Pemahaman Alkitab
(online)
(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)
Selasa, tgl 6 Mei 2025, pk 18.30
Pdt. Budi Asali, M. Div.
12 PENGAKUAN IMAN RASULI(4)
b) Mereka mengatakan bahwa dalam Kitab Suci cuma ada pembakaran mayat orang jahat, sedangkan orang saleh / beriman semua dikubur.
Saya menjawab:
1. Adalah merupakan suatu omong kosong kalau dalam Kitab Suci hanya orang jahat / tak beriman saja yang dibakar. Yonatan, anak raja Saul, jelas adalah orang beriman dan saleh, tetapi mayatnya dibakar.
1Sam 31:1-13 - “(1) Sementara itu orang Filistin berperang melawan orang Israel. Orang-orang Israel melarikan diri dari hadapan orang Filistin dan banyak yang mati terbunuh di pegunungan Gilboa. (2) Orang Filistin terus mengejar Saul dan anak-anaknya dan menewaskan Yonatan, Abinadab dan Malkisua, anak-anak Saul. (3) Kemudian makin beratlah pertempuran itu bagi Saul; para pemanah menjumpainya, dan melukainya dengan parah. (4) Lalu berkatalah Saul kepada pembawa senjatanya: ‘Hunuslah pedangmu dan tikamlah aku, supaya jangan datang orang-orang yang tidak bersunat ini menikam aku dan memperlakukan aku sebagai permainan.’ Tetapi pembawa senjatanya tidak mau, karena ia sangat segan. Kemudian Saul mengambil pedang itu dan menjatuhkan dirinya ke atasnya. (5) Ketika pembawa senjatanya melihat, bahwa Saul telah mati, iapun menjatuhkan dirinya ke atas pedangnya, lalu mati bersama-sama dengan Saul. (6) Jadi Saul, ketiga anaknya dan pembawa senjatanya, dan seluruh tentaranya sama-sama mati pada hari itu. (7) Ketika dilihat orang-orang Israel, yang di seberang lembah dan yang di seberang sungai Yordan, bahwa tentara Israel telah melarikan diri, dan bahwa Saul serta anak-anaknya sudah mati, maka mereka meninggalkan kota-kota mereka lalu melarikan diri juga; kemudian datanglah orang Filistin dan menetap di sana. (8) Ketika keesokan harinya orang Filistin datang merampasi orang-orang yang mati terbunuh itu, didapati mereka Saul dan ketiga anaknya tergelimpang di pegunungan Gilboa. (9) Mereka memancung kepala Saul, merampas senjata-senjatanya dan menyuruh orang berkeliling di negeri orang Filistin untuk menyampaikan kabar itu di kuil berhalanya dan kepada rakyat. (10) Kemudian mereka menaruh senjata-senjata Saul di kuil Asytoret, dan mayatnya dipakukan mereka di tembok kota Bet-Sean. (11) Ketika penduduk Yabesh-Gilead mendengar tentang apa yang telah dilakukan orang Filistin kepada Saul, (12) maka bersiaplah segenap orang gagah perkasa, mereka berjalan terus semalam-malaman, lalu mengambil mayat Saul dan mayat anak-anaknya dari tembok kota Bet-Sean. Kemudian pulanglah mereka ke Yabesh dan membakar mayat-mayat itu di sana. (13) Mereka mengambil tulang-tulangnya lalu menguburkannya di bawah pohon tamariska di Yabesh. Sesudah itu berpuasalah mereka tujuh hari lamanya.”.
Juga bandingkan dengan Maz 79:1-4 - “(1) Ya Allah, bangsa-bangsa lain telah masuk ke dalam tanah milikMu, menajiskan bait kudusMu, membuat Yerusalem menjadi timbunan puing. (2) Mereka memberikan mayat hamba-hambaMu sebagai makanan kepada burung-burung di udara, daging orang-orang yang Kaukasihi kepada binatang-binatang liar di bumi. (3) Mereka menumpahkan darah orang-orang itu seperti air sekeliling Yerusalem, dan tidak ada yang menguburkan. (4) Kami menjadi cela bagi tetangga-tetangga kami, menjadi olok-olok dan cemooh bagi orang-orang sekeliling kami.”.
2. Dalam Kitab Suci memang hampir semua orang dikubur, karena selain tradisinya memang demikian, juga pada zaman itu hanya ada sedikit manusia, dan tanah kuburan bisa didapat dengan mudah dan murah. Tetapi zaman berubah! Makin banyaknya manusia (sekarang lebih dari 8 milyar!) dan makin penuhnya dunia ini menyebabkan kuburan sukar didapat dan mahal. Ada yang mengatakan bahwa di Hongkong seseorang haruslah sangat kaya untuk bisa membeli kuburan. Dan seluruh dunia menjurus pada keadaan seperti itu, sehingga lambat laun tidak ada orang yang bisa membeli kuburan. Karena itu, mengingat Kitab Suci memang tidak melarang kremasi maupun mengharuskan penguburan, maka pilihan pada kremasi tentu merupakan pilihan yang bijaksana (dan tetap alkitabiah).
c) Mereka mengatakan bahwa ada kemungkinan roh orang yang mati itu, yang masih belum meninggalkan tubuhnya, bisa menderita karena pembakaran itu.
Ir. Herlianto M. Th.: “dalam pembakaran demikian kita membuka kemungkinan ikut terbakarnya roh / jiwa disamping tubuh, sebab kita tidak tahu berapa lama roh / jiwa manusia masih mempunyai keterkaitan dengan tubuh jasmani setelah seseorang dinyatakan meninggal secara klinis, dan apa yang dirasakan oleh roh / jiwa saat terbakar.” - ‘Diskusi sekitar kremasi (pembakaran jenazah)’, hal 2.
Ir. Herlianto M. Th.: “Memang bila manusia sekedar hanya mahluk darah dan daging saja maka apakah jenazah itu dikubur atau dibakar tidak ada konsekwensinya apa-apa, tetapi kita harus menyadari hakekat roh / jiwa yang dalam proses kematian akan meninggalkan tubuh jasmani yang akan membusuk secara alamiah. Yang menjadi masalah adalah seberapa lama roh / jiwa itu sudah melepaskan keterikatannya dengan tubuh yang telah mati. Pengalaman umum menunjukkan bahwa banyak kasus kematian orang yang dibunuh (kematian tidak wajar) dan dikubur ditempat tidak wajar berdampak roh kelaparan yang tidak kunjung terlepas dari jasadnya dan biasanya hal ini diatasi dengan melakukan penguburan kembali ditempat yang lebih layak.” - ‘Diskusi sekitar kremasi (pembakaran jenazah)’, hal 2.
Ir. Herlianto menambahkan bahwa dari kasus Lazarus yang dibangkitkan setelah mati 4 hari, dan juga dari kasus Yesus yang bangkit pada hari ke 3, bisa disimpulkan bahwa roh Lazarus dan Yesus masih mempunyai keterkaitan dengan tubuhnya pada saat itu.
Ir. Herlianto M. Th.: “Lazarus dikatakan oleh Yesus sebagai tidur sama dengan mati (Yoh 11:11-14) dan ketika dibangkitkan, Yesus tidak memanggil roh Lazarus agar kembali lagi, tetapi memanggil Lazarus seutuhnya (roh + tubuh) agar keluar dari kubur. Jadi kemungkinan besar roh / jiwa itu masih punya keterikatan dengan jenazah dalam waktu tertentu, dan dalam waktu tertentu itu pemulihan tubuh masih mungkin untuk kebangkitan kembali.” - ‘Diskusi sekitar kremasi (pembakaran jenazah)’, hal 2.
Ir. Herlianto M. Th.: “Proses pembakaran jenazah akan berdampak kemungkinan ikut terbakarnya roh / jiwa yang mungkin masih punya keterikatan dengan tubuh jasmani itu. Kita jangan berspekulasi mengenai kemungkinan apa yang bisa terjadi dengan roh / jiwa pada saat kita membakar tubuh jasmaninya dengan sengaja.” - ‘Diskusi sekitar kremasi (pembakaran jenazah)’, hal 3.
Ir. Herlianto M. Th.: “Ada kemungkinan bahwa roh / jiwa tidak langsung melepaskan keterikatannya dengan tubuh setelah seseorang dinyatakan mati tetapi membutuhkan waktu beberapa hari, bila demikian pembakaran jenazah dapat berdampak serius terhadap roh / jiwa yang masih punya keterikatan dengan tubuh.” - ‘Diskusi sekitar kremasi (pembakaran jenazah)’, hal 5.
Saya menjawab:
1. Dari zaman dulu definisi dari kematian adalah terpisahnya tubuh dengan jiwa / roh. Kepercayaan kafir bahwa roh seseorang masih belum meninggalkan tubuhnya pada saat ia mati, jelas bertentangan dengan Alkitab. Perhatikan ayat-ayat di bawah ini:
a. 1Raja 17:21-22 - “(21) Lalu ia mengunjurkan badannya di atas anak itu tiga kali, dan berseru kepada TUHAN, katanya: ‘Ya TUHAN, Allahku! Pulangkanlah kiranya nyawa anak ini ke dalam tubuhnya.’ (22) TUHAN mendengarkan permintaan Elia itu, dan nyawa anak itu pulang ke dalam tubuhnya, sehingga ia hidup kembali.”.
b. Maz 146:3-4 - “(3) Janganlah percaya kepada para bangsawan, kepada anak manusia yang tidak dapat memberikan keselamatan. (4) Apabila nyawanya melayang, ia kembali ke tanah; pada hari itu juga lenyaplah maksud-maksudnya.”.
Catatan: ay 4nya jelas menggambarkan kematian. Kata ‘nyawa’ dalam bahasa Ibrani adalah RUAKH, dan karena itu seharusnya diterjemahkan ‘roh’. Jelas dari ay 4 ini bahwa kematian digambarkan sebagai perpisahan dari:
(1)‘roh’, yang dikatakan ‘melayang’ [RSV/NIV/NASB: ‘departs’ (= pergi)].
(2)‘tubuh’, yang dikatakan ‘kembali ke tanah’ (= dikuburkan).
c. Luk 8:55 - “Maka kembalilah roh anak itu dan seketika itu juga ia bangkit berdiri. Lalu Yesus menyuruh mereka memberi anak itu makan.”.
d. Luk 23:43,46 -
“(43) Kata Yesus
kepadanya: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan
ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.’ ... (46) Lalu Yesus berseru
dengan suara nyaring: ‘Ya Bapa, ke dalam tanganMu Kuserahkan nyawaKu
(‘rohKu’).’
Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan
nyawaNya.”.
==================================================
Pertanyaan: Kata-kata yang saya beri warna hijau berasal dari kata Yunani ἐξέπνευσεν. Apakah kata Yunani ἐξέπνευσεν itu berasal dari dua kata Yunani? Kalau ya, kata apa?
Jawaban ChatGPT:
Ya, benar. Kata Yunani ἐξέπνευσεν dalam Lukas 23:46 berasal dari gabungan dua elemen:
1) ἐκ (ek) - sebuah preposisi yang berarti ‘keluar dari’.
2) πνέω (pneō) - kata kerja yang berarti ‘bernapas’ atau ‘menghembuskan napas’.
Jadi, ἐξέπνευσεν adalah bentuk aorist (lampau) indikatif aktif dari kata kerja ἐκπνέω, yang secara harfiah berarti ‘ia menghembuskan napas keluar’ - dan dalam konteks ini berarti ‘ia menghembuskan napas terakhir’ atau ‘ia mati’.
Bentuk ini hanya digunakan dalam konteks kematian di Perjanjian Baru, seperti dalam Markus 15:37 dan Lukas 23:46, dan menunjukkan bahwa Yesus benar-benar mati secara fisik, menghembuskan napasNya yang terakhir.
==================================================
e. Kis 7:59 - “Sedang mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya: ‘Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku.’”.
f. 2Kor 5:10 - “Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.”.
Perhatikan kata-kata yang saya garis bawahi itu, yang diterjemahkan secara berbeda oleh Kitab Suci bahasa Inggris.
KJV: ‘in his body’ (= dalam tubuhnya).
RSV/NIV/NASB: ‘in the body’ (= dalam tubuh).
Dalam bahasa Yunani memang digunakan kata SOMA, yang artinya adalah ‘tubuh’.
Yang dimaksudkan oleh Paulus jelas adalah bahwa apa yang dihakimi nanti hanyalah apa yang dilakukan oleh seseorang pada saat ia masih hidup. Paulus menggambarkan ‘keadaan masih hidup’ itu dengan kata-kata ‘dalam tubuh’. Ini jelas menunjukkan bahwa pada saat mati, roh / jiwa seseorang meninggalkan / terpisah dari tubuhnya.
g. Penceritaan tentang kematian Ananias dan Safira dalam Kis 5:5,10, dan tentang kematian Herodes dalam Kis 12:23.
Kis 5:5,10 - “(5) Ketika mendengar perkataan itu rebahlah Ananias dan putuslah nyawanya. Maka sangatlah ketakutan semua orang yang mendengar hal itu. ... (10) Lalu rebahlah perempuan itu seketika itu juga di depan kaki Petrus dan putuslah nyawanya. Ketika orang-orang muda itu masuk, mereka mendapati dia sudah mati, lalu mereka mengusungnya ke luar dan menguburnya di samping suaminya.”.
Kis 12:23 - “Dan seketika itu juga ia ditampar malaikat Tuhan karena ia tidak memberi hormat kepada Allah; ia mati dimakan cacing-cacing.”.
Kis 5:5,10 - ‘putuslah nyawanya’.
KJV: ‘gave up / yielded up the ghost’ (= menyerahkan roh).
RSV/NIV: ‘died’ (= mati).
NASB: ‘breathed his / her last’ (= menghembuskan nafas terakhir).
Kis 12:23 - ‘mati’.
KJV/ASV: ‘gave up the ghost’ (= menyerahkan roh).
RSV/NIV/NASB: ‘died’ (= mati).
Kata Yunani yang dipakai adalah ἐξέψυξεν / EXEPSUXEN (dalam Perjanjian Baru kata ini hanya digunakan 3 x, yaitu dalam Kis 5:5,10 Kis 12:23), yang berasal dari kata dasar EKPSUKHO. Kata EKPSUKHO ini pasti berasal dari 2 kata Yunani yaitu EK [= from (= dari), out from (= keluar dari), away from (= jauh dari)] + PSUKHE [= soul (= jiwa)]. Kata Yunani ini menunjukkan bahwa ‘mati’ merupakan ‘perpisahan tubuh dengan jiwa’.
==================================================
Pertanyaan: Bagaimana dengan kata Yunani ἐξέψυξεν dalam Kis 5:5?
Jawaban ChatGPT:
Kata ἐξέψυξεν dalam Kisah Para Rasul 5:5 (tentang kematian Ananias) memang terlihat mirip dengan ἐξέπνευσεν, tapi berasal dari kata dasar yang berbeda.
Mari kita uraikan:
Kata Yunani: ἐξέψυξεν
1) Bentuk: Aorist indikatif aktif (orang ketiga tunggal) dari kata kerja ἐκψύχω (ekpsuchō).
2) Asal-usul:
a) ἐκ = keluar dari
b) ψυχή = jiwa / nyawa
3) Arti harfiah: jiwanya keluar atau ia menghembuskan jiwanya.
4) Arti idiomatik: ia mati.
==================================================
h. 2Kor 5:8 - “tetapi hati kami tabah, dan terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan.”.
KJV: ‘to be absent from the body, and to be present with the Lord’ (= absen dari tubuh, dan hadir dengan Tuhan).
RSV: ‘be away from the body and at home with the Lord’ (= jauh dari tubuh dan di rumah dengan Tuhan).
NIV: ‘to be away from the body and at home with the Lord.’ (= jauh dari tubuh dan di rumah dengan Tuhan).
NASB: ‘to be absent from the body and to be at home with the Lord’ (= absen dari tubuh dan ada di rumah dengan Tuhan).
Yunani: ἐκδημῆσαι ἐκ τοῦ σώματος καὶ ἐνδημῆσαι πρὸς τὸν κύριον [= EKDEMESAI EK TOU SOMATOS KAI ENDEMESAI PROS TON KURION].
Perhatikan kontras antara EKDEMESAI (= to go away from home / pergi dari rumah) dan ENDEMESAI (= to come home / pulang ke rumah).
Jadi kematian digambarkan sebagai ‘pergi dari rumah menjauhi tubuh’, dan ‘pulang ke rumah (kepada Tuhan)’.
2. Saya tidak melihat bukti apapun dari kasus Lazarus dan Yesus tentang masih terkaitnya roh / jiwa mereka dengan tubuh. Hanya karena mereka masih bisa dibangkitkan, maka disimpulkan bahwa roh / jiwa mereka masih mempunyai keterkaitan dengan tubuh mereka? Bagaimana dengan orang yang sudah lama mati tetapi masih bisa dibangkitkan?
Bdk. Mat 27:51-53 - “(51) Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah, (52) dan kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit. (53) Dan sesudah kebangkitan Yesus, merekapun keluar dari kubur, lalu masuk ke kota kudus dan menampakkan diri kepada banyak orang.”.
Ini jelas bukan orang-orang yang baru mati, tetapi bisa dibangkitkan. Apakah roh / jiwa mereka juga masih mempunyai keterkaitan dengan tubuh mereka? Kelihatannya Ir. Herlianto mengatakan ‘ya’, karena ia berkata sebagai berikut:
Ir. Herlianto M. Th.: “Dalam konteks Golgotha juga disebutkan bahwa roh orang kudus bisa cukup lama berada di kuburan sampai saat penyaliban” - ‘Diskusi sekitar kremasi (pembakaran jenazah)’, hal 2.
Kalau begitu berapa lama roh / jiwa bisa mempunyai keterkaitan dengan tubuh? Bertahun-tahun? Ini betul-betul gila!
3. Saya tidak bisa mengerti bagaimana Ir. Herlianto bisa percaya adanya roh yang gentayangan karena kematian yang tidak wajar, dan bahkan rasanya membenarkan praktek penguburan kembali di tempat yang lebih layak dalam kasus seperti itu.
Perlu ditekankan bahwa ia mengatakan hal ini berdasarkan ‘pengalaman umum’ (lihat kutipan kata-katanya di atas), bukan berdasarkan Kitab Suci / Firman Tuhan!
Saya berpendapat bahwa tak peduli kematian itu wajar atau tidak, roh / jiwa itu langsung meninggalkan tubuh. Kalau bisa ada roh gentayangan, itu adalah setan yang menyamar, bukan roh / jiwa dari orang yang mati tak wajar tersebut. Yang harus dilakukan adalah menengking setan, bukan melakukan penguburan kembali di tempat yang lebih layak.
4. Dalam kutipan pertama di atas, Ir. Herlianto mengatakan bahwa “kita tidak tahu ... apa yang dirasakan oleh roh / jiwa saat terbakar”. Dan dalam kutipan ke 4 ia berkata bahwa “Proses pembakaran jenazah akan berdampak kemungkinan ikut terbakarnya roh / jiwa yang mungkin masih punya keterikatan dengan tubuh jasmani itu”. Dan ia lalu menambahkan “Kita jangan berspekulasi mengenai kemungkinan apa yang bisa terjadi dengan roh / jiwa pada saat kita membakar tubuh jasmaninya dengan sengaja”. Lalu dalam kutipan ke 5 ia berkata “pembakaran jenazah dapat berdampak serius terhadap roh / jiwa yang masih punya keterikatan dengan tubuh”
Mula-mula ia mengatakan ‘tidak tahu’, lalu ia mengatakan ‘kemungkinan’, dan akhirnya ia mengatakan ‘dapat berdampak serius’. Jadi siapa yang berspekulasi?
5. Andaikatapun roh seseorang masih belum terpisah dengan tubuhnya pada saat mati, adalah omong kosong kalau ia bisa menderita oleh api duniawi, lebih-lebih kalau ia adalah orang kristen yang sejati. Perlu diketahui bahwa penderitaan bagi orang kristen dalam dunia ini dibutuhkan untuk menyucikan, menguji dsb. Pada saat ia sudah mati, maka semua itu sudah selesai sehingga tidak mungkin lagi ada penderitaan baginya, mengingat semua hukuman dosanya sudah ditanggung oleh Kristus.
6. Pada saat Elia naik ke surga, ia naik ke surga dalam kereta berapi, kuda berapi dan angin badai. Tetapi ia tidak menderita karena api tersebut!
2Raja 2:11 - “Sedang mereka berjalan terus sambil berkata-kata, tiba-tiba datanglah kereta berapi dengan kuda berapi memisahkan keduanya, lalu naiklah Elia ke sorga dalam angin badai.”.
7. Kalau roh / jiwa belum melepaskan keterkaitannya dengan tubuh, dan lalu tubuh / mayat itu dikubur, apakah roh / jiwa itu tidak menderita oleh karena dikubur / dipendam di dalam tanah? Kalau roh / jiwa itu bisa menderita karena dibakar, mengapa roh / jiwa itu tidak bisa menderita karena dikubur?
d) Mereka mengatakan bahwa kremasi menghancurkan tubuh sehingga tidak bisa dibangkitkan oleh Allah.
Saya menjawab:
1. Apakah penguburan tidak menghancurkan tubuh / mayat? Mengapa mereka tidak sekalian saja mengharuskan pembalseman / pengawetan mayat?
2. Bagaimana dengan orang yang terkena ledakan bom, apalagi bom atom, atau dimakan ikan / buaya / ular / binatang buas? Apakah mereka ini juga tidak bisa dibangkitkan?
3. Saya percaya Allah yang maha kuasa bisa membangkitkan mayat yang bagaimanapun hancurnya!
e) Amos 2:1 - “Beginilah firman TUHAN: ‘Karena tiga perbuatan jahat Moab, bahkan empat, Aku tidak akan menarik kembali keputusanKu: Oleh karena ia telah membakar tulang-tulang raja Edom menjadi kapur,”.
Pdt. Jusuf B. S. menggunakan ayat ini sebagai dasar untuk menentang kremasi.
Jawaban saya:
Yang dianggap jahat tentang Moab dalam ayat ini bukanlah pembakaran mayat / tulang-tulang, tetapi kebencian yang begitu hebat dalam Moab sampai raja Edom yang sudah mati tetap menjadi sasaran kebencian, dan tulang-tulangnya lalu dibakar.
f) Dalam Kitab Suci tidak pernah ada perintah untuk membakar mayat.
Ini juga digunakan oleh Pdt. Jusuf B. S., dan dengan cara yang sama ia menentang perayaan HUT.
Jawaban saya:
1. Ini adalah ‘argument from silence’ yang sama sekali tidak mempunyai kekuatan. Tuhan memang tidak memerintahkan pembakaran mayat / perayaan HUT, tetapi Tuhan juga tidak pernah melarangnya!
Dalam kasus dimana Tuhan tidak melarang ataupun memerintahkan, maka ada dua ayat yang harus dipertimbangkan:
1Kor 6:12 - “Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apapun.”.
1Kor 10:23 - “‘Segala sesuatu diperbolehkan.’ Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. ‘Segala sesuatu diperbolehkan.’ Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun.”.
2. Kalau kedua hal di atas itu dilarang karena tidak pernah diperintahkan, maka kita juga bisa mengatakan bahwa orang kristen dilarang untuk mandi, karena Tuhan juga tidak pernah memerintahkan hal itu!
g) Orang kristen yang dikremasi harus menanggung akibat kekal.
Pdt. Jusuf B. S.: “Siapa yang minta dibakar sesudah mati, apalagi ditumbuk sampai halus, harus menanggung resikonya sendiri untuk kekal, sebab tidak pernah Tuhan menyuruhkan atau mengizinkan hal ini. Tetapi juga orang-orang yang menyuruh mengkremasikan mayat-mayat orang beriman akan menanggung akibatnya di hadapan pengadilan Allah.” - ‘Tradisi & Kebiasaan’, hal 40.
Tanggapan saya:
Kata-kata Pdt. Jusuf B. S. di atas bukan hanya tidak punya dasar Kitab Suci, tetapi juga berbau ajaran sesat ‘Keselamatan karena perbuatan baik’. Kalau orang itu adalah orang beriman, dan kalaupun kremasi itu salah, bukankah dosa orang itu sudah dipikul oleh Yesus? Lalu mengapa ia harus menanggung resikonya sendiri untuk kekal?
h) Dalam 2Raja 23:16 dikatakan bahwa tulang-tulang manusia dibakar untuk menajiskannya.
2Raja 23:16-20 - “(16) Dan ketika Yosia berpaling, dilihatnyalah kuburan-kuburan yang ada di gunung di sana, lalu menyuruh orang mengambil tulang-tulang dari kuburan-kuburan itu, membakarnya di atas mezbah dan menajiskannya, sesuai dengan firman TUHAN yang telah diserukan oleh abdi Allah yang telah menyerukan hal-hal ini. (17) Ia berkata: ‘Apakah tanda keramat yang kulihat ini?’ Lalu orang-orang di kota itu menjawab dia: ‘Itulah kuburan abdi Allah yang sudah datang dari Yehuda dan yang telah menyerukan segala hal yang telah kaulakukan terhadap mezbah Betel ini!’ (18) Lalu katanya: ‘Biarkanlah itu, janganlah ada orang yang menjamah tulang-tulangnya!’ Jadi mereka tidak mengganggu tulang-tulangnya dan tulang-tulang nabi yang telah datang dari Samaria itu. (19) Juga segala kuil di bukit-bukit pengorbanan yang di kota-kota Samaria yang dibuat oleh raja-raja Israel untuk menimbulkan sakit hati TUHAN, dijauhkan oleh Yosia dan dalam hal ini ia bertindak tepat seperti tindakannya di Betel. (20) Ia menyembelih di atas mezbah-mezbah itu semua imam bukit-bukit pengorbanan yang ada di sana dan dibakarnya tulang-tulang manusia di atasnya, lalu pulanglah ia ke Yerusalem.”.
Jawaban saya:
Kata ‘nya’ dalam kata ‘menajiskannya’ (ay 16) tidak menunjuk kepada ‘tulang-tulang’ tetapi kepada ‘mezbah’. Ini tidak terlihat dalam terjemahan Kitab Suci Indonesia tetapi terlihat dalam KJV.
KJV: ‘And as Josiah turned himself, he spied the sepulchres that were there in the mount, and sent, and took the bones out of the sepulchres, and burned them upon the altar, and polluted it, according to the word of the LORD which the man of God proclaimed, who proclaimed these words’ (= Dan ketika Yosia berpaling, ia melihat kuburan-kuburan yang ada di sana di gunung, dan menyuruh orang, dan mengambil tulang-tulang dari kuburan-kuburan itu, dan membakar mereka di atas mezbah, dan menajiskannya, sesuai dengan firman TUHAN yang diberitakan oleh hamba Allah, yang memberitakan kata-kata ini).
Kata ‘bones’ (= tulang-tulang) adalah kata benda bentuk jamak; sedangkan kata ‘altar’ (= mezbah) adalah kata benda bentuk tunggal. Jadi kata ‘them’ (= mereka) menunjuk pada kata ‘bones’ (= tulang-tulang), dan kata ‘it’ (= nya / itu) menunjuk pada kata ‘altar’ (= mezbah).
Jadi yang dinajiskan adalah mezbahnya, bukan tulang-tulangnya. Dengan demikian ayat ini tidak menunjukkan bahwa dengan dibakar mayat seseorang menjadi najis.
Catatan: Calvin menggabungkan kematian dan penguburan Kristus dalam satu tahap perendahan saja. Tetapi saya lebih setuju dengan ahli-ahli theologia yang memisahkan kedua hal itu.
Tahap V: Turun ke dalam neraka / kerajaan maut.
Dalam bahasa Ibrani digunakan kata SHEOL, dan dalam bahasa Yunani digunakan kata HADES, yang dalam Kitab Suci Indonesia biasanya diterjemahkan ‘dunia orang mati’ atau ‘alam maut’. Kata SHEOL / HADES tidak selalu mempunyai arti yang sama.
1) Kadang-kadang SHEOL / HADES tidak menunjuk pada suatu tempat tertentu, tetapi dipakai dalam arti yang abstrak untuk menunjuk pada ‘keadaan kematian / the state of death’ atau ‘keadaan terpisahnya tubuh dengan jiwa / roh’.
Misalnya: Hos 13:14 - “Akan Kubebaskankah mereka dari kuasa dunia orang mati, akan Kutebuskah mereka dari pada maut? Di manakah penyakit samparmu, hai maut, di manakah tenaga pembinasamu, hai dunia orang mati? MataKu tertutup bagi belas kasihan.”.
2) Kalau menunjuk pada tempat, maka SHEOL / HADES mempunyai 2 kemungkinan arti:
a) Kuburan.
Kej 37:35 - “Sekalian anaknya laki-laki dan perempuan berusaha menghiburkan dia, tetapi ia menolak dihiburkan, serta katanya: ‘Tidak! Aku akan berkabung, sampai aku turun mendapatkan anakku, ke dalam dunia orang mati!’ Demikianlah Yusuf ditangisi oleh ayahnya.”.
Tidak mungkin mengartikan kata ‘dunia orang mati’ ini di sini sebagai neraka, karena itu akan berarti bahwa Yakub dan Yusuf, yang adalah orang-orang beriman, masuk neraka. Jadi, harus diartikan sebagai ‘kuburan’.
Yunus 2:2 - “katanya: ‘Dalam kesusahanku aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku, dari tengah-tengah dunia orang mati aku berteriak, dan Kaudengarkan suaraku.”.
Yunus saat itu memang bukan ada di dalam kuburan, tetapi di dalam perut ikan. Ia mengatakan demikian, karena pada saat ia ada di dalam perut ikan, ia merasa seperti berada di dalam kuburan.
b) Neraka.
Maz 9:18 - “Orang-orang fasik akan kembali ke dunia orang mati, ya, segala bangsa yang melupakan Allah.”.
Ayat ini menunjukkan suatu ancaman bagi orang-orang tak beriman / jahat. Kalau kata-kata ‘dunia orang mati’ dalam ayat-ayat ini diartikan ‘kuburan’ atau ‘tempat netral kemana semua orang akan pergi setelah mati’, maka ayat-ayat itu akan kehilangan ancamannya. Jadi, dalam ayat-ayat seperti itu, kata ‘dunia orang mati’ harus diartikan sebagai ‘neraka’.
Amsal 15:24 - “Jalan kehidupan orang berakal budi menuju ke atas, supaya ia menjauhi dunia orang mati di bawah.”.
Kata ‘atas’ dalam ayat ini jelas menunjuk pada ‘surga’, dan karena kata-kata ‘dunia orang mati di bawah’ merupakan kontrasnya, maka kata-kata itu harus diartikan sebagai ‘neraka’.
Luk 16:23-25 -
“(23) Orang kaya
itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di
alam maut ia memandang ke atas, dan dari
jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuan
(dada) nya.
(24) Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus,
supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab
aku sangat kesakitan dalam nyala api ini. (25) Tetapi Abraham berkata: Anak,
ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu,
sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau
sangat menderita.”.
Kata-kata ‘alam maut’ dalam ay 23 diterjemahkan dari kata Yunani HADES. Perhatikan bagaimana Kitab Suci menggambarkan HADES di sini. Hades bukan hanya digambarkan sebagai tempat yang ada nyala apinya, tetapi juga sebagai tempat penyiksaan, dimana orang kaya itu sangat menderita. Tidak bisa tidak, ini pasti menunjuk pada neraka!
Kata-kata ‘turun ke dalam neraka / Kerajaan Maut’ ini mempunyai penafsiran yang berbeda-beda:
1) Berdasarkan arti dari kata HADES di atas, dimana HADES bisa menunjuk pada ‘keadaan kematian’ atau ‘kuburan’, maka ada orang yang beranggapan bahwa ‘turun ke HADES’ berarti ‘turun ke dalam keadaan kematian’ atau ‘turun ke kuburan’.
Keberatan terhadap penafsiran ini:
Penafsiran ini tidak cocok dengan kontex dari 12 Pengakuan Iman Rasuli. Dalam 12 Pengakuan Iman Rasuli itu sudah dikatakan bahwa Kristus ‘menderita di bawah pemerintahan Pontius Pilatus, disalibkan, mati dan dikuburkan’.
Kalau kalimat selanjutnya yaitu ‘turun ke neraka’ diartikan ‘turun ke dalam keadaan kematian’ atau ‘turun ke kuburan’, maka ini merupakan suatu pengulangan yang tidak perlu.
Lebih dari itu, kalimat yang tadinya sudah jelas, sekarang diulangi secara kabur / tidak jelas.
2) Ada juga yang beranggapan bahwa Kristus benar-benar turun ke neraka untuk mengalami siksaan neraka untuk menebus dosa kita.
Keberatan terhadap penafsiran ini:
a) Antara kematian dan kebangkitanNya, tubuh Kristus ada dalam kuburan dan roh / jiwaNya ada di surga.
Luk 23:43,46 - “(43) Kata Yesus kepadanya: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.’ ... (46) Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: ‘Ya Bapa, ke dalam tanganMu Kuserahkan nyawaKu.’ Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawaNya.”.
Karena itu, baik tubuh maupun jiwa / roh dari manusia Yesus Kristus tidak mungkin turun ke neraka untuk mengalami siksaan neraka tersebut.
b) Sesaat sebelum kematianNya, Yesus berkata ‘Sudah selesai’ (Yoh 19:30).
Ini menunjukkan bahwa penderitaan aktifNya untuk menanggung hukuman dosa umat manusia sudah selesai, sehingga tidak ada lagi penderitaan yang harus Ia alami untuk menebus dosa kita.
3) Roma Katolik.
Sesudah mati, Kristus pergi ke LIMBUS PATRUM (= tempat penantian dimana orang-orang suci jaman Perjanjian Lama menantikan kebangkitan Kristus), menyampaikan Injil kepada mereka dan lalu membawa mereka ke surga.
Dasar Kitab Suci yang dipakai adalah:
a) Maz 107:16 - “sebab dipecahkanNya pintu-pintu tembaga, dan dihancurkanNya palang-palang pintu besi.”.
b) Zakh 9:11 - “Mengenai engkau, oleh karena darah perjanjianKu dengan engkau, Aku akan melepaskan orang-orang tahananmu dari lobang yang tidak berair.”.
Keberatan terhadap ajaran ini:
a) Ayat-ayat itu ditafsirkan out of context (= keluar dari kontexnya).
Bacalah seluruh kontex dari ayat-ayat itu dan saudara akan melihat bahwa baik Maz 107:16 maupun Zakh 9:11 menunjuk pada pembebasan / pertolongan yang Allah lakukan terhadap orang-orang yang tadinya mengalami penderitaan sebagai hukuman dosa mereka.
Orang-orang itu masih hidup, bukannya orang-orang yang sudah mati!
Jadi, ayat-ayat ini sama sekali tak ada hubungannya dengan Kristus turun ke neraka / Hades / Limbus Patrum.
Maz 107:10-16 - “(10) Ada orang-orang yang duduk di dalam gelap dan kelam, terkurung dalam sengsara dan besi. (11) Karena mereka memberontak terhadap perintah-perintah Allah, dan menista nasihat Yang Mahatinggi, (12) maka ditundukkanNya hati mereka ke dalam kesusahan, mereka tergelincir, dan tidak ada yang menolong. (13) Maka berseru-serulah mereka kepada TUHAN dalam kesesakan mereka, dan diselamatkanNyalah mereka dari kecemasan mereka, (14) dibawaNya mereka keluar dari dalam gelap dan kelam, dan diputuskanNya belenggu-belenggu mereka. (15) Biarlah mereka bersyukur kepada TUHAN karena kasih setiaNya, karena perbuatan-perbuatanNya yang ajaib terhadap anak-anak manusia, (16) sebab dipecahkanNya pintu-pintu tembaga, dan dihancurkanNya palang-palang pintu besi.”.
Zakh 9:11-12 - “(11) Mengenai engkau, oleh karena darah perjanjianKu dengan engkau, Aku akan melepaskan orang-orang tahananmu dari lobang yang tidak berair. (12) Kembalilah ke kota bentengmu, hai orang tahanan yang penuh harapan! Pada hari ini juga Aku memberitahukan: Aku akan memberi ganti kepadamu dua kali lipat!”.
b) Orang suci jaman Perjanjian Lama itu adalah orang percaya; lalu mengapa / apa gunanya diinjili lagi?
c) Pandangan ini bertentangan dengan 2Raja 2:11 yang menyatakan bahwa Elia, yang jelas termasuk salah satu orang suci Perjanjian Lama, naik ke surga, bukan pergi ke Limbus Patrum.
2Raja 2:11 - “Sedang mereka berjalan terus sambil berkata-kata, tiba-tiba datanglah kereta berapi dengan kuda berapi memisahkan keduanya, lalu naiklah Elia ke sorga dalam angin badai.”.
d) Apa perlunya Kristus pergi ke sana? Kalau hanya untuk membebaskan mereka, Kristus tidak perlu pergi ke sana. Ia bisa memberikan perintah dari surga, dan mereka akan bebas.
4) Lutheran.
‘Turun ke HADES’ merupakan tahap pertama dari pemuliaan Kristus. Kristus turun ke HADES untuk menyelesaikan kemenanganNya atas setan dan untuk menyampaikan hukuman mereka.
Keberatan terhadap ajaran ini:
a) Tidak ada dasar Kitab Suci yang mendukung pandangan ini.
b) Tahap pertama kemenangan / pemuliaan Kristus baru terjadi pada waktu Ia bangkit. Agak sukar membayangkan dan menerima bahwa kata ‘turun’ bisa menunjuk pada ‘pemuliaan Kristus’.
5) The church of England.
Tubuh Kristus ada di kuburan, tetapi roh / jiwaNya pergi ke HADES, atau, lebih khusus lagi, ke Firdaus, tempat penantian dari roh orang-orang benar dan memberi penjelasan tentang kebenaran.
Keberatan terhadap ajaran ini:
a) Tidak ada dasar Kitab Sucinya.
b) Orang benar yang sudah mati tak perlu diajar lagi.
c) Firdaus bukanlah tempat penantian orang benar, tetapi Firdaus jelas adalah surga. Hal ini bisa terlihat dari:
1. Perbandingan Luk 23:43 dengan Luk 23:46.
Luk 23:43,46 - “(43) Kata Yesus kepadanya: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.’ ... (46) Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: ‘Ya Bapa, ke dalam tanganMu Kuserahkan nyawaKu.’ Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawaNya.”.
Kalau ‘Firdaus’ dalam ay 43 bukan surga, maka kata-kata Yesus kepada penjahat (ay 43) dan kepada Bapa (ay 46), akan bertentangan.
2. Perbandingan 2Kor 12:2 dengan 2Kor 12:4.
2Kor 12:2,4 - “(2) Aku tahu tentang seorang Kristen; empat belas tahun yang lampau - entah di dalam tubuh, aku tidak tahu, entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya - orang itu tiba-tiba diangkat ke tingkat yang ketiga dari sorga. ... (4) ia tiba-tiba diangkat ke Firdaus dan ia mendengar kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia”.
Paulus menceritakan satu cerita, bukan dua cerita. Mula-mula ia mengatakan bahwa orang itu (orang itu adalah dirinya sendiri) diangkat ke surga, lalu ia mengatakan orang itu diangkat ke Firdaus. Tetapi apa yang dimaksudkan dengan kata-kata ‘tingkat yang ketiga dari surga’?
The Bible Exposition Commentary: “Paul affirmed here the reality of heaven and the ability of God to take people there. The third heaven is the same as ‘Paradise,’ the heaven of heavens where God dwells in glory. Thanks to modern science, men today have visited the heaven of the clouds (we fly above the clouds) and the heaven of the planets (men have walked on the moon), but man cannot get to God’s heaven without God’s help.” [= Paulus menegaskan di sini kenyataan dari surga dan kemampuan Allah untuk membawa orang-orang ke sana. Surga yang ketiga adalah sama dengan ‘Firdaus’, surga dari surga dimana Allah tinggal dalam kemuliaan. Berkat ilmu pengetahuan modern, orang-orang zaman sekarang telah mengunjungi surga dari awan-awan (kita terbang di atas awan-awan) dan surga dari planet-planet (orang-orang telah berjalan di bulan), tetapi manusia tidak bisa sampai ke surga Allah tanpa pertolongan Allah.].
Barnes’ Notes: “The Jews sometimes speak of seven heavens, ... But the Bible speaks of but three heavens; and among the Jews in the apostolic ages, also, the heavens were divided into three: (1) The aerial, including the clouds and the atmosphere, the heavens above us, until we come to the stars. (2) The starry heavens - the heavens in which the sun, moon, and stars appear to be situated. (3) The heavens beyond the stars. That heaven was supposed to be the residence of God, of angels, and of holy spirits. It was this upper heaven, the dwelling-place of God, to which Paul was taken, and whose wonders he was permitted to behold - this region where God dwelt, where Christ was seated at the right hand of the Father, and where the spirits of the just were assembled.” [= Orang-orang Yahudi kadang-kadang berbicara tentang tujuh langit / surga. ... Tetapi Alkitab berbicara hanya tentang 3 langit / surga; dan di antara orang-orang Yahudi dalam zaman rasul-rasul, langit / surga juga dibagi menjadi 3: (1) Udara, termasuk awan-awan dan atmosfir, langit di atas kita, sampai kita sampai pada bintang-bintang. (2) Langit / surga dengan bintang-bintang - langit di mana matahari, bulan, dan bintang-bintang diletakkan. (3) Langit / surga di atas bintang-bintang. Langit / surga itu dianggap sebagai tempat tinggal Allah, malaikat-malaikat, dan roh-roh yang kudus. Surga bagian atas inilah, tempat tinggal dari Allah, kemana Paulus diangkat, dan diizinkan untuk melihat keajaiban-keajaibannya - daerah ini dimana Allah tinggal, dimana Kristus duduk di sebelah kanan Bapa, dan dimana roh-roh dari orang-orang benar dikumpulkan.] - hal 902.
Jewish New Testament Commentary: “The third heaven is not the air (the first heaven) or the sky where the stars are (the second heaven), but the ‘place’ where God is, a spiritual realm.” [= Surga ketiga itu bukanlah udara (surga pertama) atau langit dimana bintang-bintang berada (surga kedua), tetapi ‘tempat’ dimana Allah ada, suatu alam rohani.].
Lenski: “The first heaven is that of the clouds, the second that of the far firmament of the sky and the stars, the third is the actual abode of God, of the angels, and of departed saints in glory.” [= Surga pertama adalah surga dari awan-awan, surga yang kedua adalah surga dari cakrawala yang jauh di langit dan bintang-bintang, surga ketiga adalah tempat tinggal sungguh-sungguh dari Allah, dari malaikat-malaikat, dan dari orang-orang kudus yang sudah mati dalam kemuliaan.].
Contoh ayat untuk 3 langit / surga.
1. Langit pertama à Daniel 4:11 - “pohon itu bertambah besar dan kuat, tingginya sampai ke langit, dan dapat dilihat sampai ke ujung seluruh bumi.”.
Juga Kej 11:4 - “Juga kata mereka: ‘Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi.”.
2. Langit kedua à Kej 22:17 - “maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya.”.
3. Langit ketiga à Mat 6:9 - “Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah namaMu,”.
Ini yang sungguh-sungguh adalah surga.
Jadi pada waktu Paulus mengatakan bahwa ia diangkat ke tingkat yang ketiga dari surga, maksudnya adalah bahwa ia diangkat ke surga.
Kalau Firdaus bukan surga, maka kata-kata Paulus dalam ay 2 akan bertentangan dengan kata-katanya dalam ay 4.
3. Membandingkan Wah 2:7 dengan Wah 22:2,14,19.
Wah 2:7 - “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Barangsiapa menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah.’”.
Jadi, dalam Wah 2:7 dikatakan bahwa dalam taman Firdaus itu terdapat pohon kehidupan. Sekarang bandingkan dengan:
a. Wah 22:2 - “Di tengah-tengah jalan kota itu, yaitu di seberang-menyeberang sungai itu, ada pohon-pohon kehidupan yang berbuah dua belas kali, tiap-tiap bulan sekali; dan daun pohon-pohon itu dipakai untuk menyembuhkan bangsa-bangsa.”.
b. Wah 22:14 - “Berbahagialah mereka yang membasuh jubahnya. Mereka akan memperoleh hak atas pohon-pohon kehidupan dan masuk melalui pintu-pintu gerbang ke dalam kota itu.”.
c. Wah 22:19 - “Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini.’”.
Kontext dari ketiga ayat ini membicarakan tentang surga, dan karena itu terlihat bahwa pohon kehidupan itu ada di surga. Kesimpulannya lagi-lagi adalah bahwa Firdaus adalah surga!
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali
Alamat Gereja :
Jl. Raya Kali Rungkut 5 - Ruko Rungkut Megah Raya BLOK D - 16, SURABAYA
Rek Gereja : Account BCA 3631422185 a/n Tjoe Ming Tjhuin