fondasi kristen

oleh : pDT BUDI ASALI, M.Div.

 

HUKUM 2

 

Jangan membuat

dan

menyembah patung berhala

 

(Kel 20:4-6)

 

Kel 20:4-6 - “(4) Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. (5) Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, (6) tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintahKu”.

 

1)         Penafsiran Kel 20:4-5.

Kel 20:4 melarang untuk membuat patung. Ada 2 kemungkinan untuk menafsirkan bagian ini:

 

a)   Kel 20:4 ditafsirkan secara terpisah dari Kel 20:5, tetapi yang dimaksud dengan ‘patung’ bukanlah patung biasa, tetapi ‘patung berhala’ [NIV/NASB: ‘an idol’ (= patung berhala)].

Calvin kelihatannya mengambil pandangan ini. Ia mengatakan bahwa hukum kedua ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama melarang pendirian / pembuatan patung, dan bagian kedua melarang penyembahan terhadap patung itu.

 

b)   Kel 20:4 dan Kel 20:5 tidak boleh dipisahkan sehingga berdiri sendiri-sendiri, tetapi harus ditafsirkan dalam suatu kesatuan. Jadi, yang dilarang bukanlah ‘membuat patung’ dan ‘menyembah patung’, tetapi ‘membuat patung untuk disembah’.

 

Pulpit Commentary: “Verses 4 and 5 are to be taken together, the prohibition being intended, not to forbid the arts of sculpture and painting, or even to condemn the religious use of them, but to disallow the worship of God under material forms” (= Ayat 4 dan 5 harus diartikan bersama-sama, larangan yang dimaksudkan, bukanlah melarang seni memahat dan melukis, atau bahkan mengecam penggunaan agamawi dari mereka, tetapi tidak mengijinkan penyembahan Allah di bawah bentuk-bentuk materi).

Catatan: saya tidak mengerti mengapa Pulpit Commentary mengijinkan patung untuk penggunaan agamawi. Matthew Henry melarang hal itu (lihat kutipan dari Matthew Henry di bawah). Mungkin mereka memaksudkan ‘penggunaan agamawi’ yang berbeda.

 

Bdk. Im 26:1 - “‘Janganlah kamu membuat berhala bagimu, dan patung atau tugu berhala janganlah kamu dirikan bagimu; juga batu berukir janganlah kamu tempatkan di negerimu untuk sujud menyembah kepadanya, sebab Akulah TUHAN, Allahmu”.

 

Jadi, membuat patung, asal bukan patung berhala (seperti patung Buddha, Kwan Im, dsb), atau patung untuk disembah, bukanlah dosa. Bahwa membuat patung biasa, selama bukan dengan tujuan untuk menyembahnya, tidak dilarang, terlihat dari beberapa bagian Kitab Suci dimana Tuhan sendiri menyuruh membuat patung, misalnya:

1.         Patung ular tembaga.

Bil 21:8-9 - “(8) Maka berfirmanlah TUHAN kepada Musa: ‘Buatlah ular tedung dan taruhlah itu pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup.’ (9) Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup”.

Tuhan sendiri yang menyuruh membuat patung ular ini, sehingga tindakan Musa membuat patung itu jelas bukan dosa. Memang akhirnya patung ini dihancurkan, tetapi itu terjadi karena akhirnya patung ini disembah (2Raja 18:4).

2Raja 18:4 - “Dialah yang menjauhkan bukit-bukit pengorbanan dan yang meremukkan tugu-tugu berhala dan yang menebang tiang-tiang berhala dan yang menghancurkan ular tembaga yang dibuat Musa, sebab sampai pada masa itu orang Israel memang masih membakar korban bagi ular itu yang namanya disebut Nehustan.

2.         Patung kerub di atas tutup tabut perjanjian.

Kel 25:18-20 - “(18) Dan haruslah kaubuat dua kerub dari emas, kaubuatlah itu dari emas tempaan, pada kedua ujung tutup pendamaian itu. (19) Buatlah satu kerub pada ujung sebelah sini dan satu kerub pada ujung sebelah sana; seiras dengan tutup pendamaian itu kamu buatlah kerub itu di atas kedua ujungnya. (20) Kerub-kerub itu harus mengembangkan kedua sayapnya ke atas, sedang sayap-sayapnya menudungi tutup pendamaian itu dan mukanya menghadap kepada masing-masing; kepada tutup pendamaian itulah harus menghadap muka kerub-kerub itu”.

 

Juga dalam Bait Allah buatan Salomo ada ukiran kerub dan hal-hal lain, dan ini tidak pernah dikecam / disalahkan.

1Raja 6:18,29,32 - “(18) Kayu aras sebelah dalam rumah itu berukirkan buah labu dan bunga mengembang; semuanya ditutupi kayu aras, tidak ada batu kelihatan. ... (29) Dan pada segala dinding rumah itu berkeliling ia mengukir gambar kerub, pohon korma dan bunga mengembang, baik di ruang sebelah dalam maupun di ruang sebelah luar. ... (32) Pada kedua daun pintu yang dari kayu minyak itu ia mengukir gambar kerub, pohon korma dan bunga mengembang, kemudian dilapisinya dengan emas; juga pada kerub dan pada pohon korma itu disalutkannya emas”.

 

Matthew Henry: “It is certain that it forbids making any image of God (for to whom can we liken him? Isa 40:18,25), or the image of any creature for a religious use [= Adalah pasti bahwa itu melarang gambar / patung apapun dari Allah (karena dengan siapa bisa kita samakan / serupakan Dia? Yes 40:18,25), atau gambar / patung dari makhluk ciptaan apapun untuk suatu penggunaan agamawi].

Yes 40:18,25 - “(18) Jadi dengan siapa hendak kamu samakan Allah, dan apa yang dapat kamu anggap serupa dengan Dia? ... (25) Dengan siapa hendak kamu samakan Aku, seakan-akan Aku seperti dia? firman Yang Mahakudus”.

 

Jamieson, Fausset & Brown: “Under the auspices of Moses himself, figures of cherubim, brazen serpents, oxen, and many other things were made and never condemned. The mere making of them was no sin, it was the making with the intent to give idolatrous worship” (= Di bawah nubuat / ajaran Musa sendiri, bentuk / gambar / patung dari kerub-kerub, ular tembaga, sapi jantan, dan banyak hal-hal lain dibuat dan tidak pernah dikecam. Semata-mata membuat mereka bukanlah dosa, yang merupakan dosa adalah membuat dengan maksud / tujuan untuk memberikan penyembahan yang bersifat pemberhalaan).

Catatan: saya tak tahu dimana ada ajaran Musa tentang patung sapi jantan.

 

Hal seperti ini perlu diketahui karena pada jaman ini ada banyak gereja atau hamba Tuhan (biasanya dari kalangan Pentakosta / Kharismatik) yang begitu extrim dengan menyuruh menghancurkan seadanya patung, lebih-lebih kalau patungnya berbentuk naga atau orang yang matanya seperti mata setan, dsb.

 

2)         Penekanan hukum ini: cara penyembahan harus benar.

Kalau diperhatikan sepintas lalu, maka hukum 1 dan hukum 2 ini kelihatannya tumpang tindih (overlap). Apa sebetulnya perbedaan kedua hukum ini?

 

Matthew Henry: “The first commandment concerns the object of our worship, Jehovah, and him only ... The second commandment concerns the ordinances of worship, or the way in which God will be worshipped, which it is fit that he himself should have the appointing of. ... The prohibition: we are here forbidden to worship even the true God by images” (= Hukum pertama bersangkutan dengan obyek dari ibadah / penyembahan kita, Yehovah, dan hanya Dia saja ... Hukum kedua bersangkutan dengan peraturan ibadah / penyembahan, atau cara dengan mana Allah akan disembah, yang adalah cocok bahwa Dia sendiri yang menetapkannya. ... Larangannya: di sini kita dilarang untuk menyembah bahkan Allah yang benar dengan menggunakan patung-patung).

 

Jadi, kalau hukum 1 mempersoalkan tujuan / obyek penyembahannya harus benar, maka hukum 2 ini menekankan cara penyembahannya juga harus benar. Sekalipun kita mempunyai obyek / tujuan penyembahan yang benar, yaitu Allah, tetapi kalau kita menyembahNya dengan cara yang salah, yaitu melalui patung, maka kita berdosa. Untuk itu perhatikan ayat-ayat di bawah ini:

 

a)   Kel 32:1-6 - “(1) Ketika bangsa itu melihat, bahwa Musa mengundur-undurkan turun dari gunung itu, maka berkumpullah mereka mengerumuni Harun dan berkata kepadanya: ‘Mari, buatlah untuk kami allah, yang akan berjalan di depan kami sebab Musa ini, orang yang telah memimpin kami keluar dari tanah Mesir - kami tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dia.’ (2) Lalu berkatalah Harun kepada mereka: ‘Tanggalkanlah anting-anting emas yang ada pada telinga isterimu, anakmu laki-laki dan perempuan, dan bawalah semuanya kepadaku.’ (3) Lalu seluruh bangsa itu menanggalkan anting-anting emas yang ada pada telinga mereka dan membawanya kepada Harun. (4) Diterimanyalah itu dari tangan mereka, dibentuknya dengan pahat, dan dibuatnyalah dari padanya anak lembu tuangan. Kemudian berkatalah mereka: ‘Hai Israel, inilah Allahmu, yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir!’ (5) Ketika Harun melihat itu, didirikannyalah mezbah di depan anak lembu itu. Berserulah Harun, katanya: ‘Besok hari raya bagi TUHAN!’ (6) Dan keesokan harinya pagi-pagi maka mereka mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan, sesudah itu duduklah bangsa itu untuk makan dan minum; kemudian bangunlah mereka dan bersukaria”.

 

Ini cerita tentang bangsa Israel yang jatuh ke dalam penyembahan anak lembu emas. Sebetulnya tujuan mereka bukanlah menyembah anak lembu emas itu sendiri, tetapi menyembah Allah. Ini terlihat dari Kel 32:5 dimana Harun berkata: ‘Besok hari raya bagi TUHAN. Tetapi penyembahan terhadap Allah itu mereka lakukan melalui anak lembu emas / berhala, dan ini menyebabkan Tuhan murka dan menghukum mereka.

 

b)   Ul 12:4,31 - “(4) Jangan kamu berbuat seperti itu terhadap TUHAN, Allahmu. ... (31a) Jangan engkau berbuat seperti itu terhadap TUHAN, Allahmu”.

NIV: “You must not worship the LORD your God in their way” (= Kamu tidak boleh menyembah TUHAN Allahmu dengan cara mereka).

Ayat ini dengan jelas menunjukkan larangan penyembahan terhadap Allah dengan cara orang kafir / Kanaan (yaitu menyembah Allah menggunakan berhala).

 

c)   Hakim 8:22-27 - “(22) Kemudian berkatalah orang Israel kepada Gideon: ‘Biarlah engkau memerintah kami, baik engkau baik anakmu maupun cucumu, sebab engkaulah yang telah menyelamatkan kami dari tangan orang Midian.’ (23) Jawab Gideon kepada mereka: ‘Aku tidak akan memerintah kamu dan juga anakku tidak akan memerintah kamu tetapi TUHAN yang memerintah kamu.’ (24) Selanjutnya kata Gideon kepada mereka: ‘Satu hal saja yang kuminta kepadamu: Baiklah kamu masing-masing memberikan anting-anting dari jarahannya.’ - Karena musuh itu beranting-anting mas, sebab mereka orang Ismael. (25) Jawab mereka: ‘Kami mau memberikannya dengan suka hati.’ Dan setelah dihamparkan sehelai kain, maka masing-masing melemparkan anting-anting dari jarahannya ke atas kain itu. (26) Adapun berat anting-anting emas yang dimintanya itu ada seribu tujuh ratus syikal emas, belum terhitung bulan-bulanan, perhiasan telinga dan pakaian kain ungu muda yang dipakai oleh raja-raja Midian, dan belum terhitung kalung rantai yang ada pada leher unta mereka. (27) Kemudian Gideon membuat efod dari semuanya itu dan menempatkannya di kotanya, di Ofra. Di sanalah orang Israel berlaku serong dengan menyembah efod itu; inilah yang menjadi jerat bagi Gideon dan seisi rumahnya.

 

d)   Hakim 17:1-13 - “(1) Ada seorang dari pegunungan Efraim, Mikha namanya. (2) Berkatalah ia kepada ibunya: ‘Uang perak yang seribu seratus itu, yang diambil orang dari padamu dan yang karena itu kauucapkan kutuk - aku sendiri mendengar ucapanmu itu - memang uang itu ada padaku, akulah yang mengambilnya.’ Lalu kata ibunya: ‘Diberkatilah kiranya anakku oleh TUHAN.’ (3) Sesudah itu dikembalikannyalah uang perak yang seribu seratus itu kepada ibunya. Tetapi ibunya berkata: ‘Aku mau menguduskan uang itu bagi TUHAN, aku menyerahkannya untuk anakku, supaya dibuat patung pahatan dan patung tuangan dari pada uang itu. Maka sekarang, uang itu kukembalikan kepadamu.’ (4) Tetapi orang itu mengembalikan uang itu kepada ibunya, lalu perempuan itu mengambil dua ratus uang perak dan memberikannya kepada tukang perak, yang membuat patung pahatan dan patung tuangan dari pada uang itu; lalu patung itu ditaruh di rumah Mikha. (5) Mikha ini mempunyai kuil. Dibuatnyalah efod dan terafim, ditahbiskannya salah seorang anaknya laki-laki, yang menjadi imamnya. (6) Pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel; setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri. (7) Maka ada seorang muda dari Betlehem-Yehuda, dari kaum Yehuda; ia seorang Lewi dan tinggal di sana sebagai pendatang. (8) Lalu orang itu keluar dari kota Betlehem-Yehuda untuk menetap sebagai pendatang di mana saja ia mendapat tempat; dan dalam perjalanannya itu sampailah ia ke pegunungan Efraim di rumah Mikha. (9) Bertanyalah Mikha kepadanya: ‘Engkau dari mana?’ Jawabnya kepadanya: ‘Aku orang Lewi dari Betlehem-Yehuda, dan aku pergi untuk menetap sebagai pendatang di mana saja aku mendapat tempat.’ (10) Lalu kata Mikha kepadanya: ‘Tinggallah padaku dan jadilah bapak dan imam bagiku; maka setiap tahun aku akan memberikan kepadamu sepuluh uang perak, sepasang pakaian serta makananmu.’ (11) Orang Lewi itu setuju untuk tinggal padanya. Maka orang muda itu menjadi seperti salah seorang anaknya sendiri. (12) Mikha mentahbiskan orang Lewi itu; orang muda itu menjadi imamnya dan diam di rumah Mikha. (13) Lalu kata Mikha: ‘Sekarang tahulah aku, bahwa TUHAN akan berbuat baik kepadaku, karena ada seorang Lewi menjadi imamku.’”.

 

e)   1Raja 12:25-33 - “(25) Kemudian Yerobeam memperkuat Sikhem di pegunungan Efraim, lalu diam di sana. Ia keluar dari sana, lalu memperkuat Pnuel. (26) Maka berkatalah Yerobeam dalam hatinya: ‘Kini mungkin kerajaan itu kembali kepada keluarga Daud. (27) Jika bangsa itu pergi mempersembahkan korban sembelihan di rumah TUHAN di Yerusalem, maka tentulah hati bangsa ini akan berbalik kepada tuan mereka, yaitu Rehabeam, raja Yehuda, kemudian mereka akan membunuh aku dan akan kembali kepada Rehabeam, raja Yehuda.’ (28) Sesudah menimbang-nimbang, maka raja membuat dua anak lembu jantan dari emas dan ia berkata kepada mereka: ‘Sudah cukup lamanya kamu pergi ke Yerusalem. Hai Israel, lihatlah sekarang allah-allahmu, yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir.’ (29) Lalu ia menaruh lembu yang satu di Betel dan yang lain ditempatkannya di Dan. (30) Maka hal itu menyebabkan orang berdosa, sebab rakyat pergi ke Betel menyembah patung yang satu dan ke Dan menyembah patung yang lain. (31) Ia membuat juga kuil-kuil di atas bukit-bukit pengorbanan, dan mengangkat imam-imam dari kalangan rakyat yang bukan dari bani Lewi. (32) Kemudian Yerobeam menentukan suatu hari raya pada hari yang kelima belas bulan kedelapan, sama seperti hari raya yang di Yehuda, dan ia sendiri naik tangga mezbah itu. Begitulah dibuatnya di Betel, yakni ia mempersembahkan korban kepada anak-anak lembu yang telah dibuatnya itu, dan ia menugaskan di Betel imam-imam bukit pengorbanan yang telah diangkatnya. (33) Ia naik tangga mezbah yang dibuatnya di Betel itu pada hari yang kelima belas dalam bulan yang kedelapan, dalam bulan yang telah direncanakannya dalam hatinya sendiri; ia menentukan suatu hari raya bagi orang Israel dan ia naik tangga mezbah itu untuk membakar korban”.

 

Thomas Manton: “It is idolatry not only to worship false gods in the place of the true God, but to worship the true God in a false manner” (= Adalah merupakan penyembahan berhala bukan hanya menyembah allah-allah palsu menggantikan tempat Allah yang benar, tetapi juga menyembah Allah yang benar dengan cara yang palsu / salah).

 

Bandingkan ini dengan kata-kata dari banyak orang: yang penting tujuannya benar, yaitu menyembah Allah, caranya berbeda tidak apa-apa. Ini jelas merupakan suatu omong kosong! Kitab Suci mengajar kita bahwa bukan tujuannya saja yang harus benar, tetapi caranya juga harus benar!

 

Karena itu, jangan menganggap bahwa Allah mau menerima seadanya penyembahan yang dilakukan manusia menurut pemikiran dan khayalannya masing-masing.

Bdk. Yoh 4:23-24 - “(23) Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. (24) Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembahNya dalam roh dan kebenaran.’”.

 

Bandingkan juga dengan Kol 2:8,16-23 - “(8) Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus. ... (16) Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; (17) semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus. (18) Janganlah kamu biarkan kemenanganmu digagalkan oleh orang yang pura-pura merendahkan diri dan beribadah kepada malaikat, serta berkanjang pada penglihatan-penglihatan dan tanpa alasan membesar-besarkan diri oleh pikirannya yang duniawi, (19) sedang ia tidak berpegang teguh kepada Kepala, dari mana seluruh tubuh, yang ditunjang dan diikat menjadi satu oleh urat-urat dan sendi-sendi, menerima pertumbuhan ilahinya. (20) Apabila kamu telah mati bersama-sama dengan Kristus dan bebas dari roh-roh dunia, mengapakah kamu menaklukkan dirimu pada rupa-rupa peraturan, seolah-olah kamu masih hidup di dunia: (21) jangan jamah ini, jangan kecap itu, jangan sentuh ini; (22) semuanya itu hanya mengenai barang yang binasa oleh pemakaian dan hanya menurut perintah-perintah dan ajaran-ajaran manusia. (23) Peraturan-peraturan ini, walaupun nampaknya penuh hikmat dengan ibadah buatan sendiri, seperti merendahkan diri, menyiksa diri, tidak ada gunanya selain untuk memuaskan hidup duniawi”.

 

Perhatikan penyembahan dan peraturan-peraturan dari ajaran sesat yang dibicarakan oleh Paulus dalam text di atas ini. Kelihatannya ada kerendahan hati, dan bahkan kelihatannya penuh hikmat, tetapi dikecam oleh Paulus, karena tidak sesuai dengan Kristus / Kitab Suci!

 

3)   Contoh pelanggaran terhadap hukum ini (Catatan: ada hal-hal yang overlap / bertumpukan antara pelanggaran terhadap hukum pertama dan pelanggaran terhadap hukum kedua):

 

a)   Menyembah patung berhala, atau lebih tepat, menyembah Allah melalui patung berhala.

Bagaimana kalau saudara diminta seseorang untuk mengantarkan dia pergi ke kelenteng / kuil berhala, supaya dia bisa beribadah melalui penyembahan berhala? Haruskah, atau bolehkah, saudara ‘berbuat baik’ dengan mengantarkan dia?

Dalam kontext gereja kita yang berdampingan dengan kelenteng, apakah merupakan suatu ‘perbuatan baik’ kalau kita memberi jalan bagi orang-orang yang mau menyembah berhala di kelenteng?

 

b)   Menyembah / menghormati / mencium Kitab Suci.

Kita memang mempercayai dan menghormati Kitab Suci sebagai Firman Allah. Tetapi bukan bendanya / bukunya itu sendiri yang kita hormati, melainkan isinya.

‘Mencium’ sering berarti ‘menyembah’, dan hal ini terlihat dari ayat-ayat ini:

1Raja 19:18 - “Tetapi Aku akan meninggalkan tujuh ribu orang di Israel, yakni semua orang yang tidak sujud menyembah Baal dan yang mulutnya tidak mencium dia.’”.

Hos 13:2 - “Sekarangpun mereka terus berdosa, dan membuat baginya patung tuangan dari perak dan berhala-berhala sesuai dengan kecakapan mereka; semuanya itu buatan tukang-tukang. Persembahkanlah korban kepadanya!, kata mereka. Baiklah manusia mencium anak-anak lembu!”.

Ayub 31:26-28 - “(26) jikalau aku pernah memandang matahari, ketika ia bersinar, dan bulan, yang beredar dengan indahnya, (27) sehingga diam-diam hatiku terpikat, dan menyampaikan kecupan tangan kepadanya, (28) maka hal itu juga menjadi kejahatan yang patut dihukum oleh hakim, karena Allah yang di atas telah kuingkari”.

Maz 2:11-12 - “(11) Beribadahlah kepada TUHAN dengan takut dan ciumlah kakiNya dengan gemetar, (12) supaya Ia jangan murka dan kamu binasa di jalan, sebab mudah sekali murkaNya menyala. Berbahagialah semua orang yang berlindung padaNya!”.

Ini salah terjemahan, dan RSV sama salahnya.

KJV: ‘(11) Serve the LORD with fear, and rejoice with trembling. (12) Kiss the Son, lest he be angry, and ye perish from the way, when his wrath is kindled but a little. Blessed are all they that put their trust in him’ [= (11) Beribadahlah kepada TUHAN dengan takut, dan bersukacitalah dengan gemetar. (12) Ciumlah Anak, supaya Ia jangan marah, dan kamu binasa di jalan, pada saat murkaNya dinyalakan sedikit saja. Diberkatilah semua mereka yang meletakkan kepercayaan mereka kepadaNya]. NIV/NASB/ASV/NKJV ≈ KJV.

 

c)   Menyembah / menghormati / mencium salib, patung Yesus / Maria / malaikat / orang suci (Gereja Katolik).

Karena itu hati-hatilah dengan benda-benda seperti salib, patung / gambar Yesus dan sebagainya. Semua itu bukan dosa selama kita tidak menyembahnya. Tetapi kalau ada sedikit saja rasa hormat dalam hati kita terhadap benda-benda itu, maka itu menjadi penyembahan berhala, dan itu merupakan dosa!

 

d)   Berdoa sambil menghadap pada salib atau sambil membayangkan Yesus.

D. L. Moody: “someone says, ‘I find pictures are a great help to me, and images. I know that they are not themselves sacred, but they help me in my devotion to fix my thoughts on God.’” (= seseorang berkata: ‘Aku mendapati gambar-gambar sebagai suatu pertolongan yang besar bagiku, dan juga patung-patung. Aku tahu bahwa dalam dirinya sendiri mereka tidak kudus / keramat, tetapi mereka menolongku dalam ibadahku untuk memusatkan pikiranku kepada Allah) - ‘D. L. Moody On The Ten Commandments’, hal 34.

Terhadap kata-kata seperti ini D. L. Moody menjawab dengan kata-kata sebagai berikut: Whatever comes between my soul and my Maker is not a help to me, but a hindrance. God has given different means of grace by which we can approach Him. Let us use these, and not seek for other things that He has distinctly forbidden” (= Apapun yang datang di antara jiwaku dan Penciptaku bukanlah suatu pertolongan bagiku, tetapi suatu halangan. Allah telah memberikan cara / jalan kasih karunia yang berbeda melalui mana kita bisa mendekati Dia. Hendaklah kita menggunakan hal-hal ini, dan tidak mencari hal-hal lain yang secara jelas telah Ia larang) - ‘D. L. Moody On The Ten Commandments’, hal 34.

 

e)   Berdoa sambil menggunakan yosua / kemenyan.

Sekalipun dalam Perjanjian Lama ada penggunaan kemenyan (Im 2:1,15 dsb), tetapi dalam sejak sobeknya tirai Bait Allah pada saat Yesus mati (Mat 27:50-51), maka seluruh Bait Allah, imam-imam, korban-korban dan upacara-upacara (termasuk sunat dan Perjamuan Paskah), dan jelas juga penggunaan kemenyan, harus disingkirkan. Jadi pada jaman Perjanjian Baru penggunaan kemenyan tidak lagi diijinkan.

 

f)    Menyembah roti dan anggur dalam Perjamuan Kudus.

Saya pernah pergi ke gereja dimana pada waktu mengadakan Perjamuan Kudus, pendeta dan majelisnya berlutut dan menyembah pada seluruh meja Perjamuan Kudus, dimana terletak roti dan anggur yang akan digunakan dalam Perjamuan Kudus. Ini jelas juga salah. Roti dan anggur hanyalah lambang dari tubuh dan darah Kristus, bukan Kristusnya sendiri, sehingga penyembahan terhadap hal-hal itu merupakan penyembahan berhala.

Sekalipun bukan menyembah roti dan anggur dalam Perjamuan Kudus, tetapi kalau saudara mempunyai rasa hormat terhadap benda-benda itu, itu sudah merupakan penyembahan berhala!

 

g)   Memberhalakan minyak urapan, atau benda-benda apapun yang diberikan ‘pendeta-pendeta’ sebagai semacam jimat.

Karena itu, hati-hati dengan pendeta-pendeta yang memberi sapu tangan atau benda apapun, yang katanya telah didoakan, dan disuruh untuk diletakkan di bawah bantal dan sebagainya. Ini jelas merupakan pemberhalaan!

 

h)   Kepercayaan terhadap magic / sihir dan semua penggunaannya (bdk. Kel 22:18  Ul 18:10-14  2Taw 33:6  Kis 8:9-11). Magic / sihir sering dilakukan atas nama Allah (bandingkan dengan Toronto Blessing, nggeblak / tumbang dalam Roh dsb), tetapi sebetulnya magic atau sihir mendapatkan kekuatannya dari setan. Karena itu, orang yang melakukan hal ini sama saja dengan menyembah setannya sendiri. Kalau saudara adalah orang yang senang menggunakan kuasa gelap untuk mendapatkan keinginan saudara, perhatikan kata-kata dalam Yes 47:9b - “Kepunahan dan kejandaan dengan sepenuhnya akan menimpa engkau, sekalipun banyak sihirmu dan sangat kuat manteramu.

 

i)    Dalam Perjanjian Baru, ini mencakup semua penyembahan terhadap Allah yang dilakukan tanpa melalui Yesus.

1Tim 2:5 - “Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus”.

Yoh 14:6 - “Kata Yesus kepadanya: ‘Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”.

 

Calvin: “although Moses only speaks of idolatry, yet there is no doubt but that by synecdoche, as in all the rest of the Law, he condemns all fictitious services which men in their ingenuity have invented” (= sekalipun Musa hanya berbicara tentang penyembahan berhala, tetapi tidak diragukan bahwa oleh suatu synecdoche, seperti dalam seluruh sisa hukum Taurat, ia mengecam semua ibadah khayalan yang telah manusia temukan dalam kepintaran mereka) - hal 107.

 

Penerapan: sama dengan persoalan mengantar orang ke kelenteng tadi, sekarang hal itu bisa diperluas sehingga mencakup semua agama yang jelas-jelas bertentangan dengan Alkitab, yaitu tidak melalui Yesus Kristus. Apakah merupakan suatu perbuatan baik untuk mengantarkan seseorang ke gereja sesat, atau tempat ibadah agama lain (sekalipun tidak menyembah berhala, tetapi tidak menggunakan Yesus)??? Apakah merupakan suatu perbuatan baik untuk memberikan kemudahan pada orang-orang yang beragama lain sehingga mereka bisa melakukan ibadahnya, yang adalah sesat, kalau ditinjau dari Kitab Suci kita? Kita memang harus bertoleransi, tetapi kita tidak boleh berkompromi! Kita tidak boleh menghina agama lain, ataupun menghalangi orang yang beragama lain untuk melakukan ibadah mereka, tetapi kita juga tidak boleh membantu mereka dalam hal itu!

 

Renungkan: berapa kali saudara melanggar hukum kedua ini? Tanpa Kristus sebagai Juruselamat / Penebus dosa saudara, saudara akan masuk ke neraka selama-lamanya!

 

4)         Katolik dan hukum kedua.

 

a)   Perubahan hukum ke 2 dalam Gereja Roma Katolik.

Merupakan suatu fakta bahwa Gereja Roma Katolik dipenuhi dengan patung yang disembah. Bagaimana mereka bisa melakukan hal itu dengan adanya hukum kedua ini? Jawabannya adalah: dalam Katolik 10 hukum Tuhannya berbeda.

 

Matthew Henry: “The use of images in the church of Rome, at this day, is so plainly contrary to the letter of this command, and so impossible to be reconciled to it, that in all their catechisms and books of devotion, which they put into the hands of the people, they leave out this commandment, joining the reason of it to the first; and so the third commandment they call the second, the fourth the third, &c.; only, to make up the number ten, they divide the tenth into two. Thus have they committed two great evils, in which they persist, and from which they hate to be reformed; they take away from God’s word, and add to his worship” (= Penggunaan patung-patung dalam gereja Roma, pada jaman ini, adalah dengan begitu jelas bertentangan dengan huruf dari hukum ini, dan begitu tidak mungkin / mustahil untuk diperdamaikan / diharmoniskan dengannya, sehingga dalam semua katekisasi dan buku-buku pembaktian / ibadah mereka, yang mereka letakkan di tangan dari umat / orang-orang, mereka menghapuskan hukum ini, menggabungkan artinya dengan hukum yang pertama; dan dengan demikian hukum ketiga mereka sebut kedua, keempat mereka sebut ketiga, dst.; hanya, untuk membuat / mengejar bilangan sepuluh, mereka membagi hukum kesepuluh menjadi dua. Dengan demikian mereka telah melakukan dua kejahatan besar, dalam mana mereka berkeras, dan dari mana mereka tidak senang untuk direformasi; mereka mengambil / membuang dari firman Allah, dan menambah pada ibadah / penyembahanNya).

 

Adam Clarke: “To countenance its image worship, the Roman Catholic church has left the whole of this second commandment out of the decalogue, and thus lost one whole commandment out of the ten; but to keep up the number they have divided the tenth into two commandments. This is totally contrary to the faith of God’s elect and to the acknowledgment of that truth which is according to godliness. ... This corruption of the word of God by the Roman Catholic Church stamps it, as a false and heretical church, with the deepest brand of ever-enduring infamy!” (= Untuk merestui / mendukung penyembahan berhalanya, gereja Roma Katolik telah membuang seluruh hukum kedua dari 10 hukum Tuhan, dan dengan demikian kehilangan / menghilangkan satu hukum penuh dari sepuluh; tetapi untuk menjaga / mengejar bilangan 10 itu mereka telah membagi hukum ke 10 menjadi dua hukum. Ini bertentangan secara total dengan iman / ajaran dari orang-orang pilihan dan dengan pengakuan terhadap kebenaran itu yang sesuai dengan kesalehan. ... Perusakan firman Allah ini oleh Gereja Roma Katolik mencapnya sebagai gereja yang palsu / sesat dan bersifat bidat, yang merupakan cap / merk yang paling dalam dari keburukan yang bertahan selama-lamanya!).

 

10 Hukum Tuhan versi Katolik (ini saya ambil dari ‘Catechism of the Catholic Church’ tahun 1992):

1.   I am the LORD your God: you shall not have strange Gods before me (= Akulah TUHAN Allahmu: jangan mempunyai Allah-allah asing di hadapanKu).

2.   You shall not take the name of the LORD your God in vain (= Jangan menggunakan nama TUHAN Allahmu dengan sia-sia).

3.   Remember to keep holy the LORD’S Day (= Ingatlah untuk menguduskan Hari TUHAN).

4.         Honor your father and your mother (= Hormatilah bapa dan ibumu).

5.         You shall not kill (= Jangan membunuh).

6.         You shall not commit adultery (= Jangan berzinah).

7.         You shall not steal (= Jangan mencuri).

8.   You shall not bear false witness against your neighbor (= Jangan bersaksi dusta tentang sesamamu).

9.   You shall not covet your neighbor’s wife (= Jangan menginginkan istri sesamamu).

10. You shall not covet your neighbor’s goods (= Jangan menginginkan barang-barang / harta benda sesamamu).

 

Jadi, mereka menghapuskan hukum ke 2 lalu menjadikan hukum ke 3 sebagai hukum ke 2, hukum ke 4 sebagai hukum ke 3 dst. Lalu mereka memecah hukum ke 10 menjadi 2, yaitu hukum ke 9 dan ke 10, untuk tetap mendapatkan bilangan 10.

 

Penghapusan hukum ke 2 ini jelas merupakan suatu tindakan menginjak-injak Kitab Suci, dan menunjukkan betapa tidak Alkitabiahnya gereja Katolik! Disamping itu, merupakan sesuatu yang tidak masuk akal dan tidak Alkitabiah untuk membagi hukum ke 10 menjadi 2, karena:

a.   Kalau ‘jangan mengingini istri sesamamu’ disebutkan sebagai hukum ke 9 seperti dalam versi Katolik, itu mungkin masih bisa disesuaikan dengan Ul 5, dimana kata-kata ‘istri sesamamu’ menduduki tempat pertama, dan lalu disusul dengan ‘rumah, ladang, hamba, lembu, keledai sesamamu’.

Ul 5:21 - “Jangan mengingini isteri sesamamu, dan jangan menghasratkan rumahnya, atau ladangnya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya, atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu”.

Tetapi bagaimana hal itu bisa disesuaikan dengan Kel 20:17, dimana kata-kata ‘rumah sesamamu’ menduduki tempat pertama, dan sesudah itu baru ‘istrinya’?

Kel 20:17 - “Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu.’”.

b.   Pada waktu Paulus mengutip hukum ke 10 ini, ia memperlakukannya sebagai satu kesatuan.

Calvin (tentang Kel 20:12): “the prohibition of God to covet either our neighbour’s wife or his house, is foolishly separated into two parts, whereas it is quite clear that only one thing is treated of, as we gather from the words of Paul, who quotes them as a single Commandment. (Rom. 7:7.) ... the fact itself explains how one error has grown out of another; for, when they had improperly hidden the Second Commandment under the First, and consequently did not find the right number, they were forced to divide into two parts what was one and indivisible” [= larangan Allah untuk mengingini istri sesama kita atau rumahnya, secara bodoh dipisahkan menjadi 2 bagian, padahal adalah cukup jelas bahwa hanya satu hal yang dibicarakan, seperti yang bisa kita dapatkan dari kata-kata Paulus, yang mengutip mereka sebagai satu Hukum (Ro 7:7). ... fakta itu sendiri menjelaskan bagaimana satu kesalahan telah tumbuh dari kesalahan yang lain; karena, pada waktu mereka secara tidak benar telah menyembunyikan Hukum kedua di bawah Hukum pertama, dan karena itu tidak bisa mendapatkan bilangan yang benar (tak bisa mendapatkan bilangan 10), mereka terpaksa membagi menjadi 2 bagian apa yang seharusnya adalah satu dan tidak bisa dibagi-bagi] - hal 6.

Bdk. Ro 7:7 - “Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah hukum Taurat itu dosa? Sekali-kali tidak! Sebaliknya, justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa. Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan: ‘Jangan mengingini!’.

 

Apa yang mengejutkan adalah: susunan / urut-urutan 10 hukum versi Katolik itu didapatkan dari Agustinus, dan juga diikuti oleh Luther / gereja Lutheran.

 

Keil & Delitzsch: “The second view was brought forward by Augustine, and no one is known to have supported it previous to him. In his Quaest. 71 on Ex., when treating of the question how the commandments are to be divided ... He then proceeds still further to show that the commandment against images is only a fuller explanation of that against other gods, but that the commandment not to covet is divided into two commandments by the repetition of the words, ‘Thou shalt not covet,’ ... In this division Augustine generally reckons the commandment against coveting the neighbour’s wife as the ninth, according to the text of Deuteronomy; although in several instances he places it after the coveting of the house, according to the text of Exodus. Through the great respect that was felt for Augustine, this division became the usual one in the Western Church; and it was adopted even by Luther and the Lutheran Church (= Pandangan kedua diajukan oleh Agustinus, dan tak diketahui adanya seorangpun yang mendukung pandangan ini sebelum dia. Dalam buku / tulisannya Quaest. 71 tentang Ex. / Kel., pada waktu membahas pertanyaan bagaimana hukum-hukum harus dibagi ... Ia lalu melanjutkan lebih jauh lagi untuk menunjukkan bahwa hukum terhadap patung-patung hanyalah penjelasan yang lebih lengkap dari hukum terhadap allah-allah lain, tetapi bahwa hukum untuk tidak mengingini dibagi menjadi dua hukum oleh pengulangan ‘Janganlah engkau menginginkan’, ... Dalam pembagian ini Agustinus secara umum menganggap hukum terhadap menginginkan istri sesama sebagai yang kesembilan, sesuai dengan text dari Ulangan; sekalipun dalam beberapa hal ia menempatkannya setelah menginginkan rumah, sesuai dengan text dari Keluaran. Melalui rasa hormat yang besar yang dirasakan terhadap Agustinus, pembagian ini menjadi sesuatu yang biasa di Gereja Barat; dan itu diadopsi bahkan oleh Luther dan Gereja Lutheran).

Catatan: bagian yang saya garis-bawahi menunjukkan bahwa kita harus hati-hati terhadap rasa hormat / kagum terhadap seorang hamba Tuhan, tak peduli siapapun dia adanya. Semua hamba Tuhan ada di bawah Firman Tuhan!

 

Keil & Delitzsch: “It must be decided from the text of the Bible alone. Now in both substance and form this speaks against the Augustinian, Catholic, and Lutheran view, and in favour of the Philonian, or Oriental and Reformed. In substance; for whereas no essential difference can be pointed out in the two clauses which prohibit coveting, so that even Luther has made but one commandment of them in his smaller catechism, there was a very essential difference between the commandment against other gods and that against making an image of God, so far as the Israelites were concerned, as we may see not only from the account of the golden calf at Sinai, but also from the image worship of Gideon (Judg 8:27), Micah (Judg 17), and Jeroboam (1 Kings 12:28ff.)” [= Itu harus ditentukan dari text Alkitab saja. Baik dalam isinya maupun bentuknya ini berbicara menentang pandangan Agustinus, Katolik, dan Lutheran, dan berpihak pada Philonian, atau Timur dan Reformed. Dalam isinya; karena sementara tidak ada perbedaan yang hakiki bisa ditunjukkan dalam kedua anak kalimat yang melarang untuk menginginkan, sehingga bahkan Luther telah membuat mereka menjadi hanya satu hukum dalam katekisasi kecilnya, ada perbedaan yang sangat hakiki antara hukum menentang allah-allah lain dan perintah / hukum menentang pembuatan patung dari Allah, sejauh berkenaan dengan bangsa Israel, seperti bisa kita lihat bukan hanya dari cerita tentang anak lembu emas di Sinai, tetapi juga dari penyembahan patung dari Gideon (Hak 8:27), Mikha (Hak 17), dan Yerobeam (1Raja 12:28-dst)].

 

Mungkin Keil & Delitzsch memberikan ayat-ayat referensi di atas untuk menunjukkan bahwa sekalipun orang-orang itu menyembah Allah, dan tidak menyembah allah lain, tetapi karena penyembahan itu dilakukan melalui patung, mereka tetap berdosa. Ini secara jelas membedakan hukum pertama dan hukum kedua.

 

Wycliffe Bible Commentary: “There are different ways of dividing the Commandments. The Lutheran and Roman Catholic churches follow Augustine in making verses 2-6 the first commandment, and then dividing verse 17, on covetousness, into two. Modern Judaism makes verse 2 the first commandment and verses 3-6 the second. The earliest division, which can be traced back at least as far as Josephus, in the first century A.D., takes Exo 20:3 as the first command and 20:4-6 as the second. This division was supported unanimously by the early church, and is held today by the Eastern Orthodox and most Protestant churches” (= Ada cara-cara yang berbeda tentang pembagian dari Hukum-hukum ini. Orang-orang Lutheran dan Roma Katolik mengikuti Agustinus dengan membuat ay 2-6 hukum pertama, dan lalu membagi ay 17, tentang keinginan / menginginkan, menjadi dua hukum. Yudaisme modern membuat ay 2 sebagai hukum pertama dan ay 3-6 hukum kedua. Pembagian yang paling awal, yang bisa ditelusuri jejaknya sejauh Yosephus, pada abad pertama Masehi, menganggap Kel 20:3 sebagai hukum pertama dan 20:4-6 sebagai hukum kedua. Pembagian ini didukung dengan suara bulat oleh gereja awal, dan dipegang / dipercayai sekarang oleh Gereja Orthodox Timur dan kebanyakan gereja-gereja Protestan).

Catatan: bagaimana Yudaisme bisa menganggap ay 2 sebagai hukum pertama, padahal ay 2 berbunyi: “‘Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan”? Ini suatu pernyataan, bukan hukum / perintah / larangan!

 

b)   Penyembahan atau penghormatan?

Calvin mengatakan bahwa Gereja Roma Katolik berusaha menghindari hukum kedua ini dengan membedakan istilah LATRIA dan DULIA. Mereka mengatakan bahwa LATRIA merupakan penyembahan terhadap Allah, sedangkan DULIA hanya merupakan penghormatan, yang mereka tujukan kepada malaikat, orang-orang suci, dan patung (Catatan: untuk Maria mereka menggunakan istilah lain lagi, yaitu Hyper Dulia, yang tetap mereka anggap sebagai penghormatan, bukan penyembahan).

Mereka menganggap bahwa yang dilarang oleh hukum kedua hanyalah LATRIA, bukan DULIA. Tetapi Calvin mengatakan bahwa ini suatu penghindaran yang sia-sia, karena kalau dilihat dari Kel 20:5a, Musa melarang segala bentuk dan upacara penyembahan, dengan menggunakan istilah ‘menyembah’, lalu menggunakan istilah kedua, yaitu kata Ibrani AVAD, yang arti sebenarnya adalah ‘to serve’ (= melayani / beribadah). Calvin menganggap bahwa istilah kedua ini mencakup penghormatan.

Bdk. Kel 20:5a - “Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya”.

KJV: ‘Thou shalt not bow down thyself to them, nor serve them’ (= Jangan membungkuk / menyembah mereka, ataupun melayani mereka / beribadah kepada mereka).

 

Hal-hal lain yang perlu diperhatikan adalah:

1.   Biarpun mereka membedakan istilahnya, tetapi apa yang mereka lakukan dalam melakukan penyembahan dan penghormatan, adalah persis sama. Bukankah lucu kalau istilahnya dibedakan, tetapi tindakannya persis sama?

2.   Mengapa mereka menghapus hukum kedua dari 10 hukum mereka, kalau mereka memang tidak salah dalam hal ini?

 

5)   Hal-hal lain tentang patung berhala.

 

a)   Dalam Alkitab ‘menyembah berhala’ dianggap melakukan perzinahan / persundalan rohani. Ini jelas juga berlaku untuk ‘mempunyai / menyembah allah lain’.

 

Yer 3:6-9 - “(6) TUHAN berfirman kepadaku dalam zaman raja Yosia: ‘Sudahkah engkau melihat apa yang dilakukan Israel, perempuan murtad itu, bagaimana dia naik ke atas setiap bukit yang menjulang dan pergi ke bawah setiap pohon yang rimbun untuk bersundal di sana? (7) PikirKu: Sesudah melakukan semuanya ini, ia akan kembali kepadaKu, tetapi ia tidak kembali. Hal itu telah dilihat oleh Yehuda, saudaranya perempuan yang tidak setia. (8) Dilihatnya, bahwa oleh karena zinahnya Aku telah menceraikan Israel, perempuan murtad itu, dan memberikan kepadanya surat cerai; namun Yehuda, saudaranya perempuan yang tidak setia itu tidak takut, melainkan ia juga pun pergi bersundal. (9) Dengan sundalnya yang sembrono itu maka ia mencemarkan negeri dan berzinah dengan menyembah batu dan kayu.

 

Ul 31:16 - “TUHAN berfirman kepada Musa: ‘Ketahuilah, engkau akan mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangmu dan bangsa ini akan bangkit dan berzinah dengan mengikuti allah asing yang ada di negeri, ke mana mereka akan masuk; mereka akan meninggalkan Aku dan mengingkari perjanjianKu yang Kuikat dengan mereka”.

 

Kita yang percaya memang sudah dipertunangkan dengan Kristus, dan karena itu, kalau kita menyembah berhala / mempunyai allah lain maka kita dianggap berzinah secara rohani. Ini bukan melanggar hukum ke 7 tetapi hukum ke 1 dan 2.

 

b)   Ada dosa-dosa lain yang biasanya / seringkali menyertai penyembahan berhala.

Dosa-dosa lain yang sering menyertai penyembahan berhala pada jaman Kitab Suci adalah: penggunaan kuasa gelap / persekutuan dengan roh jahat / setan, pelacuran / perzinahan, pengorbanan manusia.

 

The Bible Exposition Commentary: Old Testament: “The idol worship of the pagan nations was not only illogical and unbiblical, but it was intensely immoral (temple prostitutes and fertility rites), inhuman (sacrificing children), and demonic (1 Cor 10:10-22). No wonder the Lord commanded Israel to destroy the temples, altars, and idols of the pagans when they invaded the land of Canaan (Deut 7:1-11)” [= Penyembahan berhala dari bangsa-bangsa kafir bukan hanya tidak logis dan tidak Alkitabiah, tetapi itu sangat tidak bermoral (pelacuran kuil dan upacara kesuburan), tak manusiawi (pengorbanan anak-anak), dan bersifat setan (1Kor 10:10-22). Tak heran Tuhan memerintahkan bangsa Israel untuk menghancurkan kuil-kuil, mezbah-mezbah, dan berhala-berhala dari orang-orang kafir pada waktu mereka menyerbu tanah Kanaan (Ul 7:1-11)].

 

1.   Ayat-ayat yang menunjukkan hubungan penyembahan berhala dan pengorbanan anak, dan bahkan dengan sihir dan banyak hal yang berhubungan dengan kuasa gelap.

2Taw 33:6 - “Bahkan, ia mempersembahkan anak-anaknya sebagai korban dalam api di Lebak Ben-Hinom; ia melakukan ramal, telaah dan sihir, dan menghubungi para pemanggil arwah dan para pemanggil roh peramal. Ia melakukan banyak yang jahat di mata TUHAN, sehingga ia menimbulkan sakit hatiNya”.

Yeh 20:31 - “Dalam membawa persembahan-persembahanmu, yaitu mempersembahkan anak-anakmu sebagai korban dalam api, kamu menajiskan dirimu dengan segala berhala-berhalamu sampai hari ini, apakah Aku masih mau kamu minta petunjuk dari padaKu, hai kaum Israel? Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, Aku tidak mau lagi kamu minta petunjuk dari padaKu”.

 

2.   Ayat yang menunjukkan hubungan penyembahan berhala dengan perzinahan / pelacuran.

Ul 23:17-18 - “(17) ‘Di antara anak-anak perempuan Israel janganlah ada pelacur bakti, dan di antara anak-anak lelaki Israel janganlah ada semburit bakti. (18) Janganlah kaubawa upah sundal atau uang semburit ke dalam rumah TUHAN, Allahmu, untuk menepati salah satu nazar, sebab keduanya itu adalah kekejian bagi TUHAN, Allahmu.’”.

KJV: “There shall be no whore of the daughters of Israel, nor a sodomite of the sons of Israel” (= Jangan ada pelacur dari anak-anak perempuan Israel, ataupun seorang penyodomi dari anak-anak lelaki Israel).

RSV: “‘There shall be no cult prostitute of the daughters of Israel, neither shall there be a cult prostitute of the sons of Israel” (= Jangan ada pelacur penyembahan agama dari anak-anak perempuan Israel, juga jangan ada pelacur penyembahan agama dari anak-anak lelaki Israel).

NIV: “No Israelite man or woman is to become a shrine prostitute” (= Jangan ada laki-laki atau perempuan Israel yang menjadi pelacur kuil).

NASB: “‘None of the daughters of Israel shall be a cult prostitute, nor shall any of the sons of Israel be a cult prostitute” (= Jangan seorangpun dari anak-anak perempuan Israel menjadi pelacur penyembahan agama, atau dari anak-anak lelaki Israel yang menjadi pelacur penyembahan agama).

Catatan: kata ‘cult’ dalam RSV/NASB berarti ‘suatu sistim penyembahan atau upacara agamawi’ (Webster’s New World Dictionary).

 

Barnes’ Notes: “Prostitution was a common part of religious observances among idolatrous nations, especially in the worship of Ashtoreth or Astarte” (= Pelacuran merupakan bagian umum dari ibadah agamawi di antara bangsa-bangsa penyembah berhala, khususnya dalam penyembahan Asytoret atau Astarte).

 

Jamieson, Fausset & Brown mengatakan bahwa ‘pelacur bakti’ adalah perempuan-perempuan yang dibaktikan pada pelayanan / penyembahan dari Astarte / Asytarot (Venus) dan keuntungan dari pelacuran itu dimasukkan ke dalam kas dari kuil. Sedangkan ‘semburit bakti’ adalah pelacur laki-laki, yang dibaktikan kepada dewi yang sama. Mereka diberi pakaian perempuan, dan membujuk orang-orang untuk melakukan tindakan homosex.

 

Jamieson, Fausset & Brown: “‘There shall be no whore of the daughters of Israel,’ [q­deeshaah] - a female devoted to the service of Astarte or Ashtaroth (Venus), and the profits of whose prostitution were applied to the treasury of her temples. Nor a sodomite, [qaadeesh] - a male prostitute, consecrated to the worship of the same goddess. These wretched creatures, dressed in female habiliments, frequented the streets of cities, or wandered into country villages as mendicants, exhibiting small shrines of Astarte, and enticing the populace to unnatural crime. Both of these were attaches to the temple of the Syrian goddess” (= ).

 

3.   Ayat-ayat / text yang menunjukkan hubungan penyembahan berhala dengan persekutuan dengan roh jahat / setan.

1Kor 10:14-22 - “(14) Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, jauhilah penyembahan berhala! (15) Aku berbicara kepadamu sebagai orang-orang yang bijaksana. Pertimbangkanlah sendiri apa yang aku katakan! (16) Bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan syukur, adalah persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah persekutuan dengan tubuh Kristus? (17) Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu. (18) Perhatikanlah bangsa Israel menurut daging: bukankah mereka yang makan apa yang dipersembahkan mendapat bagian dalam pelayanan mezbah? (19) Apakah yang kumaksudkan dengan perkataan itu? Bahwa persembahan berhala adalah sesuatu? Atau bahwa berhala adalah sesuatu? (20) Bukan! Apa yang kumaksudkan ialah, bahwa persembahan mereka adalah persembahan kepada roh-roh jahat, bukan kepada Allah. Dan aku tidak mau, bahwa kamu bersekutu dengan roh-roh jahat. (21) Kamu tidak dapat minum dari cawan Tuhan dan juga dari cawan roh-roh jahat. Kamu tidak dapat mendapat bagian dalam perjamuan Tuhan dan juga dalam perjamuan roh-roh jahat. (22) Atau maukah kita membangkitkan cemburu Tuhan? Apakah kita lebih kuat dari pada Dia?”.

 

c)   Apakah patung berhala ada roh jahatnya?

Hab 2:19 - “Celakalah orang yang berkata kepada sepotong kayu: ‘Terjagalah!’ dan kepada sebuah batu bisu: ‘Bangunlah!’ Masakan dia itu mengajar? Memang ia bersalutkan emas dan perak, tetapi roh tidak ada sama sekali di dalamnya.

Kelihatannya ayat ini menunjukkan bahwa patung berhala tidak ada setannya / roh jahatnya, tetapi sebetulnya bukan itu maksudnya. Pada waktu dikatakan bahwa dalam patung berhala itu tidak ada roh, maksudnya adalah bahwa patung berhala itu mati. Kata ‘roh’ dalam Hab 2:19 itu diterjemahkan dari kata bahasa Ibrani RUAKH, tetapi KJV/RSV/NIV/NASB/ASV/NKJV menterjemahkannya ‘breath’ (= nafas).

Bandingkan dengan Yak 2:26 - “Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati”.

Jadi, maksud dari ayat ini hanyalah bahwa patung berhala itu mati, dan karena itu merupakan suatu ketololan untuk menyembah kepada sesuatu yang mati. Berhala yang mati juga dikontraskan dengan Allah yang hidup.

Bdk. Yer 10:8-16 - “(8) Berhala itu semuanya bodoh dan dungu; petunjuk dewa itu sia-sia, karena ia hanya kayu belaka. - (9) Perak kepingan dibawa dari Tarsis, dan emas dari Ufas; berhala itu buatan tukang dan buatan tangan pandai emas. Pakaiannya dari kain ungu tua dan kain ungu muda, semuanya buatan orang-orang ahli. - (10) Tetapi TUHAN adalah Allah yang benar, Dialah Allah yang hidup dan Raja yang kekal. Bumi goncang karena murkaNya, dan bangsa-bangsa tidak tahan akan geramNya. (11) Beginilah harus kamu katakan kepada mereka: ‘Para allah yang tidak menjadikan langit dan bumi akan lenyap dari bumi dan dari kolong langit ini.’ (12) Tuhanlah yang menjadikan bumi dengan kekuatanNya, yang menegakkan dunia dengan kebijaksanaanNya, dan yang membentangkan langit dengan akal budiNya. (13) Apabila Ia memperdengarkan suaraNya, menderulah bunyi air di langit, Ia menaikkan kabut awan dari ujung bumi, Ia membuat kilat serta dengan hujan, dan mengeluarkan angin dari perbendaharaanNya. (14) Setiap manusia ternyata bodoh, tidak berpengetahuan, dan setiap pandai emas menjadi malu karena patung buatannya. Sebab patung tuangannya itu adalah tipu, tidak ada nyawa di dalamnya, (15) semuanya adalah kesia-siaan, pekerjaan yang menjadi buah ejekan, dan yang akan binasa pada waktu dihukum. (16) Tidaklah begitu Dia yang menjadi bagian Yakub, sebab Dialah yang membentuk segala-galanya, dan Israel adalah suku milikNya; namaNya ialah TUHAN semesta alam!”.

Catatan: kata ‘nyawa’ dalam Yer 10:14 juga berasal dari kata bahasa Ibrani RUAKH, dan KJV/RSV/NIV/NASB/ASV/NKJV juga menterjemahkan ‘breath’ (= nafas).

Bdk. 1Tes 1:9 - “Sebab mereka sendiri berceritera tentang kami, bagaimana kami kamu sambut dan bagaimana kamu berbalik dari berhala-berhala kepada Allah untuk melayani Allah yang hidup dan yang benar”.

 

Jadi, saya berpendapat bahwa Hab 2:19 itu bukan dasar untuk mengatakan bahwa patung berhala tidak ada roh jahatnya. Saya berpendapat adalah memungkinkan bahwa setan memasuki suatu patung berhala, karena ia senang disembah (bdk. Mat 4:10). Juga jelas bahwa adalah mungkin bahwa ialah yang mengabulkan doa-doa yang dinaikkan kepada / melalui patung itu.

 

d)   Kebodohan dari penyembahan berhala.

Penyembahan terhadap patung berhala bukan hanya merupakan dosa, tetapi juga merupakan suatu kebodohan. Mengapa? Karena orang itu membuat patung, lalu menyembah patung buatan tangannya sendiri! Disamping itu, patung berhala itu merupakan benda mati, yang tidak bisa berbuat apa-apa. Bagaimana mungkin seseorang berdoa dan memohon kepadanya?

 

Barnes’ Notes (tentang Maz 115:8): “People who do this show that they are destitute of all the proper attributes of reason, since such gods cannot help them. It is most strange, as it appears to us, that the worshippers of idols did not themselves see this; but this is in reality no more strange than that sinners do not see the folly of their course of sin; that people do not see the folly of worshipping no God” (= Orang-orang yang melakukan hal ini menunjukkan bahwa mereka tidak mempunyai sifat-sifat yang benar dari akal, karena allah-allah / dewa-dewa seperti itu tidak bisa menolong mereka. Adalah paling / sangat aneh, seperti kelihatannya bagi kita, bahwa penyembah-penyembah dari berhala-berhala itu sendiri tidak melihat hal ini; tetapi ini dalam realitanya tidak lebih aneh dari pada bahwa orang-orang berdosa tidak melihat kebodohan dari jalan mereka yang berdosa; bahwa orang-orang tidak melihat kebodohan dari penyembahan terhadap yang bukan Allah).

 

Ada beberapa ayat Kitab Suci yang menunjukkan kebodohan penyembahan berhala, seperti:

1.   Ul 4:28 - “Maka di sana kamu akan beribadah kepada allah, buatan tangan manusia, dari kayu dan batu, yang tidak dapat melihat, tidak dapat mendengar, tidak dapat makan dan tidak dapat mencium”.

2.   Maz 115:4-8 - “(4) Berhala-berhala mereka adalah perak dan emas, buatan tangan manusia, (5) mempunyai mulut, tetapi tidak dapat berkata-kata, mempunyai mata, tetapi tidak dapat melihat, (6) mempunyai telinga, tetapi tidak dapat mendengar, mempunyai hidung, tetapi tidak dapat mencium, (7) mempunyai tangan, tetapi tidak dapat meraba-raba, mempunyai kaki, tetapi tidak dapat berjalan, dan tidak dapat memberi suara dengan kerongkongannya. (8) Seperti itulah jadinya orang-orang yang membuatnya, dan semua orang yang percaya kepadanya”.

3.   Yes 2:8 - “Negerinya penuh berhala-berhala; mereka sujud menyembah kepada buatan tangannya sendiri dan kepada yang dikerjakan oleh tangannya”.

4.   Yer 10:5 - “Berhala itu sama seperti orang-orangan di kebun mentimun, tidak dapat berbicara; orang harus mengangkatnya, sebab tidak dapat melangkah. Janganlah takut kepadanya, sebab berhala itu tidak dapat berbuat jahat, dan berbuat baikpun tidak dapat.’”.

5.   Hakim 6:25-32 - “(25) Pada malam itu juga TUHAN berfirman kepadanya: ‘Ambillah seekor lembu jantan kepunyaan ayahmu, yakni lembu jantan yang kedua, berumur tujuh tahun, runtuhkanlah mezbah Baal kepunyaan ayahmu dan tebanglah tiang berhala yang di dekatnya. (26) Kemudian dirikanlah mezbah bagi TUHAN, Allahmu, di atas kubu pertahanan ini dengan disusun baik, lalu ambillah lembu jantan yang kedua dan persembahkanlah korban bakaran dengan kayu tiang berhala yang akan kautebang itu.’ (27) Kemudian Gideon membawa sepuluh orang hambanya dan diperbuatnyalah seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya. Tetapi karena ia takut kepada kaum keluarganya dan kepada orang-orang kota itu untuk melakukan hal itu pada waktu siang, maka dilakukannyalah pada waktu malam. (28) Ketika orang-orang kota itu bangun pagi-pagi, tampaklah telah dirobohkan mezbah Baal itu, telah ditebang tiang berhala yang di dekatnya dan telah dikorbankan lembu jantan yang kedua di atas mezbah yang didirikan itu. (29) Berkatalah mereka seorang kepada yang lain: ‘Siapakah yang melakukan hal itu?’ Setelah diperiksa dan ditanya-tanya, maka kata orang: ‘Gideon bin Yoas, dialah yang melakukan hal itu.’ (30) Sesudah itu berkatalah orang-orang kota itu kepada Yoas: ‘Bawalah anakmu itu ke luar; dia harus mati, karena ia telah merobohkan mezbah Baal dan karena ia telah menebang tiang berhala yang di dekatnya.’ (31) Tetapi jawab Yoas kepada semua orang yang mengerumuninya itu: ‘Kamu mau berjuang membela Baal? Atau kamu mau menolong dia? Siapa yang berjuang membela Baal akan dihukum mati sebelum pagi. Jika Baal itu allah, biarlah ia berjuang membela dirinya sendiri, setelah mezbahnya dirobohkan orang.’ (32) Dan pada hari itu diberikan oranglah nama Yerubaal kepada Gideon, karena kata orang: ‘Biarlah Baal berjuang dengan dia, setelah dirobohkannya mezbahnya itu.’”.

Kenyataannya, Baal tidak (bisa) mengapa-apakan Gideon!

6.   Tetapi mungkin ayat / text yang menunjukkan kebodohan penyembahan berhala secara paling menyolok adalah Yes 44:9-20 yang berbunyi sebagai berikut: “(9) Orang-orang yang membentuk patung, semuanya adalah kesia-siaan, dan barang-barang kesayangan mereka itu tidaklah memberi faedah. Penyembah-penyembah patung itu tidaklah melihat dan tidaklah mengetahui apa-apa; oleh karena itu mereka akan mendapat malu. (10) Siapakah yang membentuk allah dan menuang patung yang tidak memberi faedah? (11) Sesungguhnya, semua pengikutnya akan mendapat malu, dan tukang-tukangnya adalah manusia belaka. Biarlah mereka semua berkumpul dan bangkit berdiri! Mereka akan gentar dan mendapat malu bersama-sama. (12) Tukang besi membuatnya dalam bara api dan menempanya dengan palu, ia mengerjakannya dengan segala tenaga yang ada di tangannya. Bahkan ia menahan lapar sehingga habislah tenaganya, dan ia tidak minum air sehingga ia letih lesu. (13) Tukang kayu merentangkan tali pengukur dan membuat bagan sebuah patung dengan kapur merah; ia mengerjakannya dengan pahat dan menggarisinya dengan jangka, lalu ia memberi bentuk seorang laki-laki kepadanya, seperti seorang manusia yang tampan, dan selanjutnya ditempatkan dalam kuil. (14) Mungkin ia menebang pohon-pohon aras atau ia memilih pohon saru atau pohon tarbantin, lalu membiarkannya tumbuh menjadi besar di antara pohon-pohon di hutan, atau ia menanam pohon salam, lalu hujan membuatnya besar. (15) Dan kayunya menjadi kayu api bagi manusia, yang memakainya untuk memanaskan diri; lagipula ia menyalakannya untuk membakar roti. Tetapi juga ia membuatnya menjadi allah lalu menyembah kepadanya; ia mengerjakannya menjadi patung lalu sujud kepadanya. (16) Setengahnya dibakarnya dalam api dan di atasnya dipanggangnya daging. Lalu ia memakan daging yang dipanggang itu sampai kenyang; ia memanaskan diri sambil berkata: ‘Ha, aku sudah menjadi panas, aku telah merasakan kepanasan api.’ (17) Dan sisa kayu itu dikerjakannya menjadi allah, menjadi patung sembahannya; ia sujud kepadanya, ia menyembah dan berdoa kepadanya, katanya: ‘Tolonglah aku, sebab engkaulah allahku!’ (18) Orang seperti itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak mengerti apa-apa, sebab matanya melekat tertutup, sehingga tidak dapat melihat, dan hatinya tertutup juga, sehingga tidak dapat memahami. (19) Tidak ada yang mempertimbangkannya, tidak ada cukup pengetahuan atau pengertian untuk mengatakan: ‘Setengahnya sudah kubakar dalam api dan di atas baranya juga sudah kubakar roti, sudah kupanggang daging, lalu kumakan. Masakan sisanya akan kubuat menjadi dewa kekejian? Masakan aku akan menyembah kepada kayu kering?’ (20) Orang yang sibuk dengan abu belaka, disesatkan oleh hatinya yang tertipu; ia tidak dapat menyelamatkan jiwanya atau mengatakan: ‘Bukankah dusta yang menjadi peganganku?’”.

 

Adam Clarke (tentang Yes 44:12): “The sacred writers are generally large and eloquent upon the subject of idolatry; they treat it with great severity, and set forth the absurdity of it in the strongest light. But this passage of Isaiah, Isa 44:12-20, far exceeds anything that ever was written upon the subject, in force of argument, energy of expression, and elegance of composition” (= Penulis-penulis kudus biasanya berbicara panjang lebar dan fasih tentang pokok penyembahan berhala; mereka menanganinya dengan kekerasan yang besar, dan menunjukkan sifat menggelikannya dalam terang yang paling kuat. Tetapi text dari Yesaya ini, Yes 44:12-20, jauh melebihi apapun yang pernah ditulis tentang pokok ini, dalam kekuatan argumentasi, tenaga pengungkapan, dan keanggunan penyusunan).

 

Jamieson, Fausset & Brown (tentang Yes 44:10): “‘Who hath formed a god?’ - sarcastic question: ‘How debased the man must be who forms a god!’ It is a contradiction in terms. A made god, worshipped by its maker! (1 Cor 8:4.)” [= ‘Siapa yang telah membentuk suatu allah?’ - pertanyaan sarkastik: ‘Betapa rendahnya derajat orang yang membentuk suatu allah!’ Itu merupakan istilah yang kontradiksi. Suatu allah yang dibuat, disembah oleh pembuatnya! (1Kor 8:4).].

 

D. L. Moody: “A man must be greater than anything he is able to make or manufacture. What folly then to think of worshipping such things!” (= Seseorang pasti lebih besar dari apapun yang mampu ia buat atau hasilkan. Jadi alangkah tololnya untuk berpikir tentang penyembahan terhadap hal-hal seperti itu!) - ‘D. L. Moody On The Ten Commandments’, hal 33.

 

Bdk. Yer 16:20 - “Dapatkah manusia membuat allah bagi dirinya sendiri? Yang demikian bukan allah!’”.

 

e)   Sikap yang seharusnya terhadap patung berhala.

Banyak patung berhala yang indah dan bahkan terbuat dari logam mulia, seperti emas, perak dan sebagainya. Kita tidak boleh menyenangi / mengaguminya, apalagi membawa patung berhala itu masuk ke rumah kita, ataupun menginginkan emas dan perak dari berhala-berhala itu; sebaliknya, kita harus merasa jijik terhadap patung-patung berhala itu, dan menghancurkannya, bahkan kalau patung-patung berhala itu dibuat dari logam mulia yang mahal.

 

Ul 7:25-26 - “(25) Patung-patung allah mereka haruslah kamu bakar habis; perak dan emas yang ada pada mereka janganlah kauingini dan kauambil bagi dirimu sendiri, supaya jangan engkau terjerat karenanya, sebab hal itu adalah kekejian bagi TUHAN, Allahmu. (26) Dan janganlah engkau membawa sesuatu kekejian masuk ke dalam rumahmu, sehingga engkaupun ditumpas seperti itu; haruslah engkau benar-benar merasa jijik dan keji terhadap hal itu, sebab semuanya itu dikhususkan untuk dimusnahkan.’”.

 

Jadi:

1.   Kita harus memusnahkan patung berhala. Memang hal ini tidak bisa kita lakukan, kecuali kita memang mempunyai otoritas dalam hal itu, misalnya terhadap patung berhala yang ada di rumah kita. Karena itu, jangan secara sembarangan / sembrono menghancurkan seadanya patung berhala / kelenteng! Bahwa kita tidak seharusnya melakukan hal itu, kecuali kita memang mempunyai otoritas, terbukti dari rasul-rasul sendiri, seperti Paulus, juga tidak secara sembarangan menghancurkan kuil-kuil / patung-patung berhala. Apa yang harus kita lakukan adalah memberitakan Injil kepada para penyembah berhala itu, sehingga mereka bertobat dan menghancurkan sendiri patung-patung berhala mereka.

2.   Kita tidak boleh menginginkan emas atau perak dari patung berhala itu.

3.   Kita tidak boleh membawa patung berhala itu masuk ke rumah kita, apakah sebagai hiasan, atau dengan alasan apapun juga!

4.   Kita harus merasa jijik dan keji terhadap patung berhala, juga yang indah pembuatannya, dan bahkan yang terbuat dari emas / berlapiskan emas!

 

Matthew Henry (tentang Ul 7:25-26): “The idols which the heathen had worshipped were an abomination to God, and therefore must be so to them: all that truly love God hates what he hates. ... They must not retain the images to gratify their covetousness: Thou shalt not desire the silver nor gold that is on them, nor think it a pity to have that destroyed. ... ‘Neither shalt thou bring it into thy house, to be hung up as an ornament, or preserved as a monument of antiquity. No, to the fire with it, that is the fittest place for it.’” (= Patung-patung berhala yang telah disembah oleh orang-orang kafir adalah kekejian bagi Allah, dan karena itu harus demikian bagi mereka: semua orang yang sungguh-sungguh mengasihi Allah membenci apa yang Ia benci. ... Mereka tidak boleh mempertahankan patung-patung untuk memuaskan ketamakan mereka: Janganlah engkau menginginkan perak atau emas yang ada pada mereka, atau menganggap sayang untuk menghancurkannya. ... ‘Janganlah engkau membawanya ke dalam rumahmu, untuk menggantungnya sebagai suatu hiasan, atau memeliharanya sebagai suatu monumen keantikan. Tidak, itu harus dibuang ke dalam api, itu adalah tempat yang paling cocok baginya’.).

 

Adam Clarke (tentang Ul 7:25): “Some of the ancient idols were plated over with gold, and God saw that the value of the metal and the excellence of the workmanship might be an inducement for the Israelites to preserve them; and this might lead, ... to idolatry. As the idols were accursed, all those who had them, or anything appertaining to them, were accursed also, Deut 7:26” (= Beberapa / sebagian dari patung-patung berhala kuno dilapisi dengan emas, dan Allah melihat bahwa nilai dari logam itu dan keindahan dari pembuatannya bisa menjadi suatu bujukan bagi orang-orang Israel untuk memelihara mereka; dan ini bisa membimbing, ... pada penyembahan berhala. Karena patung-patung berhala itu terkutuk, semua mereka yang mempunyai patung-patung itu, atau apapun yang berhubungan dengan patung-patung itu, juga terkutuk, Ul 7:26).

 

Keil & Delitzsch (tentang Ul 7:25-26): “Trusting to this promise, the Israelites were to burn up the idols of the Canaanites, and not to desire the silver and gold upon them (with which the statues were overlaid: see p. 466), or take it to themselves, lest they should be snared in it, i.e., lest the silver and gold should become a snare to them. It would become so, not from any danger lest they should practise idolatry with it, but because silver and gold which had been used in connection with idolatrous worship was an abomination to Jehovah, which the Israelites were not to bring into their houses, lest they themselves should fall under the ban, to which all the objects connected with idolatry were devoted, as the history of Achan in Josh 7 clearly proves. For this reason, any such abomination was to be abhorred, and destroyed by burning or grinding to powder (cf. Ex 32:20; 2 Kings 23:4-5; 2 Chron 15:16)” [= Sambil mempercayai janji ini, orang-orang Israel harus membakar patung-patung berhala dari orang-orang Kanaan, dan tidak menginginkan perak atau emas yang ada dari pada patung-patung itu (dengan mana patung-patung itu dilapisi: lihat hal 466), atau mengambilnya bagi diri mereka sendiri, supaya jangan mereka terjerat di dalamnya, yaitu, supaya jangan perak dan emas itu menjadi jerat bagi mereka. Itu menjadi demikian, bukan dari bahaya apapun bahwa mereka mempraktekkan penyembahan berhala dengannya, tetapi karena perak dan emas yang telah digunakan dalam hubungan dengan penyembahan berhala merupakan suatu kejijikan bagi Yehovah, yang orang-orang Israel tidak boleh membawa masuk ke rumah-rumah mereka, supaya jangan mereka sendiri jatuh di bawah kutukan, pada mana semua obyek-obyek yang berhubungan dengan penyembahan berhala diserahkan, seperti sejarah dari Akhan dalam Yos 7 membuktikannya secara jelas. Karena alasan ini, kejijikan yang manapun seperti itu harus dibenci / dianggap jijik, dan dihancurkan dengan membakarnya atau menghancurkannya / menggilingnya menjadi bubuk (bdk. Kel 32:20; 2Raja 23:4-5; 2Taw 15:16)].

Kel 32:20 - “Sesudah itu diambilnyalah anak lembu yang dibuat mereka itu, dibakarnya dengan api dan digilingnya sampai halus, kemudian ditaburkannya ke atas air dan disuruhnya diminum oleh orang Israel”.

2Raja 23:4-5 - “(4) Raja memberi perintah kepada imam besar Hilkia dan kepada para imam tingkat dua dan kepada para penjaga pintu untuk mengeluarkan dari bait TUHAN segala perkakas yang telah dibuat untuk Baal dan Asyera dan untuk segala tentara langit, lalu dibakarnyalah semuanya itu di luar kota Yerusalem di padang-padang Kidron, dan diangkutnyalah abunya ke Betel. (5) Ia memberhentikan para imam dewa asing yang telah diangkat oleh raja-raja Yehuda untuk membakar korban di bukit pengorbanan di kota-kota Yehuda dan di sekitar Yerusalem, juga orang-orang yang membakar korban untuk Baal, untuk dewa matahari, untuk dewa bulan, untuk rasi-rasi bintang dan untuk segenap tentara langit”.

2Taw 15:16 - “Bahkan raja Asa memecat Maakha, neneknya, dari pangkat ibu suri, karena neneknya itu membuat patung Asyera yang keji. Asa merobohkan patung yang keji itu, menumbuknya sampai halus dan membakarnya di lembah Kidron”.

 

Bdk. Kis 17:16 - “Sementara Paulus menantikan mereka di Atena, sangat sedih hatinya karena ia melihat, bahwa kota itu penuh dengan patung-patung berhala”.

KJV: ‘his spirit was stirred in him’ (= rohnya diaduk di dalam dia).

RSV: ‘his spirit was provoked within him’ (= rohnya diprovokasi di dalam dia).

NIV: ‘he was greatly distressed’ (= ia sangat sedih).

NASB: ‘his spirit was being provoked within him’ (= rohnya diprovokasi di dalam dia).

Vincent paling menyetujui terjemahan ‘diprovokasi’.

 

Barnes’ Notes (tentang Kis 17:16): “‘The city wholly given to idolatry.’ Greek: ‎kateidoolon‎. It is well translated in the margin, ‘or full of idols.’ ... Petronius (Sat. xvii.) says humorously of the city, that ‘it was easier to find a god than a man there.’ ... In this verse we may see how a splendid idolatrous city will strike a pious mind. Athens then had more that was splendid in architecture, more that was brilliant in science, and more that was beautiful in the arts, than any other city of the world; perhaps more than all the rest of the world united. Yet there is no account that the mind of Paul was filled with admiration; there is no record that he spent his time in examining the works of art; there is no evidence that he forgot his high purpose in an idle and useless contemplation of temples and statuary. His was a Christian mind; and he contemplated all this with a Christian heart. That heart was deeply affected in view of the amazing guilt of a people who were ignorant of the true God, who had filled their city with idols reared to the honor of imaginary divinities, and who, in the midst of all this splendor and luxury, were going down to destruction. So should every pious man feel who treads the streets of a splendid and guilty city” [= ‘Kota itu sepenuhnya diberikan pada penyembahan berhala’. Yunani: KATEIDOOLON. Itu diterjemahkan dengan baik di catatan tepi, ‘atau penuh dengan patung-patung berhala’. ... Petronius (Sat. xvii.) berkata secara melucu tentang kota itu, bahwa ‘adalah lebih mudah untuk bertemu dengan seorang allah / dewa dari pada seorang manusia di sana’. ... Dalam ayat ini kita bisa melihat bagaimana suatu kota penyembahan berhala yang indah akan memukul suatu pikiran yang saleh. Athena pada saat itu mempunyai lebih banyak apa yang indah dalam arsitektur, lebih banyak apa yang cemerlang dalam ilmu pengetahuan, dan lebih banyak apa yang indah dalam seni, dari pada kota lain manapun di dunia; mungkin lebih dari pada seluruh sisa dunia digabungkan. Tetapi di sana tidak ada laporan / cerita bahwa pikiran Paulus dipenuhi dengan kekaguman; Tak ada catatan bahwa ia menghabiskan waktunya untuk memeriksa pekerjaan-pekerjaan seni; tidak ada bukti bahwa ia melupakan tujuan / rencananya yang tinggi dalam perenungan yang sia-sia / malas dan tak berguna tentang kuil-kuil dan patung-patung. Pikirannya adalah pikiran Kristen; dan ia merenungkan semua ini dengan hati Kristen. Hati itu dipengaruhi secara mendalam oleh pemandangan dari kesalahan yang mengherankan dari suatu bangsa yang begitu tidak tahu tentang Allah yang benar, yang memenuhi kota mereka dengan patung-patung berhala yang didirikan bagi kehormatan dari keilahian / allah yang bersifat khayalan, dan yang, di tengah-tengah dari semua kemegahan dan kemewahan ini, akan tenggelam pada kehancuran / kebinasaan. Demikianlah seharusnya setiap orang yang saleh merasa pada waktu ia menginjak jalan-jalan dari suatu kota yang indah dan bersalah].

 

Renungkan:

a.   Bagaimana sikap saudara kalau melihat candi Borobudur, Prambanan, kerajinan yang bersifat penyembahan berhala di Bali atau di negara-negara seperti Thailand, Cina, dsb?

b.   Teman saya pernah mengatakan bahwa ia punya seorang teman, yang ayahnya mempunyai 3 buah patung Buddha dari emas murni, masing-masing seberat 25 kg! Ini kalau dijual emasnya saja, harganya lebih dari Rp 25 M! Seandainya orang itu bertobat, dan menyerahkan ketiga patung itu kepada saudara, apa yang saudara lakukan?

 

6)   Alasan dari hukum ke 2.

Kel 20:4-6 - “(4) Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. (5) Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, (6) tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintahKu”.

Bdk. Kel 34:14 - “Sebab janganlah engkau sujud menyembah kepada allah lain, karena TUHAN, yang namaNya Cemburuan, adalah Allah yang cemburu”.

 

Ay 5b menunjukkan bahwa alasan Allah melarang penyembahan berhala adalah kecemburuan dari Allah. Di atas sudah kita bahas bahwa penyembahan berhala merupakan perzinahan rohani, dan karena itu hal ini membuat murka Allah yang Cemburuan! Kecemburuan Allah ini, kelihatannya bukan hanya merupakan alasan dari hukum kedua, tetapi juga dari hukum pertama.

Keil & Delitzsch: “The threat and promise, which follow in vv. 5b and 6, relate to the first two commandments, and not to the second alone” (= Ancaman dan janji, yang mengikuti dalam ay 5 dan 6, berhubungan dengan dua hukum yang pertama, dan bukan hanya dengan hukum kedua saja).

Bdk. Ul 6:14-15 - “(14) Janganlah kamu mengikuti allah lain, dari antara allah bangsa-bangsa sekelilingmu, (15) sebab TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu di tengah-tengahmu, supaya jangan bangkit murka TUHAN, Allahmu, terhadap engkau, sehingga Ia memunahkan engkau dari muka bumi”.

 

Kecemburuan Allah menunjukkan kasih Allah kepada kita. Ingat bahwa hubungan Allah dengan kita digambarkan sebagai sepasang calon pengantin. Kalau Ia memang mencintai kita, Ia pasti cemburu kalau kita melakukan perzinahan rohani, yaitu menyembah berhala / mempunyai allah lain. Jadi, kecemburuan ini sebetulnya menunjukkan sesuatu yang positif. Tetapi kalau kita menyembah patung berhala, maka kecemburuan itu membangkitkan murka Allah, dan ini merupakan sesuatu yang negatif untuk kita.

 

The Bible Exposition Commentary: Old Testament: “God is a ‘jealous God,’ not in the sense that He’s envious of other gods, for He knows that all other ‘gods’ are figments of the imagination and don’t really exist. The word ‘jealous’ expresses His love for His people because He wants the very best for them. Just as parents are jealous over their children and spouses over their mates, so God is jealous over His beloved ones and will not tolerate competition (Zech 1:14; 8:2). In Scripture, idolatry is the equivalent of prostitution and adultery (Hos 1-3; Jer 2:1-3:25; Ezek 16:1; 23; James 4:4-5). God desires and deserves the exclusive love of His people (Ex 34:14; Deut 4:24; 5:9; 6:15)” [= Allah adalah ‘Allah yang cemburu’, bukan dalam arti Ia iri hati kepada allah-allah lain, karena Ia tahu bahwa semua allah-allah lain adalah isapan jempol dari khayalan dan tidak betul-betul ada. Kata ‘cemburu’ menyatakan kasihNya bagi umatNya karena Ia menginginkan yang terbaik bagi mereka. Sama seperti orang tua cemburu atas anak-anak mereka dan orang-orang atas pasangan mereka, demikianlah Allah cemburu atas orang-orang yang Ia kasihi dan tidak mau mentoleransi persaingan (Zakh 1:14; 8:2). Dalam Kitab Suci, penyembahan berhala adalah sama dengan pelacuran dan perzinahan (Hos 1-3; Yer 2:1-3:25; Yeh 16:1; 23; Yak 4:4-5). Allah menginginkan dan layak mendapatkan kasih yang hanya ditujukan kepadaNya dari umatNya (Kel 34:14; Ul 4:24; 5:9; 6:15)].

 

Zakh 1:14 - “Berkatalah kepadaku malaikat yang berbicara dengan aku itu: Serukanlah ini: Beginilah firman TUHAN semesta alam: Sangat besar usahaKu untuk Yerusalem dan Sion,”.

Kata ‘usahaKu’ salah terjemahan!

KJV: ‘I am jealous for Jerusalem and for Zion with a great jealousy (= Aku cemburu untuk Yerusalem dan untuk Sion dengan kecemburuan yang besar).

 

Zakh 8:2 - “‘Beginilah firman TUHAN semesta alam: Aku berusaha untuk Sion dengan kegiatan yang besar dan dengan kehangatan amarah yang besar”.

Ayat ini lagi-lagi terjemahannya ngawur!

KJV: ‘Thus saith the LORD of hosts; I was jealous for Zion with great jealousy, and I was jealous for her with great fury’ (= Demikianlah firman TUHAN semesta alam; Aku cemburu untuk Sion dengan kecemburuan yang besar, dan Aku cemburu untuknya dengan kemarahan yang besar).

 

Ul 4:24 - “Sebab TUHAN, Allahmu, adalah api yang menghanguskan, Allah yang cemburu”.

 

Ul 6:15 - “sebab TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu di tengah-tengahmu, supaya jangan bangkit murka TUHAN, Allahmu, terhadap engkau, sehingga Ia memunahkan engkau dari muka bumi”.

 

7)         Janji dan ancaman.

 

a)   Ancaman.

Kel 20:4-6 - “(4) Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. (5) Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, (6) tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintahKu”.

 

1.   Ancaman ini ditujukan kepada para penyembah berhala, yang disebut sebagai ‘orang-orang yang membenci Aku’! Bagaimanapun para penyembah berhala itu merasa / berpura-pura bahwa mereka menghormati / mengasihi Allah, Allah menganggap mereka sebagai para pembenci diriNya!

 

Thomas Watson: “Another reason against image-worship is, that it is hating God. The Papists, who worship God by an image, hate God. Image-worship is a pretended love to God, but God interprets it as hating him. ... An image-lover is a God hater” (= Suatu alasan lain yang menentang penyembahan patung adalah bahwa itu adalah membenci Allah. Pengikut-pengikut Paus, yang menyembah Allah menggunakan patung, membenci Allah. Penyembahan patung merupakan suatu kasih yang pura-pura kepada Allah, tetapi Allah menafsirkannya sebagai membenci Dia. ... Seorang pecinta patung adalah seorang pembenci Allah) - ‘The Ten Commandments’, hal 67.

 

2.         Ancamannya.

Ay 5c: ‘yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat’.

 

Bdk. Ratapan 5:1-22 - “(1) Ingatlah, ya TUHAN, apa yang terjadi atas kami, pandanglah dan lihatlah akan kehinaan kami. (2) Milik pusaka kami beralih kepada orang lain, rumah-rumah kami kepada orang asing. (3) Kami menjadi anak yatim, tak punya bapa, dan ibu kami seperti janda. (4) Air kami kami minum dengan membayar, kami mendapat kayu dengan bayaran. (5) Kami dikejar dekat-dekat, kami lelah, bagi kami tak ada istirahat. (6) Kami mengulurkan tangan kepada Mesir, dan kepada Asyur untuk menjadi kenyang dengan roti. (7) Bapak-bapak kami berbuat dosa, mereka tak ada lagi, dan kami yang menanggung kedurjanaan mereka. (8) Pelayan-pelayan memerintah atas kami; yang melepaskan kami dari tangan mereka tak ada. (9) Dengan bahaya maut karena serangan pedang di padang gurun, kami harus mengambil makanan kami. (10) Kulit kami membara laksana perapian, karena nyerinya kelaparan. (11) Mereka memperkosa wanita-wanita di Sion dan gadis-gadis di kota-kota Yehuda. (12) Pemimpin-pemimpin digantung oleh tangan mereka, para tua-tua tidak dihormati. (13) Pemuda-pemuda harus memikul batu kilangan, anak-anak terjatuh karena beratnya pikulan kayu. (14) Para tua-tua tidak berkumpul lagi di pintu gerbang, para teruna berhenti main kecapi. (15) Lenyaplah kegirangan hati kami, tari-tarian kami berubah menjadi perkabungan. (16) Mahkota telah jatuh dari kepala kami. Wahai kami, karena kami telah berbuat dosa! (17) Karena inilah hati kami sakit, karena inilah mata kami jadi kabur: (18) karena bukit Sion yang tandus, di mana anjing-anjing hutan berkeliaran. (19) Engkau, ya TUHAN, bertakhta selama-lamanya, takhtaMu tetap dari masa ke masa! (20) Mengapa Engkau melupakan kami selama-lamanya, meninggalkan kami demikian lama? (21) Bawalah kami kembali kepadaMu, ya TUHAN, maka kami akan kembali, baharuilah hari-hari kami seperti dahulu kala! (22) Atau, apa Engkau sudah membuang kami sama sekali? Sangat murkakah Engkau terhadap kami?”.

 

Tetapi bagaimana dengan 2 ayat di bawah ini?

·        Ul 24:16 - “Janganlah ayah dihukum mati karena anaknya, janganlah juga anak dihukum mati karena ayahnya; setiap orang harus dihukum mati karena dosanya sendiri”.

·        Yeh 18:20 - “Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati. Anak tidak akan turut menanggung kesalahan ayahnya dan ayah tidak akan turut menanggung kesalahan anaknya. Orang benar akan menerima berkat kebenarannya, dan kefasikan orang fasik akan tertanggung atasnya”.

 

Ada 2 kemungkinan pengharmonisan antara ay 5b ini dengan Ul 24:16 / Yeh 18:20:

 

a.   Beberapa penafsir termasuk Calvin, beranggapan bahwa keturunan itu juga ketularan dosa / kejahatan dari nenek moyangnya, sehingga pada waktu mereka dihukum, mereka memang layak mendapatkan hukuman itu.

Bandingkan dengan Mat 23:30-36 - “(30) dan berkata: Jika kami hidup di zaman nenek moyang kita, tentulah kami tidak ikut dengan mereka dalam pembunuhan nabi-nabi itu. (31) Tetapi dengan demikian kamu bersaksi terhadap diri kamu sendiri, bahwa kamu adalah keturunan pembunuh nabi-nabi itu. (32) Jadi, penuhilah juga takaran nenek moyangmu! (33) Hai kamu ular-ular, hai kamu keturunan ular beludak! Bagaimanakah mungkin kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka? (34) Sebab itu, lihatlah, Aku mengutus kepadamu nabi-nabi, orang-orang bijaksana dan ahli-ahli Taurat: separuh di antara mereka akan kamu bunuh dan kamu salibkan, yang lain akan kamu sesah di rumah-rumah ibadatmu dan kamu aniaya dari kota ke kota, (35) supaya kamu menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel, orang benar itu, sampai kepada Zakharia anak Berekhya, yang kamu bunuh di antara tempat kudus dan mezbah. (36) Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya semuanya ini akan ditanggung angkatan ini!’”.

Text di atas ini menunjukkan keturunan yang dihukum karena dosa nenek moyangnya, tetapi mereka sendiri juga jahat, sehingga memang pantas / layak menerima hukuman tersebut.

 

Bdk. Im 26:38-42 - “(38) Dan kamu akan binasa di antara bangsa-bangsa lain, dan negeri musuhmu akan memusnahkan kamu. (39) Dan siapa yang masih tinggal hidup dari antaramu, mereka akan hancur lebur dalam hukumannya di negeri-negeri musuh mereka, dan karena kesalahan nenek moyang mereka juga mereka akan hancur lebur sama seperti nenek moyangnya. (40) Tetapi bila mereka mengakui kesalahan mereka dan kesalahan nenek moyang mereka dalam hal berubah setia yang dilakukan mereka terhadap Aku dan mengakui juga bahwa hidup mereka bertentangan dengan Daku (41) - Akupun bertindak melawan mereka dan membawa mereka ke negeri musuh mereka - atau bila kemudian hati mereka yang tidak bersunat itu telah tunduk dan mereka telah membayar pulih kesalahan mereka, (42) maka Aku akan mengingat perjanjianKu dengan Yakub; juga perjanjian dengan Ishak dan perjanjianKu dengan Abrahampun akan Kuingat dan negeri itu akan Kuingat juga.

 

Text di atas ini menunjukkan bahwa keturunan dihukum karena dosa nenek moyangnya, yang juga mereka lakukan. Tetapi kalau satu generasi sadar akan dosanya dan bertobat, maka Tuhan akan mengampuni dan menerima mereka kembali.

 

b.   Yang dimaksud oleh ay 5b bukan hukuman tetapi akibat dari dosa.

Kalau seseorang mencuri dan ia ditangkap dan masuk penjara, maka anak-anaknya juga ikut menderita. Bukan bahwa anak-anak itu menerima hukuman karena dosa orang tuanya, tetapi karena itu merupakan akibat dari dosa orang tuanya.

Demikian juga pada saat Israel menyembah berhala. Tuhan menjadi marah, lalu menyerahkan mereka kepada bangsa asing yang menjajah mereka. Keturunan mereka pasti akan menderita sebagai akibat dosa mereka.

 

The Bible Exposition Commentary: Old Testament: “God doesn’t punish the children and grandchildren for somebody else’s sins (24:16: Ezek 18:4), but the sad consequences of ancestral sins can be passed from generation to generation and innocent children suffer because of what their parents or grand-parents have done. In Bible times, it wasn’t unusual for four generations to live in the same extended family and thus have greater opportunity to influence and affect one another” [= Allah tidak menghukum anak-anak dan cucu-cucu untuk / karena dosa-dosa dari seseorang (24:16: Yeh 18:4), tetapi konsekwensi yang menyedihkan dari dosa-dosa nenek moyang bisa diteruskan / disampaikan dari generasi ke generasi, dan anak-anak yang tak bersalah menderita karena apa yang orang tua atau kakek-nenek mereka telah lakukan. Dalam jaman Alkitab, bukanlah sesuatu yang luar biasa bagi empat generasi untuk hidup dalam keluarga luas yang sama dan dengan demikian mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk mempengaruhi dan merusak satu sama lain].

 

Yang manapun tafsiran yang benar dari 2 penafsiran di atas, jelas bahwa ancaman ini tidak bisa diartikan seperti penafsiran dari banyak orang-orang Kharismatik jaman sekarang yang mengatakan bahwa kalau nenek moyang kita menyembah berhala, maka kita (sampai keturunan ketiga dan keempat) bisa kerasukan setan!

 

b)   Janji.

Kel 20:4-6 - “(4) Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. (5) Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, (6) tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintahKu.

 

Catatan: Ada yang menganggap bahwa ini sebetulnya bukan merupakan janji, karena ay 5b-6 sebetulnya hanya merupakan penggambaran sifat Allah (Ini akan saya bahas pada waktu membahas hukum ke 5). Saya berpendapat bahwa ini benar, dan dengan demikian, maka ay 6 ini hanya merupakan janji yang bersifat implicit. Sifat implicit ini juga berlaku untuk ancaman dalam ay 5b.

 

1.   Janji ini ditujukan kepada orang-orang yang mengasihi Allah dan berpegang pada perintah-perintah Allah (ay 6b).

Bdk. Yoh 14:15 - “‘Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintahKu”.

Ini menunjukkan bahwa ketaatan memang harus muncul dari hati yang mengasihi Allah. Ketaatan lahiriah, tanpa hati yang mengasihi, tidak ada nilainya.

 

2.   Kepada orang-orang itu, Allah akan menunjukkan kasih setiaNya / belas kasihanNya.

Adam Clarke: “‘And showing mercy unto thousands.’ ... What a disproportion between the works of justice and mercy! Justice works to the third or fourth, mercy to thousands of generations!” (= ‘Dan menunjukkan belas kasihan kepada ribuan orang.’ ... Betul-betul suatu ketidak-seimbangan antara pekerjaan dari keadilan dan belas kasihan! Keadilan bekerja sampai keturunan ketiga dan keempat, belas kasihan sampai ribuan keturunan!).

Catatan:

a.   Kata-kata ‘kasih setia’ adalah ‘mercy’ (= belas kasihan) dalam KJV.

Kel 20:6 - “tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintahKu”.

KJV: ‘And shewing mercy unto thousands of them that love me, and keep my commandments’ (= Dan menunjukkan belas kasihan kepada beribu-ribu dari mereka yang mengasihi Aku, dan memelihara / mentaati hukum-hukum / perintah-perintahKu).

b.   Kel 20:6 mengatakan ‘beribu-ribu orang’, tetapi Ul 7:9 mengatakan ‘beribu-ribu keturunan’.

Ul 7:9-11 - “(9) Sebab itu haruslah kauketahui, bahwa TUHAN, Allahmu, Dialah Allah, Allah yang setia, yang memegang perjanjian dan kasih setiaNya terhadap orang yang kasih kepadaNya dan berpegang pada perintahNya, sampai kepada beribu-ribu keturunan, (10) tetapi terhadap diri setiap orang dari mereka yang membenci Dia, Ia melakukan pembalasan dengan membinasakan orang itu. Ia tidak bertangguh terhadap orang yang membenci Dia. Ia langsung mengadakan pembalasan terhadap orang itu. (11) Jadi berpeganglah pada perintah, yakni ketetapan dan peraturan yang kusampaikan kepadamu pada hari ini untuk dilakukan.’”.

Pulpit Commentary: “Verse 6. - Shewing mercy unto thousands. Or, ‘to the thousandth generation.’ (Compare Deut 7:9.) In neither case are the numbers to be taken as exact and definite. The object of them is to contrast the long duration of the Divine love and favour towards the descendants of those who love him, with the comparatively short duration of his chastening wrath in the case of those who are his adversaries” [= Ayat 6. - Menunjukkan belas kasihan kepada ribuan orang. Atau, ‘kepada generasi keseribu’. (Bandingkan Ul 7:9). Dalam kasus yang manapun (dari kedua text itu) bilangan-bilangan itu tidak boleh diartikan sebagai persis / tepat dan pasti / tertentu. Tujuan bilangan-bilangan itu adalah untuk mengkontraskan durasi yang lama dari kasih dan kebaikan Ilahi terhadap keturunan-keturunan dari mereka yang mengasihi Dia, dengan durasi yang relatif singkat dari murkaNya yang menghajar dalam kasus dari mereka yang adalah musuh-musuhNya].

 

 

 

-AMIN-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ