c)  Oleh karena itu, Ortodoks (khususnya Patriarkat Antiokhia) mengklaim diri sebagai gereja yang mula-mula disebut Kristen, berdasarkan Kis 11:26.

 

Contoh penggunaan:

Situs-situs resmi Gereja Ortodoks Antiokhia sering menyebut bahwa “Gereja kami adalah gereja tempat murid-murid pertama kali disebut Kristen” - ini untuk menekankan identitas historis dan warisan apostolik mereka.

Tapi: Klaim ini biasanya tidak digunakan untuk menyerang Protestan secara langsung, melainkan untuk menegaskan kesinambungan sejarah.

 

2)      Gereja Katolik Roma

Klaim:

a)  Gereja Katolik tidak terlalu menekankan lokasi Antiokhia dalam Kis 11:26, tetapi mereka tetap mengklaim bahwa merekalah “Gereja Kristen sejati yang satu, kudus, katolik, dan apostolik”.

b)  Karena Petrus pernah melayani di Antiokhia (Gal 2:11), dan lalu pindah ke Roma, Katolik mengklaim suksesi apostolik dari Petrus, termasuk secara tidak langsung mengaitkan diri dengan sebutan ‘Kristen’ di Antiokhia.

 

Dalam Katekismus Gereja Katolik, tidak ada klaim eksplisit terhadap Kis 11:26, tetapi dalam apologetika Katolik (misalnya Karl Keating, Scott Hahn), ayat itu kadang disebut untuk menunjukkan:

“Gereja Katolik adalah gereja yang para muridnya dulu disebut Kristen untuk pertama kalinya, dan hingga kini tetap setia pada tradisi apostolik.”

 

Kesimpulan:

Gereja

Klaim terhadap Kis 11:26

Keterangan

Gereja Ortodoks

Ya, secara historis dan geografis

Mengklaim sebagai kelanjutan Gereja Antiokhia; sering digunakan oleh Patriarkat Antiokhia

Gereja Katolik

Tidak langsung, tetapi implisit

Lebih menekankan pada suksesi apostolik dari Petrus ke Roma, kadang menyebut Antiokhia sebagai bagian sejarah

 

Jika Anda ingin, saya bisa kutip pernyataan resmi dari situs-situs Ortodoks dan Katolik tentang ayat ini. Saya juga bisa bantu tunjukkan bagaimana para apologet Ortodoks dan Katolik menggunakannya dalam debat dengan Protestan.

------------------------------------------------------------------------------------

Pertanyaan: ya, bisakah kamu menunjukkannya?

 

Jawaban ChatGPT:

 

Ya, baik Gereja Ortodoks maupun Gereja Katolik merujuk Kisah Para Rasul 11:26 - “Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen” - untuk menegaskan kesinambungan historis dan identitas apostolik mereka.

 

Gereja Ortodoks

Gereja Ortodoks, khususnya Patriarkat Antiokhia, menekankan bahwa mereka adalah kelanjutan langsung dari komunitas Kristen awal di Antiokhia. Antiokhia dianggap sebagai salah satu dari lima pusat utama Kekristenan awal (Pentarki), bersama dengan Roma, Aleksandria, Yerusalem, dan Konstantinopel. Gereja Ortodoks melihat diri mereka sebagai penerus tradisi dan ajaran yang dimulai di Antiokhia, tempat di mana para pengikut Yesus pertama kali disebut ‘Kristen’.

 

Gereja Katolik

Gereja Katolik juga mengakui pentingnya Antiokhia dalam sejarah Kekristenan. Menurut tradisi Katolik, Rasul Petrus, sebelum pergi ke Roma, pernah memimpin komunitas Kristen di Antiokhia dan menahbiskan Evodius sebagai uskup di sana. Ignatius dari Antiokhia, penerus Evodius, dikenal sebagai salah satu Bapa Gereja awal yang menggunakan istilah ‘Gereja Katolik’ dalam suratnya kepada jemaat di Smirna sekitar tahun 110 Masehi. Hal ini menunjukkan bahwa komunitas Kristen di Antiokhia, tempat pertama kali istilah ‘Kristen’ digunakan, juga merupakan bagian dari Gereja Katolik yang universal.

 

Kesimpulan

Baik Gereja Ortodoks maupun Gereja Katolik merujuk Kisah Para Rasul 11:26 untuk menegaskan akar historis mereka dalam komunitas Kristen awal di Antiokhia. Mereka melihat diri mereka sebagai penerus langsung dari para murid yang pertama kali disebut ‘Kristen’ di sana, menekankan kesinambungan dalam ajaran, tradisi, dan struktur gereja sejak zaman para rasul hingga sekarang.

------------------------------------------------------------------------------------

Pertanyaan: mengapa Gereja Roma Katolik dan Gereja Orthodox rasanya seperti berlomba-lomba untuk menjadi gereja yang terdahulu? Bukankah yang penting adalah mana yang benar?

 

Jawaban ChatGPT:

 

Benar, pada akhirnya yang terpenting adalah apakah suatu ajaran atau gereja itu setia kepada kebenaran yang diwahyukan oleh Allah, bukan hanya pada urutan kronologis. Namun, Gereja Roma Katolik dan Gereja Orthodox (Timur) sama-sama menekankan “siapa yang terdahulu” sebagai bagian dari argumen mereka tentang keabsahan (legitimasi) gereja.

 

Berikut beberapa alasan mengapa mereka tampak “berlomba-lomba” menjadi yang terdahulu:

 

1)      Klaim “Sukesi Apostolik”

a)  Kedua gereja menekankan bahwa mereka berasal langsung dari para rasul — yakni, mereka memiliki “sukesi apostolik” (apostolic succession). Ini adalah kunci argumen: yang pertama berdiri, dan yang pertama ditahbiskan oleh para rasul, dianggap lebih “murni” atau “asli”.

b)  Sukesi apostolik ini menjadi dasar bagi otoritas kepemimpinan gereja (uskup, patriark, paus) dan ajarannya.

 

2)      Patokan Kebenaran Tradisi

a)  Kedua gereja ini sangat menekankan “tradisi suci” (sacred tradition), yang dianggap diwariskan sejak zaman para rasul.

b)  Mereka melihat gereja yang “tertua” sebagai gereja yang paling dekat dengan zaman rasul, sehingga (menurut mereka) lebih mungkin memelihara tradisi secara murni.

 

3)      Persaingan Sejarah dan Politik

a)  Dalam sejarah, dua “pusat” gereja berkembang: Roma (Barat) dan Konstantinopel (Timur). Persaingan ini diperburuk oleh perpecahan politik dan teologis yang memuncak pada 1054 (Skisma Besar).

b)  Akibatnya, masing-masing pihak ingin menunjukkan bahwa “kami inilah yang paling tua, kami yang paling sah mewakili tradisi rasuli.”

 

4)      Titik Tekan dalam Misi dan Identitas

a)  Bagi Gereja Katolik Roma, kepemimpinan Petrus (dan klaim bahwa Petrus pernah menjadi uskup di Roma) menjadi dasar untuk mengklaim bahwa mereka adalah “pusat gereja universal”.

b)  Bagi Gereja Orthodox, mereka menekankan bahwa mereka tetap setia pada iman ortodoksi sejak konsili ekumenis awal, sementara Roma (mereka anggap) mengalami penyimpangan (misalnya dogma paus, penambahan Filioque dalam Syahadat, dsb.).

 

Pertanyaan Kritis: Benarkah yang tertua pasti yang benar?

Seperti yang kamu katakan, menjadi yang “tertua” tidak otomatis menjamin kebenaran ajaran. Bahkan Yesus sendiri menegaskan bahwa:

 

“Karena itu perhatikanlah bagaimana kamu mendengar; karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, dan siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya.” (Luk 8:18)

 

Jadi:


1.       Sukesi sejarah bukan jaminan kebenaran.

2.  Yang terpenting adalah kesetiaan pada ajaran rasuli (lihat Kis 2:42; Gal 1:8-9).

3.  Kesetiaan diukur dengan setia pada Alkitab dan Injil, bukan semata pada garis sejarah.

------------------------------------------------------------------------------------

Pertanyaan: mengapa kamu menggunakan Luk 8:18, dan apa arti ayat itu?

 

Jawaban ChatGPT:

 

Pertanyaan yang bagus! Aku sengaja menggunakan Lukas 8:18 untuk menekankan bahwa kebenaran dan kesetiaan pada ajaran Kristus lebih penting daripada sekadar garis sejarah atau tradisi. Sekarang mari kita lihat lebih rinci.

 

1)      Mengapa aku memakai Lukas 8:18?

Ayat ini adalah bagian dari ajaran Yesus tentang bagaimana kita harus mendengar dan memelihara kebenaran yang telah Dia ajarkan. Ayat ini secara umum menegaskan tanggung jawab individu (atau suatu gereja) untuk menjaga apa yang telah diberikan oleh Allah.

 

Artinya: Jangan hanya mengandalkan status atau klaim yang lahiriah (misalnya “kami gereja yang lebih tua”, “kami punya sejarah yang panjang”), tetapi perhatikan apakah ajaran itu setia pada kebenaran Kristus.

 

2)      Arti Lukas 8:18 dalam konteks

 

Berikut bunyinya (TB): “Karena itu perhatikanlah bagaimana kamu mendengar; karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, dan siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya.”

 

Konteks:

a)  Ayat ini menyusul perumpamaan tentang penabur (Luk 8:4–15) dan lampu yang tidak boleh disembunyikan (Luk 8:16–17).

b)  Yesus menekankan bahwa kebenaran Allah (FirmanNya) itu seperti benih atau terang yang harus didengar dengan baik dan dipelihara, bukan disembunyikan.

 

Maknanya:


“Perhatikanlah bagaimana kamu mendengar” → Dengarlah Firman Allah dengan hati yang terbuka dan taat.


“Siapa yang mempunyai…” → Yang mau menerima dan taat pada kebenaran Injil, akan semakin diberi pengertian dan berkat rohani.


“…siapa yang tidak mempunyai…” → Yang menolak atau mengabaikan kebenaran, akan kehilangan berkat rohani itu — bahkan apa yang “tampaknya ada padanya” (misalnya reputasi, tradisi, atau status) tidak akan menyelamatkan.

 

3)      Aplikasi untuk perdebatan “gereja mana yang tertua”

Yesus mengingatkan kita bahwa:

 

a)  Gereja yang hanya mengandalkan garis sejarah (misalnya “kami lebih tua!”) tetapi menolak kebenaran Injil yang murni - akan kehilangan berkat rohani.

 

b)  Gereja yang mungkin “lebih muda” secara sejarah, tetapi setia mendengar dan memelihara ajaran Kristus - akan diberi pengertian yang semakin dalam dan sukacita yang sejati.

 

Jadi, klaim “kami lebih tua” tidaklah cukup. Yang terpenting adalah: Apakah mereka setia pada Injil Kristus?

------------------------------------------------------------------------------------

Pertanyaan: Apakah kita juga bisa menggunakan Mat 19:30 sebagai tambahan terhadap Luk 8:18?

 

Jawaban ChatGPT:

 

Iya, Matius 19:30 bisa menjadi pelengkap yang sangat tepat untuk memperkuat makna Lukas 8:18 dalam konteks ini. Mari kita lihat:

 

Teks Matius 19:30 (TB):

“Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu.”

 

Makna Ayat Ini:

1)  Maksud Yesus: Ayat ini muncul saat Yesus menanggapi pertanyaan Petrus tentang “upah bagi mereka yang meninggalkan segala sesuatu untuk mengikut Yesus” (Mat 19:27–29).

2)  Intinya: Yesus mengingatkan bahwa urutan “duniawi” atau “lahiriah” (misalnya yang “pertama” karena status, tradisi, atau sejarah) tidak menjamin posisi dalam Kerajaan Allah.

3)  “Yang terakhir menjadi yang terdahulu” → Allah menilai hati dan kesetiaan kepadaNya, bukan semata urutan atau klaim lahiriah.

 

Mengapa Ini Relevan dengan Lukas 8:18?

a)  Lukas 8:18 menekankan bahwa siapa yang benar-benar memelihara kebenaran Allah akan diberi lebih banyak, sedangkan yang hanya kelihatan memilikinya (tapi tidak setia) akan kehilangan.

b)  Matius 19:30 mengingatkan kita bahwa status duniawi atau sejarah (siapa yang “pertama” atau “tertua”) bukan penentu keselamatan atau kedudukan dalam Kerajaan Allah.

 

Jadi, kedua ayat ini sama-sama mendukung:

“Yang terpenting bukan ‘siapa yang terdahulu’, tetapi ‘apakah ia setia pada Injil dan kebenaran Kristus’.”

 

================================================

 

-bersambung-


 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali

Alamat Gereja :
Jl. Raya Kali Rungkut 5 - Ruko Rungkut Megah Raya  BLOK  D - 16, SURABAYA

Rek Gereja : Account BCA 3631422185 a/n Tjoe Ming Tjhuin