fondasi kristen

oleh : pDT BUDI ASALI, M.Div.

 

HUKUM 4

 

Ingatlah dan Kuduskanlah hari sabat

 

(Kel 20:8-11)

 

Kel 20:8-11 - “(8) Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: (9) enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, (10) tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu. (11) Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya”.

 

I) Perubahan Sabat dari Sabtu ke Minggu.

 

1)   Dasar dari hukum tentang hari Sabat: Tuhan menciptakan alam semesta dalam 6 hari, dan Ia beristirahat pada hari ke 7, lalu menguduskan (memisahkan) hari ke tujuh itu (Kel 20:11  bdk. Kej 2:1-3).

Kel 20:11 - “Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya”.

Kej 2:1-3 - “(1) Demikianlah diselesaikan langit dan bumi dan segala isinya. (2) Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuatNya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuatNya itu. (3) Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuatNya itu”.

 

2)   Hari Sabat sebetulnya adalah hari Sabtu.

Dari penjelasan di atas terlihat bahwa hari Sabat sebetulnya adalah hari yang ketujuh. Sekarang, hari ketujuh itu hari apa? Bangsa Israel / orang-orang Yahudi menghitung hari dengan cara berbeda dari orang Tionghoa. Bagi orang Tionghoa, hari pertama adalah hari Senin, tetapi bagi bangsa Israel / orang Yahudi hari pertama adalah hari Minggu, hari kedua adalah hari Senin, dst., sehingga bagi mereka hari ketujuh adalah hari Sabtu. Jadi, hari Sabat sebetulnya (pada jaman Perjanjian Lama) adalah hari Sabtu.

 

Hal lain yang perlu diingat adalah bahwa pergantian hari bagi orang-orang Yahudi terjadi pada pk 6 sore. Jadi kalau bagi kita masih Jumat pk 6 sore, bagi mereka saat itu sudah mulai masuk hari Sabtu / Sabat.

Bdk. Luk 23:53-54 - “(53) Dan sesudah ia menurunkan mayat itu, ia mengapaninya dengan kain lenan, lalu membaringkannya di dalam kubur yang digali di dalam bukit batu, di mana belum pernah dibaringkan mayat. (54) Hari itu adalah hari persiapan dan sabat hampir mulai.

Catatan: Yesus mati pada Jumat pk 3 siang, dan setelah itu mayatNya diturunkan dan dikuburkan. Jadi pada saat penguburan itu selesai, sudah mendekati pk 6 sore, sehingga sudah hampir memasuki hari Sabat / Sabtu.

 

3)   Perubahan Sabat dari Sabtu menjadi Minggu.

Sabat Kristen berbeda harinya dengan Sabat Yahudi. Bagi orang Kristen, hari Sabat berubah dari Sabtu menjadi Minggu.

 

Thomas Watson: “The old-seventh-day Sabbath, which was the Jewish Sabbath, is abrogated, and in the room of it the first day of the week, which is the Christian Sabbath, succeeds. The morality or substance of the fourth commandment does not lie in keeping the seventh day precisely, but keeping one day in seven is what God has appointed” (= Sabat hari ke 7 yang lama, yang merupakan hari Sabat Yahudi, dibatalkan / dicabut, dan di tempatnya digantikan dengan hari pertama dari suatu minggu, yang adalah hari Sabat Kristen. Moralitas atau substansi / hakekat dari hukum ke 4 tidak terletak dalam pemeliharaan hari ke 7 secara persis, tetapi pada pemeliharaan 1 dari 7 hari yang merupakan apa yang telah ditetapkan Allah) - ‘The Ten Commandments’, hal 95.

Catatan: ini tentu tidak berarti bahwa setiap kita berhak menentukan Sabatnya sendiri-sendiri. Setelah Sabat berubah ke hari Minggu, pada umumnya kita harus menjadikan hari Minggu sebagai Sabat kita. Saya katakan ‘pada umumnya’ karena hamba-hamba Tuhan tidak mungkin bisa mempunyai Sabat pada hari itu.

 

Orang-orang Advent menganggap bahwa kalau Sabat memang diubah, maka harus ada ayat yang secara explicit menunjukkan hal itu. Saya menjawab: tidak ada alasan untuk menuntut ayat yang explicit. Alkitab memang sering mengajar secara implicit. Sebagai contoh: perubahan sakramen sunat menjadi baptisan, sekalipun ada ayatnya (Kol 2:11-12), juga tidak explicit / nyata / jelas. Lebih-lebih perubahan dari Perjamuan Paskah menjadi Perjamuan Kudus (Mat 26:26-29)! Lalu mengapa orang Advent sendiri mau mengubah sunat menjadi baptisan dan Perjamuan Paskah menjadi Perjamuan Kudus, padahal tidak ada ayat yang explicit?

 

Sekalipun dasar explicit tidak ada, tetapi dasar implicit ada dan cukup kuat. Apa saja alasan dari Alkitab yang menyebabkan orang Kristen mengubah Sabat dari Sabtu menjadi Minggu?

 

a)   Kristus bangkit pada hari Minggu, dan 2 x Ia menampakkan diri setelah kebangkitan, juga pada hari Minggu.

 

Bible Knowledge Commentary: “In the present Church Age the day of worship has been changed from Saturday to Sunday because of Jesus’ resurrection on the first day of the week (cf. Acts 20:7; 1 Cor 16:2)” [= Dalam Jaman Gereja sekarang hari kebaktian telah diubah dari Sabtu menjadi Minggu karena kebangkitan Yesus pada hari pertama dari minggu (bdk. Kis 20:7; 1Kor 16:2)].

 

Wycliffe Bible Commentary: “The keeping of the seventh day of the week as the Sabbath is not abrogated in the NT, but the Sabbath of the New Creation is most naturally to be celebrated on that day when Christ, having ceased from his finished work, rose from the dead. The apostolic church celebrated both the first and the seventh days, but they soon discontinued the old Hebrew observance (= Pemeliharaan hari yang ketujuh dari suatu minggu sebagai hari Sabat tidak dihapuskan dalam Perjanjian Baru, tetapi Sabat dari Ciptaan Yang Baru paling wajar / alamiah untuk dirayakan pada hari dimana Kristus, setelah berhenti dari pekerjaanNya yang telah diselesaikan, bangkit dari antara orang mati. Gereja rasuli merayakan baik hari pertama maupun hari ketujuh, tetapi mereka dengan cepat menghentikan pemeliharaan Ibrani yang lama).

 

R. L. Dabney: “After the resurrection of Christ, the perpetual Divine obligation of a religious rest was transferred to the first day of the week, and thence to the end of the world, the Lord’s day is the Christian Sabbath, by Divine and apostolic appointment” (= Setelah kebangkitan Kristus, kewajiban Ilahi yang kekal tentang istirahat agamawi dipindahkan ke hari pertama dari suatu minggu, dan dari sana sampai akhir jaman, hari Tuhan adalah Sabat Kristen, oleh penetapan Ilahi dan rasuli) - ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 367-368.

 

Keil & Delitzsch: “... after the completion of His work, He also rested on the Sabbath. But He rose again on the Sunday; and through His resurrection, which is the pledge to the world of the fruits of His redeeming work, He has made this day the kuriakee’ heeme’ra (Lord’s day) for His Church, to be observed by it till the Captain of its salvation shall return” [= ... setelah penyelesaian pekerjaanNya, Ia juga beristirahat pada hari Sabat (Sabtu). Tetapi Ia bangkit kembali pada hari Minggu; dan melalui kebangkitanNya, yang merupakan janji kepada dunia tentang buah dari pekerjaan penebusanNya, Ia telah menjadikan hari ini kuriakee’ heeme’ra (hari Tuhan) bagi GerejaNya, untuk diperhatikan / dihormati olehnya sampai Kapten keselamatannya datang kembali].

 

Thomas Watson: “Christ rose on the first day of the week, out of the grave, and appeared twice on that day to his disciples, John 20:19,26, which was to intimate, as Augustine and Athanasius say, that he transferred the Jewish Sabbath to the Lord’s day (= Kristus bangkit dari kubur pada hari pertama dari suatu minggu, dan muncul / menampakkan diri 2 x pada hari itu kepada murid-muridNya, Yoh 20:19,26, yang tujuannya adalah untuk mengisyaratkan, seperti yang dikatakan Agustinus dan Athanasius, bahwa Ia memindahkan hari Sabat Yahudi ke hari Tuhan) - ‘The Ten Commandments’, hal 95.

 

Sekarang mari kita memperhatikan 2 ayat yang dibicarakan dalam kutipan Thomas Watson di atas.

 

1.   Yoh 20:19 - “Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: ‘Damai sejahtera bagi kamu!’”.

 

a.         pada hari pertama minggu itu’.

Yohanes menulis sedemikian rupa sehingga hari pertama itu sangat ditekankan.

KJV: ‘Then the same day at evening, being the first day of the week’ (= Maka pada hari yang sama pada sore / malam hari, yang merupakan hari pertama dari minggu).

William Hendriksen mengatakan (hal 457) bahwa Yohanes mau menekankan hari pertama itu. Ia mulai dengan mengatakan ‘Now when it was evening of that day’ (= Pada sore / malam dari hari itu). Dilihat dari kontextnya itu sudah menunjuk kepada hari pertama (bdk. 20:1). Tetapi Yohanes tidak puas dengan itu, dan ia melanjutkan ‘that day, the first day of the week’ (= hari itu, hari pertama dari minggu). Ini menunjukkan penekanan pada hari pertama (hari minggu) itu.

Matthew Henry beranggapan bahwa ini merupakan tanda / bukti bahwa Allah menghormati hari itu.

 

b.         ‘malam’.

Text yang sedang kita pelajari ini (Yoh 20:19-23) paralel dengan Luk 24:36-dst. Sekarang mari kita perhatikan kontext dari Luk 24 itu.

 

Luk 24:29,33,36 - “(29) Tetapi mereka sangat mendesakNya, katanya: ‘Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam.’ Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka. ... (33) Lalu bangunlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu. Mereka sedang berkumpul bersama-sama dengan teman-teman mereka. ... (36) Dan sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka: ‘Damai sejahtera bagi kamu!’”.

Jadi, kalau dilihat dari Luk 24:29,33,36 ini, terlihat dengan jelas bahwa saat ini bukan lagi siang / sore (sebelum pk 6 sore) tetapi sudah malam (lewat dari pk 6 sore). Itu berarti bahwa sebetulnya, dari perhitungan waktu Yahudi, itu bukan lagi hari pertama (minggu) tetapi hari kedua (senin).

 

William Hendriksen: “It was evening. In the light of Luke 24:29,33,36 we have a right to conclude that it was no longer early in the evening when the great event recorded in the present paragraph took place. As the Jews compute the days it was no longer the first day of the week. But John, though a Jew, is writing much later than Matthew and Mark, and does not seem to concern himself with Jewish time-reckoning (= Itu adalah malam. Dalam terang dari Luk 24:29,33,36 kami mempunyai hak untuk menyimpulkan bahwa itu bukan lagi awal dari suatu sore ketika peristiwa yang besar yang dicatat dalam text ini terjadi. Sebagaimana orang-orang Yahudi menghitung hari, itu bukan lagi hari pertama dari minggu. Tetapi Yohanes, sekalipun ia adalah orang Yahudi, menulis jauh lebih belakangan dari Matius dan Markus, dan kelihatannya tidak mempedulikan perhitungan waktu Yahudi) - hal 458.

 

A. T. Robertson menganggap bahwa kata-kata “Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu menunjukkan bahwa Yohanes menggunakan perhitungan waktu Romawi dan bukan Yahudi.

Catatan: kalau Yohanes menggunakan perhitungan waktu Yahudi, maka ia tidak mungkin menggabungkan ‘malam’ dengan ‘hari pertama minggu itu’.

 

Bagian ini perlu diperhatikan karena ada orang-orang yang menolak perubahan Sabat dari Sabtu menjadi Minggu dengan mengatakan bahwa Yesus menampakkan diri di sini pada hari Senin, bukan pada hari Minggu. Itu memang Senin berdasarkan perhitungan waktu Yahudi, tetapi itu adalah Minggu berdasarkan perhitungan waktu Romawi. Dan Yohanes jelas menggunakan perhitungan waktu Romawi.

 

Salah satu bukti penggunaan perhitungan waktu Romawi oleh Yohanes adalah Yoh 19:14 - “Hari itu ialah hari persiapan Paskah, kira-kira jam dua belas. Kata Pilatus kepada orang-orang Yahudi itu: ‘Inilah rajamu!’”.

NIV/Lit: ‘about the sixth hour’ (= kira-kira jam keenam).

Dan kalau digunakan perhitungan waktu Yahudi, maka ini memang akan menjadi pk 12, seperti dalam terjemahan Kitab Suci Indonesia. Tetapi ini tidak mungkin, karena akan bertentangan dengan ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Yesus sudah disalibkan pada pk 9 pagi.

Bdk. Mark 15:25,33 - “ (25) Hari jam sembilan (Lit: jam yang ketiga) ketika Ia disalibkan. ... (33) Pada jam dua belas (Lit: jam yang keenam), kegelapan meliputi seluruh daerah itu dan berlangsung sampai jam tiga”.

Hendriksen (juga Tasker, Tyndale) menganggap Yohanes menggunakan perhitungan jam Romawi, dan itu berarti kira-kira pk 6.00 pagi.

William Hendriksen: “it has been shown that in other passages the author of the Fourth Gospel in all probability used the Roman civil day time-computation. See on 1:39; 4:6; 4:52. If there, why not here?” (= telah ditunjukkan bahwa dalam text-text lain pengarang dari Injil keempat sangat mungkin menggunakan perhitungan waktu Romawi. Lihat tentang 1:39; 4:6; 4:52. Jika di sana demikian, mengapa di sini tidak?) - hal 421.

Pulpit Commentary menambahkan (hal 423) argumentasi seorang penafsir yang mengatakan bahwa rasul Yohanes menulis Injil Yohanes ini di Efesus, yang menggunakan perhitungan waktu Asia, yang sama dengan perhitungan waktu Romawi.

 

c.         ‘berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat’.

Kita memang tidak tahu apa tujuan para murid berkumpul pada saat itu, tetapi sedikitnya itu adalah suatu persekutuan. Bahkan ada penafsir yang beranggapan bahwa murid-murid berkumpul pada hari minggu dalam Yoh 20:19 itu, untuk berbakti.

 

Barnes’ Notes: “It is worthy of remark that this is the first assembly that was convened for worship on the Lord’s Day, and in that assembly Jesus was present. Since that time, the day has been observed in the church as the Christian Sabbath, particularly to commemorate the resurrection of Christ” (= Layak diperhatikan bahwa ini adalah perkumpulan pertama yang dilakukan untuk kebaktian pada hari Tuhan, dan dalam perkumpulan itu Yesus hadir. Sejak saat itu, hari itu dihormati dalam gereja sebagai Sabat Kristen, khususnya untuk memperingati kebangkitan Kristus).

 

2.   Yoh 20:26 - “Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: ‘Damai sejahtera bagi kamu!’”.

 

Maksudnya adalah 8 hari setelah Yoh 20:19. Ini bukan hari Senin, tetapi hari Minggu! Yoh 20:19 adalah hari Minggu. 8 hari setelah itu / hari ke 8 setelah itu juga adalah hari Minggu! (bandingkan dengan Yesus yang mati pada hari Jum’at, lalu bangkit pada hari ke 3 yang adalah hari Minggu - itulah cara mereka menghitung hari!).

 

      M    S   S    R   K    J    S   M

----|----|----|----|----|----|----|----|----|---

       1    2   3    4    5     6    7   8

 

Mengapa Yesus muncul lagi-lagi pada hari Minggu? Untuk menekankan perubahan Sabat dari Sabtu menjadi hari pertama (Minggu). Mari kita memperhatikan beberapa komentar dari para penafsir tentang bagian ini.

 

Barnes’ Notes: “‘And after eight days again’. That is, on the return of the first day of the week. From this it appears that they thus early set apart this day for assembling together, and Jesus countenanced it by appearing twice with them. It was natural that the apostles should observe this day, but not probable that they would do it without the sanction of the Lord Jesus. His repeated presence gave such a sanction, and the historical fact is indisputable that from this time this day was observed as the Christian Sabbath. See Acts 20:7; 1 Cor. 16:2; Rev. 1:10.” (= ‘Dan setelah 8 hari lagi’. Yaitu, pada kembalinya hari pertama dari suatu minggu. Dari sini kelihatannya mereka demikian awal memisahkan hari ini untuk berkumpul bersama-sama, dan Yesus menyetujuinya dengan muncul 2 x bersama mereka. Adalah sesuatu yang wajar bahwa rasul-rasul memperingati hari ini, tetapi tidak mungkin bahwa mereka melakukan hal itu tanpa persetujuan dari Tuhan Yesus. KehadiranNya yang terulang memberikan persetujuan seperti itu, dan fakta historis tidak dapat dibantah bahwa sejak saat ini hari ini diperingati sebagai Sabat Kristen. Lihat Kis 20:7; 1Kor 16:2; Wah 1:10).

 

Jadi kelihatannya Barnes beranggapan bahwa rasul-rasul yang lebih dulu melakukan perubahan Sabat, dan Yesus lalu merestuinya. Tetapi saya lebih condong pada pandangan dari beberapa penafsir di bawah ini.

 

William Hendriksen: “Did the Lord wait until Sunday evening in order to encourage his disciples to observe that day - and not some other day - as day of rest and worship? That would seem probable” (= Apakah Tuhan menunggu sampai Minggu malam untuk mendorong murid-muridNya untuk menghormati hari itu - dan bukannya hari yang lain - sebagai hari istirahat dan ibadah? Itu kelihatannya memungkinkan) - hal 464.

 

Matthew Henry: “He deferred it so long as seven days. And why so? ... that he might put an honour upon the first day of the week, and give a plain intimation of his will, that it should be observed in his church as the Christian sabbath, the weekly day of holy rest and holy convocations” (= Ia menunda itu selama 7 hari. Dan mengapa demikian? ... supaya Ia bisa meletakkan suatu penghormatan pada hari pertama dari suatu minggu, dan memberikan suatu isyarat yang jelas dari kehendakNya, bahwa hari itu harus diperingati / dihormati dalam gerejaNya sebagai Sabat Kristen, hari libur mingguan dan pertemuan kudus mingguan).

 

Jamieson, Fausset & Brown: “‘And after eight days’ - that is, on the eighth or first day of the following week. They themselves probably met every day during the preceding week, but their Lord designedly reserved His second appearance among them until the recurrence of His resurrection-day, that He might thus inaugurate the delightful sanctities of THE LORD’S DAY (Rev. 1:10) [= ‘Dan setelah 8 hari’ - yaitu, pada hari ke 8 atau hari pertama dari minggu berikutnya. Mereka sendiri mungkin bertemu setiap hari dalam sepanjang minggu yang lalu, tetapi Tuhan mereka dengan terencana menahan pemunculanNya yang kedua di antara mereka sampai kembalinya hari kebangkitanNya, supaya dengan demikian Ia bisa melantik kekudusan yang menggembirakan dari HARI TUHAN (Wah 1:10)].

 

Jelas bahwa inisiatif perubahan Sabat itu tidak mungkin datang dari rasul-rasul, yang lalu disetujui oleh Yesus. Inisiatif itu datang dari Yesus sendiri, yang secara sengaja dan terencana melakukan 2 x pemunculan pada hari Minggu, dan dengan demikian memberikan isyarat yang jelas tentang hal itu.

 

b)   Hari Pentakosta (Kis 2:1-13), yang merupakan ‘hari berdirinya gereja’, juga jatuh pada hari Minggu (bdk. Im 23:15-16  Ul 16:9).

 

Im 23:15-16 - “(15) Kemudian kamu harus menghitung, mulai dari hari sesudah sabat itu, yaitu waktu kamu membawa berkas persembahan unjukan, harus ada genap tujuh minggu; (16) sampai pada hari sesudah sabat yang ketujuh kamu harus hitung lima puluh hari; lalu kamu harus mempersembahkan korban sajian yang baru kepada TUHAN”.

 

Sabat jatuh pada hari ketujuh. Jadi, hari sesudah Sabat pasti adalah hari pertama / Minggu.

 

c)         Hari Minggu disebut sebagai ‘hari Tuhan’.

Wah 1:10 - “Pada hari Tuhan aku dikuasai oleh Roh dan aku mendengar dari belakangku suatu suara yang nyaring, seperti bunyi sangkakala”.

Sekalipun ayat ini tak menyebutkan bahwa itu adalah hari pertama / hari Minggu, tetapi boleh dikatakan semua penafsir menganggapnya demikian

 

Thomas Watson: “As it is called the ‘Lord’s Supper,’ because of the Lord’s instituting the bread and wine and setting it apart from a common to a special and sacred use; so it is called the Lord’s-day, because of the Lord’s instituting it, and setting it apart from common days, to his special worship and service” [= Sebagaimana itu disebut ‘Makan Malam / Perjamuan Tuhan’ (= Perjamuan Kudus), karena Tuhan menetapkan roti dan anggur dan memisahkannya dari penggunaan yang umum / biasa menjadi penggunaan yang khusus dan keramat / kudus; demikian juga itu disebut ‘hari Tuhan’, karena Tuhan menetapkannya, dan memisahkannya dari hari-hari yang umum / biasa, bagi penyembahan dan kebaktianNya yang khusus] - ‘The Ten Commandments’, hal 95.

Catatan: istilah ‘the Lord’s Supper’ muncul dalam 1Kor 11:20 versi KJV.

1Kor 11:20 - “Apabila kamu berkumpul, kamu bukanlah berkumpul untuk makan perjamuan Tuhan.

KJV: ‘the Lord’s supper’ (= makan malam Tuhan / perjamuan Tuhan).

 

Bdk. Yes 58:13-14 - “(13) Apabila engkau tidak menginjak-injak hukum Sabat dan tidak melakukan urusanmu pada hari kudusKu; apabila engkau menyebutkan hari Sabat ‘hari kenikmatan’, dan hari kudus TUHAN ‘hari yang mulia’; apabila engkau menghormatinya dengan tidak menjalankan segala acaramu dan dengan tidak mengurus urusanmu atau berkata omong kosong, (14) maka engkau akan bersenang-senang karena TUHAN, dan Aku akan membuat engkau melintasi puncak bukit-bukit di bumi dengan kendaraan kemenangan; Aku akan memberi makan engkau dari milik pusaka Yakub, bapa leluhurmu, sebab mulut Tuhanlah yang mengatakannya”.

 

Matthew Henry: “Even in Old-Testament times the sabbath was called the Lord’s day, and therefore it is fitly called so still, and for a further reason, because it is the Lord Christ’s day, Rev. 1:10” (= Bahkan dalam jaman Perjanjian Lama Sabat disebut ‘hari Tuhan’, dan karena itu, itu cocok tetap disebut demikian, dan untuk alasan lain, karena itu adalah hari Tuhan Kristus, Wah 1:10).

 

d)   Sejak kebangkitan Tuhan Yesus, orang-orang kristen berbakti pada hari pertama / hari Minggu.

 

1.   Kis 20:7 - “Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti, Paulus berbicara dengan saudara-saudara di situ, karena ia bermaksud untuk berangkat pada keesokan harinya. Pembicaraan itu berlangsung sampai tengah malam”.

Ini jelas merupakan suatu kebaktian, dan itu diadakan pada hari pertama / hari Minggu.

 

Matthew Henry: “They came together upon the first day of the week, which they called the Lord’s day (Rev. 1:10), the Christian sabbath, celebrated to the honour of Christ and the Holy Spirit, in remembrance of the resurrection of Christ, and the pouring out of the Spirit, both on the first day of the week. This is here said to be the day when the disciples came together, that is, when it was their practice to come together in all the churches” [= Mereka datang berkumpul pada hari pertama dari minggu itu, yang mereka sebut ‘hari Tuhan’ (Wah 1:10), hari Sabat Kristen, dirayakan bagi kehormatan Kristus dan Roh Kudus, dalam peringatan tentang kebangkitan Kristus, dan pencurahan Roh Kudus, keduanya pada hari pertama dari minggu. Di sini ini dikatakan sebagai hari dimana murid-murid datang berkumpul, yaitu, pada waktu itu merupakan praktek mereka untuk datang berkumpul dalam semua gereja-gereja].

 

Matthew Henry: “They came together to break bread, that is, to celebrate the ordinance of the Lord’s supper, ... In the primitive times it was the custom of many churches to receive the Lord’s supper every Lord’s day, celebrating the memorial of Christ’s death in the former, with that of his resurrection in the latter” (= Mereka datang berkumpul untuk memecahkan roti, yaitu untuk merayakan peraturan Perjamuan Kudus, ... Dalam jaman primitif merupakan kebiasaan dari banyak gereja untuk menerima Perjamuan Kudus setiap hari Tuhan, merayakan peringatan kematian Kristus dalam hal yang terdahulu, dan kebangkitanNya dalam hal yang terakhir).

 

Adam Clarke: “‘To break bread.’ To break eucaristia, the eucharist, as the Syriac has it; intimating, by this, that they were accustomed to receive the holy sacrament on each Lord’s day. It is likely that, besides this, they received a common meal together. Some think that the agapee, or love feast, is intended” (= ‘Untuk memecah-mecahkan roti’. Untuk memecah-mecahkan EUCARISTIA, EUCHARIST, seperti bahasa Aram menuliskannya; menunjukkan dengan ini bahwa mereka terbiasa untuk menerima sakramen kudus pada setiap hari Tuhan. Adalah mungkin bahwa disamping ini mereka menerima makanan bersama. Sebagian orang beranggapan bahwa AGAPE, atau perjamuan kasih, yang dimaksudkan).

 

Jamieson, Fausset & Brown: “‘To break bread.’ This, when compared with 1 Cor. 16:2, and other similar allusions, plainly indicates that the Christian observance the first day of the week - afterward emphatically termed ‘The Lord’s Day’ - was already a fixed practice of the churches” (= ‘Untuk memecah-mecahkan roti’. Ini, pada saat dibandingkan dengan 1Kor 16:2, dan bagian-bagian lain yang mirip yang menunjukkan secara tak langsung, dengan jelas menunjukkan bahwa pemeliharaan orang-orang Kristen terhadap hari pertama dari minggu - yang belakangan secara menekankan diistilahkan dengan ‘hari Tuhan’ - sudah merupakan suatu praktek yang tetap dari gereja-gereja).

 

Wycliffe: “This is the earliest clear reference to the Christian practice of observing Sunday as a day of worship. The first Christians, as Jews, probably continued to observe the Sabbath as well as the first day of the week. We are not told when or how the practice of Sunday worship arose in the church. ... Broken bread refers to the breaking of the bread of the Lord’s Supper. Eaten refers to the agape or love feast, a fellowship meal that accompanied the Lord’s Supper” (= Ini merupakan referensi yang jelas yang paling awal bagi praktek Kristen untuk memperingati hari Sabat maupun hari pertama dari minggu. Kita tidak diberitahu kapan atau bagaimana praktek ibadah minggu muncul dalam gereja. ... Pemecahan roti menunjuk pada pemecahan roti dari Perjamuan Kudus. ‘Makan’ menunjuk pada AGAPE atau perjamuan kasih, suatu makan persekutuan yang menyertai Perjamuan Kudus).

Catatan: bagian akhir yang saya garis-bawahi menunjuk pada Kis 20:11 - “Setelah kembali di ruang atas, Paulus memecah-mecahkan roti lalu makan; habis makan masih lama lagi ia berbicara, sampai fajar menyingsing. Kemudian ia berangkat”.

 

Bible Knowledge Commentary:This is the clearest verse in the New Testament which indicates that Sunday was the normal meeting day of the apostolic church. Paul stayed in Troas for seven days (v. 6) and the church met on the first day of the week. Luke’s method of counting days here was not Jewish, which measures from sundown to sundown, but Roman, which counted from midnight to midnight. This can be stated dogmatically because ‘daylight’ (v. 11) was the next day (v. 7) [= Ini adalah ayat yang paling jelas dalam Perjanjian Baru yang menunjukkan bahwa hari minggu adalah hari pertemuan normal dari gereja rasuli. Paulus tinggal di Troas untuk 7 hari (ay 6) dan gereja bertemu pada hari pertama dari minggu. Metode Lukas tentang penghitungan hari di sini bukanlah metode Yahudi, yang mengukur dari matahari terbenam sampai matahari terbenam, tetapi metode Romawi, yang menghitung dari tengah malam sampai tengah malam. Ini bisa dinyatakan secara dogmatik karena ‘fajar menyingsing’ (ay 11) merupakan hari berikutnya (ay 7)].

 

Kis 20:6-11 - “(6) Tetapi sesudah hari raya Roti Tidak Beragi kami berlayar dari Filipi dan empat hari kemudian sampailah kami di Troas dan bertemu dengan mereka. Di situ kami tinggal tujuh hari lamanya. (7) Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti, Paulus berbicara dengan saudara-saudara di situ, karena ia bermaksud untuk berangkat pada keesokan harinya. Pembicaraan itu berlangsung sampai tengah malam. (8) Di ruang atas, di mana kami berkumpul, dinyalakan banyak lampu. (9) Seorang muda bernama Eutikhus duduk di jendela. Karena Paulus amat lama berbicara, orang muda itu tidak dapat menahan kantuknya. Akhirnya ia tertidur lelap dan jatuh dari tingkat ketiga ke bawah. Ketika ia diangkat orang, ia sudah mati. (10) Tetapi Paulus turun ke bawah. Ia merebahkan diri ke atas orang muda itu, mendekapnya, dan berkata: ‘Jangan ribut, sebab ia masih hidup.’ (11) Setelah kembali di ruang atas, Paulus memecah-mecahkan roti lalu makan; habis makan masih lama lagi ia berbicara, sampai fajar menyingsing. Kemudian ia berangkat”.

 

The Bible Exposition Commentary: New Testament: The ‘breaking of bread’ in Acts 20:7 refers to the Lord’s Supper, whereas in Acts 20:11 it describes a regular meal (= Pemecahan roti dalam Kis 20:7 menunjuk pada Perjamuan Kudus, sedangkan dalam Kis 20:11 itu menggambarkan makan biasa).

 

Kesimpulan: memang ada perbedaan pandangan di antara para penafsir tentang arti dari 2 x pemecahan roti (ay 7,11), tetapi bagaimanapun, dari 2 x pemecahan roti itu, salah satu pasti menunjuk pada Perjamuan Kudus. Dengan demikian, itu pasti dilakukan dalam kebaktian.

 

2.   1Kor 16:2 - “Pada hari pertama dari tiap-tiap minggu hendaklah kamu masing-masing - sesuai dengan apa yang kamu peroleh - menyisihkan sesuatu dan menyimpannya di rumah, supaya jangan pengumpulan itu baru diadakan, kalau aku datang”.

Kata-kata ‘di rumah’ ini bukan hanya salah terjemahan, tetapi juga tidak masuk akal. Kalau memang harus disimpan ‘di rumah’ mengapa mereka harus mengumpulkan pada hari pertama? Kata-kata ‘di rumah’ itu seharusnya tidak ada / dihapuskan. KJV/RSV/NIV/NASB/ASV/NKJV tidak mempunyai kata-kata itu.

NIV: ‘each one of you should set aside a sum of money in keeping with his income, saving it up, ...’ (= setiap orang dari kamu harus menyisihkan sejumlah uang sesuai dengan penghasilannya, menyimpannya, ...).

 

Adam Clarke: “It appears from the whole that the first day of the week, which is the Christian Sabbath, was the day on which their principal religious meetings were held in Corinth and the churches of Galatia; and, consequently, in all other places where Christianity had prevailed. This is a strong argument for the keeping of the Christian Sabbath” (= Kelihatan dari seluruh bagian ini bahwa hari pertama dari minggu, yang merupakan Sabat Kristen, adalah hari dimana pertemuan-pertemuan agama utama mereka dilakukan di Korintus dan gereja-gereja Galatia; dan karena itu, di semua tempat dimana kekristenan tersebar. Ini merupakan argumentasi yang kuat untuk memelihara hari Sabat Kristen).

 

Charles Hodge: “If Paul directed this money to be laid up at home, why was the first day of the week selected? It is evident that the first day must have offered some special facility for doing what is here enjoined. The only reason that can be assigned for requiring the thing to be done on the first day of the week, is, that on that day the Christians were accustomed to meet, and what each one had laid aside from his weekly gains could be treasured up, i.e. put into the common treasury of the church” (= Jika Paulus mengarahkan uang ini untuk disimpan di rumah, mengapa hari pertama dari minggu dipilih? Adalah jelas bahwa hari pertama pasti memberikan suatu fasilitas khusus untuk melakukan apa yang diperintahkan di sini. Satu-satunya alasan yang bisa diberikan untuk mengharuskan hal itu dilakukan pada hari pertama dari minggu adalah bahwa pada hari itu orang-orang Kristen terbiasa untuk bertemu, dan apa yang tiap orang telah sisihkan dari keuntungan mingguannya bisa disimpan, yaitu dimasukkan ke dalam perbendaharaan umum dari gereja).

 

Berbakti pada hari Minggu ini sudah dimulai sangat awal, dan beberapa penafsir mengatakan bahwa sejak awal abad kedua, seluruh gereja sudah meninggalkan Sabat Yahudi, dan menggunakan hari Minggu sebagai hari Sabat /  hari Kebaktian. Ke-universal-an seperti ini tidak mungkin terjadi kalau hanya orang-orang kristen tertentu yang mengubahnya. Bahkan saya berpendapat tidak akan mungkin terjadi seandainya hanya sebagian dari rasul-rasul yang mengubahnya. Ini hanya bisa terjadi kalau semua rasul-rasul mengubahnya, dan mereka tidak mungkin mengubah berdasarkan kemauan / pemikiran mereka sendiri. Mereka pasti mendapat perintah dari Tuhan.

 

Jewish New Testament Commentary (tentang 1Kor 16:2): “There is good documentation that the Gentile churches have observed Sunday as a day of worship since very early times. Specifically, Ignatius writes in the early second century of Sunday as ‘the Lord’s Day,’ commemorating the day Yeshua rose from the grave. This we know to have been Sunday from Mt 28:1 and Lk 24:1 (= Ada dokumentasi yang baik bahwa gereja-gereja dari orang-orang non Yahudi telah memelihara hari Minggu sebagai suatu hari kebaktian sejak masa yang sangat awal. Secara khusus, Ignatius menulis pada awal abad ke 2 tentang hari Minggu sebagai ‘hari Tuhan’, untuk memperingati hari dimana Yesus bangkit dari kubur. Ini kita ketahui sebagai hari minggu dari Mat 28:1 dan Luk 24:1).

 

Thomas Watson: “Augustine and Innocentius, and Isidore, make the keeping of our gospel Sabbath to be of apostolic sanction, and affirm, that by virtue of the apostles’ practice, this day is to be set apart for divine worship. What the apostles did, they did by divine authority; for they were inspired by the Holy Ghost” (= Agustinus dan Innocentius, dan Isidore, menganggap pemeliharaan Sabat Injil kita sebagai penetapan rasuli, dan menegaskan, bahwa berdasarkan praktek rasul-rasul, hari ini harus dipisahkan untuk penyembahan / ibadah ilahi. Apa yang dilakukan rasul-rasul, mereka lakukan oleh otoritas ilahi; karena mereka diilhami oleh Roh Kudus) - ‘The Ten Commandments’, hal 95.

 

Thomas Watson: “The primitive church had the Lord’s-day, which we now celebrate, in high estimation. It was a great badge of their religion to observe this day. Ignatius, the most ancient father, who lived in the time of John the apostle, has these words, ‘Let every one that loveth Christ keep holy the first day of the week, the Lord’s-day.’” (= Gereja mula-mula sangat meninggikan hari Tuhan, yang sekarang kita rayakan. Merupakan lencana yang besar dari agama mereka untuk menghormati hari ini. Ignatius, bapa gereja yang paling kuno, yang hidup pada jaman Yohanes sang rasul, mengatakan kata-kata ini: ‘Hendaklah setiap orang yang mengasihi Kristus menguduskan hari pertama dari suatu minggu, hari Tuhan’) - ‘The Ten Commandments’, hal 95-96.

 

William Barclay: “By early in the second century the Sabbath had been abandoned and the Lord’s Day was the accepted Christian day” (= Pada awal abad kedua hari Sabat telah ditinggalkan dan hari Tuhan diterima sebagai hari Kristen) - hal 43.

Catatan: ‘awal abad kedua’ berarti tahun 100an, dan itu sangat dekat dengan masa kehidupan rasul Yohanes, yang masih hidup sampai akhir abad pertama.

 

Philip Schaff: “The universal and uncontradicted Sunday observance in the second century can only be explained by the fact that it had its roots in apostolic practice” (= Ibadah pada hari Minggu yang bersifat universal dan tidak ditentang pada abad kedua, hanya bisa dijelaskan oleh fakta bahwa itu mempunyai akarnya dalam praktek rasuli) - ‘History of the Christian Church’, vol I, hal 478.

 

Homer Hailey: “The ante-Nicene writers who wrote after John followed a consistent pattern in considering ‘the first day,’ ‘the Lord’s day,’ the ‘resurrection day,’ and the day of meeting, Sunday, as identical. Ignatius (30-107 A.D.) writes, ‘Let every friend of Christ keep the Lord’s day as a festival, the resurrection day, the queen and chief of all the days (of the week)’ (A-N-F, I, p. 63). Justin (110-165 A.D.), writing of the day which the saints met for worship identified it as ‘Sunday ... the first day ... and Jesus Christ our Saviour on the same day rose from the dead’ (I, p. 168). The teaching of the Twelve (120-190 A.D.): ‘But every Lord’s day do ye gather yourselves, and break bread’ (VII, p. 381). Clement (153-217 A.D.), writing agonist (against?) Gnostics, identifies the Lord’s day with the resurrection, saying, ‘He, in fulfillment of the precept, according to the Gospel, keeps the Lord’s day ... glorifying the Lord’s resurrection’ (II, p. 545). Tertullian (145-220 A.D.) identifies ‘the Lord’s day’ as ‘every eighth day’ (III, p. 70). Constitution of the Holy Apostles (250-325 A.D.): ‘And on the day of our Lord’s resurrection, which is the Lord’s day, meet more diligently’ (VII, p. 423); and ‘on the day of the resurrection of the Lord, that is, the Lord’s day, assemble yourselves together, without fail’ (ibid. p. 471)” [= Penulis-penulis sebelum Nicea yang menulis setelah Yohanes mengikuti pola yang konsisten dalam menganggap ‘hari pertama’, ‘hari Tuhan’, ‘hari kebangkitan’, dan hari pertemuan, Minggu, sebagai identik. Ignatius (30-107 M) menulis: ‘Hendaknya setiap teman Kristus memelihara hari Tuhan sebagai suatu perayaan, hari kebangkitan, ratu dan kepala dari semua hari (dari suatu minggu)’ (A-N-F, I, hal 63). Justin (110-165 M), menulis tentang hari dimana orang-orang kudus bertemu untuk kebaktian menyebutnya sebagai ‘Minggu ... hari yang pertama ... dan Yesus Kristus Juruselamat kita bangkit dari antara orang mati pada hari yang sama’ (I, hal 168). The teaching of the Twelve (120-190 M): ‘Tetapi setiap hari Tuhan kamu berkumpul dan memecahkan roti’ (VII, hal 381). Clement (153-217 M), menulis menentang Gnostics, mengidentikkan hari Tuhan dengan kebangkitan, dengan berkata: ‘Ia, dalam penggenapan ajaran / perintah, sesuai dengan Injil, memelihara hari Tuhan ... memuliakan kebangkitan Tuhan’ (II, hal 545). Tertullian (145-220 M) mengidentikkan / menyebut ‘hari Tuhan’ sebagai ‘setiap hari ke 8’ (III, hal 70). Constitution of the Holy Apostles (250-325 M): ‘Dan pada hari kebangkitan Tuhan, yang adalah hari Tuhan, bertemulah dengan makin rajin’ (VII, hal 423); dan ‘pada hari kebangkitan Tuhan, yaitu, hari Tuhan, kumpulkanlah dirimu bersama-sama, tanpa gagal (jangan pernah gagal untuk bertemu)’ (ibid. hal 471)] - hal 107.

 

Keberatan:

 

Tetapi bagaimana dengan ayat-ayat yang menunjukkan bahwa rasul Pauluspun tetap berbakti pada hari Sabat (hari ketujuh) setelah kebangkitan Yesus? Misalnya:

·        Kis 13:14 - “Dari Perga mereka (Paulus dan kawan-kawan) melanjutkan perjalanan mereka, lalu tiba di Antiokhia di Pisidia. Pada hari Sabat mereka pergi ke rumah ibadat, lalu duduk di situ”.

·        Kis 13:42 - “Ketika Paulus dan Barnabas keluar, mereka diminta untuk berbicara tentang pokok itu pula pada hari Sabat berikutnya”.

·        Kis 13:44 - “Pada hari Sabat berikutnya datanglah hampir seluruh kota itu berkumpul untuk mendengar firman Allah”.

·        Kis 16:13 - “Pada hari Sabat kami (Paulus dan Silas) ke luar pintu gerbang kota. Kami menyusur tepi sungai dan menemukan tempat sembahyang Yahudi, yang sudah kami duga ada di situ; setelah duduk, kami berbicara kepada perempuan-perempuan yang ada berkumpul di situ”.

·        Kis 17:2 - “Seperti biasa Paulus masuk ke rumah ibadat itu. Tiga hari Sabat berturut-turut ia membicarakan dengan mereka bagian-bagian dari Kitab Suci”.

·        Kis 18:4 - “Dan setiap hari Sabat Paulus berbicara dalam rumah ibadat dan berusaha meyakinkan orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani”.

Catatan: dalam semua ayat di atas, kata ‘Sabat’ menunjuk pada hari ketujuh. Dalam Kitab Suci kata ‘Sabat’ tidak pernah digunakan untuk menunjuk pada hari Minggu / hari pertama.

 

Jawaban saya:

 

Ada 2 kemungkinan untuk menjawab keberatan di atas:

 

1.   Ini merupakan masa peralihan dari Sabat Yahudi (Hari ketujuh / Sabtu) ke Sabat Kristen (Hari pertama / Minggu), sehingga orang-orang kristen Yahudi (termasuk Paulus) beribadah baik pada hari ketujuh / Sabtu, maupun pada hari pertama / Minggu.

 

R. L. Dabney: “After the establishment of the new dispensation, the Christian converted from among the Jews had generally combined the practice of Judaism with the forms of Christianity. They observed the Lord’s day, baptism, and the Lord’s supper; but they also continued to keep the seventh day, the passover, and circumcision. ... In the mixed churches of Asia Minor and the West, some brethren went to the synagogue on Saturday, and to the church-meeting on Sunday, keeping both days religiously (= Setelah penegakan dari sistim agama yang baru, orang Kristen yang bertobat dari antara orang-orang Yahudi pada umumnya mengombinasikan praktek dari agama Yahudi dengan bentuk-bentuk dari kekristenan. Mereka memelihara / menghormati hari Tuhan, baptisan, dan Perjamuan Kudus; tetapi mereka juga terus memelihara hari ketujuh, Paskah, dan sunat. ... Dalam gereja-gereja campuran Asia Kecil dan di Barat, sebagian saudara-saudara pergi ke sinagog pada hari Sabtu, dan ke pertemuan / kebaktian gereja pada hari Minggu, memelihara kedua hari secara agamawi) - ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 385-386.

 

2.   Paulus pergi ke tempat ibadah Yahudi itu bukan dengan tujuan berbakti, tetapi untuk memberitakan Injil. Kalau ia pergi ke sana pada hari pertama / Minggu, tidak akan ada siapa-siapa di sana. Lalu siapa yang mau ia injili? Ia harus pergi pada hari kebaktian Yahudi, yaitu hari ketujuh / Sabtu. Dan memang kalau saudara perhatikan semua ayat di atas dimana Paulus kelihatannya berbakti pada hari Sabat / Sabtu, ia selalu memberitakan Injil / Firman Tuhan.

 

e)   Perubahan dari Sabtu ke Minggu ini perlu untuk mengingat penebusan dosa kita oleh Kristus.

 

Thomas Watson: “The grand reason for changing the Jewish Sabbath to the Lord’s-day is that it puts us in mind of the ‘Mystery of our redemption by Christ.’ The reason why God instituted the old Sabbath was to be a memorial of the creation; but he has now brought the first day of the week in its room in memory of a more glorious work than creation, which is redemption. Great was the work of creation, but greater was the work of redemption” (= Alasan yang agung untuk mengubah Sabat Yahudi menjadi hari Tuhan adalah bahwa itu mengingatkan kita akan ‘Misteri penebusan kita oleh Kristus’. Alasan mengapa Allah mengadakan Sabat yang lama adalah sebagai peringatan tentang penciptaan; tetapi sekarang Ia telah membawa hari pertama dari minggu sebagai gantinya untuk mengingat tentang suatu pekerjaan yang lebih mulia dari pada penciptaan, yaitu penebusan. Pekerjaan penciptaan itu besar, tetapi pekerjaan penebusan itu lebih besar) - ‘The Ten Commandments’, hal 96.

 

Bagian ini penting untuk diingat kalau saudara menghadapi orang Advent, yang berkeras bahwa hari untuk berbakti haruslah Sabtu, yang merupakan hari Sabat Perjanjian Lama.

 

Ada satu ayat sukar yang seolah-olah menunjukkan bahwa dalam Perjanjian Barupun Sabat tetap adalah hari Sabtu (sama dengan Sabat Perjanjian Lama).

Mat 24:20 - “Berdoalah, supaya waktu kamu melarikan diri itu jangan jatuh pada musim dingin dan jangan pada hari Sabat”.

Mereka disuruh berdoa supaya hal itu tidak terjadi pada musim dingin dan tidak terjadi pada hari Sabat. Ini kelihatannya menunjukkan bahwa pada jaman setelah Yesus (ayat ini menunjuk pada penghancuran Yerusalem pada tahun 70 M.) para murid tetap harus memelihara Sabat (Sabtu), karena kalau tidak apa pedulinya tindakan melarikan diri itu dengan hari Sabat? Tetapi sebetulnya artinya tidak demikian. Arti yang benar adalah sebagai berikut: Yang dimaksud dengan ‘hari Sabat’ di sini bukanlah Sabat Kristen (Minggu), tetapi Sabat Yahudi (Sabtu), karena dalam Kitab Suci kata ‘Sabat’ tidak pernah menunjuk pada hari Minggu, tetapi selalu menunjuk pada hari Sabtu. Orang Kristen sebetulnya sudah tidak terikat lagi dengan hari Sabat Yahudi, karena sejak kebangkitan Yesus, bagi orang Kristen hari Sabat adalah hari Minggu. Jadi, ditinjau dari sudut orang-orang kristen itu, sebetulnya tidak jadi soal kalau hal itu terjadi pada hari Sabat Yahudi (Sabtu), karena bagi mereka tidak ada larangan apa-apa pada hari itu. Tetapi perlu diingat bahwa orang-orang Yahudi yang bukan Kristen masih memegang hari Sabat Yahudi (Sabtu) itu, sehingga mereka tidak mau berjualan, dan mereka bahkan menutup / mengunci pintu-pintu gerbang kota pada hari itu. Karena itu, kalau hal itu terjadi pada hari Sabat Yahudi (Sabtu), maka orang-orang kristen yang melarikan diri itu tidak akan bisa membeli makanan maupun kebutuhan-kebutuhan yang lain, dan juga tidak bisa memasuki kota-kota dalam perjalanan mereka. Ini pasti akan menyukarkan mereka dalam melarikan diri itu.

Jadi, ayat ini tidak berarti bahwa orang Kristen tetap memelihara hari Sabat Yahudi, yaitu hari Sabtu. Hari Sabat akan menyukarkan orang-orang kristen dalam melarikan diri, bukan karena orang-orang kristen tetap memelihara hari Sabat itu, tetapi karena orang-orang Yahudi yang non Kristen tetap memelihara hari Sabat itu.

Catatan: penjelasan ini perlu saudara camkan, karena orang-orang dari ‘Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh’ menggunakan ayat ini untuk mengatakan bahwa bagi orang Kristen hari Sabat tetap adalah hari Sabtu.

 

II) Pro kontra penghapusan Sabat.

 

1)   Argumentasi untuk menghapuskan hukum tentang hari Sabat.

 

a)   Itu merupakan ceremonial law (= hukum yang berhubungan dengan upacara keagamaan), dan semua ceremonial law dihapuskan pada kematian dan kebangkitan Kristus (Ef 2:15).

 

Ef 2:15 - “sebab dengan matiNya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diriNya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera”.

 

Kita tidak mungkin menafsirkan bahwa ayat ini memaksudkan seluruh hukum Taurat dihapuskan, karena dalam Mat 5:17-19 Yesus berkata: “(17) ‘Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. (18) Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. (19) Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga”.

 

Jadi, untuk mengharmoniskan kedua bagian ini, dan juga dengan bagian-bagian Kitab Suci yang lain, haruslah ditafsirkan bahwa yang dihapuskan hanyalah hukum Taurat yang bersifat ceremonial saja (seperti sunat, najis / tahir, larangan makan, persembahan korban dsb), sedangkan yang bersifat moral terus berlaku. Kalau hukum tentang hari Sabat termasuk ceremonial law, maka itu berarti hukum ini juga dihapuskan.

 

Calvin termasuk orang yang menghapuskan hukum Sabat.

 

John Calvin: “there is no doubt that by the Lord Christ’s coming the ceremonial part of this commandment was abolished” (= tidak diragukan bahwa oleh kedatangan Tuhan Kristus bagian ceremonial dari perintah ini dihapuskan) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book II, Chapter VIII, no 31.

 

Calvin menggunakan Kol 2:16-17 - “(16) Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; (17) semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus”.

 

John Calvin: “Christians ought therefore to shun completely the superstitious observance of days” (= Karena itu orang-orang kristen harus menghindarkan diri secara total dari pemeliharaan hari-hari yang bersifat takhyul) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book II, Chapter VIII, no 31.

Catatan: mungkin yang dimaksud oleh Calvin dengan ‘bersifat takhyul’ adalah bilangan 7 (pemeliharaan hari ke 7).

 

John Calvin: “because it was expedient to overthrow superstition, the day sacred to the Jews was set aside; because it was necessary to maintain decorum, order, and peace in the church, another was appointed for that purpose” [= karena merupakan sesuatu yang layak untuk merobohkan takhyul, (maka) hari yang keramat bagi orang-orang Yahudi disingkirkan; karena merupakan sesuatu yang perlu untuk memelihara kepantasan, keteraturan, dan damai dalam gereja, (maka) hari yang lain ditetapkan untuk tujuan itu] - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book II, Chapter VIII, no 33.

Catatan: sukar untuk menterjemahkan kata ‘order’. Dalam Webster’s New World Dictionary, kata itu mempunyai bermacam-macam arti, antara lain, ‘keteraturan’, ‘keadaan tenang / damai’, atau ‘keadaan dimana segala sesuatu ada di tempat yang benar dan berfungsi dengan benar’. Mungkin yang terakhir yang yang dimaksudkan oleh Calvin.

 

Jadi, sekalipun Calvin berpendapat bahwa Sabat (Sabat Yahudi - Sabtu) telah dibatalkan / dicabut, tetapi ia juga berpendapat bahwa kita tetap harus berbakti dan memberi istirahat pegawai dsb (‘Institutes of the Christian Religion’, Book II, Chapter VIII, no 32). Dasarnya adalah karena bagian lain dari Kitab Suci, bahkan Perjanjian Baru (Kis 2:42  1Kor 16:2), mengharuskan hal itu. Disamping itu, hal ini perlu untuk keteraturan dan kesehatan rohani kita.

 

Ini menyebabkan Calvin berpendapat bahwa hari untuk kebaktian boleh dipilih hari apapun.

 

John Calvin: “And I shall not condemn churches that have other solemn days for their meetings, provided there be no superstition. This will be so if they have regard solely to the maintenance of discipline and good order (= Dan saya tidak akan mengecam gereja-gereja yang mempunyai hari keramat / kudus yang lain untuk pertemuan-pertemuan / kebaktian-kebaktian mereka, asal disana tidak ada takhyul. Ini akan demikian jika mereka hanya memperhatikan pada pemeliharaan disiplin dan keteraturan yang baik) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book II, Chapter VIII, no 34.

 

Penafsiran Calvin bahwa hukum Sabat ini termasuk ceremonial law, ditentang oleh kebanyakan, atau mungkin semua, orang-orang Reformed, dan juga oleh Westminster Confession of Faith.

 

Editor dari Calvin’s Institutes: “It is clear from this passage and from sec. 34 that for Calvin the Christian Sunday is not, as in the Westminster Confession XXI, 8, a simple continuation of the Jewish Sabbath ‘changed into the first day of the week,’ but a distinctively Christian institution adopted on the abrogation of the former one, as a means of church order and spiritual health” [= Adalah jelas dari bagian ini (no 33) dan dari no 34, bahwa bagi Calvin hari Minggu orang Kristen bukanlah, seperti dalam Pengakuan Westminster XXI, 8, suatu kelanjutan / sambungan biasa dari Sabat Yahudi ‘(yang) diubah ke hari pertama dari suatu minggu’, tetapi suatu hukum Kristen yang diadopsi / diambil pada penghapusan dari hukum yang lama, sebagai suatu cara dari keteraturan gereja dan kesehatan rohani] - Book II, Chapter VIII, no 33 (footnote, hal 399).

Catatan: tentang kata ‘order’ dalam 2 kutipan terakhir ini, lihat catatan di atas.

 

b)   Ada beberapa text Kitab Suci yang kelihatannya menghapuskan hukum Sabat.

 

1.   Kol 2:16-17 - “(16) Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; (17) semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus”.

Kalau Sabat merupakan type yang telah digenapi oleh Kristus, bukankah sekarang Sabat harus dihapuskan?

 

2.   Ro 14:5-6 - “(5) Yang seorang menganggap hari yang satu lebih penting dari pada hari yang lain, tetapi yang lain menganggap semua hari sama saja. Hendaklah setiap orang benar-benar yakin dalam hatinya sendiri. (6) Siapa yang berpegang pada suatu hari yang tertentu, ia melakukannya untuk Tuhan. Dan siapa makan, ia melakukannya untuk Tuhan, sebab ia mengucap syukur kepada Allah. Dan siapa tidak makan, ia melakukannya untuk Tuhan, dan ia juga mengucap syukur kepada Allah”.

 

3.   Gal 4:7-11 - “(7) Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah. (8) Dahulu, ketika kamu tidak mengenal Allah, kamu memperhambakan diri kepada allah-allah yang pada hakekatnya bukan Allah. (9) Tetapi sekarang sesudah kamu mengenal Allah, atau lebih baik, sesudah kamu dikenal Allah, bagaimanakah kamu berbalik lagi kepada roh-roh dunia yang lemah dan miskin dan mau mulai memperhambakan diri lagi kepadanya? (10) Kamu dengan teliti memelihara hari-hari tertentu, bulan-bulan, masa-masa yang tetap dan tahun-tahun. (11) Aku kuatir kalau-kalau susah payahku untuk kamu telah sia-sia”.

 

2)   Argumentasi untuk mempertahankan hukum tentang hari Sabat.

 

a)   Hukum tentang hari Sabat ini merupakan hukum yang bersifat moral, dan karena itu terus berlaku sampai akhir jaman.

Thomas Watson (‘The Ten Commandments’, hal 94) menganggap bahwa hukum ini bukan termasuk ceremonial law tetapi moral law, dan karena itu terus berlaku sampai kesudahan alam.

Alasan-alasan yang diberikan oleh para ahli theologia / penafsir untuk menganggap bahwa hukum Sabat ini merupakan hukum moral, bukan ceremonial:

 

1.   Hukum ini sudah ada sebelum hukum Taurat / ceremonial law.

Bahwa Sabat sudah ada sebelum pemberian hukum Taurat kepada Musa terlihat dari:

a.   Kej 2:3 - “Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuatNya itu”.

b.   Kel 16:22-30 - peristiwa pemberian manna, dimana bangsa Israel disuruh beristirahat pada hari ketujuh.

 

Calvin sendiri mengakui bahwa text ini menunjukkan bahwa peraturan Sabat sudah ada sebelum hukum Taurat Musa!

 

Calvin: “From this passage it may be probably conjectured that the hallowing of the Sabbath was prior to the Law; and undoubtedly what Moses has before narrated, that they were forbidden to gather the manna on the seventh day, seems to have led its origin from a well-known and received custom; ... But what in the depravity of human nature was altogether extinct among heathen nations, and almost obsolete with the race of Abraham, God renewed in His Law” (= Dari text ini mungkin bisa diperkirakan bahwa pengudusan hari Sabat sudah ada sebelum hukum Taurat; dan tidak diragukan apa yang telah ditulis oleh Musa sebelumnya, bahwa mereka dilarang mengumpulkan manna pada hari yang ketujuh, kelihatannya telah membawa asal usulnya dari suatu tradisi / kebiasaan yang telah dikenal dan diterima; ... Tetapi apa yang dalam kebejatan manusia telah sama sekali musnah di antara bangsa-bangsa kafir, dan hampir usang dengan ras / bangsa dari Abraham, diperbaharui oleh Allah dalam hukum TauratNya) - hal 439.

 

D. L. Moody: “I honestly believe that this commandment is just as binding today as it ever was. ... The Sabbath was binding in Eden, and it has been in force ever since. The fourth commandment begins with the word ‘remember,’ showing that the Sabbath already existed when God wrote this law on the tables of stone at Sinai” (= Saya dengan jujur / terus terang percaya bahwa perintah ini sama mengikatnya pada saat ini seperti pada masa yang lalu. ... Sabat mengikat di Eden, dan itu selalu berlaku sejak saat itu. Perintah / hukum keempat dimulai dengan kata ‘Ingatlah’, yang menunjukkan bahwa Sabat telah ada pada waktu Allah menuliskan hukum ini pada loh-loh batu di Sinai) - ‘D. L. Moody On The Ten Commandments’, hal 47,48.

Catatan: saya tidak tahu apakah kata ‘ingatlah’ memang harus diartikan seperti itu. Ada orang lain yang mengatakan bahwa kata ‘ingatlah’ hanya menunjukkan bahwa hukum / perintah ini sering dilupakan / dilalaikan oleh manusia.

 

R. L. Dabney: “the enactment of the Sabbath-law does not date from Moses, but was coeval with the human race. ... The sanctification of the seventh day took place from the very end of the week of creation. (Gen. 2:3.) For whose observance was the day, then, consecrated or set apart, if not for man’s? Not for God’s; ... Not surely for the angels’, but for Adam’s” [= penjadian hukum Sabat sebagai undang-undang tidak terjadi pada jaman Musa, tetapi sama tuanya dengan umat manusia. ... Pengudusan dari hari yang ketujuh terjadi sejak akhir dari minggu penciptaan (Kej 2:3). Untuk pemeliharaan siapa hari itu, yang pada saat itu dikuduskan atau dipisahkan, jika bukan untuk manusia? Bukan untuk Allah; ... Pasti bukan untuk malaikat-malaikat, tetapi untuk Adam] - ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 376.

 

R. L. Dabney: “In Exodus 16:22-30, where we read the first account of the manna, we find the Sabbath institution already in force; and no candid mind will say that this is the history of its first enactment. It is spoken of as a rest with which the people ought to have been familiar. But the people had not yet come to Sinai, and none of its institution had been given. Here, then, we have the Sabbath’s rest enforced on Israel, before the ceremonial law was set up” [= Dalam Keluaran 16:22-30, dimana kita membaca cerita pertama tentang manna, kita menemukan hukum Sabat sudah berlaku; dan tidak ada pikiran yang jujur yang akan mengatakan bahwa ini adalah sejarah dari pengundangannya yang pertama. Itu dikatakan sebagai suatu istirahat dengan mana bangsa itu pasti telah akrab. Tetapi bangsa itu belum tiba di Sinai, dan tidak ada dari hukum Sinai yang telah diberikan. Maka, di sini kita mendapatkan istirahat Sabat dijalankan pada Israel, sebelum ceremonial law (hukum yang berhubungan dengan upacara agama) ditegakkan] - ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 377.

 

R. L. Dabney: “If it was not introduced by the Levitical economy for the first time, but was in force before, and if it was binding not on Jews only, but on all men, then the abrogation of that economy cannot have abrogated that which it did not institute” [= Jika itu (hukum Sabat) tidak diperkenalkan oleh pengaturan Imamat untuk pertama kalinya, tetapi telah berlaku sebelumnya, dan jika itu (hukum Sabat) mengikat bukan orang Yahudi saja, tetapi semua orang, maka pembatalan dari pengaturan Imamat itu tidak bisa membatalkan apa yang tidak diadakannya] - ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 375.

R. L. Dabney: “If the Sabbath command was in full force before Moses, the passing away of Moses’ law does not remove it” (= Jika perintah Sabat telah berlaku sepenuhnya sebelum Musa, matinya hukum Taurat Musa tidak menyingkirkannya) - ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 379.

 

Bdk. Gal 3:17 - “Maksudku ialah: Janji yang sebelumnya telah disahkan Allah, tidak dapat dibatalkan oleh hukum Taurat, yang baru terbit empat ratus tiga puluh tahun kemudian, sehingga janji itu hilang kekuatannya”.

 

Gal 3:17 ini menjadi dasar pemikiran / kata-kata Dabney di atas. Kalau janji (kepada Abraham) itu sudah ada sebelum hukum Taurat, maka pembatalan hukum Taurat tidak bisa membatalkan janji itu. Demikian juga kalau hukum tentang hari Sabat sudah ada sebelum hukum Taurat, maka pembatalan hukum Taurat tidak bisa membatalkan hukum tentang hari Sabat itu.

 

2.   Hukum ini masuk dalam 10 hukum Tuhan yang semuanya merupakan hukum moral.

 

R. L. Dabney: “The very fact that this precept found a place in the awful ‘ten words,’ is of itself strong evidence that it is not a positive and ceremonial, but a moral and perpetual statute. Confessedly, there is nothing else ceremonial here. ... How can it be believed that this one ceremonial precept has been thrust in here, where all else is of obligation as old, and as universal as the race?” [= Fakta bahwa perintah ini mendapatkan suatu tempat dalam 10 firman yang hebat, merupakan bukti yang kuat bahwa ini bukan suatu undang-undang yang bersifat positif dan ceremonial, tetapi bersifat moral dan kekal. Merupakan sesuatu yang telah diakui bahwa tidak ada sesuatu yang lain yang bersifat ceremonial di sini (dalam 10 hukum Tuhan). ... Bagaimana dapat dipercaya bahwa perintah ceremonial yang satu ini telah dimasukkan di sini, dimana semua yang lain merupakan kewajiban yang sama tuanya dan sama universalnya dengan umat manusia?] - ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 378.

Catatan: saya tidak terlalu mengerti apa maksud dari kata ‘positive’ di sini. Dalam Webster’s New World Dictionary dikatakan bahwa kata ‘positive’ bisa diartikan sebagai ‘opposed to natural’ (= bertentangan dengan alamiah). Mungkin itu arti yang harus diambil di sini.

 

3.   Dasar dari hukum Sabat ini sama sekali tidak bersifat Yahudi / nasional, tetapi diambil dari peristiwa penciptaan (Kej 2:3).

 

Kel 20:8-11 - “(8) Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: (9) enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, (10) tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu. (11) Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya.

 

Ay 11 memang menunjukkan bahwa dasar dari hukum / peraturan tentang Sabat adalah dari peristiwa penciptaan.

Kej 2:3 - “Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuatNya itu”.

 

R. L. Dabney: “the ground first assigned in Genesis, and here repeated for its enactment, is in no sense Jewish or national. God’s work of creation in six days, and His rest on the seventh, have just as much relation to one tribe of Adam’s descendants as to another. Note the contrast: that, in many cases, when ceremonial and Jewish commands are given, like the passover, a national or Jewish event is assigned as its ground, like the exodus from Egypt” (= dasar pertama yang diberikan dalam kitab Kejadian, dan di sini diulangi untuk pengundang-undangannya, sama sekali tidak bersifat Yahudi ataupun nasional. Pekerjaan penciptaan Allah dalam enam hari dan istirahatNya pada hari yang ketujuh, mempunyai hubungan yang sama dengan satu suku bangsa dari keturunan Adam seperti dengan suku bangsa yang lain. Perhatikan kontrasnya: bahwa, dalam banyak kasus, dimana perintah-perintah yang bersifat ceremonial dan Yahudi diberikan, seperti Paskah, suatu peristiwa yang bersifat nasional atau Yahudi diberikan sebagai dasarnya, seperti keluarnya bangsa Israel dari Mesir) - ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 378.

 

4.   Hukum ini merupakan kebutuhan, dan berlaku, tidak hanya untuk bangsa Israel saja, tetapi untuk semua orang.

Bdk. Kel 20:10 - “tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu”.

 

R. L. Dabney: “That it is a positive, moral, and perpetual command, we argue from the facts that there is a reason in the nature of things, making such an institution necessary to man’s religious interests; and that this necessity is substantially the same in all ages and nations” (= Kami berargumentasi bahwa itu merupakan suatu perintah yang bersifat positif, moral, dan kekal, dari fakta-fakta bahwa disana ada suatu alasan dalam sifat alamiah dari hal-hal, yang membuat hukum ini perlu bagi kepentingan agamawi manusia; dan bahwa kebutuhan ini pada dasarnya sama dalam semua jaman dan bangsa) - ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 375-376.

Catatan: dalam kutipan di atas Dabney mengatakan bahwa hukum ini tidak bersifat ‘positive’, tetapi sekarang ia mengatakan hukum ini bersifat ‘positive’. Apakah ia menggunakan kata itu dalam arti yang berbeda? Tetapi arti kata ini tidak terlalu berhubungan dengan penekanan saya dalam bagian ini, yaitu apakah hukum keempat ini bersifat moral atau ceremonial.

 

R. L. Dabney: “The assertion that the Sabbath was coeval with the human race, and was intended for the observation of all, receives collateral confirmation also from the early traditions concerning it, which pervades the first pagan literature” (= Penegasan bahwa Sabat sama tuanya dengan umat manusia, dan dimaksudkan untuk dihormati / dijalankan oleh semua orang, menerima peneguhan tambahan juga dari tradisi-tradisi mula-mula mengenainya, yang sangat banyak dalam literatur kafir mula-mula) - ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 378.

 

R. L. Dabney (hal 378-379) lalu memberikan banyak kutipan dari literatur kafir kuno, yang menunjukkan bahwa mereka juga sudah memelihara hari ketujuh sebagai hari yang kudus / keramat.

 

R. L. Dabney: “the Sabbath never was a Levitical institution, because God commanded its observance both by Jews and Gentiles, in the very laws of Moses” (= Sabat tidak pernah merupakan suatu hukum Imamat, karena Allah memerintahkan supaya hukum ini dihormati / dijalankan oleh orang Yahudi dan orang non Yahudi, dalam hukum Taurat Musa itu sendiri) - ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 379.

 

R. L. Dabney: “To see the force of the argument from this fact, the reader must contrast the jealous care with which ‘the stranger,’ the pagan foreigner residing in an Israelitish community, was prohibited from all share in their ritual services. No foreigner could partake of the passover - it was sacrilege. He was even forbidden to enter the court of the temple where the sacrifices were offered, at the peril of his life. Now, when the foreigner is commanded to share the Sabbath-rest, along with the Israelite, does not this prove that rest to be no ceremonial, no type, like the passover and the altar, but a universal moral institution, designed for Jew and Gentile alike?” (= Untuk melihat kekuatan dari argumentasi dari fakta ini, pembaca harus mengkontraskan ketelitian yang penuh kecemburuan, dengan mana ‘orang asing’, yaitu orang kafir yang tinggal dalam suatu masyarakat Yahudi, dilarang untuk ambil bagian sama sekali dalam ibadah ritual mereka. Tidak ada orang asing yang bisa ambil bagian dalam Paskah - itu merupakan sesuatu yang keramat / kudus. Orang asing bahkan dilarang untuk memasuki pelataran Bait Allah dimana korban dipersembahkan, dengan ancaman hukuman mati. Sekarang, pada waktu orang asing diperintahkan untuk ambil bagian dalam istirahat Sabat, bersama-sama dengan bangsa Israel, bukankah ini membuktikan bahwa istirahat itu bukan bersifat ceremonial, bukan merupakan type / bayangan, seperti Paskah dan mezbah, tetapi merupakan suatu hukum yang bersifat moral dan universal, direncanakan bagi orang Yahudi dan orang non Yahudi?) - ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 379.

 

R. L. Dabney: “If it always was binding, on grounds as general as the human race, on all tribes of mankind, the dissolution of God’s special covenant with the family of Jacob did not repeal it” (= Jika itu selalu mengikat, pada dasar yang sama umumnya seperti umat manusia, pada semua suku bangsa dari umat manusia, pembubaran dari perjanjian Allah yang khusus dengan keluarga Yakub tidak mencabutnya) - ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 379.

 

Ada 2 hal yang bisa diberikan sebagai bantahan terhadap argumentasi Dabney pada point ini (bahwa Sabat berlaku untuk orang asing):

 

a.   Calvin mempunyai pandangan / penafsiran yang berbeda dengan Dabney dalam persoalan keharusan memelihara Sabat bagi orang asing.

 

Calvin: “The case of ‘strangers’ was different, who were obliged to rest on the Sabbath, although they remained uncircumcised; for he does not only refer to the foreigners, who had subscribed to the Law, but also to the uncircumcised. If any should object that they were improperly made partakers of the sacred sign whereby God had bound His elect people to Himself, the reply is easy, that this was not done for their sakes, but lest anything opposed to the Sabbath should happen beneath the eyes of the Israelites; as we may understand more clearly from the case of the oxen and asses. Surely God would never have required spiritual service of brute animals; yet He ordained their repose as a lesson, so that wherever the Israelites turned their eyes, they might be incited to the observation of the Sabbath. ... Besides, if the very least liberty had been conceded to them, they would have done many things to evade the Law in their days of rest, by employing strangers and the cattle in their work” [= Kasus tentang ‘orang-orang asing’ berbeda, yang diwajibkan untuk beristirahat pada hari Sabat, sekalipun mereka tetap tidak disunat; karena Ia tidak hanya menunjuk kepada orang-orang asing, yang telah menganut hukum Taurat, tetapi juga kepada yang tidak disunat. Jika ada yang keberatan bahwa mereka secara tidak tepat dibuat menjadi pengambil bagian dari tanda keramat dengan mana Allah telah mengikat umat pilihanNya kepada diriNya sendiri, jawabannya mudah, yaitu bahwa ini dilakukan bukan demi diri orang-orang asing itu sendiri, tetapi supaya tidak ada apapun yang bertentangan dengan hari Sabat terjadi di depan mata orang-orang Israel; seperti yang bisa kita mengerti dengan lebih jelas dari kasus lembu dan keledai. Pasti Allah tidak akan pernah menghendaki / mewajibkan binatang-binatang yang tidak berakal itu untuk melakukan kebaktian yang bersifat rohani; tetapi Ia menentukan istirahat mereka sebagai suatu pelajaran, sehingga kemanapun bangsa Israel memalingkan mata mereka, mereka bisa didorong pada pemeliharaan hari Sabat. ... Disamping itu, jika kebebasan yang terkecil diserahkan kepada mereka (bangsa Israel), mereka akan melakukan banyak hal untuk menghindari hukum Taurat pada hari-hari istirahat mereka, dengan mempekerjakan orang-orang asing dan ternak dalam pekerjaan mereka] - hal 439.

 

Calvin mungkin lebih benar, karena Sabat memang merupakan tanda perjanjian antara Allah dengan bangsa Israel.

Kel 31:13 - “‘Katakanlah kepada orang Israel, demikian: Akan tetapi hari-hari SabatKu harus kamu pelihara, sebab itulah peringatan antara Aku dan kamu, turun-temurun, sehingga kamu mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, yang menguduskan kamu.”.

 

b.   Ada banyak ayat yang menunjukkan bahwa larangan yang jelas bersifat ceremonial, juga diberlakukan bagi orang asing, seperti:

·         Im 17:13 - “Setiap orang dari orang Israel dan dari orang asing yang tinggal di tengah-tengahmu, yang menangkap dalam perburuan seekor binatang atau burung yang boleh dimakan, haruslah mencurahkan darahnya, lalu menimbunnya dengan tanah”.

·         Im 17:15 - “Dan setiap orang yang makan bangkai atau sisa mangsa binatang buas, baik ia orang Israel asli maupun orang asing, haruslah mencuci pakaiannya, membasuh tubuhnya dengan air dan ia menjadi najis sampai matahari terbenam, barulah ia menjadi tahir”.

·         Im 22:25 - “Juga dari tangan orang asing janganlah kamu persembahkan sesuatu dari semuanya itu sebagai santapan Allahmu, karena semuanya itu telah rusak dan bercacat badannya; TUHAN tidak akan berkenan akan kamu karena persembahan-persembahan itu.’”.

·         Bil 19:10 - “Dan orang yang mengumpulkan abu lembu itu haruslah mencuci pakaiannya, dan ia najis sampai matahari terbenam. Itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya bagi orang Israel dan bagi orang asing yang tinggal di tengah-tengahmu”.

 

R. L. Dabney: “If its nature is moral and practical, the substitution of the substance for the types does not supplant it. The reason that the ceremonial laws were temporary was that the necessity for them was temporary. They were abrogated because they were no longer needed. But the practical need for a Sabbath is the same in all ages. When it is made to appear that this day is the bulwark of practical religion in the world, that its proper observance everywhere goes hand in hand with piety and the true worship of God; that where there is no Sabbath there is no Christianity, it becomes an impossible supposition that God would make the institution temporary. The necessity for the Sabbath has not ceased, therefore it is not abrogated. In its nature, as well as its necessity, it is a permanent, moral command. All such laws are as incapable of change as the God in whose character they are founded” (= Jika sifat dasarnya bersifat moral dan praktis, maka penggantian dari substansi untuk typenya tidak menggantikannya. Alasan bahwa hukum-hukum ceremonial bersifat sementara adalah bahwa kebutuhan untuk hukum-hukum itu bersifat sementara. Mereka dibatalkan karena mereka tidak lagi dibutuhkan. Tetapi kebutuhan praktis bagi suatu Sabat adalah sama dalam semua jaman. Pada waktu terlihat bahwa hari ini merupakan benteng dari agama praktis dalam dunia, dan bahwa dimana tidak ada Sabat tidak ada kekristenan, maka menjadi suatu anggapan yang tidak mungkin bahwa Allah membuat hukum itu bersifat sementara. Kebutuhan untuk hari Sabat belum berhenti, karena itu hukum ini tidak dibatalkan. Dalam sifat alamiahnya, maupun dalam kebutuhannya, itu merupakan suatu perintah yang bersifat kekal dan moral. Semua hukum-hukum seperti itu tidak bisa berubah, sama seperti Allah, dalam karakter siapa hukum-hukum itu didirikan) - ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 379-380.

 

Keberatan:

Ada keberatan bahwa hukum Sabat merupakan hukum yang bersifat moral, karena Mat 12:1-8 kelihatannya menunjukkan bahwa hukum Sabat merupakan ceremonial law.

 

Mat 12:1-8 - “(1) Pada waktu itu, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum. Karena lapar, murid-muridNya memetik bulir gandum dan memakannya. (2) Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepadaNya: ‘Lihatlah, murid-muridMu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat.’ (3) Tetapi jawab Yesus kepada mereka: ‘Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, (4) bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan bagaimana mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan, baik olehnya maupun oleh mereka yang mengikutinya, kecuali oleh imam-imam? (5) Atau tidakkah kamu baca dalam kitab Taurat, bahwa pada hari-hari Sabat, imam-imam melanggar hukum Sabat di dalam Bait Allah, namun tidak bersalah? (6) Aku berkata kepadamu: Di sini ada yang melebihi Bait Allah. (7) Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah. (8) Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.’”.

 

Perhatikan khususnya Mat 12:3-4, yang menunjukkan bahwa Daud dan para pengikutnya tidak salah pada waktu memakan roti sajian. Padahal roti sajian itu seharusnya hanya untuk imam-imam (Kel 29:32-34  Im 24:5-9); ini merupakan ceremonial law. Mengapa mereka tidak salah? Karena mereka lapar dan betul-betul membutuhkannya. Jadi, ceremonial law boleh dilanggar pada waktu memang ada kebutuhan mendesak. Yesus menggunakan kejadian ini untuk menjawab tuduhan dari orang-orang Farisi bahwa para murid melanggar hukum Sabat. Bukankah ini menunjukkan bahwa larangan makan roti sajian mempunyai persamaan dengan peraturan Sabat, yaitu sama-sama termasuk ceremonial law? Dan keduanya boleh dilanggar pada waktu ada kebutuhan yang mendesak? Jawabannya adalah tidak!

 

Penjelasan: Tujuan Yesus menggunakan kasus Daud ini adalah untuk memberikan suatu argumentasi sebagai berikut:

·        Daud dan pengikut-pengikutnya, pada waktu lapar, tidak disalahkan pada waktu melanggar ceremonial law, padahal ceremonial law itu merupakan Firman Tuhan yang diberikan oleh Allah sendiri.

·        Karena itu murid-murid Yesus, pada waktu mereka lapar, juga tidak dapat disalahkan pada waktu melanggar peraturan orang Farisi, yang tidak diberikan oleh Allah.

Dengan penjelasan ini jelas bahwa Mat 12:1-8, khususnya Mat 12:3-4, tidak dapat digunakan sebagai argumentasi untuk mengatakan bahwa hukum Sabat hanya merupakan ceremonial law.

 

Easton’s Bible Dictionary (dengan topik ‘Sabbath’): “The Sabbath, originally instituted for man at his creation, is of permanent and universal obligation. The physical necessities of man require a Sabbath of rest. He is so constituted that his bodily welfare needs at least one day in seven for rest from ordinary labour. Experience also proves that the moral and spiritual necessities of men also demand a Sabbath of rest” (= Sabat, mula-mula diadakan untuk manusia pada penciptaannya, merupakan kewajiban yang permanen dan universal. Kebutuhan fisik manusia membutuhkan suatu Sabat dari istirahat. Ia dibentuk sedemikian rupa sehingga kesejahteraan jasmaninya membutuhkan sedikitnya satu hari dalam tujuh hari untuk istirahat dari pekerjaan biasa. Pengalaman juga membuktikan bahwa kebutuhan moral dan rohani dari manusia juga menuntut suatu Sabat dari istirahat).

 

b)   Text-text Kitab Suci yang digunakan untuk menyatakan penghapusan hukum Sabat sama sekali tidak bisa diartikan demikian.

Pembahasan text-text Kitab Suci yang seolah-olah menghapuskan hukum tentang hari Sabat.

 

1.   Kol 2:16-17 - “(16) Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; (17) semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus”.

 

Matthew Henry: “Here is a caution to take heed of judaizing teachers, or those who would impose upon Christians the yoke of the ceremonial law: ... but here the apostle shows that since Christ has come, and has cancelled the ceremonial law, we ought not to keep it up” (= Di sini ada suatu peringatan untuk berhati-hati terhadap guru-guru Yudaisme / agama Yahudi, atau mereka yang ingin membebankan / memaksakan pada orang-orang kristen kuk dari hukum ceremonial: ... tetapi di sini sang rasul menunjukkan bahwa karena Kristus telah datang, dan telah membatalkan hukum ceremonial, kita tidak seharusnya memeliharanya).

 

Adam Clarke: “it is not clear that the apostle refers at all to the Sabbath in this place, whether Jewish or Christian; his sabbatoon, ‘of sabbaths or weeks,’ most probably refers to their feasts of weeks (= sama sekali tidak jelas bahwa sang rasul menunjuk pada Sabat di tempat ini, apakah Sabat Yahudi atau Sabat Kristen; kata sabbatoon yang digunakannya, yang berarti ‘tentang Sabat-Sabat atau minggu-minggu’ paling memungkinkan menunjuk pada perayaan / pesta mingguan mereka).

 

Barnes’ Notes: “The word Sabbath in the Old Testament is applied not only to the seventh day, but to all the days of holy rest that were observed by the Hebrews, and particularly to the beginning and close of their great festivals. There is, doubtless, reference to those days in this place, since the word is used in the plural number, and the apostle does not refer particularly to the Sabbath properly so called. There is no evidence from this passage that he would teach that there was no obligation to observe any holy time, for there is not the slightest reason to believe that he meant to teach that one of the ten commandments had ceased to be binding on mankind. If he had used the word in the singular number - ‘THE Sabbath,’ it would then, of course, have been clear that he meant to teach that that commandment had ceased to be binding, and that a Sabbath was no longer to be observed. But the use of the term in the plural number, and the connection, show that he had his eye on the great number of days which were observed by the Hebrews as festivals, as a part of their ceremonial and typical law, and not to the moral law, or the Ten Commandments [= Kata ‘Sabat’ dalam Perjanjian Lama diterapkan bukan hanya pada hari ketujuh, tetapi pada semua hari-hari istirahat yang kudus yang dipelihara oleh orang-orang Ibrani, dan khususnya pada permulaan dan akhir dari perayaan-perayaan besar mereka. Tidak diragukan, bahwa yang ditunjuk di tempat ini adalah hari-hari itu, karena kata itu digunakan dalam bentuk jamak, dan sang rasul tidak menunjuk secara khusus pada Sabat yang sebenarnya. Tidak ada bukti dari text ini bahwa ia mengajarkan bahwa tidak ada kewajiban untuk memelihara / menghormati saat kudus manapun, karena tidak ada alasan yang paling kecil sekalipun untuk percaya bahwa ia bermaksud untuk mengajar bahwa satu dari 10 hukum Tuhan telah berhenti mengikat umat manusia. Seandainya ia menggunakan kata itu dalam bentuk tunggal - ‘Sabat’, maka tentu saja akan jelas bahwa ia bermaksud untuk mengajar bahwa hukum itu (hukum Sabat) telah berhenti mengikat, dan hari Sabat tidak lagi perlu dihormati / dipelihara. Tetapi penggunaan istilah ini dalam bentuk jamak, dan hubungannya, menunjukkan bahwa ia mengarahkan matanya pada sejumlah besar hari-hari yang dipelihara oleh orang-orang Ibrani sebagai pesta / perayaan, sebagai suatu bagian dari hukum ceremonial dan yang bersifat type / bayangan, dan bukan pada hukum moral, atau pada 10 hukum Tuhan].

 

International Standard Bible Encyclopedia - Revised Edition (dengan topik ‘Sabbath’): “SABBATH ... The seventh day of the week (Ex 16:26; 20:10; etc.), as well as certain feast days (Lev 16:31; 23:32; etc.), marked in ancient Israel, Judaism, and early Christianity by cessation of work and ceremonial observance” [= Sabat ... Hari ketujuh dari minggu (Kel 16:26; 20:10; dsb), maupun hari-hari raya tertentu (Im 16:31; 23:32; dsb), ditandai / diperhatikan pada Israel kuno, Yudaisme, dan kekristenan awal oleh penghentian pekerjaan dan perayaan yang bersifat upacara] - PC Study Bible 5.

Im 16:29-31 - “(29) Inilah yang harus menjadi ketetapan untuk selama-lamanya bagi kamu, yakni pada bulan yang ketujuh, pada tanggal sepuluh bulan itu kamu harus merendahkan diri dengan berpuasa dan janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan, baik orang Israel asli maupun orang asing yang tinggal di tengah-tengahmu. (30) Karena pada hari itu harus diadakan pendamaian bagimu untuk mentahirkan kamu. Kamu akan ditahirkan dari segala dosamu di hadapan TUHAN. (31) Hari itu harus menjadi sabat, hari perhentian penuh, bagimu dan kamu harus merendahkan diri dengan berpuasa. Itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya”.

Im 23:30-32 - “(30) Setiap orang yang melakukan sesuatu pekerjaan pada hari itu, orang itu akan Kubinasakan dari tengah-tengah bangsanya. (31) Janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan; itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya bagimu turun-temurun di segala tempat kediamanmu. (32) Itu harus menjadi suatu sabat, hari perhentian penuh bagimu, dan kamu harus merendahkan diri dengan berpuasa. Mulai pada malam tanggal sembilan bulan itu, dari matahari terbenam sampai matahari terbenam, kamu harus merayakan sabatmu.’”.

Catatan: kedua text di atas ini ada dalam kontext yang membicarakan hari raya pendamaian. Ini jelas bukan sabat dalam arti hari ketujuh dari suatu minggu, tetapi toh disebut dengan istilah ‘Sabat’!

 

R. L. Dabney: “it must be distinctly remembered that the word ‘Sabbath’ was never applied, in New Testament language, to the Lord’s day, but was always used for the seventh day, and other Jewish festivals, as distinguished from the Christian Sunday. ... And we assert that, according to well known usage of the word SABBATA at that time, the Sundays were definitely excluded from the apostle’s assertion. When he says here, ‘holy-days, new-moons, and Sabbath-days,’ he intentionally excludes the Lord’s days. We are entitled to assume, therefore, that they are excluded when he says in the parallel passage of Romans, ‘every day,’ and in Galatians, ‘days, and months, and times, and years.’’” (= harus diingat dengan jelas bahwa kata ‘Sabat’ tidak pernah diterapkan, dalam bahasa Perjanjian Baru, pada ‘hari Tuhan’, tetapi selalu digunakan untuk hari yang ketujuh, dan pesta-pesta Yahudi yang lain, yang dibedakan dari hari Minggu orang Kristen. ... Dan kami menegaskan bahwa, sesuai dengan penggunaan yang telah dikenal dari kata SABBATA pada saat itu, hari Minggu jelas dikeluarkan dari penegasan sang rasul. Pada waktu ia berkata di sini, ‘hari kudus / raya, bulan baru, dan hari-hari Sabat’, ia dengan sengaja mengeluarkan hari-hari Tuhan. Karena itu, kita berhak untuk menganggap bahwa hari-hari Minggu juga dikeluarkan pada waktu ia berkata dalam text-text yang paralel dari Roma, ‘setiap / semua hari’, dan dalam Galatia, ‘hari-hari, dan bulan-bulan, dan masa-masa, dan tahun-tahun’.) - ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 389.

 

Sekarang kita soroti Kol 2:17 - ‘semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus’.

KJV: ‘Which are a shadow of things to come; but the body is of Christ’ (= Yang merupakan bayangan dari hal-hal yang akan datang; tetapi tubuhnya / wujudnya adalah Kristus).

 

Tentang ayat ini Dabney memberikan komentar / penafsiran sebagai berikut.

 

R. L. Dabney: “the Sabbath was to the Jews both a perpetual, moral institution, and a type. ... That it was to the Jews also a type, we admit. ... It was for a time, at least, a foreshadowing of the rest of Canaan. Heb. 4:4-11. It was to them, as it is to us, a shadow of the rest in heaven. Heb. 4:9. ... When the Epistle to the Colossians says that Sabbath, along with holy days and new-moons, are a shadow, it seems to us much the most simple explanation to say that it is the sacrificial aspect of those days, or (to employ other words) their use as special days of sacrifice, in which they together constituted a shadow. They were a shadow in this: that the sacrifices, which constituted so prominent a part of their Levitical observance, pointed to Christ the body. This is exactly accordant with the whole tenor of the Epistles. The seventh day had been, then, to the Jews, both a moral institution and a ritual type. In its latter use, the coming of Christ had of course abrogated it. In its former use, its whole duties and obligations had lately been transferred to the Lord’s day” [= hari Sabat bagi orang Yahudi merupakan hukum yang bersifat kekal dan moral, dan juga merupakan suatu type. ... Bahwa bagi orang Yahudi itu juga merupakan suatu type, kami mengakuinya. ... Setidaknya, untuk suatu waktu tertentu, itu merupakan bayangan dari istirahat di Kanaan. Ibr 4:4-11. Bagi mereka, dan bagi kita, itu merupakan bayangan dari istirahat di surga. Ibr 4:9. ... Pada waktu surat Kolose mengatakan bahwa Sabat, bersama-sama dengan hari-hari kudus / raya dan bulan baru, merupakan suatu bayangan, sangat terlihat bagi kita bahwa penjelasan yang paling sederhana adalah mengatakan bahwa itu merupakan aspek korban dari hari-hari / saat itu, atau (menggunakan kata-kata yang lain) penggunaan mereka tentang hari-hari korban khusus, dalam mana mereka bersama-sama membentuk / merupakan suatu bayangan. Mereka merupakan suatu bayangan dalam hal ini: bahwa korban-korban, yang merupakan bagian yang begitu menonjol dari pemeliharaan Imamat mereka, menunjuk pada Kristus yang adalah wujudnya. Ini secara tepat sesuai dengan seluruh tujuan dari surat. Jadi, hari ketujuh bagi orang Yahudi merupakan suatu hukum moral dan type / bayangan yang bersifat ritual / upacara. Dalam penggunaannya yang terakhir, tentu saja kedatangan Kristus membatalkannya. Dalam penggunaanya yang pertama, seluruh kewajibannya telah dipindahkan pada hari Tuhan] - ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 388-389.

Catatan: bagian yang saya garis-bawahi itu agak sukar dimengerti. Mungkin maksudnya adalah sebagai berikut: yang ditekankan dari kata ‘Sabat’ dalam Kol 2:16-17 ini, sama seperti dengan kata-kata ‘hari raya’ dan ‘bulan baru’, adalah aspek / sudut korbannya (pada hari Sabat ada pengorbanan binatang; itu yang ditekankan, bukan peraturan Sabatnya). Semua ini memang merupakan type, sedangkan wujudnya / anti-typenya adalah Kristus.

 

2.   Ro 14:5-6,10,13 - “(5) Yang seorang menganggap hari yang satu lebih penting dari pada hari yang lain, tetapi yang lain menganggap semua hari sama saja. Hendaklah setiap orang benar-benar yakin dalam hatinya sendiri. (6) Siapa yang berpegang pada suatu hari yang tertentu, ia melakukannya untuk Tuhan. Dan siapa makan, ia melakukannya untuk Tuhan, sebab ia mengucap syukur kepada Allah. Dan siapa tidak makan, ia melakukannya untuk Tuhan, dan ia juga mengucap syukur kepada Allah. ... (10) Tetapi engkau, mengapakah engkau menghakimi saudaramu? Atau mengapakah engkau menghina saudaramu? Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah. ... (13) Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu menganut pandangan ini: Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung!”.

 

Matthew Henry: “Those who thought themselves still under some kind of obligation to the ceremonial law esteemed one day above another - kept up a respect to the times of the passover, pentecost, new moons, and feasts of tabernacles; thought those days better than other days, and solemnized them accordingly with particular observances, binding themselves to some religious rest and exercise on those days. Those who knew that all these things were abolished and done away by Christ’s coming esteemed every day alike. We must understand it with an exception of the Lord’s day, which all Christians unanimously observed; but they made no account, took no notice, of those antiquated festivals of the Jews. Here the apostle speaks of the distinction of meats and days as a thing indifferent, when it went no further than the opinion and practice of some particular persons, who had been trained up all their days to such observances, and therefore were the more excusable if they with difficulty parted with them. But in the epistle to the Galatians, where he deals with those that were originally Gentiles, but were influenced by some judaizing teachers, not only to believe such a distinction and to practise accordingly, but to lay a stress upon it as necessary to salvation, and to make the observance of the Jewish festivals public and congregational, here the case was altered, and it is charged upon them as the frustrating of the design of the gospel, falling from grace, Gal. 4:9-11. The Romans did it out of weakness, the Galatians did it out of wilfulness and wickedness; and therefore the apostle handles them thus differently. This epistle is supposed to have been written some time before that to the Galatians. The apostle seems willing to let the ceremonial law wither by degrees, and to let it have an honourable burial; now these weak Romans seem to be only following it weeping to its grave, but those Galatians were raking it out of its ashes” (= Mereka yang berpikir bahwa diri mereka masih berada di bawah kewajiban tertentu pada hukum ceremonial, menilai satu hari lebih dari yang lainnya - memelihara rasa hormat terhadap masa-masa Paskah, Pentakosta, bulan-bulan baru, dan hari raya pondok daun; menganggap hari-hari itu lebih baik / penting dari hari-hari yang lain, dan sesuai dengan pandangan itu menguduskan hari-hari itu dengan pemeliharaan khusus, mengikat diri mereka sendiri pada istirahat dan aktivitas agamawi tertentu pada hari-hari itu. Mereka yang mengerti bahwa semua hal-hal ini telah dicabut / dibatalkan dan disingkirkan oleh kedatangan Kristus menganggap setiap hari sama. Kita harus mengerti ini dengan perkecualian tentang hari Tuhan, yang secara sepakat dipelihara oleh semua orang Kristen; tetapi mereka memperhatikan hari-hari raya Yahudi kuno itu. Di sini sang rasul berbicara tentang perbedaan tentang daging dan hari sebagai suatu hal yang tidak penting, dimana itu bukan lain adalah pandangan dan praktek dari beberapa orang-orang tertentu, yang telah dididik seumur hidup mereka pada pemeliharaan-pemeliharaan seperti itu, dan karena itu lebih mudah dimaafkan jika mereka sukar berpisah dengan hal itu. Tetapi dalam surat Galatia, dimana ia menangani mereka yang asal usulnya adalah orang non Yahudi, tetapi telah dipengaruhi oleh beberapa guru agama Yahudi, yang bukan hanya mempercayai perbedaan seperti itu dan mempraktekkannya, tetapi menekankannya sebagai sesuatu yang perlu untuk keselamatan, dan membuat pemeliharaan hari-hari raya Yahudi itu bersifat umum dan jemaat, di sini kasusnya berubah, dan dituduhkan kepada mereka sebagai menggagalkan rencana / tujuan dari injil, jatuh dari kasih karunia / murtad, Gal 4:9-11. Orang-orang Roma melakukannya dari kelemahan, orang-orang Galatia melakukannya dari kesengajaan dan kejahatan; dan karena itu sang rasul menangani mereka secara berbeda. Surat ini (Roma) diduga / dianggap telah ditulis beberapa waktu sebelum surat Galatia. Sang rasul kelihatannya mau untuk membiarkan hukum ceremonial menjadi layu perlahan-lahan, dan membiarkannya mendapatkan penguburan yang terhormat; orang-orang Roma yang lemah ini kelihatannya hanya mengikutinya dengan menangis sampai pada kuburnya, tetapi orang-orang Galatia itu menggaruknya dari abunya).

 

Barnes’ Notes: “The question has been agitated whether the apostle intends in this to include the Christian Sabbath. Does he mean to say that it is a matter of ‘indifference’ whether this day be observed, or whether it be devoted to ordinary business or amusements? This is a very important question in regard to the Lord’s day. That the apostle did not mean to say that it was a matter of indifference whether it should be kept as holy, or devoted to business or amusement, is plain from the following considerations. (1) the discussion had reference only to the special customs of the ‘Jews,’ to the rites and practices which ‘they’ would attempt to impose on the Gentiles, ... The inquiry pertained to ‘meats,’ and festival observances among the Jews, and to their scruples about partaking of the food offered to idols, etc.; and there is no more propriety in supposing that the subject of the Lord’s day is introduced here than that he advances principles respecting ‘baptism’ and ‘the Lord’s supper.’ (2) the ‘Lord’s day’ was doubtless observed by ‘all’ Christians, whether converted from Jews or Gentiles; see 1 Cor. 16:2; Acts 20:7; Rev. 1:10; compare the notes at John 20:26. The propriety of observing ‘that day’ does not appear to have been a matter of controversy. The only inquiry was, whether it was proper to add to that the observance of the Jewish Sabbaths, and days of festivals and fasts [= Ada pertanyaan yang mengganggu apakah sang rasul bermaksud dengan ini untuk mencakup Sabat Kristen. Apakah ia bermaksud untuk mengatakan bahwa merupakan sesuatu yang tidak penting apakah hari ini dipelihara, atau apakah itu digunakan untuk bisnis dan hiburan biasa? Ini merupakan pertanyaan yang sangat penting berkenaan dengan hari Tuhan. Bahwa sang rasul tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa merupakan sesuatu yang tidak penting apakah itu (hari Minggu) harus dipelihara sebagai hari yang kudus, atau digunakan untuk bisnis atau hiburan, adalah jelas dari pertimbangan-pertimbangan berikut. (1) diskusi itu hanya berhubungan dengan kebiasaan-kebiasaan / tradisi-tradisi khusus dari ‘orang-orang Yahudi’, dengan upacara-upacara dan praktek-praktek yang mereka usahakan untuk dipaksakan terhadap orang-orang non Yahudi, ... Penyelidikan / pertanyaan ini mengenai ‘daging’, dan pemeliharaan hari-hari raya / perayaan di antara orang-orang Yahudi, dan keberatan mereka tentang ambil bagian terhadap makanan yang telah dipersembahkan kepada berhala, dsb.; dan sama tidak cocoknya untuk menganggap bahwa pokok tentang hari Tuhan diajukan di sini dengan bahwa ia (Paulus) mengajukan prinsip-prinsip tentang ‘baptisan’ dan ‘Perjamuan Kudus’. (2) tak diragukan bahwa ‘hari Tuhan’ dipelihara oleh ‘semua’ orang-orang kristen, apakah dipertobatkan dari kalangan Yahudi atau non Yahudi; lihat 1Kor 16:2; Kis 20:7; Wah 1:10; bandingkan dengan catatan pada Yoh 20:26. Kepatutan / kebenaran tentang pemeliharaan ‘hari itu’ tidak merupakan persoalan kontroversi. Satu-satunya pertanyaan adalah, apakah merupakan sesuatu yang benar untuk menambahkan pada itu pemeliharaan terhadap Sabat-Sabat Yahudi, dan hari-hari perayaan dan puasa].

 

Catatan: saya menganggap bagian point (1) dari kutipan dari Barnes ini sebagai sesuatu yang sangat bagus, dan karena itu akan saya perjelas dengan kata-kata saya sendiri. Barnes mengatakan bahwa text Ro 14:5-6 ini berkenaan dengan 2 hal, yaitu pandangan tentang ‘hari’, dan pandangan tentang ‘makanan’. Keduanya berkenaan dengan agama Yahudi. Yang tentang ‘hari’, berurusan dengan Sabat Yahudi dan hari-hari raya maupun puasa mereka, dan yang tentang ‘makanan’ berkenaan dengan makan daging yang telah dipersembahkan kepada berhala. Kalau yang tentang ‘hari’ diterapkan pada Sabat Kristen / hari Minggu, itu sama salahnya dengan kalau yang tentang ‘makanan’ diterapkan pada Perjamuan Kudus.

 

3.   Gal 4:7-11 - “(7) Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah. (8) Dahulu, ketika kamu tidak mengenal Allah, kamu memperhambakan diri kepada allah-allah yang pada hakekatnya bukan Allah. (9) Tetapi sekarang sesudah kamu mengenal Allah, atau lebih baik, sesudah kamu dikenal Allah, bagaimanakah kamu berbalik lagi kepada roh-roh [KJV: ‘elements’ (= elemen-elemen)] dunia yang lemah dan miskin dan mau mulai memperhambakan diri lagi kepadanya? (10) Kamu dengan teliti memelihara hari-hari tertentu, bulan-bulan, masa-masa yang tetap dan tahun-tahun. (11) Aku kuatir kalau-kalau susah payahku untuk kamu telah sia-sia”.

 

Baik Adam Clarke maupun Barnes menganggap bahwa istilah-istilah dalam text Galatia ini berkenaan dengan Sabat Yahudi dan hari-hari raya Yahudi.

 

Tentang ketiga text di atas perhatikan komentar / penafsiran R. L. Dabney di bawah ini.

R. L. Dabney: “The facts in which all are agreed, which explain the Apostle’s meaning in these passages, are these: After the establishment of the new dispensation, the Christian converted from among the Jews had generally combined the practice of Judaism with the forms of Christianity. They observed the Lord’s day, baptism, and the Lord’s supper; but they also continued to keep the seventh day, the passover, and circumcision. At first it was proposed by them to enforce this double system on all Gentile Christian; but this project was rebuked by the meeting of apostles and elders at Jerusalem, recorded in Acts 15. A large part, however, of the Jewish Christians, out of whom ultimately grew the Ebionite sect, continued to observe the forms of both dispensations; and restless spirits among the mixed churches of Jewish and Gentile converts planted by Paul, continued to attempt their enforcement on Gentiles also; some of them conjoining with this Ebionite theory the graver heresy of a justification by ritual observances. Thus, at this day, this spectacle was exhibited. In the mixed churches of Asia Minor and the West, some brethren went to the synagogue on Saturday, and to the church-meeting on Sunday, keeping both days religiously; while some kept only Sunday. Some felt bound to keep all the Jewish festivals and fasts, while others paid them no regard. And those who had not Christian light to apprehend these Jewish observances as non-essentials, found their consciences burdened or offended by the diversity. It was to quiet this trouble that the apostle wrote these passages. ... We, however, further assert, that by the beggarly elements of ‘days,’ ‘months,’ ‘times,’ ‘years,’ ‘holy-days,’ ‘new-moons,’ ‘Sabbath-days,’ the apostle means Jewish festivals, and those alone. The Christian’s festival, Sunday, is not here in question; because about the observance of this there was no dispute nor diversity in the Christian churches. Jewish and Gentile Christians alike consented universally in its sanctification. When Paul asserts that the regarding of a day, or the not regarding it, is a non-essential, like the eating or not eating of meats, the natural and fair interpretation is, that he means those days which were in debate, and no others. When he implies that some innocently ‘regarded every day alike,’ we should understand, every one of those days which were subjects of diversity - not the Christians’ Sunday, about which there was no dispute (= Fakta-fakta dalam mana semua orang setuju, yang menjelaskan maksud dari sang Rasul dalam text-text ini adalah ini: Setelah penegakan dari sistim agama yang baru, orang Kristen yang bertobat dari antara orang-orang Yahudi pada umumnya mengombinasikan praktek dari agama Yahudi dengan bentuk-bentuk dari kekristenan. Mereka memelihara / menghormati hari Tuhan, baptisan, dan Perjamuan Kudus; tetapi mereka juga terus memelihara hari ketujuh, Paskah, dan sunat. Mula-mula mereka bermaksud untuk memaksakan sistim ganda ini terhadap semua orang Kristen non Yahudi; tetapi rancangan ini dikecam oleh pertemuan rasul-rasul dan tua-tua di Yerusalem, yang dicatat dalam Kis 15. Tetapi sebagian besar dari orang-orang kristen Yahudi, dari mana akhirnya tumbuh sekte Ebionite, terus memelihara bentuk-bentuk dari kedua sistim agama; dan roh-roh yang resah di antara gereja-gereja campuran dari petobat-petobat Yahudi dan non Yahudi yang ditanam oleh Paulus, terus berusaha untuk memaksa orang-orang non Yahudi juga; sebagian dari mereka bergabung dengan teori Ebionite ini yang merupakan kesesatan yang lebih berat dari pembenaran oleh ketaatan ritual. Maka, pada saat ini, tontonan ini ditunjukkan. Dalam gereja-gereja campuran Asia Kecil dan di Barat, sebagian saudara-saudara pergi ke sinagog pada hari Sabtu, dan ke pertemuan / kebaktian gereja pada hari Minggu, memelihara kedua hari secara agamawi; sementara sebagian hanya memelihara hari Minggu. Sebagian merasa harus memelihara semua hari-hari raya dan hari-hari puasa Yahudi, sedangkan yang lain tidak mempedulikannya. Dan mereka yang tidak mempunyai terang Kristen untuk memahami bahwa pemeliharaan Yahudi ini sebagai sesuatu yang tidak penting, mendapati bahwa hati-hati nurani mereka dibebani atau tersinggung / tersandung oleh perbedaan ini. Untuk menenangkan problem inilah maka sang rasul menulis text-text ini. ... Tetapi kami selanjutnya menegaskan, bahwa dengan elemen-elemen / roh-roh yang miskin dari ‘hari-hari’, ‘bulan-bulan’, ‘masa-masa’, ‘tahun-tahun’, ‘hari-hari kudus / raya’, ‘bulan-bulan baru’, ‘hari-hari Sabat’, sang rasul memaksudkan hari-hari raya Yahudi, dan hanya hari-hari raya Yahudi itu saja. Hari raya Kristen, hari Minggu, tidak dipertanyakan / dipersoalkan di sini; karena tentang pemeliharaan terhadap hari ini tidak ada perdebatan ataupun perbedaan dalam gereja-gereja Kristen. Orang-orang kristen Yahudi maupun non Yahudi sama-sama setuju secara universal tentang pengudusan hari itu. Pada waktu Paulus menegaskan bahwa ‘menghormati suatu hari’, atau ‘tidak menghormati suatu hari’ merupakan hal yang tidak penting, seperti ‘makan daging’ atau ‘tidak makan daging’, penafsiran yang alamiah / wajar dan adil adalah bahwa ia memaksudkan hari-hari yang diperdebatkan, dan bukan hari-hari yang lain. Pada waktu ia secara implicit mengatakan bahwa sebagian secara tidak bersalah ‘menganggap semua hari sama’, kita harus mengertinya bahwa ia memaksudkan setiap hari dari hari-hari itu yang merupakan pokok perbedaan - bukan hari Minggunya orang Kristen, tentang mana di sana tidak ada perdebatan) - ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 385-386.

 

Kesimpulan: ketiga text di atas (Kol 2:16-17  Ro 14:5-6  Gal 4:9-11) berbicara tentang hari-hari raya dalam agama Yahudi, bukan tentang hari Sabat Kristen (Minggu), dan karena itu tidak bisa digunakan untuk mengatakan bahwa hari Sabat Kristen ditiadakan. Jelas bahwa text-text ini juga tidak bisa digunakan untuk menentang perayaan Natal, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang.

 

c)   Sabat merupakan type dari istirahat di surga, dan karena itu tidak mungkin dihapuskan sebelum anti type / penggenapannya terjadi.

 

Adam Clarke: “The word shabaat signifies ‘rest or cessation from labour,’ and the sanctification of the seventh day is commanded, ... for it typifies the rest which remains for the people of God, and in this light it evidently appears to have been understood by the apostle, Heb. 4. Because this commandment has not been particularly mentioned in the New Testament as a moral precept that is binding on all, therefore some have presumptuously inferred that there is no Sabbath under the Christian dispensation. The truth is, the Sabbath is considered as a type: All types are of full force till the thing signified by them takes place; but the thing signified by the Sabbath is that rest in glory which remains for the people of God, therefore the moral obligation of the Sabbath must continue till time be swallowed up in eternity (= Kata SHABAAT berarti ‘istirahat atau berhenti dari pekerjaan’, dan pengudusan hari ketujuh diperintahkan, ... karena itu merupakan type dari istirahat yang tertinggal bagi umat Allah, dan jelas dalam terang ini itu terlihat telah dimengerti oleh sang rasul, Ibr 4. Karena perintah ini tidak disebutkan secara khusus dalam Perjanjian Baru sebagai perintah moral yang mengikat semua orang, maka sebagian orang secara lancang menyimpulkan bahwa tidak ada Sabat dalam sistim Kristen. Kebenarannya adalah, Sabat dianggap sebagai type: Semua type berlaku sampai hal yang dibayangkan olehnya terjadi; tetapi hal yang dibayangkan oleh Sabat adalah istirahat dalam kemuliaan yang tertinggal bagi umat Allah, dan karena itu, kewajiban Sabat harus terus berlaku sampai waktu ditelan dalam kekekalan).

 

Ibr 4:4-11 - “(4) Sebab tentang hari ketujuh pernah dikatakan di dalam suatu nas: ‘Dan Allah berhenti pada hari ketujuh dari segala pekerjaanNya.’ (5) Dan dalam nas itu kita baca: ‘Mereka takkan masuk ke tempat perhentianKu.’ (6) Jadi sudah jelas, bahwa ada sejumlah orang akan masuk ke tempat perhentian itu, sedangkan mereka yang kepadanya lebih dahulu diberitakan kabar kesukaan itu, tidak masuk karena ketidaktaatan mereka. (7) Sebab itu Ia menetapkan pula suatu hari, yaitu ‘hari ini’, ketika Ia setelah sekian lama berfirman dengan perantaraan Daud seperti dikatakan di atas: ‘Pada hari ini, jika kamu mendengar suaraNya, janganlah keraskan hatimu!’ (8) Sebab, andaikata Yosua telah membawa mereka masuk ke tempat perhentian, pasti Allah tidak akan berkata-kata kemudian tentang suatu hari lain. (9) Jadi masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat Allah. (10) Sebab barangsiapa telah masuk ke tempat perhentianNya, ia sendiri telah berhenti dari segala pekerjaannya, sama seperti Allah berhenti dari pekerjaanNya. (11) Karena itu baiklah kita berusaha untuk masuk ke dalam perhentian itu, supaya jangan seorangpun jatuh karena mengikuti contoh ketidaktaatan itu juga”.

 

Memang type hanya berlaku sampai anti-typenya / penggenapannya terjadi. Contoh: korban binatang untuk dosa merupakan type dari Kristus yang dikorbankan untuk dosa kita. Pada waktu Kristus telah dikorbankan di atas kayu salib, maka typenya dihapuskan. Demikian juga imam merupakan type dari Kristus sebagai pengantara. Pada saat Kristus telah datang, mati di salib, maka imam harus disingkirkan.

Tetapi karena Sabat merupakan type dari istirahat di surga, itu belum terjadi / tergenapi sampai kita masuk surga. Karena itu, kewajiban berkenaan dengan Sabat terus berlaku.

 

III) Larangan dan keharusan pada hari Sabat.

 

Sekalipun hari Sabat diubah / dipindahkan dari Sabtu ke Minggu, tetapi hukum-hukumnya (larangan dan kewajibannya) tetap!

 

The Biblical Illustrator (Old Testament) tentang Kel 20:8-11: “Though the day be changed under the Christian dispensation, the obligation of it remains unaltered” (= Sekalipun harinya diubah dalam jaman Kristen, kewajiban tentangnya tetap tak berubah).

 

Matthew Henry (tentang Yes 58:13): “there remaining still a sabbatism for the people of God, this law of the sabbath is still binding to us on our Lord’s day” (= di sana tetap ada suatu ajaran Sabat bagi umat Allah, hukum tentang Sabat ini tetap mengikat bagi kita pada hari Tuhan).

 

Ay 8 mengatakan bahwa kita harus mengingat dan menguduskan hari Sabat.

Ay 8: “Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat”.

 

Arti kata ‘kudus’:

1)   Terpisah dari / berbeda dengan.

Misalnya:

a)         Bangsa Israel disebut sebagai bangsa yang kudus (Im 20:24,26).

b)         Orang Kristen disebut sebagai orang kudus (Ef 1:1  1Pet 2:9).

2)   Diperuntukkan bagi Allah.

a)         Bangsa Israel adalah bangsa milik Allah (Im 20:26).

b)         Orang Kristen juga menjadi milik Allah (1Pet 2:9).

 

Kalau kita diperintahkan untuk menguduskan hari Sabat, maka itu berarti kita harus memisahkan hari Sabat dari hari-hari yang lain, atau kita harus membedakan hari Sabat dari hari-hari yang lain (arti 1), dan kita harus menggunakan hari Sabat itu untuk Tuhan (arti 2).

 

Apa tindakan konkrit yang dilarang dan yang harus dilakukan untuk menguduskan hari Sabat itu?

 

1.   Pada hari Sabat, kita dilarang bekerja.

Pada hari-hari biasa, kita bekerja, dan kita harus membedakan hari Sabat, dengan tidak bekerja pada hari itu. Kalau kita tetap bekerja pada hari Sabat, maka kita menyamakan hari itu dengan hari-hari yang lain, dan itu berarti kita tidak menguduskannya.

 

2.   Pada hari Sabat, kita harus berbakti kepada Tuhan.

 

D. L. Moody: “Men seem to think they have a right to change the holy day into a holiday (= Manusia kelihatannya mengira bahwa mereka mempunyai hak untuk mengubah hari yang kudus menjadi suatu hari libur) - ‘D. L. Moody On The Ten Commandments’, hal 58.

 

Bible Knowledge Commentary: “This was not to be a day of slothful inactivity but of spiritual service through religious observances” (= Ini tidak boleh menjadi suatu hari ketidak-aktifan yang malas, tetapi suatu kebaktian rohani melalui ketaatan agamawi).

 

Sekarang, mari kita menyoroti kedua hal di atas dengan lebih terperinci:

 

1)   Larangan bekerja pada hari Sabat.

 

a)         Penambahan peraturan / larangan Sabat oleh orang-orang Yahudi.

Hukum hari Sabat ditambahi dengan begitu banyak larangan dan peraturan oleh ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi.

 

1.   Banyaknya peraturan orang-orang Yahudi tentang hari Sabat.

 

William Barclay (tentang Yoh 3:1-6): “In the Bible itself we are simply told that we must remember the Sabbath day to keep it holy and that on that day no work must be done, either by a man or by his servants or his animals. Not content with that, the later Jews spent hour after hour and generation after generation defining what work is and listing the things that may and may not be done on the Sabbath day. The Mishnah is the codified scribal law. The scribes spent their lives working out these rules and regulations. In the Mishnah the section on the Sabbath extends to no fewer than twenty-four chapters. The Talmud is the explanatory commentary on the Mishnah, and in the Jerusalem Talmud the section explaining the Sabbath law runs to sixty-four and a half columns; and in the Babylonian Talmud it runs to one hundred and fifty-six double folio pages. And we are told about a rabbi who spent two and a half years in studying one of the twenty-four chapters of the Mishnah (= Dalam Alkitab sendiri kita hanya diberitahu bahwa kita harus mengingat hari Sabat dan menguduskannya dan bahwa pada hari itu tidak ada pekerjaan yang boleh dilakukan, apakah oleh seorang manusia atau oleh pelayan-pelayannya atau binatang-binatangnya. Tidak puas dengan itu, orang-orang Yahudi belakangan menghabiskan jam demi jam dan generasi demi generasi untuk mendefinisikan apakah ‘pekerjaan’ itu dan membuat daftar hal-hal yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan pada hari Sabat. Mishnah merupakan hukum dari ahli-ahli Taurat yang telah disusun dalam sebuah buku. Ahli-ahli Taurat menghabiskan hidup mereka untuk menyusun / menentukan peraturan-peraturan ini. Dalam Mishnah bagian / bab tentang hari Sabat mencapai tidak kurang dari 24 pasal. Kitab Talmud merupakan buku tafsiran yang menjelaskan tentang Mishnah, dan dalam Talmud Yerusalem bagian / bab yang menjelaskan tentang hari Sabat mencapai 64,5 kolom / artikel; dan dalam Talmud Babilonia itu mencapai 156 halaman dobel-folio. Dan kita diberi tahu tentang seorang rabi yang menghabiskan 2,5 tahun untuk mempelajari satu dari 24 pasal dari Mishnah) - hal 121.

 

2.   Macam-macam larangan dalam kalangan agama Yahudi berkenaan dengan hari Sabat.

 

a.   Larangan membawa ‘beban’ dan mempersiapkan makanan.

·        menuai, menampi, dan mengirik, dan mempersiapkan makanan.

·        merupakan sesuatu yang dilarang untuk membawa beban. Tetapi apakah beban itu? Beban adalah apapun yang sama beratnya dengan 2 buah ara kering, anggur yang cukup untuk membuat satu gelas minuman, susu yang cukup untuk satu teguk, madu cukup untuk diberikan pada suatu luka, minyak cukup untuk mengurapi anggota yang kecil, air cukup untuk membasahkan salep mata, kertas cukup untuk menuliskan pemberitahuan suatu rumah cukai, tinta cukup untuk menuliskan 2 huruf dari alfabet, bambu cukup untuk membuat sebuah pena, dan seterusnya tanpa ada akhirnya.

Demikianlah mereka menghabiskan banyak waktu untuk berdebat apakah seseorang boleh atau tidak boleh mengangkat sebuah lampu dari satu tempat ke tempat lain pada hari Sabat, apakah seorang perempuan boleh memakai rambut palsu, bahkan apakah seseorang boleh pergi keluar pada hari Sabat dengan gigi palsu atau kaki palsu, apakah seseorang boleh mengangkat anaknya pada hari Sabat.

·        seseorang berdosa jika ia membawa sebuah jarum di jubahnya pada hari Sabat.

·        bros dari jenis apapun tidak boleh dipakai pada hari Sabat.

·        Seseorang tidak boleh keluar pada hari Sabat dengan sandal yang menggunakan paku, karena berat dari paku-paku itu merupakan suatu beban, dan membawa beban berarti melanggar hari Sabat.

 

b.   Larangan bepergian / melakukan perjalanan jauh.

Perjalanan pada hari Sabat dibatasi pada 2000 hasta, yaitu 1000 yard.

Catatan: 1 yard = 3 kaki (kira-kira 91,5 cm). Berdasarkan kata-kata Barclay ini, jarak yang boleh ditempuh pada hari Sabat hanyalah sekitar 914 meter.

Kalau saudara mau tahu dari mana mereka mendapatkan jarak ini, maka perhatikan ayat-ayat ini:

·         Kis 1:12 - “Maka kembalilah rasul-rasul itu ke Yerusalem dari bukit yang disebut Bukit Zaitun, yang hanya seperjalanan Sabat jauhnya dari Yerusalem”.

·         Kel 16:29 - “Perhatikanlah, TUHAN telah memberikan sabat itu kepadamu; itulah sebabnya pada hari keenam Ia memberikan kepadamu roti untuk dua hari. Tinggallah kamu di tempatmu masing-masing, seorangpun tidak boleh keluar dari tempatnya pada hari ketujuh itu.’”.

 

Barnes’ Notes (tentang Kis 1:12): “‘A sabbath-day’s journey.’ As far as might be lawfully traveled by a Jew on the Sabbath. This was 2,000 paces or cubits, or seven furlongs and a half - not quite one mile. .. The distance of a lawful journey on the Sabbath was not fixed by the laws of Moses, but the Jewish teachers had fixed it at 2,000 paces. This measure was determined on because it was a tradition that in the camp of the Israelites, when coming from Egypt, no part of the camp was more than 2000 paces from the tabernacle, and over this space, therefore, they were permitted to travel for worship” (= ‘Seperjalanan Sabat’. Jarak yang secara sah boleh ditempuh oleh seorang Yahudi pada hari Sabat. Ini adalah 2000 langkah atau hasta, atau 7 ½ furlongs - tidak sampai 1 mil. ... Jarak yang boleh ditempuh pada hari Sabat tidak ditentukan oleh hukum Taurat Musa, tetapi guru-guru Yahudi telah menentukannya sejauh 2000 langkah. Ukuran ini ditentukan karena merupakan tradisi bahwa dalam perkemahan dari bangsa Israel, pada waktu keluar dari Mesir, tidak ada bagian dari perkemahan yang lebih dari 2000 langkah dari Kemah Suci, dan karena itu melalui jarak inilah mereka diijinkan untuk berjalan untuk berbakti).

Catatan:

¨       saya merasa ada yang aneh dalam kata-kata Barnes ini, karena sebetulnya ‘langkah’ jauh berbeda dengan ‘hasta’.

¨       dalam kamus dikatakan bahwa 1 furlong = 201 meter. Jadi 7 ½ furlongs = sekitar 1,5 km. Jadi, agak lebih jauh dari yang dikatakan oleh Barclay.

 

Pulpit Commentary (tentang Kel 16:29): “‘Abide ye every man in his place.’ ... generally it was held that the ‘place’ intended was the camp, which the Israelites were forbidden to quit; and hence was derived the idea of the ‘sabbath day’s journey,’ which was reckoned at six stadia - the supposed distance of the furthest bounds of the camp from its centre” (= ‘Tinggallah kamu di tempatmu masing-masing’. ... pada umumnya dianggap bahwa ‘tempat’ yang dimaksudkan adalah perkemahan, dari mana orang Israel dilarang meninggalkan; dan karena itu didapatkan gagasan tentang ‘seperjalanan Sabat’, yang diperhitungkan pada 6 stadia - jarak yang dianggap sebagai batasan terjauh dari perkemahan dari pusatnya).

Catatan: 1 stadium (bentuk tunggal dari stadia) kurang lebih sama dengan 180-190 meter. Jadi, 6 stadia kurang lebih sama dengan 1,1 km.

 

Barnes’ Notes (tentang Kel 16:29): “‘Abide ye every man in his place.’ ... The prohibition must however be understood with reference to its immediate object; they were not to go forth from their place in order to gather manna, which was on other days without the camp. The spirit of the law is sacred rest” (= ‘Tinggallah kamu di tempatmu masing-masing’. ... Tetapi larangan ini harus dimengerti berkenaan dengan obyek / tujuan saat itu; mereka tidak boleh keluar dari tempat mereka untuk mengumpulkan manna, yang pada hari-hari yang lain ada di luar perkemahan. Roh / arti sebenarnya dari hukum ini adalah istirahat yang kudus).

 

Kesimpulan: lagi-lagi orang-orang Yahudi melakukan penafsiran yang salah tentang ayat Kitab Suci (Kel 16:29) sehingga akhirnya mendapatkan jarak yang tidak boleh dilampaui pada hari Sabat.

 

c.   Larangan mengobati / menyembuhkan.

·        Dalam kasus dimana nyawa ada dalam bahaya maka boleh dilakukan penanganan, khususnya seperti kasus penyakit telinga, hidung, tenggorokan, dan mata. Tetapi bahkan dalam kasus seperti itu, langkah-langkah bisa diambil hanya untuk mencegah kematian / supaya orang itu jangan menjadi lebih buruk, tetapi bukan untuk menyembuhkannya / membuatnya lebih baik.

·        Seorang perempuan yang mau melahirkan boleh ditolong pada hari Sabat.

·        Jika sebuah tembok rubuh dan menimpa seseorang, tembok itu boleh disingkirkan secukupnya untuk melihat apakah ia mati atau hidup; jika ia hidup ia boleh ditolong, jika ia mati mayatnya harus dibiarkan sampai hari berikutnya.

·        Perban biasa boleh diberikan pada suatu luka, tetapi bukan perban yang menggunakan obat.

·        Dilarang untuk membetulkan letak dari kaki / tangan yang patah. Tulang patah tidak boleh dirawat. Air dingin tidak boleh dituangkan pada tangan atau kaki yang terkilir / keluar dari posisinya.

 

d.   Larangan menulis.

Menulis pada hari Sabat dianggap sebagai bekerja. Tetapi ‘menulis’ perlu didefinisikan. Ia yang menulis 2 huruf dari alfabet dengan tangan kanan atau tangan kirinya, apakah dari satu jenis atau 2 jenis, jika huruf-huruf itu ditulis dengan tinta yang berbeda atau dalam bahasa yang berbeda, bersalah. Bahkan jika ia menulis 2 huruf karena lupa, ia bersalah, apakah ia telah menulis huruf-huruf itu dengan tinta atau dengan cat, kapur merah, benda tajam, atau apapun yang membuat tanda permanen. Juga ia yang menulis pada 2 dinding yang membentuk suatu sudut, atau pada 2 lembaran dari buku catatan / rekeningnya sehingga huruf-huruf itu bisa dibaca bersama-sama, ia bersalah ... Tetapi jika seseorang menulis dengan cairan gelap, dengan air buah, atau di tanah di jalanan, atau pada pasir, atau pada apapun yang tidak membuat tanda permanen, ia tidak bersalah. ... Jika ia menulis satu huruf di tanah, dan satu di dinding rumah, atau pada 2 halaman dari suatu buku, sehingga huruf-huruf itu tidak bisa dibaca bersama-sama, ia tidak bersalah.

 

e.   Larangan menyalakan api / lampu.

Sampai hari ini ada orang-orang Yahudi orthodox yang ketat di negeri ini yang tidak akan memperbaiki nyala api pada hari Sabat atau menyalakan skakelar lampu. Jika api harus dikobarkan seorang non Yahudi digunakan untuk melakukannya. Jika seorang Yahudi cukup kaya, ia kadang-kadang akan memasang ‘skakelar waktu’ yang akan menyalakan lampu (secara otomatis) pada sore hari pada hari Sabat tanpa ia melakukannya sendiri.

 

f.    Larangan membuat simpul.

Mengikat / membuat simpul pada hari Sabat adalah bekerja; dan seseorang sama bersalahnya dengan membuat simpul maupun melepaskan / menguraikannya. Tetapi suatu simpul perlu didefinisikan. Ada yang boleh dibuat, ada yang tidak boleh.

·        Simpul yang dilarang: simpul dari penunggang-penunggang unta dan simpul dari pelaut.

·        Simpul yang bisa dibuat / diikat atau dilepaskan / diuraikan dengan satu tangan adalah simpul yang boleh dilakukan.

·        Seorang perempuan boleh mengikat suatu celah pada pakaiannya, dan tali pada topi dan pada sabuknya, tali pengikat dari sepatu atau sandal, dari kantong kulit dari anggur dan minyak.

 

g.   Larangan berperang / membela diri.

William Barclay (tentang Mark 3:1-6): “a strict Jew would not even defend his life on the Sabbath” (= seorang Yahudi yang ketat bahkan tidak akan mempertahankan dirinya / nyawanya pada hari Sabat) - hal 67-68.

Orang-orang Syria dan Romawi pernah mengalahkan orang-orang Yahudi dengan cara berperang pada hari Sabat, dan orang-orang Yahudi itu sama sekali tidak mau membela diri sehingga mereka dapat dibunuh dengan mudah.

Salah satu cerita dimana orang-orang Yahudi tidak mau berperang dan rela membiarkan diri dibunuh, karena musuh menyerang pada hari Sabat, terdapat dalam kitab Apocrypha, yaitu 1Makabe 2:31-38. Pada saat itu sekitar 1000 orang Yahudi dibunuh pada hari Sabat. Ini menyebabkan seorang Yahudi yang bernama Matatias lalu mengubah prinsip itu, dan memutuskan untuk berperang kalau diserang pada hari Sabat (1Makabe 2:41).

Catatan:

·        Kitab apocrypha tidak kita akui sebagai Firman Tuhan, tetapi paling-paling sebagai buku kuno / sejarah.

·        Larangan perang / pembelaan diri pada hari Sabat ini kelihatannya bertentangan dengan peristiwa dalam Yos 6:15  1Raja 20:29  2Raja 3:9.

 

h.   Macam-macam larangan yang lain.

·        Seseorang tidak boleh mengisi tempat minyak dengan minyak dan meletakkannya di sisi lampu dan memasukkan ujung sumbu ke dalamnya.

·        Jika seseorang mematikan sebuah lampu pada hari Sabat untuk menghemat lampu atau minyak atau sumbunya, ia bersalah.

·        Seseorang tidak boleh menggunting kuku jarinya atau mencabut rambut dari kepalanya atau janggutnya.

·        Dilarang melakukan hubungan sex dengan istri.

·        Dilarang menunggang binatang apapun, atau bepergian dengan kapal di laut.

·        Dilarang memukul atau membunuh apapun, atau menangkap seekor binatang, burung, atau ikan.

·        Dilarang berpuasa pada hari Sabat.

Puasa justru dilarang pada hari Sabat, karena hari Sabat dianggap sebagai hari pesta / perayaan. Makanan justru merupakan bagian penting dari perayaan hari Sabat - ‘From Sabbath to Lord’s Day’, hal 50.

 

i.    C. Rowland mengatakan bahwa ada kelompok Yahudi yang bernama The Essenes, yang bahkan melarang seseorang buang air besar pada hari Sabat! - ‘From Sabbath to Lord’s Day’, hal 46.

 

3.   Pertentangan antara Yesus dan ahli-ahli Taurat / orang-orang Farisi pada jamanNya.

Ada banyak text-text Kitab Suci yang menunjukkan pertentangan antara Yesus dan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi berkenaan dengan larangan / peraturan hari Sabat, seperti dalam Mat 12:1-13 (bdk. Mark 2:23-3:6  Luk 6:1-11)  Luk 13:10-17  Luk 14:1-6  Yoh 5:1-18  Yoh 7:22-23  Yoh 9:1-16. Dari text-text yang menunjukkan pertentangan antara Yesus dan orang-orang Yahudi dalam persoalan hukum Sabat ini, kita bisa menyimpulkan bahwa dalam pandangan Yesus ada hal-hal / pekerjaan yang boleh dilakukan pada hari Sabat, yaitu:

 

a.   Pekerjaan / hal darurat yang betul-betul dibutuhkan.

Luk 14:5 - “Kemudian Ia berkata kepada mereka: ‘Siapakah di antara kamu yang tidak segera menarik ke luar anaknya atau lembunya kalau terperosok ke dalam sebuah sumur, meskipun pada hari Sabat?’”.

Pekerjaan yang berhubungan dengan keadaan darurat ini jelas mencakup perang / pembelaan diri. Bdk. Yos 6:15  1Raja 20:29  2Raja 3:9.

 

b.         Menolong orang / berbuat baik.

Mat 12:10-13 - “(10) Di situ ada seorang yang mati sebelah tangannya. Mereka bertanya kepadaNya: ‘Bolehkah menyembuhkan orang pada hari Sabat?’ Maksud mereka ialah supaya dapat mempersalahkan Dia. (11) Tetapi Yesus berkata kepada mereka: ‘Jika seorang dari antara kamu mempunyai seekor domba dan domba itu terjatuh ke dalam lobang pada hari Sabat, tidakkah ia akan menangkapnya dan mengeluarkannya? (12) Bukankah manusia jauh lebih berharga dari pada domba? Karena itu boleh berbuat baik pada hari Sabat.’ (13) Lalu kata Yesus kepada orang itu: ‘Ulurkanlah tanganmu!’ Dan ia mengulurkannya, maka pulihlah tangannya itu, dan menjadi sehat seperti tangannya yang lain”.

Karena itu janganlah menggunakan hukum Sabat ini sebagai alasan untuk tidak menolong orang yang membutuhkan pertolongan.

 

Diijinkannya kita untuk berbuat baik pada hari Sabat menyebabkan adanya tempat-tempat yang boleh tetap buka pada hari Sabat, seperti rumah sakit, apotik. Tetapi motivasinya bukan untuk mencari uang, tetapi untuk berbuat baik / melayani / menolong orang. Tentu bukannya semua lalu digratiskan. Mereka tetap boleh menarik bayaran, tetapi itu tidak boleh menjadi motivasi mereka.

 

c.         Melayani Tuhan.

Mat 12:5 - “Atau tidakkah kamu baca dalam kitab Taurat, bahwa pada hari-hari Sabat, imam-imam melanggar hukum Sabat di dalam Bait Allah, namun tidak bersalah?”.

 

Jadi, hamba Tuhan yang ‘bekerja’ / melayani pada hari Minggu, tidak bersalah. Sebaliknya, ia melakukan sesuatu yang baik. Pelayanan pada hari Minggu bukanlah termasuk bekerja, dan karena itu bukan merupakan pelanggaran terhadap hukum hari Sabat.

Tetapi lalu bagaimana dengan istirahat Sabat bagi hamba Tuhan? Ada orang-orang yang mengatakan bahwa hamba Tuhan harus mempunyai hari Sabat / hari istirahat di luar hari Minggu. Tetapi dari Kitab Suci maupun dari buku-buku manapun, saya tidak pernah membaca / menemukan bahwa imam-imam pada jaman Perjanjian Lama mempunyai hari Sabat / hari istirahat di luar hari Sabtu. Jadi, menurut saya, Kitab Suci tidak mengharuskan hamba Tuhan untuk mempunyai satu hari istirahat, tetapi juga tidak melarangnya. Kalau seorang hamba Tuhan ingin mempunyai hari istirahat, dan memilih satu hari tertentu (selain Minggu) sebagai hari istirahatnya, saya berpendapat bahwa ia berhak melakukannya.

 

b)   Ada banyak hal / pekerjaan yang memang tidak boleh kita lakukan pada hari Sabat.

 

Kalau orang-orang Yahudi menambahi larangan / peraturan Sabat sehingga menjadi terlalu ketat, maka pada jaman sekarang, boleh dikatakan semua orang Kristen jatuh (mungkin secara jauh lebih buruk) pada extrim sebaliknya, yaitu mengabaikan sebagian / seluruh larangan / peraturan Sabat.

 

Karena itu, perhatikanlah hal-hal yang tidak boleh dilakukan pada hari Sabat di bawah ini:

 

1.   Kita tidak boleh melakukan pekerjaan sehari-hari.

 

Kel 20:9-10 - “(9) enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, (10) tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu”.

 

a.   Perhatikan Kel 20:9 - “enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu”.

 

Kita tidak boleh menjadi pemalas yang tidak mau bekerja. Kita disuruh untuk bekerja. Tetapi, semua pekerjaan itu harus dilakukan dalam 6 hari. Untuk itu perhatikan kata ‘segala’ dalam ay 9 di atas. Saya berpendapat bahwa penekanan dari ay 9 ini bukanlah bahwa kita harus bekerja selama 6 hari itu, tetapi bahwa segala pekerjaan harus diselesaikan dalam 6 hari sehingga tidak ada pekerjaan yang tersisa untuk hari Sabat.

 

Pulpit Commentary (tentang Kel 20:9): “Verse 9. - ‘Six days shalt thou labour.’ This is not so much a command as a prohibition. ‘Thou shalt not labor more than six (consecutive) days.’ In them thou shalt do all thy necessary work, so as to have the Sabbath free for the worship and service of God” [= Ayat 9. - ‘Enam hari lamanya engkau akan bekerja’. Ini lebih merupakan suatu larangan dari pada suatu perintah. ‘Engkau tidak boleh bekerja lebih dari enam hari (berturut-turut)’. Dalam hari-hari itu engkau harus melakukan semua pekerjaanmu yang perlu, sehingga membebaskan hari Sabat untuk penyembahan dan kebaktian / pelayanan Allah].

 

Jadi, bekerja ataupun lembur pada hari Sabat jelas tidak diijinkan. Pada masa sibukpun hari Sabat harus tetap menjadi hari istirahat.

Bdk. Kel 34:21 - “Enam harilah lamanya engkau bekerja, tetapi pada hari yang ketujuh haruslah engkau berhenti, dan dalam musim membajak dan musim menuai haruslah engkau memelihara hari perhentian juga”.

Masa menabur dan menuai jelas merupakan masa paling sibuk. Tetapi Firman Tuhan tidak mengenal kompromi dan tetap memerintahkan untuk memelihara Sabat sebagai hari perhentian / istirahat pada saat seperti itu.

Penerapan:

·        Ini berlaku untuk siswa / mahasiswa yang sedang ujian. Kalau mereka kuatir tidak lulus karena harus punya 1 hari istirahat dalam 1 minggu, maka perlu mereka camkan bahwa Tuhan bisa memberkati masa belajar 6 hari, dibandingkan dengan masa belajar 7 hari tanpa istirahat, dalam 1 minggu!

·        Ini juga berlaku untuk orang yang merasa bahwa dengan bekerja 7 hari dalam 1 minggu ia masih belum mendapat uang yang cukup untuk hidupnya. Bagaimana mungkin harus ‘membuang’ 1 hari untuk istirahat? Ingat, Tuhan bisa memberkati 6 hari kerja lebih dari 7 hari kerja dalam 1 minggu! Bdk. Mat 6:33 - “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu”.

 

Bandingkan dengan orang yang 100 % gajinya tidak mencukupi, tetapi dengan memberikan 10 % untuk Tuhan sebagai persembahan persepuluhan, malah dengan 90 % ia bisa mencukupi hidupnya. Tuhan ada di atas matematik! Ini juga berlaku bagi orang-orang, yang karena ingin memelihara hari Sabat, tidak bekerja / belajar pada hari itu!

 

Bible Knowledge Commentary (tentang Yes 58:13): “By following the rules for the Sabbath a person acknowledged the importance of worshiping God and showed that he depended on God to bless him materially for that time he took off from work” (= Dengan mengikuti peraturan-peraturan untuk Sabat seseorang mengakui pentingnya penyembahan Allah dan menunjukkan bahwa ia tergantung kepada Allah untuk memberkatinya secara material untuk waktu yang ia ambil dari pekerjaan).

 

Kalau kita melanggar hukum hari Sabat dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan, maka perhatikan kutipan di bawah ini.

D. L. Moody: “When the children of Israel went into the Promised Land, God told them to let their land rest every seven years, and He would give them as much in six years as in seven. For four hundred and ninety years they disregarded that law. But mark you, Nebuchadnezzar came and took them off into Babylon, and kept them seventy years in captivity, and the land had its seventy sabbaths of rest. Seven times seventy is four hundred and ninety. So they did not gain much by breaking this law. You can give God His day, or He will take it” (= Pada waktu bangsa Israel masuk ke Tanah Perjanjian, Allah memberitahu mereka untuk membiarkan tanah mereka beristirahat setiap 7 tahun, dan Ia akan memberikan kepada mereka sama banyaknya dalam 6 tahun seperti dalam 7 tahun. Selama 490 tahun mereka mengabaikan hukum tersebut. Tetapi perhatikan, Nebukadnezar datang dan membawa mereka ke Babilonia, dan menaruh mereka 70 tahun dalam pembuangan, dan tanah itu mendapatkan 70 x istirahat Sabatnya. 7 x 70 = 490. Jadi, mereka tidak mendapatkan keuntungan dengan melanggar hukum ini. Kamu bisa memberikan kepada Allah hariNya, atau Ia akan mengambilnya sendiri) - ‘D. L. Moody On The Ten Commandments’, hal 61.

 

b.   Perhatikan Kel 20:10 - “tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu”.

 

Ada beberapa hal yang harus ditekankan / dijelaskan tentang Kel 20:10 ini:

 

·        seluruh, bukan sebagian dari, hari ketujuh itu adalah hari Sabat Tuhan! Jadi, jangan mempunyai pandangan bahwa kalau saudara sudah berbakti kepada Tuhan pada hari Minggu, maka saudara boleh menggunakan sisa hari itu sesuka saudara sendiri! Seluruh hari Minggu adalah hari Sabat Tuhan!

 

·        bukan hanya kita yang tidak boleh bekerja, tetapi juga pegawai, anak-anak, dan bahkan binatang (lembu untuk membajak dsb)!

Kita tidak boleh mempekerjakan pegawai  / pelayan, dan kita juga tidak boleh menyuruh anak kita untuk belajar! Mereka juga membutuhkan istirahat! Ada 6 hari untuk bekerja / belajar bagi mereka; biarkan mereka beristirahat pada hari Sabat.

Ini perlu dicamkan oleh para boss, yang sering mengharuskan pegawai-pegawainya untuk lembur / tetap bekerja pada hari Minggu. Juga oleh para majikan, yang mengharuskan pembantu rumah tangga tetap bekerja pada hari Minggu.

Ini juga perlu dicamkan oleh para orang tua, khususnya mereka yang kadang-kadang menghukum anaknya dengan melarang pergi ke gereja dan menyuruhnya belajar di rumah, karena anak itu mendapatkan nilai / rapor yang jelek. Hukumlah anak dengan cara lain, bukan dengan menyuruh mereka berdosa dengan melanggar peraturan Sabat!

Ini merupakan sesuatu yang sangat sukar untuk dilakukan. Pikirkan tentang naik becak atau taxi. Tidakkah kita mempekerjakan mereka? Lalu bagaimana kita ke gereja kalau misalnya mobil kita mogok dsb? Kalau kita membeli bensin / solar, tidakkah kita mempekerjakan pegawai pompa bensin itu?

 

·        mengapa ‘istri’ tidak disebutkan?

Matthew Henry mengatakan bahwa ‘istri’ tidak disebutkan, karena ia dianggap sebagai satu dengan suami.

 

Sekarang mari kita melihat 2 text Kitab Suci lain (selain Kel 20:9-10), yang menekankan larangan bekerja pada hari Sabat, dan juga beberapa komentar dari para penafsir tentang text-text tersebut.

 

Text pertama: Yer 17:21-27 - “(21) Beginilah firman TUHAN: Berawas-awaslah demi nyawamu! Janganlah mengangkut barang-barang pada hari Sabat dan membawanya melalui pintu-pintu gerbang Yerusalem! (22) Janganlah membawa barang-barang dari rumahmu ke luar pada hari Sabat dan janganlah lakukan sesuatu pekerjaan, tetapi kuduskanlah hari Sabat seperti yang telah Kuperintahkan kepada nenek moyangmu. (23) Namun mereka tidak mau mendengarkan dan tidak mau memperhatikannya, melainkan mereka berkeras kepala, sehingga tidak mau mendengarkan dan tidak mau menerima tegoran. (24) Apabila kamu sungguh-sungguh mendengarkan Aku, demikianlah firman TUHAN, dan tidak membawa masuk barang-barang melalui pintu-pintu gerbang kota ini pada hari Sabat, tetapi menguduskan hari Sabat dan tidak melakukan sesuatu pekerjaan pada hari itu, (25) maka melalui pintu-pintu gerbang kota ini akan berarak masuk raja-raja dan pemuka-pemuka, yang akan duduk di atas takhta Daud, dengan mengendarai kereta dan kuda: mereka dan pemuka-pemuka mereka, orang-orang Yehuda dan penduduk Yerusalem. Dan kota ini akan didiami orang untuk selama-lamanya. (26) Orang akan datang dari kota-kota Yehuda dan dari tempat-tempat sekitar Yerusalem, dari tanah Benyamin dan dari Daerah Bukit, dari pegunungan dan dari tanah Negeb, dengan membawa korban bakaran, korban sembelihan, korban sajian dan kemenyan, membawa korban syukur ke dalam rumah TUHAN. (27) Tetapi apabila kamu tidak mendengarkan perintahKu untuk menguduskan hari Sabat dan untuk tidak masuk mengangkut barang-barang melalui pintu-pintu gerbang Yerusalem pada hari Sabat, maka di pintu-pintu gerbangnya Aku akan menyalakan api, yang akan memakan habis puri-puri Yerusalem, dan yang tidak akan terpadamkan.’”.

 

Yang dilarang oleh text ini sebetulnya bukan mengangkut barang, tetapi mengangkut barang dengan tujuan berjualan / berdagang. Jadi, text ini jelas menentang orang berjualan pada hari Sabat. Dan kalau menjual dilarang, maka membeli pasti juga tidak boleh.

 

Text kedua: Neh 13:15-22 - “(15) Pada masa itu kulihat di Yehuda orang-orang mengirik memeras anggur pada hari Sabat, pula orang-orang yang membawa berkas-berkas gandum dan memuatnya di atas keledai, juga anggur, buah anggur dan buah ara dan pelbagai muatan yang mereka bawa ke Yerusalem pada hari Sabat. Aku memperingatkan mereka ketika mereka menjual bahan-bahan makanan. (16) Juga orang Tirus yang tinggal di situ membawa ikan dan pelbagai barang dagangan dan menjual itu kepada orang-orang Yehuda pada hari Sabat, bahkan di Yerusalem. (17) Lalu aku menyesali pemuka-pemuka orang Yehuda, kataku kepada mereka: ‘Kejahatan apa yang kamu lakukan ini dengan melanggar kekudusan hari Sabat? (18) Bukankah nenek moyangmu telah berbuat demikian, sehingga Allah kita mendatangkan seluruh malapetaka ini atas kita dan atas kota ini? Apakah kamu bermaksud memperbesar murka yang menimpa Israel dengan melanggar kekudusan hari Sabat?’ (19) Kalau sudah remang-remang di pintu-pintu gerbang Yerusalem menjelang hari Sabat, kusuruh tutup pintu-pintu dan kuperintahkan supaya jangan dibuka sampai lewat hari Sabat. Dan aku tempatkan beberapa orang dari anak buahku di pintu-pintu gerbang, supaya tidak ada muatan yang masuk pada hari Sabat. (20) Tetapi orang-orang yang berdagang dan berjualan rupa-rupa barang itu kemudian bermalam juga di luar tembok Yerusalem satu dua kali. (21) Lalu aku memperingatkan mereka, kataku: ‘Mengapa kamu bermalam di depan tembok? Kalau kamu berbuat itu sekali lagi akan kukenakan tanganku kepadamu.’ Sejak waktu itu mereka tidak datang lagi pada hari Sabat. (22) Juga kusuruh orang-orang Lewi mentahirkan dirinya dan datang menjaga pintu-pintu gerbang untuk menguduskan hari Sabat. Ya Allahku, ingatlah kepadaku juga karena hal itu dan sayangilah aku menurut kasih setiaMu yang besar!”.

Catatan: agak aneh bahwa anak buah Nehemia dan orang-orang Lewi itu diijinkan (bahkan disuruh) bekerja menjaga pintu gerbang (ay 19,22). Mengapa mereka boleh bekerja? Mungkin itu bukan dianggap bekerja tetapi dianggap sebagai pelayanan.

 

Secara hurufiah, Nehemia hanya melarang berjualan, bukan membeli. Tetapi Matthew Henry mengecam baik yang berjualan maupun yang membeli (demikian juga dengan Albert Barnes dalam komentarnya tentang Yer 17:21).

Matthew Henry (tentang Neh 13:15-22): “The hawkers, and pedlars, and petty chapmen, that were men of Tyre, that famous trading city, ‘sold all manner of wares’ on the sabbath day (v. 16); and the children of Judah and Jerusalem had so little grace as to buy of them, and so encourage them in making our Father’s day a day of merchandise, contrary to the law of the fourth commandment, which forbids the ‘doing any manner of work.’” (= ).

Barnes’ Notes (tentang Yer 17:21): “The people of Jerusalem for their part took (Jer 17:22) their wares to the gates, and carried on a brisk traffic there with the villagers. Both parties seem to have abstained from manual labor, but did not consider that buying and selling were prohibited by the fourth commandment (= ).

Dan memang, kalau orang dilarang berjualan, maka sudah jelas bahwa orang juga dilarang membeli, karena para pembeli ini memotivasi para penjual untuk terus berjualan pada hari Sabat.

Jadi, shopping / berbelanja pada hari Sabat / Minggu, yang justru banyak dilakukan orang,  jelas merupakan suatu pelanggaran terhadap hukum keempat ini. Ini semua juga memotivasi pemilik toko untuk tetap buka pada hari Sabat / Minggu.

Bdk. Neh 10:31 - “Dan bilamana penduduk negeri membawa barang-barang dan berbagai-bagai gandum untuk dijual pada hari Sabat, kami tidak akan membelinya dari mereka pada hari Sabat atau pada hari yang kudus. Dan kami akan membiarkan begitu saja hasil tanah pada tahun yang ketujuh dan tidak akan menagih sesuatu hutang”.

Matthew Henry (tentang Neh 10:31): “They would not only not sell goods themselves for gain on that day, but they would not encourage the heathen to sell on that day by buying of them, no not victuals, under pretence of necessity; but would buy in their provisions for their families the day before, v. 31” (= ).

 

Catatan: memang ada tempat-tempat yang boleh buka pada hari Minggu, seperti misalnya rumah sakit dan apotik, karena ini berhubungan dengan hal-hal darurat. Tetapi mereka harus tetap memberi hari istirahat yang lain kepada pegawai-pegawainya. Dan kita tetap harus mengusahakan untuk tidak menggunakan jasa mereka pada hari Minggu, kecuali memang betul-betul perlu / mendesak.

 

Sesuatu yang penting untuk ditambahkan dalam persoalan larangan untuk bekerja pada hari Sabat ini adalah bahwa seseorang bisa ‘bekerja’ pada saat ia kelihatannya tidak bekerja!

The Biblical Illustrator (Old Testament) tentang Kel 20:8-11: “And by working on Sunday we do not mean only the formal going to the office or counting-room. We mean the carrying a man’s business about with him on that day; the taking it home and poisoning the fireside with it; the taking it to church and poisoning the church with it” (= Dan dengan bekerja pada hari Minggu kami tidak memaksudkan hanya kepergian formil ke kantor atau kantor bisnis. Kami memaksudkan tindakan membawa kesibukan / bisnis seseorang dengannya pada hari itu; tindakan membawanya ke rumah dan merusak rumah / kehidupan keluarga dengannya; tindakan membawanya ke gereja dan merusak gereja dengannya).

 

Penerapan: jadi orang yang tidak bekerja pada hari Minggu, dan lalu pergi ke gereja, bisa tetap melanggar larangan bekerja ini, yaitu kalau pada hari itu ia tetap ‘membawa’ pekerjaannya dalam pikirannya!

 

Jaman sekarang, pemberitaan larangan berkerja pada hari Sabat (Minggu) ini makin lama makin langka. Saya menduga banyak ‘hamba Tuhan’ yang justru senang kalau jemaatnya bekerja pada hari Sabat, karena itu mereka anggap bisa membuat jemaatnya makin banyak uang, sehingga makin banyak memberi persembahan juga! Tetapi ‘hamba Tuhan’ yang tidak mau memberitakan larangan ini dengan motivasi seperti itu, sebetulnya bukan hamba Tuhan tetapi hamba uang!

Mereka harus memperhatikan ancaman Firman Tuhan bagi orang yang membuang sesuatu dari Firman Tuhan, seperti yang ada dalam ayat-ayat di bawah ini:

Mat 5:19 - “Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga”.

Wah 22:18-19 - “(18) Aku bersaksi kepada setiap orang yang mendengar perkataan-perkataan nubuat dari kitab ini: ‘Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini. (19) Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini.’”.

 

2.   Kita tidak boleh memasak / mempersiapkan makanan.

Calvin menganggap bahwa memasak makanan termasuk pekerjaan yang dilarang pada hari Sabat. Dan bahwa Kitab Suci memang melarang untuk memasak / mempersiapkan makanan pada hari Sabat, terlihat dari text-text di bawah ini:

 

a.   Kel 16:4-5,22-30 - “(4) Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: ‘Sesungguhnya Aku akan menurunkan dari langit hujan roti bagimu; maka bangsa itu akan keluar dan memungut tiap-tiap hari sebanyak yang perlu untuk sehari, supaya mereka Kucoba, apakah mereka hidup menurut hukumKu atau tidak. (5) Dan pada hari yang keenam, apabila mereka memasak yang dibawa mereka pulang, maka yang dibawa itu akan terdapat dua kali lipat banyaknya dari apa yang dipungut mereka sehari-hari.’ ... (22) Dan pada hari yang keenam mereka memungut roti itu dua kali lipat banyaknya, dua gomer untuk tiap-tiap orang; dan datanglah semua pemimpin jemaah memberitahukannya kepada Musa. (23) Lalu berkatalah Musa kepada mereka: ‘Inilah yang dimaksudkan TUHAN: Besok adalah hari perhentian penuh, sabat yang kudus bagi TUHAN; maka roti yang perlu kamu bakar, bakarlah, dan apa yang perlu kamu masak, masaklah; dan segala kelebihannya biarkanlah di tempatnya untuk disimpan sampai pagi.’ (24) Mereka membiarkannya di tempatnya sampai keesokan harinya, seperti yang diperintahkan Musa; lalu tidaklah berbau busuk dan tidak ada ulat di dalamnya. (25) Selanjutnya kata Musa: ‘Makanlah itu pada hari ini, sebab hari ini adalah sabat untuk TUHAN, pada hari ini tidaklah kamu mendapatnya di padang. (26) Enam hari lamanya kamu memungutnya, tetapi pada hari yang ketujuh ada sabat; maka roti itu tidak ada pada hari itu.’ (27) Tetapi ketika pada hari ketujuh ada dari bangsa itu yang keluar memungutnya, tidaklah mereka mendapatnya. (28) Sebab itu TUHAN berfirman kepada Musa: ‘Berapa lama lagi kamu menolak mengikuti segala perintahKu dan hukumKu? (29) Perhatikanlah, TUHAN telah memberikan sabat itu kepadamu; itulah sebabnya pada hari keenam Ia memberikan kepadamu roti untuk dua hari. Tinggallah kamu di tempatmu masing-masing, seorangpun tidak boleh keluar dari tempatnya pada hari ketujuh itu.’ (30) Lalu beristirahatlah bangsa itu pada hari ketujuh”.

 

Jelas bahwa text tentang manna ini melarang untuk mengumpulkan manna dan memasaknya pada hari Sabat.

 

Matthew Henry (tentang Kel 16:22-31): “On that day they were to fetch in enough for two days, and to prepare it, v. 23. The law was very strict, that they must bake and seeth, the day before, and not on the sabbath day” [= Pada hari itu (hari sebelum hari Sabat) mereka harus mengambil (manna) cukup untuk dua hari, dan mempersiapkannya, ay 23. Hukum itu sangat ketat, dan mereka harus membakarnya dan memasak / merebusnya pada hari sebelumnya, dan bukan pada hari Sabat].

 

Barnes’ Notes (tentang Kel 16:25): “‘Eat that today.’ ... The people were to abstain from the ordinary work of every day life: they were not to collect food, nor, as it would seem, even to prepare it as on other days” (= ‘Makanlah itu pada hari ini’. Bangsa itu harus menjauhkan diri dari pekerjaan biasa dari kehidupan sehari-hari: mereka tidak boleh mengumpulkan makanan, ataupun, seperti terlihat, bahkan mempersiapkan makanan seperti pada hari-hari yang lain).

 

b.   Kel 35:2-3 - “(2) Enam hari lamanya boleh dilakukan pekerjaan, tetapi pada hari yang ketujuh haruslah ada perhentian kudus bagimu, yakni sabat, hari perhentian penuh bagi TUHAN; setiap orang yang melakukan pekerjaan pada hari itu, haruslah dihukum mati. (3) Janganlah kamu memasang api di manapun dalam tempat kediamanmu pada hari Sabat.’”.

 

Adam Clarke menganggap bahwa larangan menyalakan api di sini hanya api untuk bekerja atau memasak makanan. Tetapi menyalakan api untuk memberi terang / panas, tidak dilarang.

 

c.   Bil 15:32-36 - “(32) Ketika orang Israel ada di padang gurun, didapati merekalah seorang yang mengumpulkan kayu api pada hari Sabat. (33) Lalu orang-orang yang mendapati dia sedang mengumpulkan kayu api itu, menghadapkan dia kepada Musa dan Harun dan segenap umat itu. (34) Orang itu dimasukkan dalam tahanan, oleh karena belum ditentukan apa yang harus dilakukan kepadanya. (35) Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: ‘Orang itu pastilah dihukum mati; segenap umat Israel harus melontari dia dengan batu di luar tempat perkemahan.’ (36) Lalu segenap umat menggiring dia ke luar tempat perkemahan, kemudian dia dilontari dengan batu, sehingga ia mati, seperti yang difirmankan TUHAN kepada Musa”.

 

Thomas Watson: “It would seem a small thing to pick up a few sticks to make a fire; but God would not have this day violated in the smallest matters” (= Kelihatannya merupakan suatu hal kecil / remeh untuk mengambil beberapa ranting untuk membuat api; tetapi Allah tidak menghendaki hari ini dilanggar dalam hal-hal yang paling kecil) - ‘The Ten Commandments’, hal 99.

 

Karena dilarangnya seseorang memasak / mempersiapkan makanan pada hari Sabat, maka pemilik warung / restoran yang tetap berjualan makanan pada hari Sabat jelas melanggar peraturan Sabat; bukan hanya larangan bekerja dan mempekerjakan orang, tetapi juga larangan memasak makanan. Ini menjadi problem bagi orang-orang Kristen yang berjualan makanan di food court / pujasera, yang tentu tidak mengijinkan ia libur pada hari Minggu.

 

Sekarang, kalau kita melarang orang buka restoran / warung pada hari Sabat, masuk akalkah kalau kita diperbolehkan membeli makanan? Kalau mau konsisten, jelas bahwa kita juga tidak boleh membeli makanan, karena ini akan memotivasi orang-orang untuk makin membuka restoran / warungnya. Tetapi ini merupakan hal yang hampir tidak ada orang Kristen yang memperhatikannya. Dan bagi orang-orang Kristen yang memperhatikannya, tetap hampir tidak mungkin untuk melaksanakannya. Saya menganggap bahwa ‘tidak boleh membeli makanan’ merupakan sesuatu yang sangat sukar untuk ditaati. Kita tidak boleh memasak, dan kita tidak boleh membeli makanan. Jadi kita harus makan makanan yang sudah dimasak pada hari sebelum Sabat (Kel 16:23-25).

Lalu bagaimana dengan gereja yang mengundang hamba Tuhan dari luar kota? Biasanya hamba Tuhan itu diajak untuk makan di restoran! Kalau tidak, lalu bagaimana? Harus diajak makan di rumah, untuk makan makanan yang dimasak kemarinnya? Atau gereja harus masak sendiri? Apakah dibedakan memasak makanan biasa, dan memasak makanan untuk hamba Tuhan sebagai suatu tindakan pelayanan?

Catatan: kalau memasak makanan jelas tidak boleh, tetapi saya tidak tahu bagaimana dengan memanasi makanan. Sepanjang yang saya ketahui tidak ada penafsir yang membahas hal ini. Kalau ini juga tidak boleh, maka akan makin mempersulit ketaatan pada larangan yang sudah sangat sulit ini!

 

3.   Kita tidak boleh melakukan perjalanan (kecuali untuk pergi ke gereja / melakukan pelayanan), dan kita juga tidak boleh melakukan hal-hal demi kesenangan diri kita sendiri, termasuk rekreasi.

 

Bdk. Yes 58:13-14 - “(13) Apabila engkau tidak menginjak-injak hukum Sabat dan tidak melakukan urusanmu pada hari kudusKu; apabila engkau menyebutkan hari Sabat ‘hari kenikmatan’, dan hari kudus TUHAN ‘hari yang mulia’; apabila engkau menghormatinya dengan tidak menjalankan segala acaramu dan dengan tidak mengurus urusanmu atau berkata omong kosong, (14) maka engkau akan bersenang-senang karena TUHAN, dan Aku akan membuat engkau melintasi puncak bukit-bukit di bumi dengan kendaraan kemenangan; Aku akan memberi makan engkau dari milik pusaka Yakub, bapa leluhurmu, sebab mulut Tuhanlah yang mengatakannya”.

 

Bandingkan ay 13nya dengan terjemahan dari KJV dan NIV.

KJV: ‘If thou turn away thy foot from the sabbath, from doing thy pleasure on my holy day; and call the sabbath a delight, the holy of the LORD, honourable; and shalt honour him, not doing thine own ways, nor finding thine own pleasure, nor speaking thine own words:’ (= Jika engkau membalikkan / memalingkan kakimu dari hari Sabat, dari melakukan kesenanganmu pada hari kudusKu; dan menyebut hari Sabat suatu kesenangan, hari yang kudus dari TUHAN, terhormat; dan menghormatiNya, tidak melakukan jalanmu sendiri, ataupun mencari kesenanganmu sendiri, ataupun mengucapkan kata-katamu sendiri).

NIV: If you keep your feet from breaking the Sabbath and from doing as you please on my holy day, if you call the Sabbath a delight and the LORD’s holy day honorable, and if you honor it by not going your own way and not doing as you please or speaking idle words, (= Jika engkau menjaga kakimu dari pelanggaran hari Sabat dan dari melakukan seperti yang engkau sukai pada hari kudusKu, jika engkau menyebut hari Sabat suatu kesukaan dan hari kudus TUHAN terhormat, dan jika engkau menghormatinya dengan tidak pergi melakukan jalanmu dan tidak melakukan yang engkau senangi atau mengucapkan kata-kata kosong / omong kosong).

 

Jadi, kata-kata ‘tidak menginjak-injak hukum Sabat’ diterjemahkan membalikkan / memalingkan kakimu dari hari Sabat’ oleh KJV, dan ‘menjaga kakimu dari pelanggaran hari Sabat’ oleh NIV.

Sedangkan kata-kata ‘urusanmu’ sebetulnya adalah ‘kesenangan-mu’ (KJV).

 

Jadi, ada 2 hal yang ditekankan:

 

a.         Harus menjaga kaki dari pelanggaran Sabat.

Jamieson, Fausset & Brown (tentang Yes 58:13): “‘Foot.’ - the instrument of motion ... men are not to travel for mere pleasure on the Sabbath” (= ‘Kaki’. - alat dari gerakan ... manusia tidak boleh bepergian semata-mata untuk kesenangan pada hari Sabat).

Satu hal yang harus diperhatikan adalah: kalau pada hari Sabat kita melakukan perjalanan, apalagi yang jauh, maka kita sukar terhindar dari membeli makanan dan bahan bakar kendaraan.

 

Calvin (tentang Yes 58:13): Some think that the Prophet alludes to the external observation of the Sabbath, because it was not lawful to perform a journey on that day. (Exodus 20:8) Though I do not reject that opinion, yet I think that the meaning is far more extensive; for by a figure of speech, ill which a part is taken for the whole, he denotes the whole course of human life; as it is very customary to employ the word ‘going’ or ‘walking’ to denote our life. He says, therefore, ‘If thou cease to advance in thy course, if thou shut up thy path, walk not according to thine own will,’ etc. For this is to ‘turn away the foot from the Sabbath,’ when we lay ourselves under the necessity of wandering freely and without restraint in our own sinful desires. ... by the word ‘foot’ he denotes actions” (= ).

Matthew Henry (tentang Yes 58:13): “We must ‘turn away our foot from the sabbath,’ from trampling upon it, as profane atheistical people do, from travelling on that day (so some) (= ).

Adam Clarke (tentang Yes 58:13): “‘If thou turn away thy foot from the Sabbath.’ The meaning of this seems to be, that they should be careful not to take their pleasure on the Sabbath day, by paying visits, and taking country jaunts; not going, as Kimchi interprets it, more than a Sabbath day’s journey, which was only two thousand cubits beyond the city’s suburbs (= ).

Barnes’ Notes (tentang Yes 58:13): “‘If thou turn away thy foot from the Sabbath.’ ... The idea, says Grotius, is, that they were not to travel on the Sabbath day on ordinary journeys. The ‘foot’ is spoken of as the instrument of motion and travel. ‘Ponder the paths of thy feet’ (Prov. 2:26 ); that is, observe attentively thy goings. ‘Remove thy foot from evil’ (Prov 4:27); that is, abstain from evil, do not go to execute evil. So here, to restrain the foot from the Sabbath, is not to have the foot employed on the Sabbath; not to be engaged in traveling, or in the ordinary active employments of life, either for business or pleasure (= ).

 

b.         Jangan mencari kesenangan diri sendiri / rekreasi.

 

The Biblical Illustrator (Old Testament) tentang Kel 20:8-11: “We are forbidden to make the Sabbath a day of pleasure (Isa 58:13,14)” [= Kita dilarang untuk membuat hari Sabat suatu hari kesenangan (Yes 58:13,14)].

 

Matthew Henry (tentang Yes 58:13-14): “we must turn away our foot ‘from doing out (our?) pleasure on that holy day,’ that is, from living at large, and taking a liberty to do what we please on sabbath days, without the control and restraint of conscience, or from indulging ourselves in the pleasures of sense, ... On sabbath days we must not walk in ‘our own ways’ (that is, not follow our callings), not ‘find our own pleasure’ (that is, not follow our sports and recreations)” [= kita harus memalingkan kaki kita ‘dari melakukan kesenangan kita pada hari kudus itu’, yaitu, dari hidup bebas, dan bersikap terlalu bebas untuk melakukan apa yang kita senangi pada hari-hari Sabat, tanpa kontrol dan pengekangan hati nurani, atau dari pemuasan diri kita sendiri dalam kesenangan-kesenangan perasaan / tubuh, ... Pada hari Sabat kita tidak boleh berjalan / hidup ‘dalam jalan kita sendiri’ (yaitu, tidak mengikuti panggilan / pekerjaan kita), atau ‘mencari kesenangan kita sendiri’ (yaitu tidak mengikuti kesenangan dan rekreasi kita)].

 

Catatan: saya tidak tahu apakah hubungan sex juga dilarang pada hari Sabat. Orang-orang Yahudi melarangnya, tetapi saya tidak menemukan kata-kata yang explicit dari para penafsir yang melarang orang Kristen melakukan hubungan sex pada hari Sabat. Tetapi dari kata-kata Matthew Henry di atas ini, bisa saja disimpulkan demikian.

 

Bahwa seluruh hari Sabat harus digunakan bagi Allah, dan karena itu kita dilarang memikirkan pekerjaan duniawi dan melakukan rekreasi, juga dinyatakan dalam Westminster Confession of Faith.

 

Westminster Confession of Faith: This Sabbath is then kept holy unto the Lord, when men, after a due preparing of their hearts, and ordering of their common affairs beforehand, do not only observe an holy rest, all the day, from their own works, words, and thoughts about their worldly employments and recreations, but also are taken up, the whole time, in the public and private exercises of His worship, and in the duties of necessity and mercy (= Maka hari Sabat ini dipelihara / dijaga kudus bagi Tuhan, pada waktu manusia, setelah mempersiapkan hati mereka dengan seharusnya, dan mengatur / mengurus urusan-urusan biasa mereka sebelumnya, tidak hanya memelihara suatu istirahat yang kudus, seluruh hari itu, dari pekerjaan, dari kata-kata dan dari pemikiran mereka sendiri tentang pekerjaan-pekerjaan duniawi mereka, dan rekreasi-rekreasi, tetapi juga membaktikan, seluruh waktu, dalam pelaksanaan ibadahNya secara umum dan pribadi, dan dalam kewajiban-kewajiban yang memang mutlak harus dilakukan dan belas kasihan) - Chapter XXI, No 8.

 

Adam Clarke (tentang Yes 58:13): “How vilely is this rule transgressed by the inhabitants of this land! They seem to think that the Sabbath was made only for their recreation!” (= ).

Jamieson, Fausset & Brown (tentang Yes 58:13): “‘My holy day.’ God claims it as His day; to take it for our pleasure is to rob Him of His own. This is the very way in which the Sabbath is mostly broken; it is made a day of carnal pleasure instead of spiritual ‘delight.’” (= ).

Barnes’ Notes (tentang Yes 58:13): “‘From doing thy pleasure on my holy day.’ Two things may here be observed: 1. God claims the day as his, and as holy on that account. While all time is his, and while he requires all time to be profitably and usefully employed, he calls the Sabbath especially his own - a day which is to be observed with reference to himself, and which is to be regarded as belonging to him. To take the hours of that day, therefore, for our pleasure, or for work which is not necessary or merciful, is to rob God of that which he claims as his own. 2. We are not to do our own pleasure on that day. That is, we are not to pursue our ordinary plans of amusement; we are not to devote it to feasting, to riot, or to revelry. It is true that they who love the Sabbath as they should will find ‘pleasure’ in observing it, for they have happiness in the service of God. But the idea is, here, that we are to do the things which God requires, and to consult his will in the observance. It is remarkable that the thing here adverted to, is the very way in which the Sabbath is commonly violated. It is not extensively a day of business, for the propriety of a periodical cessation from toil is so obvious, that people will have such days recurring at moderate intervals. But it is a day of pastime and amusement; a day not merely of relaxation from toil, but also of relaxation from the restraints of temperance and virtue. And while the Sabbath is God’s great ordinance for perpetuating religion and virtue, it is also, by perversion, made Satan’s great ordinance for perpetuating intemperance, dissipation, and sensuality (= ).

The Biblical Illustrator (Old Testament) tentang Yes 58:13: “Not finding their own pleasure. Pleasure is here evidently contrasted with business, God has given to us not only our six days labour and work, but also our six days gratifications and sources of enjoyment. There are the delights of earth, as well as the duties of earth. There is Nature, with all her various works. There are also the pleasures of literature, in all their vast and various extent. There is, further, the enjoyment of social intercourse, and an almost countless number of modes of refreshment, for both body and mind, which God would have us to use, as opportunity is given and need may be, to invigorate us for the more serious employments of the head or the hands. But these are ‘our own pleasure;’ and this we are not to find on God’s holy day. Mark the expression, ‘not finding thine own pleasure.’ In order to ‘find,’ we seek. ‘Our own pleasure’ may casually come in our way; but we must not look for it, endeavour after it, or pursue it as our object, in any manner or measure upon the Sabbath. The pleasures which we must endeavour on this day to ‘find’ must be such as are not of earthly origin or of man’s invention, but such as will endure when the world shall be no more, and will furnish a part of the business and the bliss of the Christian’s happy and eternal home. Further, ‘not speaking (thine own) words.’ ‘Thine own,’ here, is in italics; it is inserted by the translators, and only encumbers the passage. The meaning is, not doing thine own ways, not finding thine own pleasure, ‘nor speaking words;’ that is, not speaking words concerning thine own ways and thine own pleasure (= ).

Wilmington’s Bible Handbook (Bible Survey) tentang Yes 58:13: “It also means setting aside the Sabbath as a time to delight in the Lord rather than pursuing earthly pleasures (58:13)” (= ).

Calvin (tentang Yes 58:13): “Whoever then wishes to serve God in a proper manner, must altogether renounce his flesh and his will. ... he commanded the Jews to renounce the desires of the flesh, to give up their sinful inclinations, and to yield obedience to him; as no man can meditate on the heavenly life, unless he be dead to the world and to himself (= ).

 

Mungkin saudara berpikir bahwa kalau pada hari Sabat kita tidak boleh bepergian, piknik, melakukan kesenangan-kesenangan, dsb, apakah kita tidak akan mengalami stres? Albert Barnes mengatakan bahwa orang Kristen seharusnya mendapatkan kesenangan dalam diri Tuhan sendiri, sehingga mentaati hukum Sabat ini menyebabkan mereka mendapatkan sukacita.

 

Barnes’ Notes (tentang Yes 58:13): “‘And call the Sabbath a delight.’ This appropriately expresses the feelings of all who have any just views of the Sabbath. To them it is not wearisome, nor are its hours heavy. They love the day of sweet and holy rest. They esteem it a privilege, not a task, to be permitted once a week to disburden their minds of the cares, and toils, and anxieties of life. It is a ‘delight’ to them to recall the memory of the institution of the Sabbath, when God rested from his labors; to recall the resurrection of the Lord Jesus, to the memory of which the Christian Sabbath is consecrated; to be permitted to devote a whole day to prayer and praise, to the public and private worship of God, to services that expand the intellect and purify the heart. To the father of a family it is the source of unspeakable delight that he may conduct his children to the house of God, and that he may instruct them in the ways of religion. To the Christian man of business, the farmer, and the professional man, it is a pleasure that he may suspend his cares, and may uninterruptedly think of God and of heaven. To all who have any just feeling, the Sabbath is a ‘delight;’ and for them to be compelled to forego its sacred rest would be an unspeakable calamity” (= ‘Dan menyebut hari Sabat suatu kesenangan’. Ini dengan tepat menyatakan perasaan dari semua orang yang mempunyai pandangan yang benar tentang hari Sabat. Bagi mereka, itu bukanlah sesuatu yang menjemukan, dan saat-saatnya bukanlah merupakan sesuatu yang berat. Mereka mengasihi hari istirahat yang manis dan kudus itu. Mereka menilainya sebagai suatu hak, bukan sebagai suatu kewajiban, untuk diijinkan sekali seminggu untuk melepaskan beban pikiran mereka dari kekuatiran, dan kerja keras, dan keinginan-keinginan dari kehidupan. Itu merupakan suatu ‘kesenangan’ bagi mereka untuk mengingat ingatan tentang penegakan dari hari Sabat, dimana Allah beristirahat dari pekerjaanNya; untuk mengingat kebangkitan Tuhan Yesus, pada ingatan mana hari Sabat Kristen diabdikan; untuk diijinkan untuk membaktikan seluruh hari itu bagi doa dan pujian, bagi ibadah kepada Allah secara umum dan pribadi, bagi kebaktian-kebaktian yang mengembangkan intelek dan memurnikan hati. Bagi ayah dari suatu keluarga, merupakan sumber dari kesenangan yang tidak terkatakan bahwa ia bisa memimpin anak-anaknya ke rumah Allah, dan bahwa ia bisa mengajar mereka dalam cara-cara agama. Bagi orang bisnis, petani, dan orang-orang profesional Kristen, merupakan suatu kesenangan bahwa ia bisa menunda / menghentikan kekuatirannya, dan bisa berpikir tentang Allah dan tentang surga tanpa diganggu. Bagi semua yang mempunyai pikiran yang benar, hari Sabat merupakan suatu kesenangan, dan kalau mereka dipaksa untuk tidak melaksanakan istirahatnya yang kudus, maka itu merupakan suatu bencana yang tidak terkatakan).

 

Barnes’ Notes (tentang Yes 58:14): “‘Then shalt thou delight thyself in the LORD.’ That is, as a consequence of properly observing the Sabbath, thou shalt find pleasure in Yahweh. It will be a pleasure to draw near to him, and you shall no longer be left to barren ordinances and to unanswered prayers. The delight or pleasure which God’s people have in him is a direct and necessary consequence of the proper observance of the Sabbath. It is on that day set apart by his own authority, for his own service, that he chooses to meet with his people, and to commune with them and bless them; and no one ever properly observed the Sabbath who did not find, as a consequence, that he had augmented pleasure in the existence, the character, and the service of Yahweh. Compare Job 22:21-26, where the principle stated here - that the observance of the law of God will lead to happiness in the Almighty - is beautifully illustrated” (= ‘maka engkau akan bersenang-senang karena TUHAN’. Yaitu, sebagai akibat dari ketaatan / penghormatan yang benar terhadap hari Sabat, engkau akan mendapatkan kesenangan dalam Yahweh. Merupakan suatu kesenangan untuk mendekat kepadaNya, dan engkau tidak akan ditinggalkan pada peraturan-peraturan yang tandus dan pada doa-doa yang tidak dijawab. Kesenangan yang didapatkan umat Allah dalam Dia merupakan akibat yang langsung dan yang harus terjadi dari pengamatan / penghormatan yang benar terhadap hari Sabat. Pada hari itulah, yang Ia pisahkan dengan otoritasNya sendiri, bagi ibadahNya sendiri, Ia memilih untuk bertemu dengan umatNya, dan untuk berkomunikasi secara akrab dengan mereka dan memberkati mereka; dan tidak seorangpun yang memelihara hari Sabat secara benar yang tidak mendapati, sebagai akibatnya, bahwa ia telah menambah kesenangan dalam keberadaan, karakter, dan pelayanan / ibadah dari Yahweh. Bandingkan dengan Ayub 22:21-26, dimana prinsip yang dinyatakan di sini - bahwa pemeliharaan / ketaatan pada hukum Allah akan membawa pada kebahagiaan dalam Yang Maha Kuasa - dijelaskan secara indah).

 

Bdk. Ayub 22:21-26 - “(21) Berlakulah ramah terhadap Dia, supaya engkau tenteram; dengan demikian engkau memperoleh keuntungan. (22) Terimalah apa yang diajarkan mulutNya, dan taruhlah firmanNya dalam hatimu. (23) Apabila engkau bertobat kepada Yang Mahakuasa, dan merendahkan diri; apabila engkau menjauhkan kecurangan dari dalam kemahmu, (24) membuang biji emas ke dalam debu, emas Ofir ke tengah batu-batu sungai, (25) dan apabila Yang Mahakuasa menjadi timbunan emasmu, dan kekayaan perakmu, (26) maka sungguh-sungguh engkau akan bersenang-senang karena Yang Mahakuasa, dan akan menengadah kepada Allah”.

 

Catatan: kata-kata Albert Barnes ini memang benar, tetapi saya beranggapan bahwa membutuhkan tingkat kerohanian yang sangat tinggi untuk bisa sepenuhnya menjadi seperti ini.

 

4.   Membangun Kemah Sucipun tidak boleh dilakukan pada hari Sabat.

Sekalipun pelayanan merupakan ‘pekerjaan’ yang diijinkan untuk dilakukan pada hari Sabat, tetapi membangun Kemah Suci / Bait Allah / gedung gereja, tidak sama dengan pelayanan. Ini dilarang!

 

Kel 31:12-17 - “(12) Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: (13) ‘Katakanlah kepada orang Israel, demikian: Akan tetapi hari-hari SabatKu harus kamu pelihara, sebab itulah peringatan antara Aku dan kamu, turun-temurun, sehingga kamu mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, yang menguduskan kamu. (14) Haruslah kamu pelihara hari Sabat, sebab itulah hari kudus bagimu; siapa yang melanggar kekudusan hari Sabat itu, pastilah ia dihukum mati, sebab setiap orang yang melakukan pekerjaan pada hari itu, orang itu harus dilenyapkan dari antara bangsanya. (15) Enam hari lamanya boleh dilakukan pekerjaan, tetapi pada hari yang ketujuh haruslah ada sabat, hari perhentian penuh, hari kudus bagi TUHAN: setiap orang yang melakukan pekerjaan pada hari Sabat, pastilah ia dihukum mati. (16) Maka haruslah orang Israel memelihara hari Sabat, dengan merayakan sabat, turun-temurun, menjadi perjanjian kekal. (17) Antara Aku dan orang Israel maka inilah suatu peringatan untuk selama-lamanya, sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, dan pada hari yang ketujuh Ia berhenti bekerja untuk beristirahat.’”.

 

Dalam membaca text ini yang sangat perlu diperhatikan adalah letak text ini dalam Kitab Suci. Dalam Kitab Suci, text ini terletak dalam kontext perintah pembangunan Kemah Suci, yang sudah dimulai dalam Kel 25. Dan text ini didahului oleh Kel 31:1-11, yang menceritakan penunjukan Bezaleel dan Aholiab untuk mengerjakan Kemah Suci. Mengapa tahu-tahu bisa ada text seperti ini, yang menekankan hari Sabat dan keharusan istirahat pada hari itu? Jawabannya adalah: karena bahkan dalam membangun Kemah Suci sekalipun, hari Sabat harus tetap menjadi hari untuk istirahat. Pada hari itu, pembangunan Kemah Suci harus dihentikan. Jadi, pada jaman sekarang, gereja-gereja tidak boleh terus mempekerjakan tukang-tukang bangunan untuk membangun gereja pada hari Minggu. Membangun gedung gereja tidak sama dengan melayani Tuhan.

 

Thomas Watson: “the work which had reference to a religious use might not be done on the Sabbath, as the hewing of stones for the building of the sanctuary. ... Exod. 31:15. A temple is a place of God’s worship, but it was a sin to build a temple on the Lord’s-day” (= pekerjaan yang berhubungan dengan penggunaan agamawi tidak boleh dilakukan pada hari Sabat, seperti memotong / membentuk batu untuk pembangunan tempat kudus. ... Kel 31:15. Bait Allah / Kemah Suci adalah tempat untuk berbakti kepada Allah, tetapi merupakan suatu dosa untuk membangun Bait Allah / Kemah Suci pada hari Tuhan) - ‘The Ten Commandments’, hal 100.

 

Matthew Henry (tentang Kel 31:12-18): “A strict command for the sanctification of the sabbath day, v. 13-17. ... Orders were now given that a tabernacle should be set up and furnished for the service of God with all possible expedition; but lest they should think that the nature of the work, and the haste that was required, would justify them in working at it on sabbath days, that they might get it done the sooner, this caution is seasonably inserted, Verily, or nevertheless, my sabbaths you shall keep. Though they must hasten the work, yet they must not make more haste than good speed; they must not break the law of the sabbath in their haste: even tabernacle-work must give way to the sabbath-rest; so jealous is God for the honour of his sabbaths” (= Suatu perintah yang ketat bagi pengudusan hari Sabat, ayat 13-17. ... Sekarang perintah-perintah telah diberikan bahwa Kemah Suci harus didirikan dan diperlengkapi untuk ibadah bagi Allah dengan secepat mungkin; tetapi supaya mereka jangan berpikir bahwa sifat dari pekerjaan itu, dan ketergesa-gesaan yang dituntut, akan membenarkan mereka untuk mengerjakannya pada hari-hari Sabat, supaya mereka bisa menyelesaikannya dengan lebih cepat, peringatan ini dimasukkan tepat pada waktunya, Sesungguhnya, atau sekalipun demikian, hari-hari SabatKu harus kamu pelihara. Sekalipun mereka harus cepat-cepat mengerjakannya, tetapi mereka tidak boleh melakukan ketergesa-gesaan yang lebih dari kecepatan yang benar; mereka tidak boleh melanggar hukum dari hari Sabat dalam ketergesa-gesaan mereka: bahkan pekerjaan Kemah Suci harus memberi jalan pada istirahat hari Sabat; demikianlah hati-hatinya Allah bagi kehormatan dari hari-hari SabatNya).

 

Jamieson, Fausset & Brown (tentang Kel 31:12-17): “The reason for the fresh inculcation of the fourth commandment at this particular period was, that the great ardour and eagerness with which all classes betook themselves to the construction of the tabernacle exposed them to the temptation of encroaching on the sanctity of the appointed day of rest. They might suppose that the erection of the tabernacle was a sacred work, and that it would be a high merit - an acceptable tribute - to prosecute the undertaking without the interruption of a day’s repose; and therefore the caution here given, at the commencement of the undertaking, was a seasonable admonition” (= Alasan untuk penanaman segar dari hukum keempat pada masa khusus ini adalah, bahwa semangat dan kesungguhan dengan mana semua golongan membaktikan diri mereka bagi pembangunan Kemah Suci, membuka diri mereka terhadap pencobaan pelanggaran pada kekudusan dari hari istirahat yang telah ditetapkan. Mereka bisa / mungkin menduga bahwa pendirian dari Kemah Suci merupakan pekerjaan yang kudus, dan bahwa merupakan suatu kebaikan yang tinggi - suatu upeti / penghormatan yang bisa diterima - untuk meneruskan usaha itu tanpa gangguan dari istirahat satu hari; dan karena itu peringatan yang diberikan di sini, pada permulaan dari usaha itu, merupakan peringatan yang tepat pada waktunya).

 

Barnes’ Notes (tentang Kel 31:12-17): “It seems likely that the penal edict was especially introduced as a caution in reference to the construction of the tabernacle, lest the people, in their zeal to carry on the work, should be tempted to break the divine law for the observance of the day” (= Sangat memungkinkan bahwa pengumuman / ketetapan yang berhubungan dengan hukuman, secara khusus diajukan sebagai suatu peringatan berkenaan dengan pembangunan Kemah Suci, supaya umat / bangsa itu jangan, dalam semangat mereka untuk melaksanakan pekerjaan itu, dicobai untuk melanggar hukum ilahi untuk pemeliharaan / penghormatan hari itu).

 

Keil & Delitzsch (tentang Kel 31:12-17): “The repetition and further development of this command, which was included already in the decalogue, is quite in its proper place here, inasmuch as the thought might easily have occurred, that it was allowable to omit the keeping of the Sabbath, when the execution of so great a work in honour of Jehovah had been commanded” (= Pengulangan dan pengembangan selanjutnya dari perintah ini, yang sudah dimasukkan dalam 10 hukum Tuhan, ada pada tempat yang tepat di sini, karena dengan mudah terjadi pemikiran bahwa merupakan sesuatu yang diijinkan untuk menghapuskan pemeliharaan hari Sabat, pada waktu pelaksanaan dari pekerjaan yang begitu besar dalam penghormatan terhadap Yehovah telah diperintahkan).

 

Matthew Henry (tentang Neh 13:15-22): “The law of the sabbath was very strict and much insisted one, and with good reason, for religion is never in the throne while sabbaths are trodden under foot (= Hukum Sabat sangat ketat dan merupakan satu hukum yang sangat ditekankan, dan dengan alasan yang baik, karena agama tidak pernah ada di takhta pada waktu hari-hari Sabat diinjak-injak).

 

Catatan: apa yang saya jelaskan tentang hal-hal yang dilarang untuk dilakukan pada hari Sabat ini, bukanlah merupakan pandangan extrim dari satu atau dua penafsir saja, tetapi boleh dikatakan dari hampir semua penafsir, dan ini saya tunjukkan dengan memberikan komentar dari banyak penafsir di atas (tetapi yang tidak saya terjemahkan).

 

c)         Pentingnya istirahat pada hari Sabat / hari minggu.

The Biblical Illustrator (Old Testament) tentang Kel 20:8-11: “Sunday and suicide: - There is no one thing that kills, exhausts, or sends to the lunatic asylum more of the active and strong men of this country (United States) than the breach of the Fourth Commandment. ... ‘He kept no Sunday.’ You may safely write that epitaph over hundreds of graves that will be dug this year for ambitious, prosperous, influential men, cut off in the midst of the race of life. There are suicides in scores where no apparent cause exists for what the newspapers call ‘the rash act.’ The man was doing well; his business was prospering; his family relations were pleasant and affectionate. ... It is for man’s good that God has established all His statutes. Clear as that truth is about them all, it is especially clear about the day of rest. ... As a matter of fact, there is no rest, no relaxation, so utter as that offered by a well-kept Sunday. There is perfect rest and quiet for the body, and, to the worker with his hands, that may be the main point. But there is far more than this. The mind is called away from all its cares and all its common vulgar interests. The man is called to rise out of the changing into the unchanging, out of the temporary into the eternal, out of the low into the infinitely lofty, out of the strife into the deep calm of the eternal peace. ... It is the neglect of this provision of God that is the root-cause of the deaths and suicides from overwork, which shock us almost daily in the current items of news” [= Hari Minggu dan bunuh diri: - Tidak ada suatu hal apapun yang lebih membunuh, meletihkan / menghabiskan tenaga, atau mengirimkan ke rumah sakit jiwa / gila, orang-orang yang aktif dan kuat dari negeri ini (Amerika Serikat) dari pada pelanggaran terhadap hukum ke empat ini. ... ‘Ia tidak memelihara hari Minggu’. Engkau bisa dengan aman menulis tulisan ini di batu nisan di atas ratusan kuburan yang akan digali tahun ini bagi orang-orang yang ambisius, makmur, berpengaruh, yang mati di tengah-tengah balapan kehidupan. Ada puluhan kasus-kasus bunuh diri dimana tidak ada penyebab yang jelas untuk apa yang disebut surat kabat sebagai ‘tindakan gegabah’. Orang itu baik-baik saja, bisnisnya makmur / berhasil dengan baik; hubungan keluarganya menyenangkan dan penuh kasih. ... Untuk kebaikan manusialah Allah telah menentukan semua undang-undangNya. Kebenaran itu jelas untuk semua undang-undang itu, tetapi itu khususnya jelas tentang hari istirahat. ... Dalam faktanya, tidak ada istirahat, tidak ada kesantaian, yang begitu lengkap / sempurna seperti istirahat yang diberikan oleh hari Minggu yang dipelihara dengan baik. Ada istirahat dan ketenangan yang sempurna untuk tubuh, dan bagi pekerja yang menggunakan tangannya, itu mungkin / bisa merupakan hal yang utama. Tetapi ada jauh lebih banyak dari ini. Pikiran dipanggil untuk menjauhi semua kekuatirannya dan semua kepentingan orang-orang biasa. Orang dipanggil untuk naik / bangkit dari yang berubah ke dalam yang tidak berubah, dari yang sementara ke dalam yang kekal, dari yang rendah ke dalam yang tinggi / mulia, dari pergumulan ke dalam ketenangan yang dalam dari damai yang kekal. ... Pengabaian terhadap penyediaan Allah inilah yang merupakan akar penyebab dari kematian-kematian dan bunuh diri - bunuh diri dari pekerjaan yang berlebihan, yang mengejutkan kita hampir setiap hari dalam pokok-pokok berita sekarang ini].

 

2)   Kita harus berbakti kepada Tuhan pada hari Sabat.

 

Im 23:3 - “Enam hari lamanya boleh dilakukan pekerjaan, tetapi pada hari yang ketujuh haruslah ada sabat, hari perhentian penuh, yakni hari pertemuan kudus; janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan; itulah sabat bagi TUHAN di segala tempat kediamanmu”.

 

Im 19:30 - “Kamu harus memelihara hari-hari sabatKu dan menghormati tempat kudusKu; Akulah TUHAN”.

 

Maz 92:1-5 - (1) Mazmur. Nyanyian untuk hari Sabat. (2) Adalah baik untuk menyanyikan syukur kepada TUHAN, dan untuk menyanyikan mazmur bagi namaMu, ya Yang Mahatinggi, (3) untuk memberitakan kasih setiaMu di waktu pagi dan kesetiaanMu di waktu malam, (4) dengan bunyi-bunyian sepuluh tali dan dengan gambus, dengan iringan kecapi. (5) Sebab telah Kaubuat aku bersukacita, ya TUHAN, dengan pekerjaanMu, karena perbuatan tanganMu aku akan bersorak-sorai”.

 

Bil 28:9-10 - “(9) ‘Pada hari Sabat: dua ekor domba berumur setahun yang tidak bercela, dan dua persepuluh efa tepung yang terbaik sebagai korban sajian, diolah dengan minyak, serta dengan korban curahannya. (10) Itulah korban bakaran Sabat pada tiap-tiap Sabat, di samping korban bakaran yang tetap dan korban curahannya”.

 

Yeh 46:1-3 - “(1) Beginilah firman Tuhan ALLAH: Pintu gerbang pelataran dalam yang menghadap ke sebelah timur haruslah tertutup selama enam hari kerja, tetapi pada hari Sabat supaya dibuka; pada hari bulan baru juga supaya dibuka. (2) Raja itu akan masuk dari luar melalui balai gerbang dan akan berdiri dekat tiang pintu gerbang itu. Sementara itu imam-imam akan mengolah korban bakaran dan korban keselamatan raja itu dan ia akan sujud menyembah di ambang pintu gerbang itu, lalu keluar lagi. Dan pintu gerbang itu tidak boleh ditutup sampai petang hari. (3) Penduduk negeri juga harus turut sujud menyembah di hadapan TUHAN di pintu gerbang itu pada hari Sabat dan hari bulan baru”.

 

Ada beberapa hal yang ingin saya tekankan berkenaan dengan ibadah / kebaktian pada hari Sabat.

 

a)   Sebenarnya ‘berbakti kepada Tuhan’ merupakan tujuan dari istirahat pada hari Sabat. Bukan sekedar istirahatnya semata-mata yang ditekankan, tetapi kita harus beristirahat / berhenti mengurusi urusan sehari-hari kita, supaya kita bisa menggunakan hari itu untuk berbakti kepada Tuhan.

 

John Murray: “The weekly sabbath is based upon the divine example; the divine mode of procedure in creation determines one of the basic cycles by which human life here on earth is regulated, namely, the weekly cycle; this sequence of six days of labour and one of rest have applied to Adam in the state of innocence ...” (= Sabat mingguan didasarkan pada teladan ilahi; cara / prosedur ilahi dalam penciptaan menentukan satu dari siklus dasar oleh mana kehidupan manusia di bumi diatur, yaitu, siklus mingguan; urutan enam hari kerja dan satu hari istirahat ini telah diterapkan kepada Adam dalam keadaan tidak berdosa) - ‘Principles of Conduct’, hal 34.

John Murray: “Even in innocence man would have required time for specific worship. ... Unfallen man would need to suspend his weekly labours in order to refresh himself with the exercises of concentrated worship” (= Bahkan dalam keadaan tidak berdosa manusia membutuhkan waktu tertentu untuk ibadah / kebaktian. ... Manusia yang belum jatuh ke dalam dosa butuh untuk menghentikan pekerjaan-pekerjaan mingguannya untuk menyegarkan dirinya sendiri dengan pelaksanaan dari ibadah yang terkonsentrasi) - ‘Principles of Conduct’, hal 34.

 

Calvin (tentang Kel 20:8): “Surely God has no delight in idleness and sloth, and therefore there was no importance in the simple cessation of the labours of their hands and feet; nay, it would have been childish superstition to rest with no other view than to occupy their repose in the service of God. ... they were only called away from their own works, that, as if dead to themselves and to the world, they might wholly devote themselves to God. ... we must see what is the sum of this sanctification, viz., the death of the flesh, when men deny themselves and renounce their earthly nature, so that they may be ruled and guided by the Spirit of God” (= Jelas bahwa Allah tidak menyenangi kemalasan, dan karena itu tidak ada kepentingan dalam sekedar penghentian dari pekerjaan dari tangan dan kaki mereka; tidak, merupakan suatu takhyul yang kekanak-kanakan untuk beristirahat tanpa maksud untuk mengisi istirahat mereka dalam kebaktian / pelayanan Allah. ... mereka hanya dipanggil untuk menjauh dari pekerjaan-pekerjaan mereka sendiri, supaya, seakan-akan mati bagi diri mereka sendiri dan bagi dunia, mereka bisa membaktikan diri mereka seluruhnya kepada Allah. ... kita harus melihat intisari dari pengudusan ini, yaitu mati bagi daging, pada waktu manusia menyangkal diri mereka sendiri dan meninggalkan sifat duniawi mereka, sehingga mereka bisa diatur dan dipimpin oleh Roh Allah) - hal 434.

 

Calvin (tentang Kel 20:8): “the legitimate use of the Sabbath must be supposed to be self-renunciation, since he is in fact accounted to cease from his works who is not led by his own will nor indulges his own wishes, but who suffers himself to be directed by the Spirit of God” (= penggunaan yang sah dari Sabat harus dianggap sebagai penyangkalan diri sendiri, karena ia yang dianggap berhenti dari pekerjaan-pekerjaannya sebetulnya adalah ia yang tidak dibimbing oleh kehendaknya sendiri maupun menuruti pemuasan keinginannya sendiri, tetapi ia yang membiarkan dirinya diarahkan oleh Roh Allah) - hal 436.

 

Calvin (tentang Kel 20:8): “There is indeed no moment which should be allowed to pass in which we are not attentive to the consideration of the wisdom, power, goodness, and justice of God in His admirable creation and government of the world; but, since our minds are fickle, and apt therefore to be forgetful or distracted, God, in his indulgence providing against our infirmities, separates one day from the rest, and commands that it should be free from all earthly business and cares, so that nothing may stand in the way of that holy occupation. On this ground He did not merely wish that people should rest at home, but that they should meet in the sanctuary, there to engage themselves in prayer and sacrifices, and to make progress in religious knowledge through the interpretation of the Law” (= Memang tidak ada saat / waktu yang boleh dibiarkan berlalu dalam mana kita tidak memberi perhatian pada pertimbangan / perenungan tentang hikmat, kuasa, kebaikan, dan keadilan dari Allah dalam penciptaanNya dan pemerintahanNya atas alam semesta yang mengagumkan; tetapi karena pikiran kita plin-plan, dan karena itu condong untuk lupa atau disimpangkan, maka Allah, dalam kebaikanNya bersiap-siap untuk menghadapi kelemahan-kelemahan kita, memisahkan satu hari dari yang lainnya, dan memerintahkan bahwa hari itu harus bebas dari semua kesibukan dan kekuatiran duniawi, sehingga tidak ada apapun yang menghalangi pekerjaan / kesibukan kudus itu. Berdasarkan hal ini Ia tidak semata-mata menginginkan supaya manusia harus beristirahat di rumah, tetapi supaya mereka bertemu di tempat kudus, menyibukkan diri mereka sendiri dalam doa dan korban-korban di sana, dan untuk membuat kemajuan dalam pengetahuan agamawi melalui penafsiran dari hukum Taurat) - hal 437.

 

Matthew Henry (tentang Yer 17:19-27): “They must apply themselves to that which is the proper work and business of the day: ‘Hallow you the sabbath, that is, consecrate it to the honour of God and spend it in his service and worship.’ It is in order to this that worldly business must be laid aside, that we may be entire for, and intent upon, that work, which requires and deserves the whole man (= Mereka harus menerapkan kepada diri mereka sendiri pekerjaan dan kesibukan yang benar pada hari itu: ‘Kuduskanlah hari Sabat, yaitu, kuduskanlah hari itu bagi kehormatan Allah dan habiskanlah / gunakanlah hari itu untuk pelayanan dan penyembahan / ibadah’. Adalah untuk tujuan ini maka kesibukan / urusan duniawi harus disingkirkan, supaya kita bisa sepenuhnya untuk, dan bersungguh-sungguh untuk, pekerjaan itu, yang membutuhkan / menuntut dan layak mendapatkan seluruh manusia).

 

Jamieson, Fausset & Brown: “the physical rest, though necessarily made prominent in the prohibitory form of the enactment ... did not certainly comprehend the whole or the chief object of the institution. Such abstinence from ‘any manner of work’ would not be equivalent to ‘keeping holy the Sabbath day.’ It is a part - an important, but not the principal, end of it, which was to afford an opportunity of worshipping God” [= istirahat fisik, sekalipun perlu ditonjolkan dalam bentuk larangan dari undang-undang ... jelas tidak meliputi seluruh hukum ataupun merupakan tujuan utama dari hukum. Tindakan menjauhkan diri dari ‘setiap bentuk pekerjaan’ seperti itu tidak akan sama dengan ‘menjaga kekudusan hari Sabat’. Itu merupakan sebagian, suatu tujuan yang penting tetapi bukan tujuan yang utama darinya, yang adalah mengadakan suatu kesempatan untuk berbakti kepada Allah].

 

Jadi, melakukan hal-hal dalam kebaktian, seperti berdoa, menyanyi, mendengar / belajar Firman Tuhan, dan bahkan melayani, jelas bukan dosa, tetapi bahkan merupakan hal-hal yang harus dilakukan pada hari Sabat, dan merupakan tujuan utama adanya hari Sabat.

 

Bdk. Maz 92:1-5 - “(1) Mazmur. Nyanyian untuk hari Sabat. (2) Adalah baik untuk menyanyikan syukur kepada TUHAN, dan untuk menyanyikan mazmur bagi namaMu, ya Yang Mahatinggi, (3) untuk memberitakan kasih setiaMu di waktu pagi dan kesetiaanMu di waktu malam, (4) dengan bunyi-bunyian sepuluh tali dan dengan gambus, dengan iringan kecapi. (5) Sebab telah Kaubuat aku bersukacita, ya TUHAN, dengan pekerjaanMu, karena perbuatan tanganMu aku akan bersorak-sorai”.

Catatan: memang ayat 1 (yang saya garis-bawahi), sebetulnya bukan termasuk dalam Kitab Suci. Kalau saudara menggunakan Kitab Suci bahasa Inggris maka bagian ini diletakkan di atas sebagai judul, dan ay 2 dalam Kitab Suci Indonesia merupakan ay 1 dalam Kitab Suci bahasa Inggris. Ay 1 dalam Kitab Suci Indonesia ini merupakan sesuatu yang ditambahkan kepada mazmur ini, dan seringkali bisa membuat kita lebih mengerti latar belakang mazmur tersebut. Tetapi bagian seperti ini tidak selalu benar. Kalau ay 1 dalam Kitab Suci Indonesia ini benar, maka kontext dari bagian ini adalah ‘nyanyian untuk hari Sabat’.

 

Matthew Henry (tentang Maz 92): “This psalm was appointed to be sung, at least it usually was sung, in the house of the sanctuary on the sabbath day” (= Mazmur ini ditetapkan untuk dinyanyikan, setidaknya itu biasanya dinyanyikan, dalam tempat kudus pada hari Sabat).

 

Matthew Henry (tentang Maz 92): “The sabbath day must be a day, not only of holy rest, but of holy work, and the rest is in order to the work” (= Hari Sabat haruslah menjadi suatu hari, bukan hanya dari istirahat yang kudus, tetapi pekerjaan yang kudus, dan istirahat itu tujuannya untuk pekerjaan itu).

 

Jamieson, Fausset & Brown (tentang Maz 92): “this psalm is for the ‘holy convocation’ on ‘the Sabbath’ (Lev. 23:3). On it the Church is to ‘rest from her own works,’ and to ‘triumph in the Lord’s work’ (Ps. 92:4) in saving her and destroying her foes” [= mazmur ini adalah untuk ‘pertemuan kudus’ pada hari Sabat (Im 23:3). Pada hari itu Gereja harus ‘beristirahat dari pekerjaan-pekerjaannya sendiri’, dan ‘bersukacita dalam pekerjaan Tuhan’ (Maz 92:4) dalam menyelamatkannya dan menghancurkan musuh-musuhnya].

 

b)   Kalau ada orang yang pada hari Sabat hanya beristirahat tetapi tidak berbakti, maka ada juga yang sebaliknya. Mereka berbakti, tetapi lalu bekerja lagi setelah kebaktian itu selesai. Atau, mereka bekerja dulu, dan lalu pada sore hari baru berbakti kepada Tuhan  / ke gereja. Ini tetap salah, karena seluruh hari Sabat itu harus untuk Tuhan.

 

Thomas Watson: “The Lord forbade manna to be gathered on the Sabbath. ... One might think it would have been allowed, as manna was the ‘staff of their life;’ and the time when it fell was between five and six in the morning, so that they might have gathered it betimes, and all the rest of the Sabbath might have been employed in God’s worship; and besides, they needed not to have taken any great journey for it, for it was but stepping out of their doors, and it fell about their tents: and yet they might not gather it on the Sabbath: and for purposing only to do it, God was very angry” (= Tuhan melarang manna dikumpulkan pada hari Sabat. ... Seseorang bisa berpikir bahwa itu akan diijinkan, karena manna merupakan ‘bahan pokok dari kehidupan mereka’; dan saat dimana manna itu jatuh adalah di antara pk 5 dan pk 6 pagi, sehingga mereka bisa mengumpulkannya sangat pagi, dan seluruh sisa dari hari Sabat bisa digunakan dalam ibadah kepada Allah; dan disamping itu, mereka tidak perlu melakukan perjalanan yang jauh untuk hal itu, karena mereka hanya perlu melangkah keluar pintu mereka dan manna itu jatuh di sekitar tenda-tenda mereka: tetapi toh mereka tidak boleh mengumpulkan manna itu pada hari Sabat: dan hanya karena adanya maksud seperti itu sudah membuat Allah sangat marah) - ‘The Ten Commandments’, hal 99.

 

c)   Sebetulnya, pergi ke gereja pada hari Sabat / Minggu itu bukan hanya merupakan kewajiban kita, tetapi juga kebutuhan kita.

 

Thomas Watson: “The Sabbath-day is for our interest; it promotes holiness in us. The business of week-days makes us forgetful of God and our souls: the Sabbath brings him back to our remembrance” (= Hari Sabat adalah untuk kepentingan kita; itu memajukan kekudusan dalam diri kita. Kesibukan dari hari-hari dalam minggu itu membuat kita lupa kepada Allah dan jiwa kita: hari Sabat membawa Dia kembali pada ingatan kita) - ‘The Ten Commandments’, hal 94.

 

Seseorang mengatakan: “After looking at the earth for six days we need the Lord’s day to look up” (= Setelah melihat pada bumi / dunia selama 6 hari, kita membutuhkan hari Tuhan untuk melihat ke atas).

 

d)   Kita harus berbakti kepada Tuhan di gereja (Im 19:30  26:2  Luk 4:16).

Im 19:30 - “Kamu harus memelihara hari-hari sabatKu dan menghormati tempat kudusKu; Akulah TUHAN”.

Im 26:2 - “Kamu harus memelihara hari-hari SabatKu dan menghormati tempat kudusKu, Akulah TUHAN”.

Luk 4:16 - “Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaanNya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab”.

 

Dari 2 ayat dalam kitab Imamat di atas bisa terlihat dengan jelas bahwa ‘pemeliharaan hari Sabat’ dihubungkan dengan tindakan ‘menghormati tempat kudus Allah’. Jadi, jelas bahwa pada hari Sabat kita memang harus berbakti kepada Tuhan.

Jadi, berbakti kepada Tuhan, bukanlah sekedar merupakan anjuran, tetapi merupakan suatu keharusan. Jadi, kalau kita tidak melakukannya, kita berdosa.

 

Ada beberapa hal yang ingin saya persoalkan:

 

1.   Kita tidak boleh berbakti di rumah sendiri (kecuali kalau rumah saudara memang dijadikan gereja).

Ada orang-orang yang berbakti kepada Tuhan di rumahnya sendiri (membaca Kitab Suci sendiri, berdoa sendiri, menyanyi sendiri, dsb). Dengan adanya Mimbar agama Kristen di TV pada hari Minggu, hal ini bisa dilakukan oleh makin banyak orang.

 

Tetapi ini bukan cara berbakti yang benar, dan ini terlihat dari:

 

a.   Ul 12:5-7 - “(5) Tetapi tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, dari segala sukumu sebagai kediamanNya untuk menegakkan namaNya di sana, tempat itulah harus kamu cari dan ke sanalah harus kamu pergi. (6) Ke sanalah harus kamu bawa korban bakaran dan korban sembelihanmu, persembahan persepuluhanmu dan persembahan khususmu, korban nazarmu dan korban sukarelamu, anak-anak sulung lembu sapimu dan kambing dombamu. (7) Di sanalah kamu makan di hadapan TUHAN, Allahmu, dan bersukaria, kamu dan seisi rumahmu, karena dalam segala usahamu engkau diberkati oleh TUHAN, Allahmu”.

 

Sebelum jaman Musa, maka tempat ibadah kepada Tuhan belum ditetapkan, dan karena itu orang boleh beri­badah di mana-mana. Tetapi sejak jaman Musa, Tuhan menetapkan satu tempat ibadah tertentu. Tetapi penetapan tempatnya juga bisa berubah.

·         pada saat Israel ada di padang gurun, tentu saja Kemah Sucinya berpindah-pindah sesuai dengan keberadaan mereka.

·         pada jaman Eli dan Samuel, Kemah Suci ada di Silo (1Sam 1:3,9,24  1Sam 2:14  1Sam 3:21  1Sam 4:3).

·         pada jaman Daud, Kemah Suci dipindahkan ke Yerusalem (2Sam 6).

 

Tetapi pada jaman Perjanjian Baru, tidak ada tempat yang ditetapkan.

Yoh 4:20-24 - “(20) Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah.’ (21) Kata Yesus kepadanya: ‘Percayalah kepadaKu, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. (22) Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi. (23) Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. (24) Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembahNya dalam roh dan kebenaran.’”.

 

Kata-kata ‘menyembah dalam roh’ di sini dikontraskan dengan kata-kata ‘menyembah secara lahiriah’. Contoh penyembahan yang lahiriah adalah penekanan tempat tertentu untuk ibadah, doa dsb (dalam kontex ini jelas inilah yang dimaksud. Bdk. ay 21). Dari sini jelas bahwa:

¨       Orang kristen tidak punya tempat / kota suci.

Jadi, Yerusalem, maupun Israel / Kanaan bukan merupakan tempat suci bagi orang kristen!

¨       Orang kristen tidak harus berbakti di gedung gereja.

Rumah, restoran, ruang senam, lapangan, atau tempat manapun / apapun, boleh dipakai sebagai tempat untuk berbakti.

Catatan: kalau pemerintah melarang hal-hal itu, itu lain urusan. Tetapi Kitab Suci sendiri tidak pernah melarang kebaktian di tempat-tempat seperti itu.

¨       Orang kristen tidak perlu pergi ke suatu tempat tertentu (misalnya bukit doa) kalau mau berdoa. Memang kita harus mencari tempat yang sunyi, tetapi bukan tempat tertentu.

¨       Orang kristen tidak perlu pergi ke tempat tertentu untuk menda­pat berkat tertentu. Bandingkan dengan Gereja Roma Katolik dengan Lourdes-nya, dan juga orang-orang yang mempercayai Toronto Blessing dengan Toronto-nya.

 

b.   Im 23:3 - “Enam hari lamanya boleh dilakukan pekerjaan, tetapi pada hari yang ketujuh haruslah ada sabat, hari perhentian penuh, yakni hari pertemuan kudus; janganlah kamu melakukan sesuatu pekerjaan; itulah sabat bagi TUHAN di segala tempat kediamanmu”.

Kata-kata ‘hari pertemuan kudus’ dalam terjemahan bahasa Inggris adalah sebagai berikut:

KJV: ‘an holy convocation’ (= suatu pertemuan kudus).

RSV/NASB: ‘a holy convocation’ (= suatu pertemuan kudus).

NIV: a day of sacred assembly (= suatu hari pertemuan keramat / kudus).

Jadi, semua terjemahan mengandung kata ‘pertemuan’, dan itu jelas menunjuk pada ibadah bersama, bukan sendiri-sendiri.

 

c.         Adanya Kemah Suci atau Bait Suci.

Kalau Tuhan memang menghendaki setiap orang percaya berbakti sendiri-sendiri di rumah masing-masing, untuk apa didirikan Kemah Suci / Bait Allah?

 

d.         Adanya hamba-hamba Tuhan.

Kalau memang Tuhan menghendaki setiap orang percaya berbakti di rumahnya masing-masing, apa gunanya Tuhan menetapkan adanya hamba Tuhan / gembala (Ef 4:11), penatua dan diaken (1Tim 3:1-13), dsb?

Ef 4:11 - “Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar”.

1Tim 3:1-13 - “(1) Benarlah perkataan ini: ‘Orang yang menghendaki jabatan penilik jemaat menginginkan pekerjaan yang indah.’ (2) Karena itu penilik jemaat haruslah seorang yang tak bercacat, suami dari satu isteri, dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, cakap mengajar orang, (3) bukan peminum, bukan pemarah melainkan peramah, pendamai, bukan hamba uang, (4) seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya. (5) Jikalau seorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat mengurus Jemaat Allah? (6) Janganlah ia seorang yang baru bertobat, agar jangan ia menjadi sombong dan kena hukuman Iblis. (7) Hendaklah ia juga mempunyai nama baik di luar jemaat, agar jangan ia digugat orang dan jatuh ke dalam jerat Iblis. (8) Demikian juga diaken-diaken haruslah orang terhormat, jangan bercabang lidah, jangan penggemar anggur, jangan serakah, (9) melainkan orang yang memelihara rahasia iman dalam hati nurani yang suci. (10) Mereka juga harus diuji dahulu, baru ditetapkan dalam pelayanan itu setelah ternyata mereka tak bercacat. (11) Demikian pula isteri-isteri hendaklah orang terhormat, jangan pemfitnah, hendaklah dapat menahan diri dan dapat dipercayai dalam segala hal. (12) Diaken haruslah suami dari satu isteri dan mengurus anak-anaknya dan keluarganya dengan baik. (13) Karena mereka yang melayani dengan baik beroleh kedudukan yang baik sehingga dalam iman kepada Kristus Yesus mereka dapat bersaksi dengan leluasa”.

Kis 14:23 - “Di tiap-tiap jemaat (church)  rasul-rasul itu menetapkan penatua-penatua bagi jemaat itu dan setelah berdoa dan berpuasa, mereka menyerahkan penatua-penatua itu kepada Tuhan, yang adalah sumber kepercayaan mereka”.

1Tim 5:17 - Penatua-penatua yang baik pimpinannya patut dihormati dua kali lipat, terutama mereka yang dengan jerih payah berkhotbah dan mengajar”.

 

e.   Tidak bisanya kita bersekutu dengan saudara seiman, kalau kita berbakti sendiri di rumah masing-masing. Perlu diingat bahwa Kristen sangat menekankan persekutuan dengan saudara seiman.

Ibr 10:25 - “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat”.

 

A. T. Robertson: “‘As the custom of some is.’ ... Already some Christians had formed the habit of not attending public worship, a perilous habit then and now” (= ‘seperti dibiasakan oleh beberapa orang’. ... Sudah ada sebagian orang Kristen yang membentuk kebiasaan untuk tidak menghadiri kebaktian umum, suatu kebiasaan yang membahayakan, dulu maupun sekarang).

 

Wycliffe Bible Commentary: “When Christians meet together, they exhort each other to fruitful service and unbroken fellowship. The danger of apostasy lurks in the failure of believers to meet together for mutual help” (= Pada waktu orang-orang kristen berkumpul / bertemu bersama-sama, mereka saling menasihati bagi pelayanan yang penuh buah dan persekutuan yang utuh. Bahaya dari kemurtadan mengintip dalam kegagalan orang-orang percaya untuk bertemu bersama-sama untuk saling menolong).

 

Barnes’ Notes: “it refers to public worship. ... The command, then, here is, to meet together for the worship of God, and it is enjoined on Christians as an important duty to do it. It is implied, also, that there is blame or fault where this is ‘neglected.’ ... Why those here referred to neglected public worship, is not specified. It may have been from such causes as the following. (1) some may have been deterred by the fear of persecution, as those who were thus assembled would be more exposed to danger than others. (2) some may have neglected the duty because they felt no interest in it - as professing Christians now sometimes do. (3) it is possible that some may have had doubts about the necessity and propriety of this duty, and on that account may have neglected it. (4) or it may perhaps have been, though we can hardly suppose that this reason existed, that some may have neglected it from a cause which now sometimes operates - from dissatisfaction with a preacher, or with some member or members of the church, or with some measure in the church. Whatever were the reasons, the apostle says that they should not be allowed to operate, but that Christians should regard it as a sacred duty to meet together for the worship of God. None of the causes above suggested should deter people from this duty. With all who bear the Christian name, with all who expect to make advances in piety and religious knowledge, it should be regarded as a sacred duty to assemble together for public worship. Religion is social; and our graces are to be strengthened and invigorated by waiting together on the Lord. There is an obvious propriety that people should assemble together for the worship of the Most High, and no Christian can hope that his graces will grow, or that he can perform his duty to his Maker, without uniting thus with those who love the service of God” [= ini menunjuk pada kebaktian umum. ... Jadi, di sini diperintahkan untuk bertemu bersama-sama untuk menyembah Allah / berbakti kepada Allah, dan hal itu diperintahkan kepada orang-orang kristen sebagai suatu kewajiban yang penting untuk dilakukan. Secara tak langsung, juga terlihat bahwa ada kesalahan pada waktu hal itu diabaikan. ... Mengapa mereka yang dibicarakan di sini mengabaikan kebaktian umum, tidak dinyatakan. Itu bisa disebabkan oleh penyebab-penyebab sebagai berikut. (1) sebagian mungkin dihalangi oleh rasa takut terhadap penganiayaan, karena mereka yang berkumpul seperti itu akan lebih terbuka terhadap bahaya dari pada yang lain. (2) sebagian mungkin telah mengabaikan kewajiban ini karena mereka tidak merasa ingin melakukannya - seperti yang kadang-kadang dilakukan oleh orang-orang yang mengaku sebagai orang Kristen pada jaman sekarang. (3) adalah mungkin bahwa sebagian mungkin mempunyai keragu-raguan tentang keharusan dan kebenaran dari kewajiban ini, dan karena itu telah mengabaikannya. (4) atau itu mungkin, sekalipun kita hampir tidak bisa menganggap bahwa alasan ini ada pada saat itu, bahwa sebagian telah mengabaikannya dari suatu penyebab yang pada jaman sekarang beroperasi - dari ketidak-puasan / ketidak-senangan terhadap sang pengkhotbah, atau terhadap jemaat tertentu dari gereja, atau terhadap tindakan-tindakan tertentu dalam gereja. Apapun alasannya, sang rasul mengatakan bahwa hal-hal itu tidak boleh diijinkan untuk beroperasi, tetapi bahwa orang-orang kristen harus menganggapnya sebagai suatu kewajiban yang sakral / kudus untuk bertemu bersama-sama bagi penyembahan terhadap Allah. Tidak ada dari penyebab-penyebab di atas yang boleh menahan orang-orang dari kewajiban ini. Bersama-sama dengan semua orang yang disebut orang Kristen, bersama-sama dengan semua orang yang berharap untuk maju dalam kesalehan dan pengetahuan agamawi, itu harus dianggap sebagai suatu kewajiban kudus untuk bertemu bersama-sama untuk melakukan kebaktian umum. Agama merupakan sesuatu yang bersifat sosial; dan kasih karunia kita harus dikuatkan dan disegarkan dengan bersama-sama melayani Tuhan. Ada kebenaran / kepantasan yang jelas bahwa orang-orang harus berkumpul bersama-sama bagi penyembahan terhadap Yang Maha Tinggi, dan tidak ada orang Kristen bisa berharap bahwa kasih karunianya akan bertumbuh, atau bahwa ia bisa melakukan kewajibannya kepada Penciptanya, tanpa bersatu seperti itu bersama mereka yang mencintai pelayanan / ibadah kepada Allah].

 

2.   Yang dimaksud ‘gereja’ adalah persekutuan orang kristen, bukan gedungnya.

Bdk. 1Kor 1:2 - kepada jemaat Allah di Korintus, yaitu mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus dan yang dipanggil menjadi orang-orang kudus, dengan semua orang di segala tempat, yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Tuhan mereka dan Tuhan kita.

Kata ‘jemaat’ seharusnya adalah ‘gereja’, dan yang disebut dengan ‘gereja’ sebetulnya bukanlah ‘gedung’nya tetapi ‘orang’nya. Bandingkan dengan kata-kata selanjutnya dalam ay 2 - ‘yaitu mereka yang dikuduskan’.

 

Jadi, sekalipun kebaktian itu tidak diadakan di gedung gereja, tetapi di restoran, hotel, rumah, dsb, itu tidak jadi soal, selama orang-orang yang mengikuti kebaktian itu adalah orang-orang kristen yang sejati (biarpun tidak semuanya, karena pasti ada lalang di antara gandum), itu tidak jadi soal.

Sekarang ada gereja-gereja (biasanya yang sudah mapan) yang mengajar jemaatnya bahwa kebaktian di ruko, restoran, hotel, rumah, dsb, itu tidak sah. Kebaktian yang sah hanyalah kebaktian yang diadakan di gedung gereja. Ini adalah omong kosong yang busuk dan kurang ajar, karena sebetulnya diucapkan hanya dengan tujuan supaya jemaat mereka tidak ‘lari’ ke gereja-gereja yang ada di tempat-tempat tersebut! Ingat bahwa orang kristen abad pertama juga tidak mempunyai gedung gereja, sehingga mereka berbakti di rumah-rumah yang digunakan sebagai tempat berbakti. Kalau itu semua tidak sah, maka boleh dikatakan semua orang Kristen abad-abad awal, dan juga semua rasul-rasul, melakukan kebaktian yang tidak sah!

 

3.   Dalam berbakti kepada Tuhan kita harus memilih gereja yang benar, karena kalau tidak, itu bukan berbakti kepada Tuhan.

Jadi, kita harus memilih gereja yang benar, yaitu gereja yang betul-betul percaya, tunduk dan mengajarkan Firman Tuhan, sebagai tempat kita berbakti.

 

Bdk. 1Kor 1:2 - kepada jemaat (gereja) Allah di Korintus, yaitu mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus dan yang dipanggil menjadi orang-orang kudus, dengan semua orang di segala tempat, yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Tuhan mereka dan Tuhan kita.

Adalah sesuatu yang aneh bahwa Paulus tetap menyebut gereja Korintus yang bejat ini dengan sebutan ‘gereja’.

Paulus yakin akan hal itu karena apa yang dialaminya dalam Kis 18:9-10 - “(9) Pada suatu malam berfirmanlah Tuhan kepada Paulus di dalam suatu penglihatan: ‘Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam! (10) Sebab Aku menyertai engkau dan tidak ada seorangpun yang akan menjamah dan menganiaya engkau, sebab banyak umatKu di kota ini.’”.

Karena itulah ia yakin bahwa di tengah-tengah banyak orang kristen yang brengsek di gereja ini pasti ada sedikit yang tetap setia, dan dengan demikian gereja yang penuh dengan cacat cela ini tetap adalah gereja Tuhan.

 

Jadi, dalam persoalan menilai suatu gereja itu benar atau sesat, kita harus menghindari 2 pandangan / sikap extrim yang salah:

 

a.   Pandangan bahwa suatu gereja baru bisa disebut gereja kalau gereja itu sempurna dan tidak ada cacat celanya. Tidak ada gereja seperti itu di dunia.

Calvin (tentang 1Kor 1:2): “it is a dangerous temptation to think that there is no Church at all where perfect purity is not to be seen. For the man that is prepossessed with this notion, must necessarily in the end withdraw from all others, and look upon himself as the only saint in the world, or set up a peculiar sect in company with a few hypocrites” (= merupakan suatu pencobaan yang berbahaya untuk berpikir bahwa di sana tidak ada Gereja sama sekali dimana kemurnian yang sempurna tidak terlihat. Karena orang yang dikuasai oleh pikiran ini, pada akhirnya pasti menarik dari semua yang lain, dan memandang dirinya sendiri sebagai satu-satunya orang suci di dunia, atau mendirikan suatu sekte khusus bersama dengan beberapa / sedikit orang-orang yang munafik) - hal 51.

Ini perlu diingat dan dicamkan, khususnya oleh orang-orang kristen tertentu, yang selalu berpindah gereja pada saat melihat adanya ketidak-beresan tertentu (biarpun kecil) dalam gerejanya / pendetanya / jemaatnya.

 

b.         Pandangan bahwa semua gereja adalah gereja.

Ini salah karena jelas ada gereja-gereja sesat yang bukanlah gereja dalam pandangan Tuhan.

Bahwa tidak semua ‘gereja’ adalah ‘gereja’ di hadapan Tuhan, terlihat dari:

 

·        istilah ‘jemaah Iblis’ dalam Wah 2:9 dan Wah 3:9.

Wah 2:9 - “Aku tahu kesusahanmu dan kemiskinanmu - namun engkau kaya - dan fitnah mereka, yang menyebut dirinya orang Yahudi, tetapi yang sebenarnya tidak demikian: sebaliknya mereka adalah jemaah Iblis.

Wah 3:9 - “Lihatlah, beberapa orang dari jemaah Iblis, yaitu mereka yang menyebut dirinya orang Yahudi, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, melainkan berdusta, akan Kuserahkan kepadamu. Sesungguhnya Aku akan menyuruh mereka datang dan tersungkur di depan kakimu dan mengaku, bahwa Aku mengasihi engkau”.

KJV/RSV/NIV/NASB: ‘the synagogue of Satan’ (= sinagog Setan).

Dalam Bil 16:3  Bil 20:4  Bil 31:16 Israel disebut sebagai ‘jemaah / umat TUHAN’. Kata ‘sinagog’ berasal dari kata Yunani SUNAGOGE, yang arti hurufiahnya adalah ‘suatu kumpulan’ atau ‘jemaah’. Jadi dengan kata-kata ini seakan-akan Yohanes berkata: Kamu menyebut dirimu sendiri ‘jemaah TUHAN’, padahal sebetulnya kamu adalah ‘jemaah Iblis’.

Leon Morris (Tyndale) (tentang Wah 2:9): “This unusual expression means that their assembly for worship does not gather God’s people but Satan’s” (= Istilah / ungkapan yang tidak lazim ini berarti bahwa perkumpulan / persekutuan kebaktian mereka tidak mengumpulkan umat Allah tetapi umat Setan) - hal 64.

 

Mereka ini sama seperti orang-orang Yahudi dalam Yoh 8:37-44, yang sekalipun mengaku sebagai keturunan Abraham dan anak-anak Allah, tetapi sebetulnya adalah anak-anak setan.

Yoh 8:37-44 - “(37) ‘Aku tahu, bahwa kamu adalah keturunan Abraham, tetapi kamu berusaha untuk membunuh Aku karena firmanKu tidak beroleh tempat di dalam kamu. (38) Apa yang Kulihat pada Bapa, itulah yang Kukatakan, dan demikian juga kamu perbuat tentang apa yang kamu dengar dari bapamu.’ (39) Jawab mereka kepadaNya: ‘Bapa kami ialah Abraham.’ Kata Yesus kepada mereka: ‘Jikalau sekiranya kamu anak-anak Abraham, tentulah kamu mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham. (40) Tetapi yang kamu kerjakan ialah berusaha membunuh Aku; Aku, seorang yang mengatakan kebenaran kepadamu, yaitu kebenaran yang Kudengar dari Allah; pekerjaan yang demikian tidak dikerjakan oleh Abraham. (41) Kamu mengerjakan pekerjaan bapamu sendiri.’ Jawab mereka: ‘Kami tidak dilahirkan dari zinah. Bapa kami satu, yaitu Allah.’ (42) Kata Yesus kepada mereka: ‘Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendakKu sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku. (43) Apakah sebabnya kamu tidak mengerti bahasaKu? Sebab kamu tidak dapat menangkap firmanKu. (44) Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta”.

 

Thomas Becon: “For commonly, wheresoever God buildeth a church, the devil will build a chapel just by” (= Karena biasanya, dimanapun Allah membangun sebuah gereja, setan akan membangun tempat ibadah di dekatnya) - ‘The Encyclopedia of Religious Quotations’, hal 118.

 

Daniel Defoe, ‘The Encyclopedia of Religious Quotations’, hal 119-120:

“Wherever God erects a house of prayer, (= Dimanapun Allah mendirikan rumah doa,)

The Devil always builds a chapel there; (= Setan selalu membangun tempat ibadah di sana;)

And ‘twill be found, upon examination, (= Dan akan didapatkan, setelah diselidiki,)

The latter has the largest congregation” (= Yang terakhir mempunyai jemaat yang terbesar).

 

Catatan: ‘chapel’ adalah suatu tempat ibadah yang lebih rendah dan lebih kecil dari gereja. Biasanya ada di rumah sakit, sekolah, dan sebagainya.

 

·        istilah ‘rumahmu (bukan ‘rumahKu’ atau ‘rumah BapaKu’) yang digunakan oleh Yesus dalam Mat 23:38 untuk menunjuk kepada Bait Allah.

Mat 23:38 - “Lihatlah rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi”.

 

Calvin (tentang Mat 23:38): “they looked upon the temple as their invincible fortress, as if they dwelt in the bosom of God. But Christ maintains that it is in vain for them to boast of the presence of God, whom they had driven away by their crimes, and, by calling it ‘their house,’ ... he indirectly intimates to them that it is no longer the house of God (= mereka memandang Bait Allah sebagai benteng mereka yang tak terkalahkan, seakan-akan mereka tinggal di dada Allah. Tetapi Kristus mempertahankan pandangan bahwa adalah sia-sia bagi mereka untuk membanggakan kehadiran Allah, yang telah mereka usir oleh kejahatan-kejahatan mereka, dan dengan menyebutnya ‘rumah mereka’, ... secara tidak langsung Ia menunjukkan kepada mereka bahwa itu bukan lagi rumah Allah).

 

Perlu diingat bahwa kalau saudara berbakti di gereja yang sesat, maka:

 

¨       Itu jelas merupakan dosa, karena Firman Tuhan melarang saudara mendengarkan / mempedulikan nabi palsu / pengajar sesat.

Ul 13:1-5 - “(1) Apabila di tengah-tengahmu muncul seorang nabi atau seorang pemimpi, dan ia memberitahukan kepadamu suatu tanda atau mujizat, (2) dan apabila tanda atau mujizat yang dikatakannya kepadamu itu terjadi, dan ia membujuk: Mari kita mengikuti allah lain, yang tidak kaukenal, dan mari kita berbakti kepadanya, (3) maka janganlah engkau mendengarkan perkataan nabi atau pemimpi itu; sebab TUHAN, Allahmu, mencoba kamu untuk mengetahui, apakah kamu sungguh-sungguh mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu. (4) TUHAN, Allahmu, harus kamu ikuti, kamu harus takut akan Dia, kamu harus berpegang pada perintahNya, suaraNya harus kamu dengarkan, kepadaNya harus kamu berbakti dan berpaut. (5) Nabi atau pemimpi itu haruslah dihukum mati, karena ia telah mengajak murtad terhadap TUHAN, Allahmu, yang telah membawa kamu keluar dari tanah Mesir dan yang menebus engkau dari rumah perbudakan - dengan maksud untuk menyesatkan engkau dari jalan yang diperintahkan TUHAN, Allahmu, kepadamu untuk dijalani. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu”.

Ul 18:20-22 - “(20) Tetapi seorang nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi namaKu perkataan yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah lain, nabi itu harus mati. (21) Jika sekiranya kamu berkata dalam hatimu: Bagaimanakah kami mengetahui perkataan yang tidak difirmankan TUHAN? - (22) apabila seorang nabi berkata demi nama TUHAN dan perkataannya itu tidak terjadi dan tidak sampai, maka itulah perkataan yang tidak difirmankan TUHAN; dengan terlalu berani nabi itu telah mengatakannya, maka janganlah gentar kepadanya.’”.

Tit 3:10-11 - “(10) Seorang bidat yang sudah satu dua kali kaunasihati, hendaklah engkau jauhi. (11) Engkau tahu bahwa orang yang semacam itu benar-benar sesat dan dengan dosanya menghukum dirinya sendiri”.

Bdk. 2Tim 3:1-5 - “(1) Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. (2) Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, (3) tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, (4) suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah. (5) Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!”.

Catatan: memang text terakhir ini tidak secara khusus berbicara tentang nabi palsu / penyesat, tetapi jelas bisa diterapkan kepada mereka!

 

¨       Tuhan tidak menganggap bahwa saudara sudah berbakti kepadaNya.

Bdk. Yeh 23:38-39 - “(38) Selain itu hal ini juga mereka lakukan terhadap Aku, mereka menajiskan tempat kudusKu pada hari itu dan melanggar kekudusan hari-hari SabatKu. (39) Dan sedang mereka menyembelih anak-anak mereka untuk berhala-berhalanya, mereka datang pada hari itu ke tempat kudusKu dan melanggar kekudusannya. Sungguh, inilah yang dilakukan mereka di dalam rumahKu”.

Perhatikan bahwa ay 39 mengatakan bahwa mereka datang ke ‘rumah Allah’, tetapi di sana apa yang dilakukan adalah menyembah berhala dan menyembelih anak-anak bagi berhala / dewa. Jelas ini merupakan ‘gereja’ sesat, dan karena itu, sekalipun orang-orang itu datang ke rumah Allah, Allah justru menganggap mereka menajiskan tempat kudus / rumah Allah dan melanggar kekudusan Sabat (ay 38).

Bdk. Yer 32:34 - “Mereka menempatkan dewa-dewa mereka yang menjijikkan di rumah yang di atasnya namaKu diserukan, untuk menajiskannya”.

Jamieson, Fausset & Brown (tentang Yer 32:35): “I commanded not. This cuts off from the superstitious the plea of a good intention. All ‘will-worship’ exposes to God’s wrath (Col 2:18,23)” [= ‘Aku tidak pernah memerintahkannya’. Ini membuang dari takhyul-takhyul dalih / pembelaan tentang maksud / tujuan yang baik. Semua ibadah menurut kemauan sendiri membuka diri terhadap murka Allah (Kol 2:18,23)].

 

¨       Saudara mendukung dan memberi semangat kepada gereja sesat itu.

Kehadiran saudara membuat yang hadir bertambah banyak, dan itu memberi semangat yang cukup besar kepada mereka. Apalagi kalau pada acara persembahan saudara mau memberi persembahan kepada gereja sesat itu!

 

Jadi, kalau saudara sadar bahwa gereja saudara adalah gereja yang sesat, maka saudara harus meninggalkan gereja itu, dan pindah ke gereja yang benar. Kalau saudara segan untuk meninggalkan gereja saudara, padahal saudara tahu bahwa gereja saudara itu sesat, apapun alasannya, maka saudara perlu merenungkan pertanyaan ini secara serius: ‘Apakah aku mengikut Kristus, atau mengikut gerejaku?’.

Juga, renungkan text-text di bawah ini beserta komentar dari para penafsir tentangnya.

 

*        2Kor 6:14-17 - “(14) Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap? (15) Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dan Belial? Apakah bagian bersama orang-orang percaya dengan orang-orang tak percaya? (16) Apakah hubungan bait Allah dengan berhala? Karena kita adalah bait dari Allah yang hidup menurut firman Allah ini: ‘Aku akan diam bersama-sama dengan mereka dan hidup di tengah-tengah mereka, dan Aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi umatKu. (17) Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu”.

 

Matthew Henry (tentang 2Kor 6:11-18): “Much less should we join in religious communion with them; we must not join with them in their idolatrous services, nor concur with them in their false worship, nor any abominations; we must not confound together the table of the Lord and the table of devils, the house of God and the house of Rimmon” (= Lebih-lebih lagi kita tidak boleh ikut serta dalam persekutuan agamawi dengan mereka; kita tidak boleh ikut serta dengan mereka dalam kebaktian-kebaktian yang bersifat menyembah berhala dari mereka, ataupun bergabung dengan mereka dalam penyembahan / ibadah palsu mereka, ataupun kejijikan-kejijikan apapun; kita tidak boleh mencampur-adukkan meja Tuhan dan meja dari setan-setan, rumah Allah dan rumah dewa Rimmon).

 

*        Wah 18:1-5 - “(1) Kemudian dari pada itu aku melihat seorang malaikat lain turun dari sorga. Ia mempunyai kekuasaan besar dan bumi menjadi terang oleh kemuliaannya. (2) Dan ia berseru dengan suara yang kuat, katanya: ‘Sudah rubuh, sudah rubuh Babel, kota besar itu, dan ia telah menjadi tempat kediaman roh-roh jahat dan tempat bersembunyi semua roh najis dan tempat bersembunyi segala burung yang najis dan yang dibenci, (3) karena semua bangsa telah minum dari anggur hawa nafsu cabulnya dan raja-raja di bumi telah berbuat cabul dengan dia, dan pedagang-pedagang di bumi telah menjadi kaya oleh kelimpahan hawa nafsunya.’ (4) Lalu aku mendengar suara lain dari sorga berkata: ‘Pergilah kamu, hai umatKu, pergilah dari padanya supaya kamu jangan mengambil bagian dalam dosa-dosanya, dan supaya kamu jangan turut ditimpa malapetaka-malapetakanya. (5) Sebab dosa-dosanya telah bertimbun-timbun sampai ke langit, dan Allah telah mengingat segala kejahatannya”.

 

Jamieson, Fausset & Brown (tentang Wah 18:4): “‘Come out of her, my people.’ From Jer 50:8; 51:6,45. Even in Rome, God has a people; but they are in great danger: their safety is in coming out of her at once. So in every world-conforming church there are some of God’s true Church, who must come out. Especially at the eve of God’s judgment on apostate Christendom: as Lot was warned to come out of Sodom before its destruction, and Israel, to come from about Dathan’s tents. So the first Christians came out of Jerusalem, when apostate Judah was judged. ... ‘The harlot is every church that has not Christ’s mind. Christendom, divided into many sects, is Babylon - i.e., confusion. ... Corrupt, lifeless Christendom, is the harlot, whose aim is the pleasure of the flesh, governed by the spirit of nature and the world’ (Hahn in Auberlen). The first justification of the woman is in her being called out of Babylon, the harlot, at the culmination of Babylon’s sin, when judgment is to fall: for apostate Christendom is not to be converted, but destroyed” [= ‘Keluarlah / pergilah kamu, hai umatKu’. Dari Yer 50:8; 51:6,45. Bahkan di Roma, Allah mempunyai suatu umat; tetapi mereka ada dalam bahaya yang besar: keamanan mereka adalah dengan segera keluar darinya. Demikian juga dalam setiap gereja yang menyesuaikan diri dengan dunia di sana ada beberapa dari Gereja yang benar dari Allah, yang harus keluar. Khususnya pada malam penghakiman Allah terhadap kekristenan yang murtad: seperti Lot diperingatkan untuk keluar dari Sodom sebelum penghancurannya, dan Israel untuk pergi dari sekitar kemah Datan. Demikianlah orang-orang Kristen pertama keluar dari Yerusalem, ketika Yehuda yang murtad dihakimi. ... ‘Sang pelacur adalah setiap gereja yang tidak mempunyai pikiran Kristus. Kekristenan, terbagi ke dalam banyak sekte, adalah Babel - yaitu kekacauan / kebingungan. ... Kekristenan yang rusak / jahat, mati, adalah sang pelacur, yang tujuannya adalah kesenangan daging, diperintah oleh roh dari alam dan dunia’ (Hahn in Auberlen). Pembenaran pertama dari perempuan itu adalah dalam pemanggilannya keluar dari Babel, sang pelacur, pada puncak dari dosa Babel, pada waktu penghakiman akan dijatuhkan: karena kekristenan yang murtad tidak akan dipertobatkan, tetapi dihancurkan].

 

Barnes’ Notes (tentang Wah 18:4): “It is implied here that by remaining in Babylon they would lend their sanction to its sins by their presence, and would, in all probability, become contaminated by the influence around them. This is an universal truth in regard to iniquity, and hence it is the duty of those who would be pure to come out from the world, and to separate themselves from all the associations of evil (= Ditunjukkan secara implicit di sini bahwa dengan tetap tinggal di Babel mereka cenderung menyetujui / mendukung dosa-dosanya oleh kehadiran mereka, dan sangat mungkin akan dikotori / dicemarkan oleh pengaruh di sekitar mereka. Ini merupakan kebenaran universal berkenaan dengan kejahatan, dan karena itu merupakan kewajiban dari mereka yang ingin menjadi murni untuk keluar dari dunia, dan memisahkan diri mereka sendiri dari semua pergaulan / perkumpulan dari kejahatan).

 

Pulpit Commentary (tentang Wah 18:4): “Since the harlot, who is identical with Babylon, is representative of the faithless part of the Church of God, these words form a direct warning to Christians. The departure which is commanded is not necessarily a literal, visible one; but the command implies a dissociation from, and condemnation of, the works of Babylon. Lot’s wife literally departed from Sodom, but was overtaken with punishment, because her heart was not dissevered from the wickedness of the city (= Karena sang pelacur, yang identik dengan Babel, adalah wakil dari bagian yang tidak setia dari Gereja Allah, kata-kata ini membentuk suatu peringatan langsung kepada orang-orang Kristen. Tindakan meninggalkan yang diperintahkan tidak harus merupakan suatu tindakan meninggalkan yang bersifat hurufiah, kelihatan; tetapi perintah itu secara tidak langsung menunjuk pada suatu pemisahan diri dari, dan pengecaman terhadap, pekerjaan-pekerjaan Babel. Istri Lot secara hurufiah meninggalkan Sodom, tetapi disusul oleh hukuman, karena hatinya tidak diputuskan / dipisahkan dari kejahatan dari kota itu).

 

Catatan: ada bermacam-macam penafsiran tentang ‘Babel’. Ada yang mengatakan bahwa ‘Babel’ adalah ‘dunia’. Tetapi kalaupun ‘Babel’ diartikan sebagai ‘dunia’, saya berpendapat bahwa kata-kata dalam Wah 18:4 ini tetap bisa diterapkan kepada orang-orang Kristen untuk meninggalkan gereja yang sesat, karena gereja yang sesat termasuk dalam ‘dunia’ ini.

 

Banyak orang Kristen yang tidak mau keluar dari / meninggalkan gereja mereka, sekalipun mereka tahu gereja mereka sesat, dengan alasan mereka mau membetulkan gereja mereka. Keinginan seperti ini, sekalipun kelihatannya bagus, menurut saya salah dan merugikan, baik diri mereka sendiri maupun seluruh gereja Tuhan yang benar di bumi ini. Bukan sesuatu yang mudah untuk meluruskan gereja yang sesat. Bahkan menurut saya, itu hampir mustahil. Disamping itu apa status mereka dalam gereja? Kalau mereka hamba Tuhan, masih mungkin, sekalipun kemungkinannya tetap sangat kecil. Tetapi kalau mereka jemaat awam, apa yang mereka mau lakukan untuk meluruskan gereja mereka? Perlu diingat bahwa Yesus dan rasul-rasul sebetulnya juga tidak keluar dari ‘gereja Yahudi’ pada saat itu, tetapi mereka dikeluarkan. Juga Martin Luther tidak keluar dari Gereja Roma Katolik, tetapi ia dikeluarkan. Kalau orang-orang seperti itu tidak bisa mereformasi gereja yang sesat, apalagi orang-orang awam? Juga, kalau semua orang Kristen sejati tetap ada di gereja mereka yang sesat, maka itu menguntungkan dan memberi semangat kepada gereja sesat, dan merugikan gereja-gereja yang benar. Jauh lebih baik, semua mereka keluar dari gereja sesat dan berkumpul untuk membangun kekuatan gereja yang benar.

 

Saya akan memberikan komentar dari beberapa penafsir tentang tindakan berbakti di gereja yang tidak benar. Kedua penafsir di bawah ini memberikan komentar tentang Luk 4:16 yang berbunyi sebagai berikut: “Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaanNya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab”.

 

Adam Clarke (tentang Luk 4:16): “Our Lord regularly attended the public worship of God in the synagogues; for there the Scriptures were read: other parts of the worship were very corrupt; but it was the best at that time to be found in the land. To worship God publicly is the duty of every man, and no man can be guiltless who neglects it. If a person cannot get such public worship as he likes, let him frequent such as he can get. Better to attend the most indifferent than to stay at home, especially on the Lord’s day. The place and the time are set apart for the worship of the true God: if others do not conduct themselves well in it, that is not your fault, and need not be any hindrance to you. You come to worship God -  do not forget your errand - and God will supply the lack in the service by the teachings of his Spirit” (= Tuhan kita secara teratur menghadiri kebaktian umum Allah di sinagog-sinagog; karena di sana Kitab Suci dibacakan: bagian-bagian lain dari kebaktian itu sangat buruk / rusak; tetapi itu adalah yang terbaik pada saat itu yang bisa ditemukan di negara itu. Menyembah Allah / berbakti kepada Allah secara umum merupakan kewajiban dari setiap orang, dan tidak ada orang bisa tidak bersalah kalau ia mengabaikannya. Jika seseorang tidak bisa mendapatkan kebaktian seperti yang ia inginkan, biarlah ia pergi secara tetap ke tempat yang bisa ia dapatkan. Lebih baik untuk menghadiri kebaktian / gereja yang paling acuh tak acuh dari pada tinggal di rumah, khususnya pada hari Tuhan. Tempat dan waktu dipisahkan untuk berbakti kepada Allah yang benar; jika orang-orang lain tidak bertingkah laku benar di dalamnya, itu bukan salahmu, dan tidak perlu menjadi penghalang bagimu. Kamu datang untuk berbakti kepada Allah - jangan melupakan tujuanmu - dan Allah akan menyuplai kekurangan dalam kebaktian itu oleh pengajaran RohNya).

 

Barnes’ Notes (tentang Luk 4:16): “From this it appears that the Saviour regularly attended the service of the synagogue. In that service the Scriptures of the Old Testament were read, prayers were offered, and the Word of God was explained. ... There was great corruption in doctrine and practice at that time, but Christ did not on that account keep away from the place of public worship. From this we may learn: 1. That it is our duty ‘regularly’ to attend public worship. 2. That it is better to attend a place of worship which is not entirely pure, or where just such doctrines are not delivered as we would wish, than not attend at all. ... At the same time, this remark should not be construed as enjoining it as our duty to attend a place where the ‘true’ God is not worshipped, or where he is worshipped by pagan rites and pagan prayers. If, therefore, the Unitarian does not worship the true God, and if the Roman Catholic worships God in a manner forbidden, and offers homage to the creatures of God also, thus being guilty of idolatry, it cannot be a duty of a man to attend on such a place of worship” (= Dari sini kelihatan bahwa sang Juruselamat secara teratur menghadiri kebaktian di sinagog. Dalam kebaktian itu Kitab Suci Perjanjian Lama dibacakan, doa dinaikkan, dan Firman Allah dijelaskan. ... Di sana ada keburukan / kerusakan yang besar dalam doktrin dan praktek pada jaman itu, tetapi hal itu tidak menyebabkan Kristus menjauhi tempat ibadah itu. Dari sini bisa kita pelajari: 1. Bahwa merupakan kewajiban kita untuk secara teratur menghadiri kebaktian umum. 2. Bahwa lebih baik untuk menghadiri suatu tempat ibadah / kebaktian yang tidak sepenuhnya murni, atau dimana ajaran-ajaran tidak diberikan seperti yang kita inginkan, dari pada tidak menghadiri kebaktian sama sekali. ... Pada saat yang sama, kata-kata ini tidak boleh ditafsirkan sebagai memerintahkan hal itu sebagai kewajiban kita untuk menghadiri suatu tempat ibadah dimana yang disembah bukanlah Allah yang benar, atau dimana Ia disembah dengan upacara-upacara kafir dan doa-doa kafir. Karena itu, jika Unitarian tidak menyembah Allah yang benar, dan jika Roma Katolik menyembah Allah dengan cara yang dilarang, dan juga memberikan penghormatan kepada makhluk-makhluk ciptaan dari Allah, dan dengan demikian bersalah dalam hal pemberhalaan, maka tidak bisa merupakan kewajiban seseorang untuk menghadiri tempat ibadah seperti itu) - hal 196.

Catatan: ‘Unitarian’ mempercayai bahwa Allah itu tunggal secara mutlak, dan dengan demikian menyangkal keilahian Kristus dan doktrin Allah Tritunggal.

 

Jadi, memang lebih baik berbakti di gereja yang jelek (bukan yang sesat) dari pada tidak berbakti sama sekali. Tetapi itu tidak berarti bahwa saudara boleh, atau harus, berbakti di gereja yang betul-betul sesat, seperti Saksi Yehuwa, Mormon, dan menurut Barnes, Gereja Roma Katolik.

 

e)   Satu hal lain yang perlu disadari adalah bahwa membolos dari kebaktian Minggu, bukan hanya merupakan suatu dosa, tetapi juga merupakan suatu tindakan yang sangat kurang ajar kepada Tuhan. Ia sudah memberikan 6 hari kepada saudara, dan Ia hanya memerintahkan saudara untuk memberikan satu hari untuk Dia, tetapi yang satu hari itupun saudara ambil dariNya, dan saudara gunakan untuk kepentingan saudara sendiri.

Illustrasi: Ada seorang melihat seorang pengemis. Ia kasihan dan ingin memberinya uang. Dalam kantongnya ada 7 keping uang, dan ia lalu memberikan 6 keping kepada pengemis itu, dan menyisakan 1 keping untuk dirinya sendiri. Tetapi pengemis itu, yang melihat bahwa orang itu menyisakan satu keping untuk dirinya sendiri, lalu menyambar sisa yang 1 keping itu, dan lari. Ini betul-betul menunjukkan orang yang kurang ajar bukan? Tetapi itu coba bandingkan dengan analoginya: Allah mempunyai 7 hari, dan ia memberikan 6 hari bagi kita untuk bekerja, belajar, mengurus urusan-urusan kita dsb. Ia hanya menyisakan satu hari bagi diriNya sendiri, yaitu hari Sabat. Tetapi kita sering lalu menyambar hari yang satu itu dari tangan Allah, dan tetap menggunakannya untuk diri kita sendiri! Apa bedanya orang yang membolos dari kebaktian dengan pengemis yang kurang ajar tadi?

 

f)    Alasan yang tidak sah dan yang sah untuk tidak berbakti pada hari Sabat.

 

1.   Alasan yang tidak sah.

Hal-hal di bawah ini bukanlah alasan yang sah untuk membolos dari kebaktian hari Minggu, dan karena itu jangan membolos dari kebaktian hari Minggu, dengan alasan-alasan yang sangat umum di bawah ini:

a.   Ada tamu.

b.   Arisan / pertemuan RT / RW.

c.   Kerja bakti.

d.   Bekerja / lembur.

e.   Belajar.

f.    Piknik / keluar kota.

g.   Pergi ke pesta HUT.

h.   Ada acara dari ‘para-church’ (persekutuan, dsb).

Para pemimpin maupun pengikut dari para-church ini harus menyadari bahwa para-church didirikan untuk mendukung gereja, dan bukannya untuk menyaingi gereja. Karena itu mereka seharusnya tidak mengadakan acara pada hari Minggu!

i.    Saudara merasa sudah mengikuti ‘kebaktian’ pernikahan.

Ingat bahwa upacara pernikahan di gereja sebetulnya bukanlah suatu kebaktian! Saya berpendapat bahwa hari Minggu bukanlah hari untuk menikah, tetapi untuk berbakti. Orang kristen seharusnya tidak menikah pada hari Minggu! Mengapa? Karena ini bukan hanya menyebabkan pengantinnya tidak bisa berbakti, tetapi juga menyebabkan banyak orang berdosa karena membolos dari kebaktian.

 

2.   Alasan yang sah.

Alasan yang sah untuk tidak pergi ke kebaktian adalah kalau saudara sakit, dan itupun tentu bukan sembarang sakit. Sakitnya harus cukup berat (sehingga memang tidak memungkinkan saudara untuk berbakti atau berkonsentrasi dalam kebaktian), atau menular dan membahayakan. Sedangkan alasan yang lain adalah kalau terjadi hal-hal yang memang sangat extrim, seperti bencana alam, banjir yang hebat, atau kerusuhan masal.

 

Di atas sudah kita pelajari bahwa kita tidak boleh bekerja, memasak, belanja, melakukan perjalanan sekuler, rekreasi, dsb, pada hari Sabat / hari minggu. Lalu bagaimana caranya kita ‘menghabiskan waktu’ pada hari Sabat / hari minggu?

 

The Biblical Illustrator (Old Testament) tentang Kel 20:8-11: “NOTICE THE POSITIVE DUTIES IMPLIED IN KEEPING THE SABBATH HOLY. 1. Portions of the Sabbath should be devoted to public religious worship. 2. Portions of the Sabbath are due to special private devotion. 3. Portions of the Sabbath should be devoted to religious reading. 4. A portion of the Sabbath is very properly adjudged to Sunday-school work. 5. What remains of the Sabbath, deducting the time for necessary temporal cares, should be devoted to family religion” (= Perhatikan kewajiban-kewajiban positif yang ditunjukkan secara tak langsung / implicit dalam memelihara kekudusan hari Sabat. 1. Bagian-bagian dari hari Sabat harus dibaktikan pada kebaktian agamawi umum. 2. Bagian-bagian dari hari Sabat harus digunakan untuk pembaktian pribadi khusus. 3. Bagian-bagian dari hari Sabat harus dibaktikan pada pembacaan agamawi. 4. Satu bagian dari hari Sabat sangat tepat untuk diberikan pada pekerjaan Sekolah Minggu. 5. Apa yang tersisa dari hari Sabat, dikurangi waktu untuk perhatian sementara yang perlu, harus dibaktikan untuk agama keluarga).

 

The Biblical Illustrator (Old Testament) tentang Kel 20:8-11: “Indeed, I cannot conceive how a young man can unfold himself more thoroughly or symmetrically than by devoting himself vigorously to study during the week, and then setting apart Sunday as a day of restful worship, first praising God in His sanctuary, and then praising Him in works of mercy, visiting the sick, comforting the sorrowful, teaching the ignorant, reclaiming the outcast” (= Bahkan saya tidak bisa mengerti bagaimana seorang muda bisa membuka dirinya sendiri dengan lebih sepenuhnya atau dengan lebih simetris dari pada dengan membaktikan dirinya sendiri dengan giat untuk belajar dalam sepanjang minggu, dan lalu memisahkan hari Minggu sebagai suatu hari untuk kebaktian yang tenang, mula-mula memuji / memuliakan Allah dalam tempat kudusNya, dan lalu memuji / memuliakan Dia dalam pekerjaan-pekerjaan belas kasihan, mengunjungi orang-orang sakit, menghibur orang-orang yang sedih, mengajar orang-orang yang bodoh / tidak mempunyai pengetahuan, menyelamatkan / membawa kembali orang-orang yang terbuang).

 

Semua ini menunjukkan bahwa hukum tentang hari Sabat ini adalah salah satu hukum yang paling mustahil dalam seluruh Alkitab untuk ditaati secara sempurna! Tidak ada orang yang tidak banyak / berulang-ulang berdosa dengan melanggar hukum keempat ini. Dan kalau ada orang menganggap pelanggaran terhadap hukum Sabat ini termasuk dosa ringan, maka perlu dipikirkan bahwa dalam Perjanjian Lama hukuman untuk pelanggar hukum Sabat adalah hukuman mati!

 

Bible Knowledge Commentary: “For the violation of this command God imposed on Israel the death penalty (Ex 31:15; Num 15:32-36)” [= Untuk pelanggaran terhadap hukum ini Allah menentukan kepada Israel hukuman mati (Kel 31:15; Bil 15:32-36)].

 

Kel 31:15 - “Enam hari lamanya boleh dilakukan pekerjaan, tetapi pada hari yang ketujuh haruslah ada sabat, hari perhentian penuh, hari kudus bagi TUHAN: setiap orang yang melakukan pekerjaan pada hari Sabat, pastilah ia dihukum mati.

 

Bil 15:32-36 - “(32) Ketika orang Israel ada di padang gurun, didapati merekalah seorang yang mengumpulkan kayu api pada hari Sabat. (33) Lalu orang-orang yang mendapati dia sedang mengumpulkan kayu api itu, menghadapkan dia kepada Musa dan Harun dan segenap umat itu. (34) Orang itu dimasukkan dalam tahanan, oleh karena belum ditentukan apa yang harus dilakukan kepadanya. (35) Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: ‘Orang itu pastilah dihukum mati; segenap umat Israel harus melontari dia dengan batu di luar tempat perkemahan.’ (36) Lalu segenap umat menggiring dia ke luar tempat perkemahan, kemudian dia dilontari dengan batu, sehingga ia mati, seperti yang difirmankan TUHAN kepada Musa.

 

Sekalipun jaman sekarang hukuman mati ini tidak bisa diberlakukan, tetapi hukuman mati pada jaman Perjanjian Lama ini menunjukkan bahwa pelanggaran terhadap hukum hari Sabat sama sekali bukanlah dosa yang ringan! Dan jelas bahwa hukum ini bukan main seringnya kita langgar, sehingga membuat kita menjadi orang yang sangat berdosa, yang seharusnya masuk ke neraka untuk selama-lamanya. Karena itu, semua orang membutuhkan Yesus sebagai Penebus dosanya, tanpa mana mereka akan masuk ke neraka selama-lamanya!

 

 

-AMIN-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ