Kebaktian
(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)
Minggu, tgl 3 Februari 2013, pk 17.00
Pdt. Budi Asali
(HP: 7064-1331 / 6050-1331 / 0819-455-888-55)
Sekalipun ada banyak ayat Kitab Suci yang menyebut Yesus dengan sebutan ‘Allah’, tetap saja Saksi-Saksi Yehuwa menolak keilahian Yesus. Mereka berkata bahwa dalam Kitab Suci kata ‘allah’ / ‘Allah’ sering diberikan kepada yang bukan Allah, baik itu malaikat, manusia, dewa / berhala, atau bahkan setan. Jadi, pada waktu Yesus disebut ‘Allah’ itu tidak membuktikan bahwa Ia adalah Allah.
Tanggapan saya:
1. Perlu diperhatikan bahwa: sekalipun dalam Kitab Suci kata ‘allah’ memang bisa digunakan untuk malaikat, setan, dan bahkan manusia, tetapi kata itu tidak pernah digunakan sesering kata itu digunakan terhadap Yesus.
2. Pada saat Kitab Suci menyebut seseorang yang bukan Allah yang sesungguhnya dengan sebutan ‘allah’, Kitab Suci selalu menunjukkan secara jelas bahwa orang-orang itu disebut ‘allah’ bukan dalam arti seperti biasanya / yang sesungguhnya.
Contoh:
a. Kel 7:1 - “Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: ‘Lihat, Aku mengangkat engkau sebagai Allah (ELOHIM) bagi Firaun, dan Harun, abangmu, akan menjadi nabimu”.
Perhatikan bahwa sekalipun ayat ini menyebut Musa sebagai ‘Allah’, tetapi ada tambahan kata-kata ‘bagi Firaun’. Dan ini jelas menunjukkan bahwa Musa bukanlah Allah dalam arti yang sesungguhnya.
b. Kel 12:12 - “Sebab pada malam ini Aku akan menjalani tanah Mesir, dan semua anak sulung, dari anak manusia sampai anak binatang, akan Kubunuh, dan kepada semua allah (ELOHEY = gods of / allah-allah dari) di Mesir akan Kujatuhkan hukuman, Akulah, TUHAN”.
Jelas bahwa kata ‘allah’ di sini tidak menunjuk kepada Allah yang sejati, karena dikatakan bahwa Allah yang sejati itu akan menghukum ‘semua allah’ ini. Jadi di sini kata itu menunjuk kepada dewa-dewa sembahan Mesir, yang sering berupa binatang, khususnya sapi. Pada saat Tuhan menghukum Mesir dengan membunuh semua anak sulung, maka anak binatang (dewa / allah mereka) juga ikut dibunuh / dihukum.
c. Kel 20:3 - “Jangan ada padamu allah (ELOHIM) lain di hadapanKu”.
Adanya kata-kata ‘lain’ dan ‘di hadapanKu’, membuat ayat ini jelas menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan ‘allah’ bukanlah Allah yang sebenarnya.
Selain dalam ayat ini, dalam banyak ayat-ayat lain, kata ‘allah’ digunakan untuk menunjuk kepada dewa / berhala dari bangsa-bangsa kafir, dan kontextnya selalu menunjukkan secara jelas bahwa yang dimaksud bukanlah Allah yang sesungguhnya, tetapi hanya dewa / berhala yang dalam Kitab Suci dikatakan tidak mempunyai existensi (Bdk. 1Kor 8:4-6).
d. Hak 5:8 - “Ketika orang memilih allah (ELOHIM) baru, maka terjadilah perang di pintu gerbang. Sesungguhnya, perisai ataupun tombak tidak terlihat di antara empat puluh ribu orang di Israel”.
Kata-kata dari ayat ini yang mengatakan bahwa ‘orang memilih allah baru’, sudah menunjukkan bahwa kata ‘allah’ ini tidak digunakan dalam arti yang sebenarnya. Jadi ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang Israel memilih dewa / berhala baru (sambil meninggalkan YAHWEH), dan sebagai akibatnya terjadilah bencana seperti perang dan sebagainya.
e. 1Sam 28:13b: “Perempuan itu menjawab Saul: ‘Aku melihat sesuatu yang ilahi (ELOHIM) muncul dari dalam bumi.’”.
KJV: ‘gods’ (= allah-allah).
RSV/NWT: ‘a god’ (= suatu allah).
NIV: ‘a spirit’ (= suatu roh).
NASB: ‘a divine being’ (= suatu makhluk yang ilahi).
Kata Ibrani yang dipakai adalah ELOHIM.
Ada 2 penafsiran tentang bagian ini:
· Kata ELOHIM menunjuk kepada penampilan yang supranatural / gaib.
· Kata ELOHIM digunakan karena ‘arwah’ itu boleh dikatakan merupakan allah dari si dukun yang memanggilnya.
Tidak peduli mana arti yang benar, yang jelas ayat itu sendiri secara menyolok menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan ELOHIM di sini bukanlah Allah yang sesungguhnya. Ada yang menganggap bahwa ini betul-betul adalah roh Samuel, tetapi saya yakin bahwa itu salah, dan bahwa ini hanyalah setan yang menyamar sebagai roh Samuel. Jika saudara mau mempelajari hal ini secara mendetail, bacalah buku saya yang berjudul ‘Penginjilan Terhadap Orang Mati’.
f. Maz 82:1-8 - “(1) Mazmur Asaf. Allah berdiri dalam sidang ilahi, di antara para allah (Ibrani: ELOHIM) Ia menghakimi: (2) ‘Berapa lama lagi kamu menghakimi dengan lalim dan memihak kepada orang fasik? Sela (3) Berilah keadilan kepada orang yang lemah dan kepada anak yatim, belalah hak orang sengsara dan orang yang kekurangan! (4) Luputkanlah orang yang lemah dan yang miskin, lepaskanlah mereka dari tangan orang fasik!’ (5) Mereka tidak tahu dan tidak mengerti apa-apa, dalam kegelapan mereka berjalan; goyanglah segala dasar bumi. (6) Aku sendiri telah berfirman: ‘Kamu adalah allah (Ibrani: ELOHIM), dan anak-anak Yang Mahatinggi kamu sekalian. - (7) Namun seperti manusia kamu akan mati dan seperti salah seorang pembesar kamu akan tewas.’ (8) Bangunlah ya Allah, hakimilah bumi, sebab Engkaulah yang memiliki segala bangsa”.
Yang disebut ELOHIM (‘allah-allah’) dalam ay 1 dan ay 6 itu jelas adalah hakim-hakim yang lalim / tidak adil pada saat itu. Sekalipun mereka disebut ‘allah-allah’ (ELOHIM), tetapi mereka jelas bukan Allah dalam arti yang sesungguhnya, dan itu terlihat dari:
· mereka ini bukan satu orang tetapi sekelompok orang, sehingga tidak mungkin mereka adalah Allah semua, karena akan menimbulkan polytheisme.
· mereka dihakimi oleh Allah (ay 1).
· mereka menghakimi dengan tidak adil (ay 2-4), dan hidup dalam kegelapan (ay 5).
· mereka akan mati seperti manusia (ay 7).
g. Maz 95:3 - “Sebab TUHAN adalah Allah yang besar, dan Raja yang besar mengatasi segala allah (ELOHIM)”.
Dalam ayat ini yang disebut ‘allah’ (ELOHIM) juga adalah sekelompok orang. Ada yang menganggap mereka ini sebagai dewa-dewa, dan ada juga yang menganggap mereka ini sebagai malaikat-malaikat. Bahwa mereka ini sekelompok, bukan tunggal, dan bahwa TUHAN dikatakan mengatasi mereka semua, jelas menunjukkan bahwa pada saat kata ‘allah’ (ELOHIM) diterapkan kepada mereka, kata itu tidak digunakan dalam arti yang sebenarnya.
h. Maz 96:4-5 - “(4) Sebab TUHAN maha besar dan terpuji sangat, Ia lebih dahsyat dari pada segala allah (ELOHIM). (5) Sebab segala allah (ELOHIM) bangsa-bangsa adalah hampa, tetapi Tuhanlah yang menjadikan langit”.
Ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa yang disebut ‘allah’ di sini adalah berhala-berhala / dewa-dewa.
i. Maz 97:7,9 - “(7) Semua orang yang beribadah kepada patung akan mendapat malu, orang yang memegahkan diri karena berhala-berhala; segala allah (ELOHIM) sujud menyembah kepadaNya. ... (9) Sebab Engkaulah, ya TUHAN, Yang Mahatinggi di atas seluruh bumi, Engkau sangat dimuliakan di atas segala allah (ELOHIM).”.
Calvin dan banyak penafsir lain menafsirkan bahwa kata ‘allah’ (ELOHIM) dalam 2 ayat ini menunjuk kepada malaikat-malaikat. Apapun arti yang diberikan kepada kata ‘allah’ di sini, jelas bahwa kalimatnya menunjukkan bahwa ‘allah’ dalam kedua ayat ini bukan betul-betul ‘Allah’!
j. Maz 138:1 - “Aku hendak bersyukur kepadaMu dengan segenap hatiku, di hadapan para allah (ELOHIM) aku akan bermazmur bagiMu”.
Calvin menganggap bahwa kata ELOHIM di sini menunjuk atau kepada malaikat-malaikat atau kepada raja-raja; Calvin lebih condong pada arti pertama. Siapapun yang disebut sebagai ELOHIM di sini, jelas sekali bahwa mereka bukanlah Allah dalam arti sesungguhnya, karena dalam ayat ini Allah yang sesungguhnya disebut ‘Mu’, kepada siapa Daud bersyukur dan bermazmur.
k. 1Kor 8:4-6 - “(4) Tentang hal makan daging persembahan berhala kita tahu: ‘tidak ada berhala di dunia dan tidak ada Allah lain dari pada Allah yang esa.’ (5) Sebab sungguhpun ada apa yang disebut ‘allah’ (THEOI = gods / allah-allah), baik di sorga, maupun di bumi - dan memang benar ada banyak ‘allah’ (THEOI) dan banyak ‘tuhan’ yang demikian - (6) namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari padaNya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang olehNya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup”.
Apakah yang disebut dengan ‘allah’ dalam ay 5 itu, malaikat atau berhala, tidak jadi soal. Yang jelas kata-kata dalam ay 4 dan dalam ay 6nya menunjukkan bahwa ‘allah’ dalam ay 5 itu bukan betul-betul Allah.
l. Kis 12:22 - “Dan rakyatnya bersorak membalasnya: ‘Ini suara allah (THEOU) dan bukan suara manusia!’”.
Jelas bahwa ini tidak menunjuk kepada Allah yang benar, karena kata-kata ini ditujukan kepada Herodes (baca kontextnya).
m. 2Kor 4:4 - “yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah”.
KJV/RSV/NASB: ‘the god of this world’ (= allah dari dunia ini).
NIV: ‘the god of this age’ (= allah dari jaman ini).
Kata Yunani yang diterjemahkan ‘ilah’ (‘god’ / allah) di sini adalah HO THEOS (= the God / sang Allah)! Jelas bahwa di sini kata itu tidak menunjuk kepada Allah yang sejati, tetapi menunjuk kepada setan, yang membutakan pikiran manusia.
n. 2Tes 2:4 - “yaitu lawan yang meninggikan diri di atas segala yang disebut atau yang disembah sebagai Allah (THEON). Bahkan ia duduk di Bait Allah dan mau menyatakan diri sebagai Allah (TOU THEOU)”.
Kontext menunjukkan bahwa ini sama sekali tidak menunjuk kepada Allah yang sebenarnya, tetapi mungkin ini menunjuk kepada Antikristus.
Jadi, dengan banyak contoh (dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) saya sudah menunjukkan bahwa kalau kata ‘Allah’ digunakan untuk menunjuk kepada yang bukan Allah, maka selalu diberi penjelasan yang secara jelas menunjukkan bahwa yang dimaksud bukanlah Allah yang sejati.
Tetapi pada waktu kata ‘Allah’ digunakan untuk Yesus, Kitab Suci tidak memberi petunjuk apapun bahwa kata itu digunakan bukan dalam arti yang sesungguhnya, tetapi sebaliknya bahkan memberikan keterangan yang menunjukkan bahwa Ia memang adalah Allah yang sejati.
Calvin (tentang Maz 45:7): “when the name µyhla, Elohim is ascribed either to angels or men, some other mark is at the same time usually added, to distinguish between them and the only true God; but here it is applied to Christ, simply and without any qualification.” (= Pada waktu nama / sebutan µyhla, ELOHIM diberikan atau kepada malaikat-malaikat atau manusia-manusia, pada saat yang sama beberapa tanda lain biasanya ditambahkan, untuk membedakan antara mereka dan satu-satunya Allah yang benar; tetapi di sini sebutan itu diterapkan kepada Kristus, secara sederhana dan tanpa pembatasan / persyaratan apapun.).
A. H. Strong: “It is sometimes objected that the ascription of the name ‘God’ to Christ proves nothing as to his absolute deity, since angels and even human judges are called gods, as representing God’s authority and executing his will. But we reply that, while it is true that the name is sometimes so applied, it is always with adjuncts and in connections which leaves no doubt of its figurative and secondary meaning. When, however, the name is applied to Christ, it is, on the contrary, with adjuncts and in connections which leaves no doubt that it signifies absolute Godhead” (= Kadang-kadang diajukan keberatan yang mengatakan bahwa pemberian nama ‘Allah’ kepada Kristus tidak membuktikan apa-apa berkenaan dengan keilahianNya yang mutlak, karena malaikat-malaikat dan bahkan hakim-hakim manusia disebut allah-allah, karena mewakili otoritas Allah dan melaksanakan kehendakNya. Tetapi kami menjawab bahwa sekalipun memang benar bahwa nama itu kadang-kadang diterapkan seperti itu, itu selalu disertai dengan tambahan / keterangan dan dalam hubungan yang membuang semua keragu-raguan tentang arti kiasan dan arti sekundernya. Tetapi pada waktu nama itu diterapkan kepada Kristus, sebaliknya itu disertai dengan tambahan / keterangan dan dalam hubungan yang membuang semua keragu-raguan bahwa itu menunjukkan keAllahan yang mutlak) - ‘Systematic Theology’, hal 307.
Contoh:
a. Yes 9:5 yang mengatakan bahwa Yesus adalah Allah yang perkasa, menambahi dengan sebutan-sebutan ilahi yang lain, baik dalam Yes 9:5 itu sendiri, maupun dalam ayat selanjutnya (Yes 9:6).
Yes 9:5-6 - “(5) Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. (6) Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya, karena ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya. Kecemburuan TUHAN semesta alam akan melakukan hal ini.”.
Catatan: Yes 9:5a menekankan kemanusiaan Yesus, tetapi bagian akhirnya menekankan keilahianNya.
b. Yoh 1:1c, yang mengatakan bahwa ‘Firman (Yesus) itu adalah Allah’, didahului oleh kata-kata ‘Pada mulanya adalah Firman’, yang menunjukkan kekekalan dari Firman itu. Kata-kata ‘pada mulanya’ itu muncul lagi dalam Yoh 1:2, dan lalu dilanjutkan dengan Yoh 1:3, yang menunjukkan bahwa Firman / Yesus itu adalah Pencipta segala sesuatu!
Yoh 1:1-3 - “(1) Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. (2) Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. (3) Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan”.
c. Ro 9:5, yang menyatakan Yesus sebagai Allah, juga menambahkan bahwa Ia ada di atas sesuatu, dan harus dipuji selama-lamanya.
Ro 9:5 - “Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaanNya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu. Ia adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin!”.
d. Ibr 1:8, selain menyebut Anak sebagai Allah, juga mengatakan bahwa Ia mempunyai takhta yang kekal, dan masih disusul lagi oleh Ibr 1:10-12 yang menyatakan Anak sebagai Tuhan, dan sebagai Pencipta, yang kekal dan yang tidak pernah berubah.
Ibr 1:8-12 -
“(8) Tetapi
tentang (kepada) Anak Ia berkata: ‘TakhtaMu, ya Allah,
tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaanMu adalah tongkat
kebenaran. (9) Engkau mencintai keadilan dan membenci kefasikan; sebab itu
Allah, AllahMu telah mengurapi Engkau dengan minyak sebagai tanda kesukaan,
melebihi teman-teman sekutuMu.’ (10) Dan: ‘Pada mulanya, ya Tuhan,
Engkau telah meletakkan dasar bumi, dan langit adalah buatan tanganMu.
(11) Semuanya itu akan binasa, tetapi Engkau tetap ada, dan semuanya itu
akan menjadi usang seperti pakaian; (12) seperti jubah akan Engkau gulungkan
mereka, dan seperti persalinan mereka akan diubah, tetapi Engkau tetap
sama, dan tahun-tahunMu tidak berkesudahan.’”.
e. Wah 1:8, selain menyebut Yesus sebagai ‘Tuhan Allah’, juga menyebutNya dengan sebutan ‘Yang Mahakuasa’ dan ‘Alfa dan Omega’.
Wah 1:8 - “‘Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa.’”.
Semua ini menunjukkan bahwa sebutan ‘Allah’ bagi Yesus tidak bisa disamakan dengan sebutan ‘allah’ bagi malaikat, setan, dan manusia. Pada saat sebutan ‘Allah’ itu digunakan untuk Yesus, itu betul-betul menyatakan bahwa Yesus adalah Allah yang sungguh-sungguh dan dalam arti yang setinggi-tingginya!
3) Kitab Suci memberikan nama-nama / gelar-gelar ilahi untuk Yesus.
Contoh:
a) Yesus disebut YAHWEH / YHWH!
Yer 23:5-6 - “(5) Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan menumbuhkan Tunas adil bagi Daud. Ia akan memerintah sebagai raja yang bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran di negeri. (6) Dalam zamannya Yehuda akan dibebaskan, dan Israel akan hidup dengan tenteram; dan inilah namanya yang diberikan orang kepadanya: TUHAN-keadilan kita”.
Yang dimaksudkan dengan ‘Tunas adil bagi Daud’ dalam text ini jelas adalah Yesus. Jadi ayat ini jelas juga merupakan nubuat tentang Kristus, dan dalam ayat itu Kristus disebut sebagai ‘TUHAN keadilan’, dimana kata ‘TUHAN’ tersebut dalam bahasa Ibraninya adalah YHWH / YAHWEH. Ini adalah ayat-ayat yang sangat penting dalam menghadapi para Saksi Yehuwa karena dalam ayat-ayat ini Yesus Kristus disebut dengan sebutan YHWH / YAHWEH.
Perlu diketahui bahwa dalam Kitab Suci kata Ibrani ‘ADONAY’ (= Tuhan / Lord) bisa digunakan untuk seseorang yang bukan Allah, misalnya dalam Yes 21:8.
Yes 21:8 - “Kemudian berserulah orang yang melihat itu: ‘Di tempat peninjauan, ya tuanku (ADONAY), aku berdiri senantiasa sehari suntuk, dan di tempat pengawalanku aku terpancang setiap malam.’”.
Demikian juga dengan kata Ibrani ‘ELOHIM’ [= Allah / God(s)], atau kata Yunani THEOS (= God / Allah), bisa digunakan untuk menunjuk kepada dewa dan bahkan manusia (Misalnya: Kel 4:16 Kel 7:1 Kel 12:12 Kel 20:3,23 Hakim 16:23-24 1Raja 18:27 Maz 82:1,6 Kis 28:6).
Kel 4:16 - “Ia harus berbicara bagimu kepada bangsa itu, dengan demikian ia akan menjadi penyambung lidahmu dan engkau akan menjadi seperti Allah (ELOHIM) baginya.”.
Kis 28:6 - “Namun mereka menyangka, bahwa ia akan bengkak atau akan mati rebah seketika itu juga. Tetapi sesudah lama menanti-nanti, mereka melihat, bahwa tidak ada apa-apa yang terjadi padanya, maka sebaliknya mereka berpendapat, bahwa ia seorang dewa (THEON).”.
Tetapi sebutan YHWH / YAHWEH (= TUHAN / LORD) adalah nama pribadi dari Allah sendiri (Kel 3:15 Yes 42:8), dan karena itu, tidak pernah digunakan untuk pribadi manapun selain Allah (Maz 83:19)!
Kel 3:15 - “Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: ‘Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: TUHAN (YHWH), Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah namaKu untuk selama-lamanya dan itulah sebutanKu turun-temurun.”.
Yes 42:8 - “Aku ini TUHAN (YHWH), itulah namaKu; Aku tidak akan memberikan kemuliaanKu kepada yang lain atau kemasyhuranKu kepada patung.”.
Maz 83:19 - “supaya mereka tahu bahwa Engkau sajalah yang bernama TUHAN (YHWH), Yang Mahatinggi atas seluruh bumi”.
NIV menterjemahkan secara berbeda.
NIV: ‘Let them know that you, whose name is the LORD - that you alone are the Most High over all the earth’ (= Biarlah mereka mengetahui bahwa Engkau, yang namaNya adalah TUHAN - bahwa Engkau saja adalah Yang Maha Tinggi atas seluruh bumi).
Tetapi KJV/RSV/NASB menterjemahkan seperti Kitab Suci Indonesia.
KJV: ‘That men may know that thou, whose name alone is JEHOVAH, art the most high over all the earth’ (= Supaya manusia bisa mengetahui bahwa Engkau sendiri yang namaNya adalah Yehovah, adalah yang maha tinggi atas seluruh bumi).
RSV: ‘Let them know that thou alone, whose name is the LORD, art the Most High over all the earth’ (= Biarlah mereka mengetahui bahwa Engkau saja, yang namanya adalah TUHAN, adalah Yang Maha Tinggi atas seluruh bumi).
NASB: ‘That they may know that Thou alone, whose name is the LORD, Art the Most High over all the earth’ (= Supaya mereka bisa mengetahui bahwa Engkau saja, yang namanya adalah TUHAN, adalah Yang Maha Tinggi atas seluruh bumi).
Karena itu, kalau Yesus disebut dengan istilah YAHWEH / YEHOVAH dalam Yer 23:6, itu jelas menunjukkan bahwa Yesus adalah Allah sendiri.
b) Dalam Perjanjian Lama, sebutan ‘Juruselamat’ dan ‘Penebus / Penolong’ ditujukan kepada Allah (Yes 43:3,11 Yes 45:15 Yer 14:8 Hos 13:4). Jadi, ini merupakan gelar-gelar ilahi. Tetapi dalam Perjanjian Baru, sebutan-sebutan itu ditujukan kepada Yesus (2Tim 1:10 Tit 1:4 Tit 2:13 Tit 3:6 2Pet 1:11 2Pet 2:20 2Pet 3:18).
Yes 43:3,11 - “(3) Sebab Akulah TUHAN, Allahmu, Yang Mahakudus, Allah Israel, Juruselamatmu. Aku menebus engkau dengan Mesir, dan memberikan Etiopia dan Syeba sebagai gantimu. ... (11) Aku, Akulah TUHAN dan tidak ada juruselamat selain dari padaKu”.
2Tim 1:10 - “dan yang sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa”.
c) Dalam Mat 1:23 Yesus disebut dengan istilah Immanuel, yang artinya adalah ‘God with us’ (= Allah dengan kita).
Mat 1:23 - “‘Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel’ - yang berarti: Allah menyertai kita”.
d) ‘Yesus’ dan ‘Tuhan’ / ‘Allah’ digunakan secara interchangeable (bisa dibolak-balik).
Ini terlihat kalau kita melihat Mark 5:18-20 dan Luk 8:38-39.
Mark 5:18-20 - “(18) Pada waktu Yesus naik lagi ke dalam perahu, orang yang tadinya kerasukan setan itu meminta, supaya ia diperkenankan menyertai Dia. (19) Yesus tidak memperkenankannya, tetapi Ia berkata kepada orang itu: ‘Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!’ (20) Orang itupun pergilah dan mulai memberitakan di daerah Dekapolis segala apa yang telah diperbuat Yesus atas dirinya dan mereka semua menjadi heran”.
Luk 8:38-39 - “(38) Dan orang yang telah ditinggalkan setan-setan itu meminta supaya ia diperkenankan menyertaiNya. Tetapi Yesus menyuruh dia pergi, kataNya: (39) ‘Pulanglah ke rumahmu dan ceriterakanlah segala sesuatu yang telah diperbuat Allah atasmu.’ Orang itupun pergi mengelilingi seluruh kota dan memberitahukan segala apa yang telah diperbuat Yesus atas dirinya”.
Yesus yang menyembuhkan orang itu. Tetapi dalam Mark 5:19 Yesus menyuruh orang itu untuk menceritakan apa yang diperbuat Tuhan atasnya, sedangkan dalam Luk 8:39 Ia menyuruh orang itu untuk menceritakan apa yang diperbuat Allah atasnya. Lalu bagaimana tanggapan orang itu? Baik Markus maupun Lukas mengatakan bahwa orang itu lalu memberitakan apa yang diperbuat Yesus atasnya (Mark 5:20 Luk 8:39). Jadi, jelas bahwa ‘Yesus’ dan ‘Tuhan’ / ‘Allah’ bisa dibolak-balik dan itu berarti Yesus adalah Tuhan / Allah!
e) 1Kor 2:8 menyebut Yesus sebagai ‘the Lord of glory’ (= Tuhan kemuliaan / Tuhan yang mulia).
1Kor 2:8 - “Tidak ada dari penguasa dunia ini yang mengenalnya, sebab kalau sekiranya mereka mengenalnya, mereka tidak menyalibkan Tuhan yang mulia”.
KJV/RSV/NIV/NASB: ‘the Lord of glory’ (= Tuhan kemuliaan).
Albert Barnes dalam tafsirannya tentang 1Kor 2:8 mengatakan bahwa:
1. Dalam Maz 24:7-10, YAHWEH disebut / diberi gelar ‘the King of glory’ (= Raja kemuliaan).
Maz 24:7-10 - “(7) Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, dan terangkatlah kamu, hai pintu-pintu yang berabad-abad, supaya masuk Raja Kemuliaan! (8) ‘Siapakah itu Raja Kemuliaan?’ ‘TUHAN, jaya dan perkasa, TUHAN, perkasa dalam peperangan!’ (9) Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, dan terangkatlah kamu, hai pintu-pintu yang berabad-abad, supaya masuk Raja Kemuliaan! (10) ‘Siapakah Dia itu Raja Kemuliaan?’ ‘TUHAN semesta alam, Dialah Raja Kemuliaan!’ Sela”.
Perhatikan bahwa kata ‘TUHAN’ semua hurufnya menggunakan huruf besar, dan ini menunjukkan bahwa itu berasal dari kata Ibrani YHWH yang merupakan nama pribadi dari Allah.
2. Dalam Kis 7:2, Allah disebut / diberi gelar ‘the God of glory’ (= Allah yang maha mulia / Allah kemuliaan).
Kis 7:2 - “Jawab Stefanus: ‘Hai saudara-saudara dan bapa-bapa, dengarkanlah! Allah yang Mahamulia telah menampakkan diriNya kepada bapa leluhur kita Abraham, ketika ia masih di Mesopotamia, sebelum ia menetap di Haran”.
KJV/RSV/NIV/NASB/Lit: ‘the God of glory’ (= Allah kemuliaan).
Jadi, kalau sekarang dalam 1Kor 2:8 Yesus disebut dengan ‘the Lord of glory’ (= Tuhan kemuliaan), maka Barnes menganggap itu sebagai gelar ilahi yang diberikan kepada Yesus, dan ini membuktikan bahwa Ia adalah Allah sendiri.
f) Dalam Ibr 1:8,10 Allah menyebut Yesus / Anak dengan sebutan ‘Allah’ dan ‘Tuhan’.
Ibr 1:8,10 -
“(8) Tetapi
tentang
(kepada) Anak
Ia berkata: ‘TakhtaMu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya,
dan tongkat kerajaanMu adalah tongkat kebenaran. ... (10) Dan: ‘Pada mulanya,
ya Tuhan, Engkau telah meletakkan dasar bumi, dan langit adalah buatan
tanganMu”.
Kata-kata ‘tentang Anak’ seharusnya diterjemahkan ‘kepada Anak’. Jadi, dalam text ini Allah berbicara kepada Yesus, dan menyebutNya sebagai ‘Allah’ dan ‘Tuhan’!
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube: