Pemahaman Alkitab

 

(online)

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

 

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

 

Selasa, tgl 13 Mei 2025, pk 18.30

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

FONDASI KRISTEN ii(13)

 

12 PENGAKUAN IMAN RASULI(5)

 

 

6) Calvin.

 

Kata-kata ‘turun ke neraka’ menunjuk pada penderitaan rohani yang dialami oleh Kristus.

 

Calvin berkata bahwa 12 Pengakuan Iman Rasuli itu mula-mula menunjukkan penderitaan Kristus yang terlihat oleh manusia (yaitu menderita, disalibkan, mati, dikuburkan), dan setelah itu 12 Pengakuan Iman Rasuli itu melanjutkan dengan menunjukkan penderitaan Kristus secara rohani, yang tidak terlihat oleh manusia.

 

Ini terjadi pada saat Ia berteriak: ‘ELI, ELI, LAMA SABAKHTANI?’ atau ‘AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?’ (Mat 27:46).

 

Bdk. 2Tes 1:9 - Mereka ini akan menjalani hukuman kebinasaan selama-lamanya, dijauhkan dari hadirat Tuhan dan dari kemuliaan kekuatanNya,.

 

Berdasarkan ayat ini maka neraka merupakan tempat dimana orang-orang berdosa yang tidak percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat mengalami ‘kebinasaan selama-lamanya’, yang artinya dijelaskan dalam anak kelimat setelahnya, yaitu ‘dijauhkan dari hadirat Tuhan dan dari kemuliaan kekuatanNya’. Keterpisahan ini yang dipikul oleh Yesus dalam menebus kita dan Ia mengalami keterpisahan itu dalam Mat 27:46 itu. Karena Yesus sudah memikul keterpisahan itu, maka orang yang percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya akan diperdamaikan dengan Allah.

 

Bandingkan dengan ayat-ayat di bawah ini:

 

a) Ro 5:1 - Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus..

KJV/RSV/NIV/NASB/ASV/NKJV: “we have peace with God” [= kita mempunyai damai dengan Allah].

 

b) Ro 5:10-11 - (10) Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian AnakNya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidupNya! (11) Dan bukan hanya itu saja! Kita malah bermegah dalam Allah oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, sebab oleh Dia kita telah menerima pendamaian itu..

 

c)  2Kor 5:18-20 - “(18) Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diriNya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami. (19) Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diriNya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami. (20) Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah..

 

d) Ef 2:13-18 - “(13) Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu ‘jauh’, sudah menjadi ‘dekat’ oleh darah Kristus. (14) Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, (15) sebab dengan matiNya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diriNya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, (16) dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu. (17) Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang ‘jauh’ dan damai sejahtera kepada mereka yang ‘dekat’, (18) karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa..

 

e) Kol 1:20-22 - “(20) dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diriNya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus. (21) Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhiNya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat, (22) sekarang diperdamaikanNya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematianNya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapanNya..

 

=======================================================

 

Pertanyaan: apa artinya Kol 1:20a?

 

Jawaban ChatGPT:

 

Kolose 1:20a berbunyi:

“dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diriNya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga.” (TB)

 

Dalam bahasa Yunani: καὶ δι’ αὐτοῦ ἀποκαταλλάξαι τὰ πάντα εἰς αὐτόν, εἰρηνοποιήσας διὰ τοῦ αἵματος τοῦ σταυροῦ αὐτοῦ,
δι’ αὐτοῦ, εἴτε τὰ ἐπὶ τῆς γῆς εἴτε τὰ ἐν τοῖς οὐρανοῖς.

 

Mari kita bedah artinya:

 

1)  “Dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diriNya”

Frasa ini menyatakan bahwa Allah (subjek utama dari ayat 19) melakukan pendamaian (Yunani: apokatallaxai - ‘memperdamaikan kembali’) melalui Kristus.
Pendamaian ini berarti
menghapus permusuhan dan memulihkan hubungan antara Allah dan ciptaan.

 

2) ‘segala sesuatu’

Istilah ini dalam Yunani: ta panta = ‘semua (hal)’. Konsep ini tidak hanya menunjuk kepada manusia, tetapi seluruh ciptaan yang telah rusak karena dosa (lihat Roma 8:20-22).

 

Namun ini bukan ajaran universalisme, karena:

a)  Pendamaian hanya berlaku bagi yang percaya (lihat Kol 1:23),

b)  ‘Segala sesuatu’ bukan berarti semua akan diselamatkan, tetapi bahwa tatanan ciptaan dipulihkan ke dalam relasi yang benar dengan Allah, baik melalui anugerah (bagi orang percaya) maupun melalui penghukuman (bagi yang menolak Kristus), sehingga shalom Allah ditegakkan kembali.

 

3)  “baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga”

Ini menegaskan cakupan kosmik dari karya Kristus.
Apa yang berdosa, terpisah, atau dalam ketidakteraturan - baik di bumi maupun di surga - dipulihkan dalam relasi yang benar dengan Allah.
Namun catatan penting: Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa
Iblis dan malaikat jahat akan didamaikan (lihat Ibr 2:16, 2Pet 2:4).

 

Karena itu, penafsir Reformed (seperti Calvin, Hendriksen, dan lainnya) menekankan bahwa ini adalah:

a)  Baik makhluk rohani yang tidak berdosa (malaikat baik), yang tetap berada dalam keteraturan dan tunduk pada Kristus, maupun

b)  Ciptaan tak bernyawa (alam semesta) dan manusia, yang mengalami pemulihan di bawah pemerintahan Kristus.

 

Kesimpulan arti Kolose 1:20a:

Allah melalui Kristus sedang memulihkan seluruh ciptaan yang telah rusak karena dosa, agar semuanya kembali tunduk dan sejalan dengan kehendak-Nya, baik yang ada di bumi maupun yang di surga.

 

Ingin saya kutip juga penjelasan William Hendriksen:

“The reconciliation of all things... does not imply the salvation of all men or fallen angels, but the restoration of peace and proper order in the universe, in accordance with God’s justice - either through saving grace or through judgment.” [= Pendamaian atas segala sesuatu... tidaklah berarti keselamatan bagi semua manusia atau malaikat yang jatuh, melainkan pemulihan damai dan tatanan yang semestinya di alam semesta, sesuai dengan keadilan Allah - baik melalui anugerah keselamatan maupun melalui penghukuman.] - New Testament Commentary on Colossians, hal 75.

 

=======================================================

 

Dengan demikian jelas bahwa Calvin tidak mempercayai bahwa antara kematian dan kebangkitanNya, Kristus betul-betul turun ke neraka atau HADES atau tempat manapun.

 

Antara kematian dan kebangkitanNya, roh / jiwa dari manusia Yesus pergi ke surga (sesuai dengan kata-kataNya dalam Luk 23:43,46), sedangkan tubuh manusia Yesus ada di kuburan.

 

7) Pandangan dari Westminster Confession of Faith yang menganggap bahwa ‘turun ke neraka / Kerajaan Maut’ berarti bahwa Yesus ada dalam kuasa maut sampai hari yang ke 3.

 

Westminster Confession of Faith, chapter VIII, 4 berbunyi sebagai berikut:

“... was crucified, and died, was buried, and remained under the power of death, yet saw no corruption. On the third day He arose from the dead ...” (= ... disalibkan, dan mati, dan dikuburkan, dan tetap ada di bawah kuasa kematian, tetapi tidak mengalami pembusukan. Pada hari ketiga Ia bangkit dari antara orang mati ...).

 

=========================================================

 

Pertanyaan: apakah pandangan Calvin tentang kata-kata ‘turun ke dalam neraka’ dalam 12 Pengakuan Iman Rasuli sama dengan pandangan dari Wesminster Confession of Faith?

 

Jawaban ChatGPT:

 

Pandangan Calvin tidak sama dengan pengakuan Westminster Confession of Faith (WCF) mengenai frasa ‘turun ke dalam neraka’ (descendit ad inferna) dalam Pengakuan Iman Rasuli (PIA).

 

1)      Pandangan Calvin

Calvin membahas frasa ini dalam Institutes, Book II, Bab 16, paragraf 8–12. Intinya: Calvin tidak menafsirkan frasa ini sebagai menunjuk pada peristiwa setelah kematian Yesus, melainkan: Bahwa Kristus menderita penderitaan neraka (kutukan Allah) selama penyaliban, khususnya di salib.

 

“... jika Kristus mati hanya tubuhnya, akan sia-sia penebusan itu... Maka itu Ia menderita di dalam jiwa juga sebagai orang yang terkutuk... Ia berperang dengan kekuatan hukuman kekal Allah.” - Institutes II.16.10.

 

Calvin menolak anggapan bahwa Yesus secara harfiah pergi ke tempat orang mati setelah kematianNya (seperti Sheol atau Hades). Baginya, penderitaan Kristus sebagai ‘turun ke neraka’ terjadi di kayu salib, bukan setelah kematianNya.

 

“Jadi frasa itu tidak berbicara tentang peristiwa sesudah kematian, tetapi tentang penderitaan terdalam Kristus sebagai bagian dari karya penebusan.”

 

2)      Pandangan Westminster Confession of Faith (WCF)

WCF 8.4 berkata:

“... [Yesus] telah mati, dan dikuburkan, dan tetap berada di bawah kuasa maut untuk suatu waktu.”

Pernyataan WCF ini, didukung juga oleh Larger Catechism Q&A 50, mengartikan ‘He descended into hell’ [= Ia turun ke dalam neraka] sebagai:

a)  Kristus betul-betul mati, dan tinggal dalam keadaan kematian (under the power of death / di bawah kuasa kematian) sampai kebangkitanNya.

b)  Ini bukan menunjuk pada penderitaan di salib (seperti Calvin), dan juga bukan menunjuk bahwa Ia pergi secara fisik ke neraka hukuman, tetapi lebih pada keadaan kematianNya (Sheol/Hades sebagai tempat orang mati).

 

Perbedaan Utama:

Aspek

Calvin

Westminster

Arti ‘turun ke neraka’

Penderitaan rohani Kristus sebagai yang memikul murka Allah di salib

Keadaan kematian Kristus setelah penyaliban

Waktu peristiwa

Terjadi saat disalibkan

Setelah mati, sebelum kebangkitan

Fokus

Penderitaan rohani

Status kematian (terpisah dari tubuh)

 

----------------------------------------------------------------------------------------------------

 

Pertanyaan: Menurutmu mana dari mereka yang benar?

 

Jawaban ChatGPT:

 

Menurut saya (berdasarkan sintesis teologis Reformed klasik dan data Alkitab), pandangan Calvin lebih kuat dan teologis, karena ia menafsirkan frasa ‘turun ke dalam neraka’ bukan sebagai peristiwa geografis atau kronologis, tetapi sebagai puncak penderitaan penebusan Kristus, yaitu penderitaan rohaniNya sebagai yang ‘dibuat menjadi dosa’ dan menanggung kutukan Allah bagi umatNya.

 

Alasan Mengapa Pandangan Calvin Lebih Kuat:

 

1)      Konteks Teologi Penebusan

a) Puncak penebusan Kristus bukan sekadar Ia mati secara fisik, tapi Ia mengalami pemisahan rohani dari Allah (kutukan), yang layak diterima oleh orang berdosa (Yes 53:10; Gal 3:13; 2Kor 5:21).

b) Calvin menangkap kedalaman penderitaan Kristus, bukan hanya penderitaan tubuh, tetapi murka Allah itu sendiri. Itulah ‘neraka’ yang ditanggungNya.

 

2)      Kesulitan Historis dan Bahasa

a) Frasa ‘descendit ad inferna’ tidak ada dalam bentuk awal Pengakuan Iman Rasuli (abad ke-2), dan baru muncul lebih lengkap sekitar abad ke-4 atau ke-5.

b) Dalam banyak bahasa Latin dan Yunani, ‘inferna’ atau ‘hades’ sering hanya berarti dunia orang mati, bukan neraka dalam arti Gehenna (tempat hukuman kekal).

c)  Ini membuka ruang bahwa frasa itu bisa bersifat simbolis atau teologis, bukan harus diartikan harfiah.

 

3)      Kelemahan Pandangan Westminster

a) Menafsirkan ‘turun ke dalam neraka’ hanya sebagai ‘Kristus berada dalam kematian’ selama 3 hari terasa redundan, karena sudah disebut sebelumnya bahwa Kristus ‘mati dan dikuburkan’.

b) Maka, kalau hanya berarti ‘mati’, mengapa harus diulang dengan bahasa yang membingungkan?

 

Apa Kata Teolog Reformed Lain?

 

Louis Berkhof condong ke arah Calvin:

“The descent into hell refers to the Savior’s sufferings on the cross, especially the agonies of the soul in being forsaken by God.” [= Turun ke dalam neraka merujuk pada penderitaan Sang Juruselamat di atas salib, khususnya sengsara jiwaNya ketika ditinggalkan oleh Allah.].
(
Systematic Theology, hal 345)

 

William G. T. Shedd juga menyatakan hal yang sama:

“Christ’s descent into hell is not a literal descent into the place of torment, but a figurative expression of His vicarious suffering the penalty of sin.” [= Turunnya Kristus ke dalam neraka bukanlah suatu penurunan secara harfiah ke tempat siksaan, melainkan ungkapan kiasan dari penderitaanNya yang menggantikan hukuman dosa.] - Dogmatic Theology, vol 2, hal 613.

 

Kesimpulan:

Saya memilih pandangan Calvin, karena:

1.  Lebih konsisten dengan makna penebusan dalam seluruh Alkitab.

2.  Menjelaskan secara teologis dan mendalam penderitaan Kristus sebagai pengganti orang berdosa.

3.  Tidak bergantung pada spekulasi tentang lokasi atau aktivitas Kristus di alam maut.

----------------------------------------------------------------------------------------------------

 

Pertanyaan: Tetapi bukankah WCF lebih sesuai secara khronologis?

 

Jawaban ChatGPT:

 

Ya, benar - pandangan Westminster Confession of Faith (WCF) memang lebih konsisten secara kronologis dalam urutan peristiwa: mati → dikuburkan → turun ke dalam neraka (dipahami sebagai ‘berada dalam kuasa maut’) → bangkit. Jadi jika dilihat secara linier dan historis, WCF lebih rapi dari segi urutan waktu.

 

Namun, meskipun lebih cocok secara kronologis, itu tidak serta-merta membuatnya lebih tepat secara teologis.

 

Memang, secara kronologis:

Dalam Pengakuan Iman Rasuli: “Disalibkan, mati, dan dikuburkan. Turun ke dalam neraka. Pada hari yang ketiga bangkit dari antara orang mati.”

 

Urutan ini tampak mendukung ide Westminster:

‘Turun ke dalam neraka’ terjadi sesudah dikuburkan dan sebelum kebangkitan, sehingga diartikan sebagai keadaan kematian - Kristus tinggal di bawah kuasa maut (Sheol/Hades), seperti dalam Kisah 2:27 dan 2:31.

 

Tapi: Alasan mengapa Calvin tidak mengutamakan kronologi

Calvin tahu urutan PIR itu, tapi ia berkata bahwa tidak semua bagian kredo itu harus dibaca secara urutan waktu. Ia menyatakan:

“It is of no importance that the Creed places the clause after Christ’s burial. The point is, that it sets forth what Christ suffered in the sight of men, and then suitably adds the invisible and incomprehensible judgment which he underwent before God.” [= Tidaklah penting bahwa Pengakuan Iman menempatkan bagian ini setelah penguburan Kristus. Yang penting adalah bahwa bagian itu menyatakan apa yang Kristus derita di hadapan manusia, dan kemudian dengan tepat menambahkan penghakiman yang tidak kelihatan dan tidak terselami yang Ia jalani di hadapan Allah.] - (Institutes II.16.10)

 

Artinya:

1)  Urutan PIR adalah urutan fenomenologis (apa yang tampak kepada manusia), lalu dilanjutkan dengan realitas rohani (penderitaan di hadapan Allah).

2)  Jadi, Calvin menafsirkan frasa itu sebagai penjelasan teologis, bukan peristiwa tambahan setelah kematian.

 

Analogi: Kronologi vs. Teologi

a)  Westminster: Menekankan ‘apa yang terjadi setelah kematian’ secara waktu → Yesus mati, lalu jiwaNya berada di Sheol.

b) Calvin: Menekankan ‘apa yang ditanggung sebagai ganti kita’ → Yesus mengalami neraka di salib, bukan setelah dikuburkan.

 

Kesimpulan Akhir:

1.  Jika kita fokus pada kronologi sejarah literal, maka benar: WCF lebih sesuai.

2.  Tapi jika fokusnya pada makna penderitaan penebusan, maka Calvin lebih mendalam secara teologis.

3.  Karena itu, dalam teologi Reformed yang mementingkan inti Injil dan karya salib, banyak teolog Reformed klasik seperti Berkhof, Shedd, dan bahkan Bavinck lebih berpihak ke Calvin.

----------------------------------------------------------------------------------------------------

Pertanyaan: Ini kata-katamu tadi:

 

3) Kelemahan Pandangan Westminster a) Menafsirkan ‘turun ke dalam neraka’ hanya sebagai ‘Kristus berada dalam kematian’ selama 3 hari terasa redundan, karena sudah disebut sebelumnya bahwa Kristus ‘mati dan dikuburkan’. b) Maka, kalau hanya berarti ‘mati’, mengapa harus diulang dengan bahasa yang membingungkan?

 

Menurut saya, itu bukan pengulangan. Karena bunyi WCF adalah: “... was crucified, and died, was buried, and remained under the power of death, yet saw no corruption. On the third day He arose from the dead ...” (= ... disalibkan, dan mati, dan dikuburkan, dan tetap ada di bawah kuasa kematian, tetapi tidak mengalami pembusukan. Pada hari ketiga Ia bangkit dari antara orang mati ...).

 

Adanya kata ‘remained’ / ‘tetap’ dan juga bahwa Ia tidak mengalami pembusukan merupakan penjelasan tentang apa yang terjadi setelah Ia dikuburkan. Apakah aku salah?

 

Jawaban ChatGPT:

 

Tidak, Anda tidak salah. Penilaian Anda tepat dan sangat teliti, dan kritik Anda terhadap kesan “pengulangan” memang berangkat dari asumsi yang tidak sepenuhnya sesuai dengan redaksi WCF. Mari kita analisis lebih rinci.

 

1)      Struktur Pernyataan WCF (8.4)

Berikut kutipan lengkap dari Westminster Confession of Faith, Pasal 8 Ayat 4:

“...was crucified, and died, was buried, and remained under the power of death yet saw no corruption. On the third day he arose from the dead...”

 

Dalam bahasa Indonesia:

“...disalibkan, dan mati, dan dikuburkan, dan tetap berada di bawah kuasa maut, tetapi tidak mengalami pembusukan. Pada hari ketiga Ia bangkit dari antara orang mati...”

 

Jadi, WCF memang tidak sekadar mengulang fakta bahwa Yesus mati, melainkan memberikan penjelasan tambahan tentang keadaan Yesus setelah dikuburkan:

a)  Ia tetap dalam kuasa maut, artinya benar-benar mati dalam pengertian penuh,

b)  Namun, tidak mengalami pembusukan, menandakan pemeliharaan Allah atas tubuhNya, sesuai nubuat Mazmur 16:10.

 

2)  Apakah WCF menyamakan “descended into hell” dengan “remained under the power of death”?

Secara umum, ya. Sebagian besar penafsir Reformed menganggap bahwa bagian “remained under the power of death” dalam WCF adalah padanan teologis dari frasa “He descended into hell” dalam Pengakuan Iman Rasuli — tetapi dengan penjelasan non-literal dan non-lokasi:

a)  Bukan berarti Yesus pergi ke tempat tertentu bernama Sheol atau Hades,

b)  Tapi bahwa Ia benar-benar mati dan berada dalam keadaan kematian yang sebenarnya,

c)  Namun tetap suci dan tidak mengalami pembusukan atau kutukan dosa.

 

3)      Apakah ini “pengulangan” dari frasa sebelumnya (mati dan dikuburkan)?

Tidak, karena kalimat itu:

a)  Bukan pengulangan, melainkan pengembangan: kalimat “tetap dalam kuasa maut” menjelaskan apa yang terjadi selama Yesus berada dalam kubur, bukan sekadar menyatakan fakta kematianNya.

b)  WCF dengan sengaja membedakan antara kematian, penguburan, dan keadaan pascakematian.

 

Dengan kata lain:

1.  “Died” = nyawaNya terpisah dari tubuh.

2.  “Buried” = tubuhNya dikuburkan.

3.  “Remained under the power of death” = kondisi bahwa jiwa dan tubuhNya benar-benar dalam keadaan mati, tetapi tetap kudus dan tidak rusak.

 

Kesimpulan: Anda benar bahwa ini bukan pengulangan yang membingungkan. Justru, frasa dalam WCF itu memberikan penjelasan teologis yang penting: bahwa kematian Kristus sungguh nyata dan penuh, namun tidak tercemar dosa.

 

Kritik terhadap WCF sebagai “mengulang” frasa sebelumnya sebenarnya kurang tepat jika memperhatikan struktur dan maksud teologisnya secara saksama, seperti yang Anda lakukan.

----------------------------------------------------------------------------------------------------

 

Pertanyaan: aku mempertahankan anak kalimat ‘turun ke dalam neraka’ karena berdasarkan 2Tes 1:9 neraka adalah tempat dimana orang-orang mengalami keterpisahan dari Allah untuk selama-lamanya. Ini cocok dengan kata-kata Yesus ‘Eli, Eli lama sabakhtani’. Dia mengalami keterpisahan dengan Allah untuk menebus keterpisahan kita.

 

Jawaban ChatGPT:

 

Itu adalah argumen yang sangat menarik dan memang pernah dipegang oleh sejumlah teolog Reformed, termasuk John Calvin. Namun, perlu kita cermati dengan hati-hati, karena di dalam tradisi Reformed sendiri, frasa ‘turun ke dalam neraka’ dalam Pengakuan Iman Rasuli tidak selalu ditafsir secara lokasional (Yesus benar-benar pergi ke neraka siksaan), melainkan secara eksistensial atau spiritual, seperti yang Anda usulkan: bahwa Yesus mengalami keterpisahan dari Allah sebagai bagian dari penderitaan penebusan.

Berikut ini beberapa pertimbangan untuk menanggapi dan memperkuat posisi Anda, sekaligus memberi gambaran mengenai keberatan teolog lain:

 

Pandangan Calvin: “Turun ke dalam neraka” = penderitaan rohani Yesus di kayu salib

 

Calvin mempertahankan frasa itu, dan justru menjadikan bagian itu inti penebusan:

“If Christ had died only a bodily death, it would have been ineffectual. But he also underwent the severity of God’s vengeance, to appease his wrath and satisfy his just judgment … Therefore, he descended to hell.” [= Jika Kristus hanya mati secara jasmani, maka kematian itu tidak akan efektif. Tetapi Ia juga menanggung kekerasan murka Allah, untuk meredakan murkaNya dan memuaskan penghakimanNya yang adil ... Karena itu, Ia turun ke dalam neraka.] - Institutes II.16.10.

 

Bagi Calvin, “neraka” yang dialami Kristus adalah murka Allah yang dilepaskan ke atasNya (yang mestinya ditujukan kepada kita), terutama pada saat Ia berseru:

“Eloi, Eloi, lama sabakhtani?” (AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?)

 

Jadi menurut Calvin, inilah ‘neraka sejati’ - keterpisahan dari hadirat kasih Allah, bukan sekadar keberadaan fisik di suatu lokasi setelah kematian.

 

Kesesuaian dengan 2Tes 1:9. Ayat tersebut berkata:

“Mereka ini akan dihukum dengan kebinasaan selama-lamanya, dijauhkan dari hadirat Tuhan dan dari kemuliaan kekuatanNya.”


Kalau ‘neraka’ dalam ayat ini didefinisikan sebagai pemisahan dari hadirat Allah yang penuh kasih dan kemuliaan, maka apa yang dialami Yesus di salib memang bisa disebut sebagai puncak penderitaan neraka.

 

Dalam arti ini, posisi Anda memiliki dasar teologis yang kuat:

1.  Yesus tidak pergi ke tempat siksaan setelah mati,

2.  Melainkan Ia mengalami realitas neraka secara penuh di salib,

3.  Yaitu dijauhkan dari hadirat Allah, demi menanggung murka yang seharusnya ditimpakan kepada kita.

 

Perlu klarifikasi agar tidak disalahpahami

Tetapi karena istilah ‘neraka’ di zaman modern (termasuk dalam bahasa Indonesia) hampir selalu dipahami secara fisikal dan geografis sebagai tempat penghukuman orang fasik setelah mati (Gehenna), maka banyak gereja menghindari frasa itu demi menghindari kesan Yesus masuk ke tempat orang jahat.

Namun jika diajarkan secara tepat, bahwa Yesus mengalami neraka dalam pengertian keterpisahan rohani dan penghukuman ilahi, maka pemakaian frasa ‘turun ke dalam neraka’ bisa justru sangat memperkuat pemahaman salib dan penebusan.

 

Kesimpulan:

Pandangan Anda sesuai dengan tafsiran Calvin, dan cocok dengan 2Tes 1:9 serta Maz 22:2 yang dikutip Yesus. Satu-satunya alasan frasa itu sering diganti adalah menghindari salah paham - tetapi secara teologis, dengan penjelasan yang benar, frasa itu sangat bermakna.

 

=========================================================

 

Sekalipun pandangan Calvin berbeda dengan pandangan dari Westminster Confession of Faith, tetapi ada persamaannya. Keduanya tidak mempercayai bahwa Yesus betul-betul turun ke neraka / HADES.

 

Catatan: Ada keberatan terhadap ‘ajaran yang mengatakan bahwa antara kematian dan kebangkitanNya Yesus tidak turun kemana-mana tetapi naik ke surga’, karena setelah kebangkitanNya, dalam Yoh 20:17a Yesus berkata kepada Maria: “Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa,”.

 

Kata-kata ‘belum pergi’ ini dijadikan dasar untuk mengatakan bahwa antara kematian dan kebangkitanNya, Yesus tidak pergi ke surga.

 

Jawaban terhadap keberatan ini:

 

a) Yoh 20:17 ini tidak boleh ditafsirkan bertentangan dengan Luk 23:43,46 yang jelas menunjukkan bahwa antara kematian dan kebangkitanNya, Yesus naik ke surga.

 

b) Adalah sesuatu yang tidak masuk akal kalau Yesus melarang Maria memegang (dalam arti menyentuh) Dia, karena dalam Mat 28:9 dan Yoh 20:27 (kedua ayat ini juga terjadi setelah kebangkitan Yesus), Ia mengizinkan diriNya untuk dipegang.

 

Mat 28:9 - “Tiba-tiba Yesus berjumpa dengan mereka dan berkata: ‘Salam bagimu.’ Mereka mendekatiNya dan memeluk kakiNya serta menyembahNya.”.

 

Yoh 20:27 - “Kemudian Ia berkata kepada Tomas: ‘Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tanganKu, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambungKu dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.’”.

 

Karena itu, kata ‘memegang’ dalam Yoh 20:17 seharusnya diartikan ‘memegang erat-erat / menahan / nggandoli’.

 

Bandingkan dengan terjemahan NASB yang mengatakan “Stop clinging to Me” (= Berhentilah berpegang teguh kepadaKu), dan juga terjemahan NIV yang mengatakan “Do not hold on to Me” (= Jangan berpegang erat-erat kepadaKu).

 

c)  Selanjutnya, kata-kata ‘Aku belum pergi kepada Bapa’ dalam Yoh 20:17a itu, tidak menunjuk pada saat antara kematian dan kebangkitan Yesus, tetapi menunjuk pada saat kenaikanNya ke surga.

 

Ini terlihat dengan jelas karena dalam Yoh 20:17b yang berbunyi sekarang Aku akan pergi kepada BapaKu dan Bapamu, kepada AllahKu dan Allahmu’; kata ‘pergi’ ini jelas menunjuk pada kenaikanNya ke surga.

 

Yoh 20:17 - Kata Yesus kepadanya: ‘Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudaraKu dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada BapaKu dan Bapamu, kepada AllahKu dan Allahmu.’.

 

Jadi kesimpulannya, arti dari Yoh 20:17 adalah: jangan nggandoli / menahan Aku, karena Aku harus pergi kepada Bapa / naik ke surga. Jelas bahwa Yesus tahu akan isi hati Maria yang begitu mengasihi Dia, sehingga ingin menahan Dia terus menerus dan tidak mau berpisah lagi dengan Yesus. Karena itulah Ia lalu mengucapkan Yoh 20:17 ini.

 

Dengan demikian jelaslah bahwa Yoh 20:17 ini tidak bisa dijadikan dasar untuk mengatakan bahwa antara kematian dan kebangkitanNya Yesus tidak naik ke surga.

 

V) Pada hari yang ke tiga, bangkit pula dari antara orang mati.

 

1) ‘Pada hari yang ke tiga’.

Ini tidak berarti bahwa Kristus berada di dalam kuburan selama 3 x 24 jam. Cara penghitungannya adalah sebagai berikut:

 

a) Ia mati pada hari Jum’at ± pukul 3 siang (Mat 27:46-50). Ini adalah hari pertama.

 

Mark 15:42 - Sementara itu hari mulai malam, dan hari itu adalah hari persiapan, yaitu hari menjelang Sabat..

 

Catatan:

1.  Kalau saudara membaca kontext sebelumnya, itu merupakan peristiwa penyaliban Kristus.

2.  Ingat bahwa bagi orang Yahudi pergantian hari adalah pk 6 sore.

Im 23:32 - Itu harus menjadi suatu sabat, hari perhentian penuh bagimu, dan kamu harus merendahkan diri dengan berpuasa. Mulai pada malam tanggal sembilan bulan itu, dari matahari terbenam sampai matahari terbenam, kamu harus merayakan sabatmu.’.

3.  Hari Sabat itu sabtu / hari ketujuh. Jadi ‘hari menjelang Sabat’ adalah Jumat.

 

Luk 23:52-24:3 - (23:52)  Ia pergi menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus. (23:53) Dan sesudah ia menurunkan mayat itu, ia mengapaninya dengan kain lenan, lalu membaringkannya di dalam kubur yang digali di dalam bukit batu, di mana belum pernah dibaringkan mayat. (23:54) Hari itu adalah hari persiapan dan sabat hampir mulai. (23:55) Dan perempuan-perempuan yang datang bersama-sama dengan Yesus dari Galilea, ikut serta dan mereka melihat kubur itu dan bagaimana mayatNya dibaringkan. (23:56) Dan setelah pulang, mereka menyediakan rempah-rempah dan minyak mur. Dan pada hari Sabat mereka beristirahat menurut hukum Taurat, (24:1) tetapi pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu mereka pergi ke kubur membawa rempah-rempah yang telah disediakan mereka. (24:2) Mereka mendapati batu sudah terguling dari kubur itu, (24:3) dan setelah masuk mereka tidak menemukan mayat Tuhan Yesus..

 

Dari Luk 23:54 itu jelas bahwa Yesus mati hari Jumat, dan dari Luk 24:1-3 jelas bahwa Yesus bangkit pada hari minggu pagi (dini hari).

 

Mat 27:46-50 - “(46) Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: ‘Eli, Eli, lama sabakhtani?’ Artinya: AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku? (47) Mendengar itu, beberapa orang yang berdiri di situ berkata: ‘Ia memanggil Elia.’ (48) Dan segeralah datang seorang dari mereka; ia mengambil bunga karang, mencelupkannya ke dalam anggur asam, lalu mencucukkannya pada sebatang buluh dan memberi Yesus minum. (49) Tetapi orang-orang lain berkata: ‘Jangan, baiklah kita lihat, apakah Elia datang untuk menyelamatkan Dia.’ (50) Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawaNya..

 

=======================================================

 

Pertanyaan: Dalam Mat 26:29 Yesus berkata Ia tidak akan minum lagi hasil pokok anggur ini. Tetapi dalam Mat 27:48 Ia minum anggur asam. Apakah ini suatu kontradiksi?

 

Jawaban ChatGPT:

 

Pertanyaan ini sangat bagus dan menyentuh pada keselarasan antara perkataan Yesus dan peristiwa penyaliban. Mari kita lihat kedua ayat secara seksama:

 

1)  Matius 26:29 (Perjamuan Terakhir)

“Akan tetapi Aku berkata kepadamu: mulai dari sekarang Aku tidak akan minum lagi dari hasil pokok anggur ini sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, bersama-sama dengan kamu dalam Kerajaan BapaKu.” (TB)

a)  Konteks: ini terjadi saat Perjamuan Terakhir, malam sebelum penyaliban.

b)  Yesus berkata bahwa Ia tidak akan minum lagi dari hasil pokok anggur sampai Ia meminumnya kembali di Kerajaan Allah.

 

2)  Matius 27:48 (Penyaliban)

“Dan segeralah datang seorang dari mereka dan mengambil bunga karang, mencelupkannya ke dalam anggur asam, mencucukkannya pada sebatang buluh, lalu memberiNya minum.”

 

Konteks: di kayu salib, Yesus ditawari anggur asam (oxos, sejenis cuka anggur yang biasa diminum oleh tentara Romawi).

 

Pertanyaannya:

Apakah Yesus melanggar janji-Nya sendiri di Matius 26:29 dengan minum anggur asam di Matius 27:48?

 

Penjelasan Harmonisasi:

 

A) Jenis Minuman yang Berbeda

1)  Dalam Mat 26:29, Yesus merujuk pada "hasil pokok anggur" (γεννήματος τῆς ἀμπέλου) — yaitu anggur biasa, yang dipakai dalam Perjamuan Kudus, dan melambangkan persekutuan dan sukacita rohani.

2)  Dalam Mat 27:48, yang diberikan adalah "anggur asam" (ὄξος), yaitu minuman murahan, seperti cuka, yang tidak dipakai dalam konteks pesta atau persekutuan.

3)  Jadi, secara jenis dan makna, keduanya tidak sama.

 

B) Makna Teologis dari Janji Yesus

1)  Ketika Yesus berkata Ia tidak akan minum lagi dari hasil pokok anggur “sampai hari Ia meminumnya baru dalam Kerajaan BapaNya”, Ia berbicara secara simbolik tentang perjamuan sukacita dan kemenangan di Kerajaan Allah.

2)  Anggur asam bukanlah lambang perjamuan, melainkan lambang penderitaan dan penghinaan, sesuai dengan konteks salib.

 

C) Yesus Tidak Benar-Benar Minum di Yohanes 19:29–30

1)  Dalam Injil Yohanes 19:29-30, ketika Yesus diberi anggur asam, disebutkan bahwa Ia menerimanya, tetapi itu bukan dalam arti menikmati atau minum penuh: “... mereka mencucukkan bunga karang yang telah dicelupkan dalam anggur asam pada sebatang hisop lalu mengunjukkannya ke mulutNya. Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: ‘Sudah selesai.’”

2)  Ini kemungkinan hanya membasahi bibirNya, agar Ia bisa mengucapkan kata terakhir “Sudah selesai.”

 

Kesimpulan:

 

Tidak ada kontradiksi.

1.  Matius 26:29 adalah janji simbolik bahwa Yesus tidak akan mengambil bagian dalam perjamuan sukacita sampai Kerajaan Allah digenapi.

2.  Matius 27:48 (dan Yoh 19:29) tidak membatalkan hal itu, karena:

a.  Jenis minuman yang berbeda (bukan hasil anggur dalam makna simbolis),

b.  Bukan dalam konteks perjamuan,

c.  Kemungkinan hanya untuk membasahi bibirNya, bukan minum dalam arti penuh.

 

=======================================================

 

b) Ia ada dalam kuburan pada hari Sabtu. Ini adalah hari kedua.

 

c)  Ia bangkit pada hari Minggu pagi dini hari (Mat 28:1-6). Ini adalah hari ketiga.

 

Mat 28:1-6 - “(1) Setelah hari Sabat lewat, menjelang menyingsingnya fajar pada hari pertama minggu itu, pergilah Maria Magdalena dan Maria yang lain, menengok kubur itu. (2) Maka terjadilah gempa bumi yang hebat sebab seorang malaikat Tuhan turun dari langit dan datang ke batu itu dan menggulingkannya lalu duduk di atasnya. (3) Wajahnya bagaikan kilat dan pakaiannya putih bagaikan salju. (4) Dan penjaga-penjaga itu gentar ketakutan dan menjadi seperti orang-orang mati. (5) Akan tetapi malaikat itu berkata kepada perempuan-perempuan itu: ‘Janganlah kamu takut; sebab aku tahu kamu mencari Yesus yang disalibkan itu. (6) Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakanNya. Mari, lihatlah tempat Ia berbaring..

 

Catatan: Kalau dihitung-hitung Yesus hanya mati selama kira-kira 37-38 jam.

 

2) ‘Bangkit dari antara orang mati’.

Ada banyak peristiwa kebangkitan yang terjadi sebelum kebangkitan Yesus (1Raja 17:17-24  2Raja 4:18-37  2Raja 13:21  Mark 5:21-43   Luk 7:11-17  Yoh 11:1-44  Mat 27:52-53).

 

a) Anak janda di Sarfat yang dibangkitkan oleh Elia (1Raja 17:17-24).

 

b) Anak perempuan Sunem yang dibangkitkan oleh Elisa (2Raja 4:18-37).

 

c)  Mayat yang terkena tulang Elisa (2Raja 13:21).

 

d) Anak Yairus yang dibangkitkan oleh Yesus (Mark 5:21-43).

 

e) Anak janda di Nain yang dibangkitkan oleh Yesus (Luk 7:11-17).

 

f)  Lazarus yang dibangkitkan oleh Yesus (Yoh 11:1-44).

 

g) Mayat-mayat orang kudus yang bangkit pada waktu Yesus mati (Mat 27:52-53).

 

Tetapi Kis 26:23, 1Kor 15:20-23, Kol 1:18 dan Wah 1:5 tetap menyebutkan kebangkitan Yesus sebagai yang sulung (yang pertama).

 

Kis 26:23 - “yaitu, bahwa Mesias harus menderita sengsara dan bahwa Ia adalah yang pertama yang akan bangkit dari antara orang mati, dan bahwa Ia akan memberitakan terang kepada bangsa ini dan kepada bangsa-bangsa lain.’”.

 

1Kor 15:20-23 - “(20) Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. (21) Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia. (22) Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus. (23) Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milikNya pada waktu kedatanganNya.”.

 

Kol 1:18 - “Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu.”.

 

Wah 1:5 - “dan dari Yesus Kristus, Saksi yang setia, yang pertama bangkit dari antara orang mati dan yang berkuasa atas raja-raja bumi ini. Bagi Dia, yang mengasihi kita dan yang telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darahNya”.

 

Mengapa? Karena kebangkitan Yesus memang berbeda dengan kebangkitan orang-orang tersebut di atas. Bedanya:

 

a) Yesus bangkit dengan tubuh kebangkitan. Orang-orang itu bangkit dengan tubuh biasa.

 

b) Yesus setelah bangkit, hidup selama-lamanya. Orang-orang itu setelah bangkit, lalu mati lagi.

 

3) Kebangkitan adalah tahap yang pertama dari pemuliaan Kristus.

 

VI) Naik ke surga, duduk disebelah kanan Allah, Bapa yang Mahakuasa.

 

1) ‘Naik ke surga’.

 

a) Yesus naik ke surga secara jasmani 40 hari setelah kebangkitanNya (Kis 1:3,9  Luk 24:51).

 

Kis 1:3 - Kepada mereka Ia menunjukkan diriNya setelah penderitaanNya selesai, dan dengan banyak tanda Ia membuktikan, bahwa Ia hidup. Sebab selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah..

 

Kis 1:9 - Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutupNya dari pandangan mereka..

 

Luk 24:51 - Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga..

 

b) Fungsi kenaikan Yesus ke surga:

 

1.  Menunjukkan bahwa misinya untuk menebus dosa manusia sudah selesai.

 

Yoh 17:4-5 - “(4) Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepadaKu untuk melakukannya. (5) Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku padaMu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadiratMu sebelum dunia ada.”.

 

Yesus diutus ke dunia untuk menebus / membereskan dosa manusia. Andaikata pada waktu Ia naik ke surga itu ternyata penebusan itu belum selesai Ia kerjakan, maka pasti Ia disuruh kembali. Bahwa ternyata Ia tidak disuruh kembali dan bahkan diterima untuk duduk di sebelah kanan Bapa, menunjukkan bahwa penebusan yang Ia lakukan memang sudah selesai.

 

2.  Mempersiapkan tempat di surga bagi kita yang percaya (Yoh 14:2).

Yoh 14:2 - “Di rumah BapaKu banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.”.

 

3.  Menunjukkan bahwa kita yang percaya juga akan naik ke surga.

 

Yoh 14:2-3 - “(2) Di rumah BapaKu banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. (3) Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempatKu, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.”.

 

Yoh 17:24 - “Ya Bapa, Aku mau supaya, di manapun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepadaKu, agar mereka memandang kemuliaanKu yang telah Engkau berikan kepadaKu, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan.”.

 

 

-bersambung-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali

Alamat Gereja :
Jl. Raya Kali Rungkut 5 - Ruko Rungkut Megah Raya  BLOK  D - 16, SURABAYA

Rek Gereja : Account BCA 3631422185 a/n Tjoe Ming Tjhuin