Pemahaman Alkitab
(online)
(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)
Selasa, tgl 29 April 2025, pk 18.30
Pdt. Budi Asali, M. Div.
12 PENGAKUAN IMAN RASULI(3)
Ini adalah tahap-tahap selanjutnya dari perendahan Kristus.
Tahap II: penderitaan.
1) Yesus menderita di bawah pemerintahan Pontius Pilatus.
Ada orang yang mengatakan bahwa belakangan Pontius Pilatus bertobat. Sekarang kita tanyakan pada ChatGPT tentang hal itu.
=========================================================
Pertanyaan: apakah Pontius Pilatus bertobat?
Jawaban ChatGPT:
Pertanyaanmu menarik sekali: Apakah Pontius Pilatus bertobat?
Jawaban singkatnya: tidak ada bukti sejarah yang pasti bahwa Pontius Pilatus bertobat.
Penjelasan lebih lengkap:
a) Dalam Alkitab, tidak ada indikasi bahwa Pilatus bertobat. Dalam Matius 27:24, dia ‘mencuci tangan’ sebagai simbol bahwa ia tidak bertanggung jawab atas kematian Yesus, tetapi ini lebih menunjukkan upaya melepaskan diri dari rasa bersalah di depan publik, bukan pertobatan sejati di hadapan Allah.
b) Tradisi Kristen awal bervariasi:
1. Ada beberapa tradisi di kalangan Gereja Koptik (Mesir) yang menganggap Pilatus dan istrinya (yang disebut Claudia Procula) akhirnya menjadi Kristen. Mereka bahkan memperingati istri Pilatus sebagai orang kudus pada tanggal 27 Oktober dalam kalender mereka.
2. Tetapi tradisi Gereja Barat (misal di kalangan Latin) justru memandang Pilatus sebagai sosok negatif yang bersalah menyerahkan Yesus untuk disalibkan, walaupun ia pribadi tampak ragu-ragu.
c) Sejarah sekuler (seperti tulisan-tulisan Josephus dan Philo) menggambarkan Pilatus sebagai seorang gubernur yang kejam, keras, dan tidak adil, yang akhirnya diberhentikan dan dipanggil kembali ke Roma karena pelanggaran serius dalam pemerintahannya. Tidak ada bukti bahwa dia mengalami pertobatan sebelum atau setelah peristiwa itu.
d) Apokrifa dan legenda: Ada tulisan-tulisan apokrifa (seperti ‘Gospel of Nicodemus’ atau ‘Acts of Pilate’) yang memuat cerita lebih simpatik terhadap Pilatus, tetapi itu bukan dokumen sejarah yang bisa diandalkan.
Kesimpulan:
Tidak ada bukti kuat yang bisa memastikan bahwa Pontius Pilatus bertobat.
Beberapa tradisi lokal memitoskannya, tetapi Alkitab dan sejarah yang lebih awal
tidak mendukung klaim pertobatan itu.
=========================================================
2) Penderitaan yang dialami Kristus mencakup penderitaan jasmani maupun rohani / batin.
a) Jasmani: haus, lelah, lapar, mahkota duri, tampar, tinju, cambuk.
b) Rohani / batin: dihina, tidak dipercaya, dikhianati, dibenci, dicaci maki.
3) Puncak penderitaan terjadi di atas kayu salib, dan ini berlaku:
a) Secara jasmani.
b) Secara rohani. Karena di kayu saliblah Yesus berteriak ‘Eli, Eli, lama sabakhtani?’.
Saya menekankan kata ‘puncak’ karena yang menebus dosa kita bukan hanya penderitaan dan kematian yang Yesus alami di sekitar penyaliban, tetapi dalam sepanjang hidupnya.
Alasannya: penderitaan adalah hukuman bagi orang berdosa. Kristus suci murni tanpa dosa, tetapi sejak lahir Ia mengalami penderitaan. Jadi, itu pasti juga untuk menebus dosa kita.
Tahap III: mati.
Kematian yang dialami oleh Kristus mencakup:
1) Kematian jasmani: yaitu perpisahan tubuh dengan jiwa / roh.
2) Kematian rohani: perpisahan dengan Allah. Ini terjadi pada saat Kristus berkata: ‘ELI, ELI, LAMA SABAKHTANI?’, atau ‘AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?’ (Mat 27:46).
Ada beberapa pandangan tentang arti kalimat ini:
a) Yesus tidak sungguh-sungguh ditinggal / mengalami keterpisahan dengan Allah, karena kata-kata yang Ia ucapkan itu hanyalah:
1. Perasaan Yesus saja (bahasa Jawa: Yesus kroso-krosoen), atau,
2. Doa Yesus sambil mengutip Maz 22, atau,
3. Perenungan Yesus tentang firman Tuhan dalam Maz 22.
Maz 22:2 - “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku.”.
Keberatan terhadap pandangan ini:
Kalau demikian Yesus tidak sungguh-sungguh memikul hukuman dosa kita, karena keterpisahan dengan Allah merupakan hukuman dosa!
Bandingkan dengan:
a. Yes 59:1-2 - “(1) Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaranNya tidak kurang tajam untuk mendengar; (2) tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.”.
b. 2Tes 1:9 - “Mereka ini akan menjalani hukuman kebinasaan selama-lamanya, dijauhkan dari hadirat Tuhan dan dari kemuliaan kekuatanNya,”.
b) Allah Anak meninggalkan Yesus sebagai manusia.
Alasannya: Biasanya Yesus selalu menyebut Allah dengan sebutan ‘Bapa’, tetapi kali ini Yesus berkata ‘AllahKu’, bukan ‘BapaKu’. Ini dianggap menunjukkan bahwa saat itu Yesus betul-betul berbicara sebagai manusia biasa kepada AllahNya.
Keberatan terhadap pandangan ini:
1. Dalam Luk 23:34 Yesus menyebut ‘Bapa’, dan ini adalah kalimat pertama di kayu salib. Lalu dalam Luk 23:46 Yesus juga menyebut ‘Bapa’, dan ini adalah kalimat terakhir di kayu salib.
2. Dalam inkarnasi, Anak Allah mengambil hakekat manusia, yang lalu mendapatkan kepribadianNya dalam diri Anak Allah itu. Kalau terjadi perpisahan antara Allah Anak dan manusia Yesus, ini berarti bahwa persatuan Allah dan manusia dalam diri Yesus itu hancur, sehingga yang tertinggal di atas kayu salib hanyalah hakekat manusia itu. Ini tidak mungkin, karena hakekat manusia tidak bisa ada sendirian!
3. Andaikata Yesus memang mati sebagai manusia saja, maka penebusan yang Ia lakukan tidak bisa mempunyai kuasa yang tidak terbatas!
Maz 49:8-9 - “(8) Tidak seorangpun dapat membebaskan dirinya, atau memberikan tebusan kepada Allah ganti nyawanya, (9) karena terlalu mahal harga pembebasan nyawanya, dan tidak memadai untuk selama-lamanya -”.
Catatan: saya membandingkan dengan terjemahan NIV, karena TB1-LAI (dan juga RSV) salah terjemahan.
Maz 49:8-9 (NIV - Ps 49:7-8): “No man can redeem the life of another, or give to God a ransom for him; the ransom for a life is costly, no payment is ever enough” [= Tidak seorang manusiapun bisa menebus nyawa orang lain, atau memberikan kepada Allah tebusan untuk dia; tebusan untuk suatu nyawa sangat mahal, tak ada pembayaran yang bisa mencukupi].
c) Allah Bapa meninggalkan Yesus sebagai Allah dan manusia.
Keberatan terhadap pandangan ini:
Terjadi perpisahan dalam diri Allah Tritunggal.
Jawaban atas keberatan ini:
1. Ini memang merupakan misteri yang tidak bisa kita mengerti sepenuhnya.
2. Perpisahan Allah Bapa dengan Allah Anak bukan bersifat lokal, seakan-akan yang satu ada di sini dan yang lain ada di sana. Perpisahan secara lokal ini tidak mungkin terjadi, karena baik Bapa maupun Anak adalah Allah yang maha ada. Jadi perpisahan ini hanyalah dalam persoalan hubungan / persekutuan saja.
Perlu diingat bahwa kalau nanti orang berdosa masuk ke neraka, ia bukannya berpisah secara lokal dengan Allah, karena Allah yang mahaada itu ada dimanapun juga termasuk di neraka. Jadi, perpisahan yang terjadi antara orang berdosa dengan Allah di neraka, adalah rusaknya hubungan / persekutuan antara mereka secara kekal. Dan hukuman inilah yang dipikul oleh Kristus pada saat itu!
Penerapan: Karena Kristus sudah mengalami keterpisahan dengan Allah, maka orang yang sudah percaya kepada Yesus dipersatukan / diperdamaikan kembali dengan Allah, dan tidak akan pernah berpisah dengan Allah / ditinggal oleh Allah, baik dalam hidup ini maupun dalam kekekalan! (Bdk. Yoh 14:16 Ibr 13:5).
Yoh 14:16 - “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya,”.
Ibr 13:5 - “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: ‘Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.’”.
Keunggulan pandangan ini:
a. Kristus betul-betul memikul hukuman dosa, yaitu keterpisahan dengan Allah.
b. Karena Kristus memikul hukuman dosa itu sebagai Allah dan manusia, maka penebusannya mempunyai kuasa / nilai yang tak terbatas!
Catatan: Ini tidak bertentangan dengan doktrin Limited Atonement (= penebusan terbatas) dari Calvinisme, karena dalam doktrin Limited Atonement itu, yang dianggap terbatas bukanlah kuasa / nilai penebusan Kristus, tetapi design (= rencana / tujuan) penebusan Kristus.
c. Hypostatical / Personal Union (persatuan Allah dan manusia dalam diri Yesus) tetap terjaga.
====================================================
Pertanyaan: Bagaimana pandangan yang benar tentang Mat 27:46?
Jawaban ChatGPT:
Matius 27:46 (TB) berbunyi:
"Kira-kira pukul tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”"
Ini adalah salah satu perkataan Yesus yang paling misterius dan mendalam di atas kayu salib. Untuk memahami ayat ini secara benar, perlu kita perhatikan tiga aspek utama:
Kalimat ini adalah kutipan langsung dari Mazmur 22:1, sebuah mazmur yang ditulis Daud:
"Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?"
Ini bukan sekadar seruan keputusasaan, melainkan suatu nyanyian ratapan yang berakhir dalam kemenangan. Mazmur 22 memulai dengan penderitaan, tetapi kemudian beralih kepada pengharapan dan pujian:
"Engkau telah menjawab aku!"
(ayat 21)
"Segala ujung bumi akan mengingatnya dan
berbalik kepada TUHAN..." (ayat 27)
Jadi, Yesus sedang mengidentifikasi diri-Nya dengan penderitaan Mesias yang telah dinubuatkan dalam Mazmur itu. Ini adalah deklarasi mesianik, bukan hanya teriakan keputusasaan.
Pandangan Reformed umumnya menjawab: secara relasional ya, tetapi secara ontologis tidak.
“There was a real
abandonment, but not in the ontological sense.”
(Systematic Theology, p. 348)
➤
"Ada penelantaran
yang nyata, tetapi bukan dalam pengertian ontologis (hakikat keberadaan)."
Yesus tidak pernah berhenti menjadi Anak Allah atau bagian dari Tritunggal. Tetapi dalam fungsi sebagai Penanggung dosa, Ia benar-benar merasakan pemisahan relasional dari Bapa, karena Ia "dijadikan dosa" bagi kita (2 Kor 5:21).
“Nothing had been done if Christ had only endured bodily death. It was requisite that he should feel the weight of divine vengeance... as if God had been angry with him.” (Institutes, II.xvi.10)
“Tidak ada yang dicapai jika Kristus hanya mengalami kematian tubuh. Ia harus merasakan beban murka Allah… seakan-akan Allah marah terhadap-Nya.”
Yesus berteriak demikian karena Dia sedang menanggung kutuk dosa kita (Gal 3:13). Penderitaan ini adalah bagian dari penebusan, di mana Yesus merasakan penderitaan rohani terdalam - yaitu pemisahan dari hadirat kasih Allah.
“Allah-Ku, Allah-Ku” menunjukkan iman, bukan pemberontakan. Ia tetap menyebut Allah sebagai milik-Nya.
Pandangan yang benar tentang Matius 27:46 menurut teologi Reformed adalah:
1. Yesus benar-benar merasakan keterpisahan dari Allah karena Ia menanggung dosa kita.
2. Ini bukan berarti adanya pemisahan esensial dalam Trinitas, tetapi keterpisahan dalam relasi perjanjian sebagai wakil kita.
3. Seruan itu adalah kutipan Mazmur 22, yang pada akhirnya menyatakan kemenangan Mesias - jadi bukan hanya ratapan, tetapi juga penggenapan nubuat dan pernyataan iman.
====================================================
Penerapan: Bagi orang yang tidak percaya kepada Kristus, kematian Yesus secara jasmani maupun rohani ini tidak ada gunanya. Mereka akan mengalami kematian jasmani dan rohani (dalam neraka). Sedangkan orang yang percaya kepada Yesus hanya akan mengalami kematian jasmani, dan itupun bukan lagi sebagai hukuman dosa, tetapi sebagai jalan masuk ke surga! Karena itulah orang kristen yang sejati tidak perlu, bahkan tidak boleh, takut pada kematian. Sama seperti Paulus, kitapun bisa berkata: “Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” (Fil 1:21).
Tahap IV: dikuburkan.
1) Kematian bukanlah tahap terakhir dari perendahan Kristus. Kata-kata ‘sudah selesai’ (Yoh 19:30) tidak berhubungan dengan perendahan tetapi dengan penderitaan aktif dalam memikul hukuman dosa.
2) Penguburan adalah suatu tahap perendahan.
Ini terlihat dari:
a) Kuburan merupakan tempat dimana tubuh itu hancur / membusuk.
b) Kembalinya manusia kepada debu adalah sebagian dari hukuman dosa.
Kej 3:19 - “dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.’”.
c) Maz 88:5-7 dan Kis 2:31 menunjukkan bahwa penguburan merupakan perendahan.
Maz 88:5-7 - “(5) Aku telah dianggap termasuk orang-orang yang turun ke liang kubur; aku seperti orang yang tidak berkekuatan. (6) Aku harus tinggal di antara orang-orang mati, seperti orang-orang yang mati dibunuh, terbaring dalam kubur, yang tidak Kauingat lagi, sebab mereka terputus dari kuasaMu. (7) Telah Kautaruh aku dalam liang kubur yang paling bawah, dalam kegelapan, dalam tempat yang dalam.”.
Kis 2:31 -
“Karena itu ia
telah melihat ke depan dan telah berbicara tentang kebangkitan Mesias, ketika ia
mengatakan, bahwa Dia tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati
(= kuburan),
dan bahwa dagingNya tidak mengalami kebinasaan
(pembusukan).”.
Catatan: kata-kata ‘dunia orang mati’ kadang-kadang menunjuk pada ‘neraka’, kadang-kadang pada ‘kuburan’, dan kadang-kadang pada ‘keadaan kematian’. Kontext harus menentukan arti yang mana yang harus dipilih. Dalam Kis 2:31 ini arti yang harus dipilih adalah ‘kuburan’. NIV menterjemahkan ‘grave’ (= kuburan); RSV/NASB mempertahankan kata Yunaninya yaitu HADES; tetapi KJV secara salah menterjemahkan ‘hell’ (= neraka). Cek dengan Bible Works 8.
3) Penguburan Kristus tidak hanya menunjukkan bahwa Ia betul-betul sudah mati tetapi juga untuk menghilangkan kengerian terhadap kuburan dalam diri orang yang percaya.
Karena itu, kalau saudara betul-betul adalah orang kristen, saudara tidak boleh takut lagi pada kuburan / kematian. Ingat bahwa Kristus sudah pernah masuk ke sana dan bahkan mengalahkannya!
4) Bahwa Kristus dikubur, tidak berarti bahwa orang kristen yang mati harus dikubur, dan tidak boleh dikremasi / dibakar.
Banyak hamba Tuhan / orang kristen yang anti kremasi memberikan bermacam-macam argumentasi untuk menentang kremasi, tetapi saya berpendapat bahwa tidak satupun argumentasi mereka yang bisa dipertahankan. Mari kita perhatikan argumentasi-argumentasi mereka satu per satu, dan jawaban saya terhadap argumentasi-argumentasi tersebut.
a) Mereka mengatakan bahwa api adalah simbol hukuman.
Saya menjawab: api yang adalah simbol hukuman, juga merupakan:
1. Simbol Roh Kudus.
Kis 2:1-4 - “(1) Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. (2) Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; (3) dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. (4) Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.”.
2. Simbol penyucian / pemurnian (Mat 3:11).
Mat 3:11 - “Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan kasutNya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api.”.
Mat 3:11 ini berbicara tentang 2 macam baptisan rohani, yaitu:
a. Baptisan Roh, yaitu pemberian Roh Kudus, dan ini terjadi pada saat seseorang percaya kepada Kristus.
Ef 1:13 - “Di dalam Dia kamu juga - karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu - di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikanNya itu.” (bdk. Yoh 7:38-39 Gal 3:2-5,14).
Yoh 7:38-39 - “(38) Barangsiapa percaya kepadaKu, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.’ (39) Yang dimaksudkanNya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepadaNya; sebab Roh itu belum datang, karena Yesus belum dimuliakan.”.
Gal 3:2-5,14 - “(2) Hanya ini yang hendak kuketahui dari pada kamu: Adakah kamu telah menerima Roh karena melakukan hukum Taurat atau karena percaya kepada pemberitaan Injil? (3) Adakah kamu sebodoh itu? Kamu telah mulai dengan Roh, maukah kamu sekarang mengakhirinya di dalam daging? (4) Sia-siakah semua yang telah kamu alami sebanyak itu? Masakan sia-sia! (5) Jadi bagaimana sekarang, apakah Ia yang menganugerahkan Roh kepada kamu dengan berlimpah-limpah dan yang melakukan mujizat di antara kamu, berbuat demikian karena kamu melakukan hukum Taurat atau karena kamu percaya kepada pemberitaan Injil? ... (14) Yesus Kristus telah membuat ini, supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu.”.
b. Baptisan api.
‘Api’ bisa berarti:
(1) Hukuman (bdk. Mat 3:10,12).
Bdk. Mat 3:10-12 - “(10) Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. (11) Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan kasutNya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api. (12) Alat penampi sudah ditanganNya. Ia akan membersihkan tempat pengirikanNya dan mengumpulkan gandumNya ke dalam lumbung, tetapi debu jerami itu akan dibakarNya dalam api yang tidak terpadamkan.’”.
Bagian yang saya garis bawahi itu jelas menunjukkan bahwa ‘api’ menunjuk pada ‘hukuman’.
(2) Alat pemurni.
Bdk. Mal 3:1-3 - “(1) Lihat, Aku menyuruh utusanKu, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapanKu! Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke baitNya! Malaikat Perjanjian yang kamu kehendaki itu, sesungguhnya, Ia datang, firman TUHAN semesta alam. (2) Siapakah yang dapat tahan akan hari kedatanganNya? Dan siapakah yang dapat tetap berdiri, apabila Ia menampakkan diri? Sebab Ia seperti api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu. (3) Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak; dan Ia mentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada TUHAN.”.
Mengapa dihubungkan dengan Mal 3:1-3? Karena jelas bahwa text ini merupakan nubuat tentang kedatangan Yohanes Pembaptis dan Yesus.
Kalau ‘api’ diartikan sebagai ‘hukuman’, maka cocok dengan arti ‘api’ dalam kontexnya, yaitu Mat 3:10,12.
Mat 3:11 artinya menjadi: Yang percaya akan diberi Roh Kudus sedang yang tidak percaya akan dihukum. Ini cocok dengan Mat 3:12. Tetapi arti ini tidak cocok dengan Mal 3:2-3.
Kalau ‘api’ diartikan sebagai ‘alat pemurni’, maka cocok dengan Mal 3:2-3, tetapi tidak cocok dengan Mat 3:10,12.
Karena itu ada orang yang mengambil / menggabungkan kedua arti tersebut. Jadi, orang yang percaya akan menerima Roh Kudus dan disucikan / dimurnikan, sedangkan orang yang tidak percaya akan dihukum.
==================================================
Pertanyaan: apa arti ‘api’ dalam Mat 3:11?
Jawaban ChatGPT:
Matius 3:11 (TB) berbunyi:
"Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan kasut-Nya. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api."
Frasa "membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api" telah ditafsirkan dengan berbagai cara, tetapi dalam tradisi Reformed, ada dua penafsiran utama:
1) Api sebagai Penghakiman (interpretasi paling kuat secara konteks)
Ini adalah penafsiran dominan di kalangan Reformed, dan sangat dikuatkan oleh konteks langsung (Mat 3:10 dan 3:12):
a) Ayat 10: “Kapak sudah tersedia pada akar pohon... setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik akan ditebang dan dilemparkan ke dalam api.”
b) Ayat 12: “... Ia akan membersihkan tempat pengirikannya ... dan membakar sekam itu dalam api yang tidak terpadamkan.”
Maka dalam konteks Yohanes Pembaptis yang sedang menubuatkan penghakiman, “api” di ayat 11 sangat mungkin menunjuk kepada api penghakiman, khususnya atas mereka yang tidak bertobat.
John Calvin:
“By fire, we are not to understand the grace of the Holy Spirit, as some do, but the judgment of God.”
“Dengan ‘api’, kita tidak boleh mengartikannya sebagai kasih karunia Roh Kudus, seperti yang dilakukan sebagian orang, tetapi sebagai penghakiman Allah.” (Commentary on Matthew 3:11)
William Hendriksen:
“This fire cannot
refer to Pentecost, but to the fire of judgment... the good are gathered, the
wicked are burned.”
(NT
Commentary: Matthew, hlm. 210)
Jadi menurut penafsiran ini:
Yang dibaptis dengan Roh Kudus adalah orang percaya.
Yang dibaptis dengan api adalah orang yang tidak bertobat yang mengalami penghakiman.
2) Api sebagai pemurnian Roh Kudus (penafsiran minor)
Sebagian penafsir, termasuk dari kalangan karismatik atau pengkhotbah revival, mengartikan "api" sebagai lambang pemurnian dan kuasa Roh Kudus, seperti dalam Kisah Para Rasul 2:3 ("lidah-lidah seperti nyala api").
Penafsiran ini didukung oleh beberapa penafsir modern dan juga oleh Louis Berkhof, meskipun ia tidak tegas mendukung salah satu:
Berkhof
(tentatif):
"Some
interpret ‘fire’ as the purifying work of the Spirit in the believer."
(Systematic
Theology,
p. 599)
Namun penafsiran ini kurang kuat secara konteks, karena ayat-ayat sebelum dan sesudahnya menekankan penghakiman, bukan pemurnian.
Kesimpulan Reformed: Penafsiran terbaik dan paling sesuai konteks:
“Api” dalam Matius 3:11 menunjuk pada penghakiman Allah atas orang fasik, bukan pemurnian Roh Kudus. Yohanes membedakan dua kelompok: yang dibaptis dengan Roh Kudus (diselamatkan), dan yang dibaptis dengan api (dihakimi).
==================================================
3. Simbol dari Kitab Suci / Firman Tuhan.
Yer 23:29 - “Bukankah firmanKu seperti api, demikianlah firman TUHAN dan seperti palu yang menghancurkan bukit batu?”.
Dan seringkali api harus diartikan secara hurufiah, bukan simbol apapun, seperti dalam Yoh 21:9 - “Ketika mereka tiba di darat, mereka melihat api arang dan di atasnya ikan dan roti.”.
Lalu mengapa dalam urusan kremasi, kita harus memilih api sebagai simbol hukuman?
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali
Alamat Gereja :
Jl. Raya Kali Rungkut 5 - Ruko Rungkut Megah Raya BLOK D - 16, SURABAYA
Rek Gereja : Account BCA 3631422185 a/n Tjoe Ming Tjhuin