Pemahaman Alkitab
(online)
(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)
Selasa, tgl 21 Januari 2025, pk 18.30
Pdt. Budi Asali, M. Div.
Orang / golongan yang berbeda tentu akan mempunyai pandangan yang berbeda tentang Alkitab. Di sini saya hanya akan membahas pandangan terhadap Alkitab dari orang-orang yang dianggap sebagai ‘orang kristen’.
A) Pandangan Liberal.
Golongan Liberal beranggapan bahwa ‘Kitab Suci bukanlah Firman Allah’, atau bahwa ‘Kitab Suci mengandung Firman Allah’.
Kalau dikatakan bahwa ‘cincin ini mengandung emas’, maka artinya adalah bahwa cincin ini tidak terbuat dari emas murni, tetapi ada campuran logam lain. Demikian juga kalau dikatakan bahwa ‘Kitab Suci mengandung Firman Allah’, maka itu berarti bahwa dalam Kitab Suci ada bagian-bagian yang adalah Firman Allah, dan ada juga bagian-bagian yang bukan Firman Allah. Dan bagian-bagian yang bukan Firman Allah itu tentu saja bisa salah.
Contoh:
1) Dalam Majalah ‘PENUNTUN’ terbitan GKI Jawa Barat, vol 2, No 6, Januari - Maret 1996, ada artikel yang berjudul ‘Keselamatan dalam pandangan Yesus’, ditulis oleh Pdt. Jahja Sunarya, S. Th., dan dalam artikel itu ada kata-kata sebagai berikut:
“Jelas, betapa berartinya peranan penulis dalam menampilkan Yesus. Jika demikian, apakah tidak mungkin penulis telah menambahi atau mengurangi, bahkan keliru dalam menafsirkan / mengerti, pengajaran Yesus? Jawabnya tentu saja mungkin. Sebab ternyata injil yang tertua, yaitu injil karangan Markus, ditulis sekitar tahun 60. Itu berarti injil ini ditulis setelah sekitar tahun 30 (tigapuluh) saat peristiwa Yesus terjadi. Kita dapat membayangkan kesulitan Markus ketika menyusun Injilnya. Ia harus memilah-milah kisah-kisah lisan yang ada dan ingatan-ingatan yang tidak beraturan untuk menyajikannya dalam wujud tulisan yang memiliki alur logika yang jelas dan teratur.” - hal 181.
2) Dalam Majalah ‘Kairos’ terbitan GKI, bulan Mei 1994, ada surat pembaca dari Robert Setio Ph. D. (yang sekarang menjadi pendeta GKI) yang mengatakan sebagai berikut:
“Liputan Kairos tentang proses pembuatan Alkitab dalam edisi bulan Maret yang baru lalu merupakan sumbangan yang berharga bagi umat Kristen di Indonesia (GKI) yang, dalam bayangan saya, jarang atau bahkan tidak pernah sama sekali mendengar ‘rahasia’ tersebut. Liputan tersebut sekaligus juga merupakan peringatan bagi golongan tertentu yang begitu saja menyamakan Firman Allah dengan Alkitab. Bukankah proses terjadinya Alkitab itu rumit dan melalui seleksi serta penafsiran yang bisa jadi memiliki motif politik / ideologis?” - hal 5.
Golongan Liberal memang mempunyai ciri khas merendahkan otoritas Kitab Suci, baik dalam hidup, kepercayaan, maupun ajaran mereka. Karena itu kalau saudara bertemu dengan orang (khususnya hamba Tuhan!) yang dengan gampang mengabaikan / mengesampingkan / menyalahkan Kitab Suci, saudara perlu berhati-hati, karena mungkin sekali itu adalah orang dari golongan Liberal.
Kalau saudara bertemu dengan orang yang mengatakan bahwa ‘Kitab Suci hanya mengandung Firman Allah’, maka untuk menghancurkan pandangannya, tanyakanlah pertanyaan-pertanyaan ini:
a) Kalau memang ‘Alkitab hanya mengandung Firman Allah’, lalu bagian mana yang adalah Firman Allah, dan bagian mana yang bukan Firman Allah?
b) Apa kriteria yang engkau pakai untuk menentukan bagian yang satu sebagai Firman Allah dan bagian yang lain sebagai bukan Firman Allah? Dan dari mana engkau mendapatkan kriteria seperti itu?
c) Dengan otoritas apa / siapa engkau bisa menetapkan bagian yang satu sebagai Firman Allah dan bagian yang lain sebagai bukan Firman Allah? Bukankah seharusnya Kitab Suci yang adalah Firman Allah itulah yang menghakimi manusia (Yoh 12:47-48), dan bukan manusia yang menghakimi Kitab Suci?
Yoh 12:47-48 - “(47) Dan jikalau seorang mendengar perkataanKu, tetapi tidak melakukannya, Aku tidak menjadi hakimnya, sebab Aku datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya. (48) Barangsiapa menolak Aku, dan tidak menerima perkataanKu, ia sudah ada hakimnya, yaitu firman yang telah Kukatakan, itulah yang akan menjadi hakimnya pada akhir zaman.”.
B) Pandangan Liberal yang terselubung.
Satu hal lagi yang perlu diwaspadai adalah orang / gereja Liberal yang slogannya tetap benar, yaitu ‘Alkitab / Kitab Suci adalah Firman Allah’, tetapi, ini hanya kedok belaka, karena:
1) Penguraian slogan itu bertentangan dengan slogannya.
Dengan kata lain, slogannya benar, yaitu bahwa ‘Alkitab adalah Firman Allah’, tetapi pada waktu slogan itu diuraikan / dijabarkan, maka terlihat bahwa maksudnya sama sekali bukanlah bahwa ‘Alkitab adalah Firman Allah’.
Contoh:
a) Dalam Majalah ‘PENUNTUN’ yang dikeluarkan oleh GKI Jawa Barat, vol. 1, No. 2, Januari - Maret 1995, hal 116, bagian ‘Pengantar Redaksi’, ada kata-kata sebagai berikut: “Tulisan yang menyoroti tema sajian ini disiapkan oleh Pdt. Eka Darmaputera, Ph. D. Sementara ia menegaskan bahwa firman Allah itu senantiasa lebih luas dari Alkitab, ia pun menekankan bahwa Alkitab itu betul-betul firman Allah yang sampai kepada manusia dalam matra ganda, yang tidak tercampur tetapi juga tidak terpisah, yaitu matra ilahi adikodrati dan matra insani kodrati. Dengan pendekatan seperti ini, ia berusaha menempatkan posisinya seimbang di antara kalangan yang menekankan bahwa Alkitab adalah firman Allah dan kalangan yang menegaskan bahwa Alkitab mengandung firman Allah”.
Kalau saudara memperhatikan bagian yang saya beri warna biru maka kelihatannya orang ini mempunyai pandangan Injili yang benar. Tetapi kalau saudara memperhatikan bagian yang saya beri warna hijau, maka terlihat dengan jelas bahwa sebenarnya tidak demikian!
Selanjutnya dalam artikel berjudul ‘Alkitab dan Firman Allah’ yang ditulis oleh Pdt. Eka Darmaputera, Ph. D. dalam majalah tersebut di atas, dikatakan sebagai berikut:
“Kalau Anda bertanya kepada saya: ‘Apakah saya percaya Alkitab adalah Firman Allah?’, maka dengan segera dan tanpa ragu saya akan menjawab, ‘Ya, saya percaya dengan segenap hati!’. Saya pun sungguh-sungguh berharap agar setiap warga jemaat dan setiap pendeta (khususnya, seluruh anggota dan pendeta GKI) juga mengaminkannya. Apa sebab? Sebab itu pula yang kita ‘amin’ kan sebelum kita menerima baptisan dan pentahbisan kita!” (hal 121).
Dilihat dari kata-kata ini, maka kelihatannya pendeta tersebut mempunyai pandangan / slogan yang injili. Tetapi dalam bagian lain dari artikel yang sama ia berkata sebagai berikut:
1. “Apakah sisi lain dari kebenaran yang harus kita pahami? Yaitu ini: bahwa sekalipun kita mengamini bahwa ‘Alkitab adalah firman Allah’, itu samasekali tidak berarti bahwa Alkitab adalah identik dengan firman Allah, atau bahwa firman Allah adalah identik dengan Alkitab! TIDAK! ... Yang ingin saya kemukakan adalah, bahwa ‘Alkitab’ dan ‘Firman Allah’ adalah dua pengertian yang berbeda. Tidak identik. Saya percaya dengan segenap hati bahwa ‘Alkitab adalah firman Allah’, namun itu tidak berarti bahwa saya percaya ‘firman Allah identik dengan Alkitab’” (hal 122).
2. “Firman Allah, secara teologis, adalah Yesus Kristus, bukan Alkitab!” (hal 123).
3. “Dengan demikian, yang ingin saya katakan adalah: Alkitab tetap mempunyai otoritas tertinggi bagi orang kristen dalam pemahaman dan ajaran imannya, tanpa mengidentikkan Alkitab itu dengan firman Allah sendiri” (hal 123).
4. “Penulis-penulis Alkitab adalah manusia-manusia seperti kita, yang di samping keterbatasan-keterbatasan pribadinya, juga dibentuk oleh lingkungan sosio-kultural mereka dan oleh tingkat perkembangan peradaban serta ilmu pengetahuan di zaman mereka. Keterbatasan manusiawi ini memang dapat teratasi sekiranya Tuhan hanya memakai mereka sebagai ‘benda-benda’ mati, seperti pena atau pensil yang kita pakai untuk menuliskan kehendak kita. Namun jelas sekali, Tuhan tidak memakai mereka dengan cara seperti itu. Sebab sekiranya cara itulah yang dipakai oleh Tuhan, maka pastilah seluruh Alkitab paling sedikit akan mempunyai gaya bahasa dan mempergunakan kosa kata yang sama. Ternyata tidak! Perhatikan betapa berbedanya bentuk dan gaya kitab Kejadian dengan kitab Tawarikh, antara kitab Imamat dan kitab Mazmur, antara kitab Yesaya dan kitab Kidung Agung, dan sebagainya. Perhatikan pula gaya yang amat pribadi dari surat-surat Paulus. Itu berarti Tuhan memakai para penulis itu dengan seluruh kepribadian mereka, dengan segala kelebihan dan ... keterbatasan mereka! Benar bahwa Alkitab itu diwahyukan oleh Allah. Namun wahyu itu disampaikan kepada kita melalui manusia. Manusia yang dipakai oleh Allah bukan sebagai pena atau pensil, melainkan sebagai pribadi-pribadi yang hidup. Keadaannya dapat Anda bayangkan demikian. Anda ingin menyampaikan sebuah berita dukacita kepada seseorang yang mengalami musibah ditinggalkan kekasihnya secara tiba-tiba oleh karena kecelakaan. Namun Anda tidak menyampaikan berita ini secara langsung kepada yang bersangkutan. Anda meminta pertolongan beberapa orang untuk menyampaikan berita itu. Apa yang terjadi? Orang-orang itu akan menyampaikan berita yang sama. Tetapi sekaligus, berita yang sama itu akan disampaikan dalam bentuk dan cara yang amat berbeda-beda. Saya bayangkan, pasti tidak ada seorangpun yang secara langsung akan mengatakan: ‘Hei, Bung, kekasih Anda mati kecelakaan sore tadi!’. Masing-masing akan menambahkan bumbu-bumbu dan bunga-bunga untuk berita yang satu itu, sesuai dengan gaya mereka masing-masing. ... Kalau kita membaca Alkitab, kita harus menerima kedua-duanya. Disitu kita berhadapan dengan yang sepenuhnya ilahi dan sekaligus yang sepenuhnya manusiawi, dan menghargai yang manusiawi sebagai sarana untuk berjumpa dengan yang ilahi. Di dalam dan melalui yang terbatas dan tidak sempurna, Allah mau menyatakan kehendakNya yang kudus, kekal, mutlak dan universal. Itulah sebabnya Alkitab tidak hanya dibaca, apalagi sekedar untuk dipajang! Alkitab adalah firman Allah yang harus senantiasa kita gumuli, kita pelajari, kita cermati. Supaya ketika kita membaca Alkitab, kita berjumpa dengan Firman Allah!” (hal 128-129).
Dilihat dari bagian-bagian ini terlihat bahwa orang ini sama sekali tidak mempunyai pandangan injili tentang Alkitab!
b) Hal yang serupa juga dilakukan oleh Pdt. Yohanes Bambang Mulyono, S. Th. dari GKI yang menulis buku yang berjudul ‘Tuhan ajarlah aku’. Ada bagian-bagian dari buku itu yang seolah-olah menunjukkan bahwa ia percaya bahwa ‘Alkitab adalah Firman Allah’, misalnya:
1. “kita juga tidak setuju dengan paham liberalisme yang menolak Alkitab sebagai firman Allah” (hal 28).
2. “Oleh karena itu penulisan Alkitab merupakan hasil inspirasi dan pengilhaman Roh Kudus sendiri (bdk. 2Tim 3:16)” (hal 131).
3. “Sebagai jemaat Allah kita mengakui kewibawaan Alkitab sebagai Firman Allah yang menuntun kepada keselamatan dan menjadi dasar normatif bagi kehidupan serta tingkah laku kita” (hal 211).
Tetapi dalam bagian lain dari bukunya ia menunjukkan ‘warna asli’nya, karena ia berkata:
1. “Oleh karena itu firman Allah sejati tidak pernah hanya merupakan suatu kumpulan ayat-ayat dalam Kitab Suci. Pendewa-dewaan kumpulan ayat-ayat dalam Kitab Suci sebenarnya sama saja dengan pemberhalaan. Iman kristen menyadari, bahwa firman Allah sejati menjelma menjadi Yesus Kristus yang adalah Anak Allah. Artinya firman Allah sejati tidak pernah menjelma menjadi sebuah ‘buku yang turun dari sorga’” (hal 77).
2. “Atas dasar pemikiran yang demikian, theologia Alkitab tidak pernah mendudukkan Alkitab sejajar dengan Firman Allah sendiri. Alkitab adalah alat yang dipakai oleh Allah untuk menyampaikan firmanNya. Sedangkan firman Allah yang sejati (realitas obyektif-ilahi) menjelma menjadi manusia yang kelihatan dan yang menyejarah. Sebab itu sikap penghargaan kita yang tinggi terhadap Alkitab sebagai alat dari firman Allah tidak boleh melebihi penghargaan kita kepada Yesus Kristus. Jadi Alkitab berada di bawah kuasa pribadi Yesus Kristus, tidak boleh sebaliknya!” (hal 214).
Dari kedua contoh di atas ini (point a dan b di atas) bisa kita lihat dan simpulkan bahwa kalau dalam suatu khotbah / tulisan seorang pendeta terdapat suatu kalimat / kata-kata yang benar / injili, itu belum menjamin bahwa ia pasti bukan orang Liberal.
2) Prakteknya berbeda dengan slogannya.
Dengan kata lain, sekalipun slogannya benar, yaitu ‘Alkitab adalah Firman Allah’, tetapi ternyata prakteknya sama sekali tidak menunjukkan kepercayaan bahwa ‘Alkitab adalah Firman Allah’.
Contoh: ada ‘hamba Tuhan’ / gereja yang menyebut Alkitab sebagai Firman Allah, tetapi dalam prakteknya:
a) Mereka tidak menekankan pengajaran Alkitab.
Misalnya: dalam gerejanya tidak ada Pemahaman Alkitab, dan / atau dalam ajaran / khotbahnya Alkitab tidak digali dengan serius.
b) Mereka sering tidak menggubris Alkitab, dan mereka bahkan ‘menginjak-injak’ Alkitab.
Misalnya: banyak gereja / pendeta yang mau melakukan pemberkatan nikah kristen dengan non kristen, atau bahkan secara terang-terangan mengijinkan pelaksanaan hal ini dalam tata gereja mereka, padahal hal ini jelas bertentangan dengan 2Kor 6:14 - “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?”.
Karena itu, kalau saudara bertemu dengan seorang pendeta / pengkhotbah / gereja yang mempunyai slogan yang benar, jangan terlalu cepat percaya. Selidikilah lebih jauh / teliti bagaimana pendeta / pengkhotbah / gereja itu menguraikan slogannya, dan selidikilah juga apakah prakteknya sesuai dengan slogannya.
Mana yang lebih berbahaya: ‘Liberalisme yang terang-terangan’ atau ‘Liberalisme yang terselubung’? Jawabannya jelas adalah ‘Liberalisme yang terselubung’. Sama seperti uang palsu yang makin mendekati aslinya tentu lebih membahayakan dari pada uang palsu yang tidak terlalu mirip dengan uang aslinya, demikian juga Liberalisme yang terselubung, yang lebih mirip dengan ajaran yang Alkitabiah / Injili, tentu lebih berbahaya dari pada Liberalisme yang terang-terangan, yang terlihat pertentangannya secara menyolok dengan ajaran yang Alkitabiah / Injili.
C) Pandangan Neo-Orthodox.
Tokoh dari pandangan ini adalah Karl Barth, yang mengajar / beranggapan bahwa Kitab Suci menjadi / adalah Firman Allah, kalau Allah memakainya untuk berbicara kepada kita (atau, kalau kita merasakan Allah berbicara kepada kita melalui FirmanNya). Tetapi kalau Allah tidak memakainya untuk berbicara kepada kita (atau, kalau kita tidak merasakan bahwa Allah berbicara kepada kita melalui FirmanNya), maka Kitab Suci bukanlah Firman Allah. Jadi Kitab Suci adalah Firman Allah secara subyektif, bukan secara obyektif.
Ini jelas juga merupakan ajaran yang sesat, karena kalau demikian, Firman Allah tidak bisa menghakimi manusia pada akhir jaman (bdk. Yoh 12:47-48 Ro 2:12), karena manusia yang tidak merasa bahwa Allah menegur dosanya, sebetulnya tidak pernah menerima teguran dari Firman Allah.
Ada ajaran populer dalam kalangan Kharismatik yang mirip dengan ajaran Neo-Orthodox ini, yaitu ajaran tentang ‘RHEMA’. Mereka membedakan kata-kata Yunani ‘RHEMA’ dan ‘LOGOS’ (yang sebetulnya sama-sama berarti ‘kata’ / ‘firman’) dengan cara sebagai berikut:
1) John F. MacArthur, Jr., seorang anti Kharismatik, dalam bukunya yang berjudul ‘The Charismatics’, hal 69, berkata bahwa Charles Farah, seorang profesor di Oral Roberts University mengatakan sebagai berikut: “LOGOS is the objective, historic word and RHEMA is the personal, subjective word” (= LOGOS adalah firman yang bersifat sejarah dan obyektif dan RHEMA adalah firman yang bersifat pribadi dan subyektif).
Dan dalam buku yang sama hal 70 John F. MacArthur, Jr. berkata bahwa Charles Farah juga berkata bahwa:
· “The LOGOS becomes RHEMA when it speaks to you” (= LOGOS menjadi RHEMA kalau itu berbicara kepadamu).
· “The LOGOS is legal while the RHEMA is experiential” [= LOGOS itu bersifat hukum (?) sedangkan RHEMA adalah sesuatu yang dialami].
· “The LOGOS does not always become the RHEMA, God’s word to you’”(= LOGOS tidak selalu menjadi RHEMA, firman Allah bagimu).
2) Orang Kharismatik sering berkata: ‘Kalau RHEMAnya turun ...’.
Ini berarti bahwa ia mendapat suatu pimpinan / perintah secara pribadi dari Tuhan, langsung kepada hati / pikirannya. Dan RHEMA yang turun itu bisa berupa ayat Kitab Suci ataupun tidak.
Dasar Kitab Suci yang dipakai oleh orang-orang Kharismatik:
1. Luk 3:2 - ‘datanglah firman (RHEMA) Allah kepada Yohanes’.
2. Mark 14:72 dan Mat 26:75 (dua ayat ini paralel) - Petrus teringat akan kata-kata (RHEMA) Tuhan Yesus.
3. Juga Luk 24:8 dan Kis 11:16 menggunakan kata RHEMA.
Kesalahan ajaran ini:
a) Mark 14:72 dan Mat 26:75 paralel dengan Luk 22:61, tetapi, kalau Mark 14:72 dan Mat 26:75 menggunakan RHEMA, maka Luk 22:61 ternyata menggunakan LOGOS!
Mat 26:75 - “Maka teringatlah Petrus akan apa yang dikatakan Yesus kepadanya: ‘Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.’ Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya.”.
Kata ‘apa’ yang saya garisbawahi seharusnya adalah ‘firman’, dan dalam bahasa Yunani digunakan kata RHEMA.
Mark 14:72 - “Dan pada saat itu berkokoklah ayam untuk kedua kalinya. Maka teringatlah Petrus, bahwa Yesus telah berkata kepadanya: ‘Sebelum ayam berkokok dua kali, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.’ Lalu menangislah ia tersedu-sedu”.
Kata-kata yang saya garisbawahi seharusnya berbunyi ‘firman yang dikatakan Yesus kepadanya’, dan kata ‘firman’ dalam bahasa Yunaninya adalah RHEMA.
Luk 22:61 - “Lalu berpalinglah Tuhan memandang Petrus. Maka teringatlah Petrus bahwa Tuhan telah berkata kepadanya: ‘Sebelum ayam berkokok pada hari ini, engkau telah tiga kali menyangkal Aku.’”.
Kata-kata yang saya garisbawahi itu seharusnya berbunyi ‘teringatlah Petrus firman dari Tuhan’ tetapi kata ‘firman’ di sini menggunakan kata Yunani LOGOS!
Kalau RHEMA memang berbeda dengan LOGOS, bagaimana mungkin dari 3 ayat paralel di atas ini, yang 2 menggunakan RHEMA dan yang 1 menggunakan LOGOS?
Demikian juga, kalau Luk 24:8 dan Kis 11:16 menggunakan kata RHEMA, maka Kis 20:35 menggunakan LOGOS, padahal ketiga ayat ini sama-sama berbicara tentang seseorang yang teringat akan kata-kata Yesus!
Luk 24:8 - “Maka teringatlah mereka akan perkataan (Yunani: RHEMA) Yesus itu.”.
Kis 11:16 - “Maka teringatlah aku akan perkataan (Yunani: RHEMA) Tuhan: Yohanes membaptis dengan air, tetapi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus”.
Kis 20:35 - “Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan (Yunani: LOGOS) Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.’”.
Dari contoh-contoh ini terlihat bahwa LOGOS dan RHEMA digunakan secara interchangeable (= bisa dibolak-balik) dan tidak ada batasan yang terlalu jelas antara RHEMA dan LOGOS! Mungkin bisa disamakan seperti kata ‘tembok’ dan ‘dinding’.
Karena itu membedakan RHEMA dan LOGOS seperti yang dilakukan oleh theologia populer jaman sekarang, adalah sesuatu yang tidak berdasar!
b) Mereka berkata bahwa kalau firman itu berbicara kepada kita, maka LOGOS itu berubah menjadi RHEMA.
Tetapi dalam Kis 2:41 4:4 8:14 11:1 13:48 sekalipun firman itu jelas berbicara kepada orang-orang itu (karena mereka bertobat), tetapi toh digunakan kata LOGOS dan bukannya RHEMA!
Demikian juga 1Pet 1:23 menggunakan kata LOGOS, padahal firman di sini adalah firman yang melahirbarukan (ini lahir baru dalam arti luas)!
Kis 2:41 - “Orang-orang yang menerima perkataannya (Yunani: LOGOS) itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa”.
Kis 4:4 - “Tetapi di antara orang yang mendengar ajaran (Yunani: LOGOS) itu banyak yang menjadi percaya, sehingga jumlah mereka menjadi kira-kira lima ribu orang laki-laki”.
Kis 8:14 - “Ketika rasul-rasul di Yerusalem mendengar, bahwa tanah Samaria telah menerima firman (Yunani: LOGOS) Allah, mereka mengutus Petrus dan Yohanes ke situ”.
Kis 13:48 - “Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman (Yunani: LOGOS) Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya”.
1Pet 1:23 - “Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman (Yunani: LOGOS) Allah, yang hidup dan yang kekal”.
c) Ajaran yang berkata “The LOGOS does not always become the RHEMA, God’s word to you” (= LOGOS tidak selalu menjadi RHEMA, firman Allah bagimu), jelas sekali berbau ajaran sesat Neo Orthodox, karena ajaran Neo Orthodox juga berkata bahwa kata-kata dalam Kitab Suci hanya menjadi firman Allah kalau berbicara kepada kita.
d) Ajaran yang salah tentang RHEMA ini sangat berbahaya, karena ini menyebabkan banyak orang lalu mencari RHEMA tersebut dalam hati mereka, sehingga lalu mengabaikan Kitab Suci!
Memang Roh Kudus bisa mengingatkan kita akan Firman Tuhan (Yoh 14:26), tetapi kalau kita tidak pernah belajar / mengerti Kitab Suci / Firman Tuhan, maka tidak ada sesuatu yang bisa Ia ingatkan kepada kita! Karena itu, belajar Kitab Suci dengan sungguh-sungguh dan tekun haruslah menjadi prioritas dalam hidup kita!
D) Pandangan Orthodox.
Kitab Suci adalah Firman Allah secara obyektif. Jadi, apakah Kitab Suci itu diberitakan atau tidak, didengar oleh manusia atau tidak (bdk. Yeh 2:4-7), dimengerti atau tidak, ditaati atau tidak, Kitab Suci tetap adalah Firman Allah.
Yeh 2:4-7 - “(4) Kepada keturunan inilah, yang keras kepala dan tegar hati, Aku mengutus engkau dan harus kaukatakan kepada mereka: Beginilah firman Tuhan ALLAH. (5) Dan baik mereka mendengarkan atau tidak - sebab mereka adalah kaum pemberontak - mereka akan mengetahui bahwa seorang nabi ada di tengah-tengah mereka. (6) Dan engkau, anak manusia, janganlah takut melihat mereka maupun mendengarkan kata-katanya, biarpun engkau di tengah-tengah onak dan duri dan engkau tinggal dekat kalajengking. Janganlah takut mendengarkan kata-kata mereka dan janganlah gentar melihat mukanya, sebab mereka adalah kaum pemberontak. (7) Sampaikanlah perkataan-perkataanKu kepada mereka, baik mereka mau mendengarkan atau tidak, sebab mereka adalah pemberontak.”.
Dan pada waktu manusia mendengar pemberitaan Kitab Suci, apakah ia merasakan Allah menggunakannya untuk berbicara kepadanya atau tidak, Kitab Suci itu tetap adalah Firman Allah. Inilah pandangan yang benar yang harus kita terima.
A) Pengakuan dari dalam Alkitab sendiri.
1) Dalam Alkitab berulang-ulang dikatakan ‘Allah / Tuhan berfirman’.
Contoh:
Yer 1:2,4,7 - “(2) Dalam zaman Yosia bin Amon, raja Yehuda, dalam tahun yang ketiga belas dari pemerintahannya datanglah firman TUHAN kepada Yeremia. ... (4) Firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya: ... (7) Tetapi TUHAN berfirman kepadaku: ‘Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan.”.
2) Dalam Alkitab berulangkali dikatakan bahwa Allah menyuruh orang menuliskan firmanNya.
Contoh:
a) Kel 34:27 - “Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: ‘Tuliskanlah segala firman ini, sebab berdasarkan firman ini telah Kuadakan perjanjian dengan engkau dan dengan Israel.’”.
b) Yer 30:1-2 - “(1) Firman yang datang dari TUHAN kepada Yeremia, bunyinya: (2) ‘Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Tuliskanlah segala perkataan yang telah Kufirmankan kepadamu itu dalam suatu kitab.”.
c) Yer 36:2-4,28,32 - “(2) ‘Ambillah kitab gulungan dan tulislah di dalamnya segala perkataan yang telah Kufirmankan kepadamu mengenai Israel, Yehuda dan segala bangsa, dari sejak Aku berbicara kepadamu, yakni dari sejak zaman Yosia, sampai waktu ini. (3) Mungkin apabila kaum Yehuda mendengar tentang segala malapetaka yang Aku rancangkan hendak mendatangkannya kepada mereka, maka mereka masing-masing akan bertobat dari tingkah langkahnya yang jahat itu, sehingga Aku mengampuni kesalahan dan dosa mereka.’ (4) Jadi Yeremia memanggil Barukh bin Neria, lalu Barukh menuliskan dalam kitab gulungan itu langsung dari mulut Yeremia segala perkataan yang telah difirmankan TUHAN kepadanya. ... (28) ‘Ambil pulalah gulungan lain, tuliskanlah di dalamnya segala perkataan yang semula ada di dalam gulungan yang pertama yang dibakar oleh Yoyakim, raja Yehuda. ... (32) Maka Yeremia mengambil gulungan lain dan memberikannya kepada juru tulis Barukh bin Neria yang menuliskan di dalamnya langsung dari mulut Yeremia segala perkataan yang ada di dalam kitab yang telah dibakar Yoyakim, raja Yehuda dalam api itu. Lagipula masih ditambahi dengan banyak perkataan seperti itu.”.
d) Wah 1:11,19 - “(11) katanya: ‘Apa yang engkau lihat, tuliskanlah di dalam sebuah kitab dan kirimkanlah kepada ketujuh jemaat ini: ke Efesus, ke Smirna, ke Pergamus, ke Tiatira, ke Sardis, ke Filadelfia dan ke Laodikia.’ ... (19) Karena itu tuliskanlah apa yang telah kaulihat, baik yang terjadi sekarang maupun yang akan terjadi sesudah ini.”.
3) Ro 3:1-2 secara jelas menyebutkan bahwa Alkitab (Perjanjian Lama) adalah Firman Allah (yang dipercayakan kepada orang Israel / Yahudi).
Ro 3:1-2 - “(1) Jika demikian, apakah kelebihan orang Yahudi dan apakah gunanya sunat? (2) Banyak sekali, dan di dalam segala hal. Pertama-tama: sebab kepada merekalah dipercayakan firman Allah.”.
Text ini menunjukkan bahwa Perjanjian Baru mengakui Perjanjian Lama sebagai firman Allah.
4) Kata-kata nabi / penulis Perjanjian Lama dianggap sebagai kata-kata Tuhan / Roh Kudus.
Contoh:
a) Bandingkan Yes 7:13-14 dengan Mat 1:22-23.
Yes 7:13-14 - “(13) Lalu berkatalah nabi Yesaya: ‘Baiklah dengarkan, hai keluarga Daud! Belum cukupkah kamu melelahkan orang, sehingga kamu melelahkan Allahku juga? (14) Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.”.
Mat 1:22-23 - “(22) Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: (23) ‘Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel’ - yang berarti: Allah menyertai kita.”.
Mat 1:23 jelas merupakan kutipan dari Yes 7:14, tetapi kalau dalam Yes 7:13 dikatakan bahwa itu merupakan kata-kata nabi Yesaya, maka dalam Mat 1:22 dikatakan bahwa itu difirmankan Tuhan oleh / melalui nabi (Yesaya).
b) Bandingkan Maz 95:7b-9 dengan Ibr 3:7-9.
Maz 95:7b-9 - “(7b) Pada hari ini, sekiranya kamu mendengar suaraNya! (8) Janganlah keraskan hatimu seperti di Meriba, seperti pada hari di Masa di padang gurun, (9) pada waktu nenek moyangmu mencobai Aku, menguji Aku, padahal mereka melihat perbuatanKu.”.
Ibr 3:7-9 - “(7) Sebab itu, seperti yang dikatakan Roh Kudus: ‘Pada hari ini, jika kamu mendengar suaraNya, (8) janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman pada waktu pencobaan di padang gurun, (9) di mana nenek moyangmu mencobai Aku dengan jalan menguji Aku, sekalipun mereka melihat perbuatan-perbuatanKu, empat puluh tahun lamanya.”.
Ibr 3:7 ini jelas mengutip kata-kata dalam Maz 95:7b. Tetapi kata-kata pemazmur itu dikatakan oleh Ibr 3:7 sebagai ‘dikatakan Roh Kudus’.
B) Bukti-bukti lain.
1) Alkitab bisa bersatu dan harmonis, padahal Alkitab ditulis dalam jangka waktu 1500-1600 tahun, oleh kurang lebih 40 orang, yang:
a) Hidup pada jaman yang berbeda.
Memang ada yang hidup sejaman, seperti Matius dengan Yohanes. Tetapi banyak juga yang hidup pada jaman yang berbeda seperti Musa, Daud, Yohanes, dan sebagainya.
b) Mempunyai latar belakang yang berbeda (ada yang petani, gembala, nabi, nelayan, raja, dsb).
c) Banyak yang tidak kenal satu sama lain.
Sekarang pikirkan: bagaimana mungkin 40 penulis ini, yang hidup pada jaman berbeda, dengan latar belakang yang berbeda dan banyak yang tidak saling mengenal, bisa menuliskan kitab-kitab, yang lalu bisa bersatu dan harmonis seperti Kitab Suci kita?
Illustrasi: Kalau saya memberikan 40 buku kepada 40 orang dan menyuruh mereka menuliskan suatu karangan sesuka hati mereka, maka hasilnya pasti tidak akan bisa dikumpulkan menjadi satu buku. Mengapa? Karena isinya pasti akan bertentangan satu sama lain, atau sama sekali tidak berhubungan satu sama lain.
Tetapi akan lain ceritanya kalau saya mengontrol / mengarahkan 40 orang itu, misalnya dengan menyuruh si A mengarang tentang mata manusia, si B tentang telinga manusia, si C tentang jantung manusia, si D tentang paru-paru manusia dst, maka besar kemungkinan hasilnya bisa dibukukan menjadi satu, menjadi buku biologi.
Jadi, kalau hasil dari 40 penulis Alkitab itu bisa dibukukan menjadi suatu buku yang bersatu dan harmonis, maka pastilah ada ‘Satu Orang’ yang menguasai / mengontrol dan mengarahkan ke 40 penulis tersebut. Dan siapakah yang bisa menguasai / mengontrol dan mengarahkan 40 orang yang hidup dalam jangka waktu 1500-1600 tahun? Hanya ada ‘Satu Orang’ yang bisa melakukan hal itu, dan itu adalah Allah sendiri.
2) Alkitab tidak bisa habis dipelajari.
Kalau saudara mempelajari buku lain, bagaimanapun tebalnya buku itu, maka pada suatu saat buku itu akan habis dipelajari dan saudara tidak akan bisa menambah pengetahuan apa-apa lagi dari buku itu. Tetapi Alkitab sudah dipelajari oleh jutaan manusia selama ribuan tahun, dan tidak ada seorangpun yang bisa tamat belajar Alkitab!
Ada yang mengatakan bahwa kalau buku lain itu seperti bak, yang sekalipun besar, tetapi kalau terus diambili airnya, maka airnya akan habis. Tetapi Alkitab seperti sebuah sumber, yang sekalipun terus diambili airnya, tidak akan pernah habis.
Kalau saudara belajar Alkitab, sekalipun makin lama saudara akan makin banyak mengerti tentang Alkitab, tetapi anehnya saudara akan melihat bahwa makin banyak juga hal-hal yang belum saudara mengerti tentang Alkitab.
Ini menunjukkan:
a) Alkitab merupakan buku yang aneh sendirian, karena Alkitab adalah Firman Allah.
b) Manusia tidak bisa mempelajari Alkitab secara tuntas, apalagi mengarangnya!
3) Semua nubuat / ramalan dalam Alkitab terjadi dengan tepat.
Manusia bisa meramal dengan:
a) Ilmu pengetahuan.
Misalnya: ramalan cuaca, ramalan akan terjadinya gerhana, ramalan dari dokter tentang umur seseorang (yang sudah sakit berat).
b) Kuasa gelap.
Ini macamnya banyak sekali, seperti penggunaan jailangkung, cucing, ramalan dengan melihat garis tangan (guamia), dsb.
Tetapi ramalan-ramalan itu pasti kadang-kadang meleset. Ramalan dengan menggunakan ilmu pengetahuan sering meleset, baik sedikit atau banyak. Yang paling banyak meleset mungkin adalah ramalan cuaca! Saya sering mendengar ramalan yang diberikan melalui kuasa gelap, seperti jailangkung, dan saya tahu sendiri ada ramalan-ramalan yang tepat, tetapi saya juga tahu sendiri ada yang meleset!
Tetapi semua nubuat / ramalan dalam Kitab Suci terjadi dengan tepat.
William Hendriksen (tentang Yoh 19:23-24): “Dr. J. P. Free in his excellent book ‘Archaeology and Bible History,’ p. 284, calls attention to the fact that according to Canon Liddon there are three hundred thirty-two distinct prophesies in the Old Testament which have been literally fulfilled in Christ, and to the additional fact that the mathemathical probability of all these prophesies being fulfilled in one man is represented by the fraction: 1/84. 1097” [= Dr. J. P. Free dalam bukunya yang sangat bagus ‘Archaelogy dan Sejarah Alkitab’, hal 284, meminta perhatian pada fakta bahwa menurut Canon Liddon ada 332 nubuat-nubuat yang berbeda dalam Perjanjian Lama yang telah digenapi secara hurufiah dalam Kristus, dan pada fakta tambahan bahwa kemungkinan secara matematis dari penggenapan semua nubuat-nubuat ini dalam diri satu orang digambarkan oleh pecahan 1/84. 1097] - hal 430.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali
Alamat Gereja :
Jl. Raya Kali Rungkut 5 - Ruko Rungkut Megah Raya BLOK D - 16, SURABAYA
Rek Gereja : Account BCA 3631422185 a/n Tjoe Ming Tjhuin